Showing posts with label Artileri Nazi Jerman. Show all posts
Showing posts with label Artileri Nazi Jerman. Show all posts

Sunday, December 29, 2019

Foto Granatwerfer Kaliber 50mm

5 cm GRANATWERFER 205/1(r)

Dua orang jenderal Wehrmacht melakukan inspeksi ke lokasi pelatihan Turkistanische Legion (Legiun Turkistan), musim panas tahun 1943. Foto ini - yang diambil dari majalah SIGNAL edisi khusus "Ost" no.24 tahun 1943 - memperlihatkan saat mereka sedang ngadu huntu dengan awak mortir RM40 kaliber 50mm yang merupakan hasil rampasan dari Rusia. Jenderal di kiri adalah Generalmajor Hellmuth Nickelmann (Kommandeur Osttruppen z.b.V. 720), sementara jenderal di tengah adalah Generalleutnant Heinz Hellmich (Inspekteur der Osttruppen im Oberkommando des Heeres). Sebagian besar dari para sukarelawan bangsa Turkistan ini diambil dari mantan tawanan Tentara Merah yang bersedia untuk menjadi kolaborator Jerman. Legiun Turkistan pertama dibentuk pada bulan Mei 1942 dan hanya berkekuatan satu batalyon, tapi pada tahun 1943 jumlahnya membengkak menjadi 16 batalyon dengan berkekuatan 16.000 prajurit. Di bawah arahan khusus dari Wehrmacht, mereka semua ditempatkan di Front Barat, Yugoslavia dan Italia, sehingga mengisolasi mereka dari "persentuhan kembali" dengan pasukan Soviet. Sebagian besar dari mereka tergabung dalam 162. (Turk.) Infanterie-Division, yang anggota-anggotanya diisi oleh orang-orang Turkistan, Azerbaijan dan Georgia. Pada akhir perang mereka menyerah pada pasukan Inggris, tapi kemudian dikembalikan lagi ke Rusia setelah Stalin - yang menganggap mereka sebagai pengkhianat - melakukan tuntutan keras kepada Inggris dan Amerika Serikat. Nasib mereka setelahnya bisa diduga: dieksekusi atau menghabiskan waktu selama bertahun-tahun di gulag (kamp kerja paksa) di Siberia!



Sumber :
www.wehrmachtss.blogspot.com

Sunday, December 22, 2019

Flak (Flugabwehrkanone) kaliber 105mm

FLAK 38

Pemasangan pertama Flak 38 kaliber 105mm di bagian atap Gefechtsturm III di Humboldthain, Berlin), pada tahun 1942. Di latar belakang kita bisa melihat samar-samar bangunan Himmelfahrtskirche, sebuah gereja Evangelis yang didirikan pada tahun 1893 dan mempunyai menara setinggi 72 meter. Yang sedang ngoceh di latar depan adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara yang sedang mendengarkan sambil membelakangi kamera adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem, yang merupakan Komandan pertama dari Turmflakabteilung 123 (bagian dari 1. Flak-Division), sebuah jabatan yang diembannya dari tahun 1942 s/d pertengahan tahun 1943




Sumber :
Buku "Flaktürme Wien Hamburg Berlin" karya Hans Sakkers

Wednesday, November 21, 2018

Krupp K5, Artileri Rel Kaliber 280mm

 Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) meninggalkan sebuah stasiun kereta api, diikuti oleh para perwira Wehrmacht dan staff. Tidak ada keterangan dimana foto ini diambil, hanya ada keterangan waktunya: bulan Desember 1940. Meriam raksasa di latar belakang adalah Krupp K5(E) kaliber 280mm. Senjata yang bergerak menggunakan rel ini mempunyai berat 218 ton, dan mampu memuntahkan 15 buah peluru seberat 243 kg tiap jamnya, dengan jarak jangkau 64 kilometer. Hanya 25 buah mreiam Krupp K5 yang diproduksi dalam Perang Dunia II, dengan dua diantaranya selamat sampai akhir perang (satu dipamerkan di United States Army Ordnance Museum, dan satunya lagi di Batterie Todt Museum, Audinghen, Prancis)


Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl

Monday, November 19, 2018

Flak (Flugabwehrkanone) Kaliber 20mm

FLAK 30

Foto ini diambil pada bulan Mei 1941, selama berlangsungnya kunjungan Walther von Brauchitsch ke wilayah Balkan, tak lama setelah penguasaan Jerman atas Yunani dan Yugoslavia. Tampaknya sang Panglima Angkatan Darat sedang menginspeksi mesin-mesin perang Jerman yang dipakai dalam kampanye militer sebelumnya. Senjata di belakang adalah Flak 30 (Flugabwehrkanone 30) kaliber 20mm, hanya saja tanpa dilengkapi dengan kendaraan penarik di bawahnya, dan didudukkan di sebuah trailer. Sebagai identifikasi orang-orangnya: 1.Oberstleutnant Heinz von Gyldenfeldt (Erster Generalstabsoffizier beim Oberbefehlshaber des Heeres), 2.Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), 3.Oberstleutnant i.G. Max-Josef Pemsel (Chef des Generalstabes XVIII. Gebirgskorps), 4.Generalmajor Ferdinand Schörner (Kommandeur 6. Gebirgs-Division), dan General der Infanterie Franz Boehme (Kommandierender General XVIII. Gebirgskorps)

----------------------------------------------------------------------------------

FLAK 38

 Kunjungan delegasi Angkatan Udara Bulgaria ke rangkaian Flakturm (Menara Flak) Jerman di Berlin, yang berlangsung di bulan Mei - Agustus 1942. Foto ini memperlihatkan saat para perwira Bulgaria tersebut memperhatikan dengan seksama sebuah Flak 38 kaliber 20mm yang dipasang di Leitturm III di Humboldthain. Senjata anti pesawat udara ini merupakan salah satu dari rangkaian Flak ringan yang disebar di platform bawah menara Flak yang doperasikan oleh Luftwaffe. Tangga di latar belakang menuju ke platform atas dimana dipasang alat penjejak arah yang memudahkan dalam menembak sasaran di udara. Yang memakai ledermantel (mantel kulit) di tengah adalah Generalmajor Ludwig Schilffarth (Kommandeur 1. Flak-Division), sementara perwira yang membelakangi kamera di sebelah kanannya adalah Oberstleutnant Dr. Ernst Ziem (Kommandeur Turmflakabteilung 123 / 1.Flak-Division)


Sumber :
Buku "Flaktürme Wien Hamburg Berlin" karya Hans Sakkers
www.audiovis.nac.gov.pl

Wednesday, March 25, 2015

Foto Baris Kemenangan (Abschußbalken/Victory Bar) Meriam Artileri


Sebuah artileri flak 88mm yang sangat sukses, terlihat dari baris kemenangan yang tergambar di laras meriamnya. Dari Abschußbalken-nya kita bisa mengetahui bahwa awak senjata satu ini sudah berhasil menghancurkan 5 buah bunker, 7 buah tank, 8 ranpur lapis baja, dan 27 pesawat terbang! Logo Infanterie-Sturmabzeichen menunjukkan 10 buah serangan infanteri yang berhasil dihalau


Foto ini memperlihatkan meriam artileri FlaK 18 88mm sedang menghantarkan "perawatan" (die Behandlung) dengan membombardir sebuah pabrik di wilayah tengah kota Stalingrad bulan September 1942. 9. Flak-Division Luftwaffe berada di bawah komando 6. Armee dan senjata-senjatanya kebanyakan digunakan untuk memberikan tembakan pendukung langsung, sementara di lain pihak pasukan artileri Soviet lebih memilih pola pemboman ketinggian karena jauhnya jarak mereka dengan pasukan darat yang terpisahkan oleh sungai Volga. FlaK ringan 20mm dan 37mm milik 9. Flak-Division lebih berguna untuk menghadapi pesawat musuh yang terbang rendah. Perhatikan lima buah Abschußringe (cincin jumlah korban) di laras meriamnya! Dengan Stalingrad sekarang terbelah dua, meriam-meriam artileri Jerman kini bisa mengarahkan senjata mereka dari satu sisi ke sisi terluar lainnya lagi. Penembak meriam mengatur target tembakan dan penghalang jalan di ujung barat dan lalu merangsek ke ujung lainnya. Sembilan persepuluh kota Stalingrad telah berada di tangan pasukan Wehrmacht di akhir bulan September 1942 sehingga pasukan bantuan Soviet yang menyeberangi sungai Volga kini dikirim ke wilayah sekitar distrik pabrik Krasny Oktyabr yang menjadi pusat pertempuran

Sebuah PaK 40 75mm sedang beraksi dengan awaknya adalah para sukarelawan Belgia dalam tubuh Waffen-SS. Meriam anti-tank ini merupakan senjata yang sangat efektif serta mematikan, dan disini kita bisa melihat setidaknya ada 22 Abschußbalken yang tertera di laras meriamnya, yang berarti sudah 22 tank musuh yang menjadi korbannya!


