Wednesday, October 7, 2009

Tipu-Menipu Dinas Intelijen Dalam Perang Dunia II

Amy Elizabeth Thorpe alias Cynthia, 'Matahari' dari Perang Dunia II


Mesin Enigma yang menjadi andalan Jerman dalam melakukan komunikasi rahasia antar unit. Pada akhirnya, kode mesin ini berhasil terbongkar oleh Sekutu gara-gara salah satu kapal selam Jerman tertangkap utuh


Pembukaan dari surat pribadi yang ditemukan pada mayat "Mayor Martin" yang ditemukan di pantai Spanyol


Para anggota Gestapo difoto tahun 1945 tak lama setelah menyerah kepada Sekutu


Tatkala Inggris mengumumkan perang terhadap Jerman tanggal 3 September 1939, mereka tidak tahu bahwa di dalam sistem pertahanan dan dinas rahasianya bercokol lima orang agen rahasia Soviet yang paling gemilang. Sebaliknya, masih cukup agen rahasia Sekutu yang juga cemerlang selain dari kelima bunglon tersebut, sehingga Sekutu dapat mencuri informasi tentang Hitler dan Nazi yang paling dirahasiakan sehingga pada akhirnya Sekutu dapat mengalahkan mereka.


Dinas rahasia kerajaan Inggris untuk pengamatan di luar negaranya disebut dengan M16. bagian itu bekerja di bawah M15. Pada bulan-bulan pertama perang, baik kementerian luar negeri Inggris maupun Jerman saling berdiam diri. Whitehall, Departemen Luar Negeri Inggris, memerlukan waktu untuk menyusun tenaga ke medan perang Eropa. Sebaliknya, Hitler berharap Inggris masih sudi berdamai. Ia ingin agar serangan hebatnya ke Eropa daratan, termasuk ke Uni Soviet yang menjadi incaran utamanya, tidak dihalang-halangi oleh Inggris.


Hitler selalu mencurigai bahwa ada orang yang tidak suka kepadanya dan bermaksud menggulingkannya. Ia mengirimkan dua orang agen yang paling dipercayainya ke Inggris. Mereka menyamar sebagai Hauptmann (Kapten) Schämmel dan Hausmann. Tujuan misinya adalah menyelidiki apakah ada orang Jerman yang berkomplot dengan Inggris melawan Hitler. Kalau memang ada, apakah Inggris sudah mengetahuinya dan seberapa jauhnya komplotan itu telah bertindak.


Tidak ada yang tahu bahwa salah seorang dari dua orang kapten samaran itu ialah Walther Schellenberg yang pernah hampir berhasil menculik Duke dan Duchess of Windsor dari villa mereka di Portugal. Orang itu pulalah yang mengelola rumah bordil kelas atas yang diperuntukkan bagi para perwira di Berlin seraya memasang kamar-kamar khusus dengan alat perekam suara.


Keduanya telah berperan sedemikian rupa sampai cukup dipercaya oleh pimpinan M16 di Eropa dan diberi sebuah pemancar radio lengkap dengan kode khusus untuk menghubungi Inggris dalam menghadapi keadaan darurat.


Pimpinan M16 saat itu, Sir Stewart Menzies, tetap waspada. Dalam sebuah perundingan tentang orang-orang yang merencanakan kejatuhan Hitler, tutur kata kedua perwira itu berbeda dengan isi rapat di Vatikan. Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba sebuah bom meledak di bar bawah tanah di Münich. Bom tersebut menewaskan 6 orang dan melukai 60 lainnya. Sedianya bom itu untuk melenyapkan Hitler, yang pulang beberapa menit sebelum ledakan!


Hitler jadi gusar. Ia memerintahkan Schellenberg untuk menghentikan operasi sandiwara itu dan menangkap serta membawa agen-agen Inggris yang bersalah ke Berlin untuk diperiksa. Upaya itu berhasil, dan Schellenberg serta pasukan SS menangkap dua orang agen Inggris dan seorang Belanda. Atas prestasinya tersebut, Schellenberg pun dianugerahi Salib Baja (Iron Cross).


Akibatnya, Belanda dan Prancis kehilangan perpanjangan tangan mereka di pusat Third Reich, dan tak lama kemudian negara mereka diobrak-abrik oleh pasukan Jerman. Inggris pun sama saja, mereka kini tak punya orang yang dapat diandalkan untuk mencuri rahasia intelijen Jerman. Orang Jerman yang bersimpati dengan Inggris terpaksa menyusup ke bawah tanah. Selama setahun berikutnya, Inggris bekerja keras mendidik agen-agen rahasia yang baru untuk ganti agennya yang tertangkap di Belanda.


Jerman pun sebenarnya punya kaki tangan di Inggris, George Owens, yang diberi modal sebuah pemancar dan radionya. Tugasnya adalah menyiapkan kedatangan agen-agen Jerman lewat udara. Owens kemudian ketahuan dan tertangkap. Tapi Inggris tidak menyebarkan berita penangkapan ini, dan Owens dipaksa agar meneruskan pengiriman berita-berita palsu ke Berlin.

Tiap kali Berlin mengirimkan kode kepadanya tentang kedatangan agen baru melalui payung udara, tiap kali pula agen itu berhasil ditangkap. Jika ditawarkan kepada mereka apakah mau dihukum gantung atau bekerja sama dengan Inggris, mereka selalu memilih alternatif yang kedua!


Setelah perang selesai, tercatat ada 39 agen Jerman yang mengalami nasib seperti itu. Seorang di antaranya bahkan berhasil membodohi Berlin sedemikian rupa sampai mereka mengirimkan uang banyak sekali sebagai “imbalan” baginya, tidak lupa dengan anugerah Salib Baja sebagai penghargaan atas jasa-jasanya!


Di buku “A History of British Secret Service” (Sejarah Dinas Rahasia Inggris) karya Richard Deacon, dibeberkan bahwa Ian Fleming sangat besar peran dan jasanya dalam “menggoda” deputi Hitler, Rudolf Hess, untuk datang terbang seorang diri ke Skotlandia di bulan Mei tahun 1941.


Ian Fleming, untuk orang awam, dikenal sebagai pencipta tokoh fiksi James Bond, sedangkan Rudolf Hess merupakan orang terakhir yang ditahan di penjara Spandau, di Berlin, sebelum dibongkar tahun 1987. ia tewas tercekik sebuah kabel listrik dalam usia yang amat lanjut. Sekutu dan pihak lain di seluruh dunia sudah lama menyerukan agar Hess diberi ampun saja dan dilepaskan mengingat usianya, namun pihak Uni Soviet yang memenjarakannya bersikeras untuk menghukumnya sampai hari kematiannya. Kekerasan pendirian itu rupanya mempunyai latar belakang tersendiri.


Rudolf Hess, seperti juga atasan yang sangat dipujanya, Adolf Hitler, tergila-gila dan amat percaya kepada astrologi, ramalan nasib berdasarkan perhitungan bintang-bintang di langit. Hitler punya segerobak ahli nujum perbintangan dan hampir setiap waktu ia berkonsultasi dengan mereka. Dinas rahasia Inggris membentuk kelompok yang kerjanya menyusun “ramalan bintang” yang disiarkan secara luas di Eropa, antara lain dalam majalah Jerman yang palsu. Majalah-majalah tersebut sebenarnya dibuat di Inggris, tetapi kemudian diselundupkan ke Jerman.


Ramalan bintang buatan Inggris selalu mengemukakan hal-hal kurang enak bagi Hitler, kebalikan dari ramalan yang dihasilkan oleh ahli nujum sewaan Hitler. Inggris memperoleh “keahlian” meramalkan nasib Hitler dari Louis de Wohl, seorang buronan Nazi yang pernah mengetahui cara-cara ‘membaca bintang’ dari orang sewaan Hitler langsung. Ia menyeberang ke pihak Sekutu.


Hess pun punya ahli nujum tertentu yang tidak sama dengan kelompok Hitler. Dengan bantuan sumber di Swiss, Fleming dapat menempatkan orangnya di antara ahli nujum sewaan Hess . Agen itu kemudian mempermainkan Hitler dan Hess melalui ramalan perbintangan.


Terpilihlah seorang bangsawan dan tuan tanah, Duke of Hamilton, untuk tameng menggoda Hess agar datang ke Inggris. Bangsawan itu adalah juga pegawai di istana kerajaan Inggris dan selama Perang Dunia II berkecamuk ia bekerja di sebuah lapangan terbang militer di Skotlandia, tak jauh dari puri nenek moyangnya.


Ia harus berperan sebagai seorang Inggris yang pro Jerman dan ingin mengusahakan perdamaian antara kedua negara. Sudah diperhitungkan oleh Fleming dan kawan-kawannya bahwa Hess sangat ingin berdamai dengan Inggris supaya serbuan Jerman ke negara Eropa, terutama Uni Soviet, dapat berlangsung tanpa campur tangan Inggris. Untuk tujuan ini Hess berani mengambil resiko terbang seorang diri ke Inggris demi menunjukkan itikad baiknya, walaupun ia harus menghindari ibukotanya yaitu London karena dikhawatirkan kedatangannya akan menimbulkan skandal besar.


Demikian pula Duke of Hamilton, dalam peran palsunya harus dijaga jangan sampai ada orang Inggris yang mendengar pendiriannya . kalau terdengar, mereka dapat mengira bahwa hal itu adalah benar dan bangsawan tersebut dapat beresiko babak belur diamuk massa!


Dengan cara yang amat lihai, Fleming menyuruh agennya membuat kampanye astrologi. Kepada Hess dikatakan bahwa menurut perhitungan bintang, pada akhir April dan awal Mei 1941 akan terjadi susunan benda angkasa sedemikian rupa sehingga sangat menguntungkan baginya untuk bepergian. Seorang astrolog sejati (bukan agen Fleming) mengatakan bahwa benda-benda langit saat itu akan memberi pengaruh baik kepada usaha perdamaian.


Setelah mendengar ramalan itu berulang-ulang, Hess akhirnya percaya. Diam-diam ia terbang sendirian ke Skotlandia untuk menemui Duke of Hamilton. Polisi yang menghampirinya di lapangan terbang diperintahkannya untuk membawanya kepada bangsawan tersebut, tetapi ia justru ditangkap.


Jika Fleming mengharapkan bahwa pemerintah Inggris akan turut bergembira lalu berterimakasih atas ditangkapnya orang nomor dua di Jerman ini, maka sebaliknya Winston Churchill yang menggantikan Perdana Menteri Neville Chamberlain (yang ingin berdamai dengan Hitler) merasa sangat malu! Ia tak ingin pihak Jerman mendapat dalih yang baik untuk propaganda bahwa ada orang Inggris kelas atas yang pro Hitler. Duke of Hamilton tidak pro Hitler, ia hanya bersandiwara.


Churchill, seperti halnya Hitler, dengan cepat mengatakan bahwa Rudolf Hess sebenarnya adalah orang gila. Ekor peristiwa itu, Hitler memerintahkan semua ahli nujum, peramal bintang, dan ahli perbintangan di Jerman termasuk yang di sekitar dirinya, diperiksa dengan teliti. Sejak saat itu, meramal nasib, membaca perbintangan, telepati dan yang sejenisnya dilarang dengan undang-undang untuk dipraktekkan di muka umum.


Orang Rusia tidak dapat memaafkan Rudolf Hess untuk niatnya berdamai dengan Inggris, hanya supaya dapat menyerang Rusia lebih sempurna. Oleh karena itu, Uni Soviet menjadi satu-satunya negara Sekutu yang tetap bersikeras tak mau memberi ampun kepada Hess yang sudah tua renta di penjara. Akhirnya Hess ditemukan mati tercekik, dengan keterangan bahwa ia membunuh dirinya sendiri.


Bintang-bintang film di Inggris dan Amerika Serikat pun tak mau ketinggalan membela negara mereka dengan caranya sendiri. Biasanya mereka bertugas untuk menghibur para prajurit yang berada di medan perang tanpa mendapatkan bayaran sepeser pun.


Namun, ada pula di antara mereka yang “berani” berperan menjadi mata-mata sungguhan, bukan demi uang atau kemasyhuran. Di antaranya yang dapat disebutkan adalah David Niven, Leslie Howard, dan si jelita Greta Garbo.


David Niven amat fasih berbahasa Jerman. Ia ditempatkan di skuadron F dalam pelayanan udara secara khusus yang amat dirahasiakan. Apabila kelompoknya terbang ke Jerman untuk misi pengeboman, maka sementara para awak pesawat sibuk dengan urusan terbang dan menjatuhkan bom, David sibuk berbicara di radio dalam bahasa Jerman dengan percakapan yang enak dan melenakan, yang tujuannya adalah untuk membuai dan membuyarkan konsentrasi para perwira di pangkalan Jerman yang seharusnya mempertahankan diri dari serangan udara Sekutu. Kementerian Pertahanan Inggris membenarkan bahwa Niven bekerja sebagai komandan yang menyamar dalam skuadron Resimen Hantu Pengintai Inggris.


Greta Garbo, yang amat terkenal dari zaman sebelum perang, menjadi agen rahasia yang dipimpin oleh William Stephenson, tokoh film terkenal di Inggris. Garbo punya beberapa nara sumber di tanah kelahirannya, Swedia, dan ia sering memantau berita yang datang dari sana. Biasanya berita itu untuk mengecek tingkah agen-agen rahasia Jerman yang banyak berkeliaran di ibukota Stockholm.


Stephenson menjalin “jalan rahasia” untuk para pelarian Sekutu dalam melintasi negara-negara netral, antara lain Swedia. Peralatan perang yang dirahasiakan pun diangkut lewat jalan rahasia tersebut, yang keamanannya dipantau langsung oleh Garbo.


Tatkala Perdana Menteri Winston Churchill resah membayangkan kalau-kalau ada anggota keluarga raja Swedia yang pro-Nazi, Garbo yang yang telah mengetahui keadaan sebenarnya menenangkan Churchill dan meyakinkannya bahwa hal itu tidak perlu diresahkan. Bahkan, Garbo dapat memberi jaminan bahwa raja yang berkuasa waktu itu, Carl Gustav Bernadotte, juga merupakan agen rahasia yang penting bagi pihak Sekutu, walaupun negaranya secara resmi netral.


Penyelam kenamaan asal Prancis, Jacques Cousteau, mempergunakan kemahirannya bermain di bawah air untuk melemahkan Nazi. Ia berenang dengan santai, berpura-pura sebagai orang tolol, sementara memperhatikan gerak-gerak Angkatan Laut Nazi (Kriegsmarine) di tepi-tepi pantai Laut Tengah.


Jasanya yang terbesar adalah memotret berbagai dokumen penting yang tersimpan di markas besar militer Italia. Doumen tersebut sangat penting artinya waktu penyerbuan Sekutu ke Afrika Utara. Cousteau mendapat penghargaan ‘Legion of Honour’ dan ‘Croix do Guerre’ dari pemerintahannya sendiri, Prancis, seusai perang.


Para penulis pun banyak yang bekerja di bidang intelijen, seperti misalnya wartawan termasyhur Malcolm Muggerioge, Graham Greene, John Lee Carre dan Dennis Wheatley. Wheatley terlibat dalam pengaturan penipuan pasukan Jerman, tentang rencana pendaratan besar-besaran Sekutu di benua Eropa. Nazi ditipu mentah-mentah dengan jalan mengapungkan mayat palsu (bukan tentara sejati, melainkan orang sakit dari rumah sakit) dengan surat-surat seolah-olah Sekutu akan mendarat di Italia, padahal pendaratan yang sesungguhnya adalah di Normandia. Jerman terkecoh, dan memusatkan tentaranya di Italia, sementara pantai Normandia dibiarkan kosong. Pendaratan Sekutu pun mencapai sukses besar.


Peristiwa penipuan itu telah dibukukan dan difilmkan dengan judul yang sama, “The Man Who Never Was”. Penulisnya, Dennis Wheatley, yang dulu mengarang surat-surat cinta palsu yang diselipkan pada tubuh mayat yang diapungkan!


Sejarawan Arnold Toynbee pun selama perang bertanggung jawab menyusun laporan intelijen untuk dibacakan di kabinet perang, sedangkan Muggerioge dan Greene mengumpulkan data intelijen di bawah pimpinan Kim Philby (yang nantinya terkenal ke seluruh dunia setelah ketahuan berprofesi ganda sebagai mata-mata pihak Soviet).


Amy Elizabeth Thorpe, seorang wanita Amerika yang cantik, langsing, cerdas, suka bertualang dan doyan seks. Tahun 1930-an dia menikah dengan seorang diplomat Inggris, Arthur Pack, yang punya sifat sangat bertolak belakang dengannya.


Rumah tangga mereka tidak serasi, tetapi Amy tetap mendampingi suaminya ke Chili, Spanyol, dan Polandia. Pada tahun 1937 dinas rahasia Inggris menawarinya menjadi agen mereka, dan Amy menerima tawaran tersebut.


Nama samarannya adalah Cynthia. Dalam waktu singkat, ia sudah menjadi gundik seorang pembesar kementerian luar negeri Polandia. Pembesar itu banyak bercerita tentang gerakan-gerakan pasukan Jerman di Cekoslowakia dan Jerman sendiri.


Tetapi yang terpenting adalah kabar bahwa sejumlah insinyur Polandia terlibat dalam pengembangan mesin pembuka kode Jerman yang bernama Enigma. Kabar itu mendorong Inggris mengembangkan sistem yang dapat membocorkan kode-kode komunikasi rahasia pihak Jerman.


Cynthia sendiri punya banyak pengagum, pemuja, dan kekasih. Suksesnya di Polandia menyebabkan ia dan suaminya ditempatkan di Washington tahun 1941. Inggris memerlukan seseorang untuk mencuri rahasia dari kedutaan besar Italia dan Prancis di Washington.


Cynthia lah yang terpilih untuk tugas tersebut. Ia memacari kawan lamanya, Laksamana Alberto Lais, yang diangkat sebagai atase Angkatan Laut Italia di Washington. Lais merupakan tokoh yang cukup penting dan berpengaruh di negaranya.


Tak berapa lama Cynthia sudah mendapatkan berbagai kode dan tanda-tanda rahasia yang dipakai oleh kedutaan besar Italia. Penemuan itu sangat penting dan berguna sebagai pedoman Sekutu dalam penyerbuannya di Afrika Utara. Setelah Lais tak diperlukan lagi, Cynthia mengadu kepada FBI bahwa diplomat itu adalah seorang mata-mata. Akhirnya Lais pun diusir dari Amerika Serikat.


Kerja Cynthia yang berikutnya adalah bercinta dengan Kapten Charles Brousse, petugas pers duta besar Prancis di Washington. Ia dulunya adalah pro Sekutu namun berbalik pendirian waktu Sekutu mengebom sejumlah kapal Prancis untuk mencegahnya jatuh ke tangan Jerman.

Bruisse tergila-gila pada Cynthia. Dalam mabuk asmaranya ia menceritakan tentang tumpukan emas milik Prancis yang disembunyikan di pulau Martinique (Karibia). Stephenson, orang film di Inggris yang menjadi intelijen, segera mengirim agen ke pulau tersebut dan menguasai timbunan emas Prancis. Emas tersebut dipergunakan sebagai “sandera” dalam merundingkan pinjaman untuk biaya perang dari Amerika Serikat!


Cynthia juga memancing keterangan tentang rencana Nazi terhadap perkapalan Sekutu, juga tentang agen-agen Jerman di Utara dan Selatan yang dibiayai oleh perwakilan Prancis yang diperintah oleh pemerintahan bonek Vichy pimpinan Henry Philippe Petain yang pro Jerman.


Tugas berikutnya teramat sulit. Cynthia harus mendapatkan kode-kode Angkatan Laut Prancis yang baru. Kode-kode tersebut disimpan di kamar yang terkunci di gedung kedutaan di Washington DC. Brousse sendiri tidak mempunyai jalur masuk ke ruang penyimpanan tersebut.

Cynthia dan Brousse kemudian mencari akal. Mereka datang ke gedung kedutaan pada malam hari, dan bercerita kepada penjaga sebagai pasangan miskin yang tak punya rumah. Apakah mereka boleh sekedar bercinta-cintaan di dalam demi menghindari udara dingin di luar?


Cerita yang mengiba-iba itu mempan! Mereka mendapat izin masuk dan bercintaan di dalam. Sedikitnya begitulah, pikir penjaga malam. Saat lain mereka datang lagi, mengiba-iba lagi, seraya menghadiahkan sampanye. Penjaga malam kemudian mabuk dan tak peduli lagi pada tingkah tamu miskinnya.


Upah yang besar juga menggembirakan penjaga malam. Selagi penjaga malam menikmati minuman hadiahnya, dua orang yang asyik masyuk itu sebenarnya bukan bercinta, melainkan sibuk membuat copy dari kode-kode rahasia yang mereka perlukan.


Pada suatu saat penjaga malam tersebut penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di ruangan yang asing itu. Ia mengintip dari lubang kunci, dan apakah yang dilihatnya? Tubuh Cynthia yang mulus dan langsing, menggairahkan untuk dipandang, sedang telanjang bulat dan terbaring begitu saja. Penjaga malam itu terpesona oleh pemandangan yang dilihatnya dan ia terus asyik mengintip. Ia tidak tahu bahwa Cynthia dan Brousse telah memasukkan orang lain, ahli membongkar tempat berkunci, pada saat penjaga malam itu sedang lemah. Orang tersebut sibuk bekerja di tempat lain yang tak terlihat oleh si penjaga malam.


“Penemuan” Cynthia berupa kode-kode rahasia Prancis turut membantu mengubah jalannya Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1945, dalam dokumen resmi yang dikeluarkan oleh BSC (British Security Coordination), menuliskan bahwa cinta dan daya tarik kecantikan Cynthia telah memungkinkan Sekutu dalam menyerbu Prancis dan Jerman!


Beberapa tahun setelah perang usai, Cynthia ditanya oleh seorang penulis, apakah ia merasa malu oleh perbuatannya yang berurusan dengan sekian banyak pria? Jawabnya, “mengapa saya harus merasa malu, atasan saya justru mengatakan bahwa karena jasa sayalah, ribuan nyawa prajurit Inggris dan Amerika Serikat terselamatkan!”


Ia pernah menawarkan diri dijatuhkan dari payung udara di belakang garis pertahanan Jerman untuk menjadi pembunuh rahasia. Atasannya berpendapat bahwa tugas itu terlalu berat. Setelah perang, suami Cynthia, Arthur Pack, tewas terbunuh di Argentina. Brousse menceraikan istrinya, dan akhirnya Cynthia menikah dengan Brousse. Mereka hidup tenang di sebuah puri di Prancis Selatan sampai tahun 1963. Amy Elizabeth Thorpe meninggal pada tahun itu karena penyakit kanker. Brousse sendiri meninggal tahun 1973.


Tahun 1941 sebuah kapal perang Inggris menghancurkan kapal selam Jerman dan berhasil menyita mesin pembuat kode rahasia, Enigma, buatan para insinyur dari Polandia. Inggris sangat gembira dan membuat mesin tandingannya, Ultra.


Mesin Ultra menolong Inggris menghancurkan kapal-kapal selam Jerman karena kode mereka sudah bocor. Jumlah kapal selam yang hancur lebih banyak dari jumlah kapal selam yang diluncurkan. Kode pasukan Deutsche Afrikakorps milik Erwin Rommel di Afrika Utara pun bocor sehingga jenderal Montgomery dapat melakukan upaya penyelamatan pasukannya yang terdesak.


Inggris terpaksa merahasiakan “penemuan” tentang kebocoran Enigma, supaya Hitler tidak curiga dan mengganti sistem perkodean di badan intelijennya. Misalnya, Inggris tahu bahwa Jerman akan menghancurkan pesawat yang membawa bintang film Leslie Howard (Gone With The Wind), tetapi tidak berani untuk mencegahnya karena takut Jerman akan keheranan. Mereka diam saja dan akhirnya Howard pun tewas!


Kemudian ada kelompok yang menyebut dirinya sebagai “The Lucy Ring”. Seorang Jerman yang anti-Nazi, seorang Inggris dan seorang Hongaria bergabung dalam kelompok itu. Mereka menyediakan data akurat tentang penyerbuan Hitler ke Uni Soviet kepada pemimpin Soviet Joseph Stalin.


Stalin sebenarnya sudah diberi tahu setiap langkah yang akan diambil Jerman. Namun karena semua informasi yang diterimanya begitu sempurna sehingga ia mengambil keputusan untuk tidak mau mempercayainya sedikitpun. Ia khawatir bahwa agen-agen rahasia Jerman telah memberikan informasi-informasi palsu dalam sebuah kampanye untuk mengelabuinya!


Tempat semua informasi itu sebenarnya adalah Stasiun X di Inggris. Sekutu sangat berkepentingan agar Hitler terus disibukkan di medan perang Timur, di Soviet, supaya ia tidak dapat berperang di medan perang Barat yang sebentar lagi akan dihajar Sekutu.


Apabila Stalin diberi tahu tentang mesin Enigma yang bocor, Sekutu takut bahwa ia akan membocorkan hal itu pula kepada Hitler, misalnya adalam sebuah pakta perdamaian terpisah. Supaya semua informasi hasil sadapan Enigma yang hendak dijejalkan kepada Stalin dapat diterima, maka secara pura-pura disodorkan lewat kelompok “The Lucy Ring”. Inggris belum tahu bahwa dalam tubuh intelijennya sendiri ada empat mata-mata Soviet (Kim Philby, McLean, dan sebagainya)!


“The Lucy Ring” hanya beroperasi sampai tahun 1943. Swiss yang netral dan menutup mata terhadap kegiatan kelompok itu, tiba-tiba harus menunjukkan sikap netral yang sejati karena Jerman mulai mencium adanya jaringan mata-mata anti Nazi.


Bahkan, pemancar radio gelap milik Lucy Ring dapat ditemukan tentara Jerman. Pemerintah Swiss dipaksa untuk mengambil tindakan terhadap ketiga mata-mata Sekutu. Mereka kemudian dihukum penjara beberapa bulan, kemudian dibebaskan dan diusir dari Swiss.


Rado, yang berasal dari Hungaria, harus pulang ke Soviet. Ia langsung dibuang ke Siberia tanpa mengindahkan jasa-jasanya mencuri informasi dari Jerman di Swiss sampai Uni Soviet bisa menang melawan Jerman dalam pertempuran Stalingrad (1942-1943) dan Kursk (1943).


Seorang rekannya yang tahu jalan hidupnya bertahun-tahun kemudian menceritakan bahwa sebetulnya Rado enggan pulang ke Rusia. Ia tahu nasib apa yang menunggunya disana. Diam-diam ia mengirim surat kepada pemerintah Inggris untuk meminta suaka politik dan diperbolehkan untuk tinggal di Inggris dan menjadi warga negaranya.


Sayang seribu sayang. Surat itu jatuh ke bagian yang mengurus persoalan suaka politik Inggris yang dikepalai oleh... Kim Philby, si agen Soviet yang menyamar! Akibatnya, bukan suaka yang diperolehnya, melainkan pemulangan dan pengiriman ke Moskow.


Cicero merupakan nama kode bagi seorang Turki yang mata duitan dan menjual rahasia perolehannya demi uang. Namanya yang asli adalah Elyeza Bazna. Ia bekerja sebagai pelayan di kediaman duta besar Inggris untuk Turki di Ankara. Dari pelayan ia meningkat menjadi pengatur pakaian bagi sang duta besar.


Di kamar majikannya ia sering melihat berbagai dokumen berharga terletak sembarangan dan dapat dibaca olehnya dengan jelas. Timbullah gagasan untuk mencari uang. Ia juga punya daftar semua mata-mata Sekutu yang bekerja di Turki, kode-kode diplomatik Sekutu dan rencana penyerbuan mereka ke Eropa. Ia menghubungi seorang agen Jerman. Perolehannya dikirim ke Jerman dan ia mendapat nama samaran Cicero. Anehnya, tidak ada satupun di antara informasi, yang betul dan tepat, yang dipercayai di Jerman! Mereka tertawa tergelak-gelak mengatakan ketidakpercayaannya bahwa seorang pelayan rumah tangga bisa membaca kode rahasia seorang diplomat. Pasti agen Cicero itu suka berkhayal dan punya bakat sastra, pikir mereka!


Bulan Agustus 1943, seseorang di kementerian luar negeri Jerman yang kecewa terhadap Hitler membelot ke pihak Sekutu. bersamanya dibawa lari 3000 dokumen tentang Sekutu, yang diperoleh dari Cicero. Inggris kemudian menyadari pengkhianatan di kediaman duta besarnya. Cicero mendapat pemberitahuan dari rekannya orang Jerman dan diperintahkan untuk lari. Sebelum kabur, ia mengambil uang 300.000 pound dari bawah karpet ranjangnya. Itulah hasil jerih payahnya selama ini. Kelak ia tahu bahwa semua uang itu ternyata adalah palsu semua, hasil buatan Nazi!


Mayor Martin yang tidak pernah hidup di dunia ternyata “manusia” yang amat besar jasanya dalam mensukseskan pendaratan pasukan Sekutu di Sardinia dan Normandia. Ia “bekerja” di Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Di suatu subuh tanggal 30 April 1943 seorang nelayan Spanyol menemukan sesosok mayat yang mengapung. Mayat tersebut diserahkannya kepada pihak yang berwenang.


Spanyol bersikap netral selama perang. Mayat temuan itu ternyata bernama mayor Martin, yang bersiap akan menikah dengan tunangannya, tetapi agaknya tewas dalam kecelakaan penerbangan di dekat Spanyol. Surat-surat di tubuhnya diperiksa. Tampaknya ia bukan sembarang “mayat” karena di antara kertas-kertas miliknya terdapat surat khusus yang ditujukan kepada panglima Sekutu di Eropa. Isinya kira-kira rencana penyerbuan Sekutu ke Eropa, dengan mendaratkan pasukan di pulau Sardinia. Mayat itu kemudian dikuburkan dengan upacara militer di Spanyol, dihadiri oleh pihak kedutaan besar Inggris dan “keluarga”-nya. Beberapa hari kemudian, Inggris sengaja membuat ribut diplomatik dengan mengatakan bahwa ada sebuah tas khusus milik mayor Martin yang hilang dan minta dicarikan oleh pihak pemerintah Spanyol.


Pemerintah Spanyol merasa tidak enak hati kepada pemerintah Inggris dan memutuskan untuk segera mencarinya. Tas itu kemudian berhasil ditemukan kembali. Namun sewaktu diperiksakan kepada seorang ahli, diketahui bahwa surat-surat penting tentang rencana penyerbuan Sekutu telah lebih dulu dibuka dan dibaca orang. Pihak Inggris sengaja membuat ribut besar.


Agen-agen Jerman sudah lebih dulu waspada. Begitu mendengar ada mayat seorang perwira Inggris terdampar di pantai Spanyol, langsung saja mereka mengirimkan regu penyelidik ke rumah sakit. Mereka telah berhasil mengambil foto-foto dari surat-surat pentingnya, dan mengambil berbagai tanda dari baju atau tubuhnya.


Semua bukti kemudian dibawa ke Jerman untuk mendapat pengujian, apakah benar ada orang bernama mayor Martin di angkatan laut kerajaan Inggris yang diutus untuk menghubungi pimpinan Sekutu di Eropa? Agen-agen Jerman yang dikirimkan ke Inggris melacak sampai ke tunangan “mayor Martin”, ke perusahaan asuransi Lloyd dan sebagainya.


Mereka yang sudah dipersiapkan untuk “diuji” agen Jerman bertindak tepat dan lulus ujian sehingga dapat meyakinkan pihak Jerman. Jerman sekarang percaya bahwa Sekutu akan mendaratkan pasukannya di pulau Sardinia. Jerman segera mengirimkan pasukan inti dan dipusatkan disana sebagai antisipasi untuk “menyambut” kedatangan Sekutu.


Pasukan Sekutu ternyata kemudian mendarat di pulau Sisilia, padahal “sambutan” yang telah disediakan Jerman ada di pulau Sardinia. Jerman kalah besar dalam pendaratan tersebut. Mereka benar-benar kecele karena telah ditipu mentah-mentah oleh pihak Sekutu.


Sekalipun menang, pihak Sekutu terpaksa berdiam diri untuk menenggang perasaan kedua orangtua (yang sebenarnya) dari pria Inggris yang berumur 30 tahun, yang meninggal karena radang paru-paru di sebuah rumah sakit di Inggris.


Dengan berat hati mereka memberi izin kepada pemerintah Inggris untuk mempergunakan jenazah putera mereka dengan tujuan “membela negara”. Identitas pria tersebut tak pernah diketahui sampai sekarang karena tidak pernah diumumkan!


Tipu-menipu lazim digunakan oleh kedua belah pihak yang berperang dalam Perang Dunia II. Masing-masing berharap bahwa tipuannya akan mengecoh pihak musuh dan membawa kemenangan pada pihaknya. Singkatnya, siapa yang lebih pintar menipu maka kemungkinannya untuk menang akan lebih besar dari saingannya!



Sumber :

Majalah “Teknologi dan Strategi Militer” edisi nomor 14 tahun II/Agustus 1988

www.armchairgeneral.com

www.nationalarchives.gov.uk

www.en.wikipedia.org


No comments: