Tuesday, January 14, 2020

Rekor Satu-Satunya Third Reich

Satu-Satunya Jenderal Jerman yang Meninggal dalam Invasi ke Prancis

General der Artillerie Hermann Ritter von Speck (8 Agustus 1888 - 15 Juni 1940) dilahirkan dengan nama Hermann Speck, dan merupakan anak dari seorang Generalmajor asal Bavaria yang bernama Maximilian Ritter von Speck. Dia kemudian mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang prajurit setelah bergabung sebagai Fahnenjunker di 3. Feldartillerie-Regiment "Prinz Leopold" pada tahun 1907. Speck ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia I dan, setelah aksinya yang mengarahkan tembakan artileri ke arah pasukan Prancis di Gellenoncourt sehingga membuat mereka menyerah, dia kemudian dianugerahi keberanian tertinggi Bavaria, Ritterkreuz des Militär-Max-Joseph-Ordens, pada tanggal 7 September 1914. Selain itu, Speck juga mendapat gelar kebangsawanan Bavaria, "Ritter von". Setelah perang usai, Speck bergabung dengan Freikorps yang bertempur melawan pemberontakan kaum komunis dan sosialis di kampung halamannya. Ketika Reichswehr dibentuk pada tahun 1919, dia termasuk satu dari 100.000 orang mantan prajurit Kekaisaran Jerman yang diikutsertakan. Karirnya makin menanjak, sampai menjadi komandan dari 33. Infanterie-Division (1 Maret 1938 - 29 April 1940). Pada tanggal 15 Juni 1940, Generalleutnant Speck tertembak oleh musuh dalam pertempuran di Pont-Sur-Yonne, Prancis, saat memimpin pasukannya di posisi terdepan. Dia meninggal beberapa jam kemudian akibat dari luka-lukanya. Speck tercatat sebagai satu-satunya jenderal Wehrmacht yang terbunuh dalam penyerbuan Jerman atas Prancis! Sebagai penghargaan atas jasanya, dia secara anumerta mendapatkan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 17 Oktober 1940, sebagai Generalleutnant dan Kommandierender General XVIII. Armeekorps. Dengan alasan yang tidak diketahui, Speck juga dipromosikan secara anumerta menjadi General der Artillerie pada tanggal 15 Desember 1944, berselang 4½ tahun setelah kematiannya! Pada tahun 2010, wartawan Jay Nordlinger mewawancarai anak perempuan Speck, yang mengklaim bahwa ayahnya telah dengan sengaja mencari kesempatan untuk gugur dalam pertempuran. "Berdasarkan kata putrinya, sang jenderal ingin mati, dan mencari cara agar keinginannya terpenuhi. Dia merasa bahwa dia tak dapat melanggar sumpahnya sebagai seorang prajurit militer dengan menyeberang ke pihak musuh. Sementara itu, keyakinan Katoliknya mencegah dia untuk melakukan bunuh diri - bunuh diri secara langsung, dapat dikatakan begitu. Jadi dia menempatkan dirinya di arah tembakan musuh. Dalam kata terakhirnya, dia tidak mengatakan "sampaikan cintaku pada keluargaku" - atau sesuatu seperti itu - melainkan hanya sekedar "memang harus seperti ini jalannya..." (Salzburg Souvenirs part IV)


Sumber :
www.omsa.org

Sunday, January 12, 2020

Kartentaschenlupe (Kaca Pembesar) Third Reich

Oberstleutnant Mathias Kräutler (Kommandeur II.Bataillon / Gebirgsjäger-Regiment 137 / 2.Gebirgs-Division) menyempatkan diri untuk mempelajari peta menggunakan kartentaschenlupe (kaca pembesar), saat unitnya terjebak di tengah kemacetan dalam gerak maju ke Uni Soviet di musim panas tahun 1941. Kräutler sendiri adalah seorang perwira asal Austria yang otomatis menjadi anggota Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Nazi Jerman) saat negaranya melakukan "Anschluss" - alias penyatuan - dengan Jerman pada tahun 1938. Dia juga adalah veteran Perang Dunia Pertama yang pernah bertempur melawan tentara Kekaisaran Rusia di Front Timur. Kesannya begitu mendalam terhadap prajurit-prajurit yang menjadi musuhnya dalam pertempuran beberapa dekade sebelumnya ini: "Mereka adalah orang-orang sederhana yang dibesarkan dengan baik, selalu terlihat ceria walaupun sebagian besar dari mereka adalah orang-orang miskin, dan kamu bisa ngobrol dengan mudahnya kepada mereka layaknya sahabat lama," kenangnya, sebelum melanjutkan, "Dan inilah dia, sekarang yang menghadapi kami adalah orang-orang bersenjata lengkap yang berdisiplin tinggi serta dipimpin oleh perwira mereka secara brutal dalam setiap pertempuran." ('Blitzkrieg Unleashed' karya Richard Hargreaves halaman 202)


