Tuesday, August 30, 2016

Koleksi Film Terbaru September 2016

Untuk cara pemesanan silakan lihat DISINI


MY HONOR WAS LOYALTY: LEIBSTANDARTE (2015)
Ini adalah 'Band of Brothers versi Jerman', sebuah kisah nyata yang menceritakan tentang kesetiaan, keberanian, pengorbanan dan kebenaran dari sudut pandang bintara SS Ludwig Herckel dari Divisi Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH) yang merupakan unit elit Waffen-SS. Mengambil setting tempur dari Front Timur ke Front Barat, film ini dibintangi oleh para reenactor sehingga keotentikan peralatan perang serta seragamnya benar-benar terjaga! 1 DVD teks Indonesia


THE OLD GUN (1975)
Montauban (Prancis) tahun 1944. Julien Dandieu adalah seorang ahli bedah di rumah sakit setempat yang membalas dendam terhadap tentara pendudukan Jerman - yang telah membunuh istri dan anaknya - dengan cara mengurung musuhnya tersebut di sebuah kastil tua dan kemudian membunuhnya satu persatu dengan senjata tuanya! 1 DVD teks Indonesia


ALLIES (2014)
Terinspirasi oleh peristiwa nyata yang terjadi dalam Perang Dunia II. Pada bulan Agustus 1944, sebuah tim tentara Inggris yang dipimpin oleh Kapten Amerika diterjunkan di belakang garis musuh di Perancis untuk sebuah misi yang diharapkan bisa memperpendek perang. Mereka harus menyisihkan perselisihan pribadi diantara masing-masing anggota jika ingin misi mereka berhasil. 1 DVD teks Indonesia


 D-DAY SURVIVOR / THE WAR I KNEW (2014)
Film ini menceritakan tentang sebuah skuad penerjun payung Inggris yang diterjukan pada saat D-Day. Sebagian besar dari mereka hilang atau tewas. Private Johnny Barrows adalah satu-satunya yang selamat, dan meskipun kurang berpengalaman, penuh rasa takut dan pernah hilang di belakang garis musuh, dia tetap harus bisa bertahan hidup di wilayah yang dikuasai oleh pasukan Jerman. 1 DVD teks Indonesia


 I DEAL IN DANGER (1966)
Selama Perang Dunia II, David Maret (Robert Goulet) adalah agen ganda yang telah diberikan akses yang luas oleh Jerman untuk melakukan perjalanan kemanapun sesuai keinginannya. Tanpa diketahui oleh tuannya, Maret sebenarnya adalah mata-mata Amerika yang bertugas untuk mengumpulkan informasi-informasi berharga untuk kepentingan Sekutu. Bagaimanakah akhir hidupnya? 1 DVD teks Indonesia


 THE BOAT IS FULL (1981)
Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Swiss sangat ketat memberi akses untuk pengungsi dengan slogannya: "Perahu kami sudah penuh". Film ini menceritakan tentang enam orang pengungsi dengan latar belakang berbeda yang mencari perlindungan di negara netral tersebut: empat orang Yahudi, seorang anak Perancis, dan seorang tentara Jerman. 1 DVD teks Indonesia


 COUNTERPOINT (1967)
Sebuah kelompok orkestra terkenal mengadakan tur di Eropa selama Perang Dunia II, tapi kemudian mereka ditangkap oleh pasukan Nazi dan dipaksa bermain untuk komandan Jerman yang menyenangi musik-musik klasik. Dibintangi oleh Charlton Heston, aktor yang terkenal lewat film Ben-Hur dan The Ten Commandments! 1 DVD teks Indonesia


 BELLE AND SEBASTIAN (2013)
Film ini menceritakan tentang seorang anak Prancis berusia enam tahun yang bersahabat dengan anjing liar di wilayah pegunungan Alpen. Dia dan anjingnya berusaha sekuat tenaga untuk membantu pelarian pengungsi Yahudi ke Swiss sekaligus menggagalkan upaya Nazi yang bermaksud untuk menangkap gerilyawan Perancis. 1 DVD teks Indonesia


 IS PARIS BURNING? (1966)
Perjuangan berbagai faksi perlawanan Perancis untuk mendapatkan kembali kontrol dari Paris pada bulan Agustus 1944. Dietrich von Choltitz, jenderal Jerman yang  bertanggung jawab atas Paris, berada di bawah perintah dari Hitler untuk membakar kota tersebut jika pasukan Sekutu terlalu kuat. Berhasilkah usahanya? 1 DVD teks Indonesia


 RHINELAND (2007)
Bulan Maret 1945 di hari-hari terakhir Perang Dunia II. Sekelompok kecil tentara Amerika yang masih hijau menemukan diri mereka bertugas di garis depan dan terjebak dalam medan tempur yang dijuluki sebagai "The last great killing ground in the West": Rhineland. 1 DVD audio Inggris tanpa teks

Sunday, August 28, 2016

Nasib para Perwira dan Prajurit 6. Armee yang Terkepung di Stalingrad


PERTEMPURAN STALINGRAD, TITIK BALIK PERANG DI FRONT TIMUR
FOTO PERTEMPURAN STALINGRAD
DAFTAR PERAIH RITTERKREUZ DALAM PERTEMPURAN STALINGRAD
NASIB PERWIRA DAN PRAJURIT JERMAN DI STALINGRAD
SURAT-SURAT TERAKHIR DARI STALINGRAD
FILM STALINGRAD (1993)
MINIATUR PERTEMPURAN STALINGRAD
PATUNG BADAN TENTARA JERMAN DARI STALINGRAD


Staff 6. Armee :
1. Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber) : menyerah 31 Januari 1943
2. Generalleutnant Arthur Schmidt (Chef des Generalstabes) : menyerah 31 Januari 1943
3. Generalstabsarzt Prof.Dr.-med. Otto Renoldi (Armeearzt) : menyerah 24 Januari 1943
4. Oberst Hans-Günther van Hooven (Nachrichtenführer) : menyerah 31 Januari 1943

Komandan Armeekorps :
1. General der Pioniere Erwin Jaenecke (IV. Armeekorps) : terbang keluar 21 Januari 1943 
2. General der Artillerie Max Pfeffer (IV. Armeekorps) : menyerah 31 Januari 1943
3. Generaloberst Walter Heitz (VIII. Armeekorps) : menyerah 31 Januari 1943
4. General der Infanterie Karl Strecker (XI. Armeekorps) : menyerah 2 Februari 1943
5. General der Artillerie Walther von Seydlitz-Kurzbach (LI.Armeekorps) : menyerah 31 Januari 1943
6. General der Panzertruppe Hans Hube (XIV. Panzerkorps) : terbang keluar 19 Januari 1943
7. Generalleutnant Helmuth Schlömer (XIV. Panzerkorps) : menyerah 29 Januari 1943

Komandan Divisi :
1. Oberst i.G. Jobst Freiherr von Hanstein (3. Infanterie-Division) : menyerah 28 Januari 1943
2. Generalmajor Hans-Georg Leyser (29. Infanterie-Division) : menyerah 31 Januari 1943
3. Generalleutnant Heinrich Deboi (44. Infanterie-Division) : menyerah 31 Januari 1943
4. Generalmajor Hans-Adolf von Arenstorff (60. Infanterie-Division) : menyerah 2 Februari 1943
5. General der Infanterie Alexander von Hartmann (71. Infanterie-Division) : gugur 26 Januari 1943
6. Generalmajor Fritz Roske (71. Infanterie-Division) : menyerah 31 Januari 1943
7. Generalleutnant Carl Rodenburg (76. Infanterie-Division) : menyerah 31 Januari 1943
8. Generalleutnant Richard von Schwerin (79. Infanterie-Division) : terbang keluar 9 Januari 1943
9. Generalleutnant Georg Pfeiffer (94. Infanterie-Division) : terbang keluar 11 Desember 1942
10. Generalleutnant Hans-Heinrich Sixt von Armin (113. Infanterie-Division) : menyerah 2 Februari 1943
11. Generalmajor Otto Korfes (295. Infanterie-Division) : menyerah 31 Januari 1943
12. Generalmajor Moritz von Drebber (297. Infanterie-Division) : menyerah 25 Januari 1943
13. Generalmajor Bernhard Steinmetz (305. Infanterie-Division) : terbang keluar 8 Januari 1943
14. Oberst Dr. Ing. Albrecht Czimatis (305. Infanterie-Division) : menyerah 2 Februari 1943
15. Generalleutnant Richard Stempel (371. Infanterie-Division) : bunuh diri 26 januari 1943
16. Generalleutnant Alexander Edler von Daniels (376. Infanterie-Division) : menyerah 29 januari 1943
17. Generalleutnant Eccard von Gablenz (384.Infanterie-Division) : terbang keluar 4 Desember 1942
18. Generalmajor Erich Magnus (389. Infanterie-Division) : menyerah 2 Februari 1943
19. Generalmajor Martin Lattmann (389. Infanterie-Division) : menyerah 2 Februari 1943
20. Generalleutnant Walter Sanne (100. Jäger-Division) : menyerah 31 Januari 1943
21. Oberst Günther Ludwig (14. Panzer-Division) : menyerah 31 Januari 1943
22. Generalleutnant Günther Angern (16. Panzer-Division) : bunuh diri 2 Februari 1943
23. Generalleutnant Arno von Lenski (24. Panzer-Division) : menyerah 2 Februari 1943
24. Generalleutnant Wolfgang Pickert (9. Flak-Division) : terbang keluar 12 Januari 1943
25. Oberst Wilhelm Wolff (9. Flak-Division) : menyerah 31 Januari 1943
26. Oberstleutnant i.G. Richard Haizmann (9. Flak-Division) : menyerah 2 Februari 1943

