Saturday, August 13, 2016

Foto 15. Panzer-Division

15. Panzer-Division dibentuk pada bulan November 1940 dari elemen-elemen 33. Infanterie-Division. Pada bulan April-Mei 1941 divisi baru ini dikirim ke Libya dan ikut ambil bagian dalam pertemuran melawan pasukan Sekutu di Afrika Utara bersama dengan Erwin Rommel sebagai salah satu dari dua divisi panzer Afrikakorps (lainnya adalah 21. Panzer-Division). Unit Nachrichten-Abteilung 33 (Detasemen Sandi 33) musnah saat kapal mereka ditenggelamkan dalam perjalanan ke Afrika sehingga kemudian digantikan oleh Nachrichten-Abteilung 78. 15. Panzer-Division menyerah bersama dengan ratusan ribu Pasukan Poros lainnya yang tertinggal di Afrika pada tanggal 13 Mei 1943. Elemen-elemen dari divisi tersebut yang tidak berada di Afrika kemudian direorganisasi ulang untuk membentuk Division Sizilien, yang kemudian dirubah namanya menjadi 15. Panzergrenadier-Division. Selama eksistensinya, 23 orang anggota 15. Panzer-Division mendapatkan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, 54 orang mendapatkan Deutsches Kreuz in Gold, dan 10 orang mendapatkan Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS

Daftar peraih penghargaan dari 15. Panzer-Division bisa dilihat DISINI

--------------------------------------------------------------------------

AFRIKA UTARA (1941-1943)

 
Tiga orang prajurit dari 15. Panzer-Division bersantai di barak mereka di Jerman sambil mengenakan tropenhelm "Niederlande" (helm tropis "Belanda"), musim semi 1941. Mereka telah diberitahui mengenai penugasan selanjutnya ke Afrika Utara, hanya saja belum mendapat pembagian seragam tropis untuk digunakan disana. Salah satu item pertama yang mereka terima adalah helm tropis hasil rampasan dari Belanda pada tahun 1940 yang sebenarnya diperuntukkan bagi pasukan Afrika Selatan, hanya saja keburu direbut oleh pihak Jerman sebelum sempat dikapalkan


 
Foto bersama para anggota Stabskompanie II.Abteilung / Panzer-Regiment 8 / 15.Panzer-Division pada Hari Paskah tanggal 12 April 1941, sebulan sebelum keberangkatan mereka dari Jerman ke Afrika Utara untuk bertempur bersama dengan Afrikakorps-nya Erwin Rommel. Mereka semua sudah mulai "beradaptasi" dengan mengenakan tropenuniform (seragam tropis), meskipun belum ditambah dengan pin Totenkopf di kerah seperti yang nanti menjadi penanda unit Panzertruppen di Afrika. Tropenhelm (helm tropis) yang mereka kenakan bukanlah dari jenis Tropenhelm M40 keluaran Oberkommando der Wehrmacht seperti pada umumnya, melainkan Tropenhelm "Niederlande" hasil rampasan dari Belanda pada tahun 1940

 
 
Dua foto yang diambil di sebuah studio di Jerman pada tanggal 13-14 April 1941 dan memperlihatkan anggota Panzer-Regiment 8 / 15.Panzer-Division yang mengenakan kelengkapan tropis yang baru mereka terima sebelum keberangkatan ke Afrika Utara sebulan setelahnya. Selain tropenuniform (seragam tropis) berwarna coklat dengan tambahan pin Totenkopf (tengkorak di bagian kerah), mereka juga mengenakan tropenhelm "Belanda" hasil rampasan dari tahun 1940. Uniknya, penamaan helm tropis jenis ini bukan karena dia dipakai oleh militer Belanda, melainkan karena dibuat di Belanda berdasarkan lisensi dari SAPHI (South African Pith Helmet Industries of Pretoria) sebagai peruntukan tentara Afrika Selatan. Sayangnya, sebelum sempat dikirimkan ke benua Afrika, negara penjajah Indonesia tersebut keburu diduduki oleh pasukan Jerman pada tahun 1940 dan helm-helm yang masih fresh belum dipakai kemudian dibagikan kepada para anggota 15. Panzer-Division yang dikirimkan ke Afrika Utara bulan Mei 1941 dengan tambahan panji Hoheitsabzeichen dan shield berbahan metal di bagian samping. Ini karena pada waktu itu pihak Wehrmacht masih kekurangan stok tropenhelm untuk dipakai oleh prajurit-prajurit mereka di medan perang Afrika yang beriklim panas sehingga dipakailah apa yang tersedia meskipun penggunaannya terbatas. Pada awalnya diduga hanya beberapa ratus saja helm jenis ini yang dibagikan, tapi kemudian diketahui bahwa jumlahnya mencapai 2000-3000 buah! Perkiraan ini didasarkan pada jumlah unit yang mengenakan tropenhelm Niederlande di Afrika Utara bulan Mei 1941 yang menjadi bagian dari 15. Panzer-Division: Panzer-Regiment 8 (kompi ke-2, 5, 6, dan kompi Stab II.Abteilung), Artillerie-Regiment 33, Aufklärungs-Abteilung 33, dan Panzerjäger-Abteilung 33. Ketika pasukan Rommel berhasil merebut Tobruk pada bulan Juni 1942, lebih banyak lagi helm "polo" Afrika Selatan yang berhasil dirampas. Yang membedakan adalah: mereka bukanlah buatan Belanda (melainkan buatan Inggris), dan jumlahnya pun tidak sebanyak hasil rampasan tahun 1940


