Wednesday, April 23, 2014

Album Foto 3. Gebirgs-Division

Sesi foto terkenal yang memperlihatkan para Gebirgsjäger (sebagian besar memakai anorak bolak-balik) dari 3. Gebirgs-Division di sebuah parit di medan tempur Nikopol, Ukraina, bulan Desember 1943. Terlihat ekspresi "kucel" di wajah-wajah mereka, dengan semuanya memanjangkan jenggot dan cambang yang biasa disebut dengan penuh kebanggaan sebagai "Jägerbart" (janggut pemburu). Jenggot semacam ini memang identik dengan Gebirgsjäger (ingat Julius Ringel!), dan ada satu kalimat terkenal saat itu yang pas untuk menggambarkannya: "Bärtig und rauhbeinig, naturnah und gefühlvoll, aufsässig und treu - das ist der typische Gebirgsjäger; immer bereit, für seine Bergkameraden den letzten Einsatz zu wagen" (Berjanggut, kasar dan siap-sedia, berpembawaan baik dan ekspresif, pemberontak dan setia - inilah tipikal Gebirgsjäger. Selalu siap sedia mengorbankan nyawanya demi rekan gunung seperjuangannya)


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Album Foto 24. Infanterie-Division

PERAIH RITTERKREUZ

Oberst Fedor Apelt (14 Oktober 1904 – 15 April 1988) bergabung dengan 10. (sächs.) Infanterie-Regiment tanggal 1 April 1922. Dia mengambil spesialisasi di senapan mesin dan mengikuti dua pelatihan untuk memperdalamnya. Pada saat Perang Dunia II pecah dia sudah menjadi Hauptmann dan komandan kompi di Infanterie-regiment 53. Setelah itu unitnya berganti menjadi Infanterie-Regiment 32 (sebagai komandan batalyon) dan Infanterie-Regiment 102 (komandan resimen). Apelt adalah seorang perwira dengan kemampuan taktis tinggi, dan berkali-kali dia memimpin resimennya melawan musuh yang berkekuatan lebih besar tapi mampu keluar sebagai pemenang. Contohnya adalah pertempuran di Pogrebischtsche bulan Desember 1943 dimana unit infanteri yang dipimpinnya menghancurkan tujuh tank Soviet, juga pertempuran di garis Ostrow-Nawolok-Ssyrkowo awal tahun 1944 dimana resimennya mampu bertahan dari serangan musuh yang bergelombang dan selalu berhasil memukul mundur mereka. Dia juga memimpin pasukannya keluar dari kepungan sekaligus menimbulkan korban besar di pihak lawannya. Atas prestasinya tersebut Apelt dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 8 Februari 1944 sebagai Kommandeur Grenadier-Regiment 102 / 24.Infanterie-Division / L.Armeekorps / 18.Armee / Heeresgruppe Nord. Pada tanggal 1 November 1944 dia dikirim menjadi Führerreserve (perwira non-aktif) setelah terluka parah di medan perang sehingga kehilangan lengan kanannya. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Dienstauszeichnung der Wehrmacht III.Klasse 12 jahre (2 Oktober 1936) dan II.Klasse 18 jahre; Eisernes Kreuz II.Klasse (27 Mei 1940) dan I.Klasse (8 Juni 1940); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber (20 Oktober 1941); Deutsches Kreuz in Gold (12 Maret 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (7 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz (20 September 1942), in Silber dan in Gold (23 Januari 1945); Krimschild (30 Desember 1942); Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern; serta Anerkennungsurkunde des Oberbefehlshabers des Heeres (27 September 1944)


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Album Foto Kampfgeschwader 51 (KG 51) "Edelweiss"

Oberst Willibald Spang (baris depan sebelah kiri), Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 255, menyambut para awak udara muda unitnya di pangkalan baru mereka di Landsberg tahun 1937. Perhatikan perpaduan hormat Nazi dan militer yang terdapat dalam foto ini! KG 255 berubah nama menjadi KG 51 tanggal 1 Mei 1939, sementara komponen II. Gruppe yang dimilikinya diupgrade menjadi KG 77. Spang (25 Maret 1887 - 28 September 1978) sendiri menjadi komandan KG 255 periode 1 Maret 1937 - 31 Januari 1939. Pangkat terakhirnya adalah Generalleutnant (1 Januari 1942), sementara medali tertinggi yang diperolehnya adalah Deutsches Kreuz in Gold (10 Januari 1944)


 Hauptmann Joachim Poetter (kanan), Staffelkapitän 7.Staffel / Kampfgeschwader 51, memberi arahan pada salah seorang awaknya, funker (operator radio) Stabsfeldwebel Sepp Traut, di dalam kokpit pesawat pembom Junkers Ju 88 A-4. Mereka sama-sama mengenakan jaket penerbang lengkap dengan flieger-kopfhaube (penutup kepala pilot). Poetter nantinya meraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 16 April 1942 sebagai Gruppenkommandeur I.Gruppe / Kampfgeschwader 77. Pangkat terakhirnya adalah Oberstleutnant im Generalstab


 Pesawat Junkers Ju 88 A-1 '9K+HS' dari 8.Staffel / III.Gruppe / Kampfgeschwader 51 dengan marking yang menunjukkan bahwa foto ini diambil di Front Barat, tepatnya di Prancis, musim panas tahun 1940. Pada saat itu Staffelkapitän dari 8. Staffel adalah Hauptmann Gundolf Freiherr Schenk zu Schweinsberg, Gruppenkommandeur III. Gruppe adalah Hauptmann Werner Brandt, dan Geschwaderkommodore KG 51 adalah Major Hans Bruno Schulz-Heyn


Sumber :
Buku "Kampfgeschwader Edelweiss: The History of a German Bomber Unit 1939-1945" karya Wolfgang Dierich

Album Foto 22. Panzer-Division

KOMMANDEUR

Generalleutnant Wilhelm von Apell (16 Januari 1892 - 7 Maret 1969) bergabung dengan Westfälischen Jäger-Bataillon Nr. 7 saat usianya menginjak 18 tahun. Dia ikut bertempur dalam Perang Dunia Pertama dan terluka dua kali. Tanggal 1 September 1920 Apell bergabung dengan Infanterie-Regiment 29 Reichswehr. Saat Perang Dunia II pecah dia sudah menjadi Oberst dan komandan Kavallerie-Schützen-Regiment 11. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #281 tanggal 14 Mei 1941 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 9.Schützen-Brigade / 9.Panzer-Division / XXXX.Armeekorps (motorisiert) / 12.Armee setelah menghancurkan posisi pertahanan pasukan Yugoslavia di Stracin (Serbia) dan menerobos pertahanan pasukan Inggris di Klidi-Pass (Yunani). Terobosan dari samping yang dilakukannya bersama dengan Divisi Leibstandarte SS Adolf Hitler tersebut sangat krusial karena membuat musuh mundur. Apell diangkat sebagai komandan 22. Panzer-Division periode 25 September 1941 - 8 Oktober 1942. Di akhir perang dia menjabat sebagai Inspekteur der Wehrersatzinspektion Wien yang tugasnya adalah melatih para perwira yang terluka. Dia ditangkap oleh pasukan Amerika tanggal 8 Mei 1945 dan dibebaskan tanggal 11 Juni 1947. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (16 September 1914) dan I.Klasse (3 Oktober 1915); Schaumburg-Lippisches Kreuz für treue Dienste (17 November 1914); Königlich Bayerischen Militär-Verdienstorden IV. Klasse mit Schwertern (25 Desember 1915); Hamburgisches Hanseatenkreuz; Orden der Heiligen Tamara (Georgia, 13 Desember 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Silber (22 Februari 1919); Ehrenritter des Johanniter-Ordens (15 Juli 1926); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918 (24 Desember 1934); Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis I. Klasse; Kriegs-Erinnerungs-Medaille mit Schwertern der Republik Österreich; Medaille zur Erinnerung an den 13. März 1938; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 mit Spange “Prager Burg”; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (23 September 1939) dan I.Klasse (16 Oktober 1939); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber; Panzerkampfabzeichen in Bronze; serta Krimschild. Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 12 April 1941



Sumber :
www.ww2gravestone.com

Tuesday, April 22, 2014

Album Foto Kampfgeschwader 55 (KG 55) "Greif"

Para Ritterkreuzträger dari Kampfgeschwader 55 (KG 55) "Greif" berfoto bersama Oberst im Generalstab Friedrich Kless (ketiga dari kiri) yang merupakan mantan Kommandeur II./KG 55. Dari kiri ke kanan: Hauptmann Robert Seib (Staffelkapitän 6./KG 55. RK 9 Oktober 1943), Major Karl-Heinrich Höfer (Gruppenkommandeur II./KG 55. RK 3 September 1943; EL 18 November 1944), Oberst i.G. Friedrich Kless (Chef des Generalstabes Luftflotte 6. RK 14 Oktober 1940), Major Wilhelm "Willy" Antrup (Geschwaderkommodore KG 55. RK 13 November 1942; EL 18 November 1944), Hauptmann Eitel-Albert Barth (Staffelführer 4./KG 55. RK 24 Maret 1943), dan Oberleutnant Josef Luxenburger (Beobachter 4./KG 55. RK 3 April 1943)

 -----------------------------------------------------------------------------------------------

KOMMODORE

Oberstleutnant Wilhelm "Willy" Antrup (1 Februari 1910 - 24 November 1984) memasuki Deutschen Verkehrsfliegerschule di Cottbus tahun 1934 setelah lulus sekolah umum. Setelah menjalani pelatihan sebagai pilot dia bergabung dengan Luftwaffe tahun 1935. Antrup ikut ambil bagian dalam Perang Saudara Spanyol (1936-1939) sebagai Leutnant di Kondor Legion, dilanjutkan dengan kampanye di Polandia, Belanda, Belgia, Prancis, Britania, Barbarossa, Kiev, Kaukasus, Stalingrad, Kursk, dan banyak lagi. Dia bertugas di Kampfgeschwader 55 "Greif" dari tahun 1939 dan diangkat secara resmi sebagai Komodornya dari tanggal 8 Agustus 1943 s/d 21 November 1944 menggantikan Oberstleutnant Dr. Ernst Kühl (dan nantinya digantikan oleh Major Richard Brunner) Antrup. dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 13 November 1942 sebagai Hauptmann dan Staffelkapitän 5.Staffel / II.Gruppe / Kampfgeschwader 55 (KG 55) "Greif" / VIII.Fliegerkorps / Luftflotte 4, serta Eichenlaub #655 tanggal 18 November 1944 sebagai Oberstleutnant dan Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 55 (KG 55) "Greif" / IX.Fliegerkorps / Luftflotte 10. Di akhir Perang Dunia II dia ditawan oleh pasukan Amerika. Pada tahun 1956 dia bergabung dengan Bundesluftwaffe sebagai Leiter der Technischen Schule der Luftwaffe dan pensiun pada tanggal 31 Maret 1968 dengan pangkat Brigadegeneral. Dalam Perang Dunia II Antrup ikut serta dalam 612 misi operasional. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: Flugzeugführerabzeichen; Eisernes Kreuz II.Klasse (1941) dan I.Klasse (1941); Luftwaffe Ehrenpokale für Besondere Leistungen im Luftkrieg (1941); Deutsches Kreuz in Gold #6/14 (2 Januari 1942); Dienstauszeichnung der Wehrmacht III.Klasse 12 jahre (1943); serta Frontflugspange für Kampfflieger in Gold mit Anhänger. Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 22 Juni 1944


Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.militaryautographs.com

Monday, April 21, 2014

Album Foto 6. Flak-Division (motorisiert)

KOMMANDEUR

 Generalleutnant Werner Anton (3 April 1895 - 12 September 1948) mendaftar sebagai Fahnenjunker di Königlich-Sächsische 4. Infanterie-Regiment Nr. 103 di Bautzen tanggal 22 Agustus 1914. Dia telah menjadi perwira Flak (unit anti pesawat udara) dari zaman Perang Dunia Pertama dan sempat menjadi anggota polisi di masa antar perang. Pada tanggal 1 Agustus 1935 Anton ditarik masuk Luftwaffe dengan pangkat Major. Dia meneruskan karir sebagai perwira Flak yang sempat tertunda, lalu diangkat sebagai komandan 6. Flak-Division pada tanggal 16 November 1942 menggantikan Generalleutnant Job Odebrecht, dan akan memegang jabatannya sampai dengan akhir perang. Anton dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 11 Juni 1944 sebagai Generalmajor dan Kommandeur 6. Flak-Division (motorisiert) / Luftflotte 1 sebagai penghargaan kepada divisinya yang sejauh itu telah menembak jatuh total 1000 pesawat musuh! Anton ikut membantu pertahanan Heeresgruppe Nord yang terkepung di Kantong Kurland, dan kepemimpinannya begitu menonjol sehingga namanya disebutkan dalam Wehrmachtbericht (siaran radio propaganda Wehrmacht), suatu kebanggaan yang tidak terkira bagi para prajurit Jerman! Pada tanggal 10 Mei 1945 dia menjadi tawanan Inggris dan meninggal sebelum dibebaskan dalam sebuah kecelakaan yang tidak dijelaskan. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (4 Februari 1915) dan I.Klasse (22 Agustus 1918); Anhaltinischer Hausorden Albrecht des Bären Ritterkreuz 2. Klasse mit Schwertern (19 Februari 1916); königlichen Sächsen Militär St. Heinrichs-Orden (20 November 1916); Beobachter-Abzeichen (8 Agustus 1917); Ehrenbecher für 1 Abschuss (3 Juli 1918); Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV.Klasse, III.Klasse, II.Klasse (2 Oktober 1936) dan I.Klasse 25 jahre (22 Agustus 1939); Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober1938 mit Spange "Prager Burg"; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Flakkampfabzeichen der Luftwaffe (12 September 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz; Deutsches Kreuz in Gold (29 April 1943); serta Kurland Ärmelband (30 Oktober 1944). Selain itu namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 30 Oktober 1944



Sumber:
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, April 20, 2014

"Wulfe Hound", Pesawat B-17 Pertama Yang Berhasil Dirampas Luftwaffe



Oleh : Arie Nugroho

"Wulfe Hound" adalah B-17 pertama yang berhasil ditangkap dan dioperasionalkan oleh Luftwaffe. Semua berawal pada tanggal 12 Desember 1942, dalam misi penyerangan 360th Bomber Squadron, 303rd Bomber Group, 8th Bomber Command USAAF ke Rouen-Sotteville Perancis. Serangan tersebut seperti biasa mendapat “sambutan” yang meriah dari pemburu-pemburu Luftwaffe. Dalam serangan tersebut Wulfe Hound pun tak luput dari incaran belasan FW 190 sang tuan rumah yang sibuk melayani tamunya.

Nahas, akibat terkena tembakan yang merusak pesawatnya memaksa Letnan Paul Flickenge melakukan pendaratan darurat di dekat Melun (60 mil Tenggara Paris). 8 Kru-nya tertangkap, namun 2 orang berhasil kabur dan menyelamatkan dirinya.

Bagai mendapat durian runtuh, Jerman pun membawa Wulfe Hound untuk diperbaiki ke pangkalan udara Leeuwarden, Belanda agar dapat diterbangkan kembali. Namun sayang, turret bawah yang rusak pada saat pendaratan daruratnya tidak pernah berhasil diperbaiki dan diganti. Kemudian diberi insignia “Balkenkreuz” dan diberi kode penomeran Stammkennzeichen “DL+XC” sesuai dengan S.O.P dan secara resmi merupakan inventaris resmi Luftwaffe.

Setelah melalui serangkaian pengujian dan tes yang dilakukan Luftwaffe di Rechlin, akhirnya pada 17 Maret 1943 ia berhasil diterbangkan kembali. Keberhasilan ini merupakan satu tahap yang sangat penting dan berguna untuk mengevaluasi dan menyempurnakan taktik Luftwaffe dalam menjatuhkan si badak ini pada misi penyergapan B-17 yang semakin hari semakin sering merangsek jauh ke dalam teritori Jerman. Mulai tanggal 11 September 1943 Wulfe hound secara resmi berdinas operasional dalam spesial unit "Kampfgeschwader" KG 200 dengan base di Rangesdforf, Jerman. Pesawat ini digunakan dalam latihan bahkan turut terlibat dalam operasi-operasi rahasia yang berlangsung di sekitar Mei dan Juni 1944.

20 April 1945 merupakan hari terakhirnya “berdinas” di bawah panji Third reich, karena pada tanggal tersebut ia rusak akibat sebuah serangan udara sekutu di pangkalan udara Oranienburg.


Sumber :

Laporan Intelijen Polisi Rahasia Jerman




Oleh : Steve Edpin

Berikut ini adalah sebuah artikel mengenai laporan intelijen yang diambil dari buku pegangan kepolisian Jerman. Buku tersebut dijadikan pegangan terutama oleh satuan kepolisian Sipo (Sicherheitspolizei = polisi keamanan), yang di dalamnya terdiri dari Gestapo (Geheime Staatspolizei = kepolisian rahasia negara) dan Kripo (Kriminalpolizei = kepolisian investigasi kriminal). Buku tersebut juga digunakan oleh anggota-anggota SD (Sicherheitsdienst = dinas keamanan).

Individu-individu yang terpilih masuk ke dalam aparat keamanan Jerman adalah mereka yang dianggap sangat cerdas (baik secara akademis maupun non-akademis) untuk mampu melewati tes-tes berstandar tinggi. Sebagai contoh, untuk dapat masuk ke dalam satuan SD saja seseorang harus bisa melewati beberapa tahap ujian. Mereka harus melewati sekolah kepemimpinan dinas keamanan dan juga pelatihan persiapan khusus. Hal ini tidak dilebih-lebihkan, karena pada kenyataannya orang-orang seperti inilah yang sangat dibutuhkan, karena kemampuan mereka untuk dapat berpikir kritis, analisa-analisa/penyelidikan-penyelidikan sangat dibutuhkan dalam tugas-tugas kepolisian dalam membaca setiap gerak-gerik yang mencurigakan dan membahayakan negara.

Di satu sisi, SD merupakan kumpulan kaum intelek dengan tugas mayoritasnya mempersiapkan laporan-laporan, memproses pengaduan-pengaduan, dan tugas belakang meja lainnya. Sedangkan Gestapo dan Kripo merupakan satuan operasional yang langsung terjun ke lapangan seperti penggeledahan dan penangkapan.

Jangan bingung kalau aparat keamanan Jerman pada masa itu bermacam-macam. Yang disebut di atas baru beberapa saja. Bahkan terkadang mereka yang bertugas pun kebingungan mengenai tugas-tugas mereka yang tumpang tindih antara unit yang satu dengan unit yang lain. Hal ini disebabkan karena gagalnya proses integrasi aparat keamanan Jerman sampai perang berakhir.

Silahkan dibaca satu bagian dari buku pegangan tersebut mengenai laporan intelijen.

LAPORAN INTELIJEN (DAN CARA MENULISNYA)

Persiapan laporan intelijen merupakan suatu bagian penting dalam setiap operasi intelijen kepolisian. Sebuah laporan intelijen hanya menjadi bermanfaat apabila:
1) Sepenuhnya benar dan dapat diandalkan.
2) Tidak rancu/ambigu dan dapat dimengerti.
3) Sampai ke tangan si komandan tepat waktu.

Kapankah laporan intelijen harus dibuat?
1) Kontak pertama dengan musuh.
2) Perubahan situasi atau status musuh.
3) Ketika jalan, kota, hutan, dll. tertentu telah dikonfirmasi bersih dari musuh.
Waktu dari laporan intelijen biasanya jelas, tergantung dari misinya. Terlalu banyak laporan bisa jadi merugikan.
Yang memberikan laporan harus mengerti isi dari laporan tersebut. Kecepatan penyampaian laporan ditandai dengan tanda silang. X=tidak darurat, XX=darurat, XXX=sangat darurat.

KOP LAPORAN INTELIJEN
Berikut adalah aturan-aturan resmi untuk semua laporan intelijen:
-DARI POS. Di sini dituliskan pos tugas atau posisi taktis dari si pengirim, bukan nama dan pangkat si pengirim. Contoh: “Seksi A” atau “Polisi Patroli Soebardjo”.
-NO. LAPORAN. Di sini diberi nomor laporan yang telah dikirim dari pos tadi. Laporan harus diberi nomor yang berurutan. Contoh: “Laporan Ketiga” jika laporan sebelumnya merupakan laporan nomor dua.
-LOKASI. Pemberian lokasi harus jelas dan tidak rancu. Lokasi bisa ditentukan oleh tiga atau empat indikator. Contoh: “Gedung enam lantai berwarna coklat (indikator pertama) 600 meter (indikator kedua) di arah tenggara (indikator ketiga) dari Stasiun Busway Harmoni (indikator keempat)”. Atau bisa juga diberikan nama lokasi jika diketahui seperti “Polisi Patroli 3/Jalan Melati 6”.
-TANGGAL. Semua ditulis dengan angka Arab. Contoh: “20.4.14”.
-WAKTU. Merupakan waktu saat laporan dikirimkan. Dengan demikian, waktu tidak dituliskan sampai ketika laporan dikirim. Waktu ditulis dalam format 24 jam. Menit dituliskan agak ke atas. Contoh: “2048” (angka “48” ditulis agak ke atas).
-KEPADA. Di sini dituliskan pos tugas yang dituju, bukan nama komandan yang bertugas. Jangan dituliskan kata seperti “Bapak” dlsb. Contoh penulisan yang benar: “kepada Komandan Seksi B”.

ISI/TEKS LAPORAN INTELIJEN
Selalu harus dikonfirmasi apakah yang kamu tulis adalah apa yang telah kamu lihat dengan mata kepala sendiri, apakah laporan berdasarkan asumsi kamu, atau apakah laporan kamu terima dari sumber lain.
JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN BERIKUT:
KAPAN. Berikan waktu yang tepat dari observasi kamu. Dan juga jamnya.
DI MANA. Berikan lokasi yang tepat di mana musuh telah terlihat. Jika musuh sedang berbaris, berikan lokasi terdepan dari posisi musuh.
APA. Dituliskan semua tentang apa yang telah kamu pelajari mengenai musuh, seperti kekuatan mereka, perlengkapan, komposisi pasukan, moral, perlakuan penduduk lokal terhadap mereka, dll.
BAGAIMANA. Apakah kamu telah melihat musuh? Bagaimana? Apakah “sedang disebar” atau “dalam posisi bertahan” atau “sedang beristirahat” dll.
APA YANG KAMU LAKUKAN. Contoh: “Patroli terus dilangsungkan ke arah tenggara, dan terus menyapu musuh di daerah situ.”

CONTOH ISI/TEKS LAPORAN INTELIJEN
Berdasarkan informasi yang diterima dari tukang bakso setempat di Cikini, pasukan ABC telah berkumpul sejak jam 1330 di Jalan Raden Saleh, 2 kilometer sebelah timur dari Cikini Raya. Kekuatan sekitar 80 orang, berseragam lengkap. Tidak ada informasi lebih lanjut yang diketahui. Kami akan menuju ke sana dari arah utara Jalan Raden Saleh untuk mencari tahu tujuan dari perkumpulan tersebut.

MENANDATANGANI LAPORAN INTELIJEN
Yang memberi laporan harus menuliskan pangkat dan nama, di sebelah kanan bawah laporan. Di sini dituliskan nama, bukan posisi tugas. Contoh: “Djoko Soebardjo, SS-Hauptsturmführer dan kapten polisi”.

INFORMASI UMUM
Laporan harus ditulis jelas dan tidak rancu. Huruf Jerman digunakan dalam laporan. Lokasi geografis dan nama-nama lain boleh ditulis dalam huruf Latin. Penggunaan tinta dan anilin tidak diperbolehkan. Dalam penulisan laporan tidak ada yang namanya “di sebelah kiri atau di sebelah kanan, atau di depan atau di belakang”, pengungkapan sipil macam ini tidak diperbolehkan. Dalam laporan intelijen, hanya poin-poin penting yang diperbolehkan seperti “di sebelah timur” atau “di sebelah barat”. Nama jalan harus dituliskan searah ke arah barisan musuh. Demikian juga halnya dalam pemberian nama kota. Pertigaan atau perempatan harus ditulis lengkap contohnya “Perempatan Matraman-Salemba/Proklamasi-Pramuka”. Pengungkapan seperti “kemarin, hari ini, besok” tidak diperbolehkan. Kamu harus memberi tanggal yang tepat.


