Saturday, October 30, 2010

Daftar 11 Orang Ministerialdirektor Kriegsmarine (Sekretaris Angkatan Laut Nazi Jerman)

Dipl.Ing. Ferdinand Brandes (30 April 1879 - 19 April 1974)
Ministerialdirektor (4 Mei 1942)
Ministerialdirigent (1 Januari 1937)
Ministerialrat (1 Mei 1934)
Medali tertinggi: Deutsches Kreuz in Silber (17 Januari 1945)


Dipl.Ing. Franz Xaver Dorsch (24 Desember 1899 - 8 November 1986)
SA-Obergruppenführer (1 Mei 1944)
Ministerialdirektor (1 Februari 1940)
Regierungsbaumeister (1936)
Medali tertinggi: Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern (13 Mei 1943)


Dipl.Ing. Alfred Eckhardt (30 Mei 1872 - 10 Februari 1960)
Recht zum Tragen der Uniform eines Admirals verliehen (4 Agustus 1944)
Ministerialdirektor (20 April 1942)
Ministerialdirigent mit den Dienstgradabzeichen eines Vizeadmirals (14 Oktober 1939)
Ministerialdirigent (20 April 1938)
Medali tertinggi: Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern (7 Desember 1944)


Dipl.Ing. Curt Just (31 Desember 1878 - 2 Agustus 1961)
Ministerialdirektor (1 Juni 1942)
Ministerialdirigent (1939)
Ministerialrat (1 Agustus 1927)
Medali tertinggi: ?


Dipl.Ing. Hermann Lottmann (23 Maret 1881 - 8 Juli 1943)
Ministerialdirektor (9 Oktober 1939)
Ministerialdirigent (1 Januari 1939)
Medali tertinggi: ?


Dr.Ing.e.h. Paul Presze (20 Januari 1868 - 28 Januari 1948)
Ministerialdirektor (1 Mei 1927)
Ministerialrat (1 April 1920)
Medali tertinggi: ?


Hermann Reuter (6 Juli 1870 - 2 April 1934)
Ministerialdirektor (1 April 1920)
Wirkl. Geh. Admiralitätsrat (1 November 1919)
Geh. Admiralitätsrat mit der Range eines Rates II. Klasse (28 Mei 1915)
Wirkl. Admiralitätsrat und vortragender Rat (18 April 1911)
Charakter als Admiralitätsrat (12 Desember 1908)
Medali tertinggi: ?


Dr.jur. Heinrich Rosenberger (19 Juni 1873 - 5 September 1956)
Ministerialdirektor (?)
Ministerialdirigent (3 November 1936)
Ministerialrat (13 Februari 1923)
Medali tertinggi: ?


Theodor Schreiber (25 Oktober 1874 - 10 Juli 1947)
Ministerialdirektor (24 Agustus 1934)
Ministerialrat (20 April 1920)
Medali tertinggi: ?


Dr.Ing.e.h.Dipl.Ing. Friedrich Schürer (19 Juni 1881 - 27 Oktober 1948)
Ministerialdirektor (14 Februari 1944)
Ministerialdirigent (1 September 1941)
Medali tertinggi: Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuzes mit Schwertern (24 Juli 1944)


Dr.phil.h.c. Fritz Spiess (28 Oktober 1881 - 19 Februari 1959)
Ministerialdirektor mit den Rangabzeichen eines Generalleutnants (14 Agustus 1939)
Ministerialdirektor mit den Rangabzeichen eines Generalmajor (14 Agustus 1934)
Charakter als Konteradmiral (1 Oktober 1929)
Medali tertinggi: Großen goldenen Leibnitz-Medaille (30 Jun 1927)


Sumber :
Foto koleksi pribadi Gareth Collins
www.reocities.com
www.thirdreichcolorpictures.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

Daftar 1 Orang Senatspräsident Kriegsmarine (Presiden Senat Angkatan Laut Nazi Jerman)

Dr.jur. Wilhelm Sellmer (15 Juli 1877 - 13 Juni 1954)
Senatspräsident (01 Oktober 1936)
Reichsgerichtsrat (01 Mei 1934)
Medali tertinggi: ?


Sumber :
Koleksi pribadi Gareth Collins
www.reocities.com

SS-Standartenführer Léon Degrelle (1906-1994), Pahlawan Orang Jerman Yang Bukan Orang Jerman!


Untuk album foto Léon Degrelle bisa diberih DISINI



Oleh: Alif Rafik Khan

Léon Joseph Marie Ignace Degrelle dilahirkan di Bouillon tanggal 15 Juni 1906 dan meninggal tanggal 31 Maret 1994. Dia adalah seorang politisi terpandang kaum Walloon (suku bangsa berbahasa Prancis di Belgia) yang menjadi pendiri partai Rexis yang berhaluan Nasional-Sosialisme dan kemudian bergabung dengan Waffen-SS (menjadi pemimpin dari sukarelawan Walloon) dalam perang di garis depan melawan Uni Soviet yang komunis.

Setelah belajar di sebuah perguruan tinggi Jesuit dan menamatkan pendidikannya demi meraih gelar sebagai Doktor bidang hukum di Université catholique de Louvain, Degrelle bekerja sebagai jurnalis untuk penerbitan berkala media Katolik Roma yang beraliran Konservatif. Selama masa kerjanya ini, dia menjadi tertarik kepada pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh Charles Maurras dan kaum Integralisme Prancis. Sampai dengan tahun 1934, Degrelle bekerja sebagai koresponden korannya di Meksiko, selama berlangsungnya Perang Cristero antara golongan Katolik (Cristero) melawan golongan anti-pendeta. Dia terkesan akan golongan pertama, dan kemudian menjadi seorang militan dalam tubuh Partai Katolik, yang dia bentuk dalam waktu bersamaan dengan pembentukan Éditions de Rex yang juga dilakukan olehnya. Nama Éditions sendiri diambil dari yel-yel perang kaum Cristeros: Viva Cristo Rey y Santa María de Guadalupe, yang mengacu kepada Kristus Sang Raja.

