Wednesday, December 16, 2009

Divisi Panzer SS ke-1 "Leibstandarte Adolf Hitler", Cikal-Bakal Waffen-SS!

Komandan Divisi Panzer SS ke-1 "Leibstandarte Adolf Hitler", Brigadeführer Joseph 'Sepp' Dietrich, sedang menganugerahkan Eiserne Kreuz kelas pertama dan kedua kepada para prajuritnya yang berprestasi dalam invasi Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis tahun 1940. Di sebelah kiri adalah Sturmbannführer Wilhelm Mohnke, yang nantinya akan menjadi komandan pertahanan Berlin di akhir perang (yang sudah menonton film DOWNFALL pasti tahu!)


Kendaraan Divisi Leibstandarte sedang "menyibak" jalanan berlumpur dalam musim gugur yang dingin di Front Timur tahun 1943


Jenis-jenis kendaraan perang dari Divisi Panzer Leibstandarte


Lambang dari divisi ini bukanlah singa, rajawali, baja, atau bentuk-bentuk 'gagah' lainnya, melainkan KUNCI! Yup, alasannya sederhana, karena untuk menghormati komandan pertama divisi ini yang berkharisma, Sepp Dietrich. 'Dietrich' adalah bahasa Jerman dari kunci


Para prajurit Leibstandarte dengan seragam hitam Allgemeine-SS era pra-Perang Dunia II


Para komandan pasukan panzer Divisi Leibstandarte sedang merundingkan strategi serangan selanjutnya. Disini kita bisa melihat beraneka ragam corak pakaian para prajurit ini, yang merupakan hal yang lumrah di akhir-akhir perang ketika sumberdaya Jerman makin menipis dari waktu ke waktu. Yang sedang memegang peta itu adalah Heinz von Westernhagen, salah satu figur dari divisi ini yang paling terkenal


Fritz Witt sedang menerangkan denah entah apalah itu kepada panglima SS Heinrich Himmler. Di sekitarnya berkumpul manusia-manusia unggul dari divisi ini. Di antaranya, dari kiri ke kanan : Heinrich "Hein" Springer, Josef "Sepp" Dietrich, Joachim "Jochen" Peiper, dan Max Wünsche. Di kemudian hari, Springer, Wünsche dan Witt menjadi pentolan Divisi Panzer SS ke-12 "Hitlerjugend"


Salah satu foto paling terkenal dari Pertempuran Bulge yang berkobar di akhir tahun 1944 dan awal tahun 1945, yang memperlihatkan seorang anggota Panzergrenadier dari Divisi Panzer Leibstandarte sedang berpaling ke arah kamera, dengan peralatan perang lengkap dan wajah yang tampak sangat lelah. Yang saya tahu, do'i kemudian selamat tapi tetap low-profile sesudah perang berakhir, tak pernah mau menampakkan jati dirinya atau bahkan menceritakan pengalaman perangnya!


Semboyannya adalah Meine Ehre heißt Treue yg berarti “My Honor is called Loyalty” Dibentuk oleh sepp dietrich pada tanggal 13 April 1934 Paramiliter ini awalnya adalah pasukan personal bodyguard nya si hitler, Pasukan kesayangan partai yg berasal dari orang2 pilihan yg memiliki fanatisme tinggi serta memiliki loyalitas dan dipercaya merupakan “Ras Arya Murni”, pengalaman tempur pertama mereka adalah di medan perang polandia disana mereka Bergabung dengan divisi ke 17 infantri Angkatan Darat Jerman, terlibat pertempuran sengit (close combat) dengan Brigade wolinska cavalry polandia di daerah Pabiance dekat kota Lodz, setelah itu mereka terlibat pertempuran kembali dalam pengepungan kota warsawa kali ini mereka bergabung dengan 4Th panzer Division berhasil memukul mundur usaha gerakan penerobosan yg dilakukan oleh tentara polandia dalam usaha evakuasi serta mematahkan perlawanan tentara dan partisan polandia didalam kota warsawa.

Pada 1940an LSSAH dikembangkan menjadi full independent motorized infantry regiment yg kemudian berkembang lagi menjadi sebuah brigade yg berkekuatan 6500 orang serdadu, pada masa ini mereka mendapat tambahan tank jenis Sturmgeschutz III, berikutnya mereka di pindah ke Belanda untuk ikut berpartisipasi dalam operation fall gelb berperan sebagai pasukan pemukul dan diberi tugas untuk menguasai sebuah jembatan di Ijsell Belanda yg memiliki fungsi sgt vital dalam operasi ini, setelah belanda menyerah LSSAH ditempatkan sbg pasukan cadangan untuk Army Group B.

Tugas berikutnya adalah Pengepungan Dunkirk bersama dengan SS-Verfügungs-Division mereka bertugas untuk menjaga frontline sambil sesekali melakukan serangan untuk memperkecil kantong2 embarkasi pasukan sekutu, kali ini LSSAH melakukan kesalahan fatal yg mengakibatkan jatuhnya banyak korban, didekat sebuah daerah beranama wormhoudt pasukan ini mengabaikan direct order dari Hitler untuk berhenti melakukan pengejaran, didaerah ini mereka dihujani serangan bomb artilery oleh pasukan inggris yg berkedudukan di Wattenberg Heights.

Setelah selesai pertempuran pasukan ini mendapatkan informasi yg salah mengenai tewasnya komandan divisi LSSAH sepp dietrich, dibawah komando SS-Hauptsturmführer Wilhelm Mohnke mereka membalas dengan membunuhi 80 orang tawanan perang anggota 2nd Battalion of the Royal Warwickshire Regiment Inggris yg kemudian dikenal dengan istilah Wormhoudt massacre.

Masih di tahun 1940 mereka mendapat perintah untuk berlatih menjalankan operasi amphibi dalam rangka persiapan operasi seelowe yg bertujuan untuk menginvasi daratan inggris namun karena kegagalan jerman dalam battle of britain maka rencana tersebut dibatalkan.

pada bulan februari 1941 divisi ini dipindah ke Bulgaria untuk ikut ambil bagian dalam operation Marita yg bertujuan untuk menguasai yunani dan yugoslavia, setelah selesai dengan operasi pendudukan mereka kembali mendapat tugas untuk mengejar dan mematahkan sisa2 perlawanan, dalam operasi pengejaran ini pasukan LSSAH dibagi kedalam 2 group, grup 1 dibawah komando Sturmbannführer Kurt Meyer's membersihkan perlawanan hingga ke daerah perbukitan Kleisoura berusaha memotong gerak mundur pasukan British Commonwealth serta divisi ke 20 pasukan yunani, dikisahkan bahwa perlawanan yg dilakukan oleh divisi ke 20 tentara yunani sangat gigih dan menakutkan bahkan hingga kurt meyer pun harus bersikap sangat keras terhadap anggotanya dengan melempar granat tangan kepada sekumpulan serdadu yg menolak untuk maju kedalam pertempuran.

Grup ke 2 dipimpin oleh Sturmbannführer Fritz Witt's memiliki tugas untuk membersihkan perlawanan didaerah perbukitan Klidi yg dijaga dan dipertahankan oleh pasukan inggris-Australia-New Zealand, seorang perwira inggris menggambarkan “kegilaan” pasukan ini dalam sebuah surat yg dikirimkan kepada komandannya yg mengatakan bahwa unit tersebut menurunkan pasukan (unload) dari truck hanya berjarak 3,000 yards dari posisi kami berada, selama 2 hari pasukan SS witt dihujani serangan artileri dan perlawanan tentara sekutu hingga kemudian pada pagi hari tanggal 12 april (2hari kemudian) pasukan itu melakukan serangan frontal ke posisi2 pasukan sekutu dan memaksa pasukan sekutu untuk mundur total pada sore harinya.

Dengan dikuasainya 2 kawasan perbukitan tersebut maka perlawanan pasukan sekutu dapat dipatahkan secara keseluruhan hingga akhirnya pada tanggal 20 April setelah pertempuran yg terakhir di daerah perbukitan metsovon pegunungan pindus panglima perang 1st Army yunani menyatakan bahwa Hellenic Army menyerah secara resmi kepada komandan divisi pasukan SS Sepp Dietrich.

Dengan keberhasilan luar biasa yg dicapai dalam operasi marita oleh pasukan ini himmler memberikan perintah untuk meningkatkan jumlah personel, tank dan persenjataan hingga mencapai jumlah setingkat divisi untuk kemudian mendukung keberhasilan operasi Barbarosa yg akan dilancarkan oleh Nazi pada tugas berikutnya.

Saat operasi barbarossa dilaksanakan pasukan ini ditempatkan dibawah III.Panzer-Korps bagian dari Panzergruppe 1 dibawah komando Generalfeldmarschall Ewald von Kleist's terlibat pertempuran di Battle of Uman serta memiliki andil yg signifikan dalam menguasai kota kiev, di kota ini mereka melakukan tindakan yg sangat buruk dengan membunuh 4000 tawanan perang tentara soviet karena 6 orang anggota divisi mereka diculik dan ditemukan tewas mengenaskan didaerah Taganrog , 17 September 1941 pasukan ini kembali trlibat pertempuran untuk menguasai kota Perekop, pada bulan november 1941 dipindah kembali kedalam pertempuran untuk menguasai kota Rostov-on-Don yg pada akhirnya kota tersebut baru dapat dikuasai pada akhir november. akan tetapi soviet langsung melakukan counter attack besar-besaran untuk merebut kembali kota tersebut yg memaksa pasukan ini mundur dan bertahan hingga ke sungai Mius.

Sekitar bulan juli 1942 dengan kondisi yg mengenaskan, kelelahan, kekurangan makanan dan amunisi pasukan ini bergabung kembali kedalam operasi Fall Blau yg bertujuan untuk merebut kembali kota Rostov-on-Don dengan kondisi yg memprihatinkan pasukan ini berhasil memainkan peranan mereka dengan baik hingga pada akhir juli 1942 kota tersebut benar2 dapat dikuasai kembali oleh pasukan jerman.

Setelah pertempuran merebut kota rostov pasukan ini ditarik pulang dan ditempatkan di Normandy Perancis, disana mereka digabung dengan SS-Panzer-Korps sebuah pasukan bentukan baru, LSSAH akhirnya direformed kembali sebagai sebuah pasukan divisi Panzergrenadier yg berarti bahwa pasukan ini akan menerima setiap jenis armoured fighting vehicle yg dimiliki angkatan bersenjata jerman pada saat itu.

Dengan semakin kritisnya pertahanan jerman di kota stalingrad maka German Sixth Army dalam keadaan terkepung dijepit oleh pasukan soviet dalam kondisi yg serba kekurangan, General Feldmarschall Erich von Manstein komandan Army Group Don meminta bantuan tambahan pasukan kepada markas komando maka dikirimlah pasukan LSSAH kembali ke soviet, tiba di soviet pada bulan januari 1943 pasukan ini langsung mendapat tugas yg berat yaitu mempertahankan kota kharkov dari gerakan maju pasukan soviet dalam memotong supply lines pasukan jerman, mereka berhadapan dengan Mobile Group Popov yg terdiri dari ratusan tank tipe T-34, pada tanggal 8 dan 9 februari 1943 resimen 1st SS Panzer Grenadier dibawah komando SS-Sturmbannführer Fritz Witt dan 1st SS Panzer dibawah komandan SS-Sturmbannführer Max Wünsche yg berkedudukan diluar kota kharkov terlibat pertempuran sengit selama beberapa minggu didekat kota merefa untuk menahan gerak maju pasukan besar soviet, dalam pertempuran ini pasukan kedua resimen dipukul mundur hingga ke kota kharkov hingga pada 15 februari pada akhirnya pasukan soviet berhasil melakukan pengepungan terhadap pasukan ini.

Dalam pengepungan tersebut komandan paul hausser melakukan tindakan berani dengan melanggar direct order dari hitler yg memerintahkan LSSAH bertahan di kota kharkov hingga amunisi terakhir, pasukan ini menerobos pengepungan dan mundur hingga ke kota Krasnograd dikota tersebut selama beberapa mingu mereka meneruskan bertempur serta berhasil menimbulkan korban dan kerugian yg sangat besar kepada Mobile Group Popov dan beberapa divisi infantri yg lain, dalam pertempuran kali ini pasukan LSSAH berhasil mempertahankan diri dan bahkan memukul mundur serangan soviet.

Akibat dari pelanggaran perintah yg dilakukan oleh hausser LSSAH diperintah untuk kembali merebut Kharkov akan tetapi dalam serangan itu pasukan LSSAH mendapat tambahan bantuan pasukan dari divisi panzer SS Das Reich dan divisi SS Totenkopf, serangan dilakukan pada tanggal 2 maret 1943 dengan skala yg sangat besar walaupun pada akhirnya kharkov dapat dikuasai kembali oleh jerman akan tetapi jumlah tercatat korban tewas sangat besar, korban dari Divisi LSSAH sendiri mencapai 4500 orang, pada masa ini lapangan red square di kota karkov diganti namanya menjadi Platz der Leibstandarte SS Adolf Hitler untuk mengormati korban tewas yg berasal dari divisi LSSAH.

Pada musim semi tahun yg sama yg dikenal dengan nama rasputitsa dalam bahasa soviet (pada musim ini adalah saat dimana salju mencair saat tanah berubah menjadi danau lumpur) kedua pihak menghentikan sementara seluruh aktivitas serangan militer sebagai akibat dari sulitnya gerakan kendaraan dan pasukan, (napoleon beberapa ratus tahun sebelumnya pun pernah merasakan keganasan musim ini selain serangan musim dingin alias jendral winter di soviet yg mematikan)

Saat kosong seperti ni dimanfaatkan oleh LSSAH untuk beristirahat dan resupply (rest and reffit) bantuan dan pasukan cadangan berdatangan kali ini kekuatan terdiri dari 12 Tank Tiger Is, 72 Panzer Ivs, 16 Panzer III dan IIs, 31 StuGs tank, kali ini pasukan paul hausser berubah nama menjadi 2nd SS Panzer Corps yg kemudian ditransfer ke kota Belgorod untuk persiapan serangan musim panas yg akan datang yg diberi kode operation citadel.

Dalam operasi citadel tersebut pasukan LSSAH heusser bergabung dengan Divisi SS Totenkopf dan Das Reich dibawah komando Generaloberst Hoth komandan pasukan panzer ke 4 Angkatan darat Jerman, Memiliki tugas untuk menembus pertahanan sisi selatan KURSK sementara Generalfeldmarschall Walter Model dengan tentara ke 9nya berusaha menembus dari arah utara dengan begitu diharapkan dapat mengepung pasukan soviet dalam jumlah yg sangat besar, akan tetapi pasukan soviet yg berjumlah ratusan ribu mengakibatkan gelombang serangan yg tidak terputus2 hingga pasukan jerman menglami kerugian yg sangat besar, Hitller akhirnya harus membuat keputusan membatalkan operasi citadel sebelum divisi-divisi mereka benar2 lenyap, dalam pertempuran kali ini pasukan LSSAH mengalami kerugian 2.753 orang cedera, 471 orang tewas dan jumlah kendaraan tempur mereka berkurang hanya tinggal 77 unit.

Setelah kegagalan Operasi citadel pasukan ini dipindah ke Italia seluruh peralatan tempur yg mereka miliki ditinggalkan dan diberikan kepada divisi SS das reich serta Divisi ss totenkopf. Tugas LSSAH di Italia adalah untuk membantu memulihkan stabilitas disana yg sempat kacau akibat mosi atau rasa tidak percaya rakyat italia terhadap benito musolini sekaligus bertugas menghadang pendaratan pasukan Amerika di Sicilia.

Di Italia pasukan ini berpindah2 posisi, pada pertengahan 1943 gerakan menggulingkan pemerintahan musolini menguat, ketika itu rakyat italia mulai membenci musolini dan pemerintahannya terjadi pemberontakan dan usaha2 menggulingkan pemerintahan musolini oleh rakyat italia yg berhasil dengan sukses, pada masa ini pasukan LSSAH mendapt tambahan tugas untuk melucuti pasukan2 Italia. Sebuah Unit SS mechanised III/2nd SS Panzer Grenadier Regiment yg dikomandani oleh Sturmbannführer Peiper saat itu mendapat perintah untuk mellucuti pasukan italia yg berkedudukan diprovinsi cuneo perbatasan italia-perancis akan tetapi sebelum pasukan LSSAH memasuki provinsi tersebut dihadang dan diberikan peringatan untuk mundur oleh para komandan pasukan italia jika tidak ingin diserang, Peiper menolak menuruti perintah para komandan tempur italia itu dan memutuskan untuk menghancurkan pasukan Italia tersebut, dalam pertempuran itu sisa2 pasukan italia lari dan mengundurkan diri karena mengalami kekalahan telak.

Pada awal bulan november tahun yg sama keadaan pasukan jerman di soviet semakin mengkhawatirkan, hal ini memaksa Hitler untuk memindahkan kembali pasukan LSSAH ke Eastern Front, Pasukan ini tiba kembali di Soviet pada pertengahan bulan november di kota Zhitomir disini mereka bersama dengan XLVIII.Panzer-Korps sebagai bagian dari 4.Panzer-Armee Angkatan darat Jerman memiliki tugas untuk memperthanakan defense line di dekat kota Zhitomir pada bulan januari 1944 101 SS Heavy Panzer Battalion Tiger commanders LSSAH, Michael Wittmann dianugrahi Oakleaves to the Knight's Cross of the Iron Cross atas jasa2 luarbiasanya dalam menahan laju serangan “Seluruh” Soviet armoured brigade.

Akhir bulan january pasukan ini dipindah kembali ke daerah Cherkassy area ditempatkan dibawah komando German III Panzer Corps, sebagai bagian dari German First Panzer Army , disini mereka mendapat perintah untuk menyelamatkan 56.000 pasukan Jerman Gruppe Stemmermann yg sedang terkepung di Korsun Pocket mereka berusaha menjebol kepungan yg sedang dilakukan oleh tentara merah ketika usaha tersebut hampir berhasil hitler kembali memberikan perintah yg hampir mustahil dilakukan, Pasukan tersebut mendapatkan perintah untuk Balik mengepung pasukan soviet yg sedang mengepung pasukan Gruppe Stemmermann usaha ini gagal karena perlawanan soviet yg terdiri dari 4 Soviet tank corps dan datangnya musim semi atau rasputitsa yg menyebabkan sulitnya pergerakan kendaraan, pasukan Jerman yg kelelahan ini akhirnya mundur hingga ke Gniloy Tikich River menyelamatkan yg masih tersisa dan pada akhirnya berhenti bertempur di eastern front pada akhir bulan februari.

Sisa2 pasukan LSSAH yg terdiri dari 41 officers dan 1,188 pasukan akhirnya mundur total menuju Belgia untuk beristirahat dan menambah pasukan cadangan serta peralatan perang, pasukan ini selesai rest and refit pada 25 April dan kembali menjadi sebuah pasukan divisi yg utuh dan berkekuatan penuh.

