Showing posts with label Non-Nazi. Show all posts
Showing posts with label Non-Nazi. Show all posts

Saturday, January 17, 2026

Pasukan Tank Prancis Pra Perang Dunia II


Pasukan tank Prancis sebelum Perang Dunia II lebih mirip jagoan berotot yang hobi berdiri diam di depan cermin: penampilannya mengesankan, tapi geraknya sering bikin geleng kepala. Prancis memiliki tank-tank yang secara teknis sangat kuat untuk zamannya - seperti Char B1 bis dengan lapisan baja tebal dan meriam ganda, atau Somua S35 yang lincah dan modern - bahkan di atas kertas lebih diunggulkan dibanding Panzer Jerman versi awal; sayangnya, doktrin penggunaannya terasa seperti membawa mobil sport tapi hanya dipakai untuk ke warung sebelah: Tank-tank ini tidak disatukan tapi tersebar sebagai pendukung infanteri, dikomandoi secara kaku, radio terbatas (kadang lebih banyak pakai kurir daripada gelombang udara), dan manuver gabungan masih dianggap sebagai ide eksperimental yang “terlalu Jerman”. Akibatnya, ketika Perang Dunia II meletus, banyak awak tank Prancis yang bertempur dengan gagah berani dan tank mereka pun tahan tembakan, tetapi koordinasi lambat membuat keunggulan tersebut menguap begitu saja, ibarat petinju kelas berat yang lupa cara melangkah. Ironisnya, setelah tahun 1940, Jerman justru menggunakan tank-tank rampasan Prancis dengan cukup efektif, seolah berkata, “Mesinnya bagus, tinggal cara pakainya saja yang perlu diganti... sama sopirnya juga.”


Sumber :
Look in the Past War Archives

Sunday, December 21, 2025

Awak Kapal Perang Jepang dalam Perang Dunia II


Awak kapal perang Jepang dalam Perang Dunia II merupakan personel Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) yang dibentuk melalui sistem pelatihan keras dan disiplin ketat, menggabungkan pendidikan teknis modern dengan indoktrinasi semangat bushido yang menekankan ketaatan mutlak, keberanian, dan kesediaan berkorban sampai mati. Sejak masa pendidikan, para pelaut dilatih secara intensif dalam navigasi, pengoperasian mesin, artileri laut, torpedo, komunikasi, serta latihan fisik yang berat, sering disertai hukuman keras untuk menanamkan daya tahan mental. Kehidupan sehari-hari di atas kapal berlangsung dalam kondisi sempit dan hirarkis, dengan jam jaga panjang, ventilasi terbatas, serta rutinitas ketat yang mengatur segalanya, mulai dari perawatan kapal hingga upacara militer.

Pada awal-awal perang, ransum relatif baik, namun kemudian memburuk drastis seiring blokade dan kekurangan logistik. Dalam pertempuran laut besar seperti Pearl Harbor, Laut Koral, Midway, dan Teluk Leyte, awak kapal perang Jepang menghadapi ancaman konstan dari serangan udara, torpedo, kebakaran hebat, dan ledakan amunisi, sementara doktrin “tidak menyerah” membuat banyak dari mereka bertahan di kapal yang rusak parah hingga tenggelam.

Video ini adalah rekaman film asli dari Perang Dunia II yang memperlihatkan kehidupan di kapal perang Jepang. Beberapa hal menarik :

01:46 - Sudut pengambilannya keren dan estetik!
01:59 - Kapal Ryujo dilihat dari dek Kaga, yang mudah dikenali dari kode ekor pada pesawat tempur A6M2-nya yang sedang lepas landas.
05:35 Saat meriam-meriam kapal perang Hyuga ditembakkan, tiba-tiba terjadi ledakan di meriam sebelah kiri turet kelima. Dalam peristiwa yang berlangsung pada bulan Mei 1942 ini, 51 awak kapal tewas, sementara ruang amunisinya segera tergenang air (yang secara tidak langsung telah menyelamatkan kapal dari ledakan yang lebih besar). Tragedi ini terjadi selama latihan menembak bersama kapal Nagato dan Mutsu. Setelah kembali ke Kure, meriam yang meledak dianggap tidak dapat lagi diperbaiki, sehingga kemudian dilepas dari kapal.
07:42 - Ini adalah adegan pertempuran dimana USS Edsall ditenggelamkan oleh kapal perang Jepang pada bulan Maret 1942, sementara rekaman videonya sendiri dibuat oleh kameraman propaganda yang berada di atas kapal Tone.



Sumber :
www.youtube.com

Sunday, November 30, 2025

Seragam Hussar

 JERMAN

Hans-Joachim von Zieten (1699-1786) adalah salah satu komandan kavaleri paling legendaris dalam sejarah militer Prusia, yang namanya identik dengan ketangkasan, disiplin baja, dan serangan kilat yang menghancurkan musuh. Terlahir dari keluarga bangsawan kecil di Brandenburg, Zieten sempat diremehkan di awal kariernya karena posturnya yang kecil dan sifat keras kepalanya. Ia bahkan pernah diskors dari dinas militer, sebelum akhirnya justru membuktikan kemampuan dirinya sebagai seorang jenius perang di bawah kepemimpinan Raja Friedrich Agung. Sebagai komandan resimen hussar, ia terkenal karena taktik pengintaian cepat, serangan kilat, dan kemampuannya mengeksploitasi kelemahan musuh dalam Perang Silesia dan Perang Tujuh Tahun, terutama dalam pertempuran besar seperti Leuthen dan Torgau. Keberaniannya begitu dihormati hingga para prajurit menyebutnya “Zieten aus dem Busch” (Si Zieten dari Semak-Semak), karena kemunculannya yang selalu tiba-tiba dari balik medan hingga musuh nyaris tak sempat bereaksi.


Foto ini memperlihatkan kunjungan Kaiser Jerman Wilhelm II ke markas 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1 di Danzig-Langfuhr, yang berlangsung di tahun 1912. Sang Kaisar berdiri di depan pintu, seperti biasa berpose dengan menekuk lengan kirinya yang berukuran lebih pendek dari lengan kanan. Di belakangnya berdiri Jenderal August von Mackensen, panglima pasukan kavaleri, sementara di samping kanan Kaisar adalah Kronprinz (Putra Mahkota) - yang sama-sama bernama Wilhelm - yang merupakan komandan dari 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1. Dua orang gadis yang berdiri di tengah adalah, dari kiri ke kanan: putri sang Kaisar Prinzessin Viktoria Louise - yang merupakan perwira tituler Totenkopfhusaren - serta istri dari Kronprinz Wilhelm yang bernama Cecilie. Kaiserliche Armee (Angkatan bersenjata Kekaisaran Jerman) sendiri dilengkapi oleh tiga unit Hussar setingkat resimen, yaitu 1. Leib-Husaren-Regiment Nr. 1 dan Nr. 2 yang bermarkas di Danzig serta Braunschweigisches Husaren-Regiment Nr. 17 yang bermarkas di Brunswick. Simbol totenkopf (tengkorak) yang dikenakan oleh anggota-anggota unit Hussar ini kemudian ditiru oleh satuan SS (Schutzstaffel) dan sebagian resimen kavaleri Wehrmacht di era Nazi Jerman. BTW, Kaiser Wilhelm sengaja "mengusir" anak tertuanya untuk memimpin unit kavaleri di wilayah perbatasan demi untuk meredam kehebohan akibat serangkaian skandal perselingkuhan yang dilakukan oleh Kronprinz Wilhelm di Berlin!