Aksi-aksi yang dilakukan Degrelle dalam tubuh Partai Katolik ternyata berseberangan dengan sebagian besar pengurus partai lainnya, yang kebanyakan adalah kaum Monarkis dan juga Sentris. Grup Rexis, termasuk orang-orang terkemuka seperti Jean Denis, kemudian memisahkan diri dari Partai Katolik tahun 1935 setelah mengadakan pertemuan di Kortrijk. Partai sempalan yang baru dibentuk ternyata sangat dipengaruhi oleh faham Marxisme dan Korporatisme (juga memasukkan orang-orang yang hanya tertarik kepada Nasionalisme atau Ultramontanisme). Visinya adalah untuk mencapai kesetaraan sosial, yang tidak jauh berbeda dengan Marxisme tapi dalam kenyataannya sangat anti komunis (anti Bolsewik). Partai ini juga mengecam keras korupsi politik yang terjadi di dunia perpolitikan Belgia saat itu. Pendukung terbesarnya (di tahun 1936, tahun kejayaan Rex) berasal dari Brussels (yang terlihat dari hasil pemilihan mencapai 18,50%), Wallonia (15,16%), Flanders (7,01%), dan bagian dari wilayah Belgia yang penduduknya berbahasa Jerman (26,44%). Rexisme ternyata mendapat saingan dalam hal ideologi yang sama yang datangnya dari kaum Flemish (penduduk Belgia yang berbahasa Belanda), yaitu Vlaamsch Nationaal Verbond yang menginginkan pemisahan dari Belgia dan penggunaan secara ekslusif bahasa Belanda.

Pada tahun 1936 Degrelle bertemu dengan Benito Mussolini dan Adolf Hitler. Karena satu ideologi, kedua pemimpin terkemuka Fasis Eropa tersebut langsung menyokong Rexisme yang diusung Degrelle dengan gelontoran uang sejumlah 2 juta lira dan 100.000 marks untuk pengembangan ideologi dan partai. Pemilihan umum Belgia di tahun tersebut telah memberi Parti Rexiste 21 deputi dan 12 senator – meskipun kemudian pencapaiannya menurun pada tahun 1939, dengan hanya memenangkan 4 kursi di setiap dewan. Sudah tentu kebijakan partai mencanangkan pula anti-Semitisme ke dalam agendanya, dan tak lama kemudian Rexis sudah menjalin kontak dengan pergerakan Fasisme di seluruh Eropa. Degrelle terutama kongkow-kongkow dengan pemimpin Falangis Spanyol José Antonio Primo de Rivera dan pemimpin Iron Guard Rumania Corneliu Zelea Codreanu. Dengan makin dominannya unsur Nazi dan Fasis dalam tubuh partai, tak ayal membuat unsur lainnya (yaitu Sosial Katolik yang sebenarnya merupakan platform pertama partai ini) terpinggirkan. Ketika Perang Dunia II pecah, maka dogma Katolik tidak lagi dipakai dan secara resmi Partai Rexis mengambil azas Fasisme dan Nasional-Sosialisme.

Pada pertengahan tahun 1930-an, Degrelle dihubung-hubungkan dengan kartunis ternama Hergé (kreator TINTIN). Dalam komik yang diterbitkan setelah kematian Hergé (Tintin mon copain), Degrelle mengklaim bahwa masa-masa bekerjanya sebagai jurnalis telah menginspirasi tokoh Tintin yang wartawan. Pernyataan ini seakan menafikan statemen Hergé sebelumnya bahwa karakter ciptaannya yang mendunia tersebut terinspirasi dari saudaranya, Paul Rémi.

Ketika Perang Dunia II pecah, Degrelle mendukung kebijakan Raja Belgia Leopold III yang bersikap netral. Setelah negara tersebut kena gilirannya diinvasi juga oleh Jerman tanggal 10 Mei 1940, Partai Rexis terpecah dua berkaitan dengan kebijakan apakah akan melawan invasi tersebut atau berdiam diri dan malah bekerjasama. Degrelle merupakan penyokong utama pilihan yang kedua, dan karenanya dia pun dipenjarakan dengan tuduhan sebagai kolaborator. Ketika Belgia berhasil diduduki Jerman, Degrelle dipindahkan ke Prancis hanya untuk dibebaskan kemudian oleh pasukan Jerman yang juga menduduki negara tersebut. Degrelle kembali ke negaranya dan segera memproklamirkan Rexisme yang telah “direkonstruksi” sehingga lebih dekat ke Nazisme. Hal ini sangat kontras dengan grup kecil mantan pendiri Rexis lainnya (seperti Theo Simon dan Lucien Mayer yang memimpin organisasi perlawanan Katolik) yang telah mulai mengangkat senjata melawan pasukan pendudukan Nazi dari bawah tanah. Pada bulan Agustus 1940, Degrelle mulai memberi kontribusi pada pendirian media baru yang menjadi sumber berita Nazi di Belgia, Le Pays Réel (yang merujuk pada Charles Maurras).

Tidak cukup dengan itu, dia juga bergabung dengan legiun Walloon Wehrmacht yang didirikan bulan Agustus 1941 untuk bertempur melawan Uni Soviet di Front Timur. Dengan sibuknya Degrelle bertempur di garis depan, otomatis kepemimpinan Partai Rexis dialihkan ke Victor Matthys. Karena tidak punya pengalaman bertempur sebelumnya, maka Degrelle dengan legowo menerima kenyataan bahwa dia hanyalah berpangkat prajurit biasa (dasar berbakat, dia kemudian membuktikan dirinya di medan tempur sehingga cepat menanjak meraih jabatan perwira)! Pada awalnya, grup sukarelawan tersebut diancang-ancang sebagai penerus Angkatan Darat Belgia yang telah dibekukan, dan memang dipandang seperti itu selama berlangsungnya Operasi Barbarossa. Tapi tak lama semakin banyak dan semakin banyak orang-orang keturunan Walloon yang bergabung, sehingga kemudian diputuskan untuk memindahkannya dari Wehrmacht ke Waffen-SS bulan Juni 1943 dengan nama baru: 5. SS-Freiwiligen Sturmbrigade Wallonien.

