Friday, July 10, 2009

Stalingrad, Salah Satu Film Terbaik Bersetting Nazi Dalam Perang Dunia II!

Poster film Stalingrad


Versi lain poster film Stalingrad


Leutnant Hans von Witzland dalam perjalanan kereta api menuju Stalingrad


Leutnant Hans von Witzland menulis surat untuk keluarga di rumah dalam perjalanan kereta api menuju Stalingrad


Para pemeran utama film Stalingrad, baris bawah dari kiri ke kanan : Obergefreiter Fritz Reiser (Dominique Horwitz), Leutnant Hans von Witzland (Thomas Kretschmann) dan Unteroffizier Manfred "Rollo" Rohleder (Jochen Nickel). Baris atas dari kiri ke kanan : Oberschütze GeGe Müller (Sebastian Rudolph) dan Edgar Emigholz (Heinz Emigholz. Yup, nama belakangnya sama!)


Baru saja datang, pasukan Von Witzland sudah harus berjibaku bertempur melawan pasukan Rusia dalam puing-puing kota Stalingrad


Leutnant Hans von Witzland bertemu dengan atasannya Hauptmann Hemann Musk (tengah) dalam acara pemberkatan doa bagi pasukan Jerman yang bertempur di front Stalingrad. Di bagian akhir film terlihat bahwa sang Hauptmann telah dianugerahi Ritterkreuz!


Para pasukan Sturmpioniere yang menjalani hukuman dengan bekerja sebagai penyapu ranjau di dinginnya musim dingin Rusia yang kejam


Diorama adegan terakhir yang sangat menyentuh dari film Stalingrad


DVD film Stalingrad yang diedarkan di Finlandia


CD DVD film Stalingrad


Lihat judul di atas? Setidaknya itulah pendapat saya pribadi. Setelah melihat film yang dibuat oleh orang-orang Jerman ini, dengan bahasa Hitler dan juga wajah-wajah khas Arya. Belum lagi settingnya yang luar biasa edun, kolosal, tank dan halftrack asli. Setidaknya faktor-faktor tersebut sudah cukup untuk membuat film ini menjadi sesuatu yang 'istimewa'. Ketika hal ini 'dihantem' lagi oleh cerita yang luar biasa, efek kekejaman perang super brutal terhadap pasukan terbaik (sturmpioniere), sudahlah kalau saya katakan dengan mengutip ucapan Hitler paling terkenal : TOP MARKOTOP!!!

Film ini sendiri menceritakan tentang petualangan Leutnant Hans von Witzland (diperankan oleh aktor favorit saya, Thomas Kretschmann) bersama dengan pasukannya dalam menghadapi ganasnya pertempuran yang tak kenal henti di medan laga Stalingrad. Mereka yang sedang enak-enak menikmati liburan di udara tropis Italia, tiba-tiba mendapat penugasan dari komandannya di lokasi yang tak tanggung-tanggung : Stalingrad. Tentulah sebagai prajurit, apapun yang diperintahkan oleh atasan harus dipenuhi, betapapun beratnya itu.

Von Witzland adalah seorang Letnan muda yang belum pernah merasakan satu pertempuran pun, dan kini ia harus memimpin sekelompok pasukan veteran yang telah kenyang pengalaman bertempur. Pada mulanya pasukannya tidak menaruh respek sama sekali terhadap komandan baru yang dianggapnya masih hijau dan menempati posisinya sekarang, semata karena darah ningrat dan KKN yang bersumber dari pamannya yang berpangkat Oberst (kolonel). Tapi kemudian seiring dengan interaksi yang intens, dimana mereka melewati pertempuran bersama dan mempunyai pandangan yang sama terhadap perang dan kemanusiaan, akhirnya pasukan Sturmpioniere tersebut menjadi pasukan yang loyal terhadap Von Witzland.

Pertempuran Stalingrad mengajarkan banyak hal pada mereka, dan pada akhirnya, tak ada lagi yang tersisa selain kepedihan dan kesia-siaan (buset, berat Brow!)...

Inilah data-data film STALINGRAD :

Sutradara : Joseph Vilsmaier
Penulis : Joseph Vilsmaier, Jürgen Büscher, Christoph Fromm dan Johannes Heide
Tahun buat : 1993
Penata musik : Norbert Jürgen Schneider dan Martin Grassl
Panjang film : 134 menit
Budget : 20 juta DM (perkiraan)

Pemain :
Dominique Horwitz : Obergefreiter Fritz Reiser
Thomas Kretschmann : Leutnant Hans von Witzland
Jochen Nickel : Unteroffizier Manfred " Rollo" Rohleder
Sebastian Rudolph : Oberschütze GeGe Müller
Dana Vávrová : Irina
Martin Benrath : General Hentz
Sylvester Groth : Otto
Oliver Broumis : HGM
Karel Heřmánek : Hauptmann Hermann Musk
Heinz Emigholz : Edgar Emigholz
Dieter Okras : Hauptmann Haller
Zdenek Vencl : Wölk
Mark Kuhn : Feldwebel Pflüger

Sniper Jerman (Scharfschütze) di Normandia

Sniper dengan kamuflase terbaik!


Scharfschütze Jerman


Scharfschütze Jerman


Penembak jitu Jerman yang terluka dalam usungan sementara pasukan Amerika terus bergerak ke St. Mere-Eglise, Normandia


Wartawan peliput perang yang paling terkenal dalam Perang Dunia II mungkin adalah Ernie Pyle (1900-1945). Wartawan perang Amerika peraih hadiah Pulitzer ini menyaksikan dan melaporkan langsung serangan udara Jerman terhadap London. Ia juga meliput langsung berbagai pertempuran di Afrika Utara, Sisilia, Italia, Prancis dan Pasifik. Laporannya terutama berkisar pada kisah dan pengalaman para prajurit biasa (GI). Pyle terbunuh oleh peluru senapan mesin Jepang tatkala meliput pertempuran di Ie Shima, dekat Iwo Jima pada tanggal 18 April 1945. Berikut adalah petikan salah satu liputannya di medan tempur Normandia menyusul pendaratan Sekutu di sana tanggal 6 Juni 1944 :


Normandia, 26 Juni 1944. Sepanjang yang saya ketahui, sniping atau penembakan jitu diakui sebagai cara yang sah dalam peperangan. Sekalipun demikian, hal ini memunculkan kegeraman di kalangan prajurit Amerika dalam soal cita rasa fairness, keadilan. Saya sendiri sebelum pendaratan di pantai Prancis dan Jerman mulai terdesak dari daerah pantai, tidak pernah merasakan atau terlalu memikirkan akan hal itu, karena kami sebelum ini pun pernah menghadapi penembak jitu musuh seperti di Bizerte, Cassino dan berbagai tempat lainnya. Namun semua itu hanyalah dalam skala kecil saja.


Tetapi disini, di Normandia, Jerman melakukan cara penembakan tersebut secara besar-besaran, seperti layaknya cara pedagang grosir berjualan. Di semua sudut mereka tempatkan penembak jitu. Di pohon-pohon, di bangunan, di tumpukan puing, di sela-sela rerumputan. Tapi kebanyakan adalah di semak-semak rimbun, hedgerows, yang merupakan pagar hidup tanaman para petani di Normandia yang berfungsi sebagai pembatas ladang-ladang dan tanah mereka. Tanaman ini memagari hampir semua tepian jalan.


Ini, merupakan kawasan sniping yang benar-benar ideal. Seorang penembak jitu dapat bersembunyi di tengah kerimbunan dengan bekal makanan untuk beberapa hari, dan untuk dapat menemukannya adalah ibarat mencari sebuah jarum di antara tumpukan jerami. Untuk setiap mil jarak yang kami tempuh, ada lusinan penembak jitu Jerman (Scarfschütze) yang terlewat di belakang kami. Mereka tinggal membidik para prajurit kami satu persatu ketika mereka berjalan beriringan di jalan atau menyeberangi tanah perladangan.


Adalah tidak aman bagi kami untuk memasuki suatu daerah atau bivak baru sebelum yakin para penembak jitu telah dibersihkan. Bivak pertama yang saya masuki, seharian dipenuhi desingan peluru para penembak sehingga akhirnya para penembak tersembunyi itu dapat dibekuk. Rasanya selalu amat was-was, sama seperti kalau anda memasuki suatu tempat yang anda curigai telah ditebar dengan ranjau.


Pada waktu-waktu yang lalu, para prajurit kami memang sudah membicarakan soal penembak jitu dengan sikap memandang rendah dan jijik. Namun sekarang di Normandia, penembakan tersebut menjadi semakin menentukan dan berwaspada terhadapnya merupakan sesuatu yang harus dipelajari dengan cepat. Seorang perwira teman saya berkata, bahwa para prajurit secara individual memang telah menyadari akan bahaya tersebut. “Tetapi sekarang yang sadar akan bahaya penembak jitu adalah keseluruhan pasukan!”


Para penembak jitu membunuhi sebanyak mungkin prajurit Amerika, dan kemudian tatkala persediaan makanan dan peluru mereka habis, mereka pun lalu menyerahkan diri. Bagi seorang Amerika, hal seperti itu dipandang tidaklah etis. Para prajurit Amerika pada umumnya tidak punya rasa membenci atau mendendam terhadap prajurit Jerman yang bertempur secara terbuka dan kalah. Tetapi perasaan mereka terhadap penembak tersembunyi itu rasanya tidaklah dapat ditulis dan disiarkan. Pendeknya, mereka belajar untuk sebisa mungkin dapat membunuh si penembak jitu sebelum penembak itu sempat menyerah.


Pada kenyataannya, bagian wilayah Prancis yang ini memang sangat menyulitkan, kecuali untuk pertempuran antar kelompok-kelompok kecil. Normandia merupakan kawasan dengan ladang-ladang kecil, yang masing-masing dibatasi dengan tumbuhan semak yang tebal dan pagar dari pohon perdu. Sulit mencari suatu tempat dari mana anda dapat memandang lebih jauh daripada tanah ladang yang ada di depan anda. Hampir seluruh waktu, para prajurit tidak mungkin melihat daerah di sekelilingnya lebih jauh dari 100 yard!


Di bagian lain daerah ini, genangan air seperti rawa-rawa juga menjadi ciri, dengan rerumputan yang tinggi-tinggi, sehingga dalam kondisi yang seperti itu maka ini merupakan daerah yang hanya cocok untuk bertempur satu lawan satu. Seorang perwira yang pernah bertugas di Pasifik mengatakan bahwa pertempuran di daerah Normandia ini adalah mirip dengan apa yang pernah di alaminya dalam pertempuran brutal di kepulauan Guadalcanal!




Sumber :

www.forum.axishistory.com

www.feldgrau.com

www.wehrmacht-awards.com

Edisi Koleksi Angkasa XVI “D-Day”


Monday, July 6, 2009

Alan Wykes 'Hitler'

Buku HITLER oleh Alan Wykes sampul depan


Buku HITLER oleh Alan Wykes sampul belakang


Bagian dalam buku HITLER oleh Alan Wykes


Ora gelem wadon bae ble'e-ble'e!


Judul : Hitler

Pengarang : Alan Wykes

Penerbit : Standaard Uitgeverij - Antwerpen

Terbitan : 1977

Bahasa : Belanda

Judul Asli : Hitler

Penterjemah : -

Tebal Buku :160 halaman


Sumpah, sebenarnya saya sama sekali nggak ngerti bahasa dalam buku ini! Tapi bagaimana lagi, inilah buku biografi Hitler satu-satunya yang dapat saya temukan, makanya meskipun berbahasa wong Londo, tapi apa boleh buat, masuk dah koleksi!


Buku ini merupakan versi bahasa Belanda dari buku berbahasa Inggris terbitan Ballantine Books. Dan berkaca dari buku Ballantine lain yang saya miliki (Lidice), buku ini pastilah full gambar! Makanya meskipun bahasanya bikin pusing, tapi melihat foto-foto yang bertebaran hampir di setiap halaman sudah cukup membuat saya terhibur.

Saturday, July 4, 2009

Bermacam Gaya Adolf Hitler

Adolf Hitler sebagai model iklan teh 'anti-stres' Rasayana. Ngerti kan kenapa figur Hitler yang dijadikan pilihan?


Hitler jadi model iklan minuman keras, padahal dia sendiri terkenal sebagai orang yang tidak menyentuh alkohol!


Tiga sejoli


Perlu dibaca buat para pembenci Hitler!


Nggak tahu maksudnya apa yang buat patung Hitler kayak ginian...


Sk8ter Boy


Shock!


Adolf Hitler EMO


Kalo ngeliat pohon-pohonnya sih, kayaknya Adolf Hitler lagi ngendon di Indonesia!


Obsesi lama Hitler : astronot!


Super hero Adolf Hitler vs bad guy Winston Churchill!


Beginilah kalau Hitler berkarir di musik!


Pantesnya dipasang di tukang cukur!


Sumber :
www.factorfictionpress.co.uk
www.forum.axishistory.com
www.adrants.com
www.wordpress.com
www.deviantart.com
www.germanmilitariacollectibles.com

Foto-Foto Lucu Third Reich Bagian 13

Mau pada ngungsi nih, Mas?

Para ayah yang baik...


Tentara-tentara pengagum Hitler. Liat aja kumisnya!


Rencananya sih, Hitler mau naik yang beginian kalo sudah terdesak musuh!


Masa kecil terlalu bahagia


Panasnya udara Afrika tahun 1942, sampe nggak nyadar...


Tukang cukur kreatif atau emang sudah kehabisan pisau cukur?


Tenang saja Sayang, jangankan pas tempur, pas Abang nelepon ini juga selalu ada sepasukan tentara nggak ada kerjaan yang setia ngejagain Abang!


Ini maksudnya mau keliatan serem atau malah cupu? Tentara Jerman berfoto di rongsokan pesawat Soviet yang jatuh


Ini nih kepala preman Nazi, Heinrich Himmler!

Friday, July 3, 2009

Heinz Wilhelm Guderian 'Panzer Leader'

Buku PANZER LEADER oleh Heinz Guderian, sampul depan


Buku PANZER LEADER oleh Heinz Guderian, sampul belakang


It's a priceless book!


Buku ini saya beli di salah satu toko buku di kompleks Palasari, Bandung (yang merupakan pasar buku terbesar se Asia Tenggara!), dengan harga 'hanya' 50 ribu Rupiah! Saya bilang hanya karena kalau melihat kondisi buku dan nilai sejarahnya, buku tersebut pastilah lebih mahal dari harga yang tersebut!

Yang jelas, buku tersebut merupakan otobiografi dari salah satu jenderal Jerman paling terkemuka dalam Perang Dunia II, siapa lagi kalau bukan Generaloberst Heinz Wilhelm Guderian. Dia terkenal karena dianggap sebagai bapak strategi BLITZKRIEG. Meskipun bukan yang pertama mencetuskannya, tapi tak ada yang menyangkal kalau Guderian adalah orang pertama yang mengejawantahkannya dalam peperangan. Terbukti, pada fase-fase awal Perang Dunia II, kemenangan yang terus menerus diraih oleh Wehrmacht sebagian besar ditopang oleh strategi Blitzkrieg yang dikembangkan Guderian!

Sebenarnya, apa sih Blitzkrieg itu? Singkatnya, Blitzkrieg (sesuai dengan namanya, yaitu Perang Kilat) adalah suatu strategi militer yang mengedepankan kecepatan dalam serangan, yang didapatkan dengan memadukan kekuatan darat dan udara seharmonis mungkin. Dua hal esensial dalam taktik ini : radio dan tank! Tanpa keduanya, sia-sialah strategi Blitzkrieg.

Sebagian besar buku ini mengupas kisah hidup Guderian dalam Perang Dunia II, hanya sedikit diceritakan tentang masa mudanya atau keluarganya, padahal anak jenderal ini juga adalah seorang jago perang juga lho! Namanya adalah Heinz Günther Guderian, perwira berpangkat Oberstleutnant yang juga pemegang medali bergengsi Ritterkreuz.

Dengan membaca buku ini, kita bisa mengetahui sekelumit kehidupan Guderian, pandangan-pandangannya dan juga kehidupan di masa itu, dimana negara Jerman sangat terpusat pada satu orang : Adolf Hitler. Sedikit saja sisipan foto yang ada, dan itupun kebanyakan adalah foto-foto yang sudah beredar luas di internet. Untuk bahasa penyajiannya, mungkin akan membosankan bagi orang biasa, tapi bagi saya : NO PROBLEMO!

Thursday, July 2, 2009

Foto-Foto Lucu Third Reich Bagian 12

Dimabuk cinta? Bapak-bapak di sebelah kiri adalah Oberstleutnant Burggraf zu Dohna, komandan dari Resimen Don Cossack pertama, sementara yang di kanan adalah Hauptmann Erich Dienenthal. Keduanya berasal dari Divisi Kavaleri Cossack, sukarelawan Nazi tukang nyambit pedang dari Rusia


Malam terakhir


Perhatikan foto tentara di baris atas tengah. Itu gara-gara polio ya?


Deputi Naz Rudolf Hess sedang persiapan buat Agustusan


Menu makan siang hari ini : flu Babi!


Perwira SS yang riang gembira...


Bener kan?


Ini kameramen mau memfoto Generalfeldmarschall Günther von Kluge besama dengan para perwira atau mau memfoto tukang jaga gardu hansip?


Perhatian! Kru u-boat ini bukan gay!!!


Tidak ada papan tulis, ranjau kapal laut pun jadi!