Sunday, February 2, 2014

Foto 246. Infanterie-Division / 246. Volksgrenadier-Division





Unteroffizier Theodor "Theo" Georg Flück dari Infanterie-Regiment 352 / 246.Infanterie-Division dilahirkan tanggal 4 Desember 1919. Meskipun pada saat Perang Dunia II dia sudah bertugas aktif, tapi Flück baru mencicipi kerasnya pertempuran saat membersihkan benteng Maginot dari pasukan Prancis bulan Mei 1940. Dia kemudian bertempur di Rusia, terutama di wilayah Rzhev, tempat yang hanya berjarak 200km dari Moskow tapi menjadi ladang pembantaian kolosal bagi tuan rumah dimana tidak kurang dari 1.300.000 Tentara Merah yang kehilangan nyawanya sehingga dijuluki sebagai "Rzhev Meat-Grinder"! Medali yang telah diraihnya, dari kiri ke kanan: Eisernes Kreuz II. Klasse (2 Maret 1943); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (20 November 1942); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber; dan Verwundetenabzeichen in Schwarz (24 Mei 1943)


Generalfeldmarschall Walter Model (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B) di atas sebuah Kübelwagen dalam perjalanan inspeksi ke pos-pos komando Jerman di sekitar wilayah Aachen, Nordrhein-Westfalen (Jerman), pada tanggal 9 Oktober 1944. Disini dia sedang mengunjungi 246. Volksgrenadier-Division (pimpinan Oberst Gerhard Wilck yang merangkap sebagai Kampfkommandant Aachen), yang bermarkas di sebuah bunker benteng pertahanan Westwall. Duduk di kursi belakang adalah dua orang perwira staff Model yang juga adalah Ritterkreuzträger (peraih medali Ritterkreuz), dari kiri ke kanan: Leutnant der Reserve Hans Luthardt dan SS-Hauptsturmführer Heinrich Springer. Foto ini juga memperlihatkan penggunaan Zeltbahn sebagai tarnung (kamuflase) di kap mesin depan, sebuah praktek yang tidak biasa!


 
Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Scheerer pada bulan Oktober 1944, dan memperlihatkan Oberst Gerhard Wilck (tak bertopi) yang sedang menerima laporan dari anakbuahnya yang baru saja pulang dari patroli militer di sekitar kota Aachen, Nordrhein-Westfalen. Di belakang Wilck adalah salah satu dari banyak bunker yang merupakan bagian dari Siegfriedwall, barisan benteng pertahanan di perbatasan Barat Jerman. Sang Kolonel diserahi tanggungjawab sebagai Komandan 246. Volksgrenadier-Division sekaligus Kampfkommandant Aachen. Dia diberi perintah tegas untuk mempertahankan kota tersebut sampai mati, karena tak hanya Aachen adalah wilayah asli Jerman pertama yang terancam oleh musuh, tapi juga karena kota tersebut mempunyai nilai sejarah sebagai ibukota "Reich Pertama" yang didirikan oleh Charlemagne (747-814 Masehi), seperti yang dikatakan oleh seorang perwira Jerman, "Kini kita tak lagi menjadi tentara penjajah Nazi, melainkan tentara Jerman yang sedang mempertahankan tanah airnya." Pertempuran berkobar dari tanggal 2 Oktober 1944, dimana pasukan Wehrmacht dengan gigih mempertahankan setiap jengkal pertahanan mereka sambil berupaya menimbulkan korban sebanyak mungkin pada pihak penyerbu Sekutu. Tentara Amerika baru bisa mencapai wilayah kota pada tanggal 13 Oktober, dan pertempuran terus berlanjut dari satu bangunan ke bangunan yang lain, dengan masing-masingnya dipertahankan dengan keras kepala oleh 5.000 orang tentara Jerman yang tersisa. Pasukan penyerang dipaksa untuk secara konstan menambah kekuatannya demi untuk menggantikan korban yang terus berjatuhan. Tentara yang bertahan sendiri menderita korban besar, dan baru menyerah pada tanggal 21 Oktober saat persediaan amunisi dan perbekalan sudah hampir habis. Dengan berlinang air mata, Oberst Gerhard Wilck dan sisa-sisa pasukannya menyerahkan diri pada pasukan Amerika dari 26th Infantry Regiment. Ketakutan bahwa keluarganya di Jerman akan menjadi sasaran kemarahan Hitler membuat sang Kolonel menangis tersedu-sedu saat menandatangani surat penyerahan tanpa syarat. Pertempuran Aachen sendiri membuat tentara Amerika kehilangan 7.000 orang prajuritnya yang menjadi korban (dengan 2.000 orang diantaranya terbunuh), sementara pihak Jerman kehilangan 5.000 orang ditambah jumlah yang sama yang menjadi tawanan perang


Sumber :
Foto koleksi pribadi Stephen Stout
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org

No comments:

Post a Comment