Tuesday, September 6, 2011

Triumph des Willens (Triumph of the Will), Dokumenter Masterpiece Leni Riefenstahl!

"Triumph des Willens". Full Nazi dari awal sampe akhir! Hehehe...



Daya tarik utama dari "Triumph des Willens" adalah cuplikan pidato Hitler yang berapi-api, yang mempesona para pendengarnya!


Berbagai adegan lain dari "Triumph des Willens"


Sang pembuat "Triumph des Willens", Leni Riefenstahl (kanan), bersama dengan Hitler di tahun 1934


Bila anda berminat untuk membeli DVD film dokumenter "Triumph des Willens" alias "Triumph of the Will" yang dahsyat ini (dengan kualitas gambar yang super, teks Inggris dan ekstra tambahan), bisa dilihat DISINI

Oleh : Alif Rafik Khan

Triumph des Willens (Inggris: Triumph of the Will, Indonesia: Kemenangan Tekad), adalah sebuah film propaganda buatan Leni Riefenstahl. Film ini menceritakan kronologi Kongres Partai Nazi di Nürnberg tahun 1934 yang dihadiri oleh tidak kurang dari 700.000 orang simpatisan Nazi! Film ini juga memperlihatkan pidato-pidato para dedengkot Nazi di kongres tersebut (termasuk beberapa bagian pidato Adolf Hitler) yang diselingi oleh cuplikan pemandangan kolosal anggota partai Nazi yang menyemut memenuhi stadion. Pembuatan film ini sendiri merupakan perintah langsung dari Hitler (yang menjadi salah satu produser eksekutif tak resmi dan namanya nongol di judul pembuka!). secara garis besar, film ini bercerita tentang kembalinya Jerman sebagai negara superpower dunia, dengan Hitler sebagai pemimpin Jerman satu-satunya yang akan membawa bangsa Jerman ke kejayaannya.

Triumph des Willens dikeluarkan tahun 1935 dan langsung menjadi salah satu contoh propaganda paling dikenal dalam sejarah perfilman. Teknik-teknik yang digunakan oleh Riefenstahl dalam pembuatan film ini (seperti misalnya kamera yang bergerak, penggunaan lensa yang mempunyai fokus panjang sehingga menciptakan pemandangan terdistorsi, fotografi udara, dan pendekatan revolusioner dalam penggunaan musik dan sinematografi) telah membuat Triumph des Willens diakui sebagai salah satu dari film paling berpengaruh dalam sejarah. Riefenstahl berhasil memperoleh beberapa penghargaan, tak hanya di Jerman tapi juga di Amerika Serikat, Prancis, Swedia, dan negara-negara lainnya. Film ini amit-amit ngetopnya zaman Third Reich dan dimana-mana, dan sampai sekarang masih tetap mempengaruhi banyak film, dokumenter dan iklan!

Triumph des Willens dibuka oleh prolog, yang merupakan satu-satunya komentar di seluruh bagian film dan terdiri dari tulisan berseri dengan latar belakang abu-abu:

Am 5. September 1934

[Tanggal 5 September 1934]

20 Jahre nach dem Ausbruch des Weltkrieges

[20 tahun setelah pecahnya Perang Dunia]

16 Jahre nach dem Anfang deutschen Leidens

[16 tahun setelah dimulainya penderitaan bangsa Jerman]

19 Monate nach dem Beginn der deutschen Wiedergeburt

[19 bulan setelah permulaan kelahiran kembali Jerman]

flog Adolf Hitler wiederum nach Nürnberg, um Heerschau abzuhalten über seine Getreuen

[Adolf Hitler terbang kembali ke Nürnberg untuk meninjau barisan pengikut setianya]

‘Hari 1’ : Film dimulai oleh pemandangan awan di atas kota, dan kemudian berpindah ke awan yang mengambang di atas kerumunan manusia di bawahnya, yang bertujuan untuk menampilkan kemegahan dan keindahan suasana. Bayangan berbentuk salib dari pesawat Hitler tampak terlihat saat dia terbang di atas figur-figur sebesar semut yang berbaris di bawahnya, diiringi oleh musik gubahan Richard Wagner berjudul Die Meistersinger von Nürnberg, yang secara perlahan berganti menjadi Horst-Wessel-Lied. Setelah tiba di pelabuhan udara Nürnberg, Hitler dan para pemimpin Nazi lain keluar dari pesawat dengan disambut oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai kerumunan massa. Dia lalu berangkat dengan iring-iringan mobil menuju hotel Nürnberg melalui masyarakat yang terlihat sangat antusias dan bergembira menyambut kedatangan Führer-nya. Setelah sampai, Hitler keluar dari balkon hotel untuk menghormati para pendukungnya yang tidak henti-hentinya bersorak-sorai. Malam harinya diadakan sebuah upacara massal Nazi persis di depan hotel.

‘Hari 2’ : Hari kedua dimulai dengan montase para peserta kongres akbar Partai Nazi yang bersiap-siap untuk upacara pembukaannya, dan kemudian disusul dengan kedatangan para penggede partai di Arena Luitpold. Film lalu berpindah ke upacara pembukaan, dimana Rudolf Hess mengumumkan dibukanya kongres. Disini kamera ‘memperkenalkan’ sebagian besar tokoh top Nazi dan menghadirkan cuplikan pidato pembukaan mereka, termasuk Joseph Goebbels, Alfred Rosenberg, Hans Frank, Fritz Todt, Robert Ley, dan Julius Streicher. Film lalu berpindah lagi ke acara luar ruangan yang menampilkan Reichsarbeitsdienst (Jawatan Buruh), yang terutama terdiri dari cuplikan-cuplikan latihan bergaya militer dari orang-orang yang membawa sekop! Disinilah kita berkesempatan mendengarkan pidato pertama Hitler tentang jasa-jasa Jawatan Buruh dan yang memuji kerja keras mereka dalam membangun kembali Jerman. Hari diakhir dengan parade pembawa obor SA dengan Viktor Lutze (SA-Stabschef) berpidato di hadapan puluhan ribu anakbuahnya.

