Showing posts with label Foto Mesin Perang Nazi. Show all posts
Showing posts with label Foto Mesin Perang Nazi. Show all posts

Tuesday, September 24, 2019

Foto Rongsokan Mesin Perang Sekutu

 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) menginspeksi sebuah tank Prancis dari jenis Renault Char B1 bis milik Peleton ke-1 / Kompi ke-3 / 8e BCC (Bataillon de Chars de Combat) yang hancur dalam pertempuran melawan pasukan Jerman di Moy, tanggal 20 Mei 1940 (unit Wehrmacht yang berhadapan dengan tank ini kemungkinan adalah Gefechtsgruppe Nedtwig pimpinan Oberstleutnant Johannes Nedtwig dari Panzer-Regiment 1). Foto oleh Kriegsberichter Somme


Foto-foto ini diambil oleh SS-Kriegsberichter Hermann Grönert pada tanggal 29 Juli 1944, saat sebuah Kampfgruppe (Grup Tempur) - yang terdiri dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" dan I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf" - bertempur melawan pasukan Rusia di sekitar kota Siedlce, Polandia. Selama lima hari penuh (27-31 Juli), Kampfgruppe milik 3. SS-Panzer-Division "Totenkopf" tersebut mempertahankan Siedlce, kota yang dijuluki sebagai "Eckpfeiler" (batu landasan) oleh Panglima Heeresgruppe Mitte, dari berkali-kali serangan Korps Tank ke-11 Soviet. Aksi heroik mereka memampukan sebagian besar 2. Armee (termasuk Divisi Wiking) untuk dapat mundur ke garis pertahanan baru dan bersiap-siap di posisi mereka dalam menghadapi Pertempuran Praga yang akan mulai berkobar pada tanggal 1 Agustus 1944. Foto ini memperlihatkan sebuah regu dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" memperhatikan dengan terkagum-kagum sebuah tank berat JS-II (Josef Stalin II) milik Resimen Tank Jaga Terpisah Soviet ke-50 yang baru saja dihancurkan oleh Panther-Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress di barat-laut Siedlce (Polandia) pada pukul 13:40 tanggal 29 Juli 1944. Tank berat Soviet satu ini baru saja diterjunkan untuk pertama kalinya dalam peperangan pada awal tahun 1944, dan pada awalnya hanya dijatahkan untuk unit-unit tank berat seperti Resimen Tank Jaga Terpisah ke-50. Model awal JS-II mempunyai berat 51 ton, mempunyai awak empat orang, dan dilengkapi dengan meriam kaliber 122mm. Setiap resimen tank berat Soviet berkekuatan 21 buah tank jenis ini, yang dibagi kedalam empat kompi (lima tank masing-masing), sementara satu lagi jatah tersisa adalah khusus untuk komandan batalyon. Kemunculannya membawa masalah besar pada pasukan Jerman yang sebelumnya sudah kewalahan dalam menghadapi serbuan massal tank-tank dari jenis T-34


 Setelah puas melihat-lihat raksasa yang terluka tersebut, para prajurit dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" berlari menuju ke arah kamera untuk bersiap-siap menyerang sasaran selanjutnya. Di latar belakang kita bisa melihat sebuah tank T-34/85 dari Brigade Tank ke-20 Soviet yang terbakar setelah dihantam oleh peluru penembus baja dari satuan Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress (I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf"). Di sebelah kiri, petugas senapan mesin regu tersebut melihat dengan tenang ke arah sang fotografer, SS-Kriegsberichter Hermann Grönert, sambil merebahkan senjata andalannya (MG-34). Rasa lelah dan frustasi pastilah dirasakan oleh prajurit-prajurit Jerman ini, karena selama lima hari penuh (27-31 Juli 1944) mereka harus menghadapi serangan terus-menerus dari Korps Tank ke-11 Soviet di tengah panas yang menyengat. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 29 Juli 1944 di barat-laut Siedlce, Polandia


Lanjutan dari dua foto sebelumnya: Kini kita bisa melihat bahwa bintara pimpinan regu dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" tersebut sedang memberikan perintah pada anakbuahnya untuk segera bergerak, termasuk pada petugas senapan mesin yang membawa MG-34 di sebelah kiri. Sang Gruppenführer (Komandan Regu) sendiri membekali diri dengan senapan mesin ringan MP-40. Uniknya, sebagian besar orang-orang yang berada dalam foto ini mengenakan syal putih di leher tapi tanpa tambahan jaket kamuflase yang biasanya menutupi badan. Di sebelah kiri kita bisa melihat tank T-34/85 lainnya yang terbakar hebat setelah dihantam oleh peluru penembus baja dari satuan Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress (I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf")


Sumber :
Buku "From the Realm of a Dying Sun. Volume 1: IV. SS-Panzerkorps and the Battles for Warsaw, July–November 1944" karya Douglas E. Nash, Sr.
www.audiovis.nac.gov.pl

Saturday, September 21, 2019

Foto Schwerer Panzerjäger Tiger (P) Ferdinand-Elefant (Sd.Kfz.184)

FERDINAND 

 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Hugo Beißwänger (General beim Chef der Heeresrüstung), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (membelakangi kamera, Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (tertutup oleh Speer, Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (tertutup oleh Speer, Generalinspekteur der Panzertruppen)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (Generalinspekteur der Panzertruppen)


Sumber :
www.spiegel.de

Thursday, November 3, 2016

Foto Berwarna Mesin Perang Hasil Rampasan

 Unternehmen Barbarossa, musim panas tahun 1941. Foto berwarna ini memperlihatkan sebuah perahu penyeberangan yang dibuat dari 8-tonne Brückengerät B (Bridge Equipment B). Kendaraan yang diangkut adalah ranpur Beute BA 10 tanpa turet hasil rampasan dari Soviet, yang biasa digunakan sebagai traktor penarik. Bruckengerat B adalah salah satu dari jenis jembatan ponton Wehrmacht yang paling banyak digunakan. Unit Pionier (Zeni) yang membawa jembatan ini dilengkapi dengan truk-truk dan kendaraan derek untuk menarik trailer pembawa ponton, papan kayu, motorboat, dan perlengkapan lainnya. 16 bagian ponton yang terbuat dari besi diperlukan untuk membuat satu jembatan utuh, baik secara berpasangan atau satu-satu. Bila digunakan secara berpasangan, maka panjangnya adalah 54 meter dengan kapasitas 16 ton, sementara bila digunakan secara satuan maka panjangnya adalah 83 meter dengan kapasitas 8 ton. Bagian dek dilengkapi dengan undakan besi dan pagar trotoar yang terbuat dari 26 buah papan kayu. Terdapat juga delapan buah bagian penopang yang terdiri dari papan jalan yang diperkuat dengan tiang besi yang bisa disesuaikan ukurannya, masing-masing dengan tiga kaki penguat. Hal ini memungkinkan penyambungan jembatan dengan perahu terapung ketika pinggiran sungai terletak lebih tinggi dibandingkan dengan jembatan pontonnya, atau ketika permukaan air di dekat pinggiran sungai terlalu dangkal untuk mampu mengapungkan ponton. Jembatan ini juga dapat menyesuaikan diri manakala sungai meluap atau menyurut. Beberapa tipe perahu penghubung bisa dibuat dengan menggunakan perlengkapan yang sama, dengan sebuah trailer dengan kabel difungsikan khusus untuk menarik jembatan ini maju-mundur. Setengah-ponton mempunyai panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter. Sebuah perahu penghubung yang mempunyai kapasitas 4 ton memerlukan dua buah setengah-ponton serta satu buah bagian dek jembatan, sementara perahu ganda dengan kapasitas 8 ton memerlukan empat setengah-ponton serta dua dek, dan perahu kapasitas 16 ton menggunakan dua ponton penuh serta dua dek. jembatan ponton penuh Brückengerät B 8 ton atau versi perahu penghubung 16 ton-nya mampu menopang dan membawa semua jenis kendaraan yang bisa ditemukan di sebuah divisi infanteri Jerman atau divisi panzer awal perang, termasuk sebuah Panzer IV, meriam howitzer kaliber 150mm, dan halftrack penarik. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan pada tahun 1942 dalam buku "Das Heer im Grossdeutschen Freiheitskampf" (Angkatan Darat dalam Pertempuran Akbar Jerman untuk Kebebasan) yang diterbitkan oleh Oberkommando des Heeres (OKH) untuk pasaran remaja Jerman


Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Tuesday, August 16, 2016

Foto Parade Mesin Perang Wehrmacht

PANZER

Foto ini diambil pukul 08:30 pagi pada tanggal 13 Oktober 1938 di Karlsbad (Baden), pada saat berlangsungnya pelepasan kontingen militer Wehrmacht menuju Sudetenland, tak lama setelah wilayah di Cekoslowakia tersebut dinyatakan sebagai bagian dari Jerman berdasarkan hasil Perjanjian Münich satu bulan sebelumnya. Yang memberi hormat pada konvoy Panzer I adalah Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), sementara di belakangnya yang memakai stahlhelm adalah Generalleutnant Paul Otto (Kommandeur 13. Infanterie-Division)


Parade militer Jerman dari satuan Panzertruppen (Pasukan Tank) yang digelar di jalan Karl Johans gate, Oslo, ibukota Norwegia, pada tanggal 1 Oktober 1940. Tank-tank dari jenis Panzerkampfwagen I Ausf.B ini berasal dari Panzer-Abteilung z.b.V. 40 pimpinan Oberstleutnant Ernst Volckheim, yang tampak dalam foto sedang memberi hormat militer dengan didampingi oleh salah seorang perwiranya. Dalam foto ini, Abteilungskommandeur Volckheim berdiri di atas podium kehormatan yang ditempatkan di pinggir lapang Universitetsplassen, yang merupakan bagian dari komplek Universitas Oslo. Ernst Volckheim sendiri tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pendiri pasukan panzer Jerman, selain dari Heinz Guderian yang lebih terkenal. Dari tahun 1924 dia sudah menulis tentang teori perang tank, yang dibuatnya berdasarkan pengalamannya dalam Perang Dunia Pertama sebagai seorang anggota Korps Tank Kekaisaran Jerman. Ironisnya, yang kemudian mendapat publikasi lebih luas adalah Guderian, yang baru menulis buku masterpiece-nya, "Achtung Panzer!", baru pada tahun 1937! Ini karena yang terakhir lah yang memperkenalkan satuan lapis baja pada pemimpin Jerman Adolf Hitler, yang kemudian begitu terkesan atas pemaparan Guderian sehingga langsung berkata dengan antusias, "Inilah yang aku butuhkan! Inilah yang aku ingin miliki!"


  Dengan semakin banyaknya modifikasi yang diterapkan pada Panzerkampfwagen III Ausf.H (seperti yang tampak dalam foto ini), cupola jenis baru ditambahkan pada turet bersama dengan ventilasi melingkar pada atapnya (bagian belakang dari turetnya sendiri adalah plat tanpa sambungan yang tidak ikut dimodifikasi bersama cupolanya). Meriam KwK38 L/42 kaliber 5cm yang menjadi senjata utama ditempatkan pada lapisan plat eksternal dengan desain baru yang merupakan perlengkapan standar dari hampir semua panzer jenis ini; perhatikan lubang tempat melihat di kedua sisi plat meriam, juga "rumah" baja di sekitar dudukan MG 34. Sebuah kedok supir baru yang bisa dikeluar-masukkan ikut ditambahkan, sementara bagian depan kubahnya sendiri diberi tambahan lapisan baja (yang disematkan dengan cara dibaut) dengan ketebalan 30mm - baut yang sama dipakai untuk memperkuat plat MG 34, kedok supir, serta titik penarik. Lampu depan Notek dipasang di fender samping supir, sementara lampu depan konvensional tidak dilengkapi dengan tudung berlubang untuk black-out. Simbol yang terlihat di sebelah kedok supir (huruf "Y" berwarna kuning) menunjukkan bahwa Panzer III ini merupakan kepunyaan dari 2. Panzer-Division, dan foto ini sendiri diambil setidaknya setelah tahun 1941. Kita juga bisa melihat gambar segi-empat kecil bergaris putih di bagian samping turet yang menghadap ke depan

------------------------------------------------------------------------------

HALFTRACK

 Parade SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" yang dilangsungkan di jalanan kota Mostar, Bosnia-Herzegovina (Yugoslavia), pada tanggal 8 Juli 1943. Foto ini memperlihatkan sebuah Sd.Kfz.7 mittlerer Zugkraftwagen 8t milik SS-Freiwilligen-Gebirgs-Artillerie-Regiment "Prinz Eugen", yang sedang melintasi jalan Kralja Petra (asalnya bernama Franca Jozefa. Kini bernama Mostarskog Bataljona), menuju ke arah jembatan yang mempunyai nama sama. Foto ini sendiri diambil diantara Hotel Neretva dan fasilitas spa kota Mostar. Bangunan apotik terkenal di kota tersebut terlihat di latar belakang



Sumber :
Buku "Panzer Vor: German Armor At War 1939-45" kaya Frank V. De Sisto
www.bandenkampf.blogspot.com

Tuesday, June 16, 2015

Foto Betankung (Pengisian BBM)

 Seorang pilot Luftwaffe Jerman sedang sibuk mengisikan bahan bakar minyak ke tangki pesawat transport Junkers Ju 52 di Rusia, bulan Januari 1943. Pesawat tersebut telah dibaluri oleh cat kamuflase putih khusus musim dingin. Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah 'Signal' edisi no.3/1943. Bahkan pekerjaan yang terlihat rutin dan membosankan seperti pengisian BBM akan terlihat menarik bagi mata orang awam, apalagi kalau fotonya berwarna!


 Hauptmann Dietrich Hrabak dan Oberleutnant Hans Philipp (memakai kacamata hitam) dari Jagdgeschwader 54 (JG 54) “Grünherz” memperhatikan prosesi pengisian bahan bakar untuk sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109E yang dilakukan oleh para awak darat JG 54 di Yugoslavia, bulan April 1941. Di akhir tahun 1940 keduanya telah membuktikan diri sebagai pilot pemburu yang berkualitas. Hrabak memimpin II. Gruppe dan menjadi pilot pertama di JG 54 yang dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 21 Oktober 1940 setelah meraih 16 kemenangan udara (termasuk enam buah yang diklaimnya dalam Pertempuran Prancis). Nantinya Hrabak tercatat menembak jatuh lebih dari 100 pesawat musuh yang dibukukannya di JG 54 dan JG 52 (setelah tahun 1942 dia dipercaya menjadi Geschwaderkommodore dari dua wing pemburu terkemuka Luftwaffe ini). Philipp (Staffelkapitän 4.Staffel / II.Gruppe) sendiri memperoleh Ritterkreuz pada tanggal 22 Oktober 1940, hanya berselang satu hari setelah Hrabak, atas 20 kemenangan udara yang telah diraihnya (dengan hampir setengahnya diraih sebelum Pertempuran Britania). Korban pertama dijatuhkannya di atas Polandia tanggal 5 September 1939 ketika sang jagoan udara Jerman mengklaim sebuah pesawat PZL P.24 di atas kota Radomsko (padahal kenyataannya adalah P.11). Sampai dengan akhir tahun 1940 Philipp mengklaim 23 kemenangan yang membuatnya menjadi pilot terbaik di JG 54 dalam hal jumlah kemenangan. Pada tahun 1941, sebelum dimulainya Unternehmen Barbarossa, dia menambahkan enam buah korban dalam perbendaharaan kemenangannya (termasuk dua buah Messerschmitt Bf 109 milik Angkatan Udara Yugoslavia yang dibeli dari Jerman!). Nantinya Philipp juga memperlihatkan prestasi yang mengesankan di atas udara Rusia dimana dia mengklaim sebagian besar dari 206 kemenangan udara yang diraihnya. Philipp kemudian gugur bulan Oktober 1943 saat pesawatnya ditembak jatuh oleh gunner pesawat pembom B-17 Amerika di atas Jerman


Sumber :
Buku "Luftwaffe Aces of the Western Front" karya Robert Michulec 
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Wednesday, March 25, 2015

Foto Baris Kemenangan (Abschußbalken/Victory Bar) Panzer Wehrmacht

TIGER II KÖNIGSTIGER

Upacara penganugerahan medali Eisernes Kreuz II.Klasse untuk para anggota schwere SS-Panzer-Abteilung 503, yang diselenggarakan pada awal tahun 1945. Dari kiri ke kanan: SS-Untersturmführer Adolf Grimminger (Ordonnanzoffizier schwere SS-Panzer-Abteilung 503), SS-Unterscharführer Emil Reichel (Richtschütze), SS-Oberscharfürer Brede (Halbzugführer), SS-Unterscharführer Böde (I-Staffel), SS-Unterscharführer Bier (Funker), SS-Sturmbannführer Friedrich "Fritz" Herzig (Kommandeur schwere SS-Panzer-Abteilung 503), dan SS-Untersturmführer Karl Brommann (Führer 1.Kompanie / schwere SS-Panzer-Abteilung 503). Di atas Panzerkampfwagen VI Tiger II "Königstiger" nongkrong SS-Unterscharführer Menke (Fahrer). Disini terlihat bahwa yang mendapat medali di hari itu adalah Brede, Böde dan Bier, dimana dua yang terakhir telah memegang urkunde (sertifikat) penganugerahannya. Yang paling "mengerikan" prestasinya dari para veteran tank ini adalah SS-Untersturmführer Brommann (yang diperban kepalanya), dimana hanya dalam waktu 10 minggu pertempuran di wilayah Danzig-Sopot (2 Februari s/d 26 Maret 1945), dia dan empat orang awak Königstiger-nya berhasil menghancurkan tidak kurang dari 72 tank Soviet (termasuk enam tank berat IS-2), 44 senjata anti-tank, serta 15 kendaraan lainnya. Luar biasanya, semuanya dilakukan saat Brommann hampir selalu dalam kondisi terluka (tapi tetap memaksakan bertempur), sehingga ketika akhirnya dia ditarik dari medan pertempuran, tercatat bahwa manusia satu ini telah kehilangan sebelah matanya, menderita luka bakar parah di bagian kepala dan lengan, serta carut-marut luka bekas serpihan bom di berbagai bagian tubuh lainnya! Atas prestasi azegilenya tersebut, Brommann dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 29 April 1945, yang diserahkan saat dia masih terbaring lemah di rumah sakit. BTW, pada saat foto ini diambil, jumlah Abschußringe für Panzer (ring kemenangan tank) di laras meriam Königstiger milik Brommann "baru" mencapai 30. Ini berarti bahwa baru 30 tank musuh yang berhasil dihancurkannya. Perhatikan pula bahwa Abteilungskommandeur Herzig mengenakan Fliegerstiefel (sepatu penerbang) di kakinya!

----------------------------------------------------------------------------------------

 STURMGESCHÜTZ

Oberleutnant Franz Ludwig (Chef 2.Batterie/Sturmgeschütz-Abteilung 1346) mendiskusikan masalah strategi bersama anakbuahnya di Bois de Bavan, timur Orne, dengan latar belakang Sturmgeschütz III berhiaskan 16 ring kemenangan. Dia baru saja meraih kemenangan ke-16 beberapa menit sebelumnya setelah meng-KO tank Inggris, sementara unitnya sendiri diperbantukan di divisi infanteri standar Jerman (346. Infanterie-Division) dalam pertempuran Normandia, dan foto ini diambil tak lama setelah penganugerahan Ritterkreuz-nya tanggal 24 Juni 1944. Ludwig sendiri tak lama gugur dalam pertempuran tanggal 14 Agustus tahun yang sama


 Eichenlaubträger Oberleutnant Bodo Spranz (Chef 1.Batterie / Sturmgeschütz-Abteilung 237 / 330.Infanterie-Division / IX.Armee-Korps / 4.Armee / Heeresgruppe Mitte) bersama awak dan senjata andalannya, sebuah Sturmgeschütz III Ausf.G model awal dengan 34 baris kemenangan di laras meriam, musim panas tahun 1943. Dalam foto ini Spranz mengenakan medali Deutsches Kreuz in Gold (6 Mei 1942) serta empat buah Panzervernichtungsabzeichen in Silber (27 Agustus 1942). Nantinya dia juga akan mendapat Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #2182 mit Eichenlaub #308. Dia dipromosikan menjadi Hauptmann, juga menerima Ritterkreuz dan Eichenlaub di tanggal yang sama, 3 Oktober 1943, dan menjadi satu-satunya orang yang mendapat keistimewaan seperti itu selain pilot Luftwaffe Wilhelm Crinius!


Sumber :

Foto Baris Kemenangan (Abschußbalken/Victory Bar) Meriam Artileri


Sebuah artileri flak 88mm yang sangat sukses, terlihat dari baris kemenangan yang tergambar di laras meriamnya. Dari Abschußbalken-nya kita bisa mengetahui bahwa awak senjata satu ini sudah berhasil menghancurkan 5 buah bunker, 7 buah tank, 8 ranpur lapis baja, dan 27 pesawat terbang! Logo Infanterie-Sturmabzeichen menunjukkan 10 buah serangan infanteri yang berhasil dihalau


Foto ini memperlihatkan meriam artileri FlaK 18 88mm sedang menghantarkan "perawatan" (die Behandlung) dengan membombardir sebuah pabrik di wilayah tengah kota Stalingrad bulan September 1942. 9. Flak-Division Luftwaffe berada di bawah komando 6. Armee dan senjata-senjatanya kebanyakan digunakan untuk memberikan tembakan pendukung langsung, sementara di lain pihak pasukan artileri Soviet lebih memilih pola pemboman ketinggian karena jauhnya jarak mereka dengan pasukan darat yang terpisahkan oleh sungai Volga. FlaK ringan 20mm dan 37mm milik 9. Flak-Division lebih berguna untuk menghadapi pesawat musuh yang terbang rendah. Perhatikan lima buah Abschußringe (cincin jumlah korban) di laras meriamnya! Dengan Stalingrad sekarang terbelah dua, meriam-meriam artileri Jerman kini bisa mengarahkan senjata mereka dari satu sisi ke sisi terluar lainnya lagi. Penembak meriam mengatur target tembakan dan penghalang jalan di ujung barat dan lalu merangsek ke ujung lainnya. Sembilan persepuluh kota Stalingrad telah berada di tangan pasukan Wehrmacht di akhir bulan September 1942 sehingga pasukan bantuan Soviet yang menyeberangi sungai Volga kini dikirim ke wilayah sekitar distrik pabrik Krasny Oktyabr yang menjadi pusat pertempuran

Sebuah PaK 40 75mm sedang beraksi dengan awaknya adalah para sukarelawan Belgia dalam tubuh Waffen-SS. Meriam anti-tank ini merupakan senjata yang sangat efektif serta mematikan, dan disini kita bisa melihat setidaknya ada 22 Abschußbalken yang tertera di laras meriamnya, yang berarti sudah 22 tank musuh yang menjadi korbannya!


Leutnant der Reserve Johann Muhr dari 5./Flak-Abteilung 505 sedang memperhatikan senjata andalannya. Dia menunjukkan prestasi yang mengesankan dalam pertempuran di tanah genting Perekop sehingga dianugerahi Ritterkreuz tanggal 22 November 1943. Cincin putih di laras meriam menunjukkan jumlah pesawat terbang yang menjadi mangsa senjata ini, sementara siluet tank di perisainya adalah jumlah korban tank. Ini menunjukkan betapa mematikannya senjata satu ini!


LinkFlak 88 ini telah melalui begitu banyak pertempuran, dengan rekor kemenangan yang impresif (yang terpampang di perisai bajanya): 10 pesawat udara, 27 tank, 8 bunker, 4 artileri dan 4 pos observasi! Gambar tank dari jenis M3 Lee menandakan bahwa flak satu ini pernah bertugas di sektor selatan Front Timur


8,8cm Flak 18 dari 1./Flak-Regiment 33 ini adalah veteran yang sudah memakan banyak korban. Terlihat dari baris di larasnya, kita bisa mengetahui kalau 39 tank dan 5 pesawat udara musuh telah dihancurkannya! Foto ini diambil di Sollum dekat Tobruk (Afrika Utara) bulan Juli 1941


 
Dari stahlhelm kinclong ke sedikit bluwek: foto yang diambil pada tahun 1940/1941 ini memperlihatkan para anggota Werkstatt-Kompanie (Kompi Pemeliharaan) dari sebuah unit Flak Luftwaffe tak dikenal, yang terlihat sedang sibuk mencat ulang helem-helm mereka dengan warna yang tidak terlalu kinclong alias kontras, agar bisa lebih menyatu dengan sekitarnya. Ini sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Wehrmacht pada tahun 1940 mengenai warna dan dekal stahlhelm yang baru. Prajurit yang memegang alat semprotan terlihat mengenakan pakaian kerja Luftwaffe yang terbuat dari bahan HBT berwarna hijau gelagah. Foto ini juga cukup menarik karena memperlihatkan situasi di bengkel pemeliharaan Luftwaffe, yang tampaknya terletak tidak jauh dari rel kereta api (perhatikan gambar di latar belakang). Di sebelah kanan kita bisa melihat laras meriam Flak (Flugzeugabwehrkanone) kaliber 20mm dengan lima buah Abschußbalken (baris kemenangan), yang menunjukkan bahwa senjata satu ini setidaknya telah mamakan korban lima pesawat musuh!


Sumber : 
Buku "8,8 cm Flak 18-36-37" karya Waldemar Trojca
Buku "Aircraft Of The Luftwaffe Fighter Aces: A Chronicle In Photographs" oleh Bernd Barbas
Buku "German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille, The Life Story Of The Star Of Africa" karya Franz Kurowski
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Majalah "Luftwaffe im Focus" edisi no.1 tahun 2002 
Majalah "U-Boot Im Focus" edisi no.2 - 2007

Foto Baris Kemenangan (Abschußbalken/Victory Bar) Pesawat Luftwaffe

Sayap ekor dari pesawat Messerschmitt Bf 109 E yang diterbangkan oleh Oberleutnant Gerhard Schöpfel (Staffelkapitän 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 26 "Schlageter") di bulan Agustus 1940, difoto pada tanggal 18 Agustus 1940 sekembalinya dia ke pangkalan dari sebuah misi tempur yang kemudian menjadi misinya yang paling terkenal. Dalam misi ini Schöpfel berhasil menembak jatuh empat pesawat Hurricane Inggris dari 501 Squadron hanya dalam waktu empat menit! Ini menjadi kesuksesannya yang terbesar, dan mengerek jumlah kemenangannya menjadi 12 buah. Sampai saat itu, semua kemenangannya diraih di bulan Mei dan Agustus 1940, kecuali satu kemenangan yang dicatatkannya pada tanggal 2 Juni 1940. Sebelum karirnya berakhir, Schöpfel mampu mengemas 45 kemenangan udara terkonfirmasi, yang kesemuanya diraih dalam pertempuran melawan pesawat-pesawat Inggris dan Amerika yang diawaki oleh pilot-pilot kawakan



Dua foto yang memperlihatkan bagian sayap ekor dari pesawat Messerschmitt Bf 109 E (Werknummer 2804) milik Werner Mölders. Jangka waktu pengambilan foto pertama dan foto kedua adalah lima hari. Foto pertama memperlihatkan sayap ekornya ditandai dengan 28 abschußbalken alias baris kemenangan (yang terakhir diraih atas sebuah pesawat Spitfire yang ditembak jatuh di atas Folkestone), sementara yang kedua memperlihatkan 32 abschußbalken (tiga buah Hurricane ditembak jatuh di atas wilayah Folkestone-Dover). Hal ini menunjukkan bahwa foto pertama diambil dalam periode 26-27 Agustus 1940, sementara yang kedua tanggal 31 Agustus 1940. Menariknya, sayap ekor pesawat Mölders tidak mendapat sentuhan cat kuning seperti biasanya pesawat-pesawat Luftwaffe saat itu (yang membuat mereka mudah dikenali saat harus mendarat darurat di atas lautan)


 Pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4 yang diterbangkan oleh Major Günther Freiherr von Maltzahn (Geschwaderkommodore Jagdgeschwader 53 "Pik-As") di bulan Agustus 1941. Di sayap ekornya kita bisa melihat Abschußbalken (Baris Kemenangan) yang berjumlah 46 buah. Secara keseluruhan dia tercatat memperoleh 68 kemenangan udara yang diraih dari 497 misi tempur

  Oberfeldwebel Heinrich "Heinz" Bartels (13 Juli 1918 - 23 Desember 1944) dari 11.Staffel / IV.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" bersama dengan pesawat Messerschmitt Bf 109 G-6 "Rote 13" (Werknummer 27169) yang menjadi andalannya. Di bagian samping pesawat tersebut terdapat tulisan "Marga" yang merupakan pujaan hati Bartels. Foto diambil di lapangan udara Kalamaki, Yunani, tahun 1943. Sebelumnya Bartels bertugas di wilayah Arktik bersama dengan JG 5, tapi kemudian dipindahkan dengan paksa ke JG 27 setelah melakukan pelanggaran berat kedisiplinan di unitnya akibat terlalu banyak menenggak minuman keras!. Selama karir militernya, Heinrich Bartels tercatat meraih 99 kemenangan udara dari 500 misi tempur (49 diantaranya di Front Timur)


 Oberleutnant Viktor Bauer (Staffelkapitän 9.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 3 "Udet") berpose bersama dengan burung yang "berani-beraninya" bertengger di pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4 "Y7+1" (Werknummer 13325) yang dipilotinya. Tampaknya si burung begitu jinak dan tetap tenang saat sang pilot jagoan memberinya makan. Kita bisa melihat dengan jelas 100 buah baris kebenangan (abschußbalken) yang terpampang di bagian ekornya. Foto ini sendiri diambil di Frolov pada tanggal 25 Juli 1942 saat gerak maju 6. Armee menuju Don dan Stalingrad. Foto oleh Kriegsberichter Gerbracht


 Sayap ekor pesawat Junkers Ju 88 A-4 yang dipiloti oleh Werner Baumbach. Disini kita bisa melihat bahwa 16 kapal Sekutu telah menjadi korban keganasannya, dengan 13 diantaranya ditenggelamkan sementara 3 sisanya dirusakkan. Di bawah gambar masing-masing kapal terdapat juga keterangan jumlah tonase-nya. Selama karirnya sebagai pilot bomber Luftwaffe, Baumbach tercatat menenggelamkan tidak kurang dari 300.000 GRT kapal Sekutu dalam 200+ misi tempur. Jumlah tonase kapal musuh yang ditenggelamkannya ini jauh melebihi jagoan kapal selam terbaik dalam Perang Dunia II, Fregattenkapitän Otto Kretschmer, yang "hanya" mampu menenggelamkan 40 kapal dengan total tonase 208.954 GRT!



  Oberfeldwebel Franz Dietrich Fadenau terlihat sedang menambahkan satu buah Abschußbalken (baris kemenangan) di ekor pesawat Messerschmitt Bf 109F-2 yang dipilotinya. Foto ini diambil di Front Timur tahun 1942. Sejauh ini terlihat sudah 12 buah abschußbalken yang didapatnya: 8 di Front Timur (yang berbintang merah), sementara yang lainnya adalah pesawat Inggris atau Prancis yang dihancurkan di Front Barat. Nantinya pesawat Fadenau ditembak jatuh saat dalam perjalanan pulang dari sebuah misi. Jenazahnya tak pernah ditemukan. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan tahun 1942 dalam buku "Fliegende Front" karya Hauptmann Walter Eberhard Freiherr von Medem


Close-up dari abschußbalken (baris kemenangan) yang terpampang di pesawat Focke-Wulf 190 A-2 (Werknummer 20209) milik Hauptmann Joachim "Jochen" Müncheberg, Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 26 (JG 26) "Schlageter", di Abbeville-Ducat (Prancis), tanggal 1 Mei 1942. Disini tercatat ada 67 buah baris kemenangan



 Dua foto dari Focke-Wulf Fw 190 A-2 (Werknummer 20209) milik Hauptmann Joachim Müncheberg yang pada saat itu menjadi Kommandeur dari II.Gruppe / Jagdgeschwader 26 (JG 26). Foto ini pastinya diambil antara tanggal 4 s/d 10 April 1942 di Abbeville-Drucat, karena baris kemenangan terakhir (ke-66 dan ke-67) diraih tanggal 4 April sementara yang selanjutnya tanggal 10 April. Sampai dengan kematiannya tanggal 23 Maret 1943, Hauptmann Müncheberg mencetak total 153 kemenangan udara, dengan 101 di antaranya diraih di Barat. Pada pagi tanggal 23 Maret dia bertabrakan dengan sisa-sisa Spitfire Inggris yang baru dia tembak jatuh dan merupakan kemenangan terakhirnya. Müncheberg tewas seketika saat pesawatnya jatuh di dekat Gafsa, Tunisia. Pada saat itu dia berpangkat Major dan merupakan Geschwaderkommodore dari Jagdgeschwader 77 (JG 77). Pesawat pemburu Fw 190 A-2 ini diterbangkan oleh Müncheberg antara bulan Desember 1942 sampai awal Mei 1942, dan mungkin juga sampai kepindahannya ke Jagdgeschwader 51 (JG 51) pertengahan Juli 1942. Foto dengan ekor bertuliskan Werknummer (nomor produksi) dalam dua baris menunjukkan pesawat yang sama. Kemungkinan besar Werknummer tersebut dicat dalam satu baris setelah perbaikan bagian ekornya (perhatikan warna yang lebih gelap). Pada tanggal 13 November 1944 pesawat ini dinyatakan hilang saat pilotnya, Fähnrich Armin Rössel dari 2.Staffel / Jagdgeschwader 110 (JG 110), jatuh di dekat Laufenhain. Pola kamuflasenya adalah RLM 74/75/76


 
 
 
Pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4 ((+ (werknummer 13376) milik Stab I.Gruppe / Jagdgeschwader 77 yang dipiloti oleh Gruppenkommandeur Hauptmann Heinz Bär, difoto di Sisilia tahun 1942. Berhubung prestasi pemiliknya yang "mempesona", maka pesawat ini kerap dijadikan latar belakang saat berfoto oleh para anggota unit atau tamu yang berkunjung. Bagian favorit untuk berpose adalah sayap ekor karena memperlihatkan Abschußbalken (baris kemenangan) yang telah diraih oleh Bär sejauh ini. Angka "100" dalam karangan daun ek serta jumlah baris 13 menunjukkan bahwa jumlah kemenangannya bertengger di angka 113, sementara medali Schwerter di bawah karangan daun ek menunjukkan bahwa pemiliknya adalah Schwerternträger (peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwerter)


 Oberleutnant Erich Rudorffer (Staffelkapitän 6.Staffel / II.Gruppe / Jagdgeschwader 2 "Richthofen") bersama dengan pesawat andalannya, Focke-Wulf Fw 190 A-3 "Gelbe 1" (Werknummer 0130 432) Stammkennzeichen RR+CF. Sayap ekornya memperlihatkan 45 baris kemenangan (abschußbalken). Rudorffer sendiri menembak jatuh korbannya yang ke-45 di atas langit Dieppe pada tanggal 19 Agustus 1942, sementara korbannya yang ke-46 ditembak jatuh empat bulan kemudian, tanggal 18 Desember 1942 di wilayah Mediterania. Pesawat diatas digunakan oleh Rudorffer sampai dengan tanggal 14 Desember 1942 ketika mengalami 20% kerusakan saat baru tiba di Sisilia. Dia kemudian digunakan oleh unit latihan serang-darat dari II.Gruppe / Schlachtgeschwader 101 (SG 101) sampai dengan tanggal 3 April 1944 ketika mengalami kerusakan berat sehingga harus dikirimkan ke fasilitas perbaikan di Prancis
 Hans Dammers adalah jagoan udara Luftwaffe dengan 113 kemenangan udara (ditambah 23 kemenangan lain yang tak terkonfirmasi!). Dalam begitu banyak misi serang udara-ke-darat yang dijalaninya, dia telah berhasil membabat habis 11 pesawat yang sedang terparkir di landasan, 8 gerbong kereta api, 39 kereta kuda, 34 truk, 3 lokasi senjata anti serangan udara, dan 1 kendaraan lapis baja pengangkut personil! Atas prestasinya tersebut dia dianugerahi Ritterkreuz pada tanggal 23 Agustus 1942 sebagai Feldwebel dan Flugzeugführer 9.Staffel/Jagdgeschwader 52. Pada tanggal 13 Maret 1944, pesawat Messerschmitt Bf 109 G-6 (Werknummer 20162) yang dipiloti Dammers terkena pecahan ledakan Lavochkin La-5 Rusia yang ditembak jatuhnya. Dammers bail-out tapi parasutnya tersangkut di sayap pesawat. Dia gugur di rumah sakit Stanislau akibat luka-luka parah yang dideritanya pada tanggal 17 Maret 1944, dan kemudian dipromosikan secara anumerta menjadi Leutnant


 Foto ini memperlihatkan salah satu pilot Luftwaffe yang menjadi “bayang-bayang” pilot lain yang lebih terkenal. Dia adalah Unteroffizier Gerhard Proske dari 1.Staffel / Jagdgeschwader 54 (JG 54) yang berpose di dekat ekor pesawatnya, sebuah Messerschmitt Bf 109 G-2 “Weiße 7”, Werknummer 10411 (perhatikan lambang Geschwader dan Gruppe-nya di bawah kokpit, juga celana tebal bergaris bulu yang dikenakannya!). Foto ini diambil tanggal 1 Oktober 1942 di lapangan udara Krasnowardeisk. Sampai saat itu Unteroffizier Proske, yang bergabung dengan  I.Gruppe/JG 54 di musim semi 1941, telah mengemas 20 fliegerabschüsse (kemenangan udara). Beberapa di antaranya dibukukan saat dia menjadi Katschmarek (wingman) bagi Gruppenkommandeur Hauptmann von Selle (2 Juli 1941 – 14 Desember 1941) dan Hauptmann Eckerle (14 Desember 1941 – 14 Februari 1942. KIA). Gerhard Proske dianugerahi Eisernes Kreuz I.Klasse dan Frontflugspange in Bronze. Pada tanggal 30 Januari 1944 Feldwebel Gerhard Proske (take-off jam 08:30 pagi dengan Focke-Wulf Fw 190 A-6 “Gelbe 1”, Werknummer 550899) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Rusia bersama dengan pendatang baru Obergefreiter Helmut Wilhelm (Fw 190 A-5 “Gelbe 2”, Werknummer 304719) saat sedang melakukan terbang pengenalan kondisi di wilayah udara Vitebsk-Boburisk. Dia lalu menjadi tawanan perang dan baru kembali ke Jerman setelah perang usai. Jumlah kemenangan totalnya adalah 29 buah


Pada tanggal 4 Mei 1942, Hans "Assi" Hahn meraih kemenangan udara ke-60-nya. Sayap ekor di atas memperlihatkan 61 dari 108 kemenangan udara yang diraihnya (68 di antaranya di Front Barat)


Erich Hartmann sebagai pilot JG 52 di bulan Oktober 1942. Pada saat ini dia belumlah menjadi 'siapa-siapa' dan baru merintis karis sebagai pilot pemburu. Jumlah kemenangannya, seperti yang terpampang di ekor pesawatnya, 'baru' mencapai 15 buah


Erich Hartmann berpose dengan ekor pesawatnya yang memperlihatkan 121 kemenangan udara. Pada masa awal perang, jumlah 20 kemenangan sudah cukup untuk mengantarkan seorang pilot Jerman untuk meraih Ritterkreuz, tapi di tahun 1943 (saat foto ini diambil) sudah ada 50 orang pilot Luftwaffe lain yang mempunyai pencapaian serupa Hartmann (100+ kemenangan), dan bahkan ini tidak cukup untuk membuatnya dianugerahi Ritterkreuz! Hartmann baru mendapatkannya setelah dia mencetak kemenangan ke-148 tanggal 29 Oktober 1943


"Gazala" I./JG 27. Di latar depan adalah pesawat Messerschmitt Bf 109 milik Oberleutnant Gerhard Homuth (komandan Staffel ke-3) dengan 20 baris kemenangan di bagian ekornya


tukang cat JG 27 sedang bersiap-siap menggambar baris kemenangan baru. Sebentar lagi Hans-Joachim Marseille mendarat dengan pesawatnya, dan sudah ada konfirmasi akan kemenangan terbaru yang diraihnya!


Tukang cat JG 27 menggambar baris kemenangan ke-50 untuk pesawat Hans-Joachim Marseille. Wajah Marseille sendiri bisa kita lihat berada di tengah menghadap kamera


Pesawat Messerschmitt Bf 109F "Yellow 14" milik Hans-Joachim Marseille sedang mendapat 'sentuhan' seni dari tukang cat Staffel 3/JG 27, yaitu baris kemenangan ke-50, tak lama setelah dia mendarat dari misi yang berakhir sukses (setidaknya bagi dia!)


Sayap belakang pesawat Messerschmitt Bf 109 E-7 (W12+) dari 7./JG 27 yang dipiloti oleh Joachim Müncheberg di Libya bulan Juli tahun 1941. Terlihat 45 buah palang abschußbalken disana



18 Februari 1944: Oberleutnant Heinz-Wolfgang Schnaufer (Staffelkapitän 12./NJG 1) menunjukkan 47 buah jumlah kemenangan yang telah diraihnya yang tertera pada ekor pesawat Messerschmitt Bf 110 G-4 "G9+EF" yang dipakainya. Termasuk di antaranya adalah tiga buah kemenangan terakhir di baris paling bawah yang dicetaknya pada malam tanggal 15 Februari 1944 di atas St. Trond, Belgia (jam 22:58, 23:19, dan 23:33). Skor akhir Schnaufer adalah 121 kills, dan ini membuat dia tercatat sebagai pilot Nachtjäger tersukses dalam sejarah!


Setelah kemenangannya yang ke-87, sayap belakang pesawat milik Werner Schroer mendapat tambahan Eichnlaub, sebagai pertanda bahwa pemiliknya telah dianugerahi medali ini


Lapangan udara Petsamo (Finlandia), bulan Agustus 1943. Oberleutnant Theodor "Theo" Weissenberger (Staffelkapitän 7.Staffel / III.Gruppe / Jagdgeschwader 5 "Eismeer") menunjukkan pada kamera gambar medali Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang telah diperolehnya sebagai penghargaan atas 112 kemenangan terkonfirmasi yang diraihnya sampai sejauh ini. Abschußbalken (baris kemenangan) bersama dengan medali kebangaannya terlukis di bagian sayap ekor pesawat Messerschmitt Bf 109 G-2 (Werknummer 13912) yang biasa diterbangkan oleh Weissenberger. Sebuah jam tangan Chronograph Hanhart yang biasa dipakai oleh pilot pemburu Luftwaffe dengan jelas terlihat melingkar di pergelangan lengannya. Jumlah akhir kemenangan sang pilot jagoan sendiri adalah 208 buah yang diperolehnya dari 500 misi tempur. 175 dari kemenangannya diperoleh di Front Timur sementara 33 sisanya di Front Barat (dengan 25 kemenangan diperoleh di Front Normandia, termasuk 7 pesawat pembom dan 8 menggunakan pesawat jet Messerschmitt Me 262)


  
Sebuah kecelakaan Henschel Hs 126 yang biasa, tapi pesawatnya yang nggak biasa, beibeh! Sayap ekornya menunjukkan tiga abschußbalken (baris kemenangan), suatu hal yang “tidak normal” bagi sebuah pesawat yang kerjaannya “hanya” mengintai posisi musuh dan biasanya justru menjadi korban pesawat lawan! Ini menunjukkan bahwa si pilot pastilah seorang penembak yang jempolan. Verbandskennzeichen di tubuhnya hanya kelihatan dua huruf belakangnya saja: “ +BN”. Ini menunjukkan bahwa pesawat tersebut berasal dari 5.Staffel/Nahaufklärungsgruppen (NAG). Huruf individu pesawat “B” tidak berwarna putih seperti biasanya dimiliki oleh 5. Staffel, melainkan berwarna hitam dengan pinggiran putih. Sebagian dari strip kuning di badannya bisa kita lihat, yang khas dimiliki oleh pesawat-pesawat Luftwaffe di Front Timur. Foto ini kemungkinan diambil di Rusia periode 1941/1942. Perhatikan pula spiner baling-balingnya yang dicat tiga warna (hitam-hijau/merah/putih)


Sumber : 
Buku "8,8 cm Flak 18-36-37" karya Waldemar Trojca
Buku "Aircraft Of The Luftwaffe Fighter Aces: A Chronicle In Photographs" oleh Bernd Barbas
Buku "German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille, The Life Story Of The Star Of Africa" karya Franz Kurowski
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Buku "Luftwaffe Aces of the Western Front" karya Robert Michulec
Majalah "Luftwaffe im Focus" edisi no.1 tahun 2002 
Majalah "U-Boot Im Focus" edisi no.2 - 2007