Saturday, August 17, 2019

Führerschein (Surat Izin Mengemudi)

Führerschein (Surat Izin Mengemudi) tertanggal 31 Juli 1937 milik Jäger Wilhelm Damaske dari I.Abteilung / Regiment "General Göring". Dokumen yang merupakan koleksi pribadi dari Gordon Williamson ini dicetak menggunakan bahan kain anti-air (oilcloth) yang tahan lama. Perhatikan garis putih di pinggiran kerah dari seragam bersaku empat yang dikenakannya, dan juga kragenspiegel khas berwarna perak di kerahnya


Sumber :
Buku "The Hermann Göring Division" karya Gordon Williamson

Sunday, August 11, 2019

Foto Arado Ar 66




Sebuah pesawat Arado Ar 66 difoto oleh Fähnrich Leopold Wenger di Schule / Fliegerausbildungsregiment 13, bulan April-Mei 1940. Fliegerausbildungsregiment 13 bermarkas di Pilsen, Cekoslowakia, meskipun mempunyai pangkalan tersendiri pula di Klattau. Wenger nantinya menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditempatkan di I.Gruppe / Jagdgeschwader 2 di akhir tahun 1941. Pada akhirnya dia menjadi seorang pilot Jabo (fighter-bomber) kawakan bersama dengan 10.Staffel / Jagdgeschwader 2. Wenger dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Januari 1945, tapi kemudian terbunuh tiga bulan kemudian - tepatnya pada tanggal 10 April 1945 - hanya berselang beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa!



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss
Foto koleksi pribadi Andreas Barowski
www.airliners.net

Pelatihan Pilot Luftwaffe



Oleh : Alif Rafik Khan

Tak lama setelah pembentukan Luftwaffe pada tanggal 1 Maret 1935, kini pelatihan terbang militer tidak hanya berlangsung secara terang-terangan melainkan juga diselenggarakan secara masif oleh banyak sekolah terbang dengan menggunakan beragam jenis pesawat.

Alur seorang kadet udara yang mendaftar di Luftwaffe biasanya begini: setelah direkrut oleh militer - dan mendapatkan pelatihan dasar seorang prajurit Wehrmacht - dia kemudian ditempatkan di Fliegerersätzabteilung (yang nantinya menjadi Fliegerausbildungsregiment) untuk mengikuti pelatihan navigasi dasar. Setelah lulus, si kadet calon awak udara selanjutnya dipindahkan ke Fluganwärterkompanie (untuk calon prajurit dan bintara) atau Luftkriegsschule (untuk calon perwira). Tempat-tempatr ini pada dasarnya adalah sekolah darat dimana para pilot diperkenalkan untuk pertama kalinya dengan pesawat terbang. Sebagai contoh, Soldbuch seorang kadet perwira Luftwaffe memperlihatkan bahwa dia tiba di Luftkriegsschule Dresden Klotzsche pada tanggal 4 Desember 1936, sebelum kemudian ditempatkan di Luftkriegsschule Berlin Gatow. Disini dia merasakan untuk pertama kalinya terbang dengan pesawat udara pada tanggal 21 Mei 1937, dilanjutkan dengan terbang solo menggunakan pesawat latih Heinkel He 72 pada tanggal 9 Juni 1937. Setelah itu, pelatihan terbang tahap awal diselenggarakan di Flugzeugführerschule (A/B), yang diikuti oleh Flugzeugführerschule (C) untuk pelatihan lanjutan. Khusus untuk pilot tempur, dia harus mengikuti pelatihan lebih jauh lagi yang diselenggarakan di Jagdfliegervorschule atau Jagdfliegerschule (pada tahun 1942, delapan Jagdfliegerschule dirubah namanya menjadi Jagdgeschwader 101 sampai Jagdgeschwader 108, dan masih ditambah lagi dengan Jagdgeschwader 109 sampai Jagdgeschwader 112). Dalam kasus kadet perwira kita yang menjadi contoh di atas, setelah mendapatkan Flugzeugführerabzeichen (Wing Udara) pertamanya, pada bulan Juli 1938 dia ditempatkan di Jagdfliegerschule Werneuchen untuk mendapatkan pelatihan sebagai pilot tempur, dan pada bulan berikutnya dipindahkan ke 9.Staffel / Jagdgeschwader 132 di Jüterbog-Damm. Dia pertama kali terbang dengan Fliegerausbildungsregiment 42 di Salzwedel pada bulan Maret 1939 dan - setelah mendapatkan pelatihan terbang buta di Prenzlau (masih bersama dengan Fliegerausbildungsregiment 42) - dia kemudian ditempatkan di Jagdfliegerschule 1 pada bulan November 1939 sebelum bergabung dengan 2.Staffel / Jagdgeschwader 53 di bulan berikutnya.

Untuk pilot-pilot yang terpilih ke unit-unit udara lainnya, dia akan mendapatkan pelatihan final di sekolah-sekolah khusus yang berbeda: calon pilot pembom ditempatkan di Grosse Kampffliegerschule, pilot pembom tukik di Sturzkampffliegervorschule, dan pilot pengintai di Aufklärungsfliegerschule. Pada bulan Oktober 1942 lima Kampffliegerschule yang tersedia kemudian dipecah lagi menjadi Kampfbeobachterschule atau Kampfschulegeschwader, dengan yang terakhir berganti nama menjadi Kampfgeschwader 101 di tahun selanjutnya.

Ketika Perang Dunia II pecah, maka dibutuhkan pula lebih banyak pelatihan lanjutan. Karenanya, kini setiap Geschwader (Skuadron Udara) pemburu atau pembom mempunyai pula unit-unit pelatihan sendiri (biasanya dinamakan sebagai Ergänzungsstaffel, Ausbildungsstaffel atau Ergänzungsgruppe), yang - dalam kasus unit pembom - maka kemudian dirubah namanya menjadi IV. Gruppe. Untuk para pilot pemburu, pada tahun 1942 elemen-elemen Erganzungs mereka dilebur menjadi bagian dari Ergänzungsjagdgruppe Ost, Süd atau West.

Setiap peran pesawat mempunyai sekolahnya masing-masing, begitu pula dengan pesawat yang mempunyai peran-peran khusus seperti Waffenschule, pembom torpedo serta penyebar ranjau, dan juga sekolah-sekolah awak udara lainnya seperti Beobacher, Bordfunker, Bordmechaniker dan Bordschützen. Terdapat pula sekolah terbang buta (instrumen). Kembali kepada kadet perwira kita (yang kini telah berpangkat Leutnant): Dia juga mengikuti kursus di sekolah semacam itu di Nordhausen antara tanggal 18 Januari s/d 24 Februari 1940 demi untuk mendapatkan lisensi instruktur terbang buta. Setelahnya dia kembali ke unitnya, 1.Staffel / Zerstörergeschwader 76, dan kini telah siap lahir batin menjadi pilot tempur Luftwaffe!

----------------------------------------------------------------------------------

 Para calon pilot (perhatikan ketiadaan Flugzeugführerabzeichen di seragam mereka) dari Fliegerausbildungsregiment 42 berfoto bersama dengan instruktur mereka, Unteroffizier Lauerer (berlutut dengan Flugzeugführerabzeichen di dada), di tempat latihan mereka di Wünsdorf, bulan Juni 1939. Para kadet ini mempunyai pangkat yang tak jauh berbeda dengan sang instruktur. Mereka yang sukses menyelesaikan pelatihan sebagai pilot nantinya mulai operasional dari awal tahun 1940, dan banyak di antara mereka - seperti yang menimpa Unteroffizier Willi Ghesla yang berlutut di sebelah kanan - akan tertangkap atau terbunuh dalam Pertempuran Britania sebelum tahun tersebut berakhir!

----------------------------------------------------------------------------------

ARADO

Sebuah pesawat Arado Ar 66 difoto oleh Fähnrich Leopold Wenger di Schule / Fliegerausbildungsregiment 13, bulan April-Mei 1940. Fliegerausbildungsregiment 13 bermarkas di Pilsen, Cekoslowakia, meskipun mempunyai pangkalan tersendiri pula di Klattau. Wenger nantinya menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditempatkan di I.Gruppe / Jagdgeschwader 2 di akhir tahun 1941. Pada akhirnya dia menjadi seorang pilot Jabo (fighter-bomber) kawakan bersama dengan 10.Staffel / Jagdgeschwader 2. Wenger dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Januari 1945, tapi kemudian terbunuh tiga bulan kemudian - tepatnya pada tanggal 10 April 1945 - hanya berselang beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa!



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss

Friday, June 14, 2019

Stahlhelm M18 Kavalleriehelm



Oleh: Alif Rafik Khan

Kavalleriehelm - yang mempunyai nama resmi "Stahlhelm mit Ohrenausschnitten" (helm baja dengan potongan telinga) - pada intinya adalah stahlhelm M1918 yang mempunyai lengkungan di bagian samping, yang berfungsi untuk lebih memudahkan dalam mendengar saat sedang menunggang kuda. Stahlhelm jenis ini biasanya dipakai oleh pasukan kavaleri serta dinas intelijen, dan telah digunakan dari sejak akhir Perang Dunia Pertama.


 Dari kiri ke kanan: Oberst Georg Lindemann (Kommandeur 13.[Preußisches] Reiter-Regiment), Generalleutnant Franz von Roques (Infanterie-Führer VI), dan Oberstleutnant Ulrich Grauert (Kommandeur III.Abteilung / 6.[Preußisches] Artillerie-Regiment). Tiga orang ini mengenakan stahlhelm (helm baja) M18 era Perang Dunia Pertama, dengan Lindemann memakai stahlhelm versi pasukan berkuda (Kavalleriehelm). Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil, tapi kemungkinan besar pada periode 1932-1933


Generalleutnant Georg Lindemann (Kommandeur 36. Infanterie-Division) menunggang kuda sambil mengangkat sebuah goblet (gelas besi) sebagai tanda ucapan selamat. Dia mengenakan Kavalleriehelm M18 di kepalanya, yang merupakan stahlhelm khusus untuk pasukan kavaleri Jerman. Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil, tapi kemungkinan besar tak lama setelah Lindemann dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 5 Agustus 1940. Nantinya dia akan menambahkan Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 21 Agustus 1943 saat telah menjadi General der Kavallerie dan Oberbefehlshaber 18. Armee


Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com
www.wehrmacht-lexikon.de

Kapal Selam Jerman U-83

Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk jagoan U-boat Hans-Werner Kraus yang diselenggarakan pada tanggal 19 Juni 1942. Dari kiri ke kanan: Fregattenkapitän (V) Karl Johannsen (Verwaltungsoffizier Admiral Ägäis), Kapitänleutnant Hans-Werner Kraus (Kommandant U-83), Vizeadmiral Erich Förste (Kommandierender Admiral Ägäis), dan Fregattenkapitän Wolfgang Hübner (1. Admiralstabsoffizier Admiral Ägäis). Kraus mencatat prestasi mengesankan saat dia berhasil menembus pertahanan kuat pangkalan Angkatan Laut Inggris di Selat Gibraltar pada tanggal 18 Desember 1941. Selama karirnya sebagai kapten kapal selam Jerman, dia tercatat menenggelamkan delapan kapal dengan total tonase 12.702 ton, selain merusakkan dua kapal dengan total tonase 9.336 ton


Sumber :
www.liveauctioneers.com

Wednesday, June 12, 2019

Foto Wilayah Pendudukan Denmark (1940-1945)


Potongan klip propaganda ini diambil dari "Die Deutsche Wochenschau" Nr. 694 yang dipublikasikan pada tanggal 22 Desember 1943, dan memperlihatkan kunjungan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) ke wilayah pendudukan Denmark. Kunjungan ini berlangsung dari tanggal 2 s/d 10 Desember 1943, dan Rommel memanfaatkannya untuk melakukan inspeksi ke benteng pertahanan di sepanjang pantai Denmark serta unit-unit Wehrmacht yang menanganinya


 Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) melihat dari dekat latihan pendaratan amfibi yang dilakukan oleh II.Bataillon /  Reserve-Grenadier-Regiment 202 serta Pionier-Landungs-Lehr- und Ersatz-Regiment di pulau Fanø, lepas pantai Esbjerg (Denmark), pada tanggal 4 Desember 1943. Ikut menemaninya para perwira dari Heer, Kriegsmarine dan Luftwaffe. Di sebelah kiri adalah Generalleutnant Alfred Gause (Chef des Generalstabes Heeresgruppe B)


 
Inspeksi Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) ke instalasi radar Freya LZc milik Luftwaffe, Büffel Stellung, yang terletak di Blåvand (Blaavandshuk ), pantai barat Jutland, Denmark, pada tanggal 5 Desember 1943. Radar tersebut masih dalam tahap konstruksi. Dalam inspeksi ini, Rommel menyoroti perbedaan njomplang di Luftwaffenortungsanlage Blaavandshuk, terutama antara instalasi radar dan meriam yang dilindungi oleh bunker beton, sementara ruangan barak awaknya masih terbuat dari kayu atau batu-bata. Sang Marsekal meminta agar semua bangunan terbuat dari beton atau besi anti bom. Karenanya tak lama kemudian dibangunlah bunker-bunker khusus dari tipe L 487. BTW, Perwira Luftwaffe yang berjalan mendahului di depan Rommel adalah Oberleutnant Paul Pleines (Chef 12. mittlere Flugmelde-Leit Kompanie / II.Abteilung / Luftnachrichten-Regiment 222)


Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) bersama dengan penasihat angkatan lautnya, Vizeadmiral Friedrich Ruge, sedang mempelajari sebuah peta dalam inspeksi mereka ke Hanstholm, Denmark, tanggal 7 Desember 1943. Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark, General der Infanterie Hermann von Hanneken, nongol di antara Rommel dan Ruge. Paling kanan adalah Korvettenkapitän M.A. der Reserve z.V. Dietrich Knippenberg (Kommandeur Marine-Artillerie-Abteilung 118)



7 Desember 1943: Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) dan Korvettenkapitän Knippenberg keluar dari bunker kendali baterai yang mengontrol empat buah meriam pantai raksasa kaliber 380mm. Sang perwira Kriegsmarine nama lengkapnya adalah Korvettenkapitän M.A. der Reserve z.V. Dietrich Knippenberg, dan merupakan komandan Marine-Artillerie-Abteilung 118. Unit ini dibentuk di Hansted (Hanstholm) bulan April 1941 dari unit Batterien (Batterie Hanstholm, Batterie Hansted dan Batterie Agger) yang sebelumnya berdiri sendiri. MAA 118 berada di bawah komando Abschnitt Nordjütland, yang kemudian berganti nama menjadi Marine- Artillerie-Regiment 40. Selama masa eksistensinya (1941-1945), unit ini dipimpin oleh Korvettenkapitän M.A. der Reserve Dr. Otto Crüger (April 1941 - Desember 1942); Korvettenkapitän M.A. Dr. Hermann Schneider (Desember 1942 - Mei 1943); dan Korvettenkapitän M.A. der Reserve z.V. Dietrich Knippenberg (Mei 1943 - Mei 1945)