Semenjak tahun 1940, hierarki Katolik Roma Belgia telah melarang pemakaian segala jenis seragam militer selama berlangsungnya misa. Pada tanggal 25 Juli 1943, di tempat kelahirannya Bouillon, Degrelle diberitahu oleh pastor Poncelet untuk meninggalkan Misa Requiem karena dia memakai seragam SS (yang telah dilarang keras oleh pihak gereja untuk digunakan di lingkungan mereka karena konotasinya yang kuat dengan penyembahan pagan dan pandangan buruk masyarakat terhadap kelakuan anggota-anggotanya). Degrelle tidak terima atas perlakuan tersebut sehingga ia pun terlibat percekcokan yang berujung dengan pemukulan si pastor. Karena hal ini, Degrelle lalu dikeluarkan dari keanggotaan Gereja Katolik. Sanksi ini dicabut setelah adanya pembelaan dari pendeta Katolik 5. SS-Freiwiligen Sturmbrigade Wallonien sebelum unit tersebut terlibat dalam salah satu pertempurannya yang paling terkenal: Pertempuran Cherkassy.

Dalam pertempuran yang berlangsung tahun 1944 ini Degrelle terluka berat tapi berhasil pulih kembali. Seperti telah disebutkan sebelumnya, kepemimpinan Degrelle yang menakjubkan dalam medan perang telah menginspirasi pasukannya sekaligus membuat kagum para kompatriot Jermannya. Pangkatnya naik dengan cepat, dan pada awal tahun 1945 dia telah menjadi seorang SS-Obersturmbannführer (Letnan Kolonel). Selain itu, dia juga menerima medali bergengsi Ritterkreuz langsung dari tangan Hitler (yang tak dapat menyembunyikan kekagumannya akan Degrelle dan berkata, “kalau aku punya anak, aku ingin dia seperti engkau”). Tak cukup sampai disitu, dia juga kemudian dianugerahi Eichenlaub (yang dalam sejarahnya hanya diberikan kepada dua orang asing selain Degrelle, orang Estonia Alfons Rebane dan komandan Blaue Division dari Spanyol Agustín Muñoz Grandes).

Setelah kekalahan Jerman, Degrelle melarikan diri ke Denmark dan kemudian dilanjutkan ke Norwegia dengan menggunakan pesawat Heinkel He 111 yang disediakan oleh Albert Speer. Degrelle terluka parah dalam pendaratan darurat pesawat tersebut di pantai San Sebastian di Spanyol Utara. Pemerintahan diktator Franco berkeras menolak untuk menyerahkannya kepada pihak Sekutu (atau mengekstradisinya ke Belgia) dengan beralasan kepada kondisi kesehatannya yang buruk. Setelah tekanan internasional semakin menguat, Franco tidak kurang akal: dia mengizinkan Degrelle untuk melarikan diri dari rumah sakit, sementara menyerahkan orang yang bermuka sama untuk ditangkap Sekutu! Tak hanya itu, Degrelle juga mendapatkan kartu identitas palsu yang disediakan oleh José Finat y Escrivá de Romaní. Rupanya Franco ngefans juga sama buronan terkenal ini, sehingga pada tahun 1954 dia menawarkan kewarganegaraan Spanyol kepada Degrelle demi membuat dia kerasan dan tidak meneruskan pelariannya ke negara lain. Namanya berubah menjadi José León Ramírez Reina, dan kaum Falangis pun memberikannya posisi sebagai pemimpin sebuah firma konstruksi yang menuai untung besar dari kontrak-kontrak pemerintah yang diberikan kepadanya. Di lain pihak, Belgia mendakwanya in absentia dan kemudian menjatuhinya hukuman mati dengan regu tembak dengan alasan pengkhianatan.

Selama masa tinggalnya di Spanyol, Degrelle menjadi anak emas Francisco Franco dan hidup lebih dari layak. Dia biasa muncul dalam acara-acara publik dan pertemuan tertutup dengan mengenakan seragam putih atau seragam SS yang menampilkan semua penghargaan dan medali Jerman yang telah diperolehnya di medan pertempuran. Degrelle tak pernah berhenti memuja Hitler, dan seringkali dia mengaku kalau saat-saatnya bersama sang Führer sebagai saat-saat paling tak terlupakan dalam hidupnya. Ketika Franco meninggal dan Spanyol beralih menjadi negara demokrasi, degrelle tetap hidup tenang tanpa gangguan dari siapapun.

Dia tetap menjadi seorang penulis artikel yang aktif dan tak pernah lelah menyuarakan pandangannya yang dipandang ekstrim saat itu. Dia juga aktif dalam gerakan Neo-Nazi Círculo Español de Amigos de Europa (CEDADE) dan memimpin penerbitan medianya yang berlokasi di Barcelona. Disini Degrelle tidak lupa menerbitkan tulisan-tulisan pribadinya, yang di antaranya adalah suratnya yang ditujukan kepada Paus Yohannes Paulus II dalam masalah yang berkenaan dengan Kamp Konsentrasi Auschwitz. Berkaitan dengan sebutan kamp tersebut sebagai tempat pemusnahan, Degrelle terus terang menyebutnya sebagai “suatu kebohongan besar, Bapak Suci.” Pembelaannya yang terus-menerus demi membantah tuduhan pembantaian massal (genocida) yang dituduhkan kepada Nazi membuat dia berhadap-hadapan di sidang pengadilan melawan Violeta Friedmann, seorang warga negara Venezuela kelahiran Rumania yang merupakan mantan penghuni salah satu kamp konsentrasi. Meskipun dalam pengadilan-pengadilan awal Degrelle lah pemenangnya, tapi Mahkamah Tinggi menilai bahwa dia telah membangkitkan kembali kenangan buruk para korban kamp, baik Yahudi maupun non-Yahudi, dan karenanya mengharuskan Degrelle untuk membayar sejumlah uang denda. Diputuskan juga bahwa dia harus membayar denda tambahan gara-gara suratnya kepada Paus yang “kontroversial”.

Ketika dia ditanya apakah dia mempunyai penyesalan di masa perang, dengan tenang Degrelle menjawab: “Hanya bahwa kita kalah.”

Léon Degrelle meninggal dunia karena serangan jantung di rumah sakit Málaga tanggal 31 Maret 1994.

Promosi:
- 12 Februari 1942: Gefreiter (Heer)
- 28 Februari 1942: Oberfeldwebel (Heer)
- 01 Mei 1942: Leutnant der Reserve (Heer)
- 01 Juni 1943: SS-Obersturmführer der Reserve (Waffen-SS)
- 01 Januari 1944: SS-Hauptsturmführer der Reserve (Waffen-SS)
- 20 April 1944: SS-Sturmbannführer der Reserve (Waffen-SS)
- 01 Januari 1945: SS-Obersturmbannführer der Reserve (Waffen-SS)
- 20 April 1945: SS-Standartenführer der Reserve (Waffen-SS)
Catatan: Degrelle sebenarnya telah dipromosikan menjadi SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS langsung oleh Heinrich Himmler tanggal 2 Mei 1945. Catatan tentang hal ini tercantum dalam Soldbuch-nya. Tapi promosi ini tidak dianggap resmi dan berlaku karena pada saat pengangkatan ini Himmler sudah dicopot dari jabatannya sebagai panglima SS oleh perintah Führer tertanggal 28 April 1945.

Medali dan Penghargaan:
- 22 Agustus 1944: Disebutkan di Wehrmachtbericht
- 27 Agustus 1944: Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai SS-Sturmbannführer der Reserve dan komandan 5.SS-Freiwilligen-Panzer-Brigade “Wallonien” / Kampfgruppe Wagner / Armee-Abteilung Narwa / Heeresgruppe Nord, Front Timur
- 20 Februari 1944: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai SS-Hauptsturmführer der Reserve dan Führer SS-Sturmbrigade “Wallonien” / 8.Armee / Heeresgruppe Süd, Front Timur
- 09 Oktober 1944: Deutsches Kreuz in Gold sebagai SS-Sturmbannführer der Reserve dan komandan 5.SS-Freiwilligen-Sturmbrigade “Wallonien” / 5.SS-Panzer-Division “Wiking” / III.(germanische) SS-Panzer-Korps / Armee-Abteilung Grasser / Heeresgruppe Nord, Front Timur
21 Mei 1942: 1939 Eisernes Kreuz I. Klasse
13 Maret 1942: 1939 Eisernes Kreuz II. Klasse
14 September 1944: Nahkampfspange III.Stufe (Gold)
19 Maret 1944: Nahkampfspange II.Stufe (Silber)
30 November 1943: Nahkampfspange I.Stufe (Bronze) (dokumen lainnya menyebutkan tanggal 23 Desember 1943 dan 20 Februari 1944)
25 Agustus 1942: Infanterie-Sturmabzeichen in Silber
19 Maret 1944: Verwundetenabzeichen, 1939 in Gold
20 Februari 1944: Verwundetenabzeichen, 1939 in Silber (dokumen lainnya menyebutkan tanggal 23 Desember 1943)
15 Agustus 1942: Medaille “Winterschlacht im Osten 1941/42” (Ostmedaille)


Sumber : www.en.wikipedia.org


Monday, October 25, 2010

Foto Léon Degrelle

Léon Degrelle di Brussels tanggal 15 Januari 1937. Pemimpin Parti Rexiste (Partai Rexist) di Belgia ini terkenal sebagai orator yang ulung, sama seperti Adolf Hitler dan Benito Mussolini yang menjadi idolanya. Partai sayap kanan ini mencapai puncak kesuksesannya tahun 1936 ketika berhasil meraih 11,4% suara dalam pemilihan umum yang diselenggarakan di tahun itu



Léon Degrelle sebagai ketua Partai Rexis sebelum Perang Dunia II. Mulai tahun 1938 dan sampai sebelum invasi Jerman, Partai Rexis pimpinan Degrelle mulai menurun popularitasnya, seiring dengan makin dekatnya sang pimpinan partai pada ideologi Nasional-Sosialisme serta Fasisme yang diusung oleh Jerman dan Italia


Kegiatan favorit Léon Degrelle: ngoceh! Di sepanjang tahun 1937 dan awal 1938, setiap acara partai Rexis yang dihadiri oleh Chef de Rex selalu mengundang banyak orang untuk menghadirinya. Pada bulan Januari 1937 Degrelle mengadakan pertemuan di auditorium terbesar di Brussels selama enam malam berturut-turut, dan auditorium tersebut selalu penuh setiap malamnya!



Ketua Partai Rexist Léon Degrelle keluar dari kantor pendaftaran sukarelawan Wallonie di musim panas tahun 1941. Ketika Jerman menyerbu Uni Soviet tanggal 22 Juni 1941 dan mengajak seluruh dunia untuk "melakukan perang suci melawan komunisme", lebih dari 1000 orang Wallonie langsung menyatakan kesiapannya untuk menjadi sukarelawan, termasuk di antaranya adalah Degrelle sendiri. Tentu saja pihak Jerman begitu gembira mengetahui bahwa tokoh yang sangat berpengaruh di Belgia tersebut bersedia untuk bergabung dan karenanya mereka menawari Degrelle jabatan perwira di Legion Wallonie yang nantinya dibentuk. Secara sopan Degrelle menolak tawaran tersebut dan lebih memilih memulai karir militernya dari pangkat terbawah dengan alasan untuk menambah pengalaman yang masih nol di bidang ini!


Para anggota pertama Legion Wallonie sedang berbaris dalam salah satu parade mereka demi mendukung "perang suci" Jerman di Front Timur tanggal 8 Agustus 1941. Tempatnya adalah di luar Beaux Arts Palais. Di tengah adalah sang pemimpin, siapa lagi kalau bukan Léon Degrelle!


Léon Degrelle di tengah acara resmi Partai Rexis yang diselenggarakan di Brussels (Belgia) bulan Agustus 1941 dan dihadiri oleh 800 orang calon sukarelawan Legion Wallonie. Dia berpidato dengan latar belakang lukisan besar Asmuni eh Adolf Hitler. Acara ini diberitakan dalam "Die Deutsche Wochenschau" nomor 572 keluaran 20 Agustus 1941, sementara foto yang sama dijadikan pula sebagai sampul DVD "Epic: The Story of the Waffen-SS Léon Degrelle"

 

Léon Degrelle memakai seragam milisi Rexis hitam berfoto bersama perwira Jerman yang tak diketahui namanya (sementara saya sendiri berkeyakinan kalau namanya adalah KLIWON!). Tampaknya foto ini diambil sebelum keberangkatan ke tempat pelatihan para sukarelawan Wallonie dimana nantinya mereka akan dikirimkan ke medan pertempuran Front Timur
 

Sukarelawan Wallonie untuk "Perang Melawan Komunis Soviet" sedang bersumpah setia kepada Hitler dengan mengenakan seragam Gebirgsjäger Heer tanggal 2 September 1941. Pemimpin Partai Rexis Léon Degrelle berdiri ketiga dari kiri. Dia memilih untuk memulai perang sebagai prajurit biasa dan bukannya perwira seperti yang seharusnya diberikan kepada tokoh berpengaruh seperti dia!