Setelah Belgia pasukan ini ditarik untuk menjaga western front kali ini mereka bersama dengan 4 Divisi yg lain yaitu 101 SS Heavy Panzer, 12th SS Panzer Hitlerjugend, 17th SS Panzergrenadier Götz von Berlichingen and the Panzer Lehr. Leibstandarte SS Adolf Hitler mendapat tugas untuk menjaga bagian utara dari sungai seine untuk mengcounter segala kemungkinan pendaratan pasukan sekutu di pas de calais ditempat ini mereka terlibat pertempuran dengn pasukan sekutu dalam mempertahankan Carpiquet village dan aerodrome yg dalam pasukan sekutu dikenal dengan istilah Operation Windsor. Berikutnya pasukan ini terlibat beberapa pertempuran dalam menahan gerakan pasukan sekutu diantaranya adalah saat sekutu melaksanakan Operation Charnwood dan Operation Jupiter, pada malam tanggal 14 - 15 July pasukan ini bersama dengan 272nd Infantry Division akhirnya mundur ke posisi baru di sekitar wilayah antara Caen-Falaise.

Pada 18 juli tentara sekutu menlancarkan operation goodwood berisikan tiga British armoured divisions dan bantuan infantri di sayap, mereka berusaha menyerang posisi musuh disekitar Caen tidak kurang dari 2500 pesawat melakukan pemboman selama 3 jam tanpa henti sebelum semua divisi Inggris tersebut benar-benar menyerang posisi pasukan LSSAH, pasukan SS-Obersturmführer Malkomes yg sedang bertugas dan berkekuatan 13 unit tank panther mendapat perintah untuk segera melakukan serangan balik, disebelah tenggara kota pasukannya menemukan 60 tank pasukan inggris yg sedang beristirahat, pasukan itu segera melakukan serangan dan berhasil menghancurkan 20 unit tank, menawan sejumlah pasukan infantri serta memukul mundur sisanya.

Ditempat lain sebuah Panther Battalion yg berasal dari I/1st SS Panzer regiment terlibat pertempuran dengan British 29th Armoured Brigade mereka dipukul mundur namun pada sore harinya bersama dengan 21st Panzer Division melakukan serangan balik mereka berhasil menahan gerak maju pasukan inggris hingga pada keesokan paginya pasukan inggris kembali datang menyerang dengan skala yg lebih besar, dalam sekejap pasukan jerman ini kalah dalam jumlah mereka meminta bantuan pasukan yg akhirnya datanglah pertolongan dari 12th SS Panzer Division tidak cukup sampai disitu pasukan inggris pun mendatangkan bala bantuan yg berasal dari Guards Armoured Division, 7th Armoured, 2nd Canadian and the 3rd canadian yg memaksa pasukan LSSAH mundur secara teratur sambil sesekali melakukan serangan.

Di Normandy Pendaratan pasukan Amerika Berjalan dengan sukses, garis pertahanan pasukan jerman Jebol,unit2 cadangan tidak mampu menahan laju pasukan Amerika, mereka mulai menguasai satu persatu kota2 disekitar pantai mulai dari Avranches, Britanny dan mulai bergerak menuju ST Lo,Hitler memberikan perintah aneh...Dilarang keras mundur...Jendral Von Kluge komandan XLVII Panzer Corps diperintah untuk melakukan serangan balik, dia dijanjikan bantuan dari seluruh sumber yg tersedia termasuk pasukan panzer dari LSSAH. Dengan kekuatan yg tersedia hanya 300 tank mereka berencana memukul mundur the US 30th Infantry Division, rencana telah disusun perintah telah disebarkan tetapi nasib sial menimpa pasukan jerman dengan terpecahkannya kode sandi rahasia jerman maka komandan angkatan darat amerika Omar Bradley telah bersiap memberikan bantuan perlindungan udara yg berasal dari US 9th Air Force dan RAF .seluruh pasukan ini ahirnya mundur dari pertempuran normandy dan terkepung di daerah falaise, selama terlibat dalam pertempuran dikawasan normandy ini pasukan LSSAH total kehilangan sekitar 5000 orang anggotanya.

Pertempuran berikutnya adalah The Ardennes Offensive, kali ini Wilhelm Mohnke naik menjadi komandan divisi LSSAH, disebuah kawasan hutan yg bernama ardennes yg terletak di pegunungan Belgia yg berbatasan dengan prancis dan luxembourg jerman berencana melakukan serangan frontal trhadap pasukan sekutu, operasi militer tersebut dalam bahasa jerman dikenal dengan nama Unternehmen Wacht am Rhein ( The Guard on the Rhine atau Operation "Watch on the Rhine.") saat ini klasifikasi pasukan LSSAH telah naik menjadi “elite and highly trained units in German military”, masalah yg sedang menimpa pasukan ini adalah kekurangan bahan bakar...!!!Wilhelm Mohnke kemudian memberikan perintah kepada Joachim peiper yg berkekuatan 4800 personel dan 600 kendaraan tempur untuk menguasai depot bahan bakar pasukan amerika yg terletak di daerah Büllingen, dalam perjalanan menuju pertempuran kemudian mereka bertemu dengan 150 orang pasukan Amerika Anggota 285th Field Artillery Observation Battalion dilucuti dan kemudian sebagian besar dari 150 orang tersebut dieksekusi mati (malmedy Massacre).

Ketika memasuki Stavelot pasukan peiper bertemu dengan garis pertahanan pasukan Amerika yg sangat kuat, gagal menerobos masuk akhirnya peiper mundur ke La-Gleize pasukan amerika mulai menyerang dari arah yg berlawanan, memaksa peiper bertahan di La-Gleize dalam keadaan terkepung saat ini pasukan peiper telah terputus total dari supply line pasukan inti jerman hanya dapat berharap bantuan pasukan segera datang membebaskan mereka, akan tetapi bantuan pasukan tersebut tdk kunjung datang hingga akhirnya peiper memutuskan untuk menerobos kepungan kembali mundur ke garis belakang pasukan jerman, dalam pertempuran ini sebagian besar kendaraan perang lapis baja pasukan LSSAH ditinggal begitu saja karena kekurangan bahan bakar, untungnya korban yg jatuh dari pertempuran hanya sedikit saja hampir sebagian besar pasukan peiper berhasil keluar dari pengepungan.

Pasca kegagalan peiper dalam mencari sumber bahan bakar pasukan LSSAH tertahan disemua fronts tidak dapat melakukan serangan besar-besaran dan hanya mampu bertahan, komando angkatan darat jerman memutuskan untuk kembali melakukan serangan pada 1 januari 1945 akan tetapi kali ini sekutu telah siap, Amerika telah melakukan penambahan pasukan dan peralatan perang hal ini menyebabkan semua serangan yg dilakukan LSSAH dapat ditahan disemua lini, akhirnya The Ardennes Offensive gagal dan secara resmi berakhir pada tanggal 27 January 1945 tiga hari kemudian mohnke naik pangkat menjadi SS-Brigadeführer. Posisinya sebagai divisional commander digantikan oleh SS-Brigadeführer Otto Kumm pasukan ini kemudian dipindah tugaskan ke Hungary untuk mengamankan kilang2 minyak yg tersisa milik Jerman serta merebut kembali kilang minyak yg telah dikuasai oleh sekutu.

Di hungary pasukan LSSAH juga mengalami berbagai kegagalan, utamanya adalah disebabkan oleh menipisnya supply bahan bakar, pasukan cadangan dan kalah dalam jumlah serta amunisi, di front timur pasukan soviet semakin menunjukkan taringnya, pasukan LSSAH kemudian ditarik pulang menuju ke kota vienna, disini pasukan Jerman mulai putus asa dan mulai membangun defense line untuk bertahan dari serangan besar-besaran pasukan soviet yg semakin mendekat ke wilayah Jerman.

ketika mempertahankan kota vienna pasukan ini mengalami kerugian yg sangat besar kalah dalam jumlah dan bertempur dalam posisi yg tidak berimbang mereka diperintah mundur menuju Zossen (dekat Berlin) dari sana mereka mendapatkan tugas baru untuk menahan pasukan sekutu di kota Mürwik ( Jerman bagian utara berbatasan dengan Denmark) pertempuran demi pertempuran mereka alami disana hingga pada akhirnya sebagian besar pasukan itu menyerah kalah kepada pasukan Inggris, sisa pasukan yg dapat meloloskan diri akhirnya melarikan diri menuju Berlin, membantu sekitar 800 orang dari unit LSSAH “Guard Battalion” yg bertugas sebagai pasukan pribadi penjaga hitler, saat itu Mohnke's command post berada di the Reich Chancellery bunkers, sesaat setelah hitler dikabarkan tewas bunuh diri Mohnke memerintahkan kepada setiap komandan lapangan yg ada untuk segera melarikan diri dan menuju sungai elbe agar menyerahkan diri kepada pasukan Amerika akan tetapi sebagian besar dari mereka tidak dapat lolos dari kepungan tentara Soviet, sebagian besar dieksekusi dan ada yg bunuh diri, pada tanggal 2 may 1945 jendral Helmuth Weidling ( Kommandant of the Defense Area Berlin) menyatakan menyerah kepada pasukan Soviet dan perang pun berakhir.

Sepak terjang Pasukan Ini selama perang memang luar biasa, peningkatan jumlah pasukan yg sangat cepat dari tahun ke tahun serta pengalaman tempur dan klasifikasinya membuat pasukan ini disegani oleh lawan-lawan mereka. Berikut adalah table peningkatan jumlah pasukan setiap tahunnya :

Manpower strength

Jan 1935 = 2.531
Jan 1936 = 2.650
Jan 1937 = 3.177
Jan 1938 = 3.607
Dec 1938 = 3.626
June 1941 = 10.796
Dec 1942 = 20.844
Dec 1943 = 19.867
June 1944 = 19.691
Dec 1944 = 22.000


Sumber :
www.kaskus.us
www.en.wikipedia.org


Misteri Kematian Adolf Hitler dan "Tengkorak"-nya!

Tengkorak yang diyakini merupakan sisa-sisa dari pemimpin Jerman Adolf Hitler


Hasil rontgen dari tengkorak tersebut



Oleh : Dimas Girga

Dalam banyak-banyak buku biografi yang ditulis mengenai Adolf Hitler, ada tercatat yang mengatakan dia membunuh diri dengan Eva Braun. Hitler memakan pil sianida dan kemudian menembak kepalanya sendiri pada 30 April 1945 ketika pasukan Rusia mula mengebom Berlin.

Namun, beberapa sejarawan telah menyatakan keraguan bahwa Hitler menembak dirinya sendiri. Mereka berpendapat bahwa kisah kematian Hitler telah saja dibuat cerita sedemikian untuk menggambarkan kisah bunuh dirinya dalam keadaan yang sangat berani.

Namun pecahan tengkorak dengan sebuah lubang peluru yang selama ini dianggap milik Hitler yang diambil dari sebuah bunker oleh pasukan Rusia dan dipamerkan di Moskow hingga tahun 2000 akan mengakhiri perdebatan ini untuk selamanya.

Para saintis yang meneliti fragmen tengkorak tersebut menemukan bahwa tengkorak tersebut ternyata milik seorang wanita berusia antara 20-40 tahun yang identiti masih tidak dijumpai. Analisis DNA terhadap tulang tersebut yang ketika ini disimpan oleh Badan Airship Rusia di Moskow telah dilakukan di makmal genetik Universiti Connecticut. Hasilnya telah disiarkan oleh History Channel. Hitler kemungkinan berjaya melarikan diri. Para saintis dan sejarawan terkejut dengan perkembangan terbaru ini.

Arkeologi dan pakar tulang universiti Connecticut, Nick Bellantoni, mengatakan bahwa tulang tersebut terlalu tipis. Tulang milik lelaki cenderung lebih tebal dan padat. Lagipun, tengkorak tersebut menunjukkan ciri-ciri seseorang yang berusia 40 tahun kebawah. Pada tahun 1945, hitler berusia 56 tahun.

Bellantoni telah terbang menuju Moskow untuk memeriksa pecahan-pecahan tengkorak tersebut termasuk kesan darah yang ditemukan di sofa didalam bunker dimana Hitler dan Eva Braun dipercaya bunuh diri. Bellantoni mengambil sampel DNA dari kesan darah tersebut.

Sampel itu kemudian dibawa kembali ke Universiti Connecticut dan segera diperiksa di makmal genetik terapan. Linda Strausbaugh menutup makmal nya selama tiga hari hanya untuk concentrate memeriksa sampel tersebut. "Kami menggunakan prosedur rutin yang biasa dilakukan di makmal jenayah." Kata Linda. Linda berhasil mengekstrak DNA tersebut untuk dianalisa. Dan hasilnya, tengkorak tersebut bukan milik Hitler.

Menurut saksi-saksi yang menyaksikan pemindahan mayat Hitler, mayat Hitler dan Braun ditutup dengan selimut dan dibawa ke sebuah kebun diluar bunker Berlin oleh pasukan Soviet. Lalu di diletakkan di dalam kotak bomb dan ditanam lalu disiram minyak tanah dan dibakar. Namun menurut para pakar teori konspirasi, Hitler tidak mati di tempat itu.

Selama puluhan tahun, nasib mayat Hitler diselubungi oleh misteri. Tidak pernah ada foto atau film yang dipublikasi. Pada saat pasukan Soviet berjaya menguasai Berlin Mei 1945, para pakar Forensik Rusia dibawah komando unit kepakaran menggali mayat yang dianggap Hitler, lalu melakukan pemeriksaan post mortem secara tertutup. Menurut mereka, rahang bawah tengkorak tersebut sama dengan catatan gigi Hitler. Sebagian tengkorak hilang, namun dianggap wajar kerana dia menembak pistol ke kepalanya. Autopsi itu juga mengungkap bahwa Hitler hanya memiliki satu testikel seperti jangkaan orang ramai.

Namun Stalin tetap menaruh kecurigaan. Pada 1946, misi rahsia kedua dikirim ke Berlin. Dari kubur tempat mayat Hitler ditemukan, kumpulan tersebut menemukan pecahan tengkorak yang hilang dengan lubang tembakan. Pasukan Soviet juga mengambil pecahan kesan darah di sofa bunker.

Namun hal ini masih tidak memuaskan Stalin. Dia tetap menganggap ini masih lagi rahsia dalam segala hal yang berhubungan dengan kematian Hitler. Mungkin banyak yang belum tahu, namun mayat Hitler sesungguhnya dikubur di Magdeburg, Jerman Timur hingga pada tahun 1970 ketika KGB menggali kubur itu dan membakarnya serta menyebarkan abunya ke sungai. Hanya pecahan tulang rahang dan kesan darah di sofa itulah yang disimpan oleh KGB.

Sekarang pecahan rahang itulah yang menimbulkan kontroversi. mungkinkah tengkorak itu milik Eva Braun yang meninggal pada usia 33 tahun ? Namun tidak pernah ada laporan bahwa Eva Braun menembak dirinya sendiri.

Setelah 64 tahun, misteri kematian Hitler masih dianggap misteri..


Sumber :
www.facebook.com
www.abc.net.au
www.aboutfacts.net


Karl Haushofer (1869-1946), Tokoh Yahudi di Balik Tragedi Holocaust!

Karl Ernst Haushofer


Karl Haushofer berfoto bersama keluarganya. Istrinya Martha dan dua anaknya, Albrecht (1903-1945) dan Heinz Konrad. Kemungkinan besar foto ini diambil sewaktu zaman Perang Dunia I dan Haushofer masih menjadi prajurit Kekaisaran Jerman


Karl Haushofer berfoto bersama pentolan Nazi Rudolf Hess di tahun 1920


Oleh : Adithree asfuhrer

Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar dalam kasus pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan Nazi-Jerman dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.

Karl Ernst Haushofer lahir di Munich, Bavaria (Jerman), pada 27 Agustus 1869. Dia terlahir dari keluarga Yahudi Jerman, dari pasangan Max Haushofer, seorang ekonom, dan Frau Adele Haushofer. Lulus dari sekolah atas, Karl muda mendaftar sebagai tentara Bavaria. Karir di dinas ketentaraan, Karl menamatkan pendidikan di Lembaga Pendidikan Ketentaraan Bavaria (Kriegschule), Akademi Artileri (Artillerieschule), dan Bavarian War Academy (Kriegsakademie). Tahun 1896 Karl muda menikah dengan Martha Mayer Doss, juga seorang Yahudi.

Haushofer meneruskan pendidikannya hingga menjadi perwira tinggi dan berdinas di Angkatan Perang Kerajaan Jerman dan karirnya melejit hingga menduduki jabatan sebagai Staff Corp di tahun 1899. Bahkan pada tahun 1903, Karl Haushofer diangkat menjadi tenaga pengajar di Bavarian Kriegsakademie.

Tahun 1908, Haushofer dikirim ke Jepang guna mempelajari sistem ketentaraan di negeri Matahari Terbit itu. Di Jepang, Haushofer juga didaulat menjadi instruktur resimen artileri tentara Nippon. Dari Jepang, Haushofer yang menguasai banyak bahasa asing selain Jerman, seperti Inggris, Perancis, dan Rusia, ditugaskan melawat ke beberapa negara Timur Jauh seperti Korea, India, Tibet, Cina, dan lain-lain.

Selama bertugas di Timur Jauh inilah, Haushofer yang memang telah lama tertarik dengan ajaran-ajaran mistis dari Timur melanjutkan penelitiannya. Dia juga menerjemahkan beberapa literatur Budhisme dan Hindu. Menurut sejumlah peneliti, ketertarikan Haushofer terhadap ajaran mistis-esoteris bukan tanpa sebab. Latar belakang keluarganya dipercaya memang telah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Haushofer merupakan salah satu tokoh dari sebuah persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah).

Dari perjalanannya keliling Timur Jauh inilah, Haushofer kemudian memperkenalkan sebuah Teori Geo-Politik yang dinamakan “The Heartland Theory” yang intinya berbunyi: “Siapa pun yang bisa menguasai Heartland maka ia akan mampu menguasai World Island”.

Heartland (jantung bumi) merupakan sebutan bagi wilayah Asia Tengah, dan World Island mengacu pada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan itu merupakan kawasan kaya minyak bumi dan juga gas. Teori ini sesungguhnya bukan otentik dari Haushofer, namun adaptasi dari Sir Alfrod McKinder (1861-1947), seorang pakar geopolitik asal Inggris terkemuka abad ke-19. Nicholas Spykman, seorang sarjana Amerika, menambahkan teori ini dengan mengatakan, “Siapa pun yang bisa menguasai World Island, maka ia menguasai dunia.” (Di Milenium ketiga, teori ini dianut oleh Gedung Putih sehingga Bush berambisi menguasai Afghanistan, Irak, dan negeri-negeri sekitarnya).

Haushofer dikenal dekat dengan perwira-perwira Jerman, bahkan berkawan akrab dengan dua tokoh Nazi, Adolf Hitler dan Sekretarisnya, Rudolf Hess. Kepada Hitler, Haushofer menyodorkan teori geopolitik dan juga teori ras unggul bangsa Arya. Buku karangan Hitler yang diasisteni Hess berjudul “Mein Kampf” (Perjuanganku, 1926)—buku ini menjadi buku suci Partai Nazi—dilatarbelakangi teori yang dikemukakan Haushofer. Menurut Haushofer, agar bangsa Jerman bisa menjadi bangsa terkuat di dunia, maka ras Arya harus memurnikan dirinya dan menyingkirkan semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini. Teori Charles Darwin—juga Yahudi—pun dikemukakan oleh Haushofer sehingga Adolf Hitler menjadi semakin jatuh dalam pengaruhnya.

Berkat pengaruh dari Haushofer inilah, ketika Nazi berkuasa, maka dilakukan pemurnian ras Arya secara besar-besaran. Semua orang Jerman yang bukan berasal dari ras ini dikejar-kejar dan dihancurkan, secara khusus orang Yahudi yang memang banyak mendiami wilayah Jerman menjadi target utama. Masa lalu Hitler yang memiliki hubungan yang buruk dengan orang Yahudi menambah kebenciannya terhadap bangsa yang satu ini. Secara diam-diam Haushofer memprovokasi Hitler agar terus mengejar dan mengusir orang-orang Yahudi dari Jerman dan kawasan sekitarnya.

Mengapa seorang Haushofer yang juga Yahudi Jerman berbuat seperti ini? Jawabannya bisa ditemukan dalam sebuah pertemuan rahasia 13 keluarga berpengaruh Yahudi di Judenstaat, Frankfurt, Bavaria, di kediaman Sir Mayer Amschell Rothschild pada tahun 1773. Saat itu Rotshchild melontarkan dua rencananya. Pertama, menyusun 25 program penguasaan dunia yang kemudian kita kenal sekarang sebagai Protokolat Zionis. Yang kedua, Rotshchild menyebut nama Adam Weishaupt—seorang mantan Yesuit—untuk mendirikan dan memimpin organisasi konspiratif modern bernama Illuminati. Pertemuan Frankfurt ini menyepakati, mereka harus menemukan kembali harta karun King Solomon yang mereka yakini terbenam dalam reruntuhan Haikal Sulaiman yang ada di bawah Masjidil Aqsha di Yerusalem. Caranya adalah dengan merebut Yerusalem dari tangan bangsa Palestina yang sudah ribuan tahun mendiaminya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Theodore Hertzl ditugaskan menemui Sultan Abdul Hamid II yang kala itu menjadi Khalifah Turki Utsmaniyah agar mau menyerahkan Tanah Palestina bagi bangsa Yahudi. Sultan menolak mentah-mentah permintaan ini walau kemudian Hertzl mengiming-imingi Sultan dengan harta berlimpah. Sultan tidak bergeming sedikit pun. “Selama jantungku masih berdetak dan darahku masih mengalir, aku haramkan Tanah Palestina bagi kalian wahai Yahudi, ” demikian jawaban dari Sultan. Akibatnya Hertzl dan petinggi Yahudi geram dan membuat satu strategi untuk meruntuhkan khilafah dengan memunculkan seorang Turki Muda bernama Mustafa Kemal Attaturk. Sultan Abdul Hamid II pun tersingkir. Kekhalifahan Turki Utsmani dibubarkan, dan Mustafa Kemal Attaturk menjadi pemimpin Turki dan mensekulerkan negeri itu. Satu penghalang telah tumbang. Walau demikian Yerusalem belum bisa diduduki.

Theodore Hertzl kemudian menyelenggarakan Kongres Internasional Zionisme (1897) yang diselenggarakan di Basel, Swiss. Kongres ini menyepakati bahwa seluruh Yahudi-Diaspora, istilah bagi orang-orang Yahudi yang masih terserak di seluruh dunia, agar secepatnya melakukan imigrasi ke Promise Land atau yang menurut mereka Kota Suci Yerusalem. Seruan Kongres Internasional Zionis ini tidak ditanggapi dengan antusias. Banyak keluarga Yahudi yang sudah mapan di Eropa dan Amerika enggan pindah ke Yerusalem. Meraka menolak seruan itu walau para ketua Zionis memaksanya.

Akhirnya tidak ada jalan lain, imigrasi Yahudi ke Palestina harus melalui jalan paksaan. Harus ada satu kondisi yang memaksa orang-orang Yahudi-Diaspora agar mau pindah ke Palestina. Akhirnya Haushofer berhasil dengan gemilang mendekati Hitler dan kemudian—tanpa disadari—ulah Nazi mengejar-ngejar orang Yahudi mengakibatkan banyak orang Yahudi yang kabur dari negerinya dan berbondong-bondong ke Palestina.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Norman Finkeltstein dalam “The Holocaust Industry” atau Frederich Toben, peristiwa Holocaust sesungguhnya didalangi oleh kaum Zionis-Yahudi guna memaksa orang-orang Yahudi lainnya agar mau pindah ke Palestina, lewat tangan Hitler. Bahkan Norman Finkelstein yang juga berdarah Yahudi menentang cara-cara kotor Zionis ini. Dalam bukunya, Finkelstein membongkar mitos holocaust dan menyebutnya sebagai proyek pemerasan yang dilakukan Zionis terhadap negara-negara Eropa dan juga dunia, dengan mengorbankan kaum Yahudi Eropa yang sebenarnya enggan untuk ke Palestina.

Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh pasukan Sekutu. Pada tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan bunuh diri di Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun yang melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun sebelumnya.


Sumber :
www.facebook.com
www.commons.wikimedia.org
www.avizora.com
www.gettyimages.com


Monday, December 14, 2009

Foto Photoshop Dengan Tema Third Reich

Pengirim : Agung Styanto. Foto aslinya adalah wawancara para jurnalis belanda terhadap peraih Ritterkreuz pertama dari sukarelawan SS negara tersebut, Gerardus Mooyman


Pengirim : Agung Styanto. Meskipun di gambar ada teks : BELGRADE, 30 SEPTEMBER 1944, tapi aslinya foto ini adalah para tawanan muda dari Divisi Panzer ke-12 SS "Hitlerjugend" yang menyerah pada pasukan Kanada dalam pertempuran di Normandia


Bagi anda para pembaca blog ini yang senang bermain-main dengan Photoshop, dapat mengirimkan karya terbaiknya kepada saya, dengan tema sederhana : THIRD REICH. Bisa berupa foto anda yang disandingkan dengan foto-foto zaman tersebut, ataupun foto Nazi yang telah dimodifikasi sedemikian rupa. Setiap foto yang dimuat akan dicantumkan nama pengiringnya...

Saturday, December 12, 2009

Erik Jan Hanussen (1889-1933), Orang Yahudi Dukun Kepercayaan Adolf Hitler!


Erik Jan Hanussen

Erik Jan Hanussen sedang 'bekerja'


Oleh : Adithree Asfuhrer

Erik Jan Hanussen,adalah salah satu faktor yang dapat membuat NAZI hampir berhasil menguasai dunia .

Karena Erik Dapat meramal kan apa yang akan terjadi di masa depan,siapa yang akan di hadapi Hitler,Strategi apa yang akan dipakai musuh Hitler untuk menjatuhkan nya .

Sehingga hampir tidak ada musuh Hitler yang dapat menjatuhkan nya !!

Siapakah Erik Jan Hanussen ??
Dia adalah sosok karismatik tahap waskita dan mentalist yang datang ke perhatian Partai Nazi,Erick menimbulkan daya Jerman pada awal 1930an. Erik Jan Hanussen mungkin telah mendapat kekuatan psikis sejak lahir, namun dia menggunakan ketenaran dan kekuasaan kepercayaan public untuk meningkatkan kekayaan sendiri dan berdiri di corridors kekuasaan politik. Ia bahkan mungkin telah berkontribusi langsung ke awal keberhasilan Nazi Jerman. Tetapi pada akhirnya, salah seorang paling menakjubkan akan mengakibatkan kematiannya.

Erik Jan Hanussen adalah itu nama panggilannya. Yang di asuh oleh ayah-nya Hermann Steinschneider,Erick lahir pada tanggal 2 Juni 1889, ayahnya seorang Yahudi yang merupakan aktor dan pengurus dari sinagoga. Hanussen meninggalkan pendidikan sekolah-nya untuk bergabung dengan sirkus, di mana dia mengembangkan keterampilan sebagai pelempar pisau, pemakan api, dan laki-laki kuat.

Ia selama Perang Dunia I sebagai seorang prajurit Hanussen mulai menunjukkan kemampuan psikis pertamanya. Pada satu titik,perusahaan telah memotong pasokan air untuk para pasukan, dan pasukan mulai menjadi putus asa. Hanussen,dengan menggunakan tongkat yang ditancapkan ketanah,ia berhasil mengeluarkan air untuk para sahabatnya. Akhirnya dia bisa melakukan transfer untuk pasukan.
Berkat kemampuannya dah latar belakang kepribadian-nya yang karismatik .

Ketika perang telah selesai, Hanussen dikembangkan lebih lanjut ia bertindak sebagai tahap waskita dan mentalist, kinerja di ruang musik di Jerman dan negara-negara sekitarnya. Suatu hari dia menunjukkan sesuatu yang membawa-nya kepasa banyak perhatian publik,beliau meramalkan dengan rinci tentang pembunuhan lokal - rincian yang hanya diketahui publik ketika kemudian sudah diterbitkan dalam sebuah surat kabar. Ada dugaan bahwa Hanussen mempunyai sekutu di dunia koran atau polisi departemen setempat yang bisa memberikan dia informasi,sehingga dia dapat meramalkan nya. Tetapi pada saat itu, cukup banyak yang terkesan oleh "ramalan-nya".

Kemampuannya Sesungguhnya ?

Hanussen tidak nya tanpa masalah dengan hukum. Namun satu penangkapan dan percobaan yang ia lakukan dapat berbalik sepenuhnya kepada kebaikan dan mengangkat dia ke peringkat sbg bintang. Itu berlangsung di Leitmeritz, Cekoslovakia, dimana ia membela diri terhadap tuntutan mengambil uang di bawah alasan-alasan palsu-nya yang, mengklaim memprediksi masa depan adalah tindakan kriminal. Hanussen membela diri dan mengatakan bahwa prediksi-nya tidak-lah salah sama sekali, bahwa itu adalah kemampuan asli-nya. Dia kemudian mengatur sesuatu untuk membuktikan apa yang ada di kantong dan tas sang hakim dengan akurat .

Hakim tidak percaya begitu saja kepada-nya,sang hakim yakin itu hanya sebagai salah satu trik Hanussen dari panggung. Jadi Hanussen menawarkan demonstrasi yang lebih mengesankan. Dia mengatakan kepada sang hakim dipengadilan bahwa sebentar lagi, seorang laki-laki akan merampok di Commercial Bank,lelaki tersebut dapat ditemukan dilantai 2 pada gedung Leitmeritz stasiun kereta api. Uang yang dicuri, dia mengatakan kepada mereka, dia juga mengatakan uang nya berada didalam tas kantor. Polisi bergegas ke stasiun kereta dan menemukan pencuri dan uang, seperti Hanussen prediksikan. Pengadilan tidak memiliki pilihan lain untuk membebaskan Hanussen, dan kejadian ini membuat dia terkenal.

Tidak hanya sampai disitu kemapuan-nya Hanussen juga memprediksikan sesuatu yang menakjubkan. Dan ada satu hal penting yang menunjukkan bahwa ia mungkin benar benar memiliki kemampuan asli psikis. Hanussen telah melakukan-nya di La Scala di Berlin. Dia mengatakan akan terjadi kebakaran besar, katanya kepada bankir di khalayak bahwa api itu bermula dari dalam sebuah kamar, karena adanya kabel cacat. Dia menyarankan bankir untuk segera menghubungi pemadam kebakaran di sana secepat mungkin. Kebakaran itu pun bisa dicegah.

Reputasi Hanussen .

Pada 1930,Hanussen karena ketenaran dan reputasi sebagai seseorang yang punya kekuatan mystic dia dikontrak oleh sebuah majalah bulanan gaib, Hanussen Majalah, dan dwi-mingguan, Bunte Wochenschau, di mana ia membuat prediksi tentang politik dan keuangan negara. Prediksi dalam satu ruangan, ia mengatakan bahwa salah satu dari tiga terbesar Jerman bersama-saham bank yang menderita akan runtuh. Prediksi yang telah dipenuhi tiga minggu kemudian, ketika Darmstadt & Nasional dipaksa untuk menutup pintu-nya.

Pada bulan Juli, 1932 ia memprediksikan di mana ia melihat "sungai darah mengalir di dekat Hamburg." Beberapa hari kemudian, Nazi Storm Troopers berjuang keras dengan Komunis "Muka Merah" fighters di Altona, Hamburg kembar dari kota tetangga. Dikenal sebagai "Minggu berdarah dari Altona," lima jam konfrontasi mengakibatkan kota gutters literally berjalan dengan darah merah.

Telah Hanussen hanya ahli membaca di kali, atau dia memiliki informan di tempat tinggi? In any case, dia sekarang dicari oleh orang-orang kaya, pemimpin bisnis, dan selebriti untuk konsultasi pribadi.

Hubungan Dengan NAZI .

Semua ini membawa ke Hanussen perhatian meningkatnya Nazi elit. Walaupun dia seorang Yahudi, ia menjadi teman-teman dengan Karl Ernst, komandan dari Berlin's Storm Troopers, Edmund Heines, maka SA Gruppenführer, dan Count von Helldorf, pemimpin lain dari Brownshirts Berlin. Tidak diragukan lagi, itu dia koneksi ke orang-orang ini - serta yang lainnya Jerman elit dan tokoh masyarakat dengan siapa dia bercampur secara teratur - yang memberikan Hanussen dengan banyak informasi untuk prediksi. Untuk masyarakat umum, namun ketenaran-nya terus meningkatkan reputasi sebagai nya luar biasa psikis.

Tidak jelas berapa banyak yang benar-benar telah mempengaruhi Hanussen pada keberhasilan Partai Nazi di Jerman dan pada kebangkitan Adolf Hitler, tetapi mungkin telah signifikan.

Beberapa sumber mengatakan bahwa ia Hanussen yang direkomendasikan bahwa Nazis mengadopsi tanda Nazi sebagai simbol. Seorang "simbol India luck", dia mengatakan kepada mereka, bahwa mereka berjanji daulat dalam ambisi-ambisi mereka. Di kertas Astrological nasihat dari kolom, ia selalu "prediksi" bahwa Hitler akan menjadi pemenang pemilu mendatang sejak konjungsi planet itu dalam kebaikan. "Vote dengan bintang," ia berkata kepada pembaca - yang berhubung dgn susunan yang dapat dibawa tentang diri memenuhi nubuatan.

Paling penting dari diri seorang Hanussen kepada Hitler langsung berpengaruh pada dirinya sendiri. Hanussen diperkenalkan ke Führer oleh Hilter pribadi fotografer, Heinrich Hoffmann. Telah diklaim oleh beberapa wartawan Jerman yang Hanussen pribadi melatih Hitler berbicara pada publik. Dengan latar belakang panggung dahsyat dan keberadaan, ia dapat mengajar Hitler bagaimana sikap, cara menekankan frasa dan menyandiwarakan sambutannya. Mereka kredit Hanussen - dan tahap ini mentalist magician - Hitler dengan membantu mengembangkan nya fenomenal magnetis banding dan hipnotis retorik bakat, yang ia gunakan untuk memimpin kaumnya berperang dan delusional mimpi dari dominasi dunia.

KESALAHAN HANUSSEN ... Dan pembunuhan .

Hanussen harus melihat dirinya sebagai hampir tidak tersentuh dan terkemuka tentang keberadaan-nya. Sejak 1933, Hitler adalah kanselir Jerman dan Hanussen mungkin melihat dirinya dalam meningkatnya mutu dan daya bersama dengan teman-teman Nazi.

Keyakinan ini menyebabkan perubahan sendiri, namun. Menggunakan informasi dari teman-teman Nazi, Hanussen membuat "prediksi" dia seharusnya tidak ada.

Hal ini terjadi ketika salah seorang sosial gatherings di villa di Charlottenburg. Selalu menjadi pertunjukan, dia pura-pura kesurupan seperti seorang pemimpin dia mulai berbicara: "Saya melihat sebuah bangunan, bangunan yang besar, di kota kita ... pembakaran itu ... auman api yang tinggi ... asap adalah kepuh ... ah, tapi dari sana timbul blaze burung ... Phoenix yang megah ... membawa cahaya baru ... harapan baru ... dari abu! "

Ya, tentu saja ramalan itu benar. Pada tanggal 27 Februari 1933, gedung parlemen Jerman - yang Reichstag - telah menetapkan bernyala. Nazi mencela para teroris komunis, dan masyarakat sangat diluar sasaran Hitler yang diizinkan untuk lulus undang-undang darurat yang memberinya kuasa hampir tak terbatas. Tentu saja, hari ini dikenal menyatakan bahwa gedung itu dibakar sendiri oleh Nazi di Reichstag untuk mendapatkan Kekuasaan Hitler. ( Dimana Hitler Jatuh )

Hanussen hampir pasti tahu ini, yang adalah bagaimana ia bisa membuat dia tdk "ramalan". Hanussen tahu terlalu banyak membaca masa depan, dan dia harus membayar semua itu dengan nyawa-nya.

Dia meninggalkan restoran pada malam 24 Maret, ia berhenti di pintu masuk yang dijaga oleh dua laki-laki dan dipimpin keluar ke jalan. Hanussen pun menghilang setelah malam itu. Tubuhnya telah ditemukan tiga belas hari kemudian di daerah-pohon di luar Berlin. Dia telah tertembak di kepala.

Jadi kisah yang berakhir dengan bangkit dan jatuhnya Jan Erik Hanussen, sebuah pertunjukan yang mungkin mempunyai kekuasaan asli psikis, banyak kemampuan yang digunakan untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan, mungkin telah mengubah sejarah-pengaruh dan Hitler di Jerman, tetapi paksaan untuk mengejutkan membuat "prediksi" akhirnya membawa diri-nya kepada kematiannya.


Sumber :
www.facebook.com
www.brianstalin-alexjones.blogspot.com


Anggapan-Anggapan Keliru Mengenai Nazi Jerman!


Oleh : Adithree asfuhrer

Siapa yang ngga tahu Jerman Nazi? Sebuah negara dengan partai tunggal yang terkenal totaliter dengan Adolf Hitler sebagai pemimpinnya. Sebuah nama yang menuai banyak kutukan dan hinaan, tapi juga mampu membangkitkan decak kagum yang lainnya.

Cerita-cerita tentang Jerman Nazi memang bisa dibilang sangat banyak, tapi sebenarnya ada beberapa cerita keliru mengenai Jerman Nazi ini yang terjadi akibat misinformasi. yaitu antara lain :

1. Swastika adalah Jerman Nazi, Jerman Nazi adalah Swastika

Ini mungkin salah satu dari sekian kekeliruan yang kerap terjadi. Jerman Nazi memang berlambang swastika, tapi swastika tidak serta-merta hanya dimiliki oleh Jerman Nazi. Swastika sendiri diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, pertama kali diperkenalkan di India dalam penyebaran agama Hindu — dan kemudian Buddha — di Asia sekitar tahun 3000 SM. Kemudian swastika mulai memasuki region Eropa sekitar tahun 400-350 SM dan mulai dikenali sebagai simbol keagamaan maupun animisme-dinamisme sebelum agama Kristen mendatangi kawasan Eropa.

Setelah agama Kristen menjadi agama mayoritas di Eropa, keberadaan swastika perlahan-lahan memudar hingga hilang sepenuhnya, sebelum dia kembali muncul lagi pada abad ke-19. Puncaknya, lambang swastika ini diadopsi oleh Adolf Hitler sebagai lambang Jerman Nazi dengan dan sejak itu menimbulkan stigma di kalangan dunia. Istilah yang digunakannya kala itu adalah Hakenkreuz, yang berarti “salib berkait”, searti dengan istilah yang digunakan Jepang dengan sebutannya yaitu Kagi juuji.

Mengenai alasan Hitler sendiri mengapa ia memilih swastika sebagai lambangnya adalah karena ia melihat swastika sebagai simbolisasi keberhasilan ras Arya (mengingat ras Arya pertama kali datangnya dari India), dan juga lambang kreatifitas serta anti-Semitik — seperti yang sudah dijelaskan Hitler dalam bukunya berjudul Mein Kampf. Swastika dalam partai Nazi juga dikenali sebagai simbol yang membuat dan menjalani kehidupan (das Symbol des schaffenden, wirkenden Lebens) serta pelambangan ras Jermanisme (Rasseabzeichen des Germanentums).


2. Naziisme adalah Komunisme

Ini salah satu miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat, terutama dalam masyarakat Indonesia. Mungkin gara-gara kemiripan Naziisme yang bersifat totalitarian, juga ketakutan masyarakat Indonesia terhadap komunisme hingga sekarang, sampai akhirnya muncul anggapan begini. Saya tegaskan dengan sangat, Nazisme itu sama sekali bukan komunisme.

Dilihat dari latar belakangnya, Adolf Hitler justru membenci komunisme (dan Yahudi) karena menganggap mereka sebagai penghianat bangsa Jerman dan penyebab kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I karena adanya konspirasi antara mereka dengan yang lain.

Dari ideologi dasarnya sendiri pun sebenarnya dapat dilihat perbedaan yang cukup jelas. Nazisme adalah ideologi politik sayap kanan atau right wing, bentuk konservatif yang mendasar pada keseragaman. Sementara komunisme adalah ideologi politik sayap kiri atau left wing, bentuk radikalis yang konon lebih cenderung ke perseteruan dan konflik. Meskipun Hitler memulai pendirian partai Nazi sebagai pemegang kekuasaan dengan percobaan kudeta (yang kurang berhasil), hal itu tidak serta merta membuatnya sebagai partai komunis. Hitler dalam Mein Kampf menyatakan dengan jelas bahwa Nazisme adalah anti-komunisme.


3. Keseluruhan Jerman Nazi adalah Sekumpulan Maniak Sadis

Mendengar kata Jerman Nazi mungkin identik dengan 3 kata: fasis, sadis, dan rasis. Dan yang paling sering didengungkan adalah sadis. Padahal tidak sepenuhnya seluruh Jerman Nazi begitu. :| Serdadu-serdadu Jerman Nazi juga masih manusia; mereka pada dasarnya juga masih menyukai kehidupan harmonis bersama. Saya rasa ini masih merupakan generalisasi yang terlalu cepat untuk menganggap keseluruhan Jerman Nazi sebagai noda hitam kelam; mungkin rada mirip dengan menganggap invasi Amerika Serikat ke Irak itu adalah kesalahan seluruh rakyatnya, dan kemudian dengan serta-merta membenci Amerika Serikat secara total dan memberinya label-label buruk yang mengerikan. :?

Padahal kalau mau ditilik lebih jauh, banyak tokoh Jerman Nazi yang kurang setuju atas beberapa keputusan yang diambil pejabat kalangan atas semisal Himmler atau Goebbels. Sebut saja yang paling terkenal, Erwin Rommel, yang menurut saya pribadi tindakannya justru lebih strategis dan lebih bijak dibanding pejabat kalangan atas lainnya. Kemudian ada Heinz Guderian, Otto von Stuepnagel, juga Claus von Stauffenberg yang menjadi kunci dalam plot 20 Juli menentang Hitler — meskipun menurut saya sendiri mungkin plot itu masih agak terlalu terburu-buru.

Oke, mungkin dalam kemiliterannya sendiri Jerman Nazi memang memiliki The Snipers 10 Commandments yang cukup berbau fanatis. Tapi itu tidak serta merta membuat mereka sebagai setan sadis yang maniak dan haus darah, ‘kan? Justru menurut saya itu bisa menjadi alat picu bagi dorongan moral sang prajurit. :mrgreen:


4. Schutzstaffel adalah Unit Tentara Secara Sepenuhnya

Bicara soal peran Schutzstaffel — yang biasa disingkat dengan SS — dan Waffen-SS serta perannya dalam kekuatan militer Jerman, diperlukan pengetahuan mengenai sejarah organisasi ini terlebih dahulu.

SS pertama kali dibentuk pada tahun 1925, ketika Nazi waktu itu masih berupa partai yang bersaing dengan partai lainnya, sebagai unit pengawal pribadi Adolf Hitler yang hanya beranggotakan 8 orang. Seiring dengan menguatnya kekuatan partai Nazi saat itu, maka kuantitas dalam SS ditambah hingga membentuk organisasi dengan skala yang lebih besar. Akhirnya, pada tahun 1933 — ketika Nazi sudah memegang kendali sebagai partai politik tunggal — SS sudah beranggotakan lebih dari 100.000 orang, dan kemudian mulai mencoba menyingkirkan organisasi Sturmabteilung (SA) hasil bentukan Ernst Roehm yang berisi anggota-anggota masyarakat kelas menengah ke bawah, karena SS masih dianggap sebagai organisasi second-class yang berkedudukan dibawah SA.

Tahun 1934, SS berhasil menggantikan SA dengan menyingkirkan mereka dalam suatu insiden yang dikenal dengan nama “Malam Pisau Panjang” atau Night of the Long Knives (dalam operasi militer, dikenal juga dengan nama Operation Hummingbird). Sejak peristiwa ini, pengorganisasian SS mengalami perubahan besar. SS terhitung sebagai deretan eksekutif politik, juga di saat bersamaan bertanggung jawab atas pengurusan kamp-kamp konsentrasi dengan nama Waffen-SS (Schutzstaffel bersenjata). Barulah nantinya, seiring dengan panasnya Perang Dunia II, SS diperhitungkan sebagai organisasi militer yang keberadaannya bisa dibilang mampu mengimbangi — bahkan menyaingi — Wehrmacht, angkatan bersenjata Jerman.

Jadi bisa disimpulkan bahwa SS tidak langsung muncul sebagai unit militer, namun diawali dengan organisasi kecil yang dibuat untuk kepentingan politik sebagai pengawal pribadi Hitler.


5. Jerman Nazi Hanya Beranggotakan Ras Jerman Murni

Mengingat sikap Jerman Nazi yang cukup rasis, serta kebanggaan besarnya terhadap ras Arya, mungkin menimbulkan anggapan bahwa di dalam Jerman Nazi hanya terdiri atas ras-ras Arya Jerman murni. Tapi pada kenyataannya, terutama dalam struktur militer Jerman Nazi, secara ras dan agama anggotanya cukup bersifat heterogen dan bukannya homogen.

Logikanya ini bisa terjadi karena untuk mewujudkan angkatan bersenjata solid dan kuat yang hanya berisi ras Arya saja dalam keadaan Perang Dunia dirasa cukup sulit. Dari sisi logistik dan kekuatan moral juga mungkin susah untuk diwujudkan. Maka dari itu pada akhirnya ras-ras selain Arya juga diperbolehkan bergabung dalam angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht), bahkan unit khusus Waffen-SS yang pada awalnya hanya berisi orang-orang tertentu.

Dalam perkembangannya, berbagai negara yang bahu-membahu dengan Jerman sebagai sukarelawan dalam Perang Dunia II juga bisa jadi penyebab timbulnya heterogenitas dalam kekuatan militer Jerman. Sebut saja dari India, Rusia, Ukraina, maupun Bosnia yang mayoritas berisi Muslim yang tidak betah situasi kacau saat itu.


6. Propaganda Joseph Goebbels yang Membenarkan Kebohongan

Sebarkan berita kebohongan secara terus menerus, kemas dengan cara yang terbagus, niscaya ia akan menjadi kebenaran.

Mungkin ada yang pernah dengar mengenai kutipan yang datang dari Joseph Goebbels, menteri propagana Jerman Nazi, yang ini. Versi Inggrisnya, “If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it.” Dari sini kesannya Goebbels seperti membenarkan bahwa cara untuk meyakinkan orang itu bisa datang dari kebohongan. Tapi sebenarnya, kutipan itu masih bersifat setengah-setengah. Dalam artian, Goebbels tidak membenarkan cara itu.

Sebenarnya kutipan Goebbels ini justru sedang menyindir Winston Churchill yang memberikan kebohongan-kebohongan tanpa bukti melalui New York Times mengenai situasi saat itu, dan bukannya justru sedang membicarakan tekniknya dalam berpropaganda. Kalau teknik propaganda itu sendiri ia justru lebih menekankan bagaimana cara persuasif untuk bisa meyakinkan orang apa yang dipropagandakan; the point of a political speech is to persuade people of what we think right. )

Jadi bisa dibilang kalau Goebbels itu sedang menggunakan gaya bicara satir untuk menyindir Churchill, dan praktisi “taktik kebohongan” itu justru sebenarnya Winston Churchill. Bukannya Joseph Goebbels.


7. Adolf Hitler adalah Seorang Occult

Sebagian pemimpin Jerman Nazi, terutama Heinrich Himmler, mempunyai keyakinan lebih kepada hal-hal yang berbau gaib dan mistik dibandingkan keyakinan mereka terhadap agama. Hal ini dapat terlihat dalam ekspedisi Himmler mencari tradisi dan kultur ras Arya hingga ke Tibet, pemasangan tradisi-tradisi mistik yang rada aneh, dan lain sebagainya. Singkatnya, sebagian dari Jerman Nazi memang menunjukkan adanya gejala-gejala occultism di dalamnya — meskipun hal itu memang diakui hanya sebagai aspek minor dan bukan mayor dalam perkembangannya.

Tapi sebenarnya Hitler sendiri tidak terikat dengan berbagai macam ide-ide esoteris semacam itu, yang mana sering disalahperkirakan karena Himmler membentuk organisasi esoteris dengan membawa nama Hitler. Hitler lebih tepat kalau disebut sebagai seorang relijius yang kritis; kurang menyukai Kristen konservatif namun tetap mempercayai Kristus serta tradisi-tradisi keagamaan Kristen Jerman.

Pernah juga suatu ketika Hitler mengaku menaruh kekaguman terhadap tradisi militer Islam kepada Albert Speer. Jadi dia bukan seorang yang lebih percaya kepada hal-hal mistik semacam Himmler, tapi bisa jadi dia cukup menghargai kultur-kultur dan budaya masa lalu — terlihat dengan ketertarikannya pada Holy Roman Empire.


8. Seluruh Anggota Jerman Nazi Telah Diadili Dengan Seadil-adilnya Dengan Hukuman Mati Setelah Perang Dunia II

Melalui Nuremberg Trials atau Pengadilan Nuremberg, katanya. Tapi kalau mau bicara konsep “seadil-adilnya,” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Rata-rata pengadilan yang dilakukan masih berdasarkan pada Siegerjustiz, dimana para pemenang perang lah yang dijadikan acuan dalam menentukan konsep keadilan. Beberapa hal lainnya, seperti pengadilan tidak seimbang atas kejahatan terhadap kemanusiaan bagi para opsir yang hanya menuruti perintah atasan juga bermasalah. Namun, memang, bicara masalah keadilan ini memang masih multi-tafsir. Oleh karenanya saya tidak akan membahasnya secara lebih spesifik lagi.

Mari beralih ke poin yang diusung sebagai kata keterangan dalam pendapat diatas, yaitu, “…dengan hukuman mati.” Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya tepat. Sebagian opsir Jerman Nazi yang berhasil tertangkap dan akan diproses dalam Pengadilan Nuremberg justru mengakhiri hidupnya sendiri dengan racun sianida. Contohnya yang paling mudah adalah Heinrich Himmler; terkenal dengan kutipan terakhirnya yang berbunyi, “Ich bin Heinrich Himmler!”

Lalu juga tidak semuanya dengan serta-merta diproses ke hukuman mati. Beberapa anggota Jerman Nazi yang beruntung mendapat pengadilan yang adil, diberikan kompensasi dalam Pengadilan Nuremberg dan tidak perlu mengakhiri nyawanya dalam derita penjara yang menyedihkan maupun diakhiri nyawanya di lapangan eksekusi. Mereka dapat menikmati indahnya hidup dalam sisa umur mereka. Misalnya saja Kurt Waldheim, mantan serdadu Wehrmacht, yang di kemudian hari sempat menjadi diplomat Austria dan Sekjen PBB — meskipun memang menuai banyak kritik.

Selain itu, mengacu pada nasib para mantan Jerman Nazi setelah Perang Dunia II, ada beberapa dari mereka yang mampu melarikan diri. Salah satu faktor penyebabnya bisa jadi karena ODESSA, organisasi bentukan Otto Skorzeny, mantan petinggi Waffen-SS yang sempat jadi agen Mossad, yang membantu para mantan anggota Jerman Nazi untuk melanjutkan hidup mereka — entah berusaha kabur dari kejahatan perang atau untuk menghindari prasangka buruk dari dunia internasional padahal mereka tidak bersalah. Meskipun begitu, sebenarnya ratlines (istilah yang merujuk ke jalur kabur para anggota negara fasis di PD II) yang digunakan para mantan anggota Jerman Nazi ini justru kebanyakan bukan dibentuk oleh ODESSA, melainkan atas bantuan dari pemerintah negara-negara tertentu dan institusi internasional.

Jadi, dengan ini bisa disimpulkan bahwa tidak semua anggota Jerman Nazi dihukum mati setelah Perang Dunia II, namun ada yang bunuh diri dan masih hidup — entah dengan jalan legal maupun ilegal. Pengadilan Nuremberg, ODESSA, Amerika Serikat, Timur Tengah, Otto Skorzeny, dan Mossad hanya sebagian dari yang mempengaruh nasib para mantan anggota Jerman Nazi.

***

Nah, itulah sedikit dari anggapan-anggapan keliru yang bisa menimbulkan stigma bagi Jerman Nazi dan segala komponen-komponen semisal anggota dan identitasnya sendiri yang sering berkembang di masyarakat — terlepas itu merupakan rumor yang disebarkan oleh negara pemenang perang, penelitian yang kurang akurat, atau misinformasi.


Sumber :
www.facebook.com
www.robert.thegeakes.co.uk


Friday, December 11, 2009

Penculikan Komandan Jerman di Pulau Kreta, Generalmajor Heinrich Kreipe!

Heinrich Kreipe dalam pose 'gagah' sebelum diculik, lengkap dengan Ritterkreuz kebanggaannya. Kreipe sendiri merupakan seorang pahlawan perang, dan dia menerima Ritterkreuz tanggal 13 Oktober 1941 dalam Operation Barbarossa ketika pangkatnya masih Oberstleutnant


Markas besar pasukan pendudukan Jerman di Kreta yang terletak di Achanes. Dalam perjalanan dari markas besar ke villanya lah jenderal Kreipe diculik oleh komando Inggris dan para Partisan lokal


Peta yang memperlihatkan lokasi-lokasi penting upaya penculikan jenderal Kreipe, dilihat dengan menggunakan Google Earth. Tadinya yang mau diculik adalah Generalleutnant Friedrich-Wilhelm Müller, penguasa Kreta sebelum Kreipe yang terkenal kejam. Tapi kemudian beberapa hari sebelum penculikan dilaksanakan, terjadi mutasi jabatan. Kreipe lah yang kemudian ketiban apes!


Achtung! Ini bukanlah foto para prajurit Jerman dengan pakaian tropis mereka, melainkan komando Inggris yang menyamar menjadi Feldgendarmerie demi melancarkan jalan menculik jenderal Kreipe. Disini adalah dedengkot penculikan tersebut : Patrick 'Paddy' Leigh Fermor (kiri) dan Billy Moss


Inilah jenis kapal yang digunakan untuk membawa para penculik dari Afrika ke Kreta, dan juga sebaliknya


Momen menentukan ketika para komando Inggris di bawah pimpinan Leigh Fermor dengan memakai seragam Jerman, menculik "penguasa" Kreta, Generalmajor Heinrich Kreipe


Para penculik membawa jenderal Kreipe ke tempat-tempat yang diperkirakan tak akan ditemukan oleh tentara Jerman yang mencarinya, termasuk di antaranya ke puncak gunung Ida seperti dalam foto di atas (Kreipe sendiri adalah orang nomor dua dari kiri/depan)


Berita tentang diculiknya jenderal Kreipe, yang dibuat dalam dua bahasa : Jerman dan Yunani


Foto Heinrich Kreipe dalam tahanan Inggris tak lama setelah tiba dari Kreta bersama penculiknya. Yang menarik adalah, meskipun dia notabene pangkatnya "baru" Generalmajor, tapi seragamnya adalah seragam Generlfeldmarschall (perhatikan collar tabnya!), sebagai pertanda bahwa di akhir perang ketidakseragaman dalam hal pakaian adalah sesuatu yang biasa terjadi


Agar bisa saling mendengar, keempat awak harus berteriak keras untuk mengatasi raungan mesin pesawat terbang. Tetapi bukan hanya itu mereka lebih suka diam. Benak mereka dipenuhi bayangan misi nekad yang dibebankan ke pundak mereka. Adakah peluang keberhasilan di dalam tugas yang tengah mereka jalankan? Selama satu jam terakhir mereka duduk berhimpitan, kedinginan. Dan bencana seolah melintas di depan mata, ketika di dalam cuaca yang sangat buruk pesawat melintasi Mediterania dari arah Bardia.


Ketika itu 4 Februari 1944, malam hari. Tujuan mereka adalah Pulau Kreta. Mereka mengemban tugas menculik Generalalleutnant Friedrich-Wilhelm Müller (pangkat terakhir General der Infanterie), yang sangat dibenci oleh penduduk pulau itu karena sikapnya yang brutal dalam menjalankan pemerintahan. Dan penculikan dilakukan bukan hanya untuk menurunkan semangat serta gengsi pasukan Jerman yang menduduki pulau itu, tetapi sekaligus untuk menyesatkan Staf Jenderal Jerman mengenai keberadaan Sekutu di Balkan.


Sekilas para penumpang Wellington itu tidak mengesankan suatu tim. Pemimpin mereka, Patrick Leigh Fermor, baru berusia 20 tahun, namun pangkat yang disandangnya cukup mentereng : Mayor. Sebagai wakil komandan, Fermor memilih Kapten Stanley Moss yang dua tahun lebih muda dari dirinya. Anggota unit komando adalah rekan sebaya mereka yang berkulit agak gelap, yaitu Monoli Pateakis dan Georgi Tyrakis, keduanya berkebangsaan Yunani, agen SOE, Pelaksana Operasi Khusus.


Di bawah mereka terhampar Pulau Kreta; panjangnya 260 kilometer dan lebarnya 60 kilometer. Jajaran bukit curam di pulau itu penuh dengan ratusan gua, sangat sesuai untuk dijadikan tempat perlindungan bagi para gerilyawan, yang bertempur melawan Jerman atas instruksi yang diberikan Inggris.


“Bersiaplah untuk melompat!” terdengar perintah. Cahaya berwarna hijau menyala. Ketika pintu mulai dibuka, deru mesin terdengar memekakkan telinga. Parasut telah dipasang dan pemimpin regu yang masih belia merunduk di pintu keluar, siap untuk diterjunkan. Namun gumpalan kabut membuat pilot menemui kesulitan mencari Dataran Lasiteri, medan penerjunan. Dataran yang terletak di tengah daerah gunung terpencil ini dikenal penduduk setempat sebagai “lembah seribu kincir angin”.


Begitu terlihat celah di antara gumpalan kabut, seseorang menepuk bahu Leigh Fermor. Ia pun segera melompat ke bawah. Seperti sebuah batu ia jatuh. Tubuhnya tersentak keras ketika parasutnya mengembang, kemudian melayang di udara, lalu turun dengan lembut menuju “seribu kincir angin”. Panitia penyambutan yang terdiri atas para gerilyawan telah menunggu di bawah. Dengan cemas matanya mencari-cari tanda penerjunan lain, namun tak satupun terlihat. Kabut pekat telah turun. Meski telah dicoba berulang kali, pilot tak dapat menjatuhkan tiga agen lainnya.


Sementara itu, gerilyawan membawa Leigh Fermor ke sebuah dangau. Sepanjang malam ia menanti rekan-rekannya serta perbekalan yang masih ada di pesawat. Penantiannya sia-sia. Kendati beberapa minggu telah berlalu, kabut pekat masih saja menghalangi sinar sinyal gerilyawan, sebelum upaya pendaratan yang berikut dilakukan. Suatu kali pilotnya bahkan harus kembali. Setelah dua bulan menunggu, Leigh Fermor menerima kabar bahwa rekan-rekannya akan diterjunkan dari sebuah perahu motor Inggris yang diluncurkan dari pantai selatan pulau itu. Maka, bersama-sama dengan sejumlah gerilyawan ia berangkat menjemput mereka.


Setelah dua hari melakukan pendakian yang sulit dan penuh bahaya, mereka tiba di puncak yang menghadap pantai. Mereka turun sepanjang beberapa kilometer menuju ke pantai yang tersembunyi di balik gugusan batu karang, menunggu kedatangan kapal. Baru beberapa minggu sebelumnya, pantai itu dikotori oleh ranjau darat. Namun para penyapu ranjau secara perlahan berhasil membersihkan pantai. Tinggal pengawas pantai Jerman, satu-satunya bahaya yang harus mereka hadapi.


Cuaca gelap pekat menghampar di sepanjang pantai. Beberapa menit kemudian muncul sebuah sampan kecil, dengan tiga orang penumpang. Setelah hangat berpelukan, salah seorang agen yang baru datang mengatakan bahwa jenderal Müller, sasaran misi, telah meninggalkan pulau itu dua hari sebelumnya. Tugas baru mereka adalah menculik Generalmajor Heinrich Kreipe yang baru dipindahkan ke Kreta dari garis depan Rusia. Malam itu juga mereka melintasi gunung menuju desa Kastamonitza, dan menginap di rumah salah seorang petani setempat. Menjelang fajar menyingsing mereka menuju ke suatu tempat dibalik punggung bukit dan menghabiskan hari pertama mereka disana. Setelah melakukan perjalanan meletihkan tak kurang dari lima jam, dengan lahap mereka menyantap daging, kemudian merebahkan tubuh dan terlelap hingga petang.


Perjalanan malam di hari kedua membawa mereka ke Skonia. Di tempat itu mereka disambut oleh sebuah keluarga petani. Mereka duduk menghadapi meja penuh makanan, anggur, dan duzo (sejenis tuak yang sangat keras). Menurut kebiasaan lama Yunani, siapa saja akan menenggak minuman setiap kali seseorang mengangkat gelas. Mereka benar-benar tenggelam dalam suasana pesta yang meriah dan mengasyikkan. Penduduk desa tampaknya menyukai kehadiran mereka. Seorang demi seorang datang menggabungkan diri. Di antara mereka ada dua orang polisi desa, yang menawarkan bantuan dan jasa baik.


Setelah tidur sejenak, menjelang pukul 10 malam mereka keluar. Yang dituju adalah desa Kastamonitza. Mereka tiba sekitar dinihari. Sambutan yang mereka terima jauh berbeda. Sekalipun makanan yang dihidangkan cukup layak, namun tidak seperti di Skonia, penduduk Kastamonitza meniadakan acara minum-minum. Beberapa anggota keluarga berjaga-jaga di pekarangan rumah, sementara pintu dan jendela ditutup rapat-rapat. Tindakan kewaspadaan yang sepatutnya dilakukan, karena Kastamonitza penuh dengan tentara Jerman. Beberapa waktu sebelumnya mereka mendirikan rumah pemulihan kesehatan di desa itu.


Hari berikutnya, Micky Akaumianos, kepala agen SOE di Kreta, tiba dengan kendaraan bermotor dari ibukota Heraklion dengan membawa setumpuk kertas dan sejumlah paspor. Bersama Leigh Fermor ia bermaksud pergi ke Heraklion untuk dapat mengenal medan pulau dan menyusun rencana penculikan. Moss dan sekelompok gerilyawan mulai mendirikan markas besar di perbukitan di atas desa itu.


Micky dan Leigh Fermor menyamar sebagai petani. Di antara tumpukan hasil pertanian dan kawanan ternak, kedua agen itu dapat menyelinap dalam bis yang sarat penumpang. Mereka tiba di Heraklion tanpa perlu menunjukkan paspor. Kemudian mereka berjalan sejauh tujuh kilometer menuju Knossos, lokasi kediaman komandan Jerman di pulau itu. Melihat situasi Villa Ariadne yang sedang dibangun oleh arkeolog Arthur Evans dan kini ditempati jenderal Kreipe, perasaan gentar seketika muncul. Di depan mata berdiri sebuah bangunan berpagar kawat berduri, dan diperkuat dengan beberapa lapis pos penjagaan. Semua penjaganya yang hilir mudik berpatroli tampaknya sangat berpengalaman dalam menggunakan pistol otomatik yang tergenggam erat di tangan mereka. Leigh Fermor menyadari, mencoba menyerbu langsung ke villa itu adalah tindakan gila. Mereka harus mencari cara lain yang tidak dapat diduga musuh.


Keduanya tinggal bersama orangtua Micky yang menetap di daerah pertanian dekat Villa Ariadne. Dari sana mereka bisa mengawasi Villa dan mencatat gerak-gerik penjaganya. Kemahiran Leigh Fermor berbahasa Yunani dan Jerman merupakan salah satu alasan mengapa ia dipilih sebagai salah seorang anggota misi. Dalam buku catatannya, Micky Akaumianos menulis, “Dari rumah orangtuaku kami terus memantau dan mengamati kebiasaan jenderal serta siapa yang keluar masuk villa. Kami menghabiskan beberapa malam di luar rumah untuk menjajagi semua rincian rencana kami, juga mengadakan hubungan dengan beberapa staf militer jenderal Kreipe, untuk sebanyak mungkin mengorek keterangan mengenai kegiatan sang jenderal.” Menurut rencana, penculikan dilakukan pada saat jenderal Kreipe pulang malam dari markas besar militernya atau di mess perwira di Ano Archanes, 20 kilometer dari Villa Ariadne.


Setelah berjalan beberapa waktu, Moss dan rombongannya mencapai persembunyian mereka, gua di lereng gunung curam di atas Kastamonitza. Dari gua itu mereka bisa melihat dengan baik di sekeliling desa. Sekalipun lebar gua hanya beberapa meter dan tingginya semeter lebih sedikit, tempat itu bisa melindungi mereka dari tiupan angin gunung yang dingin menggigit. Sebuah sungai kecil di dekat gua menyediakan air segar yang cukup bagi mereka. Di samping sejumlah minuman anggur, keju dan susu domba serta susu sapi melengkapi perbekalan mereka. Semua itu disediakan oleh para pemandu jalan, orang-orang bermata liar yang membalut tubuh mereka dengan kulit domba.


Leigh Fermor dan Akaumianos bergabung dengan Moss dan rombongannya di gua itu pada minggu Paskah. Keduanya segera memaparkan rencana mereka sampai yang sekecil-kecilnya. Penculikan akan dilaksanakan di lingkungan tajam, tempat bertemunya jalan dari Ano Archanes dengan Knossos-Heraklion. Sedemikian tajamnya tikungan, sehingga setiap mobil yang datang dari arah Ano Archanes harus mengurangi kecepatan, selambat langkah orang berjalan. Menurut rencana, Leigh Fermor dan Moss akan mengenakan seragam polisi militer Jerman, yang didapat oleh Akaumianos dari sumber yang dirahasiakan. Ia sendiri akan memasang perintang jalan untuk menghentikan mobil jenderal. Mereka kemudian akan mengikat sang jenderal dan menaruhnya di belakang, lalu menjalankan mobil hingga melewati pos penjagaan. Moss akan mengambil alih kemudi, sedangkan Leigh Fermor akan duduk di sebelahnya dan mengenakan topi jenderal. Mobil Opel mereka kemudian akan mereka tinggalkan di pegunungan. Perjalanan akan diteruskan dengan berjalan kaki hingga ke pantai Selatan. Di tempat itu sebuah perahu motor Inggris telah menunggu. Keberhasilan rencana sederhana itu selain bergantung pada pengambilan waktu yang cepat dan tepat, juga sangat ditentukan oleh nasib baik.


Sebelumnya mereka membuat kesepakatan dengan Bourdzalis, seorang pemimpin gerilyawan. Bersama sejumlah anak buahnya, ia akan membantu mengawasi setiap patroli Jerman yang kebetulan nyasar ke lokasi penculikan. Mereka adalah gerombolan orang gunung kasar dan tak kenal disiplin, yang membawa senapan karatan. Agaknya senjata-senjata itu pernah digunakan oleh ayah-ayah mereka semasa berdinas di ketentaraan.


Malam itu mereka meninggalkan gua untuk terakhir kali menuju Skalani, sebuah desa lima kilometer dari tempat yang ditetapkan untuk penculikan. Namun Bourdzalis dan orang-orangnya yang ditempatkan dalam sebuah gubuk rusak milik petani anggur, tak dapat dibujuk untuk tetap menyamar, dan tetap berkeras untuk menjelajahi seluruh pelosok desa. Kehadiran mereka segera diketahui penduduk setempat. Dengan berat hati Leigh Fermor terpaksa membatalkan kesepakatan mereka, khawatir Jerman akan bersiaga.


Jam 9.30 malam 24 April 1944, Leigh Fermor bersama Moss menunggu di dalam parit di tikungan tajam jalan Ano Archanes. Keduanya mengenakan seragam polisi militer Jerman (Feldgendarmerie), sementara rambut pun dipangkas khas model serdadu Jerman. Beberapa ratus meter dari jalan itu, Micky Akaumianos dan gerilyawannya telah menunggu. Mereka harus secepatnya memberi isyarat kepada agen Inggris yang hendak menculik Kreipe dan mengawasi kendaraan apa pun yang mungkin akan menggunakan jalan itu pada saat penyergapan. Seutas tali direntangkan dan diikatkan pada sebuah bel kecil di samping kedua agen Inggris, sehingga menjadi sistem peringatan yang sederhana namun cukup bisa diandalkan. Hati Leigh Fermor dan Moss tersentak ketika bel tiba-tiba berdering. Secepat kilat mereka melompat ke selokan untuk memasang lampu merah dan rambu-rambu tanda berhenti.


Sepanjang siang, Generalmajor Heinrich Kreipe sibuk mengunjungi unit-unitnya yang tersebar luas, dan melewatkan sore harinya dengan santai di klub perwira. Saat itu ia menyandarkan tubuh di jok belakang Opelnya. Sepucuk pistol otomatik tergeletak di sampingnya. Dalam catatan ia menulis, “Tiba-tiba sinar merah muncul dalam kegelapan malam di depan kami, ketika mobil mendekati tikungan.”


“Apakah saya harus menghentikan mobil, herr general?” tanya Albert, supirnya.


Kreipe melihat dua orang Feldgendarmerie berpangkat Gefreiter (Kopral) berdiri di tengah jalan sambil melambaikan tangan. “Berhenti,” perintahnya kepada Albert.


Salah seorang Gefreiter Feldgendarmerie itu mengatakan bahwa ia ingin melihat surat jalan.


Kreipe berkata, “Tak tahu-menahu tentang itu.”


“Kalau begitu, ucapkan kata sandi.”


‘Tetapi kemudian saya melakukan tindakan yang sangat bodoh,’ lanjut sang jenderal dalam catatannya. ‘Saya keluar dari mobil dan berkata, “Kalian dari satuan apa? Tidakkah kalian mengenal jenderal kalian?” Leigh Fermor, dalam penyamaran Jermannya, menyahut, “Herr general, anda kini menjadi tawanan Inggris.”


Kreipe merogoh sakunya untuk mengambil pistol, tetapi segera dicegah Georgi. Manoli lalu mengikat tubuh sang jenderal dan memasukkannya ke jok belakang. Kedua agen SOE itu ikut melompat ke dalamnya. Georgi menghunus pisau dan menempelkannya ke tenggorokan Kreipe. Kreipe sepenuhnya menyadari bahwa orang Yunani itu tak akan ragu menggunakan senjatanya bila ia mencoba lari atau berteriak. Moss segera memegang kemudi, sementara Fermor yang duduk di sampingnya cepat-cepat mengenakan topi Kreipe. Mobil dilarikan menuju Heraklion. Akaumianos dan orang-orangnya, bersama Albert supir Kreipe, berangkat ke arah yang berlawanan.


Penculikan itu sendiri berjalan mulus. Namun, tugas yang paling sulit telah pula menunggu. Mereka harus berhasil lolos dari pos pemeriksaan Jerman dan sejumlah perintang jalan. Mereka segera menambah kecepatan ketika melewati istana Knossos dan Villa Ariadne, hingga akhirnya tiba di tepi Heraklion. Nasib baik memihak mereka. Para penjaga segera menepi dan memberi hormat. Siapa yang sangsi bila melihat mobil mengibarkan panji-panji sang jenderal?


Selanjutnya dalam catatannya Kreipe menulis, “Saya tahu bahwa di Heraklion terdapat sejumlah pos pemeriksaan, namun ketika itu tampaknya hanya satu yang benar-benar siaga.”


Sampai di persimpangan jalan Rethumon, Moss dan dua rekan Yunaninya segera memerintahkan Kreipe keluar dari mobil dan berjalan ke Anoya. Leigh Fermor mengambil alih kemudi dan menjalankan kendaraan itu sejauh dua kilometer menuruni jalan menuju ke pantai. Dari tempat ini, sebuah kapal selam Inggris baru saja menembaki lapangan udara di Heraklion. Leigh Fermor meninggalkan mobil itu berikut sebuah surat dalam bahasa Inggris dan Jerman yang mengatakan bahwa para komando Inggris telah menculik jenderal Kreipe tanpa bantuan penduduk Kreta, dan membawa sang jenderal ke Kairo. Agar lebih mengesankan, Leigh Fermor juga meninggalkan baret komando hijau, sejumlah puntung rokok Player’s dan sebuah novel Agatha Christie! Kemudian ia berangkat menemui Moss di Anoya. Esok harinya siaran luar negeri BBC menyiarkan sebuah berita mengejutkan: “Jenderal Kreipe sedang menuju Kairo.”


Di Villa, seluruh staf jenderal mulai gelisah ketika menjelang fajar Kreipe belum juga kembali.


Tanda bahaya akhirnya dibunyikan setelah para petugas di klub perwira menegaskan bahwa Kreipe telah meninggalkan tempat tersebut pukul 9 malam sebelumnya. Tak kurang dari 30 ribu tentara dikerahkan untuk melakukan pembersihan di seluruh pulau. Pesawat pelacak Fieseler Storch menjelajahi gunung-gunung dan tempat-tempat yang sering didatangi gerilyawan. Selebaran segera dicetak dan disebarkan ke segenap penjuru pulau. Isinya:


Achtung! Kepada segenap penduduk Kreta

Semalam sejumlah bandit telah menculik jenderal Kreipe. Diperkirakan ia kini disekap di suatu tempat di pegunungan, kendati lokasinya belum dapat dipastikan. Bila dalam tiga hari mendatang jenderal belum juga dilepaskan, maka desa pemberontak di sekitar Heraklion akan diratakan. Tindakan paling keras akan dikenakan atas penduduk sipil yang dicurigai ikut terlibat dalam kejahatan ini.


Sore harinya mereka menemukan Opel yang sengaja ditinggalkan di pinggir laut. Isi surat ternyata serupa dengan siaran BBC. Ini membuat mereka sadar bahwa segala-galanya telah terlambat. Maka esok paginya perintah pembersihan ditarik kembali. Tetapi hari berikutnya, intelijen Jerman di pulau itu menerima laporan dari seorang agennya bahwa Kreipe masih berada di Kreta, ditahan gerilyawan. Pencarian kembali dilakukan. Kali ini tenaga yang dikerahkan bahkan lebih dilipatgandakan!


Moss dan rombongannya menetapkan Anoya sebagai tempat pertemuan mereka dengan Leigh Fermor. Perjalanan menuju Anoya bergelombang, seperti yang dilukiskan jenderal Kreipe dalam tulisannya, “Selama beberapa hari, siang dan malam, kami berjalan melintasi daerah perawan. Pada waktu terang, kami tinggal di gua atau tempat persembunyian dalam hutan. Tanahnya berbatu-batu. Tentu saja tak ada jalan setapak, sehingga perjalanan yang kami tempuh benar-benar sangat sulit.”


Ketika kemudian mercu suar memperlihatkan sinar isyarat di dekat pegunungan pada saat mereka mendekati Anoya, Moss memutuskan untuk langsung menuju gubuk bobrok. Di tempat itu Leigh Fermor menunggu. Menjelang kedatangan Mos, Manoli diminta pergi ke desa, melihat-lihat. Ketika ia kembali rombongan baru saja tiba dan sedang bersiap untuk makan pagi. Jerman telah menduduki Anoya. Mereka juga menyebar tentara untuk menyisir seluruh perbukitan.


Pendakian yang sangat meletihkan itu membuat sang jenderal yang sudah tua sempoyongan. Dengan nafas tersengal-sengal ia ambruk di atas bebatuan licin dan terjal. Maka Moss dan Manoli bergegas menyeret Kreipe agar mereka segera tiba di gubuk gembala yang dibuat dari batu bersusun, mirip sarang lebah. Di tempat itu seorang penggembala telah menyediakan daging domba bakar dan minuman anggur. Mereka kemudian merebahkan tubuh di sekeliling api unggun kecil di tengah gubuk. Asap yang tak dapat lolos dari lubang-lubang atap benar-benar menyebabkan mata mereka perih. Sekalipun demikian mereka mencoba untuk sejenak beristirahat melepas lelah.


Ketika fajar menyingsing, mereka berjalan beriringan menuju ke selatan. Mereka bermaksud menemui empat orang Kreta yang ditugasi membawa Albert, supir sang Jenderal. Namun lelaki muda berkebangsaan Jerman itu tak terlihat ketika sore harinya rombongan Moss bertemu dengan mereka. Orang-orang Kreta itu mengatakan bahwa Albert tewas tertembak ketika penculikan terjadi. Baru beberapa tahun kemudian terungkap kejadian yang sebenarnya: Albert ditikam hingga tewas oleh orang yang menawannya. Mayatnya disembunyikan di bawah onggokan bebatuan.


Perjalanan ke selatan diteruskan hingga 30 April. Setelah berjalan kaki beberapa lama, akhirnya mereka tiba di gunung Ida. Karena gerakan pembersihan ditingkatkan, maka para penculik terpaksa mengendap-endap di belakang batu-batu agar tak terlihat oleh pesawat-pesawat pelacak Fieseler Storch. Jalan setapak semakin curam dan sulit dilalui. Apalagi beban bertambah karena mereka harus memapah sang jenderal. Setiap kali mereka harus berhenti selama beberapa menit untuk beristirahat. Sementara itu hawa terasa dingin menggigit, dan air beku yang licin membuat mereka beberapa kali tergelincir. Titik-titik air es serasa mengiris wajah-wajah mereka yang letih, ketika akhirnya mereka tiba di puncak yang bersalju.


Ketika jalan mulai menurun, setelah tenaga nyaris terkuras habis, rombongan melihat kilatan sinar mercu suar semakin dekat. Untuk memburu para penculik, Jerman telah menyebar tentaranya dalam satuan-satuan kecil, yang ditugasi melakukan pendakian secara lebih terarah. Pemandu para penculik, penggembala setempat, membawa mereka ke gua stalaktit yang berkelok-kelok menyesatkan.


Mereka berkumpul di tempat itu sepanjang malam, sementara tentara Jerman berada di dalam jarak pendengaran. Esok paginya, ketika hari masih berkabut, mereka merayap keluar. Seorang kurir tergopoh-gopoh membawa pesan, bahwa tentara Jerman mengejar ke selatan dan kini mereka menyeberang di sepanjang pantai pulau itu. Dengan segera rombongan meneruskan perjalanan. Setelah berjam-jam melakukan pendakian berat, mereka tiba di tempat yang telah disepakati bersama, yaitu gubuk gembala di lereng Gunung Ida. Pesan yang mereka dapatkan dari perangkat komunikasi gerilyawan mengatakan bahwa mereka dilarang turun.


Kreipe menuliskannya secara jelas di dalam buku hariannya, “Saya benar-benar kagum melihat betapa sempurnanya jaringan komunikasi mereka bekerja. Para gerilyawan selalu bisa menghubungi para penculik sepanjang perjalanan mereka menuju ke pantai selatan dan secara rutin mereka juga bisa menghubungi Kairo lewat radio.”


Selama beberapa hari tinggal di gubuk gembala, datang lagi kurir yang membawa berita radio dari Kairo, mengabarkan bahwa seregu komando akan didaratkan di pantai selatan di suatu malam dalam empat malam berikutnya, dengan tugas memperlancar perjalanan para penculik. Pada saat itu mereka hanya membutuhkan waktu beberapa jam menuju pantai, tinggal perjalanan menuruni bukit. Diputuskan untuk berangkat menjelang petang menuju suatu tempat di sekitar pantai yang telah ditetapkan untuk meloloskan diri. Di tempat itu mereka akan menunggu kedatangan pasukan komando Inggris. Namun belum lagi mereka berangkat, datang pula pesan baru: Jerman telah mendaratkan sekitar 200 serdadu di lokasi pantai pelolosan diri, dan menutup rapat wilayah itu. Di antara para gerilyawan, rupanya terdapat seorang informan yang menyusup!


Dengan menyamar sebagai petani, Leigh Fermor dan Georgi berangkat saat itu juga untuk menghubungi operator radio SOE terdekat. Kairo harus segera diberitahu bahwa unit komando sedang berlayar menuju perangkap!


Para penculik memutuskan, Moss dan rombongannya akan membawa jenderal ke arah barat, menyusuri pantai mencari lokasi yang tak terjaga. Kemudian mereka akan mengirimkan pesan kepada Leigh Fermor, yang akan meneruskannya lewat radio ke Kairo mengenai posisi penjemputan yang baru. Sementara itu terdengar berita bahwa regu pencari Jerman dalam jumlah tak terhitung tengah menyisir daerah lembah. Itu berarti jalur penculik ke arah barat sama sekali tertutup. Hal itu menyebabkan Moss dan rombongannya tetap tinggal di persembunyian sepanjang siang dan malam harinya. Keadaan mereka benar-benar semakin sulit. Mereka harus dapat mencari jalan meloloskan diri sebelum pasukan Jerman berhasil mengepung. Usaha mereka tidak sia-sia. Setelah menempuh perjalanan malam yang mendebarkan, dan berulang kali bermain petak umpet dengan pasukan pencari Jerman, beberapa jam kemudian mereka tiba di yerakari, sebuah desa sepi di kaki gunung Ida. Karena selain kondisinya sangat payah ia juga tak terbiasa menempuh perjalanan berat, jenderal Kreipe tak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Ia terpaksa dinaikkan ke punggung bagal. Sekali lagi mereka terpaksa mendaki gunung menuju ke sebuah pedesaan. Disana mereka akan menunggu Leigh Fermor yang sewaktu-waktu akan menghubungi mereka. Namun harapan akan semakin memudar karena sementara itu juga tentara Jerman semakin mendekat.


Esok harinya Leigh Fermor dan Georgi tiba. Mereka mengatakan bahwa satu-satunya pantai yang masih dalam keadaan “bebas” adalah Rodakino. Kairo sudah dihubungi dan sebuah perahu motor telah diberangkatkan untuk menjemput mereka pada tanggal 14 Mei 1944 jam 10 malam.

Para penculik segera meninggalkan persembunyian mereka, lalu menuruni bukit yang curam menuju Rodakino. Tiba di tempat yang terdiri dari serpihan batu yang mudah longsor, kaki bagal tersandung. Maka sang jenderal pun jatuh terjungkal. Bahu kanannya patah!


Karena harus memberikan perawatan seperlunya, maka waktu pun terbuang percuma. Keadaan semakin kacau balau. Sekalipun demikian mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan, tak lagi mempedulikan apakah mereka akan berhasil tiba di pantai atau tidak.


Mungkin saja perahu motor itu telah menunggu. Tetapi perairan di dekat pantai mungkin juga telah dipadati patroli Angkatan Laut Jerman, dan tentunya mereka akan memergoki perahu motor tersebut. Dengan pertimbangan inilah mereka mengambil rute panjang melewati pegunungan untuk menghindari jerat yang ditebarkan pasukan Jerman di sepanjang pantai. Berkat informasi yang diberikan pihak gerilyawan, mereka dapat selalu mengetahui posisi lawan.

Menjelang petang esok harinya, dengan menyeret kaki yang letih, sekali lagi mereka menuruni tebing terjal menuju pantai tempat meloloskan diri. Namun keadaan pantai batu kerakal tampaknya tak memungkinkan mereka untuk mendekat tanpa menimbulkan suara. Bahkan ketika kemudian terdengar deru perahu motor, mereka sempat merasa ragu. Benarkan itu perahu yang mereka tunggu? Bagaimana kalau milik tentara Jerman? Sesaat kemudian mereka mendengar langkah-langkah mendekat. Dan tiba-tiba saja di depan mereka tampak wajah-wajah hitam legam. Tentara komando Inggris!


“Mayor Leigh Fermor?”


Tanpa membuang waktu mereka cepat-cepat berlari menuju sampan kecil yang segera dipacu menuju perahu motor yang telah menunggu. Segera setelah rombongan berada di dalamnya, perahu itu pun segera melaut menuju Mesir. Dan kendati gelombang seakan mengamuk, komandan memerintahkan anak buahnya untuk memacu kapal dengan kecepatan penuh, agar musuh tak dapat lagi melakukan pengejaran.


Leigh Fermor hampir tak bisa mempercayai suksesnya melaksanakan penculikan yang sulit diterima akal itu. Demikian pula halnya dengan para perwira senior yang menghadiri pesta di Marsa Matruh. Generalmajor Heinrich Kreipe akhirnya dimasukkan ke kamp tawanan perang dekat Calgary, Rocky Mountain, Kanada. Di tempat itu ia menghabiskan waktu hingga perang usai.


Pengalamannya ini ia ungkapkan di dalam tulisannya, “Tatkala kami mendarat di Marsa Matruh, Afrika, saya diterima oleh Kolonel Bamfield, komandan pasukan komando. Ia memperlakukan saya dengan sangat baik dan senantiasa berusaha memberikan bantuan yang saya butuhkan. Meski demikian, bayangkan saja, selama dua minggu penuh saya tidak mempunyai sapu tangan bersih kalau saya tidak mencucinya sendiri!”



Sumber :

www.specialcamp11.fsnet.co.uk

www.gmic.co.uk

www.agora-dialogue.com

www.illmetbymoonlight.info

www.my-crete-site.co.uk

www.kreta-wiki.de

Buku "I'll Met By Moonlight" oleh Billy Moss

Buku “Crete; The Battle and the Resistance” oleh Antony Beevor

Buku “True Adventures” oleh Bernard Brett


Wednesday, December 9, 2009

Pertempuran Eben-Emael (1940), Puncak Kejayaan Pasukan Fallschirmjäger!

Generaloberst Kurt Student (disini pangkatnya masih General der Fallschirmtruppe), panglima Fallschirmjäger yang menjadi otak serangan terhadap Benteng Eben-Emael


Para komandan Fallschirmjäger yang berjasa dalam penyerbuan Eben-Emael, langsung diganjar oleh Adolf Hitler dengan Ritterkreuz, dan mendapat keistimewaan digambar satu-satu oleh pelukis resmi Wehrmacht, Wolfgang Willrich!


Peta Benteng Eben-Emael. Orang-orang Belgia begitu bangganya dengan konstruksi benteng ini, sehingga mereka menyebutnya sebagai "tak tertaklukkan". Iya sih bila menyerang secara frontal tak terbayangkan kerugian yang akan dialami Jerman, bisa-bisa Phyrric Victory. Tapi dalam hal ini secara cerdik mereka menggunakan taktik yang sama sekali tak terduga sebelumnya oleh penjaga benteng : dari udara!


Boardgame yang mengambil setting pertempuran Eben-Emael. Perhatikan bahwa yang memainkannya pun memakai pakaian militer! Pernah nyoba?


Fallschirmjäger dari grup Koch, berfoto tanggal 12 Mei 1940, tak lama setelah dengan gilang gemilang berhasil menguasai benteng Eben-Emael


Oleh : Delly Soewandi

Serangan komando Fallschirmjäger menjadi kurikulum wajib pasukan komando dan akademi militer sedang dipelajari dan dimainkan secara taktis ala tablegame.

Sturmgruppe Granit di Benteng Eben Emael, 10 Mei 1940 Rencana Jerman untuk Blitzkrieg front Barat (operasi Fall Gelb) di awal Perang Dunia II, untuk menyerang dan menundukkan Perancis dan negara-negara dataran rendah akan dilaksanakan setelah menundukkan Polandia (September 1939) yang sebagai daerah netral untuk berhadapan dengan Russia.

Pola strategi besarnya hampir sama dengan strategi saat Perang Dunia I yaitu Schlieffen Plan namun telah di revisi atas usulan Generaloberts Erich von Manstein menjadi Sichelschnitt, yaitu:

- Heeresgruppe B melakukan sapuan dari sayap kanan melewati Belanda, Belgia dan Luksemburg (negara-negara dataran rendah) untuk memancing pasukan utama Perancis dan British Expeditionary Forces membantu Belanda dan Belgia.

- Heeresgruppe A sebagai serangan utama dan dari tengah akan memotong dan mengurung pasukan Perancis dan British Expeditionary Forces melalui hutan Ardennes, menyebrangi sungai Meuse dan dari kota Sedan menuju daerah pantai di Boulogne, Calais dan Dunkirk di tepian English Channel dan Laut Atlantic.

- Heeresgruppe C sebagai pancingan agar pasukan-pasukan Perancis tetap mematung di garis pertahanan / benteng-benteng Maginot.

Jerman, baik di awal maupun selama Perang Dunia II, lebih mengandalkan strategi, organisasi tempur (Battle Order) yang lebih modern, efektif efisien dan penguasaan medan, daripada banyaknya jumlah peralatan dan pasukan.
Struktur serangan dari operasi Fall Gelb (kasus kuning) di pecah-pecah ke dalam operasi-operasi yang lebih kecil dan independen dengan koordinasi yang tinggi.

Target-target strategis dan penting (dengan urutan teratas) di Belgia untuk sebagian pelaksanaan operasi Fall Gelb yang harus direbut dan diamankan:
1) Jembatan Vroenhoven.
2) Benteng Eben Emael.
3) Jembatan Veldwezelt.
4) Jembatan Kanne.
Dimana selanjutnya jembatan-jembatan tersebut akan digunakan 6. Armee (Angkatan Darat ke 6) untuk penetrasi lebih jauh ke Belgia.

Alasan mengapa Benteng Eben Emael secara militer dianggap sebagai target kedua terpenting:

1) Memiliki 6 kanon artileri kaliber 120mm jarak tembak 18 km dan 2 di antaranya dapat berotasi 360 derajat dalam kubah baja kokoh, 16 kanon artileri kaliber 75mm jangkauan tembak 8 km (4 di antaranya dalam kubah baja yang dapat menembak ke segala arah). Kanon artileri tersebut dapat melindungi kota Maastricht di Utara dan kota Vise di Selatan. Selain itu, memiliki 12 kanon anti-tank kaliber 60mm, 24 heavy machine-gun, 6 light machine-gun, 4 kanon penangkis serangan udara kaliber 60mm dan 6 lampu sorot. Artileri tersebut terutama yang berkaliber 120mm, dapat digunakan pasukan Belgia utk menghancurkan ketiga jembatan penting dan menghambat gerak maju pasukan Jerman.

2) Benteng ini mulai dibangun tahun 1932 dan selesai 1935 dengan biaya sekitar 24 juta Francs kala itu, dibangun karena pengalaman buruk Belgia terhadap Jerman saat Perang Dunia I. Dibangun pada bukit berbatuan Granit dengan ketinggian 50 meter dari permukaan laut dan terlindungi oleh faktor alam serta pertahanan buatan, berada di tepian Albert Canal pada bagian Utara dan sungai Meuse di bagian Timur, jebakan / parit tank selebar 20 meter dengan panjang 1.500 meter serta kawat berduri di bagian Barat dan Selatan, dan hanya memiliki satu pintu masuk.
Panjang benteng keseluruhan yang membentuk segitiga utara-timur 900 meter dan timur-selatan 700 meter, dengan kedua sisi yang paling lebar 300 meter dan berada di atas tanah seluas 5 hektar. Memiliki 2 lantai di dalam bukit (berada di atasnya Pillboxes, Casemates, Bunkers dengan periskop intip dan Cupolas, berikut variasi atap-atap dengan ketinggian 5 meter).
Kedua lantai bawah bukit dan atap-atap tersebut dihubungkan dengan tangga, dimana terdapat dua tangga utama, dua lift dan koridor sepanjang 4.5 km di bawah bukit (transportasi perwira dalam benteng memakai sepeda).
Serupa dengan Perancis dengan Benteng Maginot-nya, Belgia masih menganut pola fortifikasi dan Trench War karena belum memiliki inovasi strategi untuk meredam senapan mesin dan hantaman artileri berat saat pergerakan pasukan yang lebih mobile dan elastic dalam pola-pola serangan maupun pertahanan mereka.Benteng Eben Emael sangat well-situated, well-armed dan well-defended strongpoint, sangat sulit ditembus dan direbut dari segala arah, begitulah keyakinan para petinggi dan prajurit Belgia, rakyat Belgia dan pengamat militer kala itu.

3) Memiliki sebuah garnisun berkekuatan 1.200 serdadu (sekitar 500 serdadu bertugas melayani kanon-kanon tersebut) di dalam Benteng Eben Emael, yang dapat bertambah dengan infantry support dari barak-barak di luar Benteng yang terlindungi oleh faktor alam dan buatan, hingga mereka dapat bertahan selama beberapa minggu walaupun terkepung, memiliki 6 generator sebagai pembangkit listrik sendiri.

Bila Jerman melakukan penyerangan atau perebutan target-target strategis tersebut dilakukan dengan frontal assault, sangat besar kemungkinan jembatan-jembatan penting di sungai Meuse dan Albert Canal akan rusak atau hancur seluruhnya karena diledakkan pasukan Belgia guna menghambat laju serangan pasukan Jerman. Terutama Benteng Eben Emael, frontal assault sama saja bunuh diri atau akan mengorbankan ribuan serdadu dan peralatan untuk merebutnya.
Kanon dengan kaliber tersebut yang dimiliki Eben Emael pada permulaan Perang Dunia II cukup mutakhir, mengingat panzer-panzer Jerman yang berjumlah 2.800 panzer pada permulaan perang, 90% kanonnya berkaliber 50mm dan 37mm, sedangkan howitzer-nya berkaliber 98mm & 105mm.

Penggodokan serangan ke Belgia dimulai pada bulan November 1939, dilakukan para petinggi militer Jerman dan salah satu penggagasnya Generalmajor Kurt Student.Cara apa yang harus dilakukan dan bagaimana, bila dengan pasukan payung, bagaimana cara agar tetap menjaga unsur kecepatan, dadakan dan komando terarah.

Akhirnya diputuskan bahwa serangan pembuka ke target-target strategis akan dilakukan oleh Fallschirmjäger tetapi tidak dengan terjun payung, namun dengan pesawat tanpa mesin tanpa suara, yaitu Glider DFS-230, alasannya:

= Menjaga unsur kecepatan, dadakan dan koordinasi serangan pasukan kecil tersebut.
= Ketepatan mendarat pasukan payung kurang akurat, melebar dan serdadunya tersebar.
= Pasukan diterjunkan dengan payung, mendarat dengan senjata dan peralatan yang terpisah, setelah mendarat mereka harus melepas payung terlebih dahulu lantas mencari kontainer peralatan dan regunya.
= Kontainer peralatan tidak dapat membawa peralatan untuk heavy infantry seperti: ekstra stielgranate, flame-thrower, demolition-charge, hollow-charge, bangalores, heavy machine-gun MG 34 dan assault-ladder, yang akan sangat berguna untuk merebut dan mempertahankan target-target jembatan, terutama Benteng Eben Emael dalam tempo singkat.

Hauptmann Walter Koch ditugaskan sebagai operator lapangan dalam serangan ke target-target di Belgia tersebut, dimana dia memilih personelnya dari I Bataillon, 1 Fallschirmjäger Regiment (I / FJR1) dan Oberleutnant Rudolf Witzig dari II Pionier Bataillon, 1 Fallschirmjäger Regiment (II / FJR1), pasukan ini disebut dengan Sturmabteilung Koch (Detasemen Serangan Koch).

Battle Order dari Sturmabteilung Koch yang terbentuk dengan perincian urutan:
Target = Kode Unit Tempur = Jumlah Gliders = Jumlah Serdadu):

1) Jembatan Vroenhoven = Sturmgruppe Beton = 11 Gliders = 5 perwira = 129 serdadu (Kapten Koch berada disini).

2) Benteng Eben Emael = Sturmgruppe Granit = 11 Gliders = 2 perwira = 85 serdadu (Letnan Witzig berada disini).Jumlah Glider sama dengan Beton tapi perwira dan serdadunya lebih sedikit, karena peralatan yang dibawa seperti: ekstra stielgranate, flame-thrower, demolition-charges, hollow-charges, bangalores, tangga dan heavy machine-gun.

3) Jembatan Veldwezelt = Sturmgruppe Stahl = 10 Gliders = 1 perwira = 91 serdadu.

4) Jembatan Kanne = Sturmgruppe Eisen = 10 Gliders = 2 perwira = 88 serdadu.

Pelatihan secara intensif dan rahasia Sturmgruppe Granit dilakukan di Hidelsheim hampir selama 6 bulan dengan menggunakan bunker-bunker buatan dan pengenalan medan melalui maket-maket untuk penentuan regu yang mengamankan 31 Werks (target) di atas benteng, serta pencarian informasi dari perusahaan dan orang-orang yang pernah mengerjakan proyek pembuatan benteng, agar diperoleh detail benteng tersebut.
Bukan hanya serdadu, pilot-pilot Glider juga dilatih secara intensif pada sebuah benteng Ceko yang hampir mirip dengan Eben Emael, terutama untuk pengaturan pendaratan atau memendekkan rentang pendaratan yang dibuatkan tambahan gulungan kawat dan berfungsi sebagai tambahan rem pada rel kayu pendaratan.

