Wednesday, May 19, 2010

Mengapa Skor Kemenangan Para Jagoan Udara Nazi Jerman Begitu MENGERIKAN?

Erich Rudorffer, pilot Jerman dengan 222 kemenangan


Oleh : Alif Rafik Khan

Beberapa dari mereka telah menembak jatuh lebih dari 200 buah pesawat terbang Sekutu. Satu di antaranya, Erich Hartmann, tak tanggung-tanggung menghancurkan 352 pesawat Rusia! Mereka terbang, dan menggulung lawan-lawannya dengan skor kemenangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya di atas langit Prancis, Rusia, Britania Raya, Afrika Utara, Polandia, dan pada akhirnya, di atas Jerman itu sendiri. 200 kemenangan! Dapatkah anda para penggemar bokep membayangkannya? Sebagai perbandingan saja, para jagoan terbang Amerika paling T.O.P.B.G.T.B.L.G. (Top Banget Belegug!) dalam Perang Dunia II rata-rata "hanya" membungkus 20 kemenangan atau lebih. Salah satu di antaranya, Mayor Richard Bong, menembak jatuh 40 pesawat Jepang. Jago paling jago dalam Perang Dunia I, Manfred von Richthofen dan Rene Fonck, punya skor 80 dan 75. Jago paling jago pihak Rusia dan Jepang skornya 60, sementara jagoan jet Amerika dalam Perang Korea meng-KO 15 MiG lawannya. Nah, perhatikan dengan seksama skor mereka dan bandingkan dengan para Luftwaffe experten yang mempunyai 200+ kill di Front Timur, sementara para kompatriotnya di Front Barat mencetak 100+ kill. Njomplang!!

Tentu saja timbul pertanyaan: Bagaimana mereka melakukannya, dan apakah itu hanya skor yang dibesar-besarkan mesin propaganda Goebbels saja? Sebagai sebuah grup, apakah mereka adalah pilot-pilot tempur yang mempunyai kemampuan 10 kali lebih dahsyat dibandingkan lawannya pihak Amerika, yang diwakili oleh skor 200 versus 20? Saya pikir tidak! Pertanyaan "mengapa skor kemenangan para jagoan udara Jerman begitu besar" adalah pertanyaan yang sangat menarik. Salah satu di antara pembaca mungkin bertanya-tanya: "apakah mereka mempunyai peraturan yang berbeda?", dan itu menerbitkan sebuah kemungkinan analogi karena, dalam faktanya, para pilot Luftwaffe menggunakan peraturan yang sama dibandingkan dengan yang lainnya, dan malah aturan mereka lebih ketat lagi! Secara teori, seorang pilot tempur disebut telah mempunyai "kill" apabila insitusi angkatan udara yang bersangkutan memberikan konfirmasi terhadap klaim penembakjatuhan pesawat lawan yang diajukan sang pilot. Di kebanyakan negara lain, laporan tempur si prajurit (dengan kata lain : berdasarkan kata-katanya sendiri tanpa dilengkapi data pendukung) sudah cukup menjadi alasan bagi unitnya untuk mengesahkan klaim kemenangannya. Kalau sudah begini jelas yang berbicara adalah khusnuzan (prasangka baik) bahwa semua pilot adalah orang-orang jujur yang tidak pernah berdusta! Tapi tentu saja tidak sesederhana itu persoalannya, karena ini hanya berlaku untuk pilot yang berpengalaman. Sementara bagi pilot baru atau pilot yang pertama kali mencetak kemenangan udara, maka tetap harus ada fakta tambahan yang mendukung klaimnya. Makanya, bila ada pilot bau tengik yang masih ingusan tiba-tiba kembali ke pangkalan dengan membawa segudang klaim kemenangan, rata-rata teman sesama pilot akan memandangnya dengan sinis sambil berkata : "Nengkene wadon bae ble'e-ble'e!"

Nah, untuk pilot Luftwaffe sedikit lebih ketat. Mereka minimal harus mendapatkan konfirmasi independen dari sesama pilot lain yang melihat dia menembak jatuh pesawat musuh, atau kalau nggak laporan pertempuran dari musuh itu sendiri yang biasanya diudarakan melalui kontak radio. Di luar itu, secara umum mereka "bermain di aturan yang sama."

