Showing posts with label Foto Perang Dunia II. Show all posts
Showing posts with label Foto Perang Dunia II. Show all posts

Tuesday, October 8, 2019

Kisah-Kisah Heroik Para Frontschwein (Prajurit Garis Depan)

MELANGGAR PERINTAH TAPI MENDAPAT RITTERKREUZ

Leutnant Hermann Tanczos (30 November 1921 - 4 November 1967) adalah prajurit asal Austria yang bergabung dengan Wehrmacht pada tanggal 1 Agustus 1940 dan pertama kali bertugas di Artillerie-Regiment 14. Namanya yang berbau Hungaria, "Tanczos", seringkali ditulis dengan ejaan Jerman "Tanzos" dalam dokumen-dokumen resmi yang berkaitan dengannya. Tanzcos kemudian dipindahkan ke Artillerie-Regiment 157, dan di unit inilah kemampuannya sebagai seorang pengamat artileri mendapatkan ganjarannya: dalam sebuah pertempuran sengit melawan pasukan Rusia di Cherkasy pada tanggal 10 Februari 1944, Tanczos dan unitnya diperintahkan untuk mundur. Bukannya menurut, keturunan Hungaria ini - bersama dengan dua orang prajurit artileri asal Austria lainnya - memutuskan untuk tetap tinggal dan menghadapi musuh. Mereka memanfaatkan sebuah meriam Flak 88mm yang ditinggalkan di medan tempur, dan bertempur begitu gigihnya sehingga membuat pasukan Rusia berbalik mundur! Pada awalnya orang pasti berpikir bahwa tindakan heroiknya pastilah akan mendapatkan penghargaan yang setimpal. Salah! Dia malah dituduh telah melanggar perintah, diajukan ke Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati! Untunglah pengacaranya mampu menghadirkan perwira serta saksi-saksi lain yang diperlukan sehingga, bukan hanya dia dibebaskan dari dakwaannya, tapi juga kemudian dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 21 Februari 1944 sebagai seorang Unteroffizier dan Vorgeschobene Beobachter (VB) di 4.Batterie / II.Abteilung / Artillerie-Regiment 157 / 57.Infanterie-Division / XI.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd (medalinya sendiri diterima pada tanggal 23 Mei 1944). Setelah mendapat cuti pulang dan disambut secara besar-besaran di kampung halamannya, Tanczos kembali ke medan tempur bersama dengan Artillerie-Regiment 157. Dia ditawan oleh Tentara Merah pada tanggal 14 Juli 1944, dan baru dibebaskan pada tanggal 27 Desember 1947. Tanczos memutuskan untuk tinggal di Hamburg, Jerman, sampai dengan akhir hayatnya, dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga mempekerjakan para veteran Perang Dunia II lainnya. Medali dan penghargaan lain yang diterima oleh Hermann Tanczos: Allgemeines-Sturmabzeichen; Verwundetenabzeichen in Schwarz; Eisernes Kreuz II.Klasse (16 Juli 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (10 Agustus 1942); Nahkampfspange; serta Eisernes Kreuz I.Klasse (23 Juni 1943)


 SS-Hauptsturmführer Karl Nicolussi-Leck (14 Maret 1917 - 30 Agustus 2008) adalah anak seorang petani keturunan Jerman dari Tirol Selatan, utara Italia, yang bergabung dengan Waffen-SS pada bulan Januari 1940, dan ditempatkan di Resimen "Germania", cikal-bakal Divisi SS "Wiking". Dia ikut berpartisipasi dalam penyerbuan Jerman ke Rusia pada tahun 1941, dan dari sejak saat itu menghabiskan sebagian besar masa tempurnya di Front Timur. Puncak prestasinya diraih pada tahun 1944, saat Nicolussi-Leck menjadi komandan sebuah kompi tank Panther Wiking dalam usahanya untuk membebaskan pasukan Jerman yang terkepung di wilayah Kovel, bulan Maret 1944. Pada tanggal 27 di bulan yang sama, dengan proses pembebasan masih berlangsung, Nicolussi-Leck tiba-tiba menerima perintah untuk menghentikan semua upaya ofensif. Pada saat itu padahal dia telah menjalin kontak radio dengan garnisun Jerman yang terkepung, dan menganggap bahwa pembebasan mereka tak bisa ditunda-tunda lagi. Dia lalu memerintahkan operator radionya untuk mengirimkan balasan pada markas pusat bahwa dia (Nicolussi-Leck) tak bisa ditemukan keberadaannya, dan dengan itu tetap meneruskan gerak maju ke Kovel! Tiga hari kemudian - setelah melewati pertempuran sengit - dia dan tujuh tank lainnya akhirnya mampu mencapai garnisun yang terjebak, di awal pagi tanggal 30 Maret 1944. Kedatangannya menambah kekuatan pertahanan garnisun Jerman, sehingga mereka mampu bertahan sampai akhirnya dibebaskan oleh pasukan pembebas yang lebih besar. Meskipun bisa dibilang telah melanggar perintah dari atasannya, Nicolussi-Leck dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 April 1944 sebagai SS-Obersturmführer dan Chef 8.Kompanie / II.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division “Wiking” / LVI.Armeekorps / 2.Armee / Heersgruppe Mitte. Rekomendasi penganugerahannya juga menyebutkan bahwa dia telah menghancurkan 17 tank Rusia dalam prosesnya, meskipun ada kemungkinan bahwa angka tersebut adalah korban total yang dicapai oleh seluruh kompinya. Seusai perang dia banyak membantu mantan anggota SS yang melarikan diri ke Amerika Selatan. Dia sendiri bermigrasi ke Argentina pada tahun 1948, hanya untuk kembali ke kampung halamannya di Tirol Selatan (Italia) pada awal tahun 1950-an, dimana dia bekerja sebagai wirausahawan di Mannesmann. Medali dan penghargaan lain yang telah diraih oleh Nicolussi-Leck: Eisernes Kreuz II.Klasse (25 Juli 1942); Eisernes Kreuz I.Klasse (9 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz (2 September 1942); Panzerkampfabzeichen in Silber (11 September 1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (10 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 3 April 1944


Sumber :
Foto koleksi pribadi Angel Farré
www.historyofthewaffenss.com
www.tracesofwar.com
www.wehrmacht-awards.com

Thursday, November 15, 2018

Bumi Hangus


  Panzerkampfwagen III Ausf.J satu ini, yang berkendara melewati sebuah desa Rusia yang terbakar pada tanggal 11 Oktober 1941, memperlihatkan nomor sasis di bagian depan kubahnya (persis di atas visor supir): 68435. Selain itu, terdapat pula nomor taktis satu digit "7" di bagian samping depan turet, diikuti dengan gambar bison Eropa di belakangnya. Berbekal itu semua, kita bisa mengidentifikasi panzer ini sebagai milik Panzer-Regiment 7, yang merupakan bagian dari 10. Panzer-Division. Sebuah panji kecil berkibar di bagian atas antenanya. Yang cukup menarik adalah penampilan awaknya, yang dengan santai duduk di luar panzer. Dia mengenakan stahlhelm di kepalanya, sebuah pemandangan yang jarang ditemukan di kalangan Panzermänner (orang-orang tank)!


  Panzerkampfwagen III Ausf.J satu ini adalah contoh paling sempurna dari kemampuan pihak Jerman untuk selalu beradaptasi di medan peperangan, dan dalam hal ini adalah pola kamuflase putih musim dingin. Tidak seperti kamuflase lain yang dibuat dengan menggunakan cat, warna putih yang melekat di sekujur badan panzer ini dibuat dengan memanfaatkan kapur tulis (perhatikan pola awut-awutannya)! Foto ini sendiri dijepret oleh Kriegsberichter Tannenberg di bulan Februari 1942, saat Oberkommando der Wehrmacht dengan terburu-buru mengirimkan unit-unit panzernya demi menambal kebocoran di garis pertahanannya yang berada di sekitar kota Moskow, Uni Soviet. Pada saat itu Oberkommando der Wehrmacht masih belum mengantisipasi dengan baik datangnya musim dingin, sehingga sebagian besar mesin perang yang dikirimkan masih memakai cat musim panas dan bukannya putih. Di latar belakang kita bisa melihat sepasang mittlerer schützenpanzerwagen Sd.Kfz.251 (kemungkinan Ausf.B), yang parkir di pinggir rumah-rumah yang terbakar



Sumber :
Buku "Panzer Vor: German Armor At War 1939-45" karya Frank V. De Sisto

Thursday, March 1, 2018

Foto Pra Perang Dunia II

 Adolf Hitler, usia 35 tahun, berpose di sebelah mobil Marcedes-Benz 11/40 abu-abu (nomor model RIO 4346) sambil memakai jas hujan pada saat pelepasannya dari Penjara Landsberg tanggal 20 Desember 1924, setelah dipenjarakan hanya selama sembilan bulan. Dia telah didakwa atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi setelah memimpin usaha kudeta di Münich setahun sebelumnya, yang dikenal dengan nama Münich Putsch. Dalam periode inilah Hitler membuat bukunya yang terkenal, "Mein Kampf" (Perjuanganku), yang nantinya menjadi "kitab suci" orang-orang Nazi. Hitler sendiri tidak menulis secara langsung buku tersebut melainkan mendiktekannya pada wakilnya Rudolf Hess - yang sama-sama dipenjara disana atas kasus yang sama. Hitler persisnya dipenjara selama 264 hari. Seorang pegawai Penjara Landsberg mengatakan bahwa pada saat itu Hitler menginginkan agar dapat menarik untung dari penjualan bukunya, yang cukup untuk "membayar kewajiban finansialnya (baca: utang) dan untuk menutupi pengeluaran selama dia dipenjara". Delapan tahun kemudian (1933) Sang titisan Jojon naik ke tampuk kekuasaan dan dia menjadi kaya raya dari hasil penjualan bukunya - yang menjadi buku terlaris di zaman Nazi! Foto oleh Heinrich Hoffmann


Seorang prajurit Jepang berjaga-jaga di sebuah bagian dari Tembok Besar Cina yang berhasil diduduki. Foto ini diambil pada tahun 1937 selama berlangsungnya Perang Cina-Jepang Kedua. Kekaisaran Jepang dan Republik Cina sebenarnya telah berada dalam keadaan perang dari bulan September 1931 (setelah terjadinya Insiden Mukden), tapi konflik tersebut meningkat pesat setelah tanggal 7 Juli 1937, ketika terjadi insiden antara militer kedua negara di Jembatan Marco Polo



Sumber :
www.theatlantic.com

Friday, December 26, 2014

Foto Dramatis Perang Dunia II

Seorang bocah perempuan Polanda berusia 10 tahun bernama Kazimiera Mika menangis histeris sambil meratapi kakak perempuannya yang sekarat di sebuah lapangan di Warsawa setelah terkena tembakan senapan mesin Jerman dalam sebuah serangan udara, September 1939. Dalam kata-kata fotografer Julien Bryan: "Saat kami sedang melewati sebuah lapangan kecil di pinggir kota, kami ternyata beberapa menit terlambat untuk menjadi saksi sebuah peristiwa tragis, yang paling menggetarkan dari semuanya. Tujuh orang wanita sedang menggali kentang di lapangan. Tak ada terigu tersisa di distrik mereka, dan mereka sangat kelaparan. Tiba-tiba dua pesawat Jerman datang dan langsung menjatuhkan dua buah bom di atas sebuah rumah yang berjarak tidak jauh dari situ. Dua orang wanita yang sedang berada di rumah tersebut langsung terbunuh. Para penggali kentang di lapang langsung bertiarap di tanah, beharap untuk tak diketahui. Setelah pesawat pembom tersebut pergi, para wanita itu kembali bekerja. Mereka harus makan. Tapi ternyata penerbang-penerbang Nazi tak puas dengan hasil pekerjaan mereka. Dalam beberapa menit mereka kembali dan menukik turun sampai sekitar seratus meter dari tanah, kali ini langsung memberondong lapangan dengan senapan mesin. Dua dari tujuh wanita itu terbunuh. Saat aku sedang sibuk mengabadikan mayat korban penembakan tersebut, seorang gadis kecil berusia 10 tahun datang sambil berlari dan langsung tertegun ketika melihat salah satu korban yang tewas, yang ternyata adalah kakak perempuannya. Si gadis kecil tersebut tak pernah melihat kematian dan tak dapat mengerti kenapa kakaknya diam membujur tanpa bergerak sedikitpun... dia kelihatan shock dan langsung menangis sambil membelai kakaknya tersayang. Aku tersentuh dan melingkarkan tanganku di tubuhnya untuk memeluknya, mencoba menghibur dia yang telah kehilangan. Dia terus menangis. Begitu juga aku dan dua orang perwira Polandia yang sedang bersamaku saat itu..."


 Gefreiter Josef Schulz (juga ditulis Joseph Schultz) adalah bintara kelahiran tahun 1909 dari 714. Infanterie-Division yang ditempatkan di wilayah Balkan. Pada tanggal 20 Juli 1941 dia dan ketujuh orang rekannya ditugaskan untuk melakukan misi yang dia kira hanya patroli rutin belaka. Ternyata kali ini berbeda: mereka mendapati 16 orang warga lokal yang ditutup matanya. Kedelapan orang dari Zug (peleton) Schulz berhenti 10-15 meter jauhnya, dan seorang bintara lain kemudian memerintahkan mereka untuk mengeksekusi ke-16 orang warga lokal tersebut. Tujuh orang langsung melaksanakan tugas tanpa banyak cingcong dan bersiap mengarahkan senapan mereka. Di keheningan yang kemudian tercipta, dengan tenang Gefreiter Schulz melemparkan senapannya dan kemudian berjalan ke arah 16 orang terhukum (yang hanya bisa mendengar rumput diinjak). Dia kini berdiri sejajar dengan mereka, dan lebih memilih untuk menjadi bagian dari terhukum mati daripada harus menembak orang yang dia tidak tahu kesalahannya! Beberapa detik kemudian, 16 orang warga sipil dan satu tentara Jerman tergeletak tak bernyawa di tumpukan alang-alang. Si prajurit telah dieksekusi oleh rekan-rekannya sendiri atas perintah dari si bintara. Oberkommando der Wehrmacht (OKW) menyebutkan kematiannya sebagai KIA (Killed in Action), tapi berita tentang tindakannya yang "heroik" kemudian tersebar, terutama setelah usainya Perang Dunia II. Sebuah film dibuat tentangnya, "Joseph Schultz" (1973). Tapi kemudian kebenaran berita ini diragukan oleh para sejarawan, terutama dari Bundesarchiv Jerman, dan salah satu foto yang dianggap diambil pada saat itu (foto atas) dianggap berasal dari peristiwa lain. Dalam foto tersebut Schulz disebut adalah orang tanpa stahlhelm di tengah yang sedang berjalan ke arah para tawanan


Selama berlangsungnya Pertempuran Perekop di semenanjung Krimea tahun 1941, bau busuk tentara yang tewas di medan pertempuran begitu menyengatnya sehingga membuat prajurit Jerman ini mati-matian menahannya dengan menutupkan secarik kain basah di mukanya


 "... yang lebih baik yang tak akan kau dapatkan. Drum pertempuran bertalu-talu. Dia berada di sampingku, dalam baris dan langkah yang serentak. Sebuah peluru melesat datang. Apakah dia ditujukan untukku atau temanku? Dia menerjang kameradku, dan kini dia terbaring di bawah kakiku, seakan menjadi bagian dari diriku. Tangannya berupaya menggapaiku saat aku mengisi senapanku. Aku tak mampu memegang tanganmu untuk saat ini, beristirahatlah di keabadian dengan tenang, kameradku yang baik..." ("Der Gute Kamerad", dikenal juga dengan nama "Ich Hatt Einen Kameraden", sebuah requiem buatan tahun 1809 yang selalu dikumandangkan pada saat upacara penguburan militer di Jerman sampai saat ini)


Prajurit Jerman yang terluka dari 26. Infanterie-Division membopong Zugführer (Kepala Peleton) mereka ke tempat perawatan sementara di garis belakang, Front Timur tahun 1941. Sang Zugführer terluka parah oleh pecahan peluru artileri. Seragam dan celananya telah digunting untuk memudahkan perawatan dari luka-luka yang terutama mengenai kepala, dada dan kakinya. Korban di pihak Wehrmacht meningkat secara geometris seiring dengan makin sengitnya perang yang terjadi antara Jerman dan Rusia. "Trend" ini terus meningkat tanpa ampun sampai dengan hancurnya Nazi Jerman di tahun 1945


Foto berwarna asli masa Perang Dunia II ini diambil di Front Timur pada tahun 1942 dan memperlihatkan seorang prajurit Heer (Angkatan darat Jerman) yang putus lengan kirinya oleh ledakan bom. Rekan-rekannya berusaha membantu melakukan pertolongan pertama, termasuk seorang anggota Sanitäter (medis) yang memakai pita lengan dengan lambang palang merah. Untuk mencegah infeksi di lokasi luka biasanya digunakan bubuk sulfa karena pada masa Perang Dunia II Jerman tidak memakai Penisilin (meskipun Penisilin telah ditemukan bertahun-tahun sebelumnya oleh Alexander Fleming saat bekerja di rumah sakit London). Seorang Sanitäter Wehrmacht - apalagi di Front Timur yang terkenal brutal - rata-rata dibekali dengan pistol yang akan digunakan untuk bertempur hanya dalam keadaan darurat alias kepepet. Meskipun secara resmi dilabeli sebagai "bukan prajurit tempur" oleh Konferensi Jenewa (selain dari Pendeta Militer), tapi di tengah-tengah kontak-senjata yang berkecamuk biasanya sulit dibedakan antara prajurit biasa atau prajurit medis (meski telah dilengkapi oleh pita lengan atau tanda palang merah di helm)


Dalam Pertempuran Stalingrad yang berlangsung dari tanggal 17 Juli 1942 sampai dengan 2 Februari 1943, lebih dari 91.000 orang prajurit Wehrmacht ditangkap oleh Tentara Merah (dengan hanya 5.000 orang yang kemudian kembali hidup-hidup!). Di antara mereka adalah anak muda yang malang ini (yang menyerah bulan Januari 1943), yang kedinginan, kelaparan, dan juga digebuki! Dari ekspresinya kita bisa mengetahui nasib apa yang akan menimpanya di depan! BTW, senjata yang dipegang oleh tentara Soviet adalah PPSh-41


 Tiga orang prajurit dari SS-Panzergrenadier-Division "Leibstandarte SS Adolf Hitler" menghentikan kendaraan mereka saat melihat sebuah piano yang ditinggalkan oleh penghuninya di pinggir jalan. Salah seorang diantaranya - yang ternyata mempunyai keahlian bermain piano - kemudian melakukan konser dadakan di hadapan teman-temannya. Mereka memakai, dari kiri ke kanan: jaket parka musim dingin, baju pelapis kamuflase, dan seragam hitam panzer. Perhatikan bendera swastika yang dipasang di kap depan  Kübelwagen yang dimaksudkan sebagai pengenal bagi pesawat udara Luftwaffe. Foto ini diambil di Kharkov (Ukraina) pada bulan Maret 1943 tak lama setelah pasukan Jerman berhasil merebut kota tersebut dari tangan Tentara Merah


 Dengan sang gunner tampak jelas di kokpit belakang, pesawat pembom tukik Jepang ini (kemungkinan Yokosuka D4Y Suisei atau Nakajima B5N Kate) meluncur deras menuju ke lautan di bawah dengan asap tebal keluar dari mesinnya. Pesawat naas ini tertembak jatuh di dekat pangkalan Jepang di Truk, Kepulauan Caroline (Pasifik), tanggal 2 Juli 1944. Lieutenant Commander William Janeshek, pilot pesawat US Navy PB4Y yang menembaknya, bersaksi bahwa si gunner sebenarnya sudah bersiap-siap bail-out dengan menggunakan parasut, tapi kemudian dia tertegun untuk kemudian diam dengan tenang saat pesawatnya menghajar air dan hancur berantakan. Tidak diketahui alasan kenapa dia memutuskan untuk tewas bersama pesawatnya, tapi kemungkinan besar karena menyadari bahwa sang pilot rekannya di kokpit depan telah gugur duluan atau tidak bisa keluar dari pesawat yang terbakar!


18 Juli 1944: Dengan mendapat penjagaan dari seorang serdadu Kanada, seorang bintara Jerman yang tampak depresi duduk dengan menyandarkan kepala di tangannya setelah tertangkap di selatan Caen, Normandia, selama berlangsungnya Operasi Goodwood. Antara D-Day sampai dengan 25 Juli 1944, pasukan Inggris dan Kanada menggaruk 11.500 orang tawanan di pihak lawan! Foto oleh Lieutenant Ken Bell


 Di kamp konsentrasi Wöbbelin, Ludwigslust (Jerman), banyak para penghuninya yang ditemukan oleh U.S. Ninth Army dalam kondisi menyedihkan. Disini salah satu dari mereka jatuh dalam tangisan saat mengetahui dirinya tidak ikut berangkat bersama grup pertama tawanan yang meninggalkan kamp menuju rumah sakit lapangan yang didirikan tidak jauh dari situ. Foto dramatis ini diambil tanggal 4 Mei 1945 oleh Private Ralph Forney dari U.S. Army


Pada tanggal 8 Mei 1945, satu hari setelah penyerahan resmi Jerman ke tangan Sekutu, 13 orang sukarelawan Prancis dari 33. Waffen-Grenadier-Division der SS Charlemagne (französische Nr. 1) dieksekusi tanpa diadili terlebih dahulu di dekat Bad Reichenhall, Jerman, berdasarkan perintah dari Jenderal Philippe Leclerc de Hauteclocque, komandan 2nd Armored Division Prancis. Apa yang menjadi alasan penembakan mereka? Semata karena mereka mengenakan seragam Jerman, musuh Prancis! Diceritakan bahwa sang Jenderal menginterogasi para tawanan sebangsanya tersebut: "Mengapa kalian mengenakan seragam Jerman? Kalian semuanya adalah pengkhianat karena mengenakan seragam negara lain!" Seorang tawanan lalu menjawab: "Anda juga mengenakan seragam negara lain, seragam Amerika." Leclerc begitu murka menerima jawaban ini sehingga dia langsung memerintahkan eksekusi terhadap mereka!


 Januari 1946: "William The Conqueror" alias "Willie", anjing kesayangan Jenderal George S. Patton berjenis Bull Terrier, terbaring dengan ekspresi berduka yang kentara di samping barang-barang pribadi milik tuannya, tak lama setelah Patton tewas dalam sebuah kecelakaan mobil di Bad Nauheim, Jerman, tanggal 21 Desember 1945. Patton adalah seorang pencinta anjing, dan dia begitu menyayangi anjing peliharaan yang dia dapatkan tahun 1944 tersebut (bahkan dia membuatkan Willie sebuah pesta ulangtahun!). Willie pun sama pula terhadap tuannya, seperti yang dikatakan Patton sendiri dalam catatan buku harian tertanggal 15 Juli 1944: "Willie sangat tergila-gila padaku dan selalu menantikan saat kedatanganku di markas. Dia juga ngorok saat tidur tapi tetap menjadi teman yang menyenangkan di saat malam..." Foto di atas diambil beberapa hari setelah Patton dimakamkan, saat barang-barang pribadinya hendak diberangkatkan ke keluarga yang menunggu di Amerika. Willie sendiri menghabiskan sisa hidupnya bersama istri dan anak mendiang Patton


 Frankfurt, 1946 : seorang prajurit Jerman pulang ke rumahnya setelah menjalani masa penahanan hanya untuk mendapati bahwa rumahnya telah hancur oleh bom dan keluarganya tak ada lagi disana. Foto oleh Tony Vaccaro


 Edda Göring dan ibunya Emmy Göring menerima sebuah surat bertulisan tangan dari ayah dan suami mereka, mantan Reichsmarschall Hermann Göring, dari sel penjaranya di Nürnberg. Foto ini diambil dari buku "Nuremberg, the Last Battle" karya pengarang favorit saya David Irving. Edda adalah satu-satunya anak pasangan Hermann dan Emmy Göring. Sebelum menikah, Emmy (lahir dengan nama Emma Johanna Henny Sonnemann) adalah seorang artis ternama Jerman. Setelah menikah dengan sang Reichsmarschall tanggal 10 April 1935 dia otomatis menjadi ibu negara Jerman karena Hitler tidak beristri (dan keberadaan Eva Braun disembunyikan dari umum). Emmy Göring adalah seorang wanita yang murah hati dengan keluguan yang memikat. Edda sendiri lahir tanggal 2 Juni 1938 dan dibesarkan di Berlin. Foto ini diambil di Nürnberg tanggal 26 September 1946 selama berlangsungnya Peradilan Penjahat Perang bagi tokoh-tokoh Nazi. Hanya berselang 19 hari kemudian Hermann Göring bunuh diri dengan menelan kapsul sianida sehari sebelum rencana eksekusinya. Pada saat itu Edda baru berusia delapan tahun




Sumber :
Buku "Time-Life Books World War II: Liberation" oleh Martin Blumenson
Majalah "Luftwaffe im Focus" Spezial No.1 tahun 2003
Foto koleksi NARA Archives
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi

www.5sswiking.tumblr.com
www.avaxnews.com

Foto Artistik, Bernilai Seni dan Terindah dari Perang Dunia II

FOTO BERWARNA

Waktu subuh di pangkalan 7.(F)/LG 2 di Yunani bulan Mei 1941. Operasi sudah dimulai walaupun matahari baru nampak sepenggalan. Di latar belakang sebuah Junkers Ju 52 tinggal landas. Para awak darat pastinya telah bangun pagi-pagi sekali demi mempersiapkan pesawat ini beroperasi di pagi buta seperti itu! Di latar depan adalah siluet pesawat pengintai Messerschmitt Bf 110 milik 7.(F)/LG 2


Pesawat penghubung sangat dibutuhkan untuk memelihara kontak langsung antara markas dengan prajurit di front depan. Tanpa pesawat ini maka akan mustahil bagi para komandan senior untuk bertemu dengan bawahannya dalam jangka waktu sebentar demi mendiskusikan perkembangan situasi atau sekedar melakukan inspeksi singkat di front. Karena biasanya pos komando dan markas front berada di wilayah hutan lebat, tertutup oleh kamuflase atau di desa-desa terpencil, maka kadangkala tak ada landasan udara standar terdekat yang menjangkaunya. Atas alasan ini maka Fieseler Fi 156 Storch, dengan kemampuan take-off dan landingnya di landasan sempit, menjadi pilihan utama para komandan staff senior. Pesawat ini bahkan bisa mendarat di atas permukaan yang kasar atau berlumpur. Foto di atas memperlihatkan sebuah desa kecil Rusia yang dikelilingi oleh hutan. Panji yang terpasang di depan sebuah rumah di sebelah kiri menandakan bahwa lokasi itu telah dijadikan sebagai markas sebuah Armee-Korps. Di latar belakang terparkir sebuah Storch, yang kemungkinan dipakai untuk menerbangkan sang komandan korps dalam kunjungan ke front depan atau membawa para komandan divisinya ke tempat ini


Seorang komandan bersiap-siap untuk terbang bersama dengan dua orang staffnya. Peta dan kertas-kertas yang dibawa menandakan bahwa mereka baru saja menghadiri sebuah rapat militer. Pesawat yang digunakan adalah sebuah Fieseler Fi 156 C “GK+M?” yang mempunyai strip kuning di badannya, suatu praktek yang biasa dilakukan oleh pesawat-pesawat Luftwaffe di Front Timur. Salah seorang staff yang membelakangi kamera mengenakan celana kavaleri yang dilengkapi lapisan kulit. Foto ini sendiri diambil di Rusia di musim panas 1941 atau 1942



 Foto yang sangat indah ini diambil bulan Agustus 1942 dan memperlihatkan Olavi Paavolainen (1903-1964), seorang pujangga Finlandia yang dalam Perang Dunia II ikut angkat senjata membela negaranya dalam perang melawan Uni Soviet. Dia menjadi anggota Departemen Informasi sebelum ditempatkan di Mikkeli, Finlandia timur, sebagai ajudan jenderal infanteri. Pada tahun 1944 dia mengunjungi kampung halamannya di Vienola, dan Paavolainen begitu sedih setelah mendapati rumah masa kecilnya telah rata dengan tanah akibat perang yang kejam


Foto ini, yang tampaknya telah disetting dengan baik, kemungkinan dibuat untuk kepentingan propaganda Jerman. Seorang prajurit Luftwaffe berdiri sambil membaca surat yang datang dari tanah air di depan sepeda motor Zündapp Ks 600 bersespan, sementara di latar belakang mengudara sebuah pesawat Focke-Wulf Fw 189 "Uhu" (Burung Hantu). Pesawat bermesin ganda dan berkursi tiga ini terutama sekali dibuat untuk kepentingan pengintaian. Dibandingkan dengan pesawat yang umum diproduksi di masa itu, Fw 189 terlihat aneh karena mempunyai dua "badan". Pada awalnya kemampuannya diragukan, tapi kemudian medan udara Front Timur membuktikan kemampuan Fw 189 yang jauh melebihi harapan para pembuatnya! Pesawat ini dijuluki sebagai "matanya Luftwaffe" dan ketangguhannya terbukti dengan beberapa kali dia mampu pulang ke pangkalannya dengan sebagian ekornya copot atau rusak parah! Keberadaannya tidak diketahui oleh pihak Sekutu sampai dengan tahun 1941, walaupun prototipe pesawat ini sudah berseliweran dari masa sebelum perang. Total produksinya sampai dengan perang berakhir adalah 849 buah

--------------------------------------------------------------------------------------

FOTO HITAM-PUTIH

 Para ilmuwan Nazi mengujicoba sistem aerodinamik dari sebuah pesawat Messerschmitt Bf 109 E-3 di tahun 1940. Ditenagai oleh mesin Rolls-Royce Kestrel V, pesawat hasil pengembangan kesekian dari Bf 109 ini mempunyai kecepatan maksimum 660km/jam. Panjangnya 8,65m dengan rentang sayap 9,87m. Senjata utamanya adalah dua buah kanon 20mm ditambah dengan dua senapan mesin sebagai pelengkap. Versi pertama pesawat rancangan Willy Messerschmitt ini telah teruji ketangguhannya dalam Perang Saudara Spanyol. Para pilotnya telah disumpah sebelum mereka meninggalkan Jerman bahwa mereka tidak akan membiarkan pesawat mereka sampai jatuh ke tangan musuh. Bila pesawatnya jatuh atau mendarat darurat di wilayah musuh, maka mereka harus membakarnya segera dengan menggunakan tangki khusus berisi materi yang mudah terbakar yang bisa disulut seketika dan memang disiapkan untuk tujuan semacam ini!



Generalmajor Walter Krüger (kanan) bersama dengan salah seorang perwiranya memperhatikan dengan seksama saat pasukan Jerman dari 1. Panzer-Division melakukan serbuan ke garis pertahanan Rusia di luar kota Leningrad, Uni Soviet. Dari tanggal 17 Juli 1942 Krüger diangkat sebagai "mit der Führung beauftragt" alias Komandan sementara dari Divisi Panzer Pertama Jerman, setelah sebelumnya menjabat sebagai Komandan brigade infanteri bermotor dari divisi yang sama. 1. Panzer-Division sendiri telah terlibat dalam pertempuran terus-menerus dari sejak penyerbuan ke Rusia bulan Juni 1941, dan pada pertengahan bulan Agustus 1941 jumlah tanknya yang masih berfungsi tinggal mencapai 44 buah dari asalnya 155 buah! Foto ini diambil pada awal musim gugur tahun 1941 oleh fotografer tak dikenal dari Presse-Illustrationen Heinrich Hoffmann, dan pertama kali dipublikasikan oleh 'Berliner Volkszeitung' edisi 5 November 1941


 Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi pangkalan Inggris tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942 (Bayerlein duduk di kiri sementara Rommel di kanan). Di sebelah kiri foto tampak terparkir sebuah Panzerbefehlswagen III Ausf.C/H (SdKfz. 266/267/268). Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Pada bulan November 1941, General der Panzertruppe Erwin Rommel (Kommandierender General Panzergruppe "Afrika") mengunjungi Bardia (Libya) yang menjadi lokasi bongkar-muat suplai pasukan Poros selain di Tripoli dan Derna. Meskipun kapasitasnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelabuhan utama di Tripoli, tapi Bardia lebih efisien karena lebih dekat ke front yang mendekati perbatasan dengan Mesir. Disini biasanya kapal-kapal selam Italia yang bongkar-muat barang karena lebih aman dari incaran pesawat-pesawat Sekutu. Dalam kunjungannya ke Bardia pun Rommel menyempatkan diri untuk beramah-tamah dengan awak kapal selam Italia yang kebetulan sedang berlabuh disana. Dia kemudian difoto di atas tebing yang menjorok ke pantai dengan latar belakang sebuah kapal selam Italia yang sedang berlayar meninggalkan pelabuhan. Kemungkinan kapal selam ini berasal dari kelas Atropo of the Foca (Anjing Laut) dengan berat 1.109 ton yang biasa digunakan untuk menanam ranjau laut. Dia baru saja mengantarkan 60 ton bahan bakar ke pelabuhan Bardia

 Para anggota sebuah kompi tank berat Jerman berpose bersama dengan dua buah tunggangan andalan mereka, Panzerkampfwagen VI Tiger (8,8 cm L/56) Ausf.E (Sd.Kfz. 181). Detasemen Tank Berat Jerman (schwere Panzerabteilungen), adalah unit tank elite dalam Perang Dunia II seukuran batalyon yang dilengkapi dengan Tiger I, dan kemudian Tiger II. Pada awalnya unit semacam ini ditujukan untuk bertempur secara ofensif dalam operasi penembusan pertahanan musuh, tapi kemudian situasi perang yang makin memburuk memaksa mereka digunakan untuk tujuan defensif dengan menyediakan tembakan pendukung serta ujung tombak dalam serangan balik ke wilayah-wilayah dimana pasukan lapis baja musuh berhasil menembus masuk pertahanan Jerman. Karenanya dalam beberapa kesempatan mereka kadang direorganisasi menjadi Kampfgruppen (Grup-Grup Tempur) yang hanya digunakan sementara dan sesuai kebutuhan saja sebelum dikembalikan kembali ke unit asal mereka


 
17 September 1944. Private First Class Clifton C. Rhodes (kiri) dan Lieutenant Edwin O. Guthman dari 339th Infantry Regiment/85th Division/Fifth Army Amerika berjaga-jaga di posisi pertahanan Hill 732 (Gothic line), Grezzano, Italia, yang baru saja direbut dari tangan Jerman. Mereka menggunakan senapan mesin MG 42 (Maschinengewehr 42) hasil rampasan dari tangan musuhnya. Foto ini merupakan koleksi NARA Archives dengan kode 5/MM-44-3604 dan sebagai fotografernya adalah McQuarrie (31S1 SIG SV CO)


Sumber :
Buku "Time-Life Books World War II: Liberation" oleh Martin Blumenson
Majalah "Luftwaffe im Focus" Spezial No.1 tahun 2003
Foto koleksi NARA Archives
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
www.avaxnews.com

Friday, December 16, 2011

Kameradschaft dan 'Treue um Treue'

Para Frontkameraden beristirahat di sela-sela pertempuran di Stalingrad bulan September 1942. Kameradschaft (ikatan persahabatan) mempunyai makna yang dalam dan serius di tubuh Heer sehingga membentuk ikatan kuat antar prajurit yang bertempur bersama. Frontgemeinschaft (Komunitas Front) memperlihatkan solidaritas antar Frontkameraden, yang nilai lebihnya tidak terletak pada perbedaan kelas melainkan pada kemampuan yang diperlihatkan di medan tempur serta keinginan untuk berkorban membela rekannya demi kepentingan yang lebih besar. Ini adalah faktor utama yang dibutuhkan dalam mempertahankan Kampfgeist (Semangat Tempur), yang berarti bahwa si prajurit tak pernah lekang dalam mematuhi perintah dan menjalankan kewajibannya - apapun yang terjadi - sekaligus mempertahankan moral tinggi dalam pertempuran


'Treue um Treue' (Kesetiaan ke Kesetiaan) : moto Fallschirmjäger yang sepertinya tergambar dengan baik di foto ini


Sumber :

Buku "Stalingrad Inferno: The Infantryman's War" karya Gordon Rottman dan Ronald Volstad
Foto koleksi pribadi Doug Banks

Sunday, October 2, 2011

Foto Terkenal Perang Dunia II

 Bisa dibilang bahwa inilah foto paling terkenal yang memperlihatkan para Fallschirmjäger (pasukan terjung payung) Jerman pemberani dari Sturmgruppe Granit / Sturmabteilung Koch yang menyerbu benteng Eben-Emael (Belgia) pada tahun 1940. Mereka difoto sekembalinya di barak Köln-Delbrück, Jerman, pada tanggal 12 Mei 1940, tak lama sebelum upacara penganugerahan medali Eisernes Kreuz II.Klasse untuk para anggota Sturmabteilung Koch. Tapi siapakah sebenarnya mereka? Dari kiri ke kanan: Edmund 'Eddi' Schmidt (Trupp 4. Meninggal tahun 1991), Gerhard Becker (Trupp 5. Meninggal tahun 1986), Franz Jannowski (Trupp 5. Nasib setelahnya tidak diketahui), Karl Polzin (Trupp 4. Tewas ditembak oleh rekan sendiri saat mabuk-mabukan pada tahun 1941), Wilhelm Stucke (Trupp 1. Terbunuh dalam Pertempuran Kreta tahun 1941), Harm Mülder (Trupp 7. Nasib setelahnya tidak diketahui), Wilhelm Ölmann (Trupp 2. Nasib setelahnya tidak diketahui), dan Peter Zirwes (Trupp 6. Terbunuh di Rusia tahun 1942). Sebagai fotografernya adalah Oberfeldwebel Helmut Wenzel (Trupp 4). Terlihat sebagian muka dan helm mereka dilumuri oleh tanah liat sebagai sebuah tindakan kamuflase sederhana. Para Fallschirmjäger dalam foto ini mengenakan jaket penerjun payung model pertama, dengan dalaman Fliegerbluse. Uniknya, Jäger Schmidt di sebelah kiri mengenakan hoheitsadler (lambang elang) Heer dan bukannya Luftwaffe. Ini karena pada awalnya pasukan penerjun payung Jerman dibentuk oleh Angkatan darat sebelum kemudian dialihtugaskan ke Angkatan Udara. Sebagian anggota awal memilih untuk tetap mengenakan jaket lama dengan adler Heer, sebagai sebuah kebanggaan bahwa mereka termasuk ke dalam generasi pertama Fallschirmjäger Jerman


Adolf Hitler berkendara keliling kota Münich bersama dengan tamunya, diktator Fasis Italia Bennito Mussolini, tanggal 18 Juni 1940. Pada hari itu Mussolini tiba di kota kelahiran Nazi tersebut bersama dengan Menteri Luar Negeri sekaligus menantunya, Conte Galeazzo Ciano, untuk mendiskusikan masa depan kedua negara dalam peperangan melawan musuh-musuhnya. Hitler sebenarnya sedikit kecewa karena Italia baru menyatakan perang terhadap Prancis dan Inggris tanggal 10 Juni 1940, saat kemenangan untuk Jerman sudah di depan mata dalam Pertempuran Prancis. Tidak hanya itu, Mussolini juga "merajuk" pada Hitler agar negaranya ikut mencicipi wilayah jarahan di Prancis selatan yang belum diduduki Wehrmacht. Hitler tentu saja ogah membiarkan sekutu barunya tersebut ikut menikmati hasil yang telah dengan susah payah diraihnya. Karenanya dalam perjanjian penyerahan diri Prancis pada tanggal 22 Juni 1940, dia mengajukan syarat yang lunak yang memperbolehkan mantan musuhnya tersebut untuk tetap menguasai wilayah selatan dengan membentuk pemerintahan boneka Vichy. Mengetahui hal ini, Mussolini marah karena merasa peranannya hanya dijadikan sebagai "kelas dua", tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya!


Foto yang diambil pada tanggal 5 Juni 1941 oleh Carl Mydans ini memperlihatkan korban bertumpuk-tumpuk dari warga sipil Cina yang mati tercekik oleh asap di luar tempat perlindungan Jiaochangkou setelah pemboman besar-besaran yang dilancarkan oleh Jepang di Chongqing. Di hari itu lebih dari 20 sorti misi pengeboman dilancarkan yang berlangsung selama tiga jam. Sekitar 2.500 orang tewas tercekik ketika berusaha buru-buru masuk tempat perlindungan yang jumlahnya tidak cukup banyak untuk menampung mereka


Sebuah foto terkenal masa Perang Dunia II hasil jepretan Kriegsberichter Erich Borchert, yang memperlihatkan seorang awak Panzer 38(t) dari 7. Panzer-Division pimpinan Generalmajor Erwin Rommel, yang diambil pada tanggal 4 Juli 1940 di Prancis. Baret panzer berlapis - yang mempunyai nama resmi Schutzmütze - secara resmi ditinggalkan penggunaannya pada tanggal 15 Januari 1941 untuk kemudian digantikan oleh feldmütze (topi lapangan), meskipun sedikit pengecualian telah diberikan kepada para awak PzKpfw 38(t) karena interior tanknya yang sempit. Pada prakteknya, sebagian besar awak PzKpfw 38(t) telah beralih untuk memakai topi lapangan pada saat dimulainya Unternehmen Barbarossa (penyerbuan Jerman atas Uni Soviet) pada musim panas tahun 1941


 Prajurit-prajurit Schnelltruppen (Pasukan Cepat) berhamburan keluar dari Hanomag Mittlere Schutzenpanzerwagen Ausf.D SdKfz 251/10 (latar belakang) dan halftrack SdKfz 251/1 (depan) untuk menyerbu sebuah desa Rusia yang terbakar di hari-hari pertama Unternehmen Barbarossa tanggal 26 Juni 1941. Ranpur SdKfz 251/1, dengan tiga buah senapan mesin MG 34 yang disandangnya, merupakan alat angkut lapis baja standar bagi pasukan infanteri dalam mengikuti cepatnya pasukan Panzer saat bergerak. Anggota Schnelltruppen (nantinya dinamai ulang menjadi Panzergrenadier tahun 1943) dilatih untuk bertempur di dalam kendaraan perang mereka atau setelah keluar darinya. Ranpur SdKfz 251/10 dipersenjatai dengan meriam PaK 36 37mm sebagai sarana anti-tank dan juga artileri ringan pendukung infanteri. Setiap Zug (peleton) Schnelltruppen dilengkapi dengan tiga SdKfz 251/1 dan satu SdKfz 251/10. Setiap SdKfz 251/1 dapat membawa serta 10 prajurit ditambah dengan dua supir/navigator. Saat pertempuran sedang berlangsung, maka kendaraan ini akan disimpan di belakang sebagai cadangan mobil. Saat mencapai sasaran, maka komandannya akan berteriak "Abspringen!" (mampret!) dan ke-10 prajuritnya akan mengambil dua MG 34 untuk membentuk Schützenkette (garis tembak) dengan senapan mesin di tengah dan pemimpin skuadnya mengarahkan di paling pinggir. 16.000 buah Hanomag SdKfz 251 diproduksi antara tahun 1939-1945 dan banyak dari kendaraan ini yang difungsikan secara berbeda seperti sebagai sarana anti serangan udara, peluncur roket atau lampu pijar. Meskipun hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa SdKfz 251 adalah sebuah kendaraan perang yang multi-fungsi, tapi dia juga secara tidak langsung mengalihkan fungsi utamanya sebagai kendaraan pengangkut pasukan. Hanya 1/3 Panzergrenadier yang menggunakan SdKfz 251 sebagai sarana saat bergerak, sementara sisanya menggunakan segala kendaraan yang ada, dari mulai truk, mobil ringan sampai ambulans!


"Politruk" (perwira politik junior) Alexey Yeremenko dari 220th Rifle Regiment/4th Rifle Division Soviet memberi semangat kepada anakbuahnya untuk melakukan serangan balasan terhadap posisi Jerman di desa Khorosheye, dekat Voroshilovgrad (Lushank), Ukraina, beberapa detik sebelum dia sendiri terbunuh dalam usahanya tersebut, tanggal 12 Juli 1942. Foto ini kemudian menjadi begitu terkenal dan kepopulerannya hanya kalah oleh foto pengibaran bendera Soviet di Reichstag. Sang fotografer sendiri, koresponden perang Rusia Max Alpert, tak mengetahui jati diri si perwira pemberani yang malang, sehingga memberi label pada fotonya sebagai "Kom-Bat" (Komandan Batalyon). Identitas si perwira baru ketahuan 23 tahun kemudian ketika, di bulan Mei 1965, istri dan anak mendiang A. Yeremenko melihat foto tersebut di halaman depan edisi khusus 20 tahun "Pravda" untuk memperingati kemenangan Rusia atas Jerman dalam Perang Dunia II


Lieutenant Edward MacDonald dari "L" Detachment SAS (Special Air Service) Desert Raiders duduk di belakang kemudi paling depan dalam foto yang diambil oleh Captain Keating dari No.1 Army Film & Photographic Unit di Afrika Utara tanggal 18 Januari 1943 ini, sementara di sebelahnya adalah Corporal Bill Kennedy, dan supir di mobil tengah adalah Private Malcolm Mackinnon. Mereka baru saja kembali dari misi patroli ke garis belakang musuh yang berlangsung selama tiga bulan! Mereka semuanya memanjangkan janggut dan mengenakan kafiyeh Arab, sebuah tradisi yang terinspirasi dari Long Range Desert Group. Jip mereka dipersenjatai berat oleh 50cal Browning M2 (flexible) machine gun dan 303in Vickers K. A Thompson


 Foto ini diambil oleh Walter Frentz tanggal 4 April 1943 di Reichswerke Hermann Göring, Linz (Jerman), saat Hitler melakukan kunjungan sekaligus inspeksi ke Eisenbahngeschütz 80 cm Kanone Schwerer Gustav, artileri terbesar yang pernah dibuat manusia dalam Perang Dunia II! Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Ingenieur Erich Müller (Wehrwirtschaftsführer), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), dan SS-Gruppenführer Julius Schaub (tidak terlihat di foto ini, Chefadjutant des Führers Adolf Hitler)


Obersteuermann Helmut Klotzsch (kelahiran 12 Februari 1914) dari U-175 berteriak meminta tolong untuk diselamatkan setelah kapalnya ditenggelamkan oleh USGCG (United States Coast Guard Cutter) "Spencer" di perairan Atlantik Utara, barat-daya Irlandia, tanggal 17 April 1943. Beberapa awak U-175 yang ikut diselamatkan bersamanya kemudian bercanda bahwa saat masih berada di dalam U-175 - tak lama sebelum disuruh meninggalkan kapal - Klotzsch memerintahkan teman-temannya untuk tidak berteriak meminta tolong pada musuh! U-175 (dikomandani Korvettenkapitän Heinrich Bruns) adalah u-boat tipe IXC dari 10. Unterseebootsflottille yang ditenggelamkan saat sedang bersiap untuk menyerang konvoy HX-233. USCGC "Spencer" mendeteksi keberadaan kapal selam musuh sebelum konvoy tiba di lokasi kejadian dan kemudian membombardirnya dengan dua bom kedalaman. 40 menit kemudian kapal selam Jerman tersebut dipaksa untuk muncul ke permukaan, hanya untuk ditenggelamkan oleh awaknya sendiri demi mencegahnya jatuh ke tangan musuh. USCGC "Spencer" dan USCGC "Duane" berhasil menyelamatkan 44 orang awaknya


 Sebuah Panzerkampfwagen VI Tiger Ausf.E (Sd.Kfz.181) Turmnummer 313 (kendaraan ketiga dari 1.Zug/3.Kompanie) memimpin Tiger lain dari schwere Panzer-Abteilung 503 yang berhenti sebentar karena komandannya (memakai seragam hitam Panzertruppen) sedang jongkok sambil berdiskusi dengan para prajurit Panzergrenadier dari SS-Panzergrenadier-Regiment 3 "Eicke"/SS-Panzergrenadier-Division "Totenkopf", sesaat sebelum serangan terhadap wilayah Chrustschtschewo-Nikitowka, Belogrod Oblast, dimulai selama berlangsungnya Pertempuran Belogrod, 13-14 Agustus 1943. Setelah kegagalan Unternehmen Zitadelle untuk menduduki wilayah Kursk satu bulan sebelumnya (Juli 1943), divisi-divisi Jerman yang telah berkurang kekuatannya mundur ke wilayah sebelumnya di sekitar Belogrod. Schwere Panzer-Abteilung 503, di bawah protes keras para perwiranya, diperintahkan untuk mengirim tiga kompinya untuk diperbantukan ke tiga divisi Panzergrenadier SS (LSSAH, Das Reich dan Totenkopf). Ini berakibat mengurangi kekuatan pasukan Tiger yang tersedia karena dipecahnya alokasi tank berat mereka. Dalam pertempuran tidak seimbang yang terjadi kemudian (kekuatan 1 berbanding 10!), Tiger, Panzer, dan StuG Jerman berjibaku mati-matian dengan memanfaatkan semaksimal mungkin hasil pelatihan mereka yang superior dan keunggulan kualitas mesin perang untuk membantu ketiga divisi SS dalam terobosan gerak maju menuju elemen-elemen 4. Panzerarmee dan melintasi sungai Merla. Meskipun pada tanggal 6 Agustus 1943 sebelumnya pihak Tentara Merah mampu memaksa pasukan Jerman mundur ke Belogrod, tapi korban luar biasa yang diderita oleh unit-unit tank Soviet menghindarkan Wehrmachtdari kehancuran total. Antara 5 Juli s/d 7 Agustus 1943, schwere Panzer-Abteilung mengklaim telah menghancurkan tidak kurang dari 385 tank, 4 senjata serbu, dan 265 senjata anti-tank! Tanggal 13 Agustus 1943 saja, Tiger #332 meng-K.O. tiga buah tank medium T-34, dua tank medium KV-1, satu senjata serbu SU-122, dan lima senjata anti-tank! Di lain pihak, sPzAbt.503 hanya menderita satu korban panzer dan Leutnant Konrad Weinert yang terluka dalam pertempuran!


 Dalam beberapa sumber foto ini sering disalah-artikan sebagai eksekusi penggal kepala seorang penerbang Amerika, padahal kenyataannya sang korban malang yang diikat dan matanya ditutup adalah Sergeant (Sgt) NX143314 Leonard Siffleet dari "M" Special Unit Australia yang dalam beberapa detik akan kehilangan kepalanya di tangan Yasuno Chikao. Lokasinya adalah di Aitape, Papua Nugini, tanggal 24 Oktober 1943. Eksekusi ini dilakukan setelah mendapat perintah dari Kaigun Chūjō (Vice-Admiral) Michiaki Kamada, Komandan Angkatan Laut Jepang di Aitape. Sersan Siffleet tertangkap saat sedang melakukan operasi pengintaian di belakang garis pertahanan Jepang bersama dengan dua rekannya, Private (Pvt) Pattiwahl dan Pvt Reharin, dua prajurit Hindia-Belanda keturunan Ambon. Foto ini ditemukan dalam tubuh seorang prajurit Jepang yang terbunuh dalam pertempuran. Yasuno Chikao sendiri nantinya tewas sebelum perang usai

 
Pada tanggal 25 Mei 1944, SS-Fallschirmjäger-Bataillon 500 melancarkan operasi penyergapan super-nekad terhadap markas pemimpin Partisan Yugoslavia Josif Broz Tito. Serangan tersebut, yang diberi nama sebagai Unternehmen Rösselsprung (Operasi Lompatan Ksatria), melibatkan empat kompi di bawah pimpinan langsung komandan batalyon SS-Hauptsturmführer Kurt Rybka. Operasi ini bisa dibilang gagal karena Tito keburu kabur ketika markasnya diduduki dan pasukan penyerbu hanya menemukan seragamnya (lihat foto) sebagai suvenir. Selain itu, dari 1.000 orang yang diterjunkan dalam penyerbuan, 800 orang di antaranya tewas dan luka-luka! Foto di atas menarik karena tidak dipublikasikan di masa perang. kenapa? Sebab dia memperlihatkan kragenspiegel kosong tanpa rune SS yang biasa dipakai oleh B-Soldaten, prajurit indisipliner yang terkena hukuman (lihat prajurit di kanan!). Selain itu, dia juga memperlihatkan anggota Heer-Brandenburger yang memakai seragam buatan lokal dengan bahan kamuflase pola Telo Mimetico M29 Italia (kiri). Foto-foto yang dipublikasikan dari roll film ini tidak memperlihatkan kragenspiegel versi B-Soldaten!


 Ini adalah salah satu foto paling terkenal dalam Perang Dunia II, dan memperlihatkan saat Jenderal Dwight D. Eisenhower (Panglima pasukan Sekutu di Front Barat) berbincang-bincang dengan para prajurit penerjun udara dari Angkatan Darat Amerika Serikat sebelum D-Day (penyerbuan ke wilayah Normandia/Prancis yang diduduki oleh Jerman). Foto ini sendiri diambil di lapangan udara RAF Greenham Common (Inggris) pada tanggal 5 Juni 1944, satu hari sebelum D-Day. Prajurit-prajurit yang diajak ngobrol oleh Eisenhower berasal dari Kompi 'E' dan 'D', yang merupakan bagian dari 502nd Parachute Infantry Regiment / 101st Airborne Division. Sebagai identifikasinya, dari kiri ke kanan: Hans Sannes D/502, Bill Bowser E/502, Jenderal Eisenhower, Ralph Pombano E/502, Schuyler Jackson HQ/502, Bill Hayes E/502, Carl Vickers D/502, Lieutenant Wallace Strobel (tanda “23” di dada) E/502, Henry Fuller E/502, Bill Boyle E/502, dan William Noll E/502. Beberapa waktu sebelumnya, Eisenhower meninggalkan pos komandonya dan berangkat menuju Greenham demi untuk menghabiskan beberapa jam bersama para anggota 101st dan 82nd sebelum penerjunan mereka. Sebelumnya dia telah diberitahu oleh komandan taktis udaranya bahwa 50 persen dari prajurit-prajurit parasut ini akan tewas bahkan sebelum mereka menyentuh tanah, sementara 70 persen dari glider-glider yang membawa mereka akan menjadi korban dalam serangan udara pendahulu yang dilancarkan! Marsekal Udara Inggris Sir Trafford-Leigh Mallory bahkan menyarankan pada Eisenhower untuk membatalkan penerjunan di Utah Beach, karena dianggapnya hanya akan berujung pada 'pembantaian yang sia-sia' belaka dari dua divisi udara Amerika. Meskipun Eisenhower sendiri mules saat memikirkan kemungkinan korban besar yang akan diderita, dia memutuskan untuk tetap pada rencana semula, yang akan menjadi serangan pendahulu dari invasi yang direncanakan berlangsung beberapa jam setelahnya. BTW, banyak orang yang penasaran akan apa yang diomongkan oleh Eisenhower dalam foto ini. Apakah dia sedang menyemangati mereka, atau memberi pidato singkat kepahlawanan layaknya di pilm Warkop? Tidak beibeh! Pada kenyataannya, mereka sedang ngobrol tentang memancing! Ini berdasarkan keterangan dari saksi hidup Letnan "Wally" Strobel sendiri (orang yang memakai tulisan "23" di dadanya). Eisenhower menanyakan darimana dia berasal, yang dijawabnya, "Michigan, Pak." Kemudian Eisenhower melanjutkan, "Bagaimana kondisi mancing disana?". Strobel menjawab kembali, "Bagus, Pak." Eisenhower kemudian mengatakan bahwa dia telah mengunjungi Michigan beberapa kali sebelumnya, dan berpendapat bahwa salah satu negara bagian Amerika Serikat tersebut merupakan sebuah tempat yang indah. Sebelum beranjak pergi, Eisenhower berkata "Go, Michigan!"


 Setelah mendarat di pagi tanggal 6 Juni 1944, para prajurit dari 16th Infantry Regiment/1st Infantry Division berlindung di air dangkal pantai dari tembakan gencar senapan mesin pasukan pertahanan Jerman dengan menggunakan perintang pantai Rozsocháč (Czech hedgehog/Landak Ceko). Lokasinya adalah di Easy Red Sector, Omaha beach, Normandia, dan sebagai fotografernya adalah Robert Capa dari LIFE yang disebut-sebut sebagai "fotografer paling terkenal dalam Perang Dunia II"! Kisah tentang Capa di Normandia bisa dibaca DISINI

 Foto terkenal yang memperlihatkan Private James W. "Jim" Flanagan (14 Maret 1923 - 8 Desember 2005), Komandan 2nd platoon / C Company / 502nd Parachute Infantry Regiment / 101st Airborne Division, yang sedang memegang bendera Swastika hasil rampasan. Foto ini diambil di Marmion, Prancis, di pagi hari pertama serbuan Sekutu ke Normandia, yang dikenal pula dengan nama D-Day. Flanagan terjun dengan parasut di Normandia beberapa jam sebelum Divisi Infanteri ke-4 Amerika Serikat mendarat di Utah Beach (Pantai Utah), tanggal 6 Juni 1944. Dia dan rekan-rekan setimnya sengaja diterjunkan dari udara di waktu malam untuk menetralisir perlawanan Jerman di wilayah sekitar pantai. Setelah mendarat di Ravenoville dan menguasai markas musuh di komplek pertanian terdekat, mobil pertama yang Flanagan dan kawan-kawannya lihat adalah milik dari fotografer INS (International News Service). Waktu itu adalah pukul 09:00 pagi, yang merupakan tiga jam pertama dari 'Hari Terpanjang' dalam Perang Dunia II. Prajurit-prajurit terjun payung ini memberikan waktu sebentar untuk berpose di depan sang fotografer. Flanagan, yang berdiri dengan bangga di tengah, tersenyum sambil memegang bendera Nazi yang telah "dibebaskan" dari pos komando musuh di komplek pertanian tersebut. Stahlhelm Jerman yang terletak di bawah foto tetap berada di tempatnya dari sejak terlepas dari prajurit Jerman yang tewas saat mempertahankan tempat tersebut. Ketika foto ini dikirim ke tanah air, dia menjadi salah satu gambar suratkabar yang paling banyak didistribusikan dari peristiwa D-Day. Benderanya sendiri kemudian disimpan oleh Flanagan selama berpuluh-puluh tahun, sebelum didonasikan ke General Donald Pratt 101st Airborne Museum di Fort Campbell, Kentucky, pada tanggal 10 Juni 1986, yang menjadi tempatnya berada sampai saat ini. Sebagai identifikasi orang-orangnya, dari kiri ke kanan: Private First Class Arthur A. Justice (B/502), unknown, Private Justo Correa (A/506), Private First Class Arthur J. Barker (B/502), Private Joe E. Ridgeway (B/502), Private James "Jim" Flanagan (C/502), Private Norwood B Newinger (B/502), Jerry Giarritano (memegang golok), Corporal Earl H. Butz (HQ/502), dan Sergeant Smith C. Fuller (B/502)


 Foto ini diambil di belakang sebuah gereja di Colleville-sur-Mer (Normandia) tanggal 14 Juni 1944, tak lama setelah pendaratan amfibi Sekutu, dan memperlihatkan tiga warga sipil Prancis berbincang santai dengan kameraman Amerika dari 162nd atau 165th Signal Photo Company di dekat mayat tentara Jerman. Berdiri ketiga dari kiri adalah kapten medis dari ESB Omaha (kompi ke-5 atau ke-6) yang teridentifikasi dari helmnya dan pita lengan palang merah. Foto hasil karya fotografer terkenal Robert Capa ini pertama kali dipublikasikan oleh majalah LIFE edisi 3 Juli 1944 halaman 11, dan sensor masa itu telah membuat logo unit di helm dan lencana lengan di prajurit yang membelakangi kamera di kanan menjadi tidak terlihat dengan jelas (sebenarnya dia berasal dari 82nd Airborne Division / First U.S. Army). Saat pasukan Sekutu bergerak semakin dalam di Normandia, masyarakat Prancis, di bawah perintah langsung dari Jenderal Dwight D. Eisenhower, melakukan berbagai aksi sabotase dan hal apapun yang bisa mereka lakukan demi menghambat usaha pasukan Wehrmacht yang sedang bertempur di negerinya. Tentara Jerman dalam foto ini dibunuh oleh seorang warga Prancis yang sebelumnya telah dipaksa bekerja untuk Nazi dengan gaji 2$ perminggu. Si Landser kemungkinan besar berasal dari 3.Kompanie / I.Bataillon / Grenadier-regiment 726 / 716.Infanterie-Division yang memang pada saat itu ditempatkan di Colleville-sur-Mer



15 Juli 1944: Oberst Claus Graf von Stauffenberg (inset) bersama Generaloberst Friedrich "Fritz" Fromm (Chef der Heeresrüstung und Befehlshaber des Ersatzheeres) yang berjabat tangan dengan Hitler di Wolfsschanze beberapa hari sebelum terjadinya upaya pembunuhan terhadap diri sang diktator tanggal 20 Juli 1944. Fromm ternyata adalah seorang oportunis, yang langsung berubah haluan dari mendukung menjadi menentang Plot 20 Juli tak lama setelah ia menginsyafi bahwa operasi tersebut telah gagal dan Hitler masih hidup. Antara Stauffenberg dan Fromm berdiri Konteradmiral Karl-Jesko von Puttkamer (Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), sementara di sebelah kanan adalah Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht)


Di foto yang diambil di Friedrichstrasse sebelah selatan Reichskanzlei setelah Pertempuran Berlin berakhir ini, kita bisa melihat seorang prajurit SS yang tergeletak tewas di sebelah halftrack-nya yang hancur. Dahsyatnya, dia bukanlah prajurit Jerman melainkan sukarelawan asal Swedia! Namanya adalah Ragnar Johansson (pangkat SS-Unterscharführer) asal Stockholm yang merupakan mantan sersan di Angkatan Darat Swedia (P4 Skövde) dan anggota dari Partai Nazi Swedia, Svensk Socialistisk Samling (SSS). Ketika pertama dia bergabung dengan Waffen-SS dia ditempatkan di SS-Panzer-Division "Wiking", tapi kemudian dipindahkan ke SS-Freiwilligen-Panzergrenadier-Division "Nordland". Johansson terbunuh pada malam tanggal 1-2 Mei 1945 dalam Pertempuran Berlin ketika sedang mengemudikan kendaraan komando Sd.Kfz.250 milik SS-Hauptsturmführer Hans-Gösta Pehrsson dalam usahanya melarikan diri dari Berlin yang terkepung. Kendaraannya tertembak pasukan Rusia dan hancur (versi lain yang menyebabkannya mledug adalah sebuah granat). Foto ini diambil oleh fotografer Rusia Mark Redkin. Sebuah rekonstruksi pasca-perang yang dilakukan oleh peneliti Lennart Westberg mendapati bahwa foto ini diambil di Friedrichstrasse 107 dengan dinding pasukan penjaga di latar belakang, 200m sebelah utara sungai Spree


 Seorang tentara Rusia dengan gembira memperlihatkan potongan patung kepala Adolf Hitler yang didapatkannya di sela-sela reruntuhan kota Berlin, Jerman, bulan Mei 1945. Foto oleh fotografer terkemuka Soviet Yevgeny Khaldei (23 Maret 1917 - 6 Oktober 1997), orang yang sama yang mengabadikan pengibaran bendera palu-arit oleh seorang anggota Tentara Merah di atas atap Reichstag



Sumber :

Buku "Panzer 38(t) vs BT-7: Barbarossa 1941" karya Steven J. Zaloga
Buku "Time-Life Books World War II: Liberation" oleh Martin Blumenson
Majalah "Luftwaffe im Focus" Spezial No.1 tahun 2003
Foto koleksi NARA Archives
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi
www.avaxnews.com

www.en.wikipedia.org
www.facebook.com
www.feldgrau.com
www.flickr.com
www.home.comcast.net
www.militaryphotos.net
www.rarehistoricalphotos.com
www.reddit.com
www.sa-kuva.fi
www.talesofwar.tumblr.com
www.theatlantic.com
www.waffen-ss-combattants.fr
www.wehrmacht-awards.com

www.worldwar2database.com
www.ww2images.blogspot.com