Leutnant der Reserve Léon Degrelle di medan perang Rusia sebagai sukarelawan di Wehrmacht sebelum ditransfer ke Waffen-SS. Di seragamnya telah tercantol medali Eisernes Kreuz II.Klasse (13 Maret 1942) dan I.Klasse (21 Mei 1942) sebagai bukti bahwa tokoh politikus satu ini "tidak main-main" saat memutuskan untuk terjun ke medan perang! Foto kemungkinan besar diambil dalam rentang waktu antara 21 Mei 1942 (penganugerahan EKI) sampai dengan 15 Agustus 1942 (penganugerahan Ostmedaille)


 Leutnant Léon Degrelle berpatroli di pinggir rel kereta api bersama dengan pasukannya saat berlangsungnya ofensif Wehrmacht ke wilayah Kaukasus di musim panas tahun 1942. Dalam periode ini Degrelle, yang bergabung bersama Legion Wallonie, dianugerahi Eisernes Kreuz II.Klasse dan Eisernes Kreuz I.Klasse sebagai penghargaan atas kepahlawanannya di medan perang


Leutnant Léon Degrelle bersama dengan kameradnya yang merupakan seorang sanitäter (petugas medis militer) setelah terluka di Front Timur tahun 1942/1943. Selama pergulatan militernya di Front Timur, sang politisi Wallonie tercatat terluka sebanyak empat kali, dengan yang paling serius didapatkannya di Kantong Cherkassy bulan Januari 1944


 
 Léon Degrelle memakai seragam Heer dengan pangkat Leutnant. Disini dia mengenakan medali-medali keluaran Jerman: Pita Eisernes Kreuz II.Klasse, Eisernes Kreuz I.Klasse, Infanterie-Sturmabzeichen in Silber serta Verwundetenabzeichen in schwarz. Perhatikan pula panji kebangsaan "Wallonien" di lengannya! Panji ini biasa disematkan pada setiap sukarelawan asing yang mengabdi di Wehrmacht serta Waffen-SS, dan biasanya berupa bendera atau simbol kebangsaan mereka




Léon Degrelle secara sukarela bergabung dengan Wehrmacht tahun 1941 bersama dengan sekitar 850 orang keturunan Wallonie lainnya, yang kemudian dimasukkan ke dalam unit setingkat batalyon yang dinamakan sebagai Wallonische-Infanterie Bataillon 373. Unit ini dikirim ke medan perang Rusia akhir tahun 1941 dan ditempatkan di bawah komando beberapa divisi: 101. Leichte Infanterie-Division, 100. Leichte Infanterie-Division, 68. Infanterie-Division, dan 97. Leichte Infanterie-Division. Karena dua unit pertama batalyon Wallonie ini merupakan unit infanteri ringan (Jäger), maka para anggotanya berhak untuk mengenakan insignia Gebirgsjäger seperti Edelweissabzeichen dan Bergmütze. Pada tahun 1943 kekuatannya sudah mencapai satu brigade dengan anggota sebanyak 2000 orang. Seperti beberapa unit sukarelawan asing Heer lainnya (contohnya: LVF dari Prancis), mereka dialihtugaskan dari Heer ke Waffen-SS untuk memenuhi permintaan dari Himmler. Pada tahun 1944 Degrelle mengaku bahwa hanya ada tiga orang anggota pertama batalyon Wallonie yang tersisa dari medan perang Rusia! Mereka menderita korban besar di tahun 1942/1943 meskipun bertempur dengan baik. Karenanya, hanya sedikit sukarelawan Wallonie yang "berhak" mengenakan insignia gunung Heer, termasuk Léon Degrelle


 Hauptmann Lucien Lippert (Kommandeur Legion Wallonie) dan wakilnya, Leutnant Léon Degrelle, bulan Juli 1943. Lippert adalah mantan perwira staff jenderal Belgia yang kemudian menjadi pimpinan para sukarelawan Wallonie (orang Belgia yang berbahasa Prancis) di Wehrmacht. Pada tanggal 1 Juni 1943 Legion Wallonie ditransfer dari Heer ke Waffen-SS dan dinamai ulang sebagai SS-Sturmbrigade Wallonie. Uniknya, sebenarnya yang merekrut para sukarelawan ini untuk pertama kalinya pada tahun 1941 adalah Waffen-SS juga, yang kemudian mengirimnya ke Heer musim gugur 1941!


 Leutnant Léon Degrelle dalam acara pembukaan pameran foto di Belgia yang menampilkan para anggota Legion Wallonie sebagai penghormatan untuk ulangtahunnya yang ke-30, tanggal 18 Juni 1943. Di bulan yang sama Legion Wallonie berpindah dari Heer ke Waffen-SS dan dinamai ulang menjadi SS-Sturmbrigade "Wallonien". Unit ini dimasukkan menjadi bagian dari Divisi SS "Wiking" dan bertugas di sektor selatan Front Timur di akhir tahun 1943


Reichsführer-SS Heinrich Himmler mengadakan inspeksi ke markas sukarelawan SS Wallonie hasil pindahan dari Heer yang baru dibentuk, 26 Juni 1943. Disini tampak dia (kedua dari kiri) sedang berbicara dengan Leutnant Léon Degrelle (tengah). Satu bulan sebelumnya Himmler dan Degrelle sudah bertemu di kereta api pribadi sang Reichsführer-SS yang dinamakan "Sonderzug Heinrich" yang sedang berada dalam perjalanan ke Meseritz, Pommern. Pertemuan secara pribadi membahas nasib Legion Wallonie berlangsung dari jam 22:00 malam tanggal 23 Mei 1943 s/d jam 01:00 diniari tanggal 24 Mei 1943


