Monday, November 30, 2009

Hitler Diselamatkan Oleh Seorang Prajurit Inggris Dalam Perang Dunia Pertama!

Adolf Hitler berfoto bersama Perdana Menteri Inggris Neville Hewitt Chamberlain di konferensi Münich yang berlangsung bulan September 1938. Disinilah mulai terungkap akan masa lalu Hitler yang tak terduga


Lukisan terkenal dari Fortunino Matania berjudul "Marcoing" yang memperlihatkan prajurit Henry Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka. Tanpa disangka, Adolf Hitler menyimpan kopi lukisan ini di tempat peristirahatannya, yang ternyata mengingatkannya pada saat-saat dia masih muda, ketika seorang prajurit Inggris menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk!


Henry Tandey si prajurit Inggris peraih Victoria Cross sekaligus orang yang "Berjasa" menyelamatkan Hitler dalam Perang Dunia I


Adolf Hitler ketika menjalani masa perawatan setelah terluka di front pertempuran. Di foto bertanggal 26 Oktober 1916 ini dia berpose dengan para rekan sejawatnya dengan mengenakan pakaian putih rumah sakit. Yang manakah dia? Cari saja huruf "X" di atas kepala, nah kepalanya itu adalah Hitler sendiri!


Adolf Hitler sebagai seorang prajurit biasa, difoto ketika baru mendaftar menjadi sukarelawan tahun 1914. Kumisnya masih belum berbentuk khas seperti Chaplin!


Oleh : Alif Rafik Khan


Perjalanan sejarah selalu dipenuhi oleh momen-momen menentukan yang oleh para cendekiawan disebut sebagai “what if’s” (bagaimana bila), dimana bila saja peristiwa tersebut berakhir sedikit berbeda, maka perjalanan hidup umat manusia secara keseluruhan akan berubah secara dramatis. Peristiwa semacam itu terjadi di babakan akhir Perang Dunia Pertama di sebuah desa Prancis bernama Marcoing, yang melibatkan seorang prajurit Inggris berusia 27 tahun bernama Henry Tandey dari Warwickshire, dan seorang kopral Jerman berusia 29 tahun dari Braunau, Austria, bernama... Adolf Hitler.


Henry Tandey dilahirkan di Leamington, Warwickshire, tanggal 30 Agustus 1891, merupakan anak dari mantan tentara bernama James Tandey. Setelah mengalami masa anak-anak yang penuh kesulitan, sebagian karena sempat menghabiskan hidupnya di rumah yatim piatu, Tandey bekerja sebagai pelayan ketel di sebuah hotel di Leamington sebelum mendaftarkan diri di Angkatan Darat Inggris, bergabung dengan the Green Howards Regiment bulan Agustus 1910, dengan harapan untuk menjalani hidup yang penuh petualangan seperti impian masa kecilnya.


Prajurit Tandey bertugas bersama batalion kedua di Afrika Selatan dan Guernsey sebelum pecahnya perang tahun 1914. Dalam perang akbar ini, dia ikut berjibaku dalam pertempuran Ypres yang pertama bulan Oktober 1914. Dua tahun kemudian kakinya terluka dalam Pertempuran Somme. Sedikit masa dijalani di rumah sakit militer di Inggris, untuk kemudian dipindahkan ke Batalion ke-9 yang berkedudukan di Flanders, hanya untuk mengalami luka yang kedua kalinya di Passchendaele bulan November 1917. setelah keluar dari rumah sakit dia bergabung dengan Batalion ke-12 di Prancis tahun 1918. Unitnya sendiri dibubarkan bulan Juli tahun yang sama, dan Tandey diperbantukan di Resimen Duke of Wellington ke-5 dari 26 Juli sampai dengan 4 Oktober 1918. pada saat inilah prajurit Tandey dianugerahi DCM atas keberaniannya dalam pertempuran di Vaulx Vraucourt tanggal 28 Agustus, MM untuk heroisme di Havrincourt tanggal 12 September, dan Victoria Cross untuk keberanian yang luar biasa di Marcoing tanggal 28 September 1918. Setelah Perang Dunia I berakhir, dia ditempatkan di Resimen Duke of Wellington ke-2 di Gibraltar, Turki dan Mesir tanggal 4 Februari 1921. Setelah merasa cukup ‘bertualang’, Tandey berhenti dari ketentaraan tanggal 5 Januari 1926 dengan pangkat terakhir Sersan, dan meninggalkan nama harum sebagai prajurit Inggris dengan medali tertinggi dalam Perang Dunia I! Kalau saja dia jadi perwira, tak diragukan lagi titel bangsawan pastilah akan disematkan kepadanya.


Nama Tandey disebutkan lima kali dalam berita perang dan telah jelas mendapatkan Victoria Crossnya selama pendudukan desa Prancis dan penyeberangan ke Marcoing. Resimennya tertahan oleh tembakan senapan mesin, dan Tandey merangkak maju untuk mencari tahu lokasi dari sarang senapan mesin yang telah menimbulkan neraka pada pasukannya. Tak lama sarang tersebut telah dinetralisir oleh prajurit ini. Ketika tiba di tempat persimpangan, dengan berani dia menantang peluru untuk meletakkan sebuah papan kayu sebagai penutup lubang yang terbuka yang memungkinkan pasukannya tetap maju dan meladeni pasukan Jerman. Tapi hari belumlah berakhir, dan sekali lagi Tandey menunjukkan keperwiraannya. Dia memimpin serangan bayonet terhadap musuh yang kini telah kalah jumlah, dan berhasil memaksakan pasukan Jerman berpikir ulang apakah mereka akan meneruskan perlawanan kalau memang situasinya sudah sangat tidak memungkinkan bagi mereka. Setelah pertempuran seru tersebut hampir berakhir dan pasukan Jerman mulai menyerah atau bergerak mundur, seorang prajurit Jerman yang terluka berjalan dengan terpincang-pincang dan tepat berada dalam sasaran bidikan prajurit Tandey. Tentara musuh dengan seragam yang telah lusuh dan muka acak-adut tersebut tak pernah mengangkat senapannya dan hanya menatap Tandey, seakan meminta belas kasihan. “Aku telah siap untuk membidiknya tapi tak mampu menggerakkan pelatuk untuk menembak prajurit yang terluka itu, jadi aku biarkan ia pergi,” kata Tandey.


Prajurit Jerman itu lalu menganggukkan kepalanya seakan berterimakasih, dan kemudian kedua orang tersebut berpisah jalan, di hari itu dan juga di dalam sejarah kemudian. Hitler mundur bersama pasukan Jerman yang masih tersisa dan berhasil sampai dengan selamat di Jerman, dimana setelah perang berakhir dia menanjak dengan cepat dalam karir politiknya dengan “menjual” kisah pengkhianatan Yahudi dalam kekalahan Jerman di Perang Dunia I. Sementara bagi Tandey sendiri, tak lama dia telah melupakan peristiwa bersama prajurit Jerman tersebut dan bergabung kembali dengan resimennya, tak mengetahui bahwa dia telah dianugerahi oleh medali keberanian tertinggi yang bisa diberikan Inggris bagi para ksatrianya, Victoria Cross! Berita itu diumumkan di London Gazette terbitan 14 Desember 1918 dan yang menyematkan medali itu pada Tandey di Buckingham Palace tanggal 17 Desember 1919, tidak lain tidak bukan adalah raja George V langsung! Dalam berita-berita koran yang terbit kemudian terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Tandey sedang memanggul prajurit yang terluka dalam Pertempuran Ypres, suatu gambar dramatis yang mensimbolisasikan bahwa seharusnyalah perang ini dapat mengakhiri perang-perang yang akan muncul kemudian. Foto tersebut menjadi begitu terkenalnya, sehingga diabadikan ke dalam kanvas oleh pelukis Italia Fortunino Matania.


Tandey berhenti dari ketentaraan di tahun 1926 dalam usia 35 tahun dengan pangkat terakhirnya adalah Sersan. Dia lalu tinggal di Leamington untuk kemudian menikah dan menjalani kehidupan sebagai seorang sipil. Dia menghabiskan 38 tahun berikutnya sebagai kepala keamanan pabrik di Triumph, yang lalu dikenal sebagai Standard Motor Company. Tandey hidup tanpa gembar-gembornya dunia luar dan meskipun dia dipandang sebagai seorang pahlawan perang oleh semuanya, tapi dia bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu untuk menyombongkan apa yang telah dia lakukan, dan malahan tak akan mau untuk membicarakannya kecuali ada orang yang bertanya.


Di tahun 1938 Perdana Menteri konservatif Inggris Neville Chamberlain (1869-1940), yang menjabat dari tahun 1937-1940, berangkat dengan muram ke Münich untuk bertemu dengan Kanselir Hitler dalam usaha terakhir untuk mencegah perang, yang kemudian berujung ke sesuatu yang lebih dikenal sebagai “Perjanjian Münich”. Dalam kunjungan tersebut Hitler mengundangnya untuk mengunjungi tempat peristirahatannya yang baru selesai dibangun di Berchtesgaden, Bavaria, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Martin Bormann dan Partai Nazi. Bangunan tersebut berdiri setinggi 6017 kaki di atas gunung Kehlstein, dan disitu orang dapat melihat ke semua arah sampai sejauh 200 kilometer! Ketika disana sang Perdana Menteri menjelajahi bagian puncak dari bangunan dan menemukan sebuah reproduksi dari lukisan terkenal hasil karya Matania tentang pertempuran di Marcoing. Chamberlain langsung puyeng atas pilihan karya seni Hitler ini, yang menempatkan lukisan seorang pasukan Sekutu di bagian paling utama bangunan tempat peristirahatannya! Hitler tahu akan kebingungan seterunya, lalu menjelaskan, “kalau saja orang itu membunuhku dalam pertempuran tersebut, maka aku tak akan pernah melihat Jerman kembali, kuasa Tuhan telah menyelamatkanku dari tembakan-tembakan akurat yang diarahkan anak-anak Inggris itu pada kami.”


Tak pernah diketahui bagaimana tanggapan Chamberlain atas keterangan mengejutkan ini, karena tak lama Perang Dunia II yang sangat ditakutkannya pecah juga dan Chamberlain pun digantikan oleh Winston Churchill, untuk kemudian meninggal beberapa bulan setelah lengser disebabkan oleh kanker perut. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, saya berkeyakinan bahwa Chamberlain pastinya berharap bahwa Tandey seharusnya menarik pelatuknya dan bukan melepaskannya, sehingga menghindarkan dunia (dan dirinya) dari berhadapan dengan Hitler di kemudian hari! Sebelum berpisah, tak lupa Hitler memanfaatkan waktu yang sedikit untuk meminta Chamberlain agar menyampaikan salam persahabatan dan terimakasih kepada Tandey, yang lalu berjanji akan menelepon si mantan prajurit sekembalinya ke London. Sampai pada saat itu Tandey tak pernah mengetahui sedikitpun bahwa orang yang berada dalam bidikan tembakannya 20 tahun lalu adalah sang diktator yang terkenal Adolf Hitler. Ketika diberitahu, yang ada adalah keterkejutan yang sangat, apalagi bila kita tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang dia bangga-banggakan sebelumnya.


Kabar itu akhirnya bocor juga ke dunia luar di tahun 1940, meskipun pada mulanya tak banyak orang peduli. Barulah di tahun-tahun sekarang orang mulai menaruh minat pada sisi lain dari sejarah ini. Beberapa sejarawan mengungkapkan keraguannya mengingat bahwa cerita ini terlalu bagus untuk dipercaya, meskipun dilihat dari sudut manapun ini adalah suatu fakta dan bukan kabar angin-angin belaka. Dari sudut logika pun, bisa dilihat bahwa tak akan ada manusia yang membuat cerita tentang bagaimana dia menyelamatkan orang lain yang kemudian menjadi musuh negaranya, yang membom Coventry, mem-Blitz London dari udara, dan manapaktilasi Julius Caesar dan Napoleon Bonaparte dalam menguasai Eropa! Resimen Hitler memang berada di Marcoing pada saat itu meskipun keberadaannya sendiri disana tak dapat diverifikasi. Sebabnya adalah karena banyak catatan militer Jerman di Bundesarchiv (Arsip Negara) yang hilang dalam Perang Dunia II akibat dari pemboman Sekutu yang terus menerus atas kota Berlin. Karenanya, dokumen yang menunjukkan lokasi persis keberadaan Hitler di tanggal 28 September 1918 tak tersedia. Para pembuat biografi Hitler pun mempunyai opini yang berbeda atas hal ini. Satu yang tak terbantahkan : Hitler mempunyai kopi lukisan Matania terkenal yang memperlihatkan Tandey dari sejak tahun 1937, yang mendapatkannya dari resimen lama Tandey. Kolonel Earle (mantan komandan resimen tersebut) mengatakan bahwa dia pernah mendengar dari seseorang bernama Dr. Schwend tentang keinginan Hitler untuk mempunyai foto besar lukisan Matania. Yang jelas tak lama kemudian keinginan Hitler dipenuhi karena ajudan Hitler yang bernama Hauptmann Weidmann menulis surat terimakasih ini pada Earle :


“Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya dari Führer atas hadiah persahabatan yang telah dikirimkan ke Berlin melalui kantor Dr. Schwend ini. Führer selalu mempunyai rasa ketertarikan atas segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman pribadinya dalam Perang Dunia I, dan beliau jelas-jelas tersentuh ketika saya memperlihatkan reproduksi tersebut padanya. Beliau sangat berterimakasih atas hadiah yang anda berikan, yang telah membawa begitu banyak kenangan untuknya.”


Salah satu sumber terpercaya lainnya akan cerita ini tentulah keluarga Tandey sendiri, yang hadir ketika Perdana Menteri Chamberlain menelepon untuk menyampaikan berita tentang Hitler. Keponakan Tandey yang bernama William Whateley dari Thomaby mengingat kembali sebuah telepon misterius yang terjadi hampir 60 tahun yang lalu, ketika awan kelabu peperangan mulai timbul di atas Eropa dan Perdana Menteri Chamberlain berusaha dengan sia-sia untuk mencegahnya. Di suatu sore telepon berdering dan Henry pergi untuk menjawabnya. Ketika kembali dia berkata bahwa yang menelepon adalah sang Perdana Menteri itu sendiri. Dia baru saja kembali dari pertemuannya dengan Hitler, dan ketika sedang berada di Berchtesgaden dia memperhatikan sebuah lukisan dari Matania yang memperlihatkan 2nd Green Howards di persimpangan Menin tahun 1914. Chamberlain bertanya tentang apa yang mereka lakukan disana, dan jawaban Hitler adalah dengan menunjuk gambar Tandey yang berdiri di latar depan sambil berkata, “Ini orang yang nyaris saja menembak mati saya.”


Salah satu dari aspek penting dari peristiwa ini yang menjadi perhatian utama para sejarawan adalah fakta bahwa Adolf Hitler dan Henry Tandey sama-sama berjibaku dalam Pertempuran Ypres tahun 1914, suatu peristiwa penting dalam hidup Hitler. Disini dia berkali-kali menunjukkan keperwiraannya dalam pertempuran, salah satunya dengan menyelamatkan nyawa seorang perwira yang terluka parah. Atas jasa-jasanya, maka pangkat Hitler dinaikkan menjadi Kopral. Gambar Matania yang terkenal yang memperlihatkan Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka ke tempat pertolongan pertama di Persimpangan Menin pun sebenarnya dibuat berdasarkan pertempuran tersebut dan bukan Marcoing. Ada kemungkinan bahwa telah terjadi simpang siur akan lokasi yang sebenarnya dari pertemuan bersejarah antara Hitler dan Tandey, kemungkinan besar Ypres dan hanya sedikit kemungkinan Marcoing. Tandey sendiri pernah mengatakan bahwa dalam perang tugasnya adalah sebagai perawat teman yang terluka sekaligus orang yang melucuti tentara Jerman yang menyerah, sehingga kemungkinan besar Marcoing bukanlah saat pertama atau terakhir dimana dia melakukan suatu perbuatan yang manusiawi di suatu keadaan yang tidak manusiawi. Kenyataan bahwa Tandey dianugerahi Victoria Cross atas jasa-jasanya dalam Pertempuran Marcoing mungkin saja telah mempengaruhi Perdana Menteri Chamberlain akan ingatannya tentang bincang-bincang kenangan perang dengan Hitler. Tentu saja, berita tentang penganugerahan medali paling bergengsi Inggris pada orang yang telah menyelamatkannya akan membuat Hitler terkesan lebih lagi. Satu yang jelas dan tak terbantahkan adalah, bahwa ada hubungan yang sangat penting antara Hitler dengan lukisan Fortunino Matania yang memperlihatkan Tandey. Führer bukanlah tukang koleksi rekaman perang Inggris, dan kalaupun dia menginginkan lukisan tentang Pertempuran Ypres atau pertempuran-pertempuran lainnya dalam Perang Dunia I, tentulah dia lebih memilih lukisan yang mengetengahkan pasukan Jerman sendiri daripada pasukan musuh yang digambarkan sebagai pahlawan!


Di perang tersebut, Adolf Hitler (1889-1945) bergabung dengan Resimen Infanteri Bavaria ke-16 dan menjadi pengantar berita dari dan ke front. Dia membuktikan dirinya sebagai seorang prajurit yang berani dan terpercaya, terluka dua kali dan hampir saja mati karena gas beracun. Komandannya tidak buta, dan Hitler dianugerahi medali Eiserne Kreuz kelas pertama. Secara pribadi, Hitler mempunyai keyakinan tinggi bahwa takdir telah menuntunnya menjadi pemimpin Reich Jerman, dan memandang dirinya sendiri sebagai penyelamat ras Jerman, suatu hal yang sebagian dipengaruhi oleh opera-opera melodramatis karangan Wagner. Dia percaya bahwa apa yang telah dilakukan oleh Tandey terhadap dirinya adalah bagian dari takdir lain yang lebih besar yang diamanatkan padanya, keyakinan yang sama pula ketika secara ajaib dia berkali-kali selamat dari usaha pembunuhan yang diarahkan terhadap dirinya. Yang jelas, Hitler tidak pernah melupakan saat-saat mudanya dimana dia hampir saja bertemu dengan malaikat maut, dan juga wajah orang yang “memberinya” kehidupan. Dia mempunyai klipingan koran yang memperlihatkan foto terkenal ketika prajurit Tandey dianugerahi Victoria Cross, dan dia menyimpannya sepanjang waktu. Ketika Hitler naik menjadi penguasa, dia memerintahkan agar para pejabat berkepentingan menyimpan rekaman tugas militernya selama Perang Dunia I, dan juga tidak lupa meminta reproduksi lukisan Matania, yang kemudian dia pasang dan tunjukkan kepada para pengunjung rumah peristirahatannya dengan penuh kebanggaan.


Reproduksi lukisan tersebut tak lagi diketahui nasibnya setelah perang, apakah telah hancur atau dicuri oleh pasukan Sekutu yang merampok, merampas dan merusak Eagles Nest ketika perang mendekati akhirnya. Pasukan Inggris sudah bersiap-siap untuk melenyapkannya dari muka bumi dengan menggunakan setruk penuh dinamit, ketika para perwira Amerika datang tepat pada waktunya dan menyuruh sekutunya tersebut untuk mengurungkan niatnya dan kembali menyelesaikan perang yang belum selesai.


Selama hidupnya, Tandey dihantui oleh kenangan akan perbuatan “baik” yang telah dilakukannya di masa perang, dimana satu tarikan pelatuk sederhana akan menyelamatkan dunia dari bencana yang menelan puluhan juta jiwa manusia. Dia tinggal di Coventry ketika Luftwaffe membombardir kota tersebut di tahun 1940. Tandey hanya mampu berlindung di tempat penampungan sementara di luar api menggila dimana-mana bagaikan inferno dalam deskripsi Dante. Dia juga berada di London ketika kota tersebut kebagian gilirannya dibom, dan menceritakan pengalamannya kepada seorang jurnalis di tahun 1940, “Bila saja aku tahu apa dia akan menjadi apa. Ketika aku melihat semua orang, anak-anak dan wanita yang terbunuh juga terluka, aku begitu menyesal aku telah melepaskannya.”


Tandey, yang ketika perang kedua kalinya pecah telah berumur 49 tahun, berusaha untuk bergabung kembali dengan resimen lamanya dengan harapan untuk “tak melepaskannya kali ini”, tapi kemudian tidak lolos tes fisik karena pengaruh luka yang dideritanya dalam Pertempuran Somme. Tapi Tandey tak menyerah, dan memilih untuk bertugas sebagai sukarelawan sipil di Homefront.


Henry Tandey VC DCM MM meninggal dunia dengan tenang di Coventry tahun 1977 di usia 86 tahun. Sesuai dengan permintaan terakhirnya, jenazahnya dikremasi dan abunya disimpan di Pekuburan Inggris di Marcoing bersama dengan rekan-rekannya yang telah gugur, juga dekat dengan lokasi dimana dia mendapatkan Victoria Cross 60 tahun sebelumnya. Tiga tahun kemudian, janda Tandey menjual medali-medali suaminya dengan harga pemecah rekor £27.000. riwayat medali ini masih belum berakhir, karena pada Armistice Day tahun 1997 mereka diperlihatkan kembali ke Resimen Lama Tandey, The Green Howards, oleh Sir Ernest Harrison OBE dalam suatu upacara istimewa di Menara London. Saat ini medali-medali tersebut tersimpan dengan rapi di The Green Howards Regimental Museum.



Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.firstworldwar.com

www.iamthewitness.com



Saturday, November 28, 2009

Para Peraih Ritterkreuz dari Fallschirmjäger

Begitu terkesannya Adolf Hitler pada aksi berani para Fallschirmjäger dalam penyerbuan mereka ke Eben-Emael, sehingga dia menganugerahkan Ritterkreuz pada para perwiranya yang terlibat. Disini Hitler berpose bersama para perwira tersebut tak lama setelah acara pemberian medali. Dari kiri ke kanan : Egon Delica, Rudolf Witzig, Walter Koch, Otto Zierach, Adolf Hitler, Helmut Ringler, Joachim Meissner, Walter Kiess, Gustav Altmann dan Rolf Jäger


Major Horst Trebes (kanan) dan anggota Fallschirmjäger lain dalam acara penganugerahan medali di pulau Kreta tahun 1941, setelah pulau tersebut berhasil diduduki Jerman dengan pengorbanan yang berdarah-darah dari Fallschirmjäger. Horst Trebes adalah mungkin satu-satunya penerima Ritterkreuz di seluruh Wehrmacht yang medalinya dicopot, dihukum, tapi kemudian direhabilitasi kembali! Gara-garanya adalah dia tidak sengaja membunuh temannya ketika mabuk berat...


Tiga orang penerima Ritterkreuz terkemuka dari Fallschirmjäger, dari kiri ke kanan : General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, Generaloberst Kurt Student, dan Generalleutnant Hans Kroh


General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, anggota Fallschirmjäger yang menerima medali tertinggi : Brillanten. Dari hanya 27 orang penerima medali super bergengsi ini selama perang, Ramcke tercatat sebagai penerima ke-20, yang didapat ketika masih menjadi Generalleutnant dan komandan Benteng Brest tanggal 19 September 1944


Oleh : Alif Rafik Khan


Daftar di bawah adalah para peraih Ritterkreuz (Salib Ksatria/Knight’s Cross) dari Fallschirmjäger dari tahun 1939-1945 dengan total 133 orang. Sebelum didata lebih rinci, inilah sedikit trivia tentang mereka :


Tempat mereka mendapatkan Ritterkreuz :

1 orang mendapatkannya di Norwegia

21 orang mendapatkannya di Normandia

10 orang mendapatkannya di Belgia

13 orang mendapatkannya di Belanda

1 orang mendapatkannya di Corinthia

27 orang mendapatkannya di Kreta

4 orang mendapatkannya di Afrika

40 orang mendapatkannya di Italia

8 orang mendapatkannya di Front Timur

2 orang mendapatkannya di Ardennes

6 orang mendapatkannya di Jerman (akhir perang)


Dari 133 orang penerima Ritterkreuz :

69 orang juga dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold

6 orang mendapatkannya secara anumerta

20 orang penerimanya kemudian terbunuh dalam pertempuran

1 orang penerimanya dieksekusi setelah perang

3 orang penerimanya tewas dalam kecelakaan

3 orang penerimanya terbunuh karena lukanya di rumah sakit

1 orang penerimanya adalah juga seorang pilot

3 orang penerimanya adalah dokter di cabang medis


Daftar berdasarkan abjad di bawah terdiri dari nama penerima, pangkat terakhir yang disandangnya, tanggal lahir, tanggal penyerahan medali (termasuk segala “turunannya” : Eichenlaub, Schwertern, dan Brillanten), plus tanggal dan tempat meninggalnya.

Tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk juga daftar di bawah. Beberapa orang akan menyebutkan bahwa ada nama lain yang harusnya masuk juga, orang-orang seperti Major Rudolf Berneike, Oberleutnant Robert Höfeld, Major Walter Kieß, Major Ingenhoven dan Oberst Friedrich Morzik, yang disebutkan di beberapa publikasi sebagai penerima Ritterkreuz dari Fallschirmjäger... tapi apakah begitu pada kenyataannya? Beberapa orang yang disebutkan di atas adalah pilot glider yang turut serta dalam operasi Fallschirmjäger, dan beberapa orang menerima Ritterkreuz ketika masih berada di cabang lain (meskipun di kemudian hari mereka bergabung dengan Fallschirmjäger).

A
Major Herbert Karl Abratis
Lahir 21 Maret 1918, RK tanggal 24 Oktober 1944, KIA dekat Stettin 29 Maret 1945
Major Heinz Paul Adolff
Lahir 29 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, KIA di Sisilia 17 Juli 1944
Major Gustav Altmann
Lahir 13 April 1912, RK tanggal 12 Mei 1940, meninggal 20 Februari 1981
Oberfeldwebel Peter Arent
Lahir 26 Juni 1917, RK anumerta tanggal 4 Desember 1942, KIA Tunisia 3 Desember 1942
Oberleutnant Helmut Arpke
Lahir 3 Maret 1917, RK tanggal 16 Januari 1942, KIA di Front Timur 16 Januari 1942

B
Major Josef Barmetler
Lahir 11 Maret 1904, RK tanggal 9 Juli 1941, meninggal 20 Februari 1945
Oberst Karl Heinz Becker
Lahir 2 Januari 1914, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 12 Maret 1945. Meninggal 3 Oktober 2000 di Jerman
Major Erich Beine
Lahir 26 Juni 1914, RK tanggal 18 November 1944
Oberleutnant Karl Berger
Lahir 31 Oktober 1919, RK tanggal 7 Februari 1945
Major Herbert Christopher Karl Beyer
Lahir 4 Agustus 1913, RK tanggal 9 Juni 1944, meninggal 4 September 1966
Oberst Ernst Blausteiner
Lahir 16 Mei 1911, RK tanggal 29 Oktober 1944
Oberleutnant Graf Wolfgang von Blücher
Lahir 31 Januari 1917, RK di Belanda 1940, KIA Kreta 21 Mei 1941
Hauptmann Rudolf Bohlein
Lahir 4 Januari 1917, RK tanggal 30 November 1944
Oberst Rudolf Böhmler
Lahir 12 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, meninggal 24 November 1968
General Bruno Oswald Bräuer
Lahir 4 Februari 1893, RK tanggal 24 Mei 1941, dieksekusi di Yunani 20 Mei 1947
Oberfeldwebel Manfred Büttner
Lahir 15 Februari 1921, RK tanggal 29 April 1945

C
Leutnant Georg le Coutre
Lahir 13 September 1921, RK tanggal 7 Februari 1945


D
Hauptmann Egon Delica
Lahir 4 Januari 1915, RK tanggal 12 Mei 1940. Meninggal 26 April 1999
Oberleutnant Rudolf Donth

E
Oberstleutnant Reinhard Karl Egger
Lahir 11 Desember 1905, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 24 Juni 1944.
Major Johann Engelhardt
Lahir 11 Desember 1916, RK tanggal 29 Februari 1944.
Generalleutnant Wolfgang Erdmann
Lahir 13 November 1898, RK tanggal 8 Februari 1945, bunuh diri 5 September 1946
Major Werner Ewald
Lahir on 23 Oktober 1914, RK tanggal 17 September 1944.

F
Major Ferdinand Foltin
Lahir 30 November 1916, RK tanggal 9 Juni 1944, masih hidup di Austria (2009)
Leutnant Herbert Fries
Lahir 1 Maret 1925, RK tanggal 5 September 1944.
Major Ernst Fromming
Lahir 4 Februari 1911, RK tanggal 18 November 1944. Meninggal 18 Agustus 1959 di Jerman
Hauptmann Wilhelm Fulda
Lahir 21 Mei 1909, RK tanggal 14 Juni 1941, meninggal 8 Agustus 1977 di Hamburg

G
Leutnant Robert Gast
Lahir 28 Maret 1920, RK tanggal 6 Oktober 1944.
Major Alfred Genz
Lahir 8 Maret 1916, RK tanggal 14 Juni 1941. Meninggal 23 April 2000 di Jerman
Oberst Walter Gericke
Oberleutnant Ernst Germer
Major Siegfried Josef Gerstner
Oberleutnant Helmut Gustav Görtz
Oberstleutnant Franz Grassmel
Oberst Kurt Gröschke

H
Hauptmann Andreas Hagl
Major Reino Hamer
Hauptmann Friedrich Hauber
General Richard Heidrich
Generalmajor Ludwig Heilmann
Oberleutnant Erich Hellmann
Oberst Harry Herrmann
Major Maximillian Herzbach
Oberstleutnant Baron Friedrich August von der Heydte
Hauptmann Eduard George Hübner

J
Oberleutnant Georg Rupert Jacob
Oberarzt Dr. Rolf Karl Ernst Jäger
Major Siegfried Jamrowsk

K
Oberleutnant Wilhelm Kempke
Hauptmann Horst Kerfin
Major Helmut Kerutt
Oberfeldwebel Karl Koch
Oberstleutnant Walter Koch
Hauptmann Willi Koch
Major Rudolf Kratzert
Hauptmann Heinz Krink
Generalmajor Hans Kroh
Oberleutnant Willy Kroymanns
Major Martin Kühne
Leutnant Kurt Kunkel
Leutnant Rudolf Kurz

L
Oberstabsarzt Dr. Carl Lamgemeyer
Oberleutnant Erich Lepkowski
Oberstleutnant Walter Paul Liebing

M
Hauptmann Rolf Mager
Oberleutnant Johannes Marscholek
General Eugen Meindl
Hauptmann Joachim Meissner
Oberfeldwebel Otto Menges
Major Gerhardt Mertens
Major Heinz Meyer
Major Dr. Werner Milch
Hauptmann Gerd Mischke

N
Oberleutnant Karl Neuhoff
Oberstabarzt Dr. Heinrich Neumann

O
Leutnant Heinrich Orth

P
Major Gerhard Pade
Major Hugo Paul
Gefreiter Herbert Peitsch
Oberst Erich Pietzonka
Major Fritz Prager

R
General Hermann Bernhard Ramcke
Oberleutnant Siegfried Rammelt
Major Ernst Willi Raprager
Oberfeldwebel Adolf Reininghaus
Major Paul-Ernst Renisch
Oberstleutnant Rudolf Rennecke
Hauptmann Helmut Ringler
Major Arnold von Roon

S
Oberleutnant Walter Sander
Leutnant Bruno Sassen
Major Gerhard Schacht
Major Martin Schachter
Generalleutnant Richard Schimpf
Leutnant Horst Schimpke
Oberstleutnant Gerhart Schirmer
General Alfred Schlemm
Major Herbert Schmidt
Hauptmann Leonhard Schmidt
Oberstleutnant Werner Herbert Schmidt
Oberstleutnant Count Wolf Werner von der Schulenburg
Generalmajor Karl-Lothar Schulz
Oberleutnant Erich Schuster
Major Alfred Schwaezmann
Major Günther Sempert
Oberleutnant Hubert Sniers
Major Albert Stecken
Major Edgar Stentzler
Major Kurt Stephani
KIA 20.8.1944
Hauptmann Günther Straehler-Pohl
Generaloberst Kurt Student
Generalleutnant Alfred Sturm

T
Oberstleutnant Karl Stephan Tannert
Major Hans Teusen
Hauptmann Cord Tietjen
Oberstleutnant Erich Timm
Hauptmann Rudolf Toschka
Hauptmann Horst Trebes
Generalleutnant Heinrich Trettner
Hauptmann Herbert Trotz

U
Oberfeldwebel Alexander Uhlig

V
Major Kurt Veth
Oberleutnant Viktro Vitali

W
Hauptmann Helmut Wagner
Generalmajor Erich Walther
Hauptmann Friedrich-Wilhelm Wangerin
Oberleutnant Hans-Joachim Weck
Oberfeldwebel Heinrich Welskop
Leutnant Walter Werner
Leutnant Karl-Hans Wittig
Major Rudolf Witzig

Z
Hauptmann Hilmar Zahn
Major Otto Zierach


Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.forum.axishistory.com



Friday, November 27, 2009

Third Reich Reenactor di Indonesian Community Expo 2009 Senayan Jakarta

Stand INDONESIAN REENACTOR di acara Indonesian Community Expo 2009. Pasti yang seneng sama Nazi terutama pernak-pernik dan seragamnya langsung ngiler ngeliat pajangan yang ada disini!


Para dedengkot Indonesian Reenactor saat diperkenalkan oleh panitia ke muka panggung. Ada yang pake baju zirah Knight's Templar, seragam tentara Amerika, sementara 90%-nya memakai seragam Third Reich!


Indonesian Reenactor dengan anggota tertua (Delly Soewandi) paling kanan, dan anggota termuda, Kresna Noviarditya, kedua dari kanan. Yang pake seragam Handschar dan topi fez merah adalah ketua IDR, Sturmmann Permadi

Duduk kecapean setelah dapet giliran jaga. Panas wajar saja, kalo ngeliat bahan pakaiannya yang terbuat dari wool!


Berbagai pernak-pernik yang menjadi koleksi para anggota Indonesian Reenactor (IDR), di antaranya senapan KAR98 (airsoft), MG pouch, topi panzerwaffe dan SA, plus map pouch


Sekedar informasi, map pouch (tempat menyimpan peta) yang tergeletak di bawah topi panzerwaffe adalah ASLI peninggalan zaman Perang Dunia II dan terbuat dari kulit domba!


Kalo yang ini "butik" kecil-kecilan yang memajang seragam-seragam era Nazi Jerman. Yang seneng beginian pasti langsung ngiler!


Di belakang pasti tahu bendera apaan!


Yang ini perwira Fallschirmjäger bernama Okie von belekok!


Gaya beda orangnya sama...


Selain memamerkan kostum, ajang ICE juga jadi tempat jualan pernak-pernik Nazi, di antaranya pin, badge, Ritterkreuz, topi, seragam dan lain-lain. Liat aja pengunjung yang berminat, termasuk cewek yang cuman keliatan punggungnya ini!


Prajurit merangkap tukang warung! Hehehe...


Eh, apaan tuh yang dipegang orang di kiri? Awas ah meledug!


Hehehe... Pasti tahu dong yang ini siapa?


Seragam Brigadeführer dari Divisi Panzer SS ke-1 "Leibstandarte Adolf Hitler", persis seperti yang dipakai oleh Sepp Dietrich!


Yang ini seragam jenderal Heer. Sayang pangkat pundaknya nggak ditempelin jadi nggak ketahuan masuk kategori yang mana : Generalmajor, Generalleutnant, General, Generaloberst atau Generalfeldmarschall?


Beberapa di antara anggota IDR berfoto untuk majalah Ikan Lou Han. Dari kiri ke kanan : Alif Rafik Khan, Rana Judisthira, Andrid Pradityo, Kresna Noviarditya, Alfin Lana, Gama Bagus Kuntoadi, Felix Christanto dan Okie Rishananto


Hormaaat... Grak!


Data mengenai seragam yang dipake, dari kiri ke kanan : seragam tropis Deutsche Afrikakorps, SS-Unterscharführer, SS-Obergruppenführer, Major Heer, SS-Sturmmann, Hitlerjugend panzerwaffe, dan Hauptfeldwebel Luftwaffe


Bagi para penggemar Third Rich terutama seragamnya, ajang ICE ini bisa dijadikan ajang pamer kostum "kebanggaan" yang sayang kalau dilewatkan!

Kalau kebelet pengen "Jejermanan", bisa ikut gabung di Indonesian Reenactor disini

Pertempuran Atlantik (1939-1945). Kalau Saja Jerman Mempunyai Lebih Banyak U-Boat, Sudah Pasti Dia Menang Perang!

Großadmiral Karl Dönitz, panglima U-boat berotak brilian yang membuat Inggris begitu sengsara di awal-awal perang. Banyak yang berpendapat bahwa hukuman berat yang telah diterimanya di pengadilan Nürnberg adalah bukan karena kejahatan-kejahatan perang yang telah dilakukannya, melainkan semata karena dia telah begitu banyak menimbulkan kerugian bagi pelayaran Sekutu!


Ini adalah diagram U-486, salah satu dari sekian banyak U-boat Jerman bertipe VII-C


Awak U-boat sedang memasukkan sebuah torpedo ke dalam kapal selamnya. Pada awalnya, kualitas torpedo Jerman begitu buruknya sehingga beberapa U-boat tercatat tenggelam dikarenakan torpedo sendiri, salah satunya adalah U-47 yang terkenal di bawah komandan Günther Prien


Sebuah tanker terbakar dengan hebat sebelum tenggelam di pantai Amerika dalam periode yang disebut sebagai "The second happy time"


U-boat sedang berangkat menuju tugas patrolinya. Di sebelah kanan adalah kapal penjaga pantai Jerman


Salah satu yang paling membahagiakan bagi para awak U-boat di lautan (selain dari menghancurkan kapal musuh) adalah ketika mereka bertemu dengan rekan seperjuangannya di U-boat lain.


U-47 dielu-elukan oleh para penonton ketika tiba di pelabuhan Jerman tak lama setelah secara menggemparkan berhasil menenggelamkan kapal perang Inggris di pangkalannya sendiri. Sang komandan yang bermental baja, Günther Prien, berada di menara pengawas


Karl Dönitz bersama dengan Korvettenkapitän Adalbert Schnee (kiri) dan Konteradmiral Eberhard Godt, dua orang staffnya yang paling terpercaya, sedang merundingkan strategi di markas besar U-boat di Prancis


Kapten U-boat terbesar dalam Perang Dunia II, Fregattenkapitän Otto Kretschmer, sedang berunding dengan para perwiranya di U-99


Perangko Jerman yang memperlihatkan gambar U-boat dan korbannya


“Satu-satunya hal yang paling menakutkanku dalam perang ini adalah ancaman u-boat!” – Winston Churchill


Oleh : Alif Rafik Khan


Ketika Perang Dunia II bermula, Inggris melihat bahwa ancaman terbesar Jerman bagi rute perdagangan lautnya adalah kapal-kapal perangnya, sama seperti Hitler yang juga berpendapat begitu. Diperkirakan bahwa kapal-kapal perang Jerman yang baru dibangun akan menyerang armada dagang yang keluar-masuk daratan Inggris, dimana Inggris sangat tergantung darinya dalam hal persediaan makanan, sebagian besar dari bahan mentah untuk pembuatan mesin-mesin perangnya, dan juga minyak. Bila masih ada yang tersisa dari sergapan kapal-kapal perang ini, maka akan dibereskan oleh u-boat yang beroperasi di perairan pantai. Yang terjadi kemudian membuktikan bahwa pandangan ini sepenuhnya salah, karena ancaman terbesar bagi Inggris dari laut bukanlah terletak pada kapal perang Jerman, melainkan justru u-boat yang sebelumnya dianggap remeh!


Setidaknya satu orang tahu akan hal ini : Admiral Karl Dönitz, panglima armada U-boat. Dia dapat juga salah bila saja Hitler mampu menunda perang dengan Inggris sampai semua kapal perang yang diperuntukkan bagi Angkatan Lautnya selesai dibangun. Yang jelas, Dönitz mempunyai keyakinan tak tergoyahkan bahwa dengan kapal selam yang cukup, maka dia akan memenangkan peperangan di lautan, sesuatu yang pernah dia buktikan sendiri sebagai seorang komandan U-boat 29 tahun sebelumnya.


“Pada bulan Oktober 1918, aku adalah seorang kapten kapal selam di Mediterania, dekat Malta. Di satu malam aku bertemu dengan konvoy Inggris yang dikawal oleh kapal-kapal perusak dan penjelajah. Aku menyerang dan menenggelamkan sebuah kapal. Saat itu aku sadar bahwa kemungkinan untuk menenggelamkan lebih banyak kapal akan terbuka bila saja ada lebih banyak u-boat. Disitulah ide Wolf Pack muncul, untuk mengumpulkan kapal selam bersama-sama, dan menyerang bersama-sama pula. Di rentang tahun 1918 sampai dengan 1935, ketika kita diizinkan mempunyai kapal selam kembali, aku tidak pernah melupakan gagasan ini.” – Karl Dönitz.


Di bawah air, para U-boat era 1939 itu bergerak lambat bagaikan keong, sementara di permukaan maka kecepatannya mampu menyaingi konvoy kapal dagang manapun. Dengan siluet rendahnya maka keberadaannya tak gampang terdeteksi, terutama di malam hari, sementara musuhnya dapat dengan jelas terlihat hanya dengan mengandalkan periskop yang dinongolkan sedikit di permukaan laut. Dan jangan lupakan pula radio! Dengan ini, para U-boat ini bisa ‘janjian’ bertemu untuk selanjutnya menyerang secara berkelompok. Dönitz tahu bahwa Inggris akan mencoba untuk melindungi jalur perdagangan Atlantiknya yang sangat penting dengan menerapkan sistem konvoy yang dikawal oleh kapal perang. Untuk menghancurleburkan sistem ini dan kemudian memenangkan perang, Dönitz memperkirakan bahwa sedikitnya dia butuh 300 buah kapal selam. Lalu apa yang ada dalam tangannya ketika perang pecah? hanya ada 27 U-boat yang operasional, itupun harus melalui perjalanan yang berbahaya dari pangkalan menuju ke sasarannya! Untung saja, ketika Prancis jatuh, Dönitz mendapatkan pangkalan-pangkalan baru yang lebih dekat lagi ke jalur pelayaran.


Dalam kenyataannya, ketika dalam perjalanan ke Lorient tak lama setelah kejatuhan Prancis, Karl Dönitz dan ajudannya bertemu dengan dua orang pengungsi yang bergerak ke arah barat. Dia memberi tumpangan pada kedua orang tersebut, yang ternyata kemudian diketahui adalah orang Yahudi Jerman yang berusaha menyelamatkan diri dari negaranya! Ketika menurunkan mereka di tempat yang dituju di Le Mans, Dönitz menitip pesan, “sampaikan salam saya pada Inggris!”


Setelah pangkalan-pangkalan ini selesai dibangun, maka para Serigala Lautan (Sea Wolves) ini akan kembali dari patroli yang mereka jalani sebagai pahlawan. Salah satu yang paling spesial pake telor adalah Otto Kretschmer, yang secara keseluruhan telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 274.333 ton! Di bulan Oktober 1940 dia bergabung dengan sistem Wolf Pack pertama yang sebenarnya, dan merupakan pengejawantahan dari impian Dönitz selama berpuluh-puluh tahun.


“Aku ingat bahwa ada sinyal yang memberitakan tentang adanya konvoy yang datang dari Amerika menuju Inggris, meskipun posisinya saat itu belum diketahui. Dönitz memerintahkan setiap kapal selam untuk bergerak ke barat Irlandia demi melakukan semacam garis pengintaian dan membiarkan konvoy tersebut lewat untuk sementara dan masuk ke jalur tembakannya. Ketika satu kapal selam kemudian dipergoki, konvoy tersebut langsung memberikan sinyal tanda bahaya ke kapal lainnya. Disinilah jalur kapal selam kami berpencar untuk kemudian menyerang sendiri-sendiri secara bebas.” – Otto Kretschmer.


Großadmiral Erich Raeder memperlihatkan kepercayaan penuh kepada Führernya ketika dia memberi instruksi pada para kru U-boat dalam sebuah latihan senjata di musim panas 1939. Raeder meyakinkan bahwa sang Führer telah berjanji kepadanya bahwa tak akan ada perang dalam keadaan apapun dengan Inggris, karena itu akan berarti “Finis Germaniae”. Sementara Dönitz, yang selalu terbuka pada anak buah yang sangat dicintainya, menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini maka dia tidak akan mempercayai janji pemimpinnya sendiri, dan sebagai seorang komandan dia harus selalu bersiap-siap untuk menghadapi keadaan seperti apapun. Yang dapat dia lakukan hanyalah mengulangi permintaannya untuk disediakan 300 buah U-boat, karena junlah inilah yang akan secara efektif menutup jalur perdagangan laut Inggris, dan melumpuhkannya secara ekonomi. Dalam waktu hanya 6 minggu, yang tak terbayangkan itu terjadi. Polandia diinvasi dan 2 hari kemudian Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Dönitz tak pernah menyembunyikan prediksinya bahwa tak lama Jerman akan terlibat perang kembali, tapi tetap saja berita ini memukulnya bagaikan palu godam. Propaganda Goebbels dengan gencar memberitakan bahwa Jerman telah dipaksa masuk ke dalam perang yang tak pernah diinginkannya. Dönitz lebih memikirkan hal lain yang lebih serius : Kriegsmarine belum siap untuk menghadapi perang ini. Inggris dan Prancis mempunyai kapal perang 10 kali lebih banyak dari Jerman, sehingga Dönitz tak melihat ada jalan bagaimana Kriegsmarine dapat memenangkan perang di lautan dengan kekuatan pas-pasan yang dipunyainya saat itu. Situasinya sendiri, di matanya, adalah sangat genting. Semua 3000 orang anggota U-boat adalah orang-orang yang sangat terlatih, tapi mereka hanya mempunyai 57 kapal selam, bahkan itupun kebanyakan hanya “bebek-bebek” yang berbobot 250 ton, dan diperuntukkan di operasi pantai saja. Hanya 27 kapal yang mampu untuk melakukan penyergapan di samudera Atlantik.


Mereka kebanyakan berlayar dari pangkalan-pangkalan di Baltik dan Laut Utara, dengan kru-kru yang bersemangat tinggi tapi hanya mempunyai sedikit pengalaman. Dalam 18 bulan pertama aktivitas U-boat dalam mengganggu jalur suplai Inggris hanyalah kecil saja, bahkan ketika Jerman menginvasi Norwegia di bulan April 1940, tak ada satupun U-boat yang wara-wiri di Atlantik! Musim panas 1940 Prancis jatuh ke tangan Jerman dan pasukan U-boat dapat menggunakan pangkalan baru di Bay of Biscay.


Kapal-kapal perusak Inggris sangat mengandalkan ASDIC dalam menanggulangi serangan U-boat. ASDIC ini dapat berguna dalam mengetahui jarak dan keberadaan U-boat dengan mendeteksi suara yang muncul. Minimnya pengawalan dari konvoy-konvoy yang lalu lalang dapat berarti bahwa para U-boat dapat menyerang musuh mereka secara bebas. Hal ini terjadi karena Inggris terlalu mengandalkan pada ASDIC, yang terbukti hanya dapat bekerja pada kondisi ideal, sesuatu yang justru kebalikannya di samudera Atlantik! Ini seringkali membuat para pengawal yang sedikit itu dapat dengan santainya berlayar menjelajahi lautan sementara U-boat Jerman berada di bawah mereka tanpa terdeteksi. Saat itu belum ada taktik resmi Royal Navy berkaitan dengan cara konvoy yang baik dan benar atau bagaimana cara menanggulangi serangan terhadap konvoy. Yang terjadi adalah, bila kemudian kapal-kapal itu mendapat serangan, maka mereka akan berpencaran ke berbagai arah dengan kecepatan penuh tanpa tujuan, sehingga Yang repot adalah kapal pengawal yang harus mengumpulkan mereka kembali sesudahnya! Para kapten kapal dagang itu bukanlah orang-orang militer yang mempunyai disiplin tinggi, dan kadang-kadang mereka tidak mematuhi instruksi yang dirasa “konyol” seperti harus memadamkan lampu ketika berada di malam hari. Sebuah kapal barang Yunani dari Konvoy SC7 diketahui “bersinar terang gemerlap” di buritannya tak lama setelah serangan U-boat. Untungnya, yang memergokinya adalah kapal pengawal (dan bukan U-boat) yang bertugas mengumpulkan kembali konvoy bagaikan induk bebek mengumpulkan anak-anaknya yang berpencaran!


Tujuan resmi dari Nasional-Sosialisme “untuk melayani masyarakat dan melakukan apapun yang kamu bisa untuk memperbaiki kehidupan mereka” juga direfleksikan dalam tatacara yang terjadi di dalam kapal selam. Sang komandan mempunyai tanggung jawab penuh akan apapun yang terjadi di kapal yang dipimpinnya, dan biasanya dia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan 50 orang anak buahnya. Setiap orang mengenal dengan baik masing-masing temannya, dan setiap orang tahu pula tugas apa yang harus dilakukannya.


Jenis kapal selam favorit Dönitz untuk tugas penyerangan adalah U-boat tipe 7, yang berbeda hanya sedikit saja dengan pendahulunya di Perang Dunia Pertama. U-boat ini ditenagai oleh 2 buah mesin diesel besar yang mampu mendorong kapal dengan kecepatan maksimal 17 knot. Cerobong udara untuk membuang asap mesin berasal dari pipa yang berada di menara pengawas untuk menjamin jarak maksimumnya dari lautan. Biasanya, U-boat menghabiskan 90% dari masa patrolinya dengan berada di permukaan. Ketika perintah menyelam itu datang, maka mesin akan dimatikan, digantikan dengan tenaga dari baterai kapal. Di dalam lautan, sebuah U-boat hanya mampu merayap dengan kecepatan 7 knot saja, dan ini pun hanya berlaku untuk 1 jam. Untuk kecepatan 2 knot, maka U-boat dapat bertahan nyungseb di laut maksimal 36 jam, setelahnya maka mau tidak mau kapal selam itu harus muncul kembali di permukaan demi mengisi ulang udara dan baterai. Di atas air, sebuah U-boat biasanya mempunyai kecepatan yang cukup untuk memberantakkan konvoy yang bergerak lambat, tapi di bawah air maka yang ada adalah hampir kemustahilan. Disini pula U-boat itu bagaikan orang buta yang mengandalkan melulu pada peralatan sonar. Masih kurang jelas? Biar Jürgen Oesten (komandan U-61 di musim panas 1940) yang baceo : “Semua U-boat yang kita punyai selama perang pada dasarnya adalah kapal permukaan yang mempunyai kemampuan untuk menyelam. Dari 20 kapal yang aku tenggelamkan, 19 di antaranya ditenggelamkan di permukaan. Di malam hari, bila jarak antara kapalmu dan target lebih dekat dari 3000 sampai 4000 meter, maka menara pengawas kami hampir-hampir tidak terlihat dari anjungan kapal dagang musuh (tidak tampak di atas horizon). Kau hanya menampakkan siluet kecil saja di mata targetmu!”


Di tahun 1935 para laksamana Inggris telah hafal luar dalam jumlah baut dan mur dalam sebuah U-boat Jerman, tapi hampir-hampir blank tentang taktiknya itu sendiri! Ini adalah suatu hal yang mengejutkan bila kita tahu bahwa pada tahun 1939 Dönitz telah menerbitkan sebuah buku, Die U-Bootswaffe, yang terang-terangan bercerita tentang metode dan taktik berperang U-boat yang diketahuinya berdasarkan pengalaman pada Perang Dunia I ditambah dengan hasil inovasinya sendiri. Salah satunya adalah betapa Dönitz sangat menyarankan serangan yang dilakukan pada malam hari, dan bagaimana dia telah melatih para awak U-boat secara seksama dalam hal ini.


Biasanya sebuah U-boat dengan panjang 220 kaki diisi oleh 43 orang awak kapal dengan usia yang segar-segarnya dan kondisi badan yang prima (rata-rata usia awak U-boat adalah 20-23 tahun, sementara komandannya berusia 28 tahun). Hampir semua kru hidup di kompartemen yang berada di haluan, yang sekaligus menjadi gudang senjata utama. Sebagai senjatanya, tersedia 4 buah tabung dengan cadangan 10 buah torpedo. 2 torpedo lain bisa pula dilepaskan dari buritan dan 2 lagi dibawa dalam kontainer bebas-tekanan di dek atas. Bisa dibilang bahwa kehidupan di dalam kapal selam semakin menyenangkan dengan dilepaskannya setiap torpedo yang memenuhi ruangan!


Para kru berbagi ruangan tidur dengan kru lain di seberangnya, dan setiap orang bergantian menempati ‘ranjang’ yang baru saja ditinggalkan temannya yang kena giliran jaga. Di sebelah setiap ranjang terdapat sebuah loker kecil tempat menyimpan barang-barang pribadi awak kapal. Disini mereka tidak membutuhkan baju bersih, pisau cukur atau sabun mandi, dan setelah beberapa hari meninggalkan pangkalan, penampilan para manusia ini berubah drastis, seperti tanda-tanda kehidupan tanpa sinar matahari. Muka putih seperti kuntilanak, janggut mulai tumbuh, dan lingkaran hitam nongol di sekitar mata. Tak lama pakaian sudah berbau mesin diesel dan bercampur air asin. Air tawar begitu berharga dan hanya digunakan untuk minum saja, dan meskipun selalu ada kesempatan mencuci baju menggunakan air laut, tapi hal ini hampir tidak pernah dilakukan. Memang ada 2 toilet yang tersedia di dalam kapal, tapi satu dipenuhi oleh persediaan makanan, dan satunya lagi digunakan secara bergantian oleh 40 orang lebih! Bau di dalam kapal tak usah dibayangkan lagi, dari bau mesin diesel, ditambah bau makanan yang ditingkahi bau keringat awak kapal yang tidak mandi berminggu-minggu. Campurkan ini semua dan anda mendapatkan bau khas yang hanya ada di dalam sebuah U-boat! Beberapa kru yang masih berpikiran waras biasanya memakai Cologne 4711 untuk mengurangi dan melindungi dari bau yang menyengat, tapi biasanya para awak U-boat lain sudah pasrah saja menerima keadaan ini.


Di bagian bawah kompartemen haluan adalah tempat para perwira. Setidaknya kehidupan tidak terlalu parah bagi 9 orang yang makan dan tidur disini. Kapten kapal mempunyai ruangan tersendiri yang dilengkapi dengan tempat untuk menulis di sebelah ruangan radio. Para perwira makan di sebuah meja kecil yang terletak di perlintasan, dan biasanya acara makan terganggu oleh lalu-lintas para awak dari dan ke kompartemen haluan. Di jantung kapal selam tersebut terdapat ruang kontrol, yang dipenuhi oleh berbagai macam peralatan, katup, tombol-tombol, dan pengukur tekanan. Disinilah terletak “markas besar” tempat mengarahkan setiap aksi yang kemudian terjadi. Disini terdapat pengukur tangki pemberat, dan pengukur penyelaman. Salah satu dari 2 buah periskop U-boat dioperasikan dari sini, sementara satunya lagi, yang lebih panjang dan digunakan untuk menyerang kapal musuh, ditempatkan di menara pemgawas di atasnya. Selanjutnya adalah kompartemen para perwira rendahan dan dapur mini. “Senjata” sang koki adalah 3 buah kompor, 2 buah oven kecil dan 40 buah panci untuk merebus. Kalau anda mengira bahwa makanan yang disediakan disini pastinya berkualitas ancur-ancuran, maka anda salah besar, karena biasanya makanan yang ada disajikan dengan profesional sehingga rasanya bisa dipertanggungjawabkan. Kenapa? Karena soal rasa ini berpengaruh kepada semangat para awak kapal. Bayangkan saja, sudah capek-capek bekerja di tempat yang sempit, bau neraka, penuh resiko, jauh dari keluarga, dan ketika makan pun disuguhi dengan babadotan! Tentu saja persediaan makanan yang ada di U-boat tidak akan bertahan lama, karena selalu ada tetesan air dari mana-mana, rembesan katup dan sisa kondensasi. Di mana-mana yang ada adalah kelembaban dan akibatnya, tak lama makanan sudah dilapisi oleh jamur-jamur berwarna hijau. Mungkin saja kalau awak U-boatnya orang Indonesia mereka tinggal bawa tempe atau tape singkong saja maka tidak akan jadi masalah, tapi ini orang bule, Bung! Dan biasanya setelah makanan yang segar-segar habis atau dibuang karena jamuran, maka para awak kapal harus menerima hari-harinya disi dengan memakan makanan kalengan.


Di sebelah dapur adalah ruangan mesin yang dapat dikenali dari suara mesin dieselnya yang berbunyi tanpa henti. Yang terakhir adalah kompartemen elektrik dengan motor berkekuatan 375 tenaga kuda. Di sebagian besar waktu patroli, 4 orang petugas bergantian menerawang kejauhan di menara pengawas. Tapi kondisi tak selamanya bersahabat, seperti yang dijelaskan oleh Horst Elfe, perwira kedua di U-99 : “Kami harus bertahan menghadapi badai Atlantik yang setiap saat melanda. Tak ada yang lebih buruk dari ini, karena kapal hampir mustahil dikendalikan di kedalaman periskop dengan cuaca seperti tersebut, kecuali bila berada di atas air. Serangan permukaan tak pernah terpikirkan oleh kami karena tak seorangpun bisa melihat, bergerak, membidik atau yang lainnya. Yang kami pikirkan saat itu hanyalah keselamatan diri kami sendiri.”


Admiral Sir Andrew Cunningham menginsyafi bahwa meskipun hanya butuh waktu 3 tahun untuk membangun sebuah kapal, tapi butuh waktu 300 tahun untuk membangun sebuah tradisi. Kehilangan pertama Inggris di lautan, terutama Kapal Perang Royal Oak di pangkalannya sendiri, memberi pukulan yang menggoncangkan bagi publik, meskipun kepercayaan bahwa pada akhirnya Inggris tetap menang masih menjadi suatu kepercayaan yang umum. Pada mulanya kepanikan Royal Navy begitu terasa ketika mereka menghantam setiap apapun yang terlihat bergerak di lautan. Laporan-laporan tentang kemunculan U-boat bermunculan dimana-mana. Seorang pengintai di Mercusuar Isle of Man bahkan mengklaim telah melihat sebuah periskop dari jarak 6 mil! Ini jelas-jelas suatu kebullshitan, karena jangankan di hari yang berkabut, di hari terang pun adalah suatu keberuntungan bila seorang observer mampu melihat periskop nongol dari jarak 1000 yard! Dan laporan seperti ini begitu ditanggapi dengan seriusnya oleh Royal Navy sehingga mereka buru-buru mengirimkan kapal perang terpilih HMS Walker dari Liverpool demi melayani U-boat yang ternyata tidak pernah menampakkan batang hidung eh periskopnya! Bahkan kalaupun U-boat itu benar-benar ada, maka dengan kecepatan HMS Walker yang mencapai 25 knot, paling cepat kapal tersebut bisa tiba di lokasi adalah dalam waktu 2 jam, dan dalam waktu segitu sudah tentu sang U-boat buruan dapat berada di mana saja dalam radius 10 mil, radius yang sungguh di luar jangkauan bila membayangkan bahwa HMS Walker hanya sendirian saja dan dipersenjatai oleh ASDIC yang hanya dapat efektif dalam jarak 2000 yard!


Ada masalah lain : konvoy mendapat pengawalan tidak sampai ke tujuannya, melainkan dari Inggris sampai ke 300 mil sebelah barat Irlandia saja. Hal ini wajar belaka, karena kalau semua konvoy mendapat pengawalan sampai ke tujuannya, maka tidak akan ada lagi kapal perang yang tersisa untuk keperluan lainnya! Bagi Jerman tentu saja ini adalah suatu rezeki nongtot, karena seluruh samudera Atlantik berada dalam jangkauan U-boat-U-boat yang kelaparan. Dari bulan Juli sampai dengan Oktober 1940, tercatat 144 buah kapal dagang yang tak mendapat pengawalan ditenggelamkan, sementara 73 kapal dagang yang mendapat pengawalan pun tidak luput berhasil ditenggelamkan pula oleh Grup kapal selam Jerman. Para komandan U-boat telah menemukan kelemahan dalam sistem ASDIC, kelemahan yang fatal : benda ini tidak dapat mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan! Di lain pihak, Dönitz mengembangkan sistem penyerangan Wolf Pack, dimana beberapa U-boat beroperasi bersama-sama dalam menyerang suatu konvoy. Di malam tanggal 21 September 1940, konvoy berkecepatan tinggi HX72 yang terdiri dari 41 kapal dagang, diserang oleh Wolf Pack dan akibatnya 11 kapal menjadi korban. Di kemudian waktu komodor konvoy tersebut begitu yakin bahwa setidaknya 2 U-boat terlibat dalam penyerangan ini, dan pendapatnya diamini oleh perwira kapal pengawal. Mulai timbul kecurigaan di kalangan laksamana Inggris bahwa para U-boat sialan itu telah mulai mengkoordinasikan serangan mereka. Hal ini adalah sesuatu yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya, dan bahkan tidak dipercayai oleh suara-suara berpengaruh di intelijen Angkatan Laut (sudah tentu orang-orang ini adalah orang-orang “ortodok keras kepala” yang sama yang berpendapat bahwa dalam pertempuran laut tidak dibutuhkan bantuan kapal terbang!). Bila peristiwa ini tidak berhasil meyakinkan para petinggi Royal Navy bahwa itulah sebenarnya yang terjadi, maka peristiwa berikut ini seakan menjadi pembenaran yang tak terbantahkan : konvoy berkecepatan ringan SC7 berangkat dari pelabuhan Sydney di Kanada di minggu pertama Oktober 1940, dan terdiri dari berbagai macam kapal, dari yang bertonase berat sampai kapal ukuran kecil. Konvoy ini tidak pernah berkecepatan lebih dari 8 knot, dan bahkan dengan kecepatan itu pun, sebagian besar dari 35 kapalnya sampai ngos-ngosan berusaha keras! Yang paling tua adalah tanker Norwegia ‘Thoroy’ yang sudah 47 tahun berkelana di lautan. Kebanyakan kapalnya telah menghabiskan 2 minggu sebelumnya di berbagai pelabuhan demi menurunkan muatan, dan yang lainnya telah mengarungi jalur laut St Lawrence demi sampai kesini. SS Fiscus dipenuhi oleh 5 ton muatan batang baja, sehingga pantaslah kalau kapal ini dinamakan sebagai batako mengapung! Frank Holding, seorang Liverpudlian, telah jujur mengaku bahwa dengan membawa kapal-kapal semacam SS Fiscus dan Thoroy, maka “anda tak akan punya kesempatan untuk selamat”. Sekali kapal semacam itu tersentuh torpedo, maka sudah pasti dia akan langsung tenggelam ke lautan bagaikan batu. Dia mengaku bahwa dia termasuk orang yang beruntung karena berada di SS Beatus, “kapal uap tua lambat yang kotor, yang punya bau campuran oli dan gula, yang punya koki orang Cina sementara ruangan mesinnya dipenuhi oleh orang India, jadi hanya aku dan seorang lagi yang asli dari Liverpool!” sebagai asisten pelayan, kehidupan di kapal dirasanya sedikit lebih baik dari yang lainnya. “Kami punya hak-hak khusus di ruangan mesin dan dek yang selalu ramai, sementara mereka berdesak-desakan di bagian muka kapal, mungkin 8 sampai 10 ranjang dalam satu ruangan. Aku sendiri berada satu ruangan dengan hanya 1 orang lagi : koki Cina itu!”


“Kami selalu dikasih tahu bahwa, bila kapal kami ditenggelamkan oleh U-boat, maka mereka akan membiarkan kami dan hanya membawa kapten dan insinyur saja sebagai tawanan. Kami sangat takut bila mereka menembaki kami dengan senapan mesin. Dua orang teman, Eddie dan Billy Howard, pernah melihat kejadian seperti ini di Three Rivers, dan sekarang mereka berada di Creekirk, yang dipenuhi oleh bijih besi. Tanggal 5 Oktober SC7 bersiap-siap dan mulai berangkat ke arah lautan. Dalam brifing sebelum berlayar, beberapa perwira dari Royal Navy ngomel-ngomel tentang “kapten-kapten kapal keras kepala” yang berpendapat bahwa mereka lebih baik pergi tanpa mendapat pengawalan. Di 11 hari pertama, hanya satu sekoci pengawal saja yang mengiringi kami. Kami bisa berharap mendapat pengawalan penuh bila sudah mendekati tujuan kami. Beberapa kapal telah diperlengkapi dengan senjata 4 inci di buritannya, meskipun para pelautnya sendiri menganggap bahwa senjata-senjata tersebut lebih sebagai pajangan saja. Tak lama setelah tengah hari, kapal pertama mengangkat jangkar dan mulai berangkat, dan dibutuhkan seluruh sisa hari itu hanya untuk mengumpulkan semua kapal dalam posisinya. Sembilan lajur dengan tiga atau empat kapal di setiap lajurnya. Bagi para awak kapal dagang yang biasa berlayar dengan bebas di kaki langit yang kosong, hanya untuk tetap di lajur saja sudah merupakan suatu hal yang sulitnya minta ampun. Empat hari di lautan dan SC7 sudah menghadapi cuaca buruk, yang memaksa beberapa kapal keluar dari barisannya. Salah satu dari kapal terbesar, Empire Miniver berbobot 6000 ton, terkena masalah pada turbin. Kapten Robert Smith melapor kepada pangkalannya bahwa ‘ketika kami sedang mengamati kegelapan yang tampak di depan mata, tiba-tiba saja kami melihat sinar terang di haluan kapal. Dengan terkejut kami mendapati bahwa itu adalah sebuah kapal uap Yunani, yang bisa kami lihat dengan jelas bahkan dari jarak 6 mil jauhnya!” begitu ‘seksamanya’ pedoman berlayar di kala perang bagi konvoy ini!”


Di jam-jam awal tanggal 16 Oktober, salah satu kapal yang keluar barisan membunyikan peringatan secara berulang-ulang, serangan U-boat! Satu-satunya pengawal konvoy, HMS Scarborough, tak dapat berbuat apa-apa. Kargo dan krunya hilang ditelan lautan. Semangat muncul ketika di kaki langit datang dua buah kapal pengawal (HMS Fowey dan HMS Bluebell) yang datang dari Liverpool, tapi tetap tak ada rencana untuk mengkoordinasikan aksi dalam menghadapi serangan ini. Di akhir malam itu, pengawas di U-48 menangkap siluet kapal di cahaya bulan. Ketika U-boat itu mendekat, dengan jelas tampak bahwa itu adalah sebuah konvoy, berukuran besar dan lemah! Tak lama Lorient telah menerima transmisi radio yang memberitahukan lokasi dan kecepatannya. Sebuah grup yang terdiri dari 5 U-boat diperintahkan untuk menemukan, mendekat, dan menyerang. U-48 maju pertama kali, tanpa perlu capek-capek menunggu yang lain datang, dan tak lama menemukan mangsanya yang terbesar, tanker Languedoc berukuran 9500 ton. Torpedo pertama menghantam bagian sampingnya dan BELEDUG! 2 menit kemudian ledakan kedua datang dari kapal barang Scoresby, BELEDUG!


Karena tak berpengalaman, kapal pengawal ini malahan memutuskan untuk mengambil orang-orang yang selamat dari kapal yang tenggelam dan bukannya memburu si pembuat masalah. Akibatnya, konvoy itu tak terjaga lagi. Di sore selanjutnya U-boat lain merusakkan satu kapal. Ketika malam turun tanggal 18 Oktober, 3 buah pengawal “menggembalakan” 31 anggota konvoy yang masih tersisa. Kalau mereka kira bahwa kini bahaya telah berakhir, maka mereka salah besar! Tepat di kaki langit menunggu dengan tenang 6 buah U-boat yang bersejajaran dengan jalur konvoy tersebut. Salah satu dari kapal selam ini adalah U-100 yang dikomandani oleh Joachim Schepke dan U-99 dengan komandannya Otto Kretschmer. Dua-duanya kemudian akan dicatat dengan tinta emas sejarah sebagai dua orang jagoan kapal selam yang paling disegani dalam Perang Dunia II.


Tak lama sebelum tengah malam mereka menyerang! Dimana-mana kapal-kapal meledak, terbakar dan tenggelam. Benar-benar suatu kekacauan yang luar biasa. Para pengawal itu tak dapat melakukan apa-apa selain menolong orang-orang yang selamat. ASDIC yang mereka bawa tidaklah berguna sama sekali, sementara teknologi radar masih ala kadarnya. Hasilnya adalah, dari 35 kapal yang berangkat dari pelabuhan keberangkatan, hanya 12 buah yang sampai dengan selamat! Dan ini pun bukan karena gerombolan U-boat itu kehabisan torpedo, melainkan karena Otto Kretschmer yang menerima berita bahwa ada konvoy lain (HX79) yang ikut terdeteksi dan berada dalam jangkauan mereka. U-boat-U-boat itu memutuskan untuk “berpesta” di konvoy yang kedua, dan menenggelamkan 12 kapal plus merusakkan 2 dari 49 kapal anggota konvoy HX79!


Salah satu dari jagoan U-boat yang paling terkenal adalah Erich Topp, komandan kapal U-552 yang dikenal sebagai “Setan Merah”. di tahun 1936 dia telah bertugas di penjelajah Karlsruhe. Hubungan pribadi yang kemudian terjalin dengan Admiral Dönitz membuat dia memutuskan untuk mendaftar secara sukarela di unit U-boat. Di tahun 1937 dia melaporkan diri pada Sekolah Pelatihan Neustadt. Perkenalan pertamanya dengan U-boat berujung dengan kekecewaan, ketika dia mendapati “bau” U-boat yang khas dan kelembaban konstan yang terdapat di dalamnya. Pada akhirnya dia mampu untuk membiasakan diri dan malah menganggap U-boat sebagai rumah utamanya.


Kebanyakan dari kapal penjaga konvoy di awal-awal perang adalah perusak tua sisa-sisa Perang Dunia I, kapal sekoci kecil dan korvet, yang tidak mumpuni bila diharuskan menjalani tugas baru sebagai pemburu kapal selam. U-boat Kretschmer, U-99, dengan menggunakan strategi penyerangan malam (yang sudah jelas-jelas disebutkan dalam bukunya Karl Dönitz Die U-Bootswaffe, tapi yang kopinya tak satupun dipunyai oleh intelijen Inggris!) berhasil menenggelamkan 9 dari 17 kapal yang berasal dari konvoy SC7. tentu saja ASDIC tak dapat mendeteksi kapal selam yang berada DI ATAS permukaan. Bisa dikatakan bahwa kerugian luar biasa besar yang diderita oleh pelayaran Sekutu selama tahun-tahun pertama perang benar-benar di luar perkiraan bila melihat jumlah U-boat yang operasional, tak lebih dari 12 buah yang ada di lautan dalam saat yang sama, itu pun sangat jarang terjadi! Setelah perang Inggris baru tahu bahwa sebenarnyalah Jerman telah mengetahui kode yang biasa digunakan oleh radio konvoy. Biasanya, U-boat “dituntun” ke arah buruannya oleh pesawat Condor dari Luftwaffe. Condor itu sendiri, yang merupakan bomber pengintai jarak jauh, bertugas untuk melaporkan pergerakan kapal yang terdeteksi sedang berada di laut, dan bahkan ikut menenggelamkan beberapa di antaranya!


U-boat ini bukannya tidak punya masalah sendiri, dan salah satunya adalah torpedo yang bermutu pas-pasan. Sebagai contohnya adalah U-23 yang dikomandani Oleh Kretschmer (sebelum dia dilempar ke U-99) yang pada tahun 1939 butuh 3 buah torpedo hanya untuk menenggelamkan sebuah kapal barang kecil di Laut Utara. Dengan tersisa 1 buah torpedo, Kretschmer memutuskan untuk “nganjang” ke Perairan Orkney di dekat Kirkwall. Di pelabuhan bersandar sebuah tanker berbobot 10.500 ton dari negara netral bernama Danmark (bodo banget kalo nggak tahu asal tanker ini!). para awak U-boat itu dapat dengan jelas melihat beberapa orang di dek sedang bersantai melepus-lepuskan rokok, di sebuah kapal yang secara ceroboh tidak memasang pertahanan di sekeliling dirinya. Srrrrrrr... BELEDUG! Ketika torpedo itu menemukan sasarannya, semua mata yang berada di pelabuhan malahan mendongak ke langit, menyangka bahwa yang ada adalah serangan dari Luftwaffe! Tak ada satupun yang mengira bahwa akan ada kapal selam sialan yang mencoba menerobos masuk. Dengan santai U-23 berlayar ke kanan dan melewati pos penjagaan, menyelinap kembali ke lautan bebas sementara semua senjata di arahkan ke udara! Tenggelamnya Danmark ini menandai babak baru peperangan. Dia telah mengibarkan bendera negara netral. Pada bulan Januari 1940 itu, Prize Regulations governing Conduct of Nations at War at Sea telah dilanggar secara sengaja. Untuk sedikit menyamarkan pelanggaran yang dilakukan oleh Kretschmer, Dönitz memerintahkan U-boatnya untuk memilih sasaran mereka secara hati-hati dan seksama, dan berharap Sekutu akan menyangka bahwa kapalnya tenggelam disebabkan oleh ranjau laut dan bukannya U-boat. Angkatan Laut Inggris sendiri memang sebelumnya telah memeriksa wilayah sekitar dan menemukan beberapa buah ranjau, sehingga dengan leganya Dönitz mendapati bahwa dua dari kapal yang ditenggelamkan oleh Kretschmer diklaim Inggris sebagai “tenggelam karena ranjau”. Tapi hanya sebentar saja, karena ketika sebuah pesawat pengintai mendapati U-boat Kretschmer, barulah Royal Navy menghadapi kenyataan sebenarnya yang menyesakkan.


Di bulan Desember 1940 kehilangan kapal yang diderita Inggris begitu parahnya sehingga kini Inggris terancam untuk menyerah kalah melalui kelaparan dan kekurangan barang yang mengancamnya! Yang diperlukan adalah lebih banyak kapal pengawal untuk mengiringi konvoy yang lebih rapat sehingga mudah dikontrol, dan jangan lupa mesin pendeteksi yang lebih baik dibandingkan ASDIC, yang tak bisa membedakan suara kapal selam dengan suara ikan paus! Sebagai balasan pangkalannya yang diserahkan ke Amerika, Presiden Franklin Delano Roosevelt memutuskan untuk menghibahkan 50 buah perusak tambahan sisa Perang Dunia I. Ya, mereka memang sudah bangkotan, tapi setidaknya mereka mengisi kekurangan dalam hal kapal pengawal yang diderita Inggris. Belum cukup, kapal perusak cepat juga ditambahkan untuk tugas ini ketika dirasa mereka sudah tidak dibutuhkan lagi di tugas sebelumnya, menantang kapal-kapal perang Jerman! Belum cukup, produksi kapal baru digenjot habis-habisan. Yang lebih penting lagi adalah, para ilmuwan Inggris menemukan sebuah “magnetron gema berongga” berukuran kecil, yang kemudian terbukti merupakan bagian penting dari sistem radar untuk menangkap U-boat di permukaan. Apa yang diketahui oleh para awak U-boat sebagai “Happy Time” kini akan segera berakhir, meskipun buat sementara bisa dibilang tahun 1941 perang di lautan Atlantik sedang berkecamuk seru-serunya, dengan masing-masing mengerahkan segala upaya demi menghancurkan musuhnya.


Setelah Amerika masuk ke dalam kancah peperangan, U-boat Jerman mengalami masa “Happy Time” yang kedua, Die Glückliche Zeit. Amerika masih hijau dalam hal perang U-boat ini, dan bahkan tidak repot-repot menerapkan blackout terhadap kota-kota di sepanjang pantainya. Akibatnya, pantai Florida di waktu malam tetap semarak oleh lampu-lampu yang memenuhi angkasa. Setiap kapal yang lewat menampakkan siluet yang jelas karena cahaya yang timbul dari pantai. Tentu saja ini merupakan sasaran empuk bagi 21 kapal selam yang dikirimkan oleh Dönitz ke area tersebut. Di bulan Juni 1942 mereka telah menenggelamkan tidak kurang dari 505 buah kapal, dan kebanyakan di antaranya masih berada di sekitar perairan Florida! Di luar dari kekurangan dalam hal teknologi, kapal pengawal dan pelatihan, Amerika juga kekurangan pesawat pengintai untuk melindungi konvoynya dan mengawasi lautan. Mereka bukannya tidak ada, hanya saja kebanyakan pesawat Liberator yang ada dikirim ke front Pasifik, sementara Inggris tidak membantu sedikitpun dan menginginkan pesawat Lancaster mereka untuk tugas pengeboman belaka. Seperti biasanya, selalu Jerman lah yang jadi pelopor dalam hal supremasi udara di lautan sementara musuh-musuhnya hanya bertugas mengkopi mentah-mentah. Di akhir 1940 Jerman telah mendirikan skuadron Condor Focke-Wulf di sepanjang pantai Biscay yang dapat beroperasi sampai sejauh 800 mil ke lautan Atlantik. Di dua bulan pertama tahun 1941 saja mereka telah menenggelamkan 46 kapal dengan total tonase 167.822 ton, suatu perbedaan yang tidak terlalu jauh dengan unit yang memang ditugaskan khusus untuk melakukan hal ini, U-boat, yang “hanya” mampu menenggelamkan 60 buah kapal di periode yang sama. Meskipun telah diperingati berkali-kali oleh Inggris berdasarkan bocoran dari mesin Enigmanya, tapi Admiral Ernest J. King yang merupakan Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat tetap tidak terpengaruh untuk merubah caranya dalam menjalani perang melawan kapal selam yang sudah terbukti kadaluarsa. Laksamana satu ini memang sudah kesohor dari dulunya sebagai pembenci Inggris sejati (Anglophobic)!


Tahun 1941, jumlah kapal yang ditenggelamkan oleh U-boat sebanyak 432 = 2.171.754 ton, sementara yang ditenggelamkan oleh pesawat sebanyak 371 = 1.017.422 ton. Bila ditambahkan dengan sebab lainnya, maka dalam tahun ini Sekutu telah kehilangan 1.299 kapalnya, suatu jumlah mengerikan yang tak mampu ditanggulangi oleh produksi kapal Inggris dan sekutunya pada masa itu. Tahun 1942 lebih buruk lagi, karena 1.644 kapal nyungseb ke dasar lautan, sementara kekuatan U-boat melonjak drastis dari 91 kapal selam operasional di bulan Januari, menjadi 212 di bulan Desember!


Meskipun begitu, situasi secara perlahan namun pasti menjadi berubah lebih kepada keuntungan Sekutu. di akhir tahun 1942 Inggris telah mempunyai kapal pengawal konvoy yang dapat membawa pesawat, sementara Liberatornya mulai dapat dibagikan untuk tugas pemburuan kapal selam. Pesawat terbang amfibi Sunderland yang berpangkalan di Eslandia dapat pula difungsikan untuk tugas ini meskipun ruang lingkup operasinya hanya terbatas di rute utara. Satu lagi, penemuan Inggris yang bernama The Hedgehog (Landak), yang merupakan mortir berlaras banyak yang dapat melemparkan 24 buah bom-kedalaman dalam waktu bersamaan di depan kapal perusaknya. Ada lagi The Squid (Cumi-Cumi), yang melakukan hal yang sama tapi Cuma berkapasitas 3 bom-kedalaman. Hal ini semua mampu menanggulangi masalah gangguan U-boat yang selama ini menggerogoti jalur perdagangan Inggris dan Sekutu-Sekutunya. Masih belum cukup, sistem RADAR baru kini mampu mendeteksi kapal selam yang berada di permukaan. Kapal-kapal anti-kapal selam ini dapat pula membawa pesawat pantai kecil di deknya. Selain dari semua teknologi tersebut, Inggris juga menerapkan taktik baru, yaitu formasi grup Pemburu/Pembunuh kapal perusak. Kini komandan pengawal tidak usah susah-susah lagi bila dihadapkan pada pilihan apakah akan mengejar U-boat, menyelamatkan awak kapal yang selamat, atau tetap berada bersama konvoy, karena telah ada bagian-bagiannya yang dipersiapkan untuk menghadapi keadaan semacam ini.


Di bulan September 1942, grup pertama di bawah komandan Johnny Walker (sebagian nama awaknya : Jim Beam, Smirnoff, Vodka, dan Topi Miring! Hehehe...) telah dilepaskan ke lautan, dan bersiap untuk menuju ke konvoy mana saja yang berada dalam ancaman U-boat. Tugasnya sederhana saja, mereka akan memperkuat pertahanan konvoy, lalu mendesak U-boat yang berani nongol, mengejar mereka sampai benar-benar hancur. Kalau itu sudah selesai, mereka balik lagi ke pangkalannya dan menyerahkan sisa perlindungan kepada kapal pengawal biasa.


