Wednesday, June 30, 2010

Nuremberg: Nazis On Trial (2006). Dokumenter Tentang Pengadilan Nürnberg Yang Memfokuskan Pada Speer, Göring dan Hess!


Oleh: Alif Rafik Khan

Ini adalah sebuah pengadilan penjahat perang yang, katanya, telah merubah sejarah dunia Kang-ouw (yang sering baca Kho Ping-Hoo pasti tahu!). Dalam kursi pesakitan terdapat 21 orang manusia-manusia paling berkuasa dalam pemerintahan Third Reich, dan semuanya menghadapi ancaman hukuman mati! Tapi kisah sebenarnya dari Pengadilan Nürnberg terletak jauh dari pengamatan masyarakat umum dan wartawan, dimana para pengacara dan psikiater mencoba sebaik mungkin menyelami isi hati yang terdalam dari para mantan petinggi ini. Film dokumenter yang terdiri dari tiga bagian (dengan total masa putar 177 menit) ini memfokuskan pada kasus yang menimpa tiga orang paling terkenal di antaranya: Albert Speer, Hermann Göring dan Rudolf Hess. Dokumenter ini sendiri didasarkan atas penelitian yang tidak main-main terhadap catatan-catatan sejarah yang tersedia, yang banyak di antaranya baru terpublikasikan sekarang. Bisa dibilang bahwa NUREMBERG mengkombinasikan antara wawancara para saksi mata, film hitam putih asli masa itu dan drama kelas satu yang diperankan oleh aktor-aktor berbakat (terutama saya suka Robert Pugh sang pemeran Göring, yang walaupun wajahnya nggak mirip-mirip amat dengan aslinya, tapi aktingnya SUPERB!).

Seperti biasa, yang ingin memesan film yang sudah dilengkapi dengan teks Indonesia ini bisa klik DISINI.


SS-Obergruppenführer Felix Steiner (1896-1966), Salah Satu Jenderal Waffen-SS Paling Inovatif!

Felix Steiner berfoto sebagai SS-Oberführer dengan medali Ritterkreuz


Felix Steiner berfoto sebagai SS-Obergruppenführer dengan medali Schwerter


Felix Steiner berfoto sebagai SS-Gruppenführer dengan medali Eichenlaub


Felix Steiner berfoto sebagai SS-Gruppenführer dengan medali Ritterkreuz


Oleh : Alif Rafik Khan

Felix Steiner adalah salah seorang yang disebut-sebut sebagai jenderal SS paling inovatif dan cerdik dalam Perang Dunia II. Karirnya meningkat pesat semenjak memimpin Resimen "Deutschland" dengan brilian, sehingga akhirnya ditunjuk langsung oleh Himmler untuk membentuk Divisi Panzer "Wiking".

Felix Martin Julius Steiner dilahirkan tanggal 23 Mei 1896 di Stallupönen, Prusia Timur.

Pada tahun 1914, dengan Jerman di ambang Perang Dunia I, Steiner bergabung dengan Korps Perwira Prusia sebagai kadet. Selama berlangsungnya perang tersebut, dia dianugerahi Iron Cross kelas pertama dan kedua, dan menyudahi peperangan dengan pangkat Oberleutnant.

Setelah perang, Steiner memimpin sebuah unit Freikorps di kota Memel yang terletak di Prusia Timur. Dia bergabung kembali dengan Angkatan Darat pada tahun 1922, dan pada tahun 1933 dia sudah berpangkat Major.

Setelah Nazi naik ke tampuk kekuasaan, Steiner masuk staff Reichswehr dan mulai mengerjakan pengembangan pelatihan teknik dan taktik baru untuk militer Jerman.

Di saat inilah dia begitu terpengaruh oleh doktrin-doktrin dari Schutzstaffel (SS) dan Sturmabteilung (SA). Dia begitu terpesona oleh teknik pelatihan SS-Verfügungstruppen (SS-VT, cikal-bakal Waffen-SS) yang mengedepankan hubungan informal dan saling percaya di antara para prajurit dan perwiranya, sesuatu yang jarang terjadi di tubuh Angkatan Bersenjata Jerman yang begitu kaku ala otokrasi Prusia kuno. Pada tahun 1935, akhirnya Steiner bergabung dengan SS dan langsung diserahi komando sebuah batalion di pasukan SS-VT. Hanya dalam jangka waktu satu tahun saja pangkatnya telah naik menjadi SS-Standartenführer (kolonel) dan juga memegang pimpinan Resimen SS-Deutschland!

