Wednesday, December 31, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 634 - 28 Oktober 1942


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 634 - 28 Oktober 1942 :

00:50 - Peringatan ke-20 "Pawai Menuju Roma" di Kedutaan Besar Italia di Berlin.
06:43 - Generaloberst Alfred Keller menganugerahkan Ritterkreuz ke Hauptmann Peter-Paul Breu.
07:09 - NSKK-Korpsführer Erwin Kraus menginspeksi Transportkorps Speer.
07:56 - Pengiriman suplai melalui udara ke pasukan terdepan Jerman di Danau Ilmen.
09:11 - Theodor Eicke, Ernst Busch, Max Seela dan Hermann Priess.
09:35 - Jalur transportasi kereta api mini melalui hutan rawa di wilayah Danau Ilmen.
10:37 - Pengiriman makanan hangat ke pasukan SS yang bertempur di garis depan.
11:35 - Serangan pasukan infanteri dan panzer di wilayah Danau Ilmen.
15:27 - Pertempuran Stalingrad sebelum pabrik Barrikady.
17:30 - Gebirgsjäger dalam Pertempuran Tuapse di Kaukasus.
19:20 - Misi pemboman He 111 ke Oasis Kufra dan Benteng El Tag di Libya.



Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Sunday, December 28, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 531 - 6 November 1940


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 531 - 6 November 1940 :

00:27 - Panen kentang dan sayuran.
01:50 - Tambang batu granit untuk konstruksi jalan raya.
02:50 - Kamp pekerja yang dilengkapi dengan layanan kebersihan, hiburan dan perlengkapan olahraga.
04:26 - Sekolah penerbangan di Spitzerberg yang baru dibuka.
05:26 - Kunjungan SA-Stabschef Viktor Lutze ke wilayah pendudukan Polandia.
06:45 - Peringatan satu tahun Generalgouvernement di Kastil Krakow yang dipimpin Dr. Hans Frank.
08:02 - Wanita-wanita yang dipekerjakan sebagai helfer di wilayah pendudukan.
08:53 - Gudang pakaian dan kendaraan perang Prancis yang kini menjadi milik Jerman.
10:47 - Latihan Nachrichtentruppe (Pasukan Sandi) di wilayah pendudukan.
14:02 - Konser RAD-Musikkorps pimpinan Herms Niel di kota Roma
14:50 - Pembangunan jalan raya di gurun Afrika Utara oleh pasukan Italia.
16:05 - Misi pemboman Jepang di Jalan Burma.
17:36 - Kapal selam Joachim Schepke, Günther Prien dan Otto Kretschmer kembali ke pangkalannya.
18:31 - Kunjungan Hermann Göring dan Hugo Sperrle ke markas JG 2 "Richthofen".
18:45 - Jagoan udara Major Helmut Wick (Geschwaderkommodore JG 2).
19:18 - Kunjungan Hermann Göring ke markas ZG 26 "Horst Wessel" pimpinan Joachim-Friedrich Huth.
19:39 - Peringatan 24 tahun kematian jagoan udara Oswald Boelcke oleh KG 27 "Boelcke".
20:25 - Hauptmann Reinhard Günzel dan II.Gruppe / Kampfgeschwader 27 "Boelcke".



Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 581 - 22 Oktober 1941


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 581 - 22 Oktober 1941 :

00:58 - Konvoi kapal Jerman di Selat Inggris yang dilindungi oleh Vorpostenboote (perahu patroli).
01:50 - Aksi baterai artileri raksasa Benteng Atlantik.
03:28 - Aksi pasukan Finlandia dalam pertempuran di sekitar Danau Ladoga.
05:40 - Pengepungan Leningrad.
07:16 - Paul Laux dan Agustin Muñoz Grandes, Komandan "Divisi Biru" Spanyol.
07:53 - Pembangunan barak musim dingin dan pembuatan lilin di garis belakang Front Timur.
08:37 - Suplai pakaian dan sepatu serta pembuatan jaket bulu di depot Front Timur.
10:19 - Konvoi suplai di sektor selatan Front Timur.
11:39 - Pembagian ransum makanan untuk pasukan panzer di dapur lapangan.
12:22 - Pengepungan Panzerarmee Von Kleist terhadap pasukan Soviet di Laut Azov dan Melitopol.
15:19 - Pasukan Waffen-SS dalam Pertempuran Mariupol.
17:53 - Pertempuran Ganda Vyazma dan Bryansk di dekat Moskow.
19:08 - Ritterkreuzträger Generalmajor Gustav Höhne (Kommandeur 8. Infanterie-Division).



Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Saturday, December 27, 2025

Menyerahnya Hans-Ulrich Rudel, Sang Jagoan Stuka Penghancur Tank (1945)


Oberst (Kolonel) Hans-Ulrich Rudel, pilot legendaris Luftwaffe dan penerbang Stuka paling terkenal Jerman, menyerahkan diri kepada pasukan Amerika Serikat pada 8 Mei 1945, hari yang sama ketika Jerman secara resmi menyerah tanpa syarat. Setelah berperang tanpa henti di Front Timur hingga hari-hari terakhir Reich, Rudel yang telah mencatat lebih dari 2.500 misi tempur dan dikenal karena keberaniannya menghancurkan tank-tank Soviet, menolak untuk menyerah kepada pasukan Soviet yang ia anggap musuh bebuyutan. Dengan pesawat Fw 190 miliknya, ia terbang ke wilayah yang dikuasai Amerika di Bavaria untuk menghindari penangkapan oleh Tentara Merah. Penyerahannya menandai akhir dari karier militer salah satu pilot paling produktif dan fanatik di Luftwaffe, sosok yang tetap menjadi simbol keteguhan bahkan setelah kekalahan total Jerman.

"The End of the War in Colour" adalah sebuah kompilasi film dokumenter karya sutradara dan sinematografer Amerika, George Stevens, yang menampilkan rekaman langka berwarna tentang berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Menggunakan kamera 16mm Kodachrome yang dibawanya sebagai bagian dari Signal Corps, Stevens berhasil merekam momen-momen penting seperti pembebasan Paris, kamp konsentrasi Dachau, hingga jatuhnya Nazi Jerman. Tidak seperti film propaganda hitam-putih pada masanya, karya ini menghadirkan nuansa yang lebih manusiawi dan emosional, memperlihatkan wajah perang dengan warna-warna nyata yang menggetarkan hati. Dokumentasi Stevens ini kemudian menjadi arsip sejarah yang tak ternilai, memperlihatkan kepada generasi berikutnya bagaimana akhir konflik terbesar abad ke-20 benar-benar terjadi dengan cara yang hidup dan otentik.

Kunjungan Hitler ke Styria Slovenia (1941)


Pada tanggal 26 April 1941, Adolf Hitler melakukan kunjungan resmi ke wilayah Styria dan Kärnten sebagai bagian dari rangkaian inspeksi pasca-kampanye militer Balkan yang baru saja dimenangkan Jerman, sebuah kunjungan yang sarat simbol politik dan propaganda kekuasaan Reich di Eropa Tenggara. Perjalanan dimulai di Marburg an der Drau (kini Maribor), kota yang baru saja dianeksasi dari Yugoslavia, di mana Hitler disambut dengan parade militer, bendera swastika, serta kerumunan besar pendukung lokal dan Volksdeutsche (diaspora Jerman di luar negeri). Di sana ia menegaskan tekad Jermanisasi wilayah tersebut dan mengeluarkan perintah keras terhadap unsur-unsur yang dianggap “asing”.

Dari Marburg, Hitler melanjutkan ke Graz, ibu kota Styria, tempat ia menerima sambutan resmi dari otoritas partai dan pemerintahan daerah serta sekalian meninjau pasukan Wehrmacht dan organisasi Nazi setempat, sambil menekankan peran strategis Styria sebagai wilayah inti Alpen dalam Reich. Kunjungan kemudian diteruskan ke Klagenfurt di Kärnten, yang juga baru memperoleh wilayah tambahan setelah pembubaran Yugoslavia, dan berpuncak di Kärntner Landhaus, gedung bersejarah pemerintahan provinsi, di mana Hitler tampil di balkon dan disambut massa besar dalam sebuah demonstrasi kesetiaan publik yang dikemas secara teatrikal.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Cuplikan Terbaik Film 'Fury' (2014)


Fury (2014) adalah film drama perang yang menggambarkan keras dan brutalnya pertempuran darat di Eropa pada fase akhir Perang Dunia II melalui sudut pandang kru tank Amerika Serikat. Berlatar April 1945 di Jerman, film ini mengikuti awak tank Sherman bernama Fury yang dipimpin oleh Sersan Don “Wardaddy” Collier (Brad Pitt), bersama anak buahnya yang telah lama ditempa pertempuran, ketika mereka menjalankan misi berbahaya jauh di belakang garis musuh. Dengan menampilkan realisme medan perang, tekanan psikologis prajurit, serta dilema moral antara kemanusiaan dan kewajiban militer, Fury menyoroti ikatan persaudaraan dalam unit kecil yang terisolasi di tengah kehancuran total Nazi Jerman. Film ini dikenal karena adegan pertempuran tank yang intens, visual yang kelam dan realistis, serta penggambaran perang yang tanpa romantisasi, menekankan bahwa kemenangan diraih dengan harga kemanusiaan yang sangat mahal.


OPENING


DISERGAP BOCAH HITLERJUGEND BERSENJATAKAN PANZERFAUST


TANK SHERMAN AMERIKA VS ANTI-TANK JERMAN


MENEMBAK TAWANAN JERMAN


EKSEKUSI PERWIRA SS


SHERMAN VS TIGER


PERSIAPAN MENGHADAPI BATALYON SS




SATU TANK SHERMAN VS SATU BATALYION WAFFEN-SS


ENDING

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 523 - 12 September 1940


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 523 - 12 September 1940 :

00:27 - Pembukaan pameran dagang di Wina, Austria.
01:30 - Hitler berpidato pada pembukaan acara Winterhilfswerk kedua di Sportpalast.
03:50 - Peran wanita Jerman dalam perang.
04:43 - Industri obat-obatan Jerman dan pabrik aspirin Bayer.
06:55 - Produksi kaca tahan pecah dan anti peluru.
08:30 - Relokasi warga perbatasan Jerman di Barat ke rumah mereka setelah sempat diungsikan.
09:52 - Rumah pemulihan prajurit Wehrmacht yang terluka.
10:56 - Inspeksi Batalyon SA Feldherrnhalle oleh Viktor Lutze dan Franz Freiherr von Dalwigk.
11:52 - Tiga Ritterkreuzträger dari SA: Joachim Meißner, Otto Zierach dan Horst von Petersdorff.
12:01 - Pemberian panji baru untuk Leibstandarte SS Adolf Hitler.
13:15 - Rapat Akbar RAD pertama di Warsawa.
14:31 - Pembersihan kendaraan dan ranjau sisa perang di Prancis.
16:50 - Misi pemboman Angkatan Udara Italia di Libya.
18:05 - Blokade Luftwaffe terhadap Inggris.
20:05 - Misi pemboman Dornier Do 17 ke Inggris.


Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Friday, December 26, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 515 - 18 Juli 1940


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 515 - 18 Juli 1940 :

00:35 - Pertemuan tiga negara (Jerman, Italia, Hungaria) di Berlin.
02:34 - Latihan pasukan Inggris di Mesir dan kelanjutan hubungan Inggris-Prancis.
06:20 - Rampasan perang dari hasil kemenangan Pertempuran Prancis.
07:40 - Pasukan Jerman kembali ke markas mereka di tanah air setelah kemenangan di Prancis.
10:39 - Stand-up comedy untuk menghibur prajurit Waffen-SS.
12:22 - 3. Gebirgs-Division kembali ke Jerman dari Narvik menggunakan kapal Kriegsmarine.
12:48 - Ritterkreuzträger Walter Schlee, Hans Rohr, Eduard Dietl dan Erich Bey.
14:16 - Kepulangan prajurit yang terluka ke tanah air menggunakan kapal rumah sakit Wilhelm Gustloff.
14:52 - Hitler mengunjungi prajurit-prajuritnya yang terluka.
16:15 - Upacara pngenaugerahan medali 5. Panzer-Division oleh Generalleutnant Joachim Lemelsen.
17:08 - Ritterkreuzträger Oberst Paul-Hermann Werner (Kommandeur Panzer-Regiment 31).
17:18 - Parade pasukan Jerman di wilayah Prancis yang baru saja diduduki.
18:25 - Jagoan u-boat Günther Prien kembali ke pangkalan dari patroli yang sukses.
19:19 - Aksi kapal selam Jerman di samudera.


Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

"Deutsche Weihnacht", Film Propaganda tentang Tradisi Natal Jerman (Desember 1938)


"Deutsche Weihnacht" (Natal Jerman) adalah film kultural produksi bulan Desember 1938 yang mengisahkan tentang tradisi Natal dan pasar Natal di Jerman. Bagian pertama film ini menampilkan berbagai tradisi Natal di desa-desa pegunungan Austria dan Bavaria, sementara bagian kedua menampilkan rekaman dari pasar Natal terkenal di Nuremberg.
 
Film ini secara halus berusaha menonjolkan tradisi Natal “Jerman”, seperti perayaan Solstice (titik balik matahari), daripada tradisi Kristen tradisional. Hal ini sejalan dengan upaya umum pihak Nazi untuk menonjolkan Natal sebagai sebuah festival Jermanik, dan mempromosikannya sebagai perayaan musim dingin kuno Nordik/Arya daripada festival untuk merayakan kelahiran Kristus.



Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Wednesday, December 24, 2025

Industri Persenjataan Cekoslowakia Pra Perang Dunia II


Pada dekade 1930-an, industri persenjataan Cekoslowakia merupakan salah satu yang paling maju dan modern di Eropa, menjadikannya tulang punggung kekuatan militer negara tersebut sekaligus pemasok senjata penting di pasar internasional sebelum dianeksasi oleh Jerman pada tahun 1938–1939. Pusat utama industri ini adalah Škoda Works di Plzeň, sebuah konglomerat industri raksasa yang memproduksi artileri berat, howitzer modern, meriam anti-pesawat, tank, kendaraan lapis baja, amunisi, hingga komponen mesin berpresisi tinggi, dengan reputasi kualitas yang setara - bahkan sebagiannya melebihi - produsen Jerman dan Prancis.

Selain Škoda, perusahaan seperti ČKD-Praga, Zbrojovka Brno, dan Tatra berperan penting dalam produksi senapan, senjata otomatis, truk militer, serta tank ringan canggih seperti LT vz. 35 dan LT vz. 38 yang terkenal andal. Industri ini didukung oleh tenaga kerja terampil, tradisi teknik Austro-Hungaria, serta jaringan riset dan desain yang maju, yang memungkinkan Cekoslowakia mengekspor persenjataannya ke banyak negara di Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Ironisnya, ketika wilayah Bohemia dan Moravia diduduki Jerman, seluruh kapasitas industri ini jatuh ke tangan Reich, dan pabrik-pabrik seperti Škoda kemudian menjadi aset strategis penting bagi mesin perang Jerman selama Perang Dunia II.

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 736 - 11 Oktober 1944


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 736 - 11 Oktober 1944 :

00:43 - Persiapan Perang Total: membangun pertahanan di tanah air.
02:01 - Warga sipil Estonia mengungsi ke Jerman menggunakan kapal laut Kriegsmarine.
03:13 - Rekrutan baru Flakhelfer yang merupakan sukarelawan dari Latvia.
03:46 - Serangan udara Focke-Wulf Fw 190 terhadap target darat di Front Timur.
04:35 - Pertempuran di Front Kurland.
06:45 - Pesawat Luftwaffe beraksi dalam penumpasan Pemberontakan Warsawa.
07:25 - Pertempuran Luneville di Front Barat.
08:07 - Hasso von Manteuffel dan Heinrich Bronsart von Schellendorff.
09:43 - Kunjungan Reichsminister Goebbels ke markas Generalfeldmarschall Walter Model.
10:21 - Pidato Joseph Goebbels di Köln.
12:53 - Deretan Königstiger dari schwere Panzer-Abteilung 503.


Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Tuesday, December 23, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 641 - 16 Desember 1942


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 641 - 16 Desember 1942 :

00:53 - Rekor dunia glider terlama oleh NSFK-Sturmbannführer Erich Vergens.
01:41 - Pertandingan tinju tiga negara (Jerman, Italia, Hungaria) di Berlin.
03:14 - Upacara pengambilan sumpah SS-Regiment "Prague" di Praha, Cekoslowakia.
03:48 - Pembangunan bunker kapal selam oleh Organisation Todt.
05:07 - Franz Ritter von Epp dan Karl Dönitz menyambut kedatangan jagoan u-boat Herbert Schneider.
06:14 - Konvoi suplai Afrikakorps menuju Bizerte, Tunisia.
08:40 - Misi pemboman Luftwaffe di Tebourba, Tunisia.
09:53 - Situasi terkini di Sungai Terek, Front Kaukasus.
10:55 - Kettenkrad mengangkut perbekalan Gebirgsjäger.
12:13 - Distribusi makanan, amunisi dan surat untuk prajurit di tengah badai salju.
13:27 - Pemasangan kawat berduri di pos pertahanan bersalju.


Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Monday, December 22, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 617 - 1 Juli 1942


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 617 - 1 Juli 1942 :

00:52 - Pertempuran Garis pertahanan Gazala-Bir Hacheim dan Acroma di Afrika Utara.
04:38 - Pertempuran Tobruk dan jatuhnya benteng tersebut ke tangan Jerman.
08:17 - Generalmajor Georg von Bismarck (Kommandeur 21. Panzer-Division).
17:44 - Pertempuran Sebastopol.
26:55 - Mortir super-berat "Thor" Karl-Gerät kaliber 60cm.
28:15 - Artileri rel Schwerer Gustav kaliber 80cm.


Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Sunday, December 21, 2025

Komposer Herms Niel dan Lagu "Erika"


Herms Niel (1888–1954) adalah seorang komponis dan konduktor militer Jerman yang dikenal luas melalui karya-karya mars dan lagu berirama patriotik yang populer pada paruh pertama abad ke-20. Lahir di Neisse, Silesia (kini Nysa, Polandia), Niel meniti karier sebagai kapellmeister dalam lingkungan musik militer dan dengan cepat meraih ketenaran berkat gaya komposisinya yang sederhana, mudah diingat, dan efektif membangkitkan semangat barisan perang. Sejak dekade 1930-an, karya-karyanya kerap diperdengarkan oleh orkes militer dan dalam siaran radio, menjadikannya figur menonjol dalam musik populer Jerman masa itu. Setelah Perang Dunia II, reputasinya meredup seiring perubahan iklim politik dan budaya, namun Herms Niel tetap dikenang sebagai salah satu penulis mars paling produktif dan berpengaruh dalam tradisi musik militer Jerman.

“Erika” adalah salah satu lagu mars paling terkenal karya Herms Niel, diciptakan pada dekade 1930-an dan dengan cepat menjadi lagu populer di kalangan pasukan Jerman karena melodinya yang sederhana, ritmis, dan mudah diingat. Lagu ini memadukan irama mars militer dengan lirik bernuansa ringan, yang menggambarkan bunga heather bernama Erika serta kerinduan seorang prajurit terhadap kekasih di kampung halaman, sehingga berbeda dari lagu-lagu propaganda yang bersifat keras dan politis. Justru karena tema personal dan romantis inilah “Erika” kerap dinyanyikan dalam pawai, perjalanan jauh, maupun kegiatan santai prajurit, dan kemudian tetap dikenal luas setelah perang sebagai contoh khas musik mars Jerman era tersebut. Hingga kini, “Erika” sering dibahas dalam kajian sejarah musik sebagai karya Herms Niel yang paling ikonik.


Sumber :
Film propaganda pendek "Rundfunk im Kriege" (Siaran Radio di Masa Perang)

Rundfunk im Kriege (Siaran Radio di Masa Perang)


Pada tahun 1930-an dan 1940-an, radio merupakan salah satu sumber berita terpenting. Banyak orang memiliki radio di rumah, dan bahkan mereka yang tidak mampu membelinya tetap mendengarkannya secara teratur, misalnya di tempat kerja. Pada akhir 1942, sekitar 16 juta orang Jerman memiliki radio di rumah. 

Radio juga menjadi alat propaganda Nazi yang penting, menyebarkan ideologi Hitler melalui siarannya. Selain itu, banyak musik dan acara hiburan diputar di radio untuk memberikan hiburan di masa perang, terutama setelah kondisi peperangan berbalik melawan Jerman. 

"Rundfunk im Kriege" (Siaran Radio di Masa Perang) adalah film pendek yang dibuat pada bulan November 1943, yang menampilkan proses produksi dari berbagai siaran serta program radio. Film ini memperlihatkan musik live, reporter yang melakukan liputan langsung di lapangan, siaran berita dalam berbagai bahasa, serta acara besar dengan penonton. Film propaganda ini tidak memiliki narasi, melainkan hanya menampilkan peristiwa-peristiwa tersebut dengan suara aslinya. 


Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Awak Kapal Perang Jepang dalam Perang Dunia II


Awak kapal perang Jepang dalam Perang Dunia II merupakan personel Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) yang dibentuk melalui sistem pelatihan keras dan disiplin ketat, menggabungkan pendidikan teknis modern dengan indoktrinasi semangat bushido yang menekankan ketaatan mutlak, keberanian, dan kesediaan berkorban sampai mati. Sejak masa pendidikan, para pelaut dilatih secara intensif dalam navigasi, pengoperasian mesin, artileri laut, torpedo, komunikasi, serta latihan fisik yang berat, sering disertai hukuman keras untuk menanamkan daya tahan mental. Kehidupan sehari-hari di atas kapal berlangsung dalam kondisi sempit dan hirarkis, dengan jam jaga panjang, ventilasi terbatas, serta rutinitas ketat yang mengatur segalanya, mulai dari perawatan kapal hingga upacara militer.

Pada awal-awal perang, ransum relatif baik, namun kemudian memburuk drastis seiring blokade dan kekurangan logistik. Dalam pertempuran laut besar seperti Pearl Harbor, Laut Koral, Midway, dan Teluk Leyte, awak kapal perang Jepang menghadapi ancaman konstan dari serangan udara, torpedo, kebakaran hebat, dan ledakan amunisi, sementara doktrin “tidak menyerah” membuat banyak dari mereka bertahan di kapal yang rusak parah hingga tenggelam.

Video ini adalah rekaman film asli dari Perang Dunia II yang memperlihatkan kehidupan di kapal perang Jepang. Beberapa hal menarik :

01:46 - Sudut pengambilannya keren dan estetik!
01:59 - Kapal Ryujo dilihat dari dek Kaga, yang mudah dikenali dari kode ekor pada pesawat tempur A6M2-nya yang sedang lepas landas.
05:35 Saat meriam-meriam kapal perang Hyuga ditembakkan, tiba-tiba terjadi ledakan di meriam sebelah kiri turet kelima. Dalam peristiwa yang berlangsung pada bulan Mei 1942 ini, 51 awak kapal tewas, sementara ruang amunisinya segera tergenang air (yang secara tidak langsung telah menyelamatkan kapal dari ledakan yang lebih besar). Tragedi ini terjadi selama latihan menembak bersama kapal Nagato dan Mutsu. Setelah kembali ke Kure, meriam yang meledak dianggap tidak dapat lagi diperbaiki, sehingga kemudian dilepas dari kapal.
07:42 - Ini adalah adegan pertempuran dimana USS Edsall ditenggelamkan oleh kapal perang Jepang pada bulan Maret 1942, sementara rekaman videonya sendiri dibuat oleh kameraman propaganda yang berada di atas kapal Tone.



Sumber :
www.youtube.com

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 618 - 8 Juli 1942


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 618 - 8 Juli 1942 :

00:52 - Upacara penganugerahan Eichenlaub untuk Theodor Eicke di Führerhauptquartier.
01:09 - Upacara penganugerahan Schwerter untuk Hans-Joachim Marseille di Führerhauptquartier.
01:49 - Kunjungan pemimpin Finlandia Carl Gustaf Emil Mannerheim ke Führerhauptquartier.
04:41 - Pertempuran Volkhov.
06:54 - Ritterkreuzträger Harry Hoppe.
07:55 - Sukarelawan SS Belanda menyerang desa Soviet di Volkhov.
14:36 - Dimulainya Fall Blau di sektor selatan Front Timur.
17:55 - Jatuhnya Sebastopol ke tangan Jerman.
18:20 - Ritterkreuzträger Gordon Gollob.
21:47 - Generalfeldmarschall Erich von Manstein.
25:16 - Erwin Rommel menginspeksi kota Tobruk yang baru saja jatuh ke tangan Jerman.
26:00 - Generalmajor Alfred Gause.
26:25 - Generalfeldmarschall Albert Kesselring.



Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Friday, December 19, 2025

Gerak maju Afrikakorps menuju Tobruk (1941)


Pada akhir bulan April 1941, setelah merebut kembali Benghazi dari tangan Inggris dan menekan pasukan Persemakmuran ke arah perbatasan Mesir, Afrikakorps Jerman di bawah komando Generalleutnant Erwin Rommel melanjutkan gerak majunya menuju Tobruk, benteng pelabuhan yang menjadi kunci logistik Sekutu di timur Libya. Di jalur menuju kota tersebut, pertempuran-pertempuran sengit terjadi di gurun terbuka dan sepanjang garis pertahanan luar, di mana kepahlawanan Oberstleutnant Irnfried Freiherr von Wechmar mengemuka, saat ia memimpin unsur pengintai dari Aufklärungs-Abteilung 3 dalam menembus posisi musuh di bawah tembakan berat, menjaga momentum serangan dan membuka celah bagi pasukan berikutnya.

Menjelang pengepungan, artileri Jerman dan Italia menggempur instalasi pertahanan di luar Tobruk secara berlapis, sementara pesawat-pesawat Luftwaffe melakukan serangan udara untuk menekan baterai, depot, dan konsentrasi pasukan Sekutu. Serangan infanteri kemudian dilancarkan untuk menguji garis pertahanan, memaksa unit-unit Australia dan Inggris bertahan keras di parit-parit mereka. Meski Tobruk bertahan dan pengepungan pun dimulai, rangkaian aksi di akhir April itu menghasilkan ratusan tawanan Sekutu, menguras kekuatan lawan, dan menegaskan gaya perang cepat Rommel: menggabungkan manuver pasukan bermotor, tembakan artileri, dan dukungan udara.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Sunday, December 14, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 549 - 12 Maret 1941


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 549 - 12 Maret 1941 :

00:34 - Cuplikan peperangan antara pasukan Jepang dengan pihak Kuomintang Cina di Tiongkok.
01:16 - Kebakaran besar yang melanda kota Santander di Spanyol.
02:06 - Pasukan Jerman menghancurkan es di sungai Vistula dan Danube menggunakan bom.
03:51 - Upacara medali Kriegsverdienstkreuz untuk para anggota NSKK Transportstandarte Speer.
04:34 - Pembukaan Kejuaraan Musim Dingin Hitlerjugend di Garmisch-Partenkirchen.
05:26 - Jagoan udara Adolf Galland memberi tandatangan.
07:11 - Himmler memimpin upacara pemberian kewarganegaraan kepada "5.000 Jerman Bukovina".
08:27 - Goebbels membuka Pameran Perdagangan Leipzig yang diikuti 22 negara.
10:36 - Pertemuan antara Hermann Göring dan Marsekal Rumania Ion Antonescu di Wina.
12:26 - Inspeksi Hitler ke Jembatan Nibelungen di Linz, Austria.
14:16 - Sekolah pelatihan awak kapal selam Kriegsmarine.
16:55 - Relokasi unit Luftwaffe dan Heer ke Bulgaria.
19:06 - Panzeraufklärungs-Abteilung 3 melewati Italia dalam perjalanan ke Afrika Utara.
22:52 - Calon Ritterkreuzträger Irnfried Freiherr von Wechmar.
22:53 - Bentrok pertama pasukan Jerman dan Inggris di Afrika.
23:58 - General der Flieger Hans Jeschonnek melakukan inspeksi ke Kampfgeschwader 40.
24:22 - Serangan armada Fw 200 "Condor" milik KG 40 ke konvoy kapal Inggris.



Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 625 - 26 Agustus 1942


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 625 - 26 Agustus 1942 :

00:56 - Pendaratan Dieppe (Serangan Dieppe atau Operasi Jubilee) oleh Sekutu yang gagal.
04:31 - General der Panzertruppe Adolf-Friedrich Kuntzen menginspeksi Dieppe.
11:42 - Inspeksi RAD di Front Timur oleh panglima mereka, Konstantin Hierl.
12:23 - Upacara medali untuk para anggota RAD oleh Generalmajor Paul Danhauser.
12:52 - Gerak maju pasukan Jerman di Don, sektor selatan Front Timur (Fall Blau).
23:25 - Pasukan Jerman dan Rumania memasuki kota Yeysk dan Tikhoretsk di Kaukasus.
26:12 - Gerak maju pasukan Jerman di stepa Kuban.
26:12 - Divisi SS Wiking dan Felix Steiner di stepa Kuban.


Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Video Berwarna Akhir Perang Dunia II di Cekoslowakia (Mei 1945)


Pada hari-hari terakhir Perang Dunia II di Cekoslowakia pada bulan Mei 1945, kehancuran dan kekacauan berpadu dengan kelegaan akan berakhirnya perang yang panjang dan brutal. Pasukan Amerika Serikat dari Angkatan Darat Ketiga di bawah Jenderal George S. Patton bergerak cepat ke Bohemia barat dan memasuki kota Plzeň (Pilsen) pada 6 Mei 1945, yang disambut dengan antusias oleh warga lokal yang merayakan pembebasan setelah bertahun-tahun pendudukan Jerman. Di luar kota-kota yang dibebaskan, pemandangan kontras tampak jelas: barisan panjang tentara Jerman yang kelelahan dan terdemoralisasi berjalan atau berbaris untuk menyerah kepada pasukan Amerika, dimana mereka memilih untuk menjadi tawanan pihak Barat daripada harus menjalani resiko untuk dimasukkan ke dalam gulag Tentara Merah yang terkenal brutal. Jalan-jalan dan pinggiran desa diwarnai oleh sisa-sisa pertempuran yang baru saja berakhir: kendaraan yang telah hancur dan mayat-mayat tentara Jerman yang ditinggalkan begitu saja. Bersamaan dengan itu, kekacauan pascaperang juga memunculkan kekerasan balasan dan pelampiasan dendam: sejumlah perempuan Jerman mengalami perlakuan kasar dan pemukulan oleh massa lokal atau kelompok bersenjata.

"The End of the War in Colour" adalah sebuah kompilasi film dokumenter karya sutradara dan sinematografer Amerika, George Stevens, yang menampilkan rekaman langka berwarna tentang berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Menggunakan kamera 16mm Kodachrome yang dibawanya sebagai bagian dari Signal Corps, Stevens berhasil merekam momen-momen penting seperti pembebasan Paris, kamp konsentrasi Dachau, hingga jatuhnya Nazi Jerman. Tidak seperti film propaganda hitam-putih pada masanya, karya ini menghadirkan nuansa yang lebih manusiawi dan emosional, memperlihatkan wajah perang dengan warna-warna nyata yang menggetarkan hati. Dokumentasi Stevens ini kemudian menjadi arsip sejarah yang tak ternilai, memperlihatkan kepada generasi berikutnya bagaimana akhir konflik terbesar abad ke-20 benar-benar terjadi dengan cara yang hidup dan otentik.


Sumber :
www.archive.org

Wednesday, December 10, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 747 - 4 Januari 1945


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 747 - 4 Januari 1945 :

00:29 - Perayaan titik balik matahari musim dingin oleh pemuda-pemudi Hitlerjugend.
01:08 - Latihan para Gebirgsjäger muda di gunung yang tertutupi salju.
01:57 - Misi tempur Hans-Ulrich Rudel dalam menghadapi tank-tank Soviet.
02:35 - Situasi pertempuran terkini di Hungaria antara sungai Donau dan danau Balaton.
03:20 - Dimulainya Operasi "Wacht am Rhein" (Ofensif Ardennes / Battle of the Bulge).
05:10 - Perwira SS Josef Diefenthal bersama dengan pasukan Fallschirmjäger.
07:05 - Sepp Dietrich menginspeksi pasukannya.
09:23 - Walter Model bersama dengan para prajuritnya.



Sumber :
Bundesarchiv via XX History Footage
www.archive.org

Tuesday, December 9, 2025

Wawancara di Front Oder (1945)


Setelah Tentara Merah menembus pertahanan Jerman di Sungai Vistula pada bulan Januari 1945, pasukan Soviet pertama mencapai Sungai Oder, garis pertahanan alami terakhir sebelum Berlin, pada akhir bulan tersebut. Pada bulan Februari, sebagian besar pasukan utama Soviet telah tiba di sana. Mereka berhenti untuk sementara dan tidak melanjutkan serangan melintasi Sungai Oder (kecuali beberapa pangkalan jembatan), karena memfokuskan diri untuk mengamankan bagian sayap mereka yang membentang sampai Silesia, Prusia Timur, dan Pommerania.  

