Friday, January 28, 2011

Maskapai Penerbangan Jerman Lufthansa Pada Masa Pra Perang Dunia II

Ha 139 di atas Flores, Azores, tahun 1937


Ha 139 di atas New York


Ha 139 mendarat di perairan New York (1937)


Ada yang pernah melihat lambang ini? Tampaknya sebuah gambar yang dicat di badan pesawat bersayap ganda (biplane). Tak ada tanggal di belakang fotonya, hanya tulisan "Abzeichen eines Flugzeuges einer Bayerischen Fliegerabteilung" (Lencana dari sebuah pesawat yang berasal dari unit Bavaria)


Fokker-Grulich F.II D-767 'Ruhr' (w/n 1589). Pesawat ini mulai bertugas di Deutche Lufthansa bulan Januari 1926. Di foto atas tampak dia sedang menyebarkan insektisida


Junkers G 24 D-949 'Dyonysos' (w/n 917). Pesawat ini mulai bertugas di Deutche Lufthansa tahun 1920-an. Dia diregister ulang sebagai D-ANIK tahun 1934


Perawatan harian sebuah Junkers Ju 52/3m


Jumo schwerölmotor (mesin diesel) sedang dipasangkan ke sebuah Junkers Ju 52/3m. Ini kemungkinan merupakan eksperimen belaka, karena biasanya pesawat jenis ini bermesin radial Hornet BMW


Perawatan salah satu dari empat mesin Junkers G 38. Kemungkinan besar foto ini diambil di Tempelhof di awal tahun 1930-an


Dornier Do 26 D-AGNT 'Seeadler' (Elang Laut), sebuah pesawat apung yang indah dengan empat buah mesin diesel Jumo 205 - dua menghadap ke depan dan dua lagi ke belakang. Mesin belakang dapat dimiringkan sampai dengan 10° demi mencegah propeler kemasukan air saat tinggal landas. Enam buah pesawat jenis ini dibangun pada tahun 1938, dan kesemuanya nantinya digunakan oleh Luftwaffe di medan fjords Norwegia selama berlangsungnya Perang Dunia II. D-AGNT sendiri (yang dikenal dalam peran militernya sebagai P5+AH), kemudian ditembak jatuh oleh pesawat Hurricane Inggris dari 46 Squadron tanggal 28 Mei 1940



Dornier Do J II Wal D-AGAT 'Boreas' (w/n 298). Pesawat yang mulai bertugas tahun 1934 ini terlihat sedang bersama kapal suplai MS Schwabenland


Kapal depot (suplai) MS Westfalen


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Friedrichshafen di Jerman (1933)


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Schloss Teck di Jerman (1933)


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Salzburg di Austria (bulan April 1938)


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Duomo di Milano yang merupakan salah satu dari katedral-katedral terbesar di dunia. Mula pertama dibangun tahun 1380 dan pembangunannya baru selesai abad ke-19!


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Peterskirche (Basilika St. Peter) di kota Vatikan. Kubah basilika ini dirancang oleh Michelangelo di awal tahun 1546


Foto udara salah satu rute tujuan Deutche Lufthansa di tahun 1930an: Piazza San Marco di Venesia


Heinkel He 111C D-ALIX 'Rostock' diparkir di sebelah kiri dari sebuah Junkers Ju 86, sekitar tahun 1936 atau awal 1937. He 111C D-AXAV 'Köln' terlihat terbang di angkasa, sementara Junkers Ju 160 D-UHIL 'Kreuzfuchs' dan sebuah Heinkel He 70 yang tak teridentifikasi tampak terparkir di latar belakang. 'Rostock' jatuh di bulan Maret 1937 saat berusaha mendarat di Zambia setelah terbang dari Las Palmas. 'Köln' sendiri ikut menyusul jatuh di Mannheim bulan November 1937


Heinkel He 111C-01 D-AQYF 'Leipzig', yang dioperasikan oleh Deutche Lufthansa dari tahun 1936 sampai dengan 1940


Heinkel He 111C-03 D-ABYE 'Königsberg', yang dioperasikan oleh Deutche Lufthansa dari tahun 1936 sampai dengan 1940


Junkers Ju 90 D-ASND 'Mecklenburg' (w/n 006) buatan tahun 1939


Junkers Ju 90 D-ABDG 'Württemberg' (w/n 001) yang dibuat tahun 1939. Perhatikan simbol Balkenkreuz yang terpasang di badan pesawat!


Junkers Ju 90 D-AURE 'Bayern' (w/n 4915). Pesawat yang dibuat tahun 1938 ini kemudian hancur dalam serangan udara di Stuttgart bulan September 1944


Prototipe Junkers Ju 90 D-AALU 'Der Grosse Dessauer', yang pertama diperkenalkan tahun 1937. Prototipe ini ditenagai oleh empat buah mesin Daimler-Benz DB 600A dan liquid-cooled inverted V12. Pesawat model selanjutnya kemudian menggunakan Radial BMW, terutama BMW 132H


Junkers Ju 90 tipe produksi mampu membawa 40 penumpang dan dilengkapi dengan jembatan built-in yang mampu memuat bawaan


Nachflug alias terbang malam. Indah banget fotonya!


Foto lain yang tak kalah indahnya: Sebuah pesawat Heinkel He 111C di musim dingin


Pemandangan Mont Blanc


Hanggar Tempelhof di waktu malam. Pesawatnya sendiri adalah Messerschmitt M20 D-2341 Harz (w/n 546), yang mulai bertugas tahun 1932. Pesawat tersebut kemudian diregister ulang sebagai D-UKIP, sebelum dijual ke VARIG sebagai PP-VAK di tahun 1937


Skema penerangan malam Tempelhof
Rote ansteuerungs-lichter = Mercu suar merah
Neonröhren zur bezeichnung d. grenzen = Tabung neon penanda batas
beleuchtung des hallenvorfeldes = Penerangan depan
windrichtungsanzeiger = Mistar angin
scheinwerfer = Mercu suar putar?
landebeleuchtung - sturmlaternen = Lampu pendaratan


Sama sekali tak ada keterangan tentang foto yang unik ini, hanya ada kata "Indian Sioux" di baliknya, dan sebagian besar kata lainnya sulit dimengerti karena dibuat dengan jenis tulisan bersambung zaman dulu yang amit-amit buteknya (ini kata yang punya fotonya lho!)

Pesawat yang ditumpangi oleh sang kepala suku Sioux penggemar cerutu ini (perhatikan foto sebelumnya dimana si aki-aki bsrsalaman sambil memegang cerutu!) adalah Junkers F 13


Sebuah tim berburu bersiap-siap untuk menaiki pesawat Junkers G 24 D-1016 'Thor' (yang nantinya diregister ulang sebagai D-UMUR Österreich, fotonya ada di bagian bawah)


Dua ekor anak rusa Amerika Utara (moose) sedang dijaga di depan Junkers Ju 52/3m


Berlin Staaken, 10 Agustus 1938. Focke-Wulf Fw 200 Condor D-ACON lepas landas dari Staaken untuk menjalani penerbangan non-stop ke Floyd Bennett Field di New York. Penerbangan ini sekaligus menandai awal dari memudarnya pelayanan pesawat apung komersial, karena ia mendemonstrasikan semakin efektifnya pesawat udara landas-darat biasa untuk penggunaan jarak tempuh lebih jauh melintasi samudera


Interior dari Focke-Wulf Fw 200 Condor. Inilah saat dimana First Class memang benar-benar berarti 'First Class'!


Berlin, 13 Agustus 1938. Para kru Focke-Wulf Fw 200 Condor mendapat sambutan meriah sekembalinya dari penerbangan pemecah rekor ke New York dan balik lagi. Depan, dari kiri ke kanan: Operator radio Kober, insinyur penerbang Dierberg, Flugkapitän Alfred Henke dan Kapitän Rudolf von Moreau (lihat foto sebelumnya untuk gambar saat pesawat meninggalkan Berlin)


Blohm & Voss Ha 139 D-AMIE 'Nordmeer' (w/n 181) bersiap untuk lepas landas di Travemünde (pantai Baltik Jerman) untuk tujuan Lisbon, Portugal. Dua Ha 139s dan satu Ha 139b telah dibuat untuk melayani rute Atlantik Utara Deutche Lufthansa antara Horta dan New York, yang dimulai dari tahun 1937. Kapal depot MS Schwabenland dan MS Friesenland ditugaskan masing-masing di kedua ujung rute tersebut untuk menyediakan tempat "peluncuran ketapel" bagi sang pesawat, yang berguna saat tinggal landas dengan beban penuh. Penerbangan melalui Atlantik Utara itu sendiri berlanjut sampai dengan tahun 1938. Tahun berikutnya Ha 139 digunakan di Atlantik selatan. Dengan berat total 38.690 lbs MTOW saat menggunakan catapult/ketapel, Ha 139 merupakan pesawat apung terbesar yang pernah dibuat saat itu, hampir sebesar pesawat amfibi Empire kelas C!


Ha 139B D-ASTA 'Nordstern' (w/n 217), pesawat Ha 139 ketiga yang dibuat dan sedikit lebih berat dibanding pendahulunya, sedang tinggal landas dari ketapel MS Schwabenland (sekitar tahun 1938)


Flugkapitän Graf Schack menerbangkan 'Nordmeer' di atas Portugal


Flugkapitän Graf Schack sedang menentukan posisi 'Nordmeer' di atas Atlantik Utara


Panel flugmaschinisten (insinyur penerbang) dari Ha 139


Foto selayang pandang kompartemen pilot di Ha 139 'Nordmeer'. Operator radio Kuppers (kiri) dan insinyur penerbang Gruschwitz (kanan) telah berada di posisi tugas mereka masing-masing


Tentu saja namanya mesin pasti butuh perawatan, termasuk salah satu dari empat mesin diesel 600hp Jumo 205C dari pesawat Ha 139 ini


Berlin Tempelhof, 3 Juli 1931. Di latar belakang adalah pesawat Junkers G 38 D-2000 'Deutschland' (w/n 3301). Dia baru saja bertugas perdana dua hari sebelumnya (menempuh rute Berlin-Hanover-Amsterdam-London), jadi wajar saja kalau banyak orang yang berkerumun penasaran ingin melihatnya! Pesawat ini sendiri kemudian diregister ulang sebagai D-AZUR tahun 1934, dan jatuh saat sedang menjalani tes penerbangan di Dessau tahun 1936. G 38 sisanya (cuma ada dua pesawat jenis ini yang dibuat!) dimasukkan ke Luftwaffe selama berlangsungnya Perang Dunia II, dan kemudian hancur dalam serangan udara di Athena


Makan malam di kabin Junkers G 38 yang lapang dan ekslusif. Hanya dua pesawat jenis ini yang dibuat. G 38 bermesin empat mampu memuat sampai 26 penumpang di kabin utama, dengan kursi tambahan untuk dua orang di bagian hidung dan enam orang di bagian sayap. Jendela-jendela yang terletak di ujung mempu membuat penumpang yang duduk di bagian kabin sayap mempunyai pandangan ke depan yang tak terhalang. Perhatikan foto di dinding! Dia adalah Paul von Hindenburg, pemimpin Jerman sebelum Hitler. Dari situ kita bisa tahu bahwa foto ini dibuat sebelum tahun 1934 atau setidaknya awal-awal tahun tersebut. Dan satu lagi, bapak-bapak yang duduk paling kanan mirip benar sama Friedrich Fromm, Generaloberst oportunis yang berkomplot sama Stauffenberg untuk menggulingkan Hitler tapi kemudian berbalik arah!


Pesawat apung Dornier Do 18D-1 D-ARUN 'Zephir' (w/n 663) dan kru berfoto bersama tak lama setelah penerbangan pos pertama lintas Atlantik Utara ke New York di bulan September 1936. Dari kiri ke kanan: Insinyur penerbang Eger, Flugkapitän Graf Schack, Flugkapitän Blankenburg, dan operator radio Ehlberg. 'Zephir' pertama terbang tanggal 16 Juli 1936. Dia lalu dikirim ke DLH (Deutche Lufthansa) tanggal 25 Agustus 1936 dan ditarik dari tugas tahun 1939 karena kemudian ditransfer ke Luftwaffe


Dornier Do 26 di Friedrichshafen


Blohm & Voss Ha 139 di Swinemünde


Bangunan terminal antar-jemput di Flughafen Halle-Leipzig


Flughafen Hamburg sekitar tahun 1933


Junkers Ju 52/3m D-AJAO 'Robert Weinhard' di Flughafen Rhein-Main (Frankfurt)


Savoia-Marchetti S.M.75 milik maskapai penerbangan Hungaria "Malert" di Tempelhof. Maskapai ini menggunakan pesawat buatan Italia tersebut di akhir tahun 1930-an untuk melayani rute penerbangan Budapest ke Berlin dan kota-kota Eropa lainnya


Landasan Berlin Tempelhof akhir tahun 1930-an. Baris depan dari kiri ke kanan: Junkers Ju 160 D-UVOX Rotfuchs, Ju 160 D-UMEX Panther, dan Junkers G 24 D-UMUR Österreich. Baris kedua: Junkers G 24 D-URIS Essen, G 24 D-UPOP Bayern, dan Ju 52/3m D-AXOP (w/n J5189). Paling buncit: Junkers Ju 52/3m, Junkers W 33 ?


Sumber :
Foto koleksi pribadi WAYNE
www.mainescenery.proboards.com

1 comment:

  1. Emang dari Jaman Bahela Jerman
    udah maju dalam teknologi per pesawatan, dari pesawat civil komersial sampe ke pesawat tempur super canggih (di zaman nya). Ga heran mbah BJ. Habiebie skolah di Jerman untuk mendapatkan ilmu perpesawatan. Alhasil setelah kembalinya BJ.Habiebie ke Indonesia, trnyta Dia mampu membuat dan mendirikan perusahaan IPTN (sekarang menjadi PT. Dirgantara Indonesia). BJ.Habiebie bersama dengan insinyur2 Indonesia lainnya berhasil membuat berbagai pesawat seperti N-250, Helicopter Puma dll. Tp syngnya DI ga maju lagi seperti kayak dulu.......!
    BJ Habiebie pun hengkang kembali ke Jerman, mungkin di Jerman karya2 Habibie lebih di hargai drpda di Indonesia (udah biasa kale...... "banyak ilmuan2/insinyur2 Indonesia hengkang ke luar negri krna profesinya lebih di hargai disana")

    ReplyDelete