Komandan Resimen :
1. Generalmajor Erich Grosse (Grenadier-Regiment 276) : gugur 1 Desember 1942
2. Generalmajor Bruno Chrobeck (Grenadier-Regiment 672) : gugur 10 Desember 1942

Komandan Artileri :
1. Generalmajor Ulrich Vassoll (Arko 144 / IV.Armeekorps) : menyerah 31 Januari 1943
2. Generalmajor Hans Wulz (Arko 153 / LI.Armeekorps) : menyerah 31 Januari 1943
3. Generalmajor Richard Lepper (Arko 6 / XI.Armeekorps) : menyerah 2 Februari 1943

Komandan Rumania :      
1. General de divizie Nicolae Mazarini (Diviziei 5 Infanterie) : menyerah 22 Desember 1942
2. General de divizie Mihail Lascăr (Diviziei 6 Infanterie) : menyerah 22 Desember 1942
3. General de divizie Traian Stănescu (Diviziei 6 Infanterie) : menyerah 24 Desember 1942
4. General de brigadă Savu Nedelea (Diviziei 11 Infanterie) : menyerah 21 Desember 1942
5. General de divizie Ioan Sion (Diviziei 15 Infanterie) : gugur 24 November 1942
6. General de divizie Nicolae Tătăranu (Diviziei 20 Infanterie) : terbang keluar 19 Januari 1943
7. General de brigadă Romulus Dimitrescu (Diviziei 20 Infanterie) : menyerah 2 Februari 1943
8. General de brigadă Constantin Brătescu (Diviziei 1 Kavallerie) : menyerah 31 Januari 1943

* * * * * * *

Statistik :
1. 30 jenderal menyerahkan diri - 24 Jerman dan 6 Rumania
2. 8 jenderal berhasil terbang keluar - 7 Jerman dan 1 Rumania
3. 4 jenderal gugur dalam pertempuran - 3 Jerman dan 1 Rumania
4. 2 jenderal Jerman bunuh diri

Jenderal Jerman yang menyerahkan diri :
Generalfeldmarschall 1
Generaloberst 1
General der 3
Generalleutnant 9
Generalmajor 11

Jenderal Jerman yang berhasil terbang keluar :
General der 2
Generalleutnant 4
Generalmajor 1

Jenderal Jerman yang gugur dalam pertempuran :
General der 1
Generalmajor 2

Jenderal Jerman yang bunuh diri :
Generalleutnant 2

----------------------------------------------------------------------


 Generalfeldmarschall Friedrich Paulus (23 September 1890 – 1 Februari 1957) mengawali karir militernya bulan Februari 1910 sebagai kadet perwira di Infanterie-Regiment 111 setelah sebelumnya mencoba masuk Kaiserliche Marine tapi gagal. Dia menghabiskan sebagian besar Perang Dunia Pertama sebagai perwira staff di berbagai posisi. Setelahnya Paulus menjadi salah satu dari hanya 4.000 perwira yang bergabung dengan Reichswehr. Disini pun dia tetap menjabat sebagai perwira staff, bahkan setelah menjadi jenderal dan ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia II. Dia diangkat sebagai Oberbefehlshaber 6. Armee tanggal 1 Januari 1942 dan tak lama telah memimpin pasukannya menuju Stalingrad. Pada awalnya 6. Armee mengepung pasukan Soviet yang bertahan, tapi kemudian mereka balik dikepung oleh pasukan Soviet lain yang menyerbu dari luar. Meskipun kepungan musuh semakin menyempit dan para jenderalnya memohon untuk membebaskan diri, tapi paulus keukeuh tinggal di Stalingrad karena takut menyalahi perintah Hitler yang memerintahkannya untuk bertahan sembari menjanjikan bantuan dari darat dan udara. Pada akhirnya semuanya hanya janji belaka, dan pada tanggal 31 Januari dia dan sebagian besar dari 91.000 orang pasukannya menyerahkan diri ke tangan Rusia. Di hari yang sama Hitler memberinya pangkat Generalfeldmarschall sebagai isyarat kepada sang jenderal untuk bunuh diri karena tidak pernah ada dalam sejarahnya marsekal Jerman yang tertangkap hidup-hidup oleh musuh! Di dalam penjara Paulus malah menjadi tokoh vokal penentang Hitler dan bergabung dengan Nationalkomitee Freies Deutschland yang disponsori oleh Soviet, dan seusai perang dia tinggal di Jerman Timur sampai akhir hayatnya. Medali dan penghargaan yang diraihnya di antaranya adalah: 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (21 September 1939) dan I.Klasse (27 September 1939); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (26 Agustus 1942) mit Eichenlaub #178 (15 Januari 1943). BTW, foto di atas diambil tanggal 31 Januari 1943 saat dia menyerahkan diri di Stalingrad


General der Artillerie Walter von Seydlitz-Kurzbach (22 Agustus 1888 – 28 April 1976) bertempur di dua front (Barat dan Timur) dalam Perang Dunia Pertama. Dia tetap menjadi perwira profesional selama masa Reichswehr. Dari tahun 1940-1942 Seydlitz-Kurzbach menjadi komandan 12. Infanterie-Division dan berperan besar dalam terobosan keluar Wehrmacht dari pengepungan Soviet di Demjansk. Dalam Pertempuran Stalingrad dia menjadi Kommandierender General LI. Armeekorps. Dia merupakan salah satu perwira tinggi Jerman yang ngotot untuk menerobos kepungan musuh meskipun secara terang-terangan melanggar perintah Hitler. Ketika Oberbefehlshaber 6. Armee Generalfeldmarschall Friedrich Paulus memecatnya, Seydlitz-Kurzbach melarikan diri bersama dengan beberapa orang perwira Jerman di tengah berondongan peluru dari pihaknya sendiri! Dia ditangkap Rusia, dan tak lama kemudian telah menjadi kolaboratornya yang paling setia dengan menjadi anggota Nationalkomitee Freies Deutschland, organisasi anti-Nazi yang anggota-anggotanya diambil dari tawanan Jerman di kamp Soviet. Akibatnya, Seydlitz-Kurzbach seakan menjadi Vlasov-nya Nazi, dan keberadaannya dimanfaatkan oleh propaganda Rusia semaksimal mungkin. Ironisnya, sesuai perang dia didakwa oleh tuan barunya Soviet atas tuduhan kejahatan perang terhadap tawanan Rusia sewaktu menjadi jenderal Wehrmacht! Medali dan penghargaan yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (19 September 1914) dan I.Klasse (21 Oktober 1915); 1914 Verwundetenabzeichen in Silber; Ritterkreuz mit Schwertern des Königlichen Hausordens von Hohenzollern (16 Oktober 1918); Hamburgisches Hanseatenkreuz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung I.Klasse 25-jährige; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (17 Mei 1940) dan I.Klasse (22 Mei 1940); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (15 Agustus 1940) mit Eichenlaub #54 (31 Desember 1941). Foto di atas diambil tak lama setelah Seydlitz-Kurzbach menyerahkan diri, dimana dia mengenakan topi bulu ushanka tebal khas Rusia, dan tak ada satu pun medali era Perang Dunia II yang dia kenakan!


General der Infanterie Karl Strecker (20 September 1884 - 10 April 1973) dalam sebuah foto yang dipublikasikan pada bulan Februari 1943, bulan dimana dia - bersama dengan pasukan Jerman lainnya dari 6. Armee - menyerah pada pihak Soviet di reruntuhan Stalingrad (Strecker adalah Komandan-Jenderal XI. Armeekorps selama berlangsungnya pertempuran di kota tersebut). Setelah sisa-sisa 6. Armee secara berangsur-angsur menyerahkan diri dari tanggal 8 Januari s/d 1 Februari 1943, Jenderal Strecker mengorganisasi pertahanan Jerman terakhir di pabrik traktor Dhzreshinsky bersama dengan korpsnya - yang tinggal tersisa beberapa ribu orang - dalam menahan serbuan terus-menerus pasukan komunis selama dua hari penuh. Pihak Jerman benar-benar kalah segalanya, apalagi dengan kondisi banyak prajurit yang kelaparan serta keterbatasan amunisi dan air yang akut (kecuali salju yang mencair yang bisa dijadikan sebagai air minum dadakan). Dengan hanya mengandalkan senjata genggam, granat atau bayonet - dan di beberapa kasus dengan menggunakan potongan metal dari pabrik sebagai pengganti bayonet - mereka masih dapat membendung beberapa kali serangan Tentara Merah, dan menyebabkan musuh menderita jumlah korban yang tidak sedikit pula. Tapi kenyataan yang tak bisa dihindari adalah: garnisun Jerman terkepung dari segala penjuru, sementara kondisi semakin memburuk seiring dengan bertambahnya waktu. Tentara yang mati tetap berada di tempat mereka gugur, sementara yang terluka kemudian ikut mati pula karena kelaparan serta udara dingin. Pertempuran kemudian berlanjut menjadi duel satu lawan satu, dengan pihak Jerman kini hanya mengandalkan potongan metal serta batu sebagai alat pertahanan terakhir mereka! Strecker tinggal mempunyai satu buah radio sebagai jalur komunikasi ke dunia luar. Dari situ pula dia mengetahui tentang promosinya menjadi Generaloberst serta pidato Hitler yang berapi-api agar setiap prajurit Jerman melaksanakan tugas historis mereka dengan penuh kesungguhan - sesuatu yang persis sedang mereka lakukan saat itu! Sementara itu, pihak Rusia terus menyerang dengan artileri, tank dan mortir. Pada tanggal 2 Februari 1943 pukul 08:40 pihak yang bertahan mengeluarkan pesan terakhir mereka, dan pada pukul 09:00 semua perlawanan terhenti. Hanya beberapa orang dari wilayah pabrik Dhzreshinsky yang digelandang sebagai tawanan, sementara sisanya telah musnah. Strecker kemudian ditahan di Uni Soviet dengan status sebagai penjahat perang sampai dengan tahun 1955. Klaim Strecker setelahnya bahwa dia pernah dipromosikan menjadi Generaloberst berdasarkan pengumuman dari radio (Funkspruch) masih diperdebatkan kebenarannya, karena tidak ada bukti tertulis yang valid sebagai bahan pendukung



 Generalstabsarzt Prof.Dr.-med. Otto Renoldi (9 Oktober 1886 - 1 April 1967) adalah anak dari pasangan Dr.med. Wilhelm Renoldi dan Elisabeth Piekenbrock yang kemudian meniti karir sebagai perwira medis di militer Jerman. Dia memulai karirnyza dari sejak tanggal 1 Oktober 1908 dan ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia I sebagai Unterarzt. Pada tanggal 1 Oktober 1936 dia dipromosikan menjadi Oberstarzt sekaligus Divisionsarzt di 36. Infanterie-Division. Dalam Perang Dunia II Renoldi sudah menjabat sebagai Korpsarzt XXII. Armeekorps (27 Januari 1939 - 16 November 1940), dilanjutkan dengan Panzergruppenarzt Panzergruppe 1 (16 November 1940 - 15 Februari 1941), Armeearzt 1. Panzerarmee (6 Maret 1942 - 10 Februari 1942), dan Armeearzt 6. Armee (20 September 1942 - 24 Januari 1943). Dia dipromosikan menjadi Generalarzt (setingkat Generalmajor) pada tanggal 1 November 1940 dan Generalstabsarzt (setingkat Generalleutnant) tanggal 1 November 1942. Renoldi menyerahkan diri pada pasukan Rusia di dekat lapangan udara Stalingradski pada tanggal 24 januari 1943 (tampaknya dia tersesat saat berusaha melarikan diri dari gerak maju Tentara Merah), dan tercatat sebagai jenderal Jerman pertama yang menyerah di Stalingrad! Medali dan penghargaan yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse; 1939 Eisernes Kreuz I.Klasse; serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse und I.Klasse mit Schwertern. Dalam kehidupan pribadinya, Renoldi menikah dengan Franziska Margarete Steber pada tanggal 10 Agustus 1939 saat usianya sudah menginjak 42 tahun! Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan


Generalleutnant Heinrich-Anton Deboi (6 April 1893 - 20 Januari 1955) masuk ketentaraan sebagai Fähnrich di 2. Infanterie-Regiment "Kronprinz" tanggal 6 Juli 1912. Dia ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia Pertama di Front Barat dan mendapatkan beberapa medali sebagai penghargaan atas kontribusinya. Di masa Reichswehr dia menjabat sebagai komandan kompi di Infanterie-Regiment 19, sementara ketika perang pecah kembali tahun 1939, Deboi sudah menjadi komandan resimen di 57. Infanterie-Division. Jabatan ini terus dipegangnya sampai tanggal 30 Januari 1942 ketika dia diangkat sebagai komandan sementara 44. Infanterie-Division. Pada tanggal 1 Mei 1942 Deboi ditunjuk sebagai komandan 295. Infanterie-Division, tapi hanya berselang sehari kemudian dia dibalikkan lagi sebagai komandan tetap 44. Infanterie-Division! Divisinya merupakan bagian dari 6. Armee dan karenanya ikut serta dalam Pertempuran Stalingrad. Di pertempuran yang super brutal ini divisinya hancur lebur (begitu juga sebagian besar divisi 6. Armee lainnya), tapi kepahlawanan Deboi membuatnya dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 10 September 1942 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 44.Infanterie-Division / LI.Armeekorps / 6.Armee / Heeresgruppe B. Deboi dan banyak perwira tinggi Wehrmacht lainnya ditangkap oleh pasukan Soviet di neraka Stalingrad tanggal 28 Januari 1943. Dia meninggal dalam tahanan bulan Januari 1955 (versi lain 5 Juli 1955) di rumah sakit kamp #48 Černcy akibat dari Uremia. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Ležnevo (Černcy). Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Bayerische Militär-Verdienst-Orden IV. Klasse mit Schwertern; 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse; 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse; Verwundetenabzeichen 1918 in Silber; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnungen 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille); serta Deutsches Kreuz in Gold (21 Februari 1942). BTW. foto ini diambil saat menyerahnya Deboi ke tangan Rusia tanggal 28 Januari 1943, tapi anehnya dia tidak mengenakan medali Ritterkreuz di lehernya!


 Generalmajor Dr.rer.pol. Otto Korfes (23 November 1889 - 24 Agustus 1964) adalah anak pastor yang memilih jalur militer sebagai pilihan karirnya dengan menjadi Fahnenjunker di 3. Magdeburgische Infanterie-Regiment Nr. 66 tanggal 17 Maret 1909. Dia bertempur secara khusus di Front Barat dalam perang Dunia I dan kemudian meneruskan karir di Reichswehr pada tahun 1920. Korfes meneruskan studi doktoratnya di bidang Sosial-Politik dan lulus pada tahun 1923. Setelah sempat bekerja di Reichsarchiv Potsdam (dan menikahi putri pimpinannya!), Korfes masuk kembali ke Wehrmacht yang baru diaktifkan pada tanggal 1 Juni 1935 sebagai Major der Reserve. Jenjang karirnya semakin meningkat, dan begitu juga pangkatnya: Komandan Batalyon tahun 1937, Komandan Resimen tahun 1938, dan Komandan Divisi tahun 1942. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes dalam Pertempuran Stalingrad pada tanggal 22 Januari 1943 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 295.Infanterie-Division / LI.Armeekorps / 6.Armee / Heeresgruppe Don. Hanya beberapa hari kemudian (31 Januari 1943), Korfes menyerahkan diri pada pasukan Rusia yang mengepung kota tersebut. Dalam tahanan dia berbalik berkhianat terhadap tanah airnya dengan menjadi anggota organisasi anti-Nazi berhaluan komunis, Nationalkomitee Freies Deutschland (NKFD). Setelah Perang Dunia II usai dia bertugas di Kasernierte Volkspolizei (KVP) Jerman Timur - yang merupakan cikal-bakal Nationale Volksarmee (NVA) - dari tanggal 1 Oktober 1952 s/d 31 Maret 1956. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (1916) und I.Klasse (1916); Ritterkreuz des Königlicher Preußen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern; Braunschweig Kriegsverdienstkreuz mit Bewarungsabzeichen; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938; Cruces del Mérito Militar (Spanyol); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (11 Januari 1942). Korfes juga mendapatkan medali khusus selama masa baktinya di Jerman Timur: Vaterländischer Verdienstorden der DDR in Silber 1959 anlässlich seines 70. Geburtstages; Ernst-Moritz-Arndt-Medaille 1957; dan Medaille für Kämpfer gegen den Faschismus 1933 bis 1945


Generalmajor Erich Magnus (31 Juli 1892 - 6 Agustus 1979) pertama kali bergabung dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jerman pada tanggal 1 April 1911. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama dan kemudian meneruskan karirnya di Reichswehr dan Wehrmacht. Pada saat Perang Dunia II pecah pada bulan September 1939, Magnus sudah berpangkat Oberstleutnant dan Kommandeur III.Bataillon / Infanterie-Regiment 12, yang dilanjutkan jabatan sebagai Kommandeur Infanterie-Regiment 131 (28 Oktober 1939 - 9 Juli 1940), Kommandeur Lehr-Abteilung II in der Infanterieschule (9 Agustus 1940 - 15 Juni 1942), dan Kommandeur Schule V für Offizieranwärter in der Infanterieschule Döberitz (15 Juni 1942 - 1 Agustus 1942). Pada tanggal 1 Oktober 1942 dia dipromosikan menjadi Generalmajor dan kemudian pada tanggal 1 November 1942 diangkat sebagai Kommandeur 389. Infanterie-Division yang sedang bertempur melawan Tentara Merah di Stalingrad. Ternyata kondisi pertempuran yang berat tidak cocok untuk Magnus, dan tak lama kemudian dia menderita keruntuhan mental (nervous breakdown) pada awal bulan Januari 1943 sehingga posisinya sebagai Divisionskommandeur digantikan oleh Generalmajor Martin Lattmann (yang juga rangkap jabatan sebagai Komandan 14. Panzer-Division). Beberapa sumber menyebutkan bahwa Magnus bahkan pura-pura sakit agar bisa diterbangkan keluar dari Stalingrad yang terkepung! Pada akhirnya dia tetap tinggal di kota tersebut, dan kemudian ditangkap oleh tentara Soviet bersama dengan sebagian besar pasukan Wehrmacht lainnya dari 6. Armee setelah kejatuhan kantong utara Stalingrad pada tanggal 2 Februari 1943. Dalam kamp tawanan, Magnus ditawari untuk bergabung dengan Nationalkomitee Freies Deutschland (NKFD), sebuah organisasi anti-Nazi yang dibentuk oleh Soviet untuk para tawanan Jerman berpangkat tinggi, tapi dia menolak dengan keras sehingga baru dilepaskan dari kamp tawanan pada tanggal 6 Oktober 1955 setelah menjadi tawanan selama 12,5 tahun! Istri tercintanya meninggal saat dia berada dalam penjara, dan dia menikah lagi pada tahun 1957 serta tinggal bersama dengan istri barunya di Hamburg. Mereka berdua terkenal sebagai penyuka musik dan merupakan pengunjung setia Hamburger Staatsopera. Medali dan penghargaan yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (12 Juni 1917) und I.Klasse (3 Juli 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz; Ritterkreuz des königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern (20 Agustus 1918); Hamburg Hanseatenkreuz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV.Klasse bis I.Klasse - 25 Jahre (Juli 1938); serta 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse


Oberst Hans-Günther van Hooven (27 Oktober 1896 - 7 September 1964) berasal dari keluarga pegawai negeri yang kemudian bergabung dengan militer Jerman sebagai sukarelawan pada awal Perang Dunia I. Di akhir perang (1918), Oberleutnant Hooven memutuskan untuk berkarir di bidang ekspedisi barang dan melanjutkan pendidikannya di universitas. Pada tahun 1935 dia bergabung kembali dengan Wehrmacht sebagai Hauptmann. Pada tanggal 28 Desember 1942 Oberst Hooven diangkat sebagai Nachrichtenführer 6. Armee yang saat itu sedang bertempur mati-matian melawan Tentara Merah di Stalingrad. Untuk menghargai jasa-jasanya sebagai Kepala Sandi dan Intelijen, Hooven dianugerahi Deutsches Kreuz in Silber pada tanggal 25 Januari 1943. Bersama dengan puluhan ribu prajurit Jerman lainnya yang terperangkap di Stalingrad, Hooven menyerahkan diri pada pasukan Rusia pada tanggal 31 Januari 1943. Kemarahannya pada strategi Hitler dalam masalah Stalingrad yang dianggapnya sebagai blunder membuat dia, dan beberapa perwira tinggi Wehrmacht lainnya, membentuk "Bundes deutscher Offiziere" (Persatuan Perwira Jerman) pada bulan September 1943 yang merupakan organisasi anti-Nazi yang anggota-anggotanya diambil dari tawanan Jerman di kamp Soviet. Seusai perang Hooven tinggal di Jerman Timur sampai dengan akhir hayatnya. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Verwundetenabzeichen; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse und I.Klasse mit Schwertern


  Unteroffizier Heimo Nussbaumer dari 5.Staffel / II.Gruppe / Kampfgeschwader 76 (KG 76) menceritakan tentang kisahnya di Stalingrad: "Staffel kami bermarkas di aerodrome lapangan di Tazinskaya. Dengan menggunakan pesawat-pesawat Junkers Ju 88, kebanyakan kami dikirim untuk melakukan misi pengeboman dengan target-target besar seperti pabrik traktor, elevator gandum raksasa, "unit anti pesawat udara wanita" di deretan pulau di sungai Volga, dan ferry-ferry penyeberangan di malam hari. Di waktu kemudian kami mengetahui bahwa pihak Rusia telah membangun sebuah jembatan penyeberangan bawah air melintasi Volga (aku sendiri tak pernah melihatnya, karena itu adalah sesuatu yang mustahil di perairan yang coklat berlumpur dan sangat deras seperti sungai tersebut!). Sebagai seorang gunner, aku tidak hanya bertanggungjawab atas penanganan senapan mesin, tapi juga sebagai mekanik udara dan fotografer target. Untuk tugas terakhir, aku dilengkapi dengan kamera khusus berlensa tele 75mm yang dapat mengambil 13 foto perdetik, meskipun bukan sebuah kamera film. Seringkali terjadi bahwa tak ada yang bisa diambil gambar di Stalingrad yang terkepung karena begitu pekatnya asap hasil pengeboman serta bekas pertempuran yang terus menerus terjadi. Kami hanya pernah menyerang target spesifik secara terbatas sebanyak satu kali, yang nyaris dibayar dengan jiwa kami. Pada saat itu kami tak dapat melepaskan bom karena target yang tersedia tak sepenuhnya tercakup dalam visor penjejak, sehingga "sang pelatih" (pilot) harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk menukik tajam demi mendapatkan hasil pengeboman seakurat mungkin, yang berarti bahwa dibutuhkan lebih dari dua kali radius yang biasa dilakukan dalam waktu normal. Kalau saja pada waktu itu ketinggian air di Volga tidak berada 30 meter di bawah dataran kota, kami sudah pasti melayang menabrak daratan (kecepatan tukik sekitar 700km perjam)."


 Unteroffizier Heinrich Schlapp adalah bintara dari Artillerie-Regiment 389 / 389.Infanterie-Division yang ikut serta dalam penyerbuan ke pabrik traktor Dzershinzky di Stalingrad pada tanggal 14 Oktober 1942. Dia, yang selamat sampai akhir perang, mengenang: "Serangan besar-besaran pada tanggal 14 Oktober akhirnya membuat kami bisa menguasai pabrik traktor. Tidak kurang dari 60 pesawat Stuka menukik di depan kami. Sirinenya, yang menimbulkan suara memekakkan telinga dan bisa meruntuhkan mental, bisa terdengar sampai berjam-jam lamanya. Kami hampir-hampir tak dapat bernafas karena tebalnya asap mesiu. Kami akhirnya meraih target yang dibebankan sebelumnya: mencapai pinggiran sungai Volga. Di depan gerbang masuk ke pabrik traktor terdapat patung peringatan untuk pendirinya, Dzershinzky, dan bunga-bunga bertebaran di kakinya. Setelah pertempuran mereda, aku mengambil beberapa bunga tersebut dan lalu menyelipkannya kedalam surat yang kukirim ke kampung halaman."


Sumber :
Buku "Winter Storm: The Battle for Stalingrad and the Operation to Rescue 6th Army" karya Hans Wijers
www.flickr.com
www.forum.axishistory.com

Foto 295. Infanterie-Division

DIVISIONSKOMMANDEUR

Otto Korfes (16 November 1942 - 31 Januari 1943)
Generalmajor Dr.rer.pol. Otto Korfes (23 November 1889 - 24 Agustus 1964) adalah anak pastor yang memilih jalur militer sebagai pilihan karirnya dengan menjadi Fahnenjunker di 3. Magdeburgische Infanterie-Regiment Nr. 66 tanggal 17 Maret 1909. Dia bertempur secara khusus di Front Barat dalam perang Dunia I dan kemudian meneruskan karir di Reichswehr pada tahun 1920. Korfes meneruskan studi doktoratnya di bidang Sosial-Politik dan lulus pada tahun 1923. Setelah sempat bekerja di Reichsarchiv Potsdam (dan menikahi putri pimpinannya!), Korfes masuk kembali ke Wehrmacht yang baru diaktifkan pada tanggal 1 Juni 1935 sebagai Major der Reserve. Jenjang karirnya semakin meningkat, dan begitu juga pangkatnya: Komandan Batalyon tahun 1937, Komandan Resimen tahun 1938, dan Komandan Divisi tahun 1942. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes dalam Pertempuran Stalingrad pada tanggal 22 Januari 1943 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 295.Infanterie-Division / LI.Armeekorps / 6.Armee / Heeresgruppe Don. Hanya beberapa hari kemudian (31 Januari 1943), Korfes menyerahkan diri pada pasukan Rusia yang mengepung kota tersebut. Dalam tahanan dia berbalik berkhianat terhadap tanah airnya dengan menjadi anggota organisasi anti-Nazi berhaluan komunis, Nationalkomitee Freies Deutschland (NKFD). Setelah Perang Dunia II usai dia bertugas di Kasernierte Volkspolizei (KVP) Jerman Timur - yang merupakan cikal-bakal Nationale Volksarmee (NVA) - dari tanggal 1 Oktober 1952 s/d 31 Maret 1956. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (1916) und I.Klasse (1916); Ritterkreuz des Königlicher Preußen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern; Braunschweig Kriegsverdienstkreuz mit Bewarungsabzeichen; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938; Cruces del Mérito Militar (Spanyol); 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (11 Januari 1942). Korfes juga mendapatkan medali khusus selama masa baktinya di Jerman Timur: Vaterländischer Verdienstorden der DDR in Silber 1959 anlässlich seines 70. Geburtstages; Ernst-Moritz-Arndt-Medaille 1957; dan Medaille für Kämpfer gegen den Faschismus 1933 bis 1945

-----------------------------------------------------------------------------------

Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Gerhard Dissel (Ia Erster Generalstabsoffizier 295. Infanterie-Division), General der Panzertruppe Friedrich Paulus (Oberbefehlshaber 6. Armee), dan Generalmajor Rolf Wuthmann (Kommandeur 295. Infanterie-Division). Dari bulan Agustus 1942 s/d Januari 1943, 295. Infanterie-Division berada di bawah komando 6. Armee yang bertempur di Stalingrad (sampai akhirnya menemui kehancuran di kota tersebut). Foto ini sendiri kemungkinan besar diambil saat Paulus mengadakan kunjungan ke markas divisi tersebut. Sebagai fotografernya adalah supir dari Divisionskommandeur Wuthmann yang tidak diketahui namanya.


Sumber :
www.geocities.ws
www.wehrmacht-awards.com

Saturday, August 27, 2016

Peraih Königlicher Hausorden von Hohenzollern (House Order of Hohenzollern)


 
Hausorden von Hohenzollern atau Hohenzollernscher Hausorden (House Order of Hohenzollern) adalah medali yang berasal dari keluarga Hohenzollern, dinasti yang menjadi penguasa Prusia (dan selanjutnya Jerman) secara turun-temurun dari tahun 1525 s/d 1918. Medali ini pertama kali dikeluarkan pada tanggal 5 Desember 1841 oleh surat keputusan bersama dari Prinz Konstantin von Hohenzollern-Hechingen dan Prinz Karl Anton von Hohenzollern-Sigmaringen yang berasal dari dua Kepangeranan Katolik di selatan Jerman dan merupakan sepupu dari penguasa Prusia yang Protestan. Setelah dua kerajaan kecil tersebut dianeksasi oleh Prusia pada tanggal 23 Agustus 1851, Hausorden von Hohenzollern diadopsi sebagai medali resmi oleh keluarga kerajaan Prusia. Versi Prusia ini kemudian dikenal dengan nama "Königlicher Hausorden von Hohenzollern" (Royal House Order of Hohenzollern) untuk membedakannya dari "Fürstlicher Hausorden von Hohenzollern" (Princely House Order of Hohenzollern). Meskipun Kaiser Wilhelm II mengundurkan diri dari posisinya sebagai Kaisar Jerman dan Raja Prusia pada tahun 1918, tapi dia tidak melepaskan jabatannya sebagai pemimpin keluarga kerajaan Hohenzollern, sehingga masih tetap menganugerahkan medali Hausorden von Hohenzollern kepada orang-orang terpilih (meskipun secara tidak resmi)


Generalmajor Erich Magnus (31 Juli 1892 - 6 Agustus 1979) pertama kali bergabung dengan Angkatan Darat Kekaisaran Jerman pada tanggal 1 April 1911. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama dan kemudian meneruskan karirnya di Reichswehr dan Wehrmacht. Pada saat Perang Dunia II pecah pada bulan September 1939, Magnus sudah berpangkat Oberstleutnant dan Kommandeur III.Bataillon / Infanterie-Regiment 12, yang dilanjutkan jabatan sebagai Kommandeur Infanterie-Regiment 131 (28 Oktober 1939 - 9 Juli 1940), Kommandeur Lehr-Abteilung II in der Infanterieschule (9 Agustus 1940 - 15 Juni 1942), dan Kommandeur Schule V für Offizieranwärter in der Infanterieschule Döberitz (15 Juni 1942 - 1 Agustus 1942). Pada tanggal 1 Oktober 1942 dia dipromosikan menjadi Generalmajor dan kemudian pada tanggal 1 November 1942 diangkat sebagai Kommandeur 389. Infanterie-Division yang sedang bertempur melawan Tentara Merah di Stalingrad. Ternyata kondisi pertempuran yang berat tidak cocok untuk Magnus, dan tak lama kemudian dia menderita keruntuhan mental (nervous breakdown) pada awal bulan Januari 1943 sehingga posisinya sebagai Divisionskommandeur digantikan oleh Generalmajor Martin Lattmann (yang juga rangkap jabatan sebagai Komandan 14. Panzer-Division). Beberapa sumber menyebutkan bahwa Magnus bahkan pura-pura sakit agar bisa diterbangkan keluar dari Stalingrad yang terkepung! Pada akhirnya dia tetap tinggal di kota tersebut, dan kemudian ditangkap oleh tentara Soviet bersama dengan sebagian besar pasukan Wehrmacht lainnya dari 6. Armee setelah kejatuhan kantong utara Stalingrad pada tanggal 2 Februari 1943. Dalam kamp tawanan, Magnus ditawari untuk bergabung dengan Nationalkomitee Freies Deutschland (NKFD), sebuah organisasi anti-Nazi yang dibentuk oleh Soviet untuk para tawanan Jerman berpangkat tinggi, tapi dia menolak dengan keras sehingga baru dilepaskan dari kamp tawanan pada tanggal 6 Oktober 1955 setelah menjadi tawanan selama 12,5 tahun! Istri tercintanya meninggal saat dia berada dalam penjara, dan dia menikah lagi pada tahun 1957 serta tinggal bersama dengan istri barunya di Hamburg. Mereka berdua terkenal sebagai penyuka musik dan merupakan pengunjung setia Hamburger Staatsopera. Medali dan penghargaan yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (12 Juni 1917) und I.Klasse (3 Juli 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz; Ritterkreuz des königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern (20 Agustus 1918); Hamburg Hanseatenkreuz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV.Klasse bis I.Klasse - 25 Jahre (Juli 1938); serta 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse


 Generalfeldmarschall Erich von Manstein (24 November 1887 - 9 Juni 1973) adalah salah satu jenderal dengan otak paling cemerlang yang dimiliki oleh Nazi Jerman. Bila Erwin Rommel disebut-sebut sebagai komandan lapangan paling jempolan, maka Manstein layak disebut sebagai ahli strategi paling mumpuni. Dia lah yang menjadi otak dari taktik "Sichelschnitt" (tebasan arit) yang membuat Wehrmacht mampu menguasai Prancis serta Negara-Negara Bawah dalam waktu singkat pada tahun 1940. Dia juga yang berada di belakang penguasaan Sebastopol pada tahun 1942, pengepungan Leningrad (1942), usaha pembebasan Stalingrad (1942-1943), Pertempuran Kharkov (1943), dan Pertempuran Kursk (1943). Perbedaan pandangannya dengan Hitler mengenai keberlangsungan strategi perang Jerman membuatnya dipecat dari jabatannya sebagai Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd pada tanggal 31 Maret 1944. Setelah itu Manstein tak pernah diberikan komando apa-apa lagi sampai dengan akhir perang. Dia menyerahkan diri pada pihak Inggris pada bulan Agustus 1945, beberapa bulan setelah perang usai di Eropa. Dalam Pengadilan Nürnberg tahun 1946 dia lolos dari hukuman, tapi kemudian ketika diseret kembali ke depan pengadilan penjahat perang di Hamburg tahun 1949, Manstein dipaksa untuk mendekam dalam penjara selama empat tahun. Setelahnya dia menjadi penasihat militer Jerman Barat di pertengahan tahun 1950-an. Buku otobiografinya, "Verlorene Siege", laris di pasaran, dan saat dia meninggal dunia pada tahun 1973, dia dimakamkan dengan penuh kehormatan dengan dihadiri oleh ratusan prajurit dari berbagai pangkat dan negara. Medali dan penghargaan yang diterima oleh Manstein selama karir militernya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (5 Oktober 1914) und I.Klasse (13 November 1915); Ritterkreuz des Königlicher Preußen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern (April 1918); Ritterkreuz I.Klasse des Königlich Württembergische Friedrichs-Orden mit Schwertern; Schaumburg-Lippe Kreuz für treue Dienste; kaiserlich und königlich Österreichische Militär-Verdienstkreuz III.Klasse mit der Kriegsdekoration und Schwertern; Ḥarb Madalyası (Turki); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz (1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer (1934); Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis I. Klasse; Orden "Sveti Aleksandŭr" (Bulgaria); 1939 Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II. Klasse (16 September 1939) und I.Klasse (21 September 1939); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); Krimschild in Gold (1943); Ordinul Mihai Viteazul Rumania Clasa a III-a (25 November 1941) dan Clasa a II-a (16 Juli 1942); Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachterabzeichen in Gold mit Brillanten; serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (19 Juli 1940) mit Eichenlaub (14 Maret 1943) und Schwerter (30 Maret 1944). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht (11 Oktober 1941, 12 Oktober 1941, 31 Oktober 1941, 19 Mei 1942, 20 Mei 1942, 2 Juli 1942, 20 Maret 1943, dan 4 Agustus 1943)


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.flickr.com

Friday, August 26, 2016

Foto Kereta yang Ditarik Binatang

KERETA KUDA

 Tawanan Jerman beserta perlengkapan mereka yang ditangkap oleh pasukan Sekutu di Lembah Po, Italia, musim semi 1945. Untuk pertama kalinya dalam kampanye militer di Italia, pasukan Wehrmacht bergerak mundur melewati jalur yang memudahkan pihak pengejar. Karena tentara Jerman kekurangan kendaraan dan bahan bakar, maka mereka sangat mengandalkan kuda dan bagal untuk mengangkut peralatan perangnya. Mereka mundur ke arah padang terbuka yang dilengkapi dengan jaringan jalan yang memadai yang cocok untuk kendaraan bermotor dan dipaksa untuk menyeberangi sungai berarus deras dengan menggunakan jembatan ponton atau kapal feri di bawah serangan terus menerus oleh pesawat-pesawat Sekutu. Tak lama kemudian gerak mundur teratur tersebut berubah menjadi kekacauan dan setiap unit menjadi tercerai-berai dari pasukan induknya


Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Foto Pertempuran Lembah Po (5 April 1945 - 2 Mei 1945)

 Seorang prajurit Amerika menggiring tawanan pertama Jerman yang digaruk di awal gerak maju Sekutu ke Lembah Po, Italia. Ofensif tersebut dimulai pada tanggal 14 April 1945 pukul 09:45 dari wilayah perbukitan sebelah barat Vergato, tepatnya di Highway 64, dan dilakukan oleh pasukan Angkatan Darat Amerika dari 10th Mountain Division


 Tawanan Jerman beserta perlengkapan mereka yang ditangkap oleh pasukan Sekutu di Lembah Po, Italia, musim semi 1945. Untuk pertama kalinya dalam kampanye militer di Italia, pasukan Wehrmacht bergerak mundur melewati jalur yang memudahkan pihak pengejar. Karena tentara Jerman kekurangan kendaraan dan bahan bakar, maka mereka sangat mengandalkan kuda dan bagal untuk mengangkut peralatan perangnya. Mereka mundur ke arah padang terbuka yang dilengkapi dengan jaringan jalan yang memadai yang cocok untuk kendaraan bermotor dan dipaksa untuk menyeberangi sungai berarus deras dengan menggunakan jembatan ponton atau kapal feri di bawah serangan terus menerus oleh pesawat-pesawat Sekutu. Tak lama kemudian gerak mundur teratur tersebut berubah menjadi kekacauan dan setiap unit menjadi tercerai-berai dari pasukan induknya


 Puluhan ribu tentara Jerman ditangkap atau menyerahkan diri secara sukarela di fase-fase akhir Pertempuran Lembah, Po dan seringkali mereka dibawa ke garis belakang hanya dengan dikawal oleh satu-dua orang prajurit saja atau bahkan tanpa mendapat pengawalan sama sekali! Pada tanggal 2 Mei 1945 perwakilan Jerman menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat bagi pasukan mereka yang berada di Italia. Satu minggu kemudian perang di Eropa berakhir dengan kemenangan total bagi pihak Sekutu. Kampanye militer di Italia sendiri terbilang pahit bagi Amerika Serikat: berlangsung selama 607 hari (3 September 1943 s/d 2 Mei 1945), pergulatan sengit melawan pasukan Jerman di bawah komando brilian Generalfeldmarschall Albert Kesselring ini telah menimbulkan korban bagi US Fifth Army sebanyak 188.546 orang (termasuk berbagai kebangsaan yang berada di dalamnya). Khusus untuk Amerika, korbannya adalah 19.475 terbunuh, 80.530 terluka dan 9.637 hilang


Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Foto Pertempuran Montélimar (21 Agustus 1944 - 30 Agustus 1944)

Peralatan dan kendaraan perang Wehrmacht yang hancur lebur oleh tembakan artileri Amerika di wilayah Montélimar, Auvergne-Rhône-Alpes (Prancis), bulan Agustus 1944. Dalam pergulatan sengit yang terjadi di sekitar wilayah Montélimar tersebut, pasukan Jerman berusaha menarik mundur pasukannya dari Prancis selatan menuju ke arah utara sungai Drôme. Meskipun penarikan mundur tersebut berjalan dengan sukses dan sebagian besar personil militer Wehrmacht berhasil dievakuasi keluar dari kepungan Sekutu, tapi mereka terpaksa meninggalkan banyak peralatan perang yang merupakan hasil dari delapan hari pertempuran berat melawan tentara Amerika. Tidak kurang dari 2.000-3.000 kendaraan dari berbagai jenis, lebih dari 80 meriam artileri dan 5 artileri rel kelas berat yang musnah atau jatuh ke tangan musuh!


Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Foto PaK 40 (Panzerabwehrkanone 40) 75mm

Tentara Prancis mengambil alih senjata anti-tank PaK 40 75mm Jerman dari awaknya yang tergeletak tak bernyawa dalam Pertempuran Toulon yang berlangsung tanggal 20-26 Agustus 1944. Pada pukul 20:00 di D+1, Angkatan Darat Prancis yang terdiri dari tujuh divisi memulai pendaratan mereka di wilayah pantai Saint-Tropez dengan misi awal untuk menduduki kota pelabuhan Toulon dan Marseille. Divisi-divisi yang bertugas untuk merebut Toulon memulai pengepungan mereka terhadap kota yang dipertahankan oleh 242. Infanterie-Division tersebut pada tanggal 20 Agustus. Karena kuatnya pertahanan Jerman, maka diperlukan dukungan penuh kekuatan udara dan laut Sekutu sebelum garnisun Jerman di kota tersebut menyerah pada tanggal 28 Agustus


Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Foto Pertempuran Toulon (20 Agustus 1944 - 26 Agustus 1944

Tentara Prancis mengambil alih senjata anti-tank PaK 40 75mm Jerman dari awaknya yang tergeletak tak bernyawa dalam Pertempuran Toulon yang berlangsung tanggal 20-26 Agustus 1944. Pada pukul 20:00 di D+1, Angkatan Darat Prancis yang terdiri dari tujuh divisi memulai pendaratan mereka di wilayah pantai Saint-Tropez dengan misi awal untuk menduduki kota pelabuhan Toulon dan Marseille. Divisi-divisi yang bertugas untuk merebut Toulon memulai pengepungan mereka terhadap kota yang dipertahankan oleh 242. Infanterie-Division tersebut pada tanggal 20 Agustus. Karena kuatnya pertahanan Jerman, maka diperlukan dukungan penuh kekuatan udara dan laut Sekutu sebelum garnisun Jerman di kota tersebut menyerah pada tanggal 28 Agustus


Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Foto Pertempuran Anzio (22 Januari 1944 - 5 Juni 1944)

Tawanan Jerman yang ditangkap di sekitar jalan Albano-Anzio (Italia) pada tanggal 19 Februari 1944. Pasukan Wehrmacht melakukan serangan besar-besaran untuk merebut pantai Anzio yang diduduki oleh tentara Amerika di pagi hari tanggal 16 Februari 1944, dan mengandalkan bom asap untuk melindungi gerak maju mereka. Pada tanggal 18 Februari pasukan infanteri terdepan, yang didukung oleh panzer dan kendaraan berat lainnya, telah memukul mundur pasukan yang bertahan sampai sejauh 5 kilometer. Keesokan harinya Sekutu melancarkan serangan balasan sehingga menghentikan gerak maju Jerman. Itulah saat-saat paling kritis dari Pertempuran Anzio dimana pihak Hitler nyaris mengusir pasukan Amerika dari pantai pendaratan, dan tak pernah lagi setelahnya mereka melakukan ancaman serupa



Sumber :
Buku "The War Against Germany and Italy: Mediterranean and Adjacent Areas" karya Kent Roberts Greenfield

Thursday, August 25, 2016

Luftzeugstab / Luftwaffen-Berge-Bataillon

LUFTZEUGSTAB 106 / LUFTWAFFEN-BERGE-BATAILLON 6

Foto ini menjadi bukti bahwa Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) setidaknya memesan sebagian Aerosan-Aerosan mereka dari Finlandia, karena disini diperlihatkan kedatangan beberapa MR-42 atau MR-42S bikinan Finlandia (hasil pengerjaan ulang) di markas Luftzeugstab 106, sebuah unit perbaikan Luftwaffe. Aerosan ini bukanlah NKL-6S Sanitarni produksi Soviet karena ketiadaan pintu keluar untuk keluar-masuk usungan yang menjadi ciri dari tipe Aerosan ambulans tersebut. Yang jelas, kendaraan ski berbaling-baling satu ini telah mendapat tambahan jendela samping yang khas


 Kedatangan beberapa MR-42 atau MR-42S bikinan Finlandia (hasil pengerjaan ulang) di markas Luftzeugstab 106, sebuah unit perbaikan Luftwaffe. Aerosan dari jenis ini mempunyai bentuk yang sangat mirip dengan NKL-6S, terutama bentuk hidungnya yang lancip dengan tambahan lampu di ujungnya. Pembedanya adalah bahwa MR-42S tidak dilengkapi dengan pintu keluar-masuk usungan di bagian samping kanan seperti halnya NKL-6S. Menariknya lagi, Aerosan pesanan Luftwaffe ini tidak mempunyai lubang putar untuk dudukan senapan mesin di bagian atapnya, dan warnanya pun masih asli abu-abu dasar keluaran pabrikan dan bukannya kamuflase putih khas musim dingin


Sumber :
Buku "Aerosan: Soviet Aero-Sleighs of World War Two" karya Jim Kinnear

Propellerschlitten dan Aerosan, Kendaraan Ski Berbaling-Baling Wehrmacht




Oleh : Alif Rafik Khan

Kemungkinan salah satu kendaraan perang paling aneh yang dipakai oleh Tentara Merah dalam Perang Dunia II adalah Aerosan atau Aerosani, jenis kendaraan ski ringan untuk melewati medan bersalju yang digerakkan oleh baling-baling pesawat terbang kuno yang sudah tak terpakai. Aerosan OSGA-6 dan KM-5 digunakan dalam Perang Musim Dingin melawan Finlandia, dan terbuat dari bahan triplek. Fungsi utamanya adalah untuk angkutan perbekalan melewati medan bersalju tebal yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan beroda atau berantai biasa. Beberapa tipe OSGA-6 (juga dikenal dengan nama NKL-6) dilengkapi dengan senapan mesin ringan di bagian atap dan digunakan dalam operasi-operasi penyergapan. Empat atau lima orang prajurit bisa dimasukkan ke dalam, dengan empat orang tambahan ditarik menggunakan ski.

Dalam Perang Dunia II, Aerosan NKL-16/41 dan NKL-16/42 hasil pengembangan diproduksi oleh Pabrik Narkomles di Moskow. Mereka terbukti sangat berguna dalam pertempuran sengit di musim dingin tahun 1941/42 sehingga tanggungjawab desain dan produksinya dialihkan ke GABTU. Produksinya kemudian diambil alih oleh pabrik otomotif ZiS dan GAZ, juga oleh pabrikan yang lebih kecil semacam Bengkel Kayu Bekietovskiy di Stalingrad. Pada bulan Desember 1941, GABTU memberi orderan pada Narkomles untuk membuat versi lapis baja dari NKL-16 yang bisa digunakan untuk operasi-operasi pengintaian serta penyerbuan musim dingin di medan-medan dimana tank dan kendaraan perang standar lainnya tidak bisa digunakan untuk melewati medan bersalju. Tim desainnya dipimpin oleh M. Andreyev, dan mereka berhasil membuat apa yang dinamakan sebagai Aerosan NKL-26 yang dilengkapi dengan lapisan baja setebal 10mm di bagian depan. Ketebalan bajanya tidak bisa ditambah karena keterbatasan tenaga mesin baling-baling pesawat yang tidak mampu menggerakkan kendaraan yang lebih berat lagi. Aerosan, seperti halnya tank, biasanya dikelompokkan dalam unit-unit setingkat batalyon yang berkekuatan 45 Aerosan (dibagi menjadi tiga kompi). Khusus untuk NKL-26, kendaraan lapis baja ini digunakan dalam formasi setingkat kompi.

Pada tahun 1942, pabrikan Narkoryechflota di Gorki mengembangkan versi baru Aerosan yang lebih kecil dan non-baja yang dinamakan sebagai RF-8 (GAZ-98) dan ditenagai oleh mesin kereta GAZ-M1. Kendaraan satu ini sepenuhnya terbuka dan dipersenjatai dengan senapan mesin DT di tabung senjata depannya. Seperti halnya NKL-26, RF-8 digunakan untuk operasi pengintaian dan penyergapan, hanya saja tidak dilengkapi dengan lapisan baja di konstruksinya. Banyak dari kendaraan ski yang lain dari yang lain ini yang kemudian jatuh ke tangan musuh-musuh Soviet seperti Jerman dan Finlandia, dan kemudian berbalik digunakan untuk melawan bekas tuannya. Biasanya Aerosan sendiri "berseliweran" di wilayah utara yang beriklim dingin, dan juga digunakan untuk melewati danau atau sungai yang membeku. Karena kemampuan mendakinya yang payah, Aerosan tidak digunakan di wilayah-wilayah bergunung.

Sudah diketahui umum bahwa pasukan Jerman yang perkasa menemui batunya di musim dingin Rusia yang kejam pada tahun 1941. Sarana transportasi di jalan yang berlumpur atau membeku sangatlah terbatas, dan jangan ditanyakan pula sarana serupa untuk menembus medan bersalju tebal di ruang terbuka yang bisa dikatakan nyaris tidak ada. Disinilah untuk pertama kalinya pasukan Wehrmacht menemukan kegunaan kendaraan yang ditenagai oleh baling-baling yang dapat dengan mudah melahap medan seperti itu, yang telah lama digunakan oleh pihak Soviet dan juga Finlandia (perlu diketahui bahwa pasukan Kekaisaran Jerman juga menghadapi masalah yang sama dalam Perang Dunia Pertama, hanya saja mereka tidak menganggap perlu untuk mengembangkan kendaraan ski bermotor yang mereka temui!).

Dalam gerak maju besar-besaran di musim panas tahun 1941, sebenarnya pasukan Wehrmacht telah merampas beberapa buah Aerosan yang ditinggalkan oleh Tentara Merah. Nantinya jumlah ini bertambah pula dengan yang dirampas pada pertempuran musim dingin tahun 1941/42 dan 1942/43. Meskipun banyak sumber yang mengklaim bahwa mereka kemudian menggunakan sejumlah besar Aerosan yang mereka rampas ini dalam tugas aktif, tapi penelitian terbaru menyimpulkan bahwa hanya beberapa saja yang digunakan. Asal-muasal timbulnya "mitos" ini adalah karena sebagian besar sumber Barat telah dengan keliru mengidentifikasi Propellerschlitten yang dipakai oleh Jerman sebagai "Aerosan hasil rampasan dari Rusia". Hal ini bisa terjadi disebabkan begitu minimnya dokumen yang tersedia tentang Aerosan Soviet.

Kalau saja pihak Wehrmacht merampas Aerosan yang masih utuh dalam jumlah yang signifikan, mungkin ceritanya bisa berbeda. Hanya saja, kebanyakan yang ditinggalkan oleh musuh sudah begitu rusak sehingga tidak bisa diperbaiki lagi. Usaha untuk memproduksi "Motorschlitten" Jerman sudah dimulai pada tahun 1942 oleh pabrikan Tatra di Cekoslowakia, hanya saja usaha tersebut menemui jalan buntu, sama seperti semua usaha lainnya ke arah serupa. Sekarang pertanyaan timbul: kalau begitu, darimanakah asalnya Propellerschlitten Jerman yang nongol dalam lusinan foto yang diambil pada masa itu?

Dengan tiadanya dokumen yang tersedia dalam masalah ini, maka data yang terkumpul selama bertahun-tahun memberikan petunjuk bahwa pihak Wehrmacht bisa jadi telah memesan Aerosan produksi Finlandia yang desainnya didasarkan pada Aerosan rampasan dari pihak Soviet. Satu yang pasti: Finlandia membuat ulang versi NKL-6/NKL-16-37 menjadi MR-42 dan MR-42S (Ambulans). Kedua Aerosan buatan kedua pihak yang berseteru ini begitu miripnya sehingga seringkali menimbulkan salah identifikasi di buku-buku sejarah yang membahas keberadaannya!

Diluar dari NKL-16-37S Soviet hasil rampasan serta MR-42 dan MR-42s Finlandia hasil jiplakan, data empiris lain memperlihatkan adanya penggunaan kendaraan ski berbaling-baling yang keempat yang digunakan oleh Wehrmacht. Kendaraan ini - yang karena ketiadaan dokumen tentangnya sehingga disebut sebagai Propellerschlitten WH/WL - dipakai oleh pihak Jerman dalam jumlah yang sama (atau bahkan lebih besar) dibandingkan dengan tipe lainnya. Tugas utamanya tampaknya adalah sebagai pengintai dan patroli sekitar lapangan udara dan bukannya evakuasi medis. Propellerschlitten WH/WL bukanlah hasil tiruan dari Aerosan Soviet atau Finlandia, melainkan mempunyai desain sendiri. Bagian luarnya - seperti penggunaan tiga ski dan penampilan kabinnya - tampaknya merupakan penyederhanaan desain NKL-16/MR-42 dengan penggantian bagian muka yang meruncing menjadi tipe kotak yang lebih lebar. Berat kosongnya adalah 1.052 Kg dan mampu membawa beban seberat 400 Kg (sehingga total berat kotor adalah 1.452 Kg). Dengan pengalaman yang dimiliki oleh Finlandia dalam memproduksi MR-42, desain Propellerschlitten WH/WL yang lebih sederhana bisa jadi datangnya dari sana. Yang jelas, kalaupun memang produksinya diadakan di Finlandia atau desainnya dikerjakan oleh sub-kontraktor di Jerman atau negara pendudukan, semuanya terselubung oleh kerahasiaan yang ketat!

Data yang tersedia menyimpulkan bahwa Aerosan Jerman - NKL-6S/NKL-16-37S, MR-42, MR-42S dan Propellerschlitten WH/WL - hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas di Front Timur, dan biasanya digunakan oleh Luftwaffe (Angkatan Udara). Tugasnya adalah sebagai ambulans off-road (NKL-6S/NKL-16-37S, MR-42S) ataupun kendaraan patroli/pengintai off-road (MR-42, Propellerschlitten WH/WL) dalam melintasi medan bersalju.

Seperti halnya dengan Aerosan Soviet, tidak ada Aerosan atau Propellerschlitten Jerman yang selamat seusai perang.


------------------------------------------------------------------------------------

 Sebuah Aerosan NKL-26 serbu Soviet yang hancur atau ditinggalkan sesudah berakhirnya pertempuran. Perhatikan keberadaan Skijäger (pasukan ski) Jerman di latar belakang yang sedang memeriksa sisa-sisa peralatan perang yang tertinggal. Bisa jadi pula bahwa ini adalah hasil penyergapan pihak Jerman terhadap Aerosan Soviet yang melintas


Sekumpulan Aerosan NKL-26 Soviet yang hancur sesudah pertempuran dengan awaknya yang bergelimpangan tak bernyawa di medan bersalju. Aerosan (arti harfiahnya: pesawat kereta salju) sebenarnya adalah kendaraan tempur yang paling sesuai untuk digunakan di musim dingin di medan bersalju tebal yang tidak bisa dilintasi oleh kendaraan beroda atau berantai biasa. Tapi tetap saja, mereka adalah kendaraan perang dimana manusia bertempur dan mati di dalamnya


Sebuah Aerosan NKL-26 Soviet yang tidak terpakai sedang diperiksa oleh prajurit infanteri Jerman. Karena kendaraan berski tersebut tampaknya berada di atas tanah keras dan bukannya salju, maka kemungkinan besar dia telah ditinggalkan oleh awaknya di awal musim semi ketika salju yang mulai mencair membuat penggunaannya secara efektif tidak dimungkinkan lagi


Aerosan-Aerosan NKL-26 Tentara Merah yang hancur dan teronggok di sebuah jalan yang melintasi hutan pinus. Aerosan biasanya digunakan di jalan off-road melintasi pepohonan sehingga seringkali bagian baling-balingnya rusak terkena batu atau pepohonan. Meskipun jarang terekspos oleh kamera (dan juga hampir-hampir tak ada dokumen yang tersedia mengenainya!), tapi sebenarnya kendaraan satu ini digunakan dalam jumlah besar oleh pihak Soviet di musim dingin tahun-tahun pertama Perang Dunia II


 Sebuah Aerosan NKL-26 Soviet yang hancur dan terbalik (kemungkinan kendaraan yang sama yang ada di foto sebelumnya). Foto ini memberi gambaran yang jelas mengenai dudukan berputar dari perisai senapan mesin di bagian tourelle atas (sejenis turet). Tourelle putar tersebut dilengkapi oleh rem mekanis untuk mencegah sang penembak senapan mesin dari menghancurkan baling-baling pendorong saat menembak ke arah belakang


Bukti foto yang memperlihatkan Aerosan Soviet yang menjadi barang rampasan Wehrmacht secara utuh sangatlah langka adanya. Foto ini menunjukkan sebuah Aerosan NKL-26 - yang telah dilucuti persenjataannya - yang terparkir di sebuah desa di Rusia. Sudah pasti bahwa pihak Jerman tidak akan menyia-nyiakan hasil rampasan berharga seperti ini dan bisa dipastikan tak lama kemudian dia sudah operasional kembali - kali ini dengan tambahan marking Wehrmacht di badannya!


Biasanya, jika pasukan Jerman menemukan sebuah Aerosan Soviet yang hancur atau ditinggalkan oleh awaknya, maka tak lama kemudian kendaraan langka tersebut akan menjadi barang tontonan dan obyek foto-foto. Selain sebagai obyek "turisme", sangat sedikit bukti foto yang memperlihatkan bahwa Aerosan NKL-26, seperti tampak dalam foto ini, yang digunakan oleh pihak Wehrmacht sebagai kendaraan operasional mereka di musim dingin di Front Timur. 99% foto yang ada (dan itu pun sangat sedikit jumlahnya) menunjukkan bahwa prajurit Jerman lebih memilih menggunakan Propellerschlitten WH/WL produksi sendiri daripada Aerosan hasil rampasan


Sebuah Aerosan NKL-26 produksi Soviet yang menjadi barang rampasan pasukan Wehrmacht secara utuh saat gerak maju mereka di musim dingin tahun 1941/42 atau 1942/43. Menariknya, tidak ada bukti foto yang memperlihatkan Aerosan dari tipe RF-8/GAZ-98 (sama-sama produksi Soviet) yang menjadi barang rampasan oleh pihak Jerman


 Pabrik pembuat pesawat terbang Finlandia menjiplak desain Aerosan NKL-6/NKL-16 Model 1937 milik Soviet dan merubahnya menjadi MR-42. Versi ambulansnya, MR-42S, bisa dikenali dari pintu keluar berbentuk oval persegi (untuk keluar-masuk usungan) yang tidak ditemukan pada MR-42. Begitu miripnya desain ambulans NKL-6S keluaran Rusia dan ambulans MR-42S keluaran Finlandia sehingga untuk mengidentifikasi kendaraan yang kini menjadi inventaris Jerman - seperti yang tampak dalam foto ini - dibutuhkan ketelitian yang tinggi!


Tidak diketahui dengan pasti apakah Aerosan Wehrmacht versi ambulans ini adalah NKL-6S produksi Soviet ataukah MR-42S produksi Finlandia (ini karena kemiripan mereka yang hampir tidak bisa dibedakan!). Perhatikan bahwa kendaraan ski berbaling-baling satu ini telah dilengkapi dengan salib simbol Palang Merah, hanya saja tidak ada tambahan Balkenkreuz seperti umumnya kendaraan milik Wehrmacht. Tidak seperti versi Soviet atau Finlandia, Aerosan NKL-6S/MR-42S Jerman tidak dilengkapi dengan lubang putar untuk dudukan senapan mesin di bagian atapnya


Foto ini menjadi bukti bahwa Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) setidaknya memesan sebagian Aerosan-Aerosan mereka dari Finlandia, karena disini diperlihatkan kedatangan beberapa MR-42 atau MR-42S bikinan Finlandia (hasil pengerjaan ulang) di markas Luftzeugstab 106, sebuah unit perbaikan Luftwaffe. Aerosan ini bukanlah NKL-6S Sanitarni produksi Soviet karena ketiadaan pintu keluar untuk keluar-masuk usungan yang menjadi ciri dari tipe Aerosan ambulans tersebut. Yang jelas, kendaraan ski berbaling-baling satu ini telah mendapat tambahan jendela samping yang khas


 Kedatangan beberapa MR-42 atau MR-42S bikinan Finlandia (hasil pengerjaan ulang) di markas Luftzeugstab 106, sebuah unit perbaikan Luftwaffe. Aerosan dari jenis ini mempunyai bentuk yang sangat mirip dengan NKL-6S, terutama bentuk hidungnya yang lancip dengan tambahan lampu di ujungnya. Pembedanya adalah bahwa MR-42S tidak dilengkapi dengan pintu keluar-masuk usungan di bagian samping kanan seperti halnya NKL-6S. Menariknya lagi, Aerosan pesanan Luftwaffe ini tidak mempunyai lubang putar untuk dudukan senapan mesin di bagian atapnya, dan warnanya pun masih asli abu-abu dasar keluaran pabrikan dan bukannya kamuflase putih khas musim dingin


Tidak diketahui apakah dua buah Aerosan ambulans milik Wehrmacht diatas berasal dari jenis NKL-6/16S hasil rampasan dari Soviet ataukah MR-42S pesanan dari Finlandia. Foto dari bagian belakang ini memperlihatkan dua varian warna yang digunakan: putih (atas) dan abu-abu gelap (bawah). Dua-duanya dilengkapi dengan tanda palang merah, hanya saja tidak dilengkapi dengan lubang putar untuk dudukan senapan mesin di bagian atapnya yang merupakan ciri khas Aerosan Jerman


Kendaraan ski bermotor ini dijuluki sebagai "Aerosan-Enigma", dengan nama resmi Propellerschlitten WH/WL. Desainnya banyak meniru dari Aerosan NKL-6/NKL-16-37 buatan Soviet dengan mengambil fitur-fitur terbaik mereka lalu digabungkan menjadi satu kesatuan desain. Selain diproduksi di Finlandia untuk pangsa Wehrmacht, Propellerschlitten WH/WL juga diproduksi secara khusus oleh Luftwaffe dalam jumlah yang lebih terbatas


Apa yang disebut sebagai "Aerosan-Enigma" Jerman adalah kendaraan ini, Propellerschlitten WH/WL. Meskipun banyak foto yang memperlihatkan "penampakan" kendaraan ski berbaling-baling hasil adaptasi dari Aerosan Soviet ini, tapi tak ada satu dokumen pun yang menyebutkan tentang kegunaan utamanya atau detail jumlah keseluruhannya. Berdasarkan fakta bahwa sebagian besar bagian dari Propellerschlitten adalah hasil jiplakan dari desain Aerosan tiga ski NKL-6/NKL-16-37 Soviet, dan juga hasil kombinasi dari fitur-fitur terbaik beberapa tipe Aerosan serta berhubungan dengan barang hasil keluaran pabrikan Finlandia yang mendapat order dari Wehrmacht, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa Motorschlitten-Motorschlitten (kendaraan ski bermotor) Jerman pun mempunyai fungsi yang sama seperti mereka


Kesamaan Propellerschlitten WH/WL dengan versi ambulans NKL-6S Soviet dan MR-42S Finlandia kentara terpantau di bagian belakang kanan, ketika bentuk keseluruhan badannya serta pintu keluar-masuk usungan berukuran besar terlihat dengan jelas. Perbedaan utamanya sendiri terletak di bagian muka dimana Propellerschlitten WH/WL mempunyai hidung yang lebih melingkar dan landai dibandingkan dengan NKL-6S/MR-42S


Hidung yang meruncing dan jendela yang setengah melingkar merupakan ciri khas dari desain Aerosan NKL-6/16S produksi Rusia dan MR-42/42S produksi Finlandia, sedangkan Propellerschlitten WH/WL produksi Jerman - yang merupakan penyederhanaan dari kedua jenis kendaraan ski berbaling-baling tersebut - lebih memilih untuk menggunakan desain hidung yang lebih kotak serta jendela berbentuk persegi empat yang lebih mudah untuk diproduksi


 Sedikit foto yang memperlihatkan Aerosan Propellerschlitten WH/WL Jerman yang dilengkapi dengan senapan mesin MG34 kaliber 7,92mm. Tidak seperti Aerosan versi Rusia dan Finlandia yang menggunakan dudukan putar di bagian belakang, versi Jerman menggunakan metode yang lebih disederhanakan dengan menggunakan dudukan di depan dua lubang keluar persis di atas posisi supir dan komandan. Foto close-up yang diambil di bagian samping kanan (bawah) memperlihatkan dudukan senapan mesin dengan tiga opsi pemasangan. Balkenkreuz yang digunakan adalah dari tipe Luftwaffe


 Aerosan berbentuk langka yang digunakan oleh pihak Luftwaffe. Tidak diketahui asal-usulnya, tapi tampaknya kendaraan ski berbaling-baling satu ini adalah hasil konversi, dan bagian depannya yang berbentuk seperti mobil sedan mewah menyiratkan bahwa dia adalah tunggangan para perwira tinggi untuk bepergian menembus salju tebal dari unit satu ke unit lainnya



Sumber :
Buku "Aerosan: Soviet Aero-Sleighs of World War Two" karya Jim Kinnear 
Foto koleksi pribadi Jochen Vollert