Showing posts with label Pabrik dan Produksi Nazi Jerman. Show all posts
Showing posts with label Pabrik dan Produksi Nazi Jerman. Show all posts

Sunday, August 11, 2019

Pelatihan Pilot Luftwaffe



Oleh : Alif Rafik Khan

Tak lama setelah pembentukan Luftwaffe pada tanggal 1 Maret 1935, kini pelatihan terbang militer tidak hanya berlangsung secara terang-terangan melainkan juga diselenggarakan secara masif oleh banyak sekolah terbang dengan menggunakan beragam jenis pesawat.

Alur seorang kadet udara yang mendaftar di Luftwaffe biasanya begini: setelah direkrut oleh militer - dan mendapatkan pelatihan dasar seorang prajurit Wehrmacht - dia kemudian ditempatkan di Fliegerersätzabteilung (yang nantinya menjadi Fliegerausbildungsregiment) untuk mengikuti pelatihan navigasi dasar. Setelah lulus, si kadet calon awak udara selanjutnya dipindahkan ke Fluganwärterkompanie (untuk calon prajurit dan bintara) atau Luftkriegsschule (untuk calon perwira). Tempat-tempatr ini pada dasarnya adalah sekolah darat dimana para pilot diperkenalkan untuk pertama kalinya dengan pesawat terbang. Sebagai contoh, Soldbuch seorang kadet perwira Luftwaffe memperlihatkan bahwa dia tiba di Luftkriegsschule Dresden Klotzsche pada tanggal 4 Desember 1936, sebelum kemudian ditempatkan di Luftkriegsschule Berlin Gatow. Disini dia merasakan untuk pertama kalinya terbang dengan pesawat udara pada tanggal 21 Mei 1937, dilanjutkan dengan terbang solo menggunakan pesawat latih Heinkel He 72 pada tanggal 9 Juni 1937. Setelah itu, pelatihan terbang tahap awal diselenggarakan di Flugzeugführerschule (A/B), yang diikuti oleh Flugzeugführerschule (C) untuk pelatihan lanjutan. Khusus untuk pilot tempur, dia harus mengikuti pelatihan lebih jauh lagi yang diselenggarakan di Jagdfliegervorschule atau Jagdfliegerschule (pada tahun 1942, delapan Jagdfliegerschule dirubah namanya menjadi Jagdgeschwader 101 sampai Jagdgeschwader 108, dan masih ditambah lagi dengan Jagdgeschwader 109 sampai Jagdgeschwader 112). Dalam kasus kadet perwira kita yang menjadi contoh di atas, setelah mendapatkan Flugzeugführerabzeichen (Wing Udara) pertamanya, pada bulan Juli 1938 dia ditempatkan di Jagdfliegerschule Werneuchen untuk mendapatkan pelatihan sebagai pilot tempur, dan pada bulan berikutnya dipindahkan ke 9.Staffel / Jagdgeschwader 132 di Jüterbog-Damm. Dia pertama kali terbang dengan Fliegerausbildungsregiment 42 di Salzwedel pada bulan Maret 1939 dan - setelah mendapatkan pelatihan terbang buta di Prenzlau (masih bersama dengan Fliegerausbildungsregiment 42) - dia kemudian ditempatkan di Jagdfliegerschule 1 pada bulan November 1939 sebelum bergabung dengan 2.Staffel / Jagdgeschwader 53 di bulan berikutnya.

Untuk pilot-pilot yang terpilih ke unit-unit udara lainnya, dia akan mendapatkan pelatihan final di sekolah-sekolah khusus yang berbeda: calon pilot pembom ditempatkan di Grosse Kampffliegerschule, pilot pembom tukik di Sturzkampffliegervorschule, dan pilot pengintai di Aufklärungsfliegerschule. Pada bulan Oktober 1942 lima Kampffliegerschule yang tersedia kemudian dipecah lagi menjadi Kampfbeobachterschule atau Kampfschulegeschwader, dengan yang terakhir berganti nama menjadi Kampfgeschwader 101 di tahun selanjutnya.

Ketika Perang Dunia II pecah, maka dibutuhkan pula lebih banyak pelatihan lanjutan. Karenanya, kini setiap Geschwader (Skuadron Udara) pemburu atau pembom mempunyai pula unit-unit pelatihan sendiri (biasanya dinamakan sebagai Ergänzungsstaffel, Ausbildungsstaffel atau Ergänzungsgruppe), yang - dalam kasus unit pembom - maka kemudian dirubah namanya menjadi IV. Gruppe. Untuk para pilot pemburu, pada tahun 1942 elemen-elemen Erganzungs mereka dilebur menjadi bagian dari Ergänzungsjagdgruppe Ost, Süd atau West.

Setiap peran pesawat mempunyai sekolahnya masing-masing, begitu pula dengan pesawat yang mempunyai peran-peran khusus seperti Waffenschule, pembom torpedo serta penyebar ranjau, dan juga sekolah-sekolah awak udara lainnya seperti Beobacher, Bordfunker, Bordmechaniker dan Bordschützen. Terdapat pula sekolah terbang buta (instrumen). Kembali kepada kadet perwira kita (yang kini telah berpangkat Leutnant): Dia juga mengikuti kursus di sekolah semacam itu di Nordhausen antara tanggal 18 Januari s/d 24 Februari 1940 demi untuk mendapatkan lisensi instruktur terbang buta. Setelahnya dia kembali ke unitnya, 1.Staffel / Zerstörergeschwader 76, dan kini telah siap lahir batin menjadi pilot tempur Luftwaffe!

----------------------------------------------------------------------------------

 Para calon pilot (perhatikan ketiadaan Flugzeugführerabzeichen di seragam mereka) dari Fliegerausbildungsregiment 42 berfoto bersama dengan instruktur mereka, Unteroffizier Lauerer (berlutut dengan Flugzeugführerabzeichen di dada), di tempat latihan mereka di Wünsdorf, bulan Juni 1939. Para kadet ini mempunyai pangkat yang tak jauh berbeda dengan sang instruktur. Mereka yang sukses menyelesaikan pelatihan sebagai pilot nantinya mulai operasional dari awal tahun 1940, dan banyak di antara mereka - seperti yang menimpa Unteroffizier Willi Ghesla yang berlutut di sebelah kanan - akan tertangkap atau terbunuh dalam Pertempuran Britania sebelum tahun tersebut berakhir!

----------------------------------------------------------------------------------

ARADO

Sebuah pesawat Arado Ar 66 difoto oleh Fähnrich Leopold Wenger di Schule / Fliegerausbildungsregiment 13, bulan April-Mei 1940. Fliegerausbildungsregiment 13 bermarkas di Pilsen, Cekoslowakia, meskipun mempunyai pangkalan tersendiri pula di Klattau. Wenger nantinya menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditempatkan di I.Gruppe / Jagdgeschwader 2 di akhir tahun 1941. Pada akhirnya dia menjadi seorang pilot Jabo (fighter-bomber) kawakan bersama dengan 10.Staffel / Jagdgeschwader 2. Wenger dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Januari 1945, tapi kemudian terbunuh tiga bulan kemudian - tepatnya pada tanggal 10 April 1945 - hanya berselang beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa!


 Oberfeldwebel Weber menerbangkan pesawat Arado Ar 96 milik 3.Staffel / Jagdfliegerschule 4 di atas Fürth. Sekolah terbang pilot pemburu ini nantinya berganti nama menjadi Jagdgeschwader 104 pada tahun 1943. Lambang Jagdfliegerschule 4 adalah sebuah panah hitam bersayap di atas segitiga putih yang terletak di dalam perisai merah, dengan tulisan "Jagdfl-Schule 4" dengan tinta hitam di dalam kotak biru. Rekan sesama pilot yang mengambil foto ini adalah Gefreiter Hans Derksen, yang nantinya ditugaskan di 7.Staffel / Jagdgeschwader 302 dan terbunuh dalam sebuah kecelakaan di malam tanggal 25 November 1943, ketika pesawat Messerschmitt Bf 109 G-6 (werknummer 410142) yang dipilotinya jatuh di wilayah Wehnen, tidak jauh dari pangkalannya di Oldenburg

