Showing posts with label Aneka Artikel. Show all posts
Showing posts with label Aneka Artikel. Show all posts

Sunday, April 26, 2026

Kopral Adolf Hitler


Ketika Perang Dunia I pecah pada musim panas tahun 1914, Adolf Hitler adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang gagal meniti karir sebagai seniman di Wina dan kemudian pindah ke Munich. Berita tentang deklarasi perang dan mobilisasi besar-besaran di Jerman disambutnya dengan antusiasme yang membara, sebuah perasaan yang juga dirasakan oleh jutaan orang Jerman lainnya yang percaya bahwa perang akan mempersatukan bangsa dan mengakhiri kebekuan sosial. Meskipun ia masih merupakan warga negara Austria-Hungaria, Hitler melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mencurahkan loyalitasnya kepada Jerman, negara yang sangat dikaguminya, dan untuk melarikan diri dari kehidupan yang tanpa tujuan dan penuh kemiskinan. Ia dengan sukarela mendaftarkan diri untuk bertugas di Angkatan Darat Bavaria, sebuah keputusan yang tidak hanya mengubah nasibnya secara pribadi tetapi juga menentukan jalannya sejarah dunia. Pada awal Agustus 1914, ia diterima sebagai sukarelawan di Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16, yang kemudian terkenal dengan sebutan Resimen List, sebuah unit yang dinamai berdasarkan komandan pertamanya, Julius von List.

Pelatihan militer dasar yang dijalani Hitler berlangsung singkat dan kurang memadai jika dibandingkan dengan standar pelatihan pasukan elite, mengingat kebutuhan mendesak Jerman untuk mengirim tentara ke garis depan secepat mungkin. Setelah menjalani latihan dasar di Munich, resimennya dikirim ke barisan depan di Belgia pada Oktober 1914, di mana mereka segera terlibat dalam beberapa pertempuran paling sengit di awal perang. Salah satu pengalaman pertama dan paling traumatis yang dialaminya adalah Pertempuran Ypres Pertama, di mana Angkatan Darat Jerman mencoba menerobos garis Sekutu namun mengalami perlawanan yang sangat keras. Pertempuran ini dikenang sebagai "Kindermord bei Ypern" atau Pembantaian Anak-anak di Ypres karena tingginya jumlah korban jiwa di kalangan mahasiswa dan pemuda sukarelawan Jerman yang kurang berpengalaman. Dalam pertempuran ini, Resimen List menderita kerugian yang sangat parah, kehilangan sebagian besar prajurit dan perwiranya hanya dalam beberapa hari, sebuah pengalaman yang membentuk pandangan Hitler bahwa ia adalah seorang yang terpilih untuk bertahan hidup sementara orang lain gugur.

Hitler menjalani sebagian besar masa dinasnya bukan sebagai prajurit infantri yang bertarung di parit depan dengan bayonet, melainkan sebagai seorang *Meldegänger* atau kurir pesan. Posisi ini mengharuskannya berlari atau bersepeda dari markas resimen ke garis depan atau ke markas batalion untuk menyampaikan pesan dan perintah. Meskipun beberapa sejarawan modern berdebat mengenai tingkat bahaya tugas ini dibandingkan dengan tugas infantri biasa, menjadi kurir pada masa itu tetap merupakan pekerjaan yang sangat berisiko tinggi. Hitler harus melewati zona terbuka yang rentan terhadap tembakan artileri, tembakan senapan mesin, dan tembakan penembak jitu musuh untuk mengantarkan informasi vital. Kesetiaannya pada tugas ini membuatnya dianggap sebagai prajurit yang berani dan dapat diandalkan oleh atasannya, meskipun sifatnya yang tertutup dan sikapnya yang terlalu serius sering membuatnya diejek atau dijauhi oleh rekan-rekan sebayanya yang lebih suka bersantai bermain kartu atau membicarakan wanita saat masa istirahat.

Selama empat tahun bertugas di Front Barat, Hitler memang jarang berada di parit paling depan untuk pertempuran jarak dekat yang konstan, namun ia tidak luput dari kebrutalan perang. Ia terluka beberapa kali, di mana cedera pertamanya terjadi pada Oktober 1916 selama Pertempuran Somme, ketika pecahan peluru artileri mengenai pahanya. Luka ini cukup serius hingga ia harus dievakuasi dari medan perang dan dirawat di rumah sakit militer di Beelitz, dekat Berlin, selama beberapa bulan. Pengalaman ini memberinya waktu untuk merenungkan kondisi perang dan kondisi Jerman, di mana ia mulai menyerap dan mempercayai propaganda perang Jerman serta mengembangkan kebencian yang mendalam terhadap siapa pun yang dianggap tidak patriotik. Baginya, rumah sakit bukanlah tempat pemulihan yang menyenangkan, melainkan sebuah pengasingan yang membuatnya frustasi karena tidak bisa turut bertarung bersama teman-temannya di medan perang yang diyakininya sebagai panggilan mulia.

Penghargaan militer yang diterimanya menjadi bukti konkret bahwa ia adalah seorang prajurit yang berdedikasi tinggi dan sangat disegani oleh atasannya, terutama mengingat ia hanya seorang *Gefreiter* atau kopral. Pada bulan Desember 1914, ia dianugerahi Salib Besi Kelas Kedua atas keberaniannya dalam mengantarkan pesan di tengah pertempuran sengit, sebuah penghargaan yang sangat langka diterima oleh prajurit berpangkat rendah pada tahap awal perang. Kemudian, pada tahun 1918, ia menerima penghargaan yang lebih bergengsi, yaitu Salib Besi Kelas Pertama, sebuah kehormatan yang hampir tidak pernah diberikan kepada seorang kopral. Penghargaan ini diberikan atas rekomendasi seorang perwira Yahudi bernama Letnan Hugo Gutmann, sebuah fakta ironis yang sering diabaikan oleh Hitler di kemudian hari ketika ia membangun narasi anti-Semit dan mengklaim bahwa orang Yahudi adalah pengkhianat yang tidak pantas berseragam. Lencana Luka Hitam yang diterimanya juga menandai pengorbanan fisiknya bagi negara.

Hubungan sosial Hitler dengan rekan-rekan sejawatnya di resimen Bavaria seringkali menjadi topik perdebatan dan analisis mendalam di kalangan sejarawan. Berbeda dengan kebanyakan tentara yang membangun ikatan persaudaraan yang kuat melalui kebersamaan di parit, Hitler lebih memilih untuk menyendiri dan menjaga jarak. Ia dikenal sebagai sosok yang aneh oleh rekan-rekannya karena ia jarang minum alkohol, tidak pernah mengunjungi rumah bordil, dan menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku atau menggambar sketsa bangunan dan pemandangan. Ia sering dipanggil dengan ejekan yang merendahkan oleh beberapa prajurit lain, namun sikapnya yang religius terhadap perang dan keteraturan militernya membuatnya tetap dihormati sebagai seorang yang profesional, meskipun tidak populer dalam pergaulan sosial. Baginya, perang adalah tujuan hidup itu sendiri, bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan agar bisa pulang.

Menjelang akhir perang, Hitler mengalami peristiwa traumatis yang sangat menentukan, yaitu ketika ia menjadi korban serangan gas racun yang dilancarkan oleh pasukan Inggris di dekat Ypres pada Oktober 1918. Serangan gas mustar ini menyebabkannya menderita kebutaan sementara dan ia harus menjalani perawatan di rumah sakit militer di Pasewalk. Saat berada di rumah sakit inilah ia mendapat kabar yang mengguncang dunianya, yaitu berita tentang kekalahan Jerman dan dimulainya Revolusi Jerman yang memaksa Kaiser Wilhelm II turun takhta. Bagi Hitler, yang percaya pada mitos "tikus belakang" atau *Dolchstoßlegende* yang menyatakan bahwa Jerman tidak kalah di medan perang melainkan dikhianati oleh politisi sipil dan kaum sosialis di tanah air, berita ini merupakan pukulan yang menghancurkan. Ia merasa pengorbanannya dan jutaan prajurit lainnya telah dikhianati oleh pemerintahan baru Republik Weimar yang ia anggap sebagai penghianat.

Pengalaman pahit di rumah sakit Pasewalk sering dikutip oleh sejarawan sebagai titik balik psikologis yang memicu transformasi Hitler dari seorang prajurit yang taat menjadi seorang politisi yang ambisius dan penuh kebencian. Ia merasa bahwa ia mendapat misi suci untuk menyelamatkan Jerman dari kehinaan dan membalikkan kekalahan tersebut. Selama pulih dari kebutaannya, ia mengklaim mengalami penglihatan mistis yang memerintahkannya untuk memimpin bangsa Jerman menuju kejayaan kembali. Meskipun klaim penglihatan ini mungkin saja dilebih-lebihkan atau dibuat-buat untuk tujuan propaganda dalam otobiografinya *Mein Kampf*, tidak dapat dipungkiri bahwa rasa sakit akibat kekalahan perang dan kebencian terhadap sistem baru menjadi bahan bakar utama bagi ideologi politiknya di masa depan. Pengalaman militernya di resimen Bavaria memberinya identitas baru, bukan lagi sebagai seniman yang gagal, melainkan sebagai veteran perang yang merasa terpanggil untuk berkuasa.

Masa dinas Hitler di Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16 berakhir dengan kekalahan Jerman, namun pengaruh pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinannya yang otoriter dan gaya politiknya yang militan. Ia belajar bagaimana menggunakan simbol-simbol militer untuk memobilisasi massa dan bagaimana memanipulasi sentimen veteran perang yang merasa terabaikan oleh republik baru. Kemampuannya berpidato yang memukau, yang diasah saat ia menjadi *Bildungsoffizier* atau perwira pendidikan politik di Reichswehr pasca perang, berakar pada pemahaman mendalarnya terhadap psikologi tentara dan keinginan mereka untuk pengakuan. Kebencian yang ia tunjukkan terhadap Perjanjian Versailles, komunisme, dan Yahudi sebagian besar dipahami melalui lensa pengalamannya selama empat tahun di medan perang, di mana ia membangun dunia pandangan yang melihat konflik dan kekerasan sebagai cara yang sah untuk menyelesaikan masalah politik.

Secara keseluruhan, layanan Hitler di resimen Bavaria adalah babak fundamental yang tidak dapat dipisahkan dari kebangkitannya menjadi diktator. Perang memberinya rasa memiliki dan tujuan yang tidak pernah ia temukan dalam kehidupan sipil sebelumnya, dan ia memelihara kenangan akan persaudaraan senjatanya dengan sangat sentimental hingga akhir hayatnya, sering kali lebih menyukai foto-foto lamanya saat memakai seragai abu-abu lapangan daripada foto-foto resminya sebagai Kanselir atau Führer. Meskipun ia tidak pernah naik pangkat di atas kopral karena dianggap tidak memiliki kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk menjadi perwira oleh atasannya pada masa itu, pengalaman konkret di medan tempur, penghargaan yang ia terima, dan trauma kekalahan adalah elemen-elemen yang ia eksploitasi secara efektif untuk membangun citra dirinya sebagai seorang pahlawan perang rakyat yang memahami penderitaan prajurit biasa. Tanpa pengalaman tranformatif namun tragis ini, sangat mustahil Hitler akan memiliki legitimasi moral di mata pengikutnya untuk memimpin Jerman menuju jalur destruktif yang terjadi di kemudian hari.



Sumber :
Kershaw, Ian. *Hitler: 1889–1936 Hubris*. New York: W. W. Norton & Company, 1999.
Evans, Richard J. *The Coming of the Third Reich*. New York: Penguin Press, 2004.
Weber, Thomas. *Hitler's First War: Adolf Hitler, the Men of the List Regiment, and the First World War*. Oxford: Oxford University Press, 2010.
Fest, Joachim C. *Hitler*. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974.
United States Holocaust Memorial Museum. "Adolf Hitler: Early Years." Diakses melalui encyclopedia.ushmm.org.
History.com Editors. "Adolf Hitler." History.com, A&E Television Networks.
Deutsche Welle. "The making of Adolf Hitler: How World War I created a dictator." dw.com.
Britannica, The Editors of Encyclopaedia. "Adolf Hitler." Encyclopædia Britannica.

Kisah Seorang Prajurit Inggris yang Menyelamatkan Hitler Muda


Salah satu cerita yang paling menggugah dan penuh ironi dalam sejarah modern adalah kisah pertemuan antara seorang prajurit Inggris bernama Henry Tandey dengan Adolf Hitler, yang konon terjadi di tengah hiruk pikuk pertempuran Perang Dunia I. Kisah ini menjadi legenda karena melibatkan keputusan moral sesaat yang diyakini telah mengubah arah sejarah dunia secara drastis. Henry Tandey, seorang tentara Inggris yang bertugas di Resimen Duke of Wellington's, dikenal sebagai pahlawan perang yang sangat berani, namun namanya justru lebih sering dikenang karena klaim bahwa ia pernah menyelamatkan nyawa seorang kopral Jerman yang kelak menjadi diktator paling kejam di dunia. Narasi ini menyajikan paradoks yang menyakitkan: bagaimana satu tindakan kemanusiaan di medan perang dapat secara tidak langsung mengizinkan lahirnya penderitaan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Henry Tandey bukanlah tentara biasa; ia adalah salah satu prajurit Inggris yang paling banyak mendapatkan penghargaan militer selama Perang Dunia I. Ia dianugerahi Victoria Cross, penghargaan militer tertinggi di Inggris, karena keberaniannya yang luar biasa saat Pertempuran Canal du Nord pada tahun 1918. Selain Victoria Cross, ia juga menerima Distinguished Conduct Medal dan Military Medal, menjadikannya satu-satunya prajurit Inggris yang mengumpulkan tiga penghargaan tertinggi ini selama perang tersebut berlangsung. Reputasinya sebagai seorang pejuang yang tangguh dan penuh keberanian menjadikan kisah tentang "pengampunan" yang ia berikan kepada musuhnya semakin menarik untuk disoroti, karena menunjukkan sisi lembut dari seorang prajurit garis depan yang keras.

Insiden yang menjadi titik tolak legenda ini terjadi pada tanggal 28 September 1918, di sebuah desa kecil bernama Marcoing, Prancis. Dalam situasi kacau saat pasukan Jerman terdesak dan sedang melakukan retret, Tandey menemukan dirinya berhadapan langsung dengan seorang prajurit Jerman yang terluka. Menurut versi cerita yang berkembang, prajurit Jerman tersebut terjebak dalam jangkauan tembakan Tandey dan tampak tidak berdaya. Tandey, yang merasa tidak etis untuk menembak seorang musuh yang sedang terluka dan tidak bersenjata, memilih untuk menurunkan senjatanya dan memberi isyarat agar prajurit tersebut pergi.

Prajurit Jerman itu, yang kemudian diyakini kuat sebagai Adolf Hitler, mengangguk tanda terima kasih kepada Tandey sebelum berbalik dan berlari meninggalkan medan pertempuran. Saat itu, Hitler hanyalah seorang kopral rendahan yang bertugas sebagai *Gefreiter* dalam Resimen Infanteri Cadangan Bavaria ke-16. Tidak ada bukti tertulis langsung pada saat itu yang mengonfirmasi identitas prajurit tersebut, namun cerita ini mendapatkan validitas dua dekade kemudian melalui pengakuan Hitler sendiri yang mengejutkan. Hitler mengklaim bahwa ia adalah orang yang diselamatkan oleh prajurit Inggris penerima Victoria Cross itu.

Kisah ini kembali ke permukaan pada tahun 1938, menjelang pecahnya Perang Dunia II, ketika Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain berkunjung ke Jerman untuk melakukan negosiasi damai dengan Hitler. Dalam percakapan di beranda kediaman Hitler di Berchtesgaden, Hitler dilaporkan menunjuk ke sebuah lukisan reproduksi yang menggantung di dindingnya. Lukisan tersebut, yang dibuat oleh seniman Italia Fortunino Matania, menggambarkan adegan Pertempuran Menin Road Cross dan menampilkan Henry Tandey sedang menggendong seorang tentara terluka.

Hitler kemudian menceritakan kepada Chamberlain bahwa wajah pria dalam lukisan itu sangat dikenalnya. Ia berkata bahwa pria itulah yang pernah membesut senjatanya dan membiarkannya hidup di Marcoing pada tahun 1918. Chamberlain, yang terkejut dengan pengakuan tersebut, kembali ke Inggris dan menghubungi Tandey melalui telepon untuk mengonfirmasi cerita itu. Saat itulah Henry Tandey pertama kali mendengar bahwa tindakan kemanusiaannya di masa lalu telah menyelamatkan nyawa seorang pria yang kini menjadi ancaman bagi perdamaian dunia.

Meskipun kisah ini telah diulang berkali-kali dalam berbagai literatur sejarah, kebenaran mutlaknya masih menjadi perdebatan sengit di kalangan sejarawan. Beberapa pakar sejarah militer menunjukkan bahwa ada inkonsistensi dalam catatan waktu dan lokasi. Hitler mengklaim ia diselamatkan di Marcoing pada 28 September 1918, namun ada catatan lain yang menyatakan resimen Hitler sedang berada di lokasi yang berbeda atau sedang beristirahat pada tanggal tersebut. Namun, pendukung teori ini berpendapat bahwa dalam kekacauan perang, catatan lokasi sering kali tidak akurat, dan Hitler sendiri tidak memiliki alasan untuk mengarang kisah yang membuat hidupnya berutang nyawa kepada seorang musuh.

Dr. David Johnson, seorang sejarawan yang menulis biografi Henry Tandey berjudul *The Man Who Did Not Shoot Hitler*, melakukan investigasi mendalam mengenai klaim ini. Ia menemukan bahwa meskipun bukti fisik seperti foto tidak ada, korespondensi antara Chamberlain dan Tandey, serta keberadaan lukisan tersebut di koleksi Hitler, memberikan bobot yang signifikan pada kebenaran cerita itu. Johnson menyimpulkan bahwa sangat mungkin Hitler memang salah satu prajurit Jerman yang lolos dari bidikan Tandey hari itu, meski detail pastinya mungkin sudah dikaburkan oleh waktu dan memori yang tidak sempurna.

Bagi Henry Tandey, pengakuan bahwa ia pernah menyelamatkan Hitler menjadi beban moral yang sangat berat hingga akhir hayatnya. Setelah Perang Dunia II usai dan kekejaman Holocaust terungkap ke seluruh dunia, Tandey dilanda penyesalan mendalam. Dalam sebuah wawancara menjelang kematiannya, ia mengungkapkan perasaannya yang terluka karena tindakan kemanusiaannya telah memungkinkan terjadinya kekejaman massal. Ia menyesali keputusannya untuk tidak menembak Hitler, meskipun saat itu ia bertindak berdasarkan standar moral seorang prajurit yang beradab.

Ironi tragedi ini terletak pada kontras antara reputasi Tandey sebagai pahlawan perang dan dampak tak terduga dari satu tindakan belas kasihannya. Henry Tandey wafat pada tahun 1977 dalam usia 86 tahun, membawa serta kepedihan akan ironi nasibnya. Kisahnya menjadi monumen yang mengingatkan dunia akan kompleksitas perang dan konsekuensi yang tidak terduga dari setiap keputusan manusia. Kisah Tandey dan Hitler menunjukkan bahwa dalam sejarah, momen-momen kecil dapat memiliki akibat yang sangat besar.



Sumber :
Sumber data dalam penulisan artikel ini meliputi buku karya David Johnson berjudul *The Man Who Did Not Shoot Hitler: The Story of Henry Tandey VC DCM MM* (Merrien Publications, 2008) yang memberikan analisis rinci mengenai biografi Henry Tandey dan validitas klaim pertemuan tersebut. Informasi tambahan diperoleh dari buku *A History of the 9th (Service) Battalion, Duke of Wellington's Regiment* yang merekam tindakan heroik Tandey di Marcoing. Selain itu, arsip surat kabar *The Telegraph* dan situs web *History Hit* serta *BBC News* menyediakan laporan investigatif dan wawancara yang mengkonfirmasi percakapan antara Neville Chamberlain dengan Hitler mengenai lukisan Fortunino Matania, serta reaksi Henry Tandey terhadap pengakuan tersebut.

Eduard Bloch, Dokter Yahudi Hitler


Di tengah sejarah kelam Holokaus dan kebencian mendalam Adolf Hitler terhadap ras Yahudi, terdapat satu sosok yang menonjol sebagai anomali yang mencengangkan, yaitu Dr. Eduard Bloch. Pria ini adalah seorang dokter Yahudi yang tidak hanya merawat keluarga Hitler di kota Linz, Austria, tetapi juga secara paradoksal menikmati perlindungan khusus dari rezim Nazi yang dahsyat. Hubungan antara Hitler dan Bloch merupakan bukti kompleks bahwa meski seorang diktator yang kejam, Hitler tetap mempertahankan kemampuan untuk berbelas kasihan secara selektif, terutama kepada mereka yang ia anggap telah berjasa kepadanya secara personal. Kisah Dr. Bloch menawarkan perspektif yang jarang digali mengenai sisi manusiawi—atau setidaknya sentimentalisme—dari seorang yang bertanggung jawab atas kematian jutaan manusia.

Hubungan profesional antara Dr. Eduard Bloch dengan keluarga Hitler bermula jauh sebelum Hitler menjadi pemimpin Jerman, tepatnya ketika keluarga itu tinggal di Linz. Bloch pertama kali merawat Adolf Hitler ketika ia masih remaja, dan kemudian yang lebih signifikan, merawat ibu Hitler, Klara Hitler, saat ia menderita penyakit kanker payudara yang mematikan pada tahun 1907. Pada era itu, prosedur medis untuk kanker sangat menyakitkan dan invasif, namun Bloch melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi. Hitler, yang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan ibunya, menyaksikan langsung upaya maksimal yang dilakukan oleh dokter Yahudi tersebut untuk menyelamatkan nyawa Klara, meskipun pada akhirnya upaya tersebut gagal.

Kepergian Klara Hitler pada tanggal 21 Desember 1907 menjadi trauma besar bagi Adolf Hitler, namun mengejutkannya, ia tidak menyalahkan Dr. Bloch atas kematian ibunya. Justru, Hitler mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Bloch karena telah meringankan penderitaan ibunya di saat-saat terakhir. Dalam sebuah peristiwa yang langka, Hitler diketahui memberikan hadiah berupa vas bunga besar kepada keluarga Bloch sebagai tanda penghargaan, sebuah gestur yang sangat bertentangan dengan ideologi anti-Semit yang ia promosikan di kemudian hari. Bloch menggambarkan Hitler muda sebagai sosok yang santun dan patuh, "anak yang berbakti" yang air matanya mengalir deras saat ibunya meninggal, sebuah kontras tajam dengan citra "Führer" yang kejam di masa depan.

Setelah Perang Dunia I usai dan Hitler mulai mendekati kekuasaan, situasi politik di Eropa berubah drastis, namun memori Hitler tentang Dr. Bloch tetap terjaga. Ketika Jerman menganeksasi Austria dalam peristiwa *Anschluss* pada tahun 1938, nasib kaum Yahudi di Austria berada di ujung tanduk, menghadapi penyiksaan dan penghilangan secara sistematis oleh Gestapo. Namun, Dr. Bloch mendapatkan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Yahudi lainnya. Hitler secara eksplisit memberikan instruksi kepada otoritas lokal di Linz bahwa keluarga Bloch tidak boleh diganggu, sebuah keputusan yang menyelamatkan nyawa dokter tersebut dan istrinya dari teror malam *Kristallnacht* dan deportasi awal.

Perlindungan yang diberikan Hitler kepada Dr. Bloch bukanlah sekadar toleransi pasif, melainkan jaminan keamanan aktif yang melibatkan birokrasi Nazi. Ketika Bloch menghadapi tekanan dan diskriminasi ekonomi yang dialami oleh semua Yahudi, ia berani menulis surat langsung kepada Hitler di Berlin. Surat tersebut meminta bantuan, dan responsnya sangat cepat. Kantor Hitler mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa Bloch adalah "seorang Yahudi yang istimewa" atau *Ehrenarier* (Aria kehormatan) dalam praktiknya, meskipun istilah resminya adalah perlindungan pribadi. Gestapo diperintahkan untuk menempatkan plakat khusus di rumah Bloch yang melarang siapa pun mengganggu penghuninya, membuat rumah tersebut menjadi oasis keamanan di tengah lautan teror anti-Yahudi.

Meskipun mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik, Dr. Bloch dan istrinya tetap tidak kebal terhadap tekanan sosial dan pembatasan gerak yang diberlakukan oleh rezim. Bloch kehilangan pasien non-Yahudi dan hak praktiknya semakin dibatasi seiring berjalannya waktu. Menyadari bahwa situasi di Eropa semakin membahayakan, Bloch sekali lagi menggunakan hubungan lamanya dengan Hitler untuk memohon izin emigrasi. Pada tahun 1940, ketika pintu keluar Eropa sudah nyaris tertutup rapat bagi orang Yahudi, Hitler kembali mengabulkan permintaan tersebut. Bloch dan istrinya diizinkan untuk menjual rumah mereka dengan harga yang wajar dan meninggalkan Austria menuju Amerika Serikat, sebuah kemungkinan yang hampir mustahil bagi Yahudi lain pada saat itu.

