Thursday, June 30, 2011

Album Foto Tokoh Third Reich Peraih Erdkampfabzeichen der Luftwaffe (Luftwaffe Ground Assault Badge)




Unteroffizier Wilhelm Becker dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 4 Mei 1944 sebagai Geschützführer 8.Batterie/II.Bataillon/Flak-Regiment 43/6.Flak-Division. Selain itu, dia juga menerima Eisernes Kreuzes II dan I klasse, Verwundetenabzeichen in Schwarz, dan Erdkampfabzeichen der Luftwaffe ohne Zahlen (tanpa nomor). Dia terbunuh tanggal 12 Maret 1945 di Dortmund dalam usia 24 tahun saat sedang bertugas di senjata anti serangan udaranya


Unteroffizier Emil Gercken. Pada awalnya dia bertugas di Fallschirmtruppe dan pernah bertempur di Afrika sehingga mengenakan pita lengan AFRIKA. Karena dia pernah menghancurkan sebuah kendaraan lapis baja musuh, maka dia juga mengenakan lencana Panzervernichtungsabzeichen. Medali-medali lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II klasse, Eisernes Kreuz I klasse, Panzerkampfabzeichen der Luftwaffe (17 Februari 1945), Nahkampfspange in Bronze (2 Februari 1945), dan Verwundetenabzeichen in Schwarz (17 September 1944)


Erich Hellmann dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 12 Juli 1943 sebagai Oberfeldwebel di 16.Kompanie/Fallschirmjäger-Regiment 3, dan Ritterkreuz tanggal 6 Oktober 1944 sebagai Leutnant dan Führer 1.Kompanie/Fallschirmjäger-Regiment 3. Pangkat terakhirnya adalah Oberleutnant


Generalleutnant Walter Hippel

Oberstleutnant Walter Koch adalah komandan Fallschirmjäger yang merebut benteng Eben-Emael di Belgia tahun 1940. Atas jasa-jasanya, mantan polisi ini lalu dianugerahi Ritterkreuz secara langsung oleh Adolf Hitler. Dalam pertempuran di Tunisia bulan Desember 1942, dia berjasa menyelamatkan tawanan perang Inggris dari ancaman eksekusi mati sesuai dengan Commando Order yang dikeluarkan oleh Hitler. Tak lama setelahnya Koch terluka di kepala dalam pertempuran sehingga diterbangkan kembali ke Jerman. Saat sedang menjalani perawatan ini lah dia tewas tanggal 23 Oktober 1943 dalam sebuah kecelakaan mobil. Rekan seperjuangan di resimennya percaya bahwa sebenarnya itu adalah pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang SS-Reichssicherheitshauptamt karena kritik terbuka Koch atas Commando Order Hitler!


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org
www.therupturedduck.com
www.wehrmacht-awards.com

Wednesday, June 29, 2011

Album Foto Tokoh Third Reich Dengan Seragam Putih Musim Panas

Generalleutnant Heinrich Aschenbrenner adalah pakar sandi yang juga menjabat sebagai Inspekteur des Ostvölkischen Personal der Luftwaffe. Medali tertingginya adalah Deutsches Kreuz in Silber yang diraihnya tanggal 21 September 1942 sebagai Generalmajor und Höherer Nachrichtenführer beim Luftgau-Kommando 2


Major der Reserve Viktor Bruck


Oberleutnant der Reserve Otto Carius


Kapitän zur See Theodor Detmers, kapten kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang berhasil menangkap serta menenggelamkan 11 kapal dagang Sekutu hanya dalam kurun waktu 16 bulan! Dalam pertempuran habis-habisan terakhir melawan kapal penjelajah Australia dia berhasil menenggelamkan musuhnya. Meskipun begitu, kapalnya sendiri mengalami kerusakan berat sehingga harus ditenggelamkan demi mencegah jatuh ke tangan musuh. Detmers sendiri lalu ditawan di Australia. Sempat berupaya melarikan diri ke Indonesia, dia akhirnya tertangkap kembali dan kemudian dipenjara sampai akhir perang. BTW, Detmers dianugerahi Ritterkreuz SETELAH dia ditawan, dan kemudian medalinya dikirimkan ke kamp tawanan di Australia melalui Palang Merah Internasional. Karena itu, foto di atas yang memperlihatkan Detmers dengan Ritterkreuz-nya diambil saat dia berstatus sebagai tawanan perang!


Generalleutnant Gerhard Engel


Korvettenkapitän Eberhard Hoffmann, komandan U-451. Selama karir perangnya, dia tercatat telah melakukan 4 patroli (64 hari di lautan) dan menenggelamkan kapal perang Zhemchug (No 27) milik AL Soviet seberat 550 ton. Hoffmann tenggelam bersama kapal selam yang dikomandaninya tanggal 21 Desember 1941 di lepas pantai Tangier (Maroko)


Hauptmann Wilm Hosenfeld


Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel


Dua orang dedengkot Nazi dalam upacara penghormatan terhadap Legion Condor yang diselenggarakan di Berlin tanggal 6 Juni 1939: Paling depan dengan seragam putih adalah Robert Ley, sedangkan di belakangnya yang memakai kacamata cengdem (goceng adem) adalah Martin Bormann

Generalmajor Albert Müller-Kahle adalah mantan penerbang dalam Perang Dunia Pertama yang dianugerahi Pour le Mérite tanggal 13 Oktober 1918 atas kesuksesannya mengarahkan tembakan artileri raksasa jarak jauh Jerman ke Paris dari udara sejauh 100km! Dalam Perang Dunia Kedua dia ditugaskan sebagai Komandan Luftwaffe di OKW. Sang peraih PlM ini secara tragis memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri pada tanggal 17 Oktober 1941 gara-gara berselisih paham dengan Generaloberst Heinz Guderian masalah kabel telepon! Akhir yang menyedihkan bagi seorang pahlawan perang Jerman...