 Hitler bertemu kembali dengan dua orang mantan ajudannya, Max Wünsche dan Hans Pfeiffer, di Große Halle (Aula Besar) Berghof/Berchtesgaden (Obersalzberg) dalam acara ulangtahun sang pemimpin Jerman yang ke-55 tanggal 20 April 1944. Uniknya, Wünsche juga berulangtahun di tanggal yang sama (yang ke-30) dan konon di acara ini Sang Führer berbaik hati menghadiahkan 10.000 Reichsmark kepada mantan ajudannya! Dari kiri ke kanan: SS-Sturmmann tak dikenal, SS-Sturmbannführer Max Wünsche (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 12 / 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"), SS-Unterscharführer Balthasar "Bobby" Woll (Zugführer di 2.Kompanie / schwere SS-Panzer-Abteilung 501), SS-Hauptsturmführer Hans Pfeiffer (Chef 4.Kompanie / I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 12 / 12.SS-Panzer-Division "Hitlerjugend"), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), dan SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Hermann Fegelein (Verbindungsoffizier der Waffen-SS zum Führerhauptquartier). Pfeiffer menjadi bawahan Wünsche di resimen panzer yang sama, sementara Woll adalah gunnernya jagoan panzer Michael Wittmann yang terkenal. Saya bisa bayangkan betapa terkejutnya perwira muda ini mendapati betapa perang telah "menggerogoti" Hitler, baik fisik maupun mental! BTW, dalam foto ini Hitler sedang mengamati desain dari Flakpanzer IV Wirbelwind yang disodorkan oleh Wünsche. Konsepnya sendiri berasal dari SS-Hauptsturmführer Karl Wilhelm Krause dari Flak-Zug SS-Panzer-Regiment 12 "Hitlerjugend" (juga mantan bawahan Hitler!) yang kemudian mengajukannya pada komandan resimennya, Wünsche. Hitler menyetujui konsep tersebut dan lahirlah Wirbelwind (Angin Puting Beliung) beberapa bulan kemudian! Pada dasarnya senjata bergerak anti pesawat satu ini adalah perpaduan sasis Panzer IV dengan Flakvierling 38 quad AA 20mm


Sumber :
Buku "Blitzkrieg Unleashed: The German Invasion of Poland, 1939" karya Richard Hargreaves
www.de.metapedia.org

Friday, January 10, 2020

Foto Divisionsgruppe Kräutler / Divisionsstab z.b.V. 140 / 9. Gebirgs-Division (Nord)

Pada musim semi tahun 1944 Gebirgsjäger-Regiment 139 - yang sebelumnya telah ditinggalkan di Lapland oleh unit induknya, 3. Gebirgs-Division, yang ditarik mundur pada tahun 1941 - kini ditambah kekuatannya sehingga menjadi setingkat divisi dengan nama Divisionsgruppe Kräutler. Pada bulan September tahun yang sama unit ini berganti nama menjadi Divisionsstab z.b.V. 140, yang biasa disingkat sebagai "Div.Gr.K (Div.z.b.V.140)". Pada tanggal 6 Mei 1945 OKW (Oberkommando der Wehrmacht) mengeluarkan surat perintah perubahan nama kembali, kali ini menjadi 9. Gebirgs-Division. Sayangnya, surat perintah tersebut datangnya terlambat sehingga Perang Dunia II keburu berakhir sebelum nama barunya dicantumkan dalam dokumen resmi. Uniknya lagi, kekacauan administrasi di akhir perang membuat OKW mengeluarkan perintah perubahan nama 9. Gebirgs-Division untuk dua unit yang berbeda! Akibatnya, terdapat dua divisi gunung Wehrmacht dengan nama tersebut - meskipun hanya nama di atas kertas belaka - dan untuk membedakannya maka para sejarawan menambahkan embel-embel "Nord" dan "Ost" di ujung, sesuai dengan wilayah operasionalnya. Kembali kepada 9. Gebirgs-Division (Nord): unit ini kemudian ditarik dari wilayah Lapland (Norwegia) saat pasukan Jerman terdesak oleh gabungan pasukan Soviet dan Finlandia di wilayah Arktik. Pada akhir perang dia menyerahkan diri pada pasukan Inggris bersama dengan sang Komandan yang telah memimpin unit tersebut dari sejak pembentukannya di musim semi tahun 1944: Generalmajor Mathias Kräutler. Yang lebih membingungkan adalah, beberapa dokumentasi pasca-perang menyebutkan unit ini dengan nama 10. Gebirgs-Division!

