Nama lengkap: Friedrich Wilhelm Ernst Paulus
Panggilan/julukan: "Der Lord" atau "The Lord" (Tuan Lord) — ini berasal dari masa mudanya saat kuliah dan awal masuk militer. Ia dikenal sangat rapi, sering berganti baju dan mandi dua kali sehari, serta berperilaku sopan dan elegan seperti bangsawan Inggris. Rekan-rekannya (terutama yang lebih berpengalaman tempur) memberi julukan sarkastis ini kepadanya. Julukan lainnya yang kadang muncul (meski lebih bersifat deskriptif daripada julukan resmi): "The Noble Lord" atau "Our Most Elegant Gentleman" — variasi dari julukan di atas, juga bersifat sindiran karena gaya hidupnya yang bersih dan teratur dibandingkan tentara garis depan.
Lahir: 23 September 1890 di Guxhagen, Hessen (Kekaisaran Jerman)
Meninggal: 1 Februari 1957 di Dresden, Sachsen (Jerman Timur)
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Tidak ada
Agama: Katolik
Orangtua: Ayah: Ernst Alexander Paulus (atau Ernst Paulus), seorang pegawai negeri sipil yang bekerja sebagai bendahara/kasir di lembaga pemasyarakatan (Korrektionsanstalt) di Breitenau, kemudian menjadi bendahara di Hesse-Nassau. Keluarganya bukan dari kalangan bangsawan. Ibu: Bertha Elwira Nettelbeck (putri seorang direktur atau konduktor bernama Friedrich Wilhelm Nettelbeck)
Saudara: Ernst Paulus dan Cornelia Elisabeth Paulus
Istri: Constance Elena Rosetti-Solescu (juga disebut Elena "Coca" Rosetti-Solescu, lahir 25 Januari 1889 – meninggal 9 November 1949). Ia adalah bangsawan Rumania dari keluarga Rosetti yang terkemuka. Mereka menikah pada 4 Juli 1912 di Rastatt, Baden (Jerman). Pernikahan ini memberi Paulus "sentuhan aristokrat" dalam gaya hidupnya, meskipun ia sendiri bukan bangsawan. Elena meninggal di Jerman Barat pada 1949, sementara Paulus masih ditahan di Uni Soviet hingga 1953. Ia tidak pernah bertemu lagi dengan istrinya setelah menyerah di Stalingrad.
Anak: Putri: Olga Paulus (lahir 1914 – meninggal 2003). Ia menikah dengan Achim von Kutzschenbach (1904–1944), seorang bangsawan Jerman mantan ajudan Paulus. Selain itu, Paulus juga dikaruniai anak kembar laki-laki (lahir 11 April 1918): Friedrich Paulus (atau Friedrich Effrem Paulus) – menjadi perwira Wehrmacht (Hauptmann), tewas dalam pertempuran di Anzio, Italia, pada 29 Februari 1944 (usia 25 tahun). Ernst Alexander Paulus – juga perwira Wehrmacht, terluka di Stalingrad, kemudian ditangkap Gestapo setelah ayahnya bekerja sama dengan Soviet pada 1944, ditahan hingga akhir perang. Ia meninggal pada 1970. Catatan tambahan: Setelah Paulus menyerah di Stalingrad (Januari 1943), Hitler memerintahkan penangkapan seluruh keluarganya sebagai "hukuman". Istri dan anak-anaknya sempat ditahan oleh Nazi, meskipun kemudian dibebaskan sebagian.
Ciri fisik: Tinggi 193cm, warna mata biru atau abu-abu muda (blue/grayish), warna rambut cokelat gelap atau hitam di masa muda (dari foto-foto hitam-putih era 1910-an hingga 1930-an, rambutnya tampak gelap). Di usia tua (setelah 50-an), rambutnya memutih atau abu-abu, seperti terlihat di foto pasca-Stalingrad dan saat di Dresden.
Beförderungen (Promosi):
18 Februari 1910: Fahnenjunker.
27 Januari 1911: Leutnant.
18 Oktober 1917: Oberleutnant.
1 April 1925: Hauptmann.
1 Februari 1933: Major.
1 April 1934: Oberstleutnant.
1 Juni 1935: Oberst.
1 Januari 1939: Generalmajor.
1 Agustus 1940: Generalleutnant.
1 Januari 1942: General der Panzertruppe.
20 Januari 1943: Generaloberst.
30 Januari 1943: Generalfeldmarschall.
Karriere (Karir):
18 Februari 1910: Bergabung dengan Infanteri-Regiment Nr. 111 sebagai Fahnenjunker di Rastatt.
1911-1914: Bertugas sebagai perwira muda di resimennya, termasuk pelatihan dan tugas garnisun.
1914-1918: Bertugas di Front Barat (Vosges, Champagne, Arras) dan Balkan (Rumania, Serbia, Makedonia) selama Perang Dunia I, awalnya sebagai ajudan resimen, kemudian staf di Alpenkorps; terluka dan menjadi staf perwira hingga akhir perang sebagai Hauptmann.
1918-1919: Setelah gencatan senjata, bertugas sebagai ajudan brigade di Freikorps di perbatasan timur.
1919-1921: Dipilih untuk Reichswehr (tentara Weimar yang dibatasi Versailles), bertugas di berbagai posisi staf.
1921-1933: Komandan kompi di Infanteri-Regiment Nr. 13 di Stuttgart; juga memberikan kuliah di Moskow di bawah kerjasama rahasia Soviet-Weimar; tugas staf di berbagai unit.
1 April 1934: Komandan Kraftfahr-Abteilung Nr. 3 (salah satu batalion bermotor pertama di Wehrmacht).
1 Juni 1935: Kepala staf Kommando der Panzertruppen di Berlin, mengkoordinasikan pengembangan pasukan lapis baja.
Oktober 1935: Kepala staf Oberkommando der Panzertruppe di bawah Oswald Lutz.
1 November 1938: Kepala staf XVI. Armeekorps (mot.) di Berlin di bawah Heinz Guderian.
Mei 1939: Kepala staf Heeresgruppe 4 di Leipzig, terlibat dalam pendudukan Praha; kemudian kepala staf 10. Armee untuk invasi Polandia pada September 1939.
1940: Kepala staf 6. Armee selama kampanye Barat (Belanda, Belgia, Prancis).
Agustus 1940: Wakil kepala staf umum Angkatan Darat Jerman (Oberquartiermeister I) di OKH, terlibat dalam perencanaan Operasi Barbarossa.
20 Januari 1942: Komandan 6. Armee setelah kematian Walter von Reichenau; memimpin pasukan di Front Timur, termasuk Pertempuran Kharkov Kedua pada Mei 1942.
Musim panas 1942: Memimpin 6. Armee dalam Operasi Biru menuju Stalingrad; terlibat dalam pertempuran kota sengit.
November 1942-Januari 1943: Dikepung di Stalingrad oleh Operasi Uranus Soviet; menolak mundur meskipun perintah Hitler untuk bertahan; upaya bantuan seperti Operasi Winter Storm gagal.
31 Januari 1943: Menyerah di Stalingrad, ditangkap oleh Soviet bersama sisa 6. Armee.
1943-1944: Ditahan di kamp tawanan perang Soviet; awalnya menolak kolaborasi, tapi setelah plot 20 Juli 1944, bergabung dengan Komite Nasional Jerman Bebas dan Liga Perwira Jerman.
1945-1953: Tetap ditahan di Uni Soviet; bersaksi di Pengadilan Nuremberg pada 1946 melawan pemimpin Wehrmacht.
1953-1956: Dibebaskan dan pindah ke GDR; menjadi kepala sipil Institut Penelitian Sejarah Militer di Dresden; memberikan pidato kritik terhadap kepemimpinan militer Jerman dan mendukung rekonsiliasi Eropa.
1956: Pensiun karena sakit.
Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
1914-1918: Iron Cross (1914) 2nd Class.
1914-1918: Iron Cross (1914) 1st Class.
1914-1918: Military Merit Order 4th Class with Swords (Bavaria).
1914-1918: Knight's Cross Second Class of the Order of the Zähringer Lion with Swords (Baden).
1914-1918: Military Merit Cross 1st and 2nd Class (Mecklenburg-Schwerin).
1914-1918: Cross for Merit in War (Saxe-Meiningen).
1914-1918: Military Merit Cross 3rd Class with War Decoration (Austria-Hungary).
1914-1918: Gallipoli Star (Ottoman Empire).
1934-1938: Honour Cross of the World War 1914/1918 with Swords.
27 September 1939: Clasp to the Iron Cross 2nd Class.
21 September 1939: Clasp to the Iron Cross 1st Class.
26 Agustus 1942: Knight's Cross of the Iron Cross (sebagai General der Panzertruppe dan komandan 6. Armee).
15 Januari 1943: Oak Leaves to the Knight's Cross of the Iron Cross (sebagai Generaloberst dan komandan 6. Armee).
1943: Order of the Cross of Liberty 1st Class with Oak Leaves and Swords (Finland).
1943: Order of Michael the Brave 1st, 2nd, and 3rd Class (Rumania).
1943: Military Order of the Iron Trefoil 1st Class with Oak Leaves (Negara Merdeka Kroasia).
-------------------------------------------------------------------------------------
Friedrich Wilhelm Ernst Paulus (23 September 1890 – 1 Februari 1957) adalah seorang perwira tinggi militer Jerman yang naik pangkat menjadi *Generalfeldmarschall* selama Perang Dunia II. Ia paling dikenal sebagai komandan AD ke-6 Wehrmacht yang memimpin serangan ke Stalingrad, salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah. Penyerahannya kepada Tentara Merah Soviet pada 1943 menandai titik balik bagi Jerman Nazi dan membuatnya menjadi field marshal pertama yang menyerah hidup-hidup. Paulus, yang berasal dari latar belakang sederhana, dikenal sebagai perwira staf yang brilian tapi kurang pengalaman komando lapangan, dan kehidupannya pasca-perang penuh kontroversi karena kolaborasinya dengan Soviet.
Paulus lahir di Guxhagen, Jerman, dan dibesarkan di Kassel, Hesse-Nassau. Ayahnya, Ernst Alexander Paulus, adalah seorang bendahara di lembaga pemasyarakatan, sementara ibunya bernama Bertha Elwira Nettelbeck. Keluarganya bukan dari kalangan bangsawan, meskipun sering keliru disebut "von Paulus" dalam sumber berbahasa Inggris. Paulus menikah dengan Constance Elena Rosetti-Solescu (dikenal sebagai "Coca"), seorang bangsawan Rumania dari keluarga Rosetti yang terkemuka, pada 4 Juli 1912. Pernikahan ini memberinya sentuhan aristokrat, meskipun ia sendiri dari latar belakang biasa. Mereka memiliki tiga anak: satu putri, Olga (1914–2003), yang menikah dengan Achim von Kutzschenbach (seorang bangsawan Jerman yang tewas pada 1944), dan anak kembar laki-laki, Friedrich (tewas di Anzio, Italia, pada 1944) serta Ernst Alexander (meninggal 1970). Istri Paulus meninggal pada 1949, sebelum ia dibebaskan dari tahanan Soviet.