Konteradmiral Karl-Jesko von Puttkamer


Generaloberst Ernst Udet


Sumber :
Foto koleksi Hugo Jaeger
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.life.com
www.shop.kriegcards.com
www.thirdreichcolorpictures.blogspot.com
www.wamuseum.com.au
ww
w.wehrmacht-awards.com

Tuesday, June 28, 2011

Kisah Jagoan Udara Hans-Joachim Marseille Di Gurun Afrika!


Oleh : Alif Rafik Khan

Kisah ini saya dapatkan di buku “German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille: The Life Story of the Star of Africa” karya Franz Kurowski, dan begitu menariknya sehingga sayang kalau tidak dicantumkan dalam blog ini. Inilah dia:

Tanggal 21 April 1941 Gruppenkomandeur dari I./Jagdgeschwader 27, Hauptmann Eduard “Edu” Neumann tiba di Gazala, Libya, setelah ditugaskan untuk membantu pasukan Afrikakorps-nya Rommel dalam melawan Sekutu. Tak lama setelah dia, tiba pula 2/JG 27. Tapi dimanakah Staffel 3 pimpinan Oberleutnant Gerhard Homuth?

Unit ini telah melakukan pendaratan sementara di pangkalan 7/JG 26 pimpinan Oberleutnant Joachim Müncheberg di Gela, Sisilia. Dari sana mereka melanjutkan penerbangannya melintasi lautan Mediterania dengan tujuan Castel Benito. Mereka akhirnya mencapai landasan yang dituju, tapi sesaat sebelum pesawat-pesawat 3/JG 27 menyentuh daratan di “Landasan Kalajengking” (dimana seharusnya mereka telah ditunggu oleh tim pengisi bensin yang akan mengisi bahan-bakar untuk pesawat mereka), mereka menyadari bahwa tempat itu tampaknya tidak ditinggali oleh siapapun. Bahkan tembakan senapan mesin yang ditembakkan pesawat ke tanah di dekat beberapa tenda yang terdapat disana tidak juga “mengundang” orang-orang untuk keluar! Karena bahan-bakar sudah menipis, mau tidak mau staffel Homuth mendarat juga, dan memang landasan itu sudah kosong melompong tanpa ada jejak awak darat satu pun. Seorang pilot harus dikirim balik ke Sirte untuk meminta pertolongan!

Oberleutnant Homuth memilih Oberfähnrich Hans-Joachim Marseille (yang saat itu belum terkenal dan masih menjadi pilot tempur ‘biasa’). Sementara tujuh pilot lainnya beristirahat sambil menunggu di tenda-tenda yang sama sekali tidak nyaman untuk ditinggali, Marseille pun pergi.

Ketika sampai fajar keesokan harinya masih tidak terdapat tanda-tanda kehidupan, tujuh Messerschmitt Bf 109 dari 3/JG 27 memutuskan untuk kembali ke En Nofilia yang letaknya di arah barat sejauh 35 kilometer dari situ. Dari sini Oberfeldwebel Kowalski dikirimkan ke Sirte dengan membawa sedikit cadangan bahan-bakar yang masih tersisa.

Tak lama selepas siang, sebuah pesawat bermesin ganda tiba dan menjatuhkan sebuah kapsul pesan. Kapsul ini langsung dibawa ke Oberleutnant Homuth. Di dalamnya berisi berita bahwa Oberfeldwebel Kowalski telah melakukan pendaratan darurat sesaat sebelum tiba di Sirte karena pesawatnya sudah kehabisan bahan-bakar. Catatan ini juga menyebutkan bahwa Marseille dan pesawatnya sama-sama mendarat darurat di jalan yang menuju kesana karena masalah pada mesin.

Beberapa jam kemudian Marseille tiba dengan menumpang sebuah truk kargo yang membawa kontainer berisi air dan persediaan suplai lainnya. Dia melapor kepada sang Staffelkapitän bahwa sebentar lagi truk bahan bakar akan menyusul tiba.

Ketika truk yang dinanti-nanti akhirnya tiba, semua pesawat diisi bahan-bakar dari container truk dengan menggunakan pompa tangan. Tak lama kemudian semua pesawat berangkat menuju ke tempat tujuan mereka yang terakhir. Tapi tanpa Marseille. Ketika dia bertanya apa yang harus dia lakukan, Homuth menjawabnya:

“Kamu telah merusakkan pesawatmu, sekarang cari cara sendiri agar bisa menuju ke front.”

Staffel 3 tiba di Gazala pada tengah hari tanggal 22 April 1941. Tapi apa yang terjadi pada tokoh kita Marseille?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, Oberfähnrich Marseille telah ditugaskan untuk menuju Sirte. Dia menerbangkan sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109 dengan nomor “13” dalam warna kuning dicat di pinggirannya – nomor yang tidak menjadi masalah bagi Marseille… setidaknya pada awalnya.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa tekanan oli pesawatnya menurun dengan drastis. Jarum RPM jatuh dan BF 109 pun mulai kehilangan ketinggian. Pesawat ini tampaknya semacam “pemakan mesin” yang mendatangkan masalah tak henti-hentinya. Mesinnya batuk-batuk dan ‘meludah’, sementara asap kini memenuhi kokpit. Marseille mendorong joystick ke bawah dan merapatkan ikatan parasutnya. Daratan pasir yang gersang mulai datang menyambutnya. Beberapa belas meter dari tanah dan Marseille memotong katup penutup sambil mematikan tombol starter. Ini adalah cara yang diketahui semua pilot demi memperbesar peluang selamat dari situasi semacam ini. Mesin pun mati.

Sepuluh meter sebelum pesawat menyentuh tanah. Daratannya sendiri tidak cocok untuk dijadikan tempat mendarat, tapi kemudian Marseille melihat di sebelahnya terdapat tanah datar yang sempit. Tak cukup untuk pendaratan yang normal sebenarnya. Lima meter lagi, dan kemudian terjadi getaran hebat. Lapisan besi yang menempel di pesawat seakan mengerang dan berderak dengan kuat saat bertemu dengan batu-batu dan kerikil.

