Anggota First Battalion, The Parachute Regiment (1 PARA) Inggris yang menjadi tawanan Gebirgsjäger-Regiment 756 serta sekutu Italianya di Tunisia tahun 1943
Foto anggota Gebirgsjäger yang memakai pakaian tropis. Hanya ada dua unit pasukan gunung Jerman yang ditempatkan di Afrika Utara, dan mereka adalah 2.Kompanie/Sonderverband 288 serta Gebirgsjäger-Regiment 756
Rekonstruksi seragam Kopral dari Gebirgsjäger-Regiment 756 di Longstop Hill, Tunisia, bulan Februari 1943
Plang iklan kondom merk "Töpfers". "Schutzmännchen" artinya "pelindung laki-laki", sementara tulisan di bawahnya (Hier zu haben) menunjukkan bahwa kita bisa memperolehnya di toko/tempat yang memasang plang ini
Amplop coklat ini berisi tulisan "Nur für die Deutsche Wehrmacht bestimmt. Nach Gebrauch sofort zu vernichten" (hanya untuk Wehrmacht Jerman. Hancurkan segera setelah dipakai) yang tercetak pada setiap paketnya. "Benda peninggalan" ini tersebar luas di banyak penjual barang-barang koleksi di Eropa dan Amerika medio 1999/2000, dan konon merupakan bagian dari segunung stok yang tersisa setelah perang usai. Beberapa penjual hanya menjual bungkusnya saja tanpa isi di dalamnya. Di masa perang kadang para prajurit menggunakan karet kondom yang sama berulangkali walaupun telah ada instruksi untuk menggunakannya hanya sekali saja. Mereka cukup menggunakan air ludah atau pelumas kendaraan untuk membersihkannya dan kemudian "menyarungkannya" kembali (euwwww!!!)
Salah satu buku dalam seri "Soldat" karya Cyrus Lee memperlihatkan bungkus kondom Wehrmacht yang persis sama bentuknya. Dalam keterangannya disebutkan bahwa dia berisi selembar kertas kecil atau kartu dengan dua buah kondom di dalamnya. Ini masuk akal karena ukuran bungkusnya memang mampu menampung dua kondom dan tidak hanya satu
Ada juga kondom Wehrmacht yang mempunyai bungkus kaleng metal seperti contoh hasil penggalian di atas. Tulisannya adalah "Hygienischer Gummischutz" (Karet Pelindung Higienis). Mau nyoba kondomnya? Hehehe...
Dalam Pertempuran Stalingrad, pasukan Jerman yang terkepung membutuhkan begitu banyak amunisi serta peralatan perang untuk menahan gerak maju Tentara Merah. Jeprutnya, kesalahan administrasi malah membuat mereka kebanjiran SATU JUTA kondom!!! BTW, kondom-kondom ini tersedia khusus untuk kepentingan militer, tapi mereka tetap harus DIBELI dan bukannya merupakan hasil pembagian jatah!
Saking berharganya benda-benda peninggalan Nazi Jerman, bahkan kondom semacam ini pun kemudian dipalsukan pula oleh beberapa penjual benda koleksi yang nakal! Paket di sebelah kanan adalah palsu, sementara yang di kiri beserta isinya adalah asli
Hasil pemalsuan yang parah: kondom ini bertuliskan SANIDOR di depan, tapi di belakangnya malah bertuliskan SANITOR! Cape dweeeh...
Kondom Wehrmacht merk "Odilei" yang saat ini sudah tidak diproduksi lagi. Satu bungkus ada yang berisi enam kondom, dan ada juga yang berisi tiga. Salah satu tulisan penyertanya menyebutkan bahwa kondom ini mampu bertahan selama tiga tahun
Bungkus kondom merk "Odilei". Satu hal yang menarik adalah pembagian kondom oleh Wehrmacht kepada para prajurit yang terlibat dalam Operasi Barbarossa. Menarik karena peraturan melarang mereka untuk berhubungan seksual dengan perempuan lokal di Front Timur, tapi mereka tetap menerima kondom!
Kondom Wehrmacht merk Vulkan Sanex. Kondom ini sama saja bentuk dan bungkusnya dengan versi sipil, hanya berbeda sedikit saja dalam tulisan di bagian belakang bungkusnya. Kondom Vulkan Sanex terkenal karena kekasaran teksturnya dan tampaknya dibuat lebih untuk mencegah penyebaran penyakit kelamin daripada untuk kepuasan seksual!
Kondom Wehrmacht merk Blausiegel edisi tahun 1943. Zaman Hitler telah dikenal adanya pembatasan kelahiran alias KB, hanya saja setelah tahun 1941 semuanya dilarang kecuali kondom. Alasannya adalah perang telah "menguras" banyak sumberdaya manusia Jerman, selain itu Hitler juga selalu menyenangi jumlah keluarga yang besar, meskipun dia sendiri tidak berkeluarga apalagi beranak!