Ketika Perang Dunia II pecah, Steiner mempunyai pangkat SS-Oberführer dan masih menjadi komandan SS-Deutschland. Dia memimpin pasukannya dalam invasi ke Polandia dan melalui Pertempuran Prancis dengan baik sekali, sehingga membuatnya dianugerahi Ritterkreuz tanggal 15 Agustus 1940.

Setelah kampanye perang pertama tersebut berakhir, Steiner dipilih oleh SS-Reichsführer Heinrich Himmler untuk mengawasi langsung pembentukan sebuah divisi baru Waffen-SS yang sebagian besar anggotanya akan dipilih dari para sukarelawan negara-negara Eropa Barat dan Utara. Divisi tersebut mendapat nama panggilan "Wiking", dan rajuritnya berasal dari keturunan Belanda, Walonie, dan Skandinavia yang termasuk pula Resimen Frikorps Danmark.

Dalam tubuh Divisi Wiking, Steiner menciptakan sebuah formasi pasukan yang cakap hasil bentukan dari berbagai bangsa yang berbeda karakteristik (sesuatu yang tidak mudah tentunya!). Dia telah memimpin mereka dengan sama cakapnya dalam begitu banyak pertempuran-pertempuran brutal di Front Timur, dari tahun 1941 sampai dengan pengangkatannya sebagai komandan dari III (Germanic) SS Panzer Corps.

Meskipun telah muncul beberapa peristiwa yang terdokumentasi oleh para sejarawan yang menggambarkan bahwa divisi ini telah terlibat dalam kejahatan perang dan pembantaian rakyat sipil tidak bersalah, tapi catatan pertempuran resmi dari Wiking sendiri tidak pernah menceritakan sedikitpun mengenai hal-hal yang dituduhkan tersebut. Steiner mempunyai pendapat pribadi tentang 'Commissar Order': "Tak ada satupun komandan unit yang berpikiran rasional dapat menjalankan perintah seperti itu!" Dia berkeyakinan bahwa hal tersebut bertentangan dengan perilaku serdadu ideal, akan berakibat pada runtuhnya disiplin militer, dan sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi moral tentara dalam pertempuran. Bahkan jika hal tersebut mempunyai dasar yang kuat, Steiner merasa bahwa dia akan tetap memerintahkan pasukannya untuk mengabaikan sama sekali perintah tersebut!

Bagi anda yang masih bingung dengan apa itu Commissar Order atau Kommissarbefehl, ia adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Hitler langsung yang memerintahkan setiap pejabat partai komunis yang tertangkap di antara pasukan Soviet untuk segera dijatuhi hukuman mati. Peraturan ini dimulai dari sejak bermulanya Operasi Barbarossa (penyerbuan Jerman ke negeri Rusia) pada tanggal 22 Juni 1941.

Pada bulan Januari 1945, Steiner bersama dengan III (Germanic) SS Panzer Corps diungsikan dari kantong Kurland yang terkepung untuk membantu menghalau pasukan penyerbu di tanah air Jerman.

III (Germanic) SS Panzer Corps diperbantukan di bawah Grup Tentara Vistula dan di bawah SS Panzer Armee ke-11 yang baru dibentuk (meskipun pasukan ini hanya eksis di atas kertas saja!). Ketika pasukan Soviet telah mencapai wilayah Oder, SS Panzer Armee ke-11 menjadi tidak berfungsi sehingga III (Germanic) SS Panzer Corps dipindahkan ke 3. Panzer Armee Jerman sebagai pasukan cadangan selama berlangsungnya ofensif Soviet yang penghabisan di kota Berlin. Selama Pertempuran Halbe, yang merupakan pertempuran besar pertama dari ofensif tersebut, Generaloberst Gotthard Heinrici (komandan Grup Tentara Vistula) mentransfer sebagian besar dari divisi-divisi yang bernaung di bawah III SS Panzer Corps ke Tentara ke-9 Jerman di bawah pimpinan General der Infanterie Theodor Busse.

Steiner selalu menjadi salah satu komandan favorit Hitler, yang mengagumi tekadnya untuk "membereskan pekerjaan secepat dan sebaik mungkin", dan juga fakta penting bahwa dia telah menyerahkan kesetiaannya kepada Waffen-SS dan bukannya ke Korps Perwira Prusia seperti kebanyakan rekan sejawatnya. Joseph Goebbels tidak lupa memuji Steiner dalam tulisan yang dibuatnya pada tanggal 1 Maret 1945: "Dia begitu enerjik dan selalu mempunyai tujuan jelas dalam setiap tindakannya. Setiap tugas yang diembankan kepadanya selalu dikerjakan dengan penuh kesungguhan."

Pada tanggal 21 April 1945, Front Belorusia Soviet pimpinan Marsekal Zhukov telah berhasil menembus pertahanan Jerman di Seelow Heights. Melihat keadaan ini Hitler menjadi panik dan, tanpa melihat pada fakta yang ada di lapangan, dia memerintahkan unit-unit amburadul yang berada di bawah komando Detasemen Tentara Steiner (Armeeabteilung Steiner) untuk segera membendung gempuran tersebut. Kenyataannya, Detasemen Tentara Steiner lebih pantas disebut sebagai korps dibandingkan dengan sebuah grup Tentara.

Hitler memerintahkan Steiner untuk melakukan serangan balasan ke sisi utara dari ruang lowong pasukan Soviet yang terbuka setelah terobosan Front Belorusia ke-1. Serangan ini akan dikoordinasikan dengan serangan lain dari Tentara ke-9 di bawah Busse yang akan menyerbu dari selatan sehingga membentuk sebuah capit penjepit. Untuk membantu serangan ini, Steiner telah diserahi tambahan tiga buah divisi yang berasal dari Korps Tentara CI dari Tentara ke-9: Divisi Polizei SS ke-4, Divisi Jäger ke-5, dan Divisi Panzergrenadier ke-25. Ketiga divisi tersebut semuanya berada di sebelah utara dari Kanal Finow yang tepat di sebelah utara dari pasukan Zhukov. Korps Panzer LVI pimpinan Helmuth Weidling yang masih berada di timur Berlin (dengan sisi utaranya menyembul di bawah Werneuchen) juga akan ikut berpartisipasi dalam rencana serangan Steiner.

Tiga divisi dari Korps Tentara CI akan datang menyerbu dari arah selatan, dari Eberswalde di Kanal Finow melalui posisi Korps Panzer LVI. Ketiga divisi tersebut berada sekitar 24 kilometer (15 mil) di sebelah timur Berlin, dan diharapkan serangan terpadu tersebut akan membelah dua Front Belorusia ke-1 sehingga mudah untuk dihancurkan.

Steiner menghubungi Heinrici dan memberitahukannya bahwa rencana tersebut tak mungkin dapat diimplementasikan karena Divisi Jäger ke-5 dan Divisi Panzergrenadier ke-25 berada dalam posisi defensif sehingga tak dapat difungsikan untuk menyerang sebelum Divisi Angkatan Laut II datang untuk menggantikan posisi mereka. Hal ini membuat unit yang siap untuk dikerahkan hanyalah dua buah batalion dari Divisi Polizei SS ke-4, dan mereka pun tidak mempunyai alat tempur yang memadai!

Berdasarkan keterangan dari Steiner, Heinrici menghubungi lewat telepon General der Infanterie Hans Krebs, Kepala Staff dari Staff Jenderal Jerman di Komando Tinggi Angkatan Darat (Oberkommando des Heeres atau OKH) dan memberitahukannya bahwa rencana penyerangan tersebut tak dapat dilaksanakan. Heinrici meminta izin untuk berbicara langsung dengan Hitler, tapi kemudian diberitahu bahwa Hitler terlalu sibuk untuk menjawab teleponnya.

Tanggal 22 April 1945, dalam pertemuan yang digelar di sore hari beserta dengan staffnya, Hitler menjadi sadar bahwa Steiner tidak akan segera memulai serangan yang sangat diharapkannya. Di saat itulah dia benar-benar murka dan memuntahkan segala sumpah serapah bahwa Jerman telah kalah perang, dan para jenderal kepercayaannya lah yang menjadi penyebab utamanya! Dia mengumumkan akan tetap tinggal di Berlin sampai akhir, dan kemudian membunuh dirinya di tengah-tengah reruntuhan kota tersebut.

Pada hari yang sama, Generalleutnant Rudolf Holste diserahi beberapa pasukan Steiner yang masih tersisa sehingga dia dapat ikut berpartisipasi dalam sebuah rencana baru untuk membebaskan Berlin dari kepungan Sekutu. Holste akan menyerang dari arah utara sementara General der Panzertruppe Walther Wenck akan menyerang dari barat dan Theodor Busse dari selatan. Seperti diduga sebelumnya, serangan yang mengandalkan pasukan yang sudah cerai berai, lelah dan runtuh moralnya ini tidak mendatangkan hasil positif. Tanggal 27 April 1945, pasukan Soviet yang menyerbu ke arah selatan dan utara Berlin pada akhirnya bertemu di bagian barat dari kota tersebut. Dengan ini berakhirlah riwayat Berlin!

Setelah penyerahan Jerman, Steiner dipenjarakan sampai dengan tahun 1948. Dia menghadapi tuntutan Sekutu dalam Pengadilan Nürnberg, tapi semua tuduhan tersebut ternyata kemudian dibatalkan karena tidak terbukti, sehingga Steiner pada akhirnya dibebaskan. Dia membaktikan dekade terakhir dari kehidupannya dengan menulis sebuah memoar dan beberapa buku lain tentang perang.

Felix Steiner meninggal dunia pada tanggal 12 Mei 1966.

Promosi dan penghargaan:
* 1 Juni 1936: Masuk ke SS-Verfügungstruppe sebagai SS-Standartenführer
* Memulai Perang Dunia II sebagai SS-Oberführer
* 15 Agustus 1940: penganugerahan Ritterkreuz
* 9 November 1940: dipromosikan menjadi SS-Brigadeführer
* 1 Januari 1942: dipromosikan menjadi SS-Gruppenführer
* 22 April 1942: penganugerahan Deutsches Kreuz in Gold
* 23 Desember 1942: penganugerahan Eichenlaub
* 1 Juli 1943: dipromosikan menjadi SS-Obergruppenführer
* 10 Agustus 1944 penganugerahan Schwerter
* Disebutkan dalam Wehrmachtbericht

Komando:
* 1 Juni 1936 - 1 Desember 1940: Komandan Resimen SS "Deutschland"
* 1 Desember 1940 - 1 Januari 1943: Panglima Divisi SS-Germania (mot),
* 31 Desember 1940: Divisi SS-Germania berganti nama menjadi Divisi SS-Wiking
* 9 November 1942: SS-Wiking dirubah menjadi Divisi Panzergrenadier .5 SS-Wiking
* 10 Mei 1943 - 9 November 1944: Komandan III (Germanic) SS Panzer Corps
* 26 November 1944 - 5 Maret 1945: Panglima XI. SS Panzer Armee
* Komandan III (Germanic) SS Panzer Corps di 3. Panzer Armee
* 21 April 1945: Komandan Detasemen Tentara Steiner


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.korps-steiner.de
www.ww2aircraft.net


Tuesday, June 29, 2010

Penampakan Adolf Hitler Dalam Piala Dunia Afrika Selatan 2010!


Salah seorang pembaca blog ini yang bernama Aditya Rama mengaku terkejut ketika dalam pertandingan perdelapan final Piala Dunia 2010 antara Brazil melawan Chili, dia menyaksikan adanya "penampakan" Adolf Hitler di bangku cadangan Brazil. Tentunya bukanlah Hitler asli, melainkan seseorang yang berpenampilan layaknya Führer, lengkap dengan rambut tersisir rapi Stock on You dan, tentu saja, kumis ala Chaplin, Gogon, Jojon dan sebangsanya!

Kejadian tersebut tepat berlangsung saat pelatih Brazil, Benny Dolo eh Carlos Dunga, memasuki bangku cadangan pemain di awal pertandingan. Aditya Rama tak menyia-nyiakan moment tersebut dan langsung saja mengabadikannya dengan kamera ponsel!

Pokoknya kalau para pembaca lain ada yang mempunyai foto atau segala sesuatu yang berkaitan dengan Nazi, bisa langsung kontak saya di alifrafikkhan@gmail.com !

Btw, thank you Aditya! :)

Daftar Lengkap Peraih Ritterkreuz - U (32 Orang)

Dr.-Ing.h.c. Ernst Udet (26 April 1896 - 17 November 1941)
Ritterkreuz (4 Juli 1940) : General der Flieger dan Generalluftzeugmeister di OKL
Pangkat terakhir: Generaloberst


Willi Unger (27 Maret 1920 - 23 Juni 2005)
Ritterkreuz (23 Oktober 1944) : Fahnenjunker-Feldwebel dan Flugzeugführer IV.(Sturm)/JG 3 "Udet"
Pangkat terakhir: Leutnant


Willibald "Willi" Utz (20 Januari 1893 - 20 April 1954)
Ritterkreuz (21 Juni 1941) : Oberst dan Kommandeur Gebirgsjäger-Regiment 100 / Gebirgs-Division / XVIII.Armeekorps / 12.Armee
Pangkat terakhir: Generalleutnant

Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.warintheair.com
www.wehrmacht-awards.com

Album Foto Radio (Funk) dan Alat Komunikasi Masa Nazi Jerman

GERÄTE

Wurzburg , FuMG 62. Ini adalah salah satu geräte (alat) radar dengan daya jangkau terbatas untuk pengontrol tembakan artileri di darat. Jangkauannya maksimal berkisar 170 km, frekwensinya 560 MHz, presisi jaraknya 100 m, sementara presisi sudutnya adalah 0,2 derajat

 ----------------------------------------------------------------------------

KAPSCH NAHFELDPEILER


Foto asli dari zaman perang yang memperlihatkan alat komunikasi Kapsch Nahfeldpeiler R30 (Fu. N.P. Ger. a/c). Receiver-nya adalah sebuah Kapsch R30 dengan jangkauan frekuensi 0.192 - 25.0 Mhz di mode DF dan 0.081 - 25.0 Mhz.sebagai Comint Rx. Alat ini biasa digunakan oleh Orpo (Ordnungspolizei) dalam instalasi keliling atau lintas udara yang berguna untuk melacak frekuensi DF Sekutu terdekat atau pemancar yang dikeluarkan oleh agen Sekutu. Pasukan Heer juga menggunakan alat yang sama di lapangan
 
----------------------------------------------------------------------------

TELEFUNKEN

 Seorang Funkmann (petugas radio) dari Heer sedang mengoperasikan peralatannya. Kotak radio di sebelah kanan kelihatannya seperti Telefunken model awal, dengan beberapa tambahan modifikasi di tombol-tombolnya. Dia tampaknya mempunyai pemancar yang terpisah, sementara modul penerimanya terpasang di kotak besar. Di sebelah kiri set radio utama adalah sebuah Telefunken E445Bs "Tornisterempfänger", sementara di sebelah kanannya kemungkinan adalah power supply untuk unit pemancar/penerima yang tidak diketahui jenisnya tersebut. Foto diambil tahun 1943 oleh SS-Kriegsberichter August Ahrens


----------------------------------------------------------------------------
TORN.FU

Satu leichter Maschinengewehrtrupp (pasukan senapan mesin ringan) bergerak maju dengan penuh kewaspadaan sementara tim senapan mesin dan penembak senapan kedua melindungi mereka dari belakang (pada saat ini banyak grup senapan dipersenjatai dengan dua senapan mesin untuk menambah kekuatan pendobrak). Seorang Funker (operator radio) mengoperasikan sebuah radio panggul Torn.Fu Bl di ujung parit, lengkap dengan kotak baterainya yang berada di sebelah kiri. Set radio ini tidak dapat dioperasikan pada saat pasukan sedang bergerak, karenanya ini kemungkinan adalah pos komando kompi. Foto diambil di Stalingrad akhir musim panas 1942

 

Radio yang tampak dalam foto-foto di atas adalah Torn.Fu.d2 juga. Jenis radio ini adalah alat komunikasi VHF portabel 2 arah yang dilengkapi dengan perangkat "Telegrafie tonlos" A1 dan "Telefonie" A3 yang biasa dioperasikan di jalur frekwensi 33,8 sampai 38 MHz. Jangkauan wilayah komunikasinya mencapai 3km di model A3 dan 10km di model A1. Torn.Fu.d2 dapat dioperasikan melalui feldfernsprecher (telepon lapangan) melalui kabel sepanjang 1-2km. Transmiternya dilengkapi dengan tiga tabung dan power output 1 watt, sementara receivernya mempunyai enam tabung dengan sebuah IF di jalur 2.1 MHz.

----------------------------------------------------------------------------

FUNK


Funk mann (petugas radio)


Tim radio Waffen-SS


Tim radio Waffen-SS



Power generator menjadi sumber tenaga untuk kendaraan komunikasi


Tape recorder pun ikut digunakan. Sebuah pemancar siaran terhubung langsung ke alat perekam


"Neraka" di lapangan: petugas radio dengan jaring khusus kepala untuk berlindung dari serangan nyamuk, lalat dan serangga iseng lainnya!



Ini adalah menara antena yang difungsikan untuk membantu pengoperasian sistem link radio UHF untuk komunikasi telepon dan telex. Sistemnya sendiri dinamakan dengan MICHAEL (kayak nama tukang batagor!). Btw, perhatikan bahwa konstruksi menara ini SELURUHNYA terbuat dari kayu!


Kalau yang ini MICHAEL juga, tapi stasiunnya berada dalam kendaraan


Operator radio berfoto di dalam kendaraan MICHAEL


Radio penerima EP2a pencari arah dengan antena. "Stasiun" ini terletak dalam sebuah kendaraan sehingga memudahkan tugas di kala pasukan selalu bergerak (mobil) dari satu front ke front yang lain. Unit pelaporan data hasil pencarian arah radio juga terletak di kendaraan yang sama. Btw, jangan dikira pekerjaan seperti operator radio di atas jauh dari yang namanya bahaya. Musuh bisa sewaktu-waktu menerobos front dan nongkrong di ambang pintu. Karenanya, pistol selalu siap tersedia di dekat radio manakala keadaan membutuhkannya!


Radio penerima EP2a yang dilengkapi dengan antena... Naah, ini adalah posisi pasukan musuh yang terdeteksi! Di masa kini sistem radio semacam itu digunakan untuk melacak siaran radio ilegal


Radio penerima jenis Tornisterempfänger Spez. 445 Bs. dan transmiter 100WS


Di bagian kiri adalah antena pencari gelombang radio untuk receiver EP2a, sementara antena yang terpasang di bagian kanannya adalah untuk transmiter 100WS


Stasiun pencari arah radio milik Luftwaffe. Stasiun ini terutama berfungsi untuk melacak keberadaan pesawat-pesawat tak dikenal yang masuk daerah kekuasaan Jerman


Tidur di bunker dengan bertemankan radio WR1/T


Perwira Heer dengan radio WR1/T tersedia di mejanya sebagai penghibur di kala stress


Radio WR1/T broadcast receiver. Radio ini adalah jenis "penerima siaran hiburan" untuk pasukan Jerman di lapangan yang sangat membutuhkan pelepas ketegangan setelah bertempur hampir sepanjang waktu. Seperti semua radio Jerman lainnya, ia dapat difungsikan dengan menggunakan kabel listrik atau baterai


Para prajurit Heer dengan muka-muka lelah ini sedang mendengarkan berita dari radio penerima siaran WR1/T


Torn.Fu.b1 yang digunakan oleh Fallschirmjäger (pasukan parasut) selama berlangsungnya invasi ke pulau Kreta tanggal 20 Mei 1941. Foto ini tertera dalam sebuah kartu pos


Torn.Fu.b1 yang dipasang di kendaraan dengan dilengkapi antena vertikal


Torn.Fu.b1 dan Tornisterempfänger Spez. 445 Bs


Torn.Fu.b1 di lapangan. Petugas Nachrichten (sandi) ini memakai "Drillich-anzug" putih yang biasanya digunakan sebagai pakaian pelapis demi mencegah seragam lapangan mereka rusak terkena lumpur atau kotoran


Torn.Fu.b1 dalam sebuah bunker. Prajurit Luftwaffe ini tampaknya sedang bebas tugas dan memanfaatkan waktu luang dengan bermain kartu. Perhatikan bahwa cowok di sebelah kanan mempunyai lambang "Nachrichtenblitz" terpasang di bagian lengan bawahnya, suatu hal yang tidak umum terjadi karena biasanya lambang tersebut dipasang di bagian atas dari chevron!


