Monday, March 6, 2017

Foto Grenadier-Brigade 92 / Panzergrenadier-Brigade 92

 Berdasarkan keterangan dari berita propaganda Jerman, wanita anggota Partisan Yugoslavia yang bernama Rajna Radić ini tertangkap oleh pasukan Wehrmacht dan kemudian menjadi pengkhianat dengan menunjukkan lokasi persembunyian teman-temannya. Berdasarkan keterangan yang sama, dia bahkan menawarkan diri untuk ikut bersama dengan tentara Jerman menuju ke lokasi yang dimaksud, dengan berkata: "Disanalah mereka berada, di lembah itu. Saya sendiri yang akan mengantarkan kalian kesana!" Dia ditangkap oleh para anggota dari Grenadier-Regiment 92 (yang memakai topi tropis di latar belakang), sementara interogasi terhadap dirinya dilakukan oleh orang-orang dari 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" (terlihat di sebelah kiri) yang, karena kebanyakannya lahir di Yugoslavia, berbicara dengan bahasa yang sama. Foto ini diambil oleh Walter Henisch pada tahun 1944 di sebuah tempat yang tidak diketahui di Yugoslavia


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Paul von Hindenburg, Pahlawan Jerman dalam Perang Dunia Pertama

Paul Ludwig Hans Anton von Beneckendorff und von Hindenburg (2 Oktober 1847 – 2 Agustus 1934) adalah jenderal dan politisi Jerman terkemuka, veteran Perang Austria-Prusia (1866), Perang Prancis-Prusia (1870-1871), dan Perang Dunia I (1914-1918) yang kemudian menjadi Presiden Jerman kedua pada tahun 1925-1934. Meskipun sebenarnya telah pensiun dari kemiliteran pada tahun 1911, Hindenburg dipanggil kembali oleh Kaiser Wilhelm II untuk bertugas saat Perang Dunia Pertama pecah, dan tak lama kemudian membuktikan kemampuannya yang gemilang sebagai panglima militer dengan menghancurkan pasukan Rusia dalam Pertempuran Tannenberg serta Pertempuran Danau Masuria, meskipun notabene dia sudah berusia 66 tahun! Pada tahun 1916 dia diangkat sebagai Kepala Staff Jenderal Angkatan darat, dan sejak saat itu (bersama dengan deputinya Erich Ludendorff) menjadi diktator militer Jerman secara de facto sampai dengan berakhirnya perang. Hindenburg pensiun untuk kedua kalinya pada tahun 1919, tapi masuk lagi kancah politik pada tahun 1925. Namanya yang harum di seantero Jerman membuat dia tanpa kesulitan menjadi presiden negara tersebut pada tahun 1925 (sebuah jabatan yang dipegangnya sampai dengan meninggalnya pada tahun 1934). Pada tahun 1933, sang pahlawan gaek dipaksa untuk mengangkat Kanselir yang baru - yang sangat tidak disukainya - setelah mendapat tekanan akibat ketidakstabilan politik yang melanda Jerman. Kanselir baru itu bernama Adolf Hitler, dan hanya dalam tempo setahun dia telah mampu mengkonsolidasikan kekuatannya, sehingga ketika Hindenburg meninggal pada usia 86 tahun, Hitler langsung menggantikan tempatnya sebagai diktator baru Jerman sampai dengan tahun 1945. Foto diambil pada tahun 1914 oleh fotografer kenamaan Nicola Perscheid

------------------------------------------------------------------------

MASA MUDA DAN MASA KEKAISARAN

1860: Paul von Hindenburg sebagai seorang kadet militer Prusia di Wahlstatt (sekarang bernama Legnickie Pole dan menjadi bagian dari Polandia). Pada saat itu usianya baru menginjak 13 tahun. Hindenburg sendiri sudah menyukai segala hal yang berbau militer dari sejak kecil, ditambah lagi dengan dukungan orangtuanya, sehingga baginya perang bukanlah sebuah hal yang mengerikan, melainkan sesuatu yang "indah dan romantis". Minatnya diperdalam oleh sahabatnya di masa kecil, seorang tukang kebun tua yang pernah menjadi pemukul drum dalam pasukan Friedrich der Große, raja Prusia terkemuka abad ke-18 yang juga terkenal sebagai jenius militer. Sebagai seorang kadet, Hindenburg disegani karena komitmennya pada tugas-tugas yang diberikan, obsesi pada detail yang membuat seragamnya selalu tampak rapi dengan semua kancing kuningannya rutin dipoles sampai kinclong, serta ketangguhan fisik yang diatas standar. Meskipun begitu, dia dianggap mempunyai kecerdasan yang biasa-biasa saja dan tidak mempunyai "sense of humor". Intinya, Hindenburg di masa muda adalah orang yang serius sekaligus membosankan!


 Paul von Hindenburg sebagai seorang Major yang bertugas di Grosser Generalstab di tahun 1888. Di tahun itu Kekaisaran Jerman dipimpin oleh tiga orang Kaiser: Wilhelm I, Friedrich III, dan Wilhelm II. Ketika Wilhelm I meninggal pada bulan Maret 1888, Hindenburg menjadi salah satu Penjaga Kehormatan dalam upacara pemakamannya. Dia menyempatkan diri untuk mengambil satu buah potongan marmer abu-abu dari lantai Katedral Berlin tempat sang raja disemayamkan, dan sejak saat itu potongan tersebut selalu dibawanya kemana-mana sebagai pengingat dari "rajaku"!


 Paul von Hindenburg sebagai seorang Generalmajor dan Chef des Generalstabes (foto diambil tahun 1896-1897). Jenjang kenaikan pangkat yang diraihnya: Leutnant (7 April 1866), Oberleutnant (13 April 1872), Hauptmann (1878), Major (1881), Oberstleutnant (14 Februari 1891), Oberst (Maret 1894), Generalmajor (14 Agustus 1896), Generalleutnant (1897), dan General der Infanterie (22 Juni 1905). Hindenburg pensiun pada tanggal 18 Maret 1911, tapi kemudian dipanggil kembali untuk bertugas ketika Perang Dunia Pertama pecah, dan langsung diserahi tanggungjawab sebagai Panglima 8. Armee di Front Timur pada tanggal 22 Agustus 1914. Setelah itu pangkatnya naik lagi menjadi Generaloberst (26 Agustus 1914), dan akhirnya Generalfeldmarschall (27 November 1914)


 Foto yang diambil pada tanggal 2 Oktober 1897 ini memperlihatkan para perwira dari Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) berfoto bersama di depan Hotel Schaeidt di sela-sela acara Kaisermanöver (latihan perang) yang diadakan di Lebach/Saarland. Latihan tersebut rutin diselenggarakan setiap tahun dan biasanya digelar di musim gugur. General der Kavallerie Gottlieb Graf von Haeseler (Kommandierender General XVI. Armeekorps yang bermarkas di Metz) berada nomor dua dari kiri, sementara Generalmajor Paul von Hindenburg (Chef des Generalstabes VII. Armeekorps yang bermarkas di Koblenz) adalah orang yang berdiri nomor lima dari kiri (tangan di dalam baju dan memegang pedang). BTW, hari foto ini diambil bertepatan juga dengan ulangtahun ke-50 dari sang jenderal! Pada penyelenggaraan Kaisermanöver tahun 1908, Hindenburg melakukan sesuatu yang tak terbayangkan dan dianggap melanggar "peraturan tidak tertulis" yang harus diaati oleh semua personil militer Jerman: unit di bawah komandonya (IV. Armeekorps) mengalahkan unit militer pimpinan Kaiser Wilhelm II. Walaupun kemudian di akhir acara sang Kaisar memberikan ucapan selamat atas prestasi Hindenburg tersebut, tapi kejadian ini ternyata berbuntut panjang: sang jenderal kemudian diblok dari jabatan prestisius di staff jenderal AD, dan tak lama kemudian harus pensiun!


Kaisar Jerman Wilhelm II bersama dengan para jenderal "top notch"-nya dalam Perang Dunia Pertama (klaim Getty Images menyebutkan bahwa foto hasil sotosop zaman baheula ini diambil pada tahun 1910). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Karl Wilhelm Paul von Bülow (1846-1921), Generalfeldmarschall Anton Ludwig Friedrich August von Mackensen (1849-1945), Generalfeldmarschall Rupprecht Maria Luitpold Ferdinand von Wittelsbach Kronprinz von Bayern (1869-1955), Generaloberst Helmuth Johannes Ludwig von Moltke (1848-1916), Generalfeldmarschall Albrecht Maria Alexander Philipp Joseph Herzog von Württemberg (1865-1939), General der Infanterie Friedrich Wilhelm Viktor August Ernst von Hohenzollern Kronprinz von Preußen (1882-1951), Oberster Kriegsheer Kaiser Wilhelm Viktor Albert von Preußen (1859-1941), General der Infanterie Hermann Karl Bruno von François (1856-1933), Generaloberst Alexander Heinrich Rudolf von Kluck (1846-1934), General der Infanterie Erich Friedrich Wilhelm Ludendorff (1865-1937), General der Infanterie Albert Theodor Otto von Emmich (1848-1915), General der Infanterie Erich Georg Alexander Sebastien von Falkenhayn (1861-1922), Generaloberst Karl Wilhelm George August Gottfried von Einem gennant von Rothmaler (1853-1934), Generalfeldmarschall Gottlieb Ferdinand Albert Alexis Graf von Haeseler (1836-1919), Generaloberst Hans Hartwig von Beseler (1850-1921), Generalfeldmarschall Paul Ludwig Hans Anton von Beneckendorff und von Hindenburg (1847-1934), Kanzler Theobald Theodor Friedrich Alfred von Bethmann-Hollweg (1856-1921), Generaloberst Josias Oskar von Heeringen (1850-1926), dan Großadmiral Alfred Peter Friedrich von Tirpitz (1849-1930) 


 Foto ini dibuat pada tahun 1912 saat Paul von Hindenburg sudah pensiun dari dinas ketentaraan dengan pangkat terakhir General der Infanterie, tapi kemudian populer di masa Perang Dunia I setelah direproduksi sebagai kartu pos untuk penduduk Jerman. Tulisan berbahasa Prancis di atasnya berbunyi: "Le maréchal Hindenburg, nommé chef d'état-major en remplacement de Falkenhayn" (Marsekal Hindenburg, terpilih sebagai Kepala Staff menggantikan Falkenhayn). Hindenburg sendiri diangkat sebagai Chef des Generalstabes des Feldheeres (Kepala Staff Jenderal AD Lapangan) pada tanggal 29 Agustus 1916, dan jabatan tersebut terus dipegangnya sampai dengan akhir perang



Kartu pos Keluaran Wohlfahrts-Postkarte dengan nomor urut 23 ini menjadi salah satu seri "Deutsche Heerführer" (Pimpinan AD Jerman), dan di belakangnya tertulis "ausgegeben vom Verein für Wohlfahrtsmarken" (dikeluarkan oleh Asosiasi Kesejahteraan Marks). Aslinya, foto ini dijepret oleh fotografer Albert Meyer (1857-1924) dari Hanover - yang juga merupakan tempat tinggal Hindenburg - antara tahun 1911 (pensiunnya sang jenderal) dan 1913 (dijualnya studio foto Meyer ke Hugo Julius). Kartu pos ini sendiri diterbitkan oleh Gustav Liersch & Co., Berlin S.W. 48, sementara untuk tempat percetakannya mengambil tempat di "Tiefdruck der Rotophot A.G. Berlin"


------------------------------------------------------------------------

PERANG DUNIA PERTAMA
 
 Foto Paul von Hindenburg yang diambil pada tahun 1914. Posisi dan jabatan yang pernah dipegangnya: Sekondelieutenant di 3. Garde Regiment zu Fuss (7 April 1866 - 1873); mengikuti kursus perwira lanjutan di Kriegsakademie Berlin (1873 - 1876); bertugas di Grossen Generalstab (1877 - 1878); Stab II. Armeekorps (9 Juli 1878 - 1881); Stab 1. Division (5 Mei 1881 - 1884); Bertugas di Infanterie-Regiment Nr. 3 (1884 - 14 Juli 1885); Bertugas di II.Abteilung / Kriegsministerium (1890); Kommandeur Infanterie-Regiment Nr. 91 (1893 - 1896); Chef des Generalstabes VIII. Armeekorps (1896 - 1900); Kommandeur 28. Infanterie-Division (Juli 1900 - 27 Januari 1903); Kommandierender General IV. Armeekorps (27 Januari 1903 - 18 Maret 1911); pensiun (18 Maret 1911 - Agustus 1914); diapnggil kembali untuk bertugas dan menjadi Oberbefehlshaber 8. Armee (22 Agustus 1914 - 18 September 1914) Oberbefehlshaber 9. Armee (18 September 1914 - 1 November 1914); Oberbefehlshaber Ost (1 November 1914 - 29 Agustus 1916); Chef des Generalstabes des Feldheeres (29 Agustus 1916 - 25 Juni 1919); Chef des Generalstabes des Heeres (25 Juni 1919 - 3 Juli 1919); pensiun untuk kedua kalinya dari dinas militer (3 Juli 1919)


 Generaloberst Paul von Hindenburg (ketiga dari kiri, Oberbefehlshaber 8. Armee) dalam sebuah percakapan dengan perwira tinggi Jerman lainnya, sementara prajurit yang mengenakan helm pickelhaube di kiri-kanan mereka memberi hormat. Tak ada keterangan lain yang bisa dicomot, tapi tampaknya foto yang diambil pada tahun 1914 ini memperlihatkan kunjungan perwira tinggi tersebut ke markas Hindenburg yang berada di Front Timur



Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee) berpose bersama dengan para staff-nya di depan markas besar mereka di Posener Schlosse (Kastil Poznań), Polandia, awal musim gugur tahun 1914. Dari kiri ke kanan: Rittmeister de la Croix (Ordonnanzoffizier), Major von Baehr (Kommandant des Hauptquartiers), Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria), Leutnant von Bismarck, Hauptmann Caemmerer, Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes), Oberleutnant der Reserve Markau, Paul von Hindenburg, Hauptmann Frantz, Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung), Oberleutnant der Reserve Steinicke (Ordonnanzoffizier), Hauptmann von Waldow, dan Hauptmann Alfred von Vollard-Bockelberg. Foto diambil oleh Sendker (tidak ada keterangan nama pertamanya)



Foto hasil karya Sendker ini memperlihatkan para staff dari 8. Armee - yang merupakan kekuatan utama Jerman di Front Timur - berfoto bersama di anak tangga Posener Schlosse (Kastil Poznań), Polandia, yang menjadi markas besar mereka dalam pertempuran melawan pasukan Rusia di tahun 1914 (foto ini sendiri diambil pada awal musim gugur di tahun tersebut). Baris depan dari kiri ke kanan: Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes), Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber), dan Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung). Baris belakang: Oberleutnant der Reserve Markau, Hauptmann Frantz, Oberleutnant der Reserve Steinicke, dan Hauptmann von Waldow



Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee) dan para staff dari 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria (7 - 14 September 1914) antara pasukan Jerman dan Rusia, yang berlangsung di perbatasan Prussia Timur dan Polandia (lokasi tepatnya adalah di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa). Hindenburg sendiri berdiri kedua dari kiri, sementara yang meneropong dengan scherenfernrohr adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), dan sebelahnya yang ikut meneropong menggunakan fernglas adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee). Perwira dengan topi kepi yang berdiri ketiga dari kanan adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Bauernfreund ini diambil dari majalah "Illustrierten Zeitung"


 Para staff 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa, dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria yang berlangsung tanggal 7 s/d 14 September 1914 antara pasukan Jerman dan Rusia. Yang lagi ngintip banci mandi dengan menggunakan scherenfernrohr (teropong gunting) adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), sementara yang berdiri dengan posisi paling tinggi di belakangnya adalah Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee). Di sebelah kanan bawah Hindenburg adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee), dan yang nongkrong paling kanan dengan pedang tersampir adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Bauernfreund ini diambil dari buku "Grenadier Kronpinz Regimentsgeschichte"



Para staff 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa, dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria yang berlangsung tanggal 7 s/d 14 September 1914 antara pasukan Jerman dan Rusia. Yang lagi ngintip banci mandi dengan menggunakan scherenfernrohr (teropong gunting) adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), sementara yang berdiri dengan posisi paling tinggi di belakangnya adalah Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee). Ketiga dari kanan adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee), dan yang nongkrong paling kiri di belakang Hoffmann adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Hugo Vogel ini diambil dari buku "Sammelbild der Immalin-Werke"


 Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber Ost) memperhatikan peta pertempuran di markas besarnya di Kaunas/Kowno (Lithuania), tahun 1915. Sebagai seorang komandan militer serta peracik strategi perang, kemampuan Hindenburg bisa dikatakan biasa-biasa saja alias 'medioker'. Dalam laga akbar melawan Rusia di Front Timur, staff-nya yang lebih banyak berperan, terutama Erich Ludendorff (Deputi Hindenburg) dan Max Hoffmann (Kepala Operasi). Foto ini diambil dari buku "Bildstelle 5. Division; 1.Weltkrieg"


 Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg dalam foto yang diambil pada tahun 1916. Seperti hampir semua foto dirinya yang diambil di masa Perang Dunia Pertama, sang marsekal tidak lupa membawa serta preußische Marschallstab (Tongkat Marsekal Prusia) di lengan kirinya, sementara lengan kanannya memegang pickelhaube, helm runcing khas Prusia yang kemudian ditiru oleh sebagian besar militer negara bagian Jerman lainnya. BTW, untuk kumpulan quote yang pernah diucapkan oleh Hindenburg dapat dilihat DISINI


 Tiga orang penentu kebijakan militer Jerman dalam Perang Dunia Pertama, dari pertengahan sampai akhir perang, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg (Chef des Generalstabes des Feldheeres), Kaiser Wilhelm II, dan General der Infanterie Erich Ludendorff (1. Generalquartiermeister und Stellvertreter Hindenburg). Foto diambil pada tanggal 8 Januari 1917 di Grote Hoofdkwartier di Schloss Pleß (kini berganti nama menjadi Pszczyna dan menjadi bagian dari Polandia)


Paul von Hindenburg dalam sebuah foto studio pada tahun 1917 yang diambil untuk merayakan hari jadinya yang ke-70 (2 Oktober 1917). Disini dia mengenakan seragam Generalfeldmarschall, lengkap dengan segambreng medali serta pedang kehormatan yang ditangkup oleh kedua tangannya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa foto ini diambil pada tahun 1914 - tak lama setelah kesuksesannya dalam Pertempuran Tannenberg - tapi informasi ini salah alias nggak bener, beibeh! Daftar medali dan penghargaan yang diraih oleh Hindenburg selama karirnya: Roter Adler Orden IV.Klasse mit Schwertern (19 Juni 1866, untuk prestasinya dalam Pertempuran Königgrätz); Eisernes Kreuz II. Klasse (12 September 1870, untuk prestasinya dalam Pertempuran Gravelotte); Österreichisches Eisernen Krone III. Klasse (1883); Russisches St. Stanislaus Orden II. Klasse (1883); Königlich Preussischer Kronen Orden Kreuz III. Klasse (1888); Grossherzoglich Badisches Komturkreuz II. Klasse des Ordens vom Zähringer Löwen (1894); Roter Adler Orden III.Klasse mit der Schleife und Schwertern am Ringe (19 Januari 1896); Ehrenkreuz II.Klasse des schaumburg-Lippe Haus-Ordens (Maret 1896); Königlich Kronen Orden II.Klasse (17 Januari 1897); Roter Adler Orden II.Klasse mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (10 September 1897); Groß-Offizierkreuz des italien. St. Mauritius- und Lazarus-Ordens (Oktober 1897); Kommandeurkreuz I.Klasse des badisches Ordens vom Zähringer Löwen (November 1899); Ehren-Großkreuz des Oldenburgisches Haus- und Verdienst-Ordens des Herzogs Peter Friedrich Ludwig (Oktober 1900); Großkreuz des Großherzoglich Sächsisches Haus-Ordens der Wachsamkeit oder vom weißen Falken (Juni 1901); Stern zum Roten Adler Orden II.Klasse mit Schwertern (19 Januari 1902); Großkreuz des Württembergisches Friedrichs-Ordens (Juni 1902); Großkreuz des badisches Ordens vom Zähringer Löwen (April 1903); Roter Adler Orden I.Klasse mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (11 September 1903); Großkreuz des Sächsisches Sachsen-Ernestinischen Haus-Ordens (November 1903); Großkreuz des Anhaltinisches Haus-Ordens Albrechts des Bären (September 1904); Großkreuz des spanischen Militär-Verdienst-Ordens (April 1906); Großkreuz des Königlich Sächsisches Albrechts-Ordens (Agustus 1906); Großkreuz des Roten Adler Ordens mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (20 Januari 1907); Bayer. Militär-Verdienst-Orden I. Klasse (Februari 1907); Krone zum Großkreuzzeichen des anhalt. Haus-Ordens Albrechts des Bären (Juni 1907); Schwarzer Adler Orden (18 Maret 1911); Eisernes Kreuz I. Klasse (29 Agustus 1914); Orden Pour le mérite (8 September 1914, untuk prestasinya dalam Pertempuran Tannenberg); Großkreuz des ungarisches St. Stephan-Ordens (13 September 1914); Österreichisches Militär-Verdienstkreuz mit der Kriegsdekoration (13 September 1914); Großkreuz des bayer. Militär-Max-Joseph-Ordens (30 November 1914); Ritter und Kommandeur I. Klasse des Königlich Sächsisches Militär-St. Heinrichs-Ordens (21 Desember 1914); Eichenlaub zum Orden Pour le mérite (23 Februari 1915, untuk prestasinya dalam pertempuran musim dingin di Danau Masuria); Großkreuz des badisches militärischen Karl-Friedrich -Verdienst-Ordens (5 September 1915); Großkreuz des Eisernen Kreuzes (9 Desember 1916); Großkreuz des Königlich Sächsisches Militär-St. Heinrichs-Ordens (27 Desember 1916); Türkischer Osmanije Orden in Brillanten (29 Desember 1916); Verdienstkreuz für Kriegshilfsdienst (18 Januari 1917); Österreichisches Militär-Verdienstkreuz I. Klasse mit der Kriegsdekoration (27 Januari 1917); Ritter des Johanniter-Ordens (21 Juli 1917); Kreuz und Sterne der Großkomture des Haus-Ordens von Hohenzollern mit Schwertern (2 Agustus 1917); Brillanten zum Österreichisches Militär-Verdienstkreuz I. Klasse mit Kriegsdekoration (7 November 1917); Großkreuz des Eisernes Kreuzes mit goldenen Strahlen des Blüchersterns (24 Maret 1918); Großkreuz des Österreichisches Militär-Maria-Theresien-Ordens (26 Maret 1918); serta Ehren-Kommendator des Johanniter-Ordens

------------------------------------------------------------------------

REPUBLIK WEIMAR
Upacara penghormatan militer untuk memperingati ulangtahun ke-85 Reichspräsident Paul von Hindenburg yang diselenggarakan di depan istana kepresidenan di Wilhelmstrasse, Berlin, tanggal 2 Oktober 1932. Hindenburg berjalan paling kanan menginspeksi pasukan penjaga kehormatan, sementara di belakangnya menyusul para petinggi Reichswehr: General der Infanterie Kurt von Schleicher (Reichswehrminister), Oberst Oskar von Hindenburg (1. militärischen Adjutant des Reichspräsidenten), General der Infanterie Kurt von Hammerstein-Equord (Chef der Heeresleitung), dan Admiral Dr.phil.h.c. Erich Raeder (Chef der Marineleitung)

------------------------------------------------------------------------

ERA HITLER

Dari kiri ke kanan: Reichspräsident Paul von Hindenburg (Staatsoberhaupt), Charakter als General der Infanterie Werner von Blomberg (Reichswehrminister), dan Reichskanzler Adolf Hitler. Mereka berkumpul bersama di Potsdam tanggal 21 Maret 1933 dalam acara "Tag von Potsdam", sebuah acara pengambilan sumpah simbolis antara Reichspräsident Von Hindenburg dengan para menteri kabinet Hitler yang baru dilantik tanggal 5 Maret 1933 sebelumnya. Acara ini mengikuti tradisi pertemuan para anggota Reichstag yang baru diangkat dengan Kaiser Wilhelm zaman Kekaisaran Jerman. Di latar belakang kita bisa melihat bangunan Garnisonkirche (Gereja Garnisun). Acara pengambilan sumpahnya tidak dilakukan di Garnisonkirche ataupun Reichstag melainkan di bangunan Krolloper di Berlin karena bangunan Reichstag (yang biasa digunakan untuk acara serupa) telah terbakar tanggal 27 Februari sebelumnya. Foto-foto Hindenburg dan Adolf Hitler lainnya bisa dilihat DISINI


Para veteran perwira tinggi Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran) dari Perang Dunia Pertama berkumpul bersama di Tannenberg-Denkmal (Monumen Tannenberg) di Hohenstein untuk memperingati 19 tahun kemenangan Jerman melawan Rusia dalam Pertempuran Tannenberg, bulan Agustus 1933. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall August von Mackensen, Generalmajor Oskar von Hindenburg (tertutup oleh Ludendorff), General der Infanterie Erich Ludendorff, tidak diketahui, Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg, dan Generaloberst Hans von Seeckt. Diantara Ludendorff dan Hindenburg berdiri perwira militer yang tidak diketahui namanya. Dari pickelhaube berujung bulat yang dikenakannya (dikenal dengan nama kugelhelm), maka kemungkinan besar dia adalah seorang perwira artileri. Muka yang paling mirip dengan do'i adalah General der Artillerie Friedrich von Scholtz, cuma yang jadi masalah: Scholtz sudah "is death" dari tahun 1927, sementara foto ini diambil pada tahun 1933! Jadi?? Kemungkinan besar itu adalah arwahnya yang gentayangan! Iiiiiy bla'em bla'em....


Pemakaman Presiden sekaligus pahlawan Jerman Paul von Hindenburg pada bulan Agustus 1934. Dua orang penjaganya merupakan veteran Perang Dunia Pertama, yang terlihat dari medali yang tertempel di seragamnya. Kematian Von Hindenburg pada tanggal 2 Agustus 1934 membuka jalan bagi Reichskanzler Adolf Hitler untuk menjadi diktator Jerman yang memiliki kekuasaan absolut

------------------------------------------------------------------------

LUKISAN DAN PATUNG

 Lukisan yang dibuat berdasarkan foto tahun 1914 karya Nicola Perscheid (lihat foto pertama paling atas!). Lukisan ini kemudian disebarluaskan ke masyarakat Jerman melalui kartupos produksi Verlag Gerhard Stalling di Oldenburg. Seperti semua memorabilia bertema Hindenburg lainnya, kartu pos seri ini pun laris manis dibeli oleh rakyat Jerman yang menganggapnya sebagai salah satu pahlawan terbesar mereka dalam Perang Dunia Pertama



Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.bundesarchiv.de

Lukisan-Lukisan Hasil Karya Arturo Ricci

Arturo Ricci (19 April 1854 - 1919) adalah seorang pelukis yang berasal dari Italia. Dia belajar seni di Firenze di bawah bimbingan Tito Conti (1842-1924), seorang pelukis yang karya-karyanya terkenal dalam hal "...keanggunan figur-figurnya, ketepatan penggambaran serta kekuatan warnanya" (Ricci nantinya akan melampaui gurunya di kesemua hal tersebut!). Diantara lukisan-lukisan Ricci yang paling terkenal adalah: Veduta di Viareggio; Il Ciabattino; Il pranzo di nozze; Il fanatico for the musica; La visita alla figlia; L'ultima lettera amorosa; Risposta all'ultima lettera amorosa; Ritorno dalla guerra; Il pranzo di nozze; dan Il Ritorno degli sposi dalla Chiesa.


Lukisan cat minyak karya Arturo Ricci (1854–1919) berjudul 'Sala Artistica' (Aula Seni) ini dibuat pada tahun 1884 dan berukuran 106 x 79 cm. 'Sala Artistica', yang dibuat dalam periode "sutera dan satin", memberi ruang pada Ricci untuk memperlihatkan keahliannya yang mengagumkan dalam hal penggambaran zaman Rococo yang telah berlalu 100 tahun sebelumnya, terutama pakaian dan ornamen di masa itu. Lukisan ini menggambarkan seorang seniman lukis yang menggunakan waktu luangnya untuk bermain catur melawan seorang gadis bangsawan yang cantik, dengan ditemani oleh ayah si gadis yang memperhatikan dengan seksama dari samping. Tampaknya si seniman sebelumnya telah mendapatkan order untuk melukis si gadis bangsawan tersebut, yang terlihat dari lukisan yang masih belum selesai di sebelah kiri serta sketsa wajah yang berserakan di bawah kaki si gadis. Selain titik sentral di tengah lukisan, kita juga bisa melihat beberapa detail lain yang tak kalah menarik seperti lipatan karpet di bawah kaki si seniman, bulu-bulu berwarna eksotis yang tersimpan di vas bunga di sebelah kanan (lengkap dengan cermin mewahnya), buku-buku, kipas, tempat menyimpan kuas, serta ruang ganti pakaian di latar belakang


 Lukisan cat minyak karya Arturo Ricci (1854–1919) yang berjudul 'Afternoon Tea' (Teh Petang) ini dibuat pada tahun 1900 dan berukuran 77 x 104 cm. Disini diperlihatkan banyak ornamen interior khas abad ke-18 yang merupakan ciri khas dari karya-karya Ricci, dan utamanya adalah sutera, tirai, lukisan, patung, serta porselen. Dua pasang manusia yang ditampilkan dalam lukisan ini seakan melambangkan kemewahan dari kehidupan bangsawan di masa itu, seperti misalnya wanita yang sedang duduk sambil memegang kipas, sementara di sebelahnya seorang perwira muda berusaha untuk merayunya. Di belakang mereka seorang gadis pelayan sedang menawarkan biskuit kepada lelaki 'gentleman' lain yang mengenakan kain satin mahal, yang umumnya hanya dikenakan oleh kaum bangsawan dan keluarga kerajaan. Sebagai pelengkap, teh telah disediakan di atas meja guéridon. Semua yang ada disini mewakili Eropa abad ke-18, hanya saja jenis pedang yang dikenakan oleh si perwira sendiri berasal dari awal abad ke-19 - dan merupakan satu-satunya 'cacat' dari lukisan ini


Lukisan cat minyak karya Arturo Ricci (1854–1919) yang berjudul 'The Suitor' (Pelamar) ini berukuran 83.8 x 63.5 cm, dan tidak ada keterangan kapan dibuatnya. Disini digambarkan saat seorang pemuda bangsawan melamar gadis pujaan hatinya di depan ayah si gadis. Sang gadis yang terlihat berseri-seri - kontras dengen ekspresi ayahnya yang serius - merupakan personifikasi dari "kriteria" kecantikan di masa itu, yang lebih menyukai wanita berisi (alias montok) daripada langsing! Mereka bertiga mengenakan wig khas, yang dinamakan sebagai periwig, yang merupakan hiasan populer di Eropa di abad ke-17 dan 18. Sang pelukis sendiri - yang berasal dari Firenze, Italia - mempunyai spesialisasi dalam penggambaran elegan kaum borjuis Eropa di abad ke-18 - suatu tema yang banyak diminati oleh para nouveau-riche (orang kaya baru) di abad ke-19. Abad ke-18 sendiri dianggap sebagai masa keemasan dari kehidupan elegan para kaum bangsawan, baik cara hidupnya maupun pakaian yang mereka kenakan. Ricci mendapatkan popularitas di masa hidupnya sebagai seorang pelukis figur-figur manusia, terutama wanita, yang dibalut oleh kostum abad ke-18. Latar belakang lukisannya (biasanya berada di dalam ruangan) selalu kaya akan ornamen serta dekorasi yang menggambarkan masa itu. Sebagai contoh adalah lukisan ini, dimana detail yang njelimet seakan tersaji begitu mudahnya di tangan Arturo Ricci, baik ornamen pakaian, karpet maupun dinding. Bahkan lukisan di latar belakang pun dibuat dengan ketelitian yang sama sehingga seolah-olah menjadi "lukisan dalam lukisan"!


Sumber :