‘Hari 3’ : Hari ketiga dimulai dengan upacara massal Hitlerjugend di lapangan parade. Sekali lagi kamera mengcover kedatangan tokoh-tokoh Nazi dan pidato pembukaan oleh Reichsjugendführer Baldur von Schirach. Tentu saja ‘sajian’ utama adalah pidato dari Hitler sendiri, yang mendorong para hadirin yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan ABG Jerman untuk memperkeras diri mereka dan bersiap untuk berkorban demi negara. Semua yang hadir, termasuk Generaloberst Werner von Blomberg (belum jadi Generalfeldmarschall), lalu berkumpul untuk meninjau parade militer yang menampilkan satuan kavaleri Wehrmacht dan beragam kendaraan lapis baja. Malam itu Hitler kembali berpidato di hadapan para pejabat rendah partai Nazi dengan diterangi oleh cahaya obor, dalam perayaan satu tahun Nazi naik ke tampuk kekuasaan dan mengumumkan bahwa partai dan negara adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

‘Hari 4’ : Hari keempat adalah klimaks dari film, dimana susasananya benar-benar tak terlupakan. Seiring dengan musik soundtrack yang menampilkan karya Wagner berjudul Götterdämmerung, Hitler, dengan diiringi oleh Heinrich Himmler dan Viktor Lutze, berjalan melalui 150.000 pasukan SA dan SS yang berdiri tegap untuk meletakkan sebuah karangan bunga di monumen peringatan Perang Dunia I. Hitler lalu berdiri sambil meninjau parade SA dan SS, diikuti oleh pidato yang dibawakan oleh Hitler dan Lutze tentang Peristiwa Malam Pisau Panjang (Night of the Long Knives) yang terjadi hanya beberapa bulan sebelumnya. Lutze meyakinkan kesetiaan SA terhadap Hitler, sementara Hitler membebaskan SA dari setiap kejahatan yang telah dilakukan oleh Ernst Röhm. Bendera-bendera partai baru ‘disucikan’ dengan cara menyentuhkannya ke Blutfähne (bendera yang konon dibawa oleh Nazi-Nazi yang gugur dalam Beer Hall Putsch) yang dibawa oleh tokoh kerempeng penjelmaan Gogon Srimulat, Jakob Grimminger. Acara selanjutnya adalah parade akhir di depan Nürnberg Frauenkirche, yang diikuti oleh pidato dari, siapa lagi kalau bukan, Adolf Hitler. Dia menegaskan keutamaan Partai Nazi di Jerman dengan mendeklarasikan bahwa “setiap orang Jerman yang setia akan menjadi Nasional-Sosialis. Hanya Nasional-Sosialis terbaik yang merupakan kamerad partai!” Hess lalu memimpin hadirin yang berkumpul dalam salut Sieg Heil (Hidup kemenangan) penghabisan kepada Hitler, yang merupakan penutup kongres partai. Seluruh yang hadir lalu menyanyikan Horst-Wessel-Lied seiring dengan kamera yang berfokus pada bendera swastika raksasa, yang sedikit demi sedikit memudar dalam bayangan orang-orang berseragam Partai Nazi yang berbaris dalam formasi sambil menyanyikan lagu yang salah satu liriknya berbunyi “Kamerad ditembak oleh Front Merah dan para Reaksioner berjalan bersama dalam semangat di barisan kami”.

“Tak lama setelah Hitler berkuasa, dia memanggilku dan menjelaskan bahwa dia menginginkan sebuah film yang menceritakan tentang kongres partai, dan menginginkanku untuk membuatnya. Reaksi pertamaku adalah mengatakan bahwa aku tak tahu sama sekali tentang bagaimana sistem kerja organisasi partai, sehingga aku takut kalau nantinya karyaku banyak mengandung kesalahan dan tak memuaskan siapapun – ini dengan perkiraan bahwa aku bahkan mampu membuat sebuah film dokumenter, yang tak pernah aku buat sebelumnya! Hitler mengatakan bahwa ini justru adalah alasan utama kenapa dia menginginkanku untuk membuatnya: karena setiap orang yang mengetahui mengenai peran penting beberapa tokoh hierarki partai , organisasi-organisasi di dalam tubuh Nazi dan lain-lain nantinya pasti akan membuat sebuah film yang sangat akurat, tapi ini bukanlah yang dia inginkan! Dia menginginkan sebuah film yang memperlihatkan acara kongres melalui mata ‘orang luar’, yang memilih hanya bagian-bagian yang secara artistik memuaskan – dalam hal tontonannya, mungkin itu yang akan kau katakan. Dia menginginkan sebuah film yang dapat menggerakkan, menyerukan permohonan, dan memukau setiap yang menonton, baik dia tertarik akan politik atau tidak.”

- Leni Riefenstahl –

Riefenstahl, yang awalnya adalah artis populer Jerman, telah menyutradarai film pertamanya yang berjudul Das Blaue Licht (Cahaya Biru) tahun 1932. di sekitar saat ini pula dia untuk pertama kalinya mendengarkan Hitler berpidato di acara Nazi dan, menurut pengakuannya sendiri, dia langsung terkesima. Riefenstahl kemudian mulai berkorespondensi dengan Hitler, yang akan berjalan selama bertahun-tahun. Di lain pihak, Hitler sama kagumnya terhadap Das Blaue Licht, dan pada tahun 1933 meminta Riefenstahl untuk menyutradarai sebuah film tentang reli tahunan Nazi di Nürnberg. Kaum Nazi baru saja naik ke tampuk kekuasaan setelah bertahun-tahun terjadinya kekacauan di bidang politik dan ekonomi (Hitler adalah Kanselir keempat Jerman dalam waktu kurang dari satu tahun!) dan saat itu masih belum banyak diketahui “kualitasnya” oleh sebagian besar orang Jerman, jangan dulu di seluruh dunia.