Radio Torn.Fu di lapangan. Mau kerja apa mau piknik, Mas?


Petugas radio Heer di tengah tempat kerja mereka yang "aduhai" mewahnya. Tampaknya tempat ini baru saja digali, terlihat dari sekop yang masih nongkrong di tengah gundukan tanah!


Petugas harus selalu stand-by di depan perangkat radio mereka demi mengantisipasi kalau-kalau ada berita penting datang. Maka tugas jaga pun di buat aplusan, yang satu boleh molor dulu di tengah udara yang dingin dan lembab, sementara rekannya manteng terus dengan radio Torn.Fu


Petugas radio dari Waffen-SS ini sedang men-tes radio Torn.Fu mereka sementara rekan-rekannya bekerja membuat bunker sederhana dari tanah


"B-stelle mit Funkgerät, Angriff!" Pasukan Gunung Jerman (Gebirgsjäger) di pos observasi mereka yang dilengkapi dengan radio Torn.Fu, sedang mengawasi serangan pasukannya yang terjadi di bawah lembah


Radio Torn.Fu di mobil


Apakah ini foto propaganda? Petugas dengan radio Torn.Fu sedang "bekerja" di tengah-tengah alam nan asri


Radio Torn.Fu di lapangan


Petugas bagian sandi sedang mencatat pesan dalam radio, sementara di depannya adalah radio Torn.Fu


Funk offiziere dengan radio Torn.Fu


Radio Torn.Fu di musim dingin


Prajurit SS dengan Lichtsprechgerät 80


Salah satu setting radio luar-ruangan Wehrmacht yang menempatkan empat posisi radio operasi mengelilingi satu unit kontrol pusat. Perhatikan Gogniometer yang berada di atas receiver-nya! Kabel yang menghubungkan kontrol pusat dengan radio operasi tidak terlihat disini, yang mungkin mengindikasikan bahwa foto ini diambil pada saat pelatihan. Richtkreis di atas tripod dengan pancang kecil di bawahnya sebagai gandulan terlihat di latar belakang, juga Nahfeldpeiler yang diletakkan di meja


Para anggota Regimentstab dari Gebirgsjäger-Regiment 91 / 4.Gebirgs-Division mendengarkan berita dari radio tentang pengumuman perang Jerman terhadap Uni Soviet sekaligus dimulainya invasi Wehrmacht atas negara tersebut yang dikenal dengan nama "Unternehmen Barbarossa", pagi tanggal 22 Juni 1941. Saat itu 4. Gebirgs-Division masih belum terlibat langsung dalam penyerbuan dan masih bermarkas di Yugoslavia. Baru satu bulan kemudian mereka mendapat perintah untuk ikut berpartisipasi

 
"Hallo Kameraden in Afrika!" Para Matrosen (pelaut) Jerman di atas kapal patroli mendengarkan siaran radio di tengah samudera luas, 26 Juni 1942. Meskipun jauh dari kampung halaman, tapi mereka hampir tidak pernah ketinggalan berita terbaru dari tanah air yang didapatkan melalui radio berdaya pemancar tinggi. Dari tropenuniform serta tropenhelm yang mereka kenakan, bisa diketahui bahwa foto ini diambil di perairan Mediterania. Matrosen di sebelah kiri mengenakan Sporthemd Trikot Reichsadler (Kaos Dalam Wehrmacht). Foto oleh Kriegsberichter Kratochwill
 


Sumber :

Buku "Enzian und Edelweiß: Die 4. Gebirgsdivision 1940-45" karya Julius Braun
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org

www.kriegsberichter-archive.com
www.laud.no
www.wehrmacht-awards.com