Pada awalnya, pihak bertahan Jerman hampir tidak memiliki unit terpadu di wilayah tersebut, dan selama dua bulan berikutnya, hampir semua senjata baru dan yang telah diperbaiki, termasuk tank dan pesawat, dikirim ke front Oder, sementara unit-unit baru dikirim dengan terburu-buru ke sana.

Namun pasukan Wehrmacht telah berdarah-darah setelah berperang nonstop selama bertahun-tahun, dan saat serangan Soviet akhirnya dilancarkan, pihak penyerbu dengan mudah menyeberangi sungai Oder, dan kemudian melanjutkan serangan pamungkas mereka menuju Berlin di pertengahan bulan April 1945. 

Pada bulan Februari dan Maret 1945. kriegsberichter (reporter perang Jerman) berkali-kali mengunjungi front Oder untuk merekam film serta foto untuk kepentingan propaganda tanah air.

Video koleksi Bundesarchiv berikut ini berisi rekaman propaganda Jerman yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, yang diambil dari garis depan di dekat kota Frankfurt. Di dalamnya terdapat adegan wawancara dengan dua orang prajurit Jerman di parit pertahanan mereka, interogasi terhadap seorang prajurit Soviet yang membelot, serta wawancara dengan komandan batalyon berpangkat Hauptmann (Kapten) tentang persiapan pertahanan di sepanjang tepi sungai Oder. 



Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Monday, December 8, 2025

Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) No. 728 - 17 Agustus 1944


Die Deutsche Wochenschau (Berita Mingguan Jerman) adalah judul dari seri film berita terpadu yang dirilis di bioskop-bioskop Jerman Nazi dari bulan Juni 1940 hingga akhir Perang Dunia II, dengan edisi terakhir yang diterbitkan pada tanggal 22 Maret 1945. Produksi film berita yang terkoordinasi ini dibuat sebagai instrumen penting untuk distribusi massal propaganda Nazi di masa perang.

Isi dari Die Deutsche Wochenschau No. 728 - 17 Agustus 1944 :

00:45 - Pemuda-pemudi Hitlerjugend membantu memanen hasil pertanian.
01:45 - Peran para nelayan Jerman dalam membantu usaha perang melalui pekerjaan mereka.
03:14 - Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuz kepada dua nelayan berprestasi.
03:43 - Pertunjukan pantomim humor untuk para prajurit yang terluka.
04:54 - Situasi pertempuran terkini di Italia utara.
07:11 - Situasi pertempuran terkini di sektor utara Front Timur.
07:11 - Pesawat-pesawat serang-darat Luftwaffe bergerak untuk menyerang tank Soviet.
07:36 - Jenderal Hans Seidemann berdiskusi dengan jagoan Stuka Hans-Ulrich Rudel.
08:22 - Aksi pasukan Grenadier Jerman dalam melawan musuh.
09:52 - Situasi pertempuran terkini di Normandia.
09:57 - Upacara Ritterkreuz untuk Wilhelm Mohnke dan Karl-Heinz Prinz dari Divisi SS Hitlerjugend.
10:18 - Penyergapan konvoy Inggris oleh pasukan Jerman.
11:07 - Pentargetan dan penghancuran sasaran musuh oleh artileri berat Jerman.



Sumber :
Bundesarchiv via German WWII Archive
www.archive.org

Sunday, December 7, 2025

Cuplikan Terbaik Film 'Master and Commander: The Far Side of the World' (2003)


Master and Commander: The Far Side of the World (2003) adalah film petualangan epik berlatar era Perang Napoleon yang disutradarai Peter Weir dan dibintangi Russell Crowe sebagai Kapten Jack Aubrey, pemimpin kapal perang HMS Surprise, serta Paul Bettany sebagai dokter kapal sekaligus naturalis, Stephen Maturin. Film ini mengikuti pengejaran sengit terhadap fregat perang Prancis Acheron di Samudra Atlantik dan Pasifik, menampilkan detail kehidupan laut yang autentik, taktik pertempuran kapal layar, serta dinamika persahabatan dan konflik antara Aubrey dan Maturin. Dengan sinematografi menawan, desain produksi yang teliti, serta musik yang kuat, film ini dipuji sebagai salah satu representasi terbaik kehidupan angkatan laut abad ke-19 dan mendapatkan sepuluh nominasi Academy Awards, memenangkan dua di antaranya.


PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KAPAL PRANCIS 'ACHERON'


AMPUTASI DI ATAS KAPAL


OPERASI OTAK MENGGUNAKAN KOIN


MINIATUR KAPAL ACHERON


MENGENANG LORD HORATIO NELSON


PERTEMUAN KEDUA DENGAN ACHERON


BERBALIK MENGEJAR ACHERON


KUE GALAPAGOS DAN LAGU "DON'T FORGET YOUR OLD SHIPMATE"


KISAH TRAGIS BUNUH DIRINYA HOLLOM


DOKTER MENGOPERASI DIRINYA SENDIRI


TIDAK SENGAJA MEMERGOKI ACHERON DI PULAU GALAPAGOS


MENGKAMUFLASE DIRI DEMI PERTEMPURAN PAMUNGKAS


PERANG LAUT HMS SURPRISE (INGGRIS) VS ACHERON (PRANCIS)


ENDING

Sunday, November 30, 2025

Aksi Kapal Perang Jerman dalam Blokade Terhadap Inggris (1941)


Pada bulan Maret–April 1941, laut Atlantik Utara kembali menjadi panggung dari aksi dramatis armada permukaan Jerman dalam upaya memperketat blokade terhadap Inggris, terutama melalui operasi jelajah kapal tempur cepat Scharnhorst dan Gneisenau yang memburu jalur logistik vital Sekutu. Dalam salah satu episode paling menonjol, Gneisenau berhasil merampas kapal penumpang Norwegia Bianca (Oslo) yang berlayar di bawah kendali Sekutu. Sepanjang pelayaran ini, skuadron Jerman beberapa kali berkoordinasi secara langsung dengan U-boat Kriegsmarine di tengah samudra, menciptakan jaring pemburu mematikan bagi konvoi Inggris. Sejumlah kapal dagang Inggris - yang telah dipersenjatai untuk menghadapi ancaman serangan kapal selam dan kapal permukaan Jerman - berhasil ditenggelamkan setelah perlawanan singkat, sementara para awak yang selamat diangkat dari laut dan diambil sebagai tawanan perang.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No.557 - 7 Mei 1941

Seragam Hussar

 JERMAN

Hans-Joachim von Zieten (1699-1786) adalah salah satu komandan kavaleri paling legendaris dalam sejarah militer Prusia, yang namanya identik dengan ketangkasan, disiplin baja, dan serangan kilat yang menghancurkan musuh. Terlahir dari keluarga bangsawan kecil di Brandenburg, Zieten sempat diremehkan di awal kariernya karena posturnya yang kecil dan sifat keras kepalanya. Ia bahkan pernah diskors dari dinas militer, sebelum akhirnya justru membuktikan kemampuan dirinya sebagai seorang jenius perang di bawah kepemimpinan Raja Friedrich Agung. Sebagai komandan resimen hussar, ia terkenal karena taktik pengintaian cepat, serangan kilat, dan kemampuannya mengeksploitasi kelemahan musuh dalam Perang Silesia dan Perang Tujuh Tahun, terutama dalam pertempuran besar seperti Leuthen dan Torgau. Keberaniannya begitu dihormati hingga para prajurit menyebutnya “Zieten aus dem Busch” (Si Zieten dari Semak-Semak), karena kemunculannya yang selalu tiba-tiba dari balik medan hingga musuh nyaris tak sempat bereaksi.


