Wednesday, July 21, 2010

Tas Punggung Medis (Tornister) Wehrmacht

Prajurit Fallschirmjäger dengan Tornister berwarna coklat. Dengan melihat celana "Ramcke"-nya, kita sudah bisa menduga bahwa foto ini diambil di Italia!


Tornister milik anggota Hitlerjugend bernama Karl Roh. Umumnya tornister untuk kepentingan organisasi partai Nazi di luar ketentaraan mempunyai ukuran sedikit lebih kecil dibandingkan dengan standar Wehrmacht punya. Contohnya tornister M07/13 keluaran tahun 1939 di atas yang berukuran 12 x 11 inci


Foto zaman Perang Dunia II dari majalah "Die Wehrmacht" yang memperlihatkan penggunaan Tornister. Contoh di atas adalah Tornister yang dipakai oleh Sanitär dari Fallschirmjäger dalam operasi penyelamatan Mussolini di Gran Sasso (1943)


Kita bisa menemukan Tornister di antara barang-barang koleksi tema Luftwaffe ini


Tornister


Tornister


Isi dari Tornister 'ror' 44 yang merupakan alat-alat first aid (artinya: pertolongan ke-367)


Tornister-nya sih Wehrmacht punya, tapi perbannya produksi Inggris!


Tornister 'jhg' 43/44


Tornister milik anggota Luftpolizei


Tornister dengan bahan luar bulu kecoak plus logo palang merah


Tornister milik anggota Luftpolizei (perhatikan tulisan menghadap ke atas d flap kiri!)


Oleh : Alif Rafik Khan

Tas punggung medis (Jerman: Tornister) merupakan peralatan standar petugas medis Sanitär berada di lapangan, dan isinya biasanya adalah barang-barang first aid untuk keperluan pertolongan pertama bagi prajurit yang terluka. Tornister awal perang dibuat dari bahan bulu yang ekslusif, sementara di akhir-akhir perang dirubah ke bentuk kain tebal yang lebih sederhana, meskipun beberapa tas berbahan bulu masih diproduksi meskipun dalam jumlah yang relatif tidak banyak.

Seperti halnya dengan helm dan seragam, bentuk Tornister pun mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya waktu, dan biasanya ditandai dengan m39 (Tornister keluaran tahun 1939 sampai dengan 1943) dan m43 (Tornister keluaran pertengahan 1943 sampai dengan akhir perang) yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan pendahulunya. Tapi bukan berarti versi sebelumnya kemudian berhenti diproduksi, karena ada pula Tornister m34 yang masih diproduksi pada tahun 1944! Perbedaan lain antara m34 dan m39 dengan m43 adalah, m34 dan m39 tidak jauh beda dengan tas punggung biasa yang tidak ditambahi tanda apa-apa, sementara m43 mendapat tambahan lambang palang merah.

Perusahaan pembuat Tornister tidak hanya satu, tapi bermacam-macam, dan biasanya diketahui dari cap inisial yang mereka tempelkan di barang buatannya, seperti 'ror', 'jhg', 'ros' atau 'ett'. Sebagai contoh, 'ett' adalah nickname dari 'Lederwarenfabrik' yang berlokasi di Stuttgart.

Kadang orang sering tertukar mengidentifikasi tas punggung medis ini dengan tas punggung biasa yang dibawa oleh prajurit Wehrmacht non-medis. Karena itulah untuk membedakannya dipasang tanda '+' palangmerah besar berwarna merah.

Sekarang kita beralih pada trivia unik: tahukah anda bahwa 90% Tornister m43 (yang ditempeli tanda palang merah) telah dilolosi logo palang merahnya oleh para prajurit biasa dan Sanitär tak lama setelah mereka menerimanya di front depan (dan saya maksudkan disini adalah di Front Timur)? Alasan dari hal ini adalah sederhana: para personil medis (dari kedua belah pihak) merupakan target utama dari sniper, terutama bila mereka "menunjukkan" dirinya dengan jelas melalui tanda palang merah yang tertera di helm, armband, tas punggung, kaleng masker gas atau bungkus amunisi). Dengan membunuh para prajurit non-tempur ini, diharapkan bahwa akan lebih banyak lagi temannya yang mampus dikarenakan tidak mendapat perawatan saat luka! Kejam dan melanggar konvensi Jenewa bukan? Tapi itulah realita peperangan, Bung!

Hampir pasti bahwa Tornister dengan logo palang merah yang masih bertahan sampai usai perang adalah jenis Tornister yang dibagikan kepada prajurit medis di garis belakang, atau mereka-mereka yang bekerja di Jerman, atau mereka yang beroperasi jauh dari front pertempuran.


Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.wehrmacht-awards.com


No comments: