Sunday, July 10, 2011

Foto Berwarna Jenderal Heer (Angkatan Darat)

General der Infanterie Karl Allmendinger (3 Februari 1891 - 2 Oktober 1965) adalah anak dari seorang guru, penulis dan sastrawan yang juga bernama sama, Karl Allmendinger alias "Felix Nabor" (1863-1946). Allmendinger junior ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama sebagai anggota Füsilier-Regiment "Kaiser Franz Josef von Österreich, König von Ungarn" (4. Württembergisches) Nr. 122. Setelah perang usai dia bergabung dengan Freiwilligen-Abteilung Haas yang merupakan pasukan keamanan Volksstaates Württemberg sebelum diserap oleh Reichswehr tahun 1919. Allmendinger mengawali Perang Dunia II sebagai Oberst dan Chef des Generalstabes V. Armeekorps. Setelah itu dia menjadi Komandan 5. Infanterie-Division (25 Oktober 1940 - 5 Januari 1942), 5. leichte Division (5 Januari 1942 - 6 Juli 1942), dan 5. Jäger-Division (6 Juli 1942 - 5 Januari 1943). Dari sejak tanggal 25 Juli 1944 Allmendinger menjadi Führerreserve sampai dia ditangkap oleh pasukan Amerika tanggal 16 Mei 1945 (tapi dilepaskan kembali setahun kemudian, tanggal 22 Desember 1947). Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 17 Juli 1941 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 5.Infanterie-Division / V.Armee-Korps / 9.Armee / Heeresgruppe Mitte, serta Eichenlaub #153 tanggal 13 Desember 1942 sebagai Generalleutnant dan Kommandeur 5.Jäger-Division / II.Armee-Korps / 16.Armee / Heeresgruppe Nord. Yang pertama diterimanya atas jasanya saat merebut wilayah Lazdijai dari tangan pasukan Soviet. Sang komandan tampil di muka pasukannya walaupun mendapat tembakan gencar dari dataran tinggi yang dikuasai musuh. Dengan menggunakan perpaduan serangan dari sungai serta penyerbuan pasukan pelopor yang secara langsung disepervisi oleh Allmendinger (komandan aslinya minggir dulu!), akhirnya wilayah musuh berhasil dikuasai. Tidak hanya itu, melalui pertempuran di jalanan yang sengit, jembatan di Seirijai berhasil didirikan yang sangat penting bagi keberlangsungan operasi 9. Armee. Yang kedua diraihnya saat mengepung dan menghancurkan pasukan besar Soviet di sebelah tenggara Danau Ilmen. Allmendinger selalu berada paling depan memberi contoh pada anakbuahnya mempersiapkan serangan dan bahkan ikut serta dalam pasukan pengintai! Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Ritterkreuz des Königlichen Württembergischer Militär-Verdienstordens; Ritterkreuz II. Klasse des Königlichen Württembergischer Friedrichs-Ordens mit Schwertern; 1914 Verwundetenabzeichen in Schwarz; k.u.k. (kaiserlich und königlich) Österreichisches Militär-Verdienstkreuz III. Klasse mit der Kriegsdekoration; Ehrenkreuz für Frontkämpfer; Dienstauszeichnung der Wehrmacht I.Klasse 25 jahre; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (20 September 1939) dan I.Klasse (21 Mei 1940); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille); Vapaudenristin 1.Luokka Miekkojen Kera Finlandia (29 Maret 1943); serta Ordinul Mihai Viteazul 3rd Class Rumania (12 Juli 1944). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 9 Oktober 1942


 Generalleutnant Ernst-Günther Baade (20 Agustus 1897 - 8 Mei 1945) adalah perwira kavaleri dalam Perang Dunia I yang kemudian menonjol peranannya sebagai komandan divisi Panzergrenadier dalam Perang Dunia II. Dia pertama kali dikenal dalam front Afrika Utara karena kelakuan eksentriknya: terjun ke medan tempur dengan mengenakan rok kilt ala Skotlandia, dan lebih memilih untuk membawa pedang daripada pistol Luger sebagai senjata pertahanan diri! Meskipun begitu, keberanian dan kepemimpinannya tidak udah ditanyakan lagi, yang terbukti dari penganugerahan tiga medali bergengsi: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 27 Juni 1942 sebagai Oberst dan Kommandeur Schützen-Regiment 115 / 15.Panzer-Division, Eichenlaub pada tanggal 22 Februari 1944 dan Schwerter pada tanggal 16 November 1944 (dua yang terakhir diraihnya saat menjadi Komandan 90. Panzergrenadier-Division). Setelah terluka berat dalam Pertempuran El-Alamein, Baade diungsikan ke Jerman pada bulan Juli 1942. Penugasan selanjutnya setelah sembuh adalah sebagai penanggungjawab evakuasi puluhan ribu pasukan Jerman dari Pulau Sisilia, dengan menyeberangi Selat Messina di tengah dominasi Sekutu di laut dan udara. Tugas ini berhasil dilaksanakannya dengan sangat baik, yang membuatnya kemudian ditunjuk sebagai Komandan 90. Panzergrenadier-Division dalam Pertempuran Monte Cassino, Italia. Kelakuan eksentriknya masih berlanjut, begitu juga dengan keberanian dan kepemimpinannya yang diatas rata-rata. Sang jenderal komandan divisi bahkan sempat-sempatnya menghancurkan sebuah tank Sekutu secara sendirian dengan hanya menggunakan senjata genggam tangan! Baade kembali terluka untuk kesekian kalinya pada tanggal 24 April 1945, dan meninggal dunia karena luka-lukanya pada tanggal 8 Mei 1945... di hari terakhir Perang Dunia II di Eropa! Medali dan penghargaan lain yang diperolehnya: Hamburgisches Hanseatenkreuz; 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (25 November 1916) und I.Klasse (4 Desember 1917); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz (1 Juli 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918 (5 Februari 1935); Wehrmacht-Dienstauszeichnung II.Klasse (2 Oktober 1936); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (18 September 1939) und I.Klasse (5 Juni 1940); Deutsches Schhutzwall-Ehrenzeichen; Panzerkampfabzeichen; Deutsches Kreuz in Gold (2 November 1941); Medaille “Winterschlacht im Osten 1941/1942” (1942); Ärmelband “Afrika”; Panzervernichtungsabzeichen in Silber; serta Verwundetenabzeichen 1939 in Gold (1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 8 Februari 1944 dan 27 Mei 1944. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Generalmajor der Reserve Dr.med.dent. Franz Bäke (28 Februari 1898 - 12 Desember 1978) ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918), dilanjutkan sebagai anggota Freikorps Epp yang bertarung melawan kaum Komunis di Bavaria (1919-1920). Dia lalu memutuskan untuk berhenti dari militer dan menjadi seorang dokter gigi di Hagen, Nordrhein-Westfalen. Pada tahun 1937 Bäke bergabung kembali dengan Angkatan Bersenjata Jerman, dan kali ini menjadi seorang perwira cadangan di unit pelopor. Dia ikut berpartisipasi dalam aneksasi Cekoslowakia (1938), penyerbuan ke Polandia (1939), Prancis (1940), dan Rusia (1941). Pada tanggal 11 Januari 1943 Bäke dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai Major der Reserve dan Kommandeur II.Abteilung / Panzer-Regiment 11 / 6.Panzer-Division, atas prestasinya dalam operasi penyelamatan 6. Armee yang terperangkap di Stalingrad. Tak lama kemudian, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1943, dia mendapatkan tambahan Eichenlaub #262 untuk Ritterkreuz-nya setelah bertempur dengan gigih dalam Unternehmen Zitadelle (Pertempuran Kursk). Di akhir tahun 1943 dia memimpin unit ad-hoc schwere Panzer-Regiment "Bäke" yang berisikan campuran tank Panther dan Tiger. Dengan unitnya ini sang Komandan Panzer "menggila" dalam Pertempuran Balabonovka dan Kantong Cherkassy, termasuk seorang diri menghancurkan tiga buah tank musuh dengan senjata genggam-tangan! Atas prestasinya tersebut, dia diganjar dengan Schwerter #49 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 21 Februari 1944 sebagai Oberstleutnant der Reserve dan Kommandeur Panzer-Regiment 11 / 6.Panzer-Division. Setelahnya dia dipindahkan untuk bertugas di Front Barat demi melawan tentara Sekutu, dengan menjadi Komandan Panzer-Division Feldherrnhalle yang sebagian besar beranggotakan para anggota SA (Sturmabteilung). Bäke memimpin divisinya sampai dengan akhir perang. Setelah keluar dari kamp tawanan Sekutu pada tahun 1947, dia melanjutkan kembali pekerjaan lamanya sebagai dokter gigi. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Juli 1916); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (26 September 1939); 1939 Eisernes Kreuz I.Klasse (1 Juni 1940); Verwundetenabzeichen in Silber (2 Juni 1940); Panzerkampfabzeichen in Silber (7 Juni 1940); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 (10 September 1940); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Gold (14 Juli 1943); tiga buah Panzervernichtungsabzeichen in Silber (17 Juli 1943); Panzerkampfabzeichen in Silber II.Stufe #25 (1 Agustus 1943), III.Stufe #50 (16 Agustus 1943), IV.Stufe #75 (5 Desember 1943) dan V.Stufe #100 (26 April 1944). Selain itu, namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht (31 Januari 1944 dan 6 Desember 1944). Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