Setelah bermukim di Bronx, New York, Dr. Eduard Bloch hidup dalam pengasingan namun tetap menjadi saksi sejarah yang unik. Ia memberikan berbagai wawancara kepada media Amerika dan dinas intelijen Sekutu, mengungkapkan sisi personal dari masa kecil Hitler. Bloch menolak mitos bahwa kebencian Hitler terhadap Yahudi berasal dari kematian ibunya atau praktik medisnya, dengan tegas menyatakan bahwa Hitler muda tidak menunjukkan tanda-tanda anti-Semitisme saat itu. Analisis Bloch memberikan kontribusi penting bagi para sejarawan untuk memahami bahwa kebencian Hitler adalah produk dari perkembangan politik pasca-perang, bukan trauma masa kecil, meskipun teori ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi hingga kini.

Ironi paling besar dalam kisah ini terletak pada fakta bahwa sementara Hitler menyelamatkan nyawa satu orang Yahudi yang pernah menolong ibunya, ia dengan dingin memerintahkan pemusnahan sistematis jutaan orang Yahudi lainnya, termasuk ribuan dokter dan profesional medis. Tindakan Hitler terhadap Bloch sering dikutip oleh psikolog dan sejarawan sebagai bukti "psikopati sadis" atau kemampuan psikopat untuk memisahkan emosi pribadi dari kebrutalan ideologis. Hitler mampu menghargai Bloch sebagai individu, namun secara bersamaan mendemonisikan ras Bloch secara keseluruhan sebagai musuh negara, menunjukkan betapa terpecahnya moralitas dari seorang diktator totaliter.

Dr. Eduard Bloch menghabiskan sisa hidupnya di Amerika Serikat hingga ia wafat pada tahun 1945 di usia 73 tahun, hanya beberapa bulan setelah bunuh dirinya Hitler di bunker Berlin. Kisah hidupnya berakhir di tempat yang jauh berbeda dari nasib kebanyakan korban Holokaus di Eropa. Ia meninggal dengan membawa rahasia interaksi pribadinya dengan salah satu manusia paling kejam dalam sejarah, meninggalkan warisan tertulis yang menjadi sumber primer penting. Rumahnya di Linz yang pernah dilindungi oleh plakat Hitler kini menjadi bagian dari sejarah pinggiran yang mengingatkan dunia akan kompleksitas dinamika pelaku dan korban.



Sumber:
Wawancara asli Dr. Eduard Bloch yang dipublikasikan dalam majalah "Collier's" edisi 15 Maret 1941 berjudul "My Patient Hitler"
"Hitler: 1889–1936 Hubris" karya Ian Kershaw
"Explaining Hitler: The Search for the Origins of His Evil" karya Ron Rosenbaum
www.ushmm.org

Saturday, April 25, 2026

Masa Penahanan Hitler di Penjara Landsberg (1924)


Pada tanggal 8 November 1923, Adolf Hitler bersama sekelompok kecil pengikut Nazi mencoba melakukan kudeta yang dikenal sebagai Beer Hall Putsch di Munich, yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintah Bayern dan kemudian pemerintah pusat Jerman di Berlin. Upaya kudeta tersebut berakhir dengan kegagalan total setelah polisi Bayern membubarkan parade militer para pemberontak pada keesokan harinya, mengakibatkan kematian enam belas anggota partai Nazi dan empat petugas polisi. Setelah peristiwa tersebut, Hitler melarikan diri namun akhirnya ditangkap dua hari kemudian pada tanggal 11 November 1923 di tempat persembunyiannya di villa Hanfstaengl di Uffing. Penangkapan ini menandai dimulainya babak baru dalam kehidupan Hitler yang akan mengubah nasib Partai Nazi dari sekadar kelompok radikal pinggiran menjadi kekuatan politik utama di Jerman.

Proses pengadilan Hitler berlangsung dari bulan Februari hingga April 1924, yang secara tidak sengaja memberinya panggung publik yang sangat luas untuk menyebarkan ide-idenya. Alih-alih membantah tuduhan, Hitler menggunakan pengadilan sebagai ajang propaganda dengan mengakui sepenuhnya tindakannya dan menyerang pemerintah Weimar yang ia sebut pengkhianat. Akibatnya, meskipun ia terbukti bersalah atas pengkhianatan tingkat tinggi, pengadilan yang terdiri dari hakim-hakim yang bersimpati pada pandangan nasionalisnya menjatuhkan hukuman yang sangat ringan, yaitu lima tahun penjara dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah enam bulan. Hukuman ini dianggap sangat ringan mengingat hukuman minimum untuk pengkhianatan adalah lima tahun dan pemerintah Bayern menuntut hukuman delapan tahun, yang menunjukkan betapa lemahnya sistem peradilan Jerman saat itu dalam menghadapi ancaman sayap kanan ekstrem.

Hitler menjalani hukumannya di Benteng Landsberg (Festungshaft), sebuah penjara yang terletak di sebelah barat daya Munich, yang secara tradisional digunakan untuk menahan tahanan politik dan orang-orang terhormat. Berbeda dengan sel penjara biasa yang gelap dan lembab, kondisi di Landsberg sangat nyaman dan lebih menyerupai hotel atau tempat peristirahatan daripada lembaga pemasyarakatan. Hitler ditempatkan di sel yang besar dan terang dengan pemandangan taman, dilengkapi dengan tempat tidur yang nyaman, meja tulis, dan kursi, yang memungkinkannya untuk menerima pengunjung secara teratur dan menjalankan aktivitas politiknya dari balik jeruji besi. Kondisi ini memungkinkannya untuk merencanakan kembali strategi politiknya dengan tenang tanpa tekanan fisik yang biasa dialami oleh tahanan kriminal biasa.

Selama masa tahanannya, Hitler dikelilingi oleh para loyalis Partai Nazi yang juga terlibat dalam kudeta yang gagal tersebut, termasuk sekretaris pribadinya Rudolf Hess, Emil Maurice, dan Hermann Kriebel. Mereka membentuk semacam komunitas eksklusif di mana Hitler diperlakukan seperti seorang pemimpin yang diagungkan, bukan seperti seorang tahanan. Mereka mengatur jadwal rapat harian, mendiskusikan politik, dan bahkan mengadakan perayaan festival tradisional Jerman di dalam penjara. Pengawal penjara dan pejabat setempat juga memperlakukan Hitler dengan hormat, sering kali memanggilnya "Herr Hitler" dan memberikan hak istimewa khusus, yang mencerminkan simpati masyarakat Bayern terhadap gerakan nasionalis anti-demokrasi saat itu.

Salah satu pencapaian paling signifikan yang lahir dari masa tahanan Hitler adalah penulisan buku yang berjudul "Mein Kampf" (Perjuangan Saya). Awalnya, buku ini diberi judul panjang "Empat Setengah Tahun Perjuangan Melawan Kebodohan, Kebohongan, dan Kepengecutan", namun kemudian dipendekan atas saran penerbitnya. Hitler mendiktekan isi buku tersebut kepada Rudolf Hess yang bertindak sebagai pencatat, menggunakan mesin ketik dan kertas yang disuplai secara khusus untuk mereka. Buku ini menjadi manifesto politik Hitler yang menguraikan otobiografinya, ideologi rasial Aryan, kebencian terhadap Yahudi, dan visi besar Jerman untuk mendapatkan "Lebensraum" atau ruang hidup di Eropa Timur.

Pengalaman di Landsberg tidak hanya menghasilkan sebuah buku, tetapi juga menjadi titik balik yang krusial bagi perubahan strategi politik Hitler. Sebelum kudeta 1923, Hitler percaya bahwa satu-satunya cara untuk merebut kekuasaan adalah melalui revolusi kekerasan dan kudeta militer. Namun, kegagalan Beer Hall Putsch dan refleksinya di penjara meyakinkannya bahwa ia harus mengubah taktiknya. Ia menyadari bahwa menghancurkan struktur kekuasaan melalui kekerasan adalah mustahil jika tidak didukung oleh militer reguler, oleh karena itu ia memutuskan untuk menggunakan jalur legal dan demokrasi untuk meraih kekuasaan dari dalam sistem itu sendiri.

Perubahan strategi ini sering disebut sebagai momen "legalitas" dalam sejarah gerakan Nazi. Hitler menyimpulkan bahwa Partai Nazi harus menjadi partai politik massal yang berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk mendapatkan dukungan rakyat dan kursi di parlemen. Ia merencanakan untuk menghancurkan demokrasi Weimar dengan menggunakan alat-alat demokrasi itu sendiri. Pemikiran ini dicatat dalam buku harian pribadinya dan didiskusikan secara intensif dengan pengikutnya di Landsberg, yang kemudian menjadi cetak biru bagi kampanye politik partai Nazi pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an hingga akhirnya berhasil merebut kekuasaan pada tahun 1933.

Selama kurang lebih sembilan bulan masa tahanannya, reputasi Hitler justru meningkat secara drastis berkat publisitas yang dihasilkan dari persidangannya yang sensasional. Media massa Jerman memberitakan setiap ucapan dan pidatonya di pengadilan, menjadikannya sosok yang dikenal secara nasional, bukan hanya sekadar tokoh lokal di Bayern. Ia memposisikan dirinya sebagai martir yang berkorban demi kejayaan Jerman, sebuah narasi yang sangat kuat di tengah krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik Republik Weimar. Para pengunjung yang berbondong-bondong datang ke Landsberg untuk menyambanginya memperkuat kultus kepribadian yang mulai terbentuk di sekitar dirinya.

Hitir akhirnya dibebas dari Benteng Landsberg pada tanggal 20 Desember 1924, hanya sembilan bulan setelah ia ditahan, berkat pengampunan yang diberikan oleh pemerintah Bayern. Para hakim dan otoritas penjara merekomendasikan pembebasannya dengan alasan bahwa ia telah menunjukkan perilaku yang baik dan memiliki potensi untuk menjadi warga negara yang bermanfaat bagi negara, sebuah penilaian yang terbukti sangat keliru sejarah. Saat ia melangkah keluar dari gerbang penjara, ia disambut oleh kerumunan pendukung dan fotografer, siap untuk memulai kembali perjuangan politiknya dengan strategi baru yang lebih terorganisir dan berbahaya.

Masa tahanan Hitler di Landsberg sering disebut oleh para sejarawan sebagai "universitas dengan beasiswa penuh pemerintah" karena memberinya waktu untuk berpikir, menulis, dan menyusun ulang strategi tanpa gangguan. Alih-alih menghancurkan karir politiknya, hukuman penjara justru menyatukan partainya, memperjelas ideologinya melalui Mein Kampf, dan meluncurkan dirinya ke panggung nasional. Tanpa pengalaman di Landsberg dan waktu luang yang diberikan kepadanya untuk merenungkan kegagalan kudeta, kemunculan Partai Nazi sebagai penguasa Jerman mungkin tidak akan terjadi dengan cara yang sama, menjadikan periode ini sebagai salah satu momen paling menentukan dalam sejarah abad ke-20.



Sumber :
Kershaw, Ian. *Hitler: A Biography*. New York: W. W. Norton & Company, 2008.
Ullrich, Volker. *Hitler: Ascent 1889-1939*. New York: Knopf, 2016.
Shirer, William L. *The Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany*. New York: Simon & Schuster, 1960.
Fest, Joachim C. *Hitler*. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1974.
Evans, Richard J. *The Coming of the Third Reich*. New York: Penguin Press, 2004.
United States Holocaust Memorial Museum. "Hitler on Trial for the Beer Hall Putsch." *Holocaust Encyclopedia*. https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/hitler-on-trial-for-the-beer-hall-putsch.
History.com Editors. "Adolf Hitler." *History.com*. A&E Television Networks. https://www.history.com/topics/world-war-ii/adolf-hitler.
Britannica, The Editors of Encyclopaedia. "Beer Hall Putsch." *Encyclopaedia Britannica*. https://www.britannica.com/event/Beer-Hall-Putsch.
Jewish Virtual Library. "Hitler's Imprisonment at Landsberg." *American-Israeli Cooperative Enterprise*. https://www.jewishvirtuallibrary.org/hitler-s-imprisonment-at-landsberg.

Pemberontakan Stennes (1930 dan 1931)


Peristiwa yang dikenal sebagai Pemberontakan Stennes atau Stennes-Revolte merupakan salah satu krisis internal paling signifikan yang dihadapi Adolf Hitler dalam upayanya mengonsolidasikan kekuasaan di dalam Partai Nazi sebelum tahun 1933. Konflik ini berpusat pada perseteruan antara sayap paramiliter partai, yaitu Sturmabteilung atau SA, dengan kepemimpinan politik pusat di Munich. Walter Stennes, seorang mantan perwira polisi dan komandan SA di wilayah Jerman Timur, menjadi tokoh utama yang memimpin pembangkangan ini. Ketegangan mulai memuncak pada akhir tahun 1930 dan mencapai puncaknya pada musim semi 1931, mencerminkan keretakan ideologis dan organisasional yang mendalam mengenai arah gerakan Nasional Sosialis.

Akar penyebab pemberontakan ini bersifat struktural dan finansial. SA, yang sebagian besar terdiri dari veteran perang dan pemuda kelas pekerja yang frustrasi secara ekonomi, memandang diri mereka sebagai garda terdepan revolusi fisik. Mereka mengharapkan aksi langsung di jalanan untuk menumbangkan Republik Weimar. Namun, setelah kegagalan Beer Hall Putsch tahun 1923, Hitler beralih ke strategi legalitas, yang menekankan perolehan kekuasaan melalui proses pemilu dan kerja sama dengan elit tradisional. Perubahan strategi ini menciptakan kebencian di kalangan anggota SA yang merasa dikhianati oleh para birokrat partai di Munich yang mereka sebut sebagai orang-orang yang hanya duduk di belakang meja sambil menikmati gaji besar dari iuran anggota.

Pada Agustus 1930, kemarahan Stennes dan anak buahnya meledak untuk pertama kalinya. Mereka menuntut representasi yang lebih besar dalam daftar kandidat partai untuk pemilihan Reichstag dan bantuan keuangan yang lebih baik bagi anggota SA yang hidup dalam kemiskinan. Ketika tuntutan ini diabaikan oleh Joseph Goebbels, yang saat itu menjabat sebagai Gauleiter Berlin, anggota SA menolak untuk menjaga pertemuan partai dan bahkan menyerang kantor surat kabar Der Angriff di Berlin. Hitler terpaksa turun tangan secara pribadi, melakukan perjalanan dari Munich ke Berlin untuk berbicara langsung dengan para pengikutnya. Dengan retorika yang emosional dan janji peningkatan dana, Hitler berhasil meredakan situasi sementara, namun perselisihan fundamental mengenai kontrol organisasi tetap tidak terselesaikan.

Memasuki tahun 1931, ketegangan kembali meruncing setelah Hitler mengeluarkan dekrit yang menuntut kepatuhan mutlak SA kepada kepemimpinan politik partai. Walter Stennes memandang hal ini sebagai upaya untuk menjinakkan SA dan mengubahnya menjadi sekadar alat dekoratif politik. Pada tanggal 1 April 1931, Stennes secara resmi melancarkan pemberontakan terbuka. Anak buahnya kembali menduduki kantor-kantor partai di Berlin dan menyebarkan pamflet yang menuduh Hitler telah meninggalkan semangat revolusioner Nasional Sosialis demi ambisi pribadi. Stennes mencoba memposisikan dirinya sebagai penjaga murni ideologi partai yang anti-kapitalis dan militan.

Tanggapan Hitler kali ini jauh lebih keras dan tegas. Ia segera memecat Stennes dari posisinya dan menunjuk Ernst Röhm sebagai Kepala Staf SA dengan tugas khusus untuk melakukan pembersihan dan restrukturisasi. Hitler menggunakan pengaruhnya atas sumber daya keuangan partai untuk memutus aliran dana bagi unit-unit SA yang membangkang. Tanpa dukungan finansial dan logistik dari struktur pusat partai, pemberontakan Stennes kehilangan momentum dengan cepat. Sebagian besar anggota SA yang awalnya mendukung Stennes akhirnya kembali menyatakan kesetiaan kepada Hitler karena mereka tidak memiliki alternatif organisasi yang layak.

Dampak dari Pemberontakan Stennes sangat menentukan bagi sejarah internal Partai Nazi. Peristiwa ini mempercepat transformasi SA dari sebuah milisi yang relatif otonom menjadi organisasi yang lebih tersentralisasi di bawah kendali Hitler, meskipun benih-benih konflik antara kepemimpinan politik dan SA tetap ada hingga akhirnya diselesaikan secara brutal melalui Malam Pisau Panjang pada tahun 1934. Kegagalan Stennes membuktikan bahwa karisma Hitler dan kontrolnya terhadap keuangan partai adalah pilar utama yang tidak dapat digoyahkan oleh pembangkangan internal dari bawah. Stennes sendiri akhirnya meninggalkan Jerman dan bekerja sebagai penasihat militer untuk Chiang Kai-shek di Tiongkok, menjauh dari pusaran politik Eropa yang pernah ia guncang.



Sumber:
Peter Longerich, Hitler: A Biography, Oxford University Press, 2019.
Ian Kershaw, Hitler: 1889-1936 Hubris, W. W. Norton & Company, 1998.
Richard J. Evans, The Coming of the Third Reich, Penguin Books, 2003.
Conan Fischer, The Rise of the Nazis, Manchester University Press, 1995.
Bruce Campbell, The SA Generals and the Rise of Nazism, University Press of Kentucky, 1998.
Britannica (britannica.com), artikel mengenai Sturmabteilung dan sejarah awal NSDAP.
Holocaust Encyclopedia dari United States Holocaust Memorial Museum (ushmm.org), bagian mengenai naiknya kekuasaan Nazi.
German History in Documents and Images (germanhistorydocs.ghi-dc.org), arsip mengenai krisis internal Republik Weimar.
Archive.org, koleksi dokumen digital mengenai tulisan-tulisan politik Walter Stennes.

Wednesday, August 24, 2022

Charakterisierte Generale (Charakter als / Char.) / Jenderal Kehormatan (1933-1940)


Char. Generalmajor Bernhard Schwertfeger, dipromosikan pada tanggal 27 Agustus 1939


Oleh: Alif Rafik Khan

Bila seorang perwira Angkatan Bersenjata Jerman mempunyai embel-embel "Charakterisierter Dienstgrad" (Pangkat Kehormatan) di depan namanya, maka artinya dia diperbolehkan untuk menyandang pangkat baru tersebut- juga mengenakan seragam serta insignia yang berkaitan dengannya - tapi tidak mendapatkan gaji lebih tinggi dari pangkat aktif terakhir yang disandangnya.

Biasanya pangkat seperti ini diberikan karena dua hal:
1. Sebagai sebuah kehormatan untuk para perwira tua yang telah purna tugas dengan catatan yang baik. Biasanya pangkat kehormatannya langsung diberikan di hari dia pensiun dari dinas militer atau, dalam beberapa kasus tertentu, berbulan-bulan setelahnya. Pangkat kehormatan selalu lebih tinggi satu tingkat dari pangkat aktif terakhir yang disandang si perwira. Pengecualian hanya untuk satu orang: Panglima Luftwaffe Hermann Göring, yang pensiun dengan pangkat "Hauptmann" (Kapten) di akhir Perang Dunia Pertama, tapi mendapatkan pangkat kehormatan "Charakter als Generalmajor der Infanterie" pada tahun 1933 (dengan melewati pangkat Major, Oberstleutnant dan Oberst)!
2. Bila si perwira telah dianggap layak untuk dipromosikan (misalnya, dia telah menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dibebankan ke orang yang berpangkat lebih tinggi dari pangkatnya saat itu), tapi belum ada "Planstelle" (posisi lowong) yang tersedia.

Pada tanggal 4 Desember 1940, penggunaan charakterisierte Dienstgrade dihapuskan "sampai perang berakhir".


Charakterisierte Generale (1933)

Char. Generale
01.02.1933 Hilmar Ritter von Mittelberger (Inf)
01.10.1933 Erich Freiherr von dem Bussche-Ippenburg (Art)
01.10.1933 Curt-Ludwig Freiherr von Gienanth (Kav)

Char. Generalleutnante
01.02.1933 Otto Bitthorn
01.02.1933 Karl-Ulrich Neumann-Neurode
01.02.1933 Karl von Roques
01.02.1933 Ulrich von Waldow
01.02.1933 Bodo von Witzendorff
01.10.1933 Oskar Schellbach

Char. Generalmajore
01.02.1933 Ferdinand von Bredow
01.02.1933 Theodor Groppe
01.04.1933 Ernst-August Köstring
01.04.1933 Alois Ritter von Molo

Char. Generalveterinär
01.01.1933 Fritz Haase

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1934)

Char. Generale der Infanterie
08.03.1934 Alexander von Falkenhausen
01.10.1934 Wolfgang Fleck

Char. Generalleutnante
01.03.1934 Arthur Boltze
01.04.1934 Hans-Georg von Jagow
01.09.1934 Konrad Stephanus
01.10.1934 Ernst Wendland

Char. Generalmajore
24.03.1934 Erhard Milch
01.04.1934 Paul Gerhardt
01.04.1934 Ernst Schneider
01.10.1934 Oskar von Beneckendorff und von Hindenburg

Char. Generalstabsarzt
01.10.1934 Edmund Pflugmacher (?)

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1935)

Char. General der Infanterie
25.07.1935 Franz Ritter von Epp

Char. Generalleutnante
01.04.1935 Hermann von Gimborn
01.04.1935 Ernst Schaumburg
03.05.1935 Hugo Schäfer [österr. Titular-FML, später z.V. in der Wehrmacht]
03.05.1935 Karl Tarbuk Edler von Sensenhorst [österr. Titular-FML, später z.V. in der Wehrmacht]
01.07.1935 Fritz von der Lippe
01.09.1935 Heinrich Doehla
01.10.1935 Ernst Sachs

Char. Generalstabsarzt
01.01.1935 Richard Brekle

Char. Generalmajore
01.04.1935 Theobald Graf von Seherr-Thoß
01.06.1935 Ernst Goettke
01.06.1935 Kurt Sieglin
01.07.1935 Eberhardt Bohnstedt
01.07.1935 Karl Zwengauer
25.07.1935 Friedrich Haselmayr
01.10.1935 Erich von Keiser
01.11.1935 Hilmar Moser
01.12.1935 Hans Lohmann

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1936)

Char. Generale
01.04.1936 Friedrich-Wilhelm Brandt (Inf)
01.05.1936 Hugo Grimme (Art)

Char. Generalleutnante
01.01.1936 Robert Praetorius
01.10.1936 Arthur Schwarznecker

Char. Generalstabsarzt
01.04.1936 Karl Kersting

Char. Generalmajore
01.04.1936 Gerhard Dohne
01.04.1936 Hans von Kempski
01.04.1936 Joachim Peltz
14.05.1936 Konstantin Hierl
14.05.1936 Adolf Hühnlein
01.08.1936 Hermann Leythäuser
01.10.1936 Engelbert von Morsbach

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1937)

Char. Generale
01.10.1937 Ernst Feßmann (Pz)
01.11.1937 Herbert Fischer (Inf)

Char. Generalleutnante
01.04.1937 Ferdinand Bock von Wülfingen
01.04.1937 Georg Kühn
01.04.1937 Kurt Müller
01.04.1937 Georg Poten
01.04.1937 Karl Rudolph
01.04.1937 Konrad Sorsche
01.05.1937 Hans Lieber
01.08.1937 Otto Schünemann
01.10.1937 George von dem Knesebeck
01.10.1937 Rudolf Lüters
01.10.1937 Bernhard Rust

Char. Generalstabsveterinär
01.10.1937 Albert Thieme

Char. Generalmajore
28.02.1937 August Schmidt Edler von Luisingen [österr. Titular-GM, später z.V. in der Wehrmacht]
16.04.1937 Johann-Georg Hofmann
01.10.1937 Moritz Andreas
01.10.1937 Walter Friedrichs
01.10.1937 Bruno Edler von Kiesling auf Kieslingstein
01.10.1937 Eduard Klutmann
01.10.1937 Alfred Kurz
01.10.1937 Albert Most
01.10.1937 Wolfgang von Otterstedt
01.10.1937 Georg von Prondzynski
01.10.1937 Hans Schönhärl
01.10.1937 Hans Stengel
01.10.1937 Waldemar Graf von Stillfried und Rattonitz
01.10.1937 Paul Voit
01.10.1937 Otto Wolters

Char. Generalarzt
01.06.1937 Rudolf Langenhahn

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1938)

Char. Generalobersten
01.03.1938 Wilhelm Ritter von Leeb
01.11.1938 Ludwig Beck

Char. Generale
01.03.1938 Friedrich von Cochenhausen (Art)
01.03.1938 Günther von Niebelschütz (Inf)
25.03.1938 Wolfgang Muff (Inf)
01.04.1938 Friedrich Graf von der Schulenburg (Kav)
01.07.1938 Friedrich Roese (Inf)
01.12.1938 Erich Kühlenthal (Art)

Char. Generalleutnante
01.02.1938 Heinrich Niehoff [WL, später z.V. im Heer]
01.02.1938 Gustav Freiherr von Perfall
01.03.1938 Oskar van Ginkel
01.03.1938 Karl Graf
01.03.1938 Richard von Heineccius
01.03.1938 Rudolf Schmetzer
01.04.1938 George Bertram
01.04.1938 Fritz Hengen
01.04.1938 Curt von Krenzki
01.04.1938 Richard Pellengahr
01.04.1938 Alfred von Puttkamer
01.04.1938 Ernst von Reiche
01.04.1938 Maximilian Renz
01.04.1938 Wolfgang Schmidt-Logan
01.06.1938 Otto Gabcke
01.06.1938 Max Pfeffer
01.06.1938 Johann Pflugbeil
01.06.1938 Curt Freiherr Roeder von Diersburg
01.06.1938 Erich Volk
01.08.1938 Friedrich von Brodowski
01.08.1938 Hans Lohmann
01.08.1938 Hans Rühle von Lilienstern
01.08.1938 Karl Zwengauer
01.10.1938 Hans Leykauf
07.11.1938 Hermann Starke

Char. Generalstabsarzt
01.11.1938 Franz Luerßen

Char. Generalmajore
01.01.1938 Jakob Kaspar
26.01.1938 Eugen von Kutzschenbach
01.03.1938 Hans von Voß
22.03.1938 Wilhelm Reinhard
01.04.1938 Rudolf Kiszling
01.06.1938 Wilhelm Drogand
01.06.1938 Hugo Höfl
01.06.1938 Wilhelm Klein
01.06.1938 Oskar Schimpf
01.07.1938 Edmund Glaise von Horstenau
01.07.1938 Friedrich Thon
01.11.1938 Viktor Sore

Char. Generalarzt
01.04.1938 Emil Kröhn

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1939)

Char. Generaloberst
01.01.1939 Wilhelm Adam

Char. Generale
18.03.1939 Wilhelm Reinhard (Inf)
01.07.1939 Karl von Roques (Inf) [WL, später z.V. im Heer]
27.08.1939 Karl Freiherr von Bardolff (Inf)
27.08.1939 Ernst von Below (Inf)
27.08.1939 Hermann von Brandenstein (Inf)
27.08.1939 Anatol Graf von Bredow (Kav)
27.08.1939 Ludwig Breßler (Inf)
27.08.1939 Heinrich von Bünau (Inf)
27.08.1939 Siegfried von la Chevallerie (Art)
27.08.1939 Hermann von Dresler und Scharfenstein (Inf)
27.08.1939 Hugo Elstermann von Elster (Inf)
27.08.1939 Ludwig von Estorff (Inf)
27.08.1939 Günther von Etzel (Kav)
27.08.1939 Bernhard Graf Finck von Finckenstein (Inf)
27.08.1939 Ernst Freiherr von Forstner (Inf)
27.08.1939 Lothar Fritsch (Inf)
27.08.1939 Georg Frotscher (Inf)
27.08.1939 Friedrich von Gontard (Inf)
27.08.1939 Kurt von Greiff (Inf)
27.08.1939 Georg von Heimburg (Art)
27.08.1939 Emil Ilse (Art)
27.08.1939 Ernst Kabisch (Inf)
27.08.1939 Christoph Ritter von Kiefhaber (Inf)
27.08.1939 Konrad Kraehe (Inf)
27.08.1939 Felix Langer (Inf)
27.08.1939 Hans Lepper (Art)
27.08.1939 Paul von Lettow-Vorbeck (Inf)
27.08.1939 Heinrich von Maur (Art)
27.08.1939 Johann Meister (Inf)
27.08.1939 Horst von Metzsch (Art)
27.08.1939 Georg Mühry (Inf)
27.08.1939 Richard Müller (Art)
27.08.1939 Carl Nehbel (Art)
27.08.1939 Hans Petri (Inf)
27.08.1939 Otto Ritter von Rauchenberger (Inf)
27.08.1939 Dietrich von Roeder (Inf)
27.08.1939 Heinrich Schëuch (Inf)
27.08.1939 Walter Freiherr von Schleinitz (Inf)
27.08.1939 Egon Graf von Schmettow (Inf)
27.08.1939 Albrecht Steppuhn (Inf)
27.08.1939 Gerhard Tappen (Art)
27.08.1939 Paul Tiede (Inf)
27.08.1939 Alfred Freiherr von Waldstätten (Inf)
27.08.1939 Alfred Ziethen (Art)
04.10.1939 Eugen Ritter von Clauß (Inf)

Char. Generalleutnante
01.01.1939 Hans Stieler von Heydekampf
01.02.1939 Kurt Agricola
01.03.1939 Werner Pinckvoß
01.03.1939 Karl Sachs
01.03.1939 Richard Speich
01.03.1939 Johannes Zukertort
22.03.1939 Wilhelm Reinhard
01.04.1939 Fritz Büchs
01.04.1939 Max von Hartlieb genannt Walsporn
01.04.1939 Karl Moyses
01.04.1939 Heinrich Stümpfl
01.05.1939 Emil Zimmermann
01.06.1939 Hermann Boettcher
27.08.1939 Erich Böhme
27.08.1939 Otto Freiherr von Brandenstein
27.08.1939 Cordt Freiherr von Brandis
27.08.1939 Bernhard Bronsart von Schellendorff
27.08.1939 Gustav Dammann
27.08.1939 Otto Freiherr von Diepenbroick-Grüter
27.08.1939 Wilhelm von Dommes
27.08.1939 Otto Freiherr Ellison von Nidlef
27.08.1939 Wilhelm Faupel
27.08.1939 August von Goetzen
27.08.1939 Rüdiger Graf von der Goltz
27.08.1939 Erich Gudowius
27.08.1939 Wilhelm Ritter von Haasy
27.08.1939 Heinrich Freiherr von Hadeln
27.08.1939 Siegfried Haenicke
27.08.1939 Fritjof Freiherr von Hammerstein-Gesmold
27.08.1939 Karl Hansen
27.08.1939 Siegfried von Held
27.08.1939 Albert Heuck
27.08.1939 Ernst von Hohnhorst
27.08.1939 Eduard Freiherr von Hospodarz
27.08.1939 Adolf Hüttmann
27.08.1939 Adolf Herrgott
27.08.1939 Georg Johow
27.08.1939 Hans Kloebe
27.08.1939 Paul Krause
27.08.1939 Otto Freiherr von Ledebur
27.08.1939 Ewald von Massow
27.08.1939 Hermann Ritter Mertz von Quirnheim
27.08.1939 Engelbert von Morsbach
27.08.1939 Erich Freiherr von Oldershausen
27.08.1939 Franz Ritter von Peter
27.08.1939 Benno Pflugradt
27.08.1939 Georg Pohlmann
27.08.1939 Theodor Renner
27.08.1939 Karl von Rettberg
27.08.1939 Hans von Rode genannt Diezelsky
27.08.1939 Siegfried Rodig
27.08.1939 Albert Freiherr von Rotberg
27.08.1939 Heinrich Schmedes
27.08.1939 Karl Graf von der Schulenburg-Wolfsburg
27.08.1939 Detloff Graf von Schwerin
27.08.1939 Manfred von Schwerin
27.08.1939 Fritz von Selle
27.08.1939 Alfred Graf von Soden
27.08.1939 Adolf Steinwachs
27.08.1939 Otto Stobbe
27.08.1939 Otto Teschner
27.08.1939 Ernst Thümmel
27.08.1939 Ernst von Uechtritz und Steinkirch
27.08.1939 Walter von Unruh
27.08.1939 Hans von Voß
27.08.1939 Josef von Wächter
27.08.1939 Friedrich-Karl von Witzleben
27.08.1939 Hermann Wülfing
27.08.1939 Georg Zimmermann
01.10.1939 Walter Behschnitt
01.10.1939 Erich Denecke
01.10.1939 Wilhelm Freiherr von Waldenfels
01.11.1939 Paul Gerhardt
01.11.1939 Curt Osterroth
01.11.1939 Heinrich von Schenckendorff
01.11.1939 Magnus von Wedderkop
01.12.1939 Hermann Hoegner
01.12.1939 Hans Mundt

Char. Generalstabsärzte
27.08.1939 Otto Thiele
01.12.1939 Erich Passauer

Char. Generalmajore
01.01.1939 Rudolf Hartmann
01.02.1939 Walter Eckstein
01.02.1939 Karl von Leistner
01.02.1939 Hermann Schaefer
01.04.1939 Carl von Ammon
01.04.1939 Karl Brantner
01.04.1939 Wolfgang von Ditfurth
01.04.1939 Gustav Kohl
01.04.1939 Dietrich von Reinersdorff-Paczensky und Tenczin
01.04.1939 Wilhelm Schwartz
01.04.1939 Alexander Zäpffel
01.05.1939 Heinrich Hoffmann
01.05.1939 Günther Niedenführ
01.06.1939 Eugen Bilharz
01.06.1939 Otto Gullmann
01.06.1939 Friedrich Meyer
01.06.1939 Artur Schmitt
01.06.1939 Johannes Sehmsdorf
27.08.1939 Hugo von Abercron
27.08.1939 Richard d'Alton-Rauch
27.08.1939 Hermann von Balcke
27.08.1939 Gustav von Bartenwerffer
27.08.1939 Gottfried von Barton
27.08.1939 Friedrich Becker
27.08.1939 Waldemar Berka
27.08.1939 Paul Bieß
27.08.1939 Friedrich Ritter von Bogendörfer
27.08.1939 Georg Bruchmüller
27.08.1939 Elimar von Cranach
27.08.1939 Wilhelm von Dücker
27.08.1939 Ralph von Egidy
27.08.1939 Hans-Heydan von Frankenberg und Ludwigsdorf
27.08.1939 Rudolf Frantz
27.08.1939 Ulrich von Germar
27.08.1939 Wilhelm Graf von Gluszewski-Kwilecki
27.08.1939 Wilhelm von Goerne
27.08.1939 Hans von Grothe
27.08.1939 Ernst Gruson
27.08.1939 Gilbert Graf von Hamilton
27.08.1939 Hans-Joachim Haupt
27.08.1939 Oskar von Hofmann
27.08.1939 Friedrich-Franz von Huth
27.08.1939 Ernst Kaether
27.08.1939 Richard von Keiser
27.08.1939 Victor Keller
27.08.1939 Heinrich Kirchheim
27.08.1939 Otto-Quirin Lancelle
27.08.1939 Hermann Ritter von Lenz
27.08.1939 Eckhart von Loeben
27.08.1939 Richard Moeller
27.08.1939 Paul von Mülmann
27.08.1939 Curt von Oesterreich
27.08.1939 Friedrich von Pirscher
27.08.1939 Moritz Rothenbücher
27.08.1939 Werner Schering
27.08.1939 Albert Schoen
27.08.1939 Heinrich von Schuckmann
27.08.1939 Ernst Schütz
27.08.1939 Adolf Schwab
27.08.1939 Oskar Schwerk
27.08.1939 Bernhard Schwertfeger
27.08.1939 Albrecht von Thaer
27.08.1939 Egon Freiherr von Waldstätten
27.08.1939 Hermann Wilck
27.08.1939 Hermann Ziegler
27.08.1939 Max Zunehmer
01.10.1939 Günther von Goeckel
01.10.1939 Wilhelm Oelsner
01.10.1939 Alfred Thomas
01.11.1939 Ernst Buchterkirch
01.11.1939 Kurt Wolff
01.12.1939 Hans-Henning von Alten

Char. Generalärzte
01.03.1939 Arthur Beltinger
27.08.1939 Richard Hamann
27.08.1939 Rudolf von Heuß
27.08.1939 Ernst von Scheurlen

Char. Generalveterinäre
01.06.1939 Josef Pindur
01.09.1939 Karl Berger

---------------------------------------------------------------

Charakterisierte Generale (1940)

Char. Generale
01.04.1940 Friedrich von Boetticher (Art)
27.06.1940 Alfred Streccius (Inf)
01.09.1940 Max Bock (Inf)
01.09.1940 Alfred Boehm-Tettelbach (Inf)
01.09.1940 Georg Brandt (Kav)
01.09.1940 Franz Freiherr von Dalwigk zu Lichtenfels (Kav)
01.09.1940 Hans Feige (Kav)
01.09.1940 Gerhard Glokke (Inf)
01.09.1940 Erich Lüdke (Inf)
01.09.1940 Erwin Oßwald (Inf)
01.09.1940 Paul Otto (Inf)
01.09.1940 Hubert Schaller-Kalide (Inf)
01.09.1940 Max von Schenckendorff (Inf)
01.09.1940 Maximilian Schwandner (Inf)
31.10.1940 Rudolf Müller (Pio)
31.10.1940 Josef Schneider Edler von Manns-Au (Inf)
31.10.1940 Erwin Freiherr Zeidler von Görz (Inf)
01.11.1940 Rudolf Koch-Erpach (Kav)
01.11.1940 Peter Weyer (Art)