Tapi kerugian Sekutu masih cukup besar. Di bulan Januari 1943 203.000 ton hilang di dasar lautan, dan di bulan Februari naik menjadi 359.000 ton. Di bulan Maret 1943 konvoy HX229 meninggalkan Halifax. Tanggal 13 Maret mereka kepergok secara tidak sengaja oleh U-653. kapal selam itu buru-buru mengirim laporan balik dan Dönitz lalu mengirimkan 12 buah U-boat yang selanjutnya menimbulkan malapetaka tak tertanggungkan bagi 11 lajur konvoy tersebut. 8 buah kapal tenggelam dalam serangan pertama, 2 lagi malam harinya. Dalam waktu bersamaan grup lain juga dalam perjalanan di tempat yang sama, konvoy SC122, yang bahkan lebih besar dari HX229. parahnya, SC122 adalah konvoy berkecepatan rendah sementara HX229 cepat. Di malam tanggal 18/19 Maret, dua konvoy tersebut memutuskan untuk bergabung, dan begitu juga penyerangnya, tidak kurang dari 25 U-boat! Di pagi hari tanggal 19 Maret, 21 kapal anggota konvoy berhasil ditenggelamkan. Dan kehilangan ini dapat lebih besar lagi andai saja tidak masuk dalam jangkauan pesawat Inggris esok harinya (20 Maret). Kenyataannya, sebuah Liberator yang datang mampu menenggelamkan satu U-boat penyerang. Dalam satu pertempuran itu saja, Sekutu kehilangan 140.842 ton, sementara total kehilangan di bulan Maret adalah 627.000 ton, salah satu dari bulan terburuk dalam Perang Dunia II bagi Sekutu!


Selama bulan April, grup Pemburu/Pembunuh dilepaskan ke perairan Mediterania, dan Roosevelt memerintahkan lebih banyak lagi Liberator dikirimkan ke Atlantik. Di bulan Mei telah terdapat 41 buah Liberator yang operasional. Di pertengahan bulan itu sebuah konvoy besar diombang-ambingkan oleh badai di selatan Greenland. 12 U-boat mengambil keuntungan dari situasi ini, dan berpesta pora menenggelamkan 9 kapal. Tapi 2 Grup Pendukung kemudian tiba dari Nova Scotia, arus berbalik, dan U-boat-U-boat yang dalam perjalanan pulang diburu habis-habisan, beberapa di antaranya ditenggelamkan. 4 buah ngabelekbek di malam pertama oleh bom-kedalaman, 2 tenggelam keesokan harinya oleh pesawat pembom, dan 2 lagi bertabrakan di dalam laut untuk kemudian tenggelam pula. Konvoy berikutnya kehilangan 3 buah kapal, tapi Jerman juga kehilangan 3 buah U-boatnya. Konvoy berikutnya kehilangan 2 buah kapal sementara kehilangan Jerman lebih besar lagi, 2 U-boat tenggelam dan 2 lagi rusak. Konvoy selanjutnya tidak tersentuh, sementara U-boat yang tenggelam kini malah mencapai 6 buah! Di bulan April total tonase kapal Sekutu yang tenggelam adalah 245.000 ton sementara Jerman kehilangan pula 15 U-boat. Di bulan Mei 165.000 ton hilang sementara Jerman kehilangan 40 U-boat, dan di bulan Juni Sekutu hanya kehilangan 18.000 ton sementara Jerman 17 U-boat.


Alarm! Alarm! Dönitz menyimpan U-boatnya yang tersisa di pangkalan sambil menanti strategi baru untuk menanggulangi situasi yang tidak kondusif ini. Selama bulan Juni 1944 Dönitz mencoba untuk menggunakan U-boatnya dalam mencegah pendaratan Sekutu di Normandia, tapi mereka pun berhasil diusir oleh Grup di bawah komandan Johhnie Walker (masih familiar dengan namanya kan?). di fase inilah Pertempuran Atlantik (The Battle of Atlantic) secara efektif berakhir. U-boat tak lagi menjadi ancaman Sekutu, apalagi setelah pangkalan-pangkalannya di Prancis dikuasai kembali lawan. Hitler sendiri kini menganggap bahwa U-boat hanya berfungsi sebagai organisasi “defensif” saja, untuk membuat sibuk Sekutu sementara dia mati-matian berperang melawan Rusia di Timur. Dönitz adalah Dönitz, dia tetap mengirim orang-orang pilihannya ke lautan dalam misi-misi bunuh diri, menginsyafi dengan sepenuh kesadaran bahwa kemungkinan mereka untuk kembali pulang adalah nol. Para komandan U-boat berkali-kali memperingatkan Dönitz bahwa Sekutu secara diam-diam mendengarkan mereka, dan jawaban Dönitz adalah : “Itu suatu hil yang mustahal! Mesin kode kita tak mungkin bisa dipecahkan.” Pada kenyataannya, mesin itu telah berhasil dipecahkan dan mereka mendengar! Betapapun besarnya ancaman U-boat yang muncul kemudian, mereka hanya berhasil menenggelamkan 1% dari total kapal Sekutu yang berlayar di Samudera Atlantik! Sebenarnya pula B-Dienst (intelijen Jerman) pun telah berhasil membongkar kode Royal Navy, dan mereka selalu sebisa mungkin memberitahu Dönitz akan konvoy-konvoy yang melintasi lautan. Adalah suatu hal yang luar biasa bahwa Jerman tidak pernah mendengar bocoran informasi yang berasal dari Enigma di sinyal-sinyal yang dikirimkan Angkatan Laut Sekutu!


Sedikit catatan, Baby :

Pada tanggal 14 Oktober 1939 jam 01.16 kapal perang Inggris Royal Oak ditorpedo ketika sedang berada di pangkalannya yang “terlindung” di Scapa Flow. Dibutuhkan waktu 15 menit bagi kapal ini untuk sekarat dan kemudian nyungsep ke dasar sedalam 15 fathom (depa). 833 orang awak kapal ikut tenggelam bersamanya. U-boat yang bertanggungjawab atas hal ini adalah U-47 di bawah komandan Günther Prien.


Ini bukanlah korban pertama Prien. Tanggal 3 September 1939, di hari yang sama ketika Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman, Günther Prien menenggelamkan Bosnia, kapal dagang Inggris. Dua hari kemudian dia menambah dua kapal lagi dalam daftar korbannya. Sekembalinya dari Scapa Flow, Prien dielu-elukan layaknya pahlawan, dan dia dianugerahi Ritterkreuz yang disematkan langsung oleh Adolf Hitler. keputusannya untuk menyerang Scapa Flow memang bukan suatu hal yang main-main, dan bahkan Winston Churchill sendiri mengakui bahwa hanya orang-orang bermental baja yang berani menerobos pangkalan Angkatan Laut Inggris yang paling banyak mendapat penjagaan tersebut!


U-31 menanamkan sejumlah ranjau laut di Loch Ewes, yang berakibat dengan rusaknya kapal perang HMS Nelson dan tenggelamnya dua buah kapal penyapu ranjau yang ditugaskan untuk membersihkannya!


U-21 menanamkan ranjau-ranjau di Firth of Forth, yang kemudian mematahkan bagian belakang HMS Belfast dan menenggelamkan dua buah kapal lainnya.


Di bulan Juni 1940, Prien diserahi tanggung jawab untuk memimpin sebuah “grup” U-boat yang terdiri dari U-47 dan enam kapal selam lainnya. Grup ini bertanggung jawab atas tenggelamnya 32 kapal dagang dengan total tonase 175.000 ton!


Prien menenggelamkan 4 dari 5 kapal yang hilang dari konvoy SC2 di bulan Agustus 1940.


Prien juga orang pertama yang memergoki konvoy HX79, yang lalu meminta bantuan 5 U-boat lainnya. 14 kapal tenggelam dalam pembantaian yang kemudian terjadi, dengan 3 diantaranya dibukukan oleh Prien sendiri.


Tanggal 6 Maret 1941 Prien memergoki konvoy OB293, dan seperti biasa meminta bantuan 4 kapal lain untuk ikut dalam penyerangan. Meskipun kemudian konvoy ini kehilangan 4 buah kapalnya, tapi mereka tetap bertahan dengan gigih. Akibatnya, pihak Jerman kehilangan 1 buah U-boatnya dan 1 lagi rusak parah. Dengan tetap memposisikan konvoy tersebut dalam penglihatannya, Prien bergerak untuk menentukan sasaran selanjutnya dengan menggunakan kecepatan permukaan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hal fatal kemudian terjadi. HMS Wolverine mengejutkannya dan kemudian menenggelamkan U-47 bersama seluruh awaknya termasuk Günther Prien. Terjadi perdebatan kemudian karena beberapa pihak berpendapat bahwa yang membuat U-47 tenggelam bukanlah kapal musuh melainkan karena torpedonya yang menjadi senjata makan tuan. Hal ini tidak pernah dapat dibuktikan, dan yang mendapat kredit sebagai penyebab tenggelamnya U-47 tetaplah Wolverine.


Dalam karirnya, Korvettenkapitän Hans-Günther Prien berhasil menenggelamkan 30 buah kapal dengan total tonase 193.808 ton. Selain itu, dia juga merusakkan 8 kapal lainnya dengan total tonase 62.751 ton. Atas prestasinya ini, dia dianugerahi Eichenlaub secara anumerta.


Jago U-boat terbesar Jerman dalam Perang Dunia II (bila dilihat dari skornya) tak diragukan lagi adalah Fregattenkapitän Otto Kretschmer, yang lebih dikenal sebagai “Serigala Atlantik”. Dia berhasil ditawan hidup-hidup dan dipenjarakan di Kanada. Orang-orang membicarakan dengan penuh kekaguman tentang U-99 yang membawa “Ladam Kuda Emas” di menara pengawasnya, juga tentang komandannya yang mendapat respek tinggi baik oleh kawan maupun lawan karena bertempur dengan penuh kehormatan dan kemanusiaan. Kretschmer biasa membawa kapal selamnya berdampingan dengan kapal yang baru ditenggelamkannya, lalu memberikan rokok, brandy dan peralatan medis pada para awak yang berada di perahu penyelamat sekaligus memberitahukan mereka rute pulang!


Hebatnya lagi, perang Kretschmer tidak berakhir setelah dia dipenjara. Dari kamp tawanannya di Kanada, dia mengorganisasikan sebuah grup spionase yang luar biasa efisien dan mengagumkan, yang biasa mensuplai Berlin dengan data-data militer rahasia Sekutu yang berlimpah dan, inilah yang membuat kita geleng-geleng kepala, akurat! Keterangan detailnya bisa kita temukan dalam buku karangan Terence Robertson berjudul “The Golden Horseshoe”. Sayangnya, sama seperti buku-buku masterpiece karangan Walker RN, buku ini pun sudah langka di pasaran dan tidak diproduksi kembali.


Setelah perang berakhir, Otto Kretschmer menjadi seorang diplomat. Rekaman wawancara bersamanya dan para komandan U-boat lain yang selamat dapat disaksikan dalam sebuah video dokumenter yang TOP BGT BLG (Top Banget Belegug) berjudul “Battle of the Atlantic” keluaran Luther Pendragon Priduction tahun 1995 (RGI 3037) dengan narasi dari Julia Somerville yang bisa dibeli dengan harga £13.99. juga termasuk dalam video ini adalah beberapa rekaman langka dari pembunuh U-boat yang top markotop, Kapten Johnnie Walker (ketemu lagi dah sama orang ini!) saat sedang beraksi.



Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.uboataces.com

www.bbc.co.uk

www.britannica.com