Tampaknya masih dalam kesempatan yang sama. Léon Degrelle dan Heinrich Himmler


 Leutnant Léon Degrelle menginspeksi para sukarelawan baru Sturmbrigade Wallonien di Namur (Belgia), bulan Juli 1943. Unit sukarelawan Wallonie ini pada awalnya tergabung di Heer, tapi kemudian ditransfer ke Waffen-SS bulan Juni 1943. Dari sejak saat itu kekuatannya terus berkembang menjadi setingkat resimen dan kemudian divisi. Nama terakhir yang disandangnya dari sejak tahun 1944 adalah SS-Freiwilligen-Panzergrenadier-Division "Wallonien"


SS-Obersturmführer Léon Degrelle dalam upacara penyerahan bendera Sturmbrigade Wallonie di musim panas tahun 1943


SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (tersenyum ke kamera) bersama dengan beberapa orang anakbuahnya dari SS-Sturmbrigade Wallonien di Kantong Cherkassy awal tahun 1944. Bagi 56.000 orang prajurit Wehrmacht yang terperangkap disana di akhir bulan Januari 1944, pengepungan ini mungkin merupakan pergulatan paling brutal, luar biasa melelahkan dan menguras mental yang pernah mereka alami. Pertempuran yang berkecamuk berpusat pada usaha bersama unit-unit Heer dan Waffen-SS yang berusaha membebaskan rekan-rekan mereka dari unit-unit Heer dan Waffen-SS lainnya yang terperangkap di garis belakang Rusia


 
SS-Hauptsturmführer der Reserve Léon Degrelle (Führer SS-Sturmbrigade Wallonien) dan para anggota unitnya yang selamat dari kepungan Tentara Merah di Cherkassy. Pertempuran yang konstan serta serbuan berkali-kali pasukan musuh membuat anggota brigade tersebut berkurang drastis dari 2000 orang menjadi hanya tinggal 632 yang tersisa! Meskipun begitu, sampai ditariknya pasukan Jerman dari pengepungan, pihak Rusia tak mampu menembus pertahanan penuh determinasi para sukarelawan asal Belgia tersebut! BTW, Artileri yang numpang nampang di depan dalam foto ini adalah senjata anti-tank 7,62 cm Rusia


Pemberian medali kepada para pahlawan Pertempuran Cherkassy. Upacaranya diselenggarakan di Führerhauptquartier Wolffschanze tanggal 20 Februari 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (Führer 5.SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien"), SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert Otto Gille (Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking"), Adolf Hitler, SS-Brigadeführer Hermann Fegelein (Verbindungsoffizier der Waffen-SS zum Führerhauptquartier) dan Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Deutschen Polizei). Degrelle mendapat Ritterkreuz #2474 sementara Gille Schwertern #47




Para komandan pasukan yang menerima medali dari tangan Hitler di Führerhauptquartier Wolffschanze tanggal 20 Februari 1944 atas kepahlawanan mereka dalam Pertempuran di Cherkassy. Dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert Otto Gille (Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking"), Generalleutnant Theobald Helmut Lieb (Kommandierender General XXXXII. Armeekorps) dan SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (Führer 5.SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien"). Paling kanan adalah Reichspressechef Dr. Otto Dietrich. Degrelle sendiri bukanlah orang Jerman, melainkan sukarelawan dari Wallonie (wilayah Belgia yang berbahasa Prancis)!


 Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Deutschen Polizei) berbincang-bincang santai dengan dua orang perwira Waffen-SS yang berprestasi: SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert Otto Gille (kiri, Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking") dan SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (kanan, Führer 5.SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien") tak lama setelah penganugerahan medali di Führerhauptquartier Wolffschanze tanggal 20 Februari 1944 atas kepahlawanan mereka dalam Pertempuran di Cherkassy


Konferensi pers yang dilangsungkan di Reichspropagandaministerium (Berlin) tak lama setelah upacara penganugerahan medali untuk para pahlawan Pertempuran Cherkassy di Führerhauptquartier Wolffschanze tanggal 20 Februari 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (Führer 5. SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien"), Generalleutnant Theobald Helmut Lieb (Kommandierender General XXXXII. Armeekorps), SS-Obergruppenführer Dr. Otto Dietrich (Reichspressechef), dan SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Herbert Otto Gille (Kommandeur 5. SS-Panzer-Division "Wiking") 



Léon Degrelle sebagai SS-Hauptsturmführer der Reserve dengan medali Ritterkreuz yang didapatnya tanggal 20 Februari 1944


Léon Degrelle sebagai sampul majalah Wehrmacht terkemuka SIGNAL. Ritterkreuz yang terpasang di lehernya adalah hasil editan Photoshop zaman Fir'aun!


Léon Degrelle dengan senang hati membiarkan para pengagumnya memperhatikan medali kebanggaan Ritterkreuz yang tergantung di lehernya


Léon Degrelle sebagai seorang ayah bersama dengan putri-putri tercintanya


Léon Degrelle bersama dengan para Grenadiernya sedang mengantisipasi datangnya serangan Rusia di Estonia, Agustus 1944. Terlihat jelas kelelahan di mata para pasukannya, sementara Degrelle? Semangat yang tak kunjung padam untuk bertempur!


Léon Degrelle memimpin pasukannya berpatroli di pedalaman Rusia, 6 Oktober 1944. Tampak jelas kelelahan di matanya!


Léon Degrelle di bulan November 1944 dalam kunjungannya ke para sukarelawan Prancis "Charlemagne"

Wudhu? Bukan lah! Léon Degrelle dengan seragam camo tanpa gelembung (layaknya khaki) dipadukan dengan sepatu boot tinggi perwira


Léon Degrelle sebagai SS-Sturmbannführer


Léon Degrelle bersama dengan SS-Hauptsturmführer Hermann Weiser dan SS-Obergruppenführer Josef "Sepp" Dietrich


Léon Degrelle dan ajudannya SS-Untersturmführer Roger Wastiau di Charleroi, Belgia. Di kerah Wastiau kita bisa melihat tergantung medali Kriegsverdienstkreuz 2.Klasse mit Schwertern


Léon Degrelle dan SS-Gruppenführer Richard Jungclaus (Höherer SS und Polizeiführer Belgien und Nordfrankreich)