Pada awalnya Riefenstahl menolak. Bukan karena adanya beban moral, tapi lebih karena dia ingin meneruskan membuat film-film roman komersial standar bioskop. Hitler tidak menyerah dengan keinginannya dan akhirnya Riefenstahl setuju juga untuk membuat sebuah film tentang Reli Nürnberg tahun 1933 yang berjudul Der Sieg des Glaubens (Kemenangan Kepercayaan). Sayangnya film ini mempunyai banyak masalah teknis di dalam pembuatannya, termasuk kurangnya persiapan (Riefenstahl melaporkan kesediaanya hanya beberapa hari sebelum Reli dimulai!) dan ekspresi Hitler yang kelihatan sekali tidak nyaman saat di-shoot dari jarak dekat. Untuk membuat masalah lebih buruk, Riefenstahl harus berurusan dengan beberapa pejabat teras partai Nazi, terutama Joseph Goebbels, yang berusaha agar film tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Propaganda. Meskipun Der Sieg des Glaubens pada akhirnya mencapai hasil yang memuaskan di peringkat box office Jerman, tapi dia kemudian malah menjadi suatu hal yang memalukan bagi Nazi setelah pemimpin SA Ernst Röhm, yang mempunyai porsi besar dalam film tersebut, dieksekusi oleh SS selama berlangsungnya Malam Pisau Panjang. Semua hal yang berbau Röhm langsung diperintahkan untuk dihapus dari sejarah Jerman, termasuk penghancuran semua kopi yang diketahui dari Der Sieg des Glaubens!

Tentu saja Riefenstahl kecewa berat menerima kenyataan bahwa filmnya dimusnahkan bukan karena kesalahannya sendiri. Pada tahun 1934 dia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan Der Sieg des Glaubens dan ogah mengurusi film-film yang berhubungan dengan Nazi lagi. Sebagai solusinya, dia merekomendasikan sesama sutradara Walter Ruttmann. Film karya Ruttmann, yang akan meng-cover bangkitnya Partai Nazi dari tahun 1923 sampai dengan 1934 dan lebih berbau propaganda (teks pembukaan Triumph des Willens adalah buatannya) ternyata tidak memuaskan Sang Führer. Hitler sekali lagi meminta kesediaan Riefenstahl, yang akhirnya mengalah juga (terdapat perdebatan mengenai seberapa ‘rela’ Riefenstahl) setelah Hitler memberi garansi dukungan pribadi dan janji untuk menyingkirkan organisasi-organisasi Nazi, terutama Kementerian Propaganda, dari keikutcampuran proses pembuatan film dan penyebarannya.

Triumph des Willens mempunyai skrip skenario yang sama dengan Der Sieg des Glaubens, yang akan tampak jelas bila orang melihat kedua film ini dalam waktu yang bersamaan. Sebagai contoh, adegan kota Nürnberg begitu miripnya, bahkan sampai pengambilan gambar seekor kucing yang nongkrong di balkon saat adegan iring-iringan mobil Hitler! Lebih jauh lagi, Herbert Windt menggunakan kembali sebagian besar dari karya musiknya di Der Sieg des Glaubens untuk Triumph des Willens. Tapi tidak seperti Der Sieg des Glaubens, Riefenstahl membuat Triumph des Willens dengan bujet yang lebih besar, persiapan gede-gedean, dan bantuan vital dari top-notch Nazi seperti Goebbels. Seperti yang diutarakan oleh Susan Sontag, “Reli kali ini direncanakan tidak hanya sebagai sebuah pertemuan kolosal yang spektakuler, tapi juga sebagai sebuah film propaganda yang spektakuler.” Albert Speer, arsitek pribadi Hitler, menjadi perancang utama set dan background di Nürnberg sekaligus sebagai koordinator utama dari sebagian besar tahap acara ini. Hitler memang tidak main-main dengan janjinya untuk mensupport Riefenstahl sepenuh hati. Sebuah lubang khusus digali didepan podium sehingga Riefenstahl dapat mengatur angle kameranya sesuai dengan apa yang dia inginkan, dan jalan rel dibentangkan sehingga kameraman dapat menghasilkan gambar berjalan dari kerumunan massa. Ketika hasil mentahnya masih belum memuaskan sang sutradara, tokoh-tokoh Partai Nazi dan pejabat pemerintahan sampai membuat reka ulang kembali pidato mereka di studio, khusus buat Riefenstahl! Tidak hanya itu, Riefenstahl juga menggunakan awak film yang terbilang dahsyat untuk masa itu: Awaknya berjumlah total 172 orang, termasuk 10 orang staff teknis, 36 kameraman dan asistennya (yang beroperasi dalam 16 tim dengan menggunakan 30 kamera), sembilan kameraman udara, 17 pembawa wartaberita, 12 awak wartaberita, 17 petugas lampu/cahaya, dua fotografer, 26 supir, 37 petugas keamanan, empat pekerja buruh (seksi repot), dan dua asisten kantor! Sebagai tambahan, banyak dari kameramannya berpakaian ala SA agar memudahkan mereka berbaur dengan kerumunan massa.

