Sunday, February 27, 2011

Tokoh-Tokoh Nazi Jerman Dalam Sampul Majalah TIME


TIME volume XVIII terbitan 21 Desember 1931 : Führer Adolf Hitler sedang berpidato dengan berapi-api (demagog). "Kebenaran berjalan beriringan dengan kekuatan"


TIME volume XXI terbitan 13 Maret 1933 : Führer Adolf Hitler bersantai di kursi ditemani anjingnya. "Ucapannya: kelahiran kembali atau Bolsewik!"


TIME volume XXII terbitan 10 Juli 1933 : Reichsminister Joseph Goebbels digambar dari samping. "Menteri Propaganda Goebbels. Katakan dalam mimpimu: Orang Yahudilah yang harus disalahkan!"


TIME volume XXII terbitan 21 Agustus 1933 : Reichsmarschall Hermann Göring mengenakan seragam SA-Gruppenführer. "Perdana Menteri Prusia Göring. Pedang dan kilat telah kembali pada cakar rajawali Prusia"


TIME volume XXVII terbitan 13 April 1936 : Führer Adolf Hitler dengan salam Nazi. "99%"


TIME volume XXXIII terbitan 24 April 1939 : Reichsführer-SS Heinrich Himmler dengan latar belakang lambang swastika. "Dia adalah bayangan dibalik swastika"


TIME volume XXXIV terbitan 25 September 1939 : Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch tersenyum. "Kampanye bergantung padanya"


TIME volume XXXV terbitan 1 April 1940 : Reichsmarschall Hermann Göring memakai seragam berburu tradisional Jerman. "Dalam satu perintah saja, neraka akan dilepaskan kepada musuh"


TIME volume XXXV terbitan 13 Mei 1940 : Generaloberst Nikolaus von Falkenhorst memakai seragam Oberst (Kolonel). "Falkenhorst: penyerbu Norwegia. Dia menjadi yang pertama datang kesana - mampukan dia bertahan sampai menjadi yang paling akhir?"


TIME volume XXXVI terbitan 26 Agustus 1940 : Generalfeldmarschall Erhard Milch dengan latar belakang pesawat pembom Jerman yang tampaknya adalah Heinkel He 111. "Penguasa udara adalah juga penguasa lautan"


TIME volume XXXVII terbitan 24 Maret 1941 : Generalfeldmarschall Wilhelm List dengan latar belakang pasukan lapis baja dan kendaraan bermotor Jerman. "Balkan berarti pegunungan, dan dia sudah biasa dengan pegunungan"


TIME volume XXXVII terbitan 14 April 1941 : Führer Adolf Hitler duduk di kursi. "Musim panas telah tiba"


TIME volume XXXVIII terbitan 14 Juli 1941 : Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel dikelilingi oleh Napoleon Bonaparte dan Paul von Hindenburg. "Dia juga ikut ambil bagian dalam petualangan besar - invasi ke Rusia"


TIME volume XXXVIII terbitan 8 Desember 1941 : Generalfeldmarschall Fedor von Bock dengan latar belakang puing-puing. "Bock, penyerbu Moskow. Di musim dingin Napoleon mundur, tapi dia malah menyerang"


TIME volume XXXIX terbitan 2 Februari 1942 : Großadmiral Karl Dönitz sebagai Vizeadmiral dengan latar belakang U-boat Jerman. "Laksamana Madya kapal selam Jerman: Dönitz. Kemenangannya berada pada loker Davy Jones"


TIME volume XXXIX terbitan 23 Februari 1942 : SS-Obergruppenführer Reinhard Heydrich dengan latar belakang tali gantungan. "Heydrich, pengeksekusi Gestapo. Dapatkan teror, kelaparan dan propaganda memerintah 150.000.000 tawanan?"


TIME volume XXXIX terbitan 20 April 1942 : Großadmiral Erich Raeder dengan latar belakang swastika hitam berdarah dan air mata. "Untuk pertama kalinya sejak Jutland, air biru memanggil Angkatan Laut Jerman"


TIME volume XXXIX terbitan 29 Juni 1942 : Generaloberst Franz Halder dengan latar belakang soldatenfriedhof (kuburan prajurit). "Thunderbolt-Thunderbolt harusnya sudah menyerang pada waktunya"


TIME volume XL terbitan 13 Juli 1942 : Generalfeldmarschall Erwin Rommel dengan latar belakang Terusan Suez. "Takdir Mesir adalah juga takdir Timur Tengah"



TIME volume XL terbitan 31 Agustus 1942 : Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt dengan latar belakang bayonet di pantai. "Rundstedt Jerman: pembela pantai. Lebih banyak tongkang di pantai, lebih banyak tembakan di waktu malam"


TIME volume XL terbitan 21 September 1942 : Generalfeldmarschall Fedor von Bock dengan latar belakang sungai darah. "Darah Nazi juga sama merahnya"


TIME volume XLI terbitan 10 Mei 1943 : Großadmiral Karl Dönitz menjadi simbol U-boat Jerman dengan periskopnya. "Dönitz si kapal selam Atlantik. Pertahanan pertama Jerman adalah di parit bentengnya"


TIME volume XLII terbitan 11 Oktober 1943 : Reichsführer-SS Heinrich Himmler dengan latar belakang tumpukan mayat manusia. "Himmler, Kepala Polisi Nazi Eropa. Orang mati tidak bisa melawan"


TIME volume XLIII terbitan 10 Januari 1944 : Generalfeldmarschall Erich von Manstein dengan latar belakang Iron Cross. "Gerakan mundur mungkin saja jagonya, tapi kemenangan berada di arah yang berlawanan"


TIME volume XLIV terbitan 7 Agustus 1944 : Generaloberst Heinz Guderian mengenakan medali Eichenlaub. "Guderian, Kepala Staff Nazi baru. Karat menyebar ke mesin perangnya"


TIME volume XLIV terbitan 21 Agustus 1944 : Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt dengan latar belakang ular Nazi. "Kepala-kepala akan bergelindingan"


TIME volume XLV terbitan 12 Februari 1945 : Reichsführer-SS Heinrich Himmler membentuk Totenkopf (tengkorak) SS. "Teror telah tiba pada akhirnya"


TIME volume XLV terbitan 7 Mei 1945 : Führer Adolf Hitler dengan tanda 'kali' besar


TIME volume XLVI terbitan 10 Desember 1945 : Para terdakwa Pengadilan Nürnberg di antaranya Alfred Rosenberg, Rudolf Hess, Hermann Göring dan Joachim von Ribbentrop. "Pewaris Hitler. Dakwaan: konspirasi bersama-sama melawan perdamaian dan kemanusiaan"


Sumber :
www.life.com

Saturday, February 26, 2011

Operasi Valkyrie Dan Maraknya Buku Bertema Nazi


Pria bertubuh jangkung dan tegap itu kehilangan mata kiri, lengan kanan, dan dua jari di tangan kirinya. Tapi itu tak melunturkan semangat Claus Philipp Maria Justinian Schenk Graf von Stauffenberg mencoba mengubah garis sejarah pada 20 Juli 1944.

Hari itu Stauffenberg menjadi ujung tombak rencana pembunuhan pemimpin tertinggi Nazi, Adolf Hitler. Namun bom dalam koper yang dibawa Claus von Stauffenberg gagal membunuh Hitler malah ia ditangkap, dieksekusi, dan namanya tenggelam dalam sejarah.

Sosok Stauffenberg kemudian dihidupkan kembali dalam film layar lebar dengan aktor Tom Cruise yang memerankan pemuda aristokrat itu. Film tersebut mengambil judul Valkyrie, sebuah rencana penanganan keadaan darurat yang dibuat Hitler seandainya ada sesuatu terjadi pada dirinya.

Film ini juga memicu kemunculan buku yang membahas hidup dan sepak terjang Stauffenberg seperti yang disusun Peter Hoffman yakni Stauffenberg: A Family History, 1905-1944. Sebelumnya Hoffmann sudah menerbitkan beberapa buku tentang faksi-faksi di Jerman yang menentang Hitler.

Penulis Michael Baigent dan Richard Leigh yang sebelumnya berkonsentrasi pada tema religius seperti The Holy Blood and the Holy Grail pun ikut menulis soal Stauffenberg. Sebelum jadwal rilis pada Juni 2008, keduanya meluncurkan Secret Germany: Stauffenberg and the True Story of Operation Valkyrie.

Bahkan memoar salah seorang konspirator dalam rencana membunuh Hitler, Hans Berd Gisevius, diolah ulang dan diterbitkan dengan judul baru Valkyrie: An Insider’s Account of the Plot to Kill Hitler. Gisevius sendiri banyak dikritik karena bukunya kelewat mengecilkan peran Stauffenberg.

Memang Stauffenberg sendiri agak terlambat masuk gerakan bawah tanah menentang Hitler. Namun penganut Katolik yang taat ini sudah sejak lama tak menyukai kebijakan pemerintahan partai Nazi yang menekan kehidupan beragama dan kekejaman terhadap etnis lain yang dinilainya membuat malu bangsanya.