 SS-Sturmbannführer Léon Degrelle (Kommandeur SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie") memberi salam hormat pada barisan sukarelawan Wallonie di atas sebuah Sd.Kfz.251 bersama dengan anaknya dalam acara parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944 di Brussels, Belgia. Para anggota SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie" tersebut melintasi kota dari selatan ke utara, sementara foto ini sendiri diambil di depan "Bourse" (bangunan bursa saham Belgia). Degrelle mengenang: "Aku menyambut parade Légion Wallonie di depan bursa saham di salah satu kendaraan kami. Aku luar biasa gembira dan merasa bangga yang tak terperikan saat kendaraan lapis baja dan kendaraan perang lainnya melintasiku dengan suara yang bergemuruh. Kendaraan-kendaraan ini sebenarnya merupakan pinjaman dari Sepp Dietrich, tapi mereka dipenuhi oleh prajurit-prajurit Belgia kami. Aku menyambut setiap kendaraan yang melintas dengan tangan kananku yang terangkat ke atas, helm baja menutupi kepalaku dan medali Ritterkreuz yang kudapatkan langsung dari Hitler terpasang di leherku. Tangan yang satunya memegang tangan anakku yang diperbolehkan untuk naik ke atas kendaraan dan berdiri bersamaku. Diperkirakan sekitar seratus ribu orang menyambut kedatangan kami dengan gegap gempita sambil melemparkan buket bunga yang menggunung."


SS-Sturmbannführer Léon Degrelle (Kommandeur SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie") mempersembahkan medali Eisernes Kreuz I.Klasse pada para perwira terbaik brigadenya selama berlangsungnya parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944 di Charleroi, Belgia. Para penerima, dari kiri ke kanan: SS-Obersturmführer Marcel Lamproye (Chef 5. Panzerabwehrkompanie) dan SS-Obersturmführer Marcel Bonniver (Chef 4. Sturmgewehrkompanie)


 SS-Sturmbannführer Léon Degrelle (Kommandeur SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie") mempersembahkan medali Eisernes Kreuz I.Klasse pada para perwira terbaik brigadenya selama berlangsungnya parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944 di Charleroi, Belgia. Para penerima, dari kiri ke kanan: SS-Obersturmführer Marcel Lamproye (Chef 5. Panzerabwehrkompanie), SS-Obersturmführer Marcel Bonniver (Chef 4. Sturmgewehrkompanie) dan SS-Untersturmführer Jean-Marie Lantiez (Chef Nachrichtenzug). Degrelle sendiri sebelumnya telah mendapatkan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes dari tangan Hitler atas prestasinya di Kantong Cherkassy dan sang Führer, yang kemudian menaruh perhatian besar pada perkembangan brigade Degrelle, menjadikan sang komandan Wallonie sebagai salah satu perwira perang favoritnya walaupun notabene dia bukanlah orang Jerman!


 Para perwira Wehrmacht dan SS berkumpul di depan aula kota di Charleroi, Belgia, dalam acara parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Oberführer Fritz Witt (Kommandeur 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); Militärverwaltungschef Eggert Reeder (Verwaltungschef für Belgien und Nordfrankreich); dan Generalleutnant Emil Zellner (Oberfeldkommandantur 520 Mons). Baris belakang: SS-Sturmbannführer Heinrich "Hein" Springer (Divisionsadjutant 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Standartenführer Kurt Meyer (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 25/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Sturmbannführer León Degrelle (Kommandeur SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie"); SS-Oberführer Fritz Kraemer (Ia Erster Generalstabsoffizier I. SS-Panzer-Korps "Leibstandarte"); SS-Hauptsturmführer tak dikenal; SS-Hauptsturmführer Hermann "Bibl" Weiser (Adjutant Kommandierender-General I. SS-Panzer-Korps "Leibstandarte" Dietrich); SS-Standartenführer tak dikenal; dan SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Polizei Richard Jungclaus (Bevollmächtigter des Reichsführer-SS in Belgien und Nordfrankreich)


Léon Degrelle dan SS-Gruppenführer Richard Jungclaus di Istana Charles II, Charleroi, Belgia, tanggal 1 April 1944


Upacara pemberian medali di Charleroi (Belgia) kepada para anggota Wallonie yang selamat dalam pengepungan Cherkassy. Dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich, SS-Gruppenführer Richard Jungclaus dan SS-Sturmbannführer Léon Degrelle


Upacara penghargaan kepada para anggota Sturmbrigade Wallonie yang selamat dalam Pengepungan Soviet di Cherkassy yang diselenggarakan di Charleroi, Belgia, tanggal 1 April 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandierender General I. SS-Panzerkorps), SS-Hauptsturmführer Léon Degrelle (Führer 5.SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien"), dan SS-Obersturmführer der Reserve Jean Vermeire (5.SS-Freiwilligen Sturmbrigade "Wallonien")


Léon Degrelle berpidato

 
Dari kiri ke kanan: SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Jürgen Wagner (Kommandeur Kampfgruppe Wagner), SS-Sturmbannführer der Reserve Léon Degrelle (Kommandeur 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien") dan SS-Obersturmführer Karl Schäfer (Adjutant 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien"). Foto diambil di dekat Dorpat (Estonia) bulan Agustus 1944 ketika sebagian Sturmbrigade Wallonie berada di bawah komando sang Brigadeführer dalam Kampfgruppe Wagner. Degrelle dan ajudan Jermannya mengenakan seragam kamuflase dari jenis SS-Erbsenmuster (pea-dot pattern). Degrelle bahkan mengenakan feldmütze M38 dari bahan yang sama yang merupakan hasil modifikasi di lapangan dan bukannya resmi keluaran depot pasukan!


Foto ini diambil di dekat Dorpat (Estonia) bulan Agustus 1944 ketika sebagian Sturmbrigade Wallonie berada di bawah komando sang Brigadeführer dalam Kampfgruppe Wagner. Dari kiri ke kanan: SS-Obersturmführer Karl Schäfer (Adjutant 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien"), SS-Sturmbannführer der Reserve Léon Degrelle (Kommandeur 5. SS-Freiwilligen-Sturmbrigade "Wallonien") dan SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Jürgen Wagner (Kommandeur Kampfgruppe Wagner)


Léon Degrelle dalam acara penganugerahan medali Eichenlaub. Di sebelahnya adalah SS-Obergruppenführer Felix Steiner


SS-Sturmbannführer Léon Degrelle dengan medali Eichenlaub


Kepala Komite Pembebasan Wallonie Léon Degrelle bersama dengan Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop, bulan Desember 1944


Léon Degrelle berfoto bersama dengan para perwira SS


Léon Degrelle di lumpur Pomerania tahun 1945. Salah satu foto langka yang memperlihatkan dia dengan medali Eichenlaubnya!


