Saturday, May 25, 2013

Kamera, Fotografer, Fotografi dan Memotret

Seorang perwira Panzertruppen Heer berpangkat Leutnant sedang berusaha mengabadikan sebuah vas bunga dengan kamera lipatnya, sementara rekan lainnya balik mengabadikan usahanya melalui foto ini. Dari jutaan prajurit Jerman yang berangkat menuju medan tempur, banyak diantaranya yang membawa serta kamera pribadi mereka demi untuk merekam jejak 'Dienstzeit' (pengabdian militer) dalam Perang Dunia II, salah satu fase masa yang - mereka ketahui dengan pasti - menjadi salah satu yang paling terkenal dalam sejarah (dan karenanya mereka tidak mau ketinggalan untuk ikut serta di dalamnya!). Foto-foto yang dihasilkan kemudian mereka kirimkan ke handai taulan atau teman di kampung halaman dalam bentuk tunggal, kartupos atau album. Tak ada pihak lain yang berseteru dalam Perang Dunia II yang melebihi 'kegilaan' tentaranya Hitler dalam mendokumentasikan segala hal yang mereka temui di lapangan, dan tercatat jutaan foto dari masa itu yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di banyak album, kotak atau arsip! Kamera yang paling sering dipakai adalah yang berformat 127 atau 120 (juga kamera film 35mm yang lebih modern). Instrumen-instrumen ini digunakan oleh para soldaten dengan penuh dedikasi dan akurasi, layaknya saat membidikkan senapan Mauser atau meriam Krupp mereka saat bertempur


 Kelihatannya tidak ada yang salah dengan foto studio prajurit SS ini, tapi coba perhatikan lagi lebih mendalam: Kita bisa melihat dengan jelas bagian bawah dan atas backdrop-nya, standing yang bisa dinaikturunkan, serta tiang besi untuk menahan lampu! Entah apakah hal ini disengaja atau tidak, yang jelas kasihan banget si prajurit kalau mendapatkan hasil cetak foto yang dibuatnya ternyata "mengandung" bloopers! Foto di atas dijual di e-bay Jerman, dan karena negara tersebut sangat fobia terhadap segala sesuatu berbau Nazi, maka lambang swastika dan elang Wehrmacht-pun ikut kena sensor!
Foto ini diambil di Libya dan memperlihatkan seorang fotografer dari Luftwaffe-DAK (Deutsche Afrikakorps) sedang mengambil sebuah gambar mengunakan kamera foto model lama. Menariknya, foto-foto yang telah dibuat ikut ditempelkan di bagian samping kamera tersebut! Apakah sebagai alat promosi demi menarik pengunjung? Entahlah!


Seorang prajurit Heer menunggu saat-saat fotografer mengambil gambarnya di sebuah studio foto, sementara rekannya memegangi backdrop di bagian belakang. Tampaknya mereka sedang menunggu giliran dijepret. Para anggota Wehrmacht (terutama yang bertugas di garis depan) memang sering meluangkan waktu buat berfoto untuk kemudian hasilnya dikirimkan ke kampung halaman sebagai pengingat bagi orang-orang tercinta disana


 Seorang biarawan dari Biara Longuvarda di Pulau Milos, Yunani, duduk diam saat dirinya diabadikan melalui kamera oleh Grenadier Albert Petersen, tahun 1944. Sang prajurit Jerman adalah seorang pencinta fotografi yang tidak terlalu "bersemangat" menjalani profesinya sebagai tentara di masa perang. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di Biara Longuvarda dan tempat-tempat eksotik lainnya di Pulau Milos daripada di barak prajuritnya. Begitu berkesannya pengalaman sewaktu ditugaskan di lokasi tersebut, sehingga Albert Petersen menyempatkan diri untuk mengunjungi pulau yang sama di tahun 1950-an saat Perang Dunia II telah usai!


Bukan foto studio tapi memperlihatkan saat foto outdoor sedang diambil. Sang fotografer menampilkan foto-foto hasil jepretannya dengan menggunakan papan penampang sehingga memudahkan para prajurit Wehrmacht (yang menjadi turis) untuk memilih mana yang diambil. Puri di latar belakang adalah Menara Putih di Thessaloniki (Λευκός Πύργος Lefkos Pyrgos) di Yunani

-----------------------------------------------------------------

 Foto berwarna yang menarik ini diambil pada tanggal 10 Agustus 1942 dan memperlihatkan para perwira tinggi Jerman dan Finlandia sedang mengarungi danau Ladoga di Finlandia menggunakan Siebelfähre (Kapal angkut/Feri Siebel) milik Einsatzstab Fähre Ost (EFO), sebuah unit Luftwaffe yang beroperasi di sekitar wilayah danau Ladoga bersama dengan MTB Italia (12. Squadriglia MAS) dan kapal-kapal ranjau Jerman dari C-Gruppe / 31.Minensuch-Flottilla. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant der Reserve Friedrich-Wilhelm Siebel (Kommandeur Einsatzstab Fähre Ost); Kolonel Finlandia Eino Iisakki Järvinen (Komandan Brigade Pantai Danau Ladoga), dan dua orang perwira Luftwaffe tak dikenal (yang paling kanan berasal dari unit Flak kalau dilihat dari waffenfarbe-nya). Dari sumber asalnya dikatakan bahwa perwira kedua dari kanan adalah Generaloberst Alfred Keller, tapi menurut saya identifikasi ini salah karena mukanya beda jauh!


 Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur 7. Panzer-Division) berpose santai di dekat sebuah Panzerkampfwagen IV dan awaknya. Foto ini diambil saat kampanye Jerman di Prancis bulan Mei-Juni 1940 dan memperlihatkan Rommel digelantungi kamera Leica. Sang jenderal sendiri memang terkenal mempunyai antusiasme yang tinggi dalam bidang fotografi dan telah menghasilkan begitu banyak foto berharga sepanjang keterlibatannya dalam Perang Dunia II. Sayangnya sebagian besar dari foto tersebut hilang dan sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadaannya!


Oberleutnant Hartmut Schairer (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Sturzkampfgeschwader 1) terlihat sedang membersihkan kamera Leica-nya. Perwira Luftwaffe sekaligus jagoan Stuka ini dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 30 Agustus 1941 setelah dia menyelesaikan 150 misi tempur sebagai seorang pilot-serang-darat. Hauptmann Schairer gugur dalam tugas hampir setahun kemudian - tepatnya pada tanggal 19 Juli 1942 - setelah pesawat Junkers Ju 87 yang dipilotinya jatuh di Staraya Russa, Uni Soviet, dalam misi tempurnya yang ke-562. Gunner kepercayaannya yang telah menemaninya dari sejak tahun 1940, Oberfeldwebel Heinz Bevernis, ikut tewas pula bersamanya. Sang gunner kemudian dianugerahi medali Ritterkreuz secara anumerta pada tanggal 19 September 1942, dan tercatat sebagai gunner / operator radio Stuka pertama di seantero Luftwaffe yang mendapatkan kehormatan setinggi itu!



Sumber :
Buku "Memoars of a Stuka Pilot" karya Helmut Mahlke
Buku "New Images of Nazi Germany: a Photographic Collection" karya Paul Garson
Foto koleksi NARA Archives
Foto koleksi pribadi Larrister
Foto koleksi pribadi Thomas E. Nutter
www.enanosin.wordpress.com
www.instahlgewittern.com
www.wehrmacht-awards.com

No comments:

Post a Comment