Thursday, October 24, 2019

Reichserntedankfest (Pesta Panen Reich)



Oleh: Alif Rafik Khan

Das Reichserntedankfest (Pesta Panen Reich / Reich Harvest Thanksgiving Festival) adalah perayaan monumental zaman Nazi yang dipersembahkan untuk para petani dan peternak. Festival ini diselenggarakan dari tahun 1933 s/d 1937 di Bückeberg, sebuah bukit yang terletak di dekat kota Hamelin, Niedersachsen, Jerman, dan hampir selalu diadakan di bulan Oktober (kecuali di tahun 1934 yang diselenggarakan pada tanggal 30 September). Tujuan utama dari festival ini adalah sebagai bentuk pengakuan atas jerih payah para petani - yang dijuluki sebagai "Reichsnährstand" (Agen Makanan Reich) - dalam menyediakan berbagai kebutuhan pangan bagi seluruh rakyat Jerman. Perayaan ini juga digunakan oleh pihak Nazi sebagai alat propaganda untuk menunjukkan hubungan dekat Hitler dengan rakyatnya. Reichserntedankfest kemudian menjelma menjadi salah satu dari hari-hari penting era Nazi, sejajar dengan Reichsparteitag di Nürnberg, Peringatan Beer-Hall Putsch, perayaan ulangtahun Hitler, serta yang lainnya.

Pada tahun 1937, festival ini dihadiri tidak kurang dari 1,2 juta orang, yang berpuncak saat Hitler berjalan melalui Führerweg (Jalan Führer) menuju monumen panen - yang berbentuk atlar - untuk menerima "mahkota panen" dari pimpinan petani atas nama bangsa Jerman. Reichserntedankfest tahun 1937 mencatat rekor sebagai acara/ritual Nazi dengan jumlah peserta terbanyak, yang mengalahkan acara-acara yang lebih populer lainnya seperti reli partai Nazi di Nürnberg!

Selain bertemakan pertanian, festival ini digunakan pula oleh pihak Nazi sebagai ajang demonstrasi kekuatan militer Wehrmacht. Dari tahun 1935, Angkatan Bersenjata Nazi Jerman selalu turut serta menjadi partisipan melalui latihan perang-perangan yang melibatkan pesawat, panzer, serta 10.000 orang prajurit! Pada tahun 1933, dalam pidatonya di acara pertama Reichserntedankfest, Hitler mengumumkan tentang mulai berlakunya peraturan baru - Reichserbhofgesetz atau Hukum Warisan Pertanian Negara - yang mengatur mengenai perlindungan pemerintah terhadap kepemilikan beberapa tanah pertanian milik keluarga yang telah dimiliki turun temurun.


------------------------------------------------------------------------------


Adolf Hitler menginspeksi pasukan kehormatan di istana kerajaan dalam perayaan Erntedanktag di Goslar, 30 September 1934. Dia datang jam 10 pagi, dan langsung disambut oleh Reichsbauernführer Darré, SA-Stabschef Viktor Lutze, Menteri Propaganda Joseph Goebbels dan Reichsarbeitsführer Konstantin Hierl. Seperti biasa, Hitler langsung memimpin konvoy kendaraan bermotor yang disambut dengan gegap gempita oleh penduduk lokal. BTW, paling kiri adalah Hauptmann Erwin Rommel yang nantinya terkenal dengan julukan "Serigala Padang Pasir"!


Puncak perayaan Reichserntedankfest (Pesta Panen Reich) tahun 1937 yang diselenggarakan di Bückeberg, Hamelin (Niedersachsen), pada tanggal 3 Oktober 1937. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai acara kumpul-kumpul Nazi dengan peserta terbanyak, yang dihadiri oleh 1,2 juta manusia! Foto hasil karya Hugo Jaeger ini memperlihatkan saat Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) dan para petinggi Nazi Jerman lainnya sedang melintasi Führerweg (Jalan Pemimpin) dengan lautan manusia di kanan dan kirinya. Dia akan menaiki Monumen Panen - yang berbentuk altar - untuk menerima "mahkota panen" dari pimpinan petani atas nama bangsa Jerman



Perayaan Erntedankefest yang diselenggarakan di halaman universitas Oslo (Norwegia) tahun 1941. Reichskommissar Josef Terboven sedang memberikan pidatonya



 Acara perayaan Hari Thanksgiving (Erntedanktag) yang diselenggarakan di Sportpalast Berlin tanggal 3 Oktober 1943. Para anggota Sonderverband z.b.V. Friedenthal pimpinan Otto Skorzeny yang ikut berperan serta dalam operasi pembebasan Benito Mussolini tanggal 12 September 1943 sebelumnya ikut menjadi tamu kehormatan dalam acara ini. Dari kiri ke kanan: SS-Unterscharführer Bernhard Cieslewitz, SS-Hauptscharführer Manns, SS-Untersturmführer Robert Warger, SS-Unterscharführer Hans Holzer, SS-Untersturmführer Otto Schwerdt, dan SS-Obersturmführer Ulrich Menzel. Foto oleh Kriegsberichter Ernst Schwahn dari Scherl Bilderdienst


Sumber :
www.arkivverket.no
www.commons.wikimedia.org

www.en.wikipedia.org
www.hitler-archive.com

Tuesday, October 22, 2019

Foto Pertempuran Warsawa (1939)

 Salah satu dari tank milik Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division yang menjadi korban dalam pertempuran di sekitar Jalan Wolska, Distrik Wola, Warsawa (Polandia), pada tanggal 9 September 1939. Tank ringan dari jenis Panzerkampfwagen II ini terbakar hebat setelah jalan yang dilewatinya - yang dihalangi oleh puluhan drum berisi terpentin di sekelilingnya - kemudian disulut api oleh pasukan Polandia yang bertahan, yang dipimpin oleh Letnan Zdzisław Pacak-Kuźmirski (Komandan Kompi ke-8 / Resimen Infanteri ke-40). Hanya beberapa saat sebelumnya, anakbuah Letnan Pacak-Kuźmirski menemukan 100 drum terpentin di pabrik "Dobrolin" yang berdekatan. Dia lalu memerintahkan agar drum-drum berisi bahan yang mudah terbakar ini di dijejerkan di depan barikade yang dipasang oleh unitnya. Kebakaran yang kemudian terjadi begitu hebatnya, sehingga Gefechtsgruppe 2 - yang merupakan pasukan penyerang terdepan Jerman - bisa dikatakan musnah dalam peristiwa "pembantaian" yang berlangsung selama satu jam tersebut! Foto diambil oleh Hugo Jaeger, yang mengabadikannya beberapa minggu kemudian setelah pasukan penyerbu Jerman menduduki Warsawa


