Friday, February 15, 2019

Schrankordnung (Lemari Prajurit) Wehrmacht Jerman


 
  1. Stahlhelm (helm baja)
  2. Rucksack (tas punggung)
  3. Marschdecke im Rucksack (mantel di tas punggung)
  4. Zeltbahn im Rucksack (Zeltbahn di tas punggung)
  5. Trainingsanzug (pakaian lari)
  6. Sportzeug (perlengkapan olahraga)
  7. Wäsche (pakaian kotor)
  8. Taschentücher (saputangan)
  9. Feldmütze (topi lapangan)
  10. Schirmmütze (topi visor)
  11. Handschuhe (sarung tangan)
  12. Kleiderbürste (sikat pakaian)
  13. Eßfach (kompartemen makanan dan minuman)
  14. Wertsachenfach, verschließbar (tempat terkunci untuk menyimpan benda berharga)
  15. Waschzeug, Rasierzeug, Haarbürste, Kamm usw. (alat mencuci, cukuran, sikat rambut, sisir, dll.)
  16. Schreibzeug, Vorschriftenbücher usw. (peralatan menulis, buku peraturan, dll.)
  17. Wäschesack (kantong untuk menyimpan pakaian kotor)
  18. Putzzeug (stok alat kebersihan)
  19. Nahzeug (alat jahit)
  20. Gewehrreinigungszeug (peralatan pembersih senapan)
  21. Drillichanzug (pakaian latihan)
  22. Feldbluse (seragam lapangan)
  23. Ausgehanzug (seragam jalan-jalan)
  24. Mantel (mantel)
  25. Klopfpeitsche (cambuk kecil)
  26. Meldetasche (kantung pesan)
  27. Schaftstiefel (sepatu)
  28. Schnürschuhe (sepatu setumit)
  29. Sportschuhe (sepatu olahraga)
  30. Seitengewehr (bayonet)
  31. Koppel, Schulterriemen (ikat pinggang)
  32. Handtücher (handuk)
  33. Patronentasche (kantong peluru)
  34. Brotbeutel (tas roti)
  35. Feldflasche (pelples)
























Sumber :
"Der Dienstunterricht in der Luftwaffe" (1937)
www.parrow-info.de
www.wehrmacht-awards.com
www.wehrmacht-lexikon.de

Sunday, February 10, 2019

Helmtarnung (Kamuflase Helm)



Oleh: Alif Rafik Khan

Pada awal Perang Dunia II, prajurit Jerman biasa menggunakan ban tebal dari karet hasil modifikasi sendiri untuk menyematkan ranting, daun, rumput dan lain-lain. Selain untuk menyamarkan dengan lingkungan sekitar, sebabnya adalah karena stahlhelm yang dikenakan oleh mereka seringkali memantulkan cahaya matahari dan bahkan cahaya bulan - meskipun sudah mendapat polesan cat "netral" warna abu-abu - sehingga menyulitkan dalam bersembunyi dan bertahan. Akhirnya beberapa solusi dibuat untuk mengatasi hal ini, selain dari yang telah disebutkan pertama di atas:
  1. Menghapus dekal helm yang seringkali menjadi target sniper di lapangan
  2. Menggunakan penutup berbahan kain
  3. Dicat putih atau dilapisi kapur saat musim dingin
  4. Melapisi helm dengan campuran tanah, tanah liat, pasir atau serbuk gergaji
  5. Dicat dengan warna terang di wilayah beriklim tropis
  6. Menggunakan jaring yang bisa menahan bahan-bahan kamuflase alami
  7. Ban pengikat sederhana yang biasanya adalah tas roti yang diikatkan di sekitar helm
  8. Jala kawat, biasa disebut sebagai "kawat ayam", untuk mengikatkan bahan kamuflase




Sumber :
www.wehrmacht-lexikon.de

Saturday, February 9, 2019

Waffenfarbe (Warna Korps)



Oleh: Alif Rafik Khan

Waffenfarbe (warna korps) adalah warna pengenal kesatuan yang digunakan oleh Wehrmacht - kecuali Kriegsmarine - serta Waffen-SS untuk mempermudah identifikasi diantara beberapa cabang kesatuan, korps, kelompok pangkat, dan penugasan yang berbeda. Dalam prakteknya, Waffenfarbe diterapkan dalam warna lis (jahitan pinggir), schulterklappen (tanda pangkat bahu), ringkragen (gorget), lampasse (strip celana), Larisch-Stickerei (ornamen jenderal), kragenspiegel (insignia kerah), dan fahnen (panji/bendera).

Untuk Kriegsmarine sendiri tidak menggunakan pengenal warna seperti halnya cabang Wehrmacht lainnya, melainkan Laufbahnabzeichen (Lencana Okupansi) dan Tätigkeitsabzeichen (Lencana Keahlian), yang merupakan insignia penanda yang terletak di bagian lengan.

---------------------------------------------------------------------------


WAFFENFARBE HEER (1935-1945)




WAFFENFARBE LUFTWAFFE (1935-1945)




WAFFENFARBE WAFFEN-SS (1938-1945)




Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.warrelics.eu

Thursday, February 7, 2019

Karya-Karya Terbaik Johnny Shumate

WEHRMACHT

 Yang paling pertama membuat saya terkesan saat melihat lukisan karya Johnny Shumate ini adalah kemiripan wajah sang Oberstleutnant der Panzertruppen (waffenfarbe pink) dengan almarhum abah saya tercinta! Detail dari lukisan ini sungguh mengagumkan, terutama perangkat Kopfhörer (headphone) serta Kehlkopfmikrofon (mikrofon tenggorokan) yang menempel di kepalanya. Dari ärmelband-nya, kita bisa mengetahui bahwa si Ritterkreuzträger yang memakai Sonderbekleidung Der Deutschen Panzertruppen (seragam hitam pasukan lapis baja Jerman) dan Feldmütze M35 (Schiffchen) Panzertruppe Offizier ini berasal dari Panzergrenadier-Division "Groβdeutschland". Teropong yang digunakannya berasal dari jenis Dienstglas 7x56 (kemungkinan buatan Hensoldt & Sohne), dan dia juga memakai holster pistol Walther model PPK yang umum digunakan oleh awak tank Jerman. Medali-medali yang terlihat dalam gambar di atas (selain dari Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes) adalah: Eisernes Kreuzes II. & I.Klasse, Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), dan Panzerkampfabzeichen in Silber. Dari bentuk lubang turetnya, kemungkinan besar tank yang digunakan oleh sang komandan panzer adalah Panzerkampfwagen III atau IV


Sumber :
www.johnnyshumate.com

Wednesday, February 6, 2019

Foto Feld-Division (L) Luftwaffe


  
Foto ini diambil pada tanggal 28 Agustus 1944 di Prancis Utara oleh Kriegsberichter Bernhard Kurth dari PK (Propaganda-Kompanie) 698, dan memperlihatkan seorang perwira Heer yang bertugas di Feld-Division Luftwaffe (kemungkinan besar 19. Feld-Division [L]). Dia mengenakan Jaket Luftwaffe-Splittermuster dengan lambang elang Luftwaffe di bagian dada (sementara seragamnya sendiri masih versi Heer), yang dipadukan dengan stahlhelm bertekstur cat kasar. Ketika unit-unit darat Luftwaffe (Angkatan Udara) dimasukkan ke dalam kendali Heer (Angkatan Darat) di bulan November 1943 dan dinamai ulang menjadi Feld-Division (L), sebagian dari perwira-perwira Heer ikut pula ditugaskan untuk melatih dan memimpin unit-unit baru ini. Karenanya, tidak heran jika seragam Heer ikut-ikutan diadopsi oleh divisi darat Luftwaffe, meskipun pasokannya seringkali terlambat sehingga membuat pemakaiannya bercampur dengan fliegerbluse standar Luftwaffe (banyak bukti foto untuk menguatkan hal ini). Sesuai peraturan, resimen-resimen Jäger dari Feld-Division (L) mengenakan warna waffenfarbe hijau, seperti halnya di unit Heer, sementara banyak pula dari mereka yang lebih memilih untuk menggunakan bahan kamuflase Telo Mimetico sisa pasukan Italia sebagai pakaian sehari-hari, karena dianggap lebih efektif dalam menyamarkan diri dan lebih enak dipakai dibandingkan dengan produksi Jerman. Semua hal ini menyebabkan tidak adanya patokan baku mengenai seragam Divisi Darat Luftwaffe, karena begitu banyaknya variasi dan modifikasi lapangan yang terjadi.


Sumber :
www.wehrmachtss.blogspot.com
www.ww2images.blogspot.com

Tuesday, February 5, 2019

Foto Pertempuran Belanda (10-14 Mei 1940)

  Empat orang tawanan prajurit Belanda dari 2e Compagnie / eerste Grensbataljon terlihat kelelahan setelah bertempur selama berjam-jam melawan pasukan penyerbu Jerman. Mereka terdiri atas, dari kiri ke kanan: Prajurit Martinus Vugteveen, Sipke Beetstra, Barend Schuiling, dan Sersan Klaas van der Baaren. Sang Sersan mengenakan helm M.27, sementara tiga orang anakbuahnya mengenakan helm M.34. Mereka adalah awak dari bunker 3056 yang terletak di jembatan Goseling, pinggir Kanal Lutterhoofdwijk, Drenthe, Belanda. Di pagi hari tanggal 10 Mei 1940, unit pelopor dari 1. Kavallerie-Division tiba di pinggir jembatan, dan terkejut ketika mendapati bahwa empat "bijik" penghuni bunker menembaki mereka dengan sengit, serta menolak untuk menyerah meskipun telah terkepung dari segala arah. Akibatnya, tiga skuadron dari Radfahr-Abteilung 1 terpaksa dikerahkan untuk "melayani" mereka selama hampir empat jam. Setelah keempat prajurit yang kelelahan ini akhirnya menyerah, drama lanjutan kembali terjadi: pihak penyerbu Jerman, yang murka karena perwira kesayangan mereka terbunuh dalam pertempuran tersebut, menginginkan keempat prajurit Belanda ini untuk langsung dieksekusi di tempat, dengan alasan bahwa mereka telah dengan sengaja mengibarkan bendera putih sebagai tipuan, hanya untuk kemudian menembaki perwira Jerman yang datang menghampiri. Untungnya, seorang pemilik penginapan kemudian mengaku bahwa dialah sebenarnya yang mengibarkan sarung bantal berwarna putih saking takutnya melihat kontak senjata, dan bukannya pihak yang bertahan di bunker. Keterangan ini diperkuat oleh Walikota Coevorden, yang kebetulan ada disitu, yang meyakinkan pihak Jerman bahwa orang-orang di bunker mustahil melihat bendera putih dari lokasi mereka yang terhalang oleh dinding beton. Akhirnya pasukan Jerman membawa keempat orang prajurit gagah berani tersebut ke kamp tawanan. Foto ini sendiri diambil oleh S. Pfitzer, dan kemudian dipublikasikan di majalah "Die Woche" untuk kepentingan propaganda


Sumber :
"May 1940: The Battle for the Netherlands" karya Herman Amersfoort & Piet Kamphuis
"The Dutch Steel Helmet 1916-1946" karya Kevin de Joode
www.wehrmachtss.blogspot.com
www.ww2images.blogspot.com