Penindasan secara sistematis terhadap masyarakat Yahudi yang dijalankan pasukan paramiliter Schutzstaffel (SS) telah dipaparkan secara runut oleh Stephane Downing dalam bukunya Inside The Death Camp. Mulanya mereka dilarang menjadi pegawai negeri, lantas harus memakai tanda bintang kuning pada baju serta mengganti nama depan jadi Israel untuk lelaki dan Sarah bagi perempuan.

Diskriminasi berlanjut dengan larangan berbisnis, berbelanja pada jam yang ditentukan, bahkan ada izin yang membolehkan siapa saja menghancurkan rumah ibadah, tempat usaha, dan rumah mereka. Ujungnya adalah kamp konsentrasi dimana tanpa pandang usia dan jenis kelamin masyarakat etnis ini dipaksa bekerja dengan ransom kuah sup dan roti tipis.

Diskriminasi dan agresi militer yang dijalankan pemerintah jerman kala itu tak lepas dari kebijakan partai Nationalsozialistischen Deutsche Arbeiter Partei atau Nazi yang didirikan Hotler pada 1920. Haluan partai ini berakar dari pemikiran Hitler yang ditulis dalam biografi sekaligus manifesto politiknya, Mein Kampf (Perjuanganku).

Dalam buku versi terjemahan yang dikeluarkan penerbit Narasi ini terbagi menjadi dua volume dimana pada bagian pertama Hitler berfokus pada dirinya mulai dari masa kecilnya hingga perkembangan pemikirannya. Sementara pada bagian kedua Hitler lebih mengurai gagasan partai Nazi.

Dalam banyak bagian terungkap kemarahan-kemarahan Hitler yang seringkali diarahkan kepada kelompok Yahudi. Dalam satu bagian ia bahkan menyebut tujuan akhir Marxisme adalah kehancuran semua negara bangsa non Yahudi dan menuturkan bagaiman kelas pekerja Jerman berhasil bangkit melawannya.

Mein Kampf hanyalah satu dari beberapa buku terbitan Narasi yang mengulas soal Nazi dan perang dunia kedua. Selama dua tahun terakhir penerbit yang bermarkas di Yogyakarta ini memang paling getol menyuplai referensi seputar topik itu baik karya terjemahan maupun kompilasi data oleh penulis lokal.

Pada 2007, misalnya, Narasi menerbitkan Neraka di Stalingrad yang ditulis F. Schneider dan C. Gullans dan Waffen-SS: Mesin Perang Nazi karangan Fernando R. Srivanto. Lalu pada 2008 Narasi meluncurkan Operasi Barbarossa: Ketika Hitler Menyerang Stalin yang ditulis Ari Subiakto.

Sekilas masalah soal perkembangan fasisme ini jauh dari kehidupan Indonesia namun mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, Wilson, berhasil melacak pengaruh gerakan fasisme Hitler di Indonesia pada era penjajahan Belanda. Penelusuran untuk skripsi tersebut dibukukan dengan judul Orang dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu.

Wilson menjelaskan, fasisme masuk ke Hindia Belanda sebagai efek samping dari kebijakan pemerintah kolonial yang membagi warga negara berdasarkan kategori rasial. Saat krisis Eropa menjalar ke tanah jajahan, golongan Indo kecewa dengan keputusan yang menyamakan upah bagi Indo dan bumiputera.

Menurut Wilson kelompok ini merasa terancam akan digeser oleh bumiputera dan punya ketakutan bangsa jajahan ini akan memberontak. Mereka lantas mengadopsi fasisme sebagai paham organisasi dan melancarkan gerakan pemurnian dan proteksi bagi kelompok Indo.

Kalangan pergerakan kemerdekaan juga ada yang mengadopsi fasisme berkaca dari keberhasilan Hitler membangkitkan Jerman dari keterpurukan setelah kalah pada perang dunia pertama. Bekas anggota PNI, Notonindito, mendirikan Partai Fascist Indonesia di Bandung pada 1933.

Ada tiga hal yang menjadi benang merah dari berbagai buku ini, yakni prasangka rasial dan hancurnya kondisi ekonomi yang kini kembali dirasakan secara global. Ketika Hitler mengampanyekan ideologinya, dunia tengah terpuruk akibat anjloknya bursa saham Wall Street yang dikenal sebagai era Great Depression sementara di kawasan Jerman sendiri tengah berkembang sikap antisemit.

Ini tak jauh beda dari kondisi dunia saat ini setelah perekonomian Amerika Serikat yang ambruk dan mulai menjalar ke seluruh dunia. Di sisi lain prasangka rasial terhadap kaum imigran tengah merebak di dataran Eropa.

Mungkin buku-buku tersebut ditrbitkan dengan pertimbangan sisi komersial bahkan sebagian sengaja dimaksudkan mendompleng film Valkyrie. Namun buku bertema Nazi ini bisa menjadi semacam obat pengingat kondisi krisis ekonomi dan sosial yang tak ditangani dengan baik bisa berujung menjadi treagedi kemanusiaan.


Sumber :
www.duniabuku.wordpress.com


Friday, February 25, 2011

Album Foto Max Wünsche

Max Wünsche sebagai ajudan Adolf Hitler


Max Wünsche dalam sebuah pesta bersama dengan SS-Gruppenführer Julius Schaub


Max Wünsche bersama dengan Adolf Hitler dan Hermann Göring dalam sebuah review. Di sebelahnya adalah jenderal Luftwaffe Karl-Heinrich Bodenschatz. Foto ini sering nongol di History Channel!


Acara konferensi pers di Führerbau selama berlangsungnya peristiwa "Kristallnacht" tanggal 10 November 1938. Kalau gambar orang-orang ini terlalu kecil sehingga membuat mata anda tetelo, coba klik gambarnya dan perhatikan! Max Wünsche berdiri di bawah lampu dinding di tengah, si pirang dalam seragam hitam Allgemeine-SS yang berendengan dengan ajudan Hitler dari Luftwaffe, Nikolaus von Below


Perayaan ulang tahun ke-50 Adolf Hitler yang diselenggarakan secara besar-besaran tanggal 20 April 1939 di seluruh Jerman. Dalam foto jepretan Hugo jaeger ini, sang Führer sedang menerima tamu-tamunya yang berkunjung dalam resepsi malam di Berlin. Dari kiri ke kanan: Hitler, Dr. Karl Brandt (dokter pribadi Hitler), Heinrich Hoffmann (berjabat tangan, fotografer pribadi Hitler), Max Wünsche (masih berpangkat SS-Untersturmführer), dan Dr. Theodor Morell (antri salaman, dokter pribadi Hitler yang lain). Uniknya, Wünsche mempunyai tanggal lahir yang sama (20 April) dengan Führer-nya!


SS-Obersturmführer Max Wünsche sebagai ajudan Adolf Hitler dalam sebuah acara. Di paling kiri adalah SS-Gruppenführer Julius Schaub, sementara di belakangnya (memakai seragam Gauleiter) adalah Adolf Wagner, Gauleiter München-Oberbayern dari tahun 1929 sampai dengan kematiannya di tahun 1944. Dari sini kita bisa sedikit menduga bahwa acara ini diselenggarakan di Münich


Jochen Peiper saat masih berstatus sebagai ajudan Heinrich Himmler. Di sebelahnya adalah Max Wünche, si tampan yang saat itu juga menjadi ajudan dari Adolf Hitler



Max Wünsche bersama dengan bosnya Adolf Hitler, tak lama setelah menjadi SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler" tahun 1937, dalam sebuah kunjungan ke Sekolah Pemudi di Berchtesgaden di tahun yang sama. Wünsche tampak mengenakan dasi dengan pin NSDAP. Nomor keanggotaan partainya: 491403. Nomor keanggotaan SS: 153 508. Ritterkreuz Vorschlag nummer: 1567, dan Eichenlaub Vorschlag nummer: 548Selain sebagai komandan panzer tangguh, Max Wünsche juga dikenal sebagai seorang penari waltz yang handal. Disini si tampan berpose dengan seragam tuxedo bersama artis Austria Magda Schneider (ibu dari aktor terkenal Austria era 60-an dan 70-an, Romy Schneider). Foto ini sendiri merupakan hasil cropping dari jepretan fotografer Nazi Hugo Jäger yang nongol dalam buku "Hitlers Neue Reichskanzlei" terbitan Arndt, dimana Magda Schneider berdiri di antara Wünsche dan aktor Paul Richter. Tahunnya adalah tahun 1939