------------------------------------------------------------------------

DIVISIONSKOMMANDEUR

 Mathias Kräutler (1 Maret 1944 - 8 Mei 1945)
Generalmajor Mathias Kräutler (2 Mei 1895 - 8 September 1968) adalah perwira Gebirgsjäger asal Austria yang bergabung dengan Wehrmacht pada tahun 1938. Dia menghabiskan sebagian besar masa perangnya di Eropa Utara, terutama Norwegia. Setelah menjadi Komandan Divisionsgruppe Kräutler (1 Maret 1944 - 7 September 1944), dia kemudian dipercaya untuk menjadi Komandan Divisionsstab z.b.V. 140 (7 September 1944 - 6 Mei 1945) dan 9. Gebirgs-Division (6 Mei 1945 - 8 Mei 1945). Semua unit tersebut sebenarnya itu-itu saja, hanya kemudian mengalami perubahan nama seiring dengan berjalannya waktu. Medali dan penghargaan yang diterima oleh Kräutler: Kaiserlich und königlich Österreichische Militärverdienstkreuz III.Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern; Kaiserlich und königlich Österreichische Bronzene Militär-Verdienst-Medaille ("Signum Laudis") am Bande des Militär-Verdienstkreuzes mit Schwertern (1915); Kaiserlich und königlich Österreichische Silberne Militär-Verdienst-Medaille ("Signum Laudis“) am Bande des Militär-Verdienstkreuzes mit Schwertern (1916); Karl-Truppenkreuz; Kaiserlich und königlich Österreichische Verwundeten-Medaille; Kaiserlich und königlich Österreichische Militär-Verdienstkreuz III.Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern (1918); Goldenes Verdienstzeichen der Republik Österreich; Ehrensäbel für gutes Schießen mit der Pistole; Österreichische Kriegs-Erinnerungs-Medaille mit Schwertern; Königlich Ungarische Kriegs-Erinnerungs-Medaille mit Schwertern; Goldenes Ehrenzeichen für Verdienste um die Republik Österreich; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918; 1939 Eisernes Kreuz II.Klasse (1 Oktober 1939) und I.Klasse (14 Juli 1941); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber (30 Agustus 1941); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (15 Agustus 1942); Vapaudenristin II.luokka Finlandia (30 Juni 1943); serta Deutsches Kreuz in Gold (20 Januari 1945)


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, December 29, 2019

Foto Granatwerfer Kaliber 50mm

5 cm GRANATWERFER 205/1(r)