7 Desember 1943: Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) menginspeksi pasukan Jerman dari unit Marine-Artillerie-Abteilung 118 di Hansted (Hanstholm), Denmark, diiringi oleh komandan mereka, Korvettenkapitän M.A. der Reserve z.V. Dietrich Knippenberg (kedua dari kiri) serta General der Infanterie Hermann von Hanneken (kiri, Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark). Di Hanstholm sendiri terdapat empat buah meriam raksasa kaliber 380mm yang telah dibangun dari sejak akhir tahun 1940. Meriam-meriam ini - yang dinamakan sebagai "schwere Batterie Hanstholm" - mempunyai luas jangkauan 3.000 m² dan diawaki oleh 600 orang anggota Marine-Artillerie-Abteilung 118


 Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) dalam kunjungan inspeksi di wilayah Hansted (Hanstholm), pantai barat Denmark, tanggal 7 Desember 1943. Perwira Kriegsmarine yang mengiringinya di sebelah kanan adalah Korvettenkapitän M.A. der Reserve z.V. Dietrich Knippenberg (Kommandeur Marine-Artillerie-Abteilung 118), sementara bapak-bapak tinggi besar yang mengikuti di belakang Rommel adalah General der Infanterie Hermann von Hanneken (Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark). Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Winkelmann, dan pertama kali dipublikasikan dalam bentuk kartu pos pada tanggal 13 Januari 1944


  
 
Kunjungan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) ke markas Reserve-Panzer-Abteilung 5 / 233.Reserve-Panzer-Division di dekat Viborg, Denmark, pada tanggal 9 Desember 1943. Ikut mendampingi sang Marsekal dalam kunjungan ini diantaranya adalah General der Infanterie Hermann von Hanneken (Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark), Generalleutnant Alfred Gause (Chef des Generalstabes Heeresgruppe B), Generalleutnant Dr.-Ing. Wilhelm Meise (General der Pioniere Heeresgruppe B), dan Generalmajor Kurt Cuno (Kommandeur 233. Reserve-Panzer-Division)


Generalfeldmarschall Erwin Rommel (kanan, Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) bersama dengan General der Infanterie Hermann von Hanneken (kiri, Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark) dalam acara inspeksi sebuah batalyon Wehrmacht di Kopenhagen, Denmark, tanggal 10 Desember 1943. Di tangan kanannya sang Marsekal memegang sebuah interimstab (tongkat komando). Ini adalah hari terakhir kunjungan kerja Rommel di Denmark yang telah berlangsung dari sejak tanggal 2 Desember 1943. Setelahnya dia berangkat ke Aerodrome Grove pukul 14:35, tiba di Silkeborg dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta api untuk pulang kembali ke Jerman pada pukul 16:15.


Generalfeldmarschall Erwin Rommel (tengah, Oberbefehlshaber Heeresgruppe B und Generalinspekteur der Küstenbefestigungen West) menjadi pemimpin upacara dalam acara parade sebuah batalyon Wehrmacht di Kopenhagen, Denmark, tanggal 10 Desember 1943. Dia memberikan hormat khusus Marsekal dengan mengangkat interimstab-nya. Jenderal tinggi besar di sebelah kiri Rommel adalah General der Infanterie Hermann von Hanneken (Wehrmachtsbefehlshaber Dänemark), sedangkan yang di sebelah kanannya adalah Generalleutnant Ernst Richter (Oberfeldkommandantur Kopenhagen; kemudian dinamai Höheres Kommando Kopenhagen)


Sumber :
www.sgmcaen.free.fr

Foto Pengepungan La Rochelle (1944-1945)

 Baris depan, dari kiri ke kanan: Generalleutnant z.V. Hermann Wilck (Kommandeur 708. Infanterie-Division), Generalleutnant Dr.-Ing. Wilhelm Meise (General der Pioniere Heeresgruppe B), Kapitän zur See Hans Michahelles (Kommandant Seeverteidigung Gascogne), dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B). Foto ini diambil dalam acara inspeksi Marsekal Rommel ke benteng pertahanan Jerman di wilayah Royan, Charente-Maritime (Prancis), bulan Desember 1943


 Pengepungan Sekutu terhadap wilayah La Rochelle (Prancis) dan sekitarnya berlangsung dari bulan September 1944 s/d Mei 1945. Selama masa itu, pasukan Jerman yang bertahan di pelabuhan La Rochelle, Royan dan St. Nazaire tetap menjalani kegiatan sehari-hari mereka, hanya saja dengan segala keterbatasan layaknya pihak yang terkepung. Karena tidak mungkin mengandalkan suplai penuh makanan dan perlengkapan dari tanah air, mereka kemudian memanfaatkan lahan setempat yang masih bisa ditanami dengan mengerahkan kompi khusus prajurit-petani (Landwirtschaftskompanie), serta melakukan perdagangan dengan penduduk lokal. Untuk pasokan surat pos serta perlengkapan kesehatan sendiri masih bisa didapatkan lewat udara (berlaku dari bulan Oktober 1944), meskipun hanya bisa dilakukan saat malam telah tiba


Sumber :
www.c-royan.com
www.en.wikipedia.org

Monday, June 10, 2019

Foto 158. Reserve-Division

 Dari kiri ke kanan: General der Artillerie Curt Gallenkamp (Kommandierender General LXXX. Armeekorps), Oberst Hartwig Pohlman (mit der stellvertretenden Führung der 158. Reserve-Division beauftragt), General der Panzertruppe Joachim Lemelsen (Oberbefehlshaber 1. Armee), dan Generalleutnant Ernst Haeckel (Kommandeur 158. Reserve-Division). Foto ini sendiri kemungkinan besar diambil pada musim semi atau awal musim panas tahun 1944, saat 158. Infanterie-Division bermarkas di La Rochelle (Prancis)


Sumber :
www.saintgeorgesdedidonnehier.blogs.sudouest.fr

Foto Serigala dan Rubah Third Reich

Seorang perwira artileri Wehrmacht bermain-main dengan seekor rubah yang menjadi maskot unit baterai artilerinya dari sejak masih anak-anak. Foto ini diambil pada tanggal 16 September 1942 di Pulau Tytärsaari, Finlandia, dan kemudian diwarnai oleh Gherman Mihaly. Dari schulterklappen di pundaknya, kita bisa mengetahui bahwa si perwira berpangkat Oberleutnant, dan setidaknya telah mendapatkan medali Eisernes Kreuz II.Klasse (berdasarkan pita di kancing seragamnya)


Sumber :
www.pinterest.com

Sunday, June 9, 2019

Pertempuran Kantong Ruhr (1-18 April 1945)

Lieutenant Byron Hansford, seorang Polisi Militer dari 99th "Battle Babes" Division, menginterogasi tiga orang perwira tinggi Jerman yang ditangkap di Kantong Ruhr, tanggal 15 April 1945. Empat bulan sebelumnya, divisi infanteri infanteri Amerika Serikat tersebut telah berjuang mati-matian demi menahan serangan besar terakhir Wehrmacht di wilayah Ardennes. Betapa situasi kini telah berubah! Ketiga tawanan VIP tersebut adalah, dari kiri ke kanan: Generalarbeitsführer Paul Hoppenrath (Gauarbeitsführer Alpenland), Generalmajor Maximilian Jais (Kommandeur Abschnittskommando/Kampfgruppe Jais in Westwall ), dan Generalmajor Robert Eimler (Festungs-Pionier-Kommandeur XXI)


Sumber :
Buku "Images of War: Victory in Europe" karya Andy Rawson

Sunday, May 19, 2019

Kochgeschirr (Mess Tin / Kaleng Masak)



Kochgeshirr M31 adalah alat memasak berbentuk ginjal yang mempunyai kapasitas 1,7 liter. Alat ini terdiri dari dua bagian: panci kecil dengan pegangan kawat, dan tutupnya dengan pegangan besi. Model 31 mempunyai bentuk yang hampir serupa dengan Reichswehr Model 1910 yang mempunyai kapasitas yang lebih besar (2 liter).

