Wednesday, January 26, 2011

Hanna Reitsch (1912-1979), Penerbang Wanita Legendaris Jerman Yang Membuat Hitler Kagum!


Untuk album foto-foto terbaik Hanna Reitsch bisa dilihat DISINI

NAZI jerman menganggapnya wanita ideal. Muda, lincah, dan berani. Karena itu pula, Hanna Reitsch-lah wanita yang paling banyak dipropagandakan. Kalau saja Nazi tidak kalah, dan andai Hanna bersedia mengakui bahwa ia telah "salah pilih" dalam mendukung Hitler, nama Hanna Reitsch pastilah akan mendapat tempat terhormat dalam sejarah dunia saat ini (yang merupakan hasil dari sang pemenang perang!). Bahkan mungkin sekali ia dianggap sebagai 'ibu' penerbang glider!

Hanna muncul sebagai penghuni bumi tanggal 29 Maret 1912, di Hirschberg, Silesia, sebuah kota kecil di kaki gunung di Jerman Timur. Sejak kecil ia diajar ayahnya memiliki kebanggaan diri, keluarga dan tanah air. Sang ayah sendiri seorang dokter dah nasionalis tulen. Hasilnya memang tampak. Waktu kaum wanita diharapkan berada di dapur, Hanna sudah menjadi salah seorang penerbang layang terunggul. Ia mencatat 40 penerbangan di dunia! Hanna jugalah orang pertama yang menyeberangi pegunungan Alpen dalam pesawat layang itu. Prestasinya tidak hanya itu saja. Dia juga tercatat sebagai wanita pertama yang menerbangkan helikopter dan pesawat jet! Belum cukup? Dia juga merupakan wanita pertama yang bertugas sebagai penerbang pencoba (test-pilot), dan yang pertama pula menerima lambang kebanggaan Nazi, Iron Cross.

Prestasinya sebagai penerbang dalam Perang Dunia II membuat namanya menjadi legenda. Ketika Berlin terbakar pada malam hari di saat-saat terakhir Perang Dunia II, Hanna menerbangkan pesawatnya dan mendarat dengan selamat di sebuah jalan yang penuh tank Rusia! Hanna sendiri tidak apa-apa, tapi satu-satunya penumpang penting yang diangkutnya (Robert Ritter von Greim, yang nantinya diangkat sebagai panglima Luftwaffe oleh Hitler menggantikan Hermann Göring yang berkhianat) cedera kaki oleh tembakan orang Rusia itu. Hanna memang harus mendarat karena orang yang dibawanya diperintah menghadap Hitler yang bersembunyi di situ. Di lubang perlindungan Hitler pula ia bermukim tiga hari, kemudiian menerbangkan pesawat Jerman -- yang terakhir -- dari Berlin sebelum kota itu jatuh sepenuhnya ke tangan Rusia. Ia beruntung dapat menyaksikan saat-saat terakhir Hitler. Karena itu pula ia berani menyangkal catatan sejarah, yang selama itu memang terlalu bersifat propaganda Sekutu. Di saat-saat terakhirnya, Hitler biasa digambarkan berang dan bingung, sedang orang-orang yang berada dalam lubang perlindungannya mabuk-mabukan dan melakukan pesta seks. "Itu tidak benar," ujar Hanna Reitsch. "Semuanya -- termasuk Hitler -- tenang dan siap untuk mati. Kami menyaksikan saat-saat terakhir seorang besar dalam peristiwa besar. Semua memperlihatkan harkatnya sebagai manusia. Hitler memberi salam kepada kami dengan tenang, tanpa emosi." Saat-saat Hitler akan meminum racun juga digambarkan Hanna dengan penuh kekaguman dan simpati. Hitler konon berkata kepadanya: "Hanna, kau orang Jerman yang setia dan menjadi milik mereka yang akan mati bersama saya. Saya tidak ingin seorang pun di antara kita jatuh ke tangan Rusia dalam keadaan hidup. Saya juga tidak ingin mayat kami mereka temukan. Saya dan Eva (Eva Braun) ingin jenazah kami dibakar. Bagaimana caranya terserah kamu." Ketika Hanna memohon untuk menerbangkan Hitler ke luar Berlin, tokoh Nazi itu menolak. Hitler akhirnya bunuh diri. Namun karena mayatnya tidak pernah ditemukan, timbul dugaan jenazah itu diterbangkan Hanna ke luar Berlin. Hanna bahkan diduga menyelamatkan Martin Bormann yang sampai kini tak tentu rimbanya. Mungkin itu hanya dugaan -- sebab Hanna sendiri diam. Tapi prestasi wanita idola Nazi itu memang menjadikannya mungkin.

Ialah, misalnya, yang pernah 10 kali menerbangkan pesawat pancar gas V 1 bomb dalam penerbangan percobaan sub-orbital di awal 1940-an. Penerbangan itu sendiri dianggap menantang maut. Dan kalau bukan lantaran dia, mungkin saja para penduduk London yang tewas kena pembomannya masih hidup sampai kini. Buat Hanna sendiri, penerbangannya ke Berlin November 1944 mungkin sukar dilupakan. Waktu itu Berlin dibombardir habis-habisan oleh Sekutu. Dan karenanya kehadiran Hanna di sana penting sekali. Sebab Radio Jerman mengudarakan dengan lantang: "Jangan menyerah. Hanna Reitsch berjuang bersama anda!"

Suatu malam, ledakan bom membuat lengannya bergeser dari pergelangannya. Hanna diangkut ke rumah sakit yang penuh tentara Nazi yang luka, dan banyak yang terpaksa diamputasi. Ketika itulah Hanna menyadari Nazi akan kalah. Ia berpikir, mungkin ia akan dapat menyelamatkan sebagian korban perang itu dengan menerbangkan mereka malam hari. Setelah itu, beberapa hari, ia terbang mengitari Berlin untuk mengenal lekuk-liku kota itu. Kesimpulannya: dapat mendaratkan pesawatnya di dekat rumah sakit tanpa bantuan radio. Jenderal Angkatan Udara Nazi, Ritter von Greim, mengetahui rencana Hanna -- dan ia pulalah yang mengajaknya bertemu dengan Hitler di Berlin, menjelang Perang Dunia II berakhir.

Reitsch kemudian ditangkap bersama dengan von Greim, dan kemudian keduanya diinterogasi bersama oleh perwira intelijen militer Amerika. Ketika ditanya tentang perintah meninggalkan Führerbunker tanggal 28 April 1945, Reitsch dan Greim dilaporkan mengulangi jawaban yang sama persis, "Itu adalah hari tersuram dimana kami tidak dapat meninggal di sisi Führer kami." Reitsch juga berkata, "Kami harusnya berlutut dan berdoa sebagai pengingat di depan altar Fatherland." Ketika penginterogator bertanya apa yang dimaksudnya dengan "altar Fatherland" tersebut, Reitsch menjawab, "tentu saja, bunker Führer di Berlin..."

Dia kemudian tetap ditahan dan diinterogasi selama 18 bulan. Rekan seperjuangannya di saat-saat terakhir, Robert Ritter von Greim, bunuh diri tanggal 24 Mei 1945. Keluarga Hanna sendiri mempunyai akhir yang tragis: ayahnya membunuh ibunya, saudarinya, dan anak-anak saudarinya sebelum membunuh dirinya sendiri di hari-hari terakhir peperangan setelah pihak Polandia mengusir mereka dari kampung halaman di Hirschberg.

Kemenangan memang akhirnya berada di tangan Sekutu. Hanna mendekam sebagai tawanan perang AS selama satu setengah tahun -- tanpa tuduhan apa pun! Kemudian bebas. Tahun 1959 ia pergi ke India. Kemudian menghilang -- dan muncul di Afrika. Tahun 1962, Hanna tampil di Ghana membantu diktator Kwame Nkrumah membangun angkatan bersenjata negara itu. Aneh, ia mengharapkan Nkrumah menjadi 'Hitler hitam' di Afrika. Sayang harapannya tidak tercapai: Nkrumah digulingkan 1966. Sesudah PD II, di Jerman sendiri Hanna tidak disenangi. Sejak 1945 pers di situ dilarang menulis tentang dirinya -- khawatir akan memberi gambaran bagus mengenai Hitler. "Mengapa tidak" tanyanya. "Karena Hitler-lah orang Jerman menjadi pelopor penerbangan di angkasa luar. Roket-roket angkasa luar yang pertama merupakan tiruan dari V2 bomb kami. Setelah perang, teman akrab saya, Werner von Braun, membantu orang Amerika. Ia jempolan dengan roket V2, dan merupakan bapak semua satelit dan perjalanan ke angkasa luar!"

Hanna sendiri sebenarnya heran karena bisa berhasil dalam penerbangan-penerbangan percobaannya yang menantang maut. Penerbangan VI rocket itu dilakukan oleh 10 orang. Lima di antaranya gugur. Tiga menderita luka berat. Tapi cewek ini keluar dengan mulus! V1 rocket dibuat sebagai robot yang dikendalikan dengan sebuah auto-pilot pertama. Buat Hanna sendiri, rasanya tidak mungkin terbang dengan sayap pesawat yang panjangnya tidak lebih dari 3 kaki. Tetapi nyatanya ia berhasil sampai 10 kali!

Hanna meninggal di Frankfurt, Jerman Barat, tanggal 24 Agustus 1979 setelah terkena serangan jantung. Dia tidak pernah menikah. Jauh sebelum kematiannya, ia telah memberikan serangkaian wawancara -- yang diiringinya dengan syarat: baru boleh disiarkan setelah ia tiada. Apa komentarnya tentang Jerman sekarang? "Negara yang penuh bankir dan pembuat mobil." Dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa rasa takut ia mengatakan keyakinannya pada Nasional Sosialisme. Karena itu pula ia terus mengenakan Iron Cross dan Observer Badge bertatahkan intan yang diberikan Hitler di depan publik! Keterangannya terkadang menyentuh juga. "Banyak orang Jerman merasa bersalah karena perang itu. Namun mereka tidak dapat membayangkan perasaan bersalah yang sebenarnya kami rasakan karena kami kalah." Semangat menyala dalam diri Hanna tidak padam begitu saja setelah kekalahan Jerman. Ia kelihatan tetap kokoh dalam fisik dan prinsip. Masih tampak segar menjelang-saat-saat terakhirnya, dan kelihatan seperti nenek yang murah hati. Dalam usia 57 tahun, di tahun 1970, wanita yang dimakamkan di Salzburg Austria ini masih dapat keluar sebagai pemenang dalam kompetisi helikopter internasional di Münich! Kecintaannya pada pesawat udara tidak dapat dilepaskannya begitu saja. Sebagai penerbang -- itulah barangkali maksud pertama dilahirkannya ke dunia.

Jumlah Penghargaan dan Rekor Dunia yang telah diraihnya:
* 1932: Rekor dunia ketahanan terbang layang wanita (5.5 jam)
* 1936: Rekor terbang layang jarak jauh wanita (305 km)
* 1937: Wanita pertama yang menyeberangi Alpen dengan glider
* 1937: Wanita pertama di dunia yang diangkat sebagai kapten penerbang (oleh Ernst Udet)
* 1937: Rekor penerbangan jarak jauh dengan helikopter (109 km)
* 1938: Orang pertama yang menerbangkan helikopter Focke-Wulf Fw 61 di dalam ruangan tertutup (Deutschlandhalle)
* 1938: Juara kompetisi terbang layang nasional Jerman Sylt-Breslau (Schlesien)
* 1939: Rekor dunia terbang layang wanita
* 1943: Ketika bertugas di Luftwaffe, menjadi wanita pertama yang menerbangkan pesawat roket (Messerschmitt Me 163). Dia berhasil selamat dalam kecelakaan maut saat pesawatnya crash-landing sehingga menderita luka parah. Karena itulah dia menjadi wanita pertama yang dianugerahi Eisernes Kreuz I klasse
* 1944: Wanita pertama di dunia yang menerbangkan pesawat jet di Pusat penelitian Luftwaffe di Reichlin selama berlangsungnya percobaan Messerschmitt Me 262 dan Heinkel He 162
* 1952: Tempat ketiga di World Gliding Championships di Spanyol bersama rekannya Lisbeth Häfner
* 1955: Juara terbang layang Jerman
* 1956: Rekor terbang layang jarak jauh Jerman (370 km)
* 1957: Rekor terbang layang di ketinggian Jerman (6.848 m)

Buku-buku karya Hanna Reitsch:
* Fliegen, mein Leben. 4. Aufl. Herbig, München 2001, ISBN 3-7766-2197-4 (Autobiographie)
* Ich flog in Afrika für Nkrumahs Ghana. 2. Aufl. Herbig, München 1979, ISBN 3-7766-0929-X (früherer Titel: Ich flog für Kwame Nkrumah).
* Das Unzerstörbare in meinem Leben. 7. Aufl. Herbig, München 1992, ISBN 3-7766-0975-3.
* Höhen und Tiefen. 1945 bis zur Gegenwart. Heyne, München 1984, ISBN 3-453-01963-6.
* Höhen und Tiefen. 1945 bis zur Gegenwart. 2. erweiterte Auflage von 1978, Herbig-Verlag München/Berlin ISBN 3-7766-0890-0

Hanna Reitsch dalam film:
Para artis ini berperan sebagai sang legenda dalam film-film berikut:
# Barbara Ruetting di film buatan tahun 1965 berjudul Operation Crossbow
# Diane Cilento di film Inggris buatan tahun 1973 berjudul Hitler: The Last Ten Days
# Myvanwy Jenn di produksi televisi Inggris buatan tahun 1973 berjudul The Death of Adolf Hitler
# Anna Thalbach di film Jerman buatan tahun 2004 berjudul Downfall (Der Untergang)



Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.majalah.tempointeraktif.com


No comments:

Post a Comment