Showing posts with label Jerman Pra Nazi. Show all posts
Showing posts with label Jerman Pra Nazi. Show all posts

Sunday, November 6, 2022

Daftar Laksamana Kekaisaran Jerman

ADMIRAL


Albrecht von Stosch (20 April 1818 – 29 Februari 1896)
Admiral (1875)
Medali tertinggi: Pour le Mérite (20 September 1866)

------------------------------------------------------------------------------------

VIZEADMIRAL


Eduard
Karl Emanuel von Jachmann
(2 Maret 1822 - 21 Oktober 1887)
Vizeadmiral (22 Maret 1868)
Medali tertinggi: tidak diketahui



Gustav Klatt (15 Februari 1823 - 5 September 1898)
Vizeadmiral (18 April 1878)
Medali tertinggi: tidak diketahui



Friedrich Wilhelm Franz Kinderling (22 April 1820 - 13 Juni 1895)
Char. Vizeadmiral (23 Agustus 1883)
Medali tertinggi: Königlich Preußischer Roter Adler-Orden II.Klasse mit Eichenlaub und Schwertern am Ringe (10 September 1879)



Reinhold von Werner (10 Mei 1825 – 26 Februari 1909)
Vizeadmiral (1898)
Medali tertinggi: tidak diketahui

------------------------------------------------------------------------------------

KONTERADMIRAL


Hans Kuhn (29 November 1824 - 13 Juni 1891)
Konteradmiral (27 Mei 1868)
Medali tertinggi: tidak diketahui


Hermann Robert Przewisinski (6 Maret 1831 - 9 Oktober 1902)
Char. Konteradmiral (Desember 1878)
Medali tertinggi: tidak diketahui


Sumber :
www.bild.bundesarchiv.de
www.de.wikipedia.org
www.deutsches-marinearchiv.de
www.en.wikipedia.org
www.gmic.co.uk
www.kaiserlichemarine-wilhelmshaven.de

Daftar Jenderal Kekaisaran Jerman

GENERAL DER KAVALLERIE


Ahasverus Heinrich August Otto Magnus Ferdinand Graf von Lehndorff (1 April 1829 - 24 April 1905)
General der Kavallerie (14 April 1888)
Medali tertinggi: Schwarzer Adler-Orden


Sumber :
www.bild.bundesarchiv.de
www.prussianmachine.com

Thursday, December 25, 2014

Perang Prusia-Prancis (1870-1871)


"Le rêve" (Mimpi) karya Jean-Baptiste Édouard Detaille. Lukisan berukuran 4m x 3m yang dibuat tahun 1888 ini menggambarkan para prajurit rekrutan muda Prancis yang beristirahat setelah melakukan latihan perang di wilayah Champaign. Mereka bermimpi akan kemenangan dan kejayaan di medan perang seperti zaman Napoleon Bonaparte, sementara pada kenyataannya mereka kalah telak melawan pasukan gabungan Prusia dan Jerman di semua front, Kaisar mereka (Napoleon III) ditawan, dan ibukota mereka (Paris) dikepung selama berbulan-bulan! Detaille mendapatkan medali sebagai penghargaan atas lukisan yang kemudian dibeli oleh negara Republik Prancis ini. Sekarang lukisan "Le rêve" disimpan di Grand Palais, Musée d'Orsay (Paris)


"Sturm auf den Spicherer Berg" (Serbuan ke Bukit Spicheren) karya Anton von Werner (1880). Generalmajor Bruno von François (Kommandeur 27. Infanterie-Brigade Prusia) memimpin tentaranya dalam penyerbuan ke Bukit Spicheren yang diduduki oleh pasukan Prancis, 8 Agustus 1870. Tanpa gentar, sang jenderal berada di barisan paling depan bersama dengan seorang peniup terompet demi untuk menambah semangat prajurit-prajuritnya yang bergerak maju sambil mendaki. Tak lama kemudian dia terbunuh dalam pertempuran dengan lima peluru sniper bersarang di tubuhnya. Kata-kata terakhirnya adalah: "Ini adalah sebuah kematian yang indah di medan perang, jenis kematian yang aku idam-idamkan. Aku melihat pasukanku terus bergerak maju, dan dengannya aku tahu bahwa kematianku tidak akan menjadi sia-sia." Pertempuran Spicheren sendiri - yang merupakan bagian dari kancah Perang Prusia-Prancis - pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Prusia, meskipun mereka menderita korban yang lebih banyak dikarenakan oleh keampuhan senapan Chassepot Prancis serta kondisi medan yang tak menguntungkan pihak penyerang


"Kronprinz Friedrich Wilhelm an der Leiche des Generals Abel Douay" (Putra Mahkota Friedrich Wilhelm di pemakaman jenderal Abel Douay), 4 Agustus 1870. Charles Abel Douay (1809-1870) adalah jenderal Prancis zaman Napoleon III yang mengkomandani banyak ekspedisi militer negaranya di luar negeri. Dia terbunuh dalam kancah Perang Prancis-Prusia di dekat Wißembourg di hari pertama dari pertempuran pertama antara kedua belah pihak yang berseteru! Lukisan yang dibuat oleh Anton von Werner pada tahun 1888 di atas saat ini disimpan di Wasserschloss Glatt, Baden-Württemberg (Jerman). Perhatikan seekor anjing kecil yang berbaring di atas jenazah Douay serta posisi kursi terbalik yang menopang kepalanya!


Waktu pertama saya melihat lukisan ini, saya ternganga... saya kira ini adalah foto atau adegan dari film! LUAR BIASA!!! Inilah lukisan terbaik Anton von Werner dalam hal realisnya menurut pendapat saya! Perhatikan saja bayangan api dan ekspresi si prajurit penyanyi, benar-benar hidup! Begitu juga cermin, hiasan dinding, dan kayu bakar yang terserak di lantai... speechles!! Lukisan berukuran 158cm x 120cm ini sendiri berjudul "Im Etappenquartier vor Paris" (Di sebuah tempat beristirahat sebelum Paris) yang dibuat pada tahun 1894 berdasarkan sketsa buatan tanggal 24 Oktober 1870 saat von Werner menemani Jenderal Helmuth von Moltke pergi ke negara Prancis yang diduduki. Lukisan ini memperlihatkan prajurit Prusia yang beristirahat di Château de Brunoy yang berada di luar Paris. saat berlangsungnya Perang Prancis-Prusia. Masterpiece ini sekarang disimpan di Alte Nationalgalerie, Berlin, dan tercatat sebagai lukisan pertama von Werner yang dipunyai musium seni tersebut


 "Moltke mit seinem Stabe vor Paris" (Moltke bersama dengan staff-nya di dekat Paris). Lukisan berukuran 91cm x 53cm ini dibuat oleh Anton von Werner pada tahun 1873 dan memperlihatkan Generalfeldmarschall Helmuth von Moltke mendapat gempita sorak-sorai prajuritnya di hari pertama pengepungan Paris (19 September 1870 - 28 Januari 1871)


 "Diskusi Strategi Perang di Versailles 1870" adalah lukisan karya Anton von Werner yang memperlihatkan para petinggi militer Prusia sedang merundingkan strategi terbaik untuk mengalahkan Prancis. Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Leonhard Graf von Blumenthal (Chef des Generalstabes 3. Armee), Generalfeldmarschall Kronprinz Friedrich Wilhelm von Preußen (Oberbefehlshaber 3. Armee), Generalleutnant Theophil von podbielski (Generalquartiermeister der Armee), Kaiser Wilhelm I (Oberbefehlshaber des Heeres), General der Infanterie Helmuth Graf von Moltke (Chef des Generalstabes des Heeres), General der Infanterie Albrecht Graf von Roon (Kriegsminister), dan Otto von Bismarck (Bundeskanzler des Norddeutschen Bundes)


"Ankunft König Wilhelms I. in Saarbrücken am 9. August 1870" (kedatangan Wilhelm I di Saarbrücken, 9 Agustus 1870). Dalam lukisan ini Kaiser Wilhelm I tampak sedang beraudiensi dengan rakyatnya dengan ditemani oleh Kronprinz Friedrich Wilhelm, tiga hari setelah kesuksesan penyerbuan dataran tinggi Saarbrücken oleh pasukan Prusia. Lukisan di atas saat ini menjadi milik Deutsches Historisches Museum


 "Bivouac après le combat du Bourget, 21 décembre 1870" (Berkumpul setelah Pertempuran di Bourget, 21 Desember 1870) karya Alphonse de Neuville yang dibuat tahun 1873. Prajurit Prancis yang kelelahan beristirahat setelah pertempuran dengan pasukan Prusia. 57 tahun kemudian tempat yang sama menjadi lokasi pendaratan pesawat "Spirit of St. Louis" yang dipiloti Charles Lindbergh yang terkenal. Sekarang lukisan ini disimpan di Grand Palais, Musée d'Orsay (Paris)


"Die Proklamation des Deutschen Kaiserreiches" (Proklamasi Kekaisaran Jerman) adalah lukisan paling terkenal dari Anton von Werner yang dibuat pada tahun 1885. Tiga buah lukisan dibuatnya khusus untuk memperingati peristiwa pentahbisan Wilhelm I sebagai Kaisar Jerman yang dilaksanakan di Istana Versailles pada tanggal 18 Januari 1871, dan lukisan di atas merupakan versi ketiga darinya. Sayangnya, dua versi lukisan pertama hancur dalam Perang Dunia II. Lukisan yang dibuat dengan cat minyak dan berukuran 250cm x 250cm ini merupakan pesanan dari keluarga kerajaan Prusia sebagai hadiah ultah ke-70 Kanselir Otto von Bismarck. Saat ini dia dipajang di Musium Bismarck yang berlokasi di Friedrichsruh (Jerman). Tidak lengkap kalau saya tidak menyertakan identifikasi tokoh-tokoh berpengaruh yang nongol dalam lukisan ini (my favorite part!): Kaiser Wilhelm II adalah aki-aki berjenggot putih yang berdiri di atas tangga; di sebelah kirinya adalah anaknya, Kronprinz (putra mahkota) Friedrich Wilhelm, sementara di sebelah kanannya adalah Großherzog Friedrich I von Baden; Kanselir Otto von Bismarck menjadi pusat dari lukisan ini, dan dia adalah aki-aki berkumis segede tokai yang memakai seragam putih di tengah; di sebelah kanannya adalah Generalfeldmarschall Helmuth von Moltke; terakhir, paling kiri dengan seragam putih adalah Herzog Ernst II von Sachsen-Coburg und Gotha


Ini adalah close-up dari lukisan "Die Proklamation des Deutschen Kaiserreiches" versi ketiga yang memperlihatkan tokoh-tokoh utama dibalik kesuksesan Prusia dalam perang melawan Prancis serta dalam memimpin pembentukan Jerman Bersatu. Baris depan dari kiri ke kanan: Albrecht von Roon, Jakob Freiherr von Hartmann, Leonhard Graf von Blumenthal, Otto von Bismarck, dan Helmuth von Moltke. Aslinya von Roon tidaklah hadir dalam acara proklamasi ini, tapi karena jasanya begitu dihargai oleh Kaiser dan Reichskanzler maka dia dinongolkan di versi ketiga ini (perhatikan bahwa dalam dua versi yang lain wajahnya tidak nampak!). Albrecht Theodor Emil Graf von Roon adalah Menteri Peperangan Prusia/Jerman periode 1859-1873 yang menjadi pendorong utama modernisasi angkatan perang Prusia sehingga mampu mencapai hasil yang memuaskan dalam rangkaian perang melawan Denmark (1864), Austria (1866), dan Prancis (1870)


Kalau yang ini adalah versi kedua dari lukisan proklamasi Kekaisaran Jerman yang dibuat oleh Anton von Werner pada tahun 1882 dengan judul "Kaiserproklamation in Versailles". Seperti telah disebut sebelumnya, lukisan ini (bersama dengan lukisan proklamasi versi pertama) hancur dalam Perang Dunia II saat bangunan Ruhmeshalle yang memajangnya dihajar bom Sekutu. Sekilas dia sangat mirip dengan lukisan versi ketiga, tapi bila anda perhatikan lebih teliti ada banyak perbedaan, terutama dengan posisi tubuh para jenderal di sekeliling Kanselir Otto von Bismarck


Dan yang ini adalah "Die Kaiserproklamation von 1871" versi pertama yang dibuat pada tahun 1877, sebuah lukisan berukuran 4,3m x 7,3m. Versi ini adalah yang paling besar dari kedua versi yang dibuat belakangan, dan lebih luas menampilkan orang-orang yang berkumpul di istana Versailles dalam acar penobatan Kaisar Jerman



Sumber :
www.antonvonwerner.blogspot.com
www.armchairgeneral.com
www.artyfart.net
www.buergertum.com
www.commons.wikimedia.org
www.de.wikipedia.org
www.dhm.de
www.en.wikipedia.org
www.fuckyeahpreussen.tumblr.com
www.germanhistorydocs.ghi-dc.org
www.kronberger-maler.de
www.musee-orsay.fr
www.zeno.org

Saturday, June 7, 2014

Flammenwerfer-Sturmpioniere, Unit Zeni Penyembur Api Jerman Dalam Perang Dunia Pertama




Oleh : Herry Cavalera

Selain Stosstruppe, Sturmtruppen dan Maschinengewehr-Scharfschütze yang pernah diposting sebelumnya, Militer Jerman dalam Perang Dunia 1 juga memiliki unit serbu lainnya yang tergolong elite, yaitu Flammenwerfer-Sturmpioniere, yang merupakan unit Pioneer Serbu (Zeni Tempur) yang membawa Penyembur Api.

Flammenwerfer-Sturmpioniere merupakan unit yang paling menakutkan dan membawa teror mimpi buruk bagi pasukan Perancis dan Inggris dalam pertempuran parit ketimbang serbuan infantri Jerman atau serangan gas dalam perang dunia pertama. Saking menakutkannya Flammenwerfer-Sturmpioniere, sampai sampai mereka memperoleh julukan Graben Kammerjäger atau Trench Exterminator (Pemusnah Parit) oleh prajurit prajurit Inggris. Ditambah Stahlhelm mereka yang terkadang mereka hiasi dengan gambar tengkorak dengan tulang menyilang menggunakan cat hitam dan ketika mereka sedang memakai masker gas, menambah penampilan mereka menjadi lebih mengerikan. Selain efek destruction (kehancuran) yang amat mengerikan, efek psikologis yang ditimbulkan juga dinilai amat menakutkan hingga menjatuhkan moral tempur. Betapa tidak ? Pasalnya, selain efek kehancuran yang membawa terror, efek psikologis ditimbulkan karena suara mesin penyembur api nya yang mengerikan terdengar dari jauh sebelum kemunculan pasukan penyembur api ini.

Flammenwerfer-Sturmpioniere membawa penyembur api jenis Flammenwerfer modell 1916 dan kemudian diganti dengan flüssigen-Kraftstoff Flammenwerfer Modell 1917.

Foto ini menunjukan para Flammenwerfer-Sturmpioniere asal 5. Brennt Kompanie/1. Garde Pionier-Bataillon sedang beraksi menyerbu posisi parit pertahanan pasukan Perancis dalam Pertempuran Verdun pada 19 Juni 1916. Serbuan Flammenwerfer-Sturmpioniere dalam Pertempuran Verdun merupakan mimpi buruk dan malapetaka bagi Pasukan Perancis. Barisan pertama pertahanan parit pasukan Perancis ditinggalkan oleh pasukan Perancis yang ketakutan duluan setelah mendengar suara bising mesin penyembur api yang mengerikan. Di baris kedua, Pasukan Perancis menghadapi terror mimpi buruk tatkala bertatap muka dengan unit unit Flammenwerfer-Sturmpioniere. 87% parjurit-prajurit Perancis yang bertahan di parit saat terjadi serangan Flammenwerfer-Sturmpioniere menemui ajalnya dengan rasa sakit yang tidak terbayangkan.

Selain ditakuti oleh Pasukan Inggris dan Perancis, Prajurit-Prajurit Jerman yang bertugas sebagai Flammenwerfer-Sturmpioniere, juga memiliki ketakutan tersendiri. Ketakutan mereka adalah pada penyembur api nya yang berat yang bisa mengurangi mobilitas sehingga resiko tangki bahan bakar terkena peluru lalu meledak dan bisa menewaskan mereka sendiri tidak bisa dihindari.

Rata-rata para Flammenwerfer-Sturmpioniere adalah sukarelawan yang sudah terlatih baik. Mayoritas para personel sukarelawan nya, awalnya berprofesi sebagai petugas pemadam kebakaran setempat. Mereka sebenarnya sudah tahu, bahwa ketika mereka mengajukan diri untuk bergabung dengan Flammenwerfer-Sturmpioniere, mereka telah mengajukan kematian nya sendiri. Dan mereka tahu, bahwa menjadi Flammenwerfer-Sturmpioniere merupakan tugas bunuh diri. Namun, disisi lain mereka ingin membukti kan diri mereka sebagai prajurit yang berani mati dalam tugas. Itu dibukti kan mereka setelah selesai pelatihan dan diterjunkan ke medan tempur untuk pertama kali, mereka semua sudah siap mati dalam tugas. Setelah beberapa pertempuran terbukti, mereka dihormati dan disegani layaknya Stosstruppe oleh prajurit prajurit Jerman lainnya.


Sumber :

Monday, May 26, 2014

Album Foto Kaiserliche Schutztruppen (Pasukan Kolonial Kekaisaran Jerman)

Seorang Major Schutztruppe menunggang buaya sambil mengenakan seragam tugas lapangan kolonial. Warna biru di topinya menerangkan bahwa dia berasal dari Afrika Barat Daya. Bertentangan dengan pandangan umum, Schutztruppen (arti harfiahnya: Pasukan Pelindung) secara organisasi BUKAN bagian dari angkatan darat atau angkatan laut meskipun secara kemiliteran mereka mendapat pelatihan dan senjata yang sama. Kantor mereka terletak di Mauerstrasse Berlin, berdekatan dengan Kantor Kolonial Reich (Reichskolonialamt)


Prajurit yang bertugas di Schutztruppe di Afrika mengenakan topi koboi yang salah satu sisinya dilipat (mirip-mirip tentara kolonial Belanda). Seragam mereka yang berwarna coklat cerah biasanya terbuat dari bahan korduroy (sejenis beludru)


 Prajurit Askari yang bertugas di Afrika Timur. Mereka semua mengenakan seragam lapangan Kolonial berwarna coklat terang dan topi fez yang memanjang di belakang (mirip topi prajurit Jepang dalam Perang Dunia II). Mereka bersenjatakan senapan model 1871/84 yang sudah ketinggalan zaman


 Musisi lapangan Askari di Afrika Timur Jerman. Mereka mengenakan wing khusus musisi berwarna perpaduan merah dan putih di bagian bahu. Lencana Palang Merah yang terpasang di lengan drummer yang berdiri di kanan menandakan bahwa pemiliknya adalah Sanitätsunterpersonal (anggota bintara medis)


 Askari dari Schutztruppe Kamerun Jerman mengenakan fez merah yang mudah dikenali dengan plat elang Kekaisaran Jerman di bagian muka. Perhatikan chevron merah yang dikenakan di lengan Unteroffizier (Sersan) yang duduk di kanan!


Sumber :
Buku "Uniforms of the German Soldier; an Illustrated History from 1870 to the Present Day" karya Alejandro M. De Quesada

Album Foto Kaiser Friedrich III (1831-1888)

 Kaiser Friedrich III mengenakan seragam Leibrock berkancing ganda untuk perwira senior yang dipadukan dengan schulterklappen (tanda pangkat bahu) Generalfeldmarschall. Di lehernya dia memakai 1870 Großkreuz des Eisernen Kreuzes (Grand Cross of the Iron Cross). Medali kasta tertinggi untuk Eisernes Kreuzes ini pertama kali diberikan tanggal 10 Maret 1813 dan untuk versi 1870-nya (dibuat setelah Perang Prusia-Prancis) tercatat hanya ada tujuh orang yang menerimanya: Kronprinz Friedrich Wilhelm von Preußen (nantinya menjadi Kaiser Friedrich III), König Albert von Sachsen, August Karl von Goeben, Edwin Freiherr von Manteuffel, Helmuth Graf von Moltke der Ältere, Prinz Friedrich Karl von Preußen, dan August Graf von Werder


Kaiser Friedrich III mengenakan seragam yang ditutupi oleh cuirass (baju besi) yang biasa dipakai oleh salah satu resimen penjaga Cuirassier. Di antara sedikit medali dan penghargaan yang dikenakannya dalam foto ini adalah Pour le Mérite, yang secara umum dikenal dengan nama "Blauer Max/Blue Max". Ini adalah medali keberanian tertinggi Prusia dan Kekaisaran Jerman yang pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich der Große tahun 1740. Berhubung saat itu segala sesuatu yang berbau Prancis dipuja oleh kalangan ningrat Eropa, maka bahasa yang dipakai untuk menamakannya pun dipakai bahasa Prancis dan bukan Jerman: Pour le Mérite (Untuk Prestasi)


Sumber :
Buku "Uniforms of the German Soldier; an Illustrated History from 1870 to the Present Day" karya Alejandro M. De Quesada

Sunday, April 27, 2014

Album Foto Deutsches Reich / Kekaisaran Jerman (1871-1918)

Seorang prajurit dari Königlich Bayerisches 1. Infanterie-Regiment "König" mengenakan seragam militer khas Prusia yang mulai diperkenalkan tahun 1872. Perhatikan Raupenhelm atau helm "ulat" (caterpillar helmet) yang tersimpan di sebelah kiri. Helm semacam ini biasanya dikenakan oleh unit Dragoon (infanteri berkuda)


Prajurit dari Hessen ini mengenakan seragam biru Prusia dengan pita lengan merah khas Swedia yang menunjukkan bahwa dia berasal dari unit artileri atau zeni. Perhatikan warna kokade di bagian tengah topi yang terdiri dari merah dan putih yang merupakan warna resmi Hessen. Dia mengenakan ikat pinggang hitam dengan koppelschloss (kepala ikat pinggang) bermahkota


 Unit artileri Prusia berpose bersama dengan senjata andalan mereka. Perhatikan bentuk bundar di atas pickelhaube mereka!


 Anggota unit artileri yang mengenakan Pickelhaube berujung bola, dalam sebuah foto studio yang "unyu unyu". Perhatikan warna dasar hitam dengan garis merah di kerah dan manset-nya!


 Kompi senapan mesin Bavaria berpose dengan senjata andalan mereka: senapan mesin Maxim MG-08 di atas dudukan khusus yang dilengkapi dengan kondensor pendingin berbentuk bulat yang mengirimkan uap dingin ke senapan melalui selang di bagian depannya. Uap tersebut akan mendinginkan laras senapan yang biasanya menjadi begitu panas setelah begitu lama dipakai sehingga dibutuhkan beberapa menit untuk beristirahat sebelum dipakai kembali. Biasanya digunakan air sebagai pendingin utama, meskipun keadaan di medan tempur yang tidak menentu membuat kadangkala digunakan minuman keras atau bahkan air kencing untuk menggantikannya!


 Bavaria mengadopsi pickelhaube mulai dari tahun 1886, meskipun bentuknya sedikit berbeda dengan negara-negara bagian Jerman lainnya. Salah satu perbedaan yang menonjol adalah visor depan yang berbentuk segi empat, yang hampir sama tongkrongannya dengan yang dipakai oleh unit Dragoon (infanteri berkuda). Para prajurit ini berasal dari Bayerische Infanterie-regiment 2


 Musikzug (peleton musik) Prusia memimpin fahnenträger-abteilung (detasemen pembawa bendera) yang membawa panji-panji resimen mereka. Perhatikan penggunaan ringkragen (gorget) oleh para pembawa bendera


 Prajurit ini berasal dari Wach-Feld-Artillerie-Regiment 1 dan dia mengenakan seragam parade. Perhatikan manset mode Swedia dengan Kapellenlitzen ganda unit penjaga (Wach). Kapellenlitzen yang sama terdapat juga di kerah dan jubahnya


 Prajurit dari Gardes du Corps mengenakan seragam upacaranya. Tugas-tugas seremonial dari Gardes du Corps hanya terbatas pada para perwira, bintara, dan prajurit pilihan dari Leib-Kompanie serta korps terompet. Seragam khusus yang mentereng diperlukan untuk tugas-tugas semacam ini. Pelaut yang berpose di sampingnya berasal dari SMS Vineta, dan mengenakan seragam parade Angkatan Laut yang biasa disindir sebagai "baju monyet" oleh mereka yang memakainya!


Sumber :
Buku "Uniforms of the German Soldier; an Illustrated History from 1870 to the Present Day" karya Alejandro M. De Quesada

Foto Perang Prusia-Denmark (1 Februari 1864 - 30 Oktober 1864)


"Die Erstürmung des Königsberges bei Oberselk durch das k.u.k. 18. Jägerbataillon am 3. Februar 1864" (Penyerbuan Königsberg di Oberselk oleh Batalyon Infanteri Ringan ke-18 Austria tanggal 3 Februari 1864), sebuah lukisan yang dibuat tahun 1864 oleh pelukis Austria Siegmund L'Allemand (1840-1910). Dalam Pertempuran Königshügel di dekat Selk, pasukan Austria (yang membantu Prusia) berada di bawah komando Jenderal Lepolold Gondrecourt. Mereka berhasil memukul mundur pasukan Denmark sampai ke Dannevirke. Dalam pertempuran yang berlangsung di tengah suhu −10 °C ini (!) Brigade ke-6 Denmark memegang peranan penting


 
"Ottende brigades angreb ved Dybbøl 18. april 1864" (Serangan Brigade ke-8 di Dybbøl 18 April 1964), sebuah lukisan yang dibuat tahun 1894 oleh pelukis Denmark Vilhelm Jacob Rosenstand (1838–1915). Di pagi hari pukul 10:00 tanggal 18 April 1864, pasukan infanteri Prusia yang menginvasi Jutland melakukan serangan terhadap pertahanan Denmark setelah membombardir wilayah Dybbøl selama berbulan-bulan. Setelah garis pertahanan pertama berhasil diduduki, pasukan Denmark dari Brigade ke-8 melakukan serangan balik yang berujung dengan kegagalan: lebih dari setengah anggotanya menjadi korban! Pada pukul 13:30 Dybbøl secara resmi dikuasai oleh Prusia. Wilayah ini kemudian digunakan oleh Prusia sebagai titik loncat serangan ke sasaran berikutnya, Als, bulan Juni 1864


 "Kampene ved Dybbøl" (Pertempuran Dybbøl), sebuah lukisan yang dibuat tahun 1871 oleh pelukis Denmark Jørgen Valentin Sonne (1801-1890). Pertempuran di selatan Jutland yang menentukan ini dimenangkan oleh pihak Prusia. Pasukan bertahan Denmark berkekuatan 11.000 orang yang harus melawan 36.000 pasukan penyerbu Prusia. Denmark kehilangan 4.834 prajuritnya yang menjadi korban (dengan 700 di antaranya tewas, 554 terluka, dan 3.534 ditawan) sementara Prusia hanya kehilangan 1.201 orang

Sumber :
www.en.wikipedia.org

Album Foto Prusia (1525-1870)

Seorang prajurit Prusia dari salah satu unit Wachregiment (Resimen Penjaga). Di sampingnya tersimpan sebuah pickelhaube model 1860. Foto ini diambil tahun 1866, tahun dimana Prusia berperang dengan Austria (juga dikenal sebagai "Deutscher Krieg" alias Perang Jerman)


Sumber :
Buku "Uniforms of the German Soldier; an Illustrated History from 1870 to the Present Day" karya Alejandro M. De Quesada