------------------------------------------------------------------------

KOCHGESCHIRR MODELL 1910

Kochgeschirr Modell 1910 tersedia dalam pilihan bahan alumunium (seperti contoh disini) atau enamel. Alat makan yang umum digunakan oleh pasukan Reichswehr ini masih tetap diproduksi sampai tahun 1940, meskipun tetap dipakai oleh tentara Jerman sampai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Kochgeschirr M1910 digunakan pula oleh organisasi politik yang bernaung di bawah NSDAP. Fitur tambahan dari model ini adalah sendok dan garpu yang seukuran dengan wadahnya. Meskipun begitu, tidak semua Kochgeschirr dilengkapi dengan sendok dan garpu di dalamnya. Selain itu, dua perlengkapan makan ini tidak didapati pula di model selanjutnya (M31)

------------------------------------------------------------------------

KOCHGESCHIRR MODELL 1931



 Kochgeschirr Modell 1931 mempunyai tinggi total 15cm (tinggi panci 13,9cm ditambah dengan tutupnya 4,4cm). Selain pegangan standar, di bagian depannya bisa ditambah pula strap kulit untuk A-frame. Penggunaan yang terus-menerus seringkali membuat kaleng masak ini pudar catnya, terutama yang terbuat dari alumunium. Bentuknya yang menyerupai ginjal jelas terlihat apabila dilihat dari atas

------------------------------------------------------------------------

METODE PENGGUNAAN

Ketika Kochgeschirr (kaleng masak) dicantolkan ke Brotbeutel (kantong roti), maka digunakan tambahan sabuk kulit. Sabuk kulit kochgeschirr mempunyai ukuran yang berbeda dibandingkan dengan sabuk kulit biasa. Foto ini memperlihatkan tiga jenis sabuk kulit yang bisa digunakan untuk mengikat Kochgeschirr ke Brotbeutel: paling atas adalah sabuk peralatan standar (Mantelriemen) untuk prajurit pejalan kaki dengan panjang 53cm; di tengah adalah sabuk peralatan dengan panjang 58cm; dan paling bawah adalah sabuk panjang (67cm) dengan tiga simpal yang biasanya digunakan untuk mengikat A-frame


Metode penggunaan Kochgeschirr (kaleng masak) yang dicantolkan ke Brotbeutel (kantong roti). Seperti halnya Feldflasche (botol minum), sabuk kulit Kochgeschirr diikatkan ke Brotbeutel melalui D-ring serta simpal kulit yang tersedia


Bila digunakan bersama dengan Tornister (ransel) M1934/M1939, maka dipakai penutup khusus berbahan kanvas. Penutup ini dilengkapi pula dengan sabuk kulitnya sendiri serta pengikat alumunium

------------------------------------------------------------------------

FOTO PENGGUNAAN KOCHGESCHIRR MASA THIRD REICH

Seorang prajurit Waffen-SS dari 8. SS-Kavallerie-Division sedang menyendok makanan panas dari Kochgeschirr 31 (mess kit) di wilayah Orel awal tahun 1943. Kudung berbahan bulu domba yang merupakan bagian dari jaket musim dinginnya ditutupkan di atas feldmütze, sementara sebagai tambahan penahan dingin dia juga memakai sebuah "Kopfschützer” (syal) yang menutupi telinganya. Ini adalah semacam kain wol jahitan berbentuk tabung yang bisa ditutupkan ke kepala di bawah bagian stahlhelm yang tidak terlindungi yang juga berfungsi sebagai penutup leher yang terbuka. manfaat lainnya adalah mencegah membekunya bagian atas telinga si pemakai dari angin dingin yang datang dari samping helm


8 Januari 1943: seorang prajurit Wehrmacht menyantap ransum makanannya dari Kochgeshirr 31 (mess kit) dalam waktu istirahat yang langka di sela-sela pertempuran di Front Timur. Foto ini adalah salah satu yang dipamerkan dalam Eksebisi foto "Perang Soviet melawan Jerman 1941-1945" yang diselenggarakan oleh kantor berita Rusia ITAR TASS


Tampaknya perwira Wehrmacht satu ini sudah muak menyantap jatah ransum yang sama terus-menerus, sehingga dia memakan muka tak berselera saat memasukkan makanan ke dalam mulutnya! Dari jenis celana (reithose) serta keberadaan kuda yang sedang merumput di latar belakang, kemungkinan besar dia berasal dari unit kavaleri Wehrmacht. Pita Eisernes Kreuz II.Klasse tersemat di kancing seragamnya


Mencoba membandingkan jatah ransum tentara dengan masakan ibu di rumah... Dari mimiknya kita sudah tahu mana yang lebih enak! Tidak ada keterangan kapan dan dimana foto ini diambil, tapi tampaknya di dalam sebuah rumah atau kantor. Di latar belakang terpajang lukisan sang Führer Adolf Hitler, yang kelihatannya adalah lukisan hasil beli dari pelukis jalanan atau bikin sendiri (dan bukannya keluaran resmi), karena hasil akhirnya yang terlihat jelas masih "amatiran"!


Pembagian makanan panas untuk para anggota 23. Panzer-Division. Tidak seperti di barak markas pasukan atau di belakang garis pertempuran, kesempatan untuk menyantap makanan panas di front terdepan pertempuran sangatlah langka, dan karenanya selalu disambut dengan penuh sukacita oleh para prajurit. Tampaknya yang sedang dibagikan disini adalah kentang tumbuk sebagai pelengkap sayur daging/kacang atau roti. Perhatikan bahwa prajurit kedua dan ketiga dari kanan memajang medali Eisernes Kreuz II.Klasse di seragamnya, yang menunjukkan bahwa mereka telah mendapatkan medali tersebut di hari foto ini diambil, karena di hari-hari selanjutnya yang dipajang di kancing pakaian hanyalah pitanya belaka tanpa medali


Foto koleksi pribadi Remy Spezzano ini diambil oleh SS-Kriegsberichter Max Büschel sewaktu berlangsungnya Pertempuran Kursk di bulan Juli 1943, dan memperlihatkan para anggota II.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" tak lama setelah mereka berkumpul kembali seusai pertempuran pertama melawan tank-tank Soviet. Orang di tengah - yang memegang Kochgeshirr (wadah makanan) - kemungkinan besar adalah SS-Obersturmführer Gerhard Scharke (Chef 5.Kompanie), sementara yang berdiri kedua dari kanan sepertinya adalah SS-Obersturmführer Walter Malchow (Zugführer di 6.Kompanie)


Foto koleksi pribadi Remy Spezzano ini diambil oleh SS-Kriegsberichter Max Büschel sewaktu berlangsungnya Pertempuran Kursk di bulan Juli 1943, dan memperlihatkan para anggota II.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 1 / SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" tak lama setelah mereka berkumpul kembali seusai pertempuran pertama melawan tank-tank Soviet. SS-Sturmbannführer Martin Gross (kanan, Kommandeur II.Abteilung) sedang mendiskusikan peta pertempuran bersama dengan para perwiranya. Di sebelah kiri adalah SS-Hauptsturmführer Ralf Tiemann (Chef 7.Kompanie), sementara yang sedang mengikuti diskusi sambil makan dari Kochgeshirr (wadah makanan) di tengah sepertinya adalah SS-Obersturmführer Walter Malchow (Zugführer di 6.Kompanie)



Sumber :
Foto koleksi pribadi Remy Spezzano