Riefenstahl mempunyai tugas berat untuk membuat sebuah film berdurasi 2 jam dari bahan ‘mentahnya’ yang berdurasi 61 jam! Dia bekerja keras untuk menyelesaikan film ini secepat mungkin, sampai harus rela tidur selama berhari-hari di ruang editing yang dipenuhi oleh ratusan ribu meter roll film!

“Pembukaan rapat pagi ini... lebih dari pertunjukan yang menakjubkan. Dia juga mengandung semacam klenik dan semangat religius dari sebuah Misa Paskah atau Natal di sebuah katedral Gothik besar.”

- Reporter William Shirer –

Triumph des Willens kadangkala disebut-sebut sebagai contoh dari agama politik Nazi. Agama utama di Jerman sebelum Perang Dunia II adalah Kristen. Dengan dua sekte utama Katolik Roma dan Protestan, pandangan Kristen dalam film ini sangat jelas ditunjukkan untuk membuatnya lebih gampang diterima oleh orang-orang yang menontonnya.

Religi adalah tema utama dari Triumph des Willens. Film dibuka oleh Hitler yang merefleksikan Tuhan saat dia ‘terbang’ melalui dua buah puncak katedral. Film ini juga mengandung banyak adegan dentang lonceng gereja dan individu-individu yang menunjukkan kegairahan yang hampir-hampir seperti kefanatikan terhadap agama, belum lagi rekaman yang menunjukkan Uskup Reich Ludwig Müller yang berdiri dengan jubah kebesarannya di tengah-tengah tokoh Nazi tingkat tinggi. Bukanlah suatu kebetulan pula kalau parade terakhir yang ditunjukkan di film ini digelar di depan Frauenkirche Nürnberg. Dalam pidato penghabisannya di film, Hitler memperbandingkan Partai Nazi dengan ordo suci, dan pentahbisan bendera-bendera partai baru dengan membuatnya disentuhkan oleh Hitler ke “bendera darah” jelas-jelas menunjukkan pesan religius. Hitler sendiri digambarkan bagaikan seorang Messiah, dari pertama saat dia turun dari awan dengan pesawat, dilanjutkan dengan perjalanannya ke Hotel Nürnberg (yang bahkan kucing pun berhenti untuk ‘menontonnya’!), sampai ke banyak adegan dimana kamera mengabadikan Sang Führer dari bawah dan menyorot ke atas dirinya: Hitler, berdiri di podium, akan mengeluarkan perintah di hadapan ratusan ribu pengikutnya, sementara hadirin pun tampak satu dalam kesatuan saat mengamininya. Hal ini disimpulkan melalui komentar Frank P. Tomasulo, “Hitler digambarkan sebagai seorang Messiah Jerman yang akan menyelamatkan negaranya, hanya bila bangsanya rela untuk menyerahkan nasib mereka sepenuhnya di tangan dia.”

“Ini adalah keinginan kita bahwa negara dan Reich ini akan bertahan sampai milenium selanjutnya.”

- Adolf Hitler -

Jerman tak pernah melihat gambaran kekuatan militer dalam persentase yang sebegitu kolosalnya dari sejak berakhirnya Perang Dunia I, dan formasi raksasa Angkatan Perang Nazi seakan menunjukkan kepada siapapun yang menonton bahwa Jerman kini telah kembali kepada masa kejayaannya. Para buruh ditampilkan dengan membawa sekop, tapi mereka memegangnya seakan-akan sedang memegang bedil! Lambang Rajawali dan Swastika dapat diartikan sebagai perwujudan legiun-legiun Romawi zaman kuno. Kumpulan besar anggota partai yang tampak terlatih dengan baik seakan-akan merupakan pemberi peringatan bagi siapapun yang coba-coba menantang kekuasaan Nazi.

Kedatangan Hitler dengan menggunakan pesawat juga bisa dilihat dalam konteks ini, seperti yang diutarakan oleh Kenneth Poferl, “terbang dengan pesawat adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang di tahun 1930-an, Tapi Hitler telah membuat dirinya dihubungkan secara luas dengan praktek ini. Dia adalah politisi pertama yang berkampanye melalui perjalanan udara. Kemenangan telah menambah peran penting gambaran ini dan membuatnya sebagai orang pertama dalam pergerakan, dengan memperlihatkan dirinya sebagai satu-satunya orang yang turun dari pesawat dan menerima sambutan yang meriah dari masyarakat yang menunggunya. Pidato Hitler di hadapan SA juga mengandung pesan ancaman: bila Röhm saja, yang merupakan panglima dari jutaan anggota SA, dapat dengan mudahnya dieksekusi mati atas perintah Sang Führer, maka adalah logis pula untuk menganggap bahwa dia bisa memerintahkan siapa saja untuk ‘disingkirkan’ kalau mereka sampai berani menentang perintahnya, jangan dulu memberontak terhadap kekuasaannya.

“Tak lama sesudah propaganda kita mulai bekerja dan diterima bagaikan sebuah cahaya redup kebenaran di pihak lain, maka fondasi untuk keraguan akan kebenaran kita sendiri telah diletakkan.”

- Adolf Hitler -

Adalah sangat penting bagi Hitler bahwa pesan propagandanya membawa tema manunggal. Bila sebuah negara tidak bersatu dalam mengatakan bahwa musuh adalah buruk, maka pemirsanya akan mulai memendam keraguan. Kesatuan terlihat di sepanjang film ini, bahkan sampai di tempat kamp-kamp tempat para prajurit tinggal. Kamp di luar kota Nürnberg terlihat begitu seragam dan bersih; tenda-tendanya berada dalam garis lurus yang sempurna, dengan setiap tenda begitu sama persis dengan tenda lainnya. Orang-orang yang ada disana juga tidak memakai baju atau seragam, karena seragam akan menunjukkan pangkat dan status mereka. Dengan bertelanjang dada maka mereka akan terlihat sederajat dan bersatu. Ketika mereka berbaris, maka mereka berbaris dengan serentak dalam satu kesatuan sambil membawa senjata mereka yang begitu identik dan tidak ada perbedaannya satu sama lain.