Hidung Bf 109 seakan membentuk gelombang saat pesawat meloncat-loncat kecil sebelum akhirnya melambat, berguncang sekali lagi, dan diam. Pesawat Marseille kini terselibungi debu tebal.

Jochen Marseille membuka kanopi dan melepaskan sabuknya. Dia merangkak keluar dari pesawatnya, berhenti untuk beberapa saat di bagian sayap, dan kemudian loncat ke darat. Kakinya tenggelam dalam tanah lunak yang berpasir.

Dia kini telah mendarat di daratan Afrika… walaupun secara darurat. Dia lalu berjalan ke salah satu kelompok rerumputan tinggi yang banyak bertebaran secara sporadis di sekitar jalan.

Mesin pesawatnya masih batuk-batuk. Marseille tidak mempedulikannya. Ia duduk di balik bayangan rerumputan, mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya. Meskipun ini bukanlah sesuatu yang diinginkannya, tapi yang jelas satu pesawat lagi telah dirusakkannya. Setelah “prestasi” empat pendaratan darurat di masa sebelumnya, maka ini adalah yang keempat! Kali ini dia merasa bahwa dia tidak akan lolos begitu saja, terutama sejak dia tahu bahwa sang Staffelkapitän akan melihatnya murni sebagai kesalahan Marseille. Setelah dia menyelesaikan sebatang rokok, Marseille kembali ke pesawatnya, melepaskan parasut, mengambil barang-barang yang paling berharga (termasuk logbook), dan kemudian melangkah menyusuri jalan.

Beruntung bagi dia, karena tak lama datang sebuah truk kargo Italia dengan tujuan Sirte yang kemudian berhenti di depannya. Sang supir menyeringai ramah lalu memberi isyarat dengan tangan untuk duduk di sebelahnya. Ketika Marseille masuk, ia langsung ‘disergap’ oleh suhu panas yang menyiksa. Setelah tiba di Sirte, Marseille menerangkan dengan bahasa Tarzan bahwa dia harus pergi ke Kommandeur yang berkepentingan dan minta diantar kesana. Beberapa menit kemudian dia telah berdiri di depan markas korps intendan dan melapor bahwa Staffelnya sedang dalam perjalanan ke Benghazi ketika mereka mendarat di lapangan terbang Kalajengking tanpa mendapati tim bahan-bakar yang seharusnya ada disana. Sekarang mereka sangat membutuhkan bensin untuk pesawat-pesawat mereka.

“Anda dapat mendapatkan bahan-bakar tersebut, hanya saja truk tangkinya sekarang sedang diisi dulu. Tunggu saja sebentar,” jawab sang intendan.

Sebelum truknya berangkat, Oberfeldwebel Kowalski tiba di Sirte dan melaporkan bahwa Staffel 3 telah melanjutkan perjalanan ke En Nofilia sehingga semua perbekalan harus dibawa kesana. Seperti telah disebutkan sebelumnya, Kowalski pun harus melakukan pendaratan darurat seperti halnya Marseille.

Marseille akhirnya berangkat dengan truk pertama yang membawa air minum serta perbekalan, sementara Kowalski mengikuti di belakangnya dengan truk kedua yang membawa bahan-bakar.

Kini setelah Homuth memerintahkan Marseille untuk berangkat tanpa pesawat, dia terpaksa ditinggalkan di En Nofilia, sementara staffel-nya berangkat ke Gazala – yang akhirnya mereka capai tanggal 22 April 1941 setelah sebelumnya sekali lagi melakukan pendaratan sementara. Sementara itu, Marseille mendapat kabar bahwa sebuah konvoy transport Italia akan melintasi jalan di hadapannya dalam waktu satu jam. Dia langsung mengemasi barang bawaannya, berangkat menuju jalan sambil bersiap diri terhadap apa pun yang akan terjadi. Ketika akhirnya debu mulai Nampak dan konvoy itu tiba, Marseille mendapati bahwa itu memang orang-orang Italia.

Kendaraan pertama menepi ke pinggir dan berhenti. Sebelum Marseille ngoceh kembali dengan bahasa Tarzannya, sang supir yang berbadan kecil turun dari belakang kemudi, mengambil tas Marseille dan melemparkannya ke truk. Marseille pun akhirnya naik dan mendapati dengan gembira bahwa sang supir adalah seorang Letnan muda Italia yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Jerman, walaupun acak-acakan. Tapi ini setidaknya cukup untuk mereka berdua agar bisa mengerti satu sama lain.

Ketika Marseille bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke Gazala karena dia diharapkan kedatangannya besok siang, si Italia langsung tertawa terbahak-bahak!

“Doppo domani – satu hari setelah besok (lusa),” katanya. “Paling cepat.”

“Tapi aku harus ada di Gazala besok!”

Pada titik ini bahkan si supir menggerakkan lengannya dengan ragu-ragu, yang memberi pesan kepada Marseille bahwa si pilot Jerman dengan Eisernes Kreuz di jaketnya itu meminta sesuatu yang mustahil.

Setelah waktu maghrib tiba, Marseille melihat sebuah pemandangan yang luar biasa, yang semakin jelas seiring dengan lajunya kendaraan. Dia menoleh kepada teman seperjalanannya, dengan mimik yang meminta penjelasan. Si supir mengerti. Dia berkata:

“Arco Philaenorum – Gerbang Kemenangan!”