 
Generalmajor Erich Bärenfänger (12 Januari 1915 - 2 Mei 1945) adalah anak dari seorang Oberpostsekretär (Sekretaris Kantor Pos). Dia bergabung dengan SA (Sturmabteilung) tahun 1933 sebelum menjadi anggota Wehrmacht setahun kemudian. Dalam Perang Dunia II prestasinya begitu menonjol sehingga dia dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern, menjadi satu dari hanya 159 orang di seantero Angkatan Bersenjata Jerman yang mendapatkannya! Berbagai prestasi dan kemenangan yang diraihnya di medan pertempuran membuat nama Bärenfänger melambung tinggi, tidak hanya di divisinya semata. Ketika 50. Infanterie-Division mengajukan permintaan pasukan cadangan untuk "menambal" banyaknya anggota pasukan yang tela menjadi korban, petinggi OKW (Oberkommando der Wehrmacht) menanggapinya dengan berkata: "Kenapa anda membutuhkan pasukan cadangan? Anda punya Bärenfänger!" Setelah dianugerahi Schwerter bulan Januari 1944, Bärenfänger ditarik dari front pertempuran dan didapuk sebagai Inspekteur der Wehrertüchtigungslager HJ (Hitlerjugend). Dalam Pertempuran Berlin, Adolf Hitler mempromosikan Bärenfänger dari Oberstleutnant menjadi Generalmajor dengan meloncati pangkat Oberst! Di usia 30 tahun lebih empat bulan, dia tercatat sebagai jenderal termuda Wehrmacht! Dia adalah seorang Nazi fanatik. Setelah kegagalan usaha untuk melarikan diri dari Berlin yang terkepung di malam tanggal 30 April/1 Mei 1945, Bärenfänger dan istri serta saudaranya memutuskan untuk bunuh diri di ruang bawah tanah Schultheiss-Brauerei yang terletak di dekat U-Bahnhof Prenzlauer Berg pada tanggal 2 Mei 1945. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


 
 General der Panzertruppe Hermann Balck (7 Desember 1893 - 29 November 1982) memulai perang sebagai seorang Oberstleutnant (Letnan-Kolonel) pada tahun 1939 dan mengakhirinya sebagai General der Panzertruppe (Jenderal Pasukan Tank) pada tahun 1945. Dia adalah salah satu dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht yang dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten. Karirnya di masa perang terutama sekali menonjol karena kemampuannya yang luar biasa dalam hal peperangan manuver dan kecepatannya dalam memindahkan unitnya dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini membantunya dalam meniti karir sebegitu cepatnya. Dalam hal ini kasusnya sama dengan yang dialami oleh Walter Model ataupun Hasso von Manteuffel. Ketika me-review cara Balck memegang komando 11. Panzer-Division dalam Krisis Sungai Chir di bulan Desember 1942, jenderal Amerika William DePuy memperkirakan bahwa Balck "mungkin adalah komandan divisi terbaik dari Angkatan Darat Jerman". Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


 Generalleutnant Rudolf Bamler


Generalmajor Hermann-Heinrich Behrend (25 Agustus 1898 - 19 Juni 1987) adalah perwira veteran dua Perang Dunia yang berasal dari Prusia Timur. Dia bergabung dengan Kaiserliche Armee pada bulan Juni 1915, dan ikut bertempur di Front Timur dalam Perang Dunia Pertama. Behrend mengakhiri perang dengan pangkat Leutnant, dan kemudian melanjutkan karir militernya di Reichswehr dan Wehrmacht. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #353 pada tanggal 15 Juli 1941 sebagai Major dan Kommandeur I.Bataillon / Infanterie-Regiment 489 / 269.Infanterie-Division / I.Armeekorps / 18.Armee / Heeresgruppe Nord. Medali ini didapatkannya sebagai penghargaan atas aksi berani yang dilakukannya di hari pertama penyerbuan Jerman atas Uni Soviet tanggal 22 Juni 1941. Dengan memanfaatkan kabut tebal dan asap dari tembakan artleri pembuka, Behrend dan batalyonnya menyerbu pertahanan kuat Rusia di Tauroggen sehingga berhasil menembusnya. Pada tanggal 6 Maret 1944 dia mendapatkan tambahan Eichenlaub #421 untuk Ritterkreuz-nya, sebagai Oberst dan Kommandeur Grenadier-Regiment 154 / 58.Infanterie-Division / L.Armeekorps / 18.Armee / Heeresgruppe Nord, setelah berhasil menghindarkan resimennya - yang terpisah dari divisi - dari kepungan pasukan Soviet di barat Luga pada awal bulan Februari 1944. Prestasi Behrend tidak berhenti sampai disitu, karena pada tanggal 26 April 1945 dia dianugerahi medali Schwerter #148 untuk Ritterkreuz-nya, sebagai Generalmajor dan Kommandeur 490.Infanterie-Division / LXXXVI.Armeekorps / 1.Fallschirmarmee / Oberbefehlshaber Nordwest. Medali terakhir ini didapatkannya setelah dia memimpin divisinya dalam pertempuran defensif melawan Sekutu di Kanal Fladder. Dalam usaha terobosan keluar dari kepungan, unit pimpinannya menghancurkan 14 tank Sherman Amerika menggunakan senjata-genggam-tangan, dengan satu diantaranya dihancurkan langsung oleh sang Divisionskommandeur menggunakan Panzerfaust! Medali dan penghargaan lain yang diterima oleh Behrend: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (9 Juni 1917) und I.Klasse (4 November 1918); Mecklenburgisch-Schwerinsches-Verdienstkreuz II.Klasse (2 Januari 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918 (21 Januari 1935); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (12 Mei 1940) und I.Klasse (10 Juni 1940); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (29 Juli 1942); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber (20 April 1943); serta Verwundetenabzeichen in Silber (29 Juli 1942) und Gold (2 Februari 1944)


Generalleutnant Dr.rer.pol. Fritz Benicke (11 Agustus 1894 - 14 Maret 1975)


General der Infanterie Johannes Block


Generalfeldmarschall Werner von Blomberg


Generalfeldmarschall Fedor von Bock


 Generalleutnant Karl Böttcher


General der Panzertruppe Erich Brandenberger


Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch


General der Infanterie Wilhelm Burgdorf


Generalfeldmarschall Ernst Busch


General der Infanterie Theodor Busse


General der Infanterie Kurt von der Chevallerie


 General der Artillerie Dr.Phil. Friedrich von Cochenhausen


General der Panzertruppe Karl Decker


Generaloberst Eduard Dietl


Generalmajor Dr.-Ing. h.c. Walter Dornberger


 Generalleutnant Walter Eckstein


General der Panzertruppe Maximilian Reichsfreiherr von Edelsheim


Generalleutnant Gerhard Engel (13 April 1906 - 9 Desember 1976) adalah mantan ajudan Angkatan Darat Hitler yang kemudian menjadi pahlawan perang Jerman sebagai seorang komandan divisi. Dia bergabung dengan Angkatan Darat pada tahun 1925, dan bertugas di era Reichswehr serta Wehrmacht. Pada tahun 1938 dia ditunjuk sebagai Ajudan Panglima Angkatan Bersenjata sekaligus pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler. Pada tahun 1941 Engel mendapat kenaikan pangkat menjadi Major. Pada tahun 1943 dia ditransfer ke front depan pertempuran, pada awalnya di Front Timur lalu kemudian seterusnya di Front Barat, dan bertempur dalam Pertempuran Aachen, Pertempuran Hutan Hürtgen, Pertempuran Bulge, dan Pertempuran Halbe. Di penempatan barunya, Engel bisa membuktikan bahwa dia juga bisa diandalkan sebagai seorang komandan pasukan. Pada tanggal 4 Juli 1944 dia dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #3282 sebagai Oberstleutnant dan Kommandeur Füsilier-Regiment 27 / 12.Infanterie-Division / XXXIX.Panzerkorps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte. Medali ini kemudian disusul dengan tingkatan yang lebih tinggi, Eichenlaub #679, yang didapatkannya pada tanggal 11 Desember 1944 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 12. Volksgrenadier-Division / LXXXI.Armeekorps / 5.Panzerarmee / Heeresgruppe B. Dari tanggal 13 April 1945 sampai dengan akhir perang, dia menjadi komandan Infanterie-Division "Ulrich von Hutten". Setelah keluar dari masa penawanannya, Engel melanjutkan karir sebagai manajer sebuah pabrik gula di Nörvenich, dan kemudian pabrik mesin di Düsseldorf. Dari bulan April 1958 s/d Desember 1976 dia bekerja sebagai Komisioner Masyarakat Negara Bagian untuk Konsumen Militer di Nordrhein-Westfalen. Engel juga mempublikasikan buku, yang berisikan kumpulan catatan harian rahasianya di masa perang, yang berjudul "At the Heart of the Reich". Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Reichsstatthalter und Charakter als Generaloberst Franz Ritter von Epp (16 Oktober 1868 - 31 Januari 1947)


 General der Nachrichtentruppe Erich Fellgiebel (4 Oktober 1886 - 4 September 1944) memulai karir militernya pada bulan September 1905 sebagai seorang kadet di sebuah batalyon sandi Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran Jerman). Setelah Perang Dunia Pertama usai, dia dipindahkan ke Berlin sebagai perwira staff umum. Pada tahun 1938 dia menjadi Kepala Korps Sandi Angkatan Darat Jerman sekaligus Kepala Komunikasi di Komando Tinggi Angkatan Bersenjata. Mantan atasannya Generaloberst Ludwig Beck - dan juga penggantinya Generaloberst Franz Halder - adalah orang pertama yang memperkenalkan Fellgiebel kepada jaringan rahasia penentang Hitler dalam tubuh Wehrmacht. Sang pakar komunikasi militer kemudian menjadi salah satu figur kunci dalam persiapan untuk Unternehmen Walküre (Operation Valkyrie), sebuah rencana penggulingan Hitler. Sang Führer sendiri sebenarnya dari pertama tidak terlalu mempercayai Fellgiebel, tapi dia membutuhkan pengalaman sang jenderal karena dialah yang paling pertama mengerti mengenai peran penting mesin enkripsi Enigma. Sebagai Kepala Pelayanan Sandi dan Komunikasi, Fellgiebel mengetahui pula semua rahasia militer Jerman, termasuk pengerjaan roket V-1 dan V-2 yang dikerjakan oleh Werner von Braun dkk di Peenemünde. Ketika terjadi upaya pembunuhan terhadap Hitler pada tanggal 20 Juli 1944 di Wolfsschanze (Führerhauptquartier di Prusia Timur), Fellgiebel juga berada disana. Dia berusaha memutus semua komunikasi yang menuju pusat kekuasaan, sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tapi ketika telah jelas bahwa sang Führer berhasil selamat dari upaya pembunuhan terhadap dirinya, Fellgiebel dipaksa untuk menganulir semua perintah terdahulu dan memulihkan kembali komunikasi. Aksi Fellgiebel paling terkenal dalam peristiwa ini adalah saat dia menelepon rekan sesama konspirator lainnya yang sedang berada di Berlin, Generalleutnant Fritz Thiele, untuk memberitahu berita mengejutkan kepadanya bahwa target mereka masih hidup: "Etwas Furchtbares ist passiert! Der Führer lebt!" (Sesuatu yang buruk telah terjadi! Führer masih hidup!). Seperti sudah bisa diduga, tak lama kemudian Fellgiebel ditangkap saat dia masih berada di Wolfsschanze. Sang jenderal disiksa habis-habisan selama tiga minggu, tapi tak mengungkapkan satu nama pun dari konspirator lainnya. Dia didakwa dalam Volksgerichtshof (Pengadilan Rakyat) pimpinan Hakim Roland Freisler yang terkenal bengis. Pada tanggal 10 Agustus 1944, Erich Fellgiebel dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Dia dieksekusi hampir satu bulan kemudian di Penjara Plötzensee di Berlin


Generalleutnant Hermann Flörke (23 Oktober 1893 - 19 Agustus 1979) mendaftar sebagai tentara Jerman saat Perang Dunia Pertama dimulai di tahun 1914. Dia merasakan bertempur di Front Timur dan Front Barat sebelum perang usai pada tahun 1918. Dia tetap menjadi anggota militer di Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar), setelah sebelumnya ikut andil dalam memadamkan pemberontakan kaum Komunis Jerman di tahun 1919-1920. Saat Perang Dunia II pecah di tahun 1939, Flörke sudah menjabat sebagai Komandan Batalyon di Infanterie-Regiment 53. Setahun setelahnya dia sudah menjadi Komandan Resimen, dilanjutkan dengan jabatan sebagai Komandan Divisi: 31. Infanterie-Division (1 April 1943 - 15 Mei 1943) dan 14. Infanterie-Division (8 Juni 1943 - 15 Desember 1944). Jabatan terakhirnya adalah sebagai Komandan LXVI. Armeekorps (18 Februari 1945 - 21 April 1945). Flörke dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 15 Desember 1943 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 14. Infanterie-Division, serta Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 2 September 1944 sebagai Generalleutnant dan Kommandeur 14. Infanterie-Division. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Juni 1915) und I.Klasse (27 Agustus 1917); Ritterkreuz des Königlicher Preußischer Hausorden von Hohenzollern mit Schwertern; Hamburgisches Hanseatenkreuz; Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918; Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV. bis I.Klasse; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Oktober 1939) und I.Klasse (21 Mei 1940); Deutsches Kreuz in Gold (23 Oktober 1942); Großkreuzes Verdienstorden der Bundesrepublik Deutschland (10 Maret 1967); serta Bundesverdienstkreuz (10 Maret 1967). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht (19 November 1943)


Generaloberst Friedrich Fromm


General der Panzertruppe Hans Freiherr von Funck



Generalmajor Reinhard Gehlen


Generalmajor Karl Göbel


General der Infanterie Hans Gollnick


Generalmajor Walter Gorn


General der Infanterie Anton Grasser


Generalmajor Franz Griesbach


General der Artillerie Otto Grün (29 Mei 1882 - 26 Maret 1948)


Generaloberst Heinz Guderian


Generaloberst Franz Halder


Generalarzt Dr. med. Siegfried Handloser


Generaloberst Josef Harpe (21 September 1887 – 14 Maret 1968)


General der Artillerie Walter Hartmann


Generaloberst Gotthard Heinrici (25 Desember 1886 – 10 Desember 1971)


General der Panzertruppe Traugott Herr (16 September 1890 – 13 April 1976)
 
 
Generalmajor Friedrich Heyl
 

Generalleutnant Harald von Hirschfeld


Generalleutnant Alfons Hitter


 Generalleutnant Erich Hofmann (30 September 1889 - 8 September 1961) adalah salah satu dari begitu banyak jenderal Austria yang bergabung dengan Wehrmacht setelah "Anschluss" (Penyatuan) tahun 1938. Veteran Perang Dunia Pertama ini memasuki kancah Perang Dunia II sebagai Kepala Operasi XVIII. Armeekorps, sebelum menjadi Bataillonskommandeur (Infanterie-Regiment 270) dan Regimentskommandeur (Infanterie-Regiment 352). Setelah itu berturut-turut divisi yang dipimpinnya: 207. Sicherungs-Division (31 Desember 1942 - November 1943), 93. Infanterie-Division (20 Juni 1944 - 20 Juli 1944), 560. Infanterie-Division (27 Juli 1944 - 9 Oktober 1944), dan 560. Volksgrenadier-Division (9 Oktober 1944 - 10 November 1944). Setelahnya Hofmann berstatus Führerreserve (perwira aktif tanpa jabatan) sampai dengan akhir perang. Uniknya, dia baru ditangkap oleh Sekutu pada tanggal 1 Agustus 1945, beberapa bulan setelah perang berakhir di Eropa! Medali dan penghargaan yang telah diraihnya: Kaiserlich und königlich Österreichische Militärverdienstkreuz III.Klasse mit Kriegsdekoration und Schwertern; Kaiserlich und königlich Österreichische Karl-Truppenkreuz; Kaiserlich und königlich Österreichische Verwundetenmedaille mit 1 Mittelstreifen; Österreichische Kriegserinnerungsmedaille mit Schwertern; Ungarische Kriegserinnerungsmedaille für Frontkämpfer; Militärdienstzeichen für Offiziere II.Klasse; Militärverdienstkreuz III.Klasse des Bundesstaates Österreich (20 November 1937); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918; 1939 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; serta Deutsches Kreuz in Gold (9 Juni 1943)


Generalleutnant Dr.rer.pol. Hermann Hohn (11 Oktober 1897 - 13 November 1968)


Generalleutnant Rene de l'Homme de Courbière (24 Januari 1887 - 7 Mei 1946)


Generaloberst Hermann Hoth (12 April 1885 – 25 Januari 1971)


Generaloberst Hans-Valentin Hube
 
 
Generalmajor Maximilian Jais
 

Generaloberst Alfred Jodl (10 Mei 1890 - 16 Oktober 1946)
 

General der Infanterie Hans Jordan
 

Generalleutnant Hans Källner


 Generalmajor Hans Graf von Kanitz


Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel


 Generalleutnant z.V. Dr. Emil Kern


 General der Infanterie Werner Kienitz


Generalfeldmarschall Ewald von Kleist


 
Generalfeldmarschall Günther von Kluge (30 Oktober 1882 - 19 Agustus 1944) adalah marsekal Jerman yang pernah menjadi panglima tertinggi pasukan Wehrmacht di Front Timur dan Barat. Dia menjadi Panglima 4. Armee dalam invasi ke Polandia tahun 1939 dan Pertempuran Prancis tahun 1940. Setelah mendapat kenaikan pangkat luar biasa menjadi Generalfeldmarschall, von Kluge ikut berpartisipasi dalam penyerbuan ke Uni Soviet dan Pertempuran Moskow tahun 1941. Saat pihak Jerman mengalami krisis kepemimpinan setelah serangan balik Rusia di akhir tahun 1941, von Kluge ditunjuk oleh Hitler untuk menjadi Panglima Heeresgruppe Mitte menggantikan Marsekal Fedor von Bock. Beberapa anggota utama komplotan penentang Hitler bertugas sebagai staff pribadinya, termasuk Henning von Tresckow. Von Kluge sendiri mengetahui akan adanya aktivitas "terlarang" yang dilakukan oleh sebagian staffnya, tapi memilih untuk tidak melaporkan mereka. Masa tugasnya di Front Timur berlangsung sampai bulan Oktober 1943 saat dia terluka parah dalam kecelakaan mobil dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Setelah sembuh, dia langsung dipercaya untuk menjadi Oberbefehlshaber West (Panglima tertinggi pasukan Jerman di Front Barat) menggantikan Marsekal Gerd von Rundstedt yang dianggap gagal menahan laju tentara Sekutu di Normandia. Penempatan baru von Kluge tidak banyak membawa perubahan berarti, karena pasukan musuh kini semakin menyebar ke bagian Prancis lainnya. Disinilah dia menyadari bahwa perang di Barat sesungguhnya sia-sia belaka untuk terus dipertahankan. Meskipun dia bukan anggota aktif komplotan yang melakukan kudeta terhadap Hitler pada tanggal 20 Juli 1944, tapi di akhir kegagalan kudeta tersebut, sang marsekal menyadari bahwa ujung-ujungnya dia akan diseret juga ke dalamnya. Putus asa, Günther von Kluge memutuskan untuk bunuh diri pada tanggal 19 Agustus 1944 setelah mendapat panggilan ke Berlin oleh Hitler. Perannya sebagai Oberbefehlshaber West digantikan oleh Marsekal Walter Model. Biografi singkat Günther von Kluge bisa dilihat DISINI


General der Panzertruppe Otto von Knobelsdorff
 
 
Generalmajor Karl Koetz
 

 Generalleutnant Richard Koll


Generalmajor Georg Koßmala

General der Gebirgstruppe Hans Kreysing


General der Infanterie Ernst-Anton von Krosigk (5 Maret 1898 – 16 Maret 1945)



Generalmajor Othmar Krüpl (18 Agustus 1893 - 30 September 1992)


Generalfeldmarschall Georg von Küchler (30 Mei 1881 - 25 Mei 1968) mulai bergabung dengan Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) dari tahun 1900, tak lama setelah menyelesaikan pendidikannya di Ludwig-Georg-Gymnasium Darmstadt. Dari tahun 1910 s/d 1913, dia mengikuti pendidikan di Kriegsakademie yang prestisius. Sampai dengan berakhirnya Perang Dunia Pertama, dia bolak-balik ditugaskan sebagai perwira staff atau artileri. Setelah sempat ambil bagian dalam ekspedisi militer Jerman ke Kurland (1918-1919), Küchler melanjutkan karir militernya di Reichswehr, dan berpindah-pindah posisi dari perwira staff, perwira artileri atau instruktur di sekolah militer. Saat Hitler naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1933, dia telah menjadi Artillerieführer I di Königsberg dengan pangkat Oberst. Pada tahun 1934 pangkatnya naik menjadi Generalmajor, dilanjutkan dengan Generalleutnant (1935) dan General der Artillerie (1937). Pada tahun 1938, Küchler mendukung Adolf Hitler dalam usaha penggulingan Werner von Blomberg dan Werner Freiherr von Fritsch dari tampuk pimpinan militer Jerman. Sikapnya ini bertentangan dengan sikap sebagian besar perwira tinggi Angkatan darat pada saat itu! Pada saat Perang Dunia II pecah, dia dipercaya sebagai Panglima 3. Armee dalam penyerbuan Jerman ke Polandia. Prestasinya begitu mentereng sehingga dia menjadi satu dari segelintir perwira Wehrmacht yang dianugerahi medali militer paling begengsi pada saat itu, Ritterkreuz (30 September 1939). Tak lama setelah Jerman menguasai Polandia, Küchler menolak permintaan Gauleiter Erich Koch untuk menggunakan pasukannya dalam upaya-upaya kekerasan terhadap kaum Yahudi serta warga sipil setempat, dengan alasan bahwa Angkatan Darat Jerman "bukanlah penyuplai gerombolan pembunuh". Hal ini membuat Panglima SS Heinrich Himmler murka, dan tak lama setelahnya Küchler dicopot dari jabatannya sebagai Panglima 3. Armee. Hanya berselang dua minggu, dia dipanggil kembali ke tugas aktif sebagai Panglima 18. Armee, unit yang dipimpinnya dalam penyerbuan Jerman ke Prancis (1940) dan Rusia (1941). Karena dianggap berhasil, pada awal tahun 1942 Küchler ditunjuk oleh Hitler untuk menjadi Panglima seluruh pasukan Jerman yang beroperasi di wilayah utara Front Timur, sebuah jabatan prestisius yang dipegangnya selama dua tahun. Selama masa tugasnya, dia dituduh telah berlaku brutal, terutama terhadap tahanan perang dan orang-orang terbelakang (tuduhan serius tersebut nantinya didakwakan kepadanya dalam Pengadilan Penjahat Perang Sekutu seusai perang, dan membuatnya mendekam di penjara selama bertahun-tahun). Küchler sendiri dipecat dari jabatannya sebagai Oberbefehlshaber Heeresgruppe Nord setelah dia dianggap tidak mampu mempertahankan kepungan Jerman atas Leningrad (meskipun sebelumnya sempat dianugerahi medali Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya). Sampai dengan akhir perang, dia tak pernah lagi diberi jabatan oleh Hitler. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Generalmajor Willy Langkeit (2 Juni 1907 - 27 Oktober 1969)


