Sunday, November 7, 2010

Foto Hans-Joachim Marseille

Foto kelulusan Hans-Joachim Marseille tak lama setelah lulus dari sekolah tahun 1938. Sekolah pertamanya adalah 12. Volksschule Berlin (1926-1930), dilanjutkan dengan Prinz Heinrich Gymnasium di Berlin-Schöneberg (1930-1938). Pada awalnya dia digolongkan sebagai murid yang pemalas dan berkali-kali kena masalah karena sifatnya yang jahil. Dia juga dikenal sebagai anak pemberontak dan tak berdisiplin, sebuah karakter yang kelak berkali-kali membawanya pada masalah. Menjelang berakhirnya masa sekolahnya dia mulai bertanggungjawab dan mengikuti sekolahnya dengan lebih serius. Hasilnya? Dia meraih gelar Abitur-nya sebagai salah satu lulusan termuda (17 tahun 6 bulan) pada awal tahun 1938! Dari sana dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi "perwira penerbang"



Fähnrich Hans-Joachim Marseille (Flugzeugführer di I.Jagd/Lehrgeschwader 2) mencatatkan kemenangan udara ketujuhnya tanggal 28 September 1940 dalam Pertempuran Britania (sebuah Spitfire di selatan Inggris, pukul 10:30 pagi), tapi dia dipaksa untuk mendarat darurat dengan pesawat Messerschmitt Bf 109 E-7 (W.Nr. 4091) di dekat Théville karena masalah pada mesin. Foto oleh Kriegsberichter Röder dari KBK Lw 3

 
Oberfähnrich Hans-Joachim Marseille dari 4.Staffel / Jagdgeschwader 52 menunjukkan bekas lubang tembakan yang diterima oleh pesawatnya. Perhatikan ekspresi kegembiraannya, dan bayangkanlah bila manusia satu ini menganggap pertarungan hidup dan mati hanya sebagai kesenangan belaka!



General der Panzertruppe Erwin Rommel (Befehlshaber Panzergruppe "Afrika") bersiap-siap untuk menikmati rasanya terbang, saat dibantu duduk di jok penembak senapan mesin sebuah pesawat pembom tukik Junkers Ju 87B "Stuka" milik Hauptmann Kurt Kuhlmey (Staffelkapitän 1.Staffel / I.Gruppe / Sturzkampfgeschwader 1). Yang membantu sang jenderal bersiap-siap tidak lain adalah Leutnant Hans-Joachim Marseille (Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), yang nantinya menjelma menjadi pilot pemburu terbaik Jerman dalam kancah pertempuran di Afrika Utara. Foto ini diambil pada bulan November 1941, dalam kunjungan pertama Jenderal Rommel ke markas Jagdgeschwader 27 (JG 27). Dikisahkan bahwa Marseille dan Rommel saling bertukar cerita mengenai insiden yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, dimana pilot Australia Clive "Killer" Caldwell telah dengan sengaja menembak seorang pilot JG 27 yang sedang melayang dengan parasutnya. Kuhlmey, yang ikut hadir, juga menyatakan bahwa anakbuahnya turut menyaksikan insiden tersebut, sebuah hal yang dianggap sebagai perbuatan yang kontroversial di kancah peperangan Afrika Utara yang dikenal "bersih"


Dua orang awak darat Leutnant Hans-Joachim Marseille, Hoffmann (kiri) dan Berger, sedang membersihkan laras kanon pesawat komandannya, sebuah Messerschmitt Bf 109 "Gelbe 14" W.Nr. 8673 yang bisa kita lihat di latar belakang. Foto diambil di Martuba (Libya) tanggal 21 Februari 1942 oleh Kriegsberichter Opitz dari KBK Lw 7 dan pertama kali dipublikasikan tanggal 15 Maret 1942


Kanon depan pesawat Messerschmitt Bf 109F (Y14+) dari 3.Staffel / Jagdgeschwader 27 (JG 27) yang biasa dipiloti oleh Leutnant Hans-Joachim Marseille (Flugzeugführer 3./JG 27) sedang mendapat perbaikan dan pemeliharaan oleh mekanik Hoffmann di Martuba, Libya, tanggal 21 Februari 1942. Foto diambil oleh Kriegsberichter Opitz dari KBK Lw 7 dan pertama kali dipublikasikan tanggal 15 Maret 1942


Leutnant Hans-Joachim Marseille (Flugzeugführer 3./JG 27) dengan bangga berpose bersama salah satu pesawat Sekutu yang ditembak jatuhnya, sebuah Hurricane MK IIB berbaling-baling kayu dari Skuadron RAF no. 274, bulan Februari 1942. Dia juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama salah seorang warga Arab lokal. Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Oppitz dari KBK Lw 7 dan pertama kali dipublikasikan tanggal 31 Maret 1942


 Hans-Joachim Marseille dengan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang diraihnya tanggal 22 Februari 1942 sebagai Leutnant dan Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) setelah berhasil meraih 46 kemenangan udara (yang ke-45 dan 46 dicetaknya tanggal 13 Februari 1942 pukul 9 pagi yang merupakan pesawat Hurricane dari No. 1 Squadron SAAF dan No. 274 Squadron RAF). Untuk memperbaiki kemampuannya, Marseille berlatih keras setiap hari demi menguatkan kakinya serta otot perutnya. Untuk membantu tubuhnya mentoleransi "G forces" (kekuatan gravitasi) dalam pertempuran udara, dia juga minum susu dalam dosis yang lebih besar dari pilot lainnya serta membiasakan diri memakai kacamata hitam demi mencegahnya terpapar langsung sinar matahari sehingga bisa tetap mempertajam penglihatannya


Leutnant Hans-Joachim Marseille
(Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27) sedang menggambarkan dogfight (pertarungan udara) yang baru saja dialaminya kepada Hauptmann Gerhard Homuth (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27). Foto oleh Kriegsberichter Oppitz. Homuth adalah seorang didikan militer Prusia yang keras dan pada mulanya tidak menyukai anak buahnya (Marseille) yang seenaknya dan tidak bisa diatur. Untunglah Marseille kemudian membuktikan kemampuannya dan menjadi bintang di langit Afrika. Homuth sendiri mempunyai catatan 63 kemenangan udara, dengan 47 diraihnya di Afrika. Dia secara resmi dinyatakan hilang setelah dogfight tanggal 2 Agustus 1943 melawan pesawat P-39 Airacobra 

 

Acara sulap tengah gurun yang disajikan untuk menghibur para anggota I.Gruppe / Jagdgeschwader 27, musim semi 1942. Dari kiri ke kanan: Leutnant Hans-Joachim "Jochen" Marseille (Flugzeugführer di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), Leutnant Werner Schroer (Adjutant I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), Leutnant Hans-Arnold "Fiffi" Stahlschmidt (Flugzeugführer di 2.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), dan Leutnant Karl Kugelbauer (Flieger di 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27). Tiga pertama adalah para jagoan udara paling terkemuka JG 27, sementara Kugelbauer adalah wingman Marseille saat itu 


 Oberleutnant Hans-Joachim Marseille dalam sebuah pose formil di studio foto Heinrich Hoffmann bertanggal 28 Juni 1942 tak lama setelah dianugerahi Schwertern zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #12 (18 Juni 1942) sebagai Staffelkapitän 3./JG 27. Dia meraih medali tersebut setelah mencetak 101 kemenangan udara, dan medalinya dikalungkan langsung oleh Adolf Hitler di Führerhauptquartier Wolfsschanze. Reichsmarschall Hermann Göring kemudian menyusul memberikan Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachter-Abzeichen in Gold mit Brillanten (combined Pilot/Observers Badge in Gold with Diamonds) serta sebuah cincin emas khusus berhiaskan batu lopis


Oberleutnant Hans-Joachim Marseille, Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika", berpose di studio foto Heinrich Hoffmann di hari dia dianugerahi medali bergengsi Schwerter zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #12 dari tangan Adolf Hitler tanggal 28 Juni 1942. Pada tanggal 3 Juni dia mencetak kemenangan udaranya yang ke-75, dilanjutkan dengan kemenangan ke-101 tanggal 17 Juni, yang secara resmi mentahbiskan dia sebagai pilot paling efisien di Front Barat/Mediterania dan membuatnya dianugerahi Eichenlaub tanggal 6 Juni 1942 dan Schwerter tanggal 18 Juni, hanya berselang beberapa hari kemudian! Tak ada keraguan bahwa dia adalah pilot terbaik yang dipunyai Jerman di saat itu, juga yang paling terkenal dan paling banyak fans karena memegang rekor sebagai pencetak kemenangan terbanyak melawan pesawat-pesawat Inggris/Sekutu. Marseille digambarkan oleh Adolf Galland, pilot jagoan paling senior, sebagai "Virtuoso tak tertandingi di antara semua pilot pemburu dalam Perang Dunia II. Apa yang dihasilkannya dianggap oleh banyak orang sebagai sesuatu yang mustahil di saat itu!" BTW, tidak ada foto dia mengenakan Brillanten (walaupun dia adalah peraihnya!) karena dia tidak sempat menghadiri upacara penganugerahannya... ajal telah terlebih dahulu menghampirinya


Hans-Joachim Marseille buru-buru naik pesawatnya setelah ada alarm kedatangan musuh (diambil dari majalah SIGNAL)


Oberleutnant Hans-Joachim Marseille (158 kills, KIA 30 September 1942) dari 3.Staffel/Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika" di kokpit pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4Z/Trop "Gelbe 14+" setelah mencatatkan kemenangan udaranya yang ke-69, sebuah P-40 "Kittyhawk" Mk IA dari No. 112 Squadron RAF, 20km dari El-Cheimar, Timimi, Libya, tanggal 1 Juni 1942


Ucapan selamat buat Hans-Joachim Marseille dari kaczmarek (wingman) andalannya, Unteroffizier Rainer Pöttgen. Pöttgen bertugas di 3/JG27 setidaknya dari 1 Juni 1942 sampai dengan 1 Oktober 1943. Meskipun tugas utamanya adalah sebagai pelindung pilot utama dari sergapan musuh, tapi Pöttgen tercatat pernah menembak jatuh pesawat lawan juga, dengan salah satu yang tercatat adalah pada tanggal 4 Februari 1944 saat dia bertugas di 1/Jagdlehrerüberprüfungsgruppe. Dia selamat sampai peperangan usai dengan skor kemenangan udara berjumlah 7 buah


Para pilot dari Staffel ke-3 Jagdgeschwader 27. Dari kiri ke kanan: Oberfähnrich Karl Kugelbauer, Tidak diketahui, Oberfeldwebel Karl Mentnich, Unteroffizier Rainer Pöttgen, Unteroffizier Eberhard Pfeffer, dan Hans-Joachim Marseille


Para pilot dari Staffel ke-3 Jagdgeschwader 27. Dari kiri ke kanan: Tidak diketahui, Oberfeldwebel Karl Mentnich, Unteroffizier Eberhard Pfeffer, Unteroffizier Rainer Pöttgen, dan Hans-Joachim Marseille


tukang cat JG 27 sedang bersiap-siap menggambar baris kemenangan baru. Sebentar lagi Hans-Joachim Marseille mendarat dengan pesawatnya, dan sudah ada konfirmasi akan kemenangan terbaru yang diraihnya!


Tukang cat JG 27 menggambar baris kemenangan ke-50 untuk pesawat Hans-Joachim Marseille. Wajah Marseille sendiri bisa kita lihat berada di tengah menghadap kamera


Pesawat Messerschmitt Bf 109F "Yellow 14" milik Hans-Joachim Marseille sedang mendapat 'sentuhan' seni dari tukang cat Staffel 3/JG 27, yaitu baris kemenangan ke-50, tak lama setelah dia mendarat dari misi yang berakhir sukses (setidaknya bagi dia!)


Hans-Joachim Marseille ngadu huntu dengan para "orang hitam" tentang kemenangan udara ke-50 yang baru saja diraihnya. Awak darat dinamakan seperti itu karena pakaian terusan berwarna hitam yang mereka kenakan

Pesawat Hans-Joachim Marseille sedang diperiksa sebelum berangkat melaksanakan misi


Hans-Joachim Marseille (tengah) bersama dengan wingman-nya Rainer Pöttgen (kiri) dan awak darat lainnya


Hans-Joachim Marseille bersama dengan pesawat Messerschmitt Bf 109F "Yellow 14" andalannya. Dengan pesawat ini dia telah mengobrak-abrik langit Afrika dan membuat ketakutan pilot-pilot Sekutu. Begitu amit-amitnya pengaruh Marseille, sampai-sampai musuh mengeluarkan maklumat yang isinya mewanti-wanti agar jangan pernah mereka menghadapi dia sendirian, dan minimal harus main keroyokan!


Penganugerahan Deutsches Kreuz in Gold untuk Hans-Joachim Marseille tanggal 24 November 1941 yang disematkan oleh komandan Jagdgeschwader 27 Hauptmann Eduard "Edu" Neumann dengan disaksikan oleh General der Flieger Hans Geisler (tengah). Marseille tercatat sebagai pilot front Afrika pertama yang dianugerahi medali yang menjembatani Eisernes Kreuz dengan Ritterkreuz ini, dan dia menerimanya hanya 14 hari setelah medali ini diperkenalkan!


Hans-Joachim Marseille bersiap-siap untuk melaksanakan misi selanjutnya. Para kru darat sibuk membantunya


Hans-Joachim Marseille bersama dengan rekan Luftwaffe. Entahlah topi macam apa yang dikenakannya, yang tampak seperti topi rajutan atau topi tradisional Arab Baduy di Afrika Utara!


Hans-Joachim Marseille bersiap-siap untuk misi selanjutnya
Foto langka dari sang jagoan udara yang memperlihatkan saat dia menikmati siesta (tidur siang) tak lama setelah menjalani pertempuran berat di udara


Hans-Joachim Marseille menerangkan sebuah dogfight (pertempuran udara) kepada salah seorang kameradnya


Generalfeldmarschall Albert Kesselring (kedua dari kanan) menyambut Hans-Joachim Marseille. Di tengah adalah Hauptmann Eduard "Edu" Neumann, sementara Hans-Arnold Stahlschmidt berdiri di paling kiri. Hauptmann Erich Gerlitz berada di depan


Generalfeldmarschall Albert Kesselring berbicara kepada para pilot dari I./JG27. Hans-Joachim Marseille berdiri keenam dari kiri


Hans-Joachim Marseille di atas pesawat andalannya, tak lama setelah pulang dari sebuah misi yang berjalan sukses Hans-Joachim Marseille berdiri di depan pintu pos komando Jagdgeschwader 27 setelah dianugerahi Ritterkreuz. Surat singkat yang dikirimkan kepada ibu tercintanya tak lama setelah penganugerahan ini cukup singkat dan diakhiri dengan kalimat sederhana yang menggambarkan perasaannya saat itu: "sangat bangga"


Si tampan Hans-Joachim Marseille (disini berpangkat Leutnant) dengan medali Ritterkreuz dan Deutsches Kreuz in Gold. Perhatikan betapa peletakan DKiG-nya terlihat sedikit "tidak biasa", yaitu di bawah saku dada. Perhatikan pula topinya yang masih berwarna biru Luftwaffe dan bukannya warna tropis, dan juga seragamnya yang tanpa dilengkapi Hoheitszeichen. Selenge'an banget emang odong-odong satu ini, tidak terlalu peduli pada aturan apapun(baik militer maupun seragam), dan lebih memilih membuktikan diri kepada orang-orang dengan bakat dahsyatnya di bidang dogfight!


Hans-Joachim Marseille


Baru saja kembali dari pertempuran yang berat, Hans-Joachim Marseille langsung menikmati sebatang rokok sambil tersenyum meskipun dengan wajah yang masih tak lepas dari ketegangan dan keringat tampak jelas mengucur deras!


Hans-Joachim Marseille bersama dengan rekan-rekan staffel-nya


Hans-Joachim Marseille (kiri) besama dengan Rainer Pöttgen, wingman yang telah berkali-kali menyelamatkannya dari maut, baik di udara maupun di darat. Seorang wingman (istilah Jermannya: Kaczmarek) adalah pilot tempur yang fokusnya tidaklah memburu musuh tapi melindungi pilot utamanya, dan Marseille beruntung memiliki wingman-wingman yang dapat diandalkan seperti Kugelbauer dan kemudian Pöttgen


Hans-Joachim Marseille melaporkan misi yang baru saja dijalaninya kepada komandannya, Eduard "Edu" Neumann, komandan Jagdgeschwader 27, musim panas 1942


Gruppenkomandeur Eduard Neumann (kiri) sedang berbincang-bincang bersama dengan Hans-Joachim Marseille (tengah) dan seorang pilot Italia


Hans-Joachim Marseille meninggalkan tendanya untuk melaksanakan misi selanjutnya. Perhatikan wajahnya yang selalu ceria dan penuh percaya diri!


Hans-Joachim Marseille dengan ekspresi rileks dan tersenyum

Hans-Joachim Marseille (kiri) bersama dengan sesama pilot JG 27 yang juga adalah sahabat dekatnya, Hans-Arnold "Fifi" Stahlschmidt. Stahlschmidt mempunyai catatan 59 kemenangan udara, dan dia terbunuh dalam dogfight tanggal 7 September 1942. Kematiannya membuat Marseille luar biasa berduka, dan mencari pelipur lara dengan jalan... menghancurkan pesawat Sekutu sebanyak-banyaknya!
Hans-Joachim Marseille di medan berpasir Afrika Utara


Kübelwagen milik Hans-Joachim Marseille yang diberi nama OTTO (bukan nama produsen obat!). Otto sendiri diambil dari bahasa Italia yang berarti "8", dan diberi nama tak lama setelah Marseille berhasil menembak jatuh 8 pesawat musuh dalam 10 menit tanggal 1 September 1942! Di hari itu juga tercatat sebagai hari terdahsyat dalam karir sang pilot, dimana sepanjang hari dia berseliweran kesana kemari dan menghantam tidak kurang dari 17 pesawat Inggris! Atas pencapaian yang amit-amit luar biasanya ini, dia mendapat hadiah sebuah Volkswagen Kübelwagen tipe 82 oleh skuadron Regia Aeronautica Italia, dan seorang tentara Italia telah berbaik hati mencat mobil gres tersebut dengan tulisan ONTA eh OTTO. Prestasi Marseille sendiri tercatat dalam buku resep masakan Nusantara sebagai rekor pesawat Sekutu yang paling banyak ditembak jatuh oleh satu pilot dalam satu hari. Hanya satu orang yang yang berhasil melampaui pencapaian ini, dan itu dilakukan oleh Emil "Bully" Lang tanggal 4 November 1943 yang mencatatkan 18 kemenangan udara melawan pesawat-pesawat Angkatan Udara Uni Soviet


Hans-Joachim Marseille berpose di atas mobil "Otto" miliknya saat acara perburuan gazelle di tengah vakumnya pertempuran


Hans-Joachim Marseille dengan para pengagumnya



Hans-Joachim Marseille sedang memperhatikan sebuah tiang dengan beragam iklan "barat". Disini kita bisa melihat tandatangan dari sang jagoan udara Afrika yang dibuat dengan menggunakan pensil


Oberleutnant Hans-Joachim Marseille di atas pesawat Messerschmitt Bf 109F andalannya


Foto lain dari pesawat yang sama yang memperlihatkan 69 baris kemenangan di sayap ekornya


Dalam foto bertanggal 21 Juni 1942 keluaran Bundesarchiv ini diterangkan bahwa cowok pemegang medali Eichenlaub di kiri adalah Hans-Joachim marseille dengan Kübelwagen miliknya ("Otto") dan seorang Feldwebel bernama Maximilian Volke (jagoan udara dengan 37 kemenangan). Saya berkeyakinan bahwa telah terjadi salah identifikasi disini, dan menurut saya si Eichenlaubträger bukanlah Marseille melainkan jagoan udara Afrika yang lain, Ernst-Wilhelm Reinert (174 kemenangan)! Satu lagi, tanggal di Bundesarchiv tersebut salah besar, karena aslinya foto ini diambil tahun 1943 di Tunisia



Hans-Joachim Marseille dalam kunjungannya ke markas pilot-pilot Italia. Para anak buah Mussolini tersebut sedang memperlihatkan sebuah pesawat jenis baru tak lama setelah penerbangan uji coba


Sebaliknya, Hans-Joachim Marseille juga kadang-kadang mendapat kunjungan dari rekan-rekan Italianya




Hans-Joachim Marseille bersama pembantu pribadi sekaligus sahabat dekatnya, mantan tawanan perang dari Afrika Selatan, Matthew (Matthias) P. Letuku


Hans-Joachim Marseille di atas kokpit pesawatnya, mendapat ucapan selamat dari para kru
 
Hans-Joachim Marseille dalam perjalanan ke Rastenburg untuk menerima medali Eichenlaub dari tangan Sang Führer Adolf Hitler


Hans-Joachim Marseille menerima medali Schwerter langsung dari tangan Hitler bulan Juli 1942

 Jagoan Luftwaffe Oberleutnant Hans-Joachim Marseille (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27) setelah dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwerters, sedang berkisah tentang perkembangan peperangan di Afrika bersama dengan sekumpulan anggota Hitlerjugend Flieger Berlin, 24 Juli 1942. Foto ini diambil dalam masa cuti Marseille di Jerman (19 Juni 1942 - 21 Agustus 1942). Dia sendiri adalah mantan anggota Hitlerjugend di masa ABG-nya!


Hans-Joachim Marseille dalam kunjungan ke pabrik pesawat Messerschmitt di Augsburg bulan Juli 1942 saat dia mengambil cuti pulang ke Jerman. Disini dia bersama dengan Komite Penyambutan

 Hans-Joachim Marseille dalam kunjungan ke pabrik pesawat Messerschmitt di Augsburg bulan Juli 1942. Dari kiri ke kanan: Flugkapitän Fritz Wendel (pilot penguji pesawat Messerschmitt), Oberleutnant Josef Pöhs (5./JG 27), dan Marseille


Hans-Joachim Marseille dengan sang perancang pesawat terkemuka Jerman, Willy Messerschmitt (kiri)


Hans-Joachim Marseille dalam kunjungan ke pabrik pesawat Messerschmitt di Augsburg bulan Juli 1942 saat dia mengambil cuti pulang ke Jerman


Hans-Joachim Marseille dalam kunjungan ke pabrik pesawat Messerschmitt bulan Juli 1942. Dia sedang mengencangkan ikatan syalnya sebelum mencoba pesawat terbaru keluaran Messerschmitt


Hans-Joachim Marseille dalam kunjungan ke pabrik pesawat Messerschmitt bulan Juli 1942. Dia sedang memperhatikan terbangnya pesawat terbaru Messerschmitt dengan ditemani oleh pilot tes Messerschmitt, Fritz Wendel


Oberleutnant Hans-Joachim Marseille bersama dengan sang ibu tercinta, Frau (nyonya) Charlotte. Dari tatapan mata ibunya kita tahu bahwa itu adalah perpaduan rasa sayang dan bangga!


Hans-Joachim Marseille bermain tenis dengan tunangannya, Hanneliese Küppers


Hans-Joachim Marseille sekembalinya ke Afrika. Dengan bangga memamerkan medali Schwerter yang telah dengan susah-payah diraihnya!


Ekor pesawat Hans-Joachim Marseille yang memasang 136 Abschußbalken (baris kemenangan) tak lama setelah dia menerima Schwerter


Hans-Joachim Marseille (kanan) bersama rekan pilot lainnya. Perhatikan mobil Staff Ford hasil rampasan dari Sekutu di latar belakang yang dilukis tokoh kartun!Hans-Joachim Marseille bersama dengan Gerhard Homuth
Hans-Joachim Marseille dalam pemberitaan masa perang



Hans-Joachim 'Jochen' Marseille mendapat kehormatan difoto oleh fotografer pribadi Hitler, Heinrich Hoffmann, tak lama setelah menerima Pedang (Schwerter atau Swords)

 Foto-foto lain Hans-Joachim Marseille mengenakan Schwerter



Oberleutnant Hans-Joachim Marseille berfoto dengan pesawat barunya, dengan tanda yang berbeda dari sebelumnya dalam hal bentuk nomor taktis dan garis hitam di sekelilingnya, juga logo Gruppe di penutup mesin dan warna sandbraun RLM 79 di seluruh badan pesawat


Hans-Joachim Marseille (kanan) bersama dengan rekannya sesama pilot. Buku "German Fighter Ace Hans-Joachim Marseille: The Life Story of the Star of Africa" karya Franz Kurowski menyebutkan namanya sebagai Hauptmann (Karl-Wolfgang) Redlich, tapi saya yakin banget bahwa dia adalah Gustav Rödel!


Hans-Joachim Marseille bersama dengan rekan-rekannya di depan markas Rommel


Pada tanggal 16 September 1942, Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") melakukan kunjungan ke markas Jagdgeschwader 27 (JG 27) "Afrika", satu-satunya unit pemburu Luftwaffe yang beroperasi di medan perang Afrika Utara. Disana dia bertemu dengan Oberleutnant Hans-Joachim Marseille (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27), jagoan udara tak tertandingi di Afrika yang kemunculannya selalu membawa petaka pada pesawat-pesawat terbang Sekutu (puncak prestasi Marseille dibukukan pada tanggal 1 September 1942 saat dia menembak jatuh 17 pesawat Inggris hanya dalam tempo satu hari!). Sayangnya, hanya berselang dua minggu setelah pertemuan ini - tepatnya pada tanggal 30 September 1942 - Marseille terbunuh saat pesawatnya mengalami kerusakan mesin di udara. Pada saat kematiannya, sang pilot yang terkenal kegantengannya ini sudah mengemas 158 kemenangan udara terkonfirmasi, yang semuanya dibukukannya saat melawan pilot-pilot Sekutu Barat yang berpengalaman (dibandingkan dengan pilot-pilot Rusia). Rekor kemenangannya di "Front Barat" ini tak pernah terlampaui sampai dengan perang berakhir!


Hans-Joachim Marseille setelah kemenangan udara ke-158 yang sekaligus merupakan kemenangan terakhirnya



Hauptmann Hans-Joachim Marseille (Staffelkapitän 3.Staffel / I.Gruppe / Jagdgeschwader 27) di sore terakhir dalam kehidupannya, sedang mengetik tugas adminitrasi di tenda yang didirikan di Sayet El Qutaifiya, Mesir. Keesokan siangnya dia meninggal dalam sebuah kecelakaan udara, 7km sebelah selatan Sidi Abd El-Rahman. Bisa dipastikan ini adalah foto terakhir dirinya! Foto ini sendiri diambil tanggal 29 September 1942 oleh Kriegsberichter Dettmann dari KBK Lw 7



Tubuh tak bernyawa Hans-Joachim Marseille, 30 September 1942


Lokasi jatuhnya pesawat Hans-Joachim Marseille

Lokasi tempat jatuhnya Hans-Joachim Marseille dari angkasa. Disini sedang dilakukan upacara penjagaan oleh pasukan Jerman dan sekutunya Italia


Penjaga kehormatan juga ditempatkan di tenda yang menaungi peti jenazahnya. Tak lama setelah dibawa dari lokasi jatuhnya, segala identifikasi dan medali yang menempel di tubuh sang maestro udara dicopot dan jenazahnya kemudian dimasukkan ke dalam peti yang ditutupi bendera swastika


Upacara pemakaman Hans-Joachim Marseille di Derna. Kehilangan sang 'Bintang Afrika' ini membawa pengaruh begitu besar terhadap moral para pilot Jerman di Afrika sehingga tak lama kemudian mereka direlokasikan ke tempat lain!
Generalfeldmarschall Albert Kesselring memberikan eulogi terakhir sebelum peti jenazah Hans-Joachim Marseille diturunkan ke liang lahat
Upacara pemakaman Hans-Joachim Marseille. Seorang prajurit Luftwaffe membawa ordenskissen (bantal berisi medali dan penghargaan) milik Marseille. Tidak disebutkan siapa dia, tapi kok wajahnya mirip-mirip Rainer Pöttgen (mantan wingman Marseille) ya? Dalam ordenskissen ini, kita bisa melihat medali-medali sebagai berikut: Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwerter und Brillanten; Eisernes Kreuzes (I dan II klasse); Deutsches Kreuz in Gold; Nahkampfspange der Luftwaffe; Flugzeugführerabzeichen; dan Brevetto di Pilota Italia


Kuburan Marseille di Pemakaman Derna


Sertifikat kematian Hans-Joachim Marseille

Hans-Joachim Marseille telah menjadi seorang pahlawan yang terkenal bagi rakyat Jerman dan menjadi sampul majalah 'Die Wehrmacht' terbitan 28 Oktober 1942, tak lama setelah kematiannya yang tragisTanda tangan Hans-Joachim Marseille



Pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4 Trop W.Nr. 8673-3 yang membawa dia pada kematiannya. Digambar oleh Herbert Ringlstetter



Tugu peringatan berbentuk piramid di tempat jatuhnya Hans-Joachim Marseille di Sidi Abdel Rahman, Mesir
Batu peringatan untuk Hans-Joachim Marseille dan kedua orangtuanya di kompleks pekuburan Berlin
Para mantan anggota JG 27 dan organisasi Persaudaraan Pilot Tempur menghadiri upacara peresmian monumen piramid untuk menghormati Hans-Joachim Marseille di El Alamein, Mesir, tanggal 21 Oktober 1989. Di acara ini hadir mantan komandan Marseille, Oberst (purnawirawan) Eduard "Edu" Neumann

-------------------------------------------------------------------


-------------------------------------------------------------------


Ekor pesawat Hans-Joachim Marseille dengan 158 bar kemenangan


Miniatur pesawat Messerschmitt Bf 109F milik Hans-Joachim Marseille


"Der Stern von Afrika" (Bintang Afrika) sedang beraksi!


Miniatur Hans-Joachim Marseille


Sketsa Hans-Joachim Marseille


"Der Stern von Afrika", Film Jerman buatan tahun 1957 tentang kisah kehidupan Hans-Joachim Marseille yang telah dibumbui dengan sedikit fiksi


Untuk biografi lengkap Hans-Joachim Marseille bisa dilihat DISINI


Saturday, November 6, 2010

Daftar 2 Orang Admiralstabsintendant Kriegsmarine (Laksamana Wakil Staff Angkatan Laut Nazi Jerman)

Fritz Burmeister (21 Juni 1884 - 11 Juli 1956)
Admiralstabsintendant (1 Mei 1944)
Marinegeneralstabsintendant (11 November 1942)
Medali tertinggi : Kriegsverdienstkreuz mit Schwertern


Fritz Nobe (24 Oktober 1880 - 2 Mei 1945)
Admiralstabsintendant (1 Mei 1944)
Generalstabsintendant der Marine (14 November 1942)
Medali tertinggi : ?


Sumber :
Foto koleksi pribadi Gareth Collins
www.reocities.com

Thursday, November 4, 2010

Daftar 1 Orang Admiralstabsrichter Kriegsmarine (Laksamana Pengadil Angkatan Laut Nazi Jerman)

Dr.jur. Joachim Rudolphi (26 Agustus 1898 - 2 Februari 1990)
Admiralstabsrichter (1 Mei 1944)
persönlicher Rang eines Amtsgruppenchefs (16 Juli 1943)
Ministerialdirektor (20 April 1943)
Medali tertinggi: ?


Sumber :
Foto koleksi pribadi Gareth Collins
www.geocities.com

Tuesday, November 2, 2010

Profil Seragam Wehrmacht dan Partai Nazi

Hauptmann Heer dengan seragam buatan penjahit khusus yang kinclong dan "extramütze". Hal ini bukanlah sesuatu yang tidak biasa, karena banyak perwira Jerman yang membeli seragam dan topi buatan tailor yang lebih mahal sebagai selingan dari seragam standar yang dibagikan Wehrmacht. Extramütze (topi visor berbingkai yang dibeli pribadi) yang dikenakannya mempunyai lambang yang terbuat dari alumunium bukannya besi cetak biasa. Seragam model M36 yang melekat di badannya terbuat dari bahan wool "trikot" kelas pertama yang lebih nyaman dipakai dibandingkan dengan bahan wool flannel standar. Dia juga memakai Kragenspiegel putih di kerahnya yang dapat dicopot dan dipasang kembali. Medali dengan lambang Swastika besar di kerahnya adalah Deutsches Kreuz in Gold yang diberikan untuk menghargai keberanian di depan musuh dan dibuat untuk "menjembatani" gap besar antara medali Eisernes Kreuz I klasse (yang dia pakai di saku kirinya) dan Ritterkreuz (yang tergantung di lehernya)


Hauptmann Heer dengan seragam tugas M36 standar yang dibagikan Wehrmacht. Pernahkah anda perhatikan betapa elegan dan bergayanya seragam-seragam keluaran Nazi Jerman? Wajar saja, karena Wehrmacht menggunakan jasa perancang baju plus ahli pakaian untuk merancang seragam terbaik buat para prajurit mereka! Seragam yang nantinya keluar haruslah mampu menginspirasi dan mengagumkan, menciptakan kesan seorang pejuang Arya yang tetap gagah walaupun, misalnya, sedang berak di MCK! Untuk lebih memperkuat keperwiraan tersebut, sang desainer menempatkan ikat pinggang di tempat yang lebih tinggi dari biasanya demi menampilkan kesan kaki si pemakai terlihat lebih panjang dari biasanya sehingga otomatis "mendongkrak" tinggi badannya!


Hauptmann Heer dari Divisi Großdeutschland dengan pita lengan model awal dan tulisan GD berwarna emas di tanda pangkat bahunya. Strap model Y berbahan kulit yang melingkar di badannya adalah model awal juga. Di pertengahan sampai akhir perang, bahannya diganti dengan kanvas (yang sebelumnya dipakai oleh pasukan yang ditempatkan di wilayah beriklim tropis) semata karena biaya pembuatannya lebih murah. Medali yang "tersangkut' di seragamnya adalah General Assault Badge, Eiserne Kreuz II klasse (pita), Eiserne Kreuz I klasse, dan Ritterkreuz. Untuk baris pita medalinya adalah War Merit Cross First Class with swords dan 4 year Wehrmacht Long Service medal


Hauptmann Heer (di akhir perang). "Feldbluse" berkantong empat yang dikenakannya terbuat dari bahan yang lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan masa-masa awal, sehingga membutuhkan lubang kancing tambahan demi membuatnya tak gampang terlepas. Perhatikan bahwa Stahlhelm M40-nya tidak mempunyai lambang tiga-warna dan rajawali Heer seperti helm model awal, dan juga telah dilapisi oleh zimmerit (berbentuk seperti semen dan biasanya dipakai untuk membuat ranjau bermagnet tidak menempel di panzer atau kendaraan lainnya). Lah, terus kenapa jadi dipakai di helm? Banyak prajurit infanteri yang "meminjam" zimmerit dari kompatriotnya di Panzertruppen untuk mengurangi tampilan warna baja asli mereka yang kurang "kinclong". Prajurit ini membawa MP40 submachine gun dengan pegangan yang bisa dilipat. Prajurit Sekutu sering salah menyangka senjata ini sebagai "Schmeisser", dan kesalahan ini terus mengemuka walaupun Hugo Schmeisser (perancang terkenal yang membuat Bergmann MP-18 submachine gun di Perang Dunia I) tidak terlibat sama sekali dalam perancangan MP40! Kita lihat pita lengannya telah menampilkan tulisan yang lebih sederhana dibaca, dan merupakan versi yang dipakai dari tahun 1940 sampai dengan seterusnya. Dia telah menutupi tanda pangkat bahunya yang gemerlap emas dengan bungkus berbahan wool demi membuat dirinya tidak menjadi sasaran empuk sniper lawan yang memang umum mengincar para perwira


Hauptmann DAK (Deutsche Afrikakorps) dengan seragam tropis berbahan katun yang dilengkapi dengan lima buah kancing dan lapisan khusus tambahan untuk membantu bertahan di tengah tugas di padang pasir yang berat. Stahlhelm (helm besi) yang dikenakannya merupakan model M40. Secara kasat mata, helm jenis ini hampir tidak ada bedanya dengan versi M35 sebelumnya, hanya saja lubang ventilasi di pinggir telah terintegrasi dengan helm dan bukannya ditambahkan. Senjata yang terletak di pangkuannya adalah senapan mesin ringan MG42, yang dikenal oleh prajurit Sekutu dengan nama senjata "sendawa" karena karakteristik suara yang dikeluarkannya saat memuntahkan 1.200 sampai 1.500 round permenit. Senapan mesin ini juga menginspirasi GPMG M60 yang dipakai Amerika dalam Perang Vietnam. Afrikakorps memakai dua buah model cufftitle (pita lengan). Konon katanya versi kedua (yang tampak dalam foto di atas) dirancang langsung oleh Adolf Hitler dengan tulisan AFRIKA model tulisan sederhana yang dilingkungi oleh dua buah gambar pohon toge eh kurma. Gambar (decal) yang terpasang di helmnya juga terdiri dari dua buah


Hauptmann DAK (Deutsche Afrikakorps) dengan seragam tropis dilengkapi topi lapangan M40 plus syal. Banyak prajurit Afrikakorps yang lebih memilih untuk memakai topi lapangan M40 setiap ada kesempatan sebagai alternatif dari helm besi berat yang akan berubah menjadi "penggorengan" saat terik matahari panas menyengat. Syal yang dibeli dari penduduk lokal juga lebih praktis dibandingkan dengan harus memakai dasi dan seragam sesuai regulasi. Para prajurit Axis yang ikut berpartisipasi dalam kerjasama Jerman-Italia di front Afrika berhak memakai medali kehormatan Italo-German Campaign (di saku kiri). Di atas tiga baris pita medalinya terpasang pula Nahkampfspange in Gold, sementara di bawahnya adalah Eiserne Kreuz I klasse dan Infanterie-Sturmabzeichen. Jangan lupakan pula pita Eiserne Kreuz II klasse yang "nyangsang" di belahan seragamnya


Hauptmann Luftwaffe. Biasanya perwira Luftwaffe mengenakan kemeja putih atau biru di dalam seragam luar yang berwarna abu-abu atau biru. Foto di atas memperlihatkan sang kapten memakai topi "Schirmmütze" dengan lambang elang Luftwaffe versi awal yang kemudian digantikan dengan lambang lebih baru dengan sedikit perbedaan seperti tampak di atas saku kirinya. Seragamnya dilengkapi dengan kancing berbahan alumunium yang elegan, yang begitu berbeda dengan kancing "kerikil" butek seperti yang biasa dipakai oleh kompatriotnya dari Angkatan Darat (Heer). Berbeda dengan kebiasaan perwira Wehrmacht yang memakai ikat pinggang dengan gesper persegi, perwira di atas memakai ikat pinggang kulit coklat bergesper bulat yang biasa dipakai dalam parade. Saku bajunya yang berbelahan datar juga bisa dibilang unik ketika pertama kali diperkenalkan, meskipun kebanyakan prajurit Wehrmacht tetap memilih saku model "bergigi" tradisional. Di atas baris pita medalinya terpasang Frontflugspange, yang menjadi istimewa ketika kita melihat di bawahnya terdapat tambahan yang menandakan bahwa si perwira telah terlibat dalam lebih dari 500 misi tempur! Hal ini tidaklah mengejutkan bila kita melihat di saku kirinya terpasang medali Spanienkreuz sebagai penghargaan bagi partisipan Jerman dalam Perang Saudara Spanyol yang berkobar dari tahun 1936 sampai 1939. Di saku kanannya, medali dengan logo burung rajawali boker Flugzeugführerabzeichen (Pilot's Badge), yang disebut-sebut sebagai medali militer paling INDAH yang pernah dibuat manusia!


Hauptmann Luftwaffe dengan jaket penerbang yang terbuat dari bahan kulit kecoak. Jaket ini dirancang untuk meminimalkan beban gravitasi saat berada di kokpit dan untuk menghindari nyangkutnya kancing atau saku seragam saat naik-turun pesawat. Banyak pilot Luftwaffe yang memodifikasi topi schirmmütze mereka yang bergaris kaku menjadi sedikit "penyek" layaknya pilot-pilot Sekutu, demi membuat nyaman kepala saat memasangkan earphone radio. Kemudian langkah ini menjadi regulasi resmi, dan versi topi yang bisa diremas pun kemudian muncul, dan tak hanya dipakai oleh para anggota Luftwaffe saja, juga awak panzer, U-boat dan bahkan perwira infanteri. Perwira di atas juga memakai versi bordir dari medali Eiserne Kreuz I klasse dan Flugzeugführerabzeichen yang terbuat dari benang kawat halus berbahan alumunium atau perak dibuat khusus untuk perwira


Hauptmann Fallschirmjäger (Penerjun Payung) dengan seragam Fliegerbluse M40 dan Fliegermütze yang merupakan pakaian sehari-hari saat bertugas. Fliegerbluse sendiri terinspirasi dari blus lapangan yang dipakai pasukan Jerman dalam Perang Dunia Pertama. Seragam jenis ini gampang teridentifikasi melalui absennya saku dan kancing baju (yang rupa-rupanya "tersembunyi" dalam belahan di tengah), juga adanya lubang kancing di kerah leher. Sebagai seorang perwira, kerah dan topinya dilengkapi dengan lining/setrip putih, sementara di seragamnya tertempel medali Eiserne Kreuz I klasse dan Fallschirmspringerabzeichen versi bordir. Di bagian pinggir topinya tertempel pula Badge parasut metal milik anggota 1st Fallschirmjäger Regiment yang ditempatkan di front Italia. Pita lengan bertulisan KRETA menandakan bahwa dia adalah veteran Pertempuran di pulau Kreta tahun 1941


Hauptmann Fallschirmjäger. Pasukan terjun payung Luftwaffe dikenal dengan nama Fallschirmjäger, yang arti harfiahnya adalah "pemburu parasut". Mereka digolongkan sebagai prajurit infanteri ringan elite yang mendapat pelatihan keras sehingga menjadi salah satu unit terbaik dalam Perang Dunia II. Prajurit di atas memakai Knochensack (jaket penerjun) model ketiga dengan pola kamuflase "air butek" di luar seragam Feldblau yang dikenakannya. Helm para M38 di kepalanya memajam simbol tiga-warna nasional Jerman di bagian kanan, sementara di kirinya adalah gambar rajawali Luftwaffe. Untuk lebih menguatkan penyamaran, banyak prajurit Fallschirmjäger yang memodifikasi sendiri helmnya dengan belang-belang kamuflase


Hauptmann Polizei dengan seragam berwarna hijau dan topi model "shako" yang biasanya dipakai saat parade dan dilengkapi oleh bulu-bulu "ekor kuda" tradisional. Polisi di atas juga memakai ikat pinggang brokat putih resmi dengan gesper perak khusus perwira. Di saku kirinya terpampang medali Kriegsverdienstkreuz (War Merit Cross 1st class without swords untuk non-kombatan), sementara pita di atas saku adalah 8-year Police long service medal dan 25-year NSDAP long service medal. Melalui sistem ekstra-kredit yang rumit, bukanlah hal yang aneh bila penerima 25-year NSDAP long service medal sebenarnya bertugas kurang dari tahun tersebut


Hauptmann Polizei yang memakai ikat pinggang coklat dari kulit dan sarung pistol Luger


Hauptmann Polizei dengan helm M35 dan senapan Mauser K98. Beginilah kalau setelan Polizei dalam tugas lapangan. Dia memakai helm versi tahun 1935 dengan bendera partai di kanan dan logo rajawali Polizei di kiri. Salah satu medali yang terpampang di seragamnya adalah Bandenkampfenabzeichen (Anti-Partisan Badge) in Silber yang diberikan kepada prajurit Jerman yang telah ikut dalam kampanye-kampanye melawan gerilyawan dan partisan. Di ikat pinggangnya kita bisa melihat kantong peluru dengan lambang rajawali Polizei berbahan kulit hitam yang biasanya terdiri dari tiga set sesuai standar Angkatan Darat


SS-Hauptsturmführer dengan seragam abu-abu. Dia tampaknya adalah veteran perang yang dahsyat, terbukti dari adanya medali Nahkampfspange (Close Combat Clasp) di atas baris pita medalinya dan Panzervernichtungsabzeichen (Tank Destroyer Badge) di lengan kanannya. Nahkampfspange berarti bahwa dia telah melakoni pertempuran satu-lawan-satu, sementara Panzervernichtungsabzeichen berarti bahwa dia telah merontokkan setidaknya satu tank lawan dengan tangannya sendiri menggunakan peledak yang digenggam! Perwira ini berasal dari Panzer-Regiment "Deutschland", yang terlihat dari pita lengan yang dikenakannya


SS-Hauptsturmführer dari divisi panzer SS. Seragam "pembungkus" panzer hitam yang tanpa kancing ini berguna agar kancing atau saku baju tidak tersangkut saat keluar masuk turet panzer yang berukuran kecil. Terus kenapa dipilih warna hitam? Sederhana alasannya, yaitu demi meminimalisir efek "kotor" yang timbul dari oli dan peralatan mekanis yang sehari-hari digeluti oleh awak panzer. Perhatikan bahwa garis-garis di kerah dan topinya berwarna pink dan merupakan waffenfarbe (warna tempur) kebanggaan panzertruppen. Perwira ini adalah seorang veteran, yang bisa dibuktikan dari Panzerkampfabzeichen (Panzer Assault Badge) yang terpasang di seragamnya, medali jenis emas yang menandakan bahwa di pemakainya telah terlibat dalam setidaknya 75 pertempuran menggunakan panzer! Btw, dia berasal dari SS-Panzergrenadier-Division Götz von Berlichingen yang didirikan di akhir-akhir perang, bulan Oktober 1943


SS-Hauptsturmführer dengan jaket kamuflase tipe "blurred edge" pola kedua. Helm lapangan SS abu-abu M40-nya juga tak luput dari sentuhan cat camo warna hitam dan pasir. Kamuflase ini tampaknya telah ditambahkan dengan cara disemprot menggunakan semprotan cat, yang merupakan hal umum di lapangan dan biasanya semprotan tersebut dipinjam dari pool kendaraan. Jaket kamuflase ini biasanya dilengkapi juga dengan kain penutup helm, dan beberapa tentara yang kreatif menambahkan kawat sebagai dudukan untuk daun-daunan, batang dan rumput demi menambah kesan "tidak terlihat". Kita bisa melihat bahwa jaket kamuflase tidak dilengkapi dengan tanda pangkat bahu, dan digantikan dengan yang tertera di lengan kirinya (tanda pangkat Waffen-SS warna hijau yang dibordir). Perwira ini juga membawa Sturmgewehr MP-44 di bahunya, sebuah senapan yang disebut-sebut sebagai senapan serbu modern yang pertama dalam sejarah dan menginspirasi AK 47 yang lebih terkenal


SS-Hauptsturmführer dengan jaket kamuflase musim dingin pola "daun ek" yang bisa dipakai bagian luar atau dalamnya (warna putih salju). Perhatian khusus perlu dilakukan ketika memakai bagian putihnya, karena dapat terkena lumpur sehingga kehilangan nilai penyamarannya. Bahan nilon campurannya sangat susah untuk dibersihkan di lapangan, apalagi di kala musim dingin tiba. Helm pun tidak luput dari kamuflase putih musim dingin. Perhatikan bahwa perwira ini membawa senapan semi-otomatis Walther G/K-43 di pangkuannya yang dilengkapi dengan magasin dari jenis "klip pisang" 25 round yang langka (dibandingkan dengan yang biasa yang biasanya mempunyai 10 round saja). G/K-43 merupakan jawaban dari M-1 Garand buatan Amerika. Satu lagi, perwira SS ini memakai sarung tangan hijau berbahan campuran kanvas dan kulit yang biasanya diberikan kepada prajurit Angkatan Darat


SS-Hauptsturmführer dari Allgemeine-SS. Tampaknya veteran yang telah bertugas 8 tahun ini seharusnya berpangkat lebih tinggi dari "sekedar" kapten. Alasannya ada dua: Pertama, Baris pita 8-year N.S.D.A.P service di atas sakunya adalah tanda dia telah menjadi anggota partai Nazi (bukan SS) selama 8 tahun, suatu masa yang cukup lama. Kedua, chevron di lengan kanannya mengindikasikan bahwa dia adalah mantan perwira Polizei dan bukannya tentara. Dia juga memakai dua buah memorial party Gau badge, yaitu 1925 badge (ketika Hitler mereformasi NSDAP dan mengambil-alihnya) dan East Prussia Gau badge. Medali Gau sebenarnya diperuntukkan bagi kalangan sipil, tapi anggota SS pun boleh memakainya. Selain dari medali yang telah disebutkan di atas, si perwira juga memakai pin keanggotaan partai Nazi dari emas dan juga armband swastika dengan garis hitam khas SS


Kapitänleutnant Kriegsmarine. Bintang warna emas yang terdapat di bagian bawah lengan kanannya mengindikasikan posisinya sebagai komandan perwira, sementara garis-garis dengan warna yang sama di bawahnya mengindikasikan tanda pangkatnya. Dia memakai seragam biru dengan sepuluh kancing dan topi putih dengan satu baris jalinan emas di visornya yang juga menandakan pangkat si pemakai. Medali Das Flottenkriegsabzeichen (Surface Fleet Badge) di seragamnya menandakan bahwa dia adalah seorang awak kapal perang dan bukannya kapal selam atau kapal tongkang. lambang rajawali yang terpasang di topinya terbuat dari metal berwarna kuning dan bukannya dari bordiran emas seperti yang umumnya dipakai. Bila kita perhatikan secara teliti, tampak bahwa medali Eisernes Kreuz I klasse-nya terbuat dari bahan kuningan, dan konon katanya banyak dipakai oleh para anggota Kriegsmarine demi membuatnya terlindung dari karat yang diakibatkan air laut yang asin dan penuh garam


Kreisleiter NSDAP dengan seragam sipil coklat tanpa tanda pangkat layaknya di militer. Kreisleiter adalah pimpinan kreis (distrik) yang membawahi beberapa kota kecil. Tanggungjawab yang diembannya sama dengan pangkat kolonel di ketentaraan. Medali yang terpasang di seragamnya adalah Blutorden (Blood Order) dan German Order, yang disebut oleh Hitler sebagai medali tertinggi yang dipunyai Jerman


Perwira Gestapo dengan "seragamnya" yang tak lain adalah pakaian sipil biasa dengan jaket kulit hitam dan jas berdasi di dalamnya. Pakaian ini umum digunakan dalam penyamaran dan sebenarnya tidak ada ketentuan dia harus memakai setelan di atas. Cuman saja karena saking seringnya informan Gestapo memakai setelan tersebut, sehingga seakan-akan menjadi sebuah seragam "wajib" saat bertugas, lengkap dengan topi berwarna sama dan koran untuk pengalih perhatian! Kita bisa melihat di dasinya tercantol NSDAP Badge


Sumber :
www.diggerhistory.info