“Ora ngerti wadon bae, maksudnya? Tanya si Jerman, yang terkejut bahwa di tengah padang pasir tandus yang jauh dari mana-mana seperti disini, terdapat sebuah bangunan monumen yang fenomenal seperti yang tampak di hadapannya! Marseille kemudian sedikit demi sedikit mengerti apa yang dikatakan si supir Italia:

“Kami menyebutnya Arco dei Fileni, yang merupakan peringatan bagi Fileni bersaudara, yang gambarnya bisa anda lihat di bagian atap monumen persis di atas lengkungan. Monumen ini didirikan untuk mengenang mereka. Orang-orang Kartago telah membangun sebuah pelabuhan di dekat kota masa Yunani klasik bernama Antomala – sekarang dinamakan Mugtáa el Chebrit. Perang yang panjang dan berdarah-darah antara Yunani dan Kartago kemudian terjadi karena kedua pihak memperebutkan pelabuhan yang strategis ini. Hanya di sekitar tahun 350 sebelum masehi, Yunani dan Kartago mencapai suatu persetujuan.”

“Kartago dan Cirene diharuskan mengirim dua orang pelari masing-masing. Perbatasan antara kedua negara adalah tempat dimana kedua pasang pelari tersebut bertemu.”

“Sebagai pelari dari pihaknya, Kartago memilih Fileni bersaudara, yang terkenal sebagai olahragawan terpandang di masa itu. Tapi Cirene juga telah memilih pelarinya yang terbaik. Sayangnya, pelari dari Cirene terhadang oleh badai dan hujan di tengah perjalanan, sehingga pelari Kartago mampu melewati perbatasan lama dan akhirnya bertemu dengan pelari Cirene di tempat ini, yang kemudian menjadi perbatasan baru.”

“Sebagai pihak yang kalah, Cirene mengatakan kepada Kartago bahwa mereka akan mengakui perbatasan baru hanya bila kedua Fileni bersaudara bersedia untuk dikuburkan hidup-hidup! Ini tentu saja membuat berang pihak Kartago. Tapi dahsyatnya, Fileni bersaudara mengatakan bahwa mereka bersedia untuk melakukannya. Mereka akhirnya dikorbankan demi mempertahankan perbatasan baru ini, dan disinilah mereka dikuburkan, di tempat dimana sekarang berdiri Arco Philaenorum – atau Arco dei Fileni untuk orang-orang Italia. Tempat ini akhirnya menjadi perbatasan abadi antara Kartago dan Cirene yang bertahan sepanjang masa.”

Jochen Marseille mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah sang Tenente menyelesaikan ceritanya, Marseille nyeletuk:

“Tapi gerbang ini tampak seperti baru dibuat!”

“Kamu benar,” jawab si Letnan. “Marsekal Udara (Italo) Balbo telah memerintahkan pembangunan gerbang ini, tepat di tempat dimana Fileni bersaudara dikuburkan. Gerbang ini sekarang memisahkan antara Tripolitania dengan Cyrenaica.”

Ketika mereka mencapai salah satu lapangan udara di sepanjang Via Balbia, hari telah beranjak malam. Marseille mengucapkan selamat tinggal kepada kamerad Italianya, lalu membawa barang bawaan sambil berjalan ke tempat operasi udara. Disana dia tahu dari Feldwebel yang sedang bertugas bahwa dia tidak bisa terbang ke Derna esok hari.

“Aku tidak mendapat perintah untuk terbang kesana. Aku khawatir anda bisa nyungseb disini berhari-hari, temanku. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan nebeng di truk kargo.”

“Bila aku melakukannya, aku baru bisa tiba di Gazala lusa. Aku harus berada disana esok siang.”

“Mungkin anda bisa mendapatkan mobil untuk keperluan anda,” tawar sang Feldwebel. “Coba cari di tempat perbekalan dan tanyakan kepada perwira yang sedang bertugas.” Marseille langsung mengambil tasnya dan berjalan melintasi rerongsokan yang terdapat di sekitar landasan kearah yang ditunjukkan oleh si Feldwebel.

Keadaan telah begitu gelapnya, tapi seorang penjaga menunjukkan tenda yang dia tuju. Marseille masuk, dan setelah basa-basi sebentar sambil memperlihatkan kartu identitasnya, dia meminta sebuah mobil yang akan digunakannya untuk melakukan perjalanan ke Derna.

“Saya adalah pemimpin Schwarm dan besok saya harus tinggal landas dari Gazala,” dia berkata dengan terburu-buru.

“Saya mengerti,” kata si Hauptmann yang sedang bertugas jaga. Dia adalah orang tua baik hati yang tampaknya adalah seorang veteran Perang Dunia I, yang tampak dari kedua Eisernes Kreuz Spange yang menempel di seragamnya. “Tapi saya tak dapat menolongmu dalam masalah ini. Mungkin jenderal akan berbaik hati meminjamkan mobilnya.”

Seringai lebar yang tampak dari wajah si Hauptmann menyiratkan bahwa dia Cuma bercanda. Tapi Marseille kemudian memintanya untuk mempertemukannya dengan jenderal dimaksud!

10 menit kemudian Oberfähnrich Marseille melaporkan diri pada jenderal Hellmann dan menceritakan tentang kesialannya. Sebagai penutup, dia mengatakan, “Saya harus pulang kembali ke Staffel saya besok. Bila saya tidak kembali maka Schwarm saya tak bisa tinggal landas.” Schwarm yang dia pimpin terdiri dari dua Rotten dengan dua pesawat masing-masing.

Disinilah terjadi sesuatu yang tidak biasa, seperti yang kadang terjadi di tempat lain dan di waktu yang lain. Bukannya kemudian memperlihatkan kepada sang Oberfähnrich yang congkak dan tidak sabaran ini letak pintu keluar, Jenderal Hellmann malah tampaknya terpesona dan gembira bisa bertemu dengan seorang perwira rendah muda yang berani seperti Marseille. Matanya tidak luput dari melihat medali Eisernes Kreuz I klasse yang menempel di saku Marseille, yang membuktikan bahwa pilot satu ini mempunyai skill yang cukup bisa diandalkan.