Generalleutnant Theo-Helmut (Theobald) Lieb


Generalfeldmarschall Wilhelm List (14 Mei 1880 – 17 Agustus 1971)


 Generalleutnant Sigfrid Macholz


 Generalmajor Hellmuth Mäder


Generalfeldmarschall Erich von Manstein


General der Panzertruppe Hasso von Manteuffel (14 Januari 1897 - 24 September 1978)



General der Artillerie Erich Marcks (6 Juni 1891 - 12 Juni 1944) adalah anak dari sejarawan Jerman terkemuka yang bernama sama, Erich Marcks (1861-1938). Dia memulai karirnya dari masa Perang Dunia Pertama (1914-1918), dilanjutkan dengan pengabdian di Reichswehr (1919-1935) dan Wehrmacht (1935-1945). Melihat potensi serta kecerdasannya dalam hal perancangan strategi, Kepala Staff Angkatan Darat Franz Halder memerintahkan Marcks untuk membuat rencana serangan Jerman ke Uni Soviet, yang nantinya dinamakan "Operasi Barbarossa". Berdasarkan kalkulasi Marcks, pasukan Wehrmacht dapat menuntaskan tugasnya dalam jangka waktu 9 s/d 17 minggu selama tetap berpegang kepada tujuan utamanya, yaitu penguasaan ibukota Moskow (hal utama yang kemudian malah dilanggar sendiri oleh Hitler di tengah jalan!). Dalam Operasi Barbarossa sendiri, Marcks diserahi tanggungjawab sebagai Komandan 101. leichte-Infanterie-Division. Tragisnya, di hari-hari pertama penyerbuan, sang jenderal terluka parah di Ukraina sehingga membuat sebelah kakinya harus diamputasi. Meskipun begitu, hanya beberapa hari pertempuran di Front Timur sudah cukup untuk membuatnya diganjar dengan medali Ritterkreuz (26 Juni 1941). Setelah sembuh dari luka-lukanya, Marcks tetap dipercaya untuk memegang jabatan komandan lapangan, sampai terakhir menjadi Komandan LXXXIV. Armeekorps di Prancis tahun 1944 dengan pangkat General der Artillerie. Berlainan dengan pendapat jenderal-jenderal Jerman lainnya (termasuk Rommel), Marcks percaya bahwa Sekutu akan mendarat di Normandia dan bukannya di Pas de Calais. Keyakinannya terbukti, dan pihak musuh benar-benar mendarat di Normandia... persis di hari ulangtahun Erich Marcks yang ke-53 tanggal 6 Juni 1944! Hanya berselang enam hari setelah D-Day, Jenderal Marcks terluka parah oleh serangan udara Sekutu dan meninggal dunia di hari yang sama, tanggal 12 Juni 1944. Secara anumerta dia dianugerahi medali Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya. BTW, dalam film 'The Longest Day' Marcks diperankan oleh aktor Richard Münch, sementara dalam film TV 'Rommel' dia diperankan oleh Hans Kremer


General der Artillerie Robert Martinek (2 Februari 1889 - 28 Juni 1944) adalah mantan tentara Austro-Hungaria dalam Perang Dunia I yang kemudian bergabung dengan Wehrmacht Jerman seusai "Anschluss" (Penyatuan) dengan Jerman pada tahun 1938. Dalam Perang Dunia II, dia menjadi Komandan 267. Infanterie-Division (10 November 1941 - 2 Januari 1942), Komandan 7. Gebirgs-Division (22 Juli 1942 - 10 September 1942), serta kemudian juga bertanggungjawab atas bombardir artileri berat terhadap benteng Rusia di Sebastopol di musim panas tahun 1942. Pada tanggal 1 Desember 1942 dia mengambil alih komando XXXIX. Panzerkorps. Pada bulan Juni 1944, XXXIX. Panzerkorps berada di bawah kendali Heeresgruppee Mitte di wilayah Belorusia. Tak lama sebelum Tentara Merah melancarkan ofensif musim panas besar-besaran yang menggulung Grup AD Tengah Jerman - yang dinamakan sebagai Operasi Bagration - seorang komandan batalyon dari 12. Infanterie-Division melaporkan kekhawatirannya akan kemungkinan datangnya serangan kepada Martinek, yang saat itu sedang melakukan tur inspeksi ke unit-unit bawahannya. Martinek setuju dengan pendapat tersebut, tapi menjawabnya dengan mengutip sebuah pepatah "Siapa yang akan Tuhan hancurkan, maka Dia buat buta terlebih dahulu". Pasukan Soviet akhirnya benar-benar menyerbu laksana air bah pada tanggal 22 Juni, dan tak lama kemudian korps Martinek terkepung dari mana-mana. Sang jenderal Austria terbunuh dalam sebuah serangan udara pada tanggal 28 Juni 1944 di dekat Berezino. Selama karir perangnya, dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 26 Desember 1941 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 267.Infanterie-Division / VII.Armeekorps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte, serta Eichenlaub #388 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 10 Februari 1944 sebagai General der Artillerie dan Kommandierender General XXXIX.Panzerkorps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Österreichisches Militär-Jubiläumskreuz (1908); Österreichisches Karl-Truppenkreuz; Österreichisches Militärverdienstkreuz, III. Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern (Juli 1915 dan September 1917); Österreichisches Bronzene Militärverdienstmedaille am Bande des Militärverdienstkreuzes mit Schwertern; Österreichisches Silberne Militärverdienstmedaille am Bande des Militärverdienstkreuzes mit Schwertern ("Signum Laudis" tahun 1916, 1917 dan 1918); Österreicherischer kaiserlicher Orden der Eisernen Krone, III. Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern (Agustus 1918); Goldenes Verdienstzeichen der Republik Österreich; Militärdienstzeichen, II. Klasse für Offiziere der Republik Österreich; Österreichisches Weltkriegserinnerungsmedaille mit Schwertern; Ungarische Weltkriegs-Erinnerungsmedaille mit Schwertern; Wehrmacht-Dienstauszeichnung, IV. bis I. Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; 1939 Eisernes Kreuz II.Klasse (25 September 1939) und I.Klasse (20 Mei 1940); Krimschild; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1 September 1942); Anerkennungsurkunde des Oberbefehlshabers des Heeres #336 (22 September 1941); Ordinul Coroana României (Rumania); serta Deutsches Kreuz in Gold (21 Maret 1943). Namanya juga disebutkan tiga kali dalam Wehrmachtbericht: 24 Oktober 1943, April 1944, dan 3 Juli 1944. Pada tanggal 28 Juni 1963, Artillerie-Kaserne (Barak Artileri) milik Bundesheeres Austria di Wina diberi nama sesuai nama Martinek


 General der Infanterie Friedrich Materna


General der Infanterie Franz Mattenklott (19 November 1884 – 28 Juni 1954)


General der Infanterie Johannes Mayer


General der Infanterie Walter Melzer



General der Infanterie Friedrich Mieth (4 Juni 1888 - 2 September 1944)


Generalleutnant Hans Mikosch


Generalfeldmarschall Walter Model


Generalleutnant Dietrich von Müller


General der Panzertruppe Walther Nehring (15 Agustus 1892 - 20 April 1983) adalah keturunan dari keluarga Belanda yang melarikan diri ke Jerman pada abad ke-17 untuk menghindari tekanan keagamaan. Pada tahun 1911 Nehring bergabung dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jerman, dan ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama. Dia kemudian meneruskan karir militernya di Reichswehr dan Wehrmacht. Pada musim gugur tahun 1940 dia dipercaya sebagai Komandan 18. Panzer-Division, sebuah unit yang dia pimpin dalam penyerbuan ke Uni Soviet setahun setelahnya. Nehring dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 24 Juli 1941 sebagai Kommandeur 18. Panzer-Division, setelah berhasil membawa pasukannya dalam menyeberangi sungai Berezina di tengah serangan tiada henti dari Tentara Merah. Pada bulan Maret 1942 dia dipindahkan ke Afrika Utara untuk menjadi Komandan DAK (Deutsches Afrikakorps), dan tinggal disana sampai dengan awal tahun 1943. Setelahnya Nehring diberi tanggungjawab sebagai Komandan XXIV. Panzerkorps di Front Timur, sebuah posisi yang dijalaninya dengan brilian sehingga dia dianugerahi dua medali tambahan untuk Ritterkreuz-nya: Eichenlaub #383 (8 Februari 1944) serta Schwerter #124 (22 Januari 1945). Nehring mengakhiri karirnya dalam kancah Perang Dunia II dengan posisi terakhir sebagai Panglima 1. Panzerarmee. Seusai perang dia menulis buku tentang sejarah pasukan tank Jerman, yang diberi judul "Die Geschichte der deutschen Panzerwaffe 1916 bis 1945". Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (27 Januari 1915) und I.Klasse (25 November 1917); Verwundetenabzeichen 1918 in Silber (1918); Österreichische Kriegs-Erinnerungsmedaille mit Schwertern; War Commemorative Medal with Swords (Hungaria); War Commemorative Medal with Swords (Bulgaria); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918 (1934); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 mit Spange "Prager Burg"; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis I.Klasse; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (11 September 1939) und I.Klasse (29 September 1939); Panzerkampfabzeichen in Silber; Medaille "Winterschlacht im Osten 1941/42" (1942); Medaglia d'argento al Valore Militare Italia (Juni 1942); Ärmelband "Afrika" (1943); Verwundetenabzeichen 1939 in Gold (2 September 1943); Westpreußen-Medaille (1971); serta Verdienstkreuz I. Klasse des Verdienstordens der Bundesrepublik Deutschland (27 Juli 1973)


Generalleutnant Heinrich Nickel

 General der Infanterie Hans von Obstfelder


General der Artillerie Max Pfeffer


Generalleutnant Georg-Wilhelm Postel


Generaloberst Erhard Raus



Generalleutnant Adolf Raegener (17 Februari 1895 – 17 Agustus 1983)


General der Infanterie Hermann Recknagel (18 Juli 1892 – 23 Januari 1945)


Generalleutnant Alfred-Hermann Reinhardt


Generalmajor Otto-Ernst Remer


Generaloberst Dr.jur. Lothar Rendulic (23 November 1887 - 18 Januari 1971)


 Generalleutnant Ernst Richter


Generalleutnant Eberhard Rodt


Generalfeldmarschall Erwin Rommel


Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt (12 Desember 1875 – 24 Februari 1953)


Generaloberst Richard Ruoff


Generalmajor Max Sachsenheimer


 General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (16 Mei 1892 - 27 September 1980) adalah jenderal pasukan panzer Jerman dalam Perang Dunia II, salah satu dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht / SS yang dianugerahi penghargaan super bergengsi: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten (keriting dah tuh lidah!). Dia adalah tipikal perwira Prusia totok, baik penampilan maupun kepribadiannya. Monokel (kacamata tunggal) tidak pernah lepas dari mata kirinya, pedang di pinggangnya, dan penampilannya yang kaku pun seakan menegaskan dari mana dia berasal. Meskipun begitu, Saucken pada awalnya justru mempunyai cita-cita menjadi seniman, tapi kemudian dia memilih untuk mendaftar di Angkatan Darat Prusia pada tahun 1910 tak lama setelah lulus SMA. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918), begitu juga dalam kekacauan yang terjadi sesudahnya, dimana Saucken bergabung dengan unit Freikorps lokal demi membendung pemberontakan kaum Komunis Jerman. Pada tahun 1921 dia ditarik menjadi anggota Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar), dan menjadi ahli dalam bahasa Rusia setelah ditugaskan ke Uni Soviet pada tahun 1927. Pada saat Perang Dunia II pecah (1 September 1939), Saucken sudah menjadi Komandan Resimen Kavaleri dengan pangkat Oberst. Dia ikut ambil bagian dalam kampanye militer Jerman di Prancis, Balkan dan Rusia. Dalam kancah Pertempuran Moskow di akhir tahun 1941, Saucken diangkat sebagai Komandan 4. Panzer-Division. Dia memimpin unit barunya dengan begitu semriwing, sehingga diganjar dengan medali Ritterkreuz (6 Januari 1942) beserta turunannya, Eichenlaub (22 Agustus 1943) dan Schwerter (30 Januari 1944). Satu lagi yang terakhir, Brillanten, dia dapatkan pada tanggal 8 Mei 1945 saat perang baru saja berakhir di Eropa. Meskipun notabene seorang pahlawan Jerman, Saucken tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap "braune Bande" (gerombolan coklat) alias orang-orang Nazi. Ketika dia diperintahkan oleh Hitler untuk mengambil-alih komando 2. Armee pada bulan Maret 1945, dia datang ke markas sang Führer dengan "tangan kirinya secara santuy diselonjorkan di pedang kavaleri yang selalu dibawanya, sementara monokel terpasang di salah satu matanya". Von Saucken lalu memberi hormat tradisional tentara dan membungkuk sedikit. Tak terbayangkan, karena ini adalah tiga "pelanggaran berat" sekaligus: Dia sama sekali tidak memberikan salam Nazi dengan mengangkat tangannya dan meneriakkan 'Heil Hitler' (seperti yang tertera dalam peraturan resmi semenjak 20 Juli 1944), dia tidak menyerahkan senjatanya untuk disimpan saat masuk... dan dia tetap memakai monokelnya tanpa terganggu saat memberi salam pada Hitler! Ketika diberitahu oleh Hitler bahwa dia akan berada di bawah perintah dari Albert Forster yang merupakan Gauleiter (Gubernur Nazi) di Danzig, Saucken "langsung memandang Hitler di matanya... dan menghentakkan kedua tangannya dengan keras di meja marmer tempat menyimpan peta, dia menjawab 'Aku tak akan pernah menempatkan diriku, Herr Hitler, di bawah perintah dari seorang Gauleiter'. Dengan melakukan ini Saucken telah jelas-jelas menentang perintah langsung dari Hitler dan, lebih-lebih lagi, tidak memanggil pemimpin Jerman yang ditakuti itu dengan sebutan Mein Führer! Yang lebih mengejutkan lagi bagi semua yang hadir disitu, Hitler tampak pasrah pada kehendak jenderalnya yang keras kepala tapi berotak brilian ini, tidak murka seperti biasanya, dan dengan tenang membalas, "baik Saucken, pegang komando untuk dirimu sendiri". Hitler dan Saucken berpisah tanpa berjabat tangan, dan si jenderal Prusia itu meninggalkan ruangan dengan sedikit saja menggerakkan badannya ke bawah untuk membungkuk tanda hormat! Ingat beibeh, ini bukan berarti bahwa pribadinya bertipe pemberontak dan semangat tempurnya telah menurun sehingga dia tampak sangat tidak menghormati pemimpinnya sendiri. Ini adalah hasil keteguhan seorang didikan staf jenderal Prusia sejati yang memegang teguh sumpah keprajuritan. Bolehlah dia kurang hormat sama Hitler, tapi perintah Hitler diturutinya sampai akhir. Bukankah dia baru menyerah satu hari setelah semua pasukan Jerman lain menurunkan senjatanya? Bukankah dia telah mendarmabaktikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk negaranya, sehingga anaknyapun telah menjadi "tumbal" dari perjuangannya? Bukankah semua penghargaan dan medali yang telah diraihnya menjadi pertanda dari kedahsyatannya di medan pertempuran? Tentunya Hitler tidak akan memilih Saucken kalau tahu jenderalnya ini memang selembek perkedel dan bukannya "mutu manikam" yang tak tergoyahkan badai sedahsyat apapun! Kekerasan hatinya ini tampak ketika di hari-hari akhir Perang Dunia II, saat Karl Dönitz (pengganti Hitler sebagai pemimpin Jerman) mengirimkan sebuah pesawat demi mengevakuasi jenderalnya yang berharga ini agar terhindar dari tangkapan Rusia. Lalu apa reaksi Saucken? Bukannya berterimakasih dan buru-buru naik pesawat, dia malah menolak mentah-mentah tawaran Dönitz dan lebih memilih masuk penjara Rusia yang terkenal brutal bersama dengan pasukan yang sangat dicintainya! Soviet pun tidak mampu menundukkan keteguhannya dalam bersikap. Ketika dia disuruh untuk menandatangani sebuah surat pernyataan palsu, Saucken menolak dengan keras sehingga akibatnya dia harus menerima vonis palu hakim kerja paksa selama 20 tahun, dimasukkan dalam sel terpisah, dan mendapat siksaan begitu berat sehingga harus menggunakan kursi roda di sisa akhir hidupnya! Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Generalleutnant Erich von Schaewen (28 Desember 1888 - 3 Maret 1947)


Generalmajor Walter Scherff


General der Gebirgstruppe Dipl.-Ing. Johann "Hans" Schlemmer


Generalleutnant Gustav Schmidt


Generalleutnant Kurt Schmidt (9 April 1891 - 3 Maret 1945)


Generaloberst Eugen Ritter von Schobert (13 Maret 1883 - 12 September 1941) - lahir dengan nama Eugen Schobert - adalah perwira asal Bavaria yang ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia I dan II. Dalam Perang Dunia Pertama, prestasinya di medan pertempuran membuat dia dianugerahi Max-Joseph-Orden, medali militer tertinggi Bavaria, yang membuat pemegangnya secara otomatis menjadi bangsawan dengan tambahan nama "Ritter von", sehingga Eugen Schobert berubah menjadi Eugen Ritter von Schobert. Dia kemudian melanjutkan karir di Reichswehr dan Wehrmacht, dan menjadi salah satu jenderal Jerman yang paling fanatik terhadap Hitler (selain dari Walther von Reichenau). Dalam penyerbuan ke Prancis tahun 1940 Schobert dianugerahi medali militer tertinggi era Nazi Jerman, Ritterkreuz. Dalam penyerbuan ke Rusia setahun kemudian dia mendapat mandat sebagai Panglima 11. Armee. Tragisnya, hanya berselang tiga bulan setelah Operasi Barbarossa dimulai, Schobert tewas saat pesawat yang membawanya mendarat di ladang ranjau Soviet! Posisinya sebagai pimpinan tertinggi 11. Armee kemudian digantikan oleh Erich von Manstein, salah satu jenderal terbaik dalam Perang Dunia II. Medali dan penghargaan yang diraih oleh Eugen Ritter von Schobert: Bayerische Prinzregent Luitpold Jubiläums Medaille; Königlich Bayerische Militär-Verdienstorden IV.Klasse mit Schwertern; 1914 Eisernes Kreuz II. und I.Klasse; Ritterkreuz des Königlich Preußischen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern; Königlich Bayerische Militär-Verdienstorden IV.Klasse mit Krone und mit Schwertern (1918); Ritterkreuz des Königlich Bayerischen Militär Max Joseph Orden (23 Maret 1918); Verwundetenabzeichen in Schwarz (1918); Königlich Bayerische Dienstauszeichnungskreuz II.Klasse; Königlich Bayerische Kronprinz Rupprecht-Medaille (1925); Ehrenkreuz für Frontkämpfer (1934); Wehrmacht-Dienstauszeichnung I. Klasse für 25 jahre (2 Oktober 1936); Commander of the Chilean Order of Merit; Medaille zur Erinnerung an den 13. März 1938; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938; 1939 Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II. und I.Klasse; Mihai Viteazul (Romanian Order of Michael the Brave) 3rd class (2 Agustus 1941); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (29 Juni 1940). Yang terakhir sebagai General der Infanterie dan Kommandierender General VII. Armeekorps / 16.Armee / Heeresgruppe C. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Generalfeldmarschall Ferdinand Schörner


General der Infanterie Albrecht Schubert (23 Juni 1886 - 26 November 1966)


Generalleutnant Otto Schünemann (6 Oktober 1891 - 29 Juni 1944) bergabung sebagai Kadet Angkatan Darat Kekaisaran Jerman pada bulan Oktober 1906. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama, dan setelah perang usai kemudian memilih untuk melanjutkan karir sebagai perwira Polizei. Pada bulan Maret 1936 Schünemann mendaftar lagi ke militer dan diterima. Ketika Perang Dunia II pecah, dia telah menjadi seorang Komandan Resimen. Schünemann dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 20 Desember 1941 sebagai Oberst dan Kommandeur Infanterie-Regiment 184 / 86.Infanterie-Division, setelah kepemimpinannya di medan pertempuran membuat resimennya mampu menguasai kota Polozk pada bulan Juli sebelumnya. Dia kemudian diangkat sebagai Komandan 337. Infanterie-Division pada tanggal 1 Oktober 1942. Perbendaharaan medalinya kemudian bertambah setelah dianugerahi Eichenlaub #339 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 28 November 1943 sebagai Generalleutnant dan Kommandeur 337. Infanterie-Division, sebagai penghargaan atas prestasinya dalam memimpin divisinya secara gemilang dalam pertempuran bertahan melawan Tentara Merah di selatan Dnieper. Pada tanggal 28 Juni 1944 dia ditunjuk sebagai Komandan sementara XXXIX. Panzerkorps, jabatan yang hanya dijalaninya sehari saja, karena keesokan harinya Schünemann tewas oleh serangan pesawat udara musuh saat mobil yang dikendarainya sedang melaju di jalanan antara Mogilev dan Minsk. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer; Dienstauszeichnung der Wehrmacht I.Klasse; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (28 Mei 1940) und I.Klasse (18 Juni 1940); Infanterie-Sturmabzeichen; Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS (28 Agustus 1941); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (3 Agustus 1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (11 Februari 1943). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht tanggal 3 Juli 1944


Generalmajor Adelbert Schulz (20 Desember 1903 - 28 Januari 1944) memulai karirnya sebagai petugas polisi di tahun 1925. Pada tahun 1935 dia dipindahkan ke Angkatan Darat Jerman yang pada saat itu sedang dikembangkan secara besar-besaran oleh Hitler. Unit Schulz ikut berpartisipasi dalam pendudukan Austria dan Sudetenland di tahun 1938. Dalam Perang Dunia II dia ikut ambil bagian dalam Pertempuran Prancis dan bertugas di 7. Panzer-Division di bawah pimpinan Jenderal Erwin Rommel. Pada tanggal 29 September 1940 dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai Hauptmann dan Chef 1.Kompanie / I.Abteilung / Panzer-Regiment 25 / 7.Panzer-Division. Masih dalam posisi yang sama, Schulz mendapatkan Eichenlaub #47 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 31 Desember 1941, sebagai penghargaan untuk kesuksesannya dalam pertempuran melawan Tentara Merah di Front Timur di musim dingin akhir tahun 1941. Pada tanggal 6 Agustus 1943 dia mendapatkan Schwerter #33 untuk Ritterkreuz-nya sebagai Oberstleutnant dan Kommandeur Panzer-Regiment 25 / 7.Panzer-Division, setelah resimennya mampu menghancurkan 76 tank dan menawan 600 prajurit musuh dalam Pertempuran Kursk. Belum cukup sampai disitu, Schulz menjadi orang ke-9 di seantero Angkatan Bersenjata Jerman yang dianugerahi Brillanten untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 14 Desember 1943, sebagai Oberst dan Kommandeur Panzer-regiment 25 / 7.Panzer-Division. Medali bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Hitler. Tragisnya, hanya berselang satu bulan setelah Schulz mendapatkan Brillanten, dia terluka parah dalam pertempuran di Shepetivka, Ukraina, dan meninggal akibat luka-lukanya di hari yang sama. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuzes II.Klasse (24 Mei 1940) und I.Klasse (29 Mei 1940); Verwundetenabzeichen in Schwarz; serta Panzerkampfabzeichen in Silber. Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht tanggal 30 Januari 1944


General der Infanterie Friedrich "Fritz" Schulz

General der Infanterie Viktor von Schwedler


General der Panzertruppe Fridolin von Senger und Etterlin
 
 
Generalmajor Rudolf Sieckenius
 


 Generalleutnant Ernst Sieler


General der Artillerie Johann Sinnhuber


 Generalleutnant Theodor Graf von Sponeck


Generalmajor Friedrich Stemmermann (6 April 1892 - 30 Maret 1970)



Generalleutnant der Reserve Hyazinth Graf Strachwitz von Groß-Zauche und Camminetz (30 Juli 1893 - 25 April 1968) adalah salah satu dari komandan resimen Jerman dalam Perang Dunia II yang paling banyak mendapatkan penghargaan, sekaligus salah satu komandan panzernya yang paling brilian. Dia juga menjadi salah satu dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht yang dianugerahi medali Brillanten (tingkat ke-4 dari Ritterkreuz), dan satu-satunya yang mendapatkannya sebagai penghargaan atas keberanian sekaligus kepemimpinannya. Peraih Brillanten lainnya biasanya menerima medali tersebut semata karena prestasi tempurnya (contoh: Erich Hartmann yang menjatuhkan 352 pesawat musuh) atau karena kecakapannya dalam memimpin pasukan (contoh: Erwin Rommel dan Afrikakorps). Karir Strachwitz yang melesat dari Kapten di awal perang (1939) menjadi Jenderal Bintang 2 di akhir perang (1945) adalah bukti tak terbantahkan dari kualitas bapak-bapak satu ini. Dia bertempur di hampir semua kampanye militer besar Jerman: dari Polandia, Prancis, Balkan, Operasi Barbarossa, Pertempuran Kiev, Stalingrad, Kharkov, Kursk, dan yang lainnya. Medan tugasnya seakan menjadi miniatur dari Perang Dunia II di Eropa. Namanya menjadi legenda bagi mereka yang bertempur di Front Timur, dan yang memberinya julukan "Panzergraf" (Panzer Count). Keberaniannya untuk terjun langsung ke dalam kancah pertempuran membuatnya harus terluka sebanyak 14 kali, termasuk dua diantaranya adalah akibat peluru yang menyerempet kepalanya! Uniknya, di luar dari "kegilaannya" saat berperang, Strachwitz mempunyai hobi yang berbeda 180 derajat saat dia berada di rumahnya, yaitu bertani dan berternak sapi. Dia juga mempunyai gelar kuliah di bidang kehutanan! Sebagai penutup, saya bawakan satu contoh testamen akan kemampuannya yang mengerikan dalam pertempuran brutal di Rusia, yang diwakili oleh satu pesan radio Soviet yang disadap oleh pihak Jerman di sektor utara Front Timur pada awal tahun 1944: "Berhati-hatilah, karena pasukan musuh dipimpin oleh Von Strachwitz si Jenderal Iblis itu. Hindari sebisa mungkin sampai bantuan tiba!" Biografi singkatnya bisa dibaca DISINI


 General der Infanterie Otto von Stülpnagel


General der Artillerie Hermann Tittel


 General der Infanterie Rudolf Toussaint



General der Panzertruppe Rudolf Veiel (10 Desember 1883 - 19 Maret 1956)


Generaloberst Heinrich von Vietinghoff


Generalmajor Hinrich Warrelmann


Generalfeldmarschall Maximilian von Weichs (12 November 1881 – 27 September 1954) berasal dari keluarga aristokrat Jerman di wilayah Bavaria. Dia bergabung dengan Angkatan Darat Kekaisaran pada tahun 1900 sebagai seorang prajurit kavaleri, dan ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918). Pada saat Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, Weichs telah menjadi Komandan XIII. Armeekorps di Polandia. Tak lama kemudian dia diangkat sebagai Panglima 2. Armee, dan memimpin unit barunya dalam invasi Jerman ke Prancis, Yugoslavia dan Uni Soviet. Pada tahun 1942, saat Hitler melancarkan "Fall Blau" (ofensif Wehrmacht di wilayah selatan Rusia), Weichs diangkat sebagai Panglima Heeresgruppe B. Pada awal tahun 1943 dia mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Generaloberst menjadi Generalfeldmarschall. Pada tahun 1944, Weichs memimpin Heeresgruppe F dalam gerak mundur dari wilayah Balkan dan Yugoslavia. Dia kemudian pensiun dari dinas militer pada bulan Maret 1945, hanya berselang dua bulan sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa. Pada waktu berlangsungnya Pengadilan Nuremberg, Weichs didakwa dengan tuduhan sebagai penjahat perang saat dia menjadi panglima pasukan Jerman di wilayah Balkan, tapi tak lama kemudian dibebaskan tanpa sempat menjalani hukuman dengan "alasan medis". Weichs menjalani sisa hidupnya di Jerman Barat, dan meninggal dunia di ibukotanya, Bonn, sembilan tahun setelah usainya peperangan. Medali dan penghargaan yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (20 September 1914) und I.Klasse (12 November 1915); Königlich Bayerische Militärverdienstorden IVKlasse mit Schwertern; Königlich Bayerische Dienstauszeichnungskreuz II.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer (1934); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 mit Spange "Prager Burg"; Wehrmacht-Dienstauszeichnung I.Klasse; 1939 Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (18 September 1939) und I.Klasse (29 September 1939); Ostmedaille (1942); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (29 Juni 1940) mit Eichenlaub (5 Februari 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht tujuh kali. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI

 General der Artillerie Helmuth Weidling

Generalmajor der Reserve Maximilian Wengler


Sumber :

Buku "Uniforms of the German Soldier; an Illustrated History from 1870 to the Present Day" karya Alejandro M. De Quesada
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
Foto koleksi pribadi Ian Spring
www.cww2.net
www.epier.com

www.facebook.com
www.forum.axishistory.com

www.historicalwarmilitariaforum.com
www.life.com
www.thirdreichcolorpictures.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

No comments:

Post a Comment