Pidato Hitler kepada para pekerjanya juga menyelipkan pesan persatuan:

“Konsep tentang perburuhan tidak lagi akan berbeda-beda seperti sebelumnya tapi akan menjadi sebuah konsep yang satu. Tak akan ada lagi di Jerman orang yang menganggap buruh biasa lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan bentuk ketenagakerjaan lainnya.”

- Adolf Hitler -

Anak-anak juga tak ketinggalan digunakan untuk menyampaikan pesan persatuan:

“Kita ingin menjadi sebuah bangsa yang bersatu dan kalian, pemudaku, akan menjadi bangsa ini. Di masa depan, kita tidak ingin melihat adanya perbedaan kelas dan golongan dan kalian, pemudaku, jangan sampai membiarkan hal ini berkembang dalam pikiran kalian. Satu hari nanti, kita ingin melihat satu bangsa.”

- Adolf Hitler –

Triumph des Willens mengandung banyak adegan yang mengaburkan perbedaan antara Partai Nazi, negara Jerman, dan rakyatnya. Orang-orang Jerman dalam pakaian petani dan pakaian tradisional lainnya menyambut kedatangan Hitler di beberapa adegan. Prosesi obor, yang sekarang telah secara luas diasosiasikan dengan Nazi, akan mengingatkan pemirsa dengan perayaan karnaval abad pertengahan. Bendera lama Kekaisaran Jerman juga diperlihatkan beberapa kali, melambai-lambai bersama-sama dengan Swastika, dan terdapat sebuah upacara dimana Hitler memberikan penghormatan kepada para prajurit yang telah gugur dalam Perang Dunia I (juga kepada Presiden Paul von Hindenburg yang telah meninggal sebulan sebelum acara di Nürnberg diselenggarakan). Selain itu, ada adegan dimana masing-masing anggota RAD (Reichsarbeitsdienst, Persatuan Buruh Reich) saling menyebutkan nama-nama tempat asal mereka, yang seakan mengingatkan pemirsa bahwa Partai Nazi telah berkembang pesat dari basisnya di Bavaria dan kini menjadi sebuah gerakan pan-Jerman.

“Partai adalah Hitler – dan Hitler adalah Jerman, yang sama halnya dengan Jerman yang juga adalah Hitler!”

- Rudolf Hess –

Di antara tema-tema yang ditampilkan, gairah untuk kebanggaan di Jerman dan pemurnian bangsa Jerman teraktualisasikan dengan baik melalui pidato-pidato dan suasana yang ditampilkan dalam Triumph des Willens.

Di dalam setiap pidato yang diperlihatkan dalam film ini, kebanggaan adalah salah satu fokus utamanya. Hitler menyarankan benar kepada rakyatnya agar mereka tidak puas hanya dengan keadaan mereka yang sekarang, juga agar mereka tidak berdiam diri menerima kekalahan dan hilangnya prestise sebagai sebuah bangsa yang diderita setelah berakhirnya Perang Dunia I. Rakyat Jerman harus percaya kepada diri mereka sendiri dan gerakan yang sekarang sedang terjadi di negaranya. Hitler membawa kebanggaan kepada Jerman melalui persatuannya, sementara Jerman yang bersatu akan menghapuskan setiap hal yang tidak memenuhi standar rezim Nazi.

Untuk mempersatukan Jerman, Hitler percaya bahwa harus dilakukan pemurnian terlebih dahulu. Ini berarti tidak hanya penghapusan warga Jerman yang bukan keturunan Arya, tapi juga orang-orang yang sakit, lemah, cacat, atau warganegara lain yang digolongkan “tidak sempurna”. Dalam Triumph des Willens, Hitler dengan bersemangat berorasi bahwa rakyat Jerman harus mengurusi dirinya sendiri dan menyingkirkan apa yang memang harus disingkirkan: “Elemen-elemen yang menjadi buruk, dan karena itu tidak layak untuk menjadi milik kita!” Eliminasi ‘orang-orang rendah’ ini akan, dalam teorinya, mengubah Jerman menjadi sebuah negara yang membanggakan dan sekuat sebelumnya. Julius Streicher menekankan pentingnya pemurnian ini dan efek yang terjadi apabila hal tersebut tidak dilaksanakan.

Hitler mengajarkan kepada rakyatnya agar mereka percaya kepada negaranya dan diri mereka sendiri. Bangsa Jerman sebenarnya lebih baik dari apa yang terlihat saat ini, dan kemerosotan tersebut terjadi karena adanya ketidakmurnian dalam masyarakat. Hitler menginginkan agar mereka mempercayai dirinya dan mempercayai apa yang dia lakukan untuk keuntungan rakyatnya. Rudolf Hess mengatakan dalam adegan terakhir Triumph des Willens, “Heil Hitler! Sieg heil! Sieg heil!” (Hidup Hitler! Hidup kemenangan! Hidup kemenangan!), dan semua yang hadir serentak meneriakkan kata yang sama. Isyarat lisan ini melambangkan kepercayaan penuh mereka terhadap pemimpinnya, juga terhadap partai dan tokoh-tokohnya. Hal ini langsung diikuti oleh teriakan Hitler, “Jayalah Nasional-Sosialisme! Jayalah Jerman!” dan hadirin langsung meledak dalam sorak-sorai kegembiraan sebagai pemenuhan rasa bangga mereka terhadap diri sendiri dan partai politiknya.

Dalam pidato penutup Triumph des Willens, Hitler memasuki ruangan dari belakang dan tampak seakan-akan muncul dari tengah-tengah khalayak. Setelah satu bagian pengenalan, dia mengatakan kepada pengikut Nazinya yang setia bagaimana bangsa Jerman telah menyatukan dirinya dengan Partai Nazi semata karena pemimpin-pemimpinnya adalah orang Jerman. Dia menjanjikan bahwa negara yang telah ‘diciptakan’ oleh Nazi ini akan bertahan sampai ribuan tahun! Hitler juga mengatakan bahwa anak-anak muda akan meneruskan perjuangan ini setelah yang tua melemah. Pidato ini ditutup dengan semboyan, “Partai adalah Hitler, dan Hitler adalah Jerman.” Kamera langsung berfokus pada Swastika raksasa di atas Hitler dan film pun berakhir dengan gambaran bendera-bendera Swastika yang dibawa oleh anggota Nazi yang berbaris dengan gagahnya. Pidatonya ini telah membawa perhatian besar dunia terhadap reli partai Nazi dan menciptakan timbal-balik yang besar di tahun-tahun selanjutnya. Dia menarik begitu banyak orang melalui cara dia berpidato dan memberikan arahan terhadap rakyatnya. Dia berbicara kepada mereka seakan-akan sedang memberikan khotbah yang menusuk langsung kepada hati para pendengarnya. Pada tahun 1934 itu, lebih dari sejuta orang ikut berpartisisapi eh berpartisipasi dalam Reli Nürnberg.

Triumph des Willens mulai dipertontonkan kepada publik tanggal 28 Maret 1935 di Istana Teater Ufa Berlin dan langsung mencetak kesuksesan instan. Hanya dalam waktu dua bulan film ini telah menghasilkan keuntungan 815.000 Reichsmark, dan Ufa menggolongkannya ke dalam satu dari tiga film paling menguntungkan di tahun itu! Hitler sendiri begitu puas akan hasil film ini dan memujinya sebagai “Pemujaan tak tertandingkan dari kekuatan dan keindahan Gerakan kita”. Untuk usahanya ini, Riefenstahl dianugerahi Deutscher Filmpreis (Penghargaan Film Jerman), medali emas dalam Biennale Venesia tahun 1935, dan Grand Prix dalam World Exhebition di Paris tahun 1937. di lain pihak, terdapat beberapa klaim bahwa film ini akan membawa gelombang ‘mualaf’ massal terhadap fasisme meskipun pihak Nazi sendiri tampaknya tidak melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mempromosikan film tersebut di luar Jerman. Sejarawan film Richard Taylor juga mengatakan bahwa Triumph des Willens tidak secara umum digunakan sebagai bahan propaganda hanya di dalam ruang lingkup Third Reich saja. The Independent menulis pada tahun 2003: “Triumph of Will akan ‘menggoda’ banyak orang bijak, yang mendorong mereka untuk mengagumi dan bukannya mencela. Tak diragukan lagi, film ini telah membawa banyak teman dan sekutu baru di seluruh dunia.”

Penerimaan di negara lain tidak selalu seantusias seperti di Jerman. Dokumentarian Inggris Paul Rotha menyebutnya sebagai ‘membosankan’, sementara yang lainnya sampai diusir karena pandangan pro-Nazi mereka. Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Frank Capra membuat sebuah film ‘tandingan’ berjudul Why We Fight. Film ini terdiri dari delapan buah seri yang menampilkan cuplikan-cuplikan berita dari pemerintah Amerika Serikat yang kemudian digabungkan dengan beberapa adegan Triumph des Willens. Uniknya, adegan-adegan ini dikondisikan sebegitu rupa sehingga malah berbalik seakan-akan mendukung ‘perjuangan’ Sekutu! Capra di kemudian hari berkata bahwa Triumph des Willens “tidak menembakkan satu pun senapan, tidak menjatuhkan satu pun bom, tapi berfungsi sebagai senjata psikologis yang bertujuan untuk menghancurkan keinginan untuk melawan. Hal ini adalah sama mematikannya.” Klip-klip dari Triumph des Willens juga digunakan di sebuah film pendek propaganda Sekutu berjudul General Adolph Takes Over, yang disetting sesuai dengan lagu dansa Inggris terkenal “The Lambeth Walk”. Legiun-legiun yang berbaris dengan gagahnya, seperti juga gambar Hitler yang memberikan salam Nazi, dibuat seakan-akan sebagai boneka yang menari-nari sesuai dengan irama musik! Juga dalam Perang Dunia II, penulis puisi Dylan Thomas menarasikan sekaligus menulis sebuah skenario berjudul These Are The Men, potongan propaganda yang menggunakan cuplikan-cuplikan dari Triumph des Willens demi mendiskreditkan kepemimpinan Nazi.

Salah satu cara terbaik untuk mengukur tingkat kesuksesan yang diterima Triumph des Willens adalah popularitas internasional instan yang berlangsung sepanjang masa yang diberikannya kepada sang pembuat, Leni Riefenstahl. The Economist mengatakan bahwa dia telah “mentahbiskan reputasinya sebagai pembuat film wanita terbesar di abad ke-20.” Untuk seorang sutradara yang membuat delapan buah film sepanjang karirnya (dengan hanya dua di antaranya yang dipublikasikan secara luas di luar Jerman), secara tidak biasa Riefenstahl mendapat nama besar dan reputasi mentereng yang tak berkesudahan di sepanjang sisa hidupnya, yang sebagian besarnya disumbang oleh kejayaan Triumph des Willens. Di lain pihak, karirnya juga ‘rusak’ secara tidak langsung karena film tersebut. Setelah Perang Dunia II usai, Riefenstahl dipenjarakan oleh Sekutu selama empat tahun dengan tuduhan sebagai seorang simpatisan Nazi, dan secara permanen di-blacklist oleh industri perfilman. Ketika dia meninggal dunia pada tahun 2003 (68 tahun setelah pemutaran perdana Triumph des Willens), obituarinya menerima sambutan yang signifikan di banyak penerbitan besar, termasuk Associated Press, Wall Street Journal, New York Times, dan The Guardian (dengan kebanyakan di antaranya menegaskan kembali peran penting Triumph des Willens dalam sejarah dunia perfilman). Meskipun keefektifan Triumph des Willens sulit diukur secara aktual, tapi dalam hal jumlah statistik (yang biasanya disamakan dengan tingkat keefektifannya), penerimaan dari masyarakat terdokumentasi dengan baik melalui jumlah besar orang yang telah menontonnya dan juga popularitas film tersebut di masa tersebut.

Seperti The Birth of a Nation karya pembuat film Amerika D.W. Griffith, Triumph des Willens dikritik sebagai sebuah film yang dibuat secara spektakuler demi mempromosikan sebuah sistem yang secara umum dipandang sebagai tidak etis. Di jerman sendiri, film ini dikategorikan sebagai propaganda Nazi dan pemutarannya dibatasi secara ketat melalui hukum denazifikasi pasca-perang (meskipun masih bisa ditampilkan hanya sebagai bahan pembelajaran semata). Dalam pembelaannya, Riefenstahl mengklaim bahwa dia masih ‘buta’ tentang Nazi saat membuatnya, dan tidak tahu sama sekali tentang kebijaksaan pemusnahan Hitler. Dia juga menunjukkan bahwa Triumph des Willens tidak mengandung “satu pun kata-kata anti-Semit”, meskipun dia tetap menampilkan satu pidato dari Julius Streicher bahwa “Sebuah bangsa yang tidak melindungi kemurnian rasialnya akan musnah”. Bagaimanapun, Roger Ebert memperhatikan bahwa bagi beberapa orang, “absennya faktor antisemitisme dalam Triumph des Willens tampak seakan-akan sebuah kalkulasi yang terencana; di luar dari motif utama dari hampir semua pidato Hitler pastilah merupakan sebuah keputusan pintar untuk membuat film ini lebih efisien lagi sebagai sebuah mesin propaganda.”

Riefenstahl juga berulang kali membela dirinya dari tuduhan bahwa dia adalah seorang propagandis Nazi, dengan mengatakan bahwa Triumph des Willens memfokuskan diri pada gambar daripada ide-ide, sehingga seharusnya dipandang sebagai sebuah Gesamtkunstwerk (karya seni holistik). Pada tahun 1964 dia kembali pada topik ini dan mengatakan:

“Bila anda melihat film ini lagi hari ini maka anda akan teryakinkan bahwa film ini tidak mengandung adegan rekonstruksi satu pun. Semua hal di dalamnya adalah nyata. Dan dia tidak mengandung komentar yang tendensius pula. Dia adalah sejarah. Sebuah film sejarah murni... dia adalah film-vérité. Dia merefleksikan kenyataan-kenyataan yang terjadi pada tahun 1934 yang kini telah menjadi sejarah. Oleh karenanya dia adalah sebuah dokumenter, dan bukan film propaganda. Oh! Tentu saja aku tahu persis apa itu yang dinamakan sebagai sebuah propaganda. Dia akan mengandung peristiwa-peristiwa yang dikreasikan kembali demi menggambarkan sebuah tesis, atau, saat menghadapi peristiwa tertentu, dia akan membiarkan satu hal berjalan secara terencana demi menonjolkan hal lainnya. Aku menemukan bahwa diriku, aku, berada di jantung sebuah peristiwa yang menjadi sebuah fakta nyata di masa dan tempat tertentu. Film buatanku dibuat berdasarkan hal tersebut semata dan tidak yang lainnya.”

Bagaimanapun, Riefenstahl adalah partisipan aktif dalam reli Nürnberg, meskipun di tahun-tahun kemudian dia mengecilkan perannya sendiri dengan mengklaim bahwa “Aku hanya mengamati dan mencoba memfilmkannya sebaik mungkin. Ide-ide yang aku bantu merencanakannya sesungguhnya adalah absurd belaka.” Ebert mengatakan bahwa Triumph des Willens adalah “salah satu film dokumenter terbaik yang pernah dibuat, berdasarkan pandangan umum yang berlaku”, meskipun dia menambahkan juga bahwa karena film tersebut merefleksikan ideologi dari sebuah gerakan yang dibilang orang banyak sebagai jahat, maka dia mengandung “pertanyaan klasik tentang perlombaan antara seni dan moralitas: Apakah memang disana terdapat hal yang dinamakan sebagai seni murni, atau apakah semua seni merupakan pengejawantahan dari statemen politik?” Ketika meresensi Triumph des Willens untuk koleksi “Great Movies”-nya, Ebert memutar opininya sendiri dengan mengatakan bahwa kesimpulannya yang pertama adalah “sebuah pandangan yang diterima bahwa film tersebut adalah sebuah film yang bagus meskipun mengandung kejahatan” dan mengatakannya sebagai “sebuah film yang buruk, begitu membosankan, sederhana, terlalu panjang dan bahkan tidak menampilkan sesuatu yang ‘memanipulasi’, karena dia terlalu janggal untuk bisa memanipulasi siapapun kecuali orang yang benar-benar percaya.”

Susan Sontag menggolongkan Triumph des Willens sebagai “film propaganda paling murni dan paling sukses yang pernah dibuat, yang gambaran utamanya telah meniadakan kemungkinan-kemungkinan bahwa sang pembuat mempunyai konsep visual estetis independen dari sebuah propaganda.” Sontag menekankan pada keterlibatan Riefenstahl dalam perencanaan dan rancangan dari Reli Nürnberg sebagai bukti bahwa Riefenstahl bekerja, bukan sebagai seorang seniman dalam berbagai bentuknya, melainkan sebagai propagandis murni. Dengan lebih dari 30 kamera dan 150 orang kru, setiap defile, parade, pidato dan prosesi diorkestrasikan serinci mungkin sehingga menjadi sebuah set background bagi film produksi Riefenstahl. Ini juga bukanlah film “politik” pertama yang dibuat oleh Riefenstahl untuk Third Reich (sebagai pendahulunya adalah Victory of Faith, 1933, dan Day of Freedom, yang direkam tahun 1933 dan dikeluarkan tahun 1935) dan bukan pula yang terakhir (Olympia, 1938). “Setiap orang yang membela Riefenstahl dengan mengatakannya sebagai sebuah film dokumenter,” kata Sontag, “maka bila dokumenter kemudian dipisahkan dengan propaganda, maka dia pastilah tidak tulus dalam melakukannya. Dalam Triumph des Willens, dokumen (image) tak lagi merupakan rekaman dari kenyataan; ‘kenyataan’ telah dibangun agar bisa membentuk image.”

Esai Brian Winston terhadap Triumph des Willens dalam The Movies as History: Visions of the Twentieth Century (sebuah bungarampai dengan editor David Ellwood), secara luas merupakan kritik terang-terangan terhadap analisis Sontag, yang dia katakan sebagai ‘cacad’! Pokok utamanya adalah bahwa setiap pembuat film dapat membuat filmnya terlihat mengesankan karena memang rancangan upacara Nazi-nya dibuat sekeren mungkin, terutama ketika mereka menyesuaikannya dengan penempatan kamera. Dalam bentuknya, film ini menampilkan pengalihan adegan yang berulang-ulang antara baris-berbaris dan pidato. Winston lalu menanyakan pada para pembacanya apakah mereka lalu akan menggolongkan film semacam ini sebagai film ‘pejalan-kaki’ semata? Seperti halnya Rotha, dia menemukan bahwa Triumph des Willens termasuk membosankan untuk ditonton, dan percaya bahwa siapapun yang punya waktu untuk menganalisis strukturnya akan menemukan hal yang sama.

Kontroversi pertama atas film ini muncul bahkan sebelum pemutaran perdananya, ketika beberapa jenderal Wehrmacht protes keras terhadap begitu sedikitnya kehadiran militer dalam film ini. Hanya satu adegan, defile kavaleri Jerman, yang secara murni menampilkan Angkatan Perang Jerman. yang lain-lainnya semata menampilkan kegiatan partai, yang jelas-jelas bukanlah bagian dari militer. Hitler lalu mengusulkan sebuah kompromi “artistik” bahwa Triumph des Willens nantinya dibuka dengan gambar kamera yang secara lambat menyoroti “pemandangan” barisan jenderal-jenderal (supaya dapat menenteramkan ego masing-masing jenderal!). Berdasarkan pengakuannya sendiri, Riefenstahl menolak saran dari Führernya ini dan berkeras untuk mempunyai kontrol penuh terhadap filmnya tanpa ada campur tangan yang lain. Tapi dia juga setuju untuk kembali mengabadikan Reli Nürnberg di tahun berikutnya (1935) dan membuat sebuah film yang secara ekslusif menyoroti tentang Wehrmacht. Film ini nantinya diberi judul sebagai Tag der Freiheit: Unsere Wehrmacht.

Nicholas Reeves menulis bahwa “banyak dari gambaran paling dikenal tentang Third Reich dan Adolf Hitler diambil dari filmnya Riefenstahl ini.”

Banyak adegan Triumph des Willens yang digunakan dalam film box office Swedia Mein Kampf. Ini membuat Riefenstahl mengajukan tuntutan hukum terhadap perusahaan pembuatnya (Minerva) atas tuduhan pelanggaran hak cipta. Meskipun kasusnya sendiri kemudian tidak mendapat putusan berarti dari hakim pengadil, tapi dia tetap memenangkan kasusnya melawan distributor Jerman. Dalam rangka untuk me-release film Mein Kampf, distributor Jerman setuju untuk membayar Riefenstahl 30.000 Marks untuk release di Jerman dan tambahan 5.000 Marks untuk release di Austria.

Pada tahun 1942 Charles A. Ridley dari Kementerian Informasi Inggris membuat sebuah film propaganda pendek berjudul Lambeth Walk yang merupakan editan dari klip-klip Hitler dan prajurit Jerman dari Triumph des Willens sehingga membuatnya seakan-akan berdansa dan menari sesuai dengan irama lagu “The Lambeth Walk”. Film sindiran ini membuat Joseph Goebbels begitu murkanya sehingga dia sempat membuat ruangan kantornya berantakan dan staff-nya stress akibat dari ngamuk sambil berteriak-teriak memaki bagai orang kesurupan jin volker! Film Propaganda Sekutu ini didistribusikan tanpa kredit terhadap perusahaan pembuat beritanya, yang nantinya akan menambahkan narasi mereka masing-masing.

Triumph des Willens juga telah dipelajari dan dijiplak oleh banyak artis kontemporer (dalam upacara perkawinannya, Mick Jagger mengatakan pada Riefenstahl bahwa dia sudah menonton filmnya sebanyak 15 kali!), termasuk oleh sutradara kenamaan Peter Jackson dan Ridley Scott dalam film-film mereka. Film pertama yang menggunakan gambaran film Triumph des Willens adalah The Great Dictator karya Charlie Chaplin, yang merupakan sebuah parodi dahsyat dari Nazi dan Hitler.

No comments:

Post a Comment