Showing posts with label Adolf Hitler. Show all posts
Showing posts with label Adolf Hitler. Show all posts

Sunday, April 26, 2026

Kopral Adolf Hitler


Ketika Perang Dunia I pecah pada musim panas tahun 1914, Adolf Hitler adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang gagal meniti karir sebagai seniman di Wina dan kemudian pindah ke Munich. Berita tentang deklarasi perang dan mobilisasi besar-besaran di Jerman disambutnya dengan antusiasme yang membara, sebuah perasaan yang juga dirasakan oleh jutaan orang Jerman lainnya yang percaya bahwa perang akan mempersatukan bangsa dan mengakhiri kebekuan sosial. Meskipun ia masih merupakan warga negara Austria-Hungaria, Hitler melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mencurahkan loyalitasnya kepada Jerman, negara yang sangat dikaguminya, dan untuk melarikan diri dari kehidupan yang tanpa tujuan dan penuh kemiskinan. Ia dengan sukarela mendaftarkan diri untuk bertugas di Angkatan Darat Bavaria, sebuah keputusan yang tidak hanya mengubah nasibnya secara pribadi tetapi juga menentukan jalannya sejarah dunia. Pada awal Agustus 1914, ia diterima sebagai sukarelawan di Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16, yang kemudian terkenal dengan sebutan Resimen List, sebuah unit yang dinamai berdasarkan komandan pertamanya, Julius von List.

Pelatihan militer dasar yang dijalani Hitler berlangsung singkat dan kurang memadai jika dibandingkan dengan standar pelatihan pasukan elite, mengingat kebutuhan mendesak Jerman untuk mengirim tentara ke garis depan secepat mungkin. Setelah menjalani latihan dasar di Munich, resimennya dikirim ke barisan depan di Belgia pada Oktober 1914, di mana mereka segera terlibat dalam beberapa pertempuran paling sengit di awal perang. Salah satu pengalaman pertama dan paling traumatis yang dialaminya adalah Pertempuran Ypres Pertama, di mana Angkatan Darat Jerman mencoba menerobos garis Sekutu namun mengalami perlawanan yang sangat keras. Pertempuran ini dikenang sebagai "Kindermord bei Ypern" atau Pembantaian Anak-anak di Ypres karena tingginya jumlah korban jiwa di kalangan mahasiswa dan pemuda sukarelawan Jerman yang kurang berpengalaman. Dalam pertempuran ini, Resimen List menderita kerugian yang sangat parah, kehilangan sebagian besar prajurit dan perwiranya hanya dalam beberapa hari, sebuah pengalaman yang membentuk pandangan Hitler bahwa ia adalah seorang yang terpilih untuk bertahan hidup sementara orang lain gugur.

Hitler menjalani sebagian besar masa dinasnya bukan sebagai prajurit infantri yang bertarung di parit depan dengan bayonet, melainkan sebagai seorang *Meldegänger* atau kurir pesan. Posisi ini mengharuskannya berlari atau bersepeda dari markas resimen ke garis depan atau ke markas batalion untuk menyampaikan pesan dan perintah. Meskipun beberapa sejarawan modern berdebat mengenai tingkat bahaya tugas ini dibandingkan dengan tugas infantri biasa, menjadi kurir pada masa itu tetap merupakan pekerjaan yang sangat berisiko tinggi. Hitler harus melewati zona terbuka yang rentan terhadap tembakan artileri, tembakan senapan mesin, dan tembakan penembak jitu musuh untuk mengantarkan informasi vital. Kesetiaannya pada tugas ini membuatnya dianggap sebagai prajurit yang berani dan dapat diandalkan oleh atasannya, meskipun sifatnya yang tertutup dan sikapnya yang terlalu serius sering membuatnya diejek atau dijauhi oleh rekan-rekan sebayanya yang lebih suka bersantai bermain kartu atau membicarakan wanita saat masa istirahat.

Selama empat tahun bertugas di Front Barat, Hitler memang jarang berada di parit paling depan untuk pertempuran jarak dekat yang konstan, namun ia tidak luput dari kebrutalan perang. Ia terluka beberapa kali, di mana cedera pertamanya terjadi pada Oktober 1916 selama Pertempuran Somme, ketika pecahan peluru artileri mengenai pahanya. Luka ini cukup serius hingga ia harus dievakuasi dari medan perang dan dirawat di rumah sakit militer di Beelitz, dekat Berlin, selama beberapa bulan. Pengalaman ini memberinya waktu untuk merenungkan kondisi perang dan kondisi Jerman, di mana ia mulai menyerap dan mempercayai propaganda perang Jerman serta mengembangkan kebencian yang mendalam terhadap siapa pun yang dianggap tidak patriotik. Baginya, rumah sakit bukanlah tempat pemulihan yang menyenangkan, melainkan sebuah pengasingan yang membuatnya frustasi karena tidak bisa turut bertarung bersama teman-temannya di medan perang yang diyakininya sebagai panggilan mulia.

Penghargaan militer yang diterimanya menjadi bukti konkret bahwa ia adalah seorang prajurit yang berdedikasi tinggi dan sangat disegani oleh atasannya, terutama mengingat ia hanya seorang *Gefreiter* atau kopral. Pada bulan Desember 1914, ia dianugerahi Salib Besi Kelas Kedua atas keberaniannya dalam mengantarkan pesan di tengah pertempuran sengit, sebuah penghargaan yang sangat langka diterima oleh prajurit berpangkat rendah pada tahap awal perang. Kemudian, pada tahun 1918, ia menerima penghargaan yang lebih bergengsi, yaitu Salib Besi Kelas Pertama, sebuah kehormatan yang hampir tidak pernah diberikan kepada seorang kopral. Penghargaan ini diberikan atas rekomendasi seorang perwira Yahudi bernama Letnan Hugo Gutmann, sebuah fakta ironis yang sering diabaikan oleh Hitler di kemudian hari ketika ia membangun narasi anti-Semit dan mengklaim bahwa orang Yahudi adalah pengkhianat yang tidak pantas berseragam. Lencana Luka Hitam yang diterimanya juga menandai pengorbanan fisiknya bagi negara.

Hubungan sosial Hitler dengan rekan-rekan sejawatnya di resimen Bavaria seringkali menjadi topik perdebatan dan analisis mendalam di kalangan sejarawan. Berbeda dengan kebanyakan tentara yang membangun ikatan persaudaraan yang kuat melalui kebersamaan di parit, Hitler lebih memilih untuk menyendiri dan menjaga jarak. Ia dikenal sebagai sosok yang aneh oleh rekan-rekannya karena ia jarang minum alkohol, tidak pernah mengunjungi rumah bordil, dan menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku atau menggambar sketsa bangunan dan pemandangan. Ia sering dipanggil dengan ejekan yang merendahkan oleh beberapa prajurit lain, namun sikapnya yang religius terhadap perang dan keteraturan militernya membuatnya tetap dihormati sebagai seorang yang profesional, meskipun tidak populer dalam pergaulan sosial. Baginya, perang adalah tujuan hidup itu sendiri, bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan agar bisa pulang.

Menjelang akhir perang, Hitler mengalami peristiwa traumatis yang sangat menentukan, yaitu ketika ia menjadi korban serangan gas racun yang dilancarkan oleh pasukan Inggris di dekat Ypres pada Oktober 1918. Serangan gas mustar ini menyebabkannya menderita kebutaan sementara dan ia harus menjalani perawatan di rumah sakit militer di Pasewalk. Saat berada di rumah sakit inilah ia mendapat kabar yang mengguncang dunianya, yaitu berita tentang kekalahan Jerman dan dimulainya Revolusi Jerman yang memaksa Kaiser Wilhelm II turun takhta. Bagi Hitler, yang percaya pada mitos "tikus belakang" atau *Dolchstoßlegende* yang menyatakan bahwa Jerman tidak kalah di medan perang melainkan dikhianati oleh politisi sipil dan kaum sosialis di tanah air, berita ini merupakan pukulan yang menghancurkan. Ia merasa pengorbanannya dan jutaan prajurit lainnya telah dikhianati oleh pemerintahan baru Republik Weimar yang ia anggap sebagai penghianat.

Pengalaman pahit di rumah sakit Pasewalk sering dikutip oleh sejarawan sebagai titik balik psikologis yang memicu transformasi Hitler dari seorang prajurit yang taat menjadi seorang politisi yang ambisius dan penuh kebencian. Ia merasa bahwa ia mendapat misi suci untuk menyelamatkan Jerman dari kehinaan dan membalikkan kekalahan tersebut. Selama pulih dari kebutaannya, ia mengklaim mengalami penglihatan mistis yang memerintahkannya untuk memimpin bangsa Jerman menuju kejayaan kembali. Meskipun klaim penglihatan ini mungkin saja dilebih-lebihkan atau dibuat-buat untuk tujuan propaganda dalam otobiografinya *Mein Kampf*, tidak dapat dipungkiri bahwa rasa sakit akibat kekalahan perang dan kebencian terhadap sistem baru menjadi bahan bakar utama bagi ideologi politiknya di masa depan. Pengalaman militernya di resimen Bavaria memberinya identitas baru, bukan lagi sebagai seniman yang gagal, melainkan sebagai veteran perang yang merasa terpanggil untuk berkuasa.

Masa dinas Hitler di Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16 berakhir dengan kekalahan Jerman, namun pengaruh pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinannya yang otoriter dan gaya politiknya yang militan. Ia belajar bagaimana menggunakan simbol-simbol militer untuk memobilisasi massa dan bagaimana memanipulasi sentimen veteran perang yang merasa terabaikan oleh republik baru. Kemampuannya berpidato yang memukau, yang diasah saat ia menjadi *Bildungsoffizier* atau perwira pendidikan politik di Reichswehr pasca perang, berakar pada pemahaman mendalarnya terhadap psikologi tentara dan keinginan mereka untuk pengakuan. Kebencian yang ia tunjukkan terhadap Perjanjian Versailles, komunisme, dan Yahudi sebagian besar dipahami melalui lensa pengalamannya selama empat tahun di medan perang, di mana ia membangun dunia pandangan yang melihat konflik dan kekerasan sebagai cara yang sah untuk menyelesaikan masalah politik.

Secara keseluruhan, layanan Hitler di resimen Bavaria adalah babak fundamental yang tidak dapat dipisahkan dari kebangkitannya menjadi diktator. Perang memberinya rasa memiliki dan tujuan yang tidak pernah ia temukan dalam kehidupan sipil sebelumnya, dan ia memelihara kenangan akan persaudaraan senjatanya dengan sangat sentimental hingga akhir hayatnya, sering kali lebih menyukai foto-foto lamanya saat memakai seragai abu-abu lapangan daripada foto-foto resminya sebagai Kanselir atau Führer. Meskipun ia tidak pernah naik pangkat di atas kopral karena dianggap tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk menjadi perwira oleh atasannya pada masa itu, pengalaman konkret di medan tempur, penghargaan yang ia terima, dan trauma kekalahan adalah elemen-elemen yang ia eksploitasi secara efektif untuk membangun citra dirinya sebagai seorang pahlawan perang rakyat yang memahami penderitaan prajurit biasa. Tanpa pengalaman tranformatif namun tragis ini, sangat mustahil Hitler akan memiliki legitimasi moral di mata pengikutnya untuk memimpin Jerman menuju jalur destruktif yang terjadi di kemudian hari.



Sumber :
Kershaw, Ian. *Hitler: 1889–1936 Hubris*. New York: W. W. Norton & Company, 1999.
Evans, Richard J. *The Coming of the Third Reich*. New York: Penguin Press, 2004.
Weber, Thomas. *Hitler's First War: Adolf Hitler, the Men of the List Regiment, and the First World War*. Oxford: Oxford University Press, 2010.
Fest, Joachim C. *Hitler*. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974.
United States Holocaust Memorial Museum. "Adolf Hitler: Early Years." Diakses melalui encyclopedia.ushmm.org.
History.com Editors. "Adolf Hitler." History.com, A&E Television Networks.
Deutsche Welle. "The making of Adolf Hitler: How World War I created a dictator." dw.com.
Britannica, The Editors of Encyclopaedia. "Adolf Hitler." Encyclopædia Britannica.

Kisah Seorang Prajurit Inggris yang Menyelamatkan Hitler Muda


Salah satu cerita yang paling menggugah dan penuh ironi dalam sejarah modern adalah kisah pertemuan antara seorang prajurit Inggris bernama Henry Tandey dengan Adolf Hitler, yang konon terjadi di tengah hiruk pikuk pertempuran Perang Dunia I. Kisah ini menjadi legenda karena melibatkan keputusan moral sesaat yang diyakini telah mengubah arah sejarah dunia secara drastis. Henry Tandey, seorang tentara Inggris yang bertugas di Resimen Duke of Wellington's, dikenal sebagai pahlawan perang yang sangat berani, namun namanya justru lebih sering dikenang karena klaim bahwa ia pernah menyelamatkan nyawa seorang kopral Jerman yang kelak menjadi diktator paling kejam di dunia. Narasi ini menyajikan paradoks yang menyakitkan: bagaimana satu tindakan kemanusiaan di medan perang dapat secara tidak langsung mengizinkan lahirnya penderitaan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Henry Tandey bukanlah tentara biasa; ia adalah salah satu prajurit Inggris yang paling banyak mendapatkan penghargaan militer selama Perang Dunia I. Ia dianugerahi Victoria Cross, penghargaan militer tertinggi di Inggris, karena keberaniannya yang luar biasa saat Pertempuran Canal du Nord pada tahun 1918. Selain Victoria Cross, ia juga menerima Distinguished Conduct Medal dan Military Medal, menjadikannya satu-satunya prajurit Inggris yang mengumpulkan tiga penghargaan tertinggi ini selama perang tersebut berlangsung. Reputasinya sebagai seorang pejuang yang tangguh dan penuh keberanian menjadikan kisah tentang "pengampunan" yang ia berikan kepada musuhnya semakin menarik untuk disoroti, karena menunjukkan sisi lembut dari seorang prajurit garis depan yang keras.

Insiden yang menjadi titik tolak legenda ini terjadi pada tanggal 28 September 1918, di sebuah desa kecil bernama Marcoing, Prancis. Dalam situasi kacau saat pasukan Jerman terdesak dan sedang melakukan retret, Tandey menemukan dirinya berhadapan langsung dengan seorang prajurit Jerman yang terluka. Menurut versi cerita yang berkembang, prajurit Jerman tersebut terjebak dalam jangkauan tembakan Tandey dan tampak tidak berdaya. Tandey, yang merasa tidak etis untuk menembak seorang musuh yang sedang terluka dan tidak bersenjata, memilih untuk menurunkan senjatanya dan memberi isyarat agar prajurit tersebut pergi.

Prajurit Jerman itu, yang kemudian diyakini kuat sebagai Adolf Hitler, mengangguk tanda terima kasih kepada Tandey sebelum berbalik dan berlari meninggalkan medan pertempuran. Saat itu, Hitler hanyalah seorang kopral rendahan yang bertugas sebagai *Gefreiter* dalam Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16. Tidak ada bukti tertulis langsung pada saat itu yang mengonfirmasi identitas prajurit tersebut, namun cerita ini mendapatkan validitas dua dekade kemudian melalui pengakuan Hitler sendiri yang mengejutkan. Hitler mengklaim bahwa ia adalah orang yang diselamatkan oleh prajurit Inggris penerima Victoria Cross itu.

Kisah ini kembali ke permukaan pada tahun 1938, menjelang pecahnya Perang Dunia II, ketika Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain berkunjung ke Jerman untuk melakukan negosiasi damai dengan Hitler. Dalam percakapan di beranda kediaman Hitler di Berchtesgaden, Hitler dilaporkan menunjuk ke sebuah lukisan reproduksi yang menggantung di dindingnya. Lukisan tersebut, yang dibuat oleh seniman Italia Fortunino Matania, menggambarkan adegan Pertempuran Menin Road Cross dan menampilkan Henry Tandey sedang menggendong seorang tentara terluka.

Hitler kemudian menceritakan kepada Chamberlain bahwa wajah pria dalam lukisan itu sangat dikenalnya. Ia berkata bahwa pria itulah yang pernah membesut senjatanya dan membiarkannya hidup di Marcoing pada tahun 1918. Chamberlain, yang terkejut dengan pengakuan tersebut, kembali ke Inggris dan menghubungi Tandey melalui telepon untuk mengonfirmasi cerita itu. Saat itulah Henry Tandey pertama kali mendengar bahwa tindakan kemanusiaannya di masa lalu telah menyelamatkan nyawa seorang pria yang kini menjadi ancaman bagi perdamaian dunia.

Meskipun kisah ini telah diulang berkali-kali dalam berbagai literatur sejarah, kebenaran mutlaknya masih menjadi perdebatan sengit di kalangan sejarawan. Beberapa pakar sejarah militer menunjukkan bahwa ada inkonsistensi dalam catatan waktu dan lokasi. Hitler mengklaim ia diselamatkan di Marcoing pada 28 September 1918, namun ada catatan lain yang menyatakan resimen Hitler sedang berada di lokasi yang berbeda atau sedang beristirahat pada tanggal tersebut. Namun, pendukung teori ini berpendapat bahwa dalam kekacauan perang, catatan lokasi sering kali tidak akurat, dan Hitler sendiri tidak memiliki alasan untuk mengarang kisah yang membuat hidupnya berutang nyawa kepada seorang musuh.

Dr. David Johnson, seorang sejarawan yang menulis biografi Henry Tandey berjudul *The Man Who Did Not Shoot Hitler*, melakukan investigasi mendalam mengenai klaim ini. Ia menemukan bahwa meskipun bukti fisik seperti foto tidak ada, korespondensi antara Chamberlain dan Tandey, serta keberadaan lukisan tersebut di koleksi Hitler, memberikan bobot yang signifikan pada kebenaran cerita itu. Johnson menyimpulkan bahwa sangat mungkin Hitler memang salah satu prajurit Jerman yang lolos dari bidikan Tandey hari itu, meski detail pastinya mungkin sudah dikaburkan oleh waktu dan memori yang tidak sempurna.

Bagi Henry Tandey, pengakuan bahwa ia pernah menyelamatkan Hitler menjadi beban moral yang sangat berat hingga akhir hayatnya. Setelah Perang Dunia II usai dan kekejaman Holocaust terungkap ke seluruh dunia, Tandey dilanda penyesalan mendalam. Dalam sebuah wawancara menjelang kematiannya, ia mengungkapkan perasaannya yang terluka karena tindakan kemanusiaannya telah memungkinkan terjadinya kekejaman massal. Ia menyesali keputusannya untuk tidak menembak Hitler, meskipun saat itu ia bertindak berdasarkan standar moral seorang prajurit yang beradab.

Ironi tragedi ini terletak pada kontras antara reputasi Tandey sebagai pahlawan perang dan dampak tak terduga dari satu tindakan belas kasihannya. Henry Tandey wafat pada tahun 1977 dalam usia 86 tahun, membawa serta kepedihan akan ironi nasibnya. Kisahnya menjadi monumen yang mengingatkan dunia akan kompleksitas perang dan konsekuensi yang tidak terduga dari setiap keputusan manusia. Kisah Tandey dan Hitler menunjukkan bahwa dalam sejarah, momen-momen kecil dapat memiliki akibat yang sangat besar.



Sumber :
Sumber data dalam penulisan artikel ini meliputi buku karya David Johnson berjudul *The Man Who Did Not Shoot Hitler: The Story of Henry Tandey VC DCM MM* (Merrien Publications, 2008) yang memberikan analisis rinci mengenai biografi Henry Tandey dan validitas klaim pertemuan tersebut. Informasi tambahan diperoleh dari buku *A History of the 9th (Service) Battalion, Duke of Wellington's Regiment* yang merekam tindakan heroik Tandey di Marcoing. Selain itu, arsip surat kabar *The Telegraph* dan situs web *History Hit* serta *BBC News* menyediakan laporan investigatif dan wawancara yang mengkonfirmasi percakapan antara Neville Chamberlain dengan Hitler mengenai lukisan Fortunino Matania, serta reaksi Henry Tandey terhadap pengakuan tersebut.

Eduard Bloch, Dokter Yahudi Hitler


Di tengah sejarah kelam Holokaus dan kebencian mendalam Adolf Hitler terhadap ras Yahudi, terdapat satu sosok yang menonjol sebagai anomali yang mencengangkan, yaitu Dr. Eduard Bloch. Pria ini adalah seorang dokter Yahudi yang tidak hanya merawat keluarga Hitler di kota Linz, Austria, tetapi juga secara paradoksal menikmati perlindungan khusus dari rezim Nazi yang dahsyat. Hubungan antara Hitler dan Bloch merupakan bukti kompleks bahwa meski seorang diktator yang kejam, Hitler tetap mempertahankan kemampuan untuk berbelas kasihan secara selektif, terutama kepada mereka yang ia anggap telah berjasa kepadanya secara personal. Kisah Dr. Bloch menawarkan perspektif yang jarang digali mengenai sisi manusiawi—atau setidaknya sentimentalisme—dari seorang yang bertanggung jawab atas kematian jutaan manusia.

Hubungan profesional antara Dr. Eduard Bloch dengan keluarga Hitler bermula jauh sebelum Hitler menjadi pemimpin Jerman, tepatnya ketika keluarga itu tinggal di Linz. Bloch pertama kali merawat Adolf Hitler ketika ia masih remaja, dan kemudian yang lebih signifikan, merawat ibu Hitler, Klara Hitler, saat ia menderita penyakit kanker payudara yang mematikan pada tahun 1907. Pada era itu, prosedur medis untuk kanker sangat menyakitkan dan invasif, namun Bloch melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi. Hitler, yang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan ibunya, menyaksikan langsung upaya maksimal yang dilakukan oleh dokter Yahudi tersebut untuk menyelamatkan nyawa Klara, meskipun pada akhirnya upaya tersebut gagal.

Kepergian Klara Hitler pada tanggal 21 Desember 1907 menjadi trauma besar bagi Adolf Hitler, namun mengejutkannya, ia tidak menyalahkan Dr. Bloch atas kematian ibunya. Justru, Hitler mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Bloch karena telah meringankan penderitaan ibunya di saat-saat terakhir. Dalam sebuah peristiwa yang langka, Hitler diketahui memberikan hadiah berupa vas bunga besar kepada keluarga Bloch sebagai tanda penghargaan, sebuah gestur yang sangat bertentangan dengan ideologi anti-Semit yang ia promosikan di kemudian hari. Bloch menggambarkan Hitler muda sebagai sosok yang santun dan patuh, "anak yang berbakti" yang air matanya mengalir deras saat ibunya meninggal, sebuah kontras tajam dengan citra "Führer" yang kejam di masa depan.

Setelah Perang Dunia I usai dan Hitler mulai mendekati kekuasaan, situasi politik di Eropa berubah drastis, namun memori Hitler tentang Dr. Bloch tetap terjaga. Ketika Jerman menganeksasi Austria dalam peristiwa *Anschluss* pada tahun 1938, nasib kaum Yahudi di Austria berada di ujung tanduk, menghadapi penyiksaan dan penghilangan secara sistematis oleh Gestapo. Namun, Dr. Bloch mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Yahudi lainnya. Hitler secara eksplisit memberikan instruksi kepada otoritas lokal di Linz bahwa keluarga Bloch tidak boleh diganggu, sebuah keputusan yang menyelamatkan nyawa dokter tersebut dan istrinya dari teror malam *Kristallnacht* dan deportasi awal.

Perlindungan yang diberikan Hitler kepada Dr. Bloch bukanlah sekadar toleransi pasif, melainkan jaminan keamanan aktif yang melibatkan birokrasi Nazi. Ketika Bloch menghadapi tekanan dan diskriminasi ekonomi yang dialami oleh semua Yahudi, ia berani menulis surat langsung kepada Hitler di Berlin. Surat tersebut meminta bantuan, dan responsnya sangat cepat. Kantor Hitler mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa Bloch adalah "seorang Yahudi yang istimewa" atau *Ehrenarier* (Aria kehormatan) dalam praktiknya, meskipun istilah resminya adalah perlindungan pribadi. Gestapo diperintahkan untuk menempatkan plakat khusus di rumah Bloch yang melarang siapa pun mengganggu penghuninya, membuat rumah tersebut menjadi oasis keamanan di tengah lautan teror anti-Yahudi.

Meskipun mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik, Dr. Bloch dan istrinya tetap tidak kebal terhadap tekanan sosial dan pembatasan gerak yang diberlakukan oleh rezim. Bloch kehilangan pasien non-Yahudi dan hak praktiknya semakin dibatasi seiring berjalannya waktu. Menyadari bahwa situasi di Eropa semakin membahayakan, Bloch sekali lagi menggunakan hubungan lamanya dengan Hitler untuk memohon izin emigrasi. Pada tahun 1940, ketika pintu keluar Eropa sudah nyaris tertutup rapat bagi orang Yahudi, Hitler kembali mengabulkan permintaan tersebut. Bloch dan istrinya diizinkan untuk menjual rumah mereka dengan harga yang wajar dan meninggalkan Austria menuju Amerika Serikat, sebuah kemungkinan yang hampir mustahil bagi Yahudi lain pada saat itu.

Setelah bermukim di Bronx, New York, Dr. Eduard Bloch hidup dalam pengasingan namun tetap menjadi saksi sejarah yang unik. Ia memberikan berbagai wawancara kepada media Amerika dan dinas intelijen Sekutu, mengungkapkan sisi personal dari masa kecil Hitler. Bloch menolak mitos bahwa kebencian Hitler terhadap Yahudi berasal dari kematian ibunya atau praktik medisnya, dengan tegas menyatakan bahwa Hitler muda tidak menunjukkan tanda-tanda anti-Semitisme saat itu. Analisis Bloch memberikan kontribusi penting bagi para sejarawan untuk memahami bahwa kebencian Hitler adalah produk dari perkembangan politik pasca-perang, bukan trauma masa kecil, meskipun teori ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi hingga kini.

Ironi paling besar dalam kisah ini terletak pada fakta bahwa sementara Hitler menyelamatkan nyawa satu orang Yahudi yang pernah menolong ibunya, ia dengan dingin memerintahkan pemusnahan sistematis jutaan orang Yahudi lainnya, termasuk ribuan dokter dan profesional medis. Tindakan Hitler terhadap Bloch sering dikutip oleh psikolog dan sejarawan sebagai bukti "psikopati sadis" atau kemampuan psikopat untuk memisahkan emosi pribadi dari kebrutalan ideologis. Hitler mampu menghargai Bloch sebagai individu, namun secara bersamaan mendemonisikan ras Bloch secara keseluruhan sebagai musuh negara, menunjukkan betapa terpecahnya moralitas dari seorang diktator totaliter.

Dr. Eduard Bloch menghabiskan sisa hidupnya di Amerika Serikat hingga ia wafat pada tahun 1945 di usia 73 tahun, hanya beberapa bulan setelah bunuh dirinya Hitler di bunker Berlin. Kisah hidupnya berakhir di tempat yang jauh berbeda dari nasib kebanyakan korban Holokaus di Eropa. Ia meninggal dengan membawa rahasia interaksi pribadinya dengan salah satu manusia paling kejam dalam sejarah, meninggalkan warisan tertulis yang menjadi sumber primer penting. Rumahnya di Linz yang pernah dilindungi oleh plakat Hitler kini menjadi bagian dari sejarah pinggiran yang mengingatkan dunia akan kompleksitas dinamika pelaku dan korban.



Sumber:
Wawancara asli Dr. Eduard Bloch yang dipublikasikan dalam majalah "Collier's" edisi 15 Maret 1941 berjudul "My Patient Hitler"
"Hitler: 1889–1936 Hubris" karya Ian Kershaw
"Explaining Hitler: The Search for the Origins of His Evil" karya Ron Rosenbaum
www.ushmm.org

Saturday, April 25, 2026

Masa Penahanan Hitler di Penjara Landsberg (1924)


Pada tanggal 8 November 1923, Adolf Hitler bersama sekelompok kecil pengikut Nazi mencoba melakukan kudeta yang dikenal sebagai Beer Hall Putsch di Munich, yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah Bayern dan kemudian pemerintah pusat Jerman di Berlin. Upaya kudeta tersebut berakhir dengan kegagalan total setelah polisi Bayern membubarkan parade militer para pemberontak pada keesokan harinya, mengakibatkan kematian enam belas anggota partai Nazi dan empat petugas polisi. Setelah peristiwa tersebut, Hitler melarikan diri namun akhirnya ditangkap dua hari kemudian pada tanggal 11 November 1923 di tempat persembunyiannya di villa Hanfstaengl di Uffing. Penangkapan ini menandai dimulainya babak baru dalam kehidupan Hitler yang akan mengubah nasib Partai Nazi dari sekadar kelompok radikal pinggiran menjadi kekuatan politik utama di Jerman.

Proses pengadilan Hitler berlangsung dari bulan Februari hingga April 1924, yang secara tidak sengaja memberinya panggung publik yang sangat luas untuk menyebarkan ide-idenya. Alih-alih membantah tuduhan, Hitler menggunakan pengadilan sebagai ajang propaganda dengan mengakui sepenuhnya tindakannya dan menyerang pemerintah Weimar yang ia sebut pengkhianat. Akibatnya, meskipun ia terbukti bersalah atas pengkhianatan tingkat tinggi, pengadilan yang terdiri dari hakim-hakim yang bersimpati pada pandangan nasionalisnya menjatuhkan hukuman yang sangat ringan, yaitu lima tahun penjara dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah enam bulan. Hukuman ini dianggap sangat ringan mengingat hukuman minimum untuk pengkhianatan adalah lima tahun dan pemerintah Bayern menuntut hukuman delapan tahun, yang menunjukkan betapa lemahnya sistem peradilan Jerman saat itu dalam menghadapi ancaman sayap kanan ekstrem.

Hitler menjalani hukumannya di Benteng Landsberg (Festungshaft), sebuah penjara yang terletak di sebelah barat daya Munich, yang secara tradisional digunakan untuk menahan tahanan politik dan orang-orang terhormat. Berbeda dengan sel penjara biasa yang gelap dan lembab, kondisi di Landsberg sangat nyaman dan lebih menyerupai hotel atau tempat peristirahatan daripada lembaga pemasyarakatan. Hitler ditempatkan di sel yang besar dan terang dengan pemandangan taman, dilengkapi dengan tempat tidur yang nyaman, meja tulis, dan kursi, yang memungkinkannya untuk menerima pengunjung secara teratur dan menjalankan aktivitas politiknya dari balik jeruji besi. Kondisi ini memungkinkannya untuk merencanakan kembali strategi politiknya dengan tenang tanpa tekanan fisik yang biasa dialami oleh tahanan kriminal biasa.

Selama masa tahanannya, Hitler dikelilingi oleh para loyalis Partai Nazi yang juga terlibat dalam kudeta yang gagal tersebut, termasuk sekretaris pribadinya Rudolf Hess, Emil Maurice, dan Hermann Kriebel. Mereka membentuk semacam komunitas eksklusif di mana Hitler diperlakukan seperti seorang pemimpin yang diagungkan, bukan seperti seorang tahanan. Mereka mengatur jadwal rapat harian, mendiskusikan politik, dan bahkan mengadakan perayaan festival tradisional Jerman di dalam penjara. Pengawal penjara dan pejabat setempat juga memperlakukan Hitler dengan hormat, sering kali memanggilnya "Herr Hitler" dan memberikan hak istimewa khusus, yang mencerminkan simpati masyarakat Bayern terhadap gerakan nasionalis anti-demokrasi saat itu.

Salah satu pencapaian paling signifikan yang lahir dari masa tahanan Hitler adalah penulisan buku yang berjudul "Mein Kampf" (Perjuangan Saya). Awalnya, buku ini diberi judul panjang "Empat Setengah Tahun Perjuangan Melawan Kebodohan, Kebohongan, dan Kepengecutan", namun kemudian dipendekan atas saran penerbitnya. Hitler mendiktekan isi buku tersebut kepada Rudolf Hess yang bertindak sebagai pencatat, menggunakan mesin ketik dan kertas yang disuplai secara khusus untuk mereka. Buku ini menjadi manifesto politik Hitler yang menguraikan otobiografinya, ideologi rasial Aryan, kebencian terhadap Yahudi, dan visi besar Jerman untuk mendapatkan "Lebensraum" atau ruang hidup di Eropa Timur.

Pengalaman di Landsberg tidak hanya menghasilkan sebuah buku, tetapi juga menjadi titik balik yang krusial bagi perubahan strategi politik Hitler. Sebelum kudeta 1923, Hitler percaya bahwa satu-satunya cara untuk merebut kekuasaan adalah melalui revolusi kekerasan dan kudeta militer. Namun, kegagalan Beer Hall Putsch dan refleksinya di penjara meyakinkannya bahwa ia harus mengubah taktiknya. Ia menyadari bahwa menghancurkan struktur kekuasaan melalui kekerasan adalah mustahil jika tidak didukung oleh militer reguler, oleh karena itu ia memutuskan untuk menggunakan jalur legal dan demokrasi untuk meraih kekuasaan dari dalam sistem itu sendiri.

Perubahan strategi ini sering disebut sebagai momen "legalitas" dalam sejarah gerakan Nazi. Hitler menyimpulkan bahwa Partai Nazi harus menjadi partai politik massal yang berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk mendapatkan dukungan rakyat dan kursi di parlemen. Ia merencanakan untuk menghancurkan demokrasi Weimar dengan menggunakan alat-alat demokrasi itu sendiri. Pemikiran ini dicatat dalam buku harian pribadinya dan didiskusikan secara intensif dengan pengikutnya di Landsberg, yang kemudian menjadi cetak biru bagi kampanye politik partai Nazi pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an hingga akhirnya berhasil merebut kekuasaan pada tahun 1933.

Selama kurang lebih sembilan bulan masa tahanannya, reputasi Hitler justru meningkat secara drastis berkat publisitas yang dihasilkan dari persidangannya yang sensasional. Media massa Jerman memberitakan setiap ucapan dan pidatonya di pengadilan, menjadikannya sosok yang dikenal secara nasional, bukan hanya sekadar tokoh lokal di Bayern. Ia memposisikan dirinya sebagai martir yang berkorban demi kejayaan Jerman, sebuah narasi yang sangat kuat di tengah krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik Republik Weimar. Para pengunjung yang berbondong-bondong datang ke Landsberg untuk menyambanginya memperkuat kultus kepribadian yang mulai terbentuk di sekitar dirinya.

Hitir akhirnya dibebas dari Benteng Landsberg pada tanggal 20 Desember 1924, hanya sembilan bulan setelah ia ditahan, berkat pengampunan yang diberikan oleh pemerintah Bayern. Para hakim dan otoritas penjara merekomendasikan pembebasannya dengan alasan bahwa ia telah menunjukkan perilaku yang baik dan memiliki potensi untuk menjadi warga negara yang bermanfaat bagi negara, sebuah penilaian yang terbukti sangat keliru sejarah. Saat ia melangkah keluar dari gerbang penjara, ia disambut oleh kerumunan pendukung dan fotografer, siap untuk memulai kembali perjuangan politiknya dengan strategi baru yang lebih terorganisir dan berbahaya.

Masa tahanan Hitler di Landsberg sering disebut oleh para sejarawan sebagai "universitas dengan beasiswa penuh pemerintah" karena memberinya waktu untuk berpikir, menulis, dan menyusun ulang strategi tanpa gangguan. Alih-alih menghancurkan karir politiknya, hukuman penjara justru menyatukan partainya, memperjelas ideologinya melalui Mein Kampf, dan meluncurkan dirinya ke panggung nasional. Tanpa pengalaman di Landsberg dan waktu luang yang diberikan kepadanya untuk merenungkan kegagalan kudeta, kemunculan Partai Nazi sebagai penguasa Jerman mungkin tidak akan terjadi dengan cara yang sama, menjadikan periode ini sebagai salah satu momen paling menentukan dalam sejarah abad ke-20.



Sumber :
Kershaw, Ian. *Hitler: A Biography*. New York: W. W. Norton & Company, 2008.
Ullrich, Volker. *Hitler: Ascent 1889-1939*. New York: Knopf, 2016.
Shirer, William L. *The Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany*. New York: Simon & Schuster, 1960.
Fest, Joachim C. *Hitler*. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974.
Evans, Richard J. *The Coming of the Third Reich*. New York: Penguin Press, 2004.
United States Holocaust Memorial Museum. "Hitler on Trial for the Beer Hall Putsch." *Holocaust Encyclopedia*. https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/hitler-on-trial-for-the-beer-hall-putsch.
History.com Editors. "Adolf Hitler." *History.com*. A&E Television Networks. https://www.history.com/topics/world-war-ii/adolf-hitler.
Britannica, The Editors of Encyclopaedia. "Beer Hall Putsch." *Encyclopaedia Britannica*. https://www.britannica.com/event/Beer-Hall-Putsch.
Jewish Virtual Library. "Hitler's Imprisonment at Landsberg." *American-Israeli Cooperative Enterprise*. https://www.jewishvirtuallibrary.org/hitler-s-imprisonment-at-landsberg.

Sunday, January 18, 2026

Pidato Hitler di Reichstag (Mei 1941)


Pada hari minggu tanggal 4 Mei 1941, Adolf Hitler berpidato dalam sidang Reichstag di gedung Krolloper, Berlin. Pidatonya berlangsung dengan gaya khasnya: penuh percaya diri, dada dibusungkan, dan nada suara yang seolah berkata “tenang, semua sudah sesuai rencana,” padahal Eropa sedang seperti papan catur yang diserbu bidak ke segala arah. Di mimbar Reichstag ia membanggakan keberhasilan kilat di Balkan - Yugoslavia dan Yunani jatuh cepat - seakan Wehrmacht sedang main blitzkrieg sambil menyesap kopi, sambil menyindir Inggris yang menurutnya masih keras kepala tapi kehabisan napas. Seperti biasa, pidatonya dipenuhi angka statistik, klaim moral, dan kalimat panjang yang bisa membuat notulen kelelahan sebelum sampai titik terakhir. Namun di balik retorika bombastis dan tepuk tangan gemuruh, tersembunyi sebuah ironi besar: hanya beberapa minggu kemudian, fokus perang akan berbelok ke Timur, dengan risiko yang jauh lebih besar. Singkatnya, pidato 4 Mei 1941 terdengar seperti laporan kemenangan dengan bumbu drama teater—meyakinkan di atas kertas, menggelegar di ruangan, tapi sejarah kemudian membuktikan bahwa monolog ini jauh lebih bersifat harapan daripada kenyataan yang sebenarnya terjadi.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Sunday, January 11, 2026

Pidato Hitler di Depan 9.000 Calon Perwira Wehrmacht (1941)


Pada tanggal 29 April 1941, bertempat di Sportpalast Berlin, Adolf Hitler - dalam kapasitasnya sebagai Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht (Pemimpin dan Panglima Tertinggi Angkatan Barsenjata Jerman) - berpidato di hadapan 9.000 calon perwira Wehrmacht (Heer, Luftwaffe dan Kriegsmarine, termasuk dari Waffen-SS), Pidato tersebut cukup menarik karena disampaikan tepat setelah rangkaian kemenangan cepat Jerman di Balkan, khususnya penaklukan Yugoslavia dan Yunani, yang ia jadikan sebagai bukti keunggulan kepemimpinan, disiplin, dan doktrin perang Jerman. Dalam pidato tersebut Hitler tidak berbicara kepada massa umum, melainkan kepada calon elite militer, sehingga nadanya lebih ideologis dan pedagogis: ia menekankan konsep Führerprinzip, ketaatan mutlak dalam rantai komando, serta tanggung jawab moral perwira sebagai “pendidik politik” bagi anak buahnya. Fakta menariknya, Hitler juga menggunakan pidato ini untuk memperkuat keyakinan bahwa Inggris telah berada di ambang kekalahan—sebuah klaim optimistis yang disampaikan hanya beberapa minggu sebelum Operasi Barbarossa dimulai—sekaligus menampilkan dirinya bukan sekadar kepala negara, tetapi sebagai panglima perang yang memahami detail strategi, psikologi prajurit, dan peran perwira dalam perang akbar yang sedang dijalani oleh Jerman.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Saturday, December 27, 2025

Kunjungan Hitler ke Styria Slovenia (1941)


Pada tanggal 26 April 1941, Adolf Hitler melakukan kunjungan resmi ke wilayah Styria dan Kärnten sebagai bagian dari rangkaian inspeksi pasca-kampanye militer Balkan yang baru saja dimenangkan Jerman, sebuah kunjungan yang sarat simbol politik dan propaganda kekuasaan Reich di Eropa Tenggara. Perjalanan dimulai di Marburg an der Drau (kini Maribor), kota yang baru saja dianeksasi dari Yugoslavia, di mana Hitler disambut dengan parade militer, bendera swastika, serta kerumunan besar pendukung lokal dan Volksdeutsche (diaspora Jerman di luar negeri). Di sana ia menegaskan tekad Jermanisasi wilayah tersebut dan mengeluarkan perintah keras terhadap unsur-unsur yang dianggap “asing”.

Dari Marburg, Hitler melanjutkan ke Graz, ibu kota Styria, tempat ia menerima sambutan resmi dari otoritas partai dan pemerintahan daerah serta sekalian meninjau pasukan Wehrmacht dan organisasi Nazi setempat, sambil menekankan peran strategis Styria sebagai wilayah inti Alpen dalam Reich. Kunjungan kemudian diteruskan ke Klagenfurt di Kärnten, yang juga baru memperoleh wilayah tambahan setelah pembubaran Yugoslavia, dan berpuncak di Kärntner Landhaus, gedung bersejarah pemerintahan provinsi, di mana Hitler tampil di balkon dan disambut massa besar dalam sebuah demonstrasi kesetiaan publik yang dikemas secara teatrikal.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941

Sunday, November 2, 2025

Pertemuan antara Hitler dan Mussolini di Münich (1940)


Pada tanggal 18 Juni 1940, di tengah kemenangan besar Jerman atas Prancis, Adolf Hitler dan Benito Mussolini mengadakan pertemuan penting di Münich. Mussolini tiba di stasiun kereta api Münich dengan kereta kepresidenannya, disambut langsung oleh Hitler yang mengenakan seragam abu-abu lapangan, diiringi musik militer dan barisan kehormatan Wehrmacht. Keduanya kemudian berkendara bersama melewati jalan-jalan Münich yang dipenuhi oleh warga yang bersorak, melambaikan bendera Jerman dan Italia, menandai persekutuan yang kini berada di puncak kejayaannya. Setelah itu, Hitler dan Mussolini muncul di balkon Führerbau, bangunan monumental yang dahulu menjadi simbol Partai Nazi di Königsplatz, untuk menyapa rakyat dan memperlihatkan citra persatuan Poros Berlin–Roma. Di dalam ruang pertemuan Führerbau, kedua diktator membahas situasi diplomatik yang muncul setelah permintaan gencatan senjata resmi dari Prancis. Hitler, yang sudah memperoleh kemenangan total, menjelaskan kepada Mussolini bahwa ia bermaksud memberi syarat yang keras namun tidak sepenuhnya menghancurkan Prancis, sementara Duce berharap mendapat bagian wilayah di Mediterania dan Alpen.


Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 512 - 26 Juni 1940

Sunday, October 26, 2025

Hitler dan Mussolini dalam Kunjungan ke Front Timur (1941)

Pada bulan Agustus 1941, di tengah berlangsungnya Operasi Barbarossa — invasi besar-besaran Jerman ke Uni Soviet — Adolf Hitler dan Benito Mussolini melakukan kunjungan bersejarah ke Front Timur. Kunjungan ini berlangsung antara tanggal 25 s/d 28 Agustus 1941, dan bertujuan untuk memperlihatkan langsung kepada pemimpin Italia itu kemajuan pasukan Poros di wilayah timur. Hitler menyambut Mussolini di stasiun kereta di perbatasan Ukraina, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan menuju markas besar Führerhauptquartier Werwolf di Ukraina Selatan, dekat Uman, dan kemudian ke wilayah Vinnitsa. Dalam kunjungan ini, Hitler menunjukkan keyakinannya bahwa kemenangan atas Uni Soviet tinggal menunggu waktu saja, dengan menunjukkan bukti tank-tank rampasan perang, artileri berat, dan tawanan perang Soviet yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Mussolini, yang kagum atas kekuatan militer Jerman, juga menyampaikan keinginannya agar pasukan Italia turut serta lebih aktif dalam kampanye militer di Timur, yang menjadi alasan ditambahnya personel Corpo di Spedizione Italiano in Russia (CSIR). Selain meninjau garis depan, kedua diktator ini melakukan pertemuan strategis untuk membahas masa depan perang, termasuk kemungkinan serangan ke Kaukasus dan Timur Tengah. Dokumentasi kunjungan ini kemudian dijadikan propaganda oleh kedua rezim untuk menegaskan solidaritas Poros dan menggambarkan persatuan antara Roma dan Berlin dalam perjuangan melawan Bolsewisme.

Video berwarna asli ini diambil oleh Hans Baur, pilot pribadi Hitler yang juga mempunyai hobi fotografi. Meskipun Baur bukanlah seorang sutradara atau fotografer profesional, kedekatannya dengan Hitler memungkinkan dia untuk mengakses banyak momen pribadi junjungannya serta peristiwa-peristiwa penting lainnya selama era Nazi.



Sumber :
www.youtube.com

Friday, April 15, 2022

Hitler Menjenguk Korban Plot 20 Juli 1944

Dalam buku "Hitler's Personal Security" karya Peter Hoffmann, disebutkan bahwa Adolf Hitler melakukan kunjungan ke Carlshöfer Anstalten (Rumah Sakit Militer SS Carlshof)  di Prusia Timur (sekarang Karolewo, Polandia) sebanyak enam kali, dari bulan Juli s/d November 1944. Disana dia menjenguk para perwira Wehrmacht dan SS yang terluka dalam peristiwa Bom 20 Juli 1944. Rumah Sakit Carlshof sendiri berjarak sekitar enam kilometer ke arah barat dari Wolfsschanze, yang merupakan lokasi ledakan. Tanggal-tanggal kunjungan Hitler adalah sebagai berikut:
Kunjungan pertama: 24 Juli 1944
Kunjungan kedua: 1 Agustus 1944
Kunjungan ketiga: 13 Agustus 1944
Kunjungan keempat: 19 September 1944
Kunjungan kelima: 21 Oktober 1944
Kunjungan keenam: 18 November 1944

Daftar korban 20 Juli 1944 yang dirawat di Rumah Sakit Militer SS Carlshof:
1. General der Infanterie Rudolf Schmundt (Kepala Ajudan Wehrmacht Hitler) - meninggal
2. General der Infanterie Walter Buhle (Kepala Staff AD di OKW) - selamat
3. Oberstleutnant i.G. Heinrich Borgmann (Ajudan Heer Hitler) - selamat


KUNJUNGAN KEDUA: 1 AGUSTUS 1944

 
Pada tanggal 1 Agustus 1944, Adolf Hitler menjenguk General der Infanterie Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) di Rumah Sakit Militer SS Carlshof di Rastenburg, Prusia Timur, tak lama setelah peristiwa Bom 20 Juli 1944. Pada awalnya Schmundt menunjukkan tanda-tanda penyembuhan, tapi kemudian meninggal dunia akibat komplikasi dari luka-luka yang dideritanya pada tanggal 1 Oktober 1944


 
Dalam kunjungan tanggal 1 Agustus 1944, Adolf Hitler menjenguk Oberstleutnant i.G. (im Generalstab) Heinrich Borgmann (5 Agustus 1912 - 5 April 1945), salah seorang ajudannya yang berasal dari Heer (Angkatan Darat). Pada tanggal 20 Juli 1944, Borgmann berdiri di ujung meja konferensi dekat dengan tas milik Claus von Stauffenberg yang berisi bom. Generalmajor Rudolf Schmundt dan Oberstleutnant Heinz Brandt yang berdiri di sebelah kirinya, serta stenografer Heinrich Berger yang duduk di sebelah kanan, sama-sama meninggal dunia akibat ledakan yang kemudian terjadi. Borgmann berhasil selamat meskipun dengan menderita luka berat. Setelah sembuh dia dipindahkan ke tugas di front depan sebagai seorang Oberst. Dia tidak selamat sampai dengan perang usai karena keburu tewas setelah kendaraan yang membawanya diserang oleh pesawat Sekutu yang terbang rendah


 
Dalam kesempatan kunjungan menjenguk korban Bom 20 Juli di Rumah Sakit SS Carlshof di Rastenburg pada tanggal 1 Agustus 1944, Adolf Hitler menyempatkan diri untuk menengok Obergefreiter Binner, seorang anggota Wehrmacht yang ikut dirawat disana, meskipun dia notabene bukanlah salah satu dari korban Bom 20 Juli yang dirawat di Carlshof

---------------------------------------------------------------------------------------


 
Adolf Hitler menjenguk General der Infanterie Walter Buhle (Chef Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht) di Rumah Sakit Militer SS Carlshof di Rastenburg, Prusia Timur, tak lama setelah peristiwa Bom 20 Juli 1944. Dalam peristiwa tersebut, Buhle mengalami luka-luka setelah terkena ledakan bom yang ditanam oleh Claus von Stauffenberg. Buhle sendiri memasuki ruang konferensi bersama dengan sang "calon pengkhianat" tersebut. Ketika konferensi sudah berlangsung dan ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh von Stauffenberg, Buhle baru mengetahui bahwa dia sudah tidak ada dan kemudian berusaha mencarinya ke koridor. Seorang operator telepon mengatakan bahwa Oberst von Stauffenberg sudah keluar bangunan sehingga Buhle memutuskan untuk balik kembali ke ruang konferensi, beberapa saat sebelum bom meledak. Buhle sendiri baru sembuh dari luka-lukanya di hari-hari terakhir Perang Dunia II


 
Adolf Hitler menjenguk Generalmajor Walter Scherff (Chef Heeresarchive im Oberkommando der Wehrmacht) di Rumah Sakit Militer SS Carlshof di Rastenburg, Prusia Timur, tak lama setelah peristiwa Bom 20 Juli 1944. Scherff menderita luka bakar di bagian wajah serta kedua lengan, tapi berhasil selamat setelah mendapat perawatan intensif di Carlshof. Seorang pengagum Hitler sejati, dia bunuh diri dengan menelan kapsul sianida pada tanggal 24 Mei 1945 saat menjalani masa penahanan di kamp tawanan Amerika. BTW, di foto bawah kita bisa melihat SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Prof. Dr. med. Karl Brandt dan SS-Obergruppenführer Julius Schaub nongkrong di sebelah kanan


Hitler membesuk Generalmajor Walter Scherff (Chef Heeresarchive im Oberkommando der Wehrmacht) yang terluka parah terkena ledakan di markas besar Wolffschanze. Hitler tampaknya mengunjungi sejarawan militernya dua kali, foto atas waktu Scherff masih dipenuhi perban di sekujur mukanya, sementara foto bawah saat dia rada mendingan sehingga bisa berdiri walaupun dipapah


Hitler membesuk General der Infanterie Rudolf Schmundt yang terluka parah terkena ledakan di markas besar Wolffschanze. Schmundt menunjukkan tanda-tanda membaik, tapi kemudian memburuk kembali secara cepat dan meninggal akibat luka-luka yang dideritanya tanggal 1 Oktober 1944



Sumber :
Buku "Fotos aus dem Führerhauptquartier" dari Hermann Historica München
Buku "Hitler's Personal Security" karya Peter Hoffmann
Foto koleksi LIFE
www.gettyimages.com
www.wehrmacht-awards.com

Monday, July 19, 2021

Foto Heinz Linge, Pelayan SS Hitler

SS-Sturmbannführer Heinz Linge (23 Maret 1913 - 9 maret 1981) adalah pelayan pribadi Adolf Hitler yang telah bertugas dari sejak tahun 1935 sampai dengan saat terakhir kehidupan sang Führer, tanggal 30 April 1945. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Koleksi Hoffmann Fotoarchiv yang dibuat pada bulan April 1936 ini memperlihatkan, dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), x , SS-Untersturmführer Heinz Linge (persönliche Ordonnanz Hitlers), SS-Obersturmbannführer Alfred-Ingemar Berndt (Leiter Abteilung IV in der Presseabteilung des RMVP), x , x , x , dan SS-Obersturmführer Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt)


Foto ini diambil pada saat berlangsungnya kunjungan delegasi Cina pimpinan Kong Xiangxi (H. H. Kung) ke Berghof, Berchtedgaden, tanggal 13 Juni 1937. Sebagian dari anggota SS-Begleitkommando des Führers memanfaatkan momen tersebut dengan berfoto bersama dengan salah seorang tamu kenegaraan dari Asia tersebut. Memakai seragam putih adalah SS-Oberscharführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler), sementara di sebelah kirinya adalah SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer Führer und Reichskanzler). Selain itu, kelima dari kiri yang berdiri di baris belakang adalah SS-Hauptsturmführer Adolf Dirr (anggota SS-Begleitkommando); paling kanan adalah SS-Obersturmführer Franz Schaedle (nantinya menjadi komandan terakhir SS-Begleitkommando); dan yang berdiri keempat dari kiri tanpa memakai topi adalah SS-Oberscharführer Peter Hansen (anggota SS-Begleitkommando)



15 Mei 1939: Acara makan siang - dengan menu masakan rebus - dari para petinggi militer Nazi Jerman, yang diadakan pada saat berlangsungnya kunjungan Hitler ke rangkaian benteng pertahanan Siegfried Line di Westwall yang berbatasan dengan Maginot Line Prancis, tanggal 14-19 Mei 1939. Dua orang jenderal yang duduk di sebelah kiri adalah Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht) dan General der Infanterie Erwin von Witzleben (Kommandierender general Gruppenkommando 2), diikuti oleh Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalleutnant Alfred Jacob (Inspekteur der Pioniere und der Festungen), serta Reichsleiter Martin Bormann (Reichsleiter der NSDAP); di atas kepala Bormann berdiri Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); Persis di seberang Keitel dan Witzleben di sebelah kanan adalah SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler); terakhir, yang berdiri sendirian sambil menghadap kamera di semak-semak adalah SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler)


Acara kunjungan Adolf Hitler ke lokasi latihan perang resimen-resimen SS di bawah komando SS-Verfügungstruppe, tanggal 20 Mei 1939. Duduk di jok belakang, dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht) dan Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht). Jok tengah: SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht) dan SS-Brigadeführer Paul Hausser (Kommandeur SS-Verfügungstruppe). Jok depan: Adolf Hitler (Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht) dan SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht). Kendaraan yang digunakan oleh mereka adalah Mercedes-Benz W31 tipe G-4 beroda enam


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh prajurit-prajurit Wehrmacht saat tiba di lapangan udara di dekat Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), 11 September 1939. Di sebelah kanannya adalah pesuruh kepercayaannya, SS-Untersturmführer Heinz Linge, yang sibuk mengamankan sang Führer dari desakan orang-orang yang ingin melihat pemimpin mereka dengan lebih dekat. Linge baru satu hari bertugas menjadi pesuruh Hitler. Hari sebelumnya (10 September 1939), sang Führer memecat pendahulu Linge, SS-Untersturmführer Karl Wilhelm Krause, setelah ketahuan berbohong mengenai masalah pemberian air mineral! Krause, mantan anggota Kriegsmarine yang sudah menjadi pesuruh Hitler dari tahun 1934, telah dengan sengaja memberikan botol air biasa saat Hitler yang kehausan (dalam perjalanan mengunjungi General der Artillerie Walther von Reichenau di Końskie dan Kielce) meminta air mineral. Rupanya Krause lupa membawa air yang diminta dan, bukannya mengaku, malah kemudian memberikan air "standar" sebagai penggantinya. Hitler, yang muak karena ini untuk kesekian kalinya Krause berbohong kepadanya, langsung memecat sang pesuruh dan menggantinya dengan Linge (yang akan mendampingi Hitler sampai akhir). Krause sendiri kemudian kembali bertugas di Kriegsmarine sebagai awak kapal perusak. Ternyata kesialan (atau keberuntungan?) masih "memayungi" dirinya, karena beberapa kapal tempat dia bertugas kemudian tenggelam atau rusak sementara dia sendiri, entah bagaimana, bisa selamat! Atasannya kemudian mengeluarkannya dari Angkatan Laut dengan alasan: "kalau ini dibiarkan terus berlangsung, bisa-bisa seluruh kapal Kriegsmarine habis!" Krause kemudian meneruskan karir di Leibstandarte SS Adolf Hitler sebelum dipindahkan ke Divisi SS Hitlerjugend. Dialah yang merancang Flakpanzer Wirbelwind, sebuah senjata anti pesawat gerak-sendiri yang memanfaatkan sasis Panzer IV. Foto oleh Heinrich Hoffmann


Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) mencicipi makanan yang menjadi ransum prajurit biasa, langsung dari Feldküche (Dapur Lapangan), sementara di belakangnya yang sama-sama bermuka cemong (setelah melakukan perjalanan darat yang lumayan melelahkan) adalah, dari kiri ke kanan: Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier) dan SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers). Foto ini diambil pada tanggal 11 September 1939 di sekitar Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), Polandia, pada saat sang Führer mengunjungi wilayah operasional 10. Armee pimpinan General der Artillerie Walther von Reichenau dan bertemu dengan para perwira Heer disana. Dia pertama kali dipublikasikan dalam buku "Mit Hitler in Polen" (Bersama Hitler di Polandia) karya fotografer pribadi sang Führer, Heinrich Hoffmann, dengan caption asli berbunyi: "Auch der Erste Soldat an der Gulasch-Kanone" (Prajurit Pertama Jerman dan Gulasch-Kanone)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut oleh Gauleiter Danzig, Albert Forster (kedua dari kanan) saat mengadakan kunjungan ke Freie Stadt Danzig/Wolne Miasto Gdańsk (Kota Bebas Danzig) pada tanggal 19 September 1939. Di belakang Hitler berdiri SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) dan SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers). Tulisan "Danzig grüßt seinen Führer" mempunyai arti "Danzig menyambut pemimpinnya", sementara mobil yang dipakai Hitler di kanan adalah mobil Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam


Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) bersiap-siap untuk meninggalkan lokasi Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman di Aleje Ujazdowskie, Warsawa, menuju ke Pałac Belwederski (Istana Belvedere/Schloss Belvedere). Dia akan mengadakan kunjungan singkat ke bangunan bersejarah tersebut sebelum melanjutkan perjalanan berkeliling kota Warsawa (Polandia) bersama dengan para pengiringnya menggunakan mobil Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam. Duduk bersamanya sang supir, SS-Sturmbannführer Erich Kempka, sementara di kursi tengah nongkrong General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee) dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1). Kursi paling belakang diisi oleh SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers) dan Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Disini Linge adalah orang terakhir yang naik mobil alias didid alias oto alias kareta mesin


 Adolf Hitler dkk meninggalkan Pałac Belwederski (Istana Belvedere/Schloss Belvedere) untuk melanjutkan perjalanan berkeliling kota Warsawa, 5 Oktober 1939. Komposisi penumpang Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam yang dikendarai oleh Hitler adalah sebagai berikut: (dari kiri ke kanan dilihat dari perspektif muka): kursi depan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) dan SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer des Führers); kursi tengah: General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1) dan General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee); kursi belakang: SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers) dan Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Di belakangnya mengikuti pengawal SS bersenjata yang membawa beraneka ragam senjata layaknya sedang mengawal boss Mafia!


 Dengan menaiki Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam, Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berkeliling kota Warsawa yang kini diduduki oleh pasukan Jerman, 5 Oktober 1939. Duduk di kursi belakang adalah General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1), sementara di belakangnya lagi yang duduk di kap adalah SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers). Sebagai supirnya sendiri adalah SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer des Führers). Bangunan di latar belakang adalah Pałac Saski w Warszawie (Saxon Palace) yang beralamat di Plac Marszałka Józefa Piłsudskiego 1-3. Bangunan ini dihancurkan oleh pihak pendudukan Jerman sesudah berakhirnya Pemberontakan Warsawa tahun 1944, dan hanya menyisakan bagian tengah jalan beratapnya dimana tersimpan "Kuburan Prajurit tak Dikenal". Foto oleh Heinrich Hoffmann


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berkeliling kota Warsawa - yang kini diduduki oleh pasukan Jerman - dengan Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam, 5 Oktober 1939. Duduk di kursi belakang adalah SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers) dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1), sementara sebagai supir adalah SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer des Führers). Bangunan di latar belakang bernama Pałac Brühla (Istana Brühl), sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1639-42 dan berlokasi di Lapangan Pilsudski. Pałac Brühla tercatat sebagai salah satu istana terbesar di Polandia, sekaligus contoh terbaik arsitektur gaya Rococo yang mencapai masa kejayaannya pada abad ke-17 dan ke-18


 Adolf Hitler berkendara ke sekeliling kota Warsawa dengan menaiki Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam, tak lama setelah usainya acara Siegesparade (Parade Kemenangan) pasukan Jerman pada tanggal 5 Oktober 1939. Dalam foto ini dia melintasi sebuah toko dengan nama "Klepczynski". Di dalam G4 sang Führer terdapat pula lima orang lainnya, dengan komposisi sebagai berikut (dari kiri ke kanan dilihat dari perspektif muka): kursi depan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) dan SS-Sturmbannführer Erich Kempka (Persönlicher Fahrer des Führers); kursi tengah: General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1) dan General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee); kursi belakang: SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers) dan Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht)


Hitler berkumpul bersama dengan para perwiranya di lobi Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Prusia Timur), tak lama setelah upaya pembunuhan yang gagal terhadap dirinya oleh Oberst Claus von Stauffenberg tanggal 20 Juli 1944. Dari kiri ke kanan: Generalmajor Wolfgang Thomale (Chef des Stabes Generalinspekteur der Panzertruppen), Generalleutnant Walter Hoernlein (membelakangi kamera, Führerreserve), SS-Hauptsturmführer Heinz Linge (pria setengah botak yang mukanya tertutup oleh Fegelein, Chef Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler), (SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Hermann Fegelein (tertutup oleh Hoernlein, Verbindungsoffizier zwischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier), perwira SS tak dikenal, SS-Obergruppenführer Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), perwira Kriegsmarine tak dikenal, Generaloberst Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt), NSKK-Gruppenführer Albert Bormann (Chef Hauptamt I [Leiter der Privatkanzlei des Führers] in Führerkanzlei), Oberst Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan SS-Brigadeführer und Generalmajor der Polizei Hans Baur (Chefpilot Führer und Reichskanzler und Chef Flugstaffel "Reichsregierung"). Hoernlein hadir dalam kapasitasnya sebagai mantan komandan Divisi "Großdeutschland", dimana salah satu unitnya bertugas khusus untuk menjaga keamanan Führer (Wach-Regiment "Großdeutschland"). BTW, perhatikan bahwa di rak di kanan telah tersimpan dengan rapi deretan schirmmütze perwira Heer, Luftwaffe dan Kriegsmarine!


 Dari kiri ke kanan: Hermann Giesler (Architekt), SS-Hauptsturmführer Heinz Linge (Chef Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Dr.jur. Ernst Kaltenbrunner (Chef Reichssicherheitshauptamt), serta Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler). Foto ini diambil di ruangan bawah tanah Neue Reichskanzlei (Kekanseliran Baru) pada tanggal 9 Februari 1945 oleh fotografer pribadi Hitler dari Luftwaffe, Walter Frentz. Sang Führer tampak sedang mengamati maket pusat budaya Linz yang rencananya akan dibangun apabila perang telah selesai. Linz sendiri adalah sebuah kota di Austria yang pernah menjadi tempat tinggal Hitler di masa kecilnya. Ketika akhirnya perang benar-benar usai tiga bulan kemudian, Adolf Hitler sudah keburu tewas akibat bunuh diri di puing-puing kota Berlin!


 Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Hermann Giesler (Architekt), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Dr.jur. Ernst Kaltenbrunner (Chef Reichssicherheitshauptamt), serta SS-Hauptsturmführer Heinz Linge (Chef Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler). Foto ini diambil di ruangan bawah tanah Neue Reichskanzlei (Kekanseliran Baru) pada tanggal 9 Februari 1945 oleh fotografer pribadi Hitler dari Luftwaffe, Walter Frentz. Sang Führer tampak sedang mengamati maket pusat budaya Linz yang rencananya akan dibangun apabila perang telah selesai. Linz sendiri adalah sebuah kota di Austria yang pernah menjadi tempat tinggal Hitler di masa kecilnya. Ketika akhirnya perang benar-benar usai tiga bulan kemudian, Adolf Hitler sudah keburu tewas akibat bunuh diri di puing-puing kota Berlin!
 

 

Sumber :
www.alamy.com
www.bild.bundesarchiv.de
www.forum.axishistory.com
www.gettyimages.com

www.ww2db.com

SS-Sturmbannführer Heinz Linge (1913-1980), Pelayan SS Hitler


Album foto Heinz Linge bisa dilihat DISINI

Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Heinz Linge
Panggilan/julukan: Linge
Lahir: 23 Maret 1913 di Bremen (Kekaisaran Jerman)
Meninggal: 9 Maret 1981 di Hamburg (Jerman Barat)
Nomor keanggotaan NSDAP: 1260490 (1932)
Nomor keanggotaan SS: 35795 (1933)
Gelar akademis: Tidak ada
Anggota keluarga: Tidak diketahui
Ciri fisik: Tidak diketahui

Beförderungen (Promosi):
00.07.1944 SS-Hauptsturmführer
00.00.194_ SS-Sturmbannführer

Karriere (Karir):
17.03.1933 Anggota Stabswache Berlin
00.07-08.1934 Mulai bertugas di Obersalzberg
24.01.1935 Mulai bertugas sebagai pelayan pribadi Hitler

Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
00.00.193_ DRL Sportabzeichen

----------------------------------------------------------------------------------

Aufzeichnungen (Catatan):
* Sebelum bergabung dengan SS tahun 1933, Linge bekerja sebagai pembuat batu-bata.
* Mulai bertugas sebagai pelayan untuk Hitler dari tanggal 24 Januari 1935.
* Pada bulan September 1939, Linge menggantikan Karl Wilhelm Krause sebagai Kepala Pelayan Hitler.


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Saturday, May 29, 2021

Foto Adolf Hitler dan Wilhelm Keitel

-1938-

 
Foto ini diambil pada bulan Mei 1938 saat Heer (Angkatan Darat) mempersembahkan maket rancangan Westwall (benteng pertahanan Jerman di sepanjang perbatasan dengan Prancis) kepada Adolf Hitler. Sebagai identifikasinya, dari kiri ke kanan: Hauptmann Nicolaus von Below
(Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), jenderal Luftwaffe tak dikenal, Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), SS-Untersturmführer Hans Hermann Junge (di belakang Raeder, Ordonnanzoffizier in der Führerbegleitkommando), Hauptmann tak dikenal, Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), dua orang perwira Heer tak dikenal, Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen Oberbefehlshaber der Luftwaffe und Führerhauptquartier), dan Major Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht)

Dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Generalmajor Ernst Udet (Direktor des Technischen Amts der Luftwaffe im Reichsluftfahrtministerium), SS-Untersturmführer Heinz Linge (tertutup oleh Udet, Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers), dan Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine). Foto ini diambil pada tanggal 13 Juni 1938, pada saat berlangsungnya latihan militer Luftwaffe di Barth, Pommerania, yang terletak di wilayah pantai Laut Baltik. Disini Hitler menyempatkan diri untuk berpidato di hadapan 40 orang jenderal Wehrmacht. Yang unik adalah, dalam foto ini sang Führer (dan juga Göring) mengikatkan tali topi mereka ke dagu karena kencangnya angin, suatu hal yang tidak biasa!


 Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Ernst Udet (Direktor des Technischen Amts der Luftwaffe im Reichsluftfahrtministerium), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), dan Major Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Foto ini diambil pada tanggal 13 Juni 1938, pada saat berlangsungnya latihan militer Luftwaffe di Barth, Pommerania, yang terletak di wilayah pantai Laut Baltik. Disini Hitler menyempatkan diri untuk berpidato di hadapan 40 orang jenderal Wehrmacht. Yang unik adalah, dalam foto ini sang Führer (dan juga Göring) mengikatkan tali topi mereka ke dagu karena kencangnya angin, suatu hal yang tidak biasa!



Kunjungan pemimpin Hungaria Miklós Horthy ke acara peluncuran kapal penjelajah berat (schwere kreuzer) "Prinz Eugen" yang diselenggarakan di galangan kapal Germaniawerft (Kiel) pada tanggal 22 Agustus 1938. Baris pertama dari kiri ke kanan: Miklós Horthy de Nagybánya (Regen Kerajaan Hungaria), Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), dan Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler). Baris kedua: General der Artillerie Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Vizeadmiral Karlgeorg Schuster (Befehlshaber der Sicherung der Ostsee), dan Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Baris ketiga: General der Flieger Erhard Milch (Staatssekretär Reichsluftfahrtministerium)


 Foto ini diambil sewaktu berlangsungnya "Flottenparade" (Parade Armada) di Kiel pada tanggal 22 Agustus 1938, sebagai perayaan atas diluncurkannya kapal penjelajah berat baru Kriegsmarine, schwere kreuzer "Prinz Eugen". Dalam kesempatan ini, Hitler melakukan inspeksi ke kapal penjelajah "Gneisenau" yang ikut hadir dalam acara. Dari kiri ke kanan: Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), SS-Sturmbannführer Dr.med. Karl Brandt (Begleitarzt der Führer), serta Kapitän zur See Erich Förste (Kommandant Schlachtschiff Gneisenau)


 
Dari kiri ke kanan: Robert Ley (Reichsorganisationsleiter der NSDAP), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Galeazzo Ciano (Menteri Luar Negeri Italia), Il Duce Benito Mussolini (Diktator Italia), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), dan Charakter als General der Infanterie Karl Ritter von Prager. Yang terakhir adalah pensiunan Angkatan Darat Jerman yang mengenakan seragam kehormatan Oberst Infanterie-Regiment 19. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 29 September 1938 oleh Hugo Jaeger, fotografer pribadi Hitler, pada saat berlangsungnya Konferensi Münich. Hitler dan para petinggi Nazi lainnya menyambut kedatangan Mussolini di Hauptbahnhof, dan sekarang mereka sedang berjalan menyusuri Bahnhofsvorplatz yang beralamat di Bayerstraße 12. Di latar belakang di sebelah kiri kita bisa melihat bangunan Bayerpost yang kini beralih fungsi menjadi hotel dengan nama Sofitel München


Di tengah proses penguasaan Sudetenland oleh pasukan Wehrmacht dari tanggal 1 s/d 7 Oktober 1938, pada tanggal 3 Oktober Hitler dan para petinggi Nazi Jerman lainnya melakukan perjalanan ke wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Cekoslowakia tersebut. Foto ini diambil di pinggir jalan antara Eger dan Franzensbad, pada saat rombongan beristirahat sekaligus makan siang dalam perjalanan ke Franzensbad. Duduk menghadap kamera, dari kiri ke kanan: SS-Oberführer Dr,jur. Harald Turner (Chef Zivilverwaltung in der Zone III Heeresgruppenkommando 4 des Sudetenlandes), Generalleutnant Heinz Guderian (Kommandierender General XVI. Armeekorps [motorisiert]), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und deutschen Polizei), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber Heeresgruppenkommando 4), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Konrad Henlein (Leiter Sudetendeutsche Partei), serta Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht). Berdiri paling kiri adalah Walter Hewel (Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler), sementara yang berdiri di belakang Hitler adalah Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht). Terakhir: dikatakan oleh Wikipedia bahwa perwira berpistol yang duduk membelakangi kamera adalah General der Artillerie Hans-Günther von Kluge (Kommandierender General VI. Armeekorps), tapi terlalu sulit untuk mengkonfirmasi kebenarannya karena mukanya yang tertutup


Di tengah proses penguasaan Sudetenland oleh pasukan Wehrmacht dari tanggal 1 s/d 7 Oktober 1938, pada tanggal 3 Oktober Hitler dan para petinggi Nazi Jerman lainnya melakukan perjalanan ke wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Cekoslowakia tersebut. Foto ini diambil di pinggir jalan antara Eger dan Franzensbad, pada saat rombongan beristirahat sekaligus makan siang dalam perjalanan ke Franzensbad. Duduk menghadap ke arah kiri, dari kiri ke kanan: SS-Oberführer Dr,jur. Harald Turner (Chef Zivilverwaltung in der Zone III Heeresgruppenkommando 4 des Sudetenlandes), Generalleutnant Heinz Guderian (Kommandierender General XVI. Armeekorps [motorisiert]), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und deutschen Polizei), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber Heeresgruppenkommando 4), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Konrad Henlein (Leiter Sudetendeutsche Partei), dan Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht). Berdiri di belakang Keitel adalah Walter Hewel (Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler), yang mengenakan insignia Legationsrat II Klasse di lengannya. Terakhir: dikatakan oleh Wikipedia bahwa perwira yang duduk menghadap ke sebelah kanan adalah General der Artillerie Hans-Günther von Kluge (Kommandierender General VI. Armeekorps)


 Reka ulang perjalanan dari Feldherrnhalle ke Königsplatz yang dilakukan oleh Führergruppe dalam peringatan Beer Hall Putsch (Kudeta Aula Bir) yang ke-15 di Münich, tanggal 9 November 1938. Rombongan Führergruppe (orang-orang di sekeliling Hitler yang merupakan veteran kudeta) diiringi pula oleh panglima-panglima tinggi Wehrmacht. Bapak-bapak gundul yang berjalan paling depan adalah Julius Streicher. Yang memegang Blutfahne (Bendera Darah) adalah Jakob Grimminger. Baris pertama di belakangnya, dari kiri ke kanan: Hans Streck, Theodor Kuhn (tertutup panji Swastika), Prof. Dr.med.vet. Friedrich Weber, Hermann Göring, Adolf Hitler, Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Erhard Milch (tertutup oleh Blutfahne, Staatssekretär zum Reichsluftfahrtministerium), Ulrich Graf, Hermann Kriebel, dan Richard Kolb. Baris kedua di belakang Hitler: Max Sasselmann, Prof.Dr. Walter Schultze, Alfred Rosenberg, Gustav Schickedanz, dan Philipp Bouhler. Jenderal Luftwaffe Hugo Sperrle bisa kita lihat di belakang Sasselmann, sementara kepala ajudan Hitler, Wilhelm Brückner, adalah orang tinggi besar yang berjalan di belakang Streck

---------------------------------------------------------------------------

-1939-


Acara resepsi yang diadakan oleh Hitler untuk menghormati para petinggi militer Jerman serta istri-istri mereka. Acara ini diselenggarakan di Neue Reichskanzlei, Berlin, pada tanggal 7 Maret 1939. Yang membelakangi kamera di sebelah Hitler adalah Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht); Empat orang jenderal yang berdiri menghadap kamera adalah, dari kiri ke kanan: General der Infanterie Eugen Ritter von Schobert (Kommandierender General VII. Armeekorps), General der Infanterie Wilhelm List (terhalang oleh Hitler, Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 5 di Wina), General der Artillerie Günther von Kluge (Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 6 di Hannover), dan Generalmajor Georg Thomas (Chef Amtsgruppe Wehrwirtschaftsstab im Oberkommando des Heeres); Selain itu, dua orang laksamana Kriegsmarine yang mengenakan seragam biru gelap di sebelah kanan adalah, dari kiri ke kanan: Admiral Alfred Saalwächter (Kommandierender Admiral Marinestation Nordsee) dan Konteradmiral Werner Grassmann (Inspekteur der Marineartillerie); terakhir, berdiri paling kanan adalah NSKK-Brigadeführer Albert Bormann (Chef Hauptamt I: Leiter der Privatkanzlei des Führers in Führerkanzlei)


 Foto ini berasal dari seri propaganda Nazi dan memperlihatkan para petinggi Third Reich sedang menonton sebuah pertunjukan di tribun VIP Staatsoper Unter den Linden (Berlin State Opera), dalam perayaan Heldengedenktag (Hari Pahlawan) yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maret 1939. Baris pertama dari kiri ke kanan: Dr. Joseph Goebbels (Reichsminister für Volksaufklärung und Propaganda), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), General der Flieger Hans-Jürgen Stumpff (Chef der Luftwehr), Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 1), SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitsdienst), Lina Mathilde von Osten (istri Heydrich), dan SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei). Duduk di belakang Von Bock adalah SA-Gruppenführer Hanns Oberlindober (Reichsführer der Nationsozialistischen Kriegsopferversorgung e. V.), sementara di antara Hitler dan Von Brauchitsch adalah Reichsführer-SS Heinrich Himmler


Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Wilayah ini menjadi akar sengketa antara Jerman dan Lithuania dimana pada tanggal 20 Maret 1939 (hanya lima hari setelah Jerman mencaplok Cekoslowakia) Hitler mengultimatum Menteri Luar Negeri Lithuania Juozas Urbšys untuk mengembalikan wilayah tersebut ke tangan Jerman (yang dihadiahkan ke Lithuania oleh Sekutu seusai Perang Dunia Pertama) atau angkatan perangnya akan menyerbu negara di kawasan Baltik tersebut. Akhirnya dua hari kemudian pemerintahan Lithuania menyerah pada tekanan Jerman. Pendudukan Memel adalah akuisisi teritorial terakhir Jerman sebelum Perang Dunia II Pecah. Dalam foto ini sedikit muka-muka mesum yang teridentifikasi: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 4. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 5. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 6. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)



Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Identifikasinya: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 4. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 5. Hauptmann Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 6. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 7. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)


 Foto ini diambil oleh Hugo Jaeger pada saat kunjungan Hitler ke Kriegsmarinewerft Wilhelmshaven, Niedersachsen, Jerman, tanggal 1 April 1939. Tujuannya kesana adalah untuk meresmikan peluncuran Schlachtschiff (kapal perang) Tirpitz, sekaligus penaikan pangkat luar biasa Panglima Kriegsmarine Erich Raeder, dari Generaladmiral menjadi Großadmiral. Disini sang Führer dan rombongan sedang berada di dek Schlachtschiff Tirpitz. Dari kiri ke kanan: Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Marinehafenbaudirektor Karl Tiburtius (Hafenbaumeister Wilhelmshaven), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Admiral Alfred Saalwächter (Kommandierenden Admiral der Marinestation der Nordsee), dan Admiral Hermann Boehm (Flottenchef). Hal yang perlu menjadi perhatian: dalam foto ini, Marinehafenbaudirektor Tiburtius tampaknya memegang stik bilyard!


19 April 1939: Dalam salah satu rangkaian perayaan ulangtahun Hitler yang ke-50 - yang akan diselenggarakan keesokan harinya - para petinggi pemerintahan dan militer Nazi Jerman berdiri di depan pintu Ehrenhof Reichskanzlei, sambil mendengarkan repertoar musik yang dibawakan oleh Musikkoprs Leibstandarte SS Adolf Hitler pimpinan Musikdirektor SS-Hauptsturmführer Hermann Müller-John. Baris depan, dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer Josef "Sepp" Dietrich" (Kommandeur Leibstandarte SS Adolf Hitler), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und deutschen Polizei), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Dr. Joseph Goebbels (Reichsminister für Volksaufklärung und Propaganda), dan Reichsleiter Martin Bormann (Chef des Stabes Stellvertreter des Führer). Di baris belakang tampak wajah-wajah "familiar", dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Dr. Wilhelm Frick (Reichsminister des Innern), Adolf Hühnlein (Korpsführer NSKK), Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Konstantin Hierl (Reichsarbeitsführer), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), dan Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Mereka semua sedang menyimak kertas berisikan lirik dari lagu-lagu dangdut yang dibawakan oleh Musikkorps LSSAH


Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) dalam inspeksi ke Westwall tanggal 14-19 Mei 1939. General der Infanterie Alfred Wäger (Generalkommando Grenz Truppen Oberrhein) sedang menunjukkan dimana lokasi WC umum berada. Di kiri dan kanan Hitler berdiri dua orang kepercayaannya: Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht) dan Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Deutschen Polizei)


 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) dalam inspeksi ke Westwall tanggal 14-19 Mei 1939. Dari kiri ke kanan: General der Infanterie Erwin von Witzleben (Kommandierender general Gruppenkommando 2), SS-Untersturmführer Karl Wilhelm Krause (persönliche Kammerdiener von Hitler), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht.), SS-Obersturmbannführer Prof.dr.med. Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt), Reichsführer-SS Dipl.-Landwirt Heinrich Himmler (Reichsführer-SS und Chef der Deutschen Polizei), Reichsleiter Martin Bormann (Reichsleiter der NSDAP), SS-Obersturmführer Fritz Darges (Adjutant der Reichsleiter Martin Bormann), SA-Obergruppenführer Dr.ing.Prof.h.c. Fritz Todt (Chef der Organisation Todt), Führer Adolf Hitler (Führer und Reichskanzlei), dan Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber des Gruppenkommando 1)



15 Mei 1939: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehshaber der Wehrmacht) meninjau rangkaian kawat berduri di benteng pertahanan Siegfried Line yang memisahkan antara perbatasan Jerman dengan Prancis di wilayah Eifel-Mosel, dalam sebuah rangkaian inspeksi di sekitar Westwall yang berlangsung dari tanggal 14 s/d 19 Mei 1939. Mengikuti di belakangnya berturut-turut adalah: General der Infanterie Erwin von Witzleben (Kommandierender general Gruppenkommando 2), Generalleutnant Alfred Jacob (Inspekteur der Pioniere und der Festungen), SA-Obergruppenführer Dr.ing.Prof.h.c. Fritz Todt (Chef der Organisation Todt), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Charakter als Generalmajor Walter Eckstein (Festungs-Pionier-Kommandeur VII), serta Reichsführer-SS Dipl.-Landwirt Heinrich Himmler (Chef der SS und Deutschen Polizei)



15 Mei 1939: Acara makan siang - dengan menu masakan rebus - dari para petinggi militer Nazi Jerman, yang diadakan pada saat berlangsungnya kunjungan Hitler ke rangkaian benteng pertahanan Siegfried Line di Westwall yang berbatasan dengan Maginot Line Prancis, tanggal 14-19 Mei 1939. Dua orang jenderal yang duduk di sebelah kiri adalah Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht) dan General der Infanterie Erwin von Witzleben (Kommandierender general Gruppenkommando 2), diikuti oleh Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalleutnant Alfred Jacob (Inspekteur der Pioniere und der Festungen), serta Reichsleiter Martin Bormann (Reichsleiter der NSDAP); di atas kepala Bormann berdiri Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); Persis di seberang Keitel dan Witzleben di sebelah kanan adalah SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler); terakhir, yang berdiri sendirian sambil menghadap kamera di semak-semak adalah SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier Führer und Reichskanzler)


 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) dalam inspeksi ke Gau Saarpfalz/Westwall pada tanggal 14-19 Mei 1939. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant Wolfgang Pickert (berkacamata di belakang, Chef des Stabes Luftgau-Kommando XIII), Generaloberst Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe), Reichsführer-SS Dipl.-Landwirt Heinrich Himmler (Reichsführer-SS und Chef der Deutschen Polizei), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), SS-Gruppenführer Karl Wolff (di belakang, Chef des Hauptamtes Persönlicher Stab Reichsführer-SS), Hitler, Generalleutnant Karl Kitzinger (Kommandeur Luftverteidigungszone West), SS-Obersturmführer Max Wünsche (di belakang memakai gogel, Ordonnanz-Offizier in Begleitkommando des Führers), General der Infanterie Erwin von Witzleben (Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 2), Generalmajor Max Dennerlein (berkumis, Inspekteur der Westbefestigung), dan Generalleutnant Alfred Jacob (Inspekteur der Pioniere und der Festungen)


  Para pemimpin Jerman berkumpul di Ehrentribüne (tribun kehormatan) saat berlangsungnya demonstrasi udara Luftwaffe di Tiergartenstraße (Berlin) dalam rangka menyambut kunjungan kenegaraan Pangeran Regen Paul dari Yugoslavia tanggal 2 Juni 1939. Berdiri di baris depan dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Pangeran Regen Paul (terhalang oleh Göring), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), dan dua orang diplomat: Konstantin Freiherr von Neurath (Reichsprotektor in Böhmen und Mähren) serta Ernst von Weizsäcker (Staatssekretär des Auswärtigen Amtes), yang merupakan ayah dari Presiden Federal Jerman Barat seusai perang, Richard von Weizsäcker. Kita dapat melihat dengan jelas Göring mengenakan selempang merah dan Grand Cross of the yugoslavian Order of the White Eagle. Raeder dan Von Neurath juga mengenakan selempang yang sama, sementara Von Brauchitsch mengenakan selempang biru dan Grand Cross of the Order of Yugoslavian Crown, serta Von Weizsäcker mengenakan Order of Saint Sava. Bagaimana dengan Hitler sendiri? Seperti biasa, dia tidak mau menerima medali asing dari tamu kenegaraan yang berkunjung ke Jerman...


Puncak dari acara kunjungan kenegaraan Pangeran Regen Paul (Yugoslavia) di Jerman adalah parade mesin-mesin perang Wehrmacht - dalam foto ini adalah senjata artilerinya- yang digelar di hadapan Ehrentribüne (tribun kehormatan). Foto ini diambil oleh SS-PK Roth di Tiergartenstraße, Berlin, tanggal 2 Juni 1939. Baris depan, dari kiri ke kanan: Pangeran Regen Paul, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), dan Konstantin Freiherr von Neurath (Reichsprotektor für Böhmen und Mähren). Baris belakang, dari kiri ke kanan: dua orang perwira militer Yugoslavia tak dikenal, Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Hauptmann Nikolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan Hauptmann Gerhard Engel (Heeres-Adjutant beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht)


Foto karya Hugo Jaeger yang memperlihatkan acara Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Duduk baris depan dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer Karl Wolff; ? (sedikit tertutup oleh Bormann); Reichsleiter Martin Bormann; Charakter als Generaloberst Franz Ritter von Epp; Reichsführer-SS Heinrich Himmler; Generaloberst Wilhelm Keitel; Generaloberst Walther von Brauchitsch; Großadmiral Erich Raeder; Adolf Hitler; dan Gauleiter Karl Weinrich. Perwira SS berseragam hitam yang berdiri di depan tengah adalah SS-Oberführer Max von Behr. Duduk baris depan dari kanan ke kiri: Reichspressechef Otto Dietrich dan Charakter als General der Infanterie Carl Eduard Herzog von Sachsen-Coburg und Gotha. Sekarang masuk ke tribun belakang: SS-Brigadeführer yang duduk tepat di atas kepala von Sachsen-Coburg und Gotha sambil menatap ke kamera adalah Franz Breithaupt; Jenderal Heer yang duduk di atas di antara Raeder dan Hitler adalah charakter als Generalmajor und SA-Obergruppenführer Hans Georg Hofmann; Perwira yang duduk tepat di muka wajah von Behr adalah SA-Obergruppenführer und Reichskriegsoperferführer Hanns Oberlindober


Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Duduk baris depan dari kiri ke kanan: Charakter als Generaloberst Franz Ritter von Epp (wajah terpotong); Reichsführer-SS Heinrich Himmler; Generaloberst Wilhelm Keitel; Generaloberst Walther von Brauchitsch; Großadmiral Erich Raeder; SS-Gruppenführer Wilhelm Reinhard; Adolf Hitler; dan Gauleiter Karl Weinrich



Upacara penyambutan sekaligus penghormatan terhadap Legion Condor yang dihelat di lapangan Lustgarten, Berlin, tanggal 6 Juni 1939. Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menyalami Generalmajor Dr.-Ing. Wolfram Freiherr von Richthofen (Kommandeur Legion Condor) di podium kehormatan, sementara di belakang Richthofen satu demi satu para komandan terdahulu Legion Condor menaiki tangga untuk bersalaman dengan sang Führer. Dari bawah ke atas: Oberst Walter Warlimont (penasihat militer Jerman untuk Francisco Franco tahun 1936 sebelum Legion Condor dibentuk), General der Flieger Hellmuth Volkmann (Komandan kedua Legion Condor, periode 1 November 1937 - 31 Oktober 1938), dan General der Flieger Hugo Sperrle (Komandan pertama Legion Condor, periode 6 November 1936 - 31 Oktober 1937). Berdiri di podium, dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Führer und Reichskanzler), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), perwira militer Spanyol tak dikenal, ajudan Luftwaffe tak dikenal, Generaloberst Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe), serta SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler). Foto ini terdapat dalam salah satu dari dua album foto pribadi milik Generalfeldmarschall Wolfram Freiherr von Richthofen, yang dilelang secara terbuka oleh Dickins Auctioneer Ltd pada bulan Maret 2017 (satu album memperlihatkan saat sang Baron menjadi komandan Legion Condor tahun 1939, sementara album lainnya diambil pada saat Unternehmen Barbarossa tahun 1941). Tulisan tangannya adalah asli milik Richthofen sendiri!


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) memimpin para petinggi militer Nazi Jerman dalam acara peletakan karangan bunga di Ehrenmal (Monumen Kehormatan) Unter den Linden, Berlin, tanggal 6 Juni 1939. Di hari itu, seluruh Berlin menyambut kedatangan Legion Condor (kontingen Jerman dalam Perang Saudara Spanyol) yang baru saja tiba dari kemenangan gilang-gemilang di Spanyol. Di belakang Hitler berdiri, dari kiri ke kanan: Ajudan Luftwaffe tak dikenal, Vizeadmiral Hermann von Fischel (mantan Komandan Pasukan Laut Jerman di Spanyol), Oberst Walter Warlimont (Stellvertreter Chef Wehrmachtsführungsamt), Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Chef Ministeramts im Reichsluftfahrtministerium und Verbindungsoffizier Görings zu Hitler), General der Flieger Hugo Sperrle (Chef Luftflotte 3 yang juga mantan Komandan pertama Legion Condor), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Generaloberst Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe und Staatssekretär im Reichsluftfahrtministerium), General der Flieger Hellmuth Volkmann (Kommandeur Luftkriegsakademie Berlin-Gatow yang juga mantan Komandan kedua Legion Condor), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Hauptmann Nikolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1), dan Generalmajor Wolfram Freiherr von Richthofen (Kommandeur Legion Condor)


 Adolf Hitler bertemu dengan para panglima angkatan perangnya di Berghof, Obersalzberg, tanggal 22 Agustus 1939. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), General der Artillerie Günther von Kluge (Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 6), Generaloberst Wilhelm List (Oberbefehlshaber Heeresgruppen-Kommando 5), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), dan Oberst Walter Warlimont (Stellvertreter Chef Wehrmachtsführungsamt). Dalam pertemuan ini, sang Führer memberitahu bahwa perang dengan Polandia sudah tak terhindarkan, dan dia meminta semua panglimanya untuk menghadapi hal tersebut dengan penuh keyakinan serta optimisme, meskipun dibayangi kemungkinan bahwa Inggris dan Prancis akan berada di pihak Polandia (pidato lengkap Hitler bisa dilihat DISINI). Dalam foto ini kita bisa melihat bahwa mereka semua mengenakan pakaian sipil. Ini karena pertemuan tersebut bersifat diplomatik, sebagai sebuah persiapan sebelum perundingan antara Hitler dengan Duta Besar Inggris untuk Jerman, Neville Henderson, yang dilangsungkan di tempat yang sama keesokan harinya (23 Agustus 1939)

 Parade kemenangan Jerman di Warsawa yang diadakan tanggal 5 Oktober 1939. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler, x, General der Artillerie Emil Leeb (panglima XI.Armeekorps), Generaloberst Wilhelm Keitel, General der Kavallerie Maximilian Freiherr von Weichs (berkacamata, tertutup oleh Blaskowitz), Generaloberst Johannes Blaskowitz (Panglima 8.Armee), Generaloberst Walther von Reichenau (di belakang Blaskowitz, hanya kelihatan topinya doang!), dan General der Flieger Albert Kesselring. BTW, persis di bawah Hitler adalah Erwin Rommel yang saat itu masih menjadi Generalmajor dan menjabat sebagai komandan FührerBegleitbataillon (Batalyon Pelindung Pribadi Führer)

---------------------------------------------------------------------------

-1940-

 
Acara peringatan Heldengedenktag (Hari Pahlawan), yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 10 Maret 1940. Hitler menginspeksi Ehrenbataillon (Batalyon Kehormatan) Wehrmacht di Unter den Linden sebelum melakukan upacara penyimpanan karangan bunga di Ehrenmal (Monumen Kehormatan). Baris depan, dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), dan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Tertutup oleh Hitler adalah Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe)


 
Di dalam ruangan Ehrenmal (Monumen Kehormatan), para petinggi militer Nazi memberi salam penghormatan kepada arwah para pahlawan Jerman yang telah gugur, dalam peringatan Heldengedenktag (Hari Pahlawan) yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 10 Maret 1940. Berdiri menghadap ke arah kiri, dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), dan Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe). Foto-foto lengkap Heldengedenktag lainnya bisa dilihat DISINI


Pada tanggal 2 Juni 1940 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berangkat dari markasnya di Bruly-le-Pêche untuk mengadakan kunjungan ke makam para prajurit Jerman yang gugur dalam Perang Dunia Pertama, yang terletak di Langemarck, Flanders Barat (Belgia). Sebagai identifikasi orang-orangnya adalah, baris depan dari kiri ke kanan: Generalmajor Alfred Jodl (Chef Wehrmachtsführungsamt), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommandos der Wehrmacht), Hitler, SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Führer und Reichskanzler), General der Infanterie Viktor von Schwedler (Kommandierender General IV. Armeekorps), Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalleutnant Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier), Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan SS-Obergruppenführer Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers). Sekarang yang baris belakangnya: diantara Keitel dan Hitler adalah Walther Hewel (Verbindungsbeamter zwischen des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler); diantara Schaub dan Schwedler adalah SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler); dan diantara Engel dan Bormann adalah SS-Obersturmbannführer Prof.dr.med. Karl Brandt (Begleitarzt Führer und Reichskanzler)


Adolf Hitler bersama para staffnya berfoto bersama di Hauptquartier Felsennest (Münstereifel) awal bulan Juni 1940. Dari kiri ke kanan, baris pertama: SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant des "Führers und Reichskanzlers“); SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda); Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); Führer Adolf Hitler; Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamtes); SS-Obergruppenführer Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers); Hauptmann Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); dan Prof. Heinrich Hoffmann (Reichsbilderstatter der NSDAP). Baris kedua : Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); SS-Obersturmbannführer Prof.dr.med. Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt); Fregattenkapitän Karl-Jesko von Puttkamer (tertutup topi Keitel, Adjutant der Kriegsmarine beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); Generalleutnant Karl-Heinrich Bodenshatz (Chef des Ministeramtes des Reichministers der Luftfahrt und Oberbefehlshabers der Luftwaffe); Heinz Lorenz (sedikit terhalang oleh Bodenshatz, deutscher Pressesekretär im Führerhauptquartier); SS-Oberführer Walther Hewel (di atas kepala Hitler, Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler); Prof. Walter Brugmann (berkacamata, Leiter Baugruppe des Luftrüstungsprogramms); Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); SS-Gruppenführer Julius Schaub (di atas kepala Jodl, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler); SS-Hauptsturmführer Max Wünsche (SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Karl Wolff (Chef der Hauptamt Persönlicher Stab Reichsführer-SS); Prof.Dr.med. Theodor "Theo" Morell (Hitlers Leibarzt); dan SS-Obersturmführer Hans-Georg Schulze (Hitlers Ordonanz-Offizier)


Pada pukul 15:00 tanggal 21 Juni 1940, Hitler dan para pengiringnya tiba di Clairière de l'Armistice (Lapang Gencatan Senjata) di Hutan Compiègne, Prancis. Dia datang dengan menaiki mobil Mercedes-Benz W31 tipe G4 beroda enam yang disupiri oleh SS-Sturmbannführer Erich Kempka. Sang Führer disambut oleh para petinggi Nazi yang telah hadir terlebih dahulu: Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer), dan Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen)


Sebelum dimulainya negosiasi gencatan senjata antara pihak Jerman dan Prancis yang diselenggarakan di Clairière de l'Armistice, Compiègne (Prancis), tanggal 21 Juni 1940, para petinggi Third Reich ngobrol-ngobrol sebentar, yang dilanjutkan dengan naiknya mereka semua ke Compiègne Wagon untuk menunggu kedatangan delegasi Prancis. Semuanya mendengarkan dengan santai saat sang Führer ngacapruk, sementara di latar belakang terlihat gerbong bersejarah Compiègne Wagon yang nantinya akan menjadi lokasi penandatanganan. Gerbong tersebut bertulisan "Compagnie Internationale des Wagons-Lits et des Grands Express Européens" (Perusahaan Kereta-Tidur Internasional dan Express Akbar Eropa). Sebagai identifikasi orang-orang yang nongol dalam foto ini, dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) serta Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres)


 Sebelum dimulainya negosiasi gencatan senjata antara pihak Jerman dan Prancis yang diselenggarakan di Clairière de l'Armistice, Compiègne (Prancis), tanggal 21 Juni 1940, para petinggi Third Reich ngobrol-ngobrol sebentar, yang dilanjutkan dengan naiknya mereka semua ke Compiègne Wagon untuk menunggu kedatangan delegasi Prancis. Sebagai identifikasinya, dari kiri ke kanan: Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (tertutup oleh Göring; Oberbefehlshaber des Heeres), Generalfeldmarschall Hermann Göring (membelakangi kamera; Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Joachim von Ribbentrop (membelakangi kamera; Reichsminister des Auswärtigen), dan Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht). Orang yang nyempil sendirian di sebelah kanan adalah SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chef-Adjutant Führer und Reichskanzler). Di latar belakang kita bisa melihat patung Marsekal Ferdinand Foch, panglima Sekutu yang memimpin perundingan damai di tempat yang sama 22 tahun sebelumnya, yang mengakhiri Perang Dunia Pertama dengan kekalahan di pihak Kekaisaran Jerman


21 Juni 1940: Setelah mengobrol sebentar dengan para petinggi Nazi Jerman, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menaiki Compiègne Wagon untuk selanjutnya menunggu tibanya delegasi Prancis (yang datang beberapa menit kemudian). Meskipun diambil dari kejauhan, tapi kita masih bisa mengenali wajah-wajah "familiar" dalam foto berwarna asli hasil jepretan Hugo Jaeger ini, diantaranya adalah: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer), dan SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chef-Adjutant Führer und Reichskanzler)


21 Juni 1940: Delegasi Jerman tampak sedang menunggu kedatangan delegasi Prancis dalam perundingan gencatan senjata yang akan mengakhiri perang antara kedua negara. Perundingan ini diselenggarakan selama dua hari (21-22 Juni 1940), di dalam Compiègne Wagon yang diparkir di Hutan Compiègne, persis di lokasi yang sama dimana Jerman menyerah kalah dalam Perang Dunia Pertama tahun 1918. Dalam foto ini kita bisa melihat, duduk searah jarum jam: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), dan Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer). Yang sedang menjepretkan kameranya diantara Ribbentrop dan Raeder adalah Heinrich Hoffmann, fotografer pribadi Hitler; sementara bintara SS yang berada paling dekat dengan kamera adalah SS-Hauptscharführer Otto Günsche (Adjutant Führer und Reichskanzler)


21 Juni 1940: 12 menit setelah kedatangan delegasi Prancis di gerbong kereta yang dipakai sebagai tempat negosiasi gencatan senjata antara pihak Jerman dan Prancis, Hitler berdiri, memberi hormat dengan kaku, dan pergi meninggalkan kereta. Waktu menunjukkan pukul 15:42 (seluruh prosesi penyerahan sendiri hanya berlangsung sekitar 15 menit). Hitler dan rombongan lalu meninggalkan lokasi, dengan diiringi lagu "Deutschland, Deutschland uber Alles" serta "Horst Wessel" yang dibawakan oleh Musikkorps Führer-Begleit-Bataillon. Foto ini memperlihatkan saat sang Führer memberi hormat kepada Oberstleutnant Kurt Thomas (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon) sebelum mampret. Di belakang Hitler berdiri, dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führer), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), serta Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe)



6 Juli 1940: Rakyat Jerman menyambut dengan penuh sorak-sorai para pemimpin mereka yang berdiri di balkon bangunan Neue Reichskanzlei (Berlin) yang menghadap Wilhelmplatz, yang baru saja meraih kemenangan gilang-gemilang di Front Barat melawan pasukan Sekutu. Hitler sendiri baru saja balik ke Berlin dari masa tinggalnya di Führerhauptquartier Tannenberg, Schwarzwald, yang berlangsung selama seminggu (28 Juni s/d 5 Juli 1940). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), dan Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht). Dua orang yang berada di ujung kanan kemungkinan adalah awak kamera. Foto paling bawah memperlihatkan sebuah mobil yang nangkring di bawah balkon. itu adalah Mercedes-Benz 320 Pullman Limousine (1937)


Pada tanggal 19 Juli 1940 bertempat di Krolloper (Gedung Opera Kroll) dalam Reichstagssitzung (sesi Reichstag), Adolf Hitler mengumumkan promosi 12 orang Generalfeldmarschall (Jenderal Marsekal Lapangan) baru Wehrmacht yang telah berprestasi luar biasa dalam peperangan di Barat satu bulan sebelumnya. Ke-12 orang tersebut terdiri dari 9 orang marsekal Heer dan 3 orang marsekal Luftwaffe. Selain itu, naik pangkat juga Panglima Luftwaffe Hermann Göring dari Generalfeldmarschall menjadi Reichsmarschall. Dalam foto ini para Generalfeldmarschall anyar dari Heer berfoto bersama Hitler dan Göring sambil membawa Marschallstab (Tongkat Marsekal) mereka. Dari kiri ke kanan: Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber Heeresgruppe A), Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Wilhelm Ritter von Leeb (Oberbefehlshaber Heeresgruppe C), Wilhelm List (Oberbefehlshaber 12. Armee), Hans-Günther von Kluge (Oberbefehlshaber 4. Armee), Erwin von Witzleben (Oberbefehlshaber 1. Armee), dan Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee)

---------------------------------------------------------------------------

-1941-

Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berjabat tangan dengan Generalfeldmarschall Eduard Ritter von Böhm-Ermolli dalam acara Heldengedenktag (Peringatan Hari Pahlawan) di Berlin, tanggal 16 Maret 1941. Berturut-turut setelah Böhm-Ermolli adalah, dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führers), dan Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Polizei). Böhm-Ermolli adalah satu-satunya di seantero Wehrmacht yang mempunyai pangkat "Charakter als Generalfeldmarschall". Lah, apa artinya ini beibeh? "charakterisierter Dienstgrad" adalah pangkat yang diberikan kepada seorang perwira bukan karena prestasinya di lapangan, melainkan hanya sebagai pangkat kehormatan belaka. Hitler menganugerahkan pangkat Generalfeldmarschall pada Böhm-Ermolli pada tanggal 31 Oktober 1940 sebagai sebuah penghargaan bagi jenderal gaek asal Austria ini, yang menjadi pahlawan perang Austro-Hungaria dalam Perang Dunia Pertama dan salah satu dari sedikit orang yang berpangkat Feldmarschall di akhir perang (diberikan tanggal 31 Januari 1918). Perlu diingat bahwa setelah "Anschluss" (Penyatuan) tahun 1938, Austria tak lagi eksis sebagai sebuah negara independen dan masuk menjadi salah satu provinsi Jerman


 Resepsi setelah makan malam di Reichskanzlei, Berlin, sebagai penghormatan untuk kunjungan Menteri Luar Negeri Jepang Yoshuke Matsuoka di Jerman, yang diselenggarakan pada tanggal 28 Maret 1941. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Walther von Reichenau (tertutup oleh Brauchitsch, Oberbefehlshaber 6. Armee), Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt (tertutup oleh Brauchitsch, Oberbefehlshaber West), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalfeldmarschall Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), dan Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht)


 Pada tanggal 20 April 1941, para petinggi militer dan pemerintahan Nazi Jerman menyambangi sang Führer di markasnya, Führerhauptquartier Frühlingssturm (Mönichkirchen, Austria), untuk memberikan ucapan selamat atas hari ulangtahunnya yang ke-52. Wakil Hitler Rudolf Hess juga menyampaikan ucapan selamat yang sama melalui radio. Dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), SS-Gruppenführer Julius Schaub (membelakangi kamera, Chefadjutant Führer und Reichskanzler), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Polizei), Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (membelakangi kamera, Oberbefehlshaber des Heeres), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), dan Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht)


Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), dan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Foto ini diambil oleh Walter Frentz pada tanggal 25 April 1941, dan diceritakan bahwa mereka bertiga sedang merundingkan situasi terkini di Balkan, dimana pasukan Jerman baru saja meraih kemenangan gemilang disana, sehingga menambah dua negara baru ke dalam wilayah kekuasaannya: Yugoslavia dan Yunani. Dari interiornya, kemungkinan besar mereka sedang berada di dalam Führersonderzug "Amerika", yang merupakan markas berjalan Hitler apabila sedang bepergian ke berbagai tempat. Kampanye militer di Balkan sendiri adalah kali terakhir Hitler menggunakan kereta api tersebut sebagai markas berjalannya, meskipun kesananya sang Führer tetap "berkelana" menggunakan Führersonderzug di sepanjang sisa perang, bolak-balik antara Berlin, Münich, Rastenburg, Vinnitsa, dan Führerhauptquartier-nya yang lain


 Pada tanggal 19 Mei 1941 diadakan pertemuan antara Adolf Hitler dengan para kadet Wehrmacht di Sportpalast, Berlin. Foto ini memperlihatkan sang Führer dengan para petinggi Wehrmacht dan SS (minus Panglima Angkatan Udara Hermann Göring), dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), dan Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Polizei)


 
Foto ini diambil pada selasa pagi tanggal 10 Juni 1941 dan memperlihatkan saat Adolf Hitler dan sekutunya dari Rumania, Marsekal Ion Antonescu, keluar dari gedung Führerbau di Münich. Di belakang mereka mengiringi, dari kiri ke kanan: Gesandter Paul-Otto Schmidt (offizieller Dolmetscher Adolf Hitlers), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht) dan Reichsminister Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auwärtigen). Hitler dan Antonescu membicarakan (selama berjam-jam) tentang kemungkinan kerjasama militer Jerman-Rumania dalam Operasi Barbarossa yang akan dilancarkan terhadap Uni Soviet


 Pada tanggal 26 Agustus 1941, Diktator Italia Benito Mussolini dan pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler melakukan kunjungan ke markas Panglima Heer (Angkatan Darat Jerman), Walther von Brauchitsch, di Mauerwald, dekat Angerburg (Prusia Timur). Foto ini memperlihatkan saat kedua pemimpin utama pihak Axis tersebut berjalan dengan diiringi para petinggi militer kedua negara, sementara prajurit-prajurit Wehrmacht memberi salam hormat Nazi di kiri dan kanan. Di belakang Hitler berjalan Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) yang memegang interimstab, diikuti oleh Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht). Di belakang Mussolini sendiri adalah Jenderal Ugo Cavallero (Kepala Staff jenderal Tertinggi Italia)


 Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #34 untuk Generalleutnant Ludwig Crüwell (Kommandeur 11. Panzer-Division) yang diselenggarakan pada tanggal 1 September 1941 di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Ostpreußen). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres und Verbindungsoffizier des Heeres zu Adolf Hitler), dan Generalleutnant Crüwell


 Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst Franz Halder (Chef der Generalstabes des Heeres), dan Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Dalam caption aslinya, disebutkan bahwa Hitler, Keitel dan Halder sedang memberikan ucapan selamat kepada Brauchitsch yang sedang berulang tahun ke-60 di hari itu, tanggal 4 Oktober 1941. Meskipun wajah-wajah dalam foto ini terlihat serius dan muram, sebenarnya mereka dalam kondisi happy, karena beberapa hari sebelumnya pasukan Jerman meraih salah satu kemenangan terbesarnya dalam Perang Dunia II, setelah berakhirnya pengepungan Kiev (Ukraina). tercatat 600.000 tentara Rusia yang menjadi tawanan, belum lagi ratusan tank dan pesawat serta puluhan ribu meriam yang menjadi rampasan perang!


Perundingan para perwira tinggi Heer bersama dengan Hitler di Hauptquartier des Oberkommando des Heeres "Askania", Mauerwald (Prusia Timur), tanggal 4 Oktober 1941. Dari kiri ke kanan: Oberst Adolf Heusinger (Chef der Operationsabteilung des Generalstabes im Oberkommando des Heeres); perwira tidak dikenal; Generalleutnant Friedrich Paulus (Oberquartiermeister I in der Generalstab des Heeres); Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres); Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler); dan Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht)

---------------------------------------------------------------------------

-1942-

 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) berjalan beriringan bersama dengan Generalfeldmarschall Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd) di jalan setapak Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Prusia Timur) yang dipenuhi oleh salju, sementara di belakang mereka berjalan mengikuti Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht) serta SS-Gruppenführer Julius Schaub (Chefadjutant des Führers Adolf Hitler). Foto ini diambil pada tanggal 18 Januari 1942 saat Marsekal Von Bock baru saja dipanggil kembali untuk bertugas sebagai Panglima Heeresgruppe Süd menggantikan Generalfeldmarschall Walther von Reichenau yang meninggal karena serangan jantung. Di Front Timur sendiri pasukan Wehrmacht sedang kewalahan menghadapi serangan balik pihak Rusia yang mempertahankan kota Moskow, dan kegagalan Von Bock di bulan-bulan sebelumnya dalam menggalang serbuan Jerman ke kota tersebut membuatnya dipecat oleh Hitler sebagai Panglima Heeresgruppe Mitte pada tanggal 19 Desember 1941, hanya berselang satu bulan sebelumnya!


Upacara penganugerahan Brillanten #2 untuk Oberst Adolf Galland (Kommodore JG 26 "Schlageter") yang diselenggarakan tanggal 28 Januari 1942 di Führerhauptquartier Wolffschanze. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall (Luftwaffe) Erhard Milch, Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, Galland, Hitler, dan General der Flieger (Luftwaffe) Hans Jeschonnek


Foto ini diambil oleh Walter Frentz pada bulan Maret 1942 di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Prusia Timur), dan memperlihatkan acara demonstrasi mesin perang baru Jerman di hadapan sang Führer dan para petinggi Jerman lainnya, yang berdiri menonton di atas sebuah Sd.Kfz. 7 mittlerer Zugkraftwagen 8t. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), perwira Heer tak dikenal, SS-Oberführer Prof. Dr.ing. Ferdinand Porsche (Wehrwirtschaftsführer), SS-Hauptsturmführer Richard Schulze (tertutup oleh Porsche, SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), perwira Heer tak dikenal, Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan perwira Heer tak dikenal lainnya


Pada tanggal 24 Maret 1942, Raja Boris III dari Bulgaria melakukan kunjungan ke Führerhauptquartier Wolfsschanze di Rastenburg, Prusia Timur. Foto ini memperlihatkan saat pimpinan salah satu negara sekutu Jerman tersebut (kedua dari kiri) menjabat tangan General der Artillerie Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamt), sementara Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) berada di belakangnya. Di baris pertama kita bisa melihat, dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auwärtigen), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Leiter Parteikanzlei der NSDAP und Privatsekretär Führer und Reichskanzler), dan Alfred Jodl. Baris kedua dari kiri ke kanan: SS-Hauptsturmführer Richard Schulze (SS-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), dua perwira tak dikenal, Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Karl Wolff (Verbindungsoffizier zwischen dem Reichsführer SS und dem Führerhauptquartier)

 
Pada tanggal 30 April 1942, pemimpin Italia Benito Mussolini melakukan kunjungan ke tempat peristirahatan Hitler di Berghof Obersalzberg bersama dengan salah seorang jenderalnya, Generale di Corpo d'Armata Ugo Cavallero (Kepala Staff Pertahanan Angkatan Bersenjata Italia). Disana dia dan Hitler merundingkan langkah kedua negara selanjutnya dalam peperangan di Rusia dan Afrika Utara. Ikut hadir dalam pertemuan ini Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Albert Kesselring (Chef Luftflotte 2 und Oberbefehlshaber Süd), General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmachtsführungsamt), General der Flieger Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier), Oberstleutnant Eckhard Christian (persönlicher Generalstabsoffizier des Chef Oberkommando der Wehrmacht), serta Gesandter Paul-Otto Schmidt (offizieller Dolmetscher Führer und Reichskanzler)



Perundingan strategi perang antara Hitler dan Mussolini di Berghof, Obersalzberg, tanggal 30 April 1942. Dari kiri ke kanan: Il Duce Benito Mussolini, General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt und Führungsstab der Wehrmacht), Führer Adolf Hitler, Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht) dan Oberstleutnant Eckhard Christian (persönlicher Generalstabsoffizier des Chef der Oberkommando Wehrmacht)


 Perundingan strategi perang antara Hitler dan Mussolini di Berghof, Obersalzberg, tanggal 30 April 1942. Dari kiri ke kanan: Il Duce Benito Mussolini; General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt und Führungsstab der Wehrmacht); Führer Adolf Hitler; Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (tertutup oleh Hitler, Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); Generale d'Armata Ugo Cavallero (Panglima Angkatan Bersenjata Italia); Oberstleutnant Nicolaus von Below (tertutup oleh Cavallero, Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler" ); dan Oberstleutnant Eckhard Christian (persönlicher Generalstabsoffizier des Chef der Oberkommando Wehrmacht)

 Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Kriegsverdienstkreuz untuk Friedrich von Boetticher (Heer) dan Hans Thomsen (Außenministerium) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 1942 di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Ostpreußen). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), General der Artillerie Friedrich von Boetticher (zugleich Militärattaché an der Gesandschaft in Washington. Menerima pemberitahuan penganugerahan dari tanggal 27 Mei 1942), Gesandter Dr.iur. Hans Thomsen (Deutscher Geschäftsträger in Wahington. Menerima pemberitahuan penganugerahan dari tanggal 25 Mei 1942), dan Adolf Hitler (Führer und oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Boetticher dan Thomsen sama-sama berada di Washington saat Jerman mendeklarasikan perang terhadap Amerika Serikat tanggal 11 Desember 1941. Berkat kelihaian diplomasi mereka berdua, tidak hanya mereka diizinkan untuk pulang kembali ke negaranya, tapi juga seluruh staff Kementerian Luar Negeri Jerman (Außenministerium) yang bertugas di Amerika Serikat!


 Perundingan di markas besar Heeresgruppe Süd di Poltava tanggal 1 Juni 1942. Mengelilingi meja dari kiri ke kanan: Generalmajor Adolf Heusinger (Chef der Operationsabteilung des Generalstabes im Oberkommando des Heeres); Generaloberst Ewald von Kleist (Oberbefehlshaber 1. Panzerarmee); Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler des Grossdeutschen Reiches); General der Infanterie Georg von Sodenstern (Chef des Generalstabes Heeresgruppe Süd); Generaloberst Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Oberbefehlshaber 2. Armee); General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6. Armee); dan Generalfeldmarschall Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd). Membelakangi kamera di sebelah kanan adalah General der Kavallerie Eberhard von Mackensen (Kommandierender General III. Panzerkorps). Foto oleh fotografer pribadi Hitler Walter Frentz


 4 Juni 1942: Kunjungan Hitler ke Imatra, Finlandia, untuk mengunjungi pemimpin mereka, Marsekal Carl Gustaf mannerheim, sekaligus mengucapkan selamat atas ulangtahun sang Marsekal yang ke-75 di hari itu. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), perwira Finlandia tak dikenal, perwira SS tak dikenal, SS-Obergruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda), Marsekal Carl Gustaf Mannerheim (pemimpin Finlandia), dan perwira SS tak dikenal lainnya. Foto lengkap dari kunjungan ini bisa dilihat DISINI


 Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) yang sedang berbincang-bincang dengan Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht) di Führerhauptquartier Werwolf yang berlokasi di Vinnitsa, Ukraina, tanggal 20 Agustus 1942. Di sebelah kiri memperhatikan Gesandter Walther Hewel (Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führerhauptquartier), sementara tiga orang yang sedang ngobrol di belakang adalah, dari kiri ke kanan: Reichsleiter Martin Bormann (Leiter Parteikanzlei der NSDAP und Privatsekretär Führer und Reichskanzler), Erich Koch (Reichskommissar Ukraine) yang mengenakan seragam RMBO (Reichsministerium fur die besetzten Ostgebiete), dan SS-Obergruppenführer Julius Schaub (Chefadjutant Führer und Reichskanzler). Selama tahun 1942 Hitler hanya tinggal di Führerhauptquartier Werwolf selama tiga bulan saja, dari tanggal 16 Juli s/d 30 Oktober 1942


Adolf Hitler menghadiahkan Feldmarschallstab (tongkat komando Marsekal) kepada Erwin Rommel, bersama dengan Interimstabnya (tongkat inspeksi), pada tanggal 1 Oktober 1942 - versi lain menyebutkan tanggal 30 September 1942 - di Reichskanzlei, Berlin. Kenaikan pangkat Rommel menjadi Generalfeldmarschall sendiri telah ditetapkan beberapa bulan sebelumnya, dari tanggal 22 Juni 1942, sehari setelah kota Tobruk di Lybia direbut dari tangan pasukan Sekutu. Sebagai identifikasinya. dari kiri ke kanan: Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Kapitän zur See Karl-Jesko von Puttkamer (Marine-Adjutant beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), SS-Hauptsturmführer Richard Schulze (Ordonanzoffizier beim Führer), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"), serta Oberleutnant der Reserve Alfred-Ingemar Berndt (Ordonnanzoffizier und Chef der Kampfstaffel im Stab Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika")


Adolf Hitler menghadiahkan Feldmarschallstab (tongkat komando Marsekal) kepada Erwin Rommel, bersama dengan Interimstabnya (tongkat inspeksi), pada tanggal 1 Oktober 1942 - versi lain menyebutkan tanggal 30 September 1942 - di Reichskanzlei, Berlin. Dari kiri ke kanan: Major Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht); Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht); SS-Hauptsturmführer Richard Schulze (Ordonanzoffizier beim Führer); dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika")

---------------------------------------------------------------------------

-1943-

 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengunjungi kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi meriam terbesar di dunia Eisenbahngeschütz "Dora" (kaliber 800mm!). Dengan disaksikan oleh Sang Führer dan para pengiringnya, artileri yang bergerak melalui jalan kereta khusus tersebut menembakkan dua peluru yang besarnya amit-amit. Foto ini diambil pada tanggal 19 Maret 1943 oleh Walter Frentz dan memperlihatkan, dari kiri ke kanan: General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), Generaloberst Heinz Guderian (Generalinspekteur der Panzertruppen), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)


Peringatan Mengenang Para Pahlawan Yang Gugur (Heldengedenktag) yang diselenggarakan tanggal 21 Maret 1943 di Berliner Zughaus. Repot dah kalo disebutin semua yang hadir disini, tapi setidaknya yang di baris depan saja yang dedengkot-dedengkot Third Reich-nya, dari kiri ke kanan: Reichskriegsopferführer Hanns Oberlindober, Generalfeldmarschall Fedor von Bock, Generalfeldmarschall Erhard Milch, Reichsführer-SS Heinrich Himmler, Großadmiral Karl Dönitz, Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, Reichsmarschall Hermann Göring dan Führer Adolf Hitler


 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)



5 April 1943: Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant Gerhard Engel (Adjutant des Heeres und Verbindungsoffizier des Heeres zu Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Generalleutnant Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generale di Brigata Efisio Marras (Perwira Penghubung Italia di Oberkommando der Wehrmacht), Generale d'Armata Italo Gariboldi (Panglima Pasukan Italia di Rusia), dan Generale di Divizione Bruno Malaguti (Kepala Staff Gariboldi). Foto ini diambil oleh fofografer dari Presse-Hoffmann pada saat berlangsungnya upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Gariboldi, yang diselenggarakan di Berghof Obersalzberg. Gariboldi sendiri telah menerima pengumuman radio/telegram untuk penganugerahan medalinya dari sejak tanggal 1 April 1943

---------------------------------------------------------------------------

-1944-

Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht) berpidato di hadapan para petinggi Nazi di Führerhauptquartier Wolfsschanze, Rastenburg/Ostpreußen (Jerman), tanggal 27 Januari 1944. Duduk di baris depan, dari kiri ke kanan: Reichsleiter Martin Bormann (Reichsorganisationsleiter der NSDAP), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Großadmiral Karl Dönitz (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Georg von Küchler (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Nord), Generalfeldmarschall Erich von Manstein (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Generalfeldmarschall Ewald von Kleist (Oberbefehlshaber Heeresgruppe A), Generalfeldmarschall Ernst Busch (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Mitte), dan Generaloberst Friedrich Dollmann (Oberbefehlshaber 7. Armee). Duduk di baris kedua, dari kiri ke kanan:; hinter Hitler:, Dr.-med. Theodor Morell (Leibarzt Adolf Hitler) dan Walther Hewel (Beauftragter des Reichsaussenministerium)


Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menerima ucapan selamat dari para petinggi militernya di hari ulang tahunnya yang ke-55 tanggal 20 April 1944. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Großadmiral Karl Dönitz (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Reichsführer-SS und Chef der Deutschen Polizei), dan Generalfeldmarschall Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe als Vertreter des Oberbefehlshabers Göring). Yang terakhir ada disana mewakili Reichsmarschall Hermann Göring yang berhalangan hadir. Perhatikan bahwa Dönitz memberi hormat dengan marschalstab-nya sementara Milch dengan interimstab-nya! Foto diambil oleh Heinrich Hoffmann di Sandstraße Salzburg


Arys (Orzysz) di Prusia Timur, 20 April 1944: Adolf Hitler dan para petinggi Nazi Jerman lainnya menyaksikan parade 20 buah Jagdpanzer 38 (Sd.Kfz.138/2) "Hetzer" ("Umpan" atau "Biangkerok") produksi pertama dalam jalur autobahn sebagai bagian dari perayaan ulangtahun suram sang Führer yang ke-55. Setelah acara demonstrasi usai mereka langsung dikirim kembali ke pabriknya karena proses produksinya yang masih belum sempurna! Foto atas, dari kiri ke kanan: Generaloberst Kurt Zeitzler (Chef des Generalstabes des Heeres), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), perwira panzer tak dikenal, dan Adolf Hitler (Führer und oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Orang yang mengenakan seragam Oberleutnant Luftwaffe sambil memegang kamera film adalah Walter Frentz (21 Agustus 1907 - 6 Juli 2004) yang merupakan salah satu fotografer pribadi Adolf Hitler. Dari tahun 1939 s/d 1945 dia mengabadikan segala aktivitas pemimpin Jerman tersebut (juga orang-orang terdekatnya) melalui kamera foto dan film


 Dari kiri ke kanan: Großadmiral Karl Dönitz (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), General der Artillerie Walter Warlimont (Chef Wehrmachtführungsstabes Oberkommando der Wehrmacht), Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und deutschen Polizei), Adolf Hitler (Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Hermann Fegelein (Verbindungsoffizier der Waffen-SS zum Führerhauptquartier), Konteradmiral Hans-Erich Voß (Verbindungsoffizier Oberbefehlshaber der Kriegsmarine zum Führerhauptquartier), dan Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe). Foto ini diambil oleh Walter Frentz di Arys (Orzysz), Prusia Timur, pada momen ulangtahun Hitler yang ke-55 tanggal 20 April 1944


Foto di atas diambil tanggal 7 Juni 1944 (16:55 s/d 18:15) di Schloss Klessheim, satu hari setelah D-Day Sekutu di Normandia, dan memperlihatkan para petinggi Jerman dan sekutunya Hungaria sedang merundingkan cara-cara menekan harga pecel lele. Berdiri dari kiri ke kanan: Reichsminister Joachim von Ribbentrop (Reichsministers des Auswärtigen), General der Flieger Günther Korten (Chef des Generalstabes der Luftwaffe), General der Artillerie Walter Warlimont (Stellvertretender Chef des Wehrmachtführungsstabs), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Deutsche Luftwaffe), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht), Generaloberst Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtführungsstabes im Oberkommando der Wehrmacht), Generaloberst János Vörös (Panglima AD Hungaria), dan General der Infanterie Hans von Greiffenberg (Militärattaché an der deutschen Botschaft in Budapest und Bevollmächtigten General der Deutschen Wehrmacht in Ungarn). Duduk dari kiri ke kanan: Döme Sztójay (Perdana Menteri Hungaria) dan Adolf Hitler. Disini kita melihat Hitler dalam kondisinya yang paling langka: memakai kacamata! Dia memperhatikan dengan serius sementara Jodl memperlihatkan kepadanya peta Prancis dengan pantai Normandia lokasi pendaratan Sekutu tempat tangan kanannya menunjuk. BTW, medali berbentuk bintang berkaki delapan di dada Korten adalah Breast Star of Grand Cross of the order of Merit of Hungary (Magyar Köztársasági Érdemrend)


 Hitler berjalan-jalan kecil bersama dengan orang-orang kepercayaannya di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg/Prusia Timur), tak lama setelah peristiwa kudeta 20 Juli 1944 yang gagal. Depan, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan Reichsleiter Martin Bormann (Leiter Parteikanzlei der NSDAP und Privatsekretär Führer und Reichskanzler). Persis di belakang Göring adalah SS-Hauptsturmführer Otto Günsche (Persönlicher Adjutant Führer und Reichskanzler), sementara Generaloberst Alfred Jodl (Chef Wehrmachtsführungsamt) berada di belakang Hitler dengan kepala diperban. Antara Hitler dan Bormann adalah Oberst Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Tiga orang yang sedang ngobrol di pojok kanan adalah, dari kiri ke kanan: Reichsführer-SS Heinrich Himmler (Chef der SS und Deutschen Polizei), SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Hermann Fegelein (Verbindungsoffizier zwischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier), dan Generaloberst Ferdinand Schörner (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Südukraine)


Upacara penganugerahan Verwundetenabzeichen 20.Juli 1944 untuk para tokoh militer dan pejabat Jerman yang terluka dalam peristiwa bom tanggal 20 Juli 1944. Upacara ini sendiri diselenggarakan di Führerhauptquartier Wolffschanze tanggal 20 Agustus 1944. Para penerima, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, Generaloberst Alfred Jodl, General der Artillerie Walter Warlimont, General der Infanterie Walter Buhle, Admiral Hans Erich Voss, Gesandter Franz von Sonnleithner, Oberstleutnant Heinz Waizenegger, Major Ernst John von Freyend, Major Herbert Buchs, SS-Hauptsturmführer Otto Günsche, dan stenografer Heinz Buchholz. Para penerima lain yang berhasil selamat dari bom tapi tidak kelihatan di foto ini adalah: Kapitän zur See Heinz Assmann, Oberst Nikolaus von Below, General der Flieger Karl-Heinrich Bodenschatz, Oberstleutnant Heinrich Borgmann, SS-Gruppenführer Hermann Fegelein, stenografer Dr. Kurt Haagen, Generalleutnant Adolf Heusinger, SS-Sturmbannführer Dr.jur. Walther Hewel, Konteradmiral Karl-Jesko von Puttkamer, dan Generalmajor Walter Scherff. Selain yang disebutkan di atas, penerima lain medali ini tapi menerimanya secara anumerta karena terbunuh dalam pemboman adalah: General der Flieger Günther Korten (tewas akibat luka-luka yang dideritanya dua hari setelah peristiwa, dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Generaloberst der Luftwaffe), Oberst Heinz Brandt (tewas akibat luka-luka yang dideritanya satu hari setelah kejadian, dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Generalmajor), Generalleutnant Rudolf Schmundt (tewas akibat luka-luka yang dideritanya tanggal 1 Oktober 1944, dinaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi General der Infanterie), dan stenografer Heinrich Berger


 Foto ini diambil oleh Walter Frentz di Führerhauptquartier Wolfsschanze tanggal 18 September 1944 dan memperlihatkan dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auwärtigen), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), dan Großadmiral Karl Dönitz (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine)


 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menganugerahkan medali Brillanten zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwerter #19 kepada General der Panzertruppe Hermann Balck (Oberbefehlshaber 4. Panzerarmee) tanggal 21 September 1944. Balck sendiri secara resmi telah menerima berita penganugerahannya dari tanggal 31 Agustus 1944 melalui telegram. Dalam acara tersebut dia juga dipromosikan menjadi Oberbefehlshaber Heeresgruppe G di Front Barat. Upacaranya dilakukan secara sederhana dan juga secara tidak biasa: diadakan di luar Führerhauptquartier Wolfsschanze Rastenburg dan bukannya di dalam seperti biasanya! Dari kiri ke kanan: Generaloberst Josef Harpe (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Nordukraine), Balck, perwira Heer tidak dikenal, Oberstleutnant Erik von Amsberg (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht), Hitler, Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef der Wehrmacht), dan SS-Hauptsturmführer Otto Günsche (persönlicher Adjutant Adolf Hitler). Amsberg adalah ajudan Wehrmacht sementara untuk Hitler, pengganti dari General der Infanterie Rudolf Schmundt yang tewas akibat luka-luka yang dideritanya dalam percobaan pembunuhan tanggal 20 Juli 1944. Dia juga adalah paman dari Claus von Amsberg yang merupakan suami dari Beatrix, Ratu Belanda! BTW perwira Heer tidak dikenal di antara Balck dan Amsberg sangat mirip dengan Richard Schulze-Kossens, ajudan SS Hitler (termasuk caranya berseragam yang khas: membiarkan kerah atas terbuka!). Tapi tentu saja dia berasal dari SS dan bukannya dari Heer seperti tampak dalam foto, bukankah begitu?

---------------------------------------------------------------------------

-1945-


 
Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Goldenem Eichenlaub, Schwertern und Brillanten (Knight's Cross of the Iron Cross with Golden Oak Leaves, Swords, and Diamonds) yang pertama, terakhir dan satu-satunya untuk jagoan Stuka Hans-Ulrich Rudel yang diselenggarakan di Führerhauptquartier Adlerhost, Pegunungan Taunus/Ziegenberg, tanggal 1 Januari 1945 (Rudel telah menerima pengumumannya dari tanggal 29 Desember 1944). Rudel mendapatkan medali keberanian dengan grade tertinggi tersebut setelah menyelesaikan misi tempur ke-2.400 dengan pesawat Stuka-nya dan menghancurkan tank ke-463! Foto atas, dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auswärtigen), Oberst Hans-Ulrich Rudel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 2 "Immelmann"), SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS Hermann Fegelein (Verbindungsoffizier der Waffen-SS zum Führerhauptquartier), Generaloberst Alfred Jodl (Chef der Wehrmacht-Führungsamt)), Adolf Hitler (Führer und oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), General der Infanterie Wilhelm Burgdorf (Leiter des Heeres-Personalamt), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Großadmiral Karl Dönitz (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), dan Generaloberst Heinz Guderian (Chef des Generalstabes des Heeres)


Di atas adalah foto yang diambil di Führerbunker saat Hitler memberi selamat kepada Theodor Tolsdorff (pangkat terakhir Generalleutnant) atas penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten ke-25 dengan disaksikan oleh Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel. Tolsdorff sendiri menerimanya tanggal 18 Maret 1945, dan biasanya ini adalah pemberitahuan yang dikirim melalui telegram. Tentunya Tolsdorff harus pulang dari front dan pergi ke bunker, yang berarti bahwa foto Tolsdorff di bunker ini diambil SETELAH tanggal 18 Maret! Mungkinkan dia diambil setelah tanggal 20 Maret, tanggal penganugerahan medali Hitlerjugend yang juga tanggal yang secara resmi dianggap sebagai saat terakhir Hitler difoto? Dahsyatnya, DISINI disebutkan bahwa penunjukan Tolsdorff sebagai Panglima LXXXII Armeekorps di Balkan sekaligus promosinya menjadi Generalleutnant berlangsung tanggal 1 April 1945. Apakah ini berarti bahwa tanggal inilah tanggal yang sama saat dia bertemu dengan Hitler di bunker Berlin?


Sumber :
www.bpk-bildagentur.de
www.gettyimages.com