Sunday, October 20, 2019

Foto Kampfgeschwader 26 (KG 26) "Löwen"

 Fotografer Hugo Jaeger mengabadikan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) saat sedang berada di sebuah landasan udara di Polandia, bulan September 1939. Jenderal Luftwaffe yang sedang berdiskusi dengannya adalah Generalmajor Hans Siburg (Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 26). Di belakang Hitler berdiri SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler) dan SS-Obersturmbannführer Dr.med. Karl Brandt (Begleitarzt Führer und Reichskanzler). Sementara itu, yang sedang sibuk membuka peta di sebelah kiri adalah Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Di latar belakang kita bisa melihat sebuah pesawat Focke-Wulf Condor 200A-0 (S-8 ) "Grenzmark" yang terparkir di landasan. Pesawat ini merupakan angkutan udara pribadi sang Führer. BTW, disini kita bisa melihat dua aspek dari Hitler yang jarang terlihat: penggunaan kaca pembesar saat membaca serta holster pistol Walther PPK di ikat pinggangnya!


Sumber :
www.time.com

Sunday, October 13, 2019

Befehlspanzer (Tank Komando)

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Foto Celana Pendek Third Reich

WAFFEN-SS

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Foto Pisah-Sambut dan Pindah Tugas

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Tuesday, October 8, 2019

Kisah-Kisah Heroik Para Frontschwein (Prajurit Garis Depan)

MELANGGAR PERINTAH TAPI MENDAPAT RITTERKREUZ

Leutnant Hermann Tanczos (30 November 1921 - 4 November 1967) adalah prajurit asal Austria yang bergabung dengan Wehrmacht pada tanggal 1 Agustus 1940 dan pertama kali bertugas di Artillerie-Regiment 14. Namanya yang berbau Hungaria, "Tanczos", seringkali ditulis dengan ejaan Jerman "Tanzos" dalam dokumen-dokumen resmi yang berkaitan dengannya. Tanzcos kemudian dipindahkan ke Artillerie-Regiment 157, dan di unit inilah kemampuannya sebagai seorang pengamat artileri mendapatkan ganjarannya: dalam sebuah pertempuran sengit melawan pasukan Rusia di Cherkasy pada tanggal 10 Februari 1944, Tanczos dan unitnya diperintahkan untuk mundur. Bukannya menurut, keturunan Hungaria ini - bersama dengan dua orang prajurit artileri asal Austria lainnya - memutuskan untuk tetap tinggal dan menghadapi musuh. Mereka memanfaatkan sebuah meriam Flak 88mm yang ditinggalkan di medan tempur, dan bertempur begitu gigihnya sehingga membuat pasukan Rusia berbalik mundur! Pada awalnya orang pasti berpikir bahwa tindakan heroiknya pastilah akan mendapatkan penghargaan yang setimpal. Salah! Dia malah dituduh telah melanggar perintah, diajukan ke Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati! Untunglah pengacaranya mampu menghadirkan perwira serta saksi-saksi lain yang diperlukan sehingga, bukan hanya dia dibebaskan dari dakwaannya, tapi juga kemudian dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 21 Februari 1944 sebagai seorang Unteroffizier dan Vorgeschobene Beobachter (VB) di 4.Batterie / II.Abteilung / Artillerie-Regiment 157 / 57.Infanterie-Division / XI.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd (medalinya sendiri diterima pada tanggal 23 Mei 1944). Setelah mendapat cuti pulang dan disambut secara besar-besaran di kampung halamannya, Tanczos kembali ke medan tempur bersama dengan Artillerie-Regiment 157. Dia ditawan oleh Tentara Merah pada tanggal 14 Juli 1944, dan baru dibebaskan pada tanggal 27 Desember 1947. Tanczos memutuskan untuk tinggal di Hamburg, Jerman, sampai dengan akhir hayatnya, dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga mempekerjakan para veteran Perang Dunia II lainnya. Medali dan penghargaan lain yang diterima oleh Hermann Tanczos: Allgemeines-Sturmabzeichen; Verwundetenabzeichen in Schwarz; Eisernes Kreuz II.Klasse (16 Juli 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (10 Agustus 1942); Nahkampfspange; serta Eisernes Kreuz I.Klasse (23 Juni 1943)


