Sunday, March 20, 2011

Generalleutnant der Reserve Graf Strachwitz von Groß-Zauche (1893-1968), si Panzergraf Tukang Sergap!




Strachwitz von Groß-Zauche sebagai Oberleutnant. Belum tampak medali-medali "semriwing" tertempel di seragamnya, hanya Eisernes Kreuz I klasse yang didapatkannya dalam Perang Dunia Pertama


Oberstleutnant der Reserve Strachwitz von Groß-Zauche sebagai komandan I./Panzer-Regiment 2 di 16.Panzer-Division tak lama setelah penganugerahan medali Eichenlaub tanggal 13 November 1942. Medali "tidak biasa" yang tersemat di kanan bawah adalah Schleischer Adler (Silesian Eagle) 1st Class with Oak Leaves and Swords
Foto yang memuat tanda tangan Strachwitz von Groß-Zauche
Oberst der Reserve Strachwitz von Groß-Zauche dengan medali Schwertern. Wajahnya kalau diperhatikan mirip-mirip Clark Gable, bintang film ngetop Hollywood tempo doeloe!
Nah, yang foto di seri kartupos Hoffmann ini mirip bener sama Aziz Gagap eh Clark Gable!

Oberst Strachwitz von Groß-Zauche, komandan Panzer-Regiment Großdeutschland, sedang berada di atas turet tank komandonyaStrachwitz von Groß-Zauche memakai topi bulu domba khas Rusia yang merupakan modifikasi dari feldmütze Jerma, dalam foto bertanggal 1 Januari 1943. Fotografernya berasal dari Presse-Illustrationen Heinrich Hoffmann dan pertama kali dipublikasikan dalam 'Deutsche Allgemeine Zeitung' terbitan 30 Maret 1943. Saat ini copyright-nya dipegang oleh ullstein bild
Strachwitz von Groß-Zauche di atas Panzerkampfwagen IIII ausf.K. Yang menarik dari foto ini adalah adanya pintu darurat (foto inzet) yang berada di roda rantai tank. Ini adalah hal yang tidak biasa, karena Panzer IV versi K menggunakan sasis M, sementara yang mempunyai pintu darurat tambahan adalah sasis L!
Ini adalah upacara penyerahan medali Ritterkreuz untuk Major Walter Pössl (pangkat terakhir Oberstleutnant) yang merupakan komandan I. Bataillon/Panzer-Regiment "Großdeutschland". Dia menerima medali dari tangan komandan resimennya, Oberst Hyazinth Graf Strachwitz von Groß-Zauche und Camminetz (tengah) tanggal 20 April 1943. Pössl sendiri menerima Ritterkreuz atas aksi mencengangkannya dalam pertempuran di timur Borrisovka (Rusia) dimana batalyonnya menghancurkan 39 tank musuh tanpa kehilangan satu panzer pun!


Strachwitz von Groß-Zauche sedang berbincang-bincang dengan jenderal Hans-Valentin Hube (di atas SPW). Keduanya sama-sama peraih Brillanten! Kalau anda masih bingung yang mana Strachwitz, cari saja satu-satunya cowok berkumis di toto ini!


 Para perwira 16. Panzer-Division berunding di wilayah Uspenskoye (20km barat Moskow) dalam gerak maju pasukan Jerman ke ibukota Uni Soviet tersebut di akhir tahun 1941. Dari kiri ke kanan: Leutnant Graf Franz Ledebur, tidak diketahui, Major der Reserve Graf Strachwitz von Groß-Zauche (Kommandeur I.Abteilung / Panzer-Regiment 2), Oberleutnant Friedrich-Wilhelm Scheidemann, Assistant-Arzt Dr. May, dan Leutnant Stein. Tank dari jenis Panzerkampfwagen III yang berada di samping mereka merupakan Befehlspanzer (Tank Komando) milik Graf Strachwitz



Oberst der Reserve Strachwitz von Groß-Zauche (sebagai komandan Panzer-Regiment Großdeutschland) sedang berbincang-bincang dengan perwira Heer di Borisovka, baratlaut Kharkov, bulan Mei 1943. Perwira bertubuh "mungil" tersebut (untuk ukuran bule) adalah Generaloberst Hermann Hoth (Oberbefehlshaber 4. Panzerarmee). Foto oleh Kriegsberichter Broenner


Strachwitz von Groß-Zauche dalam balutan seragam hitam Panzertruppen, berfoto bersama Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (pangkat terakhir Generalmajor). Lokasinya adalah di Rusia bulan Juni 1943



 Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Broenner bulan Mei 1943 ini memperlihatkan kunjungan Sepp Dietrich ke tempat pelatihan Divisi Großdeutschland di Borisovka, barat-laut Kharkov, sebelum dimulainya Unternehmen Zitadelle (Pertempuran Kursk). Dari kiri ke kanan: Oberst der Reserve Hyazinth Graf "Panzergraf" Strachwitz von Groß-Zauche (Kommandeur Panzer-Regiment Großdeutschland), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler"), Oberst im Generalstab Oldwig von Natzmer (Chef des Stabes Panzergrenadier-Division "Großdeutschland"), dan Generalleutnant Hermann Balck (Kommandeur Panzergrenadier-Division "Großdeutschland")


Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Broenner bulan Mei 1943 ini memperlihatkan kunjungan SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (Kommandeur SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler") ke tempat pelatihan Divisi Großdeutschland di Borisovka, barat-laut Kharkov, sebelum dimulainya Unternehmen Zitadelle (Pertempuran Kursk). Disini Oberst der Reserve Hyazinth Strachwitz von Groß-Zauche (Kommandeur Panzer-Regiment "Großdeutschland") sedang memberikan keterangan tentang cara menggaet cabe-cabean dengan lebih singkat dan efisien. Perwira mungil yang bertolak pinggang persis di depan Strachwitz adalah Generaloberst Hermann Hoth (Oberbefehlshaber 4. Panzerarmee), sementara dua orang perwira berkacamata cengdem (goceng adem) di sebelah kiri Dietrich adalah, dari kiri ke kanan: Oberst im Generalstab Oldwig von Natzmer (Chef des Stabes Panzergrenadier-Division "Großdeutschland") dan SS-Oberführer Werner Ostendorff (Chef des Generalstabes SS-Panzerkorps). Di sebelah kanan Dietrich sendiri berdiri SS-Sturmbannführer Rudolf "Rudi" Lehmann (Ia Erster Generalstabsoffizier SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler")



Strachwitz von Groß-Zauche merundingkan strategi serangan balasan untuk merebut kembali daerah yang diduduki Rusia dengan seorang perwira Panzergrenadier di bawah komandonya, bulan Januari 1944



Strachwitz von Groß-Zauche memperhatikan pasukannya yang sedang bersiap-siap menaiki SdKfz 205 di utara Rusia, 21 Maret 1944


Foto-foto lain yang memperlihatkan Strachwitz von Groß-Zauche di lapangan bersama dengan pasukannya


Artikel tentang Strachwitz von Groß-Zauche di Deutsches Soldatenjahrbuch terbitan 1978


Selain sebagai seorang perwira Heer, Strachwitz von Groß-Zauche juga menjadi anggota partai Nazi dan mempunyai nomor keanggotaan SS. Dalam gambar karya Paul Hannon yang dimuat dalam buku seri Osprey tentang Allgemeine SS di atas kita bisa melihat sang Panzergraf mengenakan seragam gala SS dengan pangkat Standartenführer


Tempat peristirahat terakhir Strachwitz von Groß-Zauche



Lukisan sang Panzergraf bersama barisan panzernya


Oleh : Alif Rafik Khan

Hyazinth Graf Strachwitz von Groß-Zauche und Camminetz dilahirkan di Groß Stein, Silesia (saat ini bernama Kamień Śląski, yang merupakan bagian dari Gogolin di Opole Voivodeship). Keluarganya merupakan bagian dari keturunan bangsawan terpandang di Silesia (Uradel), dan mempunyai tanah yang luas di Silesia Atas, termasuk Schloss (kastil) keluarga di Groß Stein. Sesuai dengan tradisi turun-temurun di keluarganya, karena dia meupakan anak pertama dan penerus titel Graf (Count) Strachwitz, maka dia dibaptis dengan nama Hyazinth, yang diambil dari nama Saint Hyazinth yang hidup di abad ke-12.

Ketika umurnya telah cukup, Strachwitz dikirim ke Berlin untuk mengikuti pendidikan militer. Setelah beberapa tahun belajar dan menjalani pelatihan yang ketat, dia terpilih ke dalam unit super bergengsi Korps Kavaleri Gardes du Corps. Gardes ini telah didirikan oleh Raja Prusia Friedrich The Great tahun 1740 dan merupakan unit paling prestisius di Angkatan Darat Kekaisaran Jerman. Unit ini bahkan mendapat lindungan langsung dari Kaisar Wilhelm II!

Strachwitz lalu meneruskan pembelajarannya di Akademi Militer Lichterfelde, dan teramat menonjol dalam kegiatan-kegiatan olahraga, terutama menunggang kuda, anggar, dan atletik. Begitu berbakatnya orang ini, sehingga dia digadang-gadang untuk ikut serta dalam Olimpiade tahun 1916! Sayangnya, Perang Dunia I keburu datang, sehingga dia pun (bersama dengan serdadu Jerman lainnya) dimobilisasi dan kemudian bergerak ke Barat.
Pada bulan Agustus 1914 Strachwitz telah berpangkat Leutnant di Garde. Hanya beberapa minggu dalam pertempuran pertamanya, dan dia sudah langsung dianugerahi Eisernes Kreuz kelas pertama dan kedua karena keberaniannya di medan perang! Pada akhir tahun itu dia memimpin serangan luar biasa berani di garis belakang Prancis. Setelah seminggu menimbulkan huru-hara di wilayah musuh, akhirnya Strachwitz tertangkap oleh Prancis. Karena dia ketahuan mengenakan seragam sipil, maka dia dituntut dengan hukuman mati. Tapi kemudian hukuman tersebut diperingan, dan Strachwitz pun dipenjara di kamp tawanan perang di Prancis Selatan.

Setelah menyerahnya Jerman, Strachwitz direpatriasi kembali ke negaranya. Dia begitu sedih mendapati kini kampung halamannya porak peranda akibat perang dan juga perselisihan berdarah-darah dengan kaum komunis. Sebagai seorang yang beragama, dia khawatir akan meletusnya revolusi komunis seperti yang terjadi di Rusia, sehingga dia pun memutuskan untuk bergabung dengan Freikorps Silesia Utara dan terlibat dalam beberapa pertempuran jalanan melawan pihak komunis. Karena dia merupakan seorang perwira yang brilian, Strachwitz tetap dimasukkan ke Angkatan Darat Jerman yang baru, yang kini bernama Reichswehr. Dia bertugas sebagai perwira cadangan di 7.Kavallerie-Regiment di tahun 1920-an dan awal 1930-an. Pada tahun 1934, Strachwitz menghadiri sebuah demonstrasi pasukan mekanis dan bermotor baru Jerman. Begitu terkesannya dia, sehingga dia pun langsung mengajukan permintaan untuk dipindahkan ke unit panzer (lapis legit eh baja). Permintaannya dikabulkan, dan pada tahun 1935 dia dikirimkan ke Eisenach dan menjadi bagian dari 2.Panzer-Regiment yang masih dalam masa pembentukan (resimen ini nantinya menjadi dasar dari divisi panzer pertama Jerman). Strachwitz, yang kini berpangkat Major der Reserve, diserahi komando 1.Bataillon.

Setelah pecahnya perang besar kedua di bulan September 1939, Strachwitz bertugas di 1.Panzer-Division dalam kampanye gilang gemilang di Polandia, Negara-Negara Bawah dan Prancis. Selanjutnya dia ikut serta dalam Operasi Marita, yaitu kampanye di Balkan. Selama berlangsungnya kampanye ini, dia ambil bagian dalam geakan maju tentara Jerman ke Beograd (ibukota Yugoslavia), dan bertempur bersama-sama unit legendaris Großdeutschland (saat itu masih menjadi resimen infanteri). Strachwitz selalu mempertunjukkan kemampuan terbaiknya dalam memimpin pasukan, sehingga di bulan Mei 1941 dia dipromosikan menjadi Oberst der Reserve.

Ketika beberapa divisi bermotor baru dibentuk demi menghadapi Operasi Barbarossa (penyerbuan Uni Soviet) yang akan digelar Jerman, Strachwitz dipindahkan ke 2.Panzer-Regiment dan memegang komando 1.Bataillon (kini menjadi bagian dari 16.Panzer-Division). Tanggal 22 Juni 1941, agresi militer Jerman atas Rusia pun dimulai.

16.Panzer-Division diperintahkan untuk membantu kekuatan Jerman dalam pertempuran di sebuah jembatan yang melintasi sungai Bug. Saat itu jembatan vital tersebut telah dikuasai oleh elemen-elemen dari batalyon bermotor divisi, tapi kini menghadapi serangan balasan yang dahsyat dari pihak Rusia. Batalyon Strachwitz sendiri telah dilengkapi dengan panzer-panzer yang dapat mengambang di air, yang sebelumnya dipersiapkan untuk invasi ke pulau Inggris yang diurungkan. Jam 04.30 tanggal 22 Juni, panzer-panzer batalyon Strachwitz bergerak melintasi sungai dengan mendapat tembakan gencar dari pihak musuh di seberang sana. Setelah tenggelam seluruhnya dan hilang dari pandangan, tiba-tiba panzer-panzer Jerman nongol di pinggir sungai yang dikuasai Tentara Merah, dan langsung merangsek posisi musuh. Tentu saja musuh yang tidak menyangka hal tersebut menjadi panik dan tak lama kemudian perlawanan pun terhenti. Jembatan kini berada sepenuhnya di tangan Jerman. Tidak berhenti sampai disana, Strachwitz langsung meneruskan gerak majunya di atas Panzer III yang berada paling depan dari konvoy pasukannya. Di tengah jalan dia berpapasan dengan barisan panjang kendaraan bermotor Soviet yang membawa perbekalan dan suplai. Yang terjadi kemudian adalah pembantaian: Lebih dari 300 buah kendaraan musuh hancur lebur dan beberapa baterai artileri Rusia turut menjadi korban keganasan Strachwitz! Atas prestasi mengagumkan ini, sang bangsawan dianugerahi medali Adipura eh Ritterkreuz.

