Sunday, March 6, 2011

Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (1882-1946), Panglima Wehrmacht Yang Setia Pada Hitler!


Oleh : Alif Rafik Khan

Wilhelm Bodewin Johann Gustav Keitel dilahirkan di Bad Gandersheim, Niedersachsen, Brunswick (saat itu menjadi bagian dari Kekaisaran Jerman) tanggal 22 September 1882. Ayahnya adalah seorang tuan tanah kelas menengah bernama Carl Keitel, sementara ibunya bernama Apollonia Vissering. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Göttingen, Wilhelm Keitel muda menempuh jalur karir militer tahun 1901 dan menjadi Fahnenjunker (kadet perwira) di Resimen Artileri Lapangan Niedersachsen ke-6. Dia kemudian menikah dengan Lisa Fontaine, seorang putri tuan tanah kaya raya, tahun 1909. Pasangan ini dikaruniai enam orang anak, yang salah satunya meninggal waktu masih bayi. Anak tertuanya, Karl-Heinz Keitel, menempuh jalur kemiliteran melalui Waffen-SS dengan pangkat terakhir sebagai SS-Sturmbannführer (Mayor) dan jabatan terakhir sebagai komandan 17 / 22.SS-Freiwilligen-Kavallerie-Division “Maria Theresia”.

Selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama, Keitel bertempur di Front Barat bersama dengan Resimen Artileri Lapangan No. 46. Pada bulan September 1914 dia terluka parah dalam pertempuran di Flanders ketika tangan kanannya terkena pecahan ledakan bom. Setelah mendapat perawatan dan sembuh dia langsung ditempatkan di staff jenderal Jerman awal tahun 1915 sampai dengan berakhirnya perang. Ketika Kekaisaran dibubarkan, Keitel tetap tinggal di ketentaraan dan bergabung dengan "Angkatan Perang 100 ribu orang" Reichswehr. Dia ikut ambil bagian dalam mengorganisasi pasukan penjaga perbatasan Freikorps di wilayah Jerman yang berbatasan dengan Polandia. Setelah itu dia bertugas sebagai perwira staff jenderal divisi, dan kemudian mendapat pendidikan kemiliteran lanjutan di Sekolah Kavaleri Hanover selama dua tahun.

Pada akhir tahun 1924 Keitel dipindahkan ke Reichswehrministerium (Kementerian Pertahanan) dan bertugas di bagian Truppenamt (Kantor Pasukan). Truppenamt ini sendiri sebenarnya adalah staff jenderal yang disamarkan karena memang dilarang berdiri berdasarkan perjanjian Versailles setelah Jerman keok dalam Perang Dunia I. Tak lama dia dipromosikan menjadi kepala departemen organisasi, sebuah jabatan yang tetap dia pegang saat Nazi naik ke tampuk kekuasaan tahun 1933. Pada tahun 1935, berdasarkan rekomendasi dari Generaloberst Werner Freiherr von Fritsch, Keitel dipromosikan menjadi Generalleutnant dan ditunjuk sebagai kepala departemen Wehrmachtsamt (Kantor Angkatan Bersenjata) yang bertanggungjawab terhadap tiga cabang angkatan bersenjata (Darat, Laut dan Udara).

Pada tahun 1937 Keitel naik pangkat lagi menjadi General der Artillerie. Tahun berikutnya, tak lama setelah peristiwa skandal Blomberg-Fritsch, posisi Reichskriegsministerium diganti menjadi Oberkommando der Wehrmacht (disingkat OKW, artinya: Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata) dengan Keitel sebagai kepalanya. Ini sekaligus juga membuat Keitel sebagai seorang Menteri Peperangan, dan dia pun masuk kabinet Jerman. Keitel berhasil meyakinkan Hitler agar mengangkat teman baiknya, Walther von Brauchitsch, sebagai Panglima Angkatan Darat.

