Monday, March 30, 2020

Foto Dietrich von Saucken, Jenderal Panzer Terkemuka

 General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (16 Mei 1892 - 27 September 1980) adalah jenderal pasukan panzer Jerman dalam Perang Dunia II, salah satu dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht / SS yang dianugerahi penghargaan super bergengsi: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten (keriting dah tuh lidah!). Dia adalah tipikal perwira Prusia totok, baik penampilan maupun kepribadiannya. Monokel (kacamata tunggal) tidak pernah lepas dari mata kirinya, pedang di pinggangnya, dan penampilannya yang kaku pun seakan menegaskan dari mana dia berasal. Meskipun begitu, Saucken pada awalnya justru mempunyai cita-cita menjadi seniman, tapi kemudian dia memilih untuk mendaftar di Angkatan Darat Prusia pada tahun 1910 tak lama setelah lulus SMA. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918), begitu juga dalam kekacauan yang terjadi sesudahnya, dimana Saucken bergabung dengan unit Freikorps lokal demi membendung pemberontakan kaum Komunis Jerman. Pada tahun 1921 dia ditarik menjadi anggota Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar), dan menjadi ahli dalam bahasa Rusia setelah ditugaskan ke Uni Soviet pada tahun 1927. Pada saat Perang Dunia II pecah (1 September 1939), Saucken sudah menjadi Komandan Resimen Kavaleri dengan pangkat Oberst. Dia ikut ambil bagian dalam kampanye militer Jerman di Prancis, Balkan dan Rusia. Dalam kancah Pertempuran Moskow di akhir tahun 1941, Saucken diangkat sebagai Komandan 4. Panzer-Division. Dia memimpin unit barunya dengan begitu semriwing, sehingga diganjar dengan medali Ritterkreuz (6 Januari 1942) beserta turunannya, Eichenlaub (22 Agustus 1943) dan Schwerter (30 Januari 1944). Satu lagi yang terakhir, Brillanten, dia dapatkan pada tanggal 8 Mei 1945 saat perang baru saja berakhir di Eropa. Meskipun notabene seorang pahlawan Jerman, Saucken tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap "braune Bande" (gerombolan coklat) alias orang-orang Nazi. Ketika dia diperintahkan oleh Hitler untuk mengambil-alih komando 2. Armee pada bulan Maret 1945, dia datang ke markas sang Führer dengan "tangan kirinya secara santuy diselonjorkan di pedang kavaleri yang selalu dibawanya, sementara monokel terpasang di salah satu matanya". Von Saucken lalu memberi hormat tradisional tentara dan membungkuk sedikit. Tak terbayangkan, karena ini adalah tiga "pelanggaran berat" sekaligus: Dia sama sekali tidak memberikan salam Nazi dengan mengangkat tangannya dan meneriakkan 'Heil Hitler' (seperti yang tertera dalam peraturan resmi semenjak 20 Juli 1944), dia tidak menyerahkan senjatanya untuk disimpan saat masuk... dan dia tetap memakai monokelnya tanpa terganggu saat memberi salam pada Hitler! Ketika diberitahu oleh Hitler bahwa dia akan berada di bawah perintah dari Albert Forster yang merupakan Gauleiter (Gubernur Nazi) di Danzig, Saucken "langsung memandang Hitler di matanya... dan menghentakkan kedua tangannya dengan keras di meja marmer tempat menyimpan peta, dia menjawab 'Aku tak akan pernah menempatkan diriku, Herr Hitler, di bawah perintah dari seorang Gauleiter'. Dengan melakukan ini Saucken telah jelas-jelas menentang perintah langsung dari Hitler dan, lebih-lebih lagi, tidak memanggil pemimpin Jerman yang ditakuti itu dengan sebutan Mein Führer! Yang lebih mengejutkan lagi bagi semua yang hadir disitu, Hitler tampak pasrah pada kehendak jenderalnya yang keras kepala tapi berotak brilian ini, tidak murka seperti biasanya, dan dengan tenang membalas, "baik Saucken, pegang komando untuk dirimu sendiri". Hitler dan Saucken berpisah tanpa berjabat tangan, dan si jenderal Prusia itu meninggalkan ruangan dengan sedikit saja menggerakkan badannya ke bawah untuk membungkuk tanda hormat! Ingat beibeh, ini bukan berarti bahwa pribadinya bertipe pemberontak dan semangat tempurnya telah menurun sehingga dia tampak sangat tidak menghormati pemimpinnya sendiri. Ini adalah hasil keteguhan seorang didikan staf jenderal Prusia sejati yang memegang teguh sumpah keprajuritan. Bolehlah dia kurang hormat sama Hitler, tapi perintah Hitler diturutinya sampai akhir. Bukankah dia baru menyerah satu hari setelah semua pasukan Jerman lain menurunkan senjatanya? Bukankah dia telah mendarmabaktikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk negaranya, sehingga anaknyapun telah menjadi "tumbal" dari perjuangannya? Bukankah semua penghargaan dan medali yang telah diraihnya menjadi pertanda dari kedahsyatannya di medan pertempuran? Tentunya Hitler tidak akan memilih Saucken kalau tahu jenderalnya ini memang selembek perkedel dan bukannya "mutu manikam" yang tak tergoyahkan badai sedahsyat apapun! Kekerasan hatinya ini tampak ketika di hari-hari akhir Perang Dunia II, saat Karl Dönitz (pengganti Hitler sebagai pemimpin Jerman) mengirimkan sebuah pesawat demi mengevakuasi jenderalnya yang berharga ini agar terhindar dari tangkapan Rusia. Lalu apa reaksi Saucken? Bukannya berterimakasih dan buru-buru naik pesawat, dia malah menolak mentah-mentah tawaran Dönitz dan lebih memilih masuk penjara Rusia yang terkenal brutal bersama dengan pasukan yang sangat dicintainya! Soviet pun tidak mampu menundukkan keteguhannya dalam bersikap. Ketika dia disuruh untuk menandatangani sebuah surat pernyataan palsu, Saucken menolak dengan keras sehingga akibatnya dia harus menerima vonis palu hakim kerja paksa selama 20 tahun, dimasukkan dalam sel terpisah, dan mendapat siksaan begitu berat sehingga harus menggunakan kursi roda di sisa akhir hidupnya! Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Lagebesprechung (brifing) para perwira tinggi Heeresgruppe Mitte yang diselenggarakan di markas 2. Armee di Orel, Rusia, kemungkinan pada akhir musim semi tahun 1943 sebelum dimulainya Unternehmen Zitadelle atau Pertempuran Kursk. Yang duduk di sebelah kanan adalah Generalleutnant Dietrich von Saucken (Kommandeur 4. Panzer-Division), sementara yang memakai jaket bulu sambil membelakangi kamera adalah Generalfeldmarschall Hans-Günther von Kluge (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Mitte)