Leutnant der Reserve Johann Muhr dari 5./Flak-Abteilung 505 sedang memperhatikan senjata andalannya. Dia menunjukkan prestasi yang mengesankan dalam pertempuran di tanah genting Perekop sehingga dianugerahi Ritterkreuz tanggal 22 November 1943. Cincin putih di laras meriam menunjukkan jumlah pesawat terbang yang menjadi mangsa senjata ini, sementara siluet tank di perisainya adalah jumlah korban tank. Ini menunjukkan betapa mematikannya senjata satu ini!


LinkFlak 88 ini telah melalui begitu banyak pertempuran, dengan rekor kemenangan yang impresif (yang terpampang di perisai bajanya): 10 pesawat udara, 27 tank, 8 bunker, 4 artileri dan 4 pos observasi! Gambar tank dari jenis M3 Lee menandakan bahwa flak satu ini pernah bertugas di sektor selatan Front Timur


8,8cm Flak 18 dari 1./Flak-Regiment 33 ini adalah veteran yang sudah memakan banyak korban. Terlihat dari baris di larasnya, kita bisa mengetahui kalau 39 tank dan 5 pesawat udara musuh telah dihancurkannya! Foto ini diambil di Sollum dekat Tobruk (Afrika Utara) bulan Juli 1941


 
Dari stahlhelm kinclong ke sedikit bluwek: foto yang diambil pada tahun 1940/1941 ini memperlihatkan para anggota Werkstatt-Kompanie (Kompi Pemeliharaan) dari sebuah unit Flak Luftwaffe tak dikenal, yang terlihat sedang sibuk mencat ulang helem-helm mereka dengan warna yang tidak terlalu kinclong alias kontras, agar bisa lebih menyatu dengan sekitarnya. Ini sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Wehrmacht pada tahun 1940 mengenai warna dan dekal stahlhelm yang baru. Prajurit yang memegang alat semprotan terlihat mengenakan pakaian kerja Luftwaffe yang terbuat dari bahan HBT berwarna hijau gelagah. Foto ini juga cukup menarik karena memperlihatkan situasi di bengkel pemeliharaan Luftwaffe, yang tampaknya terletak tidak jauh dari rel kereta api (perhatikan gambar di latar belakang). Di sebelah kanan kita bisa melihat laras meriam Flak (Flugzeugabwehrkanone) kaliber 20mm dengan lima buah Abschußbalken (baris kemenangan), yang menunjukkan bahwa senjata satu ini setidaknya telah mamakan korban lima pesawat musuh!


Sumber : 
Buku "8,8 cm Flak 18-36-37" karya Waldemar Trojca
Buku "Aircraft Of The Luftwaffe Fighter Aces: A Chronicle In Photographs" oleh Bernd Barbas
Buku "German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille, The Life Story Of The Star Of Africa" karya Franz Kurowski
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Majalah "Luftwaffe im Focus" edisi no.1 tahun 2002 
Majalah "U-Boot Im Focus" edisi no.2 - 2007

Wednesday, December 24, 2014

Foto 7,5 cm leichtes Infanteriegeschütz 18 (7,5 cm le.IG 18)



 Acara kunjungan Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) ke Infanterie-Schule Döberitz, tanggal 15 Desember 1939. Disini sang Panglima Heer - yang memakai jaket kulit - memperhatikan latihan menembak para awak leichte Infanteriegeschütz 18 kaliber 75mm (7,5 cm le.IG 18), sebuah meriam artileri ringan yang biasa digunakan oleh unit-unit Gebirgsjäger (Pasukan Gunung), di Truppenübungsplatz Döberitz. Berturut-turut di sebelah kanan Brauchitsch adalah Oberst Johannes Frießner (Inspekteur Erziehungs- und Bildungswesens) dan Oberst Walther Krause (Kommandeur Infanterie-Schule Döberitz)


Acara kunjungan Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) ke wilayah kekuasaan Jerman di Timur, bulan Januari 1941. Foto ini memperlihatkan saat sang Panglima Angkatan darat Jerman (tengah) menginspeksi leichte Infanteriegeschütz 18 kaliber 75mm (7,5 cm le.IG 18), sebuah meriam artileri ringan yang biasa digunakan oleh unit-unit Gebirgsjäger (Pasukan Gunung). Dua orang jenderal di sebelah kanan adalah, dari kiri ke kanan: General der Infanterie z.V. Friedrich "Fritz" Koch (Kommandierender General XXXXIV. Armeekorps) dan Generalfeldmarschall Hans-Günther von Kluge (Oberbefehlshaber 4. Armee)


Pasukan infanteri Jerman bersiap untuk menggerakkan sebuah senjata pendukung ringan leichtes Infanteriegeschütz 18 75mm (7,5 cm le.IG 18) maju ke arah depan selama berlangsungnya kontak senjata berat melawan pasukan Rusia di Stalingrad bulan Oktober 1942. Kompi senjata sebuah resimen infanteri biasanya dilengkapi dengan empat buah senjata 75mm dan satu 150mm. Perhatikan pinggiran perisainya yang bergelombang yang membantu pendistorsian bentuknya apabila dilihat dari kejauhan sehingga lebih sulit untuk dideteksi! Awak leichtes Infanteriegeschütz 18 dalam foto ini memakai pembungkus stahlhelm bercorak kamuflase dari bahan Zeltbahn sisa. Awak yang sudah berpengalaman biasanya mampu menembakkan 8 sampai 12 peluru per menit



Sumber :
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
www.audiovis.nac.gov.pl
www.rockislandauction.com

Wednesday, November 26, 2014

Foto Berwarna Senjata Anti Pesawat Udara (Flak)

Sebuah SdKfz 7/1 yang ditinggalkan oleh awaknya di Fischhausen (sekarang berganti nama menjadi Primorsk di Kaliningrad Oblast, Rusia), bulan Maret 1945, selama berlangsungnya Ofensif Prusia Timur, 13 Januari s/d 25 April 1945. Halftrack ini dilengkapi dengan sebuah sistem senjata anti pesawat udara lipat empat Flakvierling 38 20mm (nama resmi Jermannya: 2cm Flakvierling 38 auf Selbstfahrlafette Sd.Kfz.7/1). Menarik untuk diperhatikan bahwa lempengan baja pelindung tambahan di depan dan di framework mesin Flakvierling-nya sama-sama mempunyai warna Panzergrau (abu-abu tua)


Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Flakvierling

Sebuah SdKfz 7/1 yang ditinggalkan oleh awaknya di Fischhausen (sekarang berganti nama menjadi Primorsk di Kaliningrad Oblast, Rusia), bulan Maret 1945, selama berlangsungnya Ofensif Prusia Timur, 13 Januari s/d 25 April 1945. Halftrack ini dilengkapi dengan sebuah sistem senjata anti pesawat udara lipat empat Flakvierling 38 20mm (nama resmi Jermannya: 2cm Flakvierling 38 auf Selbstfahrlafette Sd.Kfz.7/1). Menarik untuk diperhatikan bahwa lempengan baja pelindung tambahan di depan dan di framework mesin Flakvierling-nya sama-sama mempunyai warna Panzergrau (abu-abu tua)


Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Tuesday, November 25, 2014

Foto Mortir Wehrmacht

 Stalingrad 1942: Dua foto yang diambil secara berurutan pada waktu yang sama ini memperlihatkan Gruppe mortir berat sGrW.34 8cm (tepatnya 81mm) mengendap-endap di belakang kompi senapan yang gerak majunya mereka berikan perlindungan. Seorang diantaranya membawa sebuah mortir ringan IeGrW.36 50mm di bahunya. Sebuah kompi senapan mesin dari batalyon infanteri Wehrmacht biasanya dilengkapi dengan satu peleton pendukung khusus bersenjatakan delapan buah mortir sGrW.34. Peleton mortir semacam ini akan "memepet" pergerakan pasukan utama di belakang dan dengan cepat akan membombardir pertahanan musuh yang dipertahankan dengan kuat atau menahan serangan balik mereka manakala dibutuhkan. Orang-orang ini juga dilengkapi dengan granat tangan yang akan digunakan untuk membersihkan lubang-lubang pertahanan yang dilewati oleh pasukan utama


Sumber :
Buku "Island Of Fire: The Battle For the Barrikady Gun Factory In Stalingrad November 1942 - February 1943" karya Jason D. Mark

Wednesday, November 19, 2014

Foto Berwarna Artileri Wehrmacht

MORTIR

  Awak mortir Jerman bersiap untuk menembakkan sebuah schwere Granatwerfer 34 80mm selama berlangsungnya sesi latihan. Setelah tahun 1942 setiap Granatwerfer mendapat penambahan tabel jangkauan di bagian tengah tabungnya, yang terletak persis di bawah "kerah". Tabel ini berguna untuk secara tepat mengukur jumlah peluru yang telah digunakan serta jarak ketinggiannya, dan praktek seperti tersebut masih digunakan sampai sekarang (sebagai contohnya adalah pasukan Amerika di Irak yang menggunakan garis putih di bagian tengah tabung mortir, persis seperti yang dilakukan oleh Wehrmacht berpuluh-puluh tahun sebelumnya!). Awak mortir Jerman sendiri terkenal paling akurat dalam hal ketepatan pengenaan targetnya dibandingkan dengan semua pihak yang berperang dalam Perang Dunia II. Ini karena bentuk latihan yang sangat intensif ditambah dengan sistem yang teruji. Kebanyakan para awak mortir Jerman sendiri membawa sekop kecil untuk menggali tanah alas mortirnya manakala digunakan. Mereka dilatih untuk menggali dalam waktu cepat dengan bentuk galian khusus. Sejarah mencatat bahwa mortir menjadi penyebab terbanyak jumlah korban pihak Sekutu dalam Pertempuran Normandia dibandingkan dengan senjata Jerman lainnya. Salah satu penyebab utamanya (selain karena keakuratan mereka) adalah kedatangannya yang tanpa suara sehingga pasukan yang terkena biasanya belum sempat untuk berlindung. Foto di atas kemungkinan besar diambil pada tahun 1941 di sekitar Unternehmen Barbarossa

------------------------------------------------------------------------

ARTILERI REL

 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)

------------------------------------------------------------------------

SENJATA DEK

Pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat, yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum dia tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar.Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi

------------------------------------------------------------------------

ARTILLERIETRUPPEN

 
Unit berkuda Artillerie-Regiment 213 dalam gerak maju di Polandia, bulan September 1939. Resimen ini merupakan bagian dari 213. Infanterie-Division. Selama berlangsungnya invasi Jerman atas Polandia di tahun 1939, 213. Infanterie-Division bertugas sebagai pasukan cadangan Heeresgruppe Süd pimpinan Generaloberst Gerd von Rundstedt. Tak banyak peran yang bisa dilakukannya. Setelah kampanye militer usai, divisi ini kemudian beralih peran sebagai pasukan penjaga wilayah pendudukan di Polandia sampai dengan tahun 1941



Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.ullsteinbild.de
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Schwerer Gustav dan Dora

 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)


Sumber :
www.ullsteinbild.de

Friday, October 10, 2014

Foto 10.5 cm leFH 18 (leichte FeldHaubitze)

Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee di Warsawa yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1939. Meriam-meriam leFH 18 (leichte Feldhaubitze) kaliber 105mm bergerak melewati podium kehormatan yang diisi oleh, dari kiri ke kanan: General der Kavallerie Erich Hoepner (Kommandierender General XVI. Armeekorps [motorisiert]), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Erhard Milch (tertutup tangan Hitler yang terangkat, Generalinspekteur der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Gerd von Rundstedt (di belakang Hitler, Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Generalleutnant Conrad von Cochenhausen (memakai Stahlhelm "Kavallerie" M18, Kommandeur 10. Infanterie-Division), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Kommandierender General XIII. Armeekorps), Korvettenkapitän Karl-Jesko von Puttkamer (Adjutant der Kriegsmarine beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), Generaloberst Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), General der Flieger Alexander Löhr (Chef Luftflotte 4), dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1)


 Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee di Warsawa yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1939. Meriam-meriam leFH 18 (leichte Feldhaubitze) kaliber 105mm bergerak melewati podium kehormatan yang diisi oleh, dari kiri ke kanan: General der Kavallerie Erich Hoepner (Kommandierender General XVI. Armeekorps [motorisiert]), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Erhard Milch (tertutup tangan Hitler yang terangkat, Generalinspekteur der Luftwaffe), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Gerd von Rundstedt (di belakang Hitler, Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Generalleutnant Conrad von Cochenhausen (memakai Stahlhelm "Kavallerie" M18, Kommandeur 10. Infanterie-Division), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Kommandierender General XIII. Armeekorps), Korvettenkapitän Karl-Jesko von Puttkamer (Adjutant der Kriegsmarine beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), Hauptmann Nicolaus von Below (tertutup oleh Reichenau, Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), General der Flieger Alexander Löhr (Chef Luftflotte 4), dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1). Selain itu, terdapat identifikasi tambahan: 1.Generalleutnant Walter Petzel (Kommandierender General I. Armeekorps) dan 2.Generalleutnant Johann Pflugbeil (Kommandeur 221. Infanterie-Division)




 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) dan General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Kommandierender General XIII. Armeekorps) menyaksikan Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee di Warsawa yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1939. Kendaraan perang yang nampak dalam foto ini adalah meriam leFH 18 (leichte Feldhaubitze) kaliber 105mm yang merupakan howitzer ringan standar divisi Jerman dalam Perang Dunia II. Sebagai pembuatnya adalah Rheinmetall, sementara mulai operasional dari tahun 1935. Biasanya meriam ini ditarik oleh kuda, tapi juga bisa ditarik oleh truk atau halftrack


 Generalfeldmarschall Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) dalam salah satu tur inspeksi ke wilayah Kanalküste (Selat Inggris), tanggal 30 Desember 1940. Foto ini memperlihatkan saat sang Panglima Angkatan Darat Jerman berbincang-bincang dengan awak leFH 18 (leichte Feldhaubitze 18) kaliber 105mm, sebuah senjata artileri dari jenis howitzer ringan yang dilengkapi dengan roda besi untuk transportasi dengan kuda


Prajurit infanteri dari tepi barat sungai Don memperhatikan bargas-bargas yang membawa meriam howitzer lapangan ringan IeFH.18 10,5cm ke tepi sungai satunya lagi, akhir Agustus 1942. Hanya dalam waktu beberapa hari meriam-meriam artileri ini akan langsung digunakan untuk menghancurkan posisi-posisi artileri dan kendaraan Soviet di seberang sungai Volga. Jumlah ponton yang digunakan untuk membuat bargas semacam ini sama banyaknya dengan yang digunakan untuk membuat jembatan apung


Pasukan Wehrmacht ini baru saja mengambil alih sebuah lubang pertahanan Rusia yang berada di jalan menuju Stalingrad, akhir musim panas 1942. Tank T-34 yang sudah tidak berfungsi terlihat teronggok di latar belakang, sementara sebuah meriam howitzer ringan dari jenis IeFH.18 10.5cm terlihat melintas di hadapannya dalam perjalanan menuju ke front depan. Senjata satu ini adalah meriam standar divisi infanteri Jerman dan bukannya meriam Flak 88mm seperti yang banyak digambarkan dalam film, buku novel dan memoar



Konvoy truk-truk Fiat 626 milik II.Abteilung / Artillerie-Regiment 51 / 15.Infanterie-Division yang bergerak maju di dekat desa Mrkalji (Han Pijesak), Yugoslavia, dalam Unternehmen Kugelblitz (Operation Ball Lightning), bulan Desember 1943. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Westermann ini diambil dari salah satu kendaraan yang sedang berjalan, dan memperlihatkan truk di depannya yang menarik sebuah meriam howitzer lapangan leFH 18M kaliber 105mm


Foto hasil jepretan SS-Kriegsberichter Eugen Nonnenmacher yang diambil di Bosnia-Herzegovina pada bulan April 1944 ini memperlihatkan para awak meriam howitzer ringan  leFH 18 (leichte Feldhaubitze) kaliber 105mm Waffen-SS sedang beraksi. Mereka berasal dari unit Kroatisches SS-Freiwilligen-Gebirgs-Artillerie-Regiment / 13.SS-Freiwilligen-Bosnien-Herzegowina-Gebirgs-Division (Kroatien) yang satu bulan kemudian - Mei 1944 - berganti nama menjadi SS-Freiwilligen-Gebirgs-Artillerie-Regiment 13 / 13.Waffen-Gebirgs-Division der SS "Handschar" (kroatische Nr. 1). Uniknya, para awak senjata beledug satu ini merupakan lima bersaudara (!) yang figurnya terkenal ke seluruh dunia melalui foto hasil karya Nonnenmacher lainnya. Meskipun telah banyak contoh di Divisi Handschar yang memperlihatkan bahwa anggota dari satu keluarga yang sama ikut mendaftar menjadi anggota, tapi untuk lima bersaudara yang semuanya masuk ke unit yang sama, merekalah juaranya! Karenanya dibuatlah serangkaian foto yang memperlihatkan saat mereka bertugas, tentunya untuk kepentingan propaganda ("Fünf Brüder und eine Haubitze. Im Einsatz gegen bolschewistische Banden..." - Lima bersaudara dan satu howitzer, dalam pergulatan melawan gerombolan Bolsewik). Dalam foto ini sendiri, hanya tiga orang kakak-beradik itu yang terlihat (bintara di sebelah kiri bukanlah salah satunya. Dia adalah komandan mereka). Aslinya foto ini adalah hitam-putih, tapi kemudian mendapat pewarnaan secara profesional oleh majalah Jerman masa perang, SIGNAL (edisi 18/1944 halaman 19). Pewarnaan tersebut begitu bagusnya sehingga banyak orang terkecoh, dan menyangka bahwa foto ini adalah foto berwarna asli!


Sumber :
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Mit Hitler in Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
www.bandenkampf.blogspot.com
www.beeldbankwo2.nl

Thursday, March 13, 2014

Mortir Granatwerfer (GrW) 34 8cm

Tiga orang Fallschirmjäger menutup telinganya ketika mortir diluncurkan (koleksi Bundesarchiv, foto diambil tahun 1944)


Oleh : Naufal Harits

Granatwerfer 34 8cm atau lebih sering disingkat GrW 34 8cm, adalah mortir berkaliber 81, 4 mm yang biasanya dipakai oleh pasukan Jerman pada era Perang Dunia 2. Mortir ini dikenal memiliki akurasi yang bagus dibandingkan dengan mortir-mortir yang sezaman dengannya. Proses perancangan mortir ini dimulai pada tahun 1922, dan mulai diproduksi massal pada tahun 1934. GrW 34 8cm juga memiliki varian dengan laras yang lebih pendek, yaitu Kurzer Granatwerfer 42 8cm (Kz GrW 42 8cm), yang mulai diproduksi tahun 1942.

Spesifikasi :
Berat : 62 kg
Panjang laras : 1,143 mm
Kaliber : 81.4 mm (3.20 in)
Rate of fire: 15-25 rpm
Jarak tembak maksimum : 2,400 m (2,624 yds)


Sumber :

Tuesday, May 8, 2012

15 cm schwere Feldhaubitze 18 (sFH 18) "Immergrün"



Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) dan tamunya dari Hungaria, Laksamana Miklós Horthy de Nagybánya, menyaksikan parade pasukan Jerman di Ehrentribüne (tribun kehormatan) di Charlottenburger Chaussee, Berlin, tanggal 25 Agustus 1938. Dengan diiringi oleh O.M. Palapa, kompi demi kompi landser (prajurit Jerman) - yang mengenakan seragam parade - lewat di hadapan pemimpin kedua negara. Setelah itu terdapat pula atraksi Kavallerie Musikkorps (korps musik berkuda), yang diikuti oleh penampilan publik pertama dari meriam artileri terbaru kebanggaan Wehrmacht: schwere Feldhaubitze 18 (sFH 18) kaliber 150mm. Dalam acara ini, Horthy mengenakan bicorne di kepalanya, sebuah topi yang umum dikenakan oleh para laksamana Eropa dari sejak abad ke-18


Deretan howitzer lapangan berat 15cm sFH 18 yang mengagumkan di sebuah barak pelatihan di Jerman, yang dilengkapi dengan kendaraan halftrack penarik mereka. dukungan artileri sangat penting bagi setiap serangan kendaraan lapis baja dan menyediakan kekuatan tembakan yang dibutuhkan bagi divisi-divisi panzer Jerman untuk secara fleksibel bergerak dari defensif ke ofensif (dan begitu juga sebaliknya). Setelah pelatihan usai, kentara bahwa resimen-resimen artileri bermotor dan infanteri merupakan tulang punggung angkatan darat dan menjadi penyedia jalan bagi panzer-panzer untuk bergerak maju dengan lebih leluasa


Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) berpidato di depan para pekerja pabrik mesin perang Rheinmetall-Borsig-Werke di Düsseldorf, Jerman, tanggal 10 September 1939. Dia berbicara di atas sebuah tank Neubaufahrzeug (NBFZ), sementara di kiri dan kanannya adalah meriam lapangan Jerman dari jenis schwere Feldhaubitze 18 (sFH 18) kaliber 150mm. Kedua mesin perang ini - sudah tentu - merupakan salah satu hasil produksi dari Rheinmetall-Borsig-Werke

 Adolf Hitler dan para petinggi Jerman menyaksikan prajurit-prajurit dari dua divisi Wehrmacht menyeberangi Sungai San yang berada di wilayah Galicia (sebelah tenggara Polandia dan barat Ukraina), 15 September 1939. Foto ini diambil saat sang Führer mengunjungi markas 14. Armee di wilayah  Jarosław, Polandia. Dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm List (Oberbefehlshaber 14. Armee), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Infanterie Werner Kienitz (Kommandierender General XVII. Armeekorps), dan Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess). Alat perang yang sedang ditarik oleh truk di sebelah kanan adalah Howitzer sFH18 howitzer kaliber 150mm dengan meriam yang sudah dicopot. Foto oleh Heinrich Hoffmann


 Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee di Warsawa yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1939. Kendaraan perang yang ditarik kuda dalam foto ini adalah kereta penghantar meriam sFH 18 kaliber 150mm atau K 18 kaliber 105mm, sementara bangunan berkubah di latar belakang adalah kościół św. Aleksandra (Gereja St. Alexander). Berdiri di podium kehormatan, dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (tertutup oleh Hitler, Oberbefehlshaber des Heeres), General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Kommandierender General XIII. Armeekorps), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), General der Flieger Alexander Löhr (Chef Luftflotte 4), dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1)


 Halftrack penarik yang tampak sedang melintasi sebuah sungai kecil dalam foto ini adalah Sd.Kfz.7 mittlerer Zugkraftwagen (8-ton) yang membawa baterai howitzer berat sFH18 kaliber 105mm. Sd.Kfz.7 adalah kendaraan penarik yang paling banyak digunakan oleh Wehrmacht di masa perang, dengan jumlah produksi tercatat sebanyak 10.257 unit. Perhatikan pula jembatan K-Gerät serta kamuflase dedaunan yang digunakan oleh kendaraan diatas! K-Gerät (Kastenträger-Gerät) adalah jembatan bongkar-pasang seberat 16 ton yang terdiri dari tiga bagian ponton atau blok dengan panjang total 78,8 meter. Desainnya merupakan hasil jiplakan dari jembatan Small Box Girder Inggris dan pertama kali dibuat pada pertengahan tahun 1930-an. K-Gerät menggunakan panjang panel yang sama seperti halnya SBG, hanya saja sedikit berbeda dalam hal detail penguatnya. Artikel yang dimuat dalam sebuah majalah militer Jerman terbitan tahun 1943 menjelaskan bahwa jembatan tersebut terutama sekali dipakai di Front Timur bersama-sama dengan tipe jembatan ponton lainnya, dan mengklaim bahwa "jembatan K-Gerät mempunyai performa yang memuaskan. Bentuknya sama dengan jembatan yang digunakan oleh pasukan musuh."


Sumber :
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Images Of War: Panzer Divisions At War 1939-1945" karya Ian Baxter
Buku "Mit Hitler in Polen" karya Heinrich Hoffmann
www.en.wikipedia.org
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Thursday, February 16, 2012

8 cm Granatwerfer 34, Mortir Medium Nazi Jerman

Peninggalan GrW 34 di Festung Hohensalzburg, Salzburg (Austria)


Peluru GrW 34 dari jenis 8-cm Wurfgranate 34, 8-cm Wurfgranate 34 Kh, dan Wurfgranate 34 Üb. Peluru ini biasanya dibawa dengan menggunakan sebuah kotak kayu 8cm yang masing-masingnya berisi tiga buah Wurfgranate 34 yang dilengkapi dengan sebuah "Wgr Z T"( Wurfgranatzünder Trolitul)


Oleh : Alif Rafik Khan

8 cm Granatwerfer 34 (8 cm GrW 34) adalah mortir medium standar Jerman selama berlangsungnya Perang Dunia II. Mortir ini meraih reputasi karena akurasinya yang ekstrim serta kecepatan jangka tembakannya, meskipun hal ini sebagian besar terlaksana berkat sistem pelatihan yang mantap atas para awaknya.

Rancangan senjatanya sendiri konvensional dan bisa dipecah menjadi tiga bagian (laras, bipod, dudukan plat) untuk memudahkan saat transportasi. Larasnya mempunyai lubang yang mulus, sementara bipodnya mendapat tambahan putaran roda yang diputar oleh tangan serta sebuah roda tangan lain yang fungsinya untuk mengukur ketinggian dan rata permukaan. Sebuah lensa panorama dipasang di kuk mekanisme pemutar untuk memudahkan pengamatan. Selain itu, sebuah baris tabung dapat digunakan sebagai penahan beban.

8 cm GrW 34/1 merupakan adaptasi untuk digunakan di dudukan yang bisa bergerak sendiri (self-propelled). Versi yang lebih ringan dengan laras lebih pendek diperuntukkan bagi anggota Gebirgsjäger dan dinamakan sebagai kurzer 8 cm Granatwerfer 42.

Mortir jenis ini menggunakan peluru 8 cm 3.5 kg peledak tinggi konvensional atau selongsong asap dengan pemantik perkusi dengan jangkauan hanya sejauh satu kilometer lebih. Jangkauannya bisa ditambah dengan memasangkan sampai tiga bubuk mesiu di antara sirip ekor selongsong.

Keterangan:
Tipe: Mortir
Negara pembuat: Jerman
Negara pengguna: Jerman dan Bulgaria dalam Perang Dunia II
Tahap rancangan: 1922-1933
Tahap produksi: 1934-1945
Varian: 8 cm GrW 34/1

Spesifikasi:
Berat: 62kg (laras besi), 57kg (laras logam campuran)
Panjang laras: 1.143mm (45 in)
Berat peluru: 3,5kg (7 lb 11 oz)
Kaliber: 81,4mm (3.20 in)
Elevasi: 45° sampai 90°
Putaran: 10° sampai 23°
Tingkat kecepatan tembakan: 15-25 rpm
Percepatan peluru: 174 m/detik (571 ft/s)
Jangkauan maksimum: 2.400 m (2,624 yds)


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.lexikon-der-wehrmacht.de