Léon Degrelle dalam kunjungan ke pasukannya di dekat Stargard bulan Februari 1945


Foto lan Léon Degrelle di Pomerania tahun 1945


Léon Degrelle dengan seragam SS-Standartenführer. Foto dari tahun 1949


Foto lainnya dari Léon Degrelle dengan seragam SS-Standartenführer. Kalau yang ini tahun 1983


Léon Degrelle memakai seragam putih musim panas SS di Spanyol tanggal 8 Oktober 1957


Tetap teguh memuja Hitler walaupun perang sudah berlalu dan Nazi kalah total!


Léon Degrelle dengan seragam putih musim panas SS dan segambreng penghargaan super bergengsi yang diraihnya semasa perang. Dia mempunyai sebuah villa yang indah di Majorca, Spanyol, tak jauh dari tempat tinggal Otto Kretschmer (jagoan U-boat Jerman paling dahsyat dalam Perang Dunia II). Dia juga enak kalau diajak wawancara, dan tidak "mentang-mentang". BTW, pangkat terakhirnya, SS-Standartenführer (Kolonel Senior) setingkat dengan pangkat Brigjen (Brigadir Jenderal) kalau di Indonesia


 Léon Degrelle mengenakan seragam parade Phalangis Spanyol dengan insignia kerah SS-Standartenführer dalam acara pernikahan putri tercintanya yang diselenggarakan tahun 1962. Degrelle dikaruniai enam orang anak (lima putri dan satu putra): Françoise Degrelle, Chantal Degrelle, Anne Degrelle, Godelive Degrelle, Léon-Marie Degrelle, dan Marie Christine Degrelle


Degrelle tua pasca-perang. tetap bangga mengenakan medali Eichenlaub yang didapatnya dengan bersimbah darah! Orang-orang skeptis berkata bahwa penghargaan-penghargaan yang didapat Degrelle semata-mata karena "siapa dia" dan bukan "apa yang dilakukannya". Untuk menjawabnya, saya akan berikan contoh tiga orang: Baldur von Schirach: panglima Hitlerjugend dan juga seorang Gauleiter. Medali tertingginya adalah Eisernes Kreuz II klasse; Artur Axmann: panglima Hitlerjugend. Medali tertingginya adalah Eisernes Kreuz II klasse. Reinhard Heydrich, orang kedua SS setelah Himmler. Medali tertingginya adalah Eisernes Kreuz I klasse. Sementara Degrelle? Ritterkreuz mit Eichenlaub, Deutsches Kreuz in Gold, Nahkampfspange in Gold, Verwundetenabzeichen in Gold!


Léon Degrelle tua


Léon Degrelle di masa tua di rumahnya yang asri


Léon Degrelle di Malaga tahun 1987


Léon Degrelle di Madrid tahun 1990


Léon Degrelle di Madrid sedang merundingkan perencanaan acara simpatisan Nazi

 Léon Degrelle dalam berbagai buku dan penerbitan lainnya


Patung badan Léon Degrelle produksi Laboratoire de Sculpture


Wallpaper Léon Degrelle



Dalam wawancara yang dilakukan setelah perang ini, Léon Degrelle berbicara tentang Islam sekaligus menyatakan keterkejutannya tentang begitu banyaknya orang yang tidak tahu bahwa terdapat 60.000 orang muslim dalam tubuh Waffen-SS. Ini adalah terjemahan kasarnya: "Hitler sangat tertarik pada Islam dan sangat sensitif tiap kali membicarakan tentangnya. Dia tahu potensi tersembunyi umat muslim bagi Eropa yang bersatu." Ketika pewawancara bertanya: "Dari sudut pandang apa? agama?", Degrelle menjawab: "Ya, agama. Hitler sebenarnya merupakan orang yang relijius tapi sangat menentang campur tangan agama dalam urusan sehari-hari. Dia tidak terlalu memandang peran penting gereja. Gereja telah menentang Nazisme tapi kemudian berubah sikap, seperti biasa, menjadi pemuja sang pemenang meskipun datangnya selalu terlambat. Hitler menginginkan adanya muslim dalam tubuh SS karena cepat atau lambat dia akan membutuhkannya. Hitler menginginkan para SS muslim ini untuk membawa pulang revolusi Nazi dan bertempur bersama bukannya saling bertempur seperti yang terjadi pada masa sekarang. Pada Tahun Baru 1945 Hitler memberikan sebentuk kalung kecil dengan gambar ayat al-Qur'an bersepuh kuning emas bagi 60.000 orang prajurit muslimnya. Ingat, rasisme Hitler bukanlah berarti menindas ras lain melainkan menguatkan sekaligus menyeimbangkan potensi kepintaran kaum muda dan mudi demi membangun bangsa yang kuat dan bersatu." Degrelle juga menekankan betapa pentingnya keluarga dengan banyak anak dan di masa kekuasaan Hitler tiap tahunnya lahir 1.800.000 bayi Jerman. Dia menyimpulkan bahwa "Negara-negara yang tidak bahagia biasanya tidak mempunyai banyak anak kecil"!




Sumber :
Buku "Heinrich Himmler: A Photographic Chronicle of Hitler’s Reichführer-SS" karya Martin Mansson
Buku "The Face of Courage: The 98 Men Who Received the Knight's Cross and the Close-Combat Clasp in Gold" karya Florian Berger
Foto koleksi pribadi Mark C. Yerger
www.5sswiking.tumblr.com
www.audiovis.nac.gov.pl
www.bloggen.be
www.blogs.lesoir.be
www.forum.axishistory.com
www.home.arcor.de
www.lewisheatonbooks.com
www.military.be

www.mourningtheancient.com
www.nacioneuropa.webs.com

www.tipsimages.it 
www.warrelics.eu
www.wehrmacht-awards.com