Char. Generalleutnante
01.02.1940 Hans von Kempski
01.03.1940 Kurt von Berg
01.03.1940 Kurt Beuttel
01.04.1940 Adolf von Kleist
01.04.1940 Joachim Peltz
01.06.1940 Georg Carp
01.06.1940 Rolf Detmering
01.06.1940 Ludwig Riebesam
01.06.1940 Herbert Stimmel
01.06.1940 Ferdinand von Zepelin
01.07.1940 Erich Bernecker
01.07.1940 Ludwig Ritter von Radlmaier
01.08.1940 Siegmund Freiherr von Schacky auf Schönfeld
01.09.1940 Hermann Kuprion
01.09.1940 Ernst Otto
01.09.1940 Heinrich Strack
01.10.1940 Emil Gunzelmann
01.10.1940 Karl Maderholz
01.10.1940 Ferdinand Pichler
01.10.1940 Heinrich Wintzer
01.11.1940 Friedrich Buschmann
01.11.1940 Bruno Edler von Kiesling auf Kieslingstein
01.11.1940 Karl Mehnert
01.11.1940 Richard Satow
01.12.1940 Walter Schmid-Dankward

Char. Generalstabsarzt
01.08.1940 Willy Zillmer

Char. Generalmajore
01.01.1940 Georg Bamberg
01.03.1940 Heinrich Klein
01.04.1940 Fritz Koreuber
01.04.1940 Fritz Salitter
01.06.1940 Carl Arnold
01.06.1940 Wilhelm Liegmann
01.06.1940 Theodor Schunck
01.07.1940 Reinhold Dahlmann
01.07.1940 Leopold von Reibnitz
01.08.1940 Hans Ehrenberg
01.09.1940 Roman Sohn
24.12.1940 Maximilian-Egon Fürst zu Fürstenberg

---------------------------------------------------------------

Dr.jur. Karl Freiherr von Bardolff (3 September 1865 - 17 Mei 1953)
Charakter als General der Infanterie z.V. (27 Agustus 1939)
Charakter als Generalleutnant z.V. (15 Maret 1938)
Feldmarschall-Leutnant (Austria, 4 Maret 1918)
Generalmajor (Austria, 2 Maret 1915)
Medali tertinggi: Pour le mérite (27 Juli 1917)


Herbert Fischer
(12 Oktober 1882 - 23 Oktober 1939)
Charakter als General der Infanterie (31 Oktober 1937)
Generalleutnant (1 Desember 1935)
Generalmajor (1 April 1934)
Medali tertinggi: Mecidiye Nişanı / Order of the Medjidie (Turki)


Wolfgang Fleck
(16 Mei 1879 - 16 Februari 1939)
Charakter als General der Infanterie (30 September 1934)
Generalleutnant (1 Maret 1930)
Generalmajor (1 Februari 1929)
Medali tertinggi: Ritterkreuz des königlichen Hausordens von Hohenzollern mit Schwertern


Hermann Wilhelm Göring
(12 Januari 1893 - 15 Oktober 1946)
Reichsmarschall
Luftwaffe (19 Juli 1940)
Generalfeldmarschall
Luftwaffe (4 Februari 1938)
Generaloberst
Luftwaffe (20 April 1936)
General der Flieger Luftwaffe (1 Maret 1935)
Charakter als General der Infanterie (31 Agustus 1933)
Medali tertinggi: Pour le mérite (2 Juni 1918), Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (30 September 1939) mit Großkreuz (19 Juli 1940)



Paul Hermann Friedrich Franz von Huth
(28 Februari 1865 - 14 November 1945)
Char. Generalmajor (27 Agustus 1939)
Medali tertinggi: Pour le Mérite (31 Januari 1918)



Rudolf Kiszling
(8 Januari 1882 - 18 Mei 1976)
Heeresarchivdirektor (1939)
Char. Generalmajor (1 April 1938)
Medali tertinggi: 1914 Eisernes Kreuz I.Klasse



Bernhard Heinrich Schwertfeger (23 September 1868 - 13 Januari 1953)
Char. Generalmajor (27 Agustus 1939)
Medali tertinggi: Offizierskreuz des Königlich-Sächsischen Albrechts-Orden mit Schwertern

Johann Otto Lothar Stobbe (20 November 1870 - 6 Januari 1941)
Char. Generalleutnant (27 Agustus 1939)
Char. Generalmajor (31 Januari 1927)
Medali tertinggi: Pour le mérite (6 November 1918)

Wednesday, February 3, 2016

Kisah Perempuan Jerman yang Menjadi Keganasan Tentara Soviet Tahun 1945



Oleh : MF Mukthi

Ruth Schumacher, perempuan Jerman kelahiran 1926, tak kuasa terus memendam perasaan. Setelah puluhan tahun bungkam, dia akhirnya buka suara. Dia merupakan salah satu perempuan Jerman yang diperkosa Tentara Merah tak lama setelah Berlin jatuh ke tangan Uni Soviet pada awal Mei 1945.

“Selama beberapa dekade, sebagian besar perempuan Jerman diam tentang trauma yang mereka alami,” tulis Eric Westervelt dalam “Silence Broken On Red Army Rapes In Germany,” dimuat di laman npr.org.

Kisah Ruth membuka selubung kejahatan perang Tentara Merah Uni Soviet semasa Perang Dunia II. Selain dari diamnya para penyintas, kabut hitam peristiwa kelam itu datang terutama dari bekas negara Uni Soviet yang berusaha keras menutupinya.

Kejatuhan Berlin –dan wilayah-wilayah sebelumnya yang dilalui Tentara Merah– menjadi awal petaka bagi banyak perempuan Jerman. “Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945.

Kejahatan perang itu bahkan sudah berlangsung sejak sebelum Tentara Merah masuk Berlin. Gadis-gadis di tempat-tempat yang dilalui Tentara Merah, termasuk kota-kota di Polandia, harus menyerahkan kehormatannya sebagai ganti dari keselamatan nyawanya.

Ruth, salah satunya. Di kota tempat tinggalnya, Leipzig, pemerkosaan terjadi tak lama setelah usainya bombardir Sekutu dan pindahnya pasukan mereka ke tempat lain. “Segera aku diperkosa bergiliran oleh gerombolan yang terdiri dari lima orang Rusia,” kenang janda prajurit Jerman yang bertugas di U-boat itu, sebagaimana dilansir di npr.org.

Pengalaman pahit itu juga menghampiri Gabriele Kopp, yang kala itu berusia 15 tahun. Setelah tergesa-gesa melarikan diri dari rumahnya lantaran sang ibu –yang berjanji akan menyusul– mengatakan tentara Soviet sudah mendekat, dia akhirnya tertangkap prajurit Soviet di sebuah desa.

“Keesokan harinya, dia dikejar ke rumah orang lain, di mana dia diperkosa oleh seorang tentara, dan kemudian oleh tentara lain segera setelah itu. Keesokan paginya, dia didorong ke sebuah gudang dan diperkosa oleh dua orang lainnya,” tulis Susanne Beyer dalam “Harrowing Memoir: German Woman Writes Ground-Breaking Account of World War II Rape,” dimuat di spiegel.de.

Ternyata seorang perempuan paruh baya pengungsi menjadikannya “umpan” kepada tentara Soviet. Masa kelamnya itu berlangsung selama dua pekan sebelum dia akhirnya bisa melarikan diri ke sebuah peternakan.

Di masa itu banyak ibu mengorbankan gadis mereka untuk mencari selamat. Mereka ada yang bermain kotor seperti yang mereka lakukan terhadap Kopp, ada juga yang membiarkan serdadu Soviet yang menginap di rumah mereka mendekati gadis-gadis di dalam rumah. Beberapa ibu malah mendukung bila gadisnya didekati Tentara Merah. Letnan Wladimir Gelfand, komandan pleton mortir di Divisi Senapan ke-301, mengalaminya.

“Di pinggiran Berlin pada akhir April, dia mendapati pengalaman adanya permohonan dari seorang perempuan muda menarik –yang didukung oleh ibunya– untuk dijadikan pemuas seksual eksklusifnya agar perempuan itu selamat dari keadaan lebih buruk,” tulis Frederick Taylor dalam Exorcising Hitler.

Berbeda dengan para gadis, yang tak berdaya, perempuan lebih matang punya keleluasaan lebih besar untuk menyiasati keadaan. Contohnya jurnalis Marta Hillers –penyintas pertama yang menuliskan pengalamannya ke dalam sebuah buku yang terbit pada 1950, tapi memakai nama anonim. Dia yang kala itu sudah berusia tiga puluh tahunan, terpaksa menyerahkan dirinya kepada seorang perwira Soviet agar terhindar dari perkosaan massal Tentara Merah. Sebelumnya, dia beberapa kali diperkosa prajurit Soviet.

Bagi Soviet, memperkosa perempuan Jerman merupakan hukuman balasan atas kejahatan bangsa Jerman. “Banyak serdadu Soviet ingin membalaskan dendam mereka akibat penderitaan yang telah ditimbulkan (oleh Jerman, red) di negeri mereka,” tulis Michael Jones dalam Total War: From Stalingrad to Berlin.

Tak adanya perintah khusus untuk hal itu menyebabkan banyak serdadu harus menanyakan komandannya tentang apa saja yang boleh dilakukan terhadap orang Jerman. “Tentang pertanyaan mengenai perempuan, Anda bisa memperlakukan perempuan Jerman agak bebas, asal tak terlihat terorganisir. Satu atau dua dari kalian bisa pergi (mencari perempuan Jerman, red), melakukan yang kalian perlukan, kembali ke kesatuan, dan hanya itu,” lanjutnya.

Stalin sendiri tak pernah mau menghukum prajurit-prajuritnya atas tindak perkosaan mereka terhadap perempuan Jerman. Dia justru memaklumi dengan mengingat beratnya tugas para prajurit dan kebaradaannya yang berjarak ribuan kilometer dari tanah air.

Akibatnya, meski tak ada angka pasti, sekitar dua juta perempuan Jerman menjadi korban perkosaan. Menurut Philipp Kuwert, pakar trauma dan kepala Departement Psychiatry and Psychotherapy di University Hospital of Greifswald, rata-rata seorang perempuan Jerman mengalami 12 kali perkosaan.

Selain menimbulkan trauma berkepanjangan, perkosaan massal itu juga mengganggu siklus haid para korban. Para ginekolog sampai menamakannya “Russian disease”. Kopp absen haid selama tujuh tahun. Janin yang mereka kandung umumnya diaborsi; yang sampai lahir harus menanggung pengucilan.

Banyak dari perempuan itu lalu meninggal tak lama setelah mengalami perkosaan. Mereka yang selamat, mengalami trauma panjang dan umumnya tak berani bersuara; terlebih para penyintas yang kemudian menjadi bekas warga negara Jerman Timur, pemerintah komunis memaksa mereka menandatangani perjanjian untuk tak mengungkap perkosaan massal di ujung Perang Dunia II itu. “Dan aku sudah banyak melewati malam tanpa tidur karena hal itu,” ujar Ruth.


Sumber :



Sunday, September 21, 2014

Doping Pasukan Wehrmacht dalam Perang Dunia II



Nazi mengajarkan puasa guna mempromosikan kesehatan nasional. Tetapi, begitu tiba masa perang, tanpa ragu Nazi memompa tentara-tentara Jerman dengan obat-obatan dan alkohol. Amfetamin dan metamfetamin menjadi obat pilihan, tetapi banyak pula yang kecanduan morfin dan alkohol.

Dalam suratnya tertanggal 9 November 1939, seorang prajurit muda yang ditempatkan di wilayah pendudukan Polandia menulis kepada orangtua dan saudaranya: "Sulit di sini, dan saya harap kalian akan mengerti jika saya hanya mampu untuk menulis kepada kalian sekali setiap dua sampai empat hari segera Hari ini aku menulis terutama untuk meminta beberapa Pervitin ....."

Surat tersebut menggambarkan betapa Pervitin manjadi salah satu kebutuhan utama tentara Jerman. Pervitin adalah stimulan yang saat ini dikenal sebagai speed (istilah untuk menyebut amfetamin dan metamfetamin). Banyak tentara Jerman yang mabuk Pervitin ketika mereka pergi ke medan perang, terutama saat melawan Polandia dan Perancis dalam Blitzkrieg. Militer Jerman menyediakan jutaan tablet metamfetamin selama paruh pertama tahun 1940. Obat-obatan semacam itu adalah bagian dari rencana untuk membantu pilot, pasukan angkatan laut dan pasukan infantri agar mampu bekerja sekelas manusia super. Pimpinan militer bebas membagikan stimulant, alkohol dan opiat dengan catatan bahwa membius dan memabukkan tentara bisa membantu mencapai kemenangan atas Sekutu. Namun, Nazi kurang memantau efek sampingnya, seperti kecanduan obat dan penurunan standar moral.

