Wednesday, February 3, 2010

L'Armée du Crime, Film Tentang Konyolnya Para Anggota Gerakan Perlawanan Bawah Tanah Terhadap Nazi!

Para anggota gerakan perlawanan Prancis yang tertangkap


Inilah tipikal Feldgendarmerie dalam film L'Armée du Crime... Nggak ada serem-seremnya!


Poster film L'Armée du Crime


Banyak film yang bercerita tentang Perang Dunia II (PD II). Kebanyakan adalah film Hollywood dan disutradarai sutradara terkenal. Schinder’s List karya Steven Spielberg adalah salah satunya.

Namun, bagaimana jika perang tersebut dilukiskan dari sudut pandang lain? L’armee du crime, atau The Army of Crime besutan sutradara Robert Guediguian bisa dijadikan contoh. Film ini dirilis di Prancis tanggal 16 September 2009 dan diproduseri Dominique Barneaud.

Film ini barangkali tak setenar Un long dimanche de fiancailles, film Prancis yang juga bertema perang. Namun, L’armee du crime bisa jadi memiliki daya tarik tersendiri karena menggabungkan antara kisah heroik/patriotik dan dramatik. Berlatar belakang tahun 1944 di Paris, film ini bercerita tentang seorang penulis puisi, sekaligus pemimpin kelompok resistensi terhadap Nazi. Namanya Missak Manouchian yang dimainkan Simon Abkarian. Dia menjadi pemimpin gerakan perlawanan terhadap Nazi lantaran orang tuanya jadi korban kekejaman tentara Jerman tersebut. Tindakan-tindakannya sangat heroik ketika dengan gigih mengumpulkan dan merekrut siapa saja untuk melawan Nazi, serta bersedia bertarung dan rela mati demi Prancis.

Kelompok yang dipimpin Missak sesungguhnya tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Hitler. Mereka hanyalah sekumpulan para petarung ‘berani mati’ yang melakukan penyerangan secara tidak terorganisasi. Missak sendiri adalah seorang warga Armenia yang diasingkan dan hijrah ke Paris.

Selama menjadi pemimpin gerakan ini, ketika merekrut anggota, Missak dan istrinya, Melinee Manouchian (Virginie Ledoyen), menemukan dua orang yang sangat berhasrat dan mempunyai misi sama dengan tujuan kelompok resistensi pimpinan Missak ini. Mereka adalah Marcel Rayman (Robinson Stevenin) dan Thomas Elek (Gregoire Leprince-Ringuet). Keduanya merupakan dua pemuda Yahudi yang berasal dari keluarga taat hukum, yang sebelumnya telah bekerja sebagai prajurit gerakan perlawanan kaum mereka.

Thomas merupakan seorang marxis (penganut marxisme-Red) yang ahli dalam masalah ledak-meledakkan. Bersama Marcel, mereka berdua merupakan dua orang tokoh prajurit yang sangat konyol dan tak tahu apa-apa, namun sangat berani.

Contohnya, pada saat Thomas dikirim sebagai pasukan SS, secara diam-diam ia memasang bom pada benda yang menurutnya sangat tepat, yaitu pada sebuah buku Das Kapital karya Karl Marx. Pasukan SS-lah yang melabeli mereka dengan sebutan ‘L’armee du crime”, pada ‘Selebaran Merah’ yang disebarkan di seluruh Prancis. Selebaran itu bertujuan mendiskreditkan pergerakan kelompok resistensi.

Sementara itu, dengan bergerak cepat, Marcel mengambil tindakan yang lebih berani, dengan metode ‘mengarahkan tembakan langsung ke kepala’. Metode yang berbeda dengan Thomas tapi beroleh hasil yang sama. Hasil yang kacau bin balau.

Tetapi, seperti yang telah benar-benar dipahami oleh Missak dan Melinee, setiap wajah (prajurit) baru, pasti membawa risiko dan motif yang baru pula. Beberapa dari mereka memang bertujuan melindungi (kaumnya), tapi tak jarang yang pula yang hanya mengelabui atau menipu. Dan ketika hidup dan menghidupi diri berada pada satu garis, melindungi diri sendiri adalah musuh dari rasa kepercayaan.

Menyaksikan film ini seperti melihat rangkuman kombinasi dari intelektualitas orang Yahudi, Komunis, Hungaria, Spanyol, Polandia, Italia, dan Armenia. Bagi mereka, keyakinan (agama) dan kebudayaan merupakan hal yang tidak relevan. Tidak begitu penting. Sebab, yang terpenting buat mereka adalah loyalitas dan kebesaran hati untuk menempuh risiko apa pun demi menyingkirkan pasukan Hitler.

Meskipun sedikit membosankan dengan alur yang mudah ditebak, Robert Guediguian sebagai sutradara, berusaha menonjolkan tiga orang patriot, sambil menyajikan fakta dengan dramatisasi yang dinilai berada pada batas yang cukup. Film ini bisa dibilang cukup bagus, dan direview secara positif oleh beberapa media. Tapi, ada juga banyak kritik dari para pengamat film di Prancis.

Para pengamat sering membandingkan film karya Guediguian dengan film karya Jean-Pierre Melville, L’armÈe des ombres (Tentara Bayangan) (1969). Dan karyanya ini, dianggap jauh merosot jika dibandingkan dengan film dramanya yang berjudul La Ville est tranquille (Kota Sepi) (2000).

Tidak hanya media Prancis saja yang mengkritik film ini, tapi media internasional, seperti harian The Sun (Inggris) yang membandingkan film ini dengan Inglourious Bastards karya Quentin Tarantino, yang dinilai ‘jauh lebih menyenangkan’. Dan yang terburuk adalah Pierre Murat, kritikus Prancis, menilai film ini tidak penting, dan sama saja seperti film televisi. Meskipun menuai banyak kritik, paling tidak, menonton film Prancis merupakan salah satu alternatif yang tepat jika sudah terlalu bosan dengan film-film Hollywood.


Sumber :
www.action-cascade.com
www.altfg.com
www.suaramerdeka.com
www.thevoyeurs.wordpress.com


1 comment:

hadienatablogs said...

Where Eagles Dare 1968