Monday, January 31, 2011

Major László Almásy (1895-1951), Indiana Jones Hungaria Yang Kehidupannya Kemudian Menjadi Inspirasi Film "The English Patient"!

László Almásy selalu dikenal sebagai seorang penjelajah dan petualang gurun yang tangguh. Tak pernah diketahui dia terlibat aktif dalam peperangan, meskipun mempunyai pangkat kemiliteran Jerman... Tapi tidak sampai foto ini ditemukan. Disini terlihat Almásy mengenakan seragam tropis Luftwaffe dan berdiri di depan sebuah plang nama bertulisan Arab dan Inggris. Katanya sih plang ini adanya di El-Alamein, yang nantinya menjadi penentu kekalahan pihak Axis di Afrika Utara


Cuplikan berita di koran "Daily Mails" terbitan 3 September 1932 yang memberitakan tentang kematian penjelajah yang juga bangsawan Inggris terkemuka, Sir Robert Clayton. Tragisnya, istrinya pun menyusul ke alam baka setahun kemudian karena kecelakaan pesawat yang misterius


László Almásy (duduk di tengah) dalam salah satu penjelajahan yang dilakukannya di gurun pasir Afrika


Patung setengah badan László Almásy di Musium Geografi Hungaria yang terletak di Érd. Patung ini dibuat oleh Béla Domonkos pada tahun 1995, sementara foto ini sendiri diambil tanggal 11 November 2005 oleh Léphaft Áron


Oleh : Alif Rafik Khan

László Ede Almásy de Zsadány et Törökszentmiklós adalah aristokrat, petualang, pemerhati sepeda motor, peneliti gurun, penerbang, pelacak dan prajurit Hungaria yang kisah kehidupannya kemudian menjadi dasar dari tokoh protagonis dalam novel keluaran tahun 1992 karya Michael Ondaatje berjudul The English Patient, dan juga film peraih oscar berjudul sama.

Almásy dilahirkan di Borostyánkő, Austro-Hungaria (sekarang bernama Bernstein im Burgenland di Austria) dari keluarga bangsawan terkemuka Hungaria. Ayahnya adalah seorang ahli ilmu hewan dan etnografi bernama György Almásy. Dari tahun 1911 sampai dengan 1914, Almásy muda mendapat pendidikan di sekolah Berrow yang terletak di sebuah rumah pribadi di Eastborne, Inggris, dimana dia diajar oleh Daniel Wheeler.

Selama berlangsungnya Perang Dunia I, Almásy mengabdi di pasukan udara kerajaan dan kekaisaran Austro-Hungaria.

Setelah perang usai, dia kembali ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya di Eastbourne Technical Institute. Dari bulan November 1921 sampai dengan Juni 1922 dia tinggal di alamat yang sama di Eastbourne, dimana dia merupakan salah satu pendiri dari Eastbourne Flying Club.

Almásy melanjutkan perjuangannya mendukung Raja Karl yang terbuang dari Austria selama masa-masa antar dua perang dunia. Dalam dua kesempatan bahkan Almásy ikut bersama-sama Karl ke Budapest, Hungaria, dimana sang raja di pengasingan tersebut berusaha untuk meraih mahkotanya kembali. Disinilah kemungkinan sang raja yang merasa berhutang budi telah menganugerahi gelar Count kepada Almásy walaupun tidak secara resmi (Almásy pun hanya menggunakan gelarnya di luar Hungaria demi menghindari kontroversi di negaranya sendiri).

Setelah tahun 1921, dia bekerja sebagai perwakilan perusahaan pembuat mobil Austria, Steyr Automobile, di Szombathely (Hungaria). Almásy juga sekaligus berprofesi ganda sebagai pembalap bagi perusahaannya dalam kompetisi-kompetisi balap mobil. Seakan masih belum cukup, dia juga mengorganisasi perjalanan berburu di Mesir bagi turis-turis Eropa yang datang berkunjung.