Dua orang jenderal Wehrmacht melakukan inspeksi ke lokasi pelatihan Turkistanische Legion (Legiun Turkistan), musim panas tahun 1943. Foto ini - yang diambil dari majalah SIGNAL edisi khusus "Ost" no.24 tahun 1943 - memperlihatkan saat mereka sedang ngadu huntu dengan awak mortir RM40 kaliber 50mm yang merupakan hasil rampasan dari Rusia. Jenderal di kiri adalah Generalmajor Hellmuth Nickelmann (Kommandeur Osttruppen z.b.V. 720), sementara jenderal di tengah adalah Generalleutnant Heinz Hellmich (Inspekteur der Osttruppen im Oberkommando des Heeres). Sebagian besar dari para sukarelawan bangsa Turkistan ini diambil dari mantan tawanan Tentara Merah yang bersedia untuk menjadi kolaborator Jerman. Legiun Turkistan pertama dibentuk pada bulan Mei 1942 dan hanya berkekuatan satu batalyon, tapi pada tahun 1943 jumlahnya membengkak menjadi 16 batalyon dengan berkekuatan 16.000 prajurit. Di bawah arahan khusus dari Wehrmacht, mereka semua ditempatkan di Front Barat, Yugoslavia dan Italia, sehingga mengisolasi mereka dari "persentuhan kembali" dengan pasukan Soviet. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam 162. (Turk.) Infanterie-Division, yang anggota-anggotanya diisi oleh orang-orang Turkistan, Azerbaijan dan Georgia. Pada akhir perang mereka menyerah pada pasukan Inggris, tapi kemudian dikembalikan lagi ke Rusia setelah Stalin - yang menganggap mereka sebagai pengkhianat - melakukan tuntutan keras kepada Inggris dan Amerika Serikat. Nasib mereka setelahnya bisa diduga: dieksekusi atau menghabiskan waktu selama bertahun-tahun di gulag (kamp kerja paksa) di Siberia!



Sumber :
www.wehrmachtss.blogspot.com

Foto Kampanye Militer Jerman di Kepulauan Dodecanese (8 September - 22 November 1943)

Dari kiri ke kanan: General der Flieger Martin Fiebig (Befehlshaber Luftwaffenkommando Südost), Oberstleutnant Kurt Kuhlmey (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 3), dan Major Bernhard Hamester (Gruppenkommandeur III.Gruppe / Schlachtgeschwader 3). Foto ini diambil pada akhir bulan November 1943 setelah berakhirnya kampanye militer Jerman di Dodecanese, Yunani, dimana pihak Jerman merebut pulau-pulau di Laut Aegea dari tangan pasukan Inggris. Peristiwa ini juga tercatat sebagai kemenangan terakhir Jerman dalam invasi ke wilayah yang masih dikuasai oleh musuhnya


Sumber :
Buku "Kos and Leros 1943: The German Conquest of the Dodecanese" karya Anthony Rogers dan Darren Tan

Thursday, December 26, 2019

Kendaraan Aneh dan Langka Third Reich

KENDARAAN AMFIBI

Landwasserschlepper

-------------------------------------------------------------------------------

KENDARAAN ANTI-TANK

3.7cm Selbstfahrlafette L/60

-------------------------------------------------------------------------------

KENDARAAN BENGKEL

 Opel Blitz 3-ton AufsetzKran


Sumber :
www.flickriver.com
www.forum.axishistory.com
www.kfzderwehrmacht.de

Tuesday, December 24, 2019

Foto Unternehmen Osterei (Operasi Telur Paskah) 12-13 April 1944


Petugas radio dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 28 - yang dikenal sebagai Batalyon Albania dalam tubuh 13. SS-Freiwilligen-Bosnien-Herzegowina-Gebirgs-Division (Kroatien) - dengan topi fez Totenkopf SS Albania (Albanerfez) mereka yang khas, melakukan komunikasi dengan markas pusat dalam Unternehmen Osterei (Operasi Telur Paskah), di Bosnia pada bulan April 1944. Tujuan utama dari operasi militer ini adalah untuk membersihkan wilayah pegunungan Majevica dari gerombolan Partisan Komunis Yugoslavia pimpinan Josif Broz Tito. Resimen SS ke-28 bergerak melintasi Mackovac dan - setelah pertempuran di Priboj - berhasil mendesak Divisi Partisan ke-38 ke arah selatan. Divisi ke-38 Tito akhirnya terusir dari Majevica beberapa hari kemudian dengan membawa serta 200 orang anggota mereka yang terluka. Dalam foto ini kita bisa melihat bintara Jerman sedang menyampaikan laporan situasi terkini dan bersiap untuk menerima perintah selanjutnya, sementara prajurit-prajurit Albania membawa perlengkapan radio di punggung mereka. Para anggota dari batalyon ini kebanyakan diambil dari etnis Albania yang bermukim di Kosovo dan Sandzak/Rashka (Serbia). Mereka mempunyai seorang imam sendiri, dan formasinya  dibentuk berdasarkan model Legion Muslim Albania di era Austro-Hungaria berpuluh-puluh tahun sebelumnya


Seorang SS-Unterscharführer Albania yang berasal dari I.Bataillon / SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger-Regiment 28 / 13.SS-Freiwilligen-Bosnien-Herzegowina-Gebirgs-Division (Kroatien) meniup flute tradisional saat sedang beristirahat di sela-sela perjalanan. Batalyon ini khusus berisi orang-orang Albania, dan tak lama kemudian dikirimkan ke Priština untuk membentuk inti dari divisi SS baru yang sepenuhnya berisi orang-orang Albania: 21. SS Waffen-Gebirgs-Division der SS "Skanderbeg" (albanische Nr. 1). Menurut kesaksian SS-Hauptsturmführer Georg Berger, Kepala Staff Divisi Skanderberg, orang-orang Albania "Terlihat sedih saat harus berangkat meninggalkan unit lama mereka". Para bintaranya mengenakan topi fez Totenkopf SS Albania (Albanerfez), yang mempunyai bentuk berbeda dengan topi fez Handschar dan dibuat berdasarkan topi tradisional bangsa Albania yang bernama qeleshe. Foto ini sendiri diambil pada bulan April 1944 saat berlangsungnya Unternehmen Osterei (Operasi Telur Paskah) di Bosnia. Operasi ini berhasil dilaksanakan, dan pasukan Partisan Yugoslavia dari Divisi ke-38 terusir dari wilayah pegunungan Majevica. Secara umum, pihak Jerman mengklaim Osterei sebagai sebuah kesuksesan besar, dimana semua target divisi berhasil terpenuhi dengan kerugian yang minimal 


Sumber :
www.instagram.com

Sunday, December 22, 2019

Foto 267. Infanterie-Division


Daftar peraih penghargaan dari 267. Infanterie-Division bisa dilihat DISINI

--------------------------------------------------------------------

DIVISIONSKOMMANDEUR (KOMANDAN DIVISI)

Robert Martinek (10 November 1941 - 2 Januari 1942)
General der Artillerie Robert Martinek (2 Februari 1889 - 28 Juni 1944) adalah mantan tentara Austro-Hungaria dalam Perang Dunia I yang kemudian bergabung dengan Wehrmacht Jerman seusai "Anschluss" (Penyatuan) dengan Jerman pada tahun 1938. Dalam Perang Dunia II, dia menjadi Komandan 267. Infanterie-Division (10 November 1941 - 2 Januari 1942), Komandan 7. Gebirgs-Division (22 Juli 1942 - 10 September 1942), serta kemudian juga bertanggungjawab atas bombardir artileri berat terhadap benteng Rusia di Sebastopol di musim panas tahun 1942. Pada tanggal 1 Desember 1942 dia mengambil alih komando XXXIX. Panzerkorps. Pada bulan Juni 1944, XXXIX. Panzerkorps berada di bawah kendali Heeresgruppee Mitte di wilayah Belorusia. Tak lama sebelum Tentara Merah melancarkan ofensif musim panas besar-besaran yang menggulung Grup AD Tengah Jerman - yang dinamakan sebagai Operasi Bagration - seorang komandan batalyon dari 12. Infanterie-Division melaporkan kekhawatirannya akan kemungkinan datangnya serangan kepada Martinek, yang saat itu sedang melakukan tur inspeksi ke unit-unit bawahannya. Martinek setuju dengan pendapat tersebut, tapi menjawabnya dengan mengutip sebuah pepatah "Siapa yang akan Tuhan hancurkan, maka Dia buat buta terlebih dahulu". Pasukan Soviet akhirnya benar-benar menyerbu laksana air bah pada tanggal 22 Juni, dan tak lama kemudian korps Martinek terkepung dari mana-mana. Sang jenderal Austria terbunuh dalam sebuah serangan udara pada tanggal 28 Juni 1944 di dekat Berezino. Selama karir perangnya, dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 26 Desember 1941 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 267.Infanterie-Division / VII.Armeekorps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte, serta Eichenlaub #388 untuk Ritterkreuz-nya pada tanggal 10 Februari 1944 sebagai General der Artillerie dan Kommandierender General XXXIX.Panzerkorps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Österreichisches Militär-Jubiläumskreuz (1908); Österreichisches Karl-Truppenkreuz; Österreichisches Militärverdienstkreuz, III. Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern (Juli 1915 dan September 1917); Österreichisches Bronzene Militärverdienstmedaille am Bande des Militärverdienstkreuzes mit Schwertern; Österreichisches Silberne Militärverdienstmedaille am Bande des Militärverdienstkreuzes mit Schwertern ("Signum Laudis" tahun 1916, 1917 dan 1918); Österreicherischer kaiserlicher Orden der Eisernen Krone, III. Klasse mit der Kriegsdekoration und den Schwertern (Agustus 1918); Goldenes Verdienstzeichen der Republik Österreich; Militärdienstzeichen, II. Klasse für Offiziere der Republik Österreich; Österreichisches Weltkriegserinnerungsmedaille mit Schwertern; Ungarische Weltkriegs-Erinnerungsmedaille mit Schwertern; Wehrmacht-Dienstauszeichnung, IV. bis I. Klasse; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; 1939 Eisernes Kreuz II.Klasse (25 September 1939) und I.Klasse (20 Mei 1940); Krimschild; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1 September 1942); Anerkennungsurkunde des Oberbefehlshabers des Heeres #336 (22 September 1941); Ordinul Coroana României (Rumania); serta Deutsches Kreuz in Gold (21 Maret 1943). Namanya juga disebutkan tiga kali dalam Wehrmachtbericht: 24 Oktober 1943, April 1944, dan 3 Juli 1944. Pada tanggal 28 Juni 1963, Artillerie-Kaserne (Barak Artileri) milik Bundesheeres Austria di Wina diberi nama sesuai nama Martinek

--------------------------------------------------------------------
 Para perwira Wehrmacht terlihat sedang melintasi sebuah jalan berlumpur - di sebuah tempat yang kemungkinan besar adalah Front Timur - di musim gugur atau awal musim dingin tahun 1941. Paling kiri adalah Generalmajor Friedrich-Karl von Wachter (Kommandeur 267. Infanterie-Division). Manusia satu ini tampaknya mempunyai keahlian (atau takdir?) langka: menjadi cadangan untuk menambal posisi yang bolong di saat genting! Hanya empat hari sebelum dimulainya Fall Gelb (penyerbuan Jerman ke wilayah Barat tanggal 10 Mei 1940), dia ditunjuk menggantikan Generalmajor Friedrich Zickwolff sebagai Komandan sementara 227. Infanterie-Division. Setelah itu, berselang 11 bulan setelah menyerahkan komando kembali kepada komandan aslinya, Wachter dipercaya untuk menjadi Komandan 267. Infanterie-Division hanya tiga minggu sebelum dimulainya Unternehmen Barbarossa (penyerbuan Jerman atas Uni Soviet)!



Sumber :
www.forum.axishistory.com

Flak (Flugabwehrkanone) kaliber 105mm

FLAK 38

Pemasangan pertama Flak 38 kaliber 105mm di bagian atap Gefechtsturm III di Humboldthain, Berlin), pada tahun 1942. Di latar belakang kita bisa melihat samar-samar bangunan Himmelfahrtskirche, sebuah gereja Evangelis yang didirikan pada tahun 1893 dan mempunyai menara setinggi 72 meter. Yang sedang ngoceh di latar depan adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara yang sedang mendengarkan sambil membelakangi kamera adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem, yang merupakan Komandan pertama dari Turmflakabteilung 123 (bagian dari 1. Flak-Division), sebuah jabatan yang diembannya dari tahun 1942 s/d pertengahan tahun 1943




Sumber :
Buku "Flaktürme Wien Hamburg Berlin" karya Hans Sakkers

Foto Flaktürme (Menara Flak)

Pada bulan Mei s/d Agustus 1942, delegasi perwira-perwira Angkatan Udara Bulgaria melakukan kunjungan ke rangkaian Flakturm (Menara Flak) Jerman di Berlin. Pada tanggal 2 Desember 1942 OKL (Oberkommando der Luftwaffe) mengeluarkan pengumuman: "Kunjungan ke rangkaian Flak dan fasilitas Luftwaffe di Berlin adalah dalam rangka pelatihan, berlangsung secara rahasia, dan hanya dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Ia (Kepala Operasi) Führungsstab der Luftwaffe". Dalam foto ini, di latar belakang kita bisa melihat gerbang utama dari Gefechtsturm III (Menara Tempur 3) di Humboldthain, dimana truk-truk Wehrmacht bisa keluar-masuk untuk membawa amunisi serta suplai lainnya. Gerbang ini bisa ditutup dengan menggunakan Panzertüren (pintu lapis baja) sebagai sebuah perlindungan tambahan dari upaya penetrasi pihak luar. Saat Tentara Merah mengepung Berlin di bulan April-Mei 1945, mereka terkejut ketika mendapati bahwa bahkan meriam terkuat mereka - yang berkaliber 203mm - tak mampu untuk membuat kerusakan berarti pada lapisan dindingnya yang mempunyai ketebalan 3,5 meter! Pada akhirnya pasukan Soviet dipaksa untuk membiarkan saja para penghuni Flaktürme Jerman ini dalam kondisi terkepung, sampai akhirnya mereka kehabisan persediaan makanan sendiri dan menyerah. Bahkan setelah diduduki oleh pihak musuh pun, menghancurkannya begitu sulit sehingga sebagian besar Flaktürme Jerman (termasuk yang ada dalam foto ini) masih kokoh bertahan sampai hari ini! Seperti biasa, nggak lengkap Aliando ngoceh kalau nggak disebutkan identifikasinya: ketiga dari kanan adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara kedua dari kanan adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem (Kommandeur Turmflakabteilung 123 / 1.Flak-Division). Foto ini sendiri diambil dari buku "Flaktürme Wien Hamburg Berlin" karya Hans Sakkers (halaman 24)


 Kunjungan delegasi Angkatan Udara Bulgaria ke rangkaian Flakturm (Menara Flak) Jerman di Berlin, yang berlangsung di bulan Mei - Agustus 1942. Foto ini memperlihatkan saat para perwira Bulgaria tersebut memperhatikan dengan seksama sebuah Flak 38 kaliber 20mm yang dipasang di Leitturm III di Humboldthain. Senjata anti pesawat udara ini merupakan salah satu dari rangkaian Flak ringan yang disebar di platform bawah menara Flak yang doperasikan oleh Luftwaffe. Tangga di latar belakang menuju ke platform atas dimana dipasang alat penjejak arah yang memudahkan dalam menembak sasaran di udara. Yang memakai ledermantel (mantel kulit) di tengah adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara perwira yang membelakangi kamera di sebelah kanannya adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem (Kommandeur Turmflakabteilung 123 / 1.Flak-Division)


 Kunjungan delegasi Angkatan Udara Bulgaria ke rangkaian Flakturm (Menara Flak) Jerman di Berlin, yang berlangsung di bulan Mei - Agustus 1942. Foto ini memperlihatkan saat para perwira Bulgaria tersebut memperhatikan dengan seksama Kommandogerät 40, sebuah penjejak arah militer yang berfungsi untuk memudahkan para awak Flak (senjata anti pesawat udara) dalam menembak targetnya. Beberapa buah alat ini dipasang dalam rentang jarak 10 meter di platform atas Leitturm III di Humboldthain, Berlin, sementara di platform bawah adalah rangkaian Flak ringan kaliber 20mm. Terlihat Oberleutnant Horst Meyer (Kommandeur Gefechtsturm III und Batteriechef) di sebelah kanan sedang memberi penjelasan kepada para tamu Bulgarianya, sementara paling kiri adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem (Kommandeur Turmflakabteilung 123 / 1.Flak-Division) dan Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division) yang sedang sibuk ngadu huntu


Pemasangan pertama Flak 38 kaliber 105mm di bagian atap Gefechtsturm III di Humboldthain, Berlin), pada tahun 1942. Di latar belakang kita bisa melihat samar-samar bangunan Himmelfahrtskirche, sebuah gereja Evangelis yang didirikan pada tahun 1893 dan mempunyai menara setinggi 72 meter. Yang sedang ngoceh di latar depan adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara yang sedang mendengarkan sambil membelakangi kamera adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem, yang merupakan Komandan pertama dari Turmflakabteilung 123 (bagian dari 1. Flak-Division), sebuah jabatan yang diembannya dari tahun 1942 s/d pertengahan tahun 1943




Sumber :
Buku "Flaktürme Wien Hamburg Berlin" karya Hans Sakkers