Berikut adalah ringkasan keluarga Paulus dalam bentuk tabel:
| Anggota Keluarga | Hubungan | Tanggal Lahir/Meninggal | Catatan |
|------------------|----------|-------------------------|---------|
| Ernst Alexander Paulus | Ayah | Tidak diketahui | Bendahara sipil |
| Bertha Elwira Nettelbeck | Ibu | Tidak diketahui | - |
| Constance Elena Rosetti-Solescu | Istri | 1889–1949 | Bangsawan Rumania |
| Olga Paulus | Putri | 1914–2003 | Menikah dengan Achim von Kutzschenbach |
| Friedrich Paulus (Jr.) | Anak Laki-laki | 1918–1944 | Tewas di pertempuran Anzio |
| Ernst Alexander Paulus (Jr.) | Anak Laki-laki | 1918–1970 | Terluka di Stalingrad, ditahan Gestapo |
Paulus gagal masuk ke Angkatan Laut Kekaisaran Jerman sebagai kadet dan sempat belajar hukum di Universitas Marburg tanpa menyelesaikan gelar. Pada Februari 1910, ia bergabung dengan Resimen Infanteri ke-111 sebagai kadet perwira. Selama Perang Dunia I, ia bertugas sebagai perwira staf di Alpenkorps, bertempur di Prancis (Vosges dan Arras pada 1914), Romania, dan Serbia. Ia mengakhiri perang dengan pangkat kapten. Setelah perang, ia bertugas di Freikorps dan terpilih sebagai salah satu dari 4.000 perwira untuk Reichswehr, angkatan bersenjata Jerman yang dibatasi oleh Perjanjian Versailles.
Pada 1920-an, ia memberikan kuliah tamu di Moskow sebagai bagian dari kerjasama militer Republik Weimar-Soviet. Ia memimpin kompi di Resimen Infanteri ke-13 di Stuttgart dan menjabat berbagai posisi staf hingga 1933. Pada 1934–1935, ia memimpin batalion bermotor dan menjadi kepala staf di Komando Pasukan Panzer di bawah Oswald Lutz.
Pada Februari 1938, Paulus ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum untuk Korps Angkatan Darat XVI di bawah Heinz Guderian, yang memuji kecerdasannya tapi meragukan ketegasan dan ketangguhannya karena kurang pengalaman komando. Dipromosikan menjadi mayor jenderal pada Mei 1939, ia menjadi kepala staf AD ke-10 (kemudian AD ke-6) selama invasi Polandia (1939) dan Negara-Negara Rendah/Prancis (1940). Pada Agustus 1940, ia menjadi letnan jenderal dan wakil kepala Staf Umum Angkatan Darat Jerman (Oberquartiermeister I), di mana ia membantu merencanakan Operasi Barbarossa, invasi Uni Soviet.
Pada Januari 1942, setelah kematian Walter von Reichenau, Paulus dipromosikan menjadi Jenderal Panzertruppe dan memimpin AD ke-6. Ia memimpin serangan musim panas 1942 menuju Stalingrad, terlibat dalam pertempuran kota selama lebih dari tiga bulan.
Paulus memimpin AD ke-6 dalam Operasi Barbarossa dan kemajuan ke Stalingrad. Pada November 1942, selama Operasi Uranus Soviet, pasukannya terkepung. Meskipun Erich von Manstein memerintahkan persiapan breakout, Paulus tidak melakukannya, mempertahankan posisi defensif di tengah upaya bantuan yang gagal seperti Operasi Winter Storm. Dipromosikan menjadi jenderal kolonel pada awal 1943, ia menolak kapitulasi meskipun tawaran Soviet.
Hitler melarang breakout atau penyerahan, memerintahkan Paulus mempertahankan Stalingrad dengan segala cara. Paulus berkali-kali meminta izin menyerah karena kekurangan makanan, amunisi, dan perawatan untuk 18.000 tentara terluka, tapi ditolak. Pada 30 Januari 1943, Hitler mempromosikannya menjadi field marshal (efektif 31 Januari), menyiratkan bunuh diri karena tradisi bahwa tidak ada field marshal Jerman yang menyerah hidup-hidup. Namun, sebagai Katolik Roma yang menentang bunuh diri, Paulus menyerah pada 31 Januari 1943 bersama stafnya. Sisa AD ke-6 menyerah pada 2 Februari 1943.
Awalnya, Paulus menolak kolaborasi dengan Soviet. Namun, setelah upaya pembunuhan Hitler pada 20 Juli 1944, ia menjadi kritikus rezim Nazi dan bergabung dengan Komite Nasional untuk Jerman Bebas yang disponsori Soviet, mendesak pasukan Jerman menyerah. Ini menyebabkan istri dan putrinya ditahan oleh Nazi melalui Sippenhaft. Setelah perang, ia bersaksi sebagai saksi penuntut di Pengadilan Nuremberg.
Pada konferensi pers di Berlin Timur tahun 1954, ia mengkritik kepemimpinan politik Kekaisaran Jerman dan Nazi, memuji Guderian, mengutuk kebijakan luar negeri AS, dan mendukung rekonsiliasi Jerman-Prancis serta reunifikasi Jerman.
Paulus dibebaskan ke Jerman Timur pada 1953, dua tahun sebelum pembebasan POW Jerman lainnya. Ia tinggal di Dresden dari 1953 hingga 1956, bekerja sebagai kepala sipil Institut Penelitian Sejarah Militer Jerman Timur. Ia memberikan pidato di Berlin pada 2 Juli 1954 tentang isu vital bangsa.
Pada akhir 1956, Paulus didiagnosis amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dan semakin lemah. Ia meninggal pada 1 Februari 1957 di Dresden pada usia 66 tahun. Sesuai wasiatnya, jenazahnya dipindahkan ke Baden-Baden, Jerman Barat, untuk dimakamkan di samping istrinya.
Paulus digambarkan oleh Guderian sebagai cerdas, teliti, pekerja keras, orisinal, dan berbakat, tapi kurang tegas dan tangguh karena minim pengalaman komando. Ia dikenal sangat taat perintah, seperti saat mempertahankan Stalingrad. Julukannya "Der Lord" (Tuan Lord) berasal dari gaya hidupnya yang rapi dan elegan, seperti bangsawan Inggris—ia sering mandi dua kali sehari dan memakai sarung tangan untuk menghindari kotoran.
Ia beragama Katolik Roma, yang memengaruhi keputusannya menolak bunuh diri. Secara fisik, Paulus tinggi sekitar 193 cm, kurus, dengan rambut cokelat gelap (kemudian abu-abu), dan mata biru atau abu-abu muda. Ia tampak pucat dan lelah di akhir Stalingrad.
Penyerahan Paulus kontroversial; Hitler marah dan bersumpah tidak lagi mempromosikan field marshal (meskipun ia melakukannya tujuh kali lagi). Paulus mengklaim ia "ditangkap secara mendadak," bukan menyerah. Kolaborasinya dengan Soviet kontras dengan perannya dalam bencana Stalingrad, di mana AD ke-6 kehilangan ratusan ribu nyawa—dari 100.000 tawanan, hanya sekitar 6.000 yang selamat. Warisannya mencakup sikap anti-Nazi pasca-perang, seruan persatuan Jerman, dan perdamaian. Ia menjadi simbol kegagalan strategi Hitler dan titik balik Perang Dunia II.
Sumber:
Buku: Paulus and Stalingrad: A Life of Field-Marshal Friedrich Paulus oleh Walter Görlitz (1963, Methuen; edisi 2016, Pickle Partners Publishing)
https://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Paulus
https://www.lexikon-der-wehrmacht.de/Personenregister/P/Paulus.htm
https://www.tracesofwar.com/articles/4713/Friedrich-Paulus.htm
https://www.tracesofwar.com/persons/34844/Paulus-Friedrich-Wilhelm-Ernst.htm
https://grokipedia.com/page/Friedrich_Paulus
https://www.unithistories.com/officers/bio/german/HeerP.htm
https://forum.axishistory.com/viewtopic.php?f=5&t=131513
https://www.geni.com/people/Friedrich-Paulus/6000000008768508633
https://books.google.com/books/about/Paulus_and_Stalingrad.html?id=4JPEDAAAQBAJ
https://www.bild.bundesarchiv.de/dba/en/search/?yearfrom=&yearto=&query=friedrich+paulus&page=4#

No comments:
Post a Comment