 SS-Hauptsturmführer Karl Nicolussi-Leck (14 Maret 1917 - 30 Agustus 2008) adalah anak seorang petani keturunan Jerman dari Tirol Selatan, utara Italia, yang bergabung dengan Waffen-SS pada bulan Januari 1940, dan ditempatkan di Resimen "Germania", cikal-bakal Divisi SS "Wiking". Dia ikut berpartisipasi dalam penyerbuan Jerman ke Rusia pada tahun 1941, dan dari sejak saat itu menghabiskan sebagian besar masa tempurnya di Front Timur. Puncak prestasinya diraih pada tahun 1944, saat Nicolussi-Leck menjadi komandan sebuah kompi tank Panther Wiking dalam usahanya untuk membebaskan pasukan Jerman yang terkepung di wilayah Kovel, bulan Maret 1944. Pada tanggal 27 di bulan yang sama, dengan proses pembebasan masih berlangsung, Nicolussi-Leck tiba-tiba menerima perintah untuk menghentikan semua upaya ofensif. Pada saat itu padahal dia telah menjalin kontak radio dengan garnisun Jerman yang terkepung, dan menganggap bahwa pembebasan mereka tak bisa ditunda-tunda lagi. Dia lalu memerintahkan operator radionya untuk mengirimkan balasan pada markas pusat bahwa dia (Nicolussi-Leck) tak bisa ditemukan keberadaannya, dan dengan itu tetap meneruskan gerak maju ke Kovel! Tiga hari kemudian - setelah melewati pertempuran sengit - dia dan tujuh tank lainnya akhirnya mampu mencapai garnisun yang terjebak, di awal pagi tanggal 30 Maret 1944. Kedatangannya menambah kekuatan pertahanan garnisun Jerman, sehingga mereka mampu bertahan sampai akhirnya dibebaskan oleh pasukan pembebas yang lebih besar. Meskipun bisa dibilang telah melanggar perintah dari atasannya, Nicolussi-Leck dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 April 1944 sebagai SS-Obersturmführer dan Chef 8.Kompanie / II.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division “Wiking” / LVI.Armeekorps / 2.Armee / Heersgruppe Mitte. Rekomendasi penganugerahannya juga menyebutkan bahwa dia telah menghancurkan 17 tank Rusia dalam prosesnya, meskipun ada kemungkinan bahwa angka tersebut adalah korban total yang dicapai oleh seluruh kompinya. Seusai perang dia banyak membantu mantan anggota SS yang melarikan diri ke Amerika Selatan. Dia sendiri bermigrasi ke Argentina pada tahun 1948, hanya untuk kembali ke kampung halamannya di Tirol Selatan (Italia) pada awal tahun 1950-an, dimana dia bekerja sebagai wirausahawan di Mannesmann. Medali dan penghargaan lain yang telah diraih oleh Nicolussi-Leck: Eisernes Kreuz II.Klasse (25 Juli 1942); Eisernes Kreuz I.Klasse (9 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz (2 September 1942); Panzerkampfabzeichen in Silber (11 September 1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (10 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 3 April 1944


Sumber :
Foto koleksi pribadi Angel Farré
www.historyofthewaffenss.com
www.tracesofwar.com
www.wehrmacht-awards.com

Wednesday, September 25, 2019

Foto Monumen Feldherrnhalle

 Generalleutnant Walther von Reichenau (Kommandierender General VII. Armeekorps) memberikan hormat militer di depan Feldherrnhalle, Münich, dalam rangkaian upacara sumpah setia para anggota baru NSDAP yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 1935. Feldherrnhalle (Aula Marsekal Lapangan) sendiri adalah loggia (bangunan berpilar lengkung) yang terletak di Odeonsplatz, yang dibangun pada tahun 1841 di masa kekuasaan Raja Bavaria Ludwig I. Bangunan ini kemudian menjadi monumen suci kaum Nazi setelah menjadi tempat utama kudeta yang gagal pada tanggal 9 November 1923, dimana 16 orang anggota NSDAP (dan dua petugas polisi) terbunuh. Di masa kekuasaan Adolf Hitler, pada tanggal 9 November setiap tahunnya selalu diselenggarakan napak-tilas untuk mengenang peristiwa kudeta tersebut - yang dinamakan sebagai "Beer Hall Putsch" - dengan puncak acaranya selalu diadakan di Feldherrnhalle


Rangkaian rangkaian upacara sumpah setia para anggota baru NSDAP yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 1935 di Feldherrnhalle, Münich. Para petinggi Nazi dan Wehrmacht ikut hadir dalam acara ini. Yang terakhir ikut hadir meskipun notabene acara yang diselenggarakan adalah khusus untuk kepentingan NSDAP. Fenomena dimana Angkatan Bersenjata Jerman yang sedikit demi sedikit mulai tunduk pada kekuasaan Nazi ini biasa disebut sebagai "Das Hakenkreuz über der Wehrmacht" (Swastika diatas Wehrmacht). Baris depan, dari kiri ke kanan: Oberst Hellmuth Felmy (Höherer Fliegerkommandeur V), kemungkinan General der Artillerie Wilhelm Ritter von Leeb (Oberbefehlshaber Heeresgruppenkommando 2), jenderal Heer tak dikenal, Generalleutnant Walther von Reichenau (Kommandierender General VII. Armeekorps), SS-Standartenführer Hans Dauser (Leitender Staatssekretär und Leiter der Abteilung "Arbeit und Fürsorge" im Bayerischen Staatsministerium für Wirtschaft), dan SA-Gruppenführer Ludwig Siebert (Bayerischer Ministerpräsident und Vorsitzender der bayerischen Staatsregierung)


Sumber :
www.beeldbankwo2.nl

Tuesday, September 24, 2019

Foto Rongsokan Mesin Perang Sekutu

 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) menginspeksi sebuah tank Prancis dari jenis Renault Char B1 bis milik Peleton ke-1 / Kompi ke-3 / 8e BCC (Bataillon de Chars de Combat) yang hancur dalam pertempuran melawan pasukan Jerman di Moy, tanggal 20 Mei 1940 (unit Wehrmacht yang berhadapan dengan tank ini kemungkinan adalah Gefechtsgruppe Nedtwig pimpinan Oberstleutnant Johannes Nedtwig dari Panzer-Regiment 1). Foto oleh Kriegsberichter Somme


Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl

Monday, September 23, 2019

Foto Mobil Steyr Era Third Reich

STEYR 640

Generalmajor Hermann Recknagel (Kommandeur 111. Infanterie-Division) bersama dengan para staff-nya di atas mobil Steyr 640 Kfz21 Kommandeurwagen, yang diabadikan dalam sebuah foto yang kemungkinan besar diambil di medan perang Front Timur pada tahun 1942. Simbol belah ketupat berwarna kuning di spakbor sebelah kiri adalah lambang 111. Infanterie-Division, sementara panji segitiga yang terpancang di spakbor kanannya menunjukkan bahwa pemilik mobil langka beroda enam tersebut adalah seorang Divisionskommandeur (Komandan Divisi). Medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang tercantol di leher sang Jenderal - yang mengenakan monokel di mata kanannya ini - didapatkannya pada tanggal 5 Agustus 1940 sewaktu masih menjadi Oberst dan Komandan Infanterie-Regiment 54 / 18.Infanterie-Division. Ketiadaan medali Deutsches Kreuz di seragamnya menunjukkan bahwa foto ini diambil sebelum tanggal 11 Februari 1943 (tanggal penganugerahan DKiG untuk Recknagel)


Generalmajor Hermann Recknagel (Kommandeur 111. Infanterie-Division) menatap mobil Steyr 640 Kfz21 Kommandeurwagen yang merupakan tunggangan utamanya saat bertugas di medan perang Rusia. Recknagel menjadi Komandan 111ID dari tanggal 1 Januari 1942 s/d 1 November 1943. Dia terbilang cukup berhasil dalam memimpin divisinya, yang terbukti dari penghargaan medali Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya, yang didapatkannya pada tanggal 6 November 1943 sewaktu sudah berpangkat Generalleutnant. Foto ini sendiri kemungkinan besar diambil pada tahun 1942

Sumber :
Foto koleksi pribadi Kerryboo
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, September 22, 2019

Penandatanganan Menyerahnya Belgia dalam Perang Dunia II (1940)


Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), adalah markas sementara 6. Armee Jerman pimpinan Generaloberst Walther von Reichenau selama berlangsungnya Blitzkrieg ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia dan Luxemburg) di bulan Mei 1940. Kastil yang telah berdiri dari sejak tahun 1127 ini mencatatkan namanya dalam sejarah setelah dijadikan sebagai lokasi penandatanganan menyerahnya Belgia pada tanggal 28 Mei 1940, di akhir Pertempuran Lys


Pada pukul 09:35 pagi tanggal 28 Mei 1940, mobil sedan Touring Plymouth P6 Deluxe 1938 empat pintu yang membawa delegasi militer Belgia tiba di halaman Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia) - yang merupakan markas dari 6. Armee Jerman - untuk menegosiasikan penyerahan Belgia dalam Perang Dunia II. Delegasi Belgia terdiri dari Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), Kapten Liagre (perwira pasukan cadangan yang ditunjuk sebagai penterjemah), Jacques Pelgrims (anggota pasukan cadangan yang ditugasi membawa bendera putih), serta Léon Vermeulen (prajurit korps transportasi yang ditunjuk sebagai supir)


Pada pukul 09:37 pagi tanggal 28 Mei 1940, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (tengah, Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dan pengiringnya, Kapten Liagre, disambut oleh Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee) di anak tangga Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia)


 Dengan diantar oleh seorang perwira Wehrmacht, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) memasuki bagian dalam Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Kentara sekali ekpsresi murung serta stress sang jenderal, karena di hari itu - 28 Mei 1940 - dia ditugasi oleh Raja Belgia Leopold untuk mendiskusikan gencatan senjata dengan pihak Jerman. Situasi pasukan Belgia sendiri sudah dalam tahap kritis, dengan hanya menguasai wilayah seluas 1.700 m2!


Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) menerima delegasi Belgia yang datang untuk merundingkan gencatan senjata serta penyerahan pasukannya. Foto diambil pada pukul 09:40 tanggal 28 Mei 1940 di ruang perpustakaan Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Joachim von Kortzfleisch (Kommandierender General XI. Armeekorps), Oberst Günther Lohmann (Kommandeur Luftwaffe bei der 6. Armee), Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (membelakangi kamera, Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), Generaloberst Reichenau, Kapten Liagre (membelakangi kamera, pengiring Jenderal Derousseaux), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6. Armee)


Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee), yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Kapten Liagre (Perwira Belgia), Jenderal Derousseaux, Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Generaloberst Reichenau (Oberbefehlshaber 6.Armee), Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee). Foto ini memperlihatkan saat Oberst Mauchenheim membacakan butir-butir perjanjian


Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee), yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Jenderal Derousseaux, Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Oberleutnant Hans-Leo von Luttitz (IIb Personalverwaltung – 2. Adjutant 6. Armee), Generaloberst Reichenau (Oberbefehlshaber 6.Armee), Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee), Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), Generalmajor Erich Marcks (Chef des Generalstabes 18. Armee), dan Oberst Günther Lohmann (Kommandeur Luftwaffe bei der 6. Armee). Yang duduk di ujung kanan adalah Generalleutnant Joachim von Kortzfleisch (Kommandierender General XI. Armeekorps)


 Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee). Hanya 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk membaca semua ketentuan serta memutuskan jawaban, dan pada pukul 10:00 masing-masing pihak membubuhkan tandatangannya di kertas perjanjian. Dari kiri ke kanan: Kapten Liagre (hanya sedikit terlihat, perwira pasukan cadangan Belgia yang ditunjuk sebagai penterjemah), Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Jenderal Derousseaux, Oberleutnant Hans-Leo von Luttitz (penterjemah pihak Jerman), perwira tidak dikenal, Generaloberst Reichenau, Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), dan Generalmajor Erich Marcks (Chef des Generalstabes 18. Armee). Foto diambil pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg)


 Saat beberapa kelengkapan terakhir perjanjian gencatan senjata dibereskan, pada pukul 10:10 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) dengan gembira memberitahu sang Führer di Berlin sono bahwa pasukan Jerman telah secara resmi mengalahkan pihak bertahan Belgia. Sebuah kemenangan besar! Foto diambil pada tanggal 28 Mei 1940 di ruang perpustakaan Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Para staff 6. Armee ikut mendengarkan dengan bangga saat sambungan telepon dari Feldfernsprecher (Telepon Lapangan) terhubung ke Berlin, sementara seorang staff lain memberi tanda garis-garis demarkasi di atas selembar peta besar


Pada pukul 10:30 tanggal 28 Mei 1940 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) mengantar ketua delegasi Belgia, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), ke mobilnya yang telah menunggu di halaman Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Seperempat jam kemudian radio-radio Jerman memberitakan dengan gegap gempita berita penyerahan pasukan Belgia. Perwira dengan adjutantschnurr (tambang ajudan) di belakang Reichenau adalah Oberst Rüdiger von Schuler (IIa Personalverwaltung – 1. Adjutant 6. Armee)


Setelah "pembukaan" oleh pihak Belgia pada tanggal 28 Mei 1940, kini giliran pihak Jerman yang mendatangi markas besar pasukan Belgia di Château Saint-André lez-Bruges (Flanders) - di hari yang sama - untuk mensosialisasikan isi-isi perjanjian gencatan senjata yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Delegasi Jerman datang dengan membawa sebuah bendera putih besar. Foto diambil oleh Kriegsberichter Pfitzner


Sumber :
Buku "Leopold III: de koning, het land, de oorlog" karya Jan Velaers dan Herman Van Goethem
Identifikasi oleh Gregg "Graveland"
www.ebay.com
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.kids.kiddle.co
www.maisondusouvenir.be

Saturday, September 21, 2019

Foto Schwerer Panzerjäger Tiger (P) Ferdinand-Elefant (Sd.Kfz.184)

FERDINAND 

 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Hugo Beißwänger (General beim Chef der Heeresrüstung), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (membelakangi kamera, Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (tertutup oleh Speer, Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (tertutup oleh Speer, Generalinspekteur der Panzertruppen)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (Generalinspekteur der Panzertruppen)


Sumber :
www.spiegel.de