----------------------------------------------------------------------------------

BÜCKER

Sebuah pesawat latih Bücker Bü 131 "Jungmann" (werknummer 4560) yang terlihat di lapangan udara Fürstenfeldbruck yang menjadi pangkalan Luftkriegsschule 4. Di atas kokpit adalah Fähnrich Ulrich Laubis, yang nantinya akan ditembak jatuh dan menjadi tawanan perang saat bertugas di 3.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 77 pada tanggal 23 Juni 1944


 Foto terbang perdana Fähnrich Friedrich Jirmann - yang diambil pada tanggal 31 Oktober 1941 di lapangan udara Werder/Havel - dengan menggunakan pesawat latih Bücker Bü 181 "Bestmann" milik Luftkriegsschule 3. Jirmann nantinya bergabung dengan 13.Staffel / V.Gruppe / Kampfgeschwader 2 (KG 2) "Holzhammer" pada bulan Oktober 1943, dan menerbangkan pesawat Messerschmitt Me 410 (unit ini nantinya berganti nama menjadi 5.Staffel / Kampfgeschwader 51). Jirmann terluka pada tanggal 25 Juni 1944 ketika pesawatnya ditembak jatuh, kemungkinan oleh Mosquito dari 488 Squadron RAF. Dia masih bersama dengan KG 51 sampai dengan akhir perang, dan sempat mendapatkan pelatihan untuk menerbangkan pesawat jet Messerschmitt Me 262



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss

Wednesday, June 11, 2014

Bir (Bier/Bräu) Zaman Nazi


Foto hasil karya Franz Eichberger ini diambil pada bulan Juni 1932 menggunakan kamera Leica I 35mm dan memperlihatkan parade para anggota SA (Sturmabteilung) di jalanan Wedding (salah satu distrik di Berlin). Ini merupakan salah satu unjuk kekuatan partai Nazi sebelum pemilihan umum tanggal 31 Juli 1932, dan dengan sengaja mereka berbaris dengan gagahnya di wilayah yang dikenal sebagai basis partai komunis Jerman! Menariknya, di belakang kiri kita bisa melihat banner dari sebuah Biergarten atau Ausflugslokal (kios bir dadakan yang biasanya digelar di taman) bernama "Sturm-Lokal" yang menyajikan andalan utama Schultheiß Bier (bir Schultheiß) untuk pengunjungnya. Di Berlin sendiri bersaing dua merk bir setempat: Schultheiß dan Berlin Kindl. Masing-masing mempunyai kelebihannya dan komunitas peminumnya sendiri. "Bier her, Bier her- oder ich fall um...dra ra dumm..."


Foto minum bir zaman Nazi bisa dilihat DISINI!

Oleh : Alif Rafik Khan

Bir sampai saat ini masih menjadi minuman yang sangat populer di Jerman (dan juga di negara-negara Eropa lainnya). Begitu pula di zaman saat Adolf Hitler berkuasa. Setiap kota rata-rata mempunyai satu penyulingan atau merknya sendiri, meskipun di akhir-akhir perang kualitas bir menurun drastis dan lebih banyak kandungan airnya. Merk yang populer di Prusia saat itu adalah Dortmunder Union dan Dortmunder Hansa, juga terdapat Wickühler yang berasal dari Wupperthal. Merk-merk lainnya adalah Erdinger Weissbräu (Münich), Pschorr Bräu, Kulmbacher, dan lain-lain. Kadang-kadang tempat penyulingan bir ini, baik secara sengaja ataupun tidak, menjadi lokasi pemboman Sekutu. Sebagai contoh adalah penyulingan di Lohbusch yang mendapat hantaman bom saat berlangsungnya serangan udara Sekutu tanggal 24 Februari 1945. Beberapa galon penyimpan pecah sehingga jalanan dibasahi oleh bir!