Rencana serangan Sturmgruppe Granit pada benteng Eben Emael:
1) Gliders akan ditarik JU-52 mulai pukul 04.30 pagi hari 10 Mei 1940 dan dari dua lapangan terbang di luar kota Koln: Ostheim dan Butzweilerhof.
2) Selama perjalanan menuju sasaran, tidak ada penggunaan radio komunikasi, unsur kejutan dadakan dan kesenyapan harus tetap terjaga.
3) JU-52 akan terbang dengan kecepatan 140 km perjam, dipandu dengan flare path sepanjang 20 km dari bawah, mulai Aachen menjelang perbatasan Jerman-Belgia, serta untuk memandu pelepasan Gliders.
4) Gliders akan terlepas dari JU-52 saat masih dalam wilayah Jerman, untuk menghindari kecurigaan dari suara mesin JU-52 dan dari ketinggian 2.500 meter dengan jarak tersisa ke benteng Eben Emael sejauh 35 km dengan kecepatan terbang Gliders 124 km perjam. 5) Sebelas Gliders akan mendarat di atas benteng, saat matahari mulai terbit di belakang mereka pukul 05.30, hingga serdadu-serdadu jaga Belgia akan kesilauan dan tidak menyangka akan kedatangan tamu tak diundang yang modern tanpa suara, dari atas dan dari arah terbit matahari.
6) Sebelas Gliders berisi 11 regu dengan tugas masing-masing regu terarah begitu mereka mendarat dan keluar dengan cepat dari Gliders untuk mengambil posisi serta melumpuhkan seluruh kanon berikut machine-gun support nya.
7) Tugas-tugas Fallschirmjäger terbagi dalam 31 Werks. Satu Glider berisi sang komandan Sturmgruppe Grani, Letnan Witzig dengan pasukan cadangannya, Trupp 11.
8) Operasi direncanakan memakan waktu sekitar 4 jam (berikut kemungkinan menahan serangan balik pasukan Belgia dari luar benteng atau dari dalam benteng) dan setelah itu pada pukul 10.00, akan digantikan 51. Pionier Bataillon dari 6. Armee yang akan melewati Jembatan Kanne yang diamankan Sturmgruppe Eisen.
9) 5 menit setelah pendaratan Gliders (pukul 05.35) Heeresgruppe B (6. Armee ke Belgia) akan memulai serangan ke negara-negara dataran rendah.

Rencana pertahanan Belgia:
1) Menunggu, terutama keyakinan mereka yang tinggi akan keampuhan benteng Eben Emael yang tidak dapat / sukar ditembus dari segala arah.
2) Menghancurkan 3 jembatan penghubung ke daratan utama Belgia begitu tahu ada serangan.
3) Kanon jarak jauhnya dari Benteng Eben Emael akan mengganggu pergerakan bala tentara Jerman, terutama saat membuat pontoon bridge atau memperbaiki jembatan rusak dan menyebrangi sungai Meuse dan Albert Canal.
4) Bertahan selama mungkin untuk menunggu bantuan dari bala tentara Perancis dan British Expeditionary Forces.

Hasil diperoleh saat operasi Sturmgruppe Granit dari masing-masing rencana:
1) Glider yang mengangkut Letnan Witzig sang komandan dari Sturmgruppe Granit dan Trupp 11 (regu cadangan), tali penariknya mengalami kerusakan, terlepas dan melakukan pendaratan darurat masih di sekitar Koln.
2) Glider yg mengangkut Trupp 2 juga mengalami gangguan sehingga mendarat di Duren dekat dengan perbatasan Jerman-Belanda.
3) Berarti hanya 9 Gliders yang mendarat di benteng dengan 55 serdadu dan 9 pilot berfungsi sebagai serdadu begitu mendarat dengan menembakkan light machine-gun M15 dari jendela kokpit untuk covering fire.
4) Glider pertama yang mendarat di benteng dan mengangkut Trupp 8, mendarat pada pukul 05.24, di bawah hujan tembakan penangkis serangan udara yang terlambat mengetahuinya, lalu diikuti dengan Glider yang mengangkut Trupp 5 dan seterusnya.
5) Karena Letnan Witzig berhalangan hadir saat operasi, seharusnya komandan pengganti adalah Leutnant Egon Delica, tetapi Glider yang mengangkut Trupp 1 mendarat sekitar 200 meter dari sasaran pendaratan karena remnya terlalu berfungsi dan diberondong heavy machine-gun dari Casemate 18. Oberfeldwebel (Sersan-Mayor) Helmut Wenzel dari Trupp 4 berinisiatif bahwa Letnan Delica tidak dapat mengambil alih posisi Letnan Witzig, maka dia menyalakan radio komunikasi untuk kontak dengan Kapten Koch di Vroenhoven, memberitahu posisi / situasi, kontak pembom tukik Stuka untuk menyerang posisi pasukan pendukung Belgia di luar bentang yang mulai menyusun serangan balik ke pintu masuk benteng, mengatur serangan secara keseluruhan Trupp di atas benteng dan selanjutnya juga meminta tambahan amunisi.
6) Sekitar 20 menit dari seluruh pendaratan 9 Gliders, target-target utama seperti meriam kaliber 120mm dan kaliber 75mm berikut machine-gun support nya telah dilumpuhkan, kanon-kanon tersebut belum sempat bereaksi untuk menghantam tiga target dari jembatan penting tersebut.
7) Sturmgruppe Eisen di bawah komando Oberleutnant Schachter yang bertugas merebut Jembatan Kanne mengalami perlawanan sengit, dia sendiri terluka serius, dan pasukan Belgia sempat meledakkan jembatan (perlu perbaikan kurang lebih setengah hari untuk dapat dipakai kembali), berarti serdadu pengganti Sturmgruppe Granit di benteng Eben Emael, 51. Pionier Bataillon akan terhambat sekitar 12 jam.Pertempuran di Jembatan Kanne sendiri berlangsung sengit, sampai pasukan induk ikut membantu Sturmgruppe Eisen dan baru selesai pertempurannya pada sore hari.
8) Letnan Witzig dan Trupp 11 mendarat di benteng dengan Glider lain dari Koln pada pukul 08.30, Serma Wenzel memberikan laporan situasi bahwa semua target utama sudah dilumpuhkan, dan tinggal menahan serangan balik dari pasukan Belgia, baik dari dalam maupun luar benteng dan menunggu pasukan pengganti dari 51. Pionier Bataillon yang terhambat dan kemungkinan akan tiba pagi esok harinya pada tanggal 11 Mei.Letnan Witzig setelah menerima laporan situasi dari Serma Wenzel, memerintahkan agar dikibarkan bendera Jerman sebagai tanda bahwa Eben Emael telah dikuasai.
9) Pasukan Belgia di dalam benteng tidak dapat berbuat banyak, karena mereka tidak dapat naik ke atap benteng, ditahan dengan tembakan gencar dari MG34, dilempari granat ”potato masher” dan disembur flame-thrower nya Sturmgruppe Granit. Dari dalam benteng, pasukan Belgia juga tidak bisa keluar, karena ditembaki dari atas. Pasukan dari luar benteng beberapa kali melakukan serangan balik, namun disapu dengan MG34 dari atas benteng, kejadian ini berlangsung sampai dini hari tanggal 11 Mei.
10) Malam hari Trupp 2 yang melakukan pendaratan darurat di Duren sampai di Eben Emael, mereka naik truk, lantas bergerak jalan kaki menghindari rintangan-rintangan benteng dan naik ke atas benteng, memberikan bukti bahwa pertahanan dan koordinasi serangan pasukan Belgia dari luar benteng sudah mengendor dan tidak terkoordinasi.
11) Pasukan Belgia menembakkan mortir dan light howitzer dari luar benteng, konon sekitar 2.300 peluru high-explosive dimuntahkan, namun hasilnya nihil karena Sturmgruppe Granit sudah berada pada posisi well-fortified.
12) Pagi hari pada pukul 07.00 tanggal 11 Mei 1940, 51. Pionier Bataillon dengan menggunakan perahu karet mulai menyebrangi Albert Canal, lantas bergabung bersama-sama Sturmgruppe Granit untuk melakukan pengamanan di dalam dan di luar benteng.
13) Pukul 12.00, Major Jottrand, komandan garnisun Belgia memberi tanda ketukan morse pada pintu besi di tingkat 1 sampai tiga kali, menyatakan bahwa mereka siap menyerah.
14) Major Jottrand keluar ke atas benteng ditemani ajudannya dengan bendera putih, ditemui Letnan Witzig, saling memberi hormat militer, dan Major Jottrand menyerahkan benteng Eben Emael.
15) Korban Sturmgruppe Granit, 6 tewas dan 18 terluka, sekitar 1.200 serdadu Belgia menyerahkan diri dengan korban tewas dan terluka sekitar 400, dimana mayoritas korban berasal dari luar benteng.
16) Semua perwira dari Strurmabteilung Koch menerima Ritterkreuz (Knight Cross) begitu pula Serma Wenzel dan semua serdadu Fallschirmjäger menerima Iron Cross kelas 1.

Keberhasilan Blitzkrieg dan serangan komando Sturmabteilung Koch, terutama Sturmgruppe Granit di benteng Eben Emael, membuka mata militer dunia dan merubah total konsep perang pada masa itu yang masih mengandalkan numerical superiority, manuver massal, serangan dengan human wave, konsep fortification dan static defense.

Hal-hal yang menarik diketahui selama dan setelah operasi Benteng Eben Emael:
- Oberjäger Ernst Grechza dari Trupp 5 merupakan satu-satunya serdadu dari Strurmabteilung Koch yang hanya menerima Iron Cross kelas 2. Sebelum berangkat pada 10 Mei pagi hari, kantin minumnya diisi dengan Rum dan bermaksud untuk diberikan kepada rekannya yang terluka nanti di Eben Emael. Tapi dia tidak sanggup menahan godaannya untuk minum rum sendirian dan kebanyakan sampai mabuk. Kedapatan sedang duduk merosot di dekat kubah kanon 120mm, dimana kubah tersebut sedang berputar dan masih berfungsi, lantas ditarik Serma Wenzel menjauh dari kubah.
- Pasukan Belgia yang tertawan dipindahkan dari Eben Emael ke Dortmund, mereka disembunyikan dan diisolasi sementara dari tawanan perang lainnya. Karena mereka sebagai saksi atas dua senjata rahasia dan baru yang digunakan Jerman yaitu Glider dan hollow-charge. Hitler memerintahkan semua keberhasilan dari hollow-charge di Eben Emael di tutup semen, untuk menyembunyikan bukti dari senjata baru rahasianya. Ini dilakukan sebelum tamu-tamu dari negara lain dipersilahkan mengunjungi Eben Emael dua bulan kemudian.
- Satu serdadu tawanan Belgia di kemudian hari secara sukarela mendaftar, lulus seleksi dan diterima menjadi serdadu dari Waffen-SS divisi ke 27 Langemarck dan tewas di front timur.


Sumber :
www.cleeveprints.co.uk
www.facebook.com
www.en.wikipedia.org
www.forosegundaguerra.com
www.dday-overlord.forumactif.com
www.biocrawler.com


Stielhandgranate, Granat Batang Khas Jerman!

Stielhandgranate tanpa bahan peledak yang digunakan khusus untuk latihan


SS-Brigadeführer Heinz Harmel sedang memeriksa Stielhandgranate anak buahnya


Inilah yang harus dilakukan sebelum Stielhandgranate versi awal (Perang Dunia I) diledakkan, menarik tuas yang menghubungkannya ke sumbu peledak. Model-model kemudian menggunakan sistem pelepasan dengan memutar klepnya, karena dirasa lebih aman bagi prajurit yang membawanya


Dua orang prajurit infanteri yang diperlengkapi dengan Stielhandgranate. Ingat, kalau granat yang itu juga habis, masih ada "granat" lain di balik celana! :)


Stielhandgranate model 24


Seorang tentara Jerman melemparkan "potato masher" ke lubang perlindungan musuhnya. Foto ini sangat terkenal dan diambil ketika penyerbuan Jerman ke Uni Soviet (Operasi Barbarossa) tahun 1941


Last but not least, miniatur prajurit sedang melemparkan Stielhandgranate. Pasti tahu kan dari kesatuan mana model patung ini berasal?


Oleh : Alif Rafik Khan


Stielhandgranate Model 24 adalah granat tangan standar Angkatan Darat Jerman dari akhir Perang Dunia I sampai dengan akhir Perang Dunia II. Bentuknya yang khas lah yang membuat dia dijuluki dengan “granat batang” atau “potato masher” yang merupakan julukan populer kerjaan orang-orang Inggris. Saat ini, Stielhandgranate merupakan salah satu senjata infanteri abad ke-20 yang paling gampang dikenali lewat bentuknya yang khas dan tak ada duanya.


Granat batang ini pertama kali diperkenalkan tahun 1915, dan desainnya berkembang terus sepanjang sisa Perang Dunia I. Penyala gesekan diperkenalkan, suatu metode yang tidak biasa di negara-negara lainnya tapi dipergunakan secara luas di granat-granat Jerman.


Sebuah kawat tarik terhubung dari rongga dalam pegangan menuju ke kepala peledak, mengakhiri sebuah bola porselen yang berada dalam sebuah alas berpenutup yang dapat dilepas. Untuk menggunakan granat ini, cukup dengan melepaskan tutup alas sehingga membuat si bola berkawat terlepas. Sentakan dari pelepasan ini menarik juga si kawat yang “menjalar” di dalam batang besi, dan memantik pemicu yang berada dalam kepala, menimbulkan nyala api yang membuat granat tersebut meledak hanya dalam waktu 5 detik. Waktu yang sebegitu cukuplah digunakan dari pelemparan sampai tibanya ke sasaran.


Granat batang pertama mempunyai kawat tarik permanen yang nongol dari pegangannya di bagian bawah (dan bukan berada di dalam alas pegangan yang dapat dilepas seperti di versi-versi sesudahnya). Kawat tarik yang terekspos ini sering sekali membuat celaka pada prajurit yang membawanya karena kadang suka secara tidak sengaja terkait pada sesuatu ketika sedang dibawa, dan otomatis meledakkan si prajurit sehingga menimbulkan kematian atau luka yang sangat parah. Simpelnya, senjata makan tuan!


Biasanya granat tangan ini disimpan dalam boks khusus ketika dalam proses pengiriman, dan bila telah sampai di tujuan maka si granat dirakit sedikit untuk membuatnya berfungsi (dengan cara menambahkan pemantiknya) sebelum digunakan dalam pertempuran. Untuk mencegah si prajurit lupa akan hal ini, maka suatu tulisan “pengingat” dicantumkan di kepala granat : VOR GEBRAUCH SPRENGKAPSEL EINSETZEN (Masukkan detonator sebelum digunakan).


Tipe granat ini, dengan isi bahan peledak tingkat tinggi yang dilindungi oleh lapisan besi tipis berbentuk silinder, adalah contoh senjata yang lebih pas untuk keperluan “ofensif” (mengandalkan efek ledakan) daripada “defensif” (pecah berkeping-keping). Sebuah klep keping bergigi tajam (Splittering) diadopsi tahun 1942, yang dapat digeser melewati kepala granat. Pecahan dari klep ini akan memicu detonasi, sehingga yang ada adalah, si granat akan lebih efektif lagi digunakan melawan manusia-manusia yang jadi korbannya.


Lalu kenapa pula granat ini dilengkapi dengan batang, dan bukannya berbentuk bundar/oval seperti umumnya granat yang lain? Fungsinya adalah untuk menciptakan sebuah pengungkit sederhana, yang menambah kemungkinan jarak lemparan menjadi lebih jauh lagi. Model 24 dapat dilemparkan dari jarak sampai sejauh 30 atau 40 yard, sementara saingannya dari Inggris, Mills Bomb, hanya mempunyai jarak lemparan maksimal sejauh 15 yard! Desainnya juga meminimalisasi resiko si granat berguling kembali pada pelemparnya ketika digunakan dalam medan berbukit atau di daerah perkotaan dengan loteng-lotengnya.


Granat ini benar-benar sangat berguna untuk membersihkan posisi pertahanan infanteri, meskipun tidak terlalu efektif bila digunakan untuk melawan kendaraan lapis baja atau benteng. Untuk menghadapi kendala ini, diperkenalkanlah sebuah improvisasi yaitu satu buah Stielhandgranate diikatkan dengan enam buah kepala peledak lainnya sehingga membuat efek ledakannya lebih dahsyat lagi. Senjata ini dikenal sebagai Gebalte Ladung (“peledak bola” atau “peledak terkonsentrasi”).


Dalam sejarah hidupnya yang lumayan panjang, Stielhandgranate mempunyai banyak versi, yang beberapa di antaranya dipergunakan dalam Perang Dunia I sebelum desain tetap muncul tahun 1917. Dalam Perang Dunia II, granat ini mempunyai kepala peledak yang lebih kecil dari sebelumnya, dan komponen sabuk penjepit dihilangkan.


Setiap perubahan selalu membuat granat ini menjadi lebih ringan dari sebelumnya, suatu usaha agar si granat lebih mudah digunakan dan ongkos produksinya lebih murah. Pada akhirnya, Model 24 digantikan oleh granat Model 43 meskipun tetap digunakan secara massal sampai perang berakhir.


Seiring dengan akhir-akhir perang ketika sumber daya dan kemampuan produksi Jerman menurun dengan drastis, banyak pengembangan variasi Ersatz dilakukan pula. Selain dari versinya yang biasa, Jerman memperkenalkan pula versi dengan tambahan asap pelindung, yang hadir di model awal dan akhir dan dapat dengan mudah dikenali melalui strip putih di sekitar pegangan dan, untuk model akhir, sebuah pencengkeram tangan yang membuat di pengguna dapat membedakannya dengan granat biasa di malam hari atau ketika kegelapan melanda, cukup dengan menyentuhnya. Di medan perang Rusia yang bercuaca ekstrim, barulah diketahui bahwa hawa dingin dapat membuat Model 24 gagal berfungsi dan tidak meledak sebagaimana yang diharapkan. Untuk mengatasinya, ilmuwan-ilmuwan Jerman menambahkan bubuk peledak istimewa yang hanya digunakan pada granat-granat Front Timur. Granat khusus ini biasanya bertanda “K” (Kalt atau “dingin”) di kalengnya. Versi latihan yang tak berpeledak juga diproduksi.


Ternyata negara-negara lain juga kepincut pada konsep granat yang semacam ini, di antaranya adalah Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan National Revolutionary Army Cina, dua pihak yang saling berseteru dalam Perang Dunia II. Kemudian, pihak komunis Cina juga menggunakan versi produksi lokalnya yang bernama “Tipe 67” untuk keperluan NLF dan People’s Army of Vietnam.


Sama seperti pistol Luger, granat batang Jerman ini juga menjadi salah satu “suvenir” yang banyak diburu oleh prajurit Sekutu dalam Perang Dunia II, sama halnya dengan para kolektor masa sekarang yang ikutan mengejar-ngejar versi orsinilnya. Hadir juga banyak replikanya di pasaran dengan kualitas dan akurasi yang bervariasi, banyak di antaranya yang salah dalam bentuk fundamentalnya atau kurang detail pengerjaannya. Khusus untuk kolektor dari Amerika Serikat, dikenakan peraturan khusus bahwa setiap granat semacam ini yang dikoleksi, maka bahan peledak atau detonatornya harus dihilangkan terlebih dahulu.



Sumber :

www.en.wikipedia.org



Monday, December 7, 2009

Tragedi Blücher Bersaudara, Saving Private Ryan ala Nazi Jerman!

Wolfgang Graf von Blücher, putra tertua di antara Blücher Bersaudara yang terbunuh dalam Pertempuran Kreta (disini pangkatnya masih sebagai Leutnant). Dia adalah seorang kakak sekaligus idola bagi adik-adiknya, dan karena pengaruhnyalah Leberecht dan Hans-Joachim bergabung dengan Fallschirmjäger


Leberecht Graf von Blücher, si penunggang kuda misterius yang terbunuh dalam usahanya membantu kakaknya yang terkepung musuh. Setelah kematiannya, banyak warga sekitar yang bersumpah telah melihat hantu dirinya sedang menunggang kuda!


Hans-Joachim Graf von Blücher, si bungsu yang meregang nyawa di usia yang masih teramat muda (17 tahun). Kehilangan ketiga anak kebanggan keluarga ini telah memukul sang ibu teramat dalam, apalagi dia baru menerima beritanya empat minggu setelah kejadian!


Wehrpaß dari Wolfgang Graf von Blücher. Dia dan adik-adiknya merupakan keturunan dari Jenderal Prusia Von Blücher yang menjadi penentu kehancuran Napoleon dalam Pertempuran Waterloo


Bagian dalam dari Wehrpaß Wolfgang Graf von Blücher yang berisi data dirinya


Foto lain dari Wolfgang Graf von Blücher, kali ini memakai seragam terjun payung Fallschirmjäger dan dengan bangga berpose dengan Ritterkreuz tersembul keluar dari jaketnya


Foto lain dari Wolfgang Graf von Blücher dengan seragam biru Luftwaffe. Wajah diri dan adik-adiknya benar-benar khas Arya, dengan rambut pirang dan mata biru!


Death Card dari Blücher Bersaudara, dengan nama-nama anggota keluarga yang berduka di bagian bawah. Perhatikan, bahwa masih ada satu orang anggota lelaki keluarga Blücher yang selamat, yaitu Leutnant zur See Adolf Graf von Blücher, dialah si "Ryan" yang sebenarnya! Kemungkinan besar bahwa si Adolf ini (bukan Hitler) ditarik dari garis pertempuran demi mencegah tertumpahnya darah Blücher keempat, sama seperti yang terjadi dalam kasus Private Ryan dalam filmnya Steven Spielberg


Batu nisan dari kuburan dua orang anggota Blücher Bersaudara. Sampai saat ini mayat Leberecht tak pernah ditemukan...


Oleh : Alif Rafik Khan


Bagi yang pernah menonton film fenomenal Saving Private Ryan karya Sutradara Yahudi Steven Spielberg, pastilah tahu akan jalan cerita film tersebut, dimana Tom Hanks dan pasukannya ditugasi untuk menarik Matt Damon dari medan laga, dengan alasan sederhana bahwa semua kakak-kakaknya telah terbunuh dalam pertempuran. Ternyatalah hal seperti ini (kakak-adik yang terbunuh dalam perang) bukanlah suatu hal yang aneh dan hanya terjadi dalam film saja, karena setiap negara mempunyai Saving Private Ryan versi mereka sendiri, seperti contohnya lima bersaudara dari keluarga Sullivan (Amerika Serikat) yang tewas dalam waktu yang sama ketika kapal laut yang mereka tumpangi tenggelam dalam perjalanannya di lautan.


Lalu bagaimana dengan Nazi Jerman yang menjadi “adonan” utama blog ini? Tentu saja ada pula yang masuk dalam kategori, salah satu di antaranya adalah si kembar Schneider dari 3./FJR5 yang sama-sama terbunuh dalam pertempuran memperebutkan Lembah 331 dekat Bou-Arada, Tunisia, awal tahun 1942. yang satu terbunuh ketika berusaha membantu saudaranya yang terluka parah, yang juga kemudian meninggal karena luka-lukanya. Ada juga Alfred Genz yang kehilangan dua orang saudaranya (Günther Genz dari FJR3 dan Harald Genz dari 2./LL.St.Rgt) dalam pertempuran di Kreta. Karena kematian tersebut, Genz menjadi satu-satunya anggota keluarga pria yang selamat dalam keluarganya, dan mendapat dispensasi untuk keluar dari ketentaraan (sama seperti dalam film Saving Private Ryan). Bukannya bersyukur, Genz malah menolaknya dan kemudian ditugasi untuk membentuk kembali batalion pertama dari Sturm Regiment yang hancur lebur di Kreta. Tanggal 1 Januari 1942 dia ditransfer ke Sekolah Pertempuran Darat Luftwaffe yang terletak di Groß-Born dimana disana dia menjadi instruktur yang menangani pelatihan para calon komandan kompi.


Yang paling terkenal dari kasus-kasus “saudara terbunuh dalam peperangan” ini adalah tragedi yang menimpa tiga orang anggota keluarga Blücher.


Di antara enam ribu lebih Fallschirmjäger yang terbunuh dalam Pertempuran Kreta, terdapat tiga orang bersaudara yang masih merupakan kerabat dari Gebhard Leberecht von Blücher, Generalfeldmarschall asal Prusia yang meraih nama besarnya dalam Pertempuran Waterloo melawan Napoleon Bonaparte. Para keturunan aristokrat tradisional Prusia ini sama-sama bertugas di Divisi Fallschirmjäger ke-7 (meskipun berada di kompi yang berbeda-beda), dan KIA (Killed in Action) dalam pertempuran sengit ketika berusaha merebut pangkalan udara di sekitar Heraklion.


Nomor pertama adalah Leberecht Graf von Blücher, yang menemui ajalnya ketika berusaha mensuplai amunisi kepada kakak tercintanya, Wolfgang Graf von Blücher, yang bersama dengan pasukannya terkepung hebat oleh tentara-tentara Black Watch Sekutu. Leberecht yang baru berusia 19 tahun dengan berani memacu seekor kuda menembus garis Sekutu, sementara amunisi yang dibutuhkan diikatkan di sadel kudanya. Hampir saja dia berhasil mencapai posisi kakaknya... tapi kemudian dengan mata kepalanya sendiri, sang kakak Wolfgang melihat adiknya tertembus peluru musuh. Usaha Leberecht sendiri tidak sia-sia karen si amunisi akhirnya berhasil didapatkan oleh peleton kakaknya, walaupun harus dibayar oleh nyawanya sendiri (mayatnya tidak pernah ditemukan, entah bagaimana ceritanya!). Keesokan harinya, Wolfgang ikut pula terbunuh bersama seluruh peletonnya, diikuti dengan si bungsu Hans-Joachim Graf von Blücher yang baru berusia 17 tahun dan dilaporkan telah tewas dalam pertempuran beberapa hari kemudian.


Orangtua Blücher tidak pernah mendapat berita sekecil apapun tentang kematian tiga orang anaknya, dan barulah di minggu keempat setelah peristiwa tersebut mereka mendapat pemberitahuan secara resmi dari resimen (yang baru pulang dari Kreta) dan disampaikan langsung oleh komandan resimen tempat Blücher bersaudara ditempatkan. Tak terbayang rasa sakit dan kehilangan yang harus mereka tanggung, ketika dalam sekejap mereka menyadari bahwa mereka tak akan pernah lagi melihat anak-anaknya tercinta, bahkan hanya sekedar jenazahnya atau sisa-sisanya.


Saudara perempuan mereka yang masih tersisa, Gertrude Baroness von Ketelholdt (masih ada lagi satu saudara laki-laki yang lain, Leutnant zur See Adolf Graf von Blücher yang bertugas di Kriegsmarine), berkata : “Wolf (panggilan Wolfgang) menulis surat pada kami dua hari sebelum keberangkatannya ke Kreta, yang memberitahukan mengenai keadaan dia dan adik-adiknya. Lalu kemudian hubungan terhenti, dan kami semua dicekam oleh rasa khawatir yang sangat akan nasib mereka, terutama ibu kami yang sudah tua. Barulah empat minggu kemudian datang sebuah surat yang menghancurkan, yang memberitahukan bahwa semua adik kami telah tiada di pertempuran yang sama.” Gertrude tidak dapat melupakan apa yang terjadi pada saudara-saudaranya di pulau Kreta, dan dia tercatat sebagai pengunjung pertama kuburan Wolfgang dan Hans-Joachim yang terletak di blok 1 nisan no. 457 dan 458 di kompleks pemakaman para tentara Jerman yang terletak di bekas lapangan udara Maleme.


Kisah ketiga bersaudara Blücher ini begitu melegendanya di kalangan penduduk Kreta, dan bertahun-tahun kemudian para keluarga miskin yang tinggal di desa kumuh di sekitar lokasi bersumpah bahwa mereka kadang melihat hantu penunggang kuda yang menderap kudanya dengan kecepatan tinggi di malam buta menyusuri jalan di dekat lokasi persis dimana Leberecht tertembak. Uniknya, pada awalnya mereka menduga bahwa hantu itu pastilah berasal dari prajurit Inggris yang meninggal disana, dan barulah ketika diberitahu bahwa sebenarnya yang terbunuh adalah Blücher bersaudara, mereka menjadi tahu kenyataan yang terjadi.


Memang untuk urusan bertempur, Fallschirmjäger dikenal sebagai pasukan yang gigih dan pantang menyerah, baik ketika menyerang maupun diserang. Tepatlah apa yang dikatakan oleh James Lucas yang berkata : “reputasi Fallschirmjäger dalam hal kemampuan bertempur, kengototan dalam bertahan, pengorbanan diri sendiri demi menyelamatkan Kamerad-nya, dan kesetiaan yang besar terhadap kesatuannya, hanya dapat ditemukan pada anggota unit-unit elit yang terbaik.”


Sebagai penutup, saya sertakan biografi singkat dari Blücher Brothers :


Oberleutnant Wolfgang Hanner Peter Lebrecht Graf von Blücher (31 Januari 1917 di Altengottern – 21 Mei 1941 di Kreta) dengan nama panggilan ‘Wolf’ adalah yang tertua di antara semuanya sekaligus yang paling berprestasi. Para rekan seperjuangannya melihat dia sebagai seorang manusia berjiwa pemimpin, bukan karena berasal dari keturunan yang mentereng, melainkan semata karena apa yang telah dilakukannya. Sebelum perang dia mempelajari pertanian dan ilmu kehutanan dan menjadi ahli dalam bidang pekerjaannya. Keluarganya sendiri berasal dari Mecklenburg, dan meskipun minatnya tetap kepada apa yang telah disebutkan sebelumnya, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang tentara, dan mendaftarkan diri di Heer sebagai cadangan Kavaleri tahun 1934. Pilihan ini bisa dibilang tidaklah biasa, karena tanpa menjadi seorang tentara pun Wolfgang sudah sah menjadi orang kaya, apalagi setelah ayahnya meninggal dan dia diserahi tugas mengelola tanah keluarganya yang luas di Mecklenburg. Apalagi yang dicari oleh pemuda berwajah khas Jerman ini?


Di akhir tahun 1939 Wolfgang (yang kini berusia 23 tahun) meminta untuk dipindahkan ke unit Fallschirmjäger dari Luftwaffe, dan permintaannya dipenuhi. Bulan Januari 1940 dia menyelesaikan latihan terjun payung dan tak lama langsung diterjunkan dalam Operasi Fall Gelb (serbuan Jerman ke Prancis dan Negara-Negara Bawah). Pangkatnya saat itu adalah Leutnant der Reserve sekaligus sebagai komandan peleton dari kompi 2 yang merupakan bagian dari Resimen Fallschirmjäger pertama dan Divisi Fallschirmjäger ke-7.


Dalam penyerbuan Jerman ke Belanda, Wolfgang kebagian bertempur di daerah Trondheim dan diterjunkan dari udara untuk mendarat di jembatan Dordrecht. Pada mulanya, pasukan Fallschirmjäger yang bertugas menduduki jembatan tersebut hanyalah yang berasal dari Kompi kedua pimpinan Oberleutnant Von Brandis (mantan penerjun Angkatan Darat), tapi kemudian mereka menemui perlawanan yang kuat di jalan-jalan dalam perjalanan menuju kesana, sehingga tambahan pasukan menjadi sangat diperlukan. Keadaan menjadi kritis, ketika Von Brandis pun kemudian terbunuh, sehingga komandan resimen, Oberst Bruno Bräuer (pangkat terakhirnya adalah General der Fallschirmtruppe) memerintahkan semua elemen dari I./FJR 1 untuk bersama-sama mencapai dan merebut jembatan Dordrecht.


Nah, disinilah Wolfgang menunjukkan kemampuan terbaiknya sebagai seorang prajurit ketika dia berhasil memimpin pasukannya, bukan saja dalam mencapai jembatan tersebut tapi juga menguasainya. Atasannya menganggap bahwa apa yang telah dilakukannya dalam pertempuran itu adalah EXCELLENT, sehingga menganugerahinya dengan Ritterkreuz pada tanggal 24 Mei 1940.


Berdasarkan penuturan dari saudarinya, Baroness von Ketelholdt, setelah Operasi Fall Gelb selesai dan Jerman menduduki Eropa Barat, Wolfgang meminta izin cuti untuk mengurus tanah keluarganya di Mecklenburg. Musim panas tahun 1941 Wolfgang telah melapor kembali di resimennya, dan langsung dipersiapkan untuk menghadapi pertempuran di Yunani.


Dalam pertempuran Kreta, Wolfgang dan pasukannya kebagian tugas untuk bergabung dengan batalion Hauptmann Burckhardt yang dalam proses dibantai pasukan Inggris dari The Black Watch (mereka sudah kehilangan lebih dari 300 orang, belum lagi 100 orang lebih yang terluka dan beberapa ditawan). Tengah malam ketika sudah dekat dengan tujuannya di lapangan udara Heraklion, Wolfgang melihat sekelompok pasukan yang nongkrong di bukit sebelah tenggara landasan. Begitu yakin dia bahwa pasukan yang dilihatnya merupakan bagian dari patroli yang dikirimkan oleh Burckhardt, sehingga dia buru-buru meneriakkan password ‘Reichsmarschall’, hanya untuk mendapat hujan tembakan dan peluru. Ternyata mereka adalah pasukan musuh yang mengepung Hauptmann Burckhardt!


Tak lama Wolfgang dan pasukannya telah terkepung pula, dan walaupun mereka bertahan dengan gigih melawan setiap usaha penerobosan dari pihak musuh, cadangan amunisi menurun dengan cepat. Major Walther, komandan batalion yang membawahi Wolfgang, memerintahkan pada pasukannya agar mengerahkan segala daya dan upaya demi menyelamatkan peleton yang terkepung tersebut, dengan menekankan bahwa ini bukan hanya upaya biasa tapi sudah menyangkut masalah kehormatan yang dijunjung tinggi oleh para Fallschirmjäger. Tapi yang jadi problem, infanteri Skotlandia yang terkenal dengan nama Black Watch yang menjadi pengganjal utama ini telah berada dalam posisi yang enak buat menyerang maupun bertahan, sehingga begitu sulitnya untuk menembus kepungan mereka.


Di lain pihak, peleton Wolfgang berusaha mati-matian bertahan, menggali lubang perlindungan dengan semua alat yang tersisa, bahkan dengan helm dan jari telanjang mereka! Di sekitar, tak henti-hentinya datang tembakan dari senapan mesin Vickers musuh, ledakan mortir dan juga artileri. Wolfgang dan banyak dari pasukannya telah terluka. Kekuatan mereka kini telah menjadi tinggal setengahnya, dan telah berhari-hari mereka bertempur tanpa henti tanpa mendapat istirahat yang cukup dan juga pasokan amunisi.


Di saat inilah, menurut salah seorang saksi mata, hadir sebuah pemandangan yang menakjubkan yang sungguh tak dapat dipercaya bagai dalam dongeng saja. Seorang prajurit berkuda tiba-tiba datang dari kejauhan, memacu kudanya dengan konsentrasi tinggi dan kecepatan penuh, sementara boks amunisi terpasang di sadelnya. Begitu tidak biasanya pemandangan ini sehingga The Black Watch hanya dapat terpana melihatnya. Tapi tak lama, mereka tersadar dan segera menghujani tembakan kepada si pemuda pemberani. Tembakan gencar tersebut barulah berbuah ketika si penunggang kuda telah sampai di tujuannya, dan bagaikan dalam drama, sesampainya disana dia langsung terkulai lemah dengan banyak lubang bekas peluru di badannya.


Ketika amunisi kemudian dibagikan, Wolfgang bertanya siapakah si pemuda pemberani tersebut dan bagaimana keadaannya. kepahlawanannya telah membangkitkan kembali semangat bertempur pasukannya yang terkepung. Begitu hancurnya hati Wolfgang ketika mendapati bahwa dia tidak lain dari adik tercintanya sendiri, Leberecht, yang baru berusia 19 tahun dan dilaporkan telah meninggal tak lama setelah menyelesaikan misinya.


Wolfgang sendiri menyusul adiknya ke alam baka bersama dengan sisa-sisa pasukannya keesokan harinya. Mereka menolak untuk menyerah, dan bertempur bagaikan banteng terluka dengan berbekal amunisi pemberian Leberecht, sampai semua orang yang sudah terluka pun ikut memanggul senjata. Pasukan Inggris hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kegigihan yang amit-amit dari unit pinilih Fallschirmjäger ini. Mungkin kalau situasi terbalik dan mereka berada dalam posisi Wolfgang, mereka akan lebih memilih untuk menyerah dan hidup daripada meneruskan pertempuran hanya untuk mati.


Gefreiter Leberecht Graf von Blücher (1922 di Fincken – 20 Mei 1941 di Kreta) menyelesaikan sekolahnya tahun 1940, dan kemudian langsung mendaftar menjadi seorang prajurit infanteri Wehrmacht yang ditempatkan di Prusia Timur. Saudara sekaligus idolanya, Wolfgang, mengajaknya untuk bergabung dengan Fallschirmjäger, dan Leberecht pun menyanggupinya. Dia menjalani pelatihan penerjunan bulan Januari 1941 di Tangermünde, dan tak lama langsung terjun ke dalam pertempuran Kreta (dimana dia terbunuh) dan merupakan bagian dari Resimen Fallschirmjäger pertama.


Jäger Hans-Joachim Graf von Blücher (28 Oktober 1923 di Fincken – 20 Mei 1941 di Kreta) menjalani sekolah berasrama di Misdroy yang terletak di dekat Laut Baltik. Sama seperti Leberecht, Hans-Joachim pun menuruti saran kakaknya untuk bergabung dengan Fallschirmjäger tak lama setelah lulus sekolah di usianya yang baru ke-17, dan tergabung dengan resimen yang sama dengan kakaknya yang kedua, Leberecht, di Resimen Fallschirmjäger Pertama.



Sumber :

Buku “Crete, The Battle and the Resistance” oleh Anthony Beevor

www.en.wikipedia.org

www.wehrmacht-awards.com

www.militaryphotos.net