Generalleutnant Dietrich von Saucken sedang mencoba salah satu panzer baru yang diterima oleh 4.Panzer-Division di musim panas 1943 tepat sebelum Operasi 'Zitadelle'. Pz.Bef.Wg.III ini telah dilapisi warna kamuflase pasir di atas abu-abu gelap, sementara nomor taktis 'D02' dibuat dengan cat hitam. Saat itu (antara April s/d awal Juli 1943) bisa dibilang sebagai "saat membahagiakan" bagi divisi pimpinan Saucken, karena mereka menerima tambahan mesin perang baru begitu banyak, sebanyak yang diterima dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya! Salah satu kendaraan barunya adalah seperti yang tampak di foto atas, Pz.Bef.Wg.III di atas sasis Ausf.J yang berbeda dibandingkan dengan Pz.Bef.Wg.III biasa dalam hal persenjataan utamanya yang operasional dan turetnya yang bisa berputar. Kendaraan jenis ini lalu dimasukkan ke unit markas divisi dan Panzer-Regiment 35


Foto ini kemungkinan besar diambil pada tahun 1943, dan memperlihatkan para perwira dari 4. Panzer-Division dalam sebuah jamuan makan. Menghadap kamera, dari kiri ke kanan: seorang Oberstleutnant tak dikenal, Oberst Clemens Betzel (Kommandeur Panzer-Artillerie-Regiment 103), Generalleutnant Dietrich von Saucken (Kommandeur 4. Panzer-Division), dan Oberst Dr.med.dent. Karl Mauss (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 33). Uniknya, Saucken dan Mauss menjadi dua dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht yang nantinya mendapatkan medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub Schwerter und Brillanten, Mauss di urutan ke-26 (15 April 1945) sementara Saucken di urutan ke-27 (8 Mei 1945)!


 Oberst Dr.med.dent. Karl Mauss (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division) berdiskusi dengan Generalleutnant Dietrich von Saucken (Kommandeur 4. Panzer-Division) yang nongkrong di atas schützenpanzerwagen (halftrack) Sd.Kfz. 251/6 Ausf.A mittlere Funkpanzerwagen (Kommandopanzerwagen). Tidak ada keterangan kapan dan dimana foto ini diambil, tapi kemungkinan besar di tahun 1943 di Front Timur. Uniknya, Saucken dan Mauss menjadi dua dari hanya 27 orang di seantero Wehrmacht yang nantinya mendapatkan medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub Schwerter und Brillanten, Mauss di urutan ke-26 (15 April 1945) sementara Saucken di urutan ke-27 (8 Mei 1945)!


Setelah puas menunggang panzer, kini giliran kuda yang ditunggangi oleh Dietrich von Saucken!


Komandan 4.Panzer-Division Dietrich von Saucken sedang berunding bersama para komandan lapangannya. Di latar belakang adalah half-track komandonya, SdKfz 251/6 Ausf.B, sementara di sebelah kanan adalah SdKfz 250/1 dengan plat nomor WH-1451180


Dietrich von Saucken di atas half-tracknya. Dari foto ini kita bisa mengetahui, berdasarkan goresannya, bahwa kendaraan ini berwarna dasar abu-abu gelap yang ditambahi kamuflase warna pasir. Label pengiriman dan daya angkutnya merupakan hasil cat ulang, yang jelas mengindikasikan bahwa ini adalah SdKfz 251/6. Sekedar informasi saja, dari seluruh pihak yang bertikai dalam Perang Dunia II, Jerman adalah satu-satunya negara yang memberi perhatian besar terhadap seni kamuflase, sehingga tidak heran kalau hal ini berkontribusi terhadap minat luar biasa para pemerhati terhadap kendaraan militer Jerman era tersebut


Generalfeldmarschall Walter Model (kiri) bersama dengan jenderal-jenderalnya. Yang di tengah jelas-jelas Dietrich von Saucken (wajah dan potongan rambutnya yang khas emang "nempel" banget!) sementara yang di kanan tampaknya adalah Georg-Hans Reinhardt


Emblem baru dari 4. Panzer-Division yang diperkenalkan di awal tahun 1944 setelah sang komandan divisi (siapa lagi kalau bukan Dietrich von Saucken!) dianugerahi Schwertern ke Ritterkreuz-nya. Emblem itu sendiri dibuat dari warna kuning dengan warna dasar hitam dan terdiri dari logo divisi pertama (rune manusia dalam lingkaran yang mula diperkenalkan di Prancis tahun 1940) yang sekarang ditambahi gambar pedang bersilang (yang melambangkan medali bergengsi yang telah diraih Saucken) di bawahnya. Emblem pertama telah digunakan secara terbatas dalam kampanye di Uni Soviet dan digantikan dengan lambang kepala panah di tahun 1943. BTW, emblem di foto di atas terpasang di mobil Horch yang biasa dipakai cross-sountry


Generalleutnant Dietrich von Saucken berdiri di atas kendaraan halftrack SdKfz 251/6 Ausf.B yang berjalan mendekati para penjaga gerbang di markas sementara 4.Panzer-Division yang terletak di hutan pinus Rusia. Ini merupakan kebiasaan Saucken yang selalu berkeliling medan tempur dan menginspeksi pasukan menggunakan halftrack pribadi tua yang telah dipakainya selama bertahun-tahun. Kendaraan ini dilengkapi dengan frame antena model lama yang dipakai untuk set radio jarak jauh, panji komando yang terletak di mudguard sebelah kiri, dan... sebuah ladam kuda yang dipasang di bagian depan. Gunanya? Untuk keberuntungan! Ternyata orang bule juga percaya yang ginian...


Kendaraan yang dinaiki Dietrich von Saucken sendiri mempunyai pola warna kamuflase coklat dan hijau di atas warna pasir sedikit gelap. Yang menarik dari foto ini adalah rambu pos di sebelah kiri pintu gerbang yang terbuat dari kayu dan ditambah bentuk tank (yang juga terbuat dari kayu, yang anehnya mirip banget sama tank Sherman punya Amerika!). Tulisan di rambu tersebut berbunyi "Saucken-Hausen" yang secara literal berarti "Rumah-Saucken". Di bawahnya, sebuah emblem divisi kecil tak lupa dicat di tiang. BTW, foto ini dan foto di atasnya diambil saat acara pidato perpisahan Saucken kepada 4.Panzer-Division karena dia telah dipindahkan memegang komando dan jabatan lebih tinggi sebagai panglima XXXIX Panzer-Korps


Generalleutnant Dietrich von Saucken berkeliling meninjau kamp di hari terakhirnya sebagai komandan 4.Panzer-Division, bulan April 1944. Di foto ini tampak dia melintasi Panzer IV Ausf.H terbaru dari I./Panzer-Regiment 35 yang membawa nomor taktis '425' di lapisan baja turetnya, yang mengindikasikan bahwa dia berasal dari 4.Kompanie. Panzer tersebut diberi tiga warna kamuflase coklat dan hijau di atas warna pasir gelap. Tepat berdiri di depan panzer, salah seorang soldat tampak memakai 'Kholm Shield' atau 'Crimea Shield' di lengan kirinya


Panji berbentuk tombak tampak lebih jelas di foto ini ketika sang jenderal melintasi Panzer IV Ausf.H lainnya. Panji tersebut dibuat dari metal yang dicat hitam di atas putih di atas garis merah yang mengindikasikan bahwa yang punyanya adalah komandan divisi panzer. Panji yang lebih kecil umumnya jarang terlihat, dan kadang dicat kuning atau abu-abu di atas pelat persegi panjang


Emblem divisi terpasang di lapisan depan dari Panzer IV Ausf.H di latar depan ini. Emblem tersebut terbuat dari warna kuning di atas warna dasar hitam dengan tambahan tulisan 'I./Pz.Rgt.35'. Simbol "belah ketupat" panzer dan nomor mengindikasikan kompi panzer tersebut berasal


Foto close-up dari Dietrich von Saucken yang berdiri di atas kompartemen kru dari half-track komandonya. Pola kamuflase kendaraan tersebut dapat dengan jelas terlihat disini, dimana corak yang lebih gelap adalah warna coklat sementara yang sedikit cerah berarti warna hijau


Tiga foto di atas diambil saat pidato perpisahan Dietrich von Saucken kepada para prajurit dan perwira 4.Panzer-Division. Komando diserah-terimakan kepada Oberst Clemens Betzel (yang sebelumnya adalah komandan Panzer-Artillerie-Regiment 103) yang kemudian dilanjutkan dengan naik pangkatnya sang Oberst menjadi Generalmajor tanggal 1 Juli 1944. Perhatikan pola kamuflase yang beragam dari dua buah Panzer IV Ausf.H yang terpampang di foto-foto atas. Foto paling bawah memperlihatkan dengan jelas metode pemasangan lapisan "rok" baja tambahan untuk mencegah tembakan meriam dari samping


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) memberikan selamat kepada perwira-perwira terbaik Wehrmacht yang baru saja mendapatkan medali Schwerter atau Eichenlaub. Foto ini diambil di tempat peristirahatan sang Führer di Berghof Obersalzberg pada tanggal 25 Mei 1944. Para penerimanya adalah, dari kiri ke kanan: Generalleutnant Dietrich von Saucken (Schwerter #46 tanggal 30 Januari 1944 sebagai Kommandeur 4. Panzer-Division), Generalleutnant Georg-Wilhelm Postel (Schwerter #57 tanggal 26 Maret 1944 sebagai Kommandeur 320. Infanterie-Division), Oberst Franz Griesbach (Schwerter #53 tanggal 6 Maret 1944 sebagai Kommandeur Grenadier-Regiment 399 / 170.Infanterie-Division), General der Artillerie Maximilian Fretter-Pico (Eichenlaub #368 tanggal 16 Januari 1944 sebagai Kommandierender General XXX. Armeekorps), General der Infanterie Friedrich Schulz (Eichenlaub #428 tanggal 20 Maret 1944 sebagai Kommandierender General III. Panzerkorps), Generalmajor Ernst-Günther Baade (Eichenlaub #402 tanggal 22 Februari 1944 sebagai Führer 90. Panzergrenadier-Division), Oberst Herbert Schwender (Eichenlaub #442 tanggal 6 April 1944 sebagai Kommandeur Grenadier-Regiment 45 / 21.Infanterie-Division), Major Heinz Wittchow von Brese-Winiary (Eichenlaub #441 tanggal 6 April 1944 sebagai Führer II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 108 / 14.Panzer-Division), serta Hauptmann der Reserve Heinrich Hogrebe (Eichenlaub #454 tanggal 13 April 1944 sebagai Kommandeur II.Bataillon / Grenadier-Regiment 422 / 126.Infanterie-Division)


 Generalleutnant Dietrich von Saucken dalam beberapa foto studio yang diambil oleh fotografer pribadi Adolf Hitler, Walter Frentz, di Obersalzberg (Bavaria), pada tanggal 25 Mei 1944. Di tanggal tersebut, Saucken dan beberapa jenderal Wehrmacht terpilih lainnya diundang oleh sang Führer ke Berghof Obersalzberg untuk menerima ucapan selamat atas medali terbaru yang telah mereka peroleh (Schwerter atau Eichenlaub). Saucken sendiri dianugerahi Schwerter #46 zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub pada tanggal 30 Januari 1944 sebelumnya, yang diberikan sebagai penghargaan atas prestasinya sebagai Komandan 4. Panzer-Division dalam pertempuran defensif yang sengit dan berat melawan pasukan Soviet di sekitar Gomel, yang berlangsung di akhir tahun 1943. Pada saat foto ini diambil, Saucken sudah meninggalkan 4. Panzer-Division dan naik jabatan sebagai Komandan sementara III. Panzerkorps


 Foto ini diambil di Rusia pada tahun 1944, dan memperlihatkan Generalleutnant Dietrich von Saucken (Kommandeur 4. Panzer-Division) yang sedang berjalan sambil memakai mantel jenderal berkerah merah marun, yang diikuti oleh perwira yang kemungkinan adalah Oberst Ernst-Wilhelm Hoffmann (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 12 / 4.Panzer-Division). Tampaknya mereka sedang dalam keadaan terburu-buru, yang diindikasikan oleh seorang anggota divisi lain di latar belakang yang terlihat sedang berlari


 Dari kiri ke kanan: Hauptmann der Reserve Fritz-Rudolf Schultz (Kommandeur I.Abteilung / Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division) dan Generalleutnant Dietrich von Saucken (Kommandeur 4. Panzer-Division). Foto ini diambil pada tanggal 21 April 1944, dalam acara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Hauptmann Schultz. Medali bergengsi tersebut diberikan setelah batalyon panzer pimpinan Schultz menghancurkan 19 tank Soviet pada tanggal 1 Agustus 1943, dilanjutkan dengan 26 tank pada tanggal 2 Agustus 1943, 13 tank tanggal 28 Agustus 1943, dan 22 tank tanggal 19 November 1943. Selain itu, batalyon ke-1 juga dianggap berhasil dalam pertempuran defensif di Desna, Dnieper dan sungai Ssosh, dilanjutkan dengan kesuksesan Operasi Nikolaus tanggal 21 Desember 1943 serta pertempuran defensif di Kalinkovitschi (8-29 Januari 1944)


Dari kiri ke kanan: Generalmajor Clemens Betzel (Kommandeur 4. Panzer-Division), Generaloberst Georg-Hans Reinhardt (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Mitte), dan
General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (Kommandierender General XXXIX. Panzerkorps). Foto ini diambil pada bulan Agustus 1944 sewaktu 4. Panzer-Division (Betzel) berada di bawah kendali XXXIX. Panzerkorps (Saucken), yang juga menjadi bagian dari Heeresgruppe Mitte (Reinhardt)


General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (kiri, Kommandierender General XXXIX. Panzerkorps) memberikan ucapan selamat kepada Generalmajor Clemens Betzel (Kommandeur 4. Panzer-Division) atas raihan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang diterimanya pada tanggal 5 September 1944. Saucken sendiri adalah mantan komandan 4. Panzer-Division dalam tiga periode yang berlainan (27 Desember 1941 - 2 Januari 1942, 31 Mei 1943 - Januari 1944, dan Februari 1944 - 1 Mei 1944). Foto diambil di Front Latvia


 Para Ritterkreuzträger (peraih medali Ritterkreuz) dari 4. Panzer-Division berkumpul dalam acara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Komandan Divisi mereka, Generalleutnant Clemens Betzel, dalam sebuah foto yang diambil pada tanggal 5 September 1944 di Latvia. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Peter Sauerbruch (Ia Erster Generalstabsoffizier 4. Panzer-Division. Ritterkreuz tanggal 4 Januari 1943), Oberfeldwebel Helmut Thierfelder (Zugführer in der 6.Kompanie / II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 33. Ritterkreuz tanggal 4 September 1944), Hauptmann Wilhelm Westermann (Kommandeur Panzer-Aufklärungs-Abteilung 4. Ritterkreuz tanggal 15 September 1941), Oberst Ernst-Wilhelm Hoffmann (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 12. Ritterkreuz tanggal 4 September 1940 dan Eichenlaub tanggal 9 Juni 1944), General der Panzertruppe Dietrich von Saucken (Kommandierender General XXXIX. Panzerkorps yang juga merupakan mantan Komandan 4. Panzer-Division. Ritterkreuz tanggal 6 Januari 1942, Eichenlaub tanggal 22 Agustus 1943, Schwerter tanggal 30 Januari 1944, dan Brillanten tanggal 8 Mei 1945), Generalmajor Clemens Betzel (Kommandeur 4. Panzer-Division. Ritterkreuz tanggal 5 September 1944 dan Eichenlaub tanggal 11 Maret 1945), Oberst Gerlach von Gaudecker-Zuch (Kommandeur Panzergrenadier-Regiment 33. Ritterkreuz tanggal 8 Agustus 1944), Hans Christern (Kommandeur Panzer-Regiment 35. Ritterkreuz tanggal 31 Januari 1941), dan satu orang lagi yang tidak diketahui namanya



Berbagai pose dari Dietrich von Saucken, lengkap dengan monokelnya yang khas



Sumber :
Buku "4.Panzer-Division on the Eastern Front 1941-1943" karya Robert Michulec
Buku "4.Panzer-Division on the Eastern Front (2) 1944" karya Robert Michulec
Majalah "The Combat Tanks Collection" edisi No.102
CD "Deutsches Wehrkundearchiv"
CD "Ritterkreuzträger im Bild"
Foto koleksi pribadi Sepp45 / Malvinas
Foto koleksi pribadi Tibor Bogar "Fakatona"
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.thirdreichcolorpictures.blogspot.com
www.warandgame.com
www.warrelics.eu
www.wehrmacht-awards.com

Monday, March 23, 2020

Urkunde (Dokumen) Ritterkreuz



 
Frieda Thiersch (1889-1947) adalah seniman yang bertugas menjilid dokumen penganugerahan dokumen Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes serta turunannya (Eichenlaub, Schwertern, Brillanten dan Goldenem Eichenlaub). Putri dari Friedrich von Thiersch (arsitek terkenal kota Münich) ini di masa mudanya pernah menjadi model patung Athena yang diletakkan di Maximiliansbrücke, Münich. Pembuatnya? Siapa lagi kalau bukan ayahnya tercinta! Karena berasal dari keluarga yang menghargai seni, Frieda pun kemudian mempunyai ketertarikan besar pada seni dan ornamennya. Dia belajar penjilidan buku di London dari pakarnya yang merupakan orang Skotlandia, Charles McLeish. Perang Dunia Pertama membuat hobi sekaligus mata pencahariannya terganggu, dan Frieda menjadi suster rumah sakit militer untuk sementara waktu. Setelah perang usai, Frieda bekerja di Bremer Presse, salah satu dari hanya dua perusahaan penjilid buku yang dianggap terbaik di Jerman. Tak lama nama wanita satu ini sudah mengemuka karena karya-karyanya yang dianggap unik dan berkelas. Pada tahun 1930-31 dia bahkan mendapatkan pesanan khusus dari Vatikan untuk menjilid buku doa yang digunakan langsung oleh Paus! Ketika Nazi naik ke tampuk kekuasaan di tahun 1933, nama Frieda pun dipilih untuk membuatkan sertifikat eksklusif untuk kepentingan Adolf Hitler. Pada tahun 1937 dia mendapatkan kontrak untuk membuatkan sampul buku penghormatan untuk kunjungan diktator Italia Mussolini di tahun itu. Desain elang Nazi dengan sayap menghadap ke bawah yang diciptakannya kemudian menjadi insignia standar Nazi untuk seterusnya! Frieda Thiersch menjelma menjadi pilihan nomor satu bagi para petinggi Nazi dalam hal pembuatan jilid dan sampul buku, yang berpuncak pada penunjukan dirinya sebagai pembuat sampul urkunde (dokumen) penganugerahan medali keberanian tertinggi Jerman dalam Perang Dunia II: Ritterkreuz


Franziska Kobell adalah seniman grafis yang bertugas untuk membuat kaligrafi serta sepuhan yang terdapat di dalam urkunde (dokumen) penganugerahan medali Ritterkreuz. Bersama dengan Gerdy Troost (penerbit), Frieda Thiersch (pembuat sampul), serta Franz dan Hermann Wandinger (penyemat perhiasan), Kobell memproduksi 7.000 lebih dokumen penganugerahan medali keberanian Jerman paling bergengsi tersebut, ditambah lagi dengan sekitar 800 dokumen Eichenlaub, 150 dokumen Schwerter, dan masing-masing satu untuk dokumen Goldenem Eichenlaub serta Großkreuz


Sumber :
www.boingboing.net
www.ritterkreuzurkunden.com

Saturday, March 14, 2020

Kunjungan Delegasi Militer Axis ke Asia Tenggara




Oleh : Alif Rafik Khan

Tak lama setelah jatuhnya Hindia-Belanda ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, sebuah delegasi militer dari negara-negara yang bersekutu dengan Jepang melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah kekuasaan baru negara Matahari Terbit di Asia Tenggara, khususnya lokasi yang pernah menjadi ajang pertempuran sengit sebelumnya. Terdapat empat orang atase militer Negara Poros di Jepang yang ikut serta dalam kunjungan, dan mereka berasal dari Jerman, Italia, Rumania serta Finlandia. Dari Jerman diwakili oleh Oberst Alfred Kretschmer, dari Italia oleh Kolonel Guido Bertoni, dari Rumania oleh Brigadir-Jenderal Gheorghe Bagulescu, dan dari Finlandia oleh Kolonel Auno Kaila.

Pada tanggal 9 Maret 1942 seluruh rombongan bertolak dari Tokyo dan kemudian tiba di Hongkong melalui jalur Formosa / Taiwan. Pada tanggal 13 Maret mereka mengunjungi lokasi-lokasi di Kowloon dan Hongkong, terutama bekas benteng pertahanan Inggris yang masih tersisa. Setelah berhenti sebentar di Saigon dan Bangkok, pada tanggal 19 Maret rombongan terbang dari bandara Don Muang di Thailand menuju ke Alor Setar di Malaya. Letnan-Kolonel Shizuo Saeki, Komandan Resimen Tank ke-1 AD Jepang, bela-belain berkendara selama tiga hari lamanya hanya untuk menemui mereka, dan kemudian menjadi guide dadakan saat menjelaskan mengenai apa saja yang terjadi selama berlangsungnya Pertempuran Jitra di Kedah.

Keesokan harinya - 20 Maret 1942 - rombongan berangkat dari Ipoh menuju Kuala Lumpur, dengan menggunakan jalan darat yang lumayan sulit dilalui karena harus melewati hutan belantara. Pada tanggal 21 Maret rombongan tiba di Singapura, dan langsung berangkat lagi menuju Johor Bahru.

Kunjungan selanjutnya pada tanggal 22 Maret 1942 adalah balik ke pelabuhan militer di Seletar, Singapura. Pada tanggal 23 Maret rombongan melakukan peninjauan ke bekas lokasi pertempuran dari atas sebuah bukit di Kallang, dan melihat langsung salah satu dari beberapa buah meriam kaliber 38mm yang digunakan untuk menjaga Singapura dari kemungkinan invasi.

Pada tanggal 24 Maret 1942 rombongan terbang menuju Palembang di pulau Sumatera, untuk menginspeksi wilayah bekas pertempuran yang melibatkan pasukan terjun payung Jepang. Selain itu, rombongan juga melihat-lihat rongsokan bekas pesawat milik Inggris, Amerika dan Belanda yang teronggok disana.

Pada tanggal 25 Maret 1942 rombongan terbang ke Bandung di pulau Jawa. Mereka lalu berangkat ke Lembang sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Batavia, dimana mereka dijamu dengan makan malam mewah rijsttafel yang berisi berbagai macam makanan lokal yang disajikan oleh 20 orang pelayan. Dengan ini berakhirlah setengah bagian dari perjalanan inspeksi para atase militer tersebut. Setengahnya lagi, yang mencakup perjalanan ke Filipina, dimulai dengan terlebih dahulu terbang kembali menuju Singapura.

Pada tanggal 1 April 1942 rombongan tiba di Manila dan melakukan kunjungan ke pelabuhan militer di Cavite. Pada tanggal 3 April mereka berkendara sejauh 300 kilometer menuju ke Teluk Lingayen, dan menghabiskan malam di rumah kediaman bekas Gubernur-Jenderal di Baguio, yang dinamakan "The Mansion". Pada tanggal 4 April rombongan mengunjungi Clark Field Air Base untuk menginspeksi pesawat-pesawat terbang Amerika Serikat yang hancur atau dirampas oleh Jepang. Pada tanggal 5 April mereka terbang ke Pulau Luzon dan kemudian ke Vigan, yang merupakan salah satu lokasi pendaratan pasukan Jepang selama berlangsungnya invasi ke Filipina.

Pada tanggal 7 April 1942 rombongan tiba kembali di Bandara Haneda, Tokyo, setelah menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 20.000 kilometer dalam kunjungan mereka di Asia Tenggara.


-------------------------------------------------------------------------------


Pada tanggal 19 Maret 1942, Letnan-Kolonel Shizuo Saeki (Komandan Resimen Tank ke-1 AD Jepang) menjadi guide dadakan untuk tamu-tamu VIP-nya yang merupakan para atase militer dari empat negara sekutu Jepang dalam Perang Dunia II: Jerman, Italia, Rumania dan Finlandia. Disini dia memberikan penjelasan tentang bekas benteng pertahanan Inggris yang diduduki oleh pasukan Jepang setelah usainya Pertempuran Jitra (11-13 Desember 1941) di Kedah, Malaya. Kemenangan Jepang dalam pertempuran menentukan tersebut membuat Panglima Inggris di Malaya, Letnan-Jenderal Arthur Percival, memindahkan pesawat-pesawatnya yang berpangkalan di Malaya ke pulau Singapura


Pada tanggal 21 Maret 1942, rombongan atase militer negara-negara Sekutu Jepang dalam Perang Dunia II (Jerman, Italia, Rumania dan Finlandia) melakukan kunjungan ke Johor Bahru, untuk melihat-lihat bekas lokasi pertempuran antara Jepang dan Inggris disana. Foto ini memperlihatkan, dari kiri ke kanan: Kolonel Guido Bertoni (Atase Militer Italia), perwira Jepang tak dikenal, dan  Brigadir-Jenderal Gheorghe Bagulescu (Atase Militer Rumania)


  Rombongan atase militer negara-negara sahabat Jepang di Tokyo (Jerman, Italia, Rumania dan Finlandia) tiba di lapangan udara Andir, bandung, dalam rencana kunjungan satu hari untuk melihat bekas-bekas pertempuran antara Hindia-Belanda dan Jepang yang berkobar beberapa minggu sebelumnya. Di belakang terlihat pesawat transport Mitsubishi Ki-57 "Topsy", kemungkinan model pertama yang mempunyai dua mesin 850p, yang mengangkut rombongan tersebut dalam perjalanan udara dari Palembang ke Bandung. Pesawat tersebut tampaknya telah mendapat tambahan cat kamuflase yang cukup signifikan di sekujur badannya


Rombongan atase militer negara-negara sahabat Jepang di Tokyo dalam acara kunjungan ke Bandung, tanggal 25 Maret 1942. Foto bawah memperlihatkan Kolonel Auno Kaila (Atase Militer Finlandia) yang berdiri kedua dari kiri, sementara yang mengangkat tangan di tengah adalah Kolonel Guido Bertoni (Atase Militer Italia), diikuti oleh Oberst Alfred Kretschmer (Atase Militer Jerman) yang merupakan perwira tinggi besar di belakangnya. terakhir adalah Brigadir-Jenderal Gheorghe Bagulescu (Atase Militer Rumania) yang berdiri ketiga dari kanan


Para perwira militer dari negara-negara Poros memperhatikan dengan serius saat dua orang prajurit Jepang bercanda dengan seekor monyet peliharaan. Foto ini diambil pada bulan Maret 1942 dalam rangkaian kunjungan para atase militer negara-negara sahabat Jepang ke wilayah-wilayah kekuasaan baru negara Matahari Terbit tersebut di Asia Tenggara (Malaya, Singapura, Hindia-Belanda dan Filipina). Perwira berkumis tipis di tengah adalah Kolonel Guido Bertoni (Atase Militer Italia di Tokyo), sementara di belakangnya adalah ajudan Oberst Alfred Kretschmer (Atase Militer Jerman di Tokyo)


Inspeksi para atase militer Negara-negara Poros di pelabuhan militer Cavite, Filipina, pada tanggal 1 April 1942. Mereka sedang mengamati kapal selam USS Sealion (SS-195) milik US Navy yang rusak berat setelah terkena serangan bomber-bomber Jepang pada tanggal 10 Desember 1941, dan kemudian diledakkan pada tanggal 25 Desember oleh pihak Amerika sendiri demi mencegahnya digunakan oleh pihak Jepang


Inspeksi para atase militer Negara-negara Poros di Clark Field Air Base, Filipina, pada tanggal 4 April 1942. Mereka sedang mengamati sebuah pesawat pembom B-17 milik Amerika Serikat yang ditinggalkan disana setelah bandara tersebut dikuasai oleh Jepang




Sumber :

Wednesday, March 11, 2020

SS-Gruppenführer Hermann Fegelein (1906-1945), Komandan Florian Geyer



Album foto Hermann Fegelein bisa dilihat DISINI
Album foto pernikahan Hermann Fegelein dengan Gretl Braun bisa dilihat DISINI

Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Hans Georg Otto Hermann Fegelein
Panggilan/julukan: Flegelein
Lahir: 30 Oktober 1906 di Ansbach, Bavaria (Kekaisaran Jerman)
Meninggal: 29 April 1945 di Berlin (Jerman)
Nomor keanggotaan NSDAP: 1 200 158
Nomor keanggotaan SS: 66 680 (15 Mei 1933)
Gelar akademis: Tidak ada
Anggota keluarga: Waldemar Fegelein (adik)
Ciri fisik: Tidak diketahui

Beförderungen (Promosi):
12.06.1933 SS-Untersturmführer
20.04.1934 SS-Obersturmführer
09.11.1934 SS-Hauptsturmführer
30.01.1936 SS-Sturmbannführer
30.01.1937 SS-Obersturmbannführer
25.07.1937 SS-Standartenführer
01.03.1940 SS-Obersturmbannführer der Reserve der Waffen-SS
01.02.1942 SS-Standartenführer der Waffen-SS
01.12.1942 SS-Oberführer der Waffen-SS
01.03.1943 SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS
21.06.1944 SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS

Karriere (Karir):
15.09.1939 - 15.12.1939 Führer SS-Totenkopf-Reiterstandarte
15.12.1939 - 01.12.1940 Führer 1.SS-Totenkopf-Reiterstandarte
12.11.1940 - 01.12.1940 Kommandeur 1.Halb-Standarte / 1.SS-Totenkopf-Reiterstandarte
11.12.1940 - 21.03.1941 Kommandeur SS-Totenkopf-Kavallerie-Regiment
11.12.1940 - 21.03.1941 Kommandeur 1.Halbregiment / SS-Totenkopf-Kavallerie-Regiment 11
21.03.1941 - 02.08.1941 Kommandeur SS-Kavallerie-Regiment 1
02.08.1941 - 01.05.1942 Kommandeur SS-Kavallerie-Brigade
01.05.1942 - 26.11.1942 Inspekteur Reit- und Fahrwesens in der SS-Führungshauptamt
26.11.1942 - 31.12.1944 Chef Amt VI (Reit- und Fahrwesen) in der SS-Führungshauptamt 01.12.1942 - 20.04.1943 Führer SS-Kampfgruppe “Fegelein”
20.04.1943 - 23.10.1943 Kommandeur SS-Kavallerie-Division
23.10.1943 - 01.11.1943 Kommandeur 8. SS-Kavallerie-Division "Florian Geyer"
01.11.1943 - 31.12.1943 Führerreserve im Kommandostabes des Reichsführer-SS.
01.01.1944 - 29.04.1945 Verbindungsoffizier zwischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier


Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan): 
16.12.1935 Julleuchter der SS
00.00.193_ SS-Zivilabzeichen (Nr. 24 180)
00.00.193_ Ehrenwinkel für Alte Kämpfer
00.00.193_ Ehrendegen des Reichsführers SS
00.00.193_ SS-Totenkopfring
00.00.193_ Deutsches Reiterabzeichen in Bronze, Silber und Gold
00.00.193_ Deutsche Olympia-Ehrenzeichen I.Klasse
00.00.193_ Kultur-Verdienstorden (Rumania), II.Klasse (Offizier des Ordinul Meritul Cultural) für Verdienste im Sport (Kat. E)
00.00.193_ Abzeichnen der Deutsche Lebens-Rettungs-Gesellschaft (DLRG) in Bronze
00.00.193_ Ehrenzeichen für Deutsche Volkspflege III. und II.Stufe
00.00.193_ Dienstauszeichnung der NSDAP in Bronze
00.00.193_ SS-Dienstauszeichnung III.Stufe (8 Jahre)
01.12.1937 Deutsches Reichssportabzeichen in Bronze
01.12.1937 SA-Sportabzeichen in Bronze
00.00.19__ Medaille zur Erinnerung an den 13. März 1938
00.00.19__ Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938
15.12.1940 Eisernes Kreuz II.Klasse
28.06.1941 Eisernes Kreuz I.Klasse
00.00.194_ Allgemeines Sturmabzeichen
02.10.1941 Infanterie-Sturmabzeichen in Silber
00.00.194_ Medaglia d'argento al Valore Militare (Italia) in Silver
02.03.1942 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, sebagai SS-Standartenführer dan Kommandeur SS-Kavallerie-Brigade
01.09.1942 Medaille "Winterschlacht im Osten 1941/42"
01.09.1942 Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern
22.12.1942 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #157, sebagai SS-Oberführer dan Kommandeur Kampfgruppe "Fegelein"
00.00.194_ Verwundetenabzeichen in Schwarz und Silber
11.09.1943 Nahkampfspange in Bronze
05.12.1943 Nahkampfspange in Silber (nach 56 Nahkampftage)
01.11.1943 Deutsches Kreuz in Gold
26.07.1944 Verwundetenabzeichen "20. Juli 1944" (nach Urkunde mit Wirkung vom 20. Juli)
30.07.1944 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern #83, sebagai SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS dan Kommandeur 8. SS-Kavallerie-Division "Florian Geyer"

 Aufzeichnungen (Catatan):
* Pada tanggal 21 dan 22 Desember 1941, Fegelein terluka oleh tembakan sniper Soviet. Luka kedua membuatnya kehilangan banyak darah sehingga harus masuk rumah sakit sampai dengan bulan April 1942. Untuk sementara posisinya sebagai Komandan SS-Kavallerie-Brigade digantikan oleh SS-Hauptsturmführer Karl Liecke, lalu oleh Gustav Lombard (6 Maret 1942 - 18 April 1942). Selama masa absennya, SS-Kavallerie-Brigade berganti nama menjadi SS-Reiter-Brigade "Fegelein".
* Pada tanggal 23 Desember 1942 Fegelein terluka dalam pertempuran di Golaja.
* Pada tanggal 9 September 1943 Fegelein terluka dalam pertempuran di selatan Kharkov. Posisinya sebagai Komandan 8. SS-Kavallerie-Division "Florian Geyer" kemudian digantikan untuk sementara oleh Bruno Streckenbach (yang nantinya secara resmi mengambil-alih komando divisi pada tanggal 1 November 1943).
* Dari tanggal 13 September 1943 s/d bulan Desember 1943 Fegelein menjalani masa pemulihan untuk menyembuhkan luka-lukanya.
* Pada tanggal 20 Juli 1944 Fegelein terluka di bagian paha kiri dalam upaya pemboman terhadap Hitler di Führerhauptquartier Wolfsschanze, Rastenburg, yang dilakukan oleh Oberst i.G. Klaus Schenk Graf von Stauffenberg.
* Dalam buku "Sommer und Herbst 1943: Abwehrerfolge der SS-Kavallerie-Division im Raum Orel und am oberen Dnjepr (Führungsverdienste)", disebutkan bahwa pada tanggal 30 Juli 1944 Fegelein direkomendasikan oleh General der Infanterie Hermann Recknagel (Kommandierender General XXXXII. Armeekorps) agar dianugerahi medali Schwerter sebagai tambahan untuk Ritterkreuz-nya, hanya saja rekomendasi ini tidak dikabulkan oleh OKW (Oberkommando der Wehrmacht).
* Pada tanggal 23 April 1945 Fegelein berangkat bersama dengan Himmler dan Prof.dr.med. Karl Gebhardt ke SS-Lazarett Hohenlychen. Keesokan harinya mereka mengunjungi kantor SS-Führungshauptamt di Fürstenberg. Di tempat ini Fegelein curhat pada Hans Jüttner bahwa dia tidak berniat untuk ikut mati bersama dengan Hitler di Berlin. Pada tanggal 25 April 1945 dia terpaksa harus kembali terbang ke Berlin untuk bertugas menjadi perwira penghubung SS di Führerbunker.
* Pada tanggal 27 April 1945 Fegelein meninggalkan Führerbunker dan pergi ke apartemennya di Bleibtreustrasse No.4 yang berada di wilayah Berlin-Charlottenburg. Disana dia berganti baju untuk kemudian mengenakan pakaian sipil, lalu mengadakan pertemuan dengan istri seorang diplomat Hungaria yang juga adalah kekasih gelapnya. Tak lama, ketidakhadirannya disadari oleh Hitler sehingga dia memerintahkan agar anggota-anggota Reichssicherheitsdienst (Pasukan Pengaman Pribadi sang Führer) mencarinya. Dia ditemukan di apartemennya, dan langsung ditangkap oleh SS-Obersturmbannführer Peter Högl. Ikut ditemukan bersamanya sekitar 105.725 Reichsmark, 3.185 Francs Swiss, serta beberapa emas batangan. Setelah dibawa kembali ke Führerbunker, Fegelein diinterogasi langsung oleh Hitler yang, setelah mengetahui bahwa Himmler telah berusaha menghubungi Sekutu melalui Wakil Palang Merah Swedia Graf Folke Bernadotte, menjadi curiga terhadap tindak-tanduk Fegelein. Mahkamah Militer langsung digelar secara buru-buru, dengan SS-Brigadeführer Wilhelm Mohnke (Komandan Pertahanan Reichskanzlei) bertindak sebagai hakimnya. Fegelein dinyatakan bersalah atas tuduhan desersi dan pengkhianatan. Dia diturunkan pangkatnya menjadi prajurit biasa, dipecat secara tidak hormat dari keanggotaan SS, dan ditahan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Fegelein kemudian diinterogasi lagi oleh Kepala Gestapo Heinrich Müller pada tanggal 28 April 1945. Keesokan sorenya, atas perintah dari Hitler, dia dibawa ke taman Kantor Kementerian Luar Negeri dan ditembak mati oleh anggota-anggota Reichssicherheitsdienst.


Kejahatan-kejahatan perang dan tindak kriminal yang dilakukan oleh Hermann Fegelein:
1. Pada tanggal 7 Desember 1939 dia memerintahkan eksekusi massal terhadap lebih dari 1.700 orang di Hutan Kampinos dekat Palmiry, sekitar 30 kilometer barat-laut Warsawa, Polandia. Perintah pembunuhan ini sendiri berasal dari SS-Standartenführer Josef Meisinger, Wakil Komandan Einsatzgruppe IV di Warsawa.
2. Pada tanggal 23 April 1941 Fegelein hampir diajukan ke Mahkamah Militer SS setelah dia dan resimennya mencuri uang serta benda berharga lainnya dari para korbannya, dan kemudian memindahkannya dari Warsawa ke Münich. Dakwaan terhadap Fegelein kemudian dihapuskan atas perintah langsung dari Reichsführer-SS Heinrich Himmler.
3. Pada tanggal 16 Mei 1941 Fegelein dibawa ke hadapan Sidang Kehormatan SS karena didakwa telah menjalin hubungan dengan seorang wanita Polandia di Krakow. Wanita tersebut kemudian hamil dan dipaksa untuk melakukan aborsi. Dakwaan ini kemudian dihapuskan atas perintah langsung dari Reichsführer-SS Heinrich Himmler tertanggal 30 Juni 1941.
4. Pada tanggal 17 Juli 1941 Resimen Fegelein ditugaskan sebagai bawahan taktis dan operasional dari Höherer SS- und Polizeiführer (HSSPF) "Russland-Mitte" di bawah pimpinan Erich von dem Bach, dengan tugas utama untuk membersihkan wilayah rawa-rawa Pripet (Ukraina-Belarusia) dari keberadaan gerilyawan Komunis. Setelah selesainya tahap pertama tugas tersebut, Fegelein melaporkan tentang eksekusi terhadap 13.788 orang Yahudi serta "Soldaten in Zivil" (prajurit berbaju sipil). Dari akhir bulan Agustus 1941 s/d 13 September 1941, semua laki-laki Yahudi di wilayah Rogatschew (total 3.500 orang) dilaporkan telah ditembak mati.
5. Pada tanggal 27 Juli 1941 Fegelein mengeluarkan "Regiments-Befehl" (Perintah Resimen) No.42 untuk seluruh anggota SS-Kavallerie-Regiment. Surat perintah tersebut memuat pula statemen seperti ini: "Orang-orang Yahudi secara umum harus diberlakukan seperti layaknya penjarah; Wanita dan anak-anak harus dipisahkan; Prajurit-prajurit Rusia yang ketahuan mengenakan seragam sipil, juga para penjarah, sipil bersenjata serta pelaku sabotase, semuanya harus tembak di tempat dengan perintah langsung dari perwira atasan masing-masing".
6. Pada tanggal 18 September 1941 Fegelein menyerahkan laporan berkaitan dengan hasil "pembersihan" wilayah berawa Pripet oleh SS-Kavallerie-Brigade. 14.178 orang "penjarah" (baca: Yahudi) tercatat ditembak mati, ditambah dengan 1.001 orang anggota gerilyawan dan 699 orang Tentara Merah. Selain itu, 830 orang lainnya berhasil ditahan.
7. Dari tanggal 24 s/d 26 September 1941, Fegelein menjadi partisipan sekaligus instruktur dalam Kursus Internasional tentang cara memerangi gerilyawan yang diadakan oleh General der Infanterie z.V. Max von Schenckendorff (Komandan Wilayah Belakang AD Front Tengah Rusia) di Mogilev. Kursus ini juga ikut dihadiri oleh Erich von dem Bach dan Arthur Nebe. Salah satu materi yang disajikan adalah eksekusi terhadap sekitar 30 orang yahudi di kota Knjashizy oleh anggota-anggota Einsatzkommando 8 dan Polizei-Bataillon 322 pada tanggal 25 September 1941. Eksekusi tersebut disaksikan langsung oleh para peserta kursus.
8. Setelah pulang dari mengikuti kursus internasional tentang cara memerangi gerilyawan, pada tanggal 28 September 1941 Fegelein mengeluarkan "SS-Kavallerie-Brigadebefehl" (Perintah Brigade Kavaleri SS) No.8 yang menyatakan bahwa "Kerjasama dengan SD - Sicherheitsdienst - diwajibkan dalam berbagai situasi dan kondisi; Pada saat unit tinggal dalam waktu yang cukup lama di suatu tempat, maka distrik-distrik dan ghetto Yahudi bisa digunakan tanpa kecuali (apabila tempat-tempat ini masih belum dibersihkan sebelumnya). Tertanda: Fegelein".
9. Pada tanggal 6 Oktober 1941 Fegelein didakwa oleh Hauptamt SS-Gericht atas tuduhan menyalahgunakan barang rampasan. Seperti sebelum-sebelumnya, dakwaan terhadapnya kemudian dihapuskan atas perintah langsung dari Reichsführer-SS Heinrich Himmler.
10. Dari tanggal 27 Mei s/d 10 Juni 1943, Fegelein memimpin SS-Kavallerie-Division dalam Unternehmen Weichsel (Operasi Vistula) di sekitar wilayah basah Dniepr-Pripet, barat-daya Gomel. Dalam operasi ini, Fegelein terlibat dalam perintah pembunuhan terhadap 4.018 orang, deportasi 18.860 orang pekerja paksa (10.422 diantaranya oleh SS-Kavallerie-Division), perampasan 21.000 hewan ternak, serta penghancuran 61 desa.
11. Dari tanggal 13 s/d 16 Juni 1943, Fegelein memimpin SS-Kavallerie-Division dalam Unternehmen Ziethen di barat Retzhiza. Dalam operasi ini, 63 desa dihancurkan. Operator telepon Fegelein nantinya bersaksi bahwa bosnya secara terus-menerus berhubungan dengan Hitler melalui telepon selama berlangsungnya Operasi Vistula dan Ziethen. Fegelein diperintahkan untuk menetralisasi keberadaan para partisan dalam area seluas 100-120 kilometer.
12. Dari tanggal 26 Juni s/d 27 Juli 1943 Fegelein memimpin SS-Kavallerie-Division dalam Unternehmen Seydlitz di wilayah Owrutsch-Mosyr. Divisinya tercatat menghancurkan 96 buah desa serta membunuh 5.106 orang. Selain itu, 606 orang lainnya dijadikan tawanan, 9.166 orang dideportasi, dan 19.941 hewan ternak dirampas.



Sumber :
www.de.metapedia.org
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.tracesofwar.com

Sunday, March 8, 2020

Foto Lastkraftwagen (Truk) Wehrmacht

Sebagian besar personil dan perlengkapan milik Panzer-Regiment 5 (bagian dari 5. Leichte-Division) tiba di pelabuhan Tripoli, Libya, pada tanggal 10 Maret 1941, dimana mereka kemudian diturunkan dari kapal-kapal yang membawanya. Untuk tank sendiri, yang diturunkan di hari itu tercatat sebagai berikut: 25 buah Panzer I Ausf.A, 45 buah Panzer II Ausf.C, 61 buah Panzer III Ausf.G, 17 buah Panzer IV Ausf.D, 3 buah Panzerbefehlswagen I, dan 4 buah Panzerbefehlswagen III Ausf.E. Leutnant Joachim Schorm dari 6.Kompanie / II.Abteilung / Panzer-Regiment 5 menuliskan di buku hariannya akan kedatangannya untuk pertama kalinya di benua Afrika serta keadaan yang dijumpainya disana: "Kami memasuki pelabuhan di Tripoli. Akhirnya kami selamat sampai disini! Hanya terpaut 24 kilometer dari sini, ini nyata, satu buah kapal dagang Italia serta dua kapal tanker ditenggelamkan oleh kapal selam Sekutu. Di belakang Kolonel dan ajudan, aku meninggalkan Marburg pada pukul 13:00 dengan mendahului setengah anggota kompi ke-6. Suasana di dermaga begitu indah tak terlukiskan. Rommel dan perwira-perwira Jerman lainnya masih mengenakan seragam abu-abu lapangan Eropa, sementara anggota Luftwaffe sudah dibalut baju dan celana pendek berwarna khaki. Bagaimana dengan pasukan Italia? Mereka mengenakan seragam apa saja yang bisa mereka temukan!" Foto ini memperlihatkan Panzer-Panzer III Ausf.G yang sedang diturunkan dari kapal pengangkut yang membawanya. Tank jenis ini dipersenjatai dengan meriam L/42 kaliber 50mm, dan mempunyai tambahan ventilator turet yang dipasang di bagian atas kubah, persis di depan cupola. Selain itu, tank-tank dari jenis Panzer III Ausf.G juga telah dilengkapi dengan cupola jenis baru yang berbeda dari versi sebelumnya. Di sebelah tengah dan atas kita bisa melihat truk-truk transport Wehrmacht dari jenis Le.gl. Einheits LKW (leichter geländegängiger Lastkraftwagen) 6x6 "Einheitsdiesel” kapasitas 2,5 ton yang sedang mengangkut perbekalan



Sumber :
www.facebook.com