Wednesday, April 18, 2012

Kapitän zur See Theodor Detmers (1902-1976), Tawanan Sekutu Yang Mencoba Kabur ke Indonesia!


Kapitän zur See Theodor Detmers, kapten kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang berhasil menangkap serta menenggelamkan 11 kapal dagang Sekutu hanya dalam kurun waktu 16 bulan! Dalam pertempuran habis-habisan terakhir melawan kapal penjelajah Australia dia berhasil menenggelamkan musuhnya. Meskipun begitu, kapalnya sendiri mengalami kerusakan berat sehingga harus ditenggelamkan demi mencegah jatuh ke tangan musuh. Detmers sendiri lalu ditawan di Australia. Sempat berupaya melarikan diri ke Indonesia, dia akhirnya tertangkap kembali dan kemudian dipenjara sampai akhir perang. BTW, Detmers dianugerahi Ritterkreuz SETELAH dia ditawan, dan kemudian medalinya dikirimkan ke kamp tawanan di Australia melalui Palang Merah Internasional. Karena itu, foto di atas yang memperlihatkan Detmers dengan Ritterkreuz-nya diambil saat dia berstatus sebagai tawanan perang!


Oberleutnant zur See Theodor Detmers memimpin parade para kadet pelaut Kriegsmarine melalui Gerbang Brandenburg selama berlangsungnya Olimpiade Berlin tahun 1936


Formulir anggota tawanan perang dari Theodor Detmers yang dikeluarkan oleh Angkatan Bersenjata Australia. Disini disebutkan bahwa perwira Angkatan Laut berambut abu-abu dan bermata biru yang beragama Kristen Evangelis ini masih singel di usianya yang telah menginjak 40 tahun!


Para perwira Kriegsmarine dan DAK (Deutsche Afrikakorps) Jerman dalam sebuah upacara pemakaman rekan mereka yang diadakan di kamp tawanan perang Tatura, Victoria (Australia), sekitar tahun 1942. Simbol Swastika dan Eisernes Kreuz tampak jelas dalam dua buah karangan bunga yang dibawa mereka. Perwira Kriegsmarine yang memakai schirmmütze putih dipercaya sebagai Fregattenkapitän Theodor Detmers, mantan komandan kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang bertanggungjawab dalam tenggelamnya kapal penjelajah Australia "HMAS Sydney" di lepas pantai barat Australia tanggal 19 November 1941. Perwira Kriegsmarine lainnya (ketiga dari kanan) dipercaya sebagai Oberleutnant zur See Joachim Greter yang merupakan perwira torpedo "Kormoran". Setelah ditemukannya rongsokan sisa-sisa "Kormoran" serta "HMAS Sydney" di bulan Maret 2008, diketahui bahwa sebuah tembakan torpedo dari "Kormoran" telah mengenai bagian kiri dari "HMAS Sydney" persis di bagian depan turetnya sehingga membuat kapal Australia tersebut terbelah dua dan sekaligus menenggelamkannya


Beberapa orang mantan perwira kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang ditawan di No.13 POW Group yang terletak di Dhurringile dekat Murchison di Victoria, Australia, berpose bersama dalam foto tertanggal 11 Februari 1943. Baris belakang, dari kiri ke kanan: Oberleutnant zur See Joachim Greter, Oberleutnant zur See Edmond Schafer, Oberleutnant Joachim von Gossein, Oberleutnant Wilhelm Brinkmann, dan dua orang paling kanan tidak diketahui namanya. Duduk depan dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Henry Meyer, Kapitänleutnant Kurt Förster, Fregattenkapitän Theodor Detmers (komandan kapal), dan Oberleutnant Heinz Messerschmidt


Kapal Penjelajah Pembantu (Hilfskreuzer) "Kormoran" difoto dari sebuah U-boat Jerman tahun 1940. Dengan kode resmi Handelsstörkreuzer 8 (HSK-8 / Raider-G), dia adalah kapal dagang penyerang terbesar yang dimiliki oleh Jerman dalam Perang Dunia II (berbobot 8.736 ton dan berawak 400 orang). Selama karir perangnya di bawah komando Theodor Detmers, kapal satu ini berhasil menenggelamkan 10 kapal dagang dan merampas satu kapal sisanya. Dia juga menghancurkan kapal penjelajah Australia "HMAS Sydney" dalam sebuah pertempuran laut yang dikenal sebagai "tragedi terdahsyat Angkatan Laut Australia"! "Kormoran" sendiri diambil dari nama sejenis burung dari famili Phalacrocoracidae yang salah satu tongkrongannya adalah seperti INI


Para awak kapal "HMAS Sydney" (II) berkumpul untuk berfoto bersama. Kapal penjelajah kebanggaan Australia berbobot 6.830 ton ini tenggelam bersama seluruh 645 orang awaknya setelah bertempur sengit melawan "Kormoran" di lepas pantai Australia. Dia terkenal setelah mengkaramkan kapal penjelajah Italia "Bartolomeo Colleoni" di perairan Mediterania tahun 1940. Selama masa aktifnya, "HMAS Sydney" dipimpin oleh empat orang: Captain J.U.P. Fitzgerald RN (24 September 1935); Captain J.W.A. Waller RN (9 Oktober 1937); Captain J.A. Collins RAN (16 November 1939); dan Captain J. Burnett RAN (14 Mei 1941)


“Kapal-kapal yang berpapasan di malam gelap gulita, mereka saling berbicara satu sama lain hanya dalam bahasa sandi dan suara di kejauhan. Dalam samudera kehidupan kita pun saling berpapasan dan berbicara satu sama lain hanya dengan pandangan mata yang berpadu dengan suara, untuk kemudian hening kembali dan kegelapan menggantikannya.”
- Henry Wadsworth Longfellow, “The Theologian’s Tale: Elizabeth” (1863) -

Oleh : Alif Rafik Khan

Theodor Anton Günther Detmers dilahirkan tanggal 22 Agustus 1902 di Witten yang berada di wilayah Ruhr. Dia masuk ke Reichsmarine, Angkatan Laut Republik Weimar, tanggal 1 April 1921. Setelah bertugas di kapal perang SMS Hannover dan SMS Elsass, kapal layar latih(Segelschiff) Niobe dan kapal penjelajah Berlin, pada bulan Oktober 1925 dia ditunjuk sebagai sub-leutnant di Emden, sebuah kapal penjelajah yang namanya diambil dari kapal Jerman yang dipaksa berlabuh di Kepulauan Cocos (Keeling) oleh HMAS Sydney tahun 1914.

Setahun di Emden diikuti oleh dua tahun tugas darat sebelum ditempatkan di kapal torpedo Albatros bulan Oktober 1928. Dia telah dipromosikan menjadi Leutnant bulan Juli 1927. Antara Oktober 1930 s/d Oktober 1932 dia ditempatkan sebagai staff Angkatan Laut dan kemudian ditugaskan di Köln. Selama dua tahun masa tugasnya di kapal penjelajah ini Detmers dipromosikan menjadi Oberleutnant dan berkesempatan mengunjungi Australia dalam sebuah pelayaran latihan tahun 1933.

Dari tahun 1934 sampai dengan penunjukannya di Kormoran, tugas Detmers kebanyakan berhubungan dengan kapal torpedo dan perusak Kriegsmarine (pengecualiannya adalah dua tahun masa tugasnya di Divisi Personel dari Staff Kriegsmarine tak lama setelah dipromosikan menjadi Kapitänleutnant bulan Oktober 1937). Pada bulan Oktober 1938 dia ditunjuk sebagai komandan kapal perusak Hermann Schoemann, dan di bulan Juni 1940 ikut serta dalam kampanye pasukan Jerman di Norwegia (Unternehmen Weserübung).

Pada bulan Juli 1940 Detmers meninggalkan Hermann Schoemann dan tak lama kemudian mengambil alih komando kapal penjelajah pembantu Kormoran (berlayar tanggal 9 Oktober 1940 – 20 November 1941). Selama pelayaran Kormoran dia berhasil menenggelamkan 11 kapal dagang Sekutu dan dipromosikan menjadi Korvettenkapitän. Pada tanggal 19 November 1941 Kormoran dipergoki oleh HMAS Sydney. Detmers mencoba berpura-pura sebagai kapal dagang Belanda tapi kemudian tetap ketahuan kurangnya pengetahuan tentang kode laut Sekutu yang dibutuhkan. Mau tidak mau dia bertempur dengan kapal penjelajah milik Angkatan Laut Australia tersebut. Dahsyatnya, dalam pertempuran laut di barat Australia ini Detmers mampu menenggelamkan HMAS Sydney. Kapalnya sendiri rusak parah sehingga terpaksa harus ditenggelamkan demi mencegahnya jatuh ke tangan Sekutu. Detmers pun kemudian menjalani sisa masa perang sebagai tawanan Sekutu di Australia.

Selama masa penawanannya di HM Prison Dhurringile, Detmers dianugerahi Ritterkreuz tanggal 4 Desember 1941 dan kemudian dipromosikan menjadi Kapitän zur See bulan April 1943. Rupanya prestasi Detmers sekaligus pertempuran sengitnya dengan HMAS Sydney mendapat pantauan juga dari kampung halamannya dan beritanya dimuat di Wehrmachtsbericht (Siaran Radio Wehrmacht) edisi rabu tanggal 3 Desember 1941. Selama menjadi tawanan dia menyempatkan waktu secara sembunyi-sembunyi untuk menuliskan kisah pertempuran antara Kormoran dan HMAS Sydney dalam sebuah bahasa sandi yang kemudian baru ketahuan setelah perang usai. Detmers mencoba untuk kabur dari kamp tawanan di Australia bersama para anggota awak kapalnya melalui sebuah terowongan dengan harapan dapat merampas sebuah kapal layar dan membawanya ke Indonesia yang saat itu dikuasai oleh Jepang (sekutu Jerman dalam Perang Dunia II). Sayangnya, usahanya ini gatot alias gagal total alias wadon bae ble’e-ble’e!

Dia direpatriasi setelah perang usai pada bulan Januari 1947 dan dilepaskan dari tawanan Inggris di Munster, tapi tak bisa melanjutkan karir lautnya di Bundesmarine (Angkatan Laut Jerman Barat) karena stroke yang pernah menderanya selama berada di kamp tawanan. Pada awal tahun 1950-an dia menikah dengan Ursula Reinhardt, putri seorang pendeta Evangelis. Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Theodor Detmers meninggal dunia tanggal 4 November 1976 di Rahlstedt, Hamburg. Sebelumnya dia telah menulis buku tentang pengalamannya selama menjadi kapten kapal Kormoran yang berjudul “The Raider Kormoran” (versi Inggris) pada tahun 1959.


Sumber :
Buku "The Search for the Sydney" karya David L.Mearns
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.awm.gov.au
www.bismarck-class.dk
www.en.wikipedia.org
www.findingsydney.com
www.forum.axishistory.com
www.forum.wehrmacht-awards.com
www.museumvictoria.com.au
www.navy.gov.au
www.ww2australia.gov.au



Tuesday, April 10, 2012

Album Foto Terbaik Kaiser Wilhelm II

Bayi Wilhelm bersama ibunya Victoria tahun 1859


Wilhelm bersama dengan ayahnya, Friedrich-Wilhelm (nantinya menjadi Friedrich III setelah naik tahta) di Kastil Balmoral tahun 1863, kemungkinan pada saat pamannya dari pihak ibu, Prince of Wales, menikah (Maret 1863). Bapak-anak ini mengenakan pakaian nasional Skotlandia, lengkap dengan rok khasnya yang bernama Kilt. Friedrich Wilhelm Nikolaus Karl (18 Oktober 1831 – 15 Juni 1888) menggantikan ayahnya, Wilhelm I, sebagai Kaisar Jerman pada tanggal 9 Maret 1888. Tapi pemerintahannya tak berlangsung lama, dan tepat 99 hari kemudian Friedrich III meninggal dunia karena kanker tenggorokan


Prinz Wilhelm muda mengenakan seragam altpreußischer dalam foto dari tahun 1874


Prinz Wilhelm sebagai pelajar sekolah dalam foto dari tahun 1874


Wilhelm sebagai seorang anak muda bersama ibunya, Princess Royal Victoria, di tahun 1876. Victoria Adelaide Mary Louisa (21 November 1840 – 5 Agustus 1901) merupakan anak tertua pasangan Ratu Victoria dan Pangeran Albert dari Inggris. Dia digelari Princess Royal of the United Kingdom tahun 1841. Victoria lalu menjadi ratu Kekaisaran Jerman (Deutsches Kaiserreich) setelah menikah dengan Kaisar Jerman Friedrich III. Seusai meninggalnya suaminya, Victoria kemudian dikenal luas sebagai Kaiserin Friedrich (Ratu Friedrich)


Kaiser Wilhelm II dalam foto yang dibuat tahun 1890. Dia mengenakan seragam perwira militer Prusia yang dinamakan sebagai Überrock. Medali yang tergantung di lehernya adalah Protektorkreuz des Johanniterordens, sementara yang terdapat di kancing baju adalah penghargaan luar negeri (non-Prusia) yang kemungkinan adalah medali dari Italia. Perhatikan bahwa tangan kanannya memegang tangan kiri. Ini tidak bermaksud sebagai pose belaka agar dimuat di majalah Kuncung, melainkan demi menutupi penyakit Erb's palsy (kelumpuhan syaraf tangan) yang dideritanya!


Kaiser Wilhelm II berdiri di lapangan dan menarik pedangnya secara dramatis dalam foto yang dibuat di Stettin, Jerman, tahun 1900. Dia mengenakan helm militer khas Prusia yang dinamakan sebagai Pickelhaube. Helm "nyungcung" ini biasa dikenakan oleh anggota militer Jerman di abad ke-19 dan awal abad ke-20, dan juga digunakan oleh anggota pemadam kebakaran dan petugas kepolisian


Kaiser Wilhelm II dalam sebuah Photopostkarte (foto kartupos) Reichard und Lindner keluaran tahun 1905. Kartupos ini diproduksi oleh Gustav Liersch & Co. dari Berlin. Burung yang ngangkang di helm Sang Kaiser berasal dari jenis Bango Tong-Tong


Kaiser Wilhelm II (kiri) dan Tsar Nicholas II dalam foto dari tahun 1905. Uniknya, dalam foto ini Kaiser mengenakan seragam militer Rusia, sementara Tsar mengenakan seragam militer Prusia! Kedua Kaisar ini masih mempunyai hubungan kekerabatan: ibu Wilhelm dan mertua Nicholas adalah kakak-adik yang sama-sama merupakan anak dari Ratu Victoria (Inggris)


Winston Churchill (kanan) bersama dengan Kaiser Wilhelm II dalam acara kunjungan ke acara latihan militer Jerman di tahun 1909. Tentang penguasa Jerman ini, Churchill berkomentar: "Dia selalu berangan bagaimana rasanya menjadi seperti Napoleon tanpa perlu melakukan pertempuran terlebih dahulu... bila anda adalah puncak dari sebuah gunung berapi, maka setidaknya anda harus mengeluarkan asap. Dan berasaplah dia, pilar-pilar awan di siang hari serta pancaran nyala api di malamnya, untuk menarik hati semua yang melihat dari kejauhan. Tentunya para pemuja yang gelisah ini tak lama kemudian akan mendekat dan bergabung untuk mencari perlindungan..."


Foto ini diambil dari halaman 74 majalah Katolik Jerman "Deutscher Hausschatz" terbitan No.2 tahun 1910 yang memperlihatkan suasana saat latihan militer "das badische Korps“ alias XIV. Armeekorps. Latihan ini dinamakan dengan "Herbstmanöver" dan digelar di musim gugur 1909 di Karlsruhe, Jerman Selatan. Yang diberi nomor di bawahnya adalah figur-figur terkemuka militer Jerman saat itu: (1) Kaiser Wilhelm II; (2) Großherzog Friedrich II von Baden; (3) Prinz Oskar von Preußen; (4) Großherzog Ernst-Ludwig von Hessen; (5) Großherzog Friedrich Franz IV von Mecklenburg-Schwerin; (6) Prinz Ludwig III von Bayern; (7) Prinz Maximilian von Baden; dan (8) Kronprinz Wilhelm. Semua figur dalam foto ini memakai helm berumbai kecuali Kronprinz (Putra Mahkota) yang mengenakan seragam Kürassier


Kaisar Jerman Wilhelm II bersama para jenderal "top notch"-nya yang difoto tanggal 1 Januari 1910 (berdasarkan klaim Getty Images). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Karl Wilhelm Paul von Bülow (1846-1921), Generalfeldmarschall Anton Ludwig Friedrich August von Mackensen (1849-1945), Generalfeldmarschall Rupprecht Maria Luitpold Ferdinand von Wittelsbach Kronprinz von Bayern (1869-1955), Generaloberst Helmuth Johannes Ludwig von Moltke (1848-1916), Generalfeldmarschall Albrecht Maria Alexander Philipp Joseph Herzog von Württemberg (1865-1939), General der Infanterie Friedrich Wilhelm Viktor August Ernst von Hohenzollern Kronprinz von Preußen (1882-1951), Oberster Kriegsheer Kaiser Wilhelm Viktor Albert von Preußen (1859-1941), General der Infanterie Hermann Karl Bruno von François (1856-1933), Generaloberst Alexander Heinrich Rudolf von Kluck (1846-1934), General der Infanterie Erich Friedrich Wilhelm Ludendorff (1865-1937), General der Infanterie Albert Theodor Otto von Emmich (1848-1915), General der Infanterie Erich Georg Alexander Sebastien von Falkenhayn (1861-1922), Generaloberst Karl Wilhelm George August Gottfried von Einem gennant von Rothmaler (1853-1934), Generalfeldmarschall Gottlieb Ferdinand Albert Alexis Graf von Haeseler (1836-1919), Generaloberst Hans Hartwig von Beseler (1850-1921), Generalfeldmarschall Paul Ludwig Hans Anton von Beneckendorff und von Hindenburg (1847-1934), Kanzler Theobald Theodor Friedrich Alfred von Bethmann-Hollweg (1856-1921), Generaloberst Josias Oskar von Heeringen (1850-1926), dan Großadmiral Alfred Peter Friedrich von Tirpitz (1849-1930)


 Kaiser Jerman Wilhelm II (tengah) bersama dengan para perwira yacht pribadinya "Hohenzollern" dalam perjalanan wisata laut ke Sognefjord (Norwegia) dimana mereka menginap di hotel Balestrand dan Kviknes. Setiap berlayar membawa sang Kaiser, Hohenzollern selalu diiringi oleh kapal-kapal perang berukuran besar dan kecil. Kedua dari kanan adalah Korvettenkapitän Erich Raeder (nantinya menjadi Panglima Angkatan Laut Jerman tahun 1928-1943) yang merupakan Navigationsoffizier (Perwira Navigasi) di Hohenzollern periode 15 September 1910 s/d 30 September 1912. Selama masa tugasnya di kapal pribadi Wilhelm II tersebut, Raeder berturut-turut dipimpin oleh Kapitän zur See Oskar Graf von Platen-Hallermund (1 Oktober 1908 - 10 Oktober 1911) dan Kapitän zur See Johannes von Karpf (11 November 1911 - 31 Juli 1914). Yang terakhir menjadi kapten kapal penjelajah tempur "Moltke" dalam Pertempuran Jutland tahun 1916


Kartupos keluaran "Gustav Liersch & Co." yang memperlihatkan Kaiser Wilhelm II (kanan) sedang berbincang-bincang dengan "Sang Penakluk Liège" General der Infanterie Otto von Emmich (X. Armeekorps) dalam acara inaugurasi Balai Kota Hannover yang baru, 20 Juni 1913. Di tengah-tengah antara Emmich dan Kaiser adalah Generaloberst Hans Georg von Plessen (Chef des Reitenden Feldjäger-Korps), sementara di sebelah kanan adalah General der Infanterie Moriz Freiherr von Lyncker (HQ SM Wilhelm II: Chef des Militärkabinetts & Vortragender Generaladjudant). Ketiga dari kiri adalah Stadtdirektor Hannover, Heinrich Tramm. Tanda (X) di bawah Von Lyncker menunjukkan bahwa kartupos ini dikeluarkan di wilayah Hauses von Lynker


Upacara perayaan 100 tahun Befreiungskriege (Perang Pembebasan dari Napoleon) yang diselenggarakan tanggal 25 Agustus 1913 di Befreiungshalle (Aula Kebebasan/Hall of Liberation) di Kelheim, Münich. Baris depan dari kiri ke kanan: Kaiser Wilhelm II; König Ludwig III von Bayern; Oberst-Zeremonienmeister Maximilian Graf Moy (Oberst à la suite der Armee dengan seragam Infanterie-Leib-Regiment); Generalleutnant Wilhelm Walther von Walderstötten (vortragender Generaladjutant König Ludwig), dan Kronprinz Rupprecht. Baris kedua paling kanan adalah General der Infanterie Felix Graf von Bothmer, sementara tepat di atas bulu helm König Ludwig III adalah Generaloberst Hans Georg von Plessen (Kommandant und Diensttuender Generaladjudant Wilhelm II). Para penjaga yang berbaris di sisi kiri dan kanan dengan patung singa di atas helm mereka adalah Bayerische Leibgarde Hartschiere


Kaiser Wilhelm II (kiri) dan Generaloberst Helmuth von Moltke. Helmuth Johannes Ludwig von Moltke (1848-1916) adalah Kepala Staff Jenderal AD Jerman (Großer Generalstab: Generalstabschef) dalam tahun pertama Perang Dunia II yang terkenal atas kegagalannya menerapkan "Rencana Schlieffen" dalam gerak maju tentara Jerman ke Prancis. Dia adalah keponakan dari Generalfeldmarschall Helmuth von Moltke (yup, namanya sama!) yang meraih prestasi brilian dalam Perang Prusia-Prancis tahun 1870. Untuk membedakannya, maka para sejarawan biasa menyebut sang paman sebagai "der Ältere" (yang lebih tua), sementara sang keponakan sebagai "der Jüngere" (yang lebih muda)


Kaiser Wilhelm II (kanan) bersama dengan Generaloberst Kronprinz Rupprecht von Bayern (ketiga dari kiri) di tahun 1914. Rupprecht Maria Luitpold Ferdinand von Wittelsbach, Kronprinz von Bayern (1869-1955) adalah salah satu jenderal Jerman paling jempolan dalam Perang Dunia Pertama, meskipun latar belakang darah birunya (dia adalah Putra Mahkota Kerajaan Bavaria yang terakhir) ikut berperan dalam membantu kesuksesannya dalam menapaki karir sampai menjadi Generalfeldmarschall



Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg (Chef des Generalstabe des Feldheeres), Kaiser Wilhelm II dan General der Infanterie Erich Ludendorff (Oberste Heeresleitung - Erster Generalquartiermeister) sedang merundingkan strategi perang sambil melihat ke peta di markas besar pasukan Jerman, Januari 1917. Hindenburg dan Ludendorff merupakan dua serangkai jenderal Jerman yang ngetop setelah meraih kemenangan gilang gemilang atas pasukan Rusia dalam Pertempuran Tannenberg (26 Agustus s/d 30 Agustus 1914). Sejak saat itu kedua orang ini dikenal sebagai panglima jempolan Jerman dalam Perang Dunia Pertama. BTW, foto di atas diambil dari buku "Grosser Bilderatlas des Weltkrieges" karya F. Bruckmann

Jagoan udara Jerman dalam Perang Dunia I, Rittmeister Manfred von Richthofen, maju ke depan dan memberi hormat kepada Kaiser Wilhelm II yang baru datang untuk menginspeksi para anggota udara 4.Armee di Courtrai, 20 Agustus 1917. Di sebelah kanan adalah General der Infanterie Friedrich Sixt von Armin, komandan 4.Armee yang berusia 65 tahun. Sang jenderal mempunyai motto yang cocok benar dengan filosofi Manfred: “Dia yang tidak berani mengambil langkah selanjutnya adalah dia yang telah melakukan perjalanan dengan sia-sia”

Mantan Kaiser Wilhelm II sedang berjalan-jalan di tempat pengasingannya di Doorn, Belanda, bersama istri (Prinzessin Hermine von Schönaich-Carolath) dan anak tirinya (Henriette), bulan Maret 1931. Henriette Hermine Wanda Ida Luise Prinzessin von Schönaich-Carolath (1918-1972) merupakan anak pasangan Hermine dengan Prinz Johann Georg von Schoenaich-Carolath. Setelah kematian ayah kandungnya tahun 1920, tahun 1922 ibunya menikah lagi dengan Wilhelm yang juga menduda setelah kematian istri pertamanya tahun 1921. Foto di atas pertama kali nongol di penerbitan "Tempo" edisi 13 Desember 1932

Mantan Kaiser Wilhelm II dalam pengasingan di tanah bangsawan Doorn, Belanda, bulan September 1933. Dia mengenakan pakaian sipil serta memegang rokok. Sebagai fotografernya adalah Oscar Tellgmann (1857-1936)

Wilhelm II bersama dengan istri tercintanya, Prinzessin Hermine von Schönaich-Carolath (lahir dengan nama Prinzessin Hermine Reuß ältere Linie), dalam pengasingan di tanah bangsawan Doorn, Belanda, bulan September 1933. Sebagai fotografernya adalah Oscar Tellgmann (1857-1936)

Upacara pemakaman mantan Kaiser Wilhelm II di Doorn, Belanda, 9 Juni 1941. Dari kiri ke kanan: Admiral Wilhelm Canaris, Reichskommissar Arthur Seyß-Inquart, Generaloberst Curt Haase, Generalfeldmarschall August von Mackensen dan Admiral Hermann Densch. Hampir tertutup total oleh Seyß-Inquart adalah General der Flieger Friedrich Christiansen, panglima Wehrmacht di Belanda

Mausoleum (kuburan) Wilhelm II di Belanda. Sang mantan Kaiser meninggal dunia di tempat pengasingannya di Doorn pada tanggal 3 Juni 1941 di usia 82 tahun, hanya beberapa minggu sebelum Jerman melancarkan invasinya ke Uni Soviet. Sejak saat itu lokasi kuburannya menjadi tempat ziarah kaum Monarkis Jerman. Setiap tahun diadakan acara peringatan kematiannya di Huis Doorn yang dihadiri oleh sekumpulan orang yang mengidolakannya

Foto-foto Kaiser Wilhelm II yang lainnya. Masa pemerintahannya (1890-1918) menandai banyaknya perubahan dan image yang lekat dengan sosoknya. Wilhelm sangat menyukai Angkatan Laut, karenanya di masa pemerintahannya (dan bertahun-tahun setelahnya) adalah biasa bagi anak kecil untuk memakai seragam pelaut demi mengenalkan mereka sedari dini kepada aura dan prestise Angkatan Laut. Selain itu, Pickelhaube di masa kekuasaannya menjadi sangat identik dengan "Jerman", meskipun banyak juga negara lain yang saat itu menggunakan helm dari jenis sama dan pula telah digunakan sebelum pemerintahan Wilhelm II

Lukisan Kronprinz (Putra Mahkota) Wilhelm yang dibuat oleh pelukis Austria Heinrich von Angeli (1840-1925). Pelukis ini terkenal karena menjadi pelukis utama para aristokrat Eropa dan Ratu Victoria asal Inggris menjadi patron utamanya. Angeli dimakamkan di Wiener Zentralfriedhof (Gruppe 32 C, Nummer 6) yang merupakan kompleks pemakaman tokoh terkemuka Austria. Namanya lalu dijadikan sebagai nama sebuah jalan kecil di Wina yang bernama Angeligasse

Kaiserpaar (Pasangan Kerajaan) Wilhelm II dan Viktoria Augusta bersama dengan Kronprinz (Putra Mahkota) Friedrich Wilhelm. Kronprinz dan adik pertamanya (Eitel) berselang usia satu tahun, sementara dengan adik terakhirnya (Viktoria Luise) berselang 10 tahun

Lukisan dari tahun 1897 yang memperlihatkan Wilhelm II mengenakan pakaian anggota senior Bonner Preußen (Corps Borussia Bonn). Sebagai pelukisnya adalah Ludwig Noster (1859-1910). Corps Borussia Bonn adalah salah satu kelompok persaudaraan pelajar Jerman (Geschichte der Studentenverbindungen) yang banyak bertebaran saat itu

Kecuali di hari tuanya saat dia sudah tersingkir dari tahta, Kaiser Wilhelm II tidak pernah terlihat memanjangkan janggutnya. Kita bisa melihat bahwa dagunya belah. Dari manakah dia mendapat "warisan" ini? Tentu saja sulit untuk memastikan dari pihak bapak moyangnya karena mereka mempunyai kumis dan janggut yang segede tokay sehingga sulit untuk melihat dagunya! Dari ketujuh anaknya, setidaknya empat di antaranya memiliki dagu sama seperti bapaknya: Viktoria, Joachim, Adalbert dan Oskar

Dua buah lukisan Wilhelm II karya Max Johann Bernhard Koner (1854-1900). Yang pertama (atas) dibuat di Kedutaan Besar Jerman di Paris tahun 1890. Disini Sang Kaiser mengenakan jubah Schwarzer Adlerorden yang tergantung di bahunya. Lukisan ini kemudian hilang dan sampai saat ini tidak ketahuan dimana rimbanya! Yang bawah dibuat tahun 1892 dan memperlihatkan Kaiser memakai pakaian berburu. Saat ini lukisan tersebut tersimpan di Kastil Pszczyna (Pless) di Polandia dan baru-baru ini mendapat perbaikan


Lukisan Kaiser Wilhelm II yang berasal dari majalah asal negara Chili bernama "Selecta" edisi tahun 1910. Disini dia memakai seragam putih musim panas tanpa embel-embel medali (suatu hal yang langka di masa kepemimpinannya!) dan berdiri dengan santai sambil bertopang pada pagar bangunan di belakangnya. Di bawahnya terdapat caption bertulisan "S.M. el Emperador de Alemania" yang merupakan bahasa Spanyol dengan Arti "Kaisar Jerman". Lah, terus S.M. singkatan dari apa? Yang jelas bukan "Sudi Mampir" (emangnya warteg!), melainkan "Su Majestad" (His Majesty/Seine Majestät/Yang Dipertuan)


Lukisan Kaiser Wilhelm II karya Philip Alexius de László (1869-1937), pelukis keturunan Yahudi kelahiran Hungaria tapi tinggal di Inggris (!) yang terkenal dengan lukisan para anggota bangsawan dan keluarga kerajaan Eropa. Lukisan pertama (memakai mantel bulu) dibuat tahun 1908, sementara yang kedua (dengan anjing dan kuda) dibuat tahun 1910


Lukisan ini memperlihatkan Kaiser Wilhelm II dalam acara penganugerahan medali Eisernes Kreuz I klasse untuk salah seorang prajuritnya yang berprestasi dalam pertempuran. Di bawahnya kalimat dalam bahasa Jerman yang berbunyi: "Mit tiefer Dankbarkeit. Gedenkt heute und immerdar das Vaterland seiner Kämpfer" (Dengan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah mereka kerjakan. Untuk dikenang hari ini dan selamanya, para pejuang tanah air)


Kaiser Wilhelm II mengenakan seragam Hussar. Uniknya, seragam ini mirip banget dengan Hussar Penjaga Tsar Rusia. Perbedaannya hanya terletak pada warna celana dan absennya Орден Святого апостола Андрея Первозванного (Star of Order of St. Andrew the Apostle the First-Called) di bagian topi. Mungkinkah si pembuat lukisan ini mendasarkan karyanya pada foto hitam-putih atau menggubahnya hanya berdasarkan pada imajinasinya belaka?


Lukisan-lukisan Kaiser Wilhelm II lainnya. Dia adalah seorang pria yang tampan, fotogenik dan tahu bagaimana caranya untuk berpose, karenanya para fotografer atau pelukis tak terlalu menemui kesulitan saat berusaha menggambarkannya sebagai orang yang "gagah"! Perhatikan bahwa dalam hampir semua foto dan lukisannya dia selalu terlihat normal dan tak terlihat betapa lemah tangannya. Selain itu, dia hampir selalu mengenakan pakaian kebesaran militer, padahal dalam hal ini kemampuannya adalah nol besar!


Gambar, sketsa dan litografi Kaiser Wilhelm II


"Dropping the Pilot", sebuah karikatur karya Sir John Tenniel (1820-1914) yang pertamakali dipublikasikan di majalah Inggris "Punch" edisi Maret 1890. Karikatur ini memperlihatkan Kaiser Wilhelm II sedang menatap Kanselir Otto von Bismarck yang meninggalkannya (baca: mengundurkan diri). Penyebutan Bismarck sebagai "Pilot" sendiri merujuk pada kartun sebelumnya karya Joseph Keppler dari majalah "Puck" yang terbit di St. Louis, Missouri, yang berjudul "The Champion Pilot of the age". Dalam kartun tersebut digambarkan Bismarck sebagai nahkoda kapal yang membawanya melayari lautan luas sementara di belakangnya terlihat kapal Prancis yang sedang dilanda stress. Hal ini melambangkan pencapaian luar biasa Bismarck yang mampu menyatukan negara-negara Jerman melalui Perang Prancis-Prusia


Sebuah kartun politik Prancis yang dimuat dalam suplemen untuk "Le Petit Journal" edisi 16 Januari 1898. Caption aslinya berbunyi: "En Chine... Le gâteau des Rois et... des Empereurs” (Cina... Kue para Raja... dan Kaisar). Dalam karikatur ini diperlihatkan para penguasa negara adi-daya saat itu sedang berebut untuk "mengkonsumsi" Kue Raja yang melambangkan Cina. Ratu Victoria (Inggris) berada di sebelah kiri sementara Kaiser Wilhelm II (Jerman) tampak ngotot dengan pisaunya yang sudah membelah kue, yang melambangkan politik agresif yang dianut Jerman saat itu. Di sebelah kanan Wilhelm adalah Tsar Nicholas II (Rusia) dengan mata yang memandang lekat-lekat pada kue demi mencari bagian yang masih dicaplok. Di belakangnya adalah Marianne (Prancis) yang secara diplomatis diperlihatkan tidak ikut ambil bagian dalam perebutan kue dan berada dekat dengan Nicholas yang melambangkan persekutuan kuat Rusia-Prancis. Terakhir adalah Kaisar Meiji (Jepang) yang sedang memikirkan kira-kira bagian mana yang harus dimakan. Seorang pria dengan gambaran pejabat Ching (dinasti yang berkuasa di Cina saat itu) berdiri di belakang sambil berusaha untuk mencegah mereka, tapi dia tidak mempunyai daya apa-apa. Ini menunjukkan betapa Cina telah menjadi "Orang Sakit di Asia" yang tidak mampu mencegah kolonialisme jor-joran negara superpower saat itu dalam menjajah bagian demi bagian negaranya


Sebuah kartun karya Bernard Partridge yang dimuat dalam buku "Karikatur-album" yang disusun oleh C. E. Jensen dan diterbitkan tahun 1906. Kartun ini memperlihatkan muka jutek Kaiser Wilhelm II dalam menanggapi "Entente Cordiale" antara Inggris dengan Prancis tahun 1904. John Bull beranjak pergi bersama dengan Trollop (penari seksi) Prancis yang memakai gaun terbuka yang berwarna tricolore (biru, putih, merah)


Kartupos propaganda Prancis masa Perang Dunia Pertama (1915) yang memperlihatkan karikatur Kaiser Wilhelm II yang mencoba untuk menggigit bola dunia tapi kemudian mendapati bahwa dia terlalu keras untuk dimakan! Caption di bawahnya berbunyi: "L'ingordo, trop dur" (Pelahap, terlalu keras)


Sumber :
Buku "The Illustrated Red Baron: The Life and Times of Manfred von Richthofen" karya Peter Kilduff
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.alexanderpalace.org
www.commons.wikimedia.org
www.dhm.de
www.dsm1918.de
www.en.wikipedia.org
www.home.comcast.net
www.iconicphotos.wordpress.com
www.jssgallery.org
www.kaiserinfriedrich.de
www.kingsacademy.com
www.life.com
www.wehrmacht-awards.com