Terus kalau begitu, perbedaannya dimana dono eh dong? Yang jelas bukan di peraturan, juga bukan di pendukung benarnya ideologi bahwa ras Arya lebih superior dibandingkan dengan yang lainnya. Perbedaannya terletak di satu hal : KONDISI PERTEMPURAN. Bila otak anda masih dipenuhi dengan bayangan Maria Ozawa sedang berak, baiklah Om Ganteng kasih satu perumpamaan: Bayangkan pencetak home run di olahraga baseball. Selama bertahun-tahun rekor 714 home run milik sang legenda Babe Ruth tetap tidak terpecahkan. Dan lalu Henry Aaron melewati angka tersebut. Para jago lainnya dari tim dan era yang berbeda telah mencetak 500, 600, atau lebih home run. Meskipun ada perbedaan-perbedaan ini, apa yang telah diraih oleh para pencetak home run tetap bisa dibandingkan dengan tanpa kesulitan karena kondisi pencapaian mereka tidaklah berbeda.

Tapi bayangkan seumpama beberapa pemain baseball ini hanya bermain selama 30 pertandingan dalam satu musim dibandingkan dengan biasanya 162? Faktanya, sewaktu Roger Maris (yang bermain di 162 pertandingan dalam satu musim) memecahkan rekor home run dalam satu musim milik Babe Ruth (yang dicetak dalam 154 pertandingan), maka perbedaan tersebut layak untuk ditempatkan di Baseball Hall of Fame.

Bagaimana bila beberapa pemukul tersebut bermain di liga baseball gurem sementara yang lainnya di liga utama? Bagaimana bila lapangannya berbeda dalam hal ukuran, beberapa dengan garis tengah 250 kaki sementara yang lainnya bahkan mencapai 600 kaki di tengah-tengah? Bagaimana bila si pemukul bermain terus tanpa berhenti selama setahun penuh? Bagaimana bila si pemukul hanya dimainkan pada pertandingan tertentu saja dan pertandingan sisanya menjadi cadangan?

Bagaimana pula dengan perbedaan dalam hal peralatan? Pada tahun 1920, permainan baseball ditandai dengan sebuah momen penting ketika "dead ball" yang digunakan pada saat itu diganti dengan bola yang lebih 'hidup', yang membuat suasana pertandingan berubah untuk selamanya. Tak akan ada seorang pun yang akan mencoba membandingkan Mickey Mantle dengan "Home Run" Baker. Hal yang sama sulitnya berlaku pula ketika kita membuat perbandingan terhadap prestasi pilot yang menerbangkan pesawat-sayap-ganda 200 hp (Perang Dunia I) dengan mereka yang menerbangkan pesawat-sayap-tunggal 1.200 hp (Perang Dunia II) dan mereka yang menerbangkan pesawat jet di Perang Korea.

Bagaimana dengan frekwensi terbangnya? Di Front Rusia, kebanyakan dog fight (pertempuran udara) terjadi di sekitar garis pertempuran darat, yang hanya berarti satu hal : semuanya merupakan ekses dari dukungan taktis udara dan bukannya bagian dari pemboman strategis jarak jauh. Jarak yang dekat membuat beberapa kali misi dalam satu hari menjadi hal yang sangat biasa, tidak seperti misi pengawalan bomber yang rata-rata memakan waktu 14 jam. Bisa dibilang bahwa para pilot Jerman yang bertempur melawan Soviet rata-rata melakukan misi tempur 2 sampai dengan 3 kali dalam sehari!

Bagaimana dengan rentang karirnya? Tahukah anda bahwa panglima Luftwaffe Hermann Göring telah memberlakukan peraturan edan bagi semua pilotnya yang berbunyi "bertempur terus sampai modar"? Disini kita berbicara tentang tak adanya rotasi pulang atau tugas pelatihan di tanah air, tak ada batasan misi atau jam tempur! Dengan peraturan berpandangan pendek seperti ini, tak heran bila hanya segelintir saja pilot berpengalaman Luftwaffe yang mampu bertahan tidak mampus sampai perang usai. Di sisi lain, hal ini juga membuat mereka yang lolos uji bukan saja berhasil keluar dari medan pertempuran hidup-hidup, tapi pula dengan membawa skor kemenangan yang amit-amit besarnya yang merupakan hasil 'wajar' dari pertempuran non-stop yang mereka hadapi. Sebagai contoh, salah satu Luftwaffe experte bernama Erich Rudorffer melakukan 1.000 misi lebih dan telah mengalami ditembak jatuh oleh musuh sebanyak 16 kali! Ini tentu saja jauh banget bila dibandingkan dengan pilot Amerika yang lebih 'santai'. Mereka biasanya menyelesaikan masa tugas selama beberapa waktu untuk kemudian mendapat giliran rotasi ditarik pulang demi pelatihan lanjutan, diserahi komando, atau menerbangkan pesawat-pesawat prototipe. Beberapa telah menjalani pertempuran yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya, tapi mereka adalah pengecualian dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari tetangga.

Bagaimana dengan kualitas lawan yang mereka hadapi? Dengan tanpa mengurangi penghargaan terhadap para pilot Rusia yang pemberani dan jago-jago mereka seperti Pokryshkin (60 kemenangan), maka bisa dibilang bahwa perang di Front Timur (baik di darat maupun di udara) adalah pertempuran antara KUALITAS melawan KUANTITAS. Uni Soviet mempunyai cadangan sumber daya manusia yang seakan tak ada habis-habisnya, begitu pula dengan material mentah dan peralatan perang (baik buatan mereka sendiri maupun hasil bantuan Lend-Lease dari Amerika Serikat). Hal seperti ini membuat Stalin gampang saja menerjunkan pasukannya ke dalam kancah pertempuran dengan hanya dibekali pelatihan dan senjata seadanya tanpa takut bakal kehabisan stok (contoh paling gampang adalah film "Enemy at the Gates"). Tak terhitung pilot Rusia yang langsung berhadapan dengan musuhnya setelah hanya menjalani pelatihan beberapa kali saja dan dengan dibekali pesawat yang kualitasnya made in Cibayawak!

Tugas yang berbeda-beda? Sesuai kebijakan yang dikeluarkan pemerintahnya, banyak grup tempur Amerika yang diserahi tugas untuk mengawal armada pembom. Tanggung jawab mereka utama dan satu-satunya adalah melindungi para bomber, dan bukannya berseliweran mencari musuh untuk dijadikan sasaran tembak. 332nd Fighter Group yang lebih dikenal dengan Tuskegee Airmen yang terkenal sebagai contohnya. Pilot terbaik mereka "hanya" mempunyai skor kemenangan 4 saja, tapi mereka dikenal luas karena sangat jarang kehilangan bomber kawalan mereka yang hancur di tangan pesawat musuh!

Hal lainnya, yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan perumpamaan baseball seperti yang dikemukakan di atas, adalah "target-rich-environment" (banyaknya target yang tersedia). Dalam Perang Dunia Pertama, khususnya di dua tahun pertama peperangan, tidak begitu banyak pesawat terbang yang digunakan sehingga jarang-jarang saja prajurit yang nginjek tanah melihat ke udara dan mendapati ada pesawat sedang nongkrong dan bukannya jurig baralak. Berbeda halnya dengan zaman Perang Dunia Kedua dimana pesawat dibuat massal (karena ongkos produksinya yang murah), dengan jumlah ratusan ribu banyaknya di kedua belah pihak yang berseteru. Kemudian datanglah era jet yang diawali dengan Perang Korea. Disini pesawat tempur menjadi lebih besar ukurannya, lebih kompleks peralatannya, sehingga yang jelas lebih mahal harganya. Sebuah F-14 Tomcat atau MiG-29 tidaklah dapat dibandingkan dengan pesawat tempur era Perang Dunia II. Tak akan ada lagi negara yang mempunyai begitu banyak jumlah pesawat, sehingga tak akan ada pula pilot yang berkesempatan menembak jatuh banyak musuh karena memang targetnya sendiri tidak ada. Cukuplah sebagai bukti bahwa di Perang Korea terdapat sebuah istilah yang berbunyi "mencari dimana MiG berada". Apakah MiG musuh akan hadir di waktu/hari yang ditentukan? "Double aces" atau pilot dengan 10 atau lebih kill adalah hal yang sangat jarang. Dalam Perang Vietnam, Amerika mempunyai satu atau dua jago udara. Di Perang Teluk, tidak ada; hanya ada segelintir pilot yang menembak jatuh dua atau tiga pesawat Irak.

Pantaslah kalau saya bilang bahwa tak akan ada lagi kita melihat nongolnya jago udara baru. Sebabnya sederhana: tergetnya sendiri memang tidak tersedia dalam jumlah banyak.

Semua faktor yang menciptakan kesempatan bagi para jagoan untuk mencetak jumlah kemenangan besar hadir bagi para pilot Luftwaffe Jerman di medan tempur Rusia. Erich Hartmann mencatat 352 kill; Gerhard Barkhorn 301; Günther Rall 275; Otto Kittel 267; dan Walter Nowotny 258. Erich Rudorffer yang telah disebutkan sebelumnya menembak jatuh 222 pesawat musuh di semua front: 136 di Timur, 48 di Barat, 26 di Afrika Utara, dan kemudian 12 kemenangan dicetak dengan menggunakan pesawat jet Me 262 di atas angkasa Jerman!


Sumber :
www.acepilots.com
www.warintheair.com


No comments:

Post a Comment