Thursday, March 12, 2009

Sukarelawan Asing Dalam Tubuh Waffen-SS!

Britische Freikorps, sukarelawan Waffen-SS asal Inggris, musuh besar Nazi Jerman. Disini terlihat pimpinannya Michin Berry


Pasukan Kosak (Cossack) sedang mengibarkan bendera nasional mereka berdampingan dengan Swastika Nazi


Tak diragukan lagi, sukarelawan asing paling terkenal dan paling berhasil adalah Lēon Degrelle, ketua partai Rexis Belgia yang mendapat anugerah Eichenlaub karena keperwiraannya di medan pertempuran. Hitler pernah berkata kepadanya, "Andai aku punya anak, aku ingin ia seperti engkau!" Disini ia difoto bersama dengan Gruppenführer Richard Jungclaus


Anggota Flemish Vlaamse wachtbrigade dengan jaket kamuflase, 1944


Pasukan Handschar di pegunungan. Foto yang indah!


Mufti Yerusalem Amin Al-Hussaini sedang menginspeksi tentara gunung Handschar. Sang Mufti adalah sahabat dekat Adolf Hitler dan Heinrich Himmler dan banyak menghabiskan waktunya di Berlin


Anggota Legion Freies Indien dalam latihan militer


Prajurit Tartar Nazi yang berasal dari Kaukasus


Fakta sejarah selalu menyimpan hal-hal mengejutkan, dan butuh penggalian mendalam. Lihat fakta berikut ini. Sepasukan tentara berkebangsaan India pernah menjadi bagian dalam pasukan khusus Nazi, Waffen-SS. Nama pasukan itu, Legion Freies Indien.

Kemudian, ada dua orang Sumatera yang tercatat sebagai sukarelawan asing di pasukan khusus Nazi. Tidak melulu Amerika Serikat dengan Sekutu yang menjadi musuh utama Nazi, karena ada juga tentara asal negeri Paman Sam itu yang menjadi sukarelawan di pasukan khusus itu.

Sederetan fakta ini akan bertambah lagi, jika kita menyimak dengan saksama buku Legiun Asing Waffen-SS, Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Elite Hitler. Buku ini memang menyajikan sebuah tema yang unik. Tema tentang Hitler dengan ambisinya mendirikan Jerman Raya di Benua Eropa tentu sudah menjadi sebuah kisah milik dunia. Namun, kebesaran yang sempat dibangun Hitler dengan mesin politik Nazi hancur berkeping-keping diserang dari berbagai arah, baik kerapuhan dari dalam maupun gempuran hebat dari musuh-musuhnya. Kepingan kehancuran inilah yang meninggalkan jejak-jejak kejayaan dengan menyajikan berbagai kisah tiada habisnya.

Salah satu data yang belum terungkap bagi publik di Indonesia setidaknya adalah kemampuan Hitler, lewat kaki tangannya pemimpin SS, Himmler, merekrut begitu banyak orang sebagai pasukan khusus sukarelawan. Buku ini hendak mengungkapkan bagaimana pasukan-pasukan dari berbagai bangsa itu menjadi begitu antusias bergabung dengan pasukan khusus Jerman atau Nazi.

Begitu banyak fakta dan data yang hendak diberikan buku ini, namun rasanya kurang diikat oleh jalinan peristiwa yang lebih hidup. Keterlibatan para sukarelawan diungkapkan dengan sangat taktis berbalut unsur politis, namun kurang mengungkapkan detail emosional. Rasanya banyak kisah menarik yang seharusnya bisa diungkapkan lebih dalam.

Bangsa Jerman semasa Hitler berkuasa menganggap diri merekalah sebagai manusia paling sempurna, bangsa lain “cuma numpang” di jagad raya ini. Ego nasionalisme macam inilah yang terus membekap sanubari tentara Jerman, termasuk pasukan khusus Waffen-SS. Pasukan ini juga telah bersumpah setia langsung kepada Hitler: “Saya bersumpah kepadamu Adolf Hitler, sebagai Fuhrer dan Kanselir Reich Jerman”.

Hitler menjadi raja diraja dalam sebuah lingkup kemiliteran. Dan Himmler, menjadi panglima kepercayaan dengan memegang kendali langsung di bawah pengaruh penuh dari Hitler.

Dengan kebanggaan ras macam itu, persoalan dengan sukarelawan yang notabene datang dari bangsa-bangsa lain tinggal menunggu “gong”-nya. Para sukarelawan dalam pasukan khusus menghadapi hal-hal yang tidak terbayangkan saat berniat bergabung, yaitu diskriminasi dari para pejabat militer asal Jerman yang menjadi instruktur mereka dalam pelatihan, atau pun sebagai atasan mereka dalam korps. Pelecehan sebagai bangsa yang lebih rendah dari bangsa Jerman mendera mereka.

Beberapa legiun “ngambek”. Sampai-sampai pimpinan tertinggi pasukan khusus, Himmler, harus membuat aturan keras agar para komandan pasukan asal Jerman lebih menghargai keberadaan sukarelawan. Wajar saja, bagaimana pun para sukarelawan menjadi faktor penting dalam menghitung kekuatan saat berperang. Jumlah orang asing dalam pasukan khusus Waffen-SS pada akhir 1943 jauh lebih besar dari pasukan khusus yang asli Jerman.

Kisah-kisah perbenturan budaya dan ego kebangsaan inilah yang kurang terekspose di buku ini. Buku ini memberi data yang berulang-ulang tentang perbenturan itu, namun menjadi hanya data-data tanpa emosi.

Namun, data-data dan fakta yang tertera di buku ini sangat bisa dijadikan acuan dalam menambah pengetahuan. Setidaknya, kita tidak perlu membongkar-bongkar arsip-arsip nun jauh di Eropa sana, atau membongkar internet untuk melihat data-data ini. Buku yang cukup tipis untuk menghimpun data-data ini bisa dengan mudah memberi informasi yang diinginkan.
Menarik melihat bagaimana setiap bangsa atau suku bangsa menjadi begitu antusias untuk menjadi bagian dari pasukan Nazi. Kemerdekaan. Kata ini selalu menjadi kata manjur untuk menarik minat orang-orang asing itu untuk bergabung.

Latvia bisa jadi contoh. Negeri itu lelah dengan penindasan Soviet saat dianeksasi, dan penyerbuan bangsa Jerman ke Uni Soviet menjadi harapan akan pembebasan. Warga Latvia pun menjadi begitu semangat menjadi anggota pasukan khusus Waffen-SS. Begitu juga yang terjadi di Estonia dan Bosnia.

Sejarah belum banyak mengungkapkan bahwa umat muslim pun sempat bahu-membahu membela panji-panji Nazi, seperti suku bangsa Tatar Crimea dan Turkestan di Asia Tengah, dan Muslim Bosnia di Yugoslavia.

Nazi mampu meyakinkan bangsa-bangsa yang merindukan kebebasan untuk bergabung. Orang-orang asing itu dijanjikan kejayaan, kemerdekaan, namun ujung-ujungnya disuguhi keruntuhan. Kebanyak dari sukarelawan itu mati di tangan Tentara Merah Soviet, atau dianggap pengkhianat di negaranya karena membelot dengan mengusung panji Nazi.

Ini mengingatkan pada pasukan KNIL bentukan Belanda, dengan janji pembentukan negara-negara satelit oleh Kerajaan Belanda. Dan Republik Maluku Selatan termasuk bagian dari janji-janji itu.

Begitu juga saat “saudara tua” Jepang datang dan bercokol selama 3,5 tahun di Indonesia. Jepang sempat dianggap bangsa pembebas dari jajahan Belanda selama 3,5 abad. Ternyata, penindasan dan kesadisan para tentara Jepang ini “nggak ketulungan”. Penindasan lewat syahwat pun berlangsung di masa Jepang, dengan jugun ianfu menjadi lembaran hitam kelam dalam sejarah perempuan Indonesia.


No comments:

Post a Comment