Pada tahun 1926, dalam perjalanan dari Mesir ke Sudan sepanjang sungai Nil, Almásy menjadi terpesona akan keindahan dan keliaran wilayah tersebut. Dia lalu kembali untuk menikmati petualangan dengan bermobil dan berburu hewan-hewan yang ada disana. Sebagai seorang petualang sejati, Almásy mampu mendemonstrasikan ketahanan kendaraan Steyr dalam kondisi gurun yang tidak bersahabat di tahun 1929 dengan hanya bermodalkan dua buah truk Steyr, sekaligus memimpin ekspedisi pertama ke daerah padang pasir gersang tersebut.

Pada tahun 1932 Almásy kembali menjelajahi gurun dalam misi mencari Zerzura yang legendaris, yang dijuluki sebagai "Oasis Burung-Burung". Bersamanya ikut tiga orang Inggris, Sir Robert Clayton, pemimpin skuadron H.W.G.J. Penderel dan Patrick Clayton. Mereka semua didanai oleh Pangeran kemal el Din, dan ekspedisi tersebut digarap dengan begitu seriusnya karena dilengkapi oleh kendaraan bermotor dan pesawat terbang. Para anggota ekspedisi membuat katalog situs-situs batu seni pra-sejarah, termasuk Gua Perenang di Uweinat dan Gilf Kebir. Tempat ini telah lama diketahui oleh suku-suku Badui pengembara setempat, yang menghindari untuk masuk lebih jauh ke dalamnya tapi kadang datang untuk menyimpan ternaknya. Pada tahun 1933 Almásy mengklaim bahwa dia telah menemukan lembah Zerzura ketiga di Wadi Talh.

Kini Almásy telah berubah dari seorang peneliti otodidak menjadi penjelajah yang berpengalaman. Dia bahkan diberi julukan sebagai Abu Ramla (Bapak Pasir) oleh kawan-kawan Baduynya! Sayangnya, pertengahan tahun 1930-an juga menandai mulai berakhirnya era penelitian dan penjelajahan gurun.

Pada tahun 1932, mantan donatur Almásy yang bernama Clayton meninggal dunia. Dia berpulang bukan karena kecelakaan pesawat seperti yang digambarkan di film "The English Patient", melainkan karena infeksi dari lalat gurun yang didapatnya di wilayah Gilf Kebir. Misteriusnya, janda Clayton meninggal setahun kemudian (1933) dalam kecelakaan pesawat terbang yang penyebabnya masih belum diketahui sampai sekarang!

Pada tahun 1934 atau 1935, Almásy dan rekan sejawatnya, Hansjoachim von der Esch, tercatat dalam sejarah sebagai orang Eropa pertama yang menjalin kontak dengan suku Magyarab, yang berbahasa Arab tapi dipercaya sebagai leluhur wanita-wanita Nubia dan prajurit Hungaria yang mengabdi di angkatan bersenjata Turki Usmani pada abad ke-16.

Almásy mencatat beberapa petualangannya dalam sebuah buku yang kemudian diterbitkan tahun 1934 di Budapest dengan judul Az ismeretlen Szahara (Sahara Yang Tak Diketahui). versi bahasa Inggrisnya dikasih nama The Unknown Sahara, sementara versi Jermannya Unbekannte Sahara. Mit Flugzeug und Auto in der Libyschen Wüste (Sahara Yang Tak Diketahui. Dengan Pesawat Terbang dan Mobil Di Gurun Libya) diterbitkan lima tahun kemudian (1939) oleh Brockhaus di Leipzig. Buku tersebut berisi penemuan-penemuannya yang paling sensasional, seperti misalnya Jebel Uweinat (gunung tertinggi di gurun Sahara Timur), juga lukisan batu di Gilf Kebir dan oasis Zerzura yang hilang.

Sebenarnyalah, peran Almásy dalam hal penemuan di Gilf Kebir bukanlah sebagai orang yang menemukannya. Orang-orang Baduy telah lama mengetahui gua tersebut, dan menganggap bahwa lukisan-lukisan yang ada disana sebagai hasil buah tangan jin atau roh-roh halus! Pangeran Mesir Kemal ed Din lalu menulis artikel tentang Gilf Kebir untuk majalah National Geographic pada tahun 1921. Yang Almásy lakukan hanyalah membuat peta, memasuki setiap gua dan menggambar ulang lukisan-lukisan yang terdapat di dalamnya.

Pada tahun 1935 Almásy telah berjasa menyediakan data-data intelijen bagi Marsekal Italia Italo Balbo berkaitan dengan kemungkinan gerak maju ke Mesir dan Sudan melalui wilayah Afrika Utara yang dikuasai Italia (Africa Settentrionale Italiana, atau ASI). Hal ini dilakukannya selama berlangsungnya krisis Ethiopia dan Balbo saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal ASI.

Dalam tahun-tahun selanjutnya, Almásy memimpin begitu banyak ekspedisi arkeologis dan etnografis bersama ahli etnografi Jerman terkemuka Leo Frobenius. Dia juga bekerja di lapangan udara Al Maza di Mesir sebagai instruktur penerbangan.

Ketika Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, Almásy mau tidak mau harus kembali ke negaranya. Pihak Inggris mencurigai kalau dia adalah seorang mata-mata Italia - dan vice versa (begitu juga sebaliknya). Pada kenyataannya, dia hanyalah seorang warga negara Hungaria yang akan bekerja untuk pihak kolonial mana saja yang mampu memberinya kontrak survey terbesar dan terbaik. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 20 November 1940, Hungaria secara formal bergabung dengan pihak Axis setelah menandatangani Tripartite Pact.

Dinas Intelijen Militer Jerman (Abwehr) lalu merekrut Almásy di Budapest. Sebagai seorang mantan perwira cadangan Hungaria, dia lalu dialihtugaskan ke Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) dengan pangkat Kapten (Hauptmann) dan lalu diterjunkan bersama Deutsche Afrikakorps di medan perang Afrika Utara. Pada tahun 1941 dan 1942 dia menggunakan segenap kemampuan padang pasirnya untuk membantu Erwin Rommel dalam mewujudkan mimpinya menguasai Mesir. Selama berlangsungnya "Operasi Salaam", Almásy bertugas untuk menyelundupkan dua orang mata-mata Jerman jauh melintasi garis pertahanan musuh (dalam pola yang sama yang dilakukan oleh Long Range Desert Group milik Sekutu). "Operasi Salaam" ini sendiri bukanlah sebuah operasi komando atau operasi rahasia, karena Almásy dan timnya memakai seragam militer Jerman resmi. Mereka juga menggunakan kendaraan-kendaraan buatan Amerika dan sebuah truk dengan lambang Balkenkreuz (Salib simbol militer Jerman) yang secara diam-diam dimasukkan sebagai bagian dari pola kamuflase kendaraan tersebut. Almásy berhasil melaksanakan misinya dan kedua mata-mata Abwehr tersebut, Johannes Eppler dan operator radionya Hans-Gerd Sandstede, sukses masuk ke Kairo. Tentu saja prestasi ini pantas diberi imbalan, dan Rommel pun langsung menaikkan pangkat Almásy menjadi Major sekaligus menganugerahinya dengan Eisernes Kreuz (Salib baja).

Di akhir tahun 1944, Almásy terlibat dalam "Operasi Dora". Sekarang Hilangkan pikiran mesum anda dari film "Dora The Explorer", karena ini sebenarnya adalah operasi intelijen berbasis di Yunani dengan tujuan untuk menyiapkan sebuah pangkalan di sebuah landasan udara bekas Italia yang terbengkalai di gurun pasir Libya. Pangkalan tersebut rencananya akan digunakan untuk tempat infiltrasi agen-agen Jerman ke Afrika Utara demi membuat sebuah "pos pendengar". Bahkan di akhir perang dimana kekuatan Sekutu sudah merajalela, Almásy tetap membuktikan ketangguhan gurunnya yang tiada dua, dan operasi ini pun nyaris berhasil.