Spiess dari 1.Kompanie/Fallschirmjäger-Regiment 3 (Fallschirmjäger Brigade Ramcke), Hauptfeldwebel Clemens Heynk (kiri). "Spiess" sering diberi julukan sebagai "ibu kompi", dan biasanya adalah seorang bintara yang mempunyai tugas administrasi serta pengurusan personil kompinya
Tampaknya ini sepeda baru sehingga para prajurit Wehrmacht di atas kelihatan mengagumi dan merubungnya! Bintara yang memakai dua strip di lengannya adalah Spieß alias "Ibu Kompi". Foto diambil dari album milik 12.Kompanie/Infanterie-Regiment 159/69.Infanterie-Division yang ditugaskan di Norwegia dari musim panas tahun 1940
"Der Spieß" yang mengenakan cincin piston di lengan serta garis pinggir kerah. Der Spieß dijuluki "ibu dari kompi", yaitu bintara yang mengurusi masalah administrasi sebuah kompi Wehrmacht, juga tetek-bengek keperluan prajurit anggotanya. Dia mengenakan seragam M44 yang langka!
Bergulung-gulung kain yang menjadi bahan utama seragam Wehrmacht sedang disusun sebelum "dipreteli" untuk dijadikan seragam di pabrik Peek & Cloppenburg. Foto oleh Dr. Paul Wolff
Para pekerja pria di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang sibuk mengoperasikan mesin press uap. Tampaknya mereka sedang membentuk bagian kerah. Foto oleh Dr. Paul Wolff
Para pekerja wanita di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang sibuk menyatukan bagian-bagian seragam dengan menggunakan mesin jahit. Pabrik Peek & Cloppenburg masih beroperasi sampai saat ini!
Menumpuk seragam Wehrmacht yang sudah jadi di pabrik Peek & Cloppenburg. Foto oleh Dr. Paul Wolff
Dua orang pekerja wanita di pabrik Peek & Cloppenburg yang memproduksi seragam Wehrmacht sedang memberikan sentuhan terakhir terhadap jaket/mantel Luftwaffe. Foto oleh Dr. Paul Wolff
Sumber : Buku "Uniformen und Soldaten" karya Curt Ehrlich produksi tahun 1942
Prajurit Italia malang yang terbunuh dalam pertempuran pertama El Alamein tanggal 11 Juli 1942. Tampaknya dia tewas karena pecahan granat peledak, yang tampak dari luka menganga di pahanya
Pembantaian Katyn sering disebut tragedi Katyn, adalah pembantaian yang dilakukan oleh Komite Rakyat Intern Soviet (NKVD) terhadap para tawanan perang, tokoh cendikiawan, polisi dan pejabat negara Polandia lainnya yang ditangkap pada musim semi 1940. Selain menjadi sebutan untuk peristiwa pembantaian terhadap para perwira Polandia di kamp tawanan Perang Kozelsk di Hutan Katyn, juga termasuk pembantaian terhadap tawanan perang yang terjadi di kamp tawanan Perang Sitaluobai dan Ostashkov, serta pembantaian tawanan politik di White Russia barat dan Ukraina barat.
Di antara serangkaian pembantaian ini, skala pembantaian Katyn merupakan yang terbesar. Namun karena adanya peraturan wajib militer di Polandia maka semua siswa tamatan perguruan tinggi diwajibkan mengikuti wamil dan mengikuti pelatihan perwira militer. Artinya komunis Soviet telah membunuh cendikiawan Polandia dalam jumlah besar.
Berawal dari usulan Lavrenti Pavles dze Beria untuk menghabisi seluruh perwira Polandia. Dokumen resmi usulan tersebut akhirnya disetujui dan ditanda-tangani seluruh anggota Dinas Politik Pusat Partai Komunis Soviet (termasuk Stalin dan Beria). Setelah Soviet mengirim pasukannya ke Polandia pada 17 September 1939, Beria memberi laporan secara rinci mengenai jumlah dan situasi para tawanan di 3 kamp tawanan perang dan penjara lain, termasuk uraian mengenai jabatan militer serta sikap politik para perwira tersebut.
Pada laporan tertulis jelas bahwa mereka semua adalah “musuh bebuyutan” Soviet, oleh karena itu dianjurkan untuk menempuh pengadilan “cara khusus” dengan hukuman terberat ‘tembak mati’. Berdasarkan laporan inilah, pihak penguasa Soviet memberikan kuasa kepada Dinas Rakyat Intern Soviet untuk menembak mati 25.700 orang tawanan yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Malam sebelum PD II, pada 23 Agustus 1939, Uni Soviet dan Jerman secara resmi menandatangani kesepakatan “Aturan Tidak Saling Invasi Jerman dan Soviet” di Moskow. Di tahun yang sama Jerman mengirim pasukan ke Polandia, sementara Soviet juga mengirim pasukan dengan dalih “melindungi keselamatan warga Ukraina barat dan White Rusia Barat”.