Selama waktu yang singkat di bulan Oktober 1938 Keitel juga memegang jabatan sebagai Gubernur Sudetenland, tapi kemudian fungsinya dikembalikan sebagai kepala OKW bulan Februari 1939. Dia tetap memegang jabatan tersebut sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Keitel adalah salah satu perencana utama kampanye-kampanye dan operasi Wehrmacht di front Barat dan Timur. Dua kali dia menentang rencana Hitler untuk menginvasi Prancis dan menyerbu Rusia, dua kali pula dia harus mengalah atas keinginan Führer-nya, dan malah kemudian mengajukan pengunduran diri karena merasa pendapatnya tidak didengar. Permintaan ini tidak pernah dipenuhi oleh Hitler, dan pengunduran dirinya ditolak.

Pada tahun 1940, setelah kampanye di Prancis yang sukses luar biasa, Keitel dipromosikan menjadi Generalfeldmarschall bersama dengan beberapa jenderal lainnya. Yang tidak biasa adalah ketika dia dianugerahi medali keberanian Ritterkreuz, yang merupakan hal aneh buat dirinya yang merupakan seorang tentara non-lapangan dan lebih banyak bekerja di belakang WC eh meja! Alasannya adalah, karena dia dianggap berjasa telah mengupayakan perjanjian damai dengan Prancis.

Pada tahun 1942 kembali dia berkonfrontasi dengan Hitler ketika dia mati-matian membela Generalfeldmarschall Wilhelm List yang pasukannya, Armeegruppe A, mandek dalam pertempuran di Kaukasus. Hitler tetap keukeuh, dan List pun dipecat. Pembelaan Keitel atas List merupakan aksi terakhir pertentangannya dengan Hitler, dan sejak saat itu dia tidak pernah lagi mempertanyakan keputusan atau perintah dari Führer-nya. Sebagai contoh, dalam salah satu pembahasan strategi antara Hitler dan jenderal-jenderalnya di akhir-akhir peperangan, intelijen Luftwaffe melaporkan akan adanya pesawat-pesawat tempur Soviet dalam jumlah raksasa yang siap diterjunkan ke front. Reichsmarschall Hermann Göring, panglima Luftwaffe, mengatakan bahwa mereka hanyalah pesawat bohong-bohongan yang dimaksudkan untuk menipu Jerman, karena tak mungkin Angkatan Udara Merah mempunyai pesawat sebanyak itu. Keitel kemudian menaruh tangannya di meja dan, meskipun dia insyaf bahwa kenyataan sebenarnya merupakan kebalikan dari apa yang dikatakan Göring, dia berkata, "Mein Führer, pendapat Reichsmarschall adalah benar adanya."

Selain itu, Keitel membiarkan Heinrich Himmler, Panglima SS, untuk dengan leluasa menjalankan kebijakan rasial dan terornya di wilayah Soviet yang diduduki. Dia juga menandatangani surat-surat keputusan dan perintah yang tak terhitung jumlahnya, yang kebanyakan di antaranya bertentangan dengan hukum perang seperti yang dikeluarkan oleh Konvensi Jenewa. Yang paling terkenal dari ini adalah Kommissarbefehl (Surat Perintah Komisar, yang memerintahkan agar setiap komisar politik Soviet yang tertangkap untuk ditembak mati saat itu juga) dan juga Surat Keputusan Nacht und Nebel (Malam dan Kabut, yang memerintahkan "penghilangan" orang-orang yang didakwa sebagai anggota perlawanan di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman). Selain itu, juga ada surat perintah bahwa setiap pilot Prancis yang tergabung dengan skuadron Normandie-Niemen, maka bila tertangkap dia harus dieksekusi dan bukannya dijadikan tawanan perang.

Keitel menerima keputusan Hitler untuk Operasi Zitadelle pertengahan tahun 1943, meskipun di lain pihak banyak penentangan dari beberapa perwira tinggi lapangan yang beralasan bahwa saat itu belum tersedia cukup sumber daya manusia dan tank yang diperlukan untuk menjamin kemenangan dalam operasi tersebut.

Keitel juga memegang peranan penting dalam menggagalkan plot 20 Juli 1944 yang terkenal itu. Dia kemudian ditunjuk menjadi anggota "Pengadilan Kehormatan" Angkatan Darat yang menyerahkan banyak perwira tinggi AD yang terlibat, termasuk Generalfeldmarschall Erwin von Witzleben, ke tangan Pengadilan Rakyat Roland Freisler yang terkenal brutal.

Pada bulan April dan Mei 1945, selama berlangsungnya Pertempuran Berlin, Keitel memerintahkan serangan balasan yang bertujuan untuk mengusir pasukan Soviet dari ibukota Jerman. Tapi saat itu kekuatan Jerman sendiri sudah jauh drastis berkurang dan tak cukup untuk melakukan serangan semacam itu.

Setelah Hitler melakukan bunuh diri pada tanggal 30 April, Keitel tetap tinggal dalam pemerintahan Flensburg di bawah pimpinan Führer yang baru, Großadmiral Karl Dönitz.

Pada tanggal 8 Mei 1945 Dönitz memerintahkan Keitel untuk menandatangani penyerahan tanpa syarat di Berlin. Meskipun sebenarnya pihak Jerman telah secara resmi menyerah sehari sebelumnya, Stalin tetap bersikeras untuk mengadakan upacara penyerahan kedua di Berlin.

Sebagai seorang perwira militer, Keitel sebenarnya dilarang oleh hukum untuk bergabung dengan NSDAP (Partai Nazi). Tapi kemudian, setelah kemenangan Jerman dalam fase-fase awal invasi ke Rusia, dia dianugerahi Pin Keanggotaan NSDAP "Emas" (Kehormatan) oleh Hitler, yang berkeinginan untuk menyatukan kesuksesan di bidang militer dengan politik. Pada tahun 1944, hukum Jerman dirubah dan perwira militer kini malah dianjurkan untuk menjadi anggota Nazi. Dalam Pengadilan Nürnberg Keitel mengklaim bahwa dia menjadi anggota partai hanya sebagai formalitas belaka, dan tak pernah menerima nomor keanggotaan NSDAP. Dia sendiri adalah salah satu dari hanya dua orang yang menerima status sebagai anggota kehormatan partai Nazi!

Sebelum eksekusi yang dilaksanakan atas dirinya pada tanggal 16 Oktober 1946, Keitel menerbitkan memoarnya, "Mein Leben: Pflichterfüllung bis zum Untergang: Hitlers Feldmarschall und Chef des Oberkommandos der Wehrmacht in Selbstzeugnisse" (Hidupku: Pengabdian Terhadap Tugas Sampai Akhir: Marsekal Lapangan Hitler dan Kepala Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata Dalam Narasi Yang Diceritakannya Sendiri). Edisi bahasa Inggrisnya dikenal dengan judul "In The Service of the Reich", dan kemudian di edit ulang sebagai "The Memoirs of Field-Marshal Keitel" oleh Walter Görlitz yang diambil dari terjemahan karya David Irving yang menerbitkannya tahun 1965. Karya lain dari Keitel yang kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris adalah "Questionnaire on the Ardennes offensive".

Eksekusi
Empat hari setelah penyerahan Jerman, Keitel ditangkap oleh Sekutu bersama dengan anggota-anggota Pemerintahan Flensburg lainnya. Dia kemudian dihadapkan ke International Military Tribunal (IMT) yang mendakwanya dengan tuduhan-tuduhan sebagai berikut:
  • Konspirasi kejahatan atas perdamaian;
  • Merencanakan, mengeluarkan inisiatif dan melakukan agresi perang;
  • Kejahatan perang; dan,
  • Kejahatan atas kemanusiaan
Keitel bersaksi bahwa sebenarnya dia tahu kalau banyak perintah Hitler merupakan hal yang terlarang (sebagai contoh, dia mendeskripsikan bahwa surat keputusan Nacht und Nebel merupakan "yang terburuk dari semua" perintah yang pernah dia terima), tapi kemudian mengklaim bahwa tugas pertamanya sebagai seorang prajurit adalah mentaati perintah sesuai dengan Führerprinzip (prinsip pemimpin). IMT menolak pembelaan ini dan mendakwanya atas seluruh tuduhan. Karena adanya tandatangan dirinya dalam surat perintah yang memerintahkan agar setiap tawanan politik dan tentara dibunuh atau dihilangkan, maka Keitel pun dijatuhi hukuman mati. Untuk lebih menekankan bahwa Keitel lebih dianggap sebagai kriminal daripada seorang prajurit, pihak Sekutu menolak permintaannya untuk dihukum mati dengan ditembak. Kenyataannya, Keitel dihukum mati dengan digantung. Tragisnya, berhubung kurang tingginya tiang gantungan sehingga tidak langsung mematahkan lehernya saat eksekusi dilaksanakan, Keitel baru mati 24 menit kemudian dalam keadaan sekarat yang menyiksa!

Kata-kata terakhir Keitel adalah:

"Aku memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar memberi pengampunan kepada rakyat Jerman. Lebih dari dua juta prajurit Jerman telah gugur untuk negara sebelum diriku. Aku kini akan menyusul anakku. Deutschland über alles!"

Promosi:
* Fähnrich - 14 Oktober 1901
* Leutnant - 18 Agustus 1902
* Oberleutnant - 18 Agustus 1910
* Hauptmann - 8 Agustus 1914
* Major - 1 Juni 1923
* Oberstleutnant - 1 Februari 1929
* Oberst - 1 Oktober 1931
* Generalmajor - 1 April 1934
* Generalleutnant - 1 Januari 1936
* General der Artillerie - 1 Agustus 1937
* Generaloberst - 1 November 1938
* Generalfeldmarschall - 19 Juli 1940

Warisan
Wilhelm Keitel menulis memoarnya dalam waktu enam minggu sebelum dia digantung. Karyanya kemudian diterbitkan dalam beberapa edisi, sebagai contoh adalah "The Memoirs of Field-Marshal Wilhelm Keitel: Chief of the German High Command, 1938-1945" dengan editor Walter Görlitz, ISBN 978-0815410720.

Ketika keluarga Keitel berimigrasi ke Amerika Serikat dan Australia setelah Perang Dunia II berakhir, mereka mengganti nama keluarga menjadi Kihtel demi mencegah ada orang yang menghubung-hubungkannya dengan "si jenderal Nazi"!

Keitel sendiri telah digambarkan oleh beberapa aktor dalam film, serial televisi dan produksi teater:
* John Hoyt dalam film "The Desert Fox" produksi tahun 1951;
* Leopold Hainisch dalam film keluaran tahun 1955 buatan Jerman Barat berjudul "Der Letzte Akt" (Hitler: The Last Ten Days);
* Tadeusz Białoszczyński dalam epilog film Polandia tentang Nürnberg buatan tahun 1971;
* Gerd Michael Henneberg dalam film "Liberation" (1970), "Soldiers of Freedom" (1977), "Battle of Moscow" (1985), dan "Stalingrad" (1989). Semuanya adalah buatan Uni Soviet;
* Raymond Adamson dalam produksi televisi Inggris "The Death of Adolf Hitler" (1973);
* Gabriele Ferzetti dalam film "Hitler: The Last Ten Days" (1973);
* John Malcolm dalam miniseri televisi Amerika "War and Remembrance" (1988);
* Kenneth Colley dalam film televisi Amerika "The Plot to Kill Hitler" (1990);
* Frank Fontaine dalam produksi TV Amerika/Kanada "Nuremberg" (2000);
* Dieter Mann dalam film Jerman "Der Untergang/Downfall" (2004);
* Miroslav Kosev dalam dokudrama televisi Inggris "Nuremberg: Nazis on Trial" (2006);
* Kenneth Cranham dalam film Amerika "Valkyrie" (2008)


Sumber :
www.en.valka.cz
www.en.wikipedia.org
www.historylearningsite.co.uk
www.spartacus.schoolnet.co.uk


1 comment:

^KillerWae™ IS BACK ..!! said...

maaf Ini Bukan Spamm !!..

ini hanya sekedar Blog Walking..
Visit Back Please..

^Bocah Edan™ ..
^DEEVRO™ IS CRIME !!
^Hacker Blitar Sejati™..
^NEO DEEVRO™..
^BACEMGAKURE™..
^BLITAR™ WAE..

tHnKz 4 Visit.. ^_^
salam Damai dari Blogger BLITAR..
Untuk Tukar LINK silahkan Klik Link INI..