Setelah pertama kali diperkenalkan ke pasaran pada tahun 1938, Pervitin, metamfetamin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi,yang berbasis di Berlin, Temmler, dengan cepat menjadi top seller di kalangan penduduk sipil Jerman. Menurut sebuah laporan di Wochenschrift Klinische (Mingguan Klinis), telah menarik perhatian Otto Ranke, seorang dokter militer dan direktur Institute Fisiologi Pertahanan dan Umum di Akademi Kedokteran Militer Berlin. Efek Pervitin mirip dengan adrenalin yang diproduksi oleh tubuh: memicu kewaspadaan. Pada kebanyakan orang, zat tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri, konsentrasi dan kemauan untuk mengambil risiko, sementara pada saat yang sama dapat mengurangi kepekaan terhadap rasa sakit, lapar dan haus serta mengurangi kebutuhan untuk tidur. Pada bulan September 1939, Ranke menguji Pervitin pada 90 mahasiswa dan menyimpulkan bahwa Pervitin bisa membantu Jerman memenangkan perang. Awal perang, Pervitin diuji pada driver militer yang terlibat dalam invasi Polandia. Kemudian, menurut kriminolog Wolf Kemper, Pervitin dibagikan kepada tentara untuk berperang di garis depan secara serampangan.

Sebuah cerita tentang kehebatan Pervitin datang dari front timur. Pada bulan Januari 1942, 500 tentara Jerman, yang dikepung oleh Tentara Merah, sedang berusaha melarikan diri. Saat itu, suhu minus 30 derajat Celcius. Seorang dokter militer yang ditugaskan di unit tersebut menulis dalam laporannya bahwa pada sekitar tengah malam, enam jam dalam pelarian mereka melalui salju sedalam pinggang, "Semakin banyak tentara yang begitu lelah mulai berbaring di salju." Sang komandan kemudian memutuskan untuk memberikan Pervitin kepada pasukannya. "Setelah setengah jam," tulis dokter itu, "orang-orang itu secara spontan melaporkan bahwa mereka merasa lebih baik Mereka mulai berbaris secara berurutan kembali, semangat mereka meningkat dan mereka menjadi lebih waspada."

Selama periode singkat antara bulan April dan Juli 1940, lebih dari 35 juta tablet Pervitin dan Isophan (versi modifikasi yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Knoll) dikirim kepada tentara dan angkatan udara Jerman. Beberapa tablet, yang masing-masing mengandung tiga miligram zat aktif, dikirim ke divisi medis Jerman dengan nama kode OBM, lalu didistribusikan langsung kepada pasukan. Setiap paket obat-obatan tersebut diberi label "Stimulan" dan petunjuk yang merekomendasikan dosis satu sampai dua tablet "hanya jika diperlukan, untuk mempertahankan sulit tidur." Tetapi kemudian, dokter merasa khawatir terhadap fakta bahwa fase regenerasi setelah minum obat-obatan itu menjadi semakin panjang dan efek obat-obatan itu secara bertahap menurun di kalangan pengguna. Pengguna dapat mengalami masalah kesehatan, seperti keringat berlebih, gangguan peredaran darah, bahkan kematian. Leonardo Conti, menteri kesehatan Jerman, lantas berusaha untuk membatasi penggunaan obat-obatan itu, tetapi tidak begitu berhasil. Meskipun Pervitin diklasifikasikan sebagai zat terbatas pada tanggal 1 Juli 1941, berdasarkan UU Opium, sepuluh juta tablet tetap dikirimkan kepada pasukan Jerman pada tahun yang sama.

Komando medis militer Jerman pun tidak terlalu memusingkan atas efek merugikan Pervitin. Mereka hanya mengeluarkan pedoman dan petunjuk baru penggunaan Pervitin, termasuk informasi tentang risiko yang nyaris tidak berbeda dari instruksi sebelumnya. "Pedoman Pendeteksian dan Pemberantasan Kelelahan" yang diterbitkan 18 Juni 1942 masih sama: "Dua tablet dikonsumsi sekali untuk menghilangkan kebutuhan akan tidur selama tiga sampai delapan jam dan dua tablet efektif selama 24 jam."

Menjelang akhir perang, Nazi memberikan sebuah pil ajaib kepada pasukan mereka. Di pelabuhan Jerman utara, Kiel, pada tanggal 16 Maret 1944, Wakil Laksamana Hellmuth Heye, meminta obat yang dapat membuat siap tempur ketika mereka diminta untuk terus berjuang melampaui periode yang dianggap normal, sementara pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka sebagai tentara. Beberapa waktu kemudian, farmakolog Gerhard Orzechowski, memberi Heye pil yang diberi nama kode D-IX. Isinya lima miligram kokain, tiga miligram Pervitin dan lima miligram Eukodal (obat penghilang rasa sakit berbasis morfin).

Selain obat-obatan, alcohol juga menjadi zat yang populer. Tentang alkohol, Walter Kittel, seorang jenderal di korps medis, menulis bahwa hanya seorang fanatik yang akan menolak untuk memberikan sesuatu kepada prajurit yang dapat membantu mereka santai dan menikmati hidup setelah menghadapi kengerian perang. Alkohol dapat dikatakan sebagai hadiah dan kesenangan yang secara rutin dijual di komisaris militer, sebuah kebijakan yang secara samar menarik kembali gaji tentara ke kas militer.

Namun, pada bulan Juli 1940, setelah Perancis dikalahkan, Hitler mengeluarkan perintah: "Saya berharap bahwa para anggota Wehrmacht yang membiarkan diri mereka tergoda untuk terlibat dalam tindak pidana sebagai akibat dari penyalahgunaan alkohol akan dihukum berat." Boleh saja Hitler berkata seperti itu, tapi minuman keras tampaknya lebih menggoda. Setahun kemudian, Jenderal Walther von Brauchitsch, menyimpulkan bahwa pasukannya sedang melakukan pelanggaran moralitas dan disiplin. Hal itu terjadi akibat penyalahgunaan alkohol. Di antara dampak buruk penyalahgunaan alkohol, ia menyebutkan perkelahian, kecelakaan, penganiayaan terhadap bawahan, kekerasan terhadap atasan dan kejahatan yang melibatkan tindakan seksual yang tidak wajar.

Menurut statistik internal yang disusun oleh kepala korps medis, 705 kematian militer antara September 1939 dan April 1944 terkait dengan alkohol. Angka tidak resmi mungkin jauh lebih tinggi karena kecelakaan lalu lintas, kecelakaan yang melibatkan senjata dan bunuh diri sering disebabkan oleh penggunaan alkohol. Petugas-petugas medis diminta untuk memasukkan para pecandu alkohol dan obat-oabatan ke fasilitas pengolahan. Menurut perintah yang dikeluarkan oleh pelayanan medis, solusi ini memiliki keuntungan yang bisa diperpanjang tanpa batas. Setelah dipenjara di fasilitas pengobatan, pecandu kemudian dievaluasi berdasarkan hukum pencegahana penyakit keturunan, disterilisasi secara paksa ataupun di-euthanasia.

Jumlah kasus di mana tentara menjadi buta atau bahkan meninggal setelah mengkonsumsi alkohol metil mulai meningkat. Mulai tahun 1939, Institut Obat-obatan dan Forensik di Universitas Berlin mendaftar alkohol metil sebagai faktor utama penyebab kematian. Oleh karena itu, penyelundup minuman keras mesti berhadapan dengan hukum. Misalnya, seorang perwira 36 tahun dieksekusi di Norwegia pada musim gugur tahun 1942 setelah kedapatan menjual lima liter alkohol metil dan mengakibatkan beberapa prajurit jatuh sakit dan dua prajurit meninggal. Menurut harian yang diterbitkan pada tanggal 2 Oktober 1942 hukuman tersebut diumumkan kepada pasukan dan unit tambahan untuk digunakan sebagai teguran.

Tetapi, tentara rupanya merasa bahwa apa pun yang bisa membantu mereka melarikan diri dari kengerian perang dapat dibenarkan. Kecanduan morfin meluas di kalangan personil yang terluka selama perang. Bahkan, dokter-dokter yag mengalami kecanduan morfin meningkat empat kali lipat selama tahun 1945 dibandingkan pada awal perang. Franz Wertheim, seorang petugas medis yang dikirim ke sebuah desa kecil di dekat Tembok Barat pada tanggal 10 Mei 1940, menulis kisah berikut: "Untuk membantu melewatkan waktu, kami, para dokter bereksperimen pada diri kami sendiri. Kami akan memulai hari dengan minum segelas cognac dan mengambil dua suntikan morfin. Kami menemukan jika kokain sangat berguna pada tengah hari dan di malam hari kami kadang-kadang mengambil Hyoskin, alkaloid yang berasal dari beberapa varietas tanaman yang digunakan sebagai obat. Sebagai hasilnya, kami tidak selalu sepenuhnya mengendalikan indera kami."

Untuk mencegah wabah morfinisme, seperti yang terjadi setelah perang terakhir, Profesor Otto Wuth, seorang sersan dan psikiater komando medis militer, mengajukan sebuah proposal untuk memerangi morfinisme pada bulan Februari 1941. Dalam proposal tersebut dikatakan bahwa semua yang terluka dan kecanduan akibat pengobatan harus dicatat dan dilaporkan kepada "Dewan Medis Distrik" di mana mereka akan disediakan morfin secara legal atau diperiksa dan dikirim ke pusat-pusat perawatan rehabilitasi narkoba. Dengan cara ini Wuth menyimpulkan bahwa para pecandu morfin dapat dimonitor dan mereka dapat dicegah untuk melakukan tindakan-tindakan kriminal. Pemimpin Nazi sendiri lebih toleran terhadap mereka yang kecanduan obat sebagai hasil dari perang dibandingkan dengan pecandu alkohol.


Sumber :



Monday, June 30, 2014

Kontroversi Seragam SS Ahmad Dhani, Yahudi dan Komunis




Oleh : Mamad Taufik

Ahmad Dani, salah satu musisi Indonesia dianggap memakai atribut (pakaian) yang mirip dengan salah satu dedengkot Nazi Jerman, Heinrich Himmler, dalam sebuah lagu yang berisi dukungan untuk Capres-Cawapres, Prabowo Subianto – Hatta Rajassa (2014).



Publik Indonesia pun geger. Ribut. Ikut membenci dan mengecam secara membabi buta. Seolah-olah tragedi apa yang dilakukan Nazi Jerman pernah menimpa mereka. Seolah-olah balatentara sang Fuhrer Third Reich Adolf Hitler ini pernah membunuh orang Indonesia. PADAHAL TIDAK PERNAH. Begitu pun orang Indonesia yang beragama Islam ikut membenci Nazi Jerman. Seolah-olah Nazi Jerman pernah menyakiti Islam. PADAHAL TIDAK PERNAH. Mereka menuduh Nazi Jerman fasis. Padahal YAHUDI dan ISRAEL JUGA FASIS!

Mereka beralasan tentang kemanusian yang tercabik oleh perilaku Adolf Hitler dan pasukannya. Karena membantai orang Yahudi. Memang benar begitu? Dibawah alam sadar, kita sebenarnya sudah terkooptasi oleh pemberitaan jelek tentang Nazi Jerman yang ditulis dan diberitakan media-media barat yang rata-rata dan hampir semuanya dikendalikan Yahudi atau setidaknya pro Yahudi! Padahal kita sebenarnya tidak tahu pasti apa yang terjadi di Eropa saat itu. Kita hanya konsumen berita, data dan info dari media-media Yahudi itu. Mereka menuduh Nazi Jerman fasis. Padahal YAHUDI dan ISRAEL JUGA/LEBIH FASIS!

Okelah kalau mereka (orang Indonesia/muslim Indonesia) beralasan tentang kemanusiaan. Tapi kenapa kita tidak memperlakukan sama pada Yahudi? Dalam Al Qur’an sudah jelas: Yahudi Laknatullah! Umat yang dilaknat oleh Allah SWT. Di era kekinian, kita melupakan pembantaian demi pembantai tentara Yahudi Israel di kamp – kamp pengungsian hingga di jalanan Palestina! Ketika ini terjadi, mana kemanusiaan yang kita dengung-dengungkan!

Bungkam semua! Inilah yang namanya standart ganda. Ketika kemanusian itu bersangkut paut dengan kepentingan kalian, maka kalian bersuara tentang kemanusiaan. Tapi ketika kasus kemanusiaan yang terjadi tak berkaitan dengan kalian, maka kalian bungkam!

Malah kini ada sekelompok orang Indonesia yang sok menjadi Yahudi. Pernah dengar beberapa kali ada orang-orang Indonesia yang mau merayakan kemerdekaan Israel di Indonesia? Ya, berkali-kali kita dengar. Ironisnya, mereka rata-rata beragama Islam. Ya, Islam liberal yang sok bersahabat dengan Yahudi, kaum yang sudah jelas dilaknat dalam kitab sucinya, Al Qur’an.

Okelah kalau mereka (orang Indonesia/muslim Indonesia) beralasan tentang kemanusiaan. Tapi kenapa kita seolah melupakan fakta dan sejarah tentang pembantaian kaum komunis di negeri ini, INDONESIA! Ingat, mereka sudah 3 kali melakukan pembangkangan. Namun hanya 2 kali yang langsung secara face-to-face dengan republik ini. Karena pemberontakan pertama mereka terjadi di era Belanda, yakni tahun 1926. Sementara 2 lainnya terjadi pada tahun 1948 di Madiun dan tahun 1965 G30S/PKI. Face-to-face berhadapan dengan pasukan republik Indonesia dan rakyat utamanya kaum santri/ Islam Indonesia.

Komunis tak mengenal agama karena dianggap candu. Menurut mereka, janji-janji tentang surga dan siksa neraka adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Mereka mencemooh kaum santri yang beragama. Ulama (kyai atau ustadz) pun diejeknya sebagai penjual ayat syetan. Ini Jargon mereka! Masih mau bela komunis? Mendidih hati ini bung!

Peristiwa Kanigoro akhir tahun 1964 menjadi awal kejahatan PKI di Indonesia tahun tersebut. Mereka menyerbu Ponpes Al Jauhar, Kanigoro, Kediri, Jawa Timur. Berdasarkan kesaksian Masdoeqi Moeslim, salah seorang santri yang lolos dari maut, setan komunis itu menyeret dan menyiksa ratusan santri (termasuk 127 kader Pelajar Islam Indonesia). Bahkan keluarga pengasuh ponpes, keluarga Kyai Jauhari juga diperlakukan sama. Ribuan kader PKI itu masuk pondok pesantres dan masjid, menyiksa santri hingga menginjak-nginjak Al Qur’an! Masih mau bela komunis? Mendidih hati ini bung!

Jika melihat teror hantu-hantu komunis akan panjang. Karena memang lembaran hitam yang tebal sudah mereka torehkan dengan darah di republik Indonesia tercinta ini. Di era pertengahan 1960-an, aksi massa PKI lainnya dilakukan oleh organisasi underbouw-nya seperti Barisa Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Mereka membantai kaum santri yang dipandang menjadi penghalang utama bagi upaya mereka menjadi Indonesia sebagai negara komunis. Maka wajar jika kemudian timbul gerakan balas dendam dari kaum santri yang diwakili Ansor dan Banser NU. Apakah anda masih mau bela komunis? Mendidih hati ini bung! Bravo NU, Ansor dan Banser!

Kita kembali ke topic semula tentang Nazi Jerman. Kenapa kita mesti membenci mereka? Toh mereka TIDAK PERNAH BERSALAH pada Indonesia dan Islam maupun agama lain di negeri ini. Kok bisa begitu? Kita bahas satu-persatu.


Pertama, Nazi Jerman tak memiliki dosa apapun pada Indonesia. Karena jika kita merunut sejarah, Nazi Jerman malah membantu para pejuang kita di masa revolusi kemerdekaan. Apa saja? Seperti yang diceritakan Horst Henry Geerken, salah seorang sahabat dekat Bung Karno, Adolf Hitler pernah mengirimkan senjata dengan menggunakan 57 kapal selamnya ke Indonesia. Senjata ini dikirimkan untuk menyokong pejuang melawan Belanda. Baca beritanya disini: http://nasional.inilah.com/read/detail/1965336/ternyata-hitler-kirimi-soekarno-senjata Berita ini ditulis bulan maret 2013.

Apa lagi bantuan tentara Nazi Jerman pada Indonesia? Tentara U-Boat (awak kapal selam Nazi) juga ikut bergabung dengan para pejuang. Para Kriegsmarine (tentara Angkatan Laut Nazi) itu selain ikut perang di garis depan dengan pejuang Indonesia melawan Belanda pasca tahun 1945, mereka juga ikut membantu dalam hal tekhnik persenjataan dan strategi. Sebagian diantaranya tewas saat membantu pejuang. Baca beritanya disini (berita bulan November 2013): http://nasional.inilah.com/read/detail/1965336/ternyata-hitler-kirimi-soekarno-senjata

Kisah bantuan lain adalah tentang penyusunan teks proklamasi Indonesia. Tanggal 16 agustus 1945 hampir tengah malam, setelah draft teks proklamasi ditulis Bung Karno dan ditanda tangani bersama Bung Hatta, timbul masalah. Karena mesin ketik di rumah Laksamana Maeda (rumah perwira Jepang simpatisan Indonesia yang dijadikan tempat) ternyata menggunakan huruf kanji (huruf jepang).

Lalu bagaimana akhirnya teks proklamasi Indonesia diketik? Sementara sudah hampir tengah malam tentu bakal sulit menemukan pinjaman. Diantara kebingungan, mereka kemudian menemui ide. Yakni meminjam mesin ketik ke kantor perwakilan Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine). Sepele mungkin ya? Tapi itu jasa besar dalam penyusunan ketikan teks proklamasi. Baca beritanya disini (berita bulan November 2013): http://www.merdeka.com/peristiwa/nazi-punya-jasa-dalam-penyusunan-teks-proklamasi-indonesia.html

Berita berita tersebut tahun 2013. Jadi saya yakin lebih netral dan tidak tendesius. Jika berita ini muncul saat ini, mungkin terkesan tendesius sebagai bagian dari pembelaan terhadap apa yang dilakukan Ahmad Dani. Apakah anda wahai orang Indonesia masih membenci Nazi Jerman? Bersikaplah! Mereka tak pernah merugikan republik Indonesia yang kita cintai ini. Jangan ikut-ikutan mind set orang barat dan Yahudi.

Oke, yang kedua tentang Islam. Bahasan tentang Nazi Jerman tidak pernah menyakiti bangsa Indonesia sudah cukup. Sekarang tentang Nazi Jerman yang juga tidak pernah menyakiti kaum muslim. Benarkah? IYA BETUL SEKALI.

Sepanjang letusan perang dunia II, sejumlah wilayah basis Islam di Eropa (diantaranya wilayah Kaukasus/ Bosnia dan sekitarnya) serta wilayah Afrika Utara banyak yang membantu tentara Nazi Jerman. Bahkan mereka secara sukarela mendaftar menjadi bagian balatentara Nazi Jerman. Barisan tentara muslim di tubuh tentara Third Reich pimpinan Adolf Hitler ini menjadi korps tersendiri sejak oktober 1943 dengan sebutan Waffen SS Hanscar Divission.

Para tentara Nazi dan pemimpinnya termasuk Adolf Hitler memperlakukan serdadu Nazi Jerman muslim tersebut secara terhormat. Bahkan memberikan jaminan penuh pada kebebasan menjalankan ibadah termasuk Sholat! Nah, saya Tanya kepada anda yang muslim, masihkah anda membenci Nazi yang sebenarnya memperlakukan Islam secara terhormat dan lebih menyukai/mendukung Yahudi dan Komunis yang sebenarnya sudah banyak merugikan kita?!

Kenapa mereka (orang-orang Islam) itu dengan mudahnya bergabung dengan tentara Nazi Jerman? Ada 2 alasan pokok: Yang pertama Islam TIDAK PERNAH DIUSIK keberadaannya. Islam dibiarkan berkembang di setiap wilayah yang dikuasai Nazi Jerman. Yang kedua, musuh Nazi Jerman adalah Yahudi. Sama halnya seperti yang tertulis dalam Al Qur’an bahwa Yahudi itu musuh Islam. Bahkan disebut sebagai Laknatullah!

Hal-hal tersebut yang membuat saya heran dan kembali ke pertanyaaan saya di atas tulisan ini, kenapa kalian membenci Nazi Jerman beserta atributnya? Padahal mereka tak pernah menyakiti Indonesia dan Islam. Nazi Jerman malah pernah memberi bantuan pada proses revolusi kemerdekaan negara Indonesia. Nazi Jerman juga tidak mengusik keberadaan Islam.

Telaah baik-baik ucapan Adolf Hitler ini: “Ich Konnte All Die Juden in Dieser Weilt Zu Zerstoren, Aber Ich Lasse Ein Wenig Drehte-on, so Konnen Sie Herausfinden Warum Ich Sie Getotet”. Artinya: “Bisa saja saya musnahkan semua Yahudi di dunia ini. Tapi saya sisakan sedikit yang hidup. Agar kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka!” (Adolf Hitler, Der Fuhrer Third reich).

Jelas apa yang dikatakan oleh Adolf Hitler kini terbukti bukan. Kini kita tahu seperti apa Yahudi. Biang kerok keonaran dunia utamanya di Timur Tengah. Mereka seenaknya membantai muslim Palestina. PBB bungkam, negara barat bungkam, Amerika Serikat sang polisi dunia pun bungkam. Kenapa bungkam? Karena negara Yahudi Israel sahabat mereka. Andai yang melakukan pembantaian adalah orang Islam, mereka akan menghujat dan menyerbu alias balas dendam dengan dalih kemanusiaan.

Saat 1 rudal/missile HAMAS menghantam satu kota Israel, dunia ribut bukan main menyalahkan para mujahidien HAMAS (yang sebenarnya memperjuangkan hak kemerdekaan mereka). Tapi belasan, puluhan bahkan ratusan rudal Yahudi Israel menghantam rumah-rumah sipil Palestina, dunia bungkam. Mulut terkunci rapat. Telinga ditutup. Membutakan mata mereka seolah-olah tak ada apa-apa. Menurut mereka, apa yang dilakukan tentara Israel adalah bentuk pembelaan diri. Bangsat tai kucing!

Saya ulangi ucapan tulisan saya diatas: Ironisnya, kini sebagian orang-orang Indonesia menghamba pada Israel. Menjadi pembela Israel. Ikut-ikutan merayakan hari kemerdekaan bangsa Israel. Jika dilarang oleh aparat atau kelompok Islam, mereka beralasan larangan itu merusak demokrasi, hak dan kebebasan. Bangsat!

Ironisnya, komunis yang dulu bersimbah darah para jenderal pancasilais, komunis yang dulu membantai kaum santri di Indonesia, kini banyak generasi muda yang ikut-ikutan sok revolusioner kekiri-kirian. Membuka angin bagi para keluarga eks Komunis untuk bangkit. Mereka mendesak TAP MPRS no 25 tahun 1966 tentang larangan dan pembubaran PKI dicabut.

Jika mereka (pecinta Komunis) dilarang, mereka akan berteriak bahwa aparat atau umat Islam yang melarang Komunis telah menyalahi/melanggar HAM. Mereka berteriak, komunis sebagai korban di tahun 1965/66. Padahal merekalah yang memulai. Umat Islam saat itu hanya bereaksi terhadap kebiadaban para anak buah Aidit tersebut. Maling kok teriak maling!

Maka benar apa yang dikatakan Wakil Ketua PBNU As’ad Said Ali bulan oktober 2012 lalu, bahwa umat Islam-lah yang menjadi korban. Bukan PKI yang menjadi korban. Maka wajar beliau menolak NU, Banser dan Ansor meminta maaf terhadap keluarga PKI. “Para penulis sejarah termakan oleh manipulasi buku putih yang ditulis Aidit (dan pengikutnya). Tetapi rakyat, ulama dan santri tetap mencatat dalam sejarahnya sendiri”,ujar As’ad Said Ali.

Tulisan atau data atau fakta yang saya tulis ini bukan hendak membela Nazi Jerman dan menyudutkan Yahudi maupun Komunis. Tapi saya berusaha meluruskan sesuatu yang menjadi bengkok di pikiran kita. Sesuatu yang dibengkokkan oleh orang-orang yang membenci Islam! Sesuatu yang dibengkokkan oleh orang yang merasa kelompoknya dirugikan.

Mungkin ketidak mengertian tentang Nazi Jerman yang menyeluruh dan awamnya masyarakat kita tentang peran Nazi Jerman terhadap Indonesia yang membuat publik Indonesia mengecam apa yang dilakukan Ahmad Dani sehingga dia cuek saja sambil berkata:

Salam INDONESIA RAYA. Indonesia JAYA! Yakinlah, Allah SWT bersama orang-orang yang benar. Lawan ketidak adilan, kemunafikan dan kepalsuan. Wassalam!


Sumber :