Wednesday, September 7, 2011

Rahasia di Balik Suksesnya Blitzkrieg 1939-1941


Oleh : Alif Rafik Khan

Blitzkrieg 1939-1941. Saat mesin-mesin perang Jerman yang tampaknya tak tertahankan menggilas melalui jantung Eropa, gurun pasir dan bukit batu Afrika, serta padang rumput maha luas di Rusia, seluruh dunia seakan tak berhenti berdecak kagum, baik kawan, lawan, maupun pihak yang netral. Mereka belajar satu kata baru: Blitzkrieg – Perang Kilat. Para pemimpin militer dunia dan strategis menanyakan pada diri sendiri: “apa rahasia mereka?” banyak jawaban dikemukakan: teknologi mesin perang yang mumpuni, konsep taktis baru, dan kekuatan pesawat-pesawat Luftwaffe.

Mereka akan terkejut bila mengetahui bahwa sebenarnya tak ada rahasia yang tersembunyi disini. Tak ada dukun terlibat atau santet berkeliweran menerpa musuh-musuh Jerman. Staff Jenderal Wehrmacht telah dengan cermat menganalisis potensi dan kelemahan calon lawan mereka, lama sebelum perang itu sendiri terjadi. Dengannya mereka lalu mengembangkan rencana operasi yang paling cocok, membangun sistem kontrol dan komando terpadu yang efektif, dan mengintegrasikan pasukan lapis baja baru yang mereka punyai dengan kekuatan artileri, infanteri, dan Luftwaffe sehingga membentuk sebuah kekuatan gabungan yang sangat efisien.

Pengaruh Blitzkrieg ini langsung dirasakan oleh negara-negara seperti Polandia, Prancis, Inggris dan Rusia saat mereka berhadapan dengan unit-unit Jerman. Tiba-tiba mereka telah dibombardir oleh artileri darat dan pembom udara, tiba-tiba suara Stuka yang mengerikan menderu ke arah mereka, tiba-tiba panzer datang dengan diikuti oleh infanteri-infanteri di belakangnya, tiba-tiba mereka telah terkepung, terputus dari unitnya, tertangkap, bahkan saat mereka baru turun dari kereta api di garis belakang! Jerman telah belajar dari kekalahan tragisnya dalam Perang Dunia Pertama. Tak seperti musuh-musuhnya, Jerman tidak siap bila harus mengalami lagi perang gaya parit bercampur lumpur seperti yang terjadi di Somme, Verdun, Passchendaele dan tempat-tempat melegenda lainnya. Latihan keras Angkatan Bersenjatanya dimaksudkan untuk mencegah hal tersebut terulang kembali. Tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan pertahanan musuh secepat mungkin, menembus melalui wilayah belakangnya, mengganggu pasokan logistiknya, dan mengalahkan musuh secara telak sebelum dia bahkan sempat membangun kekuatan.

Hal ini tampaknya sederhana, tapi tidak semudah seperti yang terlihat. Di masa damai, saat negara-negara lain bersikap santai dalam membangun kekuatan militernya, diam-diam Jerman membangun suasana layaknya “perang” bagi Wehrmacht-nya yang baru lahir. Prajurit-prajurit dilatih dengan menggunakan peluru tajam, amunisi asli, dan situasi layaknya di medan pertempuran yang sebenarnya. Latihan fisik dan mental dilakukan sepanjang waktu, tidak terbatas hanya saat mereka menjadi kadet saja. Manuver (latihan perang) kerap diselenggarakan, dan biasanya melibatkan tidak hanya satu cabang Angkatan Bersenjata belaka. Unit-unit dilatih dalam segala aspek misi yang dibebankan kepada mereka. Bahkan dengan begitu banyaknya perekrutan kader-kader baru yang seakan tak berakhir, pengembangan unit yang sudah ada dan pembentukan unit-unit baru, kebanyakan darinya tidak lalu tumbuh menjadi unit dan individu yang biasa-biasa saja atau bahkan lembek. Mereka menjadi kekuatan baru yang tangguh, layaknya veteran perang yang sebenarnya. Pelatihan unit kecil dan individu prajurit melibatkan serangkaian latihan tempur yang didesain untuk mengkondisikan unit dan prajurit agar siap untuk bertempur seperti halnya dalam latihan biasa. Pelatihan untuk para komandan dan perwira pun tidak luput menjadi perhatian. Kursus dan pelatihan tambahan yang panjang diterapkan kepada mereka, agar nantinya mereka siap lahir-batin memimpin pasukannya dalam segala kondisi di pertempuran yang sebenarnya. Latihan mereka tak hanya ditujukan agar memimpin anak buahnya secara “benar”, tetapi juga bagaimana agar mereka bisa mengkombinasikan kekuatannya dengan pasukan dari unit lain yang berbeda. Hal ini memberikan suatu bentuk profesionalisme yang begitu luar biasa, sehingga membuat unit-unit ini mampu bertahan melalui enam tahun penuh peperangan yang brutal dan berdarah-darah.

Latihan level tinggi ini tidak hanya berhasil membentuk skill individu si prajurit saja. Angkatan Darat pra-Third Reich yang hanya berjumlah 10 divisi direorganisasi dan dilatih agar dapat berkembang secara cepat. Banyak kadet baru dimasukkan untuk mengikuti pelatihan perwira atau bintara, tapi tidak dipromosikan ke dalam tubuh militer sebelum unit-unit baru yang dibentuk membutuhkan mereka. Yang lainnya dimasukkan ke dalam unit Reserve (cadangan). Selain itu, untuk mengantisipasi mobilisasi yang setiap saat bisa terjadi, unit-unit dipersiapkan agar bisa berkembang sampai tiga kali jumlah awal mereka. Dengan membanjirnya para prajurit baru, peleton dapat menjadi kompi, sementara kompi menjadi batalyon. Pengujian dilakukan secara konstan agar konsep ini bsa terlaksana sekiranya mobilisasi memang dilakukan.

Faktor lainnya adalah fleksibilitas. Dengan menitikberatkan pada karakter rakyat Jerman yang terkenal kreatif dan teratur, para komandan dan prajurit didorong untuk menggunakan inisiatifnya manakala diperlukan. Selalu ditekankan bahwa setiap prajurit mempunyai peran yang sama dalam pencapaian keberhasilan dari misi yang dibebankan kepada unitnya. Bila situasi kemudian berubah secara drastis, jangan hanya menunggu perintah baru yang dikeluarkan tapi lakukanlah sesuatu, apa saja! Bila komandanmu menjadi korban, ambil alih komando. Bila kamu melihat sebuah kesempatan yang tak terduga, ambillah keuntungan darinya. Yang jelas, jangan berhenti bergerak ke depan, maju di antara suara desingan peluru. Kebijakan yang sangat mendukung inisiatif dan kreatifitas ini (yang saat itu tidak banyak diterapkan di negara-negara lain) telah ikut bertanggungjawab terhadap kemenangan-kemenangan awal Jerman, sama dengan faktor-faktor non-mental lainnya.

Hal ini berkaitan erat dengan sikap orang-orang Jerman terhadap profesi militer. Tugas militer dipandang sebagai sebuah profesi yang terhormat di kalangan masyarakat. Ini bukan berarti bahwa semua orang menganggapnya begitu. Hanya saja, hal ini telah secara umum diterima dan dipromosikan dalam pemuatan berita-berita koran, majalah, buku dan media pra-perang lainnya. Kebanyakan anggota tentara pra-perang mempunyai usia berkisar 24-28 tahun. Mereka telah mengalami masa muda yang “gemilang” selama berlangsungnya kebangkitan Nasional-Sosialisme melalui Hitlerjugend (Anak Muda Hitler) dan Reichsarbeitsdienst (Tugas Buruh Nasional). Mereka melihat dengan rasa bangga bangkitnya Jerman dari kekalahan memalukan dalam Perang Dunia I menjadi salah satu negara terpandang di Eropa dan dunia melalui kekuatan militernya. Orang-orang ini merupakan inti dari Angkatan Bersenjata Jerman yang baru. Di dalam kebanyakan unit Wehrmacht, mereka hanya terdiri dari 10-15% tamtama, tapi mempunyai porsi yang lebih besar dalam tubuh bintara dan porsi yang lebih besar lagi dalam tubuh perwira yuniornya.

Semuanya diilhami oleh konsep Gemenschaft (solidaritas komunitas). Ini adalah semacam ideologi non-formal yang menjadi pembentuk kesetiakawanan dan kekesatriaan dalam kehidupan militer. Skill bertempur yang mumpuni, solidaritas antar unit, dan kekuatan fisik. Prajurit-prajurit muda bersemangat dan fanatik yang telah dibekali itu semua nantinya akan menjadi contoh dari kedahsyatan bertempur yang tak henti-hentinya menjadi bahan penelitian oleh para sejarawan. Mereka juga menjadi penyemangat anggota unit lainnya yang mungkin tidak “seantusias” mereka. Ideologi Gemenschaft ini sekaligus juga menjadi penguat kepaduan unit, sejajar dengan ikatan militer melalui sumpah prajurit di depan bendera unit, seragam masing-masing unit yang mempunyai kekhasan tertentu, dan penghargaan seabrek-abrek bagi tiap orang yang berpestasi dalam pertempuran.

Sistem penggantian Angkatan Bersenjata Jerman juga berfungsi untuk mencapai dan mempertahankan hal ini. Dalam rangka menjaga identitas unit, sebuah divisi biasanya tidak akan ditarik dari pertempuran sebelum jumlahnya berkurang sampai 75-50%! Datangnya anggota baru dan pulangnya anggota lama dari cutinya kembali menempatkan kekuatan divisi secara penuh. Anggota baru ini kemudian mendapat latihan ulang yang menekankan pada kerjasama dengan anggota-anggota lama, dan tidak akan diterjunkan kembali dalam pertempuran sebelum tercipta kesatuan yang kokoh seperti sebelumnya. Hal ini membuat Kampfgeist (semangat bertempur) tetap terjaga tanpa mengalami penurunan moral. Sistem seperti ini terus dilakukan oleh Wehrmacht, sampai akhirnya superioritas Sekutu di akhir-akhir perang membuat hampir mustahil untuk mempertahankannya.

Jadinya, tidak hanya strategi baru dan peralatan perang modern yang menjadi penyebab keberhasilan Jerman di awal perang (1939-1941), melainkan satu yang lebih penting: mental. Hal ini hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja, sehingga seakan-akan orang di luarnya menduga bahwa kunci kemenangan demi kemenangan yang diraih Wehrmacht adalah adanya “rahasia” yang misterius. Ingat sodara-sodara, strategi sebagus apapun dan senjata semodern apapun akan menjadi sia-sia manakala orang yang diserahi tanggung jawab “mengelolanya” tidak mempunyai mental bertempur yang bagus dan terinspirasi oleh apa yang dilakukannya. Itulah yang terjadi pada pasukan Amerika di Vietnam dan pasukan Multinasional di Afghanistan.




No comments:

Post a Comment