“Kalau begitu, terlebih dahulu ceritakan sebentar pengalamanmu selama di Channel,” sang jenderal meminta Oberfähnrich Marseille untuk duduk.

Dengan senang hati Marseille menuruti permintaan sang jenderal. Dia menceritakan tentang kemenangan-kemenangan udara yang telah dibukukannya, juga tentang bagaimana tiga kali pesawatnya hampir nyuksruk ke laut, dan satu kali benar-benar melakukannya. Ketika ceritanya berakhir, sang jenderal mengangguk. “Kamu akan mendapat mobil yang kamu minta. Tapi pertama-tama kamu harus ikut makan malam denganku.” Dia lalu memanggil si Hauptmann yang tadi dan menanyakan mobil yang mana yang siap dikendarai. Dua buah Volkswagen dan mobil pribadi si jenderal sendiri yang dinamakan “Admiral” tersedia saat itu.

Jenderal Hellmann kembali mengarahkan omongannya pada Marseille. “Besok subuh saat matahari mulai nampak kau dapat pergi menggunakan mobilku. Atau mungkin kau ingin berangkat sekarang? Saat ini bulan sedang bersinar penuh, dan setelah pukul 11 malam maka keadaan akan cukup terang, hampir-hampir seperti siang.”

“Bila mungkin, saya ingin berangkat saat ini juga, Herr Jenderal,” jawab Marseille.

“Baiklah kalau begitu! Bawa mobilnya kesini, dan lihat apakah bensinnya sudah diisi,” perintah Hellmann kepada si Hauptmann.

“Dan kau, Marseille. Aku tidak meminjamkan mobil ini secara cuma-Cuma. Sekarang kamu harus membukukan 50 kemenangan lagi untuk membalas kebaikan yang kuberikan kepadamu. Aku harap dapat mendengar kabar darimu dalam masalah ini, semoga dalam waktu yang tidak lama lagi.”

“Jawohl, Herr General!” Jawab Marseille dengan lega.

Tak lama setelah menaiki mobil lux kepunyaan sang jenderal, Marseille dan supir pribadi Hellmann langsung melesat melintasi jalan beraspal Via Balbia kearah tujuan mereka. Si supir adalah Unteroffizier Schultze yang juga berasal dari Berlin seperti halnya Marseille, dan tak lama suatu ikatan timbul di antara kedua orang muda ini.

Sepanjang perjalanan, Schultze ngoceh tentang bagaimana dinginnya cuaca di Afrika saat minggu-minggu pertama dia tiba disini, tentang Rommel dan Major Irnfried von Wechmar, yang memimpin sebuah Aufklärungsabteilung (AA 3) dan sekarang dipanggil semua orang dengan julukan “Lord of the Tarmac”. Dia bercerita tentang pengalaman mengalami serangan badai pasir pertama, tentang lalat yang minta ampun banyaknya, tentang kopi asin dan hal-hal lainnya. Sebagai penutup, dia mengatakan:

“Kamu dan teman-temanmu yang terbang di angkasa tampaknya bernasib lebih baik dibandingkan dengan kami. Selalu bernafas di tengah udara yang segar dan jauh dari debu dan kotoran.”

“Ya, memang benar. Tapi seringkali udara dipenuhi dengan lapisan timah,” jawab Jochen.

“Hahahaha… benul eh betul! Makanya aku lebih senang disini, nempel di atas tanah dengan mobilku.”

Agedabia telah terlewati lama sebelumnya. Beberapa rumah terlintasi, baik di kiri maupun di kanan. Sekali mereka sempat tersesat setelah mengikuti jejak sebuah konvoy yang kemudian menghilang. Untungnya Schultze kemudian menyadari kesalahannya dan kembali ke jalur yang benar. Mereka berbalik dan tiba di Benghazi tanggal 22 April 1941 jam 2 pagi. Jalan yang ada di kota ini bagaikan jalan-jalan indah di Eropa, dengan pohon berjajar di sepanjang boulevard. Tapi sang Unteroffizier tidak dapat menikmati keindahan ini karena sekarang dia tertidur pulas, dan Jochen Marseille yang gantian berada di belakang kemudi.

Di wilayah Tocra, Littoranea (bahasa Italia untuk menyebut jalanan pinggir pantai) mulai menanjak dan mengarahkan mereka ke bagian pinggiran Djebel Achcar. Unteroffizier Schultze kembali menjadi supir karena dia sudah biasa dengan jalanan sulit seperti ini. Bagaimana dengan Marseille? Kini bagian dia yang molor!

Ketika si Oberfähnrich terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Jalan pinggir pantai kini menembus bukit-bukit kapur. Mereka melintasi pemandangan yang menawarkan keindahan liar yang romantis, melintasi desa-desa yang dihuni oleh pemukim-pemukim Italia dengan rumah mereka yang dihiasi pohon-pohon tropis dan tanaman lainnya. Disinilah tempat perkebunan Cyrenaica – yang berkembang melalui proyek-proyek irigasi Italia: Gasr el Elua, Sidi Agd el Uahed, Zauia el Beda dan Beda Littoria. Dekat Luigi Raza mereka melintasi sebuah hutan kecil yang ditumbuhi pohon-pohon ek. Kebanyakan pemukiman disini sudah ditinggalkan oleh penghuninya, orang-orang Italia yang mengungsi bersama dengan keluarganya saat Inggris mendesak pasukan Mussolini bulan Desember 1940, hampir satu tahun sebelumnya.

Ketika mereka mencapai lapangan udara Derna, hari telah beranjak siang. Disini mereka berhenti sebentar untuk mengisi bahan baker. Marseille juga menggunakan waktunya untuk mengambil gajinya dari petugas pembayaran di landasan.

Ketika si petugas bersiap untuk menambahkan catatan baru di buku pembayaran Marseille, dia membukanya di halaman yang terdapat catatan penganugerahan Eisernes Kreuz. “Tolong, jangan di halaman itu,” pinta sang Oberfähnrich kepada petugas pembayaran.

