Monday, November 14, 2016

Foto 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division"

Para perwira dari Verstarken Kroatischen Infanterie Regiment 369 berfoto bersama seusai upacara penganugerahan medali di Golubinskaya, Volgogradskaya Oblast, Rusia, pada tanggal 24 September 1942 di acara kunjungan Poglavnik Ante Pavelić ke markas besar 6. Armee. Dari kiri ke kanan: Major Tomislav Brajković, Oberleutnant Blago Zlomislić, Hauptmann artileri Vasilije Maljgin, dan seorang perwira Jerman tak dikenal. Dengan bangga mereka mengenakan medali yang baru saja mereka peroleh, yang merupakan perpaduan dari medali Jerman serta Kroasia: Eisernes Kreuz II. Klasse, Željezni trolist (Kroatisches Eisernes Dreiblatt/Croatian Military Order of the Iron Trefoil), dan Red krune kralja Zvonimira (Kroatisches Kriegsordens der Krone des Königs Zvonimir/Croatian Order of the Crown of King Zvonimir). Dua perwira di tengah mengenakan Croation Legion 1941 Linden Leaf Badge di bagian samping M38 feldmütze mereka



---------------------------------------------------------------------------------

KOMMANDEUR

Fritz Neidholdt (1 September 1942 - 5 Oktober 1944)
Generalleutnant Fritz Neidholdt (16 November 1887 - 5 Maret 1947), sama seperti sebagian besar jenderal Jerman lainnya dalam Perang Dunia II, adalah veteran Perang Dunia Pertama yang kemudian melanjutkan karir militernya di Reichswehr dan Wehrmacht. Dia terutama sekali dikenal karena menjadi komandan dari 369. Infanterie-Division yang sebagian besar peresonilnya adalah para sukarelawan Kroasia. Neidholdt menjadi komandan divisi ini dari tanggal 1 September 1942 s/d 5 Oktober 1944, sebuah masa jabatan yang terbilang lama bagi seorang Divisionskommandeur - apalagi membawahi unit yang berisikan orang-orang non-Jerman - yang menunjukkan kapasitas serta kualitas kepemimpinan Neidholdt. Setelah Perang Dunia II usai, dia diekstradisi ke Yugoslavia dan dihukum mati pada tahun 1947 atas tuduhan sebagai penjahat perang. Medali dan penghargaan yang diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II. und I.Klasse; Ritterkreuz I.Klasse des Königlich Sächsischen Albrechts-Ordens mit Schwertern; Hamburgisches Hanseatenkreuz; Fürstlich Reussisches Ehrenkreuz III.Klasse mit Schwertern; Fürstlich Schwarzburgisches Ehrenkreuz III.Klasse mit Schwertern; Kaiserlich Und Königlich Österreichisches Militärverdienstkreuz III.Klasse mit der Kriegsdekoration; Türkische Silberne Liakat-Medaille mit Säbel; Türkischer Eiserner Halbmond; Ritterkreuz des Königlich Bulgarische Militärverdienstordens mit der Krone; Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914-1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis I.Klasse; 1939 spange zum 1914 Eisernes Kreuz II. und I.Klasse; Infanterie-Sturmabzeichen in Silber; Deutsches Kreuz in Gold (2 Januari 1942); Medaille “Winterschlacht im Osten 1941/1942; serta Order of the Iron Trefoil (Kroasia)

---------------------------------------------------------------------------------


General Pukovnik (Letnan-Jenderal) Vilko Begić, Sekretaris Negara di Kementerian Peperangan NDH Kroasia, memberikan selamat kepada para prajurit dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dalam upacara penganugerahan medali yang diadakan setelah berakhirnya Unternehmen Weiß (Operasi Putih). Upacara diadakan di lapangan udara Rajlovac yang terletak di dekat Sarajevo (Bosnia), tanggal 25 Maret 1943. Begić sendiri nantinya menjadi wakil dari pemimpin NDH, Ante Pavelić


 Fall Schwarz, 20 Mei 1943: Para legiuner Kroasia yang merupakan anggota dari 369. (Kroatische) Infanterie-Division "Teufels-Division" dengan terburu-buru membawa rekan mereka yang terluka dalam pertempuran melawan pasukan Partisan Yugoslavia di lembah Ćehotina yang terletak di dekat Gradac (Pljevlja). Dengan dukungan penuh kekuatan udara, divisi yang anggotanya sebagian besar adalah sukarelawan Kroasia tersebut berhasil memukul mundur kekuatan musuh yang berasal dari 6. Istočnobosansku Brigadu (Brigade Bosnia Timur ke-6), 3. Dalmatinsku Brigadu (Brigade Dalmatia ke-3), dan 7. Banijsku Brigadu (Brigade Banija ke-7)


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.forum.axishistory.com
www.wehrmacht-awards.com

Foto Pakaian dan Perlengkapan Jerman Hasil Rampasan

BENDERA
 Foto terkenal yang memperlihatkan Private James W. "Jim" Flanagan (14 Maret 1923 - 8 Desember 2005), Komandan 2nd platoon / C Company / 502nd Parachute Infantry Regiment / 101st Airborne Division, yang sedang memegang bendera Swastika hasil rampasan. Foto ini diambil di Marmion, Prancis, di pagi hari pertama serbuan Sekutu ke Normandia, yang dikenal pula dengan nama D-Day. Flanagan terjun dengan parasut di Normandia beberapa jam sebelum Divisi Infanteri ke-4 Amerika Serikat mendarat di Utah Beach (Pantai Utah), tanggal 6 Juni 1944. Dia dan rekan-rekan setimnya sengaja diterjunkan dari udara di waktu malam untuk menetralisir perlawanan Jerman di wilayah sekitar pantai. Setelah mendarat di Ravenoville dan menguasai markas musuh di komplek pertanian terdekat, mobil pertama yang Flanagan dan kawan-kawannya lihat adalah milik dari fotografer INS (International News Service). Waktu itu adalah pukul 09:00 pagi, yang merupakan tiga jam pertama dari 'Hari Terpanjang' dalam Perang Dunia II. Prajurit-prajurit terjun payung ini memberikan waktu sebentar untuk berpose di depan sang fotografer. Flanagan, yang berdiri dengan bangga di tengah, tersenyum sambil memegang bendera Nazi yang telah "dibebaskan" dari pos komando musuh di komplek pertanian tersebut. Stahlhelm Jerman yang terletak di bawah foto tetap berada di tempatnya dari sejak terlepas dari prajurit Jerman yang tewas saat mempertahankan tempat tersebut. Ketika foto ini dikirim ke tanah air, dia menjadi salah satu gambar suratkabar yang paling banyak didistribusikan dari peristiwa D-Day. Benderanya sendiri kemudian disimpan oleh Flanagan selama berpuluh-puluh tahun, sebelum didonasikan ke General Donald Pratt 101st Airborne Museum di Fort Campbell, Kentucky, pada tanggal 10 Juni 1986, yang menjadi tempatnya berada sampai saat ini. Sebagai identifikasi orang-orangnya, dari kiri ke kanan: Private First Class Arthur A. Justice (B/502), unknown, Private Justo Correa (A/506), Private First Class Arthur J. Barker (B/502), Private Joe E. Ridgeway (B/502), Private James "Jim" Flanagan (C/502), Private Norwood B Newinger (B/502), Jerry Giarritano (memegang golok), Corporal Earl H. Butz (HQ/502), dan Sergeant Smith C. Fuller (B/502)


Setelah pertempuran usai, para pemenang dari 3/502nd Parachute Infantry Regiment memamerkan hasil rampasan mereka: sebuah bendera Swastika! Dari kiri ke kanan: Lieutenant Colonel Robert G. Cole, 1st Sergeant Hubert Odom (DSC, G/502), Staff Sergeant Robert P. O'Reilly (HQ, 3/502), dan Major John P. Stopka (XO, 3/502)

----------------------------------------------------------------------------

SERAGAM

 Foto ini diambil pada tanggal 11 Juli 1944 dan memperlihatkan dua orang prajurit Kanada, Private Bob Miller dari Comberlin (Vancouver) dan Private Randall Hillis dari Calgary, yang memamerkan seragam perwira SS model M43 - dengan modifikasi 'faux box pleats' di keempat sakunya - yang merupakan hasil rampasan mereka, lengkap bersama buku Mein Kampf serta medali-medali yang terpasang (Infanterie-Sturmabzeichen, Verwundetenabzeichen dan pita Eisernes Kreuz II.Klasse). Terlihat bahwa insignia unit dari sang prajurit di sebelah kiri telah mendapat sensor berwarna merah. Foto-foto yang dikeluarkan oleh CAFPU (Canadian Army Film and Photo Unit) biasanya telah diproses dari sejak di lapangan mula. Kalau memang dirasa perlu, maka simbol-simbol dan insignia yang memperlihatkan identitas unitnya akan segera disensor dengan cara menutupi negatifnya. Foto tersebut kemudian diberi tambahan teks dan disaring untuk dipilih mana yang akan dikeluarkan ke khalayak umum. Pada proses penyaringan ini akan dilakukan lagi sensor tambahan, baru kemudian si foto di cap dengan stempel khusus dan dipublikasikan


Sumber : 
Buku "101st Airborne: The Screaming Eagles in World War II" karya Mark Bando
Buku "The Americans on D-Day: A Photographic History of the Normandy Invasion" karya Martin Morgan 
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, November 13, 2016

Foto Hasil Karya Kriegsberichter Gerhard Garms

 Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan siluet para personil U-boat saat bertugas di “Brückenwache” (Pengawas Jembatan) ketika lautan sedang bergelora. Kondisi samudera semacam ini dapat memberikan ancaman tersendiri bagi para Pengawas Jembatan bila dia tidak memperhitungkan tinggi ombak yang datang. Pengawasan keadaan sekitar di ruang terbuka seperti ini adalah salah satu tugas awak U-boat yang paling penting. Memperhatikan empat penjuru mata angin bagaikan sebuah "tugas suci", dimana nasib dan kesuksesan kapal selam tergantung padanya. Kecerobohan dalam hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Pengawas Jembatan biasanya terdiri dari empat orang: satu perwira dan seorang lagi berdiri menghadap ke depan di menara pengawas, sementara satu bintara dan seorang lagi di belakang mereka. Dengan menggunakan teropong, setiap petugas jaga harus mengamati sektor bagian mereka yang telah ditentukan tanpa terhenti. Tiap lima menit sekali, masing-masing petugas harus memberikan laporan bahwa “Sektor ist frei melden” (sektor clear), bila memang begitu keadaannya. Peraturan melarang keras adanya percakapan antar petugas jaga. Laporan pengawasan harus dibuat dalam bahasa yang jelas dan tepat guna sambil menunjukkan jari ke arah yang dimaksud. Petugas jaga juga dilarang untuk merokok saat bertugas. Di wilayah dimana diperkirakan tak ada ancaman dari udara, awak U-boat lain diperbolehkan untuk ikut nongol di menara pengawas, sekedar untuk merokok, tapi tidak boleh lebih dari dua orang dalam sekaligus (di luar dari empat orang lain yang bertugas jaga). Di malam hari, merokok di menara pengawas sama sekali terlarang. Brückenwache diharapkan untuk lebih waspada lagi di wilayah-wilayah dimana potensi ancamannya sangat besar (Bay of Biscay dan Laut Utara), serta dalam situasi-situasi khusus. Termasuk diantara yang terakhir adalah saat kapal berhenti, senjata dek digunakan, berpapasan dengan kapal selam lain, serta dilamgsungkannya interogasi awak kapal musuh yang selamat. Pada saat-saat semacam ini, perhatian Brückenwache dengan mudah dapat teralihkan, sehingga berakibat pada terpecahnya konsentrasi. Bahaya serangan dadakan muncul terutama pada situasi tersebut. Karena efek cahaya matahari yang menyilaukan, para Petugas Jaga juga diwajibkan untuk mengenakan kacamata hitam ketika sang surya berada di kuadran mereka. Para petugas ini diganti setiap dua atau empat jam sekali, dengan interval masa pergantian tiap lima menit selama satu jam penuh. Hal ini untuk mencegah agar tidak terlalu banyak orang berada di menara pengawas saat tiba-tiba harus menyelam (crash dive), dan juga untuk memberi waktu bagi Petugas Jaga yang baru untuk beradaptasi dengan kegelapan atau cahaya. Khusus untuk malam hari, 15 menit sebelum waktu pergantian, Petugas Jaga baru terlebih dahulu memakai kacamata infra merah di bawah dek. Petugas Jaga lama hanya boleh pergi manakala yang menggantikannya sudah beradaptasi selama beberapa menit dengan lingkungan sekitarnya. Peraturan mensyaratkan bahwa Perwira Pengawas dan Petugas Jaga terbaik bekerja di waktu-waktu yang dianggap paling berbahaya. Penugasan Petugas Jaga sendiri merupakan kewenangan penuh dari kapten kapal. Saat laut bergelora dengan ombak tinggi mencapai menara pengawas, pekerjaan pengawasan semacam ini menjadi sebuah tugas yang menuntut kemampuan maksimal dari para awak U-boat. Bila angin, udara dingin, hujan atau kabut ikut hadir, maka orang-orang ini kadangkala sudah dalam keadaan lelah luar biasa saat tiba waktunya untuk diganti. Dalam kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, sang kapten biasanya memerintahkan para Petugas Jaga untuk memakai sabuk pengaman, yang dapat mencegah mereka terbawa ombak besar. Sabuk ini hanya bisa dilepas juga atas perintah kapten. Pintu keluar di menara pengawas selalu dalam keadaan tertutup apabila ombak sedang tinggi agar air tidak masuk ke dalam. Tanpa Brückenwache yang efisien, maka sebuah U-boat mempunyai kemungkinan yang kecil untuk selamat atau sukses dalam misinya


Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan saat “Brückenwache" (Pengawas Jembatan) sedang bekerja mengawasi kondisi sekitar tak lama setelah usainya badai lautan yang ganas. Mereka masih mengenakan jaket dan topi karet anti air yang merupakan perlengkapan wajib di saat kondisi laut sedang tidak bersahabat. Selain dari empat pengawas yang merupakan jumlah standar saat bertugas, terlihat pula seorang Obersteuermann (Kelasi Pertama) yang berada di balik periskop, sedang mempersiapkan alat sekstan (alat navigasi untuk menentukan sudut antara kapal dengan benda-benda lain, baik benda-benda di darat maupun benda angkasa) untuk keperluan “Sonne zu Schießen” (melihat matahari). Dia bertanggungjawab untuk keakuratan navigasi kapal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk melihat posisi matahari demi menentukan arah kapalnya. Hanya sang Obersteuermann dan Kapten Kapal yang boleh menuliskan posisi serta arah U-boat mereka menuju. Foto berwarna ini juga memperlihatkan detail menarik yang tidak mungkin didapatkan dari foto hitam-putih biasa: beragam warna berbeda dari jaket karet yang mereka kenakan, dari krem sampai ke hijau pucat dan hijau gelap


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.3 - 2008

Wednesday, November 9, 2016

Foto Kamuflase Kapal Laut

Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007

Tuesday, November 8, 2016

Foto 22. Unterseebootsflottille (22. U-Flottille)

  Meskipun pelabuhan-pelabuhan di Prusia Timur dan Barat biasanya tetap aktif beroperasi di musim dingin yang membekukan karena cuaca mereka yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah Jerman lainnya, tapi musim dingin tahun 1941-42 memecahkan semua rekor terdingin yang pernah ada. Pada pertengahan bulan Januari 1942, udara beku Siberia mengalir melewati wilayah-wilayah bertekanan tinggi diatas Rusia dan Eropa Utara. Hanya dalam waktu semalam, temperatur di pelabuhan-pelabuhan Baltik Prusia Timur dan Barat langsung anjlok sampai 20 derajat celcius di bawah nol! Tanpa ampun, perairan pun langsung membeku dalam waktu singkat, dan menjebak semua kapal yang berlabuh disana, termasuk sekumpulan U-boat yang berada di pangkalan pelatihannya. Flotilla-flotilla U-boat di Danzig, Pillau dan Gotenhafen dipaksa untuk menghentikan pelatihan praktis di dalam kapal selam. Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen, mengabadikan keadaan sulit yang menimpa 22. U-Flottille di Gotenhafen-Oxhöft dengan menggunakan rol film berwarna Agfa. Foto-foto yang kemudian tercetak memperlihatkan kapal-kapal selam Kriegsmarine yang membeku di perairan es. Pada saat itu 22. U-Flottille memiliki 18 buah kapal latih: U-8, U-14, U-19, U-56, U-57, U-58, U-59, U-78, U-137, U-138, U-139, U-140, U-142, U-143, U-145, U-146, U-149, dan U-150 (semuanya berasal dari U-boat Tipe II, kecuali U-178 yang merupakan Tipe VIIC). ULD Kedua sendiri dibentuk pada bulan Juni 1940 dan memulai operasional pelatihannya di pangkalan Gotenhafen pada tanggal 1 November 1940. Komandan pertamanya adalah Fregattenkapitän Werner Hartmann yang berusia 39 tahun dan telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Mei 1940 setelah dengan sukses menjadi Kapten U-37. Hartman berasal dari Kru 21 dan usia serta kesuksesan yang telah diraihnya membuat dia menjadi seorang komandan unit pelatihan yang ideal. Tapi ternyata peranan barunya hanya berumur pendek, dan pada bulan November 1941 dia menyerahkan tongkat komando kepada Fregattenkapitän der Reserve Ernst Hashagen. Komandan kedua ini bukanlah berasal dari generasi baru para kapten U-boat berpengalaman, melainkan veteran Perang Dunia Pertama yang pernah menjadi Kapten UB-21 dan U-62 dalam perang tersebut. Unit lain yang berada di bawah komando 2. ULD adalah 22. U-Flottille dibawah pimpinan Korvettenkapitän Wilhelm Ambrosius. Flotilla ini, yang bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan praktis, dibentuk pada bulan Januari 1940. 2. ULD bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan dasar bagi awak U-boat serta kursus kepelatihan bagi para perwiranya. Para murid diajari mengenai masalah mesin, senjata dan torpedo di bangunan-bangunan khusus milik 2. ULD. Peraturan mensyaratkan bahwa pelatihan berlangsung selama 3-4 bulan, tapi bisa juga lebih singkat tergantung kondisi. Pada saat itu kebanyakan partisipannya tinggal di kapal-kapal penumpang milik 2. ULD yang mulai dipakai dari bulan November 1940. Kapal-kapal ini merupakan bekas kapal pesiar “Kraft durch Freude” (Kekuatan Lewat Kegembiraan) Wilhelm Gustloff, juga Hansa dan Oceana. Wilhelm Gustloff, yang sebelumnya dipakai untuk kepentingan militer sebagai kapal rumah sakit, kini menemukan tempat berlabuh permanen di Gotenhafen-Oxhöft. Setidaknya 1.000 orang anggota 2. ULD tinggal di kapal tersebut. Mayoritasnya merupakan peserta kursus, meskipun sebagian instruktur - golongan apa yang dinamakan sebagai "personil inti" - juga tinggal di kapal. Orang-orang U-boat ini makan sehari-hari di kapal, dan beberapa kegiatan penyegaran serta permainan diadakan demi menjaga agar kejenuhan tidak melanda (sebagai contoh, film dipertontonkan dua kali dalam sehari). Pada awalnya kapal-kapal ini menyediakan sendiri kebutuhan mereka akan tenaga, uap dan air, tapi dari sejak tahun 1943 sebuah pembangkit listrik tenaga uap disediakan di lepas pantai untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dimaksud bagi ketiga kapal tersebut. Sebagian besar "personil inti" yang sudah menikah memilih untuk tinggal bersama keluarga mereka di beberapa buah apartemen yang berada di Gotenhafen



Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


 Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Kedua U-boat dari Tipe VIIC ini terjebak dalam perairan yang kini menjadi es. Karena pada saat foto ini diambil (awal tahun 1942), 22. U-Flottille hanya mempunyai satu buah kapal selam Tipe VIIC (U-178), maka kemungkinan besar kapal-kapal dalam foto ini adalah kapal baru yang sedang menjalani proses pengujian sebelum dinyatakan layak untuk operasional. Ketebalan pecahan es yang mengambang menunjukkan bahwa pada awalnya kapal-kapal yang terjebak dapat menembus melaluinya, hanya saja kemudian cuaca yang semakin membeku dalam waktu yang singkat membuat es-es tersebut berubah menjadi kumpulan solid yang tak terurai lagi


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007

Monday, November 7, 2016

Volksdeutsche (Keturunan Jerman di Luar Negeri)

VOLKSDEUTSCHE BESSARABIA

 Setelah Tentara Merah Soviet menguasai wilayah Bessarabia pada tahun 1940, sebuah perjanjian tercipta antara Jerman dengan Uni Soviet (saat itu masih belum berperang), mengenai masalah relokasi orang-orang keturunan Jerman di wilayah tersebut ke Reich. Serbia, yang saat itu juga masih berteman dengan Jerman, membantu dengan menyediakan tempat penampungan sementara. Foto ini memperlihatkan saat Komisaris Persatuan Kultural Jerman-Swabia, Dr. Sepp Janko, memberikan pidato kepada rekan-rekan sebangsanya di sebuah kamp pengungsi di dekat Zemun, Yugoslavia, musim gugur tahun 1940. Di belakangnya adalah sebuah bendera hitam besar yang berisikan simbol-simbol pagan khas Nazi, dari kiri ke kanan: Wolfsangel (kebebasan), sekop (kerja keras), dan rune pria (kehidupan). Berdiri di dekat panggung adalah para etnis Jerman lokal, dengan anak-anak mereka yang memakai seragam hitam-putih dan memegang instrumen musik layaknya anggota Hitlerjugend. Saat tiba di Reich, para pengungsi ini kemudian menjadi obyek dari kontrol politik penguasa, dan sebagian besar dipekerjakan sebagai buruh kasar (dengan pria-pria dewasanya direkrut serta dikirim ke medan tempur). Dua tahun kemudian, Dr. Janko dan para pendukungnya juga "dipaksa" untuk memakai seragam Wehrmacht dan berangkat berperang - melawan negara yang pernah menampungnya: Yugoslavia

-----------------------------------------------------------------------------------

VOLKSDEUTSCHE POLANDIA

Dalam apa yang dinamakan sebagai "Koridor Polandia" di Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), bermukim banyak Volksdeutsche, yaitu etnis Jerman yang tinggal di luar negeri. Foto ini memperlihatkan saat Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk berhenti dari perjalanannya di wilayah tersebut pada tanggal 6 September 1939 untuk menyapa warga etnis Jerman yang tinggal disana. Warga setempat tentu saja sangat terkejut dan tidak menyangka jika "Sang Penyelamat Jerman" kini tiba-tiba berada begitu dekat dengan mereka! Sebagian dari mereka begitu gembira bertemu dengan Führer-nya sehingga sampai meneteskan air mata. Momen ini dengan jeli dimanfaatkan oleh Heinrich Hoffmann, fotografer pribadi Hitler, yang kemudian mengambil foto diatas dan menampilkannya dalam bukunya yang berjudul "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" (Peperangan Akbar Jerman Melawan Polandia) dengan teks tambahan yang menyatakan bahwa mereka begitu bahagia karena telah dilepaskan dari tirani orang-orang Polandia selama bertahun-tahun. Di tengah adalah SS-Standartenführer Johann "Hans" Rattenhuber (Kommandeur Reichssicherheitsdienst), sementara perwira Luftwaffe di sebelah kanannya yang tertutup mukanya adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk menyapa etnis Jerman di perantauan (Volksdeutsche) dalam perjalanannya melintasi Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), Polandia, 6 September 1939. Untuk identifikasi foto bawah: Perwira di belakang Hitler yang cemong wajahnya akibat asap dan debu perjalanan adalah SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), sementara yang berdiri di tengah adalah SS-Standartenführer Johann "Hans" Rattenhuber (Kommandeur Reichssicherheitsdienst). Perwira Luftwaffe yang tersenyum lepas di kanan Rattenhuber adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier). Foto oleh Heinrich Hoffmann


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menyempatkan diri untuk menyapa etnis Jerman di perantauan (Volksdeutsche) dalam perjalanannya melintasi Tucheler Heide (wilayah diantara Tuchel dan Graudenz), Polandia, 6 September 1939. Seorang wanita tua menyerahkan buket bunga dadakan - yang langsung diteruskan oleh Hitler kepada pesuruhnya (berpangkat SS-Hauptscharführer) yang berada di belakang. Berdiri di tengah adalah Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), sementara di sebelah kirinya adalah SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Reichspressechef der NSDAP und Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda). Meskipun tidak berperang sebagai perwira aktif dalam Perang Dunia II, tapi Dietrich adalah mantan prajurit Jerman dalam Perang Dunia I, dan di kancah tersebut dianugerahi Eisernes Kreuz I.Klasse (seperti yang terlihat dalam foto hasil jepretan Heinrich Hoffmann ini)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh warga Volksdeutsche saat tiba di lapangan udara Maslow (Polandia), tanggal 10 September 1939. Volksdeutsche adalah etnis Jerman yang tinggal di perantauan, dan banyak dari mereka yang menetap di Polandia Barat karena sebelumnya wilayah tersebut merupakan bagian dari Kekaisaran Jerman. Ketika pasukan Nazi menyerbu Polandia pada bulan September 1939, sebagian Volksdeutsche ini membantu para prajurit Wehrmacht secara langsung dengan jalan mensabotase fasilitas publik serta melakukan kekerasan terhadap warga etnik Polandia yang tinggal bersama dengan mereka. Yang paling militan diantaranya kemudian membentuk milisi yang dinamakan sebagai Selbstschutz. Organisasi ad-hoc ini nantinya dibubarkan pada awal tahun 1940 dan anggota-anggotanya disebar di Wehrmacht dan Waffen-SS


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh warga Volksdeutsche (bangsa Jerman yang tinggal di luar negeri) saat tiba di lapangan udara Maslow (Polandia), 10 September 1939. Di tengah adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon) yang bertanggungjawab terhadap keamanan sang Führer selama kunjungannya ke Polandia (4-26 September 1939 dan 5 Oktober 1939). Pada tanggal 10 September 1939 Hitler berkunjung ke Opole/Oppeln, Końskie dan Kielce, sementara pada 11 September dia berada di Tomaszów dan Illnau

-----------------------------------------------------------------------------------

VOLKSDEUTSCHE YUGOSLAVIA

 Divisi Prinz Eugen dibentuk pada bulan Maret 1942 dengan anggotanya kebanyakan adalah Volksdeutsche (keturunan Jerman yang tinggal di luar negeri) dari wilayah Yugoslavia dan Banat (bagian dari Vojvodina). Foto di atas memperlihatkan Volksdeutsche anggota militer Yugoslavia yang menyerah saat Jerman menyerbu negara tersebut. Mereka memakai armband swastika di lengannya dengan tujuan agar bisa dilepaskan secepatnya dari kamp tawanan


 Etnis Jerman asal Kroasia, yang merupakan anggota Batalyon Disposisi dari SE "Prinz Eugen", bergerak melewati sebuah desa di Yugoslavia pada tahun 1942. Mereka mengenakan seragam Jerman dengan insignia layaknya SS - unit yang nantinya akan dimasuki oleh sebagian besar dari mereka, lebih tepatnya, pada divisi yang baru dibentuk yang mempunyai nama sama, Prinz Eugen (Divisi SS ke-7). Prajurit di belakang membawa serta senapan mesin tua ZB vz. 26 buatan Cekoslowakia, sementara sang perwira yang berjalan paling depan bersenjatakan senapan mesin MP 35 Jerman - yang memang banyak digunakan dalam peperangan melawan Partisan Yugoslavia. Perhatikan pula kendaraan tempur hasil modifikasi dengan bentuk tidak biasa yang ikut nongtot dalam foto ini. Hebatnya, kendaraan "antah berantah" ini nantinya mampu bertahan sampai akhir perang!


  Otto dan Stefan Bayer, etnis Jerman dari Novi Sad (Serbia), berpose bersama ibu tercinta mereka. Tak seperti kebanyakan Volksdeutsche lainnya yang berasal dari Yugoslavia, kedua bersaudara ini tidak direkrut kedalam salah satu divisi SS lokal, melainkan dikirim jauh ke utara di Finlandia untuk bergabung bersama dengan 6. SS-Gebirgs-Division "Nord". Otto mengakhiri perang sebagai tawanan Soviet, sementara Stefan gugur pada tahun 1944. Kini keturunan mereka juga tinggal di kota yang sama, Novi Sad, sebagai seniman dan penganut Kristen Ortodoks. Foto diambil di kota Serbia tersebut pada tahun 1943/1944

 -----------------------------------------------------------------------------------

RITTERKREUZTRÄGER

Leutnant Friedrich Bausch (6 Agustus 1915 - 21 April 1971) lahir di Schluckenau/Bohemia ketika wikayahnya masih menjadi bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria. Beberapa tahun kemudian tempat kelahirannya menjadi bagian dari Cekoslowakia dan Bausch menjadi seorang Volksdeutsche (Jerman Perantauan). Ketika Nazi Jerman menganeksasi negaranya pada tahun 1938, Bausch otomatis menjadi warga negara Jerman yang memenuhi syarat untuk menjadi anggota Wehrmacht, dan dia memilih Luftwaffe. Dalam Perang Dunia II dia terlibat dalam banyak aksi pertempuran, diantaranya yang paling menonjol adalah Pertempuran Kreta, Unternehmen Barbarossa, Pengepungan Leningrad, Pertempuran Sisilia, Pertempuran Monte Cassino, Pertempuran Normandia, Operation Cobra, Pertempuran Ardennes, dan Kantong Ruhr. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 12 Maret 1945 sebagai Leutnant dan Führer 3.Kompanie / Fallschirm-Pionier-Bataillon 5 / 5.Fallschirmjäger-Division / LXVI.Armeekorps / 5.Panzerarmee. Setelah perang usai dia menjadi ayah dari tiga orang anak dan bekerja di tempat penyewaan mobil. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (Januari 1942) und I.Klasse (Maret 1942); Fallschirmschützenabzeichen; Erdkampfabzeichen der Luftwaffe; Nahkampfspange in Silber; serta Deutsches Kreuz in Gold (1 Januari 1945)



Sumber :
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Mit Hitler in Polen" karya Heinrich Hoffmann
www.bandenkampf.blogspot.com
www.das-ritterkreuz.de

Stabsabteilung (Staff Detasemen) Divisi Wehrmacht



Oleh : Alif Rafik Khan

Divisi Jerman dalam Perang Dunia II mempunyai tiga bagian dalam strukturnya: staff divisi, elemen tempur, dan pelayanan garis belakang. Staff divisi (Divisionstab) sendiri adalah bagian dari unit markas dari divisi tersebut. Komandan divisi adalah pemimpin dari seluruh divisi. Karenanya, dia bertanggungjawab atas semua operasional dan penempatan divisinya. Karena sudah jelas tidak mungkin dapat melakukannya seorang diri, seorang komandan divisi juga membutuhkan bantuan dari staff-nya, yang nantinya juga bertanggungjawab terhadap aspek-aspek yang berlainan dari divisi tersebut. Sekelompok staff profesional akan memberikan bantuan dalam menjalankan dan menangani urusan keseharian dari divisi, serta bertanggungjawab terhadap aspek-aspek seperti suplai, transportasi, hubungan udara, bantuan tempur, dan yang lainnya. Staff divisi ini dibagi lagi menjadi tiga grup operasional, yaitu sebagai berikut:


FUHRUNGSABTEILUNG (Detasemen Taktis)
  • Ia Erster Generalstabsoffizier (Führung und Ausbildung) : Kepala Operasi / Kepala Staff
  • O1 (1. Assistent Adjutant) : Ajudan Operasi
  • Ic Dritter Generalstabsoffizier (Feindlage und Abwehr) : Kepala Intelijen
  • O3 (3. Assistent Adjutant) : Ajudan Intelijen

QUARTERMEISTER (Grup Suplai)
  •  Ib Quartiermeister (Logistik, Verwundeten- und Versorgungsdienste) : Kepala Logistik dan Perawatan
  • O2 (2. Assistent Adjutant) : Ajudan Logistik
  • Ib/WuG (Waffen und Gerate) : Kepala Senjata dan Perlengkapan
  • Ib/Kfz (Kraftfahrzeuge) : Kepala Teknik
  • IVa Versorgungsoffizier (Beamter) : Kepala Administrasi
  • IVb Ärzte / Sanitätsdienst : Dokter Divisi
  • IVc Veterinär : Dokter Hewan Divisi
  • IVd Divisionspfarrer : Pendeta Divisi
  • IVz (Division Zahlmeister) : Kepala Pembayaran

ADJUTANTUR (Grup Personil)
  • IIa Personalverwaltung – 1. Adjutant (zuständig für die Offiziere) : Ajudan Perwira
  • IIb Personalverwaltung – 2. Adjutant (zuständig für die Unteroffiziere und Mannschaften) : Ajudan Bintara dan Prajurit
  • III Kriegsgericht / Urkundsbeamter : Kepala Bidang Hukum


Sumber :

Friday, November 4, 2016

Foto Berwarna Yugoslavia dalam Perang Dunia II



 Setelah Tentara Merah Soviet menguasai wilayah Bessarabia pada tahun 1940, sebuah perjanjian tercipta antara Jerman dengan Uni Soviet (saat itu masih belum berperang), mengenai masalah relokasi orang-orang keturunan Jerman di wilayah tersebut ke Reich. Serbia, yang saat itu juga masih berteman dengan Jerman, membantu dengan menyediakan tempat penampungan sementara. Foto ini memperlihatkan saat Komisaris Persatuan Kultural Jerman-Swabia, Dr. Sepp Janko, memberikan pidato kepada rekan-rekan sebangsanya di sebuah kamp pengungsi di dekat Zemun, Yugoslavia, musim gugur tahun 1940. Di belakangnya adalah sebuah bendera hitam besar yang berisikan simbol-simbol pagan khas Nazi, dari kiri ke kanan: Wolfsangel (kebebasan), sekop (kerja keras), dan rune pria (kehidupan). Berdiri di dekat panggung adalah para etnis Jerman lokal, dengan anak-anak mereka yang memakai seragam hitam-putih dan memegang instrumen musik layaknya anggota Hitlerjugend. Saat tiba di Reich, para pengungsi ini kemudian menjadi obyek dari kontrol politik penguasa, dan sebagian besar dipekerjakan sebagai buruh kasar (dengan pria-pria dewasanya direkrut serta dikirim ke medan tempur). Dua tahun kemudian, Dr. Janko dan para pendukungnya juga "dipaksa" untuk memakai seragam Wehrmacht dan berangkat berperang - melawan negara yang pernah menampungnya: Yugoslavia


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Thursday, November 3, 2016

Foto Berwarna Mesin Perang Hasil Rampasan

 Unternehmen Barbarossa, musim panas tahun 1941. Foto berwarna ini memperlihatkan sebuah perahu penyeberangan yang dibuat dari 8-tonne Brückengerät B (Bridge Equipment B). Kendaraan yang diangkut adalah ranpur Beute BA 10 tanpa turet hasil rampasan dari Soviet, yang biasa digunakan sebagai traktor penarik. Bruckengerat B adalah salah satu dari jenis jembatan ponton Wehrmacht yang paling banyak digunakan. Unit Pionier (Zeni) yang membawa jembatan ini dilengkapi dengan truk-truk dan kendaraan derek untuk menarik trailer pembawa ponton, papan kayu, motorboat, dan perlengkapan lainnya. 16 bagian ponton yang terbuat dari besi diperlukan untuk membuat satu jembatan utuh, baik secara berpasangan atau satu-satu. Bila digunakan secara berpasangan, maka panjangnya adalah 54 meter dengan kapasitas 16 ton, sementara bila digunakan secara satuan maka panjangnya adalah 83 meter dengan kapasitas 8 ton. Bagian dek dilengkapi dengan undakan besi dan pagar trotoar yang terbuat dari 26 buah papan kayu. Terdapat juga delapan buah bagian penopang yang terdiri dari papan jalan yang diperkuat dengan tiang besi yang bisa disesuaikan ukurannya, masing-masing dengan tiga kaki penguat. Hal ini memungkinkan penyambungan jembatan dengan perahu terapung ketika pinggiran sungai terletak lebih tinggi dibandingkan dengan jembatan pontonnya, atau ketika permukaan air di dekat pinggiran sungai terlalu dangkal untuk mampu mengapungkan ponton. Jembatan ini juga dapat menyesuaikan diri manakala sungai meluap atau menyurut. Beberapa tipe perahu penghubung bisa dibuat dengan menggunakan perlengkapan yang sama, dengan sebuah trailer dengan kabel difungsikan khusus untuk menarik jembatan ini maju-mundur. Setengah-ponton mempunyai panjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter. Sebuah perahu penghubung yang mempunyai kapasitas 4 ton memerlukan dua buah setengah-ponton serta satu buah bagian dek jembatan, sementara perahu ganda dengan kapasitas 8 ton memerlukan empat setengah-ponton serta dua dek, dan perahu kapasitas 16 ton menggunakan dua ponton penuh serta dua dek. jembatan ponton penuh Brückengerät B 8 ton atau versi perahu penghubung 16 ton-nya mampu menopang dan membawa semua jenis kendaraan yang bisa ditemukan di sebuah divisi infanteri Jerman atau divisi panzer awal perang, termasuk sebuah Panzer IV, meriam howitzer kaliber 150mm, dan halftrack penarik. Foto ini sendiri pertama kali dipublikasikan pada tahun 1942 dalam buku "Das Heer im Grossdeutschen Freiheitskampf" (Angkatan Darat dalam Pertempuran Akbar Jerman untuk Kebebasan) yang diterbitkan oleh Oberkommando des Heeres (OKH) untuk pasaran remaja Jerman


Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Tuesday, November 1, 2016

Foto Unternehmen Skorpion (Operasi Kalajengking)

  Prajurit Panzergrenadier Afrikakorps dari Schützen-Regiment 115 / 15.Panzer-Division bersiaga dengan senapan mesin MG34 di lubang pertahanan mereka selama berlangsungnya Unternehmen Skorpion (Operasi Kalajengking). Mereka merupakan bagian dari Kampfgruppe von Herff yang dikomandani oleh Oberst Maximilian von Herff. Unternehmen Skorpion, yang berlangsung tanggal 26-27 Mei 1941, adalah operasi militer yang dilancarkan oleh Pasukan Poros di bawah pimpinan Oberst Herff melawan pasukan Inggris dibawah pimpinan Lieutenant-General William "Strafer" Gott. Sebuah serangan balasan dilancarkan terhadap posisi Inggris di Celah Halfaya yang terletak di barat-laut Mesir - yang sebelumnya telah diduduki selama berlangsungnya Operation Brevity (15-16 Mei 1941). Skorpion adalah ofensif militer kedua yang dilakukan oleh Rommel setelah kedatangannya di medan perang Afrika Utara (diluar Pengepungan Tobruk), dan pengusiran Inggris keluar dari Celah Halfaya, berlanjut sampai ke wilayah Buq Buq dan Sofafi. Setelah celah strategis tersebut berhasil dikuasai, pihak Jerman dan Italia memperkuatnya dengan banyak posisi pertahanan dan jebakan tank yang menyebar sampai ke Sidi Azeiz, sebagai persiapan untuk menghadapi serangan balasan Inggris yang diperkirakan akan terjadi tak lama setelahnya. Perkiraan tersebut terbukti, dan Inggris melancarkan Operation Battleaxe (15-17 Juni 1941), yang berakhir dengan kegagalan dan membuat Panglima pasukan Inggris di Timur Tengah, Jenderal Sir Archibald Wavell, dipecat dari jabatannya


Sumber :
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Monday, October 31, 2016

Foto Hasil Karya Kriegsberichter Artur Grimm

 Unternehmen 25: konvoy kendaraan lapis baja (terlihat diantaranya adalah Sd.Kfz.251 dan Panzer II) dari 11. Panzer-Division "Gespensterdivision" (Divisi Hantu) / XIV Armeekorps (motorisiert) / 12.Armee melewati kendaraan-kendaraan yang rusak serta truk yang terbakar, yang merupakan kepunyaan dari AD ke-5 Yugoslavia di Niš, sebuah kota Serbia yang terletak di pinggiran sungai Morava. Empat hari kemudian - setelah awalnya kampanye militer yang mudah tapi kemudian berubah menjadi lebih sulit dan penuh rintangan - divisi pimpinan Generalleutnant Ludwig Crüwell tersebut berhasil mencapai Beograd, ibukota Yugoslavia. Dalam berita propaganda tentang pergerakan unit ini yang kemudian dipublikasikan, pasukan pertahanan Yugoslavia digambarkan sebagai satuan-satuan militer yang tidak kompeten serta mudah untuk ditaklukkan. Tapi khusus untuk pihak yang bertahan di sekeliling Beograd, mereka mendapat 'penghormatan' khusus: "Harus kami akui bahwa mereka memanfaatkan alam sekitar dengan maksimal, dan mempertahankan ibukota mereka dengan penuh determinasi dan keberanian". Foto ini diambil pada tanggal 9 April 1941 oleh Kriegsberichter Artur Grimm dari Propaganda-Kompanie (PK) 691


Seorang perwira Heer dari unit artileri menjabat tangan salah seorang bintaranya setelah selesainya upacara pernikahan proxy (ferntrauung) singkat bagi si bintara yang berpangkat Gefreiter (Kopral). Meriam berat dari baterai unit dipajang dengan moncong ke atas sebagai penghias upacara. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Artur Grimm (PK 691) ini dikatakan diambil di dekat Stalingrad musim panas 1942 dan pertama kali dipublikasikan dalam majalah bulanan "Signal"


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Sunday, October 30, 2016

Foto Bunga dan Tanaman

 Seorang perwira Wehrmacht Jerman dengan seragam necis menyempatkan diri untuk membeli satu buket bunga lili lembah (muguet) di Paris, Prancis, pada tanggal 1 Mei 1941. Di tanggal itu biasanya bangsa Prancis saling memberikan bunga lili lembah ke teman-teman terdekatnya, yang dianggap sebagai bunga pembawa keberuntungan


 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Oberfeldwebel Walter Rappholz - seorang Zugführer dari Panzerjäger-Abteilung 616 (Selbstfahrlafette) - berpose sambil memegang buket bunga tak lama setelah usainya upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk dirinya yang diselenggarakan pada tanggal 13 November 1944 (10 hari setelah pemberitahuan resminya melalui radio). Rappholz mendapatkan medali paling bergengsi ini setelah setelah berprestasi menghancurkan 16 tank musuh dalam pertempuran Celah Dukla (Ofensif Dukla-Prešov) yang berlangsung dari tanggal 8 September s/d 28 Oktober 1944. Foto oleh Kriegsberichter Lucke








Foto ini diambil di sekitar wilayah Kharkov pada tanggal 20 Juli 1943 oleh Kriegsberichter Jütte, dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1) yang baru saja kembali dari feindflug (misi udara) yang ke-800. Sambil memegang buket bunga dan berdiri di samping pesawat Focke-Wulf Fw 190 yang baru saja didaratkannya, Dörffel dengan semangat menenggak miras cap Tikus yang diberikan oleh Major Alfred Druschel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1). Hanya berselang satu bulan kemudian, Georg Dörffel berhasil menyelesaikan misinya yang ke-900. Dia menerbangkan misinya yang ke.1000 pada tanggal 6 Oktober 1943, dan dengannya dia menjadi salah satu dari sangat sedikit pilot Luftwaffe yang mampu melakukan misi tempur sebanyak itu! Sang jagoan Stuka terbunuh di atas kota Roma, Italia, pada tanggal 26 Mei 1944 saat berusaha keluar dari pesawat Focke-Wulf Fw 190 F-8 yang dipilotinya. Kemungkinan besar kepalanya berbenturan dengan ekor pesawat yang melaju kencang, membuatnya tak sadarkan diri sehingga tak sempat membuka parasutnya



Foto ini diambil di sekitar wilayah Kharkov pada tanggal 20 Juli 1943 oleh Kriegsberichter Jütte, dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1) yang baru saja kembali dari feindflug (misi udara) yang ke-800. Dari kiri ke kanan: Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Major Alfred Druschel (Geschwaderkommodore Schlachtgeschwader 1), Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1)




Foto ini diambil di sekitar wilayah Kharkov pada tanggal 20 Juli 1943 oleh Kriegsberichter Jütte, dan memperlihatkan upacara penyambutan untuk Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1) yang baru saja kembali dari feindflug (misi udara) yang ke-800. Dari kiri ke kanan:Oberleutnant der Reserve Johannes Gehrmann (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), Hauptmann Georg Dörffel (Gruppenkommandeur I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1), dan Leutnant Johannes Meinicke (Staffelführer 1.Staffel / I.Gruppe / Schlachtgeschwader 1). Di hari yang sama, Oberleutnant d.R. Gehrmann menerbangkan misi tempurnya yang ke-400


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.5sswiking.tumblr.com
www.facebook.com
www.ritterkreuztraeger.blogspot.com

Tuesday, October 18, 2016

Foto Unternehmen Herbstgewitter (Operasi Hujan Musim Gugur)

  Unternehmen Herbstgewitter (Operasi Hujan Musim Gugur): Dengan menggunakan perahu Dubrovnik tua "Orsan" (berasal dari Italia, buatan tahun 1896), para anggota 7. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Division "Prinz Eugen" bersama dengan pasukan Penjaga Tanah Air Kroasia berlayar bersama menuju semenanjung Pelješac, dimana mereka akan bertempur melawan Partisan (NOVJ) dari Brigade Dalmatia ke-13. Pertempuran yang terjadi berlangsung sesengit yang diperkirakan, dan karenanya pula penggunaan tanda pangkat dalam tubuh Divisi Prinz Eugen untuk sementara ditiadakan (disebabkan begitu banyaknya para perwira yang terlibat langsung dalam mengarahkan prajurit mereka, dan resiko tinggi bila terlihat oleh sniper musuh. Bahkan komandan divisi, SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Carl von Oberkamp, ikut pula untuk memimpin langsung anakbuahnya). Dalam fase pertama pertempuran, Divisi Prinz Eugen menderita korban dalam jumlah yang signifikan: satu batalyon musnah, salah satu komandan batalyon tertangkap dan dieksekusi, dan Oberkamp - yang terlalu lemah untuk melanjutkan tugasnya - meminta untuk diizinkan cuti ditengah-tengah pertempuran! Jabatan komandan divisi kemudian untuk sementara diambil alih oleh SS-Standartenführer August Schmidhuber. Karena begitu luarbiasanya kegigihan yang ditunjukkan oleh para etnis Jerman asal Yugoslavia yang terlibat dalam pertempuran tersebut, Hitler yang terkesan lalu memerintahkan agar salah satu dari mereka diangkat menjadi komandan baru dari kompi pertama pengawal SS pribadinya - yang merupakan sebuah kehormatan besar dan pengakuan tertinggi! Foto diambil oleh Kriegsberichter Dach pada tanggal 23 Oktober 1943


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

Monday, October 17, 2016

Senjata Dek U-Boat

Foto berwarna asli zaman Perang Dunia II ini memperlihatkan pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat (kapal selam Jerman), yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine (Angkatan Laut Nazi Jerman) dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, maka mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat mau tidak mau harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum senjata dek tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar. Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Sayangnya, rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi...


Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Foto Berwarna U-Boat dan U-Bootwaffe

Setelah kesuksesan yang tidak terduga dari tahun-tahun pertama peperangan serta liputan propaganda secara meluas oleh media radio dan cetak, minat masyarakat Jerman terhadap satuan U-boat dan orang-orangnya menjadi bertambah besar dari waktu ke waktu. Pemerintahan Nasional-Sosialis (Nazi) lalu memanfaatkan minat semacam ini - dan juga entusiasme kaum mudanya - untuk menarik sukarelawan yang diperlukan. Bilamana memungkinkan, U-Bootwaffe mempersilakan warga sipil untuk mengakses kapal-kapal selamnya, sehingga remaja Jerman khususnya dapat melihat langsung apa yang sebelumnya hanya mereka ketahui melalui media. Selain itu, awak kapal yang sukses dalam patrolinya seringkali ditugaskan untuk mengunjungi kota sponsor mereka; dan kapten U-boat berkeliling negeri untuk berpidato di sekolah di hadapan para anggota belia Jungvolk serta Hitlerjugend. Pihak Kriegsmarine memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk dapat memajang kapal-kapal selamnya di hadapan khalayak ramai. Salah satu kesempatan semacam itu adalah acara Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) yang diselenggarakan pada musim panas tahun 1941. Zoppot adalah sebuah kota pantai di Teluk Danzig yang terkenal dengan fasilitas spa dan wisatanya. Zoppoter Woche sendiri digelar setiap tahun, dari pertengahan sampai akhir bulan Juli, dan merupakan perayaan olahraga besar dengan kompetisi kapal layar, balap kuda dan berenang. Selama seminggu penuh pusat-pusat keramaian kota spa tersebut disesaki oleh pengunjung. Salah satu lokasi yang tersedia adalah dermaganya, yang membentang sepanjang 500 meter sampai ke Teluk Danzig dan menawarkan pemandangan indah wilayah pantai serta Grand Hotel Zoppot pada para pengunjungnya. Grand Hotel sendiri pernah menjadi kediaman Adolf Hitler selama satu minggu saat berlangsungnya fase pembuka invasi Jerman atas Polandia beberapa bulan sebelumnya. Disanalah tepatnya, selama berlangsungnya perhelatan Zoppoter Woche di bulan Juli 1941, U-403 bersandar untuk menarik perhatian para pengunjung yang datang


 Foto berwarna ini memperlihatkan Kriegsberichter Oberleutnant Gerhard Garms (kanan) sedang ngobrol dengan seorang awak U-boat di atas menara pengawas U-404, bulan Agustus 1942. Dari musim semi sampai musim gugur tahun 1942, Oberleutnant Garms bertugas sebagai koresponden foto dan film di flotila-flotila U-boat yang berpangkalan di pantai Atlantik Prancis. Disana dia mengambil banyak foto dan gambar bergerak yang memperlihatkan saat kapal-kapal selam Jerman berangkat dan kembali ke pangkalannya, yang kemudian muncul kembali di banyak buku yang terbit pasca perang. Garms juga menyempatkan diri untuk ikut serta dalam setidaknya dua patroli U-boat. Operasi pertamanya adalah patroli kedelapan dari U-552 di bawah Kapitänleutnant Erich Topp, during which the submarine operated off the American coast. It was on this patrol that Garms filmed the brightly-lit skyline of an American city. Footage shot during this operation, which lasted from 7 March until 27 April 1942, appear in "Der Deutsche Wochenschau" Nr.599, which was shown in theaters in Germany and occupied Europe. In August 1942 Garms boarded Kapitänleutnant Otto von Bülow's U-404 for his second patrol. Garms' father had established Nordmark-Film in Kiel in 1920 and had taught him the film trade from the ground up. For this assignment Garms came up with something special. A mount for his Askania Z camera was built to his specifications in the workshops in St. Nazaire and mounted on the port side of the U-404's conning tower. Tests showed that the camera was capable of functioning to depths of 60 meters in the pressure capsule. Garms wanted to film the submarine diving and carrying out underwater maneuvers, and he succeeded. The Askania Z was a sophisticated 35-mm camera which the Askania AG had been producing in Berlin since 1929. This type of camera was used, for example, to shoot the UFA film "Blauer Engel" (Blue Angel) with Marlene Dietrich in 1929-30. The weight of the camera without lens was 25 kilograms. Garms films are familiar with all U-boat enthusiasts, the newsreel images showing the conning tower of a U-boat nearing the surface, finally emerging and then plowing through the Atlantic. Other impressive footage shows waves breaking the conning tower in heavy seas.



Sekumpulan U-boat ini berasal dari kapal selam Tipe II. Cat kuning di bagian menara menunjukkan bahwa kapal-kapal ini berasal dari unit pelatihan dan bukan unit tempur, sebuah hal yang dibenci oleh para awaknya karena menunjukkan bahwa mereka masih hijau dan belum mencicipi aksi pertempuran. Setelah pelatihan selesai, pita kuning ini biasanya dihapus dan digantikan dengan tulisan kecil "Frontrief" (Siap ditugaskan ke front) serta simbol "V" di bawahnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa para awaknya telah menyelesaikan program pelatihan "Agru-Front", yang merupakan singkatan dari "Ausbildungsgruppe für Frontunterseeboote" (Grup Pelatihan Operasional untuk Kapal Selam yang akan Berangkat ke Front)



 U-403 (kapal selam Tipe VIIC) mendapat penugasan pertamanya beberapa waktu sebelumnya, tanggal 25 Juni 1941. Menjadi bagian dari 5. U-Flottille dan dikomandani oleh Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, kapal selam tersebut baru saja menyelesaikan UAK-Abnahme (Ujicoba Penerimaan UAK) pada tanggal 8 Juli 1941. U-403 langsung dikirim ke galangan kapal di Danzig untuk kelengkapan selanjutnya, termasuk pemasangan penahan angin di menara pengawas. Foto berwarna yang ditampilkan disini memperlihatkan dengan jelas emblem U-boat tersebut, yang merupakan Wappen (lambang) dari kota sponsor U-403, Halle an der Saale, dan menampilkan gambar matahari-bulan-bintang yang mirip-mirip simbol Islam. Emblem tersebut dipasang di kiri-kanan menara pengawas. Wappen ini telah dipasang dari sejak penugasan pertama di Danzig-Neufahrwasser.Gambarnya dicat di perisai metal yang kemudian dipasangkan di menara pengawas. Awak U-403 juga memakai emblem ini di topi mereka. Pada bulan Oktober 1941 U-403 menambahkan emblemnya sendiri, lalu pada musim semi tahun 1942 Wappen Halle dicopot dari kedua belah sisi menara pengawas sehingga hanya menyisakan emblem kapal. Di akhir bulan Oktober, U-403 telah menyelesaikan fase pelatihannya di AGRU-Front (juga pelatihan taktis dan persenjataan). Bukannya langsung bertugas ke front, kapal selam tersebut ditugaskan untuk menjadi kapal latihan bersama dengan 27. U-Flottille di Baltik, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan awak dan kaptennya. U-403 digunakan untuk melatih para calon komandan U-boat di Pillau dan Memel. Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba ketika pada tanggal 23 Februari 1942 U-403 dipindahkan dari Kiel ke Helgoland, dimana dari sana dia melakukan sorti operasional pertamanya pada tanggal 1 Maret 1942. Kapitänleutnant Clausen menambatkan kapalnya di Narvik 19 hari kemudian. Di musim semi tahun 1943 U-403 telah menyelesaikan lima patroli tambahan dari pangkalannya di Norwegia. Pada tanggal 1 Juli 1942 dia berada di bawah komando 11. U-Flottille di Bergen yang baru dibentuk. Pada tanggal 1 Maret 1943 penugasannya dialihkan ke 9. U-Flottille di Brest. Satu hari kemudian U-403 tiba di pangkalan Angkatan Laut Jerman yang terletak di pantai Samudera Atlantik tersebut dari Trondheim. Di bawah Kapitänleutnant Clausen, U-403 melakukan patroli lainnya pada bulan April-Mei 1943. Meskipun pada bulan Mei 1943 jumlah kehilangan U-boat yang menjadi korban dalam pertempuran begitu besarnya, tapi Clausen berhasil membawa kapalnya kembali ke Brest. Tak lama kemudian terjadi perubahan komando kapal, kemungkinan karena Clausen dianggap tidak terlalu berhasil dalam masa penugasannya, dengan hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.946 ton dalam tujuh patroli. Di bawah komandannya yang baru, Kapitänleutnant Karl-Franz Heine, U-403 berlayar dari Brest untuk melakukan patroli kedelapannya pada tanggal 13 Juli 1943. Pesan terakhir dari kapal tersebut diterima 10 hari kemudian, ketika dia melaporkan telah mendapat serangan udara di posisi 46 N 10 W. Tak ada pesan lagi yang diterima, sehingga kemudian Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) menyimpulkan bahwa U-403 telah tenggelam oleh serangan udara pada tanggal 23 Juli. Karenanya, pada tanggal 27 Agustus 1943 kapal tersebut dinyatakan sebagai "x" (kemungkinan tenggelam), dan pada tanggal 18 Mei 1944 sebagai "xx" (hilang). Pada kenyataannya, U-403 telah selamat dari serangan tersebut. Ketiadaan pesan radio lanjutan kemungkinan besar dikarenakan peralatan radionya rusak dalam serangan tersebut. U-403 pada akhirnya tenggelam, tapi tidak sampai empat minggu kemudian pada tanggal 18 Agustus 1943 di dekat pantai Afrika Barat, setelah mendapat serangan pesawat Wellington dari Nr. 344 Squadron yang dipiloti oleh orang Prancis. Dari 50 orang awaknya, tak ada satu orangpun yang selamat. Ternyata, komandan baru U-403 tidak membawa keberuntungan bagi para awaknya...



 Komandan U-403, Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, difoto di dermaga Teluk Danzig selama berlangsungnya Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) di bulan Juli 1941. Kapal selamnya berada di kanan latar belakang. Di hari yang sama Clausen menggunakan kameranya untuk mengabadikan dua buah foto berwarna U-403 yang ikut ditampilkan disini. Kapitänleutnant Clausen (lahir tanggal 12 Juli 1909) selamat sampai dengan akhir perang dan meninggal pada tanggal 24 Maret 1987. Patroli perangnya hanya dijalani bersama dengan U-403 (7 patroli dan 191 hari di lautan), dengan dua kapal ditenggelamkan (total tonase 12.946 ton). Medali dan penghargaan yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (26 Mei 1940) und I.Klasse (4 Oktober 1942); Kriegsabzeichen für Minensuch-, U-Boot-Jagd- und Sicherungsverbände (23 Oktober 1941); U-Boots-Kriegsabzeichen (26 Februari 1942); serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern (1 September 1944)


Meskipun foto yang ditampilkan disini bukanlah dari jenis yang mempunyai kualitas mumpuni, tapi dia tetap merupakan salah satu dari foto berwarna asli super langka yang memperlihatkan penampakan pasukan kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II. Foto ini kemungkinan besar diambil pada saat pengujian crash dive (selam cepat) di Laut Baltik pada bulan November 1941. Diambil dari dek U-595, terlihat kapal selam lain yang memakai emblem putih UAK (Unterseebootsabnahmekommando) di atas menara pengawasnya, sedang berlayar menuju fjord Kiel. Emblem putih UAK sendiri hanya disematkan di kedua belah sisi menara pengawas selama berlangsungnya ujicoba ketahanan U-boat. Setelah lolos ujicoba UAK pada tanggal 11 Desember 1941, U-595 berangkat menuju Agru-Front (Hela) di perairan dalam Teluk Danzig untuk menjalani pelatihan lanjutan yang berlangsung dari tanggal 12 s/d 22 Desember 1941. Lalu, tanggal 23 Desember-nya, kapal selam tersebut bergabung dengan 8. Unterseebootsflottille (8th Submarine Flotilla) di Königsberg. Bersama Flotila ini, yang pada bulan Februari 1942 pindah ke pangkalan baru di Danzig, U-595 menjalani serangkaian ujicoba selam kedalaman, pengukuran kecepatan, antisipasi bom barel, perbaikan kerusakan, penembakan torpedo siang dan malam hari, serta pelatihan penggunaan senjata dek. Tes-tes tersebut, yang berlanjut sampai dengan tanggal 31 Juli 1942, mencakup juga beberapa pelatihan taktis di darat. Tes terakhir adalah sesi monitor suara yang dilangsungkan di Rönne/Bornholm. U-595 sendiri dibuat oleh Blohm & Voss di Hamburg. U-boat dari Tipe VIIC ini kemudian mulai bertugas pada tanggal 6 November 1941 dengan komandan pertamanya adalah Oberleutnant zur See Jürgen Quat-Faslem. Dari Hamburg, U-595 berlayar menyusuri sungai Elbe dan Kanal Kaiser-Wilhelm sampai ke Laut Baltik. Perjalanan pertama ini bukannya tanpa kendala, dan kapal selam tersebut beberapa kali membawa serta pilot Luftwaffe untuk membantu dalam masalah navigasi. Setelah tiba di Kiel, U-595 menjalani 14 hari ujicoba UAK, yang diantaranya adalah tes selam kedalaman, penggunaan kompas gyro, dan pengawasan suara kapal oleh UAG-Schall di Sonderburg, Denmark. Mikrofon bawah-air menangkap suara yang dikeluarkan oleh kapal selam tersebut, yang berlayar dalam kecepatan yang berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk membuat U-595 lebih sulit untuk dideteksi manakala dia sudah mulai bertugas


Foto ini diambil pada bulan Januari/Februari 1942 di salah satu pangkalan pelatihan U-boat di Teluk Danzig, dan memperlihatkan Obersteuermann Georg Schwarz sedang bertugas di depan menara pengawas U-595. Kita bisa melihat dengan jelas emblem "Frosch" (Kodok) dari U-595 yang didesain dan dicat oleh 1. Wachtoffizier (Perwira Pengawas Pertama) Leutnant zur See Friedrich Kaiser saat kapal selam tersebut masih menjalani serangkaian ujicoba di Agru-Front. Pada tanggal 14 November 1942, U-595 rusak berat setelah mendapat serangan bom Sekutu di lepas pantai Oran di Mediterania, sehingga pada akhirnya terpaksa ditenggelamkan oleh awaknya sendiri demi menghindari jatuh ke tangan musuh. Dua awaknya gugur, sementara sisanya menjadi tawanan perang


  Meskipun pelabuhan-pelabuhan di Prusia Timur dan Barat biasanya tetap aktif beroperasi di musim dingin yang membekukan karena cuaca mereka yang lebih hangat dibandingkan dengan wilayah Jerman lainnya, tapi musim dingin tahun 1941-42 memecahkan semua rekor terdingin yang pernah ada. Pada pertengahan bulan Januari 1942, udara beku Siberia mengalir melewati wilayah-wilayah bertekanan tinggi diatas Rusia dan Eropa Utara. Hanya dalam waktu semalam, temperatur di pelabuhan-pelabuhan Baltik Prusia Timur dan Barat langsung anjlok sampai 20 derajat celcius di bawah nol! Tanpa ampun, perairan pun langsung membeku dalam waktu singkat, dan menjebak semua kapal yang berlabuh disana, termasuk sekumpulan U-boat yang berada di pangkalan pelatihannya. Flotilla-flotilla U-boat di Danzig, Pillau dan Gotenhafen dipaksa untuk menghentikan pelatihan praktis di dalam kapal selam. Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen, mengabadikan keadaan sulit yang menimpa 22. U-Flottille di Gotenhafen-Oxhöft dengan menggunakan rol film berwarna Agfa. Foto-foto yang kemudian tercetak memperlihatkan kapal-kapal selam Kriegsmarine yang membeku di perairan es. Pada saat itu 22. U-Flottille memiliki 18 buah kapal latih: U-8, U-14, U-19, U-56, U-57, U-58, U-59, U-78, U-137, U-138, U-139, U-140, U-142, U-143, U-145, U-146, U-149, dan U-150 (semuanya berasal dari U-boat Tipe II, kecuali U-178 yang merupakan Tipe VIIC). ULD Kedua sendiri dibentuk pada bulan Juni 1940 dan memulai operasional pelatihannya di pangkalan Gotenhafen pada tanggal 1 November 1940. Komandan pertamanya adalah Fregattenkapitän Werner Hartmann yang berusia 39 tahun dan telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 Mei 1940 setelah dengan sukses menjadi Kapten U-37. Hartman berasal dari Kru 21 dan usia serta kesuksesan yang telah diraihnya membuat dia menjadi seorang komandan unit pelatihan yang ideal. Tapi ternyata peranan barunya hanya berumur pendek, dan pada bulan November 1941 dia menyerahkan tongkat komando kepada Fregattenkapitän der Reserve Ernst Hashagen. Komandan kedua ini bukanlah berasal dari generasi baru para kapten U-boat berpengalaman, melainkan veteran Perang Dunia Pertama yang pernah menjadi Kapten UB-21 dan U-62 dalam perang tersebut. Unit lain yang berada di bawah komando 2. ULD adalah 22. U-Flottille dibawah pimpinan Korvettenkapitän Wilhelm Ambrosius. Flotilla ini, yang bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan praktis, dibentuk pada bulan Januari 1940. 2. ULD bertanggungjawab terhadap masalah pelatihan dasar bagi awak U-boat serta kursus kepelatihan bagi para perwiranya. Para murid diajari mengenai masalah mesin, senjata dan torpedo di bangunan-bangunan khusus milik 2. ULD. Peraturan mensyaratkan bahwa pelatihan berlangsung selama 3-4 bulan, tapi bisa juga lebih singkat tergantung kondisi. Pada saat itu kebanyakan partisipannya tinggal di kapal-kapal penumpang milik 2. ULD yang mulai dipakai dari bulan November 1940. Kapal-kapal ini merupakan bekas kapal pesiar “Kraft durch Freude” (Kekuatan Lewat Kegembiraan) Wilhelm Gustloff, juga Hansa dan Oceana. Wilhelm Gustloff, yang sebelumnya dipakai untuk kepentingan militer sebagai kapal rumah sakit, kini menemukan tempat berlabuh permanen di Gotenhafen-Oxhöft. Setidaknya 1.000 orang anggota 2. ULD tinggal di kapal tersebut. Mayoritasnya merupakan peserta kursus, meskipun sebagian instruktur - golongan apa yang dinamakan sebagai "personil inti" - juga tinggal di kapal. Orang-orang U-boat ini makan sehari-hari di kapal, dan beberapa kegiatan penyegaran serta permainan diadakan demi menjaga agar kejenuhan tidak melanda (sebagai contoh, film dipertontonkan dua kali dalam sehari). Pada awalnya kapal-kapal ini menyediakan sendiri kebutuhan mereka akan tenaga, uap dan air, tapi dari sejak tahun 1943 sebuah pembangkit listrik tenaga uap disediakan di lepas pantai untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dimaksud bagi ketiga kapal tersebut. Sebagian besar "personil inti" yang sudah menikah memilih untuk tinggal bersama keluarga mereka di beberapa buah apartemen yang berada di Gotenhafen


Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Yang memakai skema kamuflase lima-warna di sebelah kiri adalah kapal pengawal U-boat "Erwin Wassner", sementara di sebelah kanannya adalah tiga buah U-boat latih Tipe II milik 22. U-Flottille yang terjebak di perairan beku tanpa sempat untuk menyelamatkan diri. Pengawal kapal selam tersebut mengawali karirnya di lautan sebagai "Gran Canaria" pada tanggal 21 Januari 1938, sebelum diambil alih hak kepemilikannya oleh Kriegsmarine di tahun yang sama. Setelah mendapat modifikasi yang diperlukan, pada tanggal 29 Maret 1939 dia operasional kembali dengan nama baru, "Erwin Wassner". Namanya sendiri diambil dari jagoan U-boat dalam Perang Dunia I yang juga adalah peraih Pour le Mérite, Erwin Wassner. Pada tahun 1930-an Wassner bertugas sebagai atase militer Jerman di London, dengan pangkat Konteradmiral, sebelum meninggal pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, F.d.U. (Führer der Unterseeboote) Karl Dönitz dan staff-nya memutuskan untuk menggunakan nama Erwin Wassner sebagai nama salah satu kapal komando Kriegsmarine, sampai dengan bulan November 1939 ketika staff operasi, yang telah direorganisasi ulang menjadi B.d.U. (Befehlshaber der Unterseeboote) di bulan Oktober sebelumnya, pindah markas ke Sengwarden yang terletak di dekat Wilhelmshaven. Kapitän zur See Hans-Georg von Friedeburg, Kepala Departemen B.d.U. yang bertanggungjawab terhadap masalah pasokan suplai bagi seluruh organisasi, menjadikan "Erwin Wassner" sebagai markas bergeraknya, termasuk saat kapal tersebut berlabuh di Gotenhafen-Oxhöft pada awal tahun 1942. Di malam tanggal 23-24 Juli 1944, "Erwin Wassner" ditenggelamkan oleh bom-bom pesawat Sekutu saat serangan udara malam yang dilancarkan oleh RAF Bomber Command di pelabuhan Kiel. Foto ini diambil oleh Kapitänleutnant (Ing.) Otto Elwert, seorang instruktur di 2. Unterseeboote-Lehrdivision (ULD, Divisi Pelatihan Kapal Selam Kedua) di Gotenhafen


 Suasana pangkalan 22. Unterseeboots-Flottille (22. U-Flottille) di teluk pelabuhan Gotenhafen-Oxhöft yang membeku akibat cuaca ekstrim di musim dingin tahun 1941-42. Kedua U-boat dari Tipe VIIC ini terjebak dalam perairan yang kini menjadi es. Karena pada saat foto ini diambil (awal tahun 1942), 22. U-Flottille hanya mempunyai satu buah kapal selam Tipe VIIC (U-178), maka kemungkinan besar kapal-kapal dalam foto ini adalah kapal baru yang sedang menjalani proses pengujian sebelum dinyatakan layak untuk operasional. Ketebalan pecahan es yang mengambang menunjukkan bahwa pada awalnya kapal-kapal yang terjebak dapat menembus melaluinya, hanya saja kemudian cuaca yang semakin membeku dalam waktu yang singkat membuat es-es tersebut berubah menjadi kumpulan solid yang tak terurai lagi


 Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan siluet para personil U-boat saat bertugas di “Brückenwache” (Pengawas Jembatan) ketika lautan sedang bergelora. Kondisi samudera semacam ini dapat memberikan ancaman tersendiri bagi para Pengawas Jembatan bila dia tidak memperhitungkan tinggi ombak yang datang. Pengawasan keadaan sekitar di ruang terbuka seperti ini adalah salah satu tugas awak U-boat yang paling penting. Memperhatikan empat penjuru mata angin bagaikan sebuah "tugas suci", dimana nasib dan kesuksesan kapal selam tergantung padanya. Kecerobohan dalam hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Pengawas Jembatan biasanya terdiri dari empat orang: satu perwira dan seorang lagi berdiri menghadap ke depan di menara pengawas, sementara satu bintara dan seorang lagi di belakang mereka. Dengan menggunakan teropong, setiap petugas jaga harus mengamati sektor bagian mereka yang telah ditentukan tanpa terhenti. Tiap lima menit sekali, masing-masing petugas harus memberikan laporan bahwa “Sektor ist frei melden” (sektor clear), bila memang begitu keadaannya. Peraturan melarang keras adanya percakapan antar petugas jaga. Laporan pengawasan harus dibuat dalam bahasa yang jelas dan tepat guna sambil menunjukkan jari ke arah yang dimaksud. Petugas jaga juga dilarang untuk merokok saat bertugas. Di wilayah dimana diperkirakan tak ada ancaman dari udara, awak U-boat lain diperbolehkan untuk ikut nongol di menara pengawas, sekedar untuk merokok, tapi tidak boleh lebih dari dua orang dalam sekaligus (di luar dari empat orang lain yang bertugas jaga). Di malam hari, merokok di menara pengawas sama sekali terlarang. Brückenwache diharapkan untuk lebih waspada lagi di wilayah-wilayah dimana potensi ancamannya sangat besar (Bay of Biscay dan Laut Utara), serta dalam situasi-situasi khusus. Termasuk diantara yang terakhir adalah saat kapal berhenti, senjata dek digunakan, berpapasan dengan kapal selam lain, serta dilamgsungkannya interogasi awak kapal musuh yang selamat. Pada saat-saat semacam ini, perhatian Brückenwache dengan mudah dapat teralihkan, sehingga berakibat pada terpecahnya konsentrasi. Bahaya serangan dadakan muncul terutama pada situasi tersebut. Karena efek cahaya matahari yang menyilaukan, para Petugas Jaga juga diwajibkan untuk mengenakan kacamata hitam ketika sang surya berada di kuadran mereka. Para petugas ini diganti setiap dua atau empat jam sekali, dengan interval masa pergantian tiap lima menit selama satu jam penuh. Hal ini untuk mencegah agar tidak terlalu banyak orang berada di menara pengawas saat tiba-tiba harus menyelam (crash dive), dan juga untuk memberi waktu bagi Petugas Jaga yang baru untuk beradaptasi dengan kegelapan atau cahaya. Khusus untuk malam hari, 15 menit sebelum waktu pergantian, Petugas Jaga baru terlebih dahulu memakai kacamata infra merah di bawah dek. Petugas Jaga lama hanya boleh pergi manakala yang menggantikannya sudah beradaptasi selama beberapa menit dengan lingkungan sekitarnya. Peraturan mensyaratkan bahwa Perwira Pengawas dan Petugas Jaga terbaik bekerja di waktu-waktu yang dianggap paling berbahaya. Penugasan Petugas Jaga sendiri merupakan kewenangan penuh dari kapten kapal. Saat laut bergelora dengan ombak tinggi mencapai menara pengawas, pekerjaan pengawasan semacam ini menjadi sebuah tugas yang menuntut kemampuan maksimal dari para awak U-boat. Bila angin, udara dingin, hujan atau kabut ikut hadir, maka orang-orang ini kadangkala sudah dalam keadaan lelah luar biasa saat tiba waktunya untuk diganti. Dalam kondisi alam yang tidak bersahabat tersebut, sang kapten biasanya memerintahkan para Petugas Jaga untuk memakai sabuk pengaman, yang dapat mencegah mereka terbawa ombak besar. Sabuk ini hanya bisa dilepas juga atas perintah kapten. Pintu keluar di menara pengawas selalu dalam keadaan tertutup apabila ombak sedang tinggi agar air tidak masuk ke dalam. Tanpa Brückenwache yang efisien, maka sebuah U-boat mempunyai kemungkinan yang kecil untuk selamat atau sukses dalam misinya


Foto berwarna ini diambil oleh Kriegsberichter Gerhard Garms pada tahun 1942, dan memperlihatkan saat “Brückenwache" (Pengawas Jembatan) sedang bekerja mengawasi kondisi sekitar tak lama setelah usainya badai lautan yang ganas. Mereka masih mengenakan jaket dan topi karet anti air yang merupakan perlengkapan wajib di saat kondisi laut sedang tidak bersahabat. Selain dari empat pengawas yang merupakan jumlah standar saat bertugas, terlihat pula seorang Obersteuermann (Kelasi Pertama) yang berada di balik periskop, sedang mempersiapkan alat sekstan (alat navigasi untuk menentukan sudut antara kapal dengan benda-benda lain, baik benda-benda di darat maupun benda angkasa) untuk keperluan “Sonne zu Schießen” (melihat matahari). Dia bertanggungjawab untuk keakuratan navigasi kapal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk melihat posisi matahari demi menentukan arah kapalnya. Hanya sang Obersteuermann dan Kapten Kapal yang boleh menuliskan posisi serta arah U-boat mereka menuju. Foto berwarna ini juga memperlihatkan detail menarik yang tidak mungkin didapatkan dari foto hitam-putih biasa: beragam warna berbeda dari jaket karet yang mereka kenakan, dari krem sampai ke hijau pucat dan hijau gelap


Pekerjaan pemeliharaan dan perawatan pada pada senjata 37mm anti pesawat udara yang terpasang di dek U-boat, yang dilakukan ditengah ganasnya ombak lautan, dengan jaket pelampung serta tambang keselamatan sebagai satu-satunya alat pengaman. U-boat Kriegsmarine dari Tipe I, VII, IX dan X memiliki senjata tambahan yang sangat kuat yang ditempatkan di dek atas. Setiap kapal memiliki satu buah senjata ini yang terpasang di depan menara komando dan, apabila ditangani oleh awak yang handal, mereka bisa memuntahkan 15-18 tembakan dalam satu menit. Senjata dek sering digunakan untuk menghabisi kapal yang rusak atau menenggelamkan kapal berukuran kecil. Awaknya rata-rata terdiri dari 3 s/d 5 orang, dan biasanya dikomandani oleh Perwira Pengawas Kedua (IIWO). Untuk dapat menggunakan senjata ini, maka U-boat harus muncul di permukaan, sehingga karenanya secara umum dia tidak difungsikan manakala terdeteksi adanya pesawat musuh di sekitar.Untuk mengangkut amunisinya, diperlukan rantai manusia (dengan tiga orang berada di dek) untuk membawa peluru dari ruang penyimpanan utama di bawah ruang kontrol sampai ke senjata di luar. Selongsong yang telah digunakan biasanya lalu dibawa kembali ke dalam. Sebagian U-boat dilengkapi dengan ruang penyimpanan amunisi kecil yang tahan air di dek agar dapat mulai menembak dengan segera manakala perintah telah diberikan. U-boat Tipe II untuk patroli pesisir pantai tidak dilengkapi dengan senjata dek. Pada tahun 1937 dibuat rancangan untuk U-boat penjelajah Tipe XI yang rencananya dipersenjatai dengan empat buah senjata dek kaliber 127mm di dua menara yang terpisah. Rancangan ini tidak pernah masuk dalam tahap produksi


  Foto hasil karya Walter Frentz ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL edisi bulan Februari 1943 untuk menyambut pengangkatan Panglima Kriegsmarine yang baru, Karl Dönitz (menggantikan Erich Raeder yang dianggap gagal memaksimalkan kemampuan Angkatan Laut Jerman dalam Perang Dunia II). Dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Adalbert Schnee (Geleitzugs-Asto, Admiralstabsoffizier beim Befehlshaber der Unterseeboote), Generaladmiral Karl Dönitz (Befehlshaber der Unterseeboote), dan Kapitän zur See Eberhard Godt (Chef der Operationsabteilung beim Befehlshaber der U-Boote). Mereka sedang mempelajari peta samudera yang terhampar di meja. Foto ini sendiri diambil di ruangan operasi U-boat di markas besar Kriegsmarine di Berlin (Marinehauptquartier Koralle)



Foto yang pertama kali dipublikasikan oleh majalah SIGNAL edisi bulan Mei 1943 dan kemungkinan besar diambil pada saat pelatihan ini memperlihatkan seorang awak U-boat sedang menyelam di dekat pintu keluar dengan menggunakan tauchretter  Tauchretter (alat penyelamat penyelam) adalah satu set peralatan bernafas yang memungkinkan pemakainya untuk dapat selamat untuk sementara waktu di lingkungan tanpa udara, terutama di bawah air. Alat ini pada awalnya dirancang supaya si pemakai dapat bernafas selama mungkin sampai dia mencapai tempat dimana udara telah tersedia. Kita dapat melihat contoh penggunaannya dalam film "Das Boot", "Haie und kleine Fische", dan "In Enemy Hands"

Sumber :
Buku "Kriegsmarine U-Boat Colours & Markings" karya Dougie Martindale
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 - 2007 
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.3 - 2008 
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.4 - 2008
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.5 - 2009
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.6 - 2010
www.uboat.net
www.ullsteinbild.de
www.ww2colorfarbe.blogspot.com