Selama berlangsungnya kampanye Jerman di Rusia tahun 1941 tersebut, Strachwitz berulangkali menunjukkan bakat luar biasanya dalam hal mengkomando pasukan panzer dan memanfaatkan sebaik-baiknya kemampuan unitnya yang begitu mobil. Begitu dahsyatnya pengaruh Strachwitz, sehingga pasukannya memberi julukan kepada komandan yang dicintainya tersebut dengan nama "Panzergraf" (Bangsawan Tank). 16.Panzer-Division selanjutnya menjadi salah satu bagian dari 6.Armee Jerman di bawah pimpinan Friedrich Paulus yang mengepung kota Stalingrad di akhir tahun 1942. Kini Strachwitz sendiri telah memegang komando 2.Panzer-Regiment. Dalam salah satu pertempuran sengit di batas utara kota Stalingrad, unitnya tercatat menghancurkan 105 buah tank T-34! Tak lama setelahnya, Strachwitz terluka parah sehingga harus diterbangkan keluar dari kota tersebut. Atas aksinya, dia dianugerahi Eichenlaub sebagai tambahan Ritterkreuz-nya.

Pada bulan Januari 1943, Strachwitz diserahi komando Panzerregiment Großdeutschland yang merupakan bagian dari Panzergrenadier Division Großdeutschland. Dia memimpin resimen barunya dalam Pertempuran Ketiga Kharkov, bersama-sama dengan Korps Panzer SS yang dipimpin SS-Gruppenführer Paul Hausser. Kembali Strachwitz menunjukkan kegemilangannya, sehingga dia diganjar dengan medali Schwertern. Pada bulan November 1943 dia terpaksa harus meninggalkan Großdeutschland karena alasan kesehatan, meskipun banyak veteran divisi tersebut yang ketika diwawancarai, mengkaitkan kepergiannya dengan fakta bahwa dia seringkali berselisih paham dengan komandan divisi, Walter "Papa" Hörnlein.

Setelah sebulan menikmati cuti sakit, Strachwitz dipanggil kembali dan langsung dipromosikan menjadi Generalmajor der Reserve sekaligus diserahi komando divisi panzer pertama yang dibentuk Jerman, 1.Panzer-Division (meskipun hanya sementara saja). Dalam periode ini, dia juga diberi pangkat SS, yaitu SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS. Memang sejak sebelum perang Strachwitz telah menjadi anggota NSDAP (nomor keanggotaan 1405562) dan juga anggota Allgemeine SS (nomor keanggotaan SS 82857). Hal seperti ini bukanlah hal aneh, karena Reichsführer-SS Heinrich Himmler biasa memberi pangkat tinggi di satuannya kepada orang-orang "ngetop" seperti Strachwitz demi menjamin kesetiaan mereka kepada ideologi Nazi dan menambahkan prestise SS di mata rakyat Jerman.

Pada akhir tahun 1944, Strachwitz kembali menjalani tugas aktif meskipun sebenarnya dia masih dalam masa penyembuhan setelah mengalami luka-luka parah dalam kecelakaan yang hebat. Dia dipromosikan menjadi Generalleutnant der Reserve bulan Januari 1945, dan diperintahkan untuk mengorganisasi formasi sebuah Brigade Panzerjäger yang berpangkalan di Bad Kudova. Brigade tersebut, yang dinamai Panzerjäger-Brigade Oberschlesien, merupakan formasi ad hoc (berdasarkan buku novel karangan Freddy S, ad hoc adalah hasil improvisasi atau dibentuk hanya untuk satu tujuan saja) dari unit-unit yang berlainan, dan sebagian besarnya miskin latihan juga senjata. Sesuai dengan namanya, unit ini diperintahkan untuk mempertahankan Silesia Utara (Oberschlesien) dari serbuan musuh. Tidak putus asa menghadapi kenyataan betapa pasukannya begitu "nestapa", Strachwitz memimpin mereka menghadapi berkali-kali pertempuran. Dia merubah pasukannya yang "hijau" dan bermoril rendah menjadi satu kekuatan yang mengerikan, dan menghancurkan ratusan kendaraan dan tank musuh dalam prosesnya! Di bulan April 1945, Strachwitz memimpin pasukannya dalam menerobos kepungan ketat pasukan Rusia di Cekoslowakia, dan berhasil! Dia mencapai wilayah yang dikuasai oleh pihak Amerika di Bavaria, dan menyerahkan diri disana. Dengan hasil ini, dia telah berhasil menghindarkan pasukannya dari kemungkinan jatuh ke tangan Tentara Merah (yang terkenal dengan pembalasannya yang kejam terhadap prajurit Jerman yang tertangkap).

Tambahan
Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Sang Panzergraf telah kehlangan putra termudanya dalam pertempuran di Front Timur. Untungnya, putra tertuanya, walaupun sempat terluka parah, berhasil selamat dari peperangan. Dia juga mempunyai seorang putri lain. Tak lama setelah penyerahannya ke tangan Amerika, istri tercintanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Strachwitz kemudian menikah kembali dan dianugerahi empat orang anak (dua putra dan dua putri) dari istri keduanya.

Setelah menghabiskan beberapa waktu di kamp tawanan perang, Strachwitz ditawari posisi sebagai penasihat bagi Angkatan Bersenjata Suriah. Dia mengambil posisi tersebut, tapi seiring dengan digulingkannya keluarga kerajaan di tahun 1951, Strachwitz pun terpaksa angkat kaki dari negara Arab ini dan kembali ke Jerman Barat. Dia tinggal di sebuah tanah yang luas di Winkl/Grabenstätt di Bavaria, dan bermukim disana dengan tenang dan tanpa gangguan sampai meninggalnya tanggal 25 April 1968 di usia 74 tahun. Bundeswehr menghadirkan pasukan penjaga kehormatan yang membawa peti mati berisi Strachwitz sebagai perlambang dari penghormatan mereka kepada sang Panzergraf. Hyazinth Graf Strachwitz von Groß-Zauche und Camminetz dikuburkan di desa kecil Grabenstätt.

Salah satu karakter yang menonjol dari manusia ini adalah kegigihan dan sikap pantang menyerahnya. Dia tak merasa berat untuk melakukan hal-hal "tak terduga" bilamana memang situasi memaksanya untuk berbuat seperti itu. Ketika Perang Dunia Pertama pecah, dia termasuk ke dalam barisan orang-orang pertama yang mendaftar untuk diterjunkan dalam pertempuran. Da terutama meminta untuk ditugaskan dalam unit patroli jarak jauh d belakang garis musuh. Masa tugasnya, meskipun singkat saja, bisa digolongkan ke dalam SPEKTAKULER dan bagaikan novel. Dia berhasil mendapatkan informasi-informasi berharga yang berguna bagi Jerman sekaligus melancarkan sabotase-sabotase yang luar biasa beresikonya di wilayah yang dikuasai Prancis. Tentu saja dia beberapa kali pula hampir tertangkap. Dalam salah satu kesempatan dia dan pasukannya begitu basah kuyup oleh air sementara pasukan Kolonial Prancis tanpa diketahui telah datang untuk menangkap mereka. Dia memerintahkan kepada anakbuahnya untuk melepaskan seragam dan perlengkapan yang basah dan menggantinya dengan pakaian sipil. Saat inilah pasukan musuh menangkap mereka. Ketahuan mengenakan seragam sipil di wilayah musuh merupakan pelanggaran berat karena bisa dianggap mata-mata, dan Strachwitz pun menghadapi hukuman mati. Untung saja vonis tersebut diperingan, sehingga dia bisa pulang kembali ke Jerman setelah Perang Dunia I usai.

Dalam Perang Dunia II, orang ini sama "mengerikannya". Dari sejak awal dia telah memegang prinsip yang selalu dipraktekkannya sepanjang peperangan: "Tank tidak diperbolehkan untuk diam. Dia harus selalu bergerak dan memimpin dari depan". Dan terbukti, setiap bertempur kita bisa melihat orang ini selalu berada paling depan dan bukannya di garis belakang memimpin dari pos komando yang jauh dari musuh!

Peristiwa lain membuktikan sikap tidak pantang menyerahnya. Dalam penyerbuan ke Prancis tahun 1940, dia menemukan dirinya kini seorang diri terputus dari pasukan utama dan tiba di sebuah kota Prancis dengan pertahanan kuat. Dia tahu kalau dia berbalik dan kabur maka tubuhnya akan bolong ditembaki ratusan senjata musuh yang kini diarahkan kepadanya. Maka apa yang dia lakukan? Strachwitz keluar dari panzernya, berjalan dengan tenang menghampiri musuh yang melongo, lalu berteriak keras-keras menuntut untuk berbicara dengan komandan Prancis disitu. Kemudian, dengan bahasa Prancis yang amburadul, dia menekankan kepada perwira Prancis berpangkat tertinggi di hadapannya bahwa dia harus menyerah kepadanya atau kalau tidak maka resimennya, yang "bersembunyi di sekitar" dan telah mengepung kota tersebut akan memulai serangan. Setelah berpikir beberapa saat, sang perwira Prancis pun menyerah pada tuntutan Strachwitz dan seluruh kota jatuh ke tangannya!

Seneng kan baca pengalaman-pengalaman "ajaib" seperti ini? Mau lagi? OK deh cubluk!

Di atas kita telah membaca tentang aksi Strachwitz di hari pertama Operasi Barbarossa. Nah, setelah itu Strachwitz melanjutkan gerak maju tentaranya. Setelah enam hari penuh bergerak dengan kecepatan tinggi, bagian terdepan konvoy panjang 1.Panzergruppe mendapat serangan yang dilakukan begitu terburu-buru, sporadis dan miskin perencanaan dari empat korps mekanis Rusia yang dipimpin jenderal Mikhail Kirponos (komandan Front Barat-Daya). Pertempuran yang kemudian terjadi tercatat sebagai pertempuran antar tank terbesar dalam sejarah sebelum Pertempuran Kursk dua tahun kemudian!

Berkali-kali pihak Jerman mendapat pukulan dari arah utara dan selatan wilayah Dubno dalam usaha putus asa Soviet untuk memecah pasukan terdepan Jerman dan menghancurkannya satu demi satu. Meskipun tank-tank Rusia berjumlah lebih banyak dan kekuatannya pun melebihi punya Jerman, tapi mereka digunakan oleh orang-orang yang mendapat latihan seadanya, dipimpin dengan buruk dan diterjunkan ke dalam pertempuran tidak dalam satu unit terpadu (melainkan hanya sebagai "pendamping" pasukan infanteri).

Siang hari tanggal 29 Juni 1941, telah jelas bahwa upaya Rusia telah menemui kegagalan. Ya memang pasukan penyerbu Jerman kini telah tertahan, tapi itu hanya sementara saja. Pihak Rusia sendiri telah kehilangan selera bertempur dan siap-siap mundur dengan dilindungi kegelapan malam. Tapi tunggu dulu Bung! Yang anda hadapi ini adalah Panzergraf dan bukannya Telegraf atau Ble'e-ble'egraf! Kalau anda berhadapan dengan dia, maka anda harus menghancurkannya total atau dia yang tidak pernah menyerah akan balik total menghancurkan anda!

Pihak Rusia menyangka bahwa musuh telah terbodohi dan mereka pun diam-diam bergerak mundur, tank dan infanterinya. Yang mereka tidak tahu, diam-diam pula mereka diikuti oleh panzer-panzer dari batalyon Strachwitz dalam jarak yang aman!

Walaupun dua hari terakhir telah dipenuhi oleh pertempuran non-stop, tank-tank yang terbakar dan ledakan-ledakan mengerikan, tapi tampaknya itu semua tidak berpengaruh dalam "melembutkan" semangat bertempur Strachwitz yang selalu membara tak pernah padam. Manusia satu ini tampaknya tidak pernah lelah dan tidak kenal takut. Kini dia memimpin pasukannya ke tempat persembunyian di dekat lokasi berkumpulnya peralatan perang dan kendaraan lapis baja Rusia. Ketika cahaya hari pertama telah datang dan tentara Rusia bersiap-siap untuk kembali bergerak ke belakang, tiba-tiba Strachwitz menyerbu dengan kekuatan penuh, menghancurkan setiap sasaran yang menghalangi jalan dan bahkan berhasil masuk ke posisi artileri musuh. Ini adalah artileri-artileri yang sama yang selama ini telah merepotkan pihak Jerman dalam pertempuran yang terdahulu, dan sang Bangsawan ingin memastikan bahwa senjata-senjata ini dibungkam selamanya dan tidak lagi memangsa rekan-rekan seperjuangannya. Hasilnya sudah bisa diduga, kembali pasukan musuh yang berkali-kali lipat lebih besar kekuatannya hancur lebur diobrak-abrik seorang Strachwitz!

Pasukannya mempercayai dia dan siap mati untuknya karena dia memang selalu berada paling depan dalam pertempuran. Panzernya adalah tank pertama Jerman yang memasuki kota Stalingrad di musim gugur tahun 1942. Dalam kesempatan itu pasukannya mengobrak-abrik sebuah lapangan udara yang dikuasai Rusia sekaligus menghancurkan 150 pesawat musuh yang sedang mendarat! Ketika pasukan Jerman balik terkepung dan menderita karena kekurangan suplai, unit di bawah komando Strachwitz tampaknya malah tidak terkena masalah ini. Alasannya sederhana saja: Dia biasa mengadakan "kunjungan" ke garis belakang Rusia untuk merebut cadangan suplai musuhnya! Tak terbayangkan betapa stres-nya komandan-komandan Rusia yang bermarkas di sekeliling Strachwitz, bagaikan pos-pos Romawi di sekeliling desa Asterix-Obelix dalam komik terkenal karya Goscinny dan Uderzo!

Dalam periode ini pula dia dianugerahi Eichenlaub setelah merancang sebuah sergapan sempurna terhadap barisan tank-tank Rusia. Seperti kebiasaannya selama ini, dia menyembunyikan kendaraan-kendaraan lapis bajanya sehingga bagaikan menyatu dengan lingkungan sekitar, dan menunggu kesempatan terbaik saat musuh datang. Satu demi satu tank Rusia melintas tanpa menyadari bencana yang menunggu mereka, sementara Strachwitz bersabar menanti saatnya tembakan pertama. Dan ketika tembakan tersebut akhirnya datang juga, berarti pula bencana bagi pihak Rusia! Dalam serangkaian manuver brilian yang dilakukan oleh Strachwitz dalam pertempuran itu, sang Panzergraf dan pasukannya tercatat menghancurkan lebih dari 100 tank musuh tanpa kehilangan satu tank pun!!! Amit-amit, amit-amit... Saya katakan, ini adalah suatu hal yang luar biasa, fenomenal dan merupakan pertunjukan dari keberanian, kecerdasan dan kenekadan di waktu yang tepat.

Kalau anda anggap ini hanya sebagai peristiwa kebetulan saja, maka tinggalkan sebentar majalah Bobo anda dan baca ini:

Ketika menjadi Oberst di resimen Panzer divisi elit Großdutschland, dalam satu kesempatan Strachwitz memimpin sebuah penyergapan dengan hanya bermodalkan empat panzer di barisan terdepan. Mereka menembus masuk jauh ke dalam wilayah Soviet, dan menemukan ratusan tank musuh sedang santai diparkir. Pihak Rusia tak pernah menyangka ada musuh yang nongol sebegitu jauhnya, dan akibatnya 105 tank musuh hancur kurang dari satu jam, dan lagi-lagi, pihak Jerman tidak menderita kehilangan satu panzer pun!

Dalam Pertempuran Kharkov di tahun 1943, sekali lagi Panzergraf menunjukkan kehebatannya. Kali ini di tangannya tersedia panzer-panzer Tiger yang lebih mumpuni, dan di tangan orang seperti Strachwitz, tank-tank ini akan menjadi malapetaka bagi siapapun yang coba-coba menjajalnya! Di suatu sore Strachwitz mengunjungi salah satu pos observasi terdepannya, dan tiba-tiba dia melihat melalui teropongnya "penampakan" tank-tank Rusia yang turun dari bukit dan menuju lembah. Mereka tepat menuju ke arahnya! Panzergraf memerintahkan panzernya untuk menuju posisi masing-masing. Ketika pasukan lapis baja Soviet akhirnya berhenti sambil menunggu fajar tiba, panzer-panzer Strachwitz telah siap sedia. Ketika cahaya pagi pertama datang dan menyingkapkan kegelapan, tank-tank Rusia bergerak lagi.

Tiger-Tiger milik Batalyon Berat Großdeutshland masih belum terdeteksi oleh musuh. Sekali lagi sang master penyamaran telah bekerja dengan baik. Menunggu mungkin merupakan salah satu hal yang paling berat di tengah peperangan, tapi orang-orangnya Strachwitz adalah orang-orang berdisiplin yang telah kenyang makan asam-garam pertempuran sehingga mereka tetap sabar menunggu datangnya perintah. Ketika perintah itu datang juga, pintu neraka seakan terbuka bagi pihak Rusia. Dentuman demi dentuman laras meriam kaliber 88 seakan memekakkan telinga di pagi yang buta itu, dan satu demi satu tank Rusia meledak dan terbakar. Hanya dalam beberapa menit, 18 tank telah out-of-order. Sisa-sisa tank yang masih belum tersentuh buru-buru kabur. Tapi, sekali lagi, anda berhadapan dengan Panzergraf, bung! Seperti kebiasaannya, Strachwitz tidak akan membiarkan musuhnya lolos. Dia melanjutkan mengejar tank-tank Rusia yang bergerak mundur, dan sebelum hari berakhir, seluruh kekuatan tank musuh yang tadinya mencoba menyerang posisi Jerman kini hancur lebur! Hanya satu Tiger yang menderita kerusakan, dan ini pun tak lama kemudian diperbaiki oleh tim mekanik yang dibawa Strachwitz sebelum malam tiba.

Lagi dan lagi manusia satu ini mampu melaksanakan tugas yang kelihatannya "mustahil" bagi orang lain. Di Armeegruppe Nord bahkan sampai tersebar satu adagium: "Strachwitz disini - dia akan membereskannya!" Ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh lebih dari satu komandan pertempuran saat Panzergraf datang membantu mereka. Di akhir tahun 1944 sang bangsawan, yang tetap lebih kelihatan sebagai prajurit pejuang daripada komandan pengatur strategi dengan petanya, menghasilkan satu kemenangan kembali yang begitu luar biasa, jauh di luar dugaan apabila melihat sumberdaya yang dipunyainya dan kekuatan musuh yang dihadapinya. George Forty telah menjelaskan secara terperinci serangkaian aksi brilian Strachwitz dan Tiger-nya yang membuat dia dianugerahi medali super langka Brillanten (hanya 27 orang di seluruh Angkatan Bersenjata Jerman yang menerimanya!) dalam bukunya.

Tentunya saya tidak akan menceritakan sampai sedetail itu, tapi setidaknya intinya saja. Siap para Bokepers? OK, ini dia:

Dalam usahanya untuk merebut kembali pelabuhan Latvia di dekat Riga, Strachwitz berangkat menuju medan pertempuran dengan kekuatan kecil saja: 10 tank Tiger dan 15 halftrack yang dipenuhi oleh Panzergrenadier. Dia mengambil jalan memutar di sekitar Tuccum, dan mengejutkan seluruh batalyon T-34 yang sedang bermarkas di kota tersebut. Melihat barisan rapi tank musuh yang tidak menyadari kedatangannya, Panzergraf memerintahkan kapal perang Jerman Lutzow yang berada di perairan tak jauh dari situ untuk mengarahkan meriam-meriam 11" raksasanya ke posisi tank Rusia. Ledakan demi ledakan yang kemudian terjadi menghancurleburkan banyak tank musuh. Sisa yang masih tak tersentuh dibereskan oleh Strachwitz dan Tigernya. Dia juga memanfaatkan tempat persediaan suplai dan bahan bakar musuh untuk pasukannya.

Dari sana dia mengambil pasukan kecil dan menuju ke arah Utara. Disini kembali dia mengejutkan sebuah korps lapis baja Soviet dengan muncul di belakang mereka. Dia menempatkan empat Tiger di posisi tersembunyi dan membiarkan tank-tank Rusia melaju melintasi mereka. Ini adalah taktik favorit sang Panzergraf. Ketika waktu dirasa tepat, Strachwitz memerintahkan pasukannya membuka tembakan. Seperti sebelumnya, tank-tank Rusia yang kebingungan mengira dari mana arahnya serangan tak lama kemudian cerai berai dan menjadi sasaran empuk panzer Jerman. Komandan Rusia menyangka mereka ditembaki dari depan, padahal kenyataannya ledakan demi ledakan yang melanda pasukan mereka datangnya dari arah samping dan belakang! Tak lama 12 tank musuh terbakar dan tak dapat digunakan lagi. Komandan pasukan Rusia melihat adanya panzer Jerman nongol di depannya dan menyangka bahwa kini ia telah terkepung oleh pasukan yang berjumlah jauh lebih besar. Ia berpikir dengan keras selama beberapa waktu, dan tak lama kemudian seluruh korps-nya menyerahkan diri!

Dengan meninggalkan beberapa halftrack dan infanteri untuk mengkontrol situasi, kini Strachwitz melanjutkan penaklukannya, mencapai Riga, memasuki kota dan mendudukinya. Setelah menerima berita tentang didudukinya kembali kota tersebut oleh pasukan Jerman, satu grup perwira Wehrmacht kemudian memasuki Riga dan mendapati di batas kota seorang perwira rendah sedang duduk beristirahat di atas turet Tiger. Salah seorang perwira berteriak dari kejauhan, "Hasil kerja yang bagus, Leutnant!" Mendapat salam seperti itu, sang "Letnan" berkumis tertawa dan menjawab, "Anda tidak sedang berbicara kepada seorang Letnan. Saya hanyalah seorang jenderal". Ternyata ia adalah sang Panzergraf itu sendiri! Seperti kebiasaannya selama ini, Strachwitz tak pernah mengenakan tanda pangkat apapun di seragamnya demi untuk lebih mendekatkan diri kepada pasukannya, dan para perwira perlente itu tidak menyadari hal tersebut. Dasar odong-odong!

Tentu saja hasil-hasil luar biasa seperti ini tampak begitu mustahil dan tidak mungkin bagi para sejarawan barat yang terbiasa dengan hasil-hasil "sesuai logika". Tapi cukuplah sebagai bukti pembenarnya adalah konfirmasi tidak langsung dari berita perang pihak Rusia (yang notabene musuh Jerman) yang membenarkan pencapaian-pencapaian yang telah diraih oleh Strachwitz!

Meskipun Strachwitz adalah seorang komandan lapangan yang tak ada duanya dan brilian dalam level batalyon juga resimen, dia dipandang kurang fleksibel dan tepat ketika diserahi tugas memimpin pasukan setingkat divisi. Hal ini membatasi prestasinya di unit yang lebih besar, dan meskipun pada akhirnya pangkat Strachwitz adalah letnan jenderal, tapi dia hampir-hampir tidak pernah diserahi komando sebuah divisi! Beda halnya ketika dia disuruh untuk menangani sebuah grup tempur (Kampfgruppe) yang beroperasi secara independen dan bebas dari campur-tangan perwira berpangkat lebih tinggi, maka Strachwitz akan menjelma menjadi seorang komandan perang yang luar biasa tangguhnya. Berkali-kali pasukannya yang lebih kecil mengalahkan pasukan raksasa musuh, dan tak kurang dari 14 kali dia terluka dalam pertempuran!

Medali dan Penghargaan:
Panzer Badge in Gold (4th Class)
German Cross in Gold (29 Mei 1943)
Wound Badge in Gold
Iron Cross 2nd dan 1st class
Knight's Cross with Oak Leaves, Swords and Diamonds
Knight's Cross: 25 Agustus 1941 sebagai Major der Reserve dan komandan I./Panzer-Regiment 2
Oak Leaves #144: 13 November 1942 sebagai Oberstleutnant der Reserve dan komandan I./Panzer-Regiment 2
Swords #27 : 28 Maret 1943 sebagai Oberst der Reserve dan komandan Panzer-Regiment "Großdeutschland"
Diamonds #11: 15 April 1944 sebagai Oberst der Reserve dan komandan sebuah Panzer-Gruppe di Heeresgruppe Nord
Disebutkan namanya di Wehrmachtbericht tanggal 2 September 1944



Sumber :
Buku "For Führer and Fatherland: Military Awards of the Third Reich" karya John R. Angolia
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi pribadi Paal Waland
www.armourworkshop.ca
www.audiovis.nac.gov.pl
www.blowtorchscenarios.com
www.commons.wikimedia.org
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.forum.panzer-archiv.de
www.fprado.com
www.grossdeutschland.net
www.guerracivil.forumup.es
www.members.shaw.ca
www.warrelics.euwww.wehrmacht-awards.com


No comments: