Showing posts with label Perwira Kriegsmarine. Show all posts
Showing posts with label Perwira Kriegsmarine. Show all posts

Saturday, October 2, 2021

Korvettenkapitän Dr.jur. Hermann Kandeler (1901-1990), Perwira Kriegsmarine yang ikut "Berperan" dalam Kemerdekaan Indonesia

 
Kapitänleutnant Dr.jur. Hermann Kandeler dalam sebuah foto yang diambil pada tahun 1940 saat usianya 39 tahun


Banyak cerita di balik pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Salah satunya adalah ihwal mesin tik yang digunakan untuk menyusun teks proklamasi. Mesin tik yang jadi saksi bisu lahirnya Republik Indonesia itu ternyata milik seorang perwira Kriegsmarine (Angkatan Laut Nazi Jerman) yang dipinjam khusus untuk mengetik teks proklamasi. Saat itu, penyusunan naskah proklamasi dikerjakan di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Ketika tulisan tangan naskah proklamasi akan dicetak, ternyata di rumah Maeda tidak ada mesin ketik. Pembantu Laksama Maeda, Satzuki Mishima, diperintahkan untuk mencari mesin tik. Dia kemudian pergi ke kantor militer Jerman menggunakan mobil jip untuk meminjam mesin tik tersebut. Di sana, Satzuki bertemu dengan Korvettenkapitän (Mayor Laut) Dr. Hermann Kandeler, yang bersedia untuk meminjamkan mesin tik miliknya. Sesampainya mesin tik di rumah Maeda, Sayuti Melik dengan ditemani BM Diah mulai mengetik naskah proklamasi.

Lalu siapakah Korvettenkapitän Kandeler, yang secara tidak langsung ikut "terlibat" dalam pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersebut?

Hermann Kandeler dilahirkan pada tanggal 24 Juli 1901 di Berlin. Seusai sekolah setingkat SMA, dia kemudian mengambil kuliah jurusan hukum dan lulus dengan gelar Doctor Juris (Doktor Hukum). Dia lalu lebih memilih untuk meneruskan karir di bidang militer saat memutuskan untuk masuk menjadi anggota Kriegsmarine (Angkatan Laut). Kandeler tercatat bertugas sebagai Sachbearbeiter di Oberkommando der Marine dari bulan Februari 1936 s/d Februari 1940. Setelahnya Kandeler bertugas di kapal penjelajah ringan "Karlsruhe" sebagai 2. Artillerieoffizier (Perwira Artileri ke-2) dan Wachtoffizier (Perwira Pengamat), dari bulan Februari s/d April 1940. Dia kemudian menjalani pelatihan artileri lanjutan di schiffsartillerieschule dari bulan April s/d Juni 1940. Usai menjalani pelatihan, Kandeler ditugaskan sebagai Artillerieoffizier di kapal perang "Scharnhorst" dari bulan Juni s/d Juli 1940, juga dengan peran yang sama di kapal penjelajah ringan "Nürnberg" dari bulan Juli 1940 s/d Februari 1941, dan kapal penjelajah ringan "Emden" dari bulan Februari s/d Juli 1941. Selama masa tugasnya di Emden, dia dipromosikan menjadi Korvettenkapitän (Mayor Laut) pada tanggal 1 Mei 1941. Pada bulan Juli 1941 Kandeler dipindahkan ke kapal penjelajah pembantu "Thor" - juga sebagai Artillerieoffizier - sampai dengan bulan Juli 1943. Kapal ini melakukan perjalanan ke Asia Timur, dimana Kandeler kemudian berpindah peran sebagai Atase Angkatan Laut Jerman di Tokyo dari bulan Juli s/d September 1943.

Pada bulan September 1943, Herman Kandeler dipindahtugaskan ke Ustützpunkt Djakarta (Depot Pendukung Jakarta) sebagai instruktur, sebuah peran yang dijalaninya sampai dengan bulan Januari 1944. Dia kemudian menjadi Leiter (Pimpinan) Ustützpunkt Penang (Januari - Desember 1944), sebelum kemudian kembali ke Ustützpunkt Djakarta dengan peran yang sama, Leiter, yang dijalaninya sampai dengan akhir perang.

Setelah Perang Dunia II usai, dia ditawan oleh Sekutu selama beberapa waktu sebelum dibebaskan dan kemudian kembali ke negaranya. Pada saat Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Jerman pada tahun 1956, dikatakan bahwa Presiden Indonesia tersebut berbincang-bincang secara pribadi dengan Kandeler di bangunan Kroll-Oper (Gedung Opera Kroll) Berlin. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi bisa jadi ikut "menyerempet" sedikit kenangan di masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dahulu.

Hermann Kandeler sendiri meninggal dunia di Kassel, Hesse (Jerman), pada tanggal 15 Maret 1990.

---------------------------------------------------------------------------------------

 
Korvettenkapitän Dr.jur. Hermann Kandeler (tengah) saat memimpin persidangan militer Angkatan Laut, sewaktu masa tugasnya di Hilfskreuzer Thor (1941-1943). Meskipun peran resminya di kapal penjelajah pembantu tersebut adalah sebagai seorang perwira artileri, tapi pendidikan hukum yang pernah diikutinya membuat Kandeler terkadang berperan ganda sebagai seorang pengambil keputusan manakala sebuah sidang militer harus dihadirkan


 
Korvettenkapitän Dr.jur. Hermann Kandeler dalam sebuah acara resepsi bersama antara para perwira Angkatan Laut Jerman dengan Jepang, yang diadakan di Tokyo pada saat Kandeler bertugas sebagai Atase Angkatan Laut Jerman di Jepang (Juli-September 1943). Dalam acara tersebut ikut hadir pula Kaisar Jepang Hirohito. Sayangnya, foto ini - yang diambil dari sebuah buku tentang Hilfskreuzer Thor - tidak memperlihatkan Kandeler secara utuh, karena dia adalah perwira botak yang berdiri tepat di lipatan tengah buku!


 
Replika mesin ketik naskah proklamasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta


Sumber :
Buku "Die deutsche Kriegsmarine, 1939-1945" karya Walter Lohmann dan Hans H. Hildebrand
Buku "Hilfskreuzer THOR. Hecht im Atlantik" karya Jochen Brennecke
Foto koleksi pribadi Mike "Hanmich"
www.forum.axishistory.com
www.nasional.kompas.com

Wednesday, March 24, 2021

Daftar Kapitän zur See Kriegsmarine (Kolonel Angkatan Laut) Jerman 1933-1945

 

 
Horst Von Pflugk-Harttung (17 Juni 1889 - 9 Maret 1967)
Kapitän zur See (1 April 1941)
Medali tertinggi : 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse


Source :
www.de.wikipedia.org
www.gmic.co.uk

Tuesday, May 26, 2020

Fregattenkapitän Reinhard Suhren (1916-1984), Jagoan U-Boat



Album foto Reinhard Suhren bisa dilihat DISINI

Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Reinhard Johann Heinz Paul Anton Suhren
Panggilan/julukan: Teddy
Lahir: 16 April 1916 di Langenschwalbach, Taunus, Frankfurt (Kekaisaran Jerman)
Meninggal: 25 Agustus 1984 di Halstenbek, Hamburg (Jerman Barat)
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Tidak ada
Anggota keluarga: Anak kedua dari pasangan Geert Suhren dan Ernestine Ludovika; adik dari Gerd Suhren (16 Mei 1914 - 6 Mei 1991) dan kakak dari Almut Suhren
Ciri fisik: Tinggi 163cm

Beförderungen (Promosi):
05.04.1935 Offiziersanwärter
25.09.1935 Seekadett
01.07.1936 Fähnrich zur See
01.01.1938 Oberfähnrich zur See
01.04.1938 Leutnant zur See
01.10.1939 Oberleutnant zur See
01.01.1942 Kapitänleutnant
01.09.1942 Korvettenkapitän
01.06.1944 Fregattenkapitän

Karriere (Karir):
05.04.1935 Bergabung dengan Reichsmarine sebagai Offiziersanwärter.
05.04.1935 - 17.06.1935 Pelatihan dasar infanteri di 2.Kompanie / II.Abteilung / Schiffsstammdivision der Ostsee di Stralsund.
18.06.1935 - 26.09.1935 Pelatihan berlayar di Segelschulschiff GORCH FOCK
27.09.1935 - 19.06.1936 Pelatihan berlayar di Leichten Kreuzer EMDEN
20.06.1936 - 09.08.1936 Pelatihan utama di Marineschule Flensburg-Mürwik
10.08.1936 - 15.08.1936 Pelatihan navigasi di Tender NORDSEE
16.08.1936 - 15.11.1936 Pelatihan utama di Marineschule Flensburg-Mürwik
16.11.1936 - 21.11.1936 Pelatihan navigasi di Dampfer HECHT
22.11.1936 - 31.03.1937 Pelatihan utama di Marineschule Flensburg-Mürwik
01.04.1937 - 19.05.1937 Pelatihan torpedo di Torpedoschule Flensburg-Mürwik
20.05.1937 - 07.06.1937 Pelatihan Flakartillerie di Küstenartillerieschule Wilhelmshaven
08.06.1937 - 12.06.1937 Pelatihan ranjau dan perintang di Sperrschule Kiel-Wik
13.06.1937 - 03.07.1937 Pelatihan komunikasi dan sandi di Nachrichtenschule Flensburg-Mürwik
04.07.1937 - 28.07.1937 Pelatihan infanteri di II.Abteilung / Schiffsstammdivision der Ostsee
29.07.1937 - 02.10.1937 Pelatihan artileri di Schiffsartillerieschule Kiel-Wik
03.10.1937 - 29.03.1938 Pelatihan berlayar di Zerstörer Z 3 MAX SCHULTZ
30.02.1938 - 11.06.1938 Pelatihan torpedo U-boat di Torpedoschule Flensburg-Mürwik
13.06.1938 - 02.07.1938 Pelatihan perwira torpedo tambahan di Torpedoschule Flensburg-Mürwik
03.07.1938 - 28.08.1938 Pelatihan awak U-boat di U-Schule
29.08.1938 - 19.09.1938 Berada di bawah komando Führer der Unterseeboote
20.09.1938 - 23.09.1938 Pelatihan ranjau dan perintang U-boat di Sperrschule Kiel-Wik
24.09.1938 - 09.10.1938 Berada di bawah komando Führer der Unterseeboote
10.10.1938 - 05.11.1938 Pelatihan artileri U-boat di Schiffsartillerieschule Kiel-Wik
06.11.1938 - 21.04.1939 2. Wachoffizier di U-51, U-46 und U-47
22.04.1939 - 09.11.1940 1. Wachoffizier di U-48
10.11.1940 - 02.03.1941 Instruktur dan Kepala pelatihan menembak di 24. U-Flottille di Memel
03.03.1941 - 02.04.1941 Pengawas pembuatan U-564 di Kriegsschiffbaulehrabteilung U-Nordsee
03.04.1941 - 30.09.1942 Kommandant U-564
01.10.1942 - 25.10.1942 Berada di bawah komando 1. U-Flottille di Brest
26.10.1942 - 12.03.1943 Lehrer und Kompaniechef di 2. U-Lehrdivision di Gotenhafen
13.03.1943 - 26.05.1944 Gruppenführer und Chef des Stabes 27. U-Flottille di Gotenhafen
27.05.1944 - 00.09.1944 Führer der Unterseeboote Norwegen
00.09.1944 - 15.05.1945 Führer der Unterseeboote Nordmeer
16.05.1945 - 16.05.1946 Menjadi tawanan Sekutu di Trondheim, Oslo dan Neustadt

Komando U-Boat:
03.04.1941 - 01.10.1942 U-564 (6 patroli dengan total waktu 284 hari di lautan)

Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
25.09.1939 Eisernes Kreuz II.Klasse
20.12.1939 Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938
21.12.1939 U-Boots-Kriegsabzeichen
25.02.1940 Eisernes Kreuz I.Klasse
03.11.1940 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, sebagai Oberleutnant zur See dan 1. Wachoffizier di U-48 / 7.Unterseebootsflottille / Befehlshaber der Unterseeboote
31.12.1941 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #56, sebagai Oberleutnant zur See dan Kommandant U-564 / 1.Unterseebootsflottille / Befehlshaber der Unterseeboote
01.01.1942 U-Boot-Kriegsabzeichen mit Brillanten
01.09.1942 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern #18, sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-564 / 1.Unterseebootsflottille / Führer der Unterseeboote West / Befehlshaber der Unterseeboote
01.09.1942 Kriegsmarine Ehrendolch
30.01.1944 Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern
17.02.1945 Disebutkan namanya dalam Wehrmachtbericht
------------------------------------------------------------------------------

* Tak lama sebelum kelulusan dari Landständischen Oberschule di Bautzen, dalam liburan musim panasnya yang terakhir, Suhren diperkenankan untuk mengikuti kursus berlayar di Sekolah Yacht Hanseatik yang terletak di Neustadt in Holsteen. Sekolah tersebut mengajarkan pula komponen-komponen paramiliter, dan baris-berbaris adalah salah satunya. Dalam salah satu pelatihan berbaris yang diikutinya, seorang anak laki-laki di belakang Suhren berteriak, "Hey Reinhard, saat aku melihatmu berbaris, engkau mengingatkanku pada Beruang Teddy." Nantinya, bocah yang sama bertemu lagi dengan Suhren selama berlangsungnya pelatihan militer dasar di Reichsmarine, dan menyapa untuk pertama kalinya dengan kata-kata, "Hey Teddy, kamu disini juga?" Dari sejak saat itu, panggilan "Teddy" melekat dalam diri Suhren sampai masa tuanya.



Sumber :
Buku "U-Boat War Patrol: The Hidden Photographic Diary Of U-564" karya Lawrence Paterson

Thursday, June 7, 2012

Oberleutnant Walter Ohmsen (1911-1988), Master Artileri Pantai Jerman di Pantai Normandia!


Oberleutnant Walter Ohmsen adalah kepala baterai artileri pantai Kriegsmarine "Marcouf" (Marine-Artillerie-Abteilung 260) di semenanjung Cherbourg ketika pasukan raksasa Sekutu menginvasi wilayah di sekitarnya dan membuatnya terkepung. Pasukan terjun payung lawan mulai merangsek masuk sementara tembakan artileri dari kapal-kapal penjelajah menghantam baterainya tanpa ampun. Tapi Ohmsen tidak menyerah. Dia bahkan sampai memimpin anakbuahnya bertempur dalam pertempuran satu lawan satu! Baru ketika amunisinya sudah habis, persediaan medis menipis, dan dia sendiri terluka, ia dan anakbuahnya yang masih fit meloloskan diri... dan berhasil! Atas prestasinya tersebut, sang perwira Angkatan Laut dianugerahi Ritterkreuz tanggal 14 Juni 1944


Oleh : Alif Rafik Khan

Walter Ohmsen dilahirkan tanggal 7 Juni 1911 di Elmshorn dan bergabung dengan dinas militer Reichsmarine tanggal 1 April 1929 di Stralsund. Dia menjadi Matrosengefreiter (kelasi kelas dua) tanggal 1 April 1933 dan Bootsmannmaat (kepala kelasi) tanggal 1 September 1934. dari tanggal 12 Desember 1934 sampai dengan 1 Januari 1944 dia menjadi komandan peleton, komandan kompi dan kemudian kepala pelatihan telemetri di Sekolah Artileri Angkatan Laut di Sassnitz. Dia dipromosikan menjadi Oberbootsmannsmaat (kepala kelasi kelas dua) tanggal 1 November 1935 dan Bootsmann (kepala kelasi kelas 1) tanggal 1 September 1936. Dia ditugaskan di lautan di kapal perang Jerman Schleswig-Holstein, kapal latihan Gorch Fock, kapal latihan Carl-Zeiss, kapal torpedo T-153, dan kapal penjelajah Königsberg. Ohmsen meraih pangkat Oberstabsbootsmann (mandor kelasi) tanggal 1 Juli 1940 dan dianugerahi Kriegsverdienstkreuz mit Schwerter tanggal 20 April 1941. Selama penugasannya di Sekolah Artileri Angkatan Laut dia dipromosikan menjadi Kriegsoffiziersanwärter (letnan muda) dan menjadi seorang perwira dengan pangkat Leutnant (M.A.) tanggal 1 Januari 1942 dan Oberleutnant (M.A.). M.A. sendiri merupakan singkatan dari Marine Artillerie (Artileri Angkatan Laut).

Ohmsen ditugaskan sebagai komandan baterai artileri Crisbecq (49°28.8′N 01°17.8′W), yang juga dinamakan sebagai Marine Küsten Batterie "Marcouf" (Baterai Pantai Angkatan Laut ‘Marcouf’) atau Seeziel Batterie "Marcouf" (Baterai Target Laut ‘Marcouf’), tanggal 1 Februari 1944. Dia menjadi komandan dari 2 perwira, 24 bintara dan 287 prajurit Kriegsmarine. Unitnya berada di bawah komando Marine-Artillerie-Abteilung 260 (M.A.A. 260 – Batalyon Artileri Pantai Angkatan Laut 260). Personel baterainya kemudian ditambah pula dengan para anggota 6.Kompanie/Grenadier-Regiment 919 dari 709.Infanterie-Division yang bertugas sebagai awak pertahanan darat di bawah komando Leutnant Geissler. Jadinya, total anggota Baterai “Marcouf” menjadi 400 orang.

Tanggal 6 Juni 1944 jam 5 subuh. Ohmsen adalah orang pertama yang memergoki armada invasi Sekutu melalui alat pencari jarak baterai. Dia langsung melaporkan pengamatannya ke markas Kriegsmarine di Cherbourg, yang langsung menyebarkan peringatan kepada semua instalasi pertahanan yang tersebar di sepanjang pantai Atlantik. Pemberitahuan penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang diterimanya dan diumumkan di koran-koran Jerman tanggal 15 Juni 1944 juga menyebutkan bahwa Ohmsen adalah orang pertama yang melaporkan akan adanya armada invasi di lepas pantai Normandia. Jam 05:52 dia menerima perintah untuk mulai melepas tembakan terhadap kapal-kapal musuh tersebut, yang saat itu masih berada 17 kilometer jauhnya. Jam 05:55, baterai Ohmsen bertukar tembakan dengan kapal penjelajah USS Tuscaloosa dan USS Quincy, serta kapal perang USS Nevada (semuanya milik US Navy). Jam 06:30 baterainya menembaki kapal penjelajah Amerika USS Corry dan berhasil menenggelamkannya.

Jam 08:00 pagi, tembakan USS Nevada mengenai bunker artileri terdepan dari Baterai “Marcouf”. Kapal perang USS Texas dan USS Arkansas, yang pada awalnya ditugaskan untuk menyediakan tembakan perlindungan terhadap pendaratan tentara Amerika di Pantai Omaha, buru-buru mengintervensi demi mendiamkan baterai di Crisbecq yang “rewel”. Jam 09:00, tembakan terkonsentrasi dari ketiga kapal perang tersebut membuat bunker artileri kedua out of action ketika sebuah peluru artileri dari Nevada menerobos melalui lubang tembakan dan membunuh seluruh awaknya. Senjata-senjata artileri di belakang bunker No.24 berhasil menahan gempuran pemboman dari kapal-kapal musuh meskipun tidak mampu pula mencapai target jauh di lautan sana. Senjata-senjata tersebut mulai beraksi jam 11:00, yang diarahkan ke pantai yang menghadap WN 5 Widerstandsnest 5 (Sarang Perlawanan 5), yang terletak 10 kilometer jauhnya. Tembakan ini menimbulkan korban besar di kalangan tentara Amerika dan mencegah mereka dari mendaratkan pasukan cadangan serta material perang di Pantai Utah.

Unit 1st Battalion, 22nd Infantry Regiment, 4th Infantry Division Amerika memulai gerak maju mereka menuju Saint-Marcouf dan Baterai Crisbecq jam 07:00 pagi tanggal 7 Juni 1944. Setelah serangan pertama, mereka berhasil memasuki Saint-Marcouf tapi kemudian terhenti di depan baterai oleh tembakan senjata-senjata Flak 75mm yang telah dimodifikasi dan kini menembak sasaran-sasaran di darat. Sebuah serangan balasan Jerman yang diarahkan ke samping pasukan Amerika dan didukung oleh senjata-senjata artileri K331 (f) 105mm dari Baterai Azeville (49°27.7′N 01°18.42′W) memaksa Captain Tom Shields untuk mundur. Bersamaan dengan pertempuran sengit di darat ini, duel artileri antara Baterai Crisbecq dan armada Sekutu terus berlanjut. Salah satu senjata Škoda K39/41 210mm telah difungsikan kembali malam sebelumnya. Sekali lagi senjata tersebut kena tembakan dan tetap tidak berfungsi di sisa hari itu. Akibatnya, baterai tersebut menjadi sasaran tembakan Sekutu tiap malam.

Ohmsen dianugerahi Eisernes Kreuz II klasse di pagi tanggal 7 Juni 1944 atas pertahanan tak kenal menyerahnya dalam menghadapi serangan Amerika. Di sore tanggal 7 Juni dia menerima panggilan telepon dari Cherbourg dengan informasi bahwa dia juga diputuskan untuk diberikan Eisernes Kreuz I klasse sebagai tambahan medali yang telah didapat sebelumnya. Ohmsen kemudian terluka di tangan kirinya selama terjadinya pemboman baterai tersebut di siang hari tanggal 8 Juni.

Batalyon pertama Amerika memulai serangan kedua mereka terhadap baterai Ohmsen jam 10 pagi tanggal 8 Juni dan berhasil mengambil kembali desa Saint-Marcouf. Jam 13:30, setelah artileri angkatan laut Amerika membombardir posisi pertahanan Jerman selama 20 menit, serangan dilanjutkan kembali. Tentara-tentara Amerika mampu mencapai batas terluar baterai. Pihak Jerman telah memutuskan untuk mengundurkan diri ke bunker-bunker perlindungan, karena kini meriam 210mm milik mereka telah hancur. Jam 16:00, pasukan Amerika mulai melakukan penghancuran bunker satu demi satu. Melihat kondisi pasukannya dalam keadaan kritis, Ohmsen memerintahkan Baterai Azeville untuk memuntahkan tembakan mereka terhadap posisinya sendiri dengan meriam 105mm untuk menghalau pasukan musuh. Efeknya langsung terasa dan tentara Amerika mundur dalam keadaan kacau balau! Ohmsen mengambil keuntungan dari situasi ini dan melakukan serangan balasan dengan dibantu oleh kompi ke-6 Leutnant Geissler. Serangan ini begitu mengejutkan, dan pasukan Amerika didesak sampai ke Dodainville (sekitar 1,2 kilometer di sebelah tenggara baterai). Korban pihak Amerika mencapai 15% dari kekuatan yang telah mereka kerahkan untuk serangan tersebut, dan 98 prajurit mereka dijadikan tawanan.

Di pagi tanggal 11 Juni Ohmsen telah kehabisan amunisi dan obat-obatan sementara semua meriamnya kini telah dilumpuhkan musuh. Di siang hari dia menerima panggilan telepon dari Konteradmiral Walter Hennecke, yang memerintahkan dirinya untuk engkat kaki dari sana dengan anakbuahnya yang masih tersisa. Dengan meninggalkan 21 orang tentara Jerman yang terluka serta 126 tawanan Amerika di belakang, Ohmsen dan 78 orang menembus kepungan Amerika dan mencapai posisi pasukan Jerman di Aumeville, sekitar 8 kilometer jauhnya. Tanggal 14 Juni, Ohmsen dan anakbuahnya mencapai Baterai Morsalines. Disana dia dianugerahi Ritterkreuz atas prestasi yang telah dicapainya. Ohmsen dan anakbuahnya lalu ditambahkan ke sebuah kompi infanteri dan ikut ambil bagian dalam hari-hari terakhir Pertempuran Cherbourg. Dia menjadi tawanan Amerika di Cherbourg tanggal 26 Juni 1944, dan baru dilepaskan tanggal 15 Maret 1946.

Tanggal 12 Juni prajurit-prajurit dari 9th Infantry Division, yang baru mendarat di pantai satu hari sebelumnya, mempersiapkan mereka untuk menyerang kembali baterai Ohmsen. Jam 08:30 serangan dimulai oleh batalyon kedua dari 39th Infantry Regiment. Tentu saja mereka hanya menemukan baterai yang telah ditinggalkan oleh penghuninya! Secara keseluruhan, pergulatan memperebutkan baterai tersebut menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Pihak Jerman kehilangan 307 prajuritnya, begitu juga dengan Amerika yang jumlah korbannya tidak terlalu jauh berbeda.

Bagaimana dengan Walter Ohmsen sendiri? Setelah perang usai dia bekerja sebagai pegawai pemerintahan di kementerian pertanian Schleswig-Holstein. Dia kemudian mencalonkan diri sebagai kandidat Schleswig-Holstein-Block di Landtag 1954 dalam pemungutan suara Schleswig-Holstein. Dalam pidato pemilihannya, dia dianggap “mengabaikan” Presiden-Menteri Schleswig-Holstein, Friedrich-Wilhelm Lübke, sehingga tak lama kemudian dipecat dari posisinya tanpa pemberitahuan sebelumnya karena dianggap menghina sang Presiden-Menteri. Dia bergabung kembali dengan kemiliteran di Bundeswehr tanggal 16 Maret 1956 sebagai Kapitänleutnant (Letnan Kapten) di Bundesmarine (Angkatan Laut Federal Jerman). Ohmsen dipromosikan sebagai Korvettenkapitän (Kapten Korvet) tanggal 15 November 1957, Fregattenkapitän (Kapten Frigat) tanggal 13 Agustus 1965, dan pensiun tanggal 30 September 1967.

Dari tahun 1968 sampai dengan 1978, Ohmsen adalah salah satu organisator perlombaan perahu layar dalam Olimpiade Musim Panas serta regatta (perlombaan perahu-layar) dan event-event lain. Dari tahun 1970 sampai dengan 1978 dia juga menjabat sebagai anggota dewan konsultasi kota Kiel dan terlibat dalam usaha menggalang dukungan bagi para korban perang. Untuk perannya ini dia dianugerahi medali peringatan Freiherr-von-Stein serta Bundesverdienstkreuz 2. Klasse (Salib Jasa Federal kelas kedua). Ayah tiga orang putri ini meninggal dunia di Kiel tanggal 19 Februari 1988.



Medali dan Penghargaan:
• Eisernes Kreuz II klasse (7 Juni 1944)
• Eisernes Kreuz I klasse (7 Juni 1944)
• Kriegsverdienstkreuz mit Schwerter II klasse (20 April 1941)
• Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (14 Juni 1944) sebagai Oberleutnant (M.A.) dan kepala Marinebatterie "Marcouf" (Marine-Artillerie-Abteilung 260)
• Medali peringatan Freiherr-von-Stein
• Bundesverdienstkreuz 2. Klasse

Promosi:
• 1 April 1933: Matrosengefreiter
• 1 September 1934: Bootsmannsmaat
• 1 September 1936: Oberbootsmannsmaat
• 1 November 1936: Bootsmann
• 1 Juli 1937: Oberbootsmann
• 1 Juli 1940: Stabsoberbootsmann
• 29 September 1941: Kriegsoffiziersanwärter
• 1 Januari 1942: Leutnant zur See (M.A.)
• 1 Juli 1942: Oberleutnant (M.A.)
• 17 Maret 1956: Kapitänleutnant
• 15 November 1957: Korvettenkapitän
• 13 Agustus 1965: Fregattenkapitän


Sumber :
www.en.wikipedia.org


Wednesday, April 18, 2012

Kapitän zur See Theodor Detmers (1902-1976), Tawanan Sekutu Yang Mencoba Kabur ke Indonesia!


Kapitän zur See Theodor Detmers, kapten kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang berhasil menangkap serta menenggelamkan 11 kapal dagang Sekutu hanya dalam kurun waktu 16 bulan! Dalam pertempuran habis-habisan terakhir melawan kapal penjelajah Australia dia berhasil menenggelamkan musuhnya. Meskipun begitu, kapalnya sendiri mengalami kerusakan berat sehingga harus ditenggelamkan demi mencegah jatuh ke tangan musuh. Detmers sendiri lalu ditawan di Australia. Sempat berupaya melarikan diri ke Indonesia, dia akhirnya tertangkap kembali dan kemudian dipenjara sampai akhir perang. BTW, Detmers dianugerahi Ritterkreuz SETELAH dia ditawan, dan kemudian medalinya dikirimkan ke kamp tawanan di Australia melalui Palang Merah Internasional. Karena itu, foto di atas yang memperlihatkan Detmers dengan Ritterkreuz-nya diambil saat dia berstatus sebagai tawanan perang!


Oberleutnant zur See Theodor Detmers memimpin parade para kadet pelaut Kriegsmarine melalui Gerbang Brandenburg selama berlangsungnya Olimpiade Berlin tahun 1936


Formulir anggota tawanan perang dari Theodor Detmers yang dikeluarkan oleh Angkatan Bersenjata Australia. Disini disebutkan bahwa perwira Angkatan Laut berambut abu-abu dan bermata biru yang beragama Kristen Evangelis ini masih singel di usianya yang telah menginjak 40 tahun!


Para perwira Kriegsmarine dan DAK (Deutsche Afrikakorps) Jerman dalam sebuah upacara pemakaman rekan mereka yang diadakan di kamp tawanan perang Tatura, Victoria (Australia), sekitar tahun 1942. Simbol Swastika dan Eisernes Kreuz tampak jelas dalam dua buah karangan bunga yang dibawa mereka. Perwira Kriegsmarine yang memakai schirmmütze putih dipercaya sebagai Fregattenkapitän Theodor Detmers, mantan komandan kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang bertanggungjawab dalam tenggelamnya kapal penjelajah Australia "HMAS Sydney" di lepas pantai barat Australia tanggal 19 November 1941. Perwira Kriegsmarine lainnya (ketiga dari kanan) dipercaya sebagai Oberleutnant zur See Joachim Greter yang merupakan perwira torpedo "Kormoran". Setelah ditemukannya rongsokan sisa-sisa "Kormoran" serta "HMAS Sydney" di bulan Maret 2008, diketahui bahwa sebuah tembakan torpedo dari "Kormoran" telah mengenai bagian kiri dari "HMAS Sydney" persis di bagian depan turetnya sehingga membuat kapal Australia tersebut terbelah dua dan sekaligus menenggelamkannya


Beberapa orang mantan perwira kapal penjelajah pembantu Jerman "Kormoran" yang ditawan di No.13 POW Group yang terletak di Dhurringile dekat Murchison di Victoria, Australia, berpose bersama dalam foto tertanggal 11 Februari 1943. Baris belakang, dari kiri ke kanan: Oberleutnant zur See Joachim Greter, Oberleutnant zur See Edmond Schafer, Oberleutnant Joachim von Gossein, Oberleutnant Wilhelm Brinkmann, dan dua orang paling kanan tidak diketahui namanya. Duduk depan dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Henry Meyer, Kapitänleutnant Kurt Förster, Fregattenkapitän Theodor Detmers (komandan kapal), dan Oberleutnant Heinz Messerschmidt


Kapal Penjelajah Pembantu (Hilfskreuzer) "Kormoran" difoto dari sebuah U-boat Jerman tahun 1940. Dengan kode resmi Handelsstörkreuzer 8 (HSK-8 / Raider-G), dia adalah kapal dagang penyerang terbesar yang dimiliki oleh Jerman dalam Perang Dunia II (berbobot 8.736 ton dan berawak 400 orang). Selama karir perangnya di bawah komando Theodor Detmers, kapal satu ini berhasil menenggelamkan 10 kapal dagang dan merampas satu kapal sisanya. Dia juga menghancurkan kapal penjelajah Australia "HMAS Sydney" dalam sebuah pertempuran laut yang dikenal sebagai "tragedi terdahsyat Angkatan Laut Australia"! "Kormoran" sendiri diambil dari nama sejenis burung dari famili Phalacrocoracidae yang salah satu tongkrongannya adalah seperti INI


Para awak kapal "HMAS Sydney" (II) berkumpul untuk berfoto bersama. Kapal penjelajah kebanggaan Australia berbobot 6.830 ton ini tenggelam bersama seluruh 645 orang awaknya setelah bertempur sengit melawan "Kormoran" di lepas pantai Australia. Dia terkenal setelah mengkaramkan kapal penjelajah Italia "Bartolomeo Colleoni" di perairan Mediterania tahun 1940. Selama masa aktifnya, "HMAS Sydney" dipimpin oleh empat orang: Captain J.U.P. Fitzgerald RN (24 September 1935); Captain J.W.A. Waller RN (9 Oktober 1937); Captain J.A. Collins RAN (16 November 1939); dan Captain J. Burnett RAN (14 Mei 1941)


“Kapal-kapal yang berpapasan di malam gelap gulita, mereka saling berbicara satu sama lain hanya dalam bahasa sandi dan suara di kejauhan. Dalam samudera kehidupan kita pun saling berpapasan dan berbicara satu sama lain hanya dengan pandangan mata yang berpadu dengan suara, untuk kemudian hening kembali dan kegelapan menggantikannya.”
- Henry Wadsworth Longfellow, “The Theologian’s Tale: Elizabeth” (1863) -

Oleh : Alif Rafik Khan

Theodor Anton Günther Detmers dilahirkan tanggal 22 Agustus 1902 di Witten yang berada di wilayah Ruhr. Dia masuk ke Reichsmarine, Angkatan Laut Republik Weimar, tanggal 1 April 1921. Setelah bertugas di kapal perang SMS Hannover dan SMS Elsass, kapal layar latih(Segelschiff) Niobe dan kapal penjelajah Berlin, pada bulan Oktober 1925 dia ditunjuk sebagai sub-leutnant di Emden, sebuah kapal penjelajah yang namanya diambil dari kapal Jerman yang dipaksa berlabuh di Kepulauan Cocos (Keeling) oleh HMAS Sydney tahun 1914.

Setahun di Emden diikuti oleh dua tahun tugas darat sebelum ditempatkan di kapal torpedo Albatros bulan Oktober 1928. Dia telah dipromosikan menjadi Leutnant bulan Juli 1927. Antara Oktober 1930 s/d Oktober 1932 dia ditempatkan sebagai staff Angkatan Laut dan kemudian ditugaskan di Köln. Selama dua tahun masa tugasnya di kapal penjelajah ini Detmers dipromosikan menjadi Oberleutnant dan berkesempatan mengunjungi Australia dalam sebuah pelayaran latihan tahun 1933.

Dari tahun 1934 sampai dengan penunjukannya di Kormoran, tugas Detmers kebanyakan berhubungan dengan kapal torpedo dan perusak Kriegsmarine (pengecualiannya adalah dua tahun masa tugasnya di Divisi Personel dari Staff Kriegsmarine tak lama setelah dipromosikan menjadi Kapitänleutnant bulan Oktober 1937). Pada bulan Oktober 1938 dia ditunjuk sebagai komandan kapal perusak Hermann Schoemann, dan di bulan Juni 1940 ikut serta dalam kampanye pasukan Jerman di Norwegia (Unternehmen Weserübung).

Pada bulan Juli 1940 Detmers meninggalkan Hermann Schoemann dan tak lama kemudian mengambil alih komando kapal penjelajah pembantu Kormoran (berlayar tanggal 9 Oktober 1940 – 20 November 1941). Selama pelayaran Kormoran dia berhasil menenggelamkan 11 kapal dagang Sekutu dan dipromosikan menjadi Korvettenkapitän. Pada tanggal 19 November 1941 Kormoran dipergoki oleh HMAS Sydney. Detmers mencoba berpura-pura sebagai kapal dagang Belanda tapi kemudian tetap ketahuan kurangnya pengetahuan tentang kode laut Sekutu yang dibutuhkan. Mau tidak mau dia bertempur dengan kapal penjelajah milik Angkatan Laut Australia tersebut. Dahsyatnya, dalam pertempuran laut di barat Australia ini Detmers mampu menenggelamkan HMAS Sydney. Kapalnya sendiri rusak parah sehingga terpaksa harus ditenggelamkan demi mencegahnya jatuh ke tangan Sekutu. Detmers pun kemudian menjalani sisa masa perang sebagai tawanan Sekutu di Australia.

Selama masa penawanannya di HM Prison Dhurringile, Detmers dianugerahi Ritterkreuz tanggal 4 Desember 1941 dan kemudian dipromosikan menjadi Kapitän zur See bulan April 1943. Rupanya prestasi Detmers sekaligus pertempuran sengitnya dengan HMAS Sydney mendapat pantauan juga dari kampung halamannya dan beritanya dimuat di Wehrmachtsbericht (Siaran Radio Wehrmacht) edisi rabu tanggal 3 Desember 1941. Selama menjadi tawanan dia menyempatkan waktu secara sembunyi-sembunyi untuk menuliskan kisah pertempuran antara Kormoran dan HMAS Sydney dalam sebuah bahasa sandi yang kemudian baru ketahuan setelah perang usai. Detmers mencoba untuk kabur dari kamp tawanan di Australia bersama para anggota awak kapalnya melalui sebuah terowongan dengan harapan dapat merampas sebuah kapal layar dan membawanya ke Indonesia yang saat itu dikuasai oleh Jepang (sekutu Jerman dalam Perang Dunia II). Sayangnya, usahanya ini gatot alias gagal total alias wadon bae ble’e-ble’e!

Dia direpatriasi setelah perang usai pada bulan Januari 1947 dan dilepaskan dari tawanan Inggris di Munster, tapi tak bisa melanjutkan karir lautnya di Bundesmarine (Angkatan Laut Jerman Barat) karena stroke yang pernah menderanya selama berada di kamp tawanan. Pada awal tahun 1950-an dia menikah dengan Ursula Reinhardt, putri seorang pendeta Evangelis. Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Theodor Detmers meninggal dunia tanggal 4 November 1976 di Rahlstedt, Hamburg. Sebelumnya dia telah menulis buku tentang pengalamannya selama menjadi kapten kapal Kormoran yang berjudul “The Raider Kormoran” (versi Inggris) pada tahun 1959.


Sumber :
Buku "The Search for the Sydney" karya David L.Mearns
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.awm.gov.au
www.bismarck-class.dk
www.en.wikipedia.org
www.findingsydney.com
www.forum.axishistory.com
www.forum.wehrmacht-awards.com
www.museumvictoria.com.au
www.navy.gov.au
www.ww2australia.gov.au



Friday, August 5, 2011

Heinz Stahlschmidt (1919-2010), Pelaut Jerman Yang Menolak Perintah Untuk Meledakkan Bordeaux!


Heinz Stahlschmidt dianugerahi penghargaan Legion d'Honneur oleh pemerintah Prancis setelah apa yang telah dilakukannya di Bordeaux


Heinz Stahlschmidt di masa tua, difoto di pelabuhan Bordeaux


Oleh : Alif Rafik Khan

Tahun 2010 kemarin seorang mantan pelaut Jerman di masa Perang Dunia II, yang terkenal karena penolakannya untuk mematuhi perintah atasannya agar meledakkan pelabuhan Prancis di Bordeaux, meninggal dunia di usia 91 tahun – di tempat tinggal barunya di Prancis.

Heinz Stahlschmidt adalah sebuah hal yang langka di dalam tubuh Third Reich: Ia yang notabene seorang pelaut berpangkat rendah telah berani untuk menolak perintah langsung atasannya, semata karena dianggapnya hal tersebut tidak sesuai dengan kata hatinya! Dengan aksinya tersebut, tidak hanya dia telah menyelamatkan ribuan nyawa, tapi juga bangunan-bangunan penting yang nantinya menjadi komponen pemulihan ekonomi Prancis pasca-perang.

Bordeaux adalah kota pelabuhan terpenting negara Eiffel tersebut, yang berperan sangat besar dalam perkembangan ekspor-impornya (terutama perdagangan wine dengan Prancis). Sampai saat ini pun dia masih menjadi tempat ekspor terbesar wine-wine terbaik yang dihasilkan negara tersebut.

Tapi ketika dia disanjung-sanjung sebagai seorang pahlawan oleh Prancis – dan mendapat penghargaan tertinggi negara tersebut untuk warga sipil (Legion d'Honneur) – dia dipandang sebagai seorang pengkhianat di negara Jerman pasca-perang. Namanya dihapus dari daftar mantan anggota Angkatan Laut yang dianggap layak mendapatkan pensiun, sekaligus dihilangkan dari Daftar Kehormatan Angkatan Laut Jerman – meskipun pada kenyataannya dia telah selamat dari tiga peristiwa tenggelamnya kapal perang Kriegsmarine saat Perang Dunia II!

Di Prancis sendiri, Stahlschmidt mendapat penghormatan yang besar: keberaniannya dalam menentang perintah tuannya telah membuat dia mendapatkan ucapan terimakasih yang tak henti-henti, dan koran-koran Prancis menjulukinya sebagai “Choltitz Bordeaux” – yang merujuk kepada General der Infanterie Dietrich von Choltitz, komandan pasukan Jerman di Paris yang menolak perintah langsung dari Hitler untuk menghancurkan ibukota Prancis tersebut daripada membuatnya jatuh ke tangan Sekutu.

Stahlschmidt meninggal dunia di tanah air barunya di Prancis sebagai Henri Salmide, nama baru di kehidupan barunya, setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Dia hanya pernah sekali pulang ke Jerman ke tempat kelahirannya di Dortmund pada tahun 2001, dan menghabiskan waktunya bersama orang-orang yang menghargai apa yang telah dilakukannya di masa lalu.

Dia adalah anak dari seorang tukang ledeng, yang mendaftarkan diri secara sukarela ke Kriegsmarine menjelang pecahnya Perang Dunia II tahun 1939. Dia dipindahkan untuk tugas di pantai setelah secara ajaib tiga kali selamat dari “kuburan air” setelah kapalnya tenggelam.

Di Bordeaux tahun 1944, Sersan Stahlschmidt (seorang pakar senjata dan peledakan) mendapat tugas untuk memimpin sebuah detasemen demi menjinakkan ranjau-ranjau laut yang ditebar Inggris untuk mencegah kapal-kapal Jerman memasuki Bay of Biscay.

Pada bulan Agustus tahun itu pasukan Sekutu membuka jalan menuju Prancis setelah pendaratan bulan Juni yang sukses di Normandia (D-Day). Tanggal 19 Agustus datang perintah dari Berlin untuk menghancurkan seluruh infrastruktur pelabuhan – yang membentang sepanjang tujuh mil – sebelum bergerak mundur. Tanggal yang ditentukan adalah 26 Agustus.

Stahlschmidt, orang yang diserahi tugas untuk melakukan peledakan tersebut, mulai beraksi tanggal 22 Agustus. Sebuah bunker di Rue Raze di dok dipenuhi dengan detonator, bahan peledak, alat pengisap, timer, dan benda-benda lain yang dibutuhkan untuk sebuah ledakan yang menghancurkan.

Dia meledakkan tempat tersebut dengan dinamit.

Bertahun-tahun kemudian, dia menyatakan penyesalannya bahwa beberapa prajurit Jerman telah ikut tewas dalam ledakan raksasa yang mengguncang seluruh Bordeaux. Tapi dia menambahkan: “Keluargaku adalah orang-orang Huguenot (Kristen Protestan) dan aku bertindak sesuai keyakinan Kristenku. Aku tak dapat menerima bahwa seluruh pelabuhan Bordeaux harus dihancurkan sementara perang sendiri sudah jelas-jelas kalah bagi kami.”

Dia kemudian melakukan desersi dan menyerahkan diri kepada gerakan perlawanan Prancis sambil menceritakan apa yang telah dilakukannya. Mereka lalu melindunginya dari gerakan pembalasan komando tinggi Jerman yang telah mencapnya sebagai pengkhianat dan memerintahkan polisi militer Jerman untuk membawanya dalam keadaan hidup atau mati.

Heinz Stahlschmidt menjadi warga negara Prancis tahun 1947 dengan nama Salmide, dan kemudian dianugerahi penghargaan Legion d’Honneur bulan September 2000.

Sejarawan Prancis mengestimasikan bahwa dia telah menyelamatkan 3.500 nyawa dengan tindakannya yang telah menolak perintah untuk memusnahkan dermaga, derek, gudang, dok kering, dan instalasi pelabuhan lainnya.

Setelah perang usai, dia mengambil pekerjaan sebagai anggota pemadam kebakaran pelabuhan dan bekerja selama 30 tahun. Jodohnya adalah perempuan Prancis juga, dan merekapun membentuk sebuah keluarga. Dia dianugerahi penghargaan prestisius Prancis setelah kampanye gencar para veteran perang negara itu yang dimulai dari tahun 1990.

Thursday, May 5, 2011

Kapitän zur See Wolfgang Lüth (1913-1945), Jagoan U-Boat Dengan Prestasi Nomor Dua Setelah Otto Kretschmer!

Kartu pos yang memasang foto Wolfgang Lüth dan tulisan Jerman gaya Sutterlin berbunyi: "Wolfgang Lüth. Kapitänleutnant. Kommandant eines. U-Bootes"


Wolfgang Lüth dengan medali Brillanten


Batu peringatan Wolfgang Lüth di Akademi Angkatan Laut Mürwik Jerman. Foto diambil tanggal 10 September 2006 oleh Peter Godzik


Oleh : Alif Rafik Khan

Wolfgang August Eugen Lüth dilahirkan tanggal 15 Oktober 1913. Dia adalah keturunan Jerman Baltik yang lahir di Riga (saat itu masih menjadi wilayah Kekaisaran Rusia). Lüth lalu belajar di Naturwissenschaftliches Gymnasium, dan setelah menerima Abitur (ijazah), dia mempelajari hukum selama tiga semester di Herder-Institut (buset dah, udah kayak sekolah gogog aja namanya!).

Dia memulai karir angkatan lautnya pada tanggal 1 April 1933 di Reichsmarine setelah mendapat izin dari kedua orangtuanya, dan menjadi Offiziersanwärter (Kandidat Perwira). Sesudah menjalani pelatihan militer dasar di II. Abteilung (Departemen Kedua) dari Schiffstammdivision (Divisi Kapal Berdiri) di Laut Baltik di Stralsund (1 April 1933-29 Juni 1933), dia dipindahkan ke kapal latihan Gorch Fock. Pada musim panas 1933 dia menghabiskan waktu selama tiga bulan di kapal layar Gorch Fock (30 Juni 1933-23 September 1933) sebagai Seekadett dan dilanjutkan dengan menjalani pelatihan selama 9 bulan (24 September 1933-27 Juni 1934) mengelilingi dunia (India, Australia, Amerika Utara/Selatan, dan… Indonesia!) bersama kapal penjelajah ringan Karlsruhe, sampai pangkatnya menjadi Fähnrich zur See. Setelah setahun di kapal penjelajah ringan Königsberg (22 Maret 1936-31 Januari 1937), dia dipindahkan ke satuan U-boat bulan Februari 1937.

Pada bulan Juli 1937 dia menjadi Perwira Pengawas (WO) II di U-27 dan melakukan satu patroli di perairan Spanyol selama berlangsungnya Perang Saudara di Negara tersebut. Pada bulan Oktober 1937 dia menjadi WO I di U-38 di bawah pimpinan Kapitänleutnant Henrich Liebe, dan sedang melakukan patroli di lautan saat Perang Dunia II pecah bulan September 1939.

Setelah menjalani pelatihan lanjutan selama beberapa waktu di “kapal sekolah”, dia diberi kepercayaan untuk menjadi kapten sebuah U-boat tipe IIB yaitu U-9. Dalam enam patrol yang dijalaninya bersama kapal selam ini dia memperoleh kesuksesan pertamanya, dengan yang terutama adalah ditenggelamkannya kapal selam Doris dari Prancis bulan Mei 1940. Yang pertama menjadi korbannya adalah sebuah kapal dagang Swedia bernama Flandria, yang dia tenggelamkan bulan Januari 1940. Begitu antusiasnya para awak U-9 sehingga pada saat serangan di permukaan dilakukan, banyak yang berkumpul di menara pengawas untuk melihat langsung tenggelamnya kapal mangsa mereka! Dua orang dari mantan awak Lüth nantinya akan menerima Ritterkreuz, yaitu Leitender Ingenieur-nya (kepala mekanik) Oberleutnant zur See Karl-Heinz Wiebe (dianugerahi tahun 1944 saat menjadi kepala mekanik di U-178), dan WO I U-9 antara Januari-April 1940 Oberleutnant zur See Heinrich Schonder (dianugerahi tahun 1942 setelah menjadi kapten U-77).

Sebulan kemudian Oberleutnant zur See Wolfgang Lüth menjadi komandan U-138 (U-boat tipe IID). Selama malam tanggal 20/21 September 1940, dalam patroli pertama dengan kapal barunya, dia menenggelamkan empat kapal dengan total 34.633 GRT – sebuah pencapaian luar biasa bagi kapal selam yang begitu kecilnya!

Pada bulan Oktober 1940, setelah pulang dari patroli keduanya, dimana dia menembakkan torpedo terhadap kapal dagang Norwegia Dagrun (4.562 T) tapi meleset; menenggelamkan kapal dagang Inggris Bonheur (5.327 T); dan merusak kapal tanker Inggris Glory (6.993 T), namanya disebutkan dalam Wehrmachtbericht (laporan harian dari Komando Tinggi Angkatan Bersenjata Jerman tentang situasi di front) tanggal 23 September 1940 dan dianugerahi medali Ritterkreuz tanggal 24 Oktober 1940 sehingga menjadi komandan kapal selam kecil satu-satunya yang menerima penghargaan setinggi itu!

Lüth meninggalkan U-138 bulan itu dan mengambil alih U-43 yang berukuran lebih besar. Dia melakukan lima patroli dengan kapal ini dan menenggelamkan 12 kapal dengan total 68.077 GRT. Karena pengalamannya, Lüth (seperti juga banyak jagoan U-boat ternama lainnya) ditunjuk untuk melatih para komandan U-boat yang baru. “Murid-murid” ini kadangkala ikut dalam satu patroli, yang akan menjadi tempat latihan terakhir mereka sebelum ditugaskan menjadi kapten kapalnya sendiri. Pada bulan April 1942 dia meninggalkan U-43 dan sebulan kemudian ditunjuk menjadi komandan U-181 (U-boat tipe IXD).

Pada bulan September 1942 Kapitänleutnant Lüth meninggalkan Kiel untuk patroli pertamanya dengan kapal ini. Wilayah operasionalnya meliputi Samudera Indonesia dan perairan Afrika Selatan. Dia mencapai Cape Town (Afrika Selatan) di akhir bulan Oktober, dan dalam dua minggu selanjutnya menenggelamkan empat kapal dengan total 21.987 GRT. Tanggal 16 November dia menerima pesan radio yang memberitahukan bahwa dia telah dianugerahi Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya. Sebelum kembali ke pangkalan, dia menenggelamkan delapan kapal tambahan dengan total 36.394 GRT. Lüth mencapai Bordeaux, Prancis, bulan Januari 1943.

Pada bulan Maret 1943 Kapitänleutnant Lüth meninggalkan Bordeaux untuk patroli lanjutan di perairan Afrika dan Samudera Indonesia. Patroli ini, di tengah kondisi yang sulit, juga berakhir dengan kesuksesan besar dengan ditenggelamkannya 10 kapal dengan total 45.331 GRT. Selama patroli ini Lüth menjadi perwira U-boat pertama yang menerima medali Brillanten (satu lagi adalah Albrecht Brandi, dan tidak ada lagi yang lainnya)!

Patroli ini begitu luar biasa dalam hal lamanya. Dia merupakan patroli kapal selam terlama kedua dalam Perang Dunia II (dan juga dalam sejarah!) yang memakan waktu 205 hari, hanya kalah dari patrolinya Eitel Friedrich Kentrat (juga kapten U-boat Jerman) yang memakan waktu 225 hari bersama dengan U-196. Dahsyat!

Selama patroli yang memakan waktu lebih dari setengah tahun ini, untuk mempertahankan moral dan menghilangkan kebosanan, Lüth mempelopori ide-ide seperti membuat newsletter (koran kecil berkala) khusus untuk para awaknya, mengadakan perlombaan yang beraneka macam, dan banyak aktivitas lainnya yang bertujuan untuk membuat para kru tetap waspada secara fisik dan mental.

Dia berpidato mengenai masalah ini selama berlangsungnya konferensi para perwira staff Angkatan Laut Jerman di Weimar tanggal 17 Desember 1943, dan mendeskripsikan dengan brilian masalah-masalah psikologis yang mungkin timbul selama berlangsungnya patroli yang berjalan dalam waktu yang sangat lama. Seluruh teks pidatonya bisa dibaca dalam buku “The U-Boat Offensive 1939-1945” karangan Tarrant.

Pada bulan Januari 1944, setelah lebih dari 5 tahun menjalani tugas di satuan U-boat tanpa henti, Korvettenkapitän Wolfgang Lüth (yang kini dipandang dengan penuh rasa kagum dan juga iri oleh koleganya karena begitu banyak penghargaan super bergengsi yang telah diraihnya!) diangkat sebagai komandan 22. Flotilla, tempat dimana para calon komandan U-boat di masa depan dilatih.

Pada bulan Juli 1944 dia menjadi komandan I. Abteilung (Departemen ke-1) dari Marineschule di Flensburg-Mürwik, yang merupakan tempat pelatihan bagi para calon perwira Kriegsmarine. Pada bulan September 1944 Lüth menjadi komandan termuda Marineschule Jerman dalam sejarah!

Karir cemerlang dari jagoan U-boat satu ini berakhir dengan tragis hanya beberapa hari setelah Perang Dunia II berakhir, dimana dia tewas karena sebuah insiden yang aneh. Kapitän zur See Wolfgang Lüth tertembak tanggal 13 Mei 1945 oleh petugas penjaga Jerman berpangkat Matrose berusia 18 tahun bernama Mathias Gottlob setelah dia gagal memberitahukan siapa dirinya atau memberikan password masuk (password untuk hari itu adalah “Tannenberg”). Tembakan asal-asalan, yang dikeluarkan oleh sang penjaga pada target yang bahkan tak dapat dia lihat di kegelapan malam, tepat mengenai Lüth di kepalanya dan membunuh dia secara instan! Setelah mengetahui bahwa yang terbunuh adalah “orang ngetop”, petugas yang berwenang segera memberitahukan hal ini kepada Großadmiral Karl Dönitz melalui ajudannya, Fregattenkapitän Walter Lüdde-Neurath. Awalnya Lüdde-Neurath menganggap informasi ini sebagai candaan yang tidak lucu, tapi kemudian dia menyampaikannya kepada saudara Lüth yaitu Joachim yang memang tinggal bersamanya. Dia lah yang kemudian memberitahukan berita duka ini kepada istri Lüth dan keempat anaknya.

Dönitz menghubungi komandan pendudukan Inggris di Flensburg, Kolonel Roberts, dan meminta izin kepadanya untuk mengadakan upacara pemakaman kenegaraan resmi. Roberts pun memberikan izin. Tidak cukup sampai disana, Dönitz memerintahkan agar dilakukan investigasi dalam bentuk mahkamah militer demi menyelidiki apa yang sesungguhnya telah terjadi. Empat perwira Angkatan Laut menjadi pengadilnya. Mathias Gottlob bersaksi bahwa dia telah mengerjakan sesuai dengan perintah yang diterimanya, yaitu menanyakan password tiga kali tanpa jawaban sama sekali dari orang yang tak dapat dia lihat dengan jelas di kegelapan malam. Tanpa mengarahkan terlebih dahulu, dia menembakkan peluru dari senapan yang di letakkan di pinggangnya. Kesaksian ini dibenarkan oleh Maschinenmaat Karl Franz, yang ikut bertugas jaga malam itu. Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Gottlob tidak bersalah dan membebaskannya dari semua tuduhan.

Banyak spekulasi muncul akan penyebab mengapa dia tidak merespon permintaan penjaga untuk memberitahukan siapa dirinya. Beberapa berkesimpulan bahwa itu adalah usaha bunuh diri yang disengaja, sementara yang lain mengatakan bahwa sebenarnya Lüth telah menjawab pertanyaan si penjaga, hanya saja jawabannya tidak terdengar atau disalah artikan. Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa pada saat itu dia dalam keadaan mabuk, lelah, atau kondisi lainnya yang membuat dia tidak langsung menjawab. Saat itu Lüth sedang dalam perjalanan di sekitar Marineschule tak lama setelah tengah malam, empat hari setelah Jerman secara resmi menyerah.

Lüth adalah salah satu komandan U-boat yang paling kontroversial. Yang pertama dan terutama adalah karena dia secara terbuka mengatakan bahwa dia adalah pemuja Hitler yang meyakini dengan sepenuhnya ajaran Nasional-Sosialis Nazi. Ini membuat dia sering sekali mendapat kecaman dari pengarang buku Barat pasca perang. Meskipun dia telah jelas-jelas menenggelamkan begitu banyak kapal dengan total ratusan ribu ton, tapi kesuksesannya terutama didapat dari perairan Afrika dan Samudera Indonesia yang dianggap sebagai “panggung sisipan”, tempat dimana mangsa mudah didapat dan sedikitnya pertahanan kapal-kapal musuh. Ini jauh berbeda dengan perairan Atlantik Utara yang menjadi “panggung utama” perang U-boat Jerman dengan kapal Sekutu. Beberapa mantan sejawatnya menganggap bahwa idenya tentang manajemen kru merupakan hal yang terlalu naif dan bahkan layak untuk ditertawakan; para komandan kapal selam yang terus-menerus dalam keadaan waspada demi menghindari begitu banyaknya ancaman dari laut (kapal pengawal) dan udara (pesawat pembom) di perairan utara tentunya tidak usah lagi dipusingkan dengan masalah “menghilangkan kejenuhan dalam patroli yang luar biasa monoton”. Buku “Das Boot” karangan Günther-Lothar Buchheim secara terang-terangan mengolok-olok makalah terkenal Lüth tentang “Masalah Kepemimpinan Dalam Kapal Selam” (meskipun faktanya makalah tersebut baru muncul dua tahun setelah peristiwa dalam buku itu diceritakan terjadi, tapi jelas sekali apa yang Buchheim maksudkan tatkala dia bercanda mengenai sebuah teks panjang yang dikutip dari “sebuah pidato dari Letnan-Komandan L”).

Sikap luar biasa melindungi Lüth terhadap anakbuahnya juga telah banyak diketahui. Tak hanya dia percaya bahwa adalah tugasnya sebagai seorang pemimpin untuk tetap memperhatikan anakbuahnya bahkan setelah mereka telah meninggalkan kapalnya, tapi dia juga mengkontrol dengan ketat kebiasaan pribadi mereka sedapat mungkin. Semua bahan bacaan yang dibawa ke dalam kapal harus mendapatkan persetujuan pribadi dari Lüth langsung, sementara poster pinup yang berisikan foto/gambar wanita seksi dilarang keras karena dikhawatirkan akan menimbulkan “masalah seksual di kapal”! Dia secara aktif mempromosikan teorinya akan cara terbaik untuk mempertahankan kesehatan fisik selama patroli, dan bertindak sedemikian jauh sampai menentukan dengan detail pakaian seperti apa yang harus dikenakan, juga mengkontrol ketat makanan/minuman juga rokok yang diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh para awak kapal! Bukannya merasa tertekan, sikap seperti ini malah membuat para anakbuah Lüth begitu mencintai kaptennya, dan kesetiaan mereka bertahan sepanjang zaman. Setiap kali disuruh untuk menceritakan kembali pengalaman semasa menjadi anakbuah dari seorang Wolfgang Lüth, para awak U-boat mengenang dengan penuh takzim betapa kapten mereka memperlakukan mereka layaknya anak sendiri dan bukannya sekedar seorang bawahan yang bertugas melayani. Lüth memang bersikap kebapakan, dan dia tetap mengikuti perkembangan kehidupan pribadi dan karir anakbuahnya walaupun telah berpisah dari U-181, dan membantu mereka sebisa mungkin manakala dibutuhkan. Di tengah kesibukan administrasinya yang menggunung, dia selalu menyediakan waktu untuk mengurusi keperluan orang-orang yang dulu satu kapal dengannya.

Tak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang pemimpin sejati, yang sama persis seperti halnya Großadmiral Karl Dönitz sang Panglima U-boat. Dönitz sendiri suatu waktu pernah menyatakan bahwa Lüth memang telah dipersiapkan untuk menempati posisi BdU (Befehlshaber der Unterseeboote, Panglima Kapal Selam). Sayangnya, sikap politiknya yang begitu jelas pro-Nazi membuat dia diragukan memegang posisi tersebut apabila umurnya memang tidak sependek itu. Dia pastinya akan menghabiskan waktu yang lama dalam tahanan Sekutu dan kemungkinan besar dilarang untuk beraktifitas kembali di kemiliteran setelah dilepaskan.

Dua hari setelah kematiannya, Lüth tercatat dalam sejarah sebagai orang yang menerima upacara pemakaman kenegaraan Third Reich yang terakhir. Hadir dalam pemakamannya enam orang perwira U-boat peraih Ritterkreuz yang bertindak sebagai penjaga kehormatan, sementara Dönitz memberikan ucapan terakhir. Sampai saat ini, sebuah batu peringatan didirikan sebagai pengenang akan seorang jagoan U-boat yang begitu luar biasa.

Pangkat :
1 April 1933 : Offiziersanwärter
23 September 1933 : Seekadett
1 Juli 1934 : Fähnrich zur See
1 April 1936 : Oberfähnrich zur See
1 Oktober 1936 : Leutnant zur See
1 Juni 1938 : Oberleutnant zur See
1 Januari 1941 : Kapitänleutnant
1 April 1943 : Korvettenkapitän
1 Agustus 1944 : Fregattenkapitän
1 September 1944 : Kapitän zur See

Komando U-Boat :
U-13 : 16 Desember 1939 s/d 28 Desember 1939 - Tanpa patroli
U-9 : 30 Desember 1939 s/d 10 Juni 1940 - 6 patroli (72 hari)
U-138 : 27 Juni 1940 s/d 20 Oktober 1940 - 2 patroli (29 hari)
U-43 : 21 Oktober 1940 s/d 11 April 1942 - 5 patroli (204 hari)
U-181 : 9 Mei 1942 s/d 31 Oktober 1943 - 2 patroli (335 hari)

Medali dan Penghargaan :
* Spanish Cross in Bronze (6 Juni 1939)
* The Return of Sudetenland Commemorative Medal of 1 October 1938 (16 September 1939)
* U-boat Front Clasp (12 Oktober 1944)
* U-boat War Badge with Diamonds (26 Januari 1943)
* Croce di Guerra Italiana al valor militare (1 November 1941)
* Iron Cross 2nd Class (25 Januari 1940)
* Iron Cross 1st Class (15 Mei 1940)
* Gauehrenabzeichen des Reichgaues Wartheland (24 Oktober 1943)
* Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves, Swords and Diamonds
o Knight's Cross (24 Oktober 1940) : Oberleutnant zur See dan komandan U-138
o Oak Leaves #142 (13 November 1942) : Kapitänleutnant dan komandan U-181
o Swords #29 (15 April 1943) : Kapitänleutnant dan komandan U-181
o Diamonds #7 (9 Agustus 1943) : Korvettenkapitän dan komandan U-181
* Disebutkan dua kali di Wehrmachtbericht


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.thirdreichcolorpictures.blogspot.com
www.uboat.net
www.wehrmacht-awards.com