Sumber :
www.time.com

Sunday, October 20, 2019

Foto Kampfgeschwader 26 (KG 26) "Löwen"

 Fotografer Hugo Jaeger mengabadikan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) saat sedang berada di sebuah landasan udara di Polandia, bulan September 1939. Jenderal Luftwaffe yang sedang berdiskusi dengannya adalah Generalmajor Hans Siburg (Geschwaderkommodore Kampfgeschwader 26). Di belakang Hitler berdiri SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant Führer und Reichskanzler) dan SS-Obersturmbannführer Dr.med. Karl Brandt (Begleitarzt Führer und Reichskanzler). Sementara itu, yang sedang sibuk membuka peta di sebelah kiri adalah Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Di latar belakang kita bisa melihat sebuah pesawat Focke-Wulf Condor 200A-0 (S-8 ) "Grenzmark" yang terparkir di landasan. Pesawat ini merupakan angkutan udara pribadi sang Führer. BTW, disini kita bisa melihat dua aspek dari Hitler yang jarang terlihat: penggunaan kaca pembesar saat membaca serta holster pistol Walther PPK di ikat pinggangnya!


Sumber :
www.time.com

Sunday, October 13, 2019

Befehlspanzer (Tank Komando)

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Foto Celana Pendek Third Reich

WAFFEN-SS

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Foto Pisah-Sambut dan Pindah Tugas

 Para perwira dari 5. SS-Panzer-Division "Wiking" berfoto bareng di depan sebuah Panzerkampfwagen V Panther Ausf.D yang dipenuhi bunga di kubahnya. Foto ini sendiri diambil di Front Timur pada bulan Juni 1944, kemungkinan besar pada saat pelepasan SS-Obersturmbannführer Otto Paetsch (Kommandeur SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang pindah tugas ke 10. SS-Panzer-Division "Frundsberg" sebagai komandan resimen panzernya (22 Juni 1944). Panther di latar belakang adalah sebuah Befehlspanther (Panther Komandan) milik Paetsch, yang bisa dicirikan dari antena yang terpasang di kubahnya serta tempat senapan mesin yang tertutup. Paetsch sendiri adalah perwira yang memegang buket bunga di tengah, sementara di sebelah kanannya yang memakai celana pendek adalah SS-Obersturmführer Karl Nicolussi-Leck (Chef 8.Kompanie / SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking"). Sebagai identifikasi terakhir adalah SS-Obersturmführer Manfred Renz (Adjutant SS-Panzer-Regiment 5 "Wiking") yang berdiri memakai seragam hitam Panzertruppen paling kanan. BTW, dalam foto ini Nicolussi-Leck tidak mengenakan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di lehernya meskipun dia notabene telah mendapatkannya dari sejak bulan April 1944!


Sumber :
Foto koleksi pribadi Richard Gentsch
www.facebook.com

Tuesday, October 8, 2019

Kisah-Kisah Heroik Para Frontschwein (Prajurit Garis Depan)

MELANGGAR PERINTAH TAPI MENDAPAT RITTERKREUZ

Leutnant Hermann Tanczos (30 November 1921 - 4 November 1967) adalah prajurit asal Austria yang bergabung dengan Wehrmacht pada tanggal 1 Agustus 1940 dan pertama kali bertugas di Artillerie-Regiment 14. Namanya yang berbau Hungaria, "Tanczos", seringkali ditulis dengan ejaan Jerman "Tanzos" dalam dokumen-dokumen resmi yang berkaitan dengannya. Tanzcos kemudian dipindahkan ke Artillerie-Regiment 157, dan di unit inilah kemampuannya sebagai seorang pengamat artileri mendapatkan ganjarannya: dalam sebuah pertempuran sengit melawan pasukan Rusia di Cherkasy pada tanggal 10 Februari 1944, Tanczos dan unitnya diperintahkan untuk mundur. Bukannya menurut, keturunan Hungaria ini - bersama dengan dua orang prajurit artileri asal Austria lainnya - memutuskan untuk tetap tinggal dan menghadapi musuh. Mereka memanfaatkan sebuah meriam Flak 88mm yang ditinggalkan di medan tempur, dan bertempur begitu gigihnya sehingga membuat pasukan Rusia berbalik mundur! Pada awalnya orang pasti berpikir bahwa tindakan heroiknya pastilah akan mendapatkan penghargaan yang setimpal. Salah! Dia malah dituduh telah melanggar perintah, diajukan ke Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati! Untunglah pengacaranya mampu menghadirkan perwira serta saksi-saksi lain yang diperlukan sehingga, bukan hanya dia dibebaskan dari dakwaannya, tapi juga kemudian dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 21 Februari 1944 sebagai seorang Unteroffizier dan Vorgeschobene Beobachter (VB) di 4.Batterie / II.Abteilung / Artillerie-Regiment 157 / 57.Infanterie-Division / XI.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd (medalinya sendiri diterima pada tanggal 23 Mei 1944). Setelah mendapat cuti pulang dan disambut secara besar-besaran di kampung halamannya, Tanczos kembali ke medan tempur bersama dengan Artillerie-Regiment 157. Dia ditawan oleh Tentara Merah pada tanggal 14 Juli 1944, dan baru dibebaskan pada tanggal 27 Desember 1947. Tanczos memutuskan untuk tinggal di Hamburg, Jerman, sampai dengan akhir hayatnya, dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga mempekerjakan para veteran Perang Dunia II lainnya. Medali dan penghargaan lain yang diterima oleh Hermann Tanczos: Allgemeines-Sturmabzeichen; Verwundetenabzeichen in Schwarz; Eisernes Kreuz II.Klasse (16 Juli 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (10 Agustus 1942); Nahkampfspange; serta Eisernes Kreuz I.Klasse (23 Juni 1943)


 SS-Hauptsturmführer Karl Nicolussi-Leck (14 Maret 1917 - 30 Agustus 2008) adalah anak seorang petani keturunan Jerman dari Tirol Selatan, utara Italia, yang bergabung dengan Waffen-SS pada bulan Januari 1940, dan ditempatkan di Resimen "Germania", cikal-bakal Divisi SS "Wiking". Dia ikut berpartisipasi dalam penyerbuan Jerman ke Rusia pada tahun 1941, dan dari sejak saat itu menghabiskan sebagian besar masa tempurnya di Front Timur. Puncak prestasinya diraih pada tahun 1944, saat Nicolussi-Leck menjadi komandan sebuah kompi tank Panther Wiking dalam usahanya untuk membebaskan pasukan Jerman yang terkepung di wilayah Kovel, bulan Maret 1944. Pada tanggal 27 di bulan yang sama, dengan proses pembebasan masih berlangsung, Nicolussi-Leck tiba-tiba menerima perintah untuk menghentikan semua upaya ofensif. Pada saat itu padahal dia telah menjalin kontak radio dengan garnisun Jerman yang terkepung, dan menganggap bahwa pembebasan mereka tak bisa ditunda-tunda lagi. Dia lalu memerintahkan operator radionya untuk mengirimkan balasan pada markas pusat bahwa dia (Nicolussi-Leck) tak bisa ditemukan keberadaannya, dan dengan itu tetap meneruskan gerak maju ke Kovel! Tiga hari kemudian - setelah melewati pertempuran sengit - dia dan tujuh tank lainnya akhirnya mampu mencapai garnisun yang terjebak, di awal pagi tanggal 30 Maret 1944. Kedatangannya menambah kekuatan pertahanan garnisun Jerman, sehingga mereka mampu bertahan sampai akhirnya dibebaskan oleh pasukan pembebas yang lebih besar. Meskipun bisa dibilang telah melanggar perintah dari atasannya, Nicolussi-Leck dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 9 April 1944 sebagai SS-Obersturmführer dan Chef 8.Kompanie / II.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 5 / 5.SS-Panzer-Division “Wiking” / LVI.Armeekorps / 2.Armee / Heersgruppe Mitte. Rekomendasi penganugerahannya juga menyebutkan bahwa dia telah menghancurkan 17 tank Rusia dalam prosesnya, meskipun ada kemungkinan bahwa angka tersebut adalah korban total yang dicapai oleh seluruh kompinya. Seusai perang dia banyak membantu mantan anggota SS yang melarikan diri ke Amerika Selatan. Dia sendiri bermigrasi ke Argentina pada tahun 1948, hanya untuk kembali ke kampung halamannya di Tirol Selatan (Italia) pada awal tahun 1950-an, dimana dia bekerja sebagai wirausahawan di Mannesmann. Medali dan penghargaan lain yang telah diraih oleh Nicolussi-Leck: Eisernes Kreuz II.Klasse (25 Juli 1942); Eisernes Kreuz I.Klasse (9 Agustus 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz (2 September 1942); Panzerkampfabzeichen in Silber (11 September 1942); serta Deutsches Kreuz in Gold (10 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 3 April 1944


Sumber :
Foto koleksi pribadi Angel Farré
www.historyofthewaffenss.com
www.tracesofwar.com
www.wehrmacht-awards.com

Wednesday, September 25, 2019

Foto Monumen Feldherrnhalle

 Generalleutnant Walther von Reichenau (Kommandierender General VII. Armeekorps) memberikan hormat militer di depan Feldherrnhalle, Münich, dalam rangkaian upacara sumpah setia para anggota baru NSDAP yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 1935. Feldherrnhalle (Aula Marsekal Lapangan) sendiri adalah loggia (bangunan berpilar lengkung) yang terletak di Odeonsplatz, yang dibangun pada tahun 1841 di masa kekuasaan Raja Bavaria Ludwig I. Bangunan ini kemudian menjadi monumen suci kaum Nazi setelah menjadi tempat utama kudeta yang gagal pada tanggal 9 November 1923, dimana 16 orang anggota NSDAP (dan dua petugas polisi) terbunuh. Di masa kekuasaan Adolf Hitler, pada tanggal 9 November setiap tahunnya selalu diselenggarakan napak-tilas untuk mengenang peristiwa kudeta tersebut - yang dinamakan sebagai "Beer Hall Putsch" - dengan puncak acaranya selalu diadakan di Feldherrnhalle


Rangkaian rangkaian upacara sumpah setia para anggota baru NSDAP yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 1935 di Feldherrnhalle, Münich. Para petinggi Nazi dan Wehrmacht ikut hadir dalam acara ini. Yang terakhir ikut hadir meskipun notabene acara yang diselenggarakan adalah khusus untuk kepentingan NSDAP. Fenomena dimana Angkatan Bersenjata Jerman yang sedikit demi sedikit mulai tunduk pada kekuasaan Nazi ini biasa disebut sebagai "Das Hakenkreuz über der Wehrmacht" (Swastika diatas Wehrmacht). Baris depan, dari kiri ke kanan: Oberst Hellmuth Felmy (Höherer Fliegerkommandeur V), kemungkinan General der Artillerie Wilhelm Ritter von Leeb (Oberbefehlshaber Heeresgruppenkommando 2), jenderal Heer tak dikenal, Generalleutnant Walther von Reichenau (Kommandierender General VII. Armeekorps), SS-Standartenführer Hans Dauser (Leitender Staatssekretär und Leiter der Abteilung "Arbeit und Fürsorge" im Bayerischen Staatsministerium für Wirtschaft), dan SA-Gruppenführer Ludwig Siebert (Bayerischer Ministerpräsident und Vorsitzender der bayerischen Staatsregierung)


Sumber :
www.beeldbankwo2.nl

Tuesday, September 24, 2019

Foto Rongsokan Mesin Perang Sekutu

 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) menginspeksi sebuah tank Prancis dari jenis Renault Char B1 bis milik Peleton ke-1 / Kompi ke-3 / 8e BCC (Bataillon de Chars de Combat) yang hancur dalam pertempuran melawan pasukan Jerman di Moy, tanggal 20 Mei 1940 (unit Wehrmacht yang berhadapan dengan tank ini kemungkinan adalah Gefechtsgruppe Nedtwig pimpinan Oberstleutnant Johannes Nedtwig dari Panzer-Regiment 1). Foto oleh Kriegsberichter Somme


Foto-foto ini diambil oleh SS-Kriegsberichter Hermann Grönert pada tanggal 29 Juli 1944, saat sebuah Kampfgruppe (Grup Tempur) - yang terdiri dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" dan I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf" - bertempur melawan pasukan Rusia di sekitar kota Siedlce, Polandia. Selama lima hari penuh (27-31 Juli), Kampfgruppe milik 3. SS-Panzer-Division "Totenkopf" tersebut mempertahankan Siedlce, kota yang dijuluki sebagai "Eckpfeiler" (batu landasan) oleh Panglima Heeresgruppe Mitte, dari berkali-kali serangan Korps Tank ke-11 Soviet. Aksi heroik mereka memampukan sebagian besar 2. Armee (termasuk Divisi Wiking) untuk dapat mundur ke garis pertahanan baru dan bersiap-siap di posisi mereka dalam menghadapi Pertempuran Praga yang akan mulai berkobar pada tanggal 1 Agustus 1944. Foto ini memperlihatkan sebuah regu dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" memperhatikan dengan terkagum-kagum sebuah tank berat JS-II (Josef Stalin II) milik Resimen Tank Jaga Terpisah Soviet ke-50 yang baru saja dihancurkan oleh Panther-Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress di barat-laut Siedlce (Polandia) pada pukul 13:40 tanggal 29 Juli 1944. Tank berat Soviet satu ini baru saja diterjunkan untuk pertama kalinya dalam peperangan pada awal tahun 1944, dan pada awalnya hanya dijatahkan untuk unit-unit tank berat seperti Resimen Tank Jaga Terpisah ke-50. Model awal JS-II mempunyai berat 51 ton, mempunyai awak empat orang, dan dilengkapi dengan meriam kaliber 122mm. Setiap resimen tank berat Soviet berkekuatan 21 buah tank jenis ini, yang dibagi kedalam empat kompi (lima tank masing-masing), sementara satu lagi jatah tersisa adalah khusus untuk komandan batalyon. Kemunculannya membawa masalah besar pada pasukan Jerman yang sebelumnya sudah kewalahan dalam menghadapi serbuan massal tank-tank dari jenis T-34


 Setelah puas melihat-lihat raksasa yang terluka tersebut, para prajurit dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" berlari menuju ke arah kamera untuk bersiap-siap menyerang sasaran selanjutnya. Di latar belakang kita bisa melihat sebuah tank T-34/85 dari Brigade Tank ke-20 Soviet yang terbakar setelah dihantam oleh peluru penembus baja dari satuan Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress (I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf"). Di sebelah kiri, petugas senapan mesin regu tersebut melihat dengan tenang ke arah sang fotografer, SS-Kriegsberichter Hermann Grönert, sambil merebahkan senjata andalannya (MG-34). Rasa lelah dan frustasi pastilah dirasakan oleh prajurit-prajurit Jerman ini, karena selama lima hari penuh (27-31 Juli 1944) mereka harus menghadapi serangan terus-menerus dari Korps Tank ke-11 Soviet di tengah panas yang menyengat. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 29 Juli 1944 di barat-laut Siedlce, Polandia


Lanjutan dari dua foto sebelumnya: Kini kita bisa melihat bahwa bintara pimpinan regu dari SS-Panzergrenadier-Regiment 6 "Theodor Eicke" tersebut sedang memberikan perintah pada anakbuahnya untuk segera bergerak, termasuk pada petugas senapan mesin yang membawa MG-34 di sebelah kiri. Sang Gruppenführer (Komandan Regu) sendiri membekali diri dengan senapan mesin ringan MP-40. Uniknya, sebagian besar orang-orang yang berada dalam foto ini mengenakan syal putih di leher tapi tanpa tambahan jaket kamuflase yang biasanya menutupi badan. Di sebelah kiri kita bisa melihat tank T-34/85 lainnya yang terbakar hebat setelah dihantam oleh peluru penembus baja dari satuan Panther pimpinan SS-Sturmbannführer Erwin Meierdress (I.Abteilung / SS-Panzer-Regiment 3 "Totenkopf")


Sumber :
Buku "From the Realm of a Dying Sun. Volume 1: IV. SS-Panzerkorps and the Battles for Warsaw, July–November 1944" karya Douglas E. Nash, Sr.
www.audiovis.nac.gov.pl

Monday, September 23, 2019

Foto Mobil Steyr Era Third Reich

STEYR 640

Generalmajor Hermann Recknagel (Kommandeur 111. Infanterie-Division) bersama dengan para staff-nya di atas mobil Steyr 640 Kfz21 Kommandeurwagen, yang diabadikan dalam sebuah foto yang kemungkinan besar diambil di medan perang Front Timur pada tahun 1942. Simbol belah ketupat berwarna kuning di spakbor sebelah kiri adalah lambang 111. Infanterie-Division, sementara panji segitiga yang terpancang di spakbor kanannya menunjukkan bahwa pemilik mobil langka beroda enam tersebut adalah seorang Divisionskommandeur (Komandan Divisi). Medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang tercantol di leher sang Jenderal - yang mengenakan monokel di mata kanannya ini - didapatkannya pada tanggal 5 Agustus 1940 sewaktu masih menjadi Oberst dan Komandan Infanterie-Regiment 54 / 18.Infanterie-Division. Ketiadaan medali Deutsches Kreuz di seragamnya menunjukkan bahwa foto ini diambil sebelum tanggal 11 Februari 1943 (tanggal penganugerahan DKiG untuk Recknagel)


Generalmajor Hermann Recknagel (Kommandeur 111. Infanterie-Division) menatap mobil Steyr 640 Kfz21 Kommandeurwagen yang merupakan tunggangan utamanya saat bertugas di medan perang Rusia. Recknagel menjadi Komandan 111ID dari tanggal 1 Januari 1942 s/d 1 November 1943. Dia terbilang cukup berhasil dalam memimpin divisinya, yang terbukti dari penghargaan medali Eichenlaub untuk Ritterkreuz-nya, yang didapatkannya pada tanggal 6 November 1943 sewaktu sudah berpangkat Generalleutnant. Foto ini sendiri kemungkinan besar diambil pada tahun 1942


 13 Agustus 1944: Kunjungan ketiga Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) ke rumahsakit Karlshof di dekat Rastenburg, untuk melongok para korban Bom 20 Juli yang meledak beberapa minggu sebelumnya. Foto ini memperlihatkan saat sang Führer menaiki mobil Mercedes-Benz 770 W150 setelah menyelesaikan kunjungannya, sementara di kiri dan kanan jalan para perawat serta penduduk sekitar mengelu-elukannya sambil memberi salam Nazi. Mobil lain di belakang Mercedes Hitler adalah milik unit penjaganya dan berasal dari jenis Steyr 1500A Kammandeurwagen


Sumber :
Buku "Fotos aus dem Führerhauptquartier" terbitan Hermann Historica München
Foto koleksi pribadi Kerryboo
www.wehrmacht-awards.com

Sunday, September 22, 2019

Penandatanganan Menyerahnya Belgia dalam Perang Dunia II (1940)


Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), adalah markas sementara 6. Armee Jerman pimpinan Generaloberst Walther von Reichenau selama berlangsungnya Blitzkrieg ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia dan Luxemburg) di bulan Mei 1940. Kastil yang telah berdiri dari sejak tahun 1127 ini mencatatkan namanya dalam sejarah setelah dijadikan sebagai lokasi penandatanganan menyerahnya Belgia pada tanggal 28 Mei 1940, di akhir Pertempuran Lys


Pada pukul 09:35 pagi tanggal 28 Mei 1940, mobil sedan Touring Plymouth P6 Deluxe 1938 empat pintu yang membawa delegasi militer Belgia tiba di halaman Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia) - yang merupakan markas dari 6. Armee Jerman - untuk menegosiasikan penyerahan Belgia dalam Perang Dunia II. Delegasi Belgia terdiri dari Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), Kapten Liagre (perwira pasukan cadangan yang ditunjuk sebagai penterjemah), Jacques Pelgrims (anggota pasukan cadangan yang ditugasi membawa bendera putih), serta Léon Vermeulen (prajurit korps transportasi yang ditunjuk sebagai supir)


Pada pukul 09:37 pagi tanggal 28 Mei 1940, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (tengah, Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dan pengiringnya, Kapten Liagre, disambut oleh Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee) di anak tangga Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia)


 Dengan diantar oleh seorang perwira Wehrmacht, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) memasuki bagian dalam Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Kentara sekali ekpsresi murung serta stress sang jenderal, karena di hari itu - 28 Mei 1940 - dia ditugasi oleh Raja Belgia Leopold untuk mendiskusikan gencatan senjata dengan pihak Jerman. Situasi pasukan Belgia sendiri sudah dalam tahap kritis, dengan hanya menguasai wilayah seluas 1.700 m2!


Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) menerima delegasi Belgia yang datang untuk merundingkan gencatan senjata serta penyerahan pasukannya. Foto diambil pada pukul 09:40 tanggal 28 Mei 1940 di ruang perpustakaan Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Joachim von Kortzfleisch (Kommandierender General XI. Armeekorps), Oberst Günther Lohmann (Kommandeur Luftwaffe bei der 6. Armee), Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (membelakangi kamera, Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), Generaloberst Reichenau, Kapten Liagre (membelakangi kamera, pengiring Jenderal Derousseaux), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6. Armee)


Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee), yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Kapten Liagre (Perwira Belgia), Jenderal Derousseaux, Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Generaloberst Reichenau (Oberbefehlshaber 6.Armee), Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee). Foto ini memperlihatkan saat Oberst Mauchenheim membacakan butir-butir perjanjian


Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee), yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Dari kiri ke kanan: Jenderal Derousseaux, Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Oberleutnant Hans-Leo von Luttitz (IIb Personalverwaltung – 2. Adjutant 6. Armee), Generaloberst Reichenau (Oberbefehlshaber 6.Armee), Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 6.Armee), Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), Generalmajor Erich Marcks (Chef des Generalstabes 18. Armee), dan Oberst Günther Lohmann (Kommandeur Luftwaffe bei der 6. Armee). Yang duduk di ujung kanan adalah Generalleutnant Joachim von Kortzfleisch (Kommandierender General XI. Armeekorps)


 Perundingan gencatan senjata dan penyerahan pasukan Belgia antara Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia) dengan Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee). Hanya 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk membaca semua ketentuan serta memutuskan jawaban, dan pada pukul 10:00 masing-masing pihak membubuhkan tandatangannya di kertas perjanjian. Dari kiri ke kanan: Kapten Liagre (hanya sedikit terlihat, perwira pasukan cadangan Belgia yang ditunjuk sebagai penterjemah), Hauptmann Rudolf Karl Paltzo (Ic Dritter Generalstabsoffizier 6. Armee), Jenderal Derousseaux, Oberleutnant Hans-Leo von Luttitz (penterjemah pihak Jerman), perwira tidak dikenal, Generaloberst Reichenau, Oberst Anton-Reichard Freiherr von Mauchenheim genannt Bechtolsheim (Ia Erster Generalstabsoffizier 6.Armee), dan Generalmajor Erich Marcks (Chef des Generalstabes 18. Armee). Foto diambil pada tanggal 28 Mei 1940 di Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg)


 Saat beberapa kelengkapan terakhir perjanjian gencatan senjata dibereskan, pada pukul 10:10 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) dengan gembira memberitahu sang Führer di Berlin sono bahwa pasukan Jerman telah secara resmi mengalahkan pihak bertahan Belgia. Sebuah kemenangan besar! Foto diambil pada tanggal 28 Mei 1940 di ruang perpustakaan Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Para staff 6. Armee ikut mendengarkan dengan bangga saat sambungan telepon dari Feldfernsprecher (Telepon Lapangan) terhubung ke Berlin, sementara seorang staff lain memberi tanda garis-garis demarkasi di atas selembar peta besar


Pada pukul 10:30 tanggal 28 Mei 1940 Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 6. Armee) mengantar ketua delegasi Belgia, Letnan-Jenderal Olivier Joseph Jules Derousseaux (Deputi Kepala Staff Angkatan Bersenjata Belgia), ke mobilnya yang telah menunggu di halaman Château d'Anvaing (Kastil Anvaing) di Frasnes-lez-Anvaing, provinsi Hainaut (Belgia), yang menjadi markas sementara 6. Armee selama invasi kilat ke Negara-Negara Bawah (Belanda, Belgia, Luxemburg). Seperempat jam kemudian radio-radio Jerman memberitakan dengan gegap gempita berita penyerahan pasukan Belgia. Perwira dengan adjutantschnurr (tambang ajudan) di belakang Reichenau adalah Oberst Rüdiger von Schuler (IIa Personalverwaltung – 1. Adjutant 6. Armee)


Setelah "pembukaan" oleh pihak Belgia pada tanggal 28 Mei 1940, kini giliran pihak Jerman yang mendatangi markas besar pasukan Belgia di Château Saint-André lez-Bruges (Flanders) - di hari yang sama - untuk mensosialisasikan isi-isi perjanjian gencatan senjata yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Delegasi Jerman datang dengan membawa sebuah bendera putih besar. Foto diambil oleh Kriegsberichter Pfitzner


Sumber :
Buku "Leopold III: de koning, het land, de oorlog" karya Jan Velaers dan Herman Van Goethem
Identifikasi oleh Gregg "Graveland"
www.ebay.com
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.kids.kiddle.co
www.maisondusouvenir.be

Saturday, September 21, 2019

Foto Schwerer Panzerjäger Tiger (P) Ferdinand-Elefant (Sd.Kfz.184)

FERDINAND 

 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Hugo Beißwänger (General beim Chef der Heeresrüstung), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (membelakangi kamera, Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta General der Artillerie Alfred Jodl (Chef Wehrmacht-Führungsamt)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), General der Artillerie Emil Leeb (Chef Heereswaffenamt im Oberkommando des Heeres), Generalleutnant Walter Buhle (tertutup oleh Speer, Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (tertutup oleh Speer, Generalinspekteur der Panzertruppen)


 Pada tanggal 18-19 Maret 1943 Hitler mengadakan kunjungan ke kota Rügenwalde/Pomerania (Jerman) untuk melihat demonstrasi mesin-mesin perang terbaru Nazi, utamanya adalah meriam terbesar di dunia pada saat itu yaitu Eisenbahngeschütz "Dora" - yang mempunyai kaliber 800mm - yang sebelumnya dipakai dalam pemboman Pangkalan Angkatan Laut Soviet di Sebastopol. Foto hasil karya Walter Frentz ini memperlihatkan saat sang Führer memeriksa Panzerjäger Tiger (P) "Ferdinand", sebuah pemburu tank berat yang sasisnya diambil dari Panzerkampfwagen VI Tiger. Namanya sendiri diambil dari nama sang perancang, yaitu Dr. Ferdinand Porsche. Dari kiri ke kanan: Instruktur panzer tak dikenal, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Generalleutnant Walter Buhle (Chef vom Heeresstab im Oberkommando der Wehrmacht), SS-Oberführer Prof. Dr.-Ing. e.h. mult. Ferdinand Porsche (Vorsitzender der Panzerkommission), Prof.Dr.-Ing.Albert Speer (Reichsminister für Rüstung und Kriegsproduktion), serta Generaloberst Heinz Guderian (Generalinspekteur der Panzertruppen)


Sumber :
www.spiegel.de

Sunday, September 8, 2019

Foto Pesawat Latih Bücker Bü 181 "Bestmann"

 Foto terbang perdana Fähnrich Friedrich Jirmann - yang diambil pada tanggal 31 Oktober 1941 di lapangan udara Werder/Havel - dengan menggunakan pesawat latih Bücker Bü 181 "Bestmann" milik Luftkriegsschule 3. Jirmann nantinya bergabung dengan 13.Staffel / V.Gruppe / Kampfgeschwader 2 (KG 2) "Holzhammer" pada bulan Oktober 1943, dan menerbangkan pesawat Messerschmitt Me 410 (unit ini nantinya berganti nama menjadi 5.Staffel / Kampfgeschwader 51). Jirmann terluka pada tanggal 25 Juni 1944 ketika pesawatnya ditembak jatuh, kemungkinan oleh Mosquito dari 488 Squadron RAF. Dia masih bersama dengan KG 51 sampai dengan akhir perang, dan sempat mendapatkan pelatihan untuk menerbangkan pesawat jet Messerschmitt Me 262



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss

Foto Pesawat Latih Bücker Bü 131 "Jungmann"

Sebuah pesawat latih Bücker Bü 131 "Jungmann" (werknummer 4560) yang terlihat di lapangan udara Fürstenfeldbruck yang menjadi pangkalan Luftkriegsschule 4. Di atas kokpit adalah Fähnrich Ulrich Laubis, yang nantinya akan ditembak jatuh dan menjadi tawanan perang saat bertugas di 3.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 77 pada tanggal 23 Juni 1944


Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss

Foto Tokoh Third Reich Peraih Sachsen-Ernestinischer Hausorden

Herzoglich Sachsen-Ernestinischer Hausorden adalah medali prestasi yang pertama kali dikeluarkan pada tanggal 25 Desember 1833 oleh tiga orang Herzog (bangsawan tinggi) dari Sachsen: Friedrich von Sachsen-Altenburg, Ernst I. von Sachsen-Coburg und Gotha serta Bernhard II. Erich Freund von Sachsen-Meiningen und Hildburghausen. Medali ini sendiri - yang khusus diberikan untuk pangkat perwira ke atas - terdiri dari empat tingkatan, dimulai dari yang tertinggi: Großkreuz, Komtur I. Klasse, Komtur II. Klasse, dan Ritter. Tokoh-tokoh terkenal yang pernah mendapatkan Herzoglich Sachsen-Ernestinischer Hausorden: Raja Swedia Carl XVI Gustaf, Raja Belgia Leopold I, Pangeran Ligne ke-8 Eugène, Raja Belgia Leopold II, Raja Norwegia Olav V, Kaisar Brazil Pedro II, Perdana Menteri Belgia Henri de Brouckère, Diplomat Belgia Baron Auguste Goffinet, Perdana Menteri Belgia Sylvain Van de Weyer, Jenderal Prusia Curt von Morgen, Bangsawan Belgia Count d'Arschot Schoonhoven, Perdana Menteri Belgia Albert Joseph, Perdana Menteri Belgia Count Felix de Muelenaere, Perdana Menteri Belgia Baron Jean-Baptiste Nothomb, Politisi Belgia Baron Edouard d'Huart, Politisi Belgia Charles Liedts, serta Perdana Menteri Belgia Charles Rogier



SS-Brigadeführer und Generalmajor der Waffen-SS Karl von Oberkamp (30 Oktober 1893 - 4 Mei 1947) saat masih menjadi perwira Heer berpangkat Hauptmann. Dia bergabung dengan SS pada tanggal 1 November 1938 dan langsung diberi pangkat SS-Sturmbannführer (setingkat dengan Mayor)


Charakter als Generalmajor z.V. Karl Sauter (16 Mei 1870 - 11 Maret 1959)


 General der Luftwaffe Walther Wecke (30 September 1885 - 16 Desember 1943) adalah veteran Perang Dunia Pertama yang kemudian melanjutkan karir di kepolisian. Pada bulan Februari 1933 - saat masih berpangkat Major der Schutzpolizei - dia dipercaya oleh Hermann Göring (Menteri Dalam Negeri Prusia pada saat itu) untuk menjadi komandan dari Polizeiabteilung z.b.V. Wecke - cikal-bakal Divisi "Hermann Göring" - yang baru didirikan, sebuah unit khusus setingkat batalyon yang diisi oleh polisi-polisi yang fanatik terhadap Nasional-Sosialisme yang mempunyai tugas utama untuk menyingkirkan musuh-musuh Nazi. Wecke memimpin unit ini sampai bulan Juni 1934, saat pangkatnya telah menjadi Generalmajor der Polizei. Pada bulan Oktober 1935 dia ditransfer ke Heer (Angkatan Darat), hanya untuk dipindahkan kembali ke Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) dua tahun kemudian. Penugasan pertama Wecke di satuan barunya adalah sebagai Komandan Reichsluftschutz-Schule. Pada tahun 1939 dia pindah ke Slovakia untuk menempati jabatan baru sebagai Komandan Luftwaffenübungsplatzes Malacki. Wecke tidak merasakan kekalahan Jerman di akhir Perang Dunia II, karena dia keburu meninggal - akibat dari sakit yang dideritanya - di Rumah Sakit Luftwaffe Gotha di bulan Desember 1943. Medali dan penghargaan yang telah diraihnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse und I.Klasse; Deutsches Reiterabzeichen; Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht Dienstauszeichenung IV.Klasse bis I.Klasse; Kriegsverdienstkreuz II.Klasse und I.Klasse mit Schwertern; War Victory Cross Order (Slovakia) serta Grand Cross to the Order of the Slovakian Cross (Slovakia). Dalam foto ini Wecke mengenakan medali Komturkreuz 2. Klasse mit Schwertern des Herzoglich Sachsen-Ernestinischen Hausordens (2. Modell) di lehernya


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com

Saturday, August 17, 2019

Führerschein (Surat Izin Mengemudi)

Führerschein (Surat Izin Mengemudi) tertanggal 31 Juli 1937 milik Jäger Wilhelm Damaske dari I.Abteilung / Regiment "General Göring". Dokumen yang merupakan koleksi pribadi dari Gordon Williamson ini dicetak menggunakan bahan kain anti-air (oilcloth) yang tahan lama. Perhatikan garis putih di pinggiran kerah dari seragam bersaku empat yang dikenakannya, dan juga kragenspiegel khas berwarna perak di kerahnya


Sumber :
Buku "The Hermann Göring Division" karya Gordon Williamson

Sunday, August 11, 2019

Foto Arado Ar 66




Sebuah pesawat Arado Ar 66 difoto oleh Fähnrich Leopold Wenger di Schule / Fliegerausbildungsregiment 13, bulan April-Mei 1940. Fliegerausbildungsregiment 13 bermarkas di Pilsen, Cekoslowakia, meskipun mempunyai pangkalan tersendiri pula di Klattau. Wenger nantinya menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditempatkan di I.Gruppe / Jagdgeschwader 2 di akhir tahun 1941. Pada akhirnya dia menjadi seorang pilot Jabo (fighter-bomber) kawakan bersama dengan 10.Staffel / Jagdgeschwader 2. Wenger dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Januari 1945, tapi kemudian terbunuh tiga bulan kemudian - tepatnya pada tanggal 10 April 1945 - hanya berselang beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa!



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss
Foto koleksi pribadi Andreas Barowski
www.airliners.net

Pelatihan Pilot Luftwaffe



Oleh : Alif Rafik Khan

Tak lama setelah pembentukan Luftwaffe pada tanggal 1 Maret 1935, kini pelatihan terbang militer tidak hanya berlangsung secara terang-terangan melainkan juga diselenggarakan secara masif oleh banyak sekolah terbang dengan menggunakan beragam jenis pesawat.

Alur seorang kadet udara yang mendaftar di Luftwaffe biasanya begini: setelah direkrut oleh militer - dan mendapatkan pelatihan dasar seorang prajurit Wehrmacht - dia kemudian ditempatkan di Fliegerersätzabteilung (yang nantinya menjadi Fliegerausbildungsregiment) untuk mengikuti pelatihan navigasi dasar. Setelah lulus, si kadet calon awak udara selanjutnya dipindahkan ke Fluganwärterkompanie (untuk calon prajurit dan bintara) atau Luftkriegsschule (untuk calon perwira). Tempat-tempatr ini pada dasarnya adalah sekolah darat dimana para pilot diperkenalkan untuk pertama kalinya dengan pesawat terbang. Sebagai contoh, Soldbuch seorang kadet perwira Luftwaffe memperlihatkan bahwa dia tiba di Luftkriegsschule Dresden Klotzsche pada tanggal 4 Desember 1936, sebelum kemudian ditempatkan di Luftkriegsschule Berlin Gatow. Disini dia merasakan untuk pertama kalinya terbang dengan pesawat udara pada tanggal 21 Mei 1937, dilanjutkan dengan terbang solo menggunakan pesawat latih Heinkel He 72 pada tanggal 9 Juni 1937. Setelah itu, pelatihan terbang tahap awal diselenggarakan di Flugzeugführerschule (A/B), yang diikuti oleh Flugzeugführerschule (C) untuk pelatihan lanjutan. Khusus untuk pilot tempur, dia harus mengikuti pelatihan lebih jauh lagi yang diselenggarakan di Jagdfliegervorschule atau Jagdfliegerschule (pada tahun 1942, delapan Jagdfliegerschule dirubah namanya menjadi Jagdgeschwader 101 sampai Jagdgeschwader 108, dan masih ditambah lagi dengan Jagdgeschwader 109 sampai Jagdgeschwader 112). Dalam kasus kadet perwira kita yang menjadi contoh di atas, setelah mendapatkan Flugzeugführerabzeichen (Wing Udara) pertamanya, pada bulan Juli 1938 dia ditempatkan di Jagdfliegerschule Werneuchen untuk mendapatkan pelatihan sebagai pilot tempur, dan pada bulan berikutnya dipindahkan ke 9.Staffel / Jagdgeschwader 132 di Jüterbog-Damm. Dia pertama kali terbang dengan Fliegerausbildungsregiment 42 di Salzwedel pada bulan Maret 1939 dan - setelah mendapatkan pelatihan terbang buta di Prenzlau (masih bersama dengan Fliegerausbildungsregiment 42) - dia kemudian ditempatkan di Jagdfliegerschule 1 pada bulan November 1939 sebelum bergabung dengan 2.Staffel / Jagdgeschwader 53 di bulan berikutnya.

Untuk pilot-pilot yang terpilih ke unit-unit udara lainnya, dia akan mendapatkan pelatihan final di sekolah-sekolah khusus yang berbeda: calon pilot pembom ditempatkan di Grosse Kampffliegerschule, pilot pembom tukik di Sturzkampffliegervorschule, dan pilot pengintai di Aufklärungsfliegerschule. Pada bulan Oktober 1942 lima Kampffliegerschule yang tersedia kemudian dipecah lagi menjadi Kampfbeobachterschule atau Kampfschulegeschwader, dengan yang terakhir berganti nama menjadi Kampfgeschwader 101 di tahun selanjutnya.

Ketika Perang Dunia II pecah, maka dibutuhkan pula lebih banyak pelatihan lanjutan. Karenanya, kini setiap Geschwader (Skuadron Udara) pemburu atau pembom mempunyai pula unit-unit pelatihan sendiri (biasanya dinamakan sebagai Ergänzungsstaffel, Ausbildungsstaffel atau Ergänzungsgruppe), yang - dalam kasus unit pembom - maka kemudian dirubah namanya menjadi IV. Gruppe. Untuk para pilot pemburu, pada tahun 1942 elemen-elemen Erganzungs mereka dilebur menjadi bagian dari Ergänzungsjagdgruppe Ost, Süd atau West.

Setiap peran pesawat mempunyai sekolahnya masing-masing, begitu pula dengan pesawat yang mempunyai peran-peran khusus seperti Waffenschule, pembom torpedo serta penyebar ranjau, dan juga sekolah-sekolah awak udara lainnya seperti Beobacher, Bordfunker, Bordmechaniker dan Bordschützen. Terdapat pula sekolah terbang buta (instrumen). Kembali kepada kadet perwira kita (yang kini telah berpangkat Leutnant): Dia juga mengikuti kursus di sekolah semacam itu di Nordhausen antara tanggal 18 Januari s/d 24 Februari 1940 demi untuk mendapatkan lisensi instruktur terbang buta. Setelahnya dia kembali ke unitnya, 1.Staffel / Zerstörergeschwader 76, dan kini telah siap lahir batin menjadi pilot tempur Luftwaffe!

----------------------------------------------------------------------------------

 Para calon pilot (perhatikan ketiadaan Flugzeugführerabzeichen di seragam mereka) dari Fliegerausbildungsregiment 42 berfoto bersama dengan instruktur mereka, Unteroffizier Lauerer (berlutut dengan Flugzeugführerabzeichen di dada), di tempat latihan mereka di Wünsdorf, bulan Juni 1939. Para kadet ini mempunyai pangkat yang tak jauh berbeda dengan sang instruktur. Mereka yang sukses menyelesaikan pelatihan sebagai pilot nantinya mulai operasional dari awal tahun 1940, dan banyak di antara mereka - seperti yang menimpa Unteroffizier Willi Ghesla yang berlutut di sebelah kanan - akan tertangkap atau terbunuh dalam Pertempuran Britania sebelum tahun tersebut berakhir!

----------------------------------------------------------------------------------

ARADO

Sebuah pesawat Arado Ar 66 difoto oleh Fähnrich Leopold Wenger di Schule / Fliegerausbildungsregiment 13, bulan April-Mei 1940. Fliegerausbildungsregiment 13 bermarkas di Pilsen, Cekoslowakia, meskipun mempunyai pangkalan tersendiri pula di Klattau. Wenger nantinya menyelesaikan pelatihannya dan kemudian ditempatkan di I.Gruppe / Jagdgeschwader 2 di akhir tahun 1941. Pada akhirnya dia menjadi seorang pilot Jabo (fighter-bomber) kawakan bersama dengan 10.Staffel / Jagdgeschwader 2. Wenger dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 14 Januari 1945, tapi kemudian terbunuh tiga bulan kemudian - tepatnya pada tanggal 10 April 1945 - hanya berselang beberapa minggu sebelum Perang Dunia II berakhir di Eropa!


 Oberfeldwebel Weber menerbangkan pesawat Arado Ar 96 milik 3.Staffel / Jagdfliegerschule 4 di atas Fürth. Sekolah terbang pilot pemburu ini nantinya berganti nama menjadi Jagdgeschwader 104 pada tahun 1943. Lambang Jagdfliegerschule 4 adalah sebuah panah hitam bersayap di atas segitiga putih yang terletak di dalam perisai merah, dengan tulisan "Jagdfl-Schule 4" dengan tinta hitam di dalam kotak biru. Rekan sesama pilot yang mengambil foto ini adalah Gefreiter Hans Derksen, yang nantinya ditugaskan di 7.Staffel / Jagdgeschwader 302 dan terbunuh dalam sebuah kecelakaan di malam tanggal 25 November 1943, ketika pesawat Messerschmitt Bf 109 G-6 (werknummer 410142) yang dipilotinya jatuh di wilayah Wehnen, tidak jauh dari pangkalannya di Oldenburg

----------------------------------------------------------------------------------

BÜCKER

Sebuah pesawat latih Bücker Bü 131 "Jungmann" (werknummer 4560) yang terlihat di lapangan udara Fürstenfeldbruck yang menjadi pangkalan Luftkriegsschule 4. Di atas kokpit adalah Fähnrich Ulrich Laubis, yang nantinya akan ditembak jatuh dan menjadi tawanan perang saat bertugas di 3.Staffel / I.Gruppe / Kampfgeschwader 77 pada tanggal 23 Juni 1944


 Foto terbang perdana Fähnrich Friedrich Jirmann - yang diambil pada tanggal 31 Oktober 1941 di lapangan udara Werder/Havel - dengan menggunakan pesawat latih Bücker Bü 181 "Bestmann" milik Luftkriegsschule 3. Jirmann nantinya bergabung dengan 13.Staffel / V.Gruppe / Kampfgeschwader 2 (KG 2) "Holzhammer" pada bulan Oktober 1943, dan menerbangkan pesawat Messerschmitt Me 410 (unit ini nantinya berganti nama menjadi 5.Staffel / Kampfgeschwader 51). Jirmann terluka pada tanggal 25 Juni 1944 ketika pesawatnya ditembak jatuh, kemungkinan oleh Mosquito dari 488 Squadron RAF. Dia masih bersama dengan KG 51 sampai dengan akhir perang, dan sempat mendapatkan pelatihan untuk menerbangkan pesawat jet Messerschmitt Me 262



Sumber :
Buku "Luftwaffe Training Aircraft; The Training of Germany's Pilots and Aircrew through Rare Archive Photographs" karya Chris Goss