Pada 18 September 1939, Komandan Utama Tentara Polandia menurunkan perintah bahwa Uni Soviet bukan negara musuh dan meminta untuk tidak melancarkan perlawanan, karena ada 130.242 perwira dan prajurit Polandia menjadi tawanan perang Soviet. Pada 19 September dibangun 8 buah kamp konsentrasi untuk menyekap para tawanan Polandia itu. Selama masa pertukaran tawanan perang antara Jerman dan Soviet, masih tersisa lebih dari 20.000 perwira dan pejabat administratif di kamp konsentrasi.
13 April 1943, tentara NAZI Jerman yang berhasil menyerbu masuk ke dalam perbatasan Soviet mengumumkan bahwa tentara Jerman yang pernah menguasai Kota Smolensk milik Soviet pernah mendapati kuburan masal perwira Polandia yang dibantai oleh militer Soviet di wilayah Hutan Katyn. Setelah hal tersebut diselidiki oleh Komite Internasional yang dibentuk pihak Jerman, dipastikan bahwa para perwira dan prajurit yang mengenakan seragam militer Polandia itu tewas sekitar musim semi 1940 karena dibunuh Uni Soviet.
15 April 1943, Uni Soviet mengeluarkan dokumen resmi yang menyangkal hal ini, dan menyatakan bahwa para tawanan perang Polandia tersebut jatuh ke tangan tentara Jerman setelah Jerman berhasil menyerbu masuk Soviet, dan mereka dibunuh oleh tentara Jerman.
Setelah itu, Soviet dan Jerman masing-masing membentuk tim intel untuk dikirim ke Katyn guna melakukan penyelidikan, namun tidak pernah didapat hasil penyelidikan yang jelas.
Setelah PD II, kedua belah pihak baik Jerman maupun Soviet sama-sama tidak punya bukti kuat untuk membuktikan siapakah yang bertanggung jawab atas kejahatan perang tersebut, karena Pengadilan Militer Internasional Nurember tidak bisa mengambil keputusan. Kasus ini pun menjadi misteri tak terpecahkan sejak PD II.
13 April 1990, saat Presiden Polandia, Jaruzelski, berkunjung ke Soviet, Gorbachev mengakui bahwa tragedi kejam itu adalah “dosa paham Stalin”
Hauptmann der Reserve Diddo Diddens berasal dari Sturmgeschütz-Brigade "Großdeutschland" yang notabene merupakan unit Heer, tapi seperti yang bisa anda lihat dalam foto di atas, dia memakai Totenkopf Ring SS di jari manisnya! Tak banyak orang mengetahui bahwa Diddens sempat berkarir sebagai bintara di Allgemeine-SS sebelum ditransfer ke Heer. Tak lama setelah dia dianugerahi Ritterkreuz pada tanggal 18 Maret 1942, Himmler buru-buru menimbuninya dengan seabrek penghargaan (termasuk di antaranya adalah Totenkopf Ring) demi mengklaim "hak milik" Diddens sebagai anggota SS! Cincin ini kemudian diperdagangkan dengan harga lumayan bikin mencret DISINI
SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Waffen-SS und Polizei Karl Brenner dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold (16 Juni 1944) dan Ritterkreuz (31 Desember 1944) atas perannya sebagai Chef der Bandenkampfverbände yang bertugas memerangi partisan/gerilyawan di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman. Dia kehilangan mata kirinya pada Unternehmen Barbarossa sehingga langsung diganjar Verwundetenabzeichen in Gold tanggal 27 September 1941
SS-Obergruppenführer Paul "Papa" Hausser (pangkat terakhir SS-Oberstgruppenführer) terluka parah dan kehilangan mata kanannya dalam Operasi Barbarossa di Rusia bulan Oktober 1941. Dari sejak kembalinya dia ke front bulan Mei 1942 setelah menjalani masa pemulihan, hausser selalu memakai penutup mata berwarna hitam seperti layaknya seorang bajak sawah eh laut. Bahkan miniatur dirinya pun memakai jenis penutup mata yang sama seperti yang tampak DISINI!
Empat orang sukarelawan Wallonie berfoto bersama di dok pelabuhan
Stettin sebelum pertempuran sengit di Altdamm pertengahan Maret 1945.
Dari kiri ke kanan: Robert Thuilliez (sukarelawan asal St. Omer,
Prancis, berusia 16 tahun), SS-Untersturmführer Jacques Leroy dari
SS-Panzergrenadier Regiment 69 (dia masih tetap aktif bertempur walaupun
telah kehilangan sebelah mata dan tangannya!), SS-Untersturmführer
André Régibeau (Chef 1.Kompanie/SS-Panzergrenadier Regiment 69), dan
Marcel Laplae (pengantar pesan dari Jeunesse Legionnaire berusia 16
tahun)