---------------------------------------------------------------------------------------

INGGRIS

Charles William Vane, Marquess of Londonderry ke-3, KG, GCB, GCH, PC (lahir dengan nama Stewart; 1778-1854), adalah seorang bangsawan Anglo-Irlandia, tentara, dan politikus. Ia bertugas dalam Perang Revolusi Prancis, penumpasan Pemberontakan Irlandia 1798, dan Perang Napoleon. Ia menonjol sebagai seorang komandan kavaleri dalam Perang Semenanjung (1807–1814) di bawah Sir John Moore dan Duke of Wellington. Setelah mengundurkan diri dari jabatannya di bawah Wellington pada 1812, saudara tirinya Lord Castlereagh membantunya untuk memulai karier baru di bidang diplomatik. Stewart ditugaskan ke Berlin pada 1813, lalu menjadi duta besar di Austria, di mana Castlereagh menjadi utusan Inggris dalam Kongres Wina. Ia menikahi Lady Catherine Bligh pada 1804 dan kemudian, pada 1819, Lady Frances Vane-Tempest, seorang pewaris kaya, lalu mengubah nama belakangnya mengikuti nama istrinya, sehingga menjadi Charles Vane. Pada tahun 1822, ia menggantikan saudara tirinya sebagai Marquess of Londonderry ke-3, mewarisi tanah-tanah di utara Irlandia, di mana reputasinya menjadi buruk karena dikenal sebagai seorang tuan tanah yang tak kenal ampun selama berlangsungnya Kelaparan Besar. Reputasi yang sama juga tercermin dalam perannya sebagai seorang pengusaha tambang batu bara di tanah istrinya di County Durham, dimana ia menentang keras Undang-Undang Tambang yang baru pada tahun 1842, dan bersikeras atas haknya untuk terus menggunakan tenaga kerja anak-anak.


Henry William Paget, 1st Marquess of Anglesey (1768-1854) adalah salah satu jenderal Inggris paling flamboyan di era Perang Napoleon—seorang bangsawan, penunggang kuda ulung, sekaligus pemilik salah satu kaki paling terkenal dalam sejarah militer! Ia mencapai puncak ketenaran sebagai komandan kavaleri Sekutu di Pertempuran Waterloo (1815), di mana manuver cepat dan agresifnya membantu menekan sayap Prancis, meski kariernya di medan tempur ditutup secara dramatis ketika sebuah peluru meriam menghancurkan kaki kanannya; konon ia menanggapi kehancuran kakinya dengan kalem khas aristokrat, “Demi Tuhan, Tuan, sepertinya kaki saya kena.” Kaki tersebut bahkan dimakamkan secara terpisah dan menjadi objek wisata lokal di Waterloo, bertahun-tahun setelah pertempurannya sendiri berakhir - sebuah detail yang aneh tapi nyata! Di luar medan perang, Paget juga dikenal karena kehidupan pribadinya yang penuh skandal dan pesona sosial, namun reputasi militernya tetap kokoh: seorang komandan kavaleri yang berani, energik, dan efektif, yang meninggalkan jejak unik dalam sejarah Inggris—baik di arsip perang maupun di bawah tanah Waterloo.


Pangeran Albert (1819-1861), suami Ratu Victoria, mengenakan seragam resimennya sendiri (11th Hussars), yang ikut berpartisipasi dalam "The Charge of the Light Brigade" (Serangan Brigade Ringan) yang terkenal. Ia dianugerahi kehormatan untuk boleh mengenakan celana merah marun untuk 11th Light Dragoons, setelah unit ini menjadi pengawal dalam pernikahannya dengan Ratu Victoria pada tahun 1840 (merah marun adalah warna seragam pribadinya). Pangeran Albert juga ditunjuk sebagai Kolonel Kehormatan resimen kavaleri ringan tersebut, yang kemudian berganti nama menjadi 11th Prince Albert's Own Hussars setelah kematian sang pangeran pada tahun 1861.


Foto dari Foto Cornet Henry John Wilkin yang sedang menunggang kuda dengan posisi menghadap ke kanan sebagian (1855). Ia mengenakan seragam militer lengkap dari resimennya, 11th Hussars, termasuk topi beruang dengan bulu hias. Tangan kanannya bertumpu pada pinggangnya, sementara tangan kirinya memegang tali kekang. Di sebelah kanan terdapat tenda, dan di belakang terlihat lereng bukit. Cornet Wilkin bertugas sebagai Dokter Bantu di Resimen 11th Hussars selama berlangsungnya Perang Krimea (1853-1856). Ia ikut serta dalam "The Charge of the Light Brigade" (Serangan Brigade Ringan) yang terkenal, yang merupakan bagian dari Pertempuran Balaclava. Sebagai seorang dokter bedah, ia tidak diharapkan untuk ikut menyerang bersama dengan regunya, namun ia tetap melakukannya. Wilkin bertugas di Krimea dari pendaratan pertama hingga akhir perang, dan kemudian bertugas bersama Resimen ke-7 Hussars di India, di mana ia terluka parah dalam pertempuran di Lucknow pada tahun 1857.



Pada tahun 1895, di usia 21 tahun, Winston Churchill memperoleh pangkat pertamanya—Cornet (setara dengan Letnan Dua), di 4th Queen’s Own Hussars Regiment, sebuah resimen kavaleri ringan Angkatan Darat Inggris. Tahap awal karier militernya ini sangat krusial: ia mulai mengenal dinas militer aktif, perjalanan ke luar negeri, peperangan, dan wawasan politik yang kemudian membentuk karakternya saat setelah menjadi politisi dan negarawan. Churchill lulus dari Royal Military College di Sandhurst pada tahun yang sama (1895), setelah hampir tidak diterima meskipun beberapa kali mencoba. Baru beberapa waktu ditugaskan, ia sudah mencari kesempatan untuk merasakan kancah pertempuran dan menonjolkan dirinya, baik sebagai prajurit maupun sebagai penulis. Ambisi besar untuk mengukir nama bagi dirinya sendiri sudah terukir jelas dari dini.

---------------------------------------------------------------------------------------

PRANCIS


Antoine-Charles-Louis, Comte de Lasalle (1775-1809) adalah adalah salah satu jenderal kavaleri paling legendaris dan flamboyan dalam Perang Napoleon, yang dikenal karena keberanian cenderung nekatnya, gaya hidupnya yang identik dengan miras dan duel, serta semboyannya yang terkenal, “Seorang hussar yang tidak mati sebelum usia tiga puluh adalah bajingan,” yang ironisnya menjadi nubuat bagi dirinya sendiri. Lasalle meniti karier militer sejak masa Revolusi Prancis, dan menjelma sebagai komandan kavaleri ringan yang sangat ditakuti musuh karena pola serangan kilatnya yang agresif dan penuh keberanian, khususnya dalam perang melawan Austria dan Prusia. Ia menorehkan prestasi besar dalam pertempuran Austerlitz (1805) dan kampanye militer di Prusia (1806), di mana keberanian pasukan hussar yang dipimpinnya sering kali menjadi penentu dalam pertempuran. Kepribadiannya yang karismatik, temperamental, kontroversial tapi sangat setia pada Napoleon membuatnya dicintai pasukan dan dihormati oleh para jenderal lain. Namun, sesuai nasib yang seakan dipilihnya sendiri, Lasalle gugur pada usia 34 tahun dalam Pertempuran Wagram (1809). Pada hari kedua pertempuran besar melawan Austria tersebut, Lasalle memimpin serangan kavaleri dengan keberanian khasnya, menerjang hujan peluru di dataran Marchfeld untuk memecah formasi musuh dan menyelamatkan infanteri Prancis yang sedang tertekan. Di tengah kekacauan pertempuran, ketika ia sedang memimpin langsung anak buahnya di garis depan, sebuah bola meriam menghantamnya, menewaskannya seketika di atas pelana kuda. Kabar kematiannya mengguncang tentara Prancis, bahkan Napoleon sendiri sangat terpukul telah kehilangan salah satu komandan kavalerinya yang paling berani dan karismatik.



Joachim Murat (1767-1815) adalah salah satu tokoh paling menarik dan kontroversial dalam era Perang Napoleon, yang terkenal bukan hanya karena keberaniannya yang luar biasa di medan tempur, tetapi juga karena penampilannya yang mencolok dengan seragam hussar (kavaleri ringan) yang dipenuhi bulu, emas, dan warna-warna mencolok. Lahir dari keluarga Prancis sederhana, Murat naik ke puncak kekuasaan berkat bakat militernya yang brilian dan pernikahannya dengan Caroline Bonaparte, adik Napoleon, yang menjadikannya bagian inti dari dinasti kekaisaran. Sebagai komandan kavaleri, ia memainkan peran krusial dalam kemenangan-kemenangan besar seperti Austerlitz, Jena, dan Eylau, di mana serangan kavaleri massal yang ia pimpin sering kali memecah garis musuh dan menentukan arah pertempuran. Pada 1808 ia diangkat menjadi Raja Napoli, namun kesetiaannya yang goyah terhadap Napoleon pada tahun-tahun terakhir Kekaisaran berujung pada kejatuhannya sendiri. Setelah kekalahan Napoleon, Murat ditangkap oleh pasukan Bourbon dan dieksekusi oleh regu tembak pada tahun 1815. Detik-detik menjelang hukuman mati, ia menolak untuk mengenakan penutup mata dan dengan tenang memberikan perintah terakhir kepada regu tembak, yang sebagian adalah mantan anak buahnya: “Rekan-rekan, bila kalian masih menghargaiku, maka bidik jantungku tapi jangan wajahku... Tembak!” sebuah kalimat yang kemudian menjadi legenda.

---------------------------------------------------------------------------------------

RUSIA


Evgraf Davydov (1775-1823)  adalah salah satu tokoh kavaleri Rusia paling menarik pada era Perang Napoleon, seorang perwira karismatik dari Resimen Kirasir yang dikenal disiplin kerasnya, keberanian spontan, dan naluri taktis yang tajam. Lahir dari keluarga bangsawan militer, Davydov tampil menonjol dalam berbagai kampanye militer besar Kekaisaran Rusia, terutama pada perang 1805–1814, di mana ia berkali-kali memimpin serangan kavaleri berat yang menjadi penentu dalam memecah formasi musuh. Ia tampil gemilang di Austerlitz, Friedland, dan terutama selama Invasi Prancis ke Rusia tahun 1812, saat pasukan yang dipimpinnya berulang kali menghantam korps kavaleri Prancis dalam pertempuran sengit di Smolensk dan Borodino. Sosoknya juga sering dikaitkan dengan semangat perlawanan Rusia, karena hubungannya dengan sang sepupu terkenal, penyair-gerilyawan Denis Davydov. Begitu sengit dan beraninya Davydov dalam medan pertempuran, sehingga dia harus kehilangan lengan kanan dan kaki kirinya akibat luka parah yang membuatnya diamputasi, tapi tetap memutuskan untuk tetap aktif di militer sampai dengan kematiannya di tahun 1823!

---------------------------------------------------------------------------------------

SPANYOL


Raja Spanyol Alfonso XIII (1886-1841) dalam sebuah lukisan yang dibuat oleh Román Navarro pada tahun 1912 dan kini disimpan di Museo del Prado, Madrid. Sang Raja mengenakan seragam Resimen Hussar Pavia, sementara di lehernya tergantung medali Ordo Toisón de Oro. Tersemat di jaket dolmannya adalah Salib besar Ordo Carlos III, salib besar dan pita Mérito Militar dengan tanda merah, serta pita medali berisi 13 penghargaan lainnya. Alfonso sendiri diangkat menjadi raja pada saat kelahirannya. Ia bertahta dari tahun 1886 sampai 1931, saat ia meninggalkan negeri setelah Republik Spanyol Kedua di proklamasikan (meskipun tidak turun tahta). Ia lalu tinggal di Roma. Setelah Perang Saudara berakhir pada tahun 1939, Alfonso kembali ke negaranya dan menjadi raja sampai saat kematiannya di tahun 1941.


Sumber :
www.instagram.com
www.militarypaintings.blogspot.com

Saturday, November 29, 2025

Kapal Selam Jepang dalam Perang Dunia II


Satuan kapal selam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun Sensuikan Butai) merupakan salah satu armada bawah laut paling inovatif namun juga paling kontroversial dalam Perang Dunia II, dengan strategi yang sangat berbeda dari Jerman dan Sekutu Barat. Jepang memandang kapal selam bukan terutama sebagai senjata perang dagang untuk menghancurkan logistik musuh, melainkan sebagai bagian dari armada tempur utama yang bertugas memburu kapal perang musuh, terutama kapal induk dan kapal perang Amerika Serikat. Sejak awal perang Pasifik, Jepang telah mengoperasikan puluhan tipe kapal selam dari kelas besar jarak jauh seperti I-class hingga kapal selam mini (Ko-hyōteki), yang digunakan dalam serangan mendadak di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Kapal selam Jepang terkenal memiliki jangkauan operasi yang sangat jauh—bahkan mampu beroperasi hingga pesisir Amerika dan Samudra Hindia—serta dilengkapi torpedo Type 95 berbasis oksigen murni yang sangat cepat dan mematikan.

Yang paling mengesankan secara teknis adalah kapal selam raksasa kelas I-400 (Sentoku), kapal selam terbesar di dunia hingga era nuklir, yang dirancang sebagai “kapal induk bawah laut” dengan kemampuan membawa tiga pesawat pengebom lipat Aichi M6A Seiran! Kapal ini dibuat untuk melancarkan serangan strategis kejutan terhadap target jauh seperti Terusan Panama, namun rencana tersebut tidak pernah terealisasi karena situasi perang yang keburu memburuk bagi Jepang pada tahun 1945. Selain itu, Jepang juga mengembangkan berbagai jenis kapal selam khusus: kapal selam pengintai, kapal selam pengangkut logistik untuk garnisun terpencil, hingga kapal selam pembawa senjata rahasia. Dalam praktiknya, kapal selam Jepang lebih sering digunakan untuk pengintaian, serangan terbatas terhadap kapal perang, serta misi pasokan ke pulau-pulau yang telah terisolasi oleh blokade Sekutu.

Pada tahap akhir perang, keterdesakan Jepang melahirkan senjata ekstrem berupa Kaiten, torpedo berawak yang dikendalikan pilot bunuh diri dari dalam, yang diluncurkan dari kapal selam induk. Kaiten digunakan dalam beberapa serangan terhadap armada Sekutu sejak tahun 1944, termasuk di perairan Filipina dan Okinawa, dengan hasil militer yang sangat terbatas tetapi korban jiwa yang besar di pihak Jepang. Selain Kaiten, Jepang juga mengoperasikan kapal selam mini untuk misi infiltrasi pelabuhan dan sabotase, meski efektivitasnya relatif rendah dibandingkan biaya dan risiko yang ditanggung awak.

Meskipun memiliki teknologi canggih dan awak yang terlatih, satuan kapal selam Jepang gagal memberikan dampak strategis besar seperti yang dicapai U-Boat Jerman di Atlantik. Kegagalan ini terutama disebabkan oleh doktrin yang keliru, kurangnya fokus pada perang logistik terhadap kapal pengangkut Sekutu, serta semakin unggulnya teknologi anti-kapal selam Amerika seperti radar, sonar, dan pengawalan konvoi terpadu. Pada akhir perang, lebih dari separuh armada kapal selam Jepang hancur bersama sebagian besar awaknya. Namun demikian, dalam sejarah perang laut, kapal selam Jepang tetap dikenang karena jangkauan operasinya yang luar biasa, desain inovatif seperti kelas I-400, serta penggunaan senjata ekstrem seperti Kaiten.


Sumber :
The World War II Foundation

Friday, November 28, 2025

Serangan Pasukan Parasut Dai Nippon ke Kilang Minyak Palembang (1942)


Serangan pasukan parasut Jepang ke kilang minyak Palembang pada bulan Februari 1942 merupakan salah satu operasi udara paling berani dalam kampanye penaklukan Hindia Belanda, dan dikenal sebagai bagian dari Operasi L untuk merebut sumber minyak vital di Sumatra.

Pada tanggal 14 Februari 1942, satuan lintas udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Teishin Shudan) diterjunkan langsung di sekitar kilang minyak Pladjoe (P1) dan Sungai Gerong (P2), fasilitas strategis milik Belanda yang menjadi jantung produksi bahan bakar di Asia Tenggara. Penerjunan ini direncanakan dengan sangat baik, dimana 425 prajurit dari Resimen Serbu Para ke-1 merebut landasan udara Palembang, sementara para penerjun payung dari Resimen Serbu Para ke-2 merebut kota dan kilang minyak pentingnya. Operasi ini juga mendapat dukungan serangan udara intensif, yang melumpuhkan pertahanan KNIL serta pesawat-pesawat Sekutu di sekitar Palembang. Meskipun pihak Belanda telah menyiapkan rencana bumi hangus dan berhasil merusak sebagian instalasi penting sebelum kilang jatuh ke tangan musuh, penerjunan pasukan dari udara benar-benar mengejutkan pertahanan setempat, karena merupakan operasi lintas udara besar pertama Jepang dalam Perang Dunia II.

Setelah pertempuran sengit melawan pasukan KNIL dan bantuan terbatas dari penerbang Sekutu, pasukan Jepang berhasil menguasai zona kilang dan jembatan-jembatan penting di Sungai Musi, lalu diperkuat oleh pendaratan pasukan laut beberapa hari kemudian. Kejatuhan Palembang bukan hanya mempercepat runtuhnya pertahanan Hindia Belanda di Sumatra, tetapi juga memberi Jepang akses langsung terhadap pasokan minyak yang sangat dibutuhkan untuk menopang mesin perangnya di Pasifik.


Sumber :
Look in the Past War Archives

Saturday, October 25, 2025

Kato Hayabusa Sento-Tai (Skuadron Pemburu Kolonel Kato), Film jepang Produksi Tahun 1944


Kato hayabusa sento-tai (Colonel Kato's Fighter Squadron) adalah film Jepang hitam putih produksi tahun 1944 yang disutradarai oleh Kajiro Yamamoto. Sebuah film perang yang menceritakan misi Skuadron Udara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Sebagai koordinator special-effect adalah Eiji Tsuburaya, yang nantinya terkenal karena karyanya dalam film Godzilla dan Ultraman.

Sunday, October 19, 2025

Video Bintara Kekaisaran Jerman Tiba di Wetzlar untuk Menjalani pelatihan (1914)


Rekaman gambar bergerak yang telah direstorasi ini menunjukkan kedatangan prajurit-prajurit bintara Kaiserliche Armee yang sedang mengikuti pelatihan di Wetzlar, Jerman. Di stasiun Wetzlar, para prajurit ini disambut oleh gendarme Otto Wallenreich serta yang lainnya. Setelah kedatangan kereta api di stasiun, tokoh-tokoh lokal, termasuk perwira non-komisioner Komando Distrik Wetzlar, menyambut para prajurit bintara yang sedang berlatih. Dipimpin oleh kapten, ajudannya, dan letnan kompi, anggota brigade keluar dari stasiun, lalu berbaris melalui Bahnhofstraße, dan membentuk barisan di alun-alun katedral Wetzlar. Karena walikota Wetzlar tidak dapat hadir pada hari itu, anggota dewan Siegmund Hiepel memeriksa para prajurit bersama sang komandan. Brigade pun lalu berbaris pergi.

Perwira yang terlihat pada menit 4:08 dengan tengkorak di Pickelhaube-nya adalah Oberleutnant Rudolf Friedrich Ritter von Voightländer.  Ia lahir di Brussels pada tahun 1884 dan bergabung dengan Braunschweigisches Infanterie-Regiment Nr. 92 sebagai Fähnrich pada tahun 1903, lalu diangkat menjadi Leutnant pada tahun berikutnya.  Ketika Perang Dunia I meletus sekitar lima bulan setelah klip ini dibuat, dia ditugaskan ke Reserve-Infanterie-Regiment Nr. 78 (resimen yang digambarkan dalam versi terbaru “All Quiet on the Western Front”).  Voightländer selamat dari Perang Dunia I sebagai seorang Mayor, dan di masa selanjutnya ia pernah bertugas di Staf Umum (Generalstab der Obersten Heeresleitung).  Ritter von Voightländer menikah setelah perang, dan menjabat berbagai posisi di layanan sipil. Pada tahun 1937, ia bergabung dengan Luftwaffe dan dipromosikan menjadi Oberst pada tahun 1941. Ia diangkat menjadi Generalmajor pada tahun 1945 dan menghabiskan waktu di tahanan setelah Perang Dunia II, dibebaskan pada tahun 1947. Ia meninggal di Tutzing, Bayern pada tahun 1959.

 

Sumber ;
www.youtube.com

Tuesday, October 14, 2025

Video Berwarna Pertempuran Memperebutkan Kota Naha di Okinawa (1945)


Rekaman film berwarna Pertempuran Okinawa - yang diambil pada bulan Mei 1945 oleh kamerawan tempur Korps Marinir Norman T. Spangler - menangkap tahap akhir yang brutal dari Perang Pasifik dengan realisme yang menggetarkan, terutama di sekitar kota Naha yang hancur lebur oleh perang. Gulungan Kodachrome hidup miliknya memperlihatkan lanskap perkotaan yang luluh lantak, yang dihancurkan oleh bombardemen nonstop, saat pasukan Marinir dan tentara AD AS menerobos lumpur, puing-puing, dan asap di bawah hujan deras dan perlawanan Jepang yang sengit. Gambar berwarna langka ini memberikan catatan visual yang mengerikan tentang kejamnya kampanye militer tersebut — dari tank yang melaju melewati puing-puing yang masih membara, hingga prajurit yang kelelahan yang berusaha berlindung di parit — mengubah apa yang mungkin tampak seperti sejarah yang jauh menjadi dokumen yang hidup dan sangat manusiawi tentang biaya mahal peperangan yang kini berada di ambang pintu Jepang.

Mitsubishi G4M "Betty", Bomber Andalan Jepang dalam Perang Dunia II

Mitsubishi G4M, yang dijuluki “Betty” oleh Sekutu, merupakan pesawat pengebom jarak jauh andalan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Dirancang untuk memiliki jangkauan luar biasa guna mendukung operasi maritim di Pasifik, G4M terkenal karena kemampuannya terbang jauh tanpa henti—namun juga terkenal rapuh karena tidak dilengkapi perlindungan lapis baja dan tangki bahan bakar tahan peluru demi menghemat bobot. Pesawat ini pertama kali beraksi pada tahun 1941 dan berperan penting dalam banyak operasi besar, termasuk penyerangan terhadap kapal perang Prince of Wales dan Repulse di Laut Cina Selatan. Meskipun mudah terbakar dan dijuluki “cigar lighter” oleh pilot Sekutu, G4M tetap menjadi simbol kekuatan udara Jepang di masa awal perang, mencerminkan perpaduan antara kecepatan, daya jelajah, dan risiko tinggi yang melekat dalam desain militer Jepang era itu.



Sumber :
www.youtube.com

Sunday, October 12, 2025

Sekolah Pelatihan Kapal Selam Jepang (1940)


Sekolah pelatihan kapal selam Jepang pada masa Perang Dunia II merupakan bagian penting dari upaya Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) untuk mempertahankan dominasi lautnya di Pasifik. Didirikan di berbagai pangkalan seperti Kure, Yokosuka, dan Sasebo, sekolah ini melatih para perwira dan awak kapal selam dalam navigasi bawah laut, torpedo, taktik serangan malam, dan teknik penyelaman dalam kondisi ekstrem. Program pelatihannya sangat disiplin dan keras, mencerminkan doktrin militer Jepang yang menekankan pengorbanan dan loyalitas total kepada Kaisar. Selain pelatihan teknis, peserta juga didoktrinasi dengan semangat bushido, menjadikan banyak kru kapal selam siap melakukan misi berisiko tinggi, termasuk operasi kamikaze bawah laut dengan kapal selam mini seperti Kaiten. Meskipun hasil strategisnya terbatas, sekolah-sekolah ini melahirkan generasi pelaut yang fanatik dan berdedikasi, simbol dari tekad Jepang mempertahankan kehormatan di tengah peperangan.


Sumber :
Look in the Past War Archives
www.archive.org

Sunday, September 21, 2025

Nippon Nyusu (Berita Jepang) No. 130 - 1 Desember 1942


Nippon Nyusu (Berita Jepang) adalah buletin berita film resmi Jepang pada era Perang Dunia II yang diproduksi sebagai alat propaganda untuk memperkuat semangat nasionalisme dan mendukung kebijakan perang Kekaisaran. Ditayangkan di bioskop sebelum pemutaran film utama, Nippon Nyusu menampilkan laporan kemenangan militer, pidato para pemimpin, kegiatan industri perang, serta potret kehidupan sehari-hari yang digambarkan penuh optimisme, guna membentuk opini publik sesuai kepentingan negara. Dengan gaya visual yang dramatis dan narasi yang penuh semangat, buletin ini berfungsi tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana psikologis untuk menjaga moral rakyat Jepang di tengah perang yang semakin lama semakin berat.

Isi dari Nippon Nyusu No. 130 - 1 Desember 1942 :

00:35 - Peringatan pertama Perang Asia Timur Raya.
01:00 - Pidato Perdana Menteri Hideki Tojo.
03:55 - Peningkatan kapasitas produksi mesin perang di pabrik-pabrik Jepang.
06:26 - KSAD Hajime Sugiyama dan KSAL Osami Nagano di ruang kerja mereka masing-masing.
07:30 - Profil Tentara Kwantung yang menjaga perbatasan darat Jepang di Tiongkok dan Manchuria.
08:39 - Kapal-kapal Angkatan Laut Kekaisaran Jepang beraksi di samudera.


Sumber :
German WWII Archive

Sunday, August 10, 2025

Kejatuhan Hongkong - Propaganda Jepang (6 Januari 1942)

Hongkong adalah koloni Inggris pertama di Asia yang diserang oleh Pasukan Jepang. Pada tanggal 8 Desember 1941 pukul 10 pagi waktu setempat, hanya berselang beberapa jam setelah serangan Jepang terhadap Pearl Harbor, Pasukan Dai Nippon memulai serangan mereka terhadap Hongkong.

Pasukan Jepang dari Angkatan Darat ke-23 di bawah komando Letnan-Jenderal Takashi Sakai, dengan didukung oleh detasemen kecil Angkatan Laut (satu kapal penjelajah, tiga kapal perusak, empat kapal torpedo, dan sejumlah kapal kecil) di bawah komando Laksamana Muda Masaichi Niimi, dengan total kekuatan sekitar 27.000 orang, menyerang koloni yang dipertahankan oleh sekitar 12.000 tentara Britania Raya dan Persemakmuran di bawah komando Mayor-Jenderal Christopher Maltby dari Angkatan Darat Britania-India. 

Pasukan Inggris sempat memberikan perlawanan sengit, namun pandangan remeh terhadap kekuatan Jepang dan situasi strategis secara keseluruhan membuat Hongkong tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi, sehingga pasukan Inggris terpaksa menyerah tepat pada hari Natal tanggal 25 Desember 1941. 

Sekitar 1.800 tentara Inggris dan 700 tentara Jepang tewas; selain itu, beberapa kapal dan perahu Inggris juga ditenggelamkan. Satu kapal perusak Inggris - HMS Thracian - yang sebelumnya ditenggelamkan oleh para awaknya, mampu diangkat dari dasar lautan oleh pihak Jepang dan kemudian dioperasikan kembali.

Video ini adalah klip propaganda singkat tentang invasi Jepang ke kota Hongkong, yang menampilkan serangan udara dan laut, pendaratan pasukan Jepang di kota tersebut, serta rekaman parade kemenangan setelah Hongkong berhasil dikuasai.



Sumber :
www.youtube.com

Wednesday, November 23, 2022

Pengaruh Militer Jerman di Negara Lain

 ARGENTINA


Foto ini diambil di sebuah barak militer di Argentina pada tahun 1938, dan memperlihatkan dua orang prajurit Angkatan Darat negara tersebut yang memakai seragam serta helm yang sekilas mirip tentara Jerman era Nazi. Penutup kepala jenis stahlhelm yang mereka kenakan adalah versi parade berbahan fiber yang berwarna hijau muda dengan dekal terdapat di bagian samping kanan (tak terlihat dalam foto ini), yang kemungkinan adalah produksi lokal. Pengaruh militer Jerman di Argentina sendiri telah berlangsung dari sejak era Kekaisaran Jerman, saat negara di Amerika Selatan tersebut memulai modernisasi negaranya di tahun 1890-an dengan mencontoh Kaiserliche Armee yang saat itu menjadi Angkatan darat nomor satu di dunia. Setelah sempat terhenti beberapa tahun akibat pecahnya Perang Dunia Pertama, pada tahun 1921 hubungan militer antara kedua negara berlanjut kembali, saat Reichswehr (Angkatan Bersenjata Republik Weimar Jerman) mengirimkan pensiunan Generalmajor Wilhelm Faupel untuk menjadi penasihat militer di Argentina. Faupel tinggal di negara tersebut selama 10 tahun, cukup untuk membuat Angkatan Darat Argentina bertransformasi layaknya militer Jerman, termasuk dari segi doktrin militer serta perlengkapan yang dikenakan



Sumber :
Buku "German Military Influence in Argentina" karya George Pope Atkins
www.mourningtheancient.com

Monday, March 6, 2017

Paul von Hindenburg, Pahlawan Jerman dalam Perang Dunia Pertama

Paul Ludwig Hans Anton von Beneckendorff und von Hindenburg (2 Oktober 1847 – 2 Agustus 1934) adalah jenderal dan politisi Jerman terkemuka, veteran Perang Austria-Prusia (1866), Perang Prancis-Prusia (1870-1871), dan Perang Dunia I (1914-1918) yang kemudian menjadi Presiden Jerman kedua pada tahun 1925-1934. Meskipun sebenarnya telah pensiun dari kemiliteran pada tahun 1911, Hindenburg dipanggil kembali oleh Kaiser Wilhelm II untuk bertugas saat Perang Dunia Pertama pecah, dan tak lama kemudian membuktikan kemampuannya yang gemilang sebagai panglima militer dengan menghancurkan pasukan Rusia dalam Pertempuran Tannenberg serta Pertempuran Danau Masuria, meskipun notabene dia sudah berusia 66 tahun! Pada tahun 1916 dia diangkat sebagai Kepala Staff Jenderal Angkatan darat, dan sejak saat itu (bersama dengan deputinya Erich Ludendorff) menjadi diktator militer Jerman secara de facto sampai dengan berakhirnya perang. Hindenburg pensiun untuk kedua kalinya pada tahun 1919, tapi masuk lagi kancah politik pada tahun 1925. Namanya yang harum di seantero Jerman membuat dia tanpa kesulitan menjadi presiden negara tersebut pada tahun 1925 (sebuah jabatan yang dipegangnya sampai dengan meninggalnya pada tahun 1934). Pada tahun 1933, sang pahlawan gaek dipaksa untuk mengangkat Kanselir yang baru - yang sangat tidak disukainya - setelah mendapat tekanan akibat ketidakstabilan politik yang melanda Jerman. Kanselir baru itu bernama Adolf Hitler, dan hanya dalam tempo setahun dia telah mampu mengkonsolidasikan kekuatannya, sehingga ketika Hindenburg meninggal pada usia 86 tahun, Hitler langsung menggantikan tempatnya sebagai diktator baru Jerman sampai dengan tahun 1945. Foto diambil pada tahun 1914 oleh fotografer kenamaan Nicola Perscheid

------------------------------------------------------------------------

MASA MUDA DAN MASA KEKAISARAN

1860: Paul von Hindenburg sebagai seorang kadet militer Prusia di Wahlstatt (sekarang bernama Legnickie Pole dan menjadi bagian dari Polandia). Pada saat itu usianya baru menginjak 13 tahun. Hindenburg sendiri sudah menyukai segala hal yang berbau militer dari sejak kecil, ditambah lagi dengan dukungan orangtuanya, sehingga baginya perang bukanlah sebuah hal yang mengerikan, melainkan sesuatu yang "indah dan romantis". Minatnya diperdalam oleh sahabatnya di masa kecil, seorang tukang kebun tua yang pernah menjadi pemukul drum dalam pasukan Friedrich der Große, raja Prusia terkemuka abad ke-18 yang juga terkenal sebagai jenius militer. Sebagai seorang kadet, Hindenburg disegani karena komitmennya pada tugas-tugas yang diberikan, obsesi pada detail yang membuat seragamnya selalu tampak rapi dengan semua kancing kuningannya rutin dipoles sampai kinclong, serta ketangguhan fisik yang diatas standar. Meskipun begitu, dia dianggap mempunyai kecerdasan yang biasa-biasa saja dan tidak mempunyai "sense of humor". Intinya, Hindenburg di masa muda adalah orang yang serius sekaligus membosankan!


 Paul von Hindenburg sebagai seorang Major yang bertugas di Grosser Generalstab di tahun 1888. Di tahun itu Kekaisaran Jerman dipimpin oleh tiga orang Kaiser: Wilhelm I, Friedrich III, dan Wilhelm II. Ketika Wilhelm I meninggal pada bulan Maret 1888, Hindenburg menjadi salah satu Penjaga Kehormatan dalam upacara pemakamannya. Dia menyempatkan diri untuk mengambil satu buah potongan marmer abu-abu dari lantai Katedral Berlin tempat sang raja disemayamkan, dan sejak saat itu potongan tersebut selalu dibawanya kemana-mana sebagai pengingat dari "rajaku"!


 Paul von Hindenburg sebagai seorang Generalmajor dan Chef des Generalstabes (foto diambil tahun 1896-1897). Jenjang kenaikan pangkat yang diraihnya: Leutnant (7 April 1866), Oberleutnant (13 April 1872), Hauptmann (1878), Major (1881), Oberstleutnant (14 Februari 1891), Oberst (Maret 1894), Generalmajor (14 Agustus 1896), Generalleutnant (1897), dan General der Infanterie (22 Juni 1905). Hindenburg pensiun pada tanggal 18 Maret 1911, tapi kemudian dipanggil kembali untuk bertugas ketika Perang Dunia Pertama pecah, dan langsung diserahi tanggungjawab sebagai Panglima 8. Armee di Front Timur pada tanggal 22 Agustus 1914. Setelah itu pangkatnya naik lagi menjadi Generaloberst (26 Agustus 1914), dan akhirnya Generalfeldmarschall (27 November 1914)


 Foto yang diambil pada tanggal 2 Oktober 1897 ini memperlihatkan para perwira dari Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran Jerman) berfoto bersama di depan Hotel Schaeidt di sela-sela acara Kaisermanöver (latihan perang) yang diadakan di Lebach/Saarland. Latihan tersebut rutin diselenggarakan setiap tahun dan biasanya digelar di musim gugur. General der Kavallerie Gottlieb Graf von Haeseler (Kommandierender General XVI. Armeekorps yang bermarkas di Metz) berada nomor dua dari kiri, sementara Generalmajor Paul von Hindenburg (Chef des Generalstabes VII. Armeekorps yang bermarkas di Koblenz) adalah orang yang berdiri nomor lima dari kiri (tangan di dalam baju dan memegang pedang). BTW, hari foto ini diambil bertepatan juga dengan ulangtahun ke-50 dari sang jenderal! Pada penyelenggaraan Kaisermanöver tahun 1908, Hindenburg melakukan sesuatu yang tak terbayangkan dan dianggap melanggar "peraturan tidak tertulis" yang harus diaati oleh semua personil militer Jerman: unit di bawah komandonya (IV. Armeekorps) mengalahkan unit militer pimpinan Kaiser Wilhelm II. Walaupun kemudian di akhir acara sang Kaisar memberikan ucapan selamat atas prestasi Hindenburg tersebut, tapi kejadian ini ternyata berbuntut panjang: sang jenderal kemudian diblok dari jabatan prestisius di staff jenderal AD, dan tak lama kemudian harus pensiun!


Kaisar Jerman Wilhelm II bersama dengan para jenderal "top notch"-nya dalam Perang Dunia Pertama (klaim Getty Images menyebutkan bahwa foto hasil sotosop zaman baheula ini diambil pada tahun 1910). Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Karl Wilhelm Paul von Bülow (1846-1921), Generalfeldmarschall Anton Ludwig Friedrich August von Mackensen (1849-1945), Generalfeldmarschall Rupprecht Maria Luitpold Ferdinand von Wittelsbach Kronprinz von Bayern (1869-1955), Generaloberst Helmuth Johannes Ludwig von Moltke (1848-1916), Generalfeldmarschall Albrecht Maria Alexander Philipp Joseph Herzog von Württemberg (1865-1939), General der Infanterie Friedrich Wilhelm Viktor August Ernst von Hohenzollern Kronprinz von Preußen (1882-1951), Oberster Kriegsheer Kaiser Wilhelm Viktor Albert von Preußen (1859-1941), General der Infanterie Hermann Karl Bruno von François (1856-1933), Generaloberst Alexander Heinrich Rudolf von Kluck (1846-1934), General der Infanterie Erich Friedrich Wilhelm Ludendorff (1865-1937), General der Infanterie Albert Theodor Otto von Emmich (1848-1915), General der Infanterie Erich Georg Alexander Sebastien von Falkenhayn (1861-1922), Generaloberst Karl Wilhelm George August Gottfried von Einem gennant von Rothmaler (1853-1934), Generalfeldmarschall Gottlieb Ferdinand Albert Alexis Graf von Haeseler (1836-1919), Generaloberst Hans Hartwig von Beseler (1850-1921), Generalfeldmarschall Paul Ludwig Hans Anton von Beneckendorff und von Hindenburg (1847-1934), Kanzler Theobald Theodor Friedrich Alfred von Bethmann-Hollweg (1856-1921), Generaloberst Josias Oskar von Heeringen (1850-1926), dan Großadmiral Alfred Peter Friedrich von Tirpitz (1849-1930) 


 Foto ini dibuat pada tahun 1912 saat Paul von Hindenburg sudah pensiun dari dinas ketentaraan dengan pangkat terakhir General der Infanterie, tapi kemudian populer di masa Perang Dunia I setelah direproduksi sebagai kartu pos untuk penduduk Jerman. Tulisan berbahasa Prancis di atasnya berbunyi: "Le maréchal Hindenburg, nommé chef d'état-major en remplacement de Falkenhayn" (Marsekal Hindenburg, terpilih sebagai Kepala Staff menggantikan Falkenhayn). Hindenburg sendiri diangkat sebagai Chef des Generalstabes des Feldheeres (Kepala Staff Jenderal AD Lapangan) pada tanggal 29 Agustus 1916, dan jabatan tersebut terus dipegangnya sampai dengan akhir perang



Kartu pos Keluaran Wohlfahrts-Postkarte dengan nomor urut 23 ini menjadi salah satu seri "Deutsche Heerführer" (Pimpinan AD Jerman), dan di belakangnya tertulis "ausgegeben vom Verein für Wohlfahrtsmarken" (dikeluarkan oleh Asosiasi Kesejahteraan Marks). Aslinya, foto ini dijepret oleh fotografer Albert Meyer (1857-1924) dari Hanover - yang juga merupakan tempat tinggal Hindenburg - antara tahun 1911 (pensiunnya sang jenderal) dan 1913 (dijualnya studio foto Meyer ke Hugo Julius). Kartu pos ini sendiri diterbitkan oleh Gustav Liersch & Co., Berlin S.W. 48, sementara untuk tempat percetakannya mengambil tempat di "Tiefdruck der Rotophot A.G. Berlin"


------------------------------------------------------------------------

PERANG DUNIA PERTAMA
 
 Foto Paul von Hindenburg yang diambil pada tahun 1914. Posisi dan jabatan yang pernah dipegangnya: Sekondelieutenant di 3. Garde Regiment zu Fuss (7 April 1866 - 1873); mengikuti kursus perwira lanjutan di Kriegsakademie Berlin (1873 - 1876); bertugas di Grossen Generalstab (1877 - 1878); Stab II. Armeekorps (9 Juli 1878 - 1881); Stab 1. Division (5 Mei 1881 - 1884); Bertugas di Infanterie-Regiment Nr. 3 (1884 - 14 Juli 1885); Bertugas di II.Abteilung / Kriegsministerium (1890); Kommandeur Infanterie-Regiment Nr. 91 (1893 - 1896); Chef des Generalstabes VIII. Armeekorps (1896 - 1900); Kommandeur 28. Infanterie-Division (Juli 1900 - 27 Januari 1903); Kommandierender General IV. Armeekorps (27 Januari 1903 - 18 Maret 1911); pensiun (18 Maret 1911 - Agustus 1914); diapnggil kembali untuk bertugas dan menjadi Oberbefehlshaber 8. Armee (22 Agustus 1914 - 18 September 1914) Oberbefehlshaber 9. Armee (18 September 1914 - 1 November 1914); Oberbefehlshaber Ost (1 November 1914 - 29 Agustus 1916); Chef des Generalstabes des Feldheeres (29 Agustus 1916 - 25 Juni 1919); Chef des Generalstabes des Heeres (25 Juni 1919 - 3 Juli 1919); pensiun untuk kedua kalinya dari dinas militer (3 Juli 1919)


 Generaloberst Paul von Hindenburg (ketiga dari kiri, Oberbefehlshaber 8. Armee) dalam sebuah percakapan dengan perwira tinggi Jerman lainnya, sementara prajurit yang mengenakan helm pickelhaube di kiri-kanan mereka memberi hormat. Tak ada keterangan lain yang bisa dicomot, tapi tampaknya foto yang diambil pada tahun 1914 ini memperlihatkan kunjungan perwira tinggi tersebut ke markas Hindenburg yang berada di Front Timur



Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee) berpose bersama dengan para staff-nya di depan markas besar mereka di Posener Schlosse (Kastil Poznań), Polandia, awal musim gugur tahun 1914. Dari kiri ke kanan: Rittmeister de la Croix (Ordonnanzoffizier), Major von Baehr (Kommandant des Hauptquartiers), Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria), Leutnant von Bismarck, Hauptmann Caemmerer, Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes), Oberleutnant der Reserve Markau, Paul von Hindenburg, Hauptmann Frantz, Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung), Oberleutnant der Reserve Steinicke (Ordonnanzoffizier), Hauptmann von Waldow, dan Hauptmann Alfred von Vollard-Bockelberg. Foto diambil oleh Sendker (tidak ada keterangan nama pertamanya)



Foto hasil karya Sendker ini memperlihatkan para staff dari 8. Armee - yang merupakan kekuatan utama Jerman di Front Timur - berfoto bersama di anak tangga Posener Schlosse (Kastil Poznań), Polandia, yang menjadi markas besar mereka dalam pertempuran melawan pasukan Rusia di tahun 1914 (foto ini sendiri diambil pada awal musim gugur di tahun tersebut). Baris depan dari kiri ke kanan: Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes), Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber), dan Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung). Baris belakang: Oberleutnant der Reserve Markau, Hauptmann Frantz, Oberleutnant der Reserve Steinicke, dan Hauptmann von Waldow



Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee) dan para staff dari 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria (7 - 14 September 1914) antara pasukan Jerman dan Rusia, yang berlangsung di perbatasan Prussia Timur dan Polandia (lokasi tepatnya adalah di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa). Hindenburg sendiri berdiri kedua dari kiri, sementara yang meneropong dengan scherenfernrohr adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), dan sebelahnya yang ikut meneropong menggunakan fernglas adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee). Perwira dengan topi kepi yang berdiri ketiga dari kanan adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Bauernfreund ini diambil dari majalah "Illustrierten Zeitung"


 Para staff 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa, dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria yang berlangsung tanggal 7 s/d 14 September 1914 antara pasukan Jerman dan Rusia. Yang lagi ngintip banci mandi dengan menggunakan scherenfernrohr (teropong gunting) adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), sementara yang berdiri dengan posisi paling tinggi di belakangnya adalah Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee). Di sebelah kanan bawah Hindenburg adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee), dan yang nongkrong paling kanan dengan pedang tersampir adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Bauernfreund ini diambil dari buku "Grenadier Kronpinz Regimentsgeschichte"



Para staff 8. Armee mengawasi kondisi medan tempur di Przasnysz, antara Łaniętami dan Mchowa, dalam Pertempuran Pertama Danau Masuria yang berlangsung tanggal 7 s/d 14 September 1914 antara pasukan Jerman dan Rusia. Yang lagi ngintip banci mandi dengan menggunakan scherenfernrohr (teropong gunting) adalah Oberstleutnant im Generalstab Max Hoffmann (Chef der Operationsabteilung 8. Armee), sementara yang berdiri dengan posisi paling tinggi di belakangnya adalah Generaloberst Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber 8. Armee). Ketiga dari kanan adalah Generalmajor Erich Ludendorff (Chef des Generalstabes 8. Armee), dan yang nongkrong paling kiri di belakang Hoffmann adalah Hauptmann Moritz Fleischmann von Theissruck (Verbindungsoffizier atau Perwira Penghubung dari Austria). Foto hasil jepretan Hugo Vogel ini diambil dari buku "Sammelbild der Immalin-Werke"


 Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg (Oberbefehlshaber Ost) memperhatikan peta pertempuran di markas besarnya di Kaunas/Kowno (Lithuania), tahun 1915. Sebagai seorang komandan militer serta peracik strategi perang, kemampuan Hindenburg bisa dikatakan biasa-biasa saja alias 'medioker'. Dalam laga akbar melawan Rusia di Front Timur, staff-nya yang lebih banyak berperan, terutama Erich Ludendorff (Deputi Hindenburg) dan Max Hoffmann (Kepala Operasi). Foto ini diambil dari buku "Bildstelle 5. Division; 1.Weltkrieg"


 Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg dalam foto yang diambil pada tahun 1916. Seperti hampir semua foto dirinya yang diambil di masa Perang Dunia Pertama, sang marsekal tidak lupa membawa serta preußische Marschallstab (Tongkat Marsekal Prusia) di lengan kirinya, sementara lengan kanannya memegang pickelhaube, helm runcing khas Prusia yang kemudian ditiru oleh sebagian besar militer negara bagian Jerman lainnya. BTW, untuk kumpulan quote yang pernah diucapkan oleh Hindenburg dapat dilihat DISINI


 Tiga orang penentu kebijakan militer Jerman dalam Perang Dunia Pertama, dari pertengahan sampai akhir perang, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg (Chef des Generalstabes des Feldheeres), Kaiser Wilhelm II, dan General der Infanterie Erich Ludendorff (1. Generalquartiermeister und Stellvertreter Hindenburg). Foto diambil pada tanggal 8 Januari 1917 di Grote Hoofdkwartier di Schloss Pleß (kini berganti nama menjadi Pszczyna dan menjadi bagian dari Polandia)


Paul von Hindenburg dalam sebuah foto studio pada tahun 1917 yang diambil untuk merayakan hari jadinya yang ke-70 (2 Oktober 1917). Disini dia mengenakan seragam Generalfeldmarschall, lengkap dengan segambreng medali serta pedang kehormatan yang ditangkup oleh kedua tangannya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa foto ini diambil pada tahun 1914 - tak lama setelah kesuksesannya dalam Pertempuran Tannenberg - tapi informasi ini salah alias nggak bener, beibeh! Daftar medali dan penghargaan yang diraih oleh Hindenburg selama karirnya: Roter Adler Orden IV.Klasse mit Schwertern (19 Juni 1866, untuk prestasinya dalam Pertempuran Königgrätz); Eisernes Kreuz II. Klasse (12 September 1870, untuk prestasinya dalam Pertempuran Gravelotte); Österreichisches Eisernen Krone III. Klasse (1883); Russisches St. Stanislaus Orden II. Klasse (1883); Königlich Preussischer Kronen Orden Kreuz III. Klasse (1888); Grossherzoglich Badisches Komturkreuz II. Klasse des Ordens vom Zähringer Löwen (1894); Roter Adler Orden III.Klasse mit der Schleife und Schwertern am Ringe (19 Januari 1896); Ehrenkreuz II.Klasse des schaumburg-Lippe Haus-Ordens (Maret 1896); Königlich Kronen Orden II.Klasse (17 Januari 1897); Roter Adler Orden II.Klasse mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (10 September 1897); Groß-Offizierkreuz des italien. St. Mauritius- und Lazarus-Ordens (Oktober 1897); Kommandeurkreuz I.Klasse des badisches Ordens vom Zähringer Löwen (November 1899); Ehren-Großkreuz des Oldenburgisches Haus- und Verdienst-Ordens des Herzogs Peter Friedrich Ludwig (Oktober 1900); Großkreuz des Großherzoglich Sächsisches Haus-Ordens der Wachsamkeit oder vom weißen Falken (Juni 1901); Stern zum Roten Adler Orden II.Klasse mit Schwertern (19 Januari 1902); Großkreuz des Württembergisches Friedrichs-Ordens (Juni 1902); Großkreuz des badisches Ordens vom Zähringer Löwen (April 1903); Roter Adler Orden I.Klasse mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (11 September 1903); Großkreuz des Sächsisches Sachsen-Ernestinischen Haus-Ordens (November 1903); Großkreuz des Anhaltinisches Haus-Ordens Albrechts des Bären (September 1904); Großkreuz des spanischen Militär-Verdienst-Ordens (April 1906); Großkreuz des Königlich Sächsisches Albrechts-Ordens (Agustus 1906); Großkreuz des Roten Adler Ordens mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (20 Januari 1907); Bayer. Militär-Verdienst-Orden I. Klasse (Februari 1907); Krone zum Großkreuzzeichen des anhalt. Haus-Ordens Albrechts des Bären (Juni 1907); Schwarzer Adler Orden (18 Maret 1911); Eisernes Kreuz I. Klasse (29 Agustus 1914); Orden Pour le mérite (8 September 1914, untuk prestasinya dalam Pertempuran Tannenberg); Großkreuz des ungarisches St. Stephan-Ordens (13 September 1914); Österreichisches Militär-Verdienstkreuz mit der Kriegsdekoration (13 September 1914); Großkreuz des bayer. Militär-Max-Joseph-Ordens (30 November 1914); Ritter und Kommandeur I. Klasse des Königlich Sächsisches Militär-St. Heinrichs-Ordens (21 Desember 1914); Eichenlaub zum Orden Pour le mérite (23 Februari 1915, untuk prestasinya dalam pertempuran musim dingin di Danau Masuria); Großkreuz des badisches militärischen Karl-Friedrich -Verdienst-Ordens (5 September 1915); Großkreuz des Eisernen Kreuzes (9 Desember 1916); Großkreuz des Königlich Sächsisches Militär-St. Heinrichs-Ordens (27 Desember 1916); Türkischer Osmanije Orden in Brillanten (29 Desember 1916); Verdienstkreuz für Kriegshilfsdienst (18 Januari 1917); Österreichisches Militär-Verdienstkreuz I. Klasse mit der Kriegsdekoration (27 Januari 1917); Ritter des Johanniter-Ordens (21 Juli 1917); Kreuz und Sterne der Großkomture des Haus-Ordens von Hohenzollern mit Schwertern (2 Agustus 1917); Brillanten zum Österreichisches Militär-Verdienstkreuz I. Klasse mit Kriegsdekoration (7 November 1917); Großkreuz des Eisernes Kreuzes mit goldenen Strahlen des Blüchersterns (24 Maret 1918); Großkreuz des Österreichisches Militär-Maria-Theresien-Ordens (26 Maret 1918); serta Ehren-Kommendator des Johanniter-Ordens

------------------------------------------------------------------------

REPUBLIK WEIMAR

Parade Kommando der Wachtruppe di hadapan Reichspräsident Paul von Hindenburg, yang diselenggarakan di Berlin tanggal 1 Maret 1932. Meskipun tidak terlalu kelihatan, dalam foto ini sang Reichspräsident mengenakan seragam Generalfeldmarschall era Kekaisaran Jerman, lengkap dengan pickelhaube (helm berujung runcing). Dia berdiri paling dekat dengan pasukan yang berparade di tengah. Di belakangnya adalah General der Infanterie Kurt Freiherr von Hammerstein-Equord (Chef der Heeresleitung)


Reichspräsident Paul von Hindenburg menginspeksi pasukan Reichswehr dari unit Kommando der Wachtruppe di Berlin, tanggal 1 Maret 1932. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Werner von Blomberg (Kommandeur 1. Division und Befehlshaber Wehrkreis I), Generalleutnant Gerd von Rundstedt (Kommandeur 3. Division), General der Infanterie Kurt Freiherr von Hammerstein-Equord (Chef der Heeresleitung), Oberst Walther von Reichenau (Chef des Stabes 1. Division), Komandan Kommando der Wachtruppe yang tidak diketahui namanya, serta Reichspräsident Hindenburg. Disini sang Reichspräsident mengenakan seragam Generalfeldmarschall era Kekaisaran Jerman, lengkap dengan pickelhaube (helm berujung runcing)


Upacara penghormatan militer untuk memperingati ulangtahun ke-85 Reichspräsident Paul von Hindenburg yang diselenggarakan di depan istana kepresidenan di Wilhelmstrasse, Berlin, tanggal 2 Oktober 1932. Hindenburg berjalan paling kanan menginspeksi pasukan penjaga kehormatan, sementara di belakangnya menyusul para petinggi Reichswehr: General der Infanterie Kurt von Schleicher (Reichswehrminister), Oberst Oskar von Hindenburg (1. militärischen Adjutant des Reichspräsidenten), General der Infanterie Kurt von Hammerstein-Equord (Chef der Heeresleitung), dan Admiral Dr.phil.h.c. Erich Raeder (Chef der Marineleitung)

------------------------------------------------------------------------

ERA HITLER

Dari kiri ke kanan: Reichspräsident Paul von Hindenburg (Staatsoberhaupt), Charakter als General der Infanterie Werner von Blomberg (Reichswehrminister), dan Reichskanzler Adolf Hitler. Mereka berkumpul bersama di Potsdam tanggal 21 Maret 1933 dalam acara "Tag von Potsdam", sebuah acara pengambilan sumpah simbolis antara Reichspräsident Von Hindenburg dengan para menteri kabinet Hitler yang baru dilantik tanggal 5 Maret 1933 sebelumnya. Acara ini mengikuti tradisi pertemuan para anggota Reichstag yang baru diangkat dengan Kaiser Wilhelm zaman Kekaisaran Jerman. Di latar belakang kita bisa melihat bangunan Garnisonkirche (Gereja Garnisun). Acara pengambilan sumpahnya tidak dilakukan di Garnisonkirche ataupun Reichstag melainkan di bangunan Krolloper di Berlin karena bangunan Reichstag (yang biasa digunakan untuk acara serupa) telah terbakar tanggal 27 Februari sebelumnya. Foto-foto Hindenburg dan Adolf Hitler lainnya bisa dilihat DISINI


Para veteran perwira tinggi Kaiserliche Armee (Angkatan Darat Kekaisaran) dari Perang Dunia Pertama berkumpul bersama di Tannenberg-Denkmal (Monumen Tannenberg) di Hohenstein untuk memperingati 19 tahun kemenangan Jerman melawan Rusia dalam Pertempuran Tannenberg, bulan Agustus 1933. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall August von Mackensen, Generalmajor Oskar von Hindenburg (tertutup oleh Ludendorff), General der Infanterie Erich Ludendorff, tidak diketahui, Generalfeldmarschall Paul von Hindenburg, dan Generaloberst Hans von Seeckt. Diantara Ludendorff dan Hindenburg berdiri perwira militer yang tidak diketahui namanya. Dari pickelhaube berujung bulat yang dikenakannya (dikenal dengan nama kugelhelm), maka kemungkinan besar dia adalah seorang perwira artileri. Muka yang paling mirip dengan do'i adalah General der Artillerie Friedrich von Scholtz, cuma yang jadi masalah: Scholtz sudah "is death" dari tahun 1927, sementara foto ini diambil pada tahun 1933! Jadi?? Kemungkinan besar itu adalah arwahnya yang gentayangan! Iiiiiy bla'em bla'em....


Pemakaman Presiden sekaligus pahlawan Jerman Paul von Hindenburg pada bulan Agustus 1934. Dua orang penjaganya merupakan veteran Perang Dunia Pertama, yang terlihat dari medali yang tertempel di seragamnya. Kematian Von Hindenburg pada tanggal 2 Agustus 1934 membuka jalan bagi Reichskanzler Adolf Hitler untuk menjadi diktator Jerman yang memiliki kekuasaan absolut

------------------------------------------------------------------------

LUKISAN DAN PATUNG

 Lukisan yang dibuat berdasarkan foto tahun 1914 karya Nicola Perscheid (lihat foto pertama paling atas!). Lukisan ini kemudian disebarluaskan ke masyarakat Jerman melalui kartupos produksi Verlag Gerhard Stalling di Oldenburg. Seperti semua memorabilia bertema Hindenburg lainnya, kartu pos seri ini pun laris manis dibeli oleh rakyat Jerman yang menganggapnya sebagai salah satu pahlawan terbesar mereka dalam Perang Dunia Pertama



Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.bundesarchiv.de