Adolf Hitler bersama para staffnya berfoto bersama di Hauptquartier "Wolffschanze" bulan Juni 1940. Dari kiri ke kanan, baris pertama: SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant des "Führers und Reichskanzlers“); SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda); Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); Führer Adolf Hitler; Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamtes); SS-Obergruppenführer Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers); Hauptmann Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); dan Prof. Heinrich Hoffmann (Reichsbilderstatter der NSDAP). Baris kedua : Major Gerhard Engel (Heeres-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); SS-Obersturmbannführer Prof.dr.med. Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt); Fregattenkapitän Karl-Jesko von Puttkamer (tertutup topi Keitel, Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); Generalleutnant Karl-Heinrich Bodenshatz (Chef des Ministeramtes des Reichministers der Luftfahrt und Oberbefehlshabers der Luftwaffe); Heinz Lorenz (sedikit terhalang oleh Bodenshatz, deutscher Pressesekretär im Führerhauptquartier); SS-Oberführer Walther Hewel (di atas kepala Hitler, Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler); orang dengan kacamata tidak diketahui identitasnya; Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht); SS-Gruppenführer Julius Schaub (di atas kepala Jodl, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler); SS-Hauptsturmführer Max Wünsche (SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Karl Wolff (Chef der Hauptamt Persönlicher Stab Reichsführer-SS); Prof.Dr.med. Theodor "Theo" Morell (Hitlers Leibarzt); dan SS-Obersturmführer Hans-Georg Schulze-Kossens (Hitlers Ordonanz-Offizier)


 Max Wünsche dalam sebuah foto dari tahun 1940


SS-Hauptsturmführer tampan di belakang kiri adalah Max Wünsche (pangkat terakhir SS-Obersturmbannführer). Foto ini diambil di Yunani tahun 1941


Para perwira dari Heeresgruppe Süd Membahas strategi serangan di medan perang Rusia dalam fase pertama Operasi Barbarossa, bulan Juli/Agustus 1941. Dalam foto yang diambil oleh Kriegsberichter Roth ini, dari kiri ke kanan: SS-Hauptsturmführer Rudolf Lehmann (Kepala Staff 1. SS Division Leibstandarte Adolf Hitler), SS-Gruppenführer Sepp Dietrich (komandan 1. SS Division Leibstandarte Adolf Hitler), Generalleutnant Erich Clößner (komandan 25. Infanterie-Division), Georg Schönberger, dan Max Wünsche


 
SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich dalam acara penganugerahan medali untuk unit Sturmgeschütz-Abteilung dari Divisi Leibstandarte SS Adolf Hitler di Taganrog, Rostov Oblast (Rusia), tanggal 21 Maret 1942. Dari kiri ke kanan: Heinz von Westernhagen, Karl-Heinz Prinz, Wolfgang Rabe, Sepp Dietrich, Emil Wiesemann,
Max Wünsche, Karl Rettlinger, dan ??? (ada yang tahu namanya? Mungkin Udin Petot atau Edi Tansil: Ejakulasi dini tanpa hasil?). Foto oleh Kriegsberichter Gayk



 SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Sepp Dietrich (Kommandeur Leibstandarte SS Adolf Hitler (mot.)) dan SS-Hauptsturmführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Sturmgeschütz-Abteilung "LSSAH") dalam acara penganugerahan medali untuk unit Sturmgeschütz-Abteilung dari Divisi Leibstandarte SS Adolf Hitler di Taganrog, Rostov Oblast (Rusia), tanggal 21 Maret 1942. Foto oleh SS-Hauptscharführer dan Kriegsberichter Paul Augustin

Max Wünsche mengenakan kemeja musim panas bersama dengan anak buahnya. Dari tanda pangkat di bahunya, tahulah kita bahwa di foto ini dia masih berpangkat SS-Hauptsturmführer (Kapten SS)


 SS-Sturmbannführer Georg Schönberger dan SS-Hauptsturmführer Max Wünsche (tengah) memberi medali kepada seorang Untersturmführer dari divisi Leibstandarte Adolf Hitler. Lokasinya adalah di dekat Kharkov, Ukraina, bulan Maret 1943. Dalam foto ini, Schönberger dan Wünsche sama-sama mengenakan topi lapangan (feldmütze) M38 yang biasanya dipakai oleh pasukan panzer Heer. Satu lagi, foto ini adalah milik Bundesarchiv, dan sekali lagi mereka membuat sedikit kesalahan kecil (atau kesalahan ketik?) karena menyebutkan sang perwira di sebelah kiri sebagai Schöneberger


Max Wünsche (kanan) bersama dengan Kurt "Panzermeyer" Meyer di front Rusia

 Max Wünsche bersama dengan Kurt Meyer di selatan Kharkov tanggal 3 Maret 1943. Kendaraan di kanan adalah "s. gl. Einheits-Pkw" di atas sasis Horch 108. Fungsi kendaraan ini sendiri tampaknya sebagai sebuah Kfz 23 atau truk telepon (perhatikan kabel-kabel yang terpasang di bempernya!). Plat nomornya adalah SS-166497. Bener nggak?


Max Wünsche memakai topi bulu khas Rusia (ushanka)

 
SS-Sturmbannführer Max Wünsche dalam balutan seragam hitam pasukan panzer (Panzertruppen). Mata biru, rambut pirang, bibir seksi, wajah tampan... siapa yang nahaaaaann! (Busyet, sudah kayak cewek aja nih!)


Para perwira dan bintara Waffen-SS dalam acara ramah tamah dengan Menteri Propaganda Joseph Goebbels, musim semi 1943. Dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Hans Jüttner (Chef des SS-Führungshauptamtes), SS-Sturmbannführer Kurt Meyer (Führer SS-Aufklärungs-Abteilung 1/SS-Panzergrenadier-Division LSSAH), SS-Sturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur I.Abteilung/SS-Panzer-Regiment 1/SS-Panzergrenadier-Division LSSAH), Joseph Goebbels (Reichsminister für Volksaufklärung und Propaganda), SS-Sturmbannführer Hugo Kraas (Führer I.Bataillon/SS-Panzergrenadier-Regiment 2/SS-Panzergrenadier-Division LSSAH), SS-Hauptsturmführer Hermann Buchner (Chef 9.Kompanie/SS-Totenkopf-Infanterie-Regiment 1/SS-Panzergrenadier-Division Totenkopf), SS-Untersturmführer Heinz Macher (Chef 16.Kompanie (Pionier)/SS-Panzergrenadier-Regiment Deutschland/SS-Panzergrenadier-Division Das Reich), SS-Oberscharführer Hans Hirning (Granatwerfertruppführer 6.Kompanie/SS-Totenkopf-Infanterie-Regiment 1/SS-Panzergrenadier-Division Totenkopf), dan SS-Scharführer Egon Endell (6.Batterie/SS-Totenkopf-Artillerie-Regiment/SS-Panzergrenadier-Division Totenkopf)



Max Wünsche sebagai SS-Sturmbannführer (Mayor SS)


Max Wünsche dalam balutan seragam hitam Panzertruppen

 Pembuat caption di foto ini telah membuat kesalahan dengan menyebutkan bahwa perwira di sebelah kanan adalah Johannes Mühlenkamp, padahal dia jelas-jelas adalah Max Wünsche! Untuk Ritterkreuzträger dari Rumania di sebelah kiri, namanya adalah Radu Korne (pangkat terakhir: General de Brigadă alias Brigadir Jenderal). Foto diambil di Kaukasus, musim panas 1943


Para perwira Wehrmacht dan SS berkumpul di depan aula kota di Charleroi, Belgia, dalam acara parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944. Di acara ini pula dilakukan upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub untuk perwira Sturmbrigade Wallonien yang paling cemerlang, Léon Degrelle, oleh SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandierender General I. SS Panzerkorps "Leibstandarte"). Baris depan, dari kiri ke kanan: SS-Oberführer Fritz Witt (Kommandeur 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); Militärverwaltungschef Eggert Reeder (Verwaltungschef für Belgien und Nordfrankreich); dan Generalleutnant Emil Zellner (Oberfeldkommandantur 520 Mons). Baris kedua: perwira Heer yang tidak diketahui namanya; SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); dan SS-Standartenführer Kurt Meyer (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 25/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"). Paling belakang adalah seorang perwira Gebirgsjäger (perhatikan Edelweiss di schirmmütze!) yang tidak diketahui namanya. Para dedengkot divisi Hitlerjugend ikut hadir dalam acara ini karena lokasinya berdekatan dengan tempat pelatihan mereka di Beverloo (Belgia)


 Para perwira Wehrmacht dan SS berkumpul di depan aula kota di Charleroi, Belgia, dalam acara parade "Kembalinya ke Kampung Halaman" Sturmbrigade Wallonien dari pengepungan Kantong Cherkassy yang digelar pada tanggal 1 April 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Oberführer Fritz Witt (Kommandeur 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); Militärverwaltungschef Eggert Reeder (Verwaltungschef für Belgien und Nordfrankreich); dan Generalleutnant Emil Zellner (Oberfeldkommandantur 520 Mons). Baris belakang: SS-Sturmbannführer Heinrich "Hein" Springer (Divisionsadjutant 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Standartenführer Kurt Meyer (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 25/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Sturmbannführer León Degrelle (Kommandeur SS-Freiwilligen-Brigade "Wallonie"); SS-Oberführer Fritz Kraemer (Ia Erster Generalstabsoffizier I. SS-Panzer-Korps "Leibstandarte"); SS-Hauptsturmführer tak dikenal; SS-Hauptsturmführer Hermann "Bibl" Weiser (Adjutant Kommandierender-General I. SS-Panzer-Korps "Leibstandarte" Dietrich); SS-Standartenführer tak dikenal; dan SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Polizei Richard Jungclaus (Bevollmächtigter des Reichsführer-SS in Belgien und Nordfrankreich)

Setelah berhenti jadi ajudan Hitler dan bertugas di front depan, Max Wünsche bertemu lagi dalam beberapa kesempatan dengan Führer-nya. Saya bisa bayangkan betapa terkejutnya perwira muda ini mendapati betapa perang telah "menggerogoti" Hitler, baik fisik maupun mental. Dari kiri ke kanan: Tidak diketahui (ajudan?), Max Wünsche, Balthasar Woll, Hans Pfeiffer dan Adolf Hitler


Hasil photoshop foto sebelumnya. Ternyata ada Hermann Fegelein di kanan!


Dari kiri ke kanan: Max Wünsche, Fritz Witt dan Wilhelm Mohnke. Acaranya? Kemungkinan tahlilan...

Sekarang do'i bergaya di atas Panthernya dengan seragam kamuflase buatan Italia di front Normandia


Max Wünsche sebagai seorang komandan Resimen Panzer di Divisi Panzer SS ke-12 'Hitlerjugend', berfoto bersama SS-Standartenführer Kurt Meyer (kiri) dan SS-Sturmbannführer Bernhard Seibken (kanan)


 Dari kiri ke kanan: SS-Brigadeführer Fritz Witt (Kommandeur 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"), SS-Hauptsturmführer Albert Schuch (Kommandant des Stabsquartiers 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"), dan SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"). Disini Wünsche mengenakan seragam kamuflase Telo Mimetico M29 buatan Italia. Foto diambil di l'Abbaye d'Ardenne, Caen, Normandia (Prancis), bulan Juni 1944 oleh Kriegsberichter Wilfried Woscidlo


Dalam foto jepretan Wilfried Woscidlo ini, memperlihatkan perwira-perwira tinggi Divisi Panzer SS ke-12 "Hitlerjugend" di biara Ardenne di Caen, Prancis, bulan Juni 1944 tak lama setelah Sekutu mendarat di Normandia. Dari kiri ke kanan: SS-Standartenführer Kurt Meyer (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 25), SS-Brigadeführer Fritz Witt (Kommandeur 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend") dan SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12). Perhatikan anjing Schäferhund (gembala Jerman) di sebelah kanan yang sedang "kuliat" (sumpah, saya tidak menemukan arti kata ini dalam bahasa Indonesia!). Dia adalah Patra yang merupakan anjing Witt hadiah langsung dari Hitler!

Max Wünsche dalam acara penganugerahan medali Eisernes Kreuz II klasse untuk para prajurit di bawah komandonya (termasuk SS-Oberscharführer Stempel yang berdiri di hadapannya) di front Normandia tanggal 20 Juli 1944. Di kepalanya bertengger tarnmütze (topi camo SS) dengan pola kamuflase Telo Mimetico M29 Italia yang langka dan jarang terdapat di foto-foto periode tersebut (biasanya topi jenis ini dibuat sendiri di penjahit dan bukannya hasil "pembagian"). Uniknya, Wünsche juga memakai overall kamuflase Italia dan bukannya Waffen-SS! Medali-medali yang akan dibagikan, terlihat dipegang oleh SS-Hauptsturmführer Helmut Schlauss (Nachrichten Offizier SS-Panzer-Regiment 12 "Hitlerjugend") di belakangnya. SS-Oberscharführer Stempel dianugerahi EKII setelah menembak jatuh lima buah pesawat musuh menggunakan senjata anti pesawat udara ringan! Foto oleh SS-Kriegsberichter Willi Stollberg


Yang mana nih yang Max Wünsche? Ono noh yang pake perban, bersama pasukan Hitlerjugend! Disini dia sedang merundingkan strategi bersama dengan para bintara seniornya tak lama setelah serangan atas Norrey-en-Bessin tanggal 9 Juni 1944. Dari kiri ke kanan: SS-Unterscharführer Koslowski, soldat Otto Funk, SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (cuman keliatan punggungnya doang), soldat (?), soldat Klaus Schuh dan SS-Hauptscharführer Wilhelm Boigk. Mengenai cerita bagaimana Wünsche sampai terluka di kepala: Saat dia sedang menyaksikan Panther-Panther dari kompi ke-1 dan ke-4 yang berada di bawah komandonya di Villeneuve de Rot yang baru pulang dari aksi penyerangan di Bretteville tanggal 8/9 Juni 1944, tiba-tiba sebuah granat menghantam bagian depan salah satu Panther. Salah satu pecahan ledakan granat tersebut melukai Wünsche di kepala, dan bahkan sempat membuatnya tidak sadar. Perwira lain yang ada disitu, SS-Obersturmführer Chemnitz, terkena pecahan bom dari kepala sampai kaki, sementara Nehrlich (SS-Untersturmführer dari Stab SS-PzRgt 12) terluka parah dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit


SS-Hauptsturmführer Rudolf von Ribbentrop (Chef 3.Panzerkompanie/I.Bataillon/SS-Panzer-Regiment 12) sedang dibonceng di bagian sespan BMW R75 oleh Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend", SS-Obersturmbannführer Max Wünsche, setelah mengadakan kunjungan terhadap para anggota III.Zug/15.Kompanie/SS-Panzergrenadier-Regiment 25 yang selamat dari penyerangan yang gagal terhadap 2nd Armoured Brigade Kanada di Norrey-en-Bessin, Normandia, tanggal 9 Juni 1944. Perhatikan bahwa Von Ribbentrop dan Wünsche sama-sama terluka dalam foto yang diambil oleh SS-Kriegsberichter Siegfried Woscidlo ini!


Setelah pendaratan Sekutu di Normandia, hari-hari Wünsche bersama Divisi Hitlerjugend diisi dari pertempuran satu ke pertempuran yang lain. Disini (20 Juni 1944) dia sedang berdiskusi bersama dua orang petinggi divisi tersebut : sang komandan SS-Brigadeführer Fritz Witt dan deputinya, SS-Standartenführer Kurt Meyer. Beberapa hari setelah foto ini dibuat, Witt tewas terkena tembakan artileri laut yang diluncurkan dari kapal perang Sekutu, dan Meyer menjadi penggantinya

Raut muka bangga tampak kentara terlihat dari Wünsche, yang menerima medali Eichenlaub atas dedikasinya yang luar biasa dalam pertempuran, apalagi yang menyematkannya adalah dedengkot SS semua, dengan dihadiri oleh panglima tertinggi SS Heinrich Himmler. Dari kiri ke kanan : Kurt Meyer, Max Wünsche, Joseph 'Sepp' Dietrich, Heinrich Himmler dan Meyer yang lain, Hubert Meyer



Diambil dari cuplikan berita film "Die Deutsche Wochenschau" dan memperlihatkan upacara penganugerahan Ritterkreuz tanggal 11 Juli 1944 untuk dua orang perwira 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend" yang berprestasi: SS-Obersturmbannführer Wilhelm Mohnke (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 26/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend") dan SS-Sturmbannführer Karl-Heinz Prinz (Führer II.Bataillon/SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"). Dua foto di atas memperlihatkan saat Mohnke (yang berbalut perban) dikalungi Ritterkreuz oleh SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandierender General I. SS Panzerkorps "Leibstandarte"), sementara Prinz memperhatikan di kiri (foto kedua). Ikut hadir komandan 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend", Kurt Meyer (kanan), dan Komandan SS-Panzer-Regiment 12 "Hitlerjugend", Max Wünsche(tengah)


Setelah upacara penganugerahan medali selesai, kini giliran kedua orang Ritterkreuzträger anyar berpose bersama yang lainnya. Dari kiri ke kanan: SS-Obersturmbannführer Wilhelm Mohnke (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 26/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Obersturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandierender General I. SS Panzerkorps "Leibstandarte"); SS-Standartenführer Kurt "Panzermeyer" Meyer (Kommandeur 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"); dan SS-Sturmbannführer Karl-Heinz Prinz (Führer II.Bataillon/SS-Panzer-Regiment 12/12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend")

Max Wünsche di hari tua dalam salah satu acara reuni para perwira SS. Dengan bangga dia masih memakai Eichenlaub yang tergantung di lehernya, dan sisa-sisa ketampanannya pun masih terlihat!

Foto lain Max Wünsche sebagai aki-aki


Der alter Max...


Lukisan Max Wünsche (tahu dong yang mana?) bersama dengan para panglima Kriegsmarine, Großadmiral Erich Raeder dan Karl Dönitz (entahlah kenapa sang pelukis memasangkannya bersama mereka, apakah karena sama-sama berpakaian hitam?). Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa lukisan ini dicomot dari foto ulang tahun Hitler bulan April 1944, dimana Wünsche mewakili Himmler menyerahkan kenang-kenangan untuk Hitler dari SS. Yang harusnya frame lukisan kenang-kenangan di tangan Wünsche dirubah menjadi sarung tangan!
Boneka Max Wünsche dari TOYS CITY dengan detail yang mengagumkan!


Untuk melihat biografi Max Wünsche, bisa dilihat DISINI.


Sumber :
www.1ss-lsah.com
www.commons.wikimedia.org
www.forum.axishistory.com
www.kai-winkler.com
www.life.com
www.toyshammer.com
www.wehrmacht-awards.com