Tuesday, October 21, 2014

Foto Olahraga dan Kompetisi Ski

Seorang anggota SS dalam sebuah Skimeisterschaft (Kompetisi Ski) yang diselenggarakan sebelum Perang Dunia II. Elang yang terpasang di topinya merupakan elang SS versi pertama (1927-1936), sementara topi yang dikenakannya adalah skimütze (topi ski) pola pertama juga yang mempunyai warna abu-abu tanah. Dalam beberapa penerbitan, topi jenis ini sering disalahartikan sebagai bergmütze (topi gunung) karena bentuknya yang sangat mirip


 Skimeisterschaften (Kompetisi Ski) di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Para pesertanya berasal dari unit-unit SS und Polizei seperti SD (Polisi rahasia) dan Ordnungspolizei (Polisi Umum). Mereka mengenakan bergmütze (topi gunung) Allgemeine-SS yang berwarna hitam. Di tempat ini terdapat pula Polizei-Skischule yang melatih para calon polisi berski. Nama kompetisinya adalah "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft"


 SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939


 SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dia mengenakan Deutsches Reiterabzeichen (German Horseman's Badge) di bawah medali Goldenes Parteiabzeichen der NSDAP dan DRL Sportabzeichen


 SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei) dan SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dari kiri ke kanan: Kurt Daluege, Brenner, Reinhard Heydrich, dan Becker


Selain kompetisi ski yang diikuti para anggota SS dan Polizei, pada tahun 1939 di Kitzbühel (Austria) diadakan pula kompetisi ski untuk para anggota Wehrmacht (Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine). Para pesertanya mendapat kenang-kenangan sebuah pin khusus yang memajang Reichskriegsflagge, Adler Wehrmacht, Gamsbock dan ski di atas peta "Jerman Raya"


Sumber :
www.commons.wikimedia.org
www.wehrmacht-awards.com

Serangan Pasukan Katak Regia Marina ke Pelabuhan Alexandria




Oleh : Waffen Armee

Setelah mengalami kekalahan atas Inggris dalam Pertempuran Tanjung Matapan (28 Maret 1941), Regia Marina (Angkatan Laut Italia) mulai menyusun rencana pembalasan. Rencana balas dendam ini sebenarnya termasuk bagian dari komando operasi komando elit Decima Flottiglia MAS sejak tahun 1940 sebagai upaya melumpuhkan kekuatan angkatan laut Inggris di pelabuhan Alexandria. Senjata yang akan digunakan ialah senjata khusus yang ujungnya dilengkapi hulu ledak seberat 220 kg. Senjata bawah air ini disebut SLC (Siluro a Lento Corsa).

SLC sendiri adalah torpedo yang membutuhkan penunggang untuk mengendalikannya, dan merupakan senjata rahasia Italia di Perang Dunia II. Torpedo ini memiliki panjang 5,5 m dengan diameter 0,5 m dan digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan kecepatan 4 km/jam. Senjata ini mampu menjangkau jarak hingga 16 km. Selain itu, senjata ini juga dapat bergerak hingga di kedalaman 30 m, cukup aman untuk bersembunyi dari pantauan kapal-kapal pengintai.

Satu bulan kemudian Italia mengirimkan kapal selam Gondar yang membawa 3 SLC beserta 6 operator SLC dan 2 cadangan menuju Alexandria. Di antara para operator itu ada Tenente (Letnan) Elios Toschi sang penemu SLC. Tetapi di perjalanan mereka dipergoki kapal perusak Australia HMAS Stuart dan langsung dihujani serangan. Gondar mendapat kerusakan namun masih mampu menyelam. Kesialan tidak berhenti sampai disini. Keesokan harinya ketika harus naik ke permukaan untuk mengisi baterai, Gondar dipergoki pesawat patroli Short Sunderland dan diserang. Spontan Gondar lumpuh.

Menyadari serangan ke Alexandria tidak mungkin dilakukan, Capitano (Kapten) Fransesco Brunetti memerintahkan awaknya untuk meninggalkan Gondar. Khawatir Gondar akan jatuh ke tangan Inggris, ia pun memerintahkan agar menenggelamkan Gondar. Semua awak yang selamat ditawan termasuk Tenente Elios Toschi. Namun ia berhasil melarikan diri  dan mencapai pelabuhan di Goa, India. Setelah repatriasi, ia berhasil pulang ke Italia dan kembali bergabung dengan Regia Marina.

Setelah mempelajari kegagalan-kegagalan yang terjadi, Regia Marina mulai mempelajari dengan seksama gerak-gerik musuhnya. Akhirnya diputuskan kapal-kapal yang akan dijadikan target penyerangan: HMS Furious, HMS Valliant dan HMS Queen Elizabeth (kapal bendera Laksamana Sir Andrew Cunningham).

Pada 3 Desember 1941, operasi dilaksanakan. Dengan menggunakan kapal selam Scirè, mereka membawa diam-diam 3 SLC meninggalkan pangkalan La Spezia. Dalam waktu 6 hari perjalanan mereka di Leros, Yunani. Setiap awak di dalamnya siaga satu, tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan kapal meski untuk sekedar membeli rokok. Demi kerahasiaan operasi, intelijen Italia memberi rumor bahwa kapal selam Scirè mengalami kerusakan yang menyebabkannya harus berlabuh di Leros untuk diperbaiki.

Beberapa hari kemudian, pesawat amfibi yang membawa 10 anggota Regia Marina datang. Mereka lah yang akan menunggangi SLC dalam operasi yang mendapat sebutan Operasi GA-3 ini, yaitu:

1. SLC 221, ditunggangi oleh Capitano Luigi Durand De La Penne dan Tenente Emilio Bianchi. Target mereka adalah HMS Valiant.

2. SLC 222, ditunggangi oleh Capitano Antonio Marceglia dan Tenente Spartaco Schergat dengan target HMS Queen Elizabeth

3. SLC 223, ditunggangi oleh Capitano Vincenzo Martellotta dan Tenente Mario Marino dengan target HMS Furious atau HMS Illustrious.

Malam hari pada tanggal 18 Desember 1941, kapal selam Scirè dibawah komando Capitano Junio Borghese mendekati Alexandria. Setelah situasi dirasa aman, Scirè mulai naik ke permukaan. Sebelum para penunggang SLC berangkat, Il Capitano memberi taklimat. Jika misi berhasil, mereka akan dijemput di Rosetta. Namun jika misi gagal atau dibatalkan, mereka akan dianggap hilang atau tewas.

Kendala muncul saat mereka hampir tiba di Alexandria, yakni jaring baja anti kapal selam. Hal ini yang kurang dicermati oleh intelijen Italia. Sangat tidak mungkin untuk menggergaji jaring baja ini. Akhirnya kesempatan datang ketika pukul 02.30 dini hari tanggal 19 Desember 1941, tiga kapal perusak dan satu kapal pengangkut hendak memasuki Alexandria. Melihat keberuntungan menghampiri mereka, Capitano De La Penne dan kawan-kawan segera mengikuti konvoi itu dari belakang. Setelah berhasil memasuki Alexandria, mereka berpencar mencari sasaran masing-masing.

De La Penne dan Bianchi tidak kesulitan menemukan HMS Valiant. Namun kapal ini juga dilindungi oleh jaring baja anti kapal selam. Mereka pun mencoba mendorong sekuat tenaga. Tetapi saat akan berhasil, SLC mereka menyentuh sisi kapal. Ujung SLC yang bermagnet dan tangan mereka yang mulai membeku membuat SLC sulit ditarik. Bianchi mencoba mencari cara lain, namun peralatan renang miliknya rusak. Ia pun terhempas ke permukaan bagaikan torpedo yang melesat. Kini tinggal De La Penne yang bekerja sendirian. Ia langsung memasang waktu peledak dan meninggalkan HMS Valliant dengan cepat. Bukannya melarikan diri, dengan kesetiaan kawannya ia malah menyertai Bianchi hingga mereka tertangkap.

Marceglia dan Schergant juga berhasil menemukan HMS Queen Elizabeth. Mereka segera memasang waktu peledak dan buru-buru naik ke daratan. Setelah mencabut semua atribut kemiliteran, mereka kemudian mengenakan seragam sipil dan langsung mencari jalan menuju Rosetta. Mereka tertangkap akibat keteledoran intelijen Italia, saat mereka membelanjakan mata uang Inggris yang sudah tidak berlaku.

Nasib sial juga menghampiri Martellotta dan Marino. Mereka tidak menemukan target meski sudah berkeliling mencari target. Belakangan target yang mereka cari sudah meninggalkan Alexandria, 2 hari yang lalu. Setelah bosan berkeliling mereka akhirnya memilih target lain, kapal tanker besar Sargona yang berbobot 7.750 ton milik Norwegia. Tepat di sebelah Sargona ada kapal perusak HMS Jervis. Mereka akhirnya tertangkap juga saat mencapai daratan oleh patroli Inggris yang mulai bersiaga setelah tertangkapnya De La Penne dan Bianchi. Mereka langsung dibawa ke markas intelijen Royal Navy. Keempat manusia katak ini kontan diinterogasi habis-habisan. Namun mereka tetap "tutup mulut".

Sir Andrew pun terbangun dari tidurnya, dan memerintahkan penyelam untuk menyisir seluruh pelabuhan. Namun sia-sia saja karena waktu yang mereka miliki sangat sempit.

Ledakan pertama pun terjadi dari kapal Sargona. Sir Andrew bahkan sampai terpental. HMS Jervis turut mendapat kerusakan parah. Ledakan kedua menyusul dari HMS Queen Elizabeth. Kapal ini bahkan terangkat lima kaki dari permukaan air akibat ledakan dari bawah. Dan yang terakhir ledakan dari HMS Valliant.

Setelah peristiwa itu Italia tidak pernah mengusahakan pembebasan mereka.



RAF Medmenham, Upaya Sekutu Menghancurkan Fasilitas Roket Jerman




Oleh : Waffen Armee


Peringatan 70 tahun D-Day 6 Juni 2014 lalu masih menyisakan berbagai kenangan dalam diri veteran Perang Eropa. Salah satunya adalah tentang kisah divisi pemotretan udara  AU Inggris  yang namanya  jarang dipublikasikan. Peran mereka selalu tenggelam di balik kesangaran epik skuadron-skuadron kombatan Sekutu. Setidaknya sampai suatu ketika mereka menggelar serangkaian operasi foto udara yang amat menentukan akhir Perang Eropa. Berkat operasi ini lah, kini, hampir semua negara menyadari pentingnya unit pemotretan udara.
 
Tanpanya, Perang Eropa atau Perang Dunia II mungkin akan berakhir beda. Hal ini dinilai tak berlebihan jika mengetahui peran divisi pemotretan udara di RAF (Royal Air Force) Medmenham dalam pencarian bunker-bunker penyimpanan V-1 dan V-2. Keduanya adalah senjata rahasia sekaligus senjata pamungkas Jerman yang amat menakutkan. Warga Inggris, termasuk tentara Sekutu, tak akan pernah bisa melupakan bunyi desis keras setiap kali bom-bom terbang itu akan menukik dan meluluhlantakkan apa aja yang ada di hadapannya.

V-1 adalah sejenis rudal darat ke-darat, sementara V-2 bisalah jika disebut sebagai roket balistik berhulu ledak tinggi.  Jika disimak dari bentuknya, tak bisa dipungkiri, keduanya adalah embrio rudal jelajah dan rudal balistik antar benua yang hingga sekarang masih menjadi momok masyarakat dunia.
 
Dalam Perang Eropa, Inggris dan ibukota London adalah sasaran utama karena dari tempat inilah Jerman tahu Sekutu mengatur semua rencana serangan ke Jerman dan semua wilayah yang di duduki Nazi. V-1 tercatat mulai menyerang  sejak 13 Juni 1944 atau sekitar seminggu setelah Panglima Sekutu Jenderal Dwight D. Eisenhower melancarkan serangan pembuka (D-Day) ke Normandia. Sementara V-2 mulai menghujani tempat yang sama  tiga bulan kemudian. Serangan ini hampir tak bisa ditangkis karena tak ada satu pun senjata anti serangan udara yang mampu menghadangnya di tengah jalan. Tak heran, jika horor yang tercipta pun amat membekas dalam diri setiap penduduk dan tentara yang bertugas di Inggris.
 
Horor yang paling menakutkan dan meruntuhkan nyali, utamanya adalah V-1. Dari kejauhan, bom terbang ini menciptakan bunyi desis yang lambat laun semakin keras sebelum akhirnya menukik dan membumihanguskan benda apa saja yang dihantamnya. Itu sebab, arsenal yang satu ini kerap disebut buzz bomb atau doodle bugs karena “kehadirannya” mirip serangan sekelompok serangga raksasa. Sejak 13 Juni itu, pimpinan Nazi Jerman Adolf Hitler setidaknya  telah memerintahkan untuk meluncurkan 100 unit V-1. Akibat serangan ini, lebih dari 6.000 penduduk London tewas, 17.000 terluka dan ribuan gedung runtuh.
 
V-1 yang bentuknya seperti pesawat terbang tanpa awak diluncurkan dengan ketapel lalu melesat dengan kecepatan 350 mil/jam di ketinggian 3.000 kaki. Di mocong setiap arsenal seberat dua ton ini, termuat 2.000 pon bahan peledak. Meski ratusan pesawat Spitfire telah dikerahkan untuk memburu sejadi-jadinya, sangat sedikit  yang benar-benar mampu menjatuhkannya di tengah jalan. Petaka dan kengerian yang ditimbulkan V-2 lebih-kurang mirip dengan V-1.

Jerman telah meluncurkan sekitar 4.300 unit V-2 ke arah daratan Inggris, yang efek ledakannya kemudian membunuh 2.500 orang dan melukai 6.000 orang lainnya.
 
Tak kurang dari PM Inggris Winston Churchill dan Panglima Sekutu Dwight D. Eisenhower dibuat pusing menghadapi senjata yang tak pernah mereka bayangkan ini. Mereka sempat memerintahkan upaya pencarian situs-situs peluncuran dan pemboman terukur ke sejumlah tempat yang dicurigai, yakni di wilayah Perancis. Namun, Jerman terlalu pintar untuk menyamarkan situs-situs tersebut sehinga tak mudah dikenali dari udara. Situs-situs peluncurannya pun disebar di berbagai negara, sehingga selalu memiliki kesempatan menyerang manakala situs yang lain diserang lawannya.
 
Apakah Sekutu tak mampu mengantisipasi kehadiran arsenal yang kerap disebut Hitler sebagai The German’s Secret Revenge Weapons itu? Sebenarnya tidak juga. Dari pertanyaan ini lah  kemudian merebak kisah tentang peran perwira mapun akademisi yang bekerja di RAF Medmenham  dalam peringatan D-Day kemarin, juga tentang Operasi Hydra dan Crossbow yang mereka jalankan. Kedua operasi disadari jarang diceritakan, karena selalu tenggelam dengan kisah-kisah heroik lain yang lebih menarik disimak kalangan muda di Eropa.

Operasi Hydra dan Crossbow
Meski seratus  V-1 dan ribuan  V-2 telah membumihanguskan Inggris dan London, kehancuran yang lebih besar diam-diam sesungguhnya telah ditepis  RAF Medmenham. Dari markas yang terletak di Danesfiled House, Buckinghamshire, Inggris itulah,  para ahli interpretasi foto udara  telah berhasil “mengungkap” fasilitas perancangan/pembuatan serta bunker-bunker penyimpanan kedua bom pintar, jauh sebelum serangan ke Inggris itu terjadi. Berkat temuan ini pula selanjutnya rencana peluncuran ribuan V-1 dan V-2 berhasil digagalkan.

Fasilitas dan bunker-bunker itu dibombardir lewat serangkaian serangan udara. Dalam catatan resmi pasukan Sekutu, misi pemboman digelar lewat Operasi Hydra pada 17/18 Agustus 1943, dan kedua, Operasi Crossbow pada November 1943. Hydra digelar untuk menghancurkan fasilitas perancangan serta uji-coba V-1 dan V-2 di Peenemunde, pesisir di sebelah barat Jerman yang menghadap ke Laut Baltik. Sementara  Crossbow diarahkan untuk menghancurkan pusat peluncuran V-1 dan V-2 di La Coupole, Pas-de-Calais, Perancis – yang posisinya sudah head-on dan siap menyerang Inggris dari jarak dekat.

Crossbow sendiri bisa dibilang merupakan kelanjutan Hydra. Operasi ini digelar dengan semangat tinggi karena Sekutu semakin meyakini bahwa Jerman serius membangun persenjataan khusus yang memang dikerjakan untuk memenangkan Perang Eropa.

Inisiatif Hydra sendiri, alkisah, dimulai secara kebetulan setelah dinas intelijen Inggris, MI6, mengintersep surat rahasia berisi upaya pengembangan senjata rahasia Jerman pada November 1939. Surat ini ditulis oleh seseorang dalam perjalanan ke Oslo, Norwegia, yang bekalangan diketahui merupakan ahli matematika dan fisikawan Jerman bernama Hans Ferdinand Mayer. Tapi untuk beberapa waktu MI6 tak memberi respon yang memadai.  Kuatir isinya berupa jebakan, mereka hanya berujar: “Too good to be true.”

Tak demikian respon yang diberikan RAF Medmenham. Untuk memastikan kebenaran isi surat tersebut, mereka mengerahkan penerbangan Spitfire dan Hurricane  menyusup ke berbagai tempat di wilayah musuh dan melakukan pemotretan udara di sana. Penerbangan yang sebenarnya terbilang nekad ini akhirnya sampai pada serangkaian foto yang memperlihatkan fasilitas yang aneh. Kening para analis para Photographic Interpreter (PI) berkerut ketika pandangan mata mereka tertuju pada sederetan bangunan mirip fasilitas pengembangan senjata. Tapi sampai titik itu, mereka tak pernah tahu senjata jenis apa yang tengah dikembangkan Jerman, karena Sekutu tak pernah punya padanannya.

Untuk memastikan fasilitas tersebut, pihak Inggris pun mengintrogasi sejumlah tawanan dan intel Polandia, dan PM Inggris Winston Churchill selanjutnya memutuskan untuk membom. Tapi lokasi fasilitas ini tak mudah ditembus. Letaknya jauh di belakang garis pertahanan lawan. “Oleh karena Peenemunde di luar jangkauan sinyal radio navigasi, pemboman harus dilakukan saat terang bulan. Kita tak bisa menjamin keselamatan mereka, jika di sana mereka berhadapan dengan para penempur Jerman. Tapi, walau bagaimanapun, sasaran itu harus dimusnahkan!” Demikian seru Churchill.



Marder




Oleh : Hostuf Ajisaka

Marder adalah model-model tank dari tank destroyer Jerman yang diproduksi untuk menggantikan peran dari Panzerjäger. Ada tiga seri Marder, yaitu Marder I, Marder II, dan Marder III. Marder I mulai diproduksi pada akhir 1941 untuk menghadapi T-34 Uni Soviet. Untuk keperluan ini, Panzerjäger tidak efektif, karena meriam 47 mm sama sekali tidak dapat menembus pelindung T-34. Maka, militer Jerman mendesain tank destroyer baru yang lebih kuat dengan memakai meriam 75 mm.


1. Marder I



Marder I di tahun 1943


Alfred Becker di dalam pabrik konstruksinya di Kota Paris

 Generalfeldmarschall Erwin Rommel ketika menginspeksi Divisi Panzer ke-21 bersama General Feuchtinger dan Major Becker pada Mei 1944, di Normandia

Marder I mulai diproduksi pada Mei 1942 dengan nama 7.5 cm Pak 40/1 auf Geschützwagen Lorraine Schlepper (f), SdKfz 135. Ide perancangan Marder I didapatkan dari Kapten Alfred Becker dari Divisi Infanterie ke-227. Dia adalah orang yang pertama kali memiliki ide untuk menempatkaan beberapa meriam artileri di atas beberapa chassis traktor pengangkut Perancis Tracteur Blinde 37L (Lorraine) yang berhasil dirampas sebanyak 300 unit selama Blitzkrieg. Pimpinan militer Jerman menindaklanjuti hasil percobaan Kapten Becker dengan memasang meriam antitank 75 mm PaK 40 L/46. Marder I pertama kali tampil di medan tempur Rusia pada tahun 1942.

Pada pertengahan Juli dan Agustus 1942, 170 unit Marder telah dibuat dengan memakai chassis Lorraine. Kemudian, beberapa tank Perancis dan tank Polandia lainnya juga dikonversi sebagai dasar pembuatan Marder I, termasuk Hotchkiss H39 dan FCM 36. Marder I pada umumnya digunakan di Front Timur dan telah banyak membawa kesuksesan. Kemudian mereka pun menjadi komponen yang sangat penting pada Divisi lapis baja Divisi Panzer ke-21 di Normandia.


2. Marder II



 Marder II (Sd.Kfz. 131) di wilayah Uni Soviet pada tahun 1943

 Marder II mulai diproduksi pada Juni 1942 dengan menggunakan chassis Panzer II. Senjata yang digunakan sama dengan Marder I, yaitu 75 mm PaK. Beberapa unit juga ada yang menggunakan 76,2 mm (76,2 mm PaK 36 L/.51,5) yang berasal dari meriam-meriam antitank milik Uni Soviet yang berhasil dirampas. Ada beberapa versi dari Marder II, dan yang terpenting ada dua, Sd.Kfz. 132 (Sonderkraftfahrzeug 132) dan Sd.Kfz. 131. Versi Sd.Kfz. 132 dibuat dengan chassis Panzer II Ausf. D dan E, dengan meriam 76,2 mm. Sedangkan Sd.Kfz. 131 dibuat dengan chassis Panzer II Ausf. A, B, dan C. Versi ini didesain ulang untuk memperluas kompartmen awak dan memakai meriam 75 mm PaK 40 L/46.