Sumber :
www.facebook.com

Friday, April 18, 2014

Album Foto Schwere SS-Panzer Abteilung 103 / 503 (s.SS-Pz.Abt.103/503)

Inspeksi para awak Panzerkampfwagen VI Tiger II "Königstiger" sekaligus upacara penganugerahan medali dari schwere SS-Panzer-Abteilung 503 awal tahun 1945. Dari kiri ke kanan: SS-Untersturmführer Adolf Grimminger (Ordonnanz-Offizier s. SS-Pz.Abt.503), SS-Unterscharführer Emil Reichel (Richtschütze), SS-Oberscharfürer Brede (Halbzugführer), SS-Unterscharführer Böde (I-Staffel), SS-Unterscharführer Bier (Funker), SS-Sturmbannführer Friedrich "Fritz" Herzig (Abteilungskommandeur s.SS-Pz.Abt.503), dan SS-Untersturmführer Karl Brommann (Führer 1.Kompanie/s.SS-Pz.Abt.503). Di atas tank nongkrong SS-Unterscharführer Menke (Fahrer). Sebagai seorang komandan Königstiger, Brommann tercatat menghancurkan 66 tank, 44 senjata anti-tank dan 15 kendaraan lainnya! Dia meraih sebagian besar dari prestasinya di wilayah Stettin, dan aktif sebagai komandan Tiger mulai bulan Januari 1945 (sebelumnya dia bertugas di berbagai unit SS)



Sebuah Königstiger Ausf.B milik schwere SS-Panzer-Abteilung 503 di jalanan Berlin setelah menyerahnya Jerman. Di belakangnya adalah Ostwind/Wirbelwind disusul oleh Beobachtungs-Panzer (yang terakhir ini langkanya minta ampun!). Pada awal pertempuran Berlin, para komandan Königstiger yang ikut terlibat adalah sebagai berikut: SS-Unterscharführer Karl-Heinz Turk, SS-Unterscharführer Georg Diers, SS-Oberscharführer Karl körner, SS-Obersturmführer Max Lippert, SS-Untersturmführer Karl Brommann, SS-Untersturmführer Oskar Schäfer, SS-Oberscharführer Günther Gaul, SS-Hauptscharführer Harrer, SS-Unterscharführer Bender, SS-Unterscharführer Semik, SS-Unterscharführer Bootsmann, SS-Obersturmführer Müller, SS-Oberscharführer Stolze, dan SS-Hauptscharführer Scholte. Perlu diingat bahwa hanya sedikit yang di antara mereka yang kemudian tetap beraksi menggunakan Königstiger, sementara sisanya tewas, terluka, atau terpaksa berjibaku tanpa senjata andalannya karena hancur atau rusak dalam pertempuran!

Sumber :
www.forum.axishistory.com

Wednesday, April 16, 2014

Album Foto schwere Panzer-Abteilung 505 (s.Pz.Abt.505)

 Foto-foto ini diambil dari garasi milik schwere Panzer-Abteilung 505 di Orsha, Vitebsk Oblast (Rusia). Lambang "Ksatria Berkuda" milik unit ini terlihat jelas terlukis di kubah kanan Panzerkampfwagen VI Tiger I. Melihat dari ketiadaan turmnummer (nomor kubah), maka kemungkinan besar foto diatas diambil pada awal-awal eksistensi s.Pz.Abt.505. Unit ini sendiri didirikan akhir bulan Januari 1943 dan awalnya dipruntukkan bagi medan Afrika Utara. Hal ini berubah di pertengahan Februari ketika mereka jadinya dikirimkan untuk bertugas di Front Timur, yang akan menjadi satu-satunya wilayah operasi mereka sampai dengan akhir perang. Para anggota awalnya diambil dari 3. dan 26. Panzer-Division yang kemudian mengisi dua kompi. Pada bulan Maret 1943 tercatat 20 Tiger I model awal serta 25 Panzer III Ausf.L yang dimiliki oleh s.Pz.Abt.505 (meskipun tidak semuanya operasional)


Sumber :