“Apakah kamu pikir kamu dapat mendapat lebih dari Eisernes Kreuz yang ada disini?” dia bertanya.

“Tentu saja,” Marseille menjawab. Si petugas pembayaran nurut dan menuliskan catatan pembayaran di halaman lainnya.

Mereka kini berangkat menuju dataran tinggi Cyrenaica, yang ditandai dengan jalan berkelok-kelok bagaikan ular yang seakan tidak berakhir dan dipenuhi oleh debu tebal, yang mengarah ke Celah Halfaya. Di kiri kanan jalan, mereka menjumpai sisa-sisa kendaraan perang, tank dan truk, yang teronggok dan merupakan sisa dari pertempuran yang terjadi tak lama sebelumnya. Beberapa di antaranya telah dijatuhkan ke jurang atau selokan oleh petugas pembersihan demi menjaga jalan tetap bisa dilintasi.

Petugas yang sama kini terlihat sedang memperbaiki jalan, dan menambal lubang-lubang bekas ledakan. Ketika mereka mencapai salah satu belokan dan dapat melayangkan pandangan ke Derna, mereka melihat 12 buah Junkers Ju 87 dari StG 3 baru saja tinggal landas untuk melaksanakan misi tempur. Dengan meninggalkan 12 buah kabut berwarna kuning kemerah-merahan di belakangnya, mereka terbang ke udara dan menghilang dari pandangan Marseille.

“Mereka berangkat ke Tobruk. Rommel menginginkan benteng kokoh ini bagaimanapun caranya, karena dia merupakan titik penting seluruh front,” jelas Unteroffizier Schultze.

Jam telah menunjukkan pukul 17.00 ketika Marseille akhirnya tiba di lapangan udara Gazala dan memarkirkan mobil “Admiral” kepunyaan jenderal Hellmann di depan markas Staffelnya. Dia meninggalkan Unteroffizier Schultze dan melapor kepada Oberleutnant Homuth.

Yang mengagumkan adalah, Marseille tiba disini hanya dua jam setelah Staffelnya datang! Homuth tampak gembira melihat pencapaian sang Oberfähnrich, meskipun tak ada kata-kata pujian yang keluar dari mulutnya. Marseille mendapat keterangan dari para kameradnya bahwa Staffel 2 telah tiba sehari sebelumnya, dan bersama dengan Staffel 3 yang baru saja datang, kini seluruh komponen Gruppe I dari Jagdgeschwader 27 telah sampai di lapangan udara Gazala.

Album Foto Tokoh Third Reich Peraih Vapaudenristin Ritarikunta (Order of the Cross of Liberty) Finlandia



Admiral Theodor Burchardi. Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Swords (7 Juni 1943)


SS-Obergruppenführer Karl-Maria Demelhuber. Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Swords (1 Desember 1941)


SS-Obergruppenführer Herbert Otto Gille. Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Swords (6 Maret 1943)


Jamuan makan perwira Jerman dan Finlandia, dari kiri ke kanan: Kenraaliluutnanti (Letnan-Jenderal) Lauri "Mala" Malmberg (Komandan Pasukan Pertahanan Dalam Negeri Finlandia); General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6.Armee); Generalmajor Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes 6.Armee); dan Oberst Herbert Selle (Armeepioniereführer AOK 6.Armee). Acara ini kemungkinan besar diadakan ketika Malmberg melakukan inspeksi terhadap sukarelawan asal Finlandia yang tergabung di 5. SS-Panzer-Division "Wiking". Paulus dan Malmberg mengenakan Vapaudenristin Ritarikunta (Order of the Cross of Liberty) Finlandia di leher mereka. Paulus sendiri adalah peraih Order of the Cross of Liberty 1st Class with Oakleaf and Swords yang didapatnya tanggal 25 Maret 1942


Generalleutnant Christian Philipp. Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Swords (28 Maret 1942)


SS-Obergruppenführer Felix Steiner. Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Star and Swords (6 Juli 1943)

Oleh : Alif Rafik Khan

Order of the Cross of Liberty, Grand Cross with Swords
1. Reichsmarschall Hermann Göring: 25 Maret 1942
2. Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel: 25 Maret 1942
3. Großadmiral Dr. phil. h. c. Erich Raeder: 25 Maret 1942
4. Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch: 25 Juni 1942
5. Reichsführer-SS Heinrich Himmler: 30 Juli 1942
6. Großadmiral Karl Dönitz: 11 April 1944
7. Generaloberst Eduard Dietl: 24 Juni 1944

Order of the Cross of Liberty, Gold Medal of Merit
1. General der Infanterie Dr. phil. Waldemar Erfurth: 13 Juni 1944

Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Star, Oakleaf and Swords
1. Generaloberst Franz Halder: 25 Maret 1942
2. Generalfeldmarschall Georg von Küchler: 29 Maret 1943
3. Generaloberst Eduard Dietl: 21 Januari 1944

Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Star and Swords
1. Admiral Wilhelm Canaris: 16 September 1941
2. General der Infanterie Dr. phil. Waldemar Erfurth: 16 September 1941
3. Vizeadmiral Kurt Fricke: 25 Maret 1942
4. Generaloberst (Luftwaffe) Hans Jeschonnek: 25 Maret 1942
5. General der Artillerie Alfred Jodl: 25 Maret 1942
6. General der Infanterie Rudolf Ernst Otto Gercke: 15 Juli 1942
7. Generaloberst Ernst Busch: 29 Maret 1943
8. Generaloberst Georg Lindemann: 29 Maret 1943
9. SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Felix Steiner: 6 Juli 1943
10. General der Infanterie Kurt Zeitzler: 18 Desember 1943
11. General der Flieger (Luftwaffe) Günther Korten: 7 Januari 1944

Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Oakleaf and Swords
1. General der Flieger (Luftwaffe) Karl Bodenschatz: 25 Maret 1942
2. Generaladmiral Rolf Carls: 25 Maret 1942
3. General der Nachrichtentruppe Erich Fellgiebel: 25 Maret 1942
4. General der Infanterie Bodewin Keitel: 25 Maret 1942
5. Generalleutnant Herbert Osterkamp: 25 Maret 1942
6. General der Panzertruppe Friedrich Paulus: 25 Maret 1942
7. Admiral Conrad Patzig: 25 Maret 1942
8. General der Flieger (Luftwaffe) Bodo von Witzendorff: 25 Maret 1942
9. Generalleutnant Ferdinand Schörner: 28 Maret 1942
10. General der Infanterie Karl Weisenberger: 28 Maret 1942
11. General der Kavallerie Philipp Kleffel: 29 Maret 1943
12. General der Artillerie Albert Wodrig: 29 Maret 1943
13. General der Flieger (Luftwaffe) Hans-Georg von Seidel: 31 Maret 1943
14. General der Infanterie Franz Böhme: 13 Mei 1943
15. General der Pioniere Alfred Jacob: 5 Oktober 1943
16. General der Flieger (Luftwaffe) Julius Ferdinand Schulz: 7 Januari 1944
17. Generalleutnant Ferdinand Jodl: 20 Februari 1944

Order of the Cross of Liberty, 1st Class with Swords
1. Generalleutnant Erwin Engelbrecht: 21 September 1941
2. Kapitän zur See Hans Bütow: 12 Oktober 1941
3. Oberst Karl Seber: 23 Oktober 1941
4. Generalmajor Erich Buschenhagen: 26 Oktober 1941
5. Generalmajor Kurt Dittmar: 26 Oktober 1941
6. Generalmajor Ernst Goettke: 26 Oktober 1941
7. Generalmajor Hans Kreysing: 26 Oktober 1941
8. Generalmajor Ernst Schlemmer: 26 Oktober 1941
9. Generalmajor (Luftwaffe) Wilhelm Becker: 9 November 1941
10. SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Karl-Maria Demelhuber: 1 Desember 1941 (pangkatnya disebutkan secara simpel sebagai Generalmajor dalam dokumen-dokumen Findlandia)
11. Kapitän zur See Leopold Bürkner: 10 Desember 1941
12. Oberst Hans Piekenbrock: 10 Desember 1941
13. Konteradmiral Reimar von Bonin: 31 Januari 1942
14. Generalmajor Horst Rössing: 31 Januari 1942
15. Generalleutnant Rudolf Ernst Otto Gercke: 25 Maret 1942 (kemudian dianugerahi 1st Class with Star and Swords tanggal 15 Juli 1942.)
16. Generalmajor Adolf Heusinger: 25 Maret 1942
17. Generalmajor (Luftwaffe) Otto Hoffmann von Waldau: 25 Maret 1942
18. Generalmajor (Luftwaffe) Walter Lorenz: 25 Maret 1942
19. Generalmajor Bernhard von Loßberg: 25 Maret 1942
20. Generalmajor Gerhard Matzky: 25 Maret 1942
21. Vizeadmiral Hubert Schmundt: 25 Maret 1942
22. Generalmajor Eduard Wagner: 25 Maret 1942
23. Generalmajor Walter Warlimont: 25 Maret 1942
24. Generalarzt Dr. Kurt Bingler: 28 Maret 1942
25. Generalleutnant Iwan Huenert: 28 Maret 1942
26. Generalmajor Ferdinand Jodl: 28 Maret 1942 (Kemudian dianugerahi 1st Class with Oakleaf and Swords tanggal 20 Februari 1944.)
27. Generalmajor Christian Philipp: 28 Maret 1942
28. Oberst Eduard Ausfeld: 28 April 1942
29. Generalleutnant Hermann Tittel: 7 Mei 1942
30. Oberst Werner Wachsmuth: 13 Mei 1942 (komandan Infanterie-Regiment 310 dari 163.Infanterie-Division; sebelumnya dianugerahi 2nd Class with Swords tanggal 21 September 1941.)
31. Konteradmiral Otto Klüber: 21 Mei 1942
32. Generalmajor (Luftwaffe) Heinz-Hellmuth von Wühlisch: 21 Mei 1942
33. Generalmajor Rudolf Schmundt: 11 Juni 1942
34. SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Felix Steiner: 16 Juni 1942 (kemudian dianugerahi 1st Class with Star and Swords tanggal 6 Juli 1943.)
35. Generalleutnant Wilhelm Berlin: 23 Agustus 1942
36. Oberst (Luftwaffe) Alexander Holle: 23 Agustus 1942
37. Generalmajor Heinrich Kittel: 23 Agustus 1942
38. Generalmajor Gerhard Medem: 23 Agustus 1942
39. Generalmajor Wilhelm “Willi” Raithel: 23 Agustus 1942
40. SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Peter Hansen: 29 September 1942
41. Generalmajor Fritz Thiele: 7 Oktober 1942
42. Kapitän zur See Kurt Böhmer: 10 Oktober 1942
43. Generalmajor Dipl. Wirtsch. Ernst Becht: 12 November 1942
44. Generalmajor Rudolf Hünermann: 12 November 1942
45. Generalmajor Otto Will: 22 Januari 1943
46. SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Herbert Otto Gille: 6 Maret 1943
47. Generalleutnant Karl Allmendinger: 29 Maret 1943
48. Generalleutnant Hans Kratzert: 29 Maret 1943
49. Generalmajor Gerhard Reus: 29 Maret 1943
50. Generalmajor Martin Wandel: 29 Maret 1943
51. Generalmajor Wilhelm Wegener: 29 Maret 1943
52. Generalmajor Richard Bazing: 13 Mei 1943
53. SS-Oberführer Heinrich Gärtner: 13 Mei 1943
54. Generalmajor Georg Ritter von Hengl: 13 Mei 1943
55. SS-Brigadeführer und Generalmajor der Polizei Heinrich “Heino” Jürs: 13 Mei 1943 (pangkatnya disebutkan secara simpel sebagai Generalmajor dalam dokumen-dokumen Findlandia)
56. SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Matthias Kleinheisterkamp: 13 Mei 1943
57. Generalmajor August Krakau: 13 Mei 1943
58. Generalmajor Franz Rossi: 13 Mei 1943
59. Vizeadmiral Theodor Burchardi: 7 Juni 1943
60. Generalleutnant Wilhelm Haase: 7 Juni 1943
61. Generalmajor Paul Winter: 17 Juni 1943
62. Generalmajor Georg Radziej: 30 Juni 1943
63. Generalleutnant Kurt Weckmann: 13 Agustus 1943
64. Generalmajor (Luftwaffe) Kurt Kleinrath: 24 Oktober 1943
65. Generalmajor (Luftwaffe) Xaver Sattler: 24 Oktober 1943
66. Generalmajor (Luftwaffe) Herbert Joachim Karl Walter Rieckhoff: 8 Januari 1944
67. Generalarzt Dr. Rudolf Lipf: 19 Januari 1944
68. Generalmajor Karl Rübel: 19 Januari 1944 (sebelumnya dianugerahi 2nd Class with Swords tanggal 12 Desember 1941.)
69. Generalmajor Hans Degen: 4 April 1944
70. Konteradmiral Heinz Nordmann: 15 April 1944
71. Konteradmiral Werner Stichling: 15 April 1944
72. Generalmajor Hero Breusing: 31 July 1944