Foto ini memperlihatkan kunjungan Kaiser Jerman Wilhelm II ke markas 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1 di Danzig-Langfuhr, yang berlangsung di tahun 1912. Sang Kaisar berdiri di depan pintu, seperti biasa berpose dengan menekuk lengan kirinya yang berukuran lebih pendek dari lengan kanan. Di belakangnya berdiri Jenderal August von Mackensen, panglima pasukan kavaleri, sementara di samping kanan Kaisar adalah Kronprinz (Putra Mahkota) - yang sama-sama bernama Wilhelm - yang merupakan komandan dari 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1. Dua orang gadis yang berdiri di tengah adalah, dari kiri ke kanan: putri sang Kaisar Prinzessin Viktoria Louise - yang merupakan perwira tituler Totenkopfhusaren - serta istri dari Kronprinz Wilhelm yang bernama Cecilie. Kaiserliche Armee (Angkatan bersenjata Kekaisaran Jerman) sendiri dilengkapi oleh tiga unit Hussar setingkat resimen, yaitu 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1 dan Nr. 2 yang bermarkas di Danzig serta Braunschweigisches Husaren-Regiment Nr. 17 yang bermarkas di Brunswick. Simbol totenkopf (tengkorak) yang dikenakan oleh anggota-anggota unit Hussar ini kemudian ditiru oleh satuan SS (Schutzstaffel) dan sebagian resimen kavaleri Wehrmacht di era Nazi Jerman. BTW, Kaiser Wilhelm sengaja "mengusir" anak tertuanya untuk memimpin unit kavaleri di wilayah perbatasan demi untuk meredam kehebohan akibat serangkaian skandal perselingkuhan yang dilakukan oleh Kronprinz Wilhelm di Berlin!

---------------------------------------------------------------------------------------

INGGRIS

Charles William Vane, Marquess of Londonderry ke-3, KG, GCB, GCH, PC (lahir dengan nama Stewart; 1778-1854), adalah seorang bangsawan Anglo-Irlandia, tentara, dan politikus. Ia bertugas dalam Perang Revolusi Prancis, penumpasan Pemberontakan Irlandia 1798, dan Perang Napoleon. Ia menonjol sebagai seorang komandan kavaleri dalam Perang Semenanjung (1807–1814) di bawah Sir John Moore dan Duke of Wellington. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya di bawah Wellington pada 1812, saudara tirinya Lord Castlereagh membantunya untuk memulai karier baru di bidang diplomatik. Stewart ditugaskan ke Berlin pada 1813, lalu menjadi duta besar di Austria, di mana Castlereagh menjadi utusan Inggris dalam Kongres Wina. Ia menikahi Lady Catherine Bligh pada 1804 dan kemudian, pada 1819, Lady Frances Vane-Tempest, seorang pewaris kaya, lalu mengubah nama belakangnya mengikuti nama istrinya, sehingga menjadi Charles Vane. Pada tahun 1822, ia menggantikan saudara tirinya sebagai Marquess of Londonderry ke-3, mewarisi tanah-tanah di utara Irlandia, di mana reputasinya menjadi buruk karena dikenal sebagai seorang tuan tanah yang tak kenal ampun selama berlangsungnya Kelaparan Besar. Reputasi yang sama juga tercermin dalam perannya sebagai seorang pengusaha tambang batu bara di tanah istrinya di County Durham, dimana ia menentang keras Undang-Undang Tambang yang baru pada tahun 1842, dan bersikeras atas haknya untuk terus menggunakan tenaga kerja anak-anak.


Henry William Paget, 1st Marquess of Anglesey (1768-1854) adalah salah satu jenderal Inggris paling flamboyan di era Perang Napoleon—seorang bangsawan, penunggang kuda ulung, sekaligus pemilik salah satu kaki paling terkenal dalam sejarah militer! Ia mencapai puncak ketenaran sebagai komandan kavaleri Sekutu di Pertempuran Waterloo (1815), di mana manuver cepat dan agresifnya membantu menekan sayap Prancis, meski kariernya di medan tempur ditutup secara dramatis ketika sebuah peluru meriam menghancurkan kaki kanannya; konon ia menanggapi kehancuran kakinya dengan kalem khas aristokrat, “Demi Tuhan, Tuan, sepertinya kaki saya kena.” Kaki tersebut bahkan dimakamkan secara terpisah dan menjadi objek wisata lokal di Waterloo, bertahun-tahun setelah pertempurannya sendiri berakhir - sebuah detail yang aneh tapi nyata! Di luar medan perang, Paget juga dikenal karena kehidupan pribadinya yang penuh skandal dan pesona sosial, namun reputasi militernya tetap kokoh: seorang komandan kavaleri yang berani, energik, dan efektif, yang meninggalkan jejak unik dalam sejarah Inggris—baik di arsip perang maupun di bawah tanah Waterloo.


Pangeran Albert (1819-1861), suami Ratu Victoria, mengenakan seragam resimennya sendiri (11th Hussars), yang ikut berpartisipasi dalam "The Charge of the Light Brigade" (Serangan Brigade Ringan) yang terkenal. Ia dianugerahi kehormatan untuk boleh mengenakan celana merah marun untuk 11th Light Dragoons, setelah unit ini menjadi pengawal dalam pernikahannya dengan Ratu Victoria pada tahun 1840 (merah marun adalah warna seragam pribadinya). Pangeran Albert juga ditunjuk sebagai Kolonel Kehormatan resimen kavaleri ringan tersebut, yang kemudian berganti nama menjadi 11th Prince Albert's Own Hussars setelah kematian sang pangeran pada tahun 1861.


Foto dari Foto Cornet Henry John Wilkin yang sedang menunggang kuda dengan posisi menghadap ke kanan sebagian (1855). Ia mengenakan seragam militer lengkap dari resimennya, 11th Hussars, termasuk topi beruang dengan bulu hias. Tangan kanannya bertumpu pada pinggangnya, sementara tangan kirinya memegang tali kekang. Di sebelah kanan terdapat tenda, dan di belakang terlihat lereng bukit. Cornet Wilkin bertugas sebagai Dokter Bantu di Resimen 11th Hussars selama berlangsungnya Perang Krimea (1853-1856). Ia ikut serta dalam "The Charge of the Light Brigade" (Serangan Brigade Ringan) yang terkenal, yang merupakan bagian dari Pertempuran Balaclava. Sebagai seorang dokter bedah, ia tidak diharapkan untuk ikut menyerang bersama dengan regunya, namun ia tetap melakukannya. Wilkin bertugas di Krimea dari pendaratan pertama hingga akhir perang, dan kemudian bertugas bersama Resimen ke-7 Hussars di India, di mana ia terluka parah dalam pertempuran di Lucknow pada tahun 1857.



Pada tahun 1895, di usia 21 tahun, Winston Churchill memperoleh pangkat pertamanya—Cornet (setara dengan Letnan Dua), di 4th Queen’s Own Hussars Regiment, sebuah resimen kavaleri ringan Angkatan Darat Inggris. Tahap awal karier militernya ini sangat krusial: ia mulai mengenal dinas militer aktif, perjalanan ke luar negeri, peperangan, dan wawasan politik yang kemudian membentuk karakternya saat setelah menjadi politisi dan negarawan. Churchill lulus dari Royal Military College di Sandhurst pada tahun yang sama (1895), setelah hampir tidak diterima meskipun beberapa kali mencoba. Baru beberapa waktu ditugaskan, ia sudah mencari kesempatan untuk merasakan kancah pertempuran dan menonjolkan dirinya, baik sebagai prajurit maupun sebagai penulis. Ambisi besar untuk mengukir nama bagi dirinya sendiri sudah terukir jelas dari dini.

---------------------------------------------------------------------------------------

PRANCIS


Antoine-Charles-Louis, Comte de Lasalle (1775-1809) adalah adalah salah satu jenderal kavaleri paling legendaris dan flamboyan dalam Perang Napoleon, yang dikenal karena keberanian cenderung nekatnya, gaya hidupnya yang identik dengan miras dan duel, serta semboyannya yang terkenal, “Seorang hussar yang tidak mati sebelum usia tiga puluh adalah bajingan,” yang ironisnya menjadi nubuat bagi dirinya sendiri. Lasalle meniti karier militer sejak masa Revolusi Prancis, dan menjelma sebagai komandan kavaleri ringan yang sangat ditakuti musuh karena pola serangan kilatnya yang agresif dan penuh keberanian, khususnya dalam perang melawan Austria dan Prusia. Ia menorehkan prestasi besar dalam pertempuran Austerlitz (1805) dan kampanye militer di Prusia (1806), di mana keberanian pasukan hussar yang dipimpinnya sering kali menjadi penentu dalam pertempuran. Kepribadiannya yang karismatik, temperamental, kontroversial tapi sangat setia pada Napoleon membuatnya dicintai pasukan dan dihormati oleh para jenderal lain. Namun, sesuai nasib yang seakan dipilihnya sendiri, Lasalle gugur pada usia 34 tahun dalam Pertempuran Wagram (1809). Pada hari kedua pertempuran besar melawan Austria tersebut, Lasalle memimpin serangan kavaleri dengan keberanian khasnya, menerjang hujan peluru di dataran Marchfeld untuk memecah formasi musuh dan menyelamatkan infanteri Prancis yang sedang tertekan. Di tengah kekacauan pertempuran, ketika ia sedang memimpin langsung anak buahnya di garis depan, sebuah bola meriam menghantamnya, menewaskannya seketika di atas pelana kuda. Kabar kematiannya mengguncang tentara Prancis, bahkan Napoleon sendiri sangat terpukul telah kehilangan salah satu komandan kavalerinya yang paling berani dan karismatik.



