Sunday, October 1, 2017

Foto Adolf Hitler dan Erwin Rommel

Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menginspeksi pasukan kehormatan di Kaiserplatz dalam perayaan Erntedanktag (Thanksgiving) di Goslar, Niedersachsen, pada tanggal 30 September 1934. Dia datang jam 10 pagi, dan langsung disambut oleh Reichsbauernführer Walther Darré, SA-Stabschef Viktor Lutze, Menteri Propaganda Joseph Goebbels serta Reichsarbeitsführer Konstantin Hierl. Seperti biasa, Hitler langsung memimpin konvoy kendaraan bermotor yang disambut dengan gegap gempita oleh penduduk lokal. BTW, paling kiri (dan juga paling pendek) adalah Hauptmann Erwin Rommel yang saat itu merupakan instruktur sekolah infanteri di Dresden, dan yang nantinya terkenal dengan julukan "Serigala Padang Pasir" dalam kancah Perang Dunia II! Foto ini sendiri diambil dari buku saku "Bilder aus dem Leben des Führers" keluaran tahun 1936, dan kemudian dicetak ulang dalam bentuk kartupos yang diterbitkan pada tahun 1942. Sebagai fotografernya adalah Heinrich Hoffmann, yang merupakan fotografer pribadi Hitler dari tahun 1921 s/d 1945


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) disambut dengan meriah oleh warga Volksdeutsche (bangsa Jerman yang tinggal di luar negeri) saat tiba di lapangan udara Maslow (Polandia), 10 September 1939. Di tengah adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon) yang bertanggungjawab terhadap keamanan sang Führer selama kunjungannya ke Polandia (4-26 September 1939 dan 5 Oktober 1939). Pada tanggal 10 September 1939 Hitler berkunjung ke Opole/Oppeln, Końskie dan Kielce, sementara pada 11 September dia berada di Tomaszów dan Illnau


 Pada tanggal 10 September 1939, Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) melakukan kunjungan singkat ke wilayah Końskie dalam perjalanannya ke kota Kielce (Polandia) setelah mendarat di lapangan udara yang berdekatan di Maslow. Maslow sendiri adalah sebuah desa kecil yang terletak di arah timur-laut Kielce, sementara lapangan udaranya berlokasi di Jalan 745 yang berada di pinggiran desa tersebut. Foto ini memperlihatkan saat sang Führer baru tiba di lapangan udara Maslow. Di sebelahnya adalah Komandan Pasukan Pengawalnya, Generalmajor Erwin Rommel, sementara diantara Hitler dan Rommel adalah Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess)


 Lagebesprechung (diskusi militer) antara Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) dengan General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee) yang digelar di dekat lapangan udara Maslow (timur-laut Kielce/Polandia), tanggal 10 September 1939. Paling kiri adalah SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef Ordnungspolizei), sementara yang berdiri di tengah sedikit tertutup oleh Hitler adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon). Paling kanan adalah Walther Hewel (Verbindungsbeamter des Auswärtigen Amtes zum Führer und Reichskanzler)


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) saat baru mendarat di lapangan udara di dekat Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), Polandia, tanggal 11 September 1939. Dia disambut oleh General der Artillerie Walther von Reichenau (tengah, Oberbefehlshaber 10. Armee), yang entah lagi nyerocos apa. Diantara Hitler dan Reichenau adalah Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier), sementara orang yang berdiri kedua dari kanan adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), diikuti oleh Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht)


 Adolf Hitler disambut dengan gegap gempita oleh prajurit-prajurit Wehrmacht saat mengadakan kunjungan ke wilayah operasional 10. Armee di Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), Polandia, tanggal 11 September 1939. Dari kiri ke kanan: SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (yang berbadan besar di belakang, Chefadjutant des Führers und Reichskanzler), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), perwira tak dikenal dari 10. Armee, dan General der Artillerie Walther von  Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee)



Foto ini diambil pada tanggal 11 September 1939 di sekitar Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), Polandia, pada saat sang Führer mengunjungi wilayah operasional 10. Armee pimpinan General der Artillerie Walther von Reichenau dan bertemu dengan para perwira Heer disana. Disana pula Hitler mencicipi makanan yang menjadi ransum prajurit biasa, langsung dari Feldküche (Dapur Lapangan). Sebelah kirinya adalah SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers), sementara sebelah kanannya adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon). Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" (Peperangan Akbar Jerman Melawan Polandia) karya fotografer pribadi sang Führer, Heinrich Hoffmann, dengan caption asli berbunyi: "Wie jeder Soldat im Kriege, nimmt auch der Führer seine mahlzeiten an der Feldküche ein..." (seperti semua prajurit lain dalam peperangan, begitu juga Führer yang memakan makanannya di Dapur Lapangan)


Adolf Hitler terlibat dalam diskusi serius dengan Generalmajor Friedrich-Carl Cranz mengenai perkembangan terkini pertempuran saat melakukan kunjungan ke wilayah operasi 10. Armee di Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), tanggal 11 September 1939. Sebagai identifikasinya: 1.Korvettenkapitän Karl-Jesko von Puttkamer (Adjutant der Kriegsmarine beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 2.General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), 3.Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), 4.Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), 5.Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 6.Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), 7.Generalmajor Friedrich-Carl Cranz (Kommandeur 18. Infanterie-Division), dan 8.Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht)


 Dari kiri ke kanan: General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (di belakang, Chefadjutant des Führers und Reichskanzler), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Wilhelm Keitel (tertutup oleh Cranz, Chef der Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Friedrich-Carl Cranz, dan Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Foto ini diambil pada saat Hitler melakukan kunjungan ke wilayah operasi 10. Armee di Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), tanggal 11 September 1939


 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) tiba kembali di lapangan udara Opole/Oppeln setelah usai dari melakukan kunjungan ke wilayah operasi 10. Armee di Rawa/Tomaszów (sebelah tenggara Łódź), tanggal 11 September 1939. Tiga orang di kiri adalah tiga orang Mayor-Jenderal: Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamt), Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier) dan Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), sementara yang cemong di belakang Hitler adalah SS-Obersturmbannführer alias Letnan-Kolonel SS Prof.Dr.-med. Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt)


 Adolf Hitler menyaksikan prajurit-prajurit dari dua divisi Wehrmacht menyeberangi Sungai San yang berada di wilayah Galicia (sebelah tenggara Polandia dan barat Ukraina), 15 September 1939. Foto ini diambil saat sang Führer mengunjungi markas 14. Armee di wilayah  Jarosław, Polandia. Dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm List (Oberbefehlshaber 14. Armee), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamt), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), SS-Obersturmbannführer Prof.Dr.-med. Karl Brandt (Hitlers Begleitarzt), dan SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant des Führers und Reichskanzler). Foto oleh Heinrich Hoffmann


Pada tanggal 21 Desember 1939 Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) mengadakan kunjungan ke semenanjung Westerplatte (Danzig) menggunakan perahu dan berkesempatan menaiki kapal perang Schleswig-Holstein. Setelahnya dia mengadakan kunjungan ke Gotenhafen (Gdynia/Gdingen) dan pulang ke Zoppot di hari yang sama. Foto yang diambil oleh Heinrich Hoffmann ini memperlihatkan saat sang Führer meninjau puing-puing sisa Pertempuran Westerplatte (1-7 September 1939) yang baru berakhir beberapa hari sebelumnya dan yang tercatat sebagai pertempuran pertama dalam Perang Dunia II! Beberapa orang yang bisa saya kenali dari foto ini: 1.Kapitän zur See Gustav Kleikamp (Kommandant Linienschiff "Schleswig-Holstein"), 2.Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), 3.Charakter als Vizeadmiral Lothar von Arnauld de la Perière (Marinebevollmächtigter Danzig), 4.SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Staatssekretär und Chef der Reichskanzlei), 5.Albert Forster (Gauleiter Danzig), 6.Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Kommando), 7.SS-Untersturmführer Heinz Linge (Persönlicher Ordonnanzoffizier des Führers), 8.Oberst Rudolf Schmundt (Chefadjutant der Wehrmacht beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 9.Generalmajor Alfred Jodl (Chef des Wehrmachtsführungsamt), 10.Hauptmann im Generalstab Wilhelm "Willy" Deyhle (Adjutant Chef des Wehrmachtsführungsamt), 11.Hauptmann Gerhard Engel (Adjutant des Heeres beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 12.Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), 13.Hauptmann Nicolaus von Below (Adjutant der Luftwaffe beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), 14.Konteradmiral Hubert Schmundt (Befehlshaber der Seestreitkräfte in der Danziger Bucht), 15.Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), dan 16.Oberst Walter Warlimont (Stellvertreter Chef des Wehrmachtsführungsamt)


 Dari kiri ke kanan: General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 3. Armee), Generalmajor Wilhelm Speidel (Chef des Generalstabes Luftflotte 1), General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), dan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Kesselring sedang memberikan laporan terbaru mengenai aksi militer armada udaranya di Polandia. Foto ini diambil oleh Heinrich Hoffmann pada tanggal 22 Desember 1939 saat Hitler berkunjung ke wilayah operasional Heeresgruppe Nord yang berada diantara Warsawa dan Minsk (sekitar 50km dari ibukota Polandia). Di hari ini pula Kepala Staff Kesselring, Speidel, naik pangkat dari Oberst menjadi Generalmajor


 Foto ini diambil pada tanggal 22 September 1939 dan memperlihatkan Adolf Hitler beserta para petinggi Wehrmacht lainnya sedang menginspeksi Pociag Pancerny (Kereta Api Lapis Baja atau Armored Train) Nr.13 "General Sosnkowski" milik Polandia yang rusak terkena bom pesawat-pesawat Stuka Jerman di stasiun Łochów, 75 kilometer di utara Warsawa. Disini kita bisa melihat bagian kanan dari kendaraan perang istimewa tersebut, terutama bagian lokomotif serta gerbong artileri pertama. Para peninjau, dari kiri ke kanan: SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Reichspressechef der NSDAP und Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda), perwira SS tidak dikenal, Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), perwira SS tidak dikenal, SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Staatssekretär und Chef der Reichskanzlei), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Prof.Dr.-med. Theodor "Theo" Morell (Hitlers Leibarzt), General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1), General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 3. Armee), dan perwira Luftwaffe tidak dikenal. Foto oleh Heinrich Hoffmann


 22 September 1939: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) berjalan untuk melihat lebih dekat gerbong artileri kedua dari Pociag Pancerny (Kereta Api Lapis Baja atau Armored Train) Nr.13 "General Sosnkowski" milik Polandia yang rusak terkena bom pesawat-pesawat Stuka Jerman di stasiun Łochów, 75 kilometer di utara Warsawa. Di belakang Hitler, dari kiri ke kanan: Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 3. Armee), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Reichspressechef der NSDAP und Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda), perwira Luftwaffe tidak dikenal, SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Staatssekretär und Chef der Reichskanzlei), Prof.Dr.-med. Theodor "Theo" Morell (Hitlers Leibarzt), dan Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess). Foto oleh Heinrich Hoffmann




 22 September 1939: Adolf Hitler dalam acara inspeksi Pociag Pancerny (Kereta Api Lapis Baja atau Armored Train) Nr.13 "General Sosnkowski" milik Polandia yang rusak terkena bom pesawat-pesawat Stuka Jerman di stasiun Łochów, 75 kilometer di utara Warsawa. Foto ini memperlihatkan bagian gerbong artileri pertama dengan meriam wz.02/26 kaliber 75mm tampak menyembul di bagian turetnya. Para peninjau, dari kiri ke kanan: Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Adjutant der SS beim Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), Generalmajor Karl-Heinrich Bodenschatz (Verbindungsoffizier zwischen dem Oberbefehlshaber der Luftwaffe und dem Führerhauptquartier) Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), dan General der Artillerie Georg von Küchler (Oberbefehlshaber 3. Armee)


 Kunjungan Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht) pada wilayah operasional Heeresgruppe Nord yang berada diantara Warsawa dan Minsk (sekitar 50km dari ibukota Polandia), 22 September 1939. Disini Hitler mendapat sambutan meriah para prajurit Wehrmacht. Di sebelah kirinya adalah Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), Generaloberst Fedor von Bock (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Nord) dan Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht); sementara di sebelah kanannya adalah Generalleutnant Walter Petzel (Kommandierender General I. Armeekorps)


Pada tanggal 25 September 1939, Adolf Hitler terbang dari Zoppot menuju wilayah sekitar Warsawa, Polandia. Dia melakukan kunjungan ke 8. Armee (General der Infanterie Johannes Blaskowitz) dan 10. Armee (General der Artillerie Walther von Reichenau), serta markas pasukan Jerman di Grodjisk Mazowieki. Setelahnya dia kembali ke Godentow-Lanz menggunakan pesawat terbang. Keesokan harinya (26 September 1939 pukul 09:30), Hitler pulang ke Berlin menggunakan Führersonderzug "Amerika". Dia tiba di ibukota Jerman tersebut pukul 17:05 di sore harinya. Sang Führer baru kembali ke Polandia pada tanggal 5 Oktober 1939 untuk mengikuti parade kemenangan pasukan Jerman. Foto ini diambil pada tanggal 25 September di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa) dan memperlihatkan saat Hitler baru saja tiba di lapangan udara terdekat. Sebagai identifikasinya, baris depan dari kiri ke kanan: General der Artillerie Franz Halder (Chef des Generalstabes des Heeres), Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Generaloberst Gerd von Rundstedt (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Süd), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Bataillon), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 10. Armee), dan SS-Gruppenführer Karl Wolff (Verbindungsoffizier zwischen dem Reichsführer-SS und dem Führerhauptquartier)


Pada tanggal 25 September 1939, Adolf Hitler terbang dari Zoppot menuju wilayah sekitar Warsawa, Polandia. Dia melakukan kunjungan ke 8. Armee (General der Infanterie Johannes Blaskowitz) dan 10. Armee (General der Artillerie Walther von Reichenau), serta markas pasukan Jerman di Grodjisk Mazowieki. Setelahnya dia kembali ke Godentow-Lanz menggunakan pesawat terbang. Keesokan harinya (26 September 1939 pukul 09:30), Hitler pulang ke Berlin menggunakan Führersonderzug "Amerika". Dia tiba di ibukota Jerman tersebut pukul 17:05 di sore harinya. Sang Führer baru kembali ke Polandia pada tanggal 5 Oktober 1939 untuk mengikuti parade kemenangan pasukan Jerman. Foto ini diambil pada tanggal 25 September di wilayah 10. Armee yang berada diantara Bzura dan Sungai Vistula (menghadap barat Warsawa) dan memperlihatkan saat Hitler dan para petinggi Wehrmacht lainnya sedang mengawasi kondisi terakhir kota Warsawa yang terkepung melalui fernglas (teropong) dan scherenfernrohr (teropong gunting). Dari kiri ke kanan: Reichsleiter Martin Bormann (Persönlicher Sekretär bzw. Stabsleiter des Stellvertreters des Führers Rudolf Hess), Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Erwin Rommel (Kommandeur Führer-Begleit-Kommando), General der Artillerie Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), dan Generalmajor Friedrich Paulus (Chef des Generalstabes 10. Armee). Foto jepretan Kriegsberichter Kliem dari Propaganda-Kompanie 637 (Ost). Mereka sedang melihat kondisi kota Warsawa ((Polandia) yang terkepung oleh pasukan Jerman melalui fernglas (teropong) dan Scherenfernrohr (teropong gunting)


Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee di Warsawa yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1939. Dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generalmajor Friedrich-Carl Cranz (Kommandeur 18. Infanterie-Division), General der Artillerie Emil Leeb (Kommandierender General XI. Armeekorps), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (berkacamata dan tertutup oleh Blaskowitz, Kommandierender General XIII. Armeekorps), Generaloberst Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), Generaloberst Walther von Reichenau (di belakang Blaskowitz, hanya kelihatan topinya doang! Oberbefehlshaber 10. Armee), dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1). BTW, persis di bawah Hitler adalah Erwin Rommel yang saat itu masih menjadi Generalmajor dan menjabat sebagai komandan Führer-Begleit-Bataillon (Batalyon Pelindung Pribadi Führer). Foto oleh Hugo Jaeger, salah seorang fotografer pribadi Hitler




 Prajurit-prajurit Heer berbaris melewati podium kehormatan tempat Adolf Hitler dan perwira-perwira tinggi Wehrmacht lainnya berada dalam Siegesparade (Parade kemenangan) pasukan Jerman dari 8. Armee yang diselenggarakan di Warsawa (Polandia) pada tanggal 5 Oktober 1939. Berdiri di podium kehormatan, dari kiri ke kanan: Adolf Hitler (Führer und Oberster Befehlshaber der Wehrmacht), Generaloberst Walther von Brauchitsch (tertutup oleh Hitler, Oberbefehlshaber des Heeres), General der Kavallerie Maximilian Reichsfreiherr von Weichs (Kommandierender General XIII. Armeekorps), Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef der Oberkommando der Wehrmacht), General der Infanterie Johannes Blaskowitz (Oberbefehlshaber 8. Armee), Generaloberst Walther von Reichenau (Oberbefehlshaber 10. Armee), General der Flieger Alexander Löhr (Chef Luftflotte 4), dan General der Flieger Albert Kesselring (Chef Luftflotte 1). Sebagai tambahan: perwira SS yang memakai ledermantel dan berdiri paling dekat ke kamera (tengah) adalah SS-Oberführer Alfred-Ingemar Berndt, Leiter Abteilung VIII im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda yang nantinya bergabung dengan Heer demi bisa ikut berperang - walaupun harus merelakan pangkatnya turun drastis menjadi bintara - dan menjadi orang kepercayaan Rommel di Afrika Utara! Perhatikan pula bahwa ada seorang Letnan Medis (Assistenzarzt) dengan janggut dan kamus eh kumis "terhampar" di mukanya - sebuah pemandangan yang tidak biasa dalam tubuh Wehrmacht! Kita juga bisa melihat seorang Kriegsberichter sedang bertugas merekam acara parade dengan kamera filmnya


Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #10 untuk Generalleutnant Erwin Rommel (Kommandeur 7. Panzer-Division) yang diselenggarakan di Reichskanzlei, Berlin, pada tanggal 25 Maret 1941. Orang dalam foto berbingkai tampaknya adalah pemimpin Fasis Italia yang menjadi sekutu Nazi, Il Duce Benito Mussolini


Adolf Hitler (Führer und Oberste Befehlshaber der Wehrmacht) menghadiahkan Schwertern Grosse Urkunde (sertifikat medali Schwerter) kepada General der Panzertruppe Erwin Rommel (Befehlshaber Panzergruppe Afrika) di Führerhauptquartier Vinnitsa, Ukraina. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 25 Maret 1942, sementara medalinya sendiri telah diberikan beberapa bulan sebelumnya, tepatnya tanggal 20 Januari 1942



Adolf Hitler menghadiahkan Feldmarschallstab (tongkat komando Marsekal) kepada Erwin Rommel, bersama dengan Interimstabnya, tanggal 1 Oktober 1942 (versi lain 30 September 1942) di Reichskanzlei, Berlin. Dari kiri ke kanan: Major Gerhard Engel (Heeres-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); Generalmajor Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht); Kapitän zur See Karl-Jesko von Puttkamer (Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); SS-Hauptsturmführer Richard Schulze-Kossens (Hitlers Ordonanzoffizier); Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler); dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika")



Adolf Hitler menghadiahkan Feldmarschallstab (tongkat komando Marsekal) kepada Erwin Rommel, bersama dengan Interimstabnya, tanggal 1 Oktober 1942 (versi lain 30 September 1942) di Reichskanzlei, Berlin. Dari kiri ke kanan: Major Gerhard Engel (Heeres-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"); Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler); Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommandos der Wehrmacht); SS-Hauptsturmführer Richard Schulze-Kossens (Hitlers Ordonanzoffizier); dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika")


Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub, Schwertern und Brillanten #6 untuk Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe Afrika) yang diselenggarakan di Führerhauptquartier Vinnitsa tanggal 12 Maret 1943. Medali ini diberikan setelah beberapa hari sebelumnya (6 Maret 1943) "Sang Serigala Padang Pasir" melancarkan ofensif terakhirnya di Afrika, yang dikenal sebagai Pertempuran Medenine, melawan Eighth Army Inggris pimpinan Bernard Montgomery


 Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #258 oleh Hitler untuk Generalmajor Fritz Bayerlein (Führerreserve Oberkommando des Heeres) yang diselenggarakan di Führerhauptquartier Wolfsschanze pada tanggal 7 Juli 1943 (berita penerimaannya telah diterima oleh Bayerlein sehari sebelumnya tanggal 6 Juli 1943). Bayerlein menerima medali yang berada satu tingkat di atas Ritterkreuz tersebut atas prestasinya sebagai Kepala Staff Jenderal 1. italienische Armee di medan perang Afrika Utara beberapa bulan sebelumnya. Berdiri di antara dia dan Hitler adalah mantan atasan Bayerlein, Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang juga sama-sama menjadi Führerreserve Oberkommando des Heeres (Cadangan Aktif Angkatan Darat), sementara di sebelah kanan adalah Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht)


Sumber :
Buku "Adolf Hitler und die Geschichte der NSDAP Teil 2: 1938 bis 1945" karya Paul Bruppacher
Buku "Blitzkrieg Unleashed: The German Invasion of Poland, 1939" karya Richard Hargreaves
Buku "Der Große Deutsche Feldzug gegen Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Die Soldaten des Führers im Felde - der Feldzug in Polen" terbitan Oberkommando der Wehrmacht
Buku "Hitler: A Chronology of his Life and Time" karya M. Hauner
Buku "Hitler's Light Panzers at War: Rare Photographs from Wartime" karya Paul Thomas
Buku "Hitler's Personal Security: Guarding the Führer, 1921-1945" karya Peter Hoffmann
Buku "In the service of the Reich: The Memoirs of Field-Marshal Keitel" karya David Irving
Buku "Mit Hitler in Polen" karya Heinrich Hoffmann
Buku "Von Lemberg bis Bordeaux: Fronterlebnisse eines Kriegsberichters" karya Leo Leixner
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi pribadi Gregg "Graveland"

Saturday, September 30, 2017

Foto Flak-Regiment 33 (motorisiert)

Unteroffizier Erich Heintze (kiri) dan Gefreiter Arnold Huebner (kanan) diwawancara oleh seorang koresponden radio perang, bulan April 1942. Mereka berdua baru saja dianugerahi medali keberanian bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes satu bulan sebelumnya, tepatnya tanggal 7 Maret 1942. Heintze sebagai Geschützführer (Komandan Meriam), sementara Huebner sebagai Richtkanonier (Penembak Meriam). Keduanya berasal dari 3.Batterie / I.Abteilung / Flak-Regiment 33 (motorisiert). Foto ini sendiri diambil oleh Bildberichter Eisenhardt


Dari kiri ke kanan: Gefreiter Arnold Huebner dan Unteroffizier Erich Heintze. Dua orang Ritterkreuzträger dari Flakwaffe ini berpose di pinggir jalanan sebuah kota, bulan April 1942. Mereka baru saja dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (Knight's Cross of the Iron Crosses) sebulan sebelumnya, pada tanggal 7 Maret 1942. Heintze dalam kapasitasnya sebagai seorang  Geschützführer (Komandan Meriam), sementara Huebner sebagai  Richtkanonier (Penembak Meriam). Keduanya berasal dari 3.Batterie / I.Abteilung / Flak-Regiment 33 (motorisiert) yang beroperasi di Afrika Utara bersama Jenderal Erwin Rommel. Foto ini sendiri diambil oleh Bildberichter Eisenhardt


Sumber :

Tuesday, September 26, 2017

Foto 208. Infanterie-Division

Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Hans Piekenbrock (Kommandeur 208. Infanterie-Division) dan Major Klaus Sinram (Führer Grenadier-Regiment 309 / 208.Infanterie-Division) menginspeksi pasukan dari unit mereka dalam upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Sinram, tanggal 1 November 1944. Sang Mayor sendiri telah mendapatkan berita penganugerahannya dari tanggal 23 Oktober 1944. Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Lucke


Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl

Update! DVD Film Perjuangan Terbaru (September 2017)

UNTUK CARA PEMESANAN SILAKAN LIHAT DISINI


7 WANITA DALAM TUGAS RAHASIA (1983)
Kisah ini berlatar belakang saat IbuKota RI pindah ke Yogyakarta. Di Jawa Barat ada dua kekuatan yang sama-sama memberontak terhadap pemerintahan Republik, yaitu DI/TII dan gerombolan misterius pimpinan Gozali yang frustrasi. Untuk mengatasinya diterjunkan Laskar Wanita yang dipimpin oleh Mayor Meity. Laskar ini mengemban tugas rahasia untuk menyusup ke daerah sasaran dan menghancurkan musuh dari dalam. Berhasilkah tugas mereka?


DARAH DAN DOA / LONG MARCH (1950)
Mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit Republik yang diperintahkan untuk kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin oleh Kapten Sudarto (Del Juzar). Ditunjukkan ketegangan sepanjang jalan dan dalam menghadapi serangan udara dari Belanda, juga ketakutan dan penderitaan lainnya. Tak ketinggalan disinggung adanya pengkhianatan diantara sesama rekan seperjuangan


DJAKARTA 1966 (1982)
Film ini secara kronologis membeberkan proses lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) di tahun 1966. Setelah peristiwa G-30S-PKI tahun sebelumnya, Presiden Soekarno tidak segera melakukan penyelesaian politik yang memuaskan. Hari-hari itu Jakarta dipenuhi demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI. Mereka mencetuskan Tritura: pembubaran PKI, perombakan kabinet, dan penurunan harga. Sewaktu keadaan makin genting, Soekarno akhirnya memberi wewenang berupa Supersemar pada Letjen Soeharto untuk memulihkan keamanan negara. Berdasar kewenangan inilah Soeharto memerintahkan pembubaran PKI


GURU BANGSA TJOKROAMINOTO (2015)
Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800-an, Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dikeluarkan oleh penjajah. Faktanya, kemiskinan masih banyak terjadi, rakyat banyak yang belum mengenyam pendidikan, dan kesenjangan sosial antaretnis serta kasta masih terlihat jelas. Melihat keadaan ini, Tjokroaminoto muda tidak hanya berdiam diri. Meskipun dalam keluarga dan lingkungan keturunan ningrat yang hidup dengan nyaman, beliau berani mengambil keputusan dengan meninggalkan status kebangsawannya dan memulai kerja sebagai kuli pelabuhan dan ikut merasakan penderitaan rakyat-rakyat jelata. Beliau pun menjadi pendiri dari Sarekat Dagang Islam ( SDI ) dan beliau juga menjadi guru bagi beberapa pemuda yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar Indonesia dengan berbagai ideologi seperti Presiden pertama Indonesia Soekarno (yang juga sempat menjadi menantunya), Kartosuwiryo (DI/TII), serta para tokoh Partai Komunis Indonesia ( PKI ) seperti Alimin, Musso dan Tan Malaka


JENDERAL SOEDIRMAN (2015)
Film JENDERAL SOEDIRMAN bercerita tentang pengkhianatan Belanda yang menyatakan secara sepihak sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, sekaligus menghentikan gencatan senjata atau perdamaian yang telah disepakati sebelumnya. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simon Hendrik Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik. Jenderal Soedirman lah yang memimpin gerilya untuk menghadapi agresi militer Belanda II untuk menunjukkan pada dunia bahwa TNI masih ada dan akan terus mempertahankan kedaulatnnya


KAMP TAWANAN WANITA (1983)
Dalam masa akhir penjajahan Jepang, Amelia adalah salah satu wanita yang ditahan bersama dengan para wanita lainnya di suatu kamp tahanan. Ia selalu berusaha menjalin hubungan dengan para pejuang gerilyawan Indonesia yang dipimpin oleh Kapten Slamet. Sebagai salah satu taktiknya, ia berhasil dekat dengan Letnan Nakamura. Ternyata keduanya kemudian saling jatuh cinta. Kewibawaan Nakamura dirusak oleh para anak buahnya sendiri, Sersan Tukigawa dan Kopral Seikeki yang suka mempermainkan wanita tahanan. Ketika situasi semakin genting dengan adanya serangan Sekutu, Amelia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di pihak manakah akhirnya dia berpijak?


KOMANDO SAMBER NYAWA (1985)
Peleton Serma Hasyim dari Kompi Letnan Widodo adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang pemberani. Untuk menggantikan anak buah Sersan Hasyim yang gugur, maka didatangkanlah Kopral Abimanyu. Abimanyu suka berpakaian perlente, tidak banyak bicara dan tidak disukai Serma Hasyim. Hasyim mengira Abimanyu cuma pandai bersolek dan tak mampu bertempur. Kenyataannya ternyata berbeda...


LEBAK MEMBARA (1982)
Dengan latar belakang zaman penjajahan Jepang, di daerah Lebak dekat Cirebon tersebutlah seorang pemuda perkasa bernama Herman. Ia ditahan di markas tentara Jepang karena membela gurunya yang dianggap bersalah. Penahanan Herman tidak berlangsung lama karena pihak Jepang khawatir kalau kawan-kawannya akan membalas dendam. Tetapi, tanpa sepengetahuan komandannya, sejumlah serdadu Jepang memperkosa Marni, kekasih Herman. Kejadian itu membuat Herman naik pitam dan mengamuk sehingga membunuh beberapa serdadu Jepang. Dia kembali menjadi buron, dan kali ini pihak penjajah tidak segan-segan untuk membunuhnya


MERAH PUTIH II - DARAH GARUDA (2010)
Sebuah cerita mengenai kelompok heroik para kadet yang bergerilya di pulau Jawa pada tahun 1947.Terpecah oleh rahasia-rahasia mereka di masa lalu, konflik yang tajam dalam hal kepribadian serta kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda, demi menyelamatkan para perempuan yang mereka cintai. Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral Sudirman dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis musuh di Jawa Barat: sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman yang telah dilakukan oleh Jendral Van Mook pada bulan Agustus 1947


MERAH PUTIH III - HATI MERDEKA (2011)
Dengan latar belakang masa revolusi di awal tahun 1948, sekelompok kadet menjadi pasukan gerilya elit setelah kejadian pembunuhan massal para calon prajurit di tahun 1947. Setelah menyelesaikan misi yang berakhir tragis dengan kehilangan salah satu anggotanya, kesetiaan kelompok ini kembali diuji dengan mundurnya pimpinan mereka dari Pada akhirnya para kadet ini mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka dalam melawan Belanda dalam perjalanan misi ke Pulau Dewata Bali


OPERASI TRISULA - PENUMPASAN SISA-SISA PKI DI BLITAR SELATAN (1986)
Sebuah upaya untuk mengisahkan kembali penumpasan anggota gerakan G-30-S PKI yang melarikan diri dari Jakarta dan berbagai daerah. Mereka kemudian bertahan dan menyusun gerakan dari wilayah tandus, berbukit, dan bergua-gua di Blitar Selatan. Mereka dilukiskan merampok, melakukan sabotase serta meresahkan penduduk. Sebuah operasi militer dengan sebutan Operasi Trisula dibentuk untuk membasmi mereka


PEDJUANG (1960)
Di sekitar tahun 1947, sebuah peleton pimpinan Letnan Amin mendapat tugas untuk mempertahankan sebuah jembatan yang sangat strategis. Di balik pasukan itu, berlindung sejumlah pengungsi. diantara mereka adalah Irma, anak keluarga menengah yang sinis terhadap perjuangan kemerdekaan. Antara Amin dan Irma terjalin hubungan kasih, yang mereka sembunyikan. Sersan mayor Imron (Bambang Hermanto) yang urakan juga menaruh hati atas Irma. Bagaimanakah akhir kisah cinta segitiga ini, yang terjalin di masa perang kemerdekaan?


SANG KIAI (2013)
Tahun 1942 Jepang melakukan ekspansi ke Indonesia. Di Jawa Timur, beberapa Kiai dari berbagai pondok pesantren ditangkapi karena melakukan perlawanan. KH Hasyim Asy'ari sebagai pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng ikut ditangkap juga karena dianggap menentang Jepang. Penangkapan ini akhirnya memicu kerusuhan di pesantren terkemuka tersebut. Bagaimanakah akhir dari peristiwa ini?


SERANGAN FAJAR (1981)
Kisah Perang Kemerdekaan, menampilkan beberapa fakta sejarah yang terjadi di daerah Yogyakarta. Peristiwa-peristiwa patriotik itu ialah: penaikan bendera Merah Putih di Gedung Agung, penyerbuan markas Jepang di Kota Baru, penyerbuan lapangan terbang Maguwo, dan serangan beruntun di waktu fajar ke daerah sekitar Salatiga, Semarang. Semua peristiwa di atas dirangkai dengan kehadiran Temon, seorang anak laki-laki kecil yang masih lugu, di sela-sela perang bersama dengan neneknya tercinta. Terselip pula kisah keluarga bangsawan Yogyakarta, di mana sang suami ikut gigih membantu pejuang sementara istrinya selalu ketakutan akan kehilangan kastanya sebagai bangsawan


SOEKARNO (2013)
Dulunya dia bernama Kusno. Tubuhnya kurus dan sering sakit-sakitan. Oleh bapaknya lalu Nama Kusno diganti dengan Sukarno. Besar harapan bahwa anak kurus itu akan menjelma menjadi ksatria layaknya Adipati Karna. Harapan bapaknya terpenuhi: umur 24 tahun Sukarno telah berhasil mengguncang podium dengan lantang berteriak : "Kita Harus Merdeka. Sekarang!!!" Akibatnya dia harus dipenjara, dengan dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian Sukarno tidak pernah padam


SOEKARNO - KETIKA BUNG DI ENDE (2013)
Karena aktivitas politiknya yang dianggap berbahaya, Soekarno diasingkan oleh Belanda ke Ende pada tahun 1934. Ia pergi bersama dengan istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami alias Omi, serta ibu mertuanya Amsi. Masa awal di pengasingan itu dilalui dengan sulit. Yang paling menyakitkan adalah rakyat setempat tidak ada yang berani bertegur-sapa dengannya dan kemana-mana ia selalu diikuti oleh polisi. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa bergaul (ia memulainya dengan mengadakan pengajian) dan banyak membaca di perpustakaan pastoran Ende. Di sini pula ia banyak berdiskusi dengan Pastor Huytink yang meramalkannya bahwa ia akan jadi presiden. Pastor ini pula yang membelanya ketika Soekarno mengajak kawan-kawan barunya itu untuk berlatih sandiwara dengan naskah yang ditulisnya sendiri


SURAT CINTA UNTUK KARTINI (2016)
Berlatar di awal tahun 1900-an, Tokoh Kartini adalah sosok wanita dari kaum ningrat yang tidak sombong dengan statusnya. Sementara itu, Sarwadi adalah seorang petugas pos yang sering mengantarkan surat untuk Kartini yang berasal dari teman-teman korespondennya di Belanda. Mereka kemudian saling jatuh cinta, meskipun pada akhirnya terhalang oleh tembok tebal, terutama saat Kartini mendapat lamaran dari seorang Bupati yang telah memiliki tiga istri...


TAPAK-TAPAK KAKI WOLTER MONGINSIDI (1982)
Kisah salah seorang pahlawan kemerdekaan di Sulawesi Selatan, Wolter Monginsidi. Dia dilukiskan sebagai pemuda yang flamboyan, berani terkadang nekat, serta agak emosional. Ia dan pasukannya selalu mengganggu Belanda, dan diburu-buru, sampai akhirnya tertangkap. Ayahnya meminta agar ia menandatangani permohonan grasi yang diajukan penjajah, tapi Wolter Monginsidi tegas menolak. Akhirnya sang pahlawan gugur dieksekusi oleh Belanda


THE ACT OF KILLING (2012)
Film ini mengisahkan tentang kehidupan salah satu tukang jagal yang bernama Anwar Congo dan Adi Zulkadry. Pada waktu PKI masih berjaya mereka bekerja sebagai penjual tiket bioskop, tapi kemudian berubah menjadi salah satu pimpinan dari sebuah kelompok jagal anti-PKI di Sumatera Utara. Anwar Congo adalah orang  yang dulu sempat diberikan sebuah jabatan sebagai sayap kiri dari organisasi paramiliter bernama Pemuda Pancasila yang dulu berada di barisan terdepan dalam menumpas PKI. Dalam salah satu wawancaranya, Anwar berkata bahwa ia secara pribadi telah membunuh lebih dari seribu orang!

Sunday, September 24, 2017

Foto 148. Reserve-Division / 148. Infanterie-Division

Tiga orang prajurit muda dari 148. Reserve-Division yang terbunuh saat pasukan dari salah satu kompi 551st Parachute Infantry Battalion Amerika menyerbu sarang senapan mesin mereka di La Turbie, Alpes-Maritimes, tenggara Prancis, pada tanggal 30 Agustus 1944. Pertempuran kecil ini adalah salah satu baku-tembak terakhir antara pihak Jerman dan Sekutu di wilayah Riviera Prancis. Kopral Joe Cicchinelli dari 551st mengambil foto para prajurit malang ini (yang mengenakan Waffenrock alias seragam parade) dari Soldbuch mereka.


Sumber :
Buku "Messengers of the Lost Battalion: The Heroic 551st and the Turning of the Tide at the Battle of the Bulge" karya Gregory Orfalea

Tuesday, August 29, 2017

UPDATE! DVD Nazi Jerman (Agustus 2017)

UNTUK CARA PEMESANAN SILAKAN LIHAT DISINI


WEREWOLF HUNT (2009)
Perwira Tentara Merah Mayor Sedov memimpin sekelompok pasukan untuk beroperasi jauh di belakang garis musuh demi mengumpulkan data-data intelijen di bunker Werewolf, markas baru Adolf Hitler di Ukraina yang diduduki oleh Nazi. Bunker satu ini terkenal tidak bisa dihancurkan, bahkan oleh pesawat pengebom sekaligus karena lokasinya yang diluar jangkauan. Berhasilkah usaha mereka? 1 DVD teks Indonesia 


THE LAST RESCUE (2015)
Setelah D-Day, tiga tentara Amerika dan dua orang perawat terdampar di belakang garis musuh. Mereka menawan seorang perwira tinggi Wehrmacht sebagai tahanan mereka, dan mencoba untuk mengatur upaya pelarian dari wilayah yang dikuasai oleh Jerman. 1 DVD teks Indonesia


ROAD 47 / THE LOST PATROL (2013)
Pertemuan yang tidak biasa antara tiga pembelot dari kebangsaan yang berbeda (Brazil, Jerman dan Italia) selama Perang Dunia II. Kini mereka menanggung tugas hukuman yang mustahil untuk membersihkan ranjau di jalan 47 untuk membantu kelancaran transportasi Sekutu. 1 DVD teks Indonesia


SABOTEURS / THE HEAVY WATER WAR (2015)
Cerita di balik rencana Hitler untuk mendapatkan teknologi bom atom selama Perang Dunia II, dan juga usaha sabotase Sekutu di Rjukan, Norwegia, untuk menggagalkan rencana Hitler tersebut. Dilihat dari empat sudut pandang: sisi Jerman, Sekutu, penyabot, dan pihak perusahaan. 3 DVD teks Indonesia


SUGIHARA CHIUNE (2015)
Kisah seorang diplomat dari Negara Matahari Terbit, yang diberi julukan "Japanese Schindler", yang telah mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa lebih dari 6.000 orang Yahudi dari Ghetto Kaunas, Lithuania, dengan mengeluarkan mereka dari wilayah pendudukan Jerman secara diam-diam. 1 DVD teks Indonesia


REICHSFÜHRER-SS (2015)
Reichsführer-SS Heinrich Himmler adalah tokoh Nazi yang paling setia pada Hitler, dan juga merupakan salah satu orang yang paling ditakuti di Third Reich. Melalui perantaraan Jenderal Hans Schellenberg, Hitler berusaha menguji kesetiaan Himmler dengan memaksa dia untuk membunuh seorang tahanan Polandia dengan menggunakan tangannya sendiri. 1 DVD tanpa teks


MISSION TO DEATH (1966)
Di tempat yang jauh dan dalam di wilayah Perancis yang diduduki Nazi, pasukan tentara Amerika mendapati diri mereka terjebak dalam pertempuran brutal melawan musuh yang buas. Misi mereka adalah menyusup ke garis Jerman dan menghancurkan instalasi radar rahasia mereka, sehingga memudahkan pesawat-pesawat Sekutu melancarkan serangannya. 1 DVD tanpa teks


THEIRS IS THE GLORY: MEN OF ARNHEM (1946)
Pada tahun 1944, Jenderal Montgomery memutuskan untuk menerjunkan dua divisi Airborne Amerika Airborne dan Divisi Airborne Pertama Inggris di belakang garis musuh di Belanda untuk menguasai jembatan yang akan membuka jalan ke dataran Jerman. Tujuan utama Inggris adalah Arnhem, titik paling utara dari rencana Montgomery, dan film ini menggambarkan secara rinci para "Men of Arnhem", Airborne Inggris Pertama. 1 DVD tanpa teks


THE THOUSAND PLANE RAID (1969)
Pada tahun 1943, Kolonel Greg Brandon (Christopher George), ditempatkan di sebuah unit bomber 8th Air Force Amerika yang berpangkalan di Inggris. Dia berulang kali mencoba untuk membujuk atasannya dengan mengatakan bahwa pengeboman besar-besaran di siang hari akan mempercepat akhir Perang Dunia II. Dengan kesulitan yang ekstrim, akhirnya rencana pun dilakukan dengan fokus terhadap pabrik pesawat-pesawat Luftwaffe. 1 DVD tanpa Teks


LA CATTURA / THE RAVINE (1969)
McCallum adalah seorang sniper dan juga agen khusus Jerman pada Perang Dunia II yang duitugaskan untuk menangkap seorang Sniper wanita dari kelompok Partisan Tito di Yugoslavia. Setelah misinya berhasil, mereka malah terlibat dalam hubungan asmara dan mulai melupakan perang, tugas, dan siapa diri mereka sebenarnya. 1 DVD tanpa teks

Sunday, May 21, 2017

Buku Pertama Karya Alif Rafik Khan : 1000+ FAKTA NAZI JERMAN



Tahukah anda:

Orang-orang Nazi benci disebut 'Nazi'?

Terdapat 42 kali percobaan pembunuhan terhadap pemimpin Nazi Adolf Hitler?

Ilmuwan Nazi mengembangkan tank raksasa, pesawat raksasa, dan bahkan kelinci raksasa?

Terdapat rumah sakit khusus Yahudi di Berlin yang dibiarkan beroperasi sampai akhir perang?

Pilot tempur, komandan kapal selam, dan komandan tank dengan kill terbanyak berasal dari Jerman?

Dan banyak lagi fakta-fakta menarik lainnya yang terangkum dalam buku:

1000+ FAKTA NAZI JERMAN
Karya: Alif Rafik Khan dan Yusup Somadinata
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 160 halaman
Harga toko: 90.000

Dilengkapi dengan ilustrasi di setiap halamannya dan full color.

Bisa didapatkan di Gramedia serta toko buku terdekat, juga bisa dipesan secara online melalui link-link berikut:












-----------------------------------------------------------------------------------------------