Industri bir dan perdagangannya di Jerman pada saat itu masih terlokalisasi dan tidak dipasarkan secara global seperti sekarang. Biasanya pembuatnya adalah pemilik bar atau restoran yang menyediakan merk bir yang bernama sama dengan bar/restoran mereka. Mereka menyewa fasilitas penyulingan untuk memproduksi bir yang memajang brand mereka. Karenanya di banyak merk kita bisa melihat logo tempat penyulingan yang bersanding dengan logo perusahaan birnya. Uniknya, rata-rata pemilik merk memilih tempat penyulingan yang jauh jaraknya dari lokasi mereka untuk menjamin lebih luasnya jalur distribusi dan pasar peminum bir (umumnya berada di jalur jalan antara pembuat merk dan penyulingan)! Seringkali lokasi penyulingan berada di dalam atau sekitar gereja, karena beberapa ratus tahun yang lalu hanya pihak gereja yang berhak mengatur produksi dan distribusi bir!

Sebelum dan selama Perang Dunia II, secara umum orang Jerman minum bir rame-rame di Gasthaus/bar atau di rumah. Kebanyakan dari birnya (yang dikemas dalam botol) diperjualbelikan di warung-warung pinggir jalan (Kiosks) atau di toko kelontong biasa. Bir untuk remaja dan bir untuk orang dewasa sedikit berbeda. Karena harganya yang lebih mahal, bir untuk konsumsi bapak-bapak biasanya dijual dalam bentuk kontainer terbuka (jug) secara literan di restoran atau bar. Yang membelinya adalah anak-anak mereka, yang biasanya antri sebelum makan malam di hari minggu sambil membawa jug di tempat penjualan bir segar.

Bagi peminum bir sejati (Bierdimpfler), kemasan bir dalam botol dianggap kurang rasanya dibandingkan bir yang dijual dalam kemasan terbuka atau langsung ngocor dari drumnya. Untuk mendapatkan bir sendiri tidak terlalu sulit karena di setiap desa di Jerman rata-rata mempunyai satu Gasthaus tempat nongkrong. Gasthaus populer zaman Nazi yang masih ada sampai saat ini contohnya adalah Hofbräu Haus, Löwenbräukeller dan Torbraeu im Tal yang semuanya ada di Münich (yang memang merupakan pusat bir Jerman dan ajang pesta bir Oktoberfest yang digelar tiap tahun!).

Saat berlangsungnya Perang Dunia II, tipe bir yang anda minum tergantung dari lokasi anda berada. Sebagai contoh, di Bavaria orang-orang secara umum minum bir Hefewiezen dan Marzen, di Düsseldorf Altbier, di Köln Kölsch, dan di Jerman selatan dekat Cekoslowakia Pilsen. Saat ini jenis-jenis bir tersebut telah lebih mengglobal dan tidak hanya didapatkan di wilayah tertentu seperti baheula.

Jerman sendiri mempunyai tradiri bir yang menarik dan telah berlangsung selama beratus-ratus tahun. Sampai saat bergabungnya mereka dengan Uni Eropa, semua perusahaan penyulingan bir disana harus mematuhi peraturan yang telah diterapkan dari sejak tahun 1516 yang dikenal dengan nama Reinheitsgebot. Intinya, peraturan ini mewajibkan bahwa bir harus dibuat HANYA dengan perpaduan bahan air, bunga hop kering, ragi dan gandum! Pada tahun 1994 peraturan ini dimodifikasi menjadi Biergesetz yang memperbolehkan bir dari negara Eropa lain masuk Jerman meskipun harus ada keterangan di bungkusnya.

Jangan lupakan pula bahwa salah satu usaha percobaan pembunuhan terhadap Hitler dilakukan di tempat minum bir, tepatnya di Bürgerbräukeller (Münich) tanggal 8 November 1939. Setelah mengalami kerusakan beberapa kali akibat serangan udara Sekutu, tempat nongkrong favorit para petinggi Nazi tersebut diperbaiki seusai perang dan menjadi lokasi US Army Service Club yang merupakan tempat hiburan utama prajurit Amerika di Jerman. Bagian belakangnya dirubah menjadi ballroom besar dengan panggung raksasa. Banyak para penghibur terkemuka Amerika saat itu yang mentas di Bürgerbräukeller, seperti Johnny Cash dan band pengiringnya. Saat ini Bürgerbräukeller sudah diruntuhkan dan di lokasi tempatnya didirikan kini bertengger salah satu cabang hotel Hilton.

Merk bir populer yang "beredar" zaman Nazi:
- Astra Urquell
- Beck's
- Berliner Kindl
- Dortmunder Hansa
- Dortmunder Union
- Erdinger Weissbräu
- Grüner Bräu Bad Tölz
- Hasen-Bräu Augsburger
- Hofbräu München
- Kulmbacher
- Lederer Braü Nürnberg
- Pschorr Bräu
- Radeberger
- Ratsherren Pilsener
- Schultheiß 
- St. Pauli Girl
- Weihenstephan 
- Wernesgrüner
- Wickühler
- Würzburger



Sumber :
Foto koleksi pribadi Dwight R. Messimer
www.forum.axishistory.com
www.germanpostalhistory.com
www.warrelics.eu

---------------------------------------------------------------------------











Wednesday, April 30, 2014

Pabrik Mesin Perang Wehrmacht

 Sebuah Panzerkampfwagen VI Tiger (H) pra-produksi di pabrik Henschel. Kendaraan satu ini mendapat tambahan lapisan baja (yang tidak digunakan di tank hasil produksi standar), yang dipasang di bagian muka untuk melindungi plat depan serta gigi jentera penggerak kemudi. Dia masih harus mendapat tambahan pelindung roda rantai serta perlengkapan lainnya

--------------------------------------------------------------------------------

KUNJUNGAN PARA PETINGGI

Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres) berpidato di depan para pekerja pabrik mesin perang Rheinmetall-Borsig-Werke di Düsseldorf, Jerman, tanggal 10 September 1939. Dia berbicara di atas sebuah tank Neubaufahrzeug (NBFZ), sementara di kiri dan kanannya adalah meriam lapangan Jerman dari jenis schwere Feldhaubitze 18 (sFH 18) kaliber 150mm. Kedua mesin perang ini - sudah tentu - merupakan salah satu hasil produksi dari Rheinmetall-Borsig-Werke


 Pada tanggal 20 April 1943, bertepatan dengan hari ulangtahunnya yang ke-54, Hitler melakukan kunjungan ke Nibelungenwerk, pabrik tank terbesar Nazi Jerman yang terletak di dekat kota St. Valentin di Austria. Foto ini memperlihatkan saat sang Führer sedang menginspeksi sebuah Panzerkampfwagen IV Ausf.F2 yang dipersenjatai dengan meriam panjang kaliber 75mm dan rem moncong bundar (tank ini dinamai sebagai "Mark IV Special" oleh intelijen Sekutu). Nibelungenwerk sendiri memproduksi lebih dari setengah tank Panzer IV yang dipakai oleh Jerman dalam Perang Dunia II! Sebagai identifikasi orang-orangnya adalah: 1.Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 2.August Eigruber (Gauleiter Oberdonau und Landeshauptmann von Oberösterreich), 3.Oberstleutnant Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 4.SS-Obersturmbannführer der Reserve Prof.Dr.med. Karl Brandt (Begleitarzt Führer und Reichskanzler), 5.SS-Obersturmführer Heinz Linge (Ordonnanzoffizier in der Führerbegleitkommando), dan 6.SS-Oberführer Johann "Hans" Rattenhuber (Chef Reichssicherheitsdienst)



Sumber :
Buku "Tiger" karya Thomas Anderson
www.kulturpool.at

Prototipe dan Pengujian Mesin Perang Wehrmacht


 VK 45.01 (P) adalah salah satu dari hasil pengujian desain untuk tank berat Jerman. Satu tim dikepalai oleh Ferdinand Porsche, yang lebih memilih sistem penggerak bensin-elektrik yang rumit. Yang lainnya adalah VK 36.01 (H) yang dibuat oleh Henschel dan memilih untuk menggunakan mesin bensin dan girboks yang lebih sederhana. Kedua desain tersebut sama-sama dipasangi kubah berbentuk silinder yang membawa meriam 8.8cm KwK 36. Pada akhirnya yang dipilih untuk diproduksi massal adalah desain keluaran Henschel


 50 buah Panzerkampfwagen VI Tiger B pertama yang dibuat oleh Henschel dipasangi kubah hasil desain Porsche karena kubah tersebut sudah diproduksi duluan dan rencananya akan dipasang di VK 45.02 (P) yang kemudian tidak jadi diproduksi karena order pembeliannya dibatalkan oleh Wehrmacht. Tank kelas berat satu ini masih belum dilengkapi oleh peralatan dan tali tambang untuk keperluan perawatan. Selain itu, pelindung roda rantainya juga tidak dipasang dan lapisan bajanya tidak bersalut Zimmerit. Hal ini mengindikasikan bahwa Königstiger di atas masih dalam masa percobaan di Panzerversuchsstation (gelanggang pengujian tank) Henschel yang berlokasi di Haustenbeck

----------------------------------------------------------------------

 Para ilmuwan Nazi mengujicoba sistem aerodinamik dari sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109 E-3 di tahun 1940. Ditenagai oleh mesin Rolls-Royce Kestrel V, pesawat hasil pengembangan kesekian dari Bf 109 ini mempunyai kecepatan maksimum 660km/jam. Panjangnya 8,65m dengan rentang sayap 9,87m. Senjata utamanya adalah dua buah kanon 20mm ditambah dengan dua senapan mesin sebagai pelengkap. Versi pertama pesawat rancangan Willy Messerschmitt ini telah teruji ketangguhannya dalam Perang Saudara Spanyol. Para pilotnya telah disumpah sebelum mereka meninggalkan Jerman bahwa mereka tidak akan membiarkan pesawat mereka sampai jatuh ke tangan musuh. Bila pesawatnya jatuh atau mendarat darurat di wilayah musuh, maka mereka harus membakarnya segera dengan menggunakan tangki khusus berisi materi yang mudah terbakar yang bisa disulut seketika dan memang disiapkan untuk tujuan semacam ini!


Sumber :
Buku "Tiger" karya Thomas Anderson 
www.rarehistoricalphotos.com

Friday, July 27, 2012

Pabrik Produksi Seragam dan Pakaian Wehrmacht

Bergulung-gulung kain yang menjadi bahan utama seragam Wehrmacht sedang disusun sebelum "dipreteli" untuk dijadikan seragam di pabrik Peek & Cloppenburg. Foto oleh Dr. Paul Wolff


Para pekerja pria di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang sibuk mengoperasikan mesin press uap. Tampaknya mereka sedang membentuk bagian kerah. Foto oleh Dr. Paul Wolff


Para pekerja wanita di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang sibuk menyatukan bagian-bagian seragam dengan menggunakan mesin jahit. Pabrik Peek & Cloppenburg masih beroperasi sampai saat ini!


Menumpuk seragam Wehrmacht yang sudah jadi di pabrik Peek & Cloppenburg. Foto oleh Dr. Paul Wolff


Dua orang pekerja wanita di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang memberikan sentuhan terakhir terhadap jaket/mantel Luftwaffe. Foto oleh Dr. Paul Wolff


Sumber :
Buku "Uniformen und Soldaten" karya Curt Ehrlich produksi tahun 1942