3. Marder III



 Marder III diproduksi dengan nama resmi Panzerjäger 38(t) für 7.62 cm PaK 36(r), Sd.Kfz. 139 dan memakai chassis  Panzer 38(t). Marder versi ini meskipun memakai meriam 76,2 mm tetapi telah dimodifikasi sehingga dapat menembakkan amunisi 75 mm standar Jerman. Selain meriam, Marder III juga dilengkapi dengan sebuah senapan mesin 7,92 MG 37. Model ini kemudian didesain ulang dengan memindahkan mesin ke belakang, dan selanjutnya diberi nama 7,5 cm PaK 40/3 auf Panzerkampfwagen 38(t) Ausf. H, Sd.Kfz. 138.

Pada model berikutnya, yaitu Panzerjäger 38(t) mit 7.5 cm{aK 0/3 Ausf. M, Sd,Kfz 138, senapan mesin tidak lagi dipasang pada badan tank, melainkan dilepas dan dibawa oleh kru. Semua model dari Merden terbuka pada bagian atas, sehingga tidak ada pelindung pada bagian atas.

Marder dikenal cukup handal dan strategis. Jarang sekali mengalami masalah mesin seperti overheatiing, terutama untuk chassis Panzer 38(t). Satu-satunya kelemahan adalah bagian atas yang terbuka membuat Marder tidak cocok untuk digunakan dalam pertempuran kota maupun hutan belantara, karena awaknya memiliki resiko yang sangat tinggi untuk menjadi sasaran empuk sniper lawan yang bersembunyi di gedung-gedung tinggi, atau pun serangan udara.



Statistis Marder:
A. Kelas : Light Tank Destroyer
B. Berat :
-) 8 ton (Marder I)
-) 10,7 ton (Marder II Sd.Kfz. 132, Sd.Kfz. 131)
-) 10,3 ton (Marder III Sd.Kfz. 139)
-) 10,8 ton (Marder III Sd.Kfz. 138)
C. Senjata Utama :
-) 75 mm PaK 40 L/46 (Marder I, Marder II Sd.Kfz 131, Marder III Sd.Kfz. 138)
-) 76,2 mm PaK 36 L/51,5 (Marder II Sd.Kfz. 132, Marder III Sd.Kfz. 139)
D. Jumlah Kru : 5 orang
E. Pelindung :
-) 5 – 10 mm (Marder I)
-) 5 – 30 mm (Marder II)
-) 10 – 50 mm (Marder III)
F. Kecepatan :
-) 35 km/jam (Marder III Sd.Kfz . 138)
-) 38 km/jam (Marder I)
-) 40 km/jam (Marder II Sd.Kfz. 131)
-) 42 km/jam (Marder III Sd.Kfz 139)
-) 55 km/jam (Marder II Sd.Kfz. 132)


Sumber :
-Darmawan, Muh. Daud (2010). "Kendaraan Tempur Perang Dunia II". Penerbit NARASI
-www.en.wikipedia.org
-www.acemodel.com.ua



Foto Pertempuran Spartakovka (Agustus 1942)

Serangan pasukan Jerman dari Gruppe Drumpen terhadap posisi pertahanan Soviet di Spartakovka di pagi hari tanggal 24 Agustus 1942 didahului oleh bombardir artileri dari meriam-meriam 88mm serta bom-bom yang dijatuhkan oleh pembom tukik Junkers Ju 87B "Stuka". Deretan Panzerkampfwagen III telah siap untuk bergerak maju begitu tembakan artileri berhenti


Dalam Pertempuran Spartakovka (24 Agustus 1942), sebuah tank berat KV-1 Soviet terbakar hebat setelah mendapat hantaman peluru dari meriam anti-tank Jerman. Meskipun dalam pertempuran ini 16. Panzer-Division mencatat beberapa kesuksesan dalam fase awal, mereka mendapati pertahanan musuh makin menguat, terutama di perbatasan terluar kota Stalingrad. Beberapa tank Soviet yang melakukan serangan balasan bahkan sampai menembus pos komando Panzergrenadier-Regiment 64!


Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad

Monday, October 20, 2014

Schellenbaum (Jingling Johnnie)




Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Wilayah ini menjadi akar sengketa antara Jerman dan Lithuania dimana pada tanggal 20 Maret 1939 (hanya lima hari setelah Jerman mencaplok Cekoslowakia) Hitler mengultimatum Menteri Luar Negeri Lithuania Juozas Urbšys untuk mengembalikan wilayah tersebut ke tangan Jerman (yang dihadiahkan ke Lithuania oleh Sekutu seusai Perang Dunia Pertama) atau angkatan perangnya akan menyerbu negara di kawasan Baltik tersebut. Akhirnya dua hari kemudian pemerintahan Lithuania menyerah pada tekanan Jerman. Pendudukan Memel adalah akuisisi teritorial terakhir Jerman sebelum Perang Dunia II Pecah. Dalam foto ini sedikit muka-muka mesum yang teridentifikasi: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 4. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 5. Major Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), 6. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 7. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)

 
Salah satu "pengisi acara" dalam upacara penghormatan untuk Legion Condor yang dihelat di lapangan Lustgarten, Berlin, tanggal 6 Juni 1939. Instrumen di atas (yang biasa dikenal sebagai "Jingling Johnnie" oleh orang Inggris) namanya adalah "Schellenbaum", sedangkan bendera yang ditambahkan di dalamnya dinamakan dengan "Schellenbaumflagge"


Prajurit-prajurit Wehrmacht berbaris di sepanjang rute parade di Champs-Élysées, Paris, dipimpin oleh seorang Obermusikmeister dari Musikkorps unitnya. Reichsadler divisi (Schellenbaumflagge) dari 30. Infanterie-Division bisa terlihat di latar belakang, di atas Schellenbaum (Jingling Johnnie). Perhatikan bahwa mereka memakai sepatu pendek bergaiter dan bukannya sepatu boot yang sedikit lebih tinggi. Pada waktu pendudukan Jerman (1940-1944), warga kota Paris biasanya bercanda tentang ketepatan waktu parade pasukan Wehrmacht yang tak terkalahkan: "Apa sebabnya Champs-Élysées dibatasi oleh pepohonan? ... supaya orang-orang Jerman dapat berbaris di bawah bayangannya!" Foto oleh André Zucca



Sumber :
Foto koleksi Hugo Jaeger
www.forum.axishistory.com
www.life.com
www.peopleus.blogspot.com

Foto Memel di masa Pendudukan Jerman (1939-1945)

Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Wilayah ini menjadi akar sengketa antara Jerman dan Lithuania dimana pada tanggal 20 Maret 1939 (hanya lima hari setelah Jerman mencaplok Cekoslowakia) Hitler mengultimatum Menteri Luar Negeri Lithuania Juozas Urbšys untuk mengembalikan wilayah tersebut ke tangan Jerman (yang dihadiahkan ke Lithuania oleh Sekutu seusai Perang Dunia Pertama) atau angkatan perangnya akan menyerbu negara di kawasan Baltik tersebut. Akhirnya dua hari kemudian pemerintahan Lithuania menyerah pada tekanan Jerman. Pendudukan Memel adalah akuisisi teritorial terakhir Jerman sebelum Perang Dunia II Pecah. Dalam foto ini sedikit muka-muka mesum yang teridentifikasi: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 4. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 5. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 6. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)


Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Identifikasinya: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 4. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 5. Major Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), 6. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 7. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Saturday, October 18, 2014

Foto Berwarna Hermann Göring

Upacara peringatan percobaan kudeta Hitler (Münich Putsch) yang diselenggarakan di Münich tanggal 9 November 1938. Di bawah, dari kiri ke kanan: Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Reichsleiter Alfred Rosenberg (Beauftragter des Führers für die Überwachung der gesamten geistigen und weltanschaulichen Schulung und Erziehung der NSDAP), NSKK-Korpsführer Adolf Hühnlein, Gauleiter Julius Streicher (Gauleiter Franken), General der Infanterie Eugen Ritter von Schobert (Kommandierender General VII.Armeekorps), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führers), dan General der Flieger Hugo Sperrle (Oberbefehlshaber Luftflotte 3). Orang yang memegang bendera (Blutfahne atau Bendera Darah) adalah SS-Obersturmbannführer Jakob Grimminger (Stab der 1. SS-Standarte in München und Stab des SS-Oberabschnitt Süd). Foto oleh Hugo Jaeger


 Hitler bersama dengan para petinggi Nazi di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg) di hari ulangtahunnya yang ke-53 tanggal 20 April 1942. Dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder (membelakangi kamera, Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Reichsleiter Dr. Robert Ley (Reichsorganisationsleiter der NSDAP), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im OKW, Oberkommando der Wehrmacht), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Karl Wolff (Verbindungsoffizier zischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier), SS-Oberführer Prof. Dr.ing. Ferdinand Porsche (Wehrwirtschaftsführer), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), dan SS-Obergruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Reichsminister ohne Portfeuille und Chef der Reichskanzlei). Foto oleh Walter Frentz


Sumber :
Foto koleksi Hugo Jaeger
Foto koleksi Walter Frentz 
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.life.com

Foto Peringatan Münich Putsch


Upacara peringatan percobaan kudeta Hitler (Münich Putsch) yang diselenggarakan di Münich tanggal 9 November 1938. Di bawah, dari kiri ke kanan: Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Reichsleiter Alfred Rosenberg (Beauftragter des Führers für die Überwachung der gesamten geistigen und weltanschaulichen Schulung und Erziehung der NSDAP), NSKK-Korpsführer Adolf Hühnlein, Gauleiter Julius Streicher (Gauleiter Franken), General der Infanterie Eugen Ritter von Schobert (Kommandierender General VII.Armeekorps), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führers), dan General der Flieger Hugo Sperrle (Oberbefehlshaber Luftflotte 3). Orang yang memegang bendera (Blutfahne atau Bendera Darah) adalah SS-Obersturmbannführer Jakob Grimminger (Stab der 1. SS-Standarte in München und Stab des SS-Oberabschnitt Süd). Foto oleh Hugo Jaeger


Sumber :
www.life.com

Foto Erich Raeder



Biografi Erich Raeder bisa dibaca DISINI


Erika Hindermann (2 Januari 1888 - 8 Agustus 1959) adalah istri kedua dari Erich Raeder yang dinikahi tanggal 20 September 1920. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Anita Raeder, yang nantinya menikah dengan Eberhard Diestel, anak mantan walikota Hamburg. Erika ditangkap oleh pasukan Soviet pada tahun 1945 dan baru dilepaskan tahun 1949. Raeder sendiri sebelumnya telah menikah dengan Augusta Schultz tahun 1903 dan mendapatkan tiga orang anak


 Foto studio Erich Raeder sebagai seorang Admiral. Dia berpangkat seperti tersebut periode 1 Oktober 1928 s/d 20 April 1936, dari zaman Reichsmarine (Angkatan Laut Republik Weimar) sampai dengan Kriegsmarine (Angkatan Laut Nazi Jerman); dan dari masa Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar) sampai dengan Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Nazi Jerman). Dari ketiadaan Reichsadler di seragamnya, kita bisa menduga bahwa foto ini diambil sebelum Wehrmacht dan Kriegsmarine dibangun (1935)


Foto ini diambil di Wilhelmshaven tanggal 12 Desember 1933 dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk kapal penjelajah ringan "Köln" yang dihadiri oleh para petinggi Nazi dan Reichswehr. Dari kiri ke kanan: Tidak diketahui, SA-Gruppenführer Wilhelm Brückner (persönlicher Adjutant Hitlers), SS-Oberführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Staatssekretäfr und Chef der Reichskanzlei), Admiral Dr.phil.h.c. Erich Raeder (Chef der Marineleitung), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), dan Generaloberst Werner von Blomberg (Oberbefehlshaber der Reichswehr). Hitler sendiri untuk pertama kalinya mengunjungi pangkalan angkatan laut Jerman tersebut tahun 1929 ditemani oleh Rudolf Hess dan Heinrich Himmler, dan tercatat berkunjung sebanyak 20 kali sampai dengan akhir perang. Perhatikan perbedaan cara hormat antara para pejabat Nazi dengan petinggi militer dalam foto ini!


 Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 17 Maret 1935. Hitler dan para petinggi Wehrmacht berjalan menuju ke Ehrenmal (Monumen Kehormatan) dengan latar belakang gerbang masuk Zeughaus yang terletak di wilayah Unter der Linden. Dari kiri ke kanan: Admiral Erich Raeder (Chef der Marineleitung), General der Artillerie Werner Freiherr von Fritsch (Chef der Heeresleitung), General der Flieger Hermann Göring (Chef der Luftwaffe), Generalfeldmarschall August von Mackensen (preußischen Staatsrat), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), dan Generaloberst Werner von Blomberg (Reichsverteidigungsminister und Befehlshaber der Wehrmacht)



Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) memberi penghormatan dalam parade besar di Berlin untuk memperingati ulang tahun ke-47 dari dirinya, tanggal 20 April 1936. Di belakangnya, berjajar dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Werner von Blomberg (Reichskriegsminister und Oberbefehlshaber der Wehrmacht), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Generaladmiral Dr. h.c. Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) dan General der Infanterie Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber Gruppenkommando 1 di Berlin). Di hari ini pula Göring, Blomberg dan Raeder mendapat anugerah kenaikan pangkat dari Sang Führer


 Foto buatan tahun 1936 karya Franz Langhammer ini memperlihatkan Erich Raeder sebagai seorang Generaladmiral dan Oberbefehlshaber der Kriegsmarine. Raeder sendiri memegang pangkat tersebut dari tanggal 20 April 1936 s/d 1 April 1939. Dalam foto ini kita bisa melihat medali 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse yang didapatkannya tanggal 18 Februari 1915 dalam kancah Perang Dunia Pertama. Uniknya, disini kita juga bisa melihat bahwa Raeder mengenakan strip lengan empat buah, padahal strip lengan untuk pangkat Generaladmiral adalah tiga! Kenapa begitu? Ini karena Raeder menjabat juga sebagai pimpinan tertinggi Kriegsmarine, sehingga strip di lengannya diberi keistimewaan menjadi empat, untuk membedakan dari Generaladmiral biasa. Strip empat buah ini sama juga dengan yang dikenakan oleh laksamana Jerman yang berpangkat Großadmiral. Perlu diketahui bahwa pangkat Generaladmiral pertamakali diberikan pada Raeder, dan laksamana Kriegsmarine lain yang tercatat pernah memegang pangkat setinggi itu adalah Conrad Albrecht (1 April 1939), Alfred Saalwächter (1 Januari 1940), Rolf Carls (19 Juli 1940), Hermann Boehm (1 April 1941), Karl Witzell (1 April 1941), Otto Schultze (31 Agustus 1942), Wilhelm Marschall (1 Februari 1943), Otto Schniewind (1 Maret 1944), Walter Warzecha (1 Maret 1944), Oskar Kummetz (16 September 1944), dan Hans-Georg von Friedeburg (1 Mei 1945). Uniknya, Karl Dönitz (pengganti Raeder sebagai Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) dipromosikan sebagai Großadmiral tanpa melalui pangkat Generaladmiral terlebih dahulu, tapi langsung loncat dari pangkat Admiral!


 Pembukaan Seegeltungs- Instituts di Magdeburg yang dihadiri oleh para petinggi Nazi Jerman tanggal 15 Januari 1938. Setelah acara pembukaan yang diadakan pada sabtu siang, Panglima Angkatan Laut Jerman Erich Raeder meninjau ruangan demi ruangan Seegeltungs- Instituts, termasuk yang menampilkan miniatur kapal-kapal yang dimiliki oleh Third Reich di lima tahun pertama eksistensinya, terutama kapal perang dan kapal dagang. Dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer Friedrich-Wilhelm Krüger (Inspekteur von Grenzschutz-Einheiten), Reichsstatthalter Gauleiter Rudolf Jordan, Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), (links dahinter) , Dr. Walther Kiefer (wissenschaftlichen Leiter des Seegeltungs- Instituts), SA-Obergruppenführer Adolf Kob (Führer SA-Gruppe Mitte), Vizeadmiral Adolf von Trotha (Leiter des Reichsbundes Deutscher Seegeltung), dan Rudolf Krohne (stellvertreter Leiter des Reichsbundes Deutscher Seegeltung)



Kunjungan pemimpin Hungaria Miklós Horthy ke acara peluncuran kapal penjelajah berat (schwere kreuzer) "Prinz Eugen" yang diselenggarakan di galangan kapal Germaniawerft (Kiel) pada tanggal 22 Agustus 1938. Baris pertama dari kiri ke kanan: Miklós Horthy de Nagybánya (Regen Kerajaan Hungaria), Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), dan Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler). Baris kedua: General der Artillerie Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Vizeadmiral Karlgeorg Schuster (Befehlshaber der Sicherung der Ostsee), dan Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Baris ketiga: General der Flieger Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe als Vertreter des Oberbefehlshabers Göring)


Upacara peringatan percobaan kudeta Hitler (Münich Putsch) yang diselenggarakan di Münich tanggal 9 November 1938. Di bawah, dari kiri ke kanan: Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Generalfeldmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Reichsleiter Alfred Rosenberg (Beauftragter des Führers für die Überwachung der gesamten geistigen und weltanschaulichen Schulung und Erziehung der NSDAP), NSKK-Korpsführer Adolf Hühnlein, Gauleiter Julius Streicher (Gauleiter Franken), General der Infanterie Eugen Ritter von Schobert (Kommandierender General VII.Armeekorps), Rudolf Hess (Stellvertreter des Führers), dan General der Flieger Hugo Sperrle (Oberbefehlshaber Luftflotte 3). Orang yang memegang bendera (Blutfahne atau Bendera Darah) adalah SS-Obersturmbannführer Jakob Grimminger (Stab der 1. SS-Standarte in München und Stab des SS-Oberabschnitt Süd). Foto oleh Hugo Jaeger


Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Wilayah ini menjadi akar sengketa antara Jerman dan Lithuania dimana pada tanggal 20 Maret 1939 (hanya lima hari setelah Jerman mencaplok Cekoslowakia) Hitler mengultimatum Menteri Luar Negeri Lithuania Juozas Urbšys untuk mengembalikan wilayah tersebut ke tangan Jerman (yang dihadiahkan ke Lithuania oleh Sekutu seusai Perang Dunia Pertama) atau angkatan perangnya akan menyerbu negara di kawasan Baltik tersebut. Akhirnya dua hari kemudian pemerintahan Lithuania menyerah pada tekanan Jerman. Pendudukan Memel adalah akuisisi teritorial terakhir Jerman sebelum Perang Dunia II Pecah. Dalam foto ini sedikit muka-muka mesum yang teridentifikasi: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 4. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 5. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 6. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)



Adolf Hitler memasuki wilayah Memel (Klaipėda) diiringi oleh para perwira Wehrmacht tanggal 24 Maret 1939. Identifikasinya: 1. Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), 2. Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), 3. General der Artillerie Georg von Küchler (Kommandierender General I. Armeekorps), 4. Reichsführer-SS Heinrich Himmler, 5. Major Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), 6. Generalmajor Joachim von Kortzfleisch (Kommandeur 1. Infanterie-Division), dan 7. Oberst Walter Weiß (Kommandeur Infanterie-Regiment 1 / 1.Infanterie-Division)


 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menyambut Generaladmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) sebelum menaiki kapal perang Scharnhorst yang sedang berlabuh di Wilhelmshaven tanggal 1 April 1939. Di hari itu sang panglima Angkatan Laut Jerman dipromosikan oleh Hitler sebagai Großadmiral (Laksamana Besar)


 Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht)  memberi selamat pada Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) yang baru saja mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Generaladmiral (Laksamana Jenderal) menjadi Großadmiral (Laksamana Besar). Di sebelah kiri adalah Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres). Tempatnya adalah di atas kapal Scharnhorst yang sedang bersandar di pangkalan Angkatan Laut Jerman di Wilhelmshaven tanggal 1 April 1939. Di latar belakang kita bisa melihat meriam tripel dengan laras 28 cm (11.1 in) L/54.5 dari turet "Bruno" milik kapal tersebut. Dalam istilah Jerman, deretan meriam kapal perang selalu dinamai sesuai alfabet A,B,C,D,E yang sesuai urutan dari haluan ke buritan. Untuk memudahkan pengingatannya digunakan istilah semacam "Anton", "Bruno", "Caesar", dan "Dora". Foto oleh Hugo Jaeger


 

Erich Raeder dalam sebuah foto yang dibuat tak lama setelah dia ditahbiskan sebagai Großadmiral (Laksamana Besar), bulan April 1939. Disini dia memegang sebuah Admiralstab (Tongkat Komando Laksamana) yang hanya diberikan pada orang yang berpangkat Großadmiral. Tercatat hanya empat orang laksamana Kaiserliche Marine dan dua orang laksamana Kriegsmarine yang pernah memegang pangkat setinggi itu. Ini adalah daftarnya beserta tanggal penganugerahan Admiralstab-nya: Hans von Koester (6 Juni 1905), Prinz Heinrich von Preußen (4 September 1909), Alfred von Tirpitz (27 Januari 1911), Franz Conrad von Hötzendorf (31 Juli 1918), Erich Raeder (20 April 1939), dan Karl Dönitz (30 Januari 1943)


Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Duduk baris depan dari kiri ke kanan: Charakter als Generaloberst Franz Ritter von Epp (wajah terpotong); Reichsführer-SS Heinrich Himmler; Generaloberst Wilhelm Keitel; Generaloberst Walther von Brauchitsch; Großadmiral Erich Raeder; SS-Gruppenführer Wilhelm Reinhard; Adolf Hitler; dan Gauleiter Karl Weinrich


Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. SS-Gruppenführer Wilhelm Reinhard berdiri menghadap kamera dengan dipandang oleh Erich Raeder. Reinhard adalah General der Infanterie Kehormatan (Charakter als) dan dalam acara ini dia mengenakan seragam militernya dan bukan seragam hitam Allgemeine-SS. Di lehernya dia mengenakan medali Pour le mérite (27 Agustus 1917) zum Eichenlaub (1 Oktober 1918). Persis di atas kepala Raeder berdiri Joachim "Jochen" Peiper


Foto karya Hugo Jaeger yang memperlihatkan acara Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Duduk baris depan dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer Karl Wolff; ? (sedikit tertutup oleh Bormann); Reichsleiter Martin Bormann; Charakter als Generaloberst Franz Ritter von Epp; Reichsführer-SS Heinrich Himmler; Generaloberst Wilhelm Keitel; Generaloberst Walther von Brauchitsch; Großadmiral Erich Raeder; Adolf Hitler; dan Gauleiter Karl Weinrich. Perwira SS berseragam hitam yang berdiri di depan tengah adalah SS-Oberführer Max von Behr. Duduk baris depan dari kanan ke kiri: Reichspressechef Otto Dietrich dan Charakter als General der Infanterie Carl Eduard Herzog von Sachsen-Coburg und Gotha. Sekarang masuk ke tribun belakang: SS-Brigadeführer yang duduk tepat di atas kepala von Sachsen-Coburg und Gotha sambil menatap ke kamera adalah Franz Breithaupt; Jenderal Heer yang duduk di atas di antara Raeder dan Hitler adalah charakter als Generalmajor und SA-Obergruppenführer Hans Georg Hofmann; Perwira yang duduk tepat di muka wajah von Behr adalah SA-Obergruppenführer und Reichskriegsoperferführer Hanns Oberlindober


 Foto karya Hugo Jaeger yang memperlihatkan acara Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Duduk baris depan dari kiri ke kanan: Charakter als General der Infanterie Carl Eduard Herzog von Sachsen-Coburg und Gotha (menghadap ke belakang); Generaloberst Walther von Brauchitsch; Großadmiral Erich Raeder; Adolf Hitler; dan Gauleiter Karl Weinrich. Perwira SS berseragam hitam yang berdiri di depan tengah adalah SS-Oberführer Max von Behr. Dalam foto ini kita bisa melihat Jenderal Hiroshi Oshima, Duta Besar Jepang untuk Jerman, yang menghadap kamera dari barisan penonton


 Foto karya Hugo Jaeger yang memperlihatkan acara Hari Veteran Reich (Heldengedenktag) yang diselenggarakan di Kassel, Jerman, tanggal 4 Juni 1939. Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) memberikan salam hormat saat lantunan lagu kebangsaan menggunakan Admiralstab (Tongkat Komando Laksamana) yang dipegangnya. Ini adalah "hak khusus" bagi para perwira tinggi Jerman dengan pangkat Marsekal atau Laksamana Besar yang membedakannya dengan jenderal biasa (perhatikan perbedaan dengan jenderal Luftwaffe dan jenderal Italia di latar belakang yang melakukan hormat "standar"!). Hanya ada dua orang laksamana Kriegsmarine yang pernah memegang pangkat Großadmiral: Erich Raeder dan Karl Dönitz, karenanya hanya dua Admiralstab yang dibuat. Bentuknya hampir sama dengan Marschalstab yang diberikan pada 25 orang Marsekal Wehrmacht (Heer dan Luftwaffe), hanya saja terdapat perbedaan mendasar: Garis velvet tongkat berwarna biru gelap, elang diganti dengan jangkar emas di bagian atas, serta adanya simbol jangkar emas yang sama di antara salib baja dan elang emas di badan tongkat


Adolf Hitler dalam upacara penghormatan Legion Condor tanggal 6 Juni 1939. Seperti biasa, saya akan mencoba mengidentifikasi figur-figur terkenal yang nongol di foto ini: Di belakang Hitler adalah SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner; sedikit di sebelah kanan (memakai baju coklat menghadap kamera) adalah salah seorang komandan Legion Condor Hellmuth Volkmann (pangkat terakhir General der Flieger); tiga orang di bagian tengah dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder, Generaloberst Walther von Brauchitsch dan Reichsmarschall Hermann Göring; perwira yang berjalan paling kanan dengan memakai baju coklat dan wajahnya tertutup bendera adalah komandan terakhir Legion Condor Wolfram Freiherr von Richthofen (pangkat terakhir Generalfeldmarschall); di belakang von Richthofen dengan seragam Allgemeine-SS hitam pasti anda pun tahu, Reichsführer Heinrich Himmler, sedangkan jenderal Luftwaffe di sebelahnya adalah Otto Deßloch (pangkat terakhir Generaloberst). Papan-papan nama yang berada di latar belakang berisikan mereka-mereka dari Legion Condor yang telah gugur di medan pertempuran Spanyol

 
Komandan U-29 Kapitänleutnant Otto Schuhart disambut oleh Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) dan Kommodore Karl Dönitz (Führer der U-Boote) setibanya di pangkalan Angkatan Laut Jerman di Wilhelmshaven tanggal 26 September 1939. Schuhart telah melakukan hal yang luar biasa karena di patroli perang pertamanya bersama dengan U-29 yang berlangsung selama 39 hari (19 Agustus 1939 - 26 September 1939), dia berhasil menenggelamkan kapal induk Inggris HMS Courageous yang berbobot 22.500 ton! Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 September 1939, dan membuat 518 orang dari 1.259 awaknya kehilangan nyawa. Mendengar kabar tersebut dua hari kemudian, Raeder langsung memerintahkan Dönitz untuk menganugerahkan medali Eisernes Kreuz I.Klasse untuk sang kapten, sementara semua awaknya diganjar dengan Eisernes Kreuz II.Klasse


Adolf Hitler sedang membahas strategi penyerangan ke Prancis bersama para jenderal-jenderalnya di Wolfsschlucht Brûly-de-Pesche, Belgia, bulan Juni 1940. Dari kiri ke kanan: Major im Generalstab Wilhelm "Willy" Deyhle (Adjutant Chef Wehrmacht-Führungsamt Jodl), Generalmajor Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt), Hitler, Generaloberst Walther von Brauchitsch (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht, OKW), dan Großadmiral Dr.phil.h.c. Erich Raeder (Chef des Oberkommandos der Kriegsmarine, OKM)


Suasana penandatanganan menyerahnya Prancis ke tangan Jerman yang dilaksanakan di Compiègne tanggal 22 Juni 1940. Setelah delegasi Prancis selesai tandatangan dan pergi, giliran pemimpin Jerman Adolf Hitler yang datang ke lokasi dan diiringi oleh para pejabat tinggi Jerman. Dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop, Wilhelm Keitel, Walther von Brauchitsch, Rudolf Hess, Erich raeder, Adolf Hitler dan Hermann Göring



Suasana penandatanganan menyerahnya Prancis ke tangan Jerman yang dilaksanakan di Compiègne tanggal 22 Juni 1940. Dari kiri ke kanan: Joachim von Ribbentrop (Menteri Luar Negeri), Wilhelm Keitel (Panglima Wehrmacht), Hermann Göring (Panglima Luftwaffe), Rudolf Hess (Deputi Partai Nazi), Adolf Hitler (Führer), Erich Raeder (Panglima Kriegsmarine) serta Walther von Brauchitsch (Panglima Heer)


Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) menganugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes kepada Kapitänleutnant Otto Kretschmer dan para awak U-99 crew di pangkalan U-boat Lorient (Prancis) tanggal Agustus 1940. Berita penganugerahannya sendiri telah diterima Kretschmer sehari sebelumnya di laut lepas saat dalam perjalanan pulang ke pangkalan Bagi yang belum tahu siapa Kretschmer, dialah komandan kapal selam paling sukses dalam Perang Dunia II yang menenggelamkan 47 kapal dengan total tonase 274.418 GRT! BTW, boleh juga tuh belatinya Raeder. Minta dooong!!!


 Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) dalam sebuah inspeksi ke pangkalan Angkatan Laut Jerman di Bayonne (Prancis). Salah satu unit yang dia kunjungi dalam inspeksi tersebut - seperti yang tampak dalam foto - adalah 8. Minensuchflotille yang dibentuk pada tanggal 14 Maret 1941. Yang menjabat sebagai pimpinan flotilla penyapu ranjau ke-8 dari masa pembentukannya sampai dengan bulan Maret 1943 adalah Korvettenkapitän Gerhard von Kamptz yang merupakan seorang Eichenlaubträger (peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub)


 
Ketiga pimpinan Angkatan Bersenjata memberi ucapan selamat untuk Hitler atas ulang tahunnya yang ke-52 tanggal 20 April 1941. Dua hari kemudian Yunani menyatakan penyerahannya setelah diinvasi oleh pasukan Jerman dan Italia. Disini terlihat dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Panglima Angkatan Darat), Reichsmarschall Hermann Göring (Panglima Angkatan Udara) dan Großadmiral Erich Raeder (Panglima Angkatan Laut). Wajah yang nyelip di belakang sambil tersenyum tampaknya adalah Reichspressechef Otto Dietrich


 Hitler bersama dengan para petinggi Nazi di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg) di hari ulangtahunnya yang ke-53 tanggal 20 April 1942. Dari kiri ke kanan: Großadmiral Erich Raeder (membelakangi kamera, Oberbefehlshaber der Kriegsmarine), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Reichsleiter Dr. Robert Ley (Reichsorganisationsleiter der NSDAP), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im OKW, Oberkommando der Wehrmacht), SS-Obergruppenführer und General der Waffen-SS Karl Wolff (Verbindungsoffizier zischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier), SS-Oberführer Prof. Dr.ing. Ferdinand Porsche (Wehrwirtschaftsführer), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), dan SS-Obergruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Reichsminister ohne Portfeuille und Chef der Reichskanzlei). Foto oleh Walter Frentz
 

Großadmiral Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) memperkenalkan Admiral Karl Dönitz (Befehlshaber der U-Boote) kepada duta besar Jepang untuk Jerman Hiroshi Oshima, bulan Desember 1942. Hanya berselang beberapa satu bulan kemudian, Dönitz menggantikan Raeder sebagai Panglima Angkatan Laut Jerman (23 Januari 1943)


 Erich Raeder sebagai seorang Großadmiral dan Oberbefehlshaber der Kriegsmarine. Karir Raeder di Angkatan Laut Jerman berjalan dengan mulus dan cepat terutama karena kecerdasan serta kerja kerasnya. Koleganya mengenalnya sebagai orang yang "penyendiri, kurang nyaman dalam hubungan yang lebih dari hubungan kerja, relijius, otoriter, puritan, kurang menghargai terhadap inisiatif individu... dan sangat sensitif terhadap segala kritikan." Karena sikapnya yang dingin dan selalu menghindari kedekatan dengan orang lain, teman-teman Raeder (yang jumlahnya segelintir) mengakui bahwa sangat sedikit yang mereka ketahui tentang diri Raeder!


Rudolf Hess bersama para pejabat tinggi Nazi lainnya dalam persidangan Nürnberg. Baris pertama dari kiri ke kanan : Hermann Göring, Rudolf Hess, Joachim von Ribbentrop dan Wilhelm Keitel. Baris kedua dari kiri ke kanan : Karl Dönitz, Erich Raeder, Baldur von Schirach dan Fritz Sauckel

 
Para tokoh Nazi dalam sidang Pengadilan Nürnberg (1945). Dari kiri ke kanan, baris belakang: Karl Dönitz, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Fritz Sauckel, Alfred Jodl, Franz von Papen, Arthur Seyß-Inquart, dan Albert Speer. Baris depan: Hermann Göring, Joachim von Ribbentrop, Wilhelm Keitel, Ernst Kaltenbrunner, Alfred Rosenberg, dan Hans Frank 



Para tokoh Nazi dalam sidang Pengadilan Nürnberg (1945). Dari kiri ke kanan, baris belakang: Karl Dönitz, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Fritz Sauckel, Alfred Jodl, Franz von Papen, Arthur Seyß-Inquart, Albert Speer, Konstantin von Neurath, dan Hans Fritsche. Baris depan: Hermann Göring, Rudolf Hess, Joachim von Ribbentrop, Wilhelm Keitel, Ernst Kaltenbrunner, Alfred Rosenberg, Hans Frank, Wilhelm Frick, Julius Streicher, Walter Funk dan Hjalmar Schacht. Yang terakhir (Schacht) pernah berkunjung ke Indonesia selepas Perang Dunia II! 

 
Para tokoh Nazi dalam sidang Pengadilan Nürnberg (22 November 1945). Dari kiri ke kanan, baris belakang: Karl Dönitz, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Fritz Sauckel, dan Alfred Jodl. Baris depan: Hermann Göring, Joachim von Ribbentrop, Wilhelm Keitel, dan Alfred Rosenberg. Di depan adalah tim pembela 



Para tokoh Nazi dalam sidang Pengadilan Nürnberg (30 September 1946). Dari kiri ke kanan, baris belakang: Karl Dönitz, Erich Raeder, Baldur von Schirach, Fritz Sauckel, Alfred Jodl, Franz von Papen, Arthur Seyß-Inquart, Albert Speer, Konstantin von Neurath, dan Hans Fritsche. Baris depan: Hermann Göring, Rudolf Hess, Joachim von Ribbentrop, Wilhelm Keitel, Ernst Kaltenbrunner, Alfred Rosenberg, Hans Frank, Wilhelm Frick, Julius Streicher, Walter Funk dan Hjalmar Schacht 


 Erich Raeder dan istri (Erika Hindermann) bersama dengan Karl Dönitz dalam acara inaugurasi Monumen Kehormatan Angkatan Laut (Marine-Ehrenmal) buatan Profesor Giess di sebuah gereja di Wilhelmshaven yang didirikan untuk mengenang para korban perang laut dari semua negara, tanggal 2 Juni 1957. Ikut hadir dalam acara ini Rolf Johannesson yang merupakan panglima Bundesmarine Jerman Barat. Disini kita bisa melihat bahwa Raeder mengenakan pin Ritterkreuz des königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern di jasnya, yang dia peroleh pada tanggal 3 Juni 1916 dalam kancah Perang Dunia Pertama. BTW, pada tahun itu (1957) pemerintah Jerman Barat mengeluarkan medali pengganti dengan bentuk dan ukuran yang sama untuk semua medali era Third Reich, dan mewajibkan para Ritterkreuzträger untuk memakai medali pengganti tersebut dalam acara-acara resmi dan kenegaraan. Perbedaannya adalah dihilangkannya simbol-simbol Nazi seperti swastika dan rune SS


 Upacara pemakaman mantan Großadmiral dan Panglima Kriegsmarine Erich Raeder yang diselenggarakan pada tanggal 11 November 1960 di kota pelabuhan Kiel (Schleswig-Holstein). Uniknya, dalam foto ini kita melihat Ordenskissen (bantal medali) Raeder hanya memajang medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, Ritterkreuz des königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern serta Admiralstab kepunyaannya, sementara banyak medali lainnya justru tidak dipajang! Atau apakah kita tidak melihat Ordenskissen lainnya dalam foto ini?



 Admiralstab (Tongkat Komando Laksamana) dan seragam milik Großadmiral Erich Raeder yang kini tersimpan di Internationales Maritimes Museum Hamburg (Musium Maritim Internasional Hamburg) di Jerman. Meskipun begitu, terdapat beberapa sumber yang menyebutkan bahwa tongkat komando asli milik Raeder telah patah tak lama setelah Perang Dunia II usai

 

Sumber :
Foto koleksi Associated Press
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi Hugo Jaeger
Foto koleksi Walter Frentz
Foto koleksi pribadi Max Williams
www.audiovis.nac.gov.pl