Joachim Murat (1767-1815) adalah salah satu tokoh paling menarik dan kontroversial dalam era Perang Napoleon, yang terkenal bukan hanya karena keberaniannya yang luar biasa di medan tempur, tetapi juga karena penampilannya yang mencolok dengan seragam hussar (kavaleri ringan) yang dipenuhi bulu, emas, dan warna-warna mencolok. Lahir dari keluarga Prancis sederhana, Murat naik ke puncak kekuasaan berkat bakat militernya yang brilian dan pernikahannya dengan Caroline Bonaparte, adik Napoleon, yang menjadikannya bagian inti dari dinasti kekaisaran. Sebagai komandan kavaleri, ia memainkan peran krusial dalam kemenangan-kemenangan besar seperti Austerlitz, Jena, dan Eylau, di mana serangan kavaleri massal yang ia pimpin sering kali memecah garis musuh dan menentukan arah pertempuran. Pada 1808 ia diangkat menjadi Raja Napoli, namun kesetiaannya yang goyah terhadap Napoleon pada tahun-tahun terakhir Kekaisaran berujung pada kejatuhannya sendiri. Setelah kekalahan Napoleon, Murat ditangkap oleh pasukan Bourbon dan dieksekusi oleh regu tembak pada tahun 1815. Detik-detik menjelang hukuman mati, ia menolak untuk mengenakan penutup mata dan dengan tenang memberikan perintah terakhir kepada regu tembak, yang sebagian adalah mantan anak buahnya: “Rekan-rekan, bila kalian masih menghargaiku, maka bidik jantungku tapi jangan wajahku... Tembak!” sebuah kalimat yang kemudian menjadi legenda.

---------------------------------------------------------------------------------------

RUSIA


Evgraf Davydov (1775-1823)  adalah salah satu tokoh kavaleri Rusia paling menarik pada era Perang Napoleon, seorang perwira karismatik dari Resimen Kirasir yang dikenal disiplin kerasnya, keberanian spontan, dan naluri taktis yang tajam. Lahir dari keluarga bangsawan militer, Davydov tampil menonjol dalam berbagai kampanye militer besar Kekaisaran Rusia, terutama pada perang 1805–1814, di mana ia berkali-kali memimpin serangan kavaleri berat yang menjadi penentu dalam memecah formasi musuh. Ia tampil gemilang di Austerlitz, Friedland, dan terutama selama Invasi Prancis ke Rusia tahun 1812, saat pasukan yang dipimpinnya berulang kali menghantam korps kavaleri Prancis dalam pertempuran sengit di Smolensk dan Borodino. Sosoknya juga sering dikaitkan dengan semangat perlawanan Rusia, karena hubungannya dengan sang sepupu terkenal, penyair-gerilyawan Denis Davydov. Begitu sengit dan beraninya Davydov dalam medan pertempuran, sehingga dia harus kehilangan lengan kanan dan kaki kirinya akibat luka parah yang membuatnya diamputasi, tapi tetap memutuskan untuk tetap aktif di militer sampai dengan kematiannya di tahun 1823!

---------------------------------------------------------------------------------------

SPANYOL


Raja Spanyol Alfonso XIII (1886-1841) dalam sebuah lukisan yang dibuat oleh Román Navarro pada tahun 1912 dan kini disimpan di Museo del Prado, Madrid. Sang Raja mengenakan seragam Resimen Hussar Pavia, sementara di lehernya tergantung medali Ordo Toisón de Oro. Tersemat di jaket dolmannya adalah Salib besar Ordo Carlos III, salib besar dan pita Mérito Militar dengan tanda merah, serta pita medali berisi 13 penghargaan lainnya. Alfonso sendiri diangkat menjadi raja pada saat kelahirannya. Ia bertahta dari tahun 1886 sampai 1931, saat ia meninggalkan negeri setelah Republik Spanyol Kedua di proklamasikan (meskipun tidak turun tahta). Ia lalu tinggal di Roma. Setelah Perang Saudara berakhir pada tahun 1939, Alfonso kembali ke negaranya dan menjadi raja sampai saat kematiannya di tahun 1941.


Sumber :
www.instagram.com
www.militarypaintings.blogspot.com

Divisi SS Leibstandarte dalam Fase Akhir kampanye militer Jerman di Yunani (1941)


Pada fase akhir invasi Jerman ke Yunani pada bulan April 1941, SS-Division (mot.) Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH) memainkan peran penting sebagai ujung tombak gerak maju di wilayah Yunani barat dan Peloponnese. Setelah menembus pertahanan Sekutu di Yunani tengah dan bergerak cepat melalui daerah pegunungan Phocis, unsur-unsur LSSAH mencapai wilayah sekitar Teluk Patras, dan di sana melakukan pertemuan simbolis dengan pasukan Italia yang sebelumnya tertahan di garis depan Albania–Yunani, termasuk satuan-satuan di bawah Jenderal Carlo Rossi. Pertemuan ini menandai berakhirnya peran dominan Italia di sektor tersebut serta peralihan penuh inisiatif operasi kepada Jerman (sekaligus menunjukkan kontras tajam antara kampanye militer Italia yang tersendat dari sejak 1940 dengan laju serbuan mekanis Jerman yang sangat cepat dalam hitungan minggu!).

Dengan jembatan-jembatan utama di Teluk Patras dan Teluk Korintus banyak yang telah dihancurkan oleh pasukan Sekutu yang mundur, LSSAH terpaksa melakukan penyeberangan improvisasi melintasi perairan Teluk Patras menggunakan feri, kapal nelayan, serta sarana angkut darurat yang direbut di pelabuhan-pelabuhan kecil. Setelah menyeberang, satuan-satuan Leibstandarte bergerak cepat memasuki Peloponnese, di mana mereka melakukan link-up dengan pasukan payung Fallschirmjäger yang sebelumnya diterjunkan untuk mengamankan titik-titik strategis, termasuk jalur-jalur pendekatan dan lapangan terbang penting. Koordinasi antara pasukan bermotor SS di darat dan pasukan lintas udara ini memungkinkan Jerman menutup hampir semua rute mundur Sekutu di semenanjung tersebut.

Tahap akhir operasi ditandai oleh pengejaran agresif terhadap pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang mundur tergesa-gesa menuju pelabuhan-pelabuhan evakuasi seperti Kalamata, Patras, dan Navplion. LSSAH, dengan mobilitas tinggi dan dukungan artileri serta unsur pengintai bermotor, terus menekan unit penjaga belakang Sekutu, memaksa mereka meninggalkan sejumlah besar kendaraan, persenjataan, dan perbekalan. Walaupun sebagian besar pasukan Inggris berhasil dievakuasi oleh Angkatan Laut Kerajaan, tekanan beruntun dari Leibstandarte dan satuan-satuan Jerman lainnya menyebabkan ribuan tentara Sekutu tertangkap di Peloponnese. Operasi ini menutup kampanye militer di Yunani dengan kemenangan cepat bagi Jerman, sekaligus mengukuhkan reputasi LSSAH sebagai satuan serbu elit yang efektif selain dari unit standar Heer (Angkatan Darat).


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Saturday, November 29, 2025

Kapal Selam Jepang dalam Perang Dunia II


Satuan kapal selam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun Sensuikan Butai) merupakan salah satu armada bawah laut paling inovatif namun juga paling kontroversial dalam Perang Dunia II, dengan strategi yang sangat berbeda dari Jerman dan Sekutu Barat. Jepang memandang kapal selam bukan terutama sebagai senjata perang dagang untuk menghancurkan logistik musuh, melainkan sebagai bagian dari armada tempur utama yang bertugas memburu kapal perang musuh, terutama kapal induk dan kapal perang Amerika Serikat. Sejak awal perang Pasifik, Jepang telah mengoperasikan puluhan tipe kapal selam dari kelas besar jarak jauh seperti I-class hingga kapal selam mini (Ko-hyōteki), yang digunakan dalam serangan mendadak di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Kapal selam Jepang terkenal memiliki jangkauan operasi yang sangat jauh—bahkan mampu beroperasi hingga pesisir Amerika dan Samudra Hindia—serta dilengkapi torpedo Type 95 berbasis oksigen murni yang sangat cepat dan mematikan.

Yang paling mengesankan secara teknis adalah kapal selam raksasa kelas I-400 (Sentoku), kapal selam terbesar di dunia hingga era nuklir, yang dirancang sebagai “kapal induk bawah laut” dengan kemampuan membawa tiga pesawat pengebom lipat Aichi M6A Seiran! Kapal ini dibuat untuk melancarkan serangan strategis kejutan terhadap target jauh seperti Terusan Panama, namun rencana tersebut tidak pernah terealisasi karena situasi perang yang keburu memburuk bagi Jepang pada tahun 1945. Selain itu, Jepang juga mengembangkan berbagai jenis kapal selam khusus: kapal selam pengintai, kapal selam pengangkut logistik untuk garnisun terpencil, hingga kapal selam pembawa senjata rahasia. Dalam praktiknya, kapal selam Jepang lebih sering digunakan untuk pengintaian, serangan terbatas terhadap kapal perang, serta misi pasokan ke pulau-pulau yang telah terisolasi oleh blokade Sekutu.

Pada tahap akhir perang, keterdesakan Jepang melahirkan senjata ekstrem berupa Kaiten, torpedo berawak yang dikendalikan pilot bunuh diri dari dalam, yang diluncurkan dari kapal selam induk. Kaiten digunakan dalam beberapa serangan terhadap armada Sekutu sejak tahun 1944, termasuk di perairan Filipina dan Okinawa, dengan hasil militer yang sangat terbatas tetapi korban jiwa yang besar di pihak Jepang. Selain Kaiten, Jepang juga mengoperasikan kapal selam mini untuk misi infiltrasi pelabuhan dan sabotase, meski efektivitasnya relatif rendah dibandingkan biaya dan risiko yang ditanggung awak.

Meskipun memiliki teknologi canggih dan awak yang terlatih, satuan kapal selam Jepang gagal memberikan dampak strategis besar seperti yang dicapai U-Boat Jerman di Atlantik. Kegagalan ini terutama disebabkan oleh doktrin yang keliru, kurangnya fokus pada perang logistik terhadap kapal pengangkut Sekutu, serta semakin unggulnya teknologi anti-kapal selam Amerika seperti radar, sonar, dan pengawalan konvoi terpadu. Pada akhir perang, lebih dari separuh armada kapal selam Jepang hancur bersama sebagian besar awaknya. Namun demikian, dalam sejarah perang laut, kapal selam Jepang tetap dikenang karena jangkauan operasinya yang luar biasa, desain inovatif seperti kelas I-400, serta penggunaan senjata ekstrem seperti Kaiten.


Sumber :
The World War II Foundation

Friday, November 28, 2025

Serangan Pasukan Parasut Dai Nippon ke Kilang Minyak Palembang (1942)


Serangan pasukan parasut Jepang ke kilang minyak Palembang pada bulan Februari 1942 merupakan salah satu operasi udara paling berani dalam kampanye penaklukan Hindia Belanda, dan dikenal sebagai bagian dari Operasi L untuk merebut sumber minyak vital di Sumatra.

Pada tanggal 14 Februari 1942, satuan lintas udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Teishin Shudan) diterjunkan langsung di sekitar kilang minyak Pladjoe (P1) dan Sungai Gerong (P2), fasilitas strategis milik Belanda yang menjadi jantung produksi bahan bakar di Asia Tenggara. Penerjunan ini direncanakan dengan sangat baik, dimana 425 prajurit dari Resimen Serbu Para ke-1 merebut landasan udara Palembang, sementara para penerjun payung dari Resimen Serbu Para ke-2 merebut kota dan kilang minyak pentingnya. Operasi ini juga mendapat dukungan serangan udara intensif, yang melumpuhkan pertahanan KNIL serta pesawat-pesawat Sekutu di sekitar Palembang. Meskipun pihak Belanda telah menyiapkan rencana bumi hangus dan berhasil merusak sebagian instalasi penting sebelum kilang jatuh ke tangan musuh, penerjunan pasukan dari udara benar-benar mengejutkan pertahanan setempat, karena merupakan operasi lintas udara besar pertama Jepang dalam Perang Dunia II.

Setelah pertempuran sengit melawan pasukan KNIL dan bantuan terbatas dari penerbang Sekutu, pasukan Jepang berhasil menguasai zona kilang dan jembatan-jembatan penting di Sungai Musi, lalu diperkuat oleh pendaratan pasukan laut beberapa hari kemudian. Kejatuhan Palembang bukan hanya mempercepat runtuhnya pertahanan Hindia Belanda di Sumatra, tetapi juga memberi Jepang akses langsung terhadap pasokan minyak yang sangat dibutuhkan untuk menopang mesin perangnya di Pasifik.


Sumber :
Look in the Past War Archives

Pertempuran Stettin dan Ritterkreuzträger Willy Schmückle (1945)


Pertempuran memperebutkan pangkal jembatan Stettin (Stettiner Brückenkopf) pada bulan Maret 1945 merupakan bagian penting dari ofensif besar Tentara Merah di wilayah Pomerania dan garis pertahanan terakhir Jerman di sepanjang Sungai Oder menjelang runtuhnya Reich Ketiga. Setelah keberhasilan Soviet menembus pertahanan Jerman dalam Operasi Pomerania Timur, pasukan Front Belorusia ke-2 di bawah Marsekal Konstantin Rokossovsky berupaya menguasai dan memperluas pangkal jembatan di tepi barat Oder guna membuka jalan langsung ke Stettin—pelabuhan strategis dan gerbang menuju Mecklenburg serta Berlin dari arah utara. Pangkal jembatan ini dipertahankan dengan gigih oleh unsur-unsur dari 3. Panzerarmee Jerman, sisa-sisa unit infanteri yang telah hancur, Volkssturm, artileri benteng, serta sejumlah kecil kendaraan lapis baja, yang bertempur dalam kondisi kekurangan amunisi dan logistik akibat serangan udara dan artileri Soviet yang berlangsung terus-menerus. Pertempuran berlangsung sengit di medan rawa, kanal, dan desa-desa yang hancur, dengan pertempuran infanteri jarak dekat dan serangan artileri berat yang menghancurkan garis pertahanan Jerman sedikit demi sedikit. Pada akhir Maret 1945, keunggulan mutlak Soviet dalam jumlah pasukan, tank, dan dukungan udara memaksa Jerman mundur, sehingga pangkal jembatan Stettin berhasil diamankan dan diperluas oleh Tentara Merah, membuka jalur langsung bagi penyerbuan terakhir ke wilayah Jerman utara dan mempercepat jatuhnya Stettin ke tangan Soviet pada bulan April 1945.

Dalam pertempuran ini, Fahnenjunker-Oberfeldwebel Willy Schmückle (Chef 6.Kompanie / II.Bataillon / Fahnenjunker-Regiment 1241 / Panzergrenadier-Division "Kurmark") dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 15 Maret 1945, sebagai penghargaan atas kepahlawanannya. Ketika situasi militer Jerman sudah hampir sepenuhnya runtuh di Stettin. Saat itu Schmückle, yang memimpin satuan tempur lapis baja dan infanteri improvisasi (Kampfgruppe), menonjol karena kepemimpinan langsung di garis depan, keberanian pribadi dalam menahan serangan tank dan infanteri Soviet yang berulang-ulang, serta kemampuannya mempertahankan posisi penting meskipun dalam kondisi kekurangan amunisi, bahan bakar, dan tanpa dukungan memadai. Dalam beberapa aksi, ia dilaporkan memimpin pertahanan jarak dekat, mengoordinasikan tembakan antitank, dan beberapa kali menggagalkan terobosan Soviet ke arah Stettin. Atas rangkaian aksi heroik tersebut, ia direkomendasikan oleh komando 3. Panzerarmee untuk mendapatkan Ritterkreuz, yang kemudian mendapat persetujuan dari OKW (Oberkommando der Wehrmacht).


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 755 - 22 Maret 1945