Monday, December 28, 2009

Dead Snow, Film Zombie SS Nazi Yang Bangkit Dari Salju Norwegia!

Poster film Dead Snow versi Norwegia


Ini poster film yang sama tapi gambarnya beda


Herzog, pemimpin barisan zombie mantan anggota Einsatzgruppe (Grup Pembunuh) Jerman dalam Perang Dunia II yang mati penasaran


Potongan cover DVD film Dead Snow


Yang kayak gini nih tipe anak buah Herzog paling ganteng!


Kalo malem-malem ketemu yang ginian, kebayang kan!


Oleh : Alif Rafik Khan


Film Dead Snow (judul aslinya Død Snø) adalah film horor dari Norwegia yang dibintangi oleh Charlotte Frogner, Stig Frode Henriksen, Bjørn Sundquist, Ane Dahl Torp dan Jenny Skavlan, sementara sutradaranya adalah Tommy Wirkola. Film ini mulai diluncurkan tanggal 9 Januari 2009 di Norwegia, sementara pemutaran perdananya di Amerika dihelat di Sundance Film Festival. Setelah acara ini, peredaran untuk wilayah Amerika dipegang oleh IFC Films. Pendistribusiannya sendiri terbatas saja, dan mulai diedarkan tanggal 19 Juni 2009. Film ini dinominasikan dalam Scream Awards 2009 untuk kategori Adegan-Berkelahi-Sampai-Mampus, Mutilasi-Paling-Dikenang, Film Asing Terbaik dan Film Horor Terbaik!


Ceritanya sendiri tentang seorang wanita (Ane Dahl Torp) yang sepanjang film dikejar-kejar oleh para zombie yang berpakaian hitam ala Allgemeine-SS Jerman di tengah hamparan salju Norwegia yang seakan tak berujung. Wanita ini akhirnya tersudutkan dan nasibnya sudah bisa diduga, ko’it alias tewas!


Adegan kemudian berpindah ke rombongan tujuh mahasiswa medis yang sedang berlibur Paskah. Mereka tiba di sebuah kabin kecil di dekat Øksfjord, sekitar 45 menit perjalanan dari tempat mereka menaruh mobil. Kabin itu adalah kepunyaan dari Sarah, salah seorang dari mahasiswa-mahasiswa tersebut yang merupakan pacar dari Vegard (Lasse Valdal), mahasiswa yang paling mengetahui seluk-beluk hutan tempat mereka berlibur. Sarah telah berski demi menemui mereka, tapi tidak sampai-sampai juga.


Di kabin itu mereka melakukan seperti layaknya remaja-remaja bule, pesta sambil mabok-mabokan. Terus datanglah seorang pengelana misterius (Bjørn Sundquist), yang lalu bercerita tentang legenda dari zaman Perang Dunia II tentang sebuah unit Einsatzgruppen yang dipimpin oleh Standartenführer Herzog yang sangat ditakuti. Mereka menguasai wilayah ini selama tiga tahun, dan selama masa tersebut telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap masyarakat sekitar. Belum cukup, ketika kekalahan Jerman mulai terasa, mereka kabur dari wilayah ini setelah sebelumnya menjarah barang-barang berharga yang masih tersisa. Penduduk desa yang menaruh dendam kesumat tentu saja tidak membiarkan mereka pergi begitu saja, dan berhasil menyergap pasukan Herzog ini dalam sebuah persimpangan, dan membunuh banyak di antaranya. Orang-orang Nazi yang masih tersisa, termasuk Herzog, lalu kabur ke daerah pegunungan, dan sampai sekarang belum pernah ditemukan. Banyak yang bilang kalau mereka semua telah membeku kedinginan. Pengelana tersebut melanjutkan ceritanya dengan berkata bahwa sampai saat ini wilayah tersebut mempunyai reputasi yang menyeramkan, karena beberapa pendaki gunung dan penjelajah telah dibunuh oleh para zombie gentayangan dari pasukan Nazi yang mati mengenaskan tersebut ketika sedang berkemah di salju.


Keesokan paginya, Sara masih belum nongol juga, sehingga Vegard berinisiatif untuk menggunakan snowmobile untuk mencarinya. Dalam perjalanan, dia menemukan jenazah seorang pengelana yang membujur kaku di tendanya, tapi kemudian terperosok dalam salju dan masuk ke dalam sebuah gua.


Mahasiswa lainnya menemukan sebuah kotak kayu tua yang tersembunyi di bawah lantai dan berisi medali-medali Jerman yang berharga. Mereka sempat berniat untuk mengambil dan menjualnya, tapi kemudian memutuskan untuk tetap menyimpannya di tempat semula, kecuali beberapa orang yang secara sembunyi-sembunyi mencurinya. Setelah hari sudah gelap, salah seorang mahasiwa, Chris (Jenny Skavlan) pergi ke WC, tapi kemudian dibunuh ketika sedang berada di toilet. Yang lain kemudian pergi mencarinya, tapi hanya menemukan ransel Chris yang terkubur di bawah salju.


Tak lama kemudian, kepala Chris yang telah copot muncul di jendela... eng ing eeeng, para zombie mulai beraksi! Erlend (Jeppe Laursen) terbunuh sebelum para mahasiswa yang lain akhirnya berhasil menutup jendela dan pintu kabin. Malam itu mereka berdiam dalam kabin sementara di luar para zombie telah siap untuk menyerbu!


Terus, bagaimana dengan nasib Vegard yang terjebak dalam gua? Dia berhasil menemukan jalan memutar dalam gua tersebut, dan menemukan helm, senjata dan bendera Nazi... plus kepala Sarah yang telah terpotong! Ternyata dia adalah wanita yang dikejar-kejar zombie dalam pembuka film ini. Vegard lalu mendapat giliran diserang oleh zombie, tai berhasil melarikan diri dari gua amit-amit tersebut. Dia sempat tergigit oleh salah seorang dari zombie, tapi masih selamat. Dia lari lagi ke snowmobile, sambil membawa senapan mesin MG 34 hasil rampasan.


Sementara itu, empat mahasiswa yang masih tersisa dalam kabin memutuskan untuk memecah diri menjadi dua. Dua pria, Martin (Vegar Hoel) dan Roy (Stig Frode Henriksen) akan berusaha menarik perhatian para zombie, sementara dua wanita, Hanna (Charlotte Frogner) dan Liv (Evy Kasseth Røsten) pergi ke mobil sambil mencari pertolongan. Rencana tersebut tidak berjalan sesuai rencana, karena Liv kemudian disergap sebelum sampai di tujuan. Inilah yang menurut saya adegan paling dahsyat dari film ini, karena ketika para Zombie mulai mengeluarkan isi perutnya, Liv masih sempat mengeluarkan Stielhandgranate dan menghancurkan para penyerangnya! Martin dan Roy berlindung dalam kabin. Sialnya, secara tidak sengaja mereka membuat kabin tersebut terbakar gara-gara molotov cocktail. Untungnya, kebakaran itu membuat mereka mendapati bahwa lumbung yang berada di sebelah kabin ternyata berisi dengan “peralatan perang” : gergaji mesin, palu dan kapak. Sekarang, para zombie kacingcalang itu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal!


Seperti bisa diduga, gerombolan zombie Nazi menyerang, dan kali ini mereka mendapat perlawanan dahsyat dari manusia-manusia yang sudah tak ada pilihan lain selain bertarung! Vegard yang datang kemudian ikut membantu dalam pertempuran tersebut. Sayangnya, Vegard terbunuh dan terpotong-potong oleh para Zombie dan Martin secara tidak sengaja membunuh pacarnya sendiri, Hanna, yang balik kembali karena tidak berhasil menemukan mobil (rekannya Liv kan sudah diobok-obok oleh zombie). Herzog (Ørjan Gamst) datang ke tempat pertempuran bersama sejumlah zombie SS lain, tapi Martin dan Roy berhasil mengatasi mereka semuanya. Ketika lengan Martin tergigit zombie, dengan berani dia memotongnya dengan gergaji mesin demi mencegah dirinya tidak berubah menjadi ksatria baja hitam eh zombie! Melihat pasukannya mulai kalah, Herzog lalu memanggil zombie-zombie lain yang masih ada di sekitar hutan itu, sehingga kedua mahasiswa tersisa yang mulai kepayahan tersebut terpaksa melarikan diri. Roy terjatuh dalam perjalanan dan otomatis terhapus dari muka bumi.


Pada akhirnya Martin menyadari kenapa para zombie tersebut mengejar mereka, karena ternyata Herzog dan pasukan zombie bermuka zombie (wtf?) itu memburu medali-medali yang dirampas oleh Martin dan teman-temannya! Nah, lalu apa yang akan dilakukan Martin demi mencegah nyawanya tidak ikut melayang seperti teman-temannya?


Film ini mendapat penilaian yang biasa-biasa saja dari para kritikus film Norwegia, dan mendapat rating 3/6 dari Verdens Gang dan Dagbladet. Manohla Dargis dari The New York Times mengeluarkan komentarnya, “Direktur Tommy Wirkola telah menulis screenplay bersama-sama dengan Stig Frode Henriksen dengan cerita yang tidak nyambung, dimana tidak hanya dia mengeksploitasi setiap goncangan standar film horor, tapi juga membuatnya menjadi bagaikan bubur kertas yang tidak menarik.” Tidak hanya itu, penulis resensi wanita ini juga menggarisbawahi efek spesial film ini yang telah bekerja dengan “luar biasa menjijikkan”. Tapi tidak semua berpandangan sebrutal death itu, karena Stephen Witty dari The Star-Ledger menganggap bahwa visual film ini tidaklah jelek-jelek amat, malah memuji Wirkola dalam hal “tangan dingin ketika membesut adegan-adegan aksinya”. Hanya saja, Witty secara jujur menyatakan bahwa plot film ini terlalu biasa dan menganggapnya sebagai kelemahan utama. Dia ‘menuduh’ para karakternya sebagai lemah motivasi, dan “saling tidak menonjolkan dirinya masing-masing”. Belum lagi ending filmnya yang nggak ‘kena’. Dalam “Rotten Tomatoes”, film ini mendapat penilaian positif sebanyak 67%, dengan kesimpulan : “meskipun tidak menampilkan perbedaan dari film-film horor yang telah ada sebelumnya, tapi setidaknya Dead Snow telah mengumpulkan ketakutan, darah, dan keberanian menjadi satu.”


Jadi bagaimana, masih minat nonton filmnya? Lumayan rame kok, apalagi bagi para penggila film horor!


Sumber :
www.collider.com
www.mymavra.com
www.communities.canada.com
www.ultimate-war3z.com
www.en.wikipedia.org


8 comments: