Pada tanggal 29 April 1941, bertempat di Sportpalast Berlin, Adolf Hitler - dalam kapasitasnya sebagai Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht (Pemimpin dan Panglima Tertinggi Angkatan Barsenjata Jerman) - berpidato di hadapan 9.000 calon perwira Wehrmacht (Heer, Luftwaffe dan Kriegsmarine, termasuk dari Waffen-SS), Pidato tersebut cukup menarik karena disampaikan tepat setelah rangkaian kemenangan cepat Jerman di Balkan, khususnya penaklukan Yugoslavia dan Yunani, yang ia jadikan sebagai bukti keunggulan kepemimpinan, disiplin, dan doktrin perang Jerman. Dalam pidato tersebut Hitler tidak berbicara kepada massa umum, melainkan kepada calon elite militer, sehingga nadanya lebih ideologis dan pedagogis: ia menekankan konsep Führerprinzip, ketaatan mutlak dalam rantai komando, serta tanggung jawab moral perwira sebagai “pendidik politik” bagi anak buahnya. Fakta menariknya, Hitler juga menggunakan pidato ini untuk memperkuat keyakinan bahwa Inggris telah berada di ambang kekalahan—sebuah klaim optimistis yang disampaikan hanya beberapa minggu sebelum Operasi Barbarossa dimulai—sekaligus menampilkan dirinya bukan sekadar kepala negara, tetapi sebagai panglima perang yang memahami detail strategi, psikologi prajurit, dan peran perwira dalam perang akbar yang sedang dijalani oleh Jerman.
Sumber :
Die Deutsche Wochenschau No. 557 - 7 Mei 1941
No comments:
Post a Comment