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.en.wikipedia.org
www.finnmedals.net
www.norgeslexi.com
www.vrijwilligerslegioen.nl

Album Foto Perayaan Ulang Tahun Nazi Jerman

Korvettenkapitän Hermann Büchting memotong kue berhiaskan adonan befbentuk Ritterkreuz di hari ulangtahunnya


Sumber :
www.wehrmacjt-awards.com

Album Foto Tokoh Third Reich Peraih DRL Sportsabzeichen (DRL Sports Badge)



Hauptmann Hans-Georg Borck


Hauptmann Hugo Dahmer


Generalmajor Adolf Trowitz


Sumber :
www.57id.de
www.wehrmacht-awards.com

Album Foto Jenggot dan Cambang Nazi Jerman

Tulisan di tanda pangkat bahu 'fl 604' merujuk pada Flak-Bataillon 604 (motorisiert)


Major der Reserve Karl Bock


Fregattenkapitän Albrecht Brandi


Korvettenkapitän Hermann Büchting


Hauptmann Walter-Christian Müller santai sambil merokok tanpa mempedulikan jenggot dan kumisnya yang mulai tumbuh. Nantinya dia akan mendapatkan Ritterkreuz tanggal 27 Juli 1944 sebagai Hauptmann dan Kommandeur Panzerjäger-Abteilung 389. Seusai perang dia bergabung dengan Bundeswehr dan pensiun pada tanggal 31 Maret 1971 dengan pangkat terakhir Oberstleutnant (pangkat terakhirnya di Wehrmacht adalah Major)


General der Gebirgstruppe Julius Ringel


Seorang pelaut bernama Ernst Schwabe yang merupakan awak dari Hilfskreuzer "Stier" (HSK 6) pimpinan Fregattenkapitän Horst Gerlach. Nama "Stier" sendiri artinya adalah "banteng", dan diambil berdasarkan zodiak Taurus. Kapal penjelajah pembantu satu ini mampu menenggelamkan empat kapal dagang sebelum dia sendiri tenggelam pada tanggal 27 September 1942. Hanya dua orang awaknya yang berhasil selamat...


Kapitänleutnant Rolf Struckmeier sebagai komandan U-608 mengenakan medali Eisernes Kreuz I klasse versi kain. BTW, wajahnya rada-rada mirip Jürgen Prochnow yang memerankan peran sebagai "der Alte" dalam film fenomenal DAS BOOT!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Eric-Jan Bakker
www.finearts-autographs.com
www.gmic.co.uk
www.photo-war.com
www.wehrmacht-awards.com

Album Foto Tokoh Third Reich Dengan Pita Lengan (Ärmelband/Ärmelstreifen/Cufftitle) Mereka

ADOLF HITLER


SS-Obersturmführer Hans-Martin Leidreiter

-------------------------------------------------------------------------------- 

AFRIKA


Gesandter Dr.phil. Rudolf Rahn

-------------------------------------------------------------------------------- 

 AFRIKAKORPS

Hauptmann Hans Klärmann
--------------------------------------------------------------------------------


DEUTSCHLAND
 SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Wilhelm Bittrich


 
SS-Oberscharführer Walter Hümmel

--------------------------------------------------------------------------------

FALLSCHIRMJÄGER-REGIMENT 1

Oberjäger Egon Danzer

--------------------------------------------------------------------------------

FLORIAN GEYER


SS-Hauptsturmführer Joachim Boosfeld

--------------------------------------------------------------------------------

HEIMWEHR DANZIG

 
SS-Standartenführer Hans-Friedemann Goetze

--------------------------------------------------------------------------------

JAGDGESCHWADER SCHLAGETER


Generalleutnant Adolf Galland

--------------------------------------------------------------------------------

KURLAND


Hautmann Fritz Biermann

--------------------------------------------------------------------------------

PRINZ EUGEN

 SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Artur Martin "Papa" Phleps


SS-Sturmbannführer Josef "Sepp" Schwörer


Sumber :

www.ailsby-collection.blogspot.com
www.en.wikipedia.org 
www.fallschirmjager.tumblr.com 
www.forum.axishistory,com
www.kegans-militaria.webstars.com
www.lexikon-der-wehrmacht.de
www.reibert.info
www.wehrmacht-awards.com