Monday, March 7, 2016

Kisah Max Wünsche Selama dalam Masa Penahanan Sekutu



Artikel sumbangan oleh : Valentine Suwanda

Pasukan hitam dengan logo tengkorak, yang bertanggung jawab atas pembantaian "Untermenschen" di Perang Dunia Kedua, serta pasukan elit yang terkenal atas kejahatan-kejahatan perangnya, organisasi  Schutzstaffel (SS) Jerman hingga kini masih lekat dengan sekian banyak kesan buruk yang tertanam di mata dunia. Setelah perang di mana Jerman dikalahkan, banyak anggota SS yang diadili karena kejahatan perang mereka dan dipenjara bertahun-tahun, tidak sedikit yang dihukum mati. Beberapa bahkan terbunuh oleh massa tanpa sempat melewati pengadilan.

Dari sekian banyak anggota SS, ada seorang anggota elit yang menonjol dibanding yang lainnya. Max Wünsche adalah seorang prajurit ideal yang dapat dibayangkan Adolf Hitler. Pirang, bermata biru, tampan dan gagah, Wünsche adalah representasi pejuang Arian, ras yang diagungkan Hitler. Max sendiri adalah seseorang yang pintar serta ambisius, dia bergabung ke SS pada usia belia 19 tahun dan tergabung dalam LSAAH, pasukan pelindung Hitler. Bukan hal aneh jika lalu Max Wünsche dengan cepat dipromosikan hingga menjadi ajudan junior Hitler sendiri. 

Wünsche adalah salah seorang yang dekat dengan Hitler pada masa awal perang, terlebih lagi mereka berulang tahun pada hari yang sama. Wünsche yang tampan dan pandai berdansa dianggap sebagai selebriti di kalangan petugas SS. Namun akibat ketidakcocokannya dengan butler nepotis sang Fuhrer, Wünsche kembali bertugas di LSSAH yang ikut bergabung dalam perang. Sekalipun begitu, Wünsche tetap menjadi favorit Hitler; bahwa sang Fuhrer selalu menelepon Wünsche di hari ulang tahunnya serta menjadi saksi pada pernikahan Wünsche (dan memberi hadiah yang tidak sedikit).

Selama masa perang, Wünsche membuktikan dirinya tidak hanya terampil dalam pekerjaan administrasi, namun juga dalam pertempuran. Seperti halnya dengan mayoritas pemimpin SS yang lain, Wünsche adalah seorang fanatik NAZI dan memimpin sendiri pasukannya dalam setiap penyerangan, bahkan dalam beberapa kesempatan, rekannya harus menghentikannya dalam usaha-usahanya yang dinilai terlalu beresiko saat perang. Berkat kesuksesan dan keberaniannyanya, Wünsche dianugerahi beberapa penghargaan termasuk Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves dan dipromosikan menjadi Standartenfuhrer (setara dengan Kolonel).

Satu hari setelah pendaratan pasukan Sekutu besar-besaran di pantai Normandy pada 6 Juni 1944, Wünsche dan pasukannya ditugaskan untuk menghentikan serangan. Sayangnya, beberapa minggu kemudian Wünsche terluka dan tertangkap oleh pasukan Inggris. Dia lalu dibawa ke Inggris sebagai tawanan perang. Beberapa anggota elit SS yang lain tercatat menghilangkan identitas mereka atau atribut lain yang dapat mengungkapkan keanggotaan mereka dalam pasukan SS, sebab menjelang akhir perang pasukan SS seringkali menjadi bulan-bulanan massa dan dibunuh tanpa pengadilan maupun perlindungan HAM (pasukan SS terkenal seringkali melakukan pelanggaran HAM seperti pembantaian terhadap tawanan perang atau warga sipil).

Dengan paham NAZI garis kerasnya, Max Wünsche dikatakan tetap mengenakan medal-medalnya hingga nanti pada pengadilan. Meski tertangkap, Max tetap menjadi favorit Hitler. Pada musim gugur tahun itu Hitler mencoba mengadakan pertukaran tawanan; John C Morgan untuk Max Wunsche. Morgan adalah seorang pilot penerima penghargaan Medal of Honor dari Amerika, dia dianggap sebagai pahlawan nasional di Amerika Serikat. Seorang perantara mengatur pertukaran tawanan itu, namun Inggris menolak penyerahan Max Wünsche dengan alasan Wünsche adalah seorang tersangka kasus kejahatan perang.

Selama interogasi yang brutal dan lama, oleh pihak Inggris Wünsche dideskripsikan sebagai ‘seorang NAZI luar dalam’ yang sekalipun alot dan menyusahkan dengan jawaban yang ambigu, jawabannya terbukti benar. Dia dikatakan ‘tidak perhatian’ karena sedikit mengetahui seluk beluk Hitler. Diperkirakan, itu adalah taktik Wünsche dalam menghadapi interogasi pihak Inggris, berbeda dengan rekannya sesama elit SS; Meyer yang menjawab pertanyaan dengan campuran kebenaran dan karangan.

‘PW (Prisoner of War = tahanan perang = yang dimaksud adalh Max) benar-benar sebuah pajangan museum. Dia 150 % pejuang Nordic, mengenakan setiap Iron Cross; seorang petugas Leibstandarte sejak 1933 dan tipe fanatik yang paling ekstrem, dengan otak yang perhitungan dan disiplin. Informasinya mengenai kemiliteran dapat dipercaya, namun sikapnya tak dapat ditangani.’ Demikianlah komentar salah seorang interogator Max Wünsche .

Beberapa hari setelah tertangkap Max sempat dikurung di dalam sebuah sangkar besi yang digenangi air (awalnya dia sempat berpikir bahwa dia akan segera dieksekusi) dan dibawa menghadap langsung ke Bernard Montgomery, Jendral Besar Inggris saat itu.

Melalui penerjemah, Montgomery memberitahunya bahwa Inggris memperlakukan tawanan Jerman sesuai dengan perjanjian Jenewa, tapi tidak dengan anggota SS; mereka adalah sampah dan cacing politik dan akan diperlakukan sebagai mana mestinya. Saat akan menjawab, Montgomery membentak Wünsche dan melarangnya berbicara. 

Hingga akhir perang, Max Wünsche ditahan di tahanan perang Caithness, Scotlandia, di bangsal khusus untuk pejabat elit Jerman bersama dengan Kurt ‘Panzer’ Meyer. Banyak pengamat yang menghubungkan pengalaman Max ‘dipermalukan’ selama ditahan di Inggris dengan kebenciannya terhadap orang Inggris selama sisa hidupnya. Hal yang dipertanyakan adalah, meski tercatat mengalami cedera ringan di betis, Max Wünsche dirawat di rumah sakit sipil selama 7 bulan. Mengingat sikap Wünsche yang tidak begitu kooperatif dalam interogasi, hal itu dapat berarti tingginya tingkat kekerasan dalam interogasi terhadapnya.

Pada persidangan atas Kurt Meyer, Wünsche disebut-sebut sebagai seorang pria yang bergabung dalam SS karena idealisme nya, bukan karena kekejiannya. Meski demikian seorang gadis pernah menyebut ‘pejabat SS yang tampan’ terlihat berada di salah satu lokasi pembantaian tawanan perang di Prancis yang segera dihubungkan dengan Wunsche. Namun tak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan Wünsche dalam pelanggaran-pelanggaran tersebut. Max Wünsche tidak pernah diadili atas satupun kejahatan perang pada perang dunia ke dua.

Wünsche kembali ke Jerman pada tahun 1948 dan menikahi Ingeborg istrinya. Kemungkinan besar Wünsche menikahi Ingeborg dengan cara resmi SS sebelum tertangkap dan menikahinya secara tradisional begitu kembali ke Jerman. Wunsche memiliki 5 orang putra. Dia lalu menjadi manajer sebuah perkebunan industri (sejak muda Max tertarik dengan agrikultur). Max Wünsche meninggal pada tahun 1995, namun dia tetap dikenang sebagai tentara SS tampan yang pemberani dan bermartabat.


Sumber :
www.nonasuwanda.wordpress.com