Dua orang prajurit Afrikakorps sedang melakukan Körperpflege (perawatan diri), sebuah usaha untuk tetap bersih di tengah kondisi gurun yang berdebu. Usaha ini seringkali berakhir dengan kesia-siaan, terutama karena jarangnya pasokan air bersih. Di sebelah kiri adalah Heiner Chelius, yang setelah perang pindah ke Melbourne (Australia) dan kemudian menjadi anggota kehormatan organisasi veteran "Rats of Tobruk". Foto ini sendiri diambil di posisi II.Abteilung / Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) / 15.Panzer-Division di sekitar Tobruk bulan April 1941


Unteroffizier Helmuth Orschiedt (kedua dari kiri) bersama dengan rekan-rekannya dari Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) / 15.Panzer-Division yang berhenti sebentar untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang sejauh 800 kilometer melalui Cyrenaica menuju Tobruk, Mei 1941. Dengan sebab yang tak diketahui mereka diperintahkan untuk keluar dari jalan beraspal Via Balbia dan meneruskan perjalanan melalui jalan pasir berdebu yang meninggalkan bekas kotor di seragam dan wajah! Perhatikan bahwa setidaknya dua orang dalam foto ini (Orschiedt dan rekan di sebelah kanannya) mengenakan tropenhelm "Belanda" di kepala mereka. Foto ini sendiri diambil menggunakan kamera milik Orschiedt yang direkam dengan selftimer



Tak lama setelah tiba di Afrika Utara dan berlabuh di Tripoli/Libya di pertengahan bulan Mei 1941 setelah perjalanan menggunakan konvoy kapal laut dari Napoli/Italia, I.Abteilung / Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) / 15.Panzer-Division mengambil posisi sekitar 5km di selatan Benteng Capuzzo di perbatasan Libya-Mesir, tepat di belakang bentangan pagar kawat berduri yang menandai batas kedua negara. Detasemen tersebut sebelumnya berangkat menuju front dengan menggunakan jalan menyusuri pantai menggunakan jalan beraspal Via Balbia yang kemudian dilanjutkan dengan jalan penuh berdebu menuju Tobruk (Detasemen kedua dan ketiga telah tiba terlebih dahulu dan mengambil posisi di sekeliling Tobruk). Untuk memperkuat baterai-baterai artileri, mereka menggunakan dinding pertahanan yang terbuat dari batu. Tempat para penembak meriam pun dibuat dengan menggunakan tumpukan batu karena tanah yang mereka tempati sepenuhnya adalah berbatu! Pada awalnya tidak ada pertempuran yang berlangsung karena pasukan Inggris telah melarikan diri jauh ke Mesir. Untuk melindungi diri dari panas yang menyengat, anggota I. Abteilung mendirikan tenda di belakang posisi artileri yang mereka namakan sebagai "Seelig's Nachtlokal" (Klub Malam Selig), yang namanya diambil dari Ludwig Seelig yang merupakan gunner asal Mainz di I. Abteilung dan merupakan veteran Pertempuran Prancis tahun 1940. Seelig sendiri adalah orang yang selalu ceria di setiap waktu dan tak pernah kehilangan ide untuk menghibur teman-temannya. Foto ini memperlihatkan para anggota I. Abteilung sedang berteduh di "Seelig's Nachtlokal". Orang yang sedang menunduk kedua dari kanan adalah Feldwebel Spang (Geschutz-Führer), sementara yang memakai tropenmütze kedua dari kiri adalah Unteroffizier Helmuth Orschiedt (Kanonier). Foto ini sendiri diambil menggunakan kamera milik Orschiedt


 Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) bersama dengan staff-nya dalam inspeksi ke posisi meriam-meriam artileri milik I.Abteilung / Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) / 15.Panzer-Division di Front Sollum, Mei/Juni 1941. Persis di belakang Rommel menghadap kamera sambil nyengir kecoak adalah Major Lucius Günther Schrivenbach (kelahiran 12 September 1911). Dia bertugas mendampingi sang "Rubah Gurun" di sepanjang kampanye di Afrika Utara, dilanjutkan dengan Prancis tahun 1944. Setelah itu Schrivenbach ditempatkan sebagai Stabsoffizier untuk Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt sampai dengan akhir perang. Foto oleh Fritz Sturm


 Unteroffizier Helmuth Orschiedt (Kanonier in der I.Abteilung / Artillerie-Regiment 33 [motorisiert] / 15.Panzer-Division) menulis surat untuk keluarganya di tanah air Jerman, perbatasan Libya-Mesir di bulan Mei 1941. Dia mengenakan tropenhelm (helm tropis) "Niederlande" hasil rampasan dari Belanda pada tahun 1940. Meskipun suplai perbekalan menjadi masalah besar bagi Afrikakorps karena gangguan konstan Sekutu dari laut dan udara, tapi bisa dibilang bahwa pengiriman surat dan parsel tidak terlalu banyak berpengaruh dan tetap berjalan secara rutin (kemungkinan karena kebanyakan dikirim lewat udara yang lebih aman). Orschiedt bahkan mengenang bahwa ibunya biasa mengirim kue-kue kering yang selalu datang dalam keadaan bagus dan renyah! Foto ini diambil oleh temannya yang menggunakan kamera milik Orschiedt


Wachtmeister (Sersan Artileri) Horst Fargel dari Bruchsal/Jerman menggosok punggung Wachtmeister Hans Waechter dari Hassloch/Jerman menggunakan air dan sabun. Suasana sedang sepi di sekitar Front El Alamein di bulan Oktober 1942 dan para anggota 5.Batterie / II.Abteilung / Panzer-Artillerie-Regiment 33 / 15.Panzer-Division memanfaatkan momen langka tersebut untuk membersihkan diri menggunakan air yang dibawa oleh truk. Foto diambil oleh Fahnenjunker-Wachtmeister Helmuth Orschiedt yang merupakan Vorwärtser Beobachter (Pengamat Depan/Forward Observer) di 5. Batterie


Oberst Ernst-Günther Baade (Kommandeur Schützen-Regiment 115 / 15.Panzer-Division) berdiri di atas Panzerbefehlwagen III Ausf.F bersama dengan anakbuahnya di medan perang Afrika Utara tahun 1942. Dia mengenakan medali Deutsches Kreuz in Gold yang didapatkannya tanggal 2 November 1941, juga Allgemeines-Sturmabzeichen in Silber yang didapatkannya tanggal 20 Agustus 1940. Foto oleh Kriegsberichter Valtingojer


Perayaan Natal sederhana para anggota 5.Batterie / II.Abteilung / Panzer-Artillerie-Regiment 33 / 15.Panzer-Division, 25 Desember 1942. Walaupun mereka dalam keadaan mundur teratur dari Mesir setelah kekalahan di Front El Alamein, tapi prajurit-prajurit Afrikakorps umumnya masih mempunyai mental bertempur yang tinggi karena menganggap mereka kalah bukan karena masalah kualitas melainkan kalah kuantitas. Untuk merayakan hari itu dibagikan jatah ransum istimewa yang berisi roti tambahan, coklat, anggur merah (Meggy Z. kalee!), dan makanan-makanan lain yang biasanya sulit didapatkan dalam keadaan normal. Petugas yang berwenang sedang bermurah hati karena depot perbekalan sedang dikosongkan dan barang-barang yang tertinggal dimusnahkan dengan cara dibakar demi mencegah jatuh ke tangan musuh yang mengejar. Orang yang nyengir di tengah sambil memegang roti adalah Fahnenjunker-Wachtmeister Helmuth Orschiedt (Vorwärtser Beobachter alias Pengamat Depan/Forward Observer), sementara kedua dari kiri adalah Schütze Heimann asal Panrod/Taunus (Jerman) yang merupakan supir Orschiedt. Foto ini diambil dengan cara self-timer menggunakan kamera milik Orschiedt

--------------------------------------------------------------------------

 Unteroffizier Helmuth Orschiedt dari I.Abteilung / Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) / 15.Panzer-Division dalam sebuah foto yang diambil pada tahun 1941, tak lama setelah kedatangannya di Afrika Utara. Dia mengenakan tropenuniform (seragam tropis) M40 versi awal dengan soutache merah artileri, termasuk dasi dan ikat pinggang khusus berbahan kanvas. Pemuda kelahiran 9 Mei 1923 ini adalah veteran pertempuran di Afrika yang bertugas sebagai Kanonier (penembak meriam). Dia berpangkat sebagai Gefreiter pada tahun 1940, Unteroffizier tahun 1940-1942, Fahnenjunker-Wachtmeister tahun 1942-1943, dan Feldwebel tahun 1944-1945



Sumber :
www.afrika-korps.de
www.axishistory.com
www.deutsches-afrikakorps.blogspot.com
www.forum.axishistory.com 
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2awards.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

No comments: