Sunday, September 30, 2012

Album Foto Kopfschützer (Scarf)

Kopfschützer (scarf) merupakan piranti yang multifungsi karena bisa dipakai di musim panas atau musim dingin. Musim panas umumnya dipakai untuk mengelap keringat atau menghalangi terik matahari, sementara musim dingin untuk dililitkan di kepala, terutama diperuntukkan bagi para prajurit yang tidak mendapat jatah kopfhaube (topi bulu/ushanka). Khusus untuk musim dingin, biasanya terdapat dua macam Kopfschützer: yang berwarna putih dan abu-abu. Yang abu-abu dililitkan di antara rambut dan dagu, sementara yang putih di bagian dalamnya untuk menutupi dahi dan telinga


Seorang prajurit Waffen-SS berpose dalam sebuah foto studio sambil mengenakan knautschmütze (crusher cap) di kepalanya, kopfschützer (scarf) putih di leher serta pakaian kamuflase dari jenis Telo Mimetico M29 Italia. Unit SS yang biasa memakai bahan garmen asal Italia ini adalah 1. SS-Panzer-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" dan 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"


Seorang prajurit Waffen-SS dari 8. SS-Kavallerie-Division sedang menyendok makanan panas dari Kochgeshirr 31 (mess kit) di wilayah Orel awal tahun 1943. Kudung berbahan bulu domba yang merupakan bagian dari jaket musim dinginnya ditutupkan di atas feldmütze, sementara sebagai tambahan penahan dingin dia juga memakai sebuah "Kopfschützer” (syal) yang menutupi telinganya. Ini adalah semacam kain wol jahitan berbentuk tabung yang bisa ditutupkan ke kepala di bawah bagian stahlhelm yang tidak terlindungi yang juga berfungsi sebagai penutup leher yang terbuka. manfaat lainnya adalah mencegah membekunya bagian atas telinga si pemakai dari angin dingin yang datang dari samping helm


SS-Standartenführer Fritz Witt (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Regiment 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler") memberikan instruksi pada seorang prajurit Waffen-SS yang menyampirkan senapan K98k di punggungnya dan mengenakan kopfschützer (scarf) di kepalanya. Si prajurit tampaknya adalah seorang Kradmelder (pembawa pesan bermotor) yang terlihat dari Kradmantel tahan air yang dikenakannya. Disini kita juga bisa melihat SS-Sturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler") yang mengenakan ushanka dan fellmantel di sebelah kanan, SS-Obersturmbannführer Kurt Meyer (Kommandeur SS-Aufklärungs-Abteilung 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler") yang mengenakan Panzerkombi (dengan bagian dalamnya berada di luar) tertutup oleh tangan Witt di belakang Wünsche, serta SS-Standartenführer Dr. Hermann Besuden (IVb Divisionsarzt SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler") berdiri di kiri. Foto diambil tanggal 9 Maret 1943 di desa Peresechnaya selama berlangsungnya Pertempuran Ketiga Kharkov (19 Februari - 15 Maret 1943)


 SS-Unterscharführer Paul Klose dalam Pertempuran Kharkov tanggal 13 Maret 1943. Dia adalah Zugführer (pimpinan peleton) di II.Bataillon / SS-Panzergrenadier-Regiment 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" yang memimpin anakbuahnya dalam serangan ke Lapangan Merah dan kemudian, di hari yang sama, menjadi objek utama kamera SS-Kriegsberichter Johan King untuk kepentingan propaganda! Setelah bergaya seakan sedang berada dalam pertempuran, Klose (yang memakai stahlhelm M35, kopfschützer alias scarf, dan bersenjatakan MP40) kemudian berdiri di jalan sambil tersenyum ke kamera, dan akhirnya film pun selesai. Dia dan anakbuahnya mungkin akan tertawa getir membayangkan betapa anehnya hari itu: satu saat mereka terlibat dalam situasi hidup dan mati mempertaruhkan nyawa, saat selanjutnya mereka menjadi aktor perang-perangan untuk kamera film! Tapi dia tetaplah seorang prajurit tangguh yang sudah makan asam garam pertempuran, dan pada akhirnya dia kembali pada karakter aslinya yang tenang tapi tetap berwaspada tinggi. Tak banyak yang diketahui tentangnya, yang jelas di bulan Desember 1944 Klose tercatat sebagai komandan Panzerkampfwagen VI Tiger "212" dari 2.Kompanie / schwere SS-Panzer-Abteilung 501. BTW, dalam Pertempuran Kharkov batalyonnya dipimpin oleh SS-Sturmbannführer Max Hansen yang merupakan seorang Ritterkreuzträger


Pada tanggal 23 November 1942, Operasi Uranus (rencana Soviet untuk mengepung 6. Armee di Stalingrad) berhasil terlaksana. Pertempuran yang sebelumnya dengan pede dikatakan oleh Hitler sebagai "sudah dimenangkan", kini menjadi jebakan mematikan bagi ratusan ribu prajurit Jerman yang terperangkap di dalamnya! Tidak hanya itu, musim dingin yang kejam juga mulai menampakkan pengaruhnya. Tapi setidaknya pasukan Jerman yang terkepung di Stalingrad dilengkapi oleh mantel hangat yang memadai. Pakaian jenis ini biasanya dibawa serta oleh bagian perbekalan unit dan hanya dikeluarkan pada saat dibutuhkan. Tentu saja, mantel standar Wehrmacht tidak bisa dibilang maksimal dalam menahan bekunya musim dingin Rusia yang terkenal kejam, tapi setidaknya itulah satu-satunya yang tersedia. Luftwaffe mati-matian berusaha membawa pasokan suplai dari udara dan menyediakan tambahan sarung tangan, syal dan sepatu yang sangat dibutuhkan seperti yang terlihat dipakai oleh para Grenadier dalam lukisan karya Ron Volstad ini. Kopfschützer (syal/scarf) biasanya terbuat dari bahan wol yang bisa dipakai di sekitar leher atau menutupi kepala sebagai usaha sederhana untuk menambah kehangatan. Beberapa syal dapat digunakan bersamaan pada satu waktu. Leutnant dengan MP-40 mengenakan topi bulu domba hasil modifikasi lapangan, sementara penembak senapan mesin dengan MG-34 telah menanggalkan stahlhelm-nya yang kaku dan menggantikannya dengan kopfschützer yang dipadukan dengan feldmütze M38 (topi lapangan). Sulitnya memperoleh pasokan amunisi dan senjata membuat pasukan Wehrmacht yang terperangkap di Stalingrad memanfaatkan segala sarana yang tersedia, termasuk peralatan perang hasil rampasan. Adalah umum untuk melihat Grenadier Jerman menggunakan senapan mesin PPsH-41 buatan Soviet. Untuk pertempuran jarak dekat biasanya digunakan granat tangan dari jenis stielhandgranate M1924, meskipun bila dibutuhkan ledakan yang lebih besar maka yang digunakan adalah menggabungkan enam kepala granat mengelilingi satu buah granat dengan stiknya (Geballte Ladung). Sebagai usaha darurat mengkamuflase diri biasanya digunakan seprai putih atau kain rumahtangga berwarna putih lainnya yang dijahit alakadarnya untuk menutupi übermantel. Beberapa prajurit juga mencat stahlhelm-nya dengan warna putih


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
www.ingwerapfel.tumblr.com
www.planetfigure.com
www.thephora.net
www.ww2airsoft.be

No comments:

Post a Comment