Setelah kampanye di Afrika Utara berakhir, Almásy dipindahtugaskan ke Turki dimana dia terlibat dalam rencana untuk mengobarkan pemberontakan di Mesir yang tidak pernah terealisasi. Dia lalu kembali ke Budapest. Disinilah, dengan bantuan kontaknya di Gereja Katolik Roma, dia mampu menyelamatkan nyawa beberapa keluarga Yahudi dari tangkapan pihak pendudukan Nazi.

Setelah perang usai, dia ditangkap di Hungaria dan dimasukkan ke penjara Soviet. Setelah pihak komunis menguasai Hungaria, Almásy diajukan ke Pengadilan Rakyat Komunis dan didakwa sebagai pengkhianat. Tapi kemudian Almásy mampu lolos dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dan dibebaskan. Dia memutuskan untuk keluar dari negaranya, dan usahanya ini berhasil setelah mendapatkan pertolongan berulang kali dari intelijen Inggris yang dilaporkan telah menyogok para pejabat komunis Hungaria demi mengusahakan pembebasannya. Uang sogokan itu sendiri ternyata dibayar oleh Alaeddin Moukhtar, sepupu Raja Farouk dari Mesir.

Setelah bebas, pihak Inggris lalu memasukkannya ke Austria yang saat itu dikuasai Inggris dengan menggunakan paspor palsu bernama Josef Grossman. Dia dikawal oleh agen M16 bernama Ronnie Waring, yang nantinya dikenal sebagai Duke of Valderano. Pihak Soviet yang kebakaran jenggot karena mengetahui tahanannya yang berharga telah melarikan diri lalu membentuk "tim pembersih" yang anggota-anggotanya diambil dari KGB (Komityet Gosudarstvennoy Bezopasnosty atau Komite Keamanan Negara). Mengetahui hal tersebut, Inggris buru-buru menempatkannya dalam pesawat terbang dengan tujuan Kairo, dimana kemudian Almásy bertemu dengan seorang agen M16 dan Moukhtar yang telah menolongnya.

Almásy kembali ke Inggris sekaligus atas undangan dari raja Farouk dan menjadi direktur teknis dari Desert Research Institute yang baru didirikan (yang kini bermarkas di Distrik Al-Matariyyah di Kairo).

Dalam kunjungan ke Austria tahun 1951, Almásy mendadak sakit. Dia kemudian meninggal karena disentri di sebuah rumah sakit di Salzburg tanggal 22 Maret 1951. Disini pula dia dikebumikan. Efitaf di batu nisannya, yang dipahat oleh para patriot Hungaria di tahun 1995, berbunyi: "Pilot, Saharaforscher und Entdecker der Oase Zarzura" (Pilot, Penjelajah Sahara, dan Penemu Oasis Zerzura).

Sisi lain dari Almásy
Dari awal dia adalah anggota dari gerakan Pramuka/kepanduan. Pada tahun 1921 dia menjadi Komisioner Internasional untuk Asosiasi kepanduan Hungaria. Bersama dengan Count Pál Teleki, dia ikut ambil bagian dalam mengorganisasi Jambore Pandu Dunia ke-4 di Gödöllő, Hungaria, dimana Almásy kemudian mempersembahkan unit Pandu Udara kepada Robert Baden-Powell tanggal 9 Agustus 1933.

Sebuah tulisan karya Almásy yang ditemukan pada tahun 2010 di jerman kemudian menyingkap sebuah fakta mengejutkan: Tidak seperti yang digambarkan dalam karakter fiksi di film The English Patient, Almásy sebenarnya adalah seorang homoseksual alias gay alias maho alias maju kena mundur kena alias AC/DC alias depan bisa belakang bisa alias penggemar bo'ol! Kekasihnya adalah seorang perwira muda Wehrmacht Jerman bernama Hans Entholt yang kemudian menemui ajalnya setelah menginjak ranjau darat. Seorang anggota staff dari Heinrich Barth Institute for African Studies (dimana surat tersebut berasal) juga mengkonfirmasikan bahwa "para pangeran Mesir adalah salah satu di antara kekasih-kekasih Almásy"! Surat tersebut juga mengkonfirmasi bahwa László Almásy meninggal akibat disentri amuba tahun 1951.


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.matroski.blogspot.com



No comments:

Post a Comment