Saturday, October 16, 2010

Misteri Hitler


Oleh: Léon Degrelle (dikutip dari buku multi-volume tentang biografi dan warisan Hitler karyanya yang tidak pernah terselesaikan, Hitler: Born at Versailles)

“Hitler… kamu pernah mengenalnya. Seperti apa sih dia?” Pertanyaan tersebut telah ditanyakan kepadaku beribu kali dari sejak tahun 1945, dan tak ada hal yang paling sulit selain menjawabnya.

Tidak kurang dari 200 ribu judul buku telah dibuat mengenai Perang Dunia II dengan tokoh utamanya adalah Adolf Hitler. Tapi apakah Hitler yang sebenarnya telah mereka temukan dan ketahui? “Teki-teki tentang Hitler melebihi semua apa yang dimengerti oleh manusia,” begitulah yang dikatakan oleh mingguan Jerman yang berhaluan kiri, Die Zeit.

Salvador Dali, seorang jenius seni terkemuka, berusaha untuk memasuki misteri dari salah satu lukisannya yang paling dramatis. Lukisannya menonjol dengan latar belakang sebuah gunung yang menjulang tinggi, dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk bentuk pantai dengan titik-titik yang merupakan miniatur dari figur manusia: bukti terakhir dari perdamaian yang sekarat. Sebuah penerima telepon besar yang menderaskan air mata darah tergantung di sebongkah pohon yang telah mati; dan disana-sini tergantung pula sejumlah payung dan kelelawar yang terlihat sebagai pertanda kurang baik. Seperti apa yang Dali katakan sendiri, “Payung dari Chamberlain tampak dalam lukisan ini sebagai sebuah cahaya yang mengancam, yang lebih diperjelas lagi dengan kemunculan kelelawar, dan ketika melukisnya pun aku sungguh larut ke dalamnya dan dipenuhi oleh kesedihan yang mendalam.”

Dia lalu mengaku: “Aku merasa kalau lukisan ini menimbulkan daya magis yang luar biasa, setidaknya bagi diriku. Tapi sampai saat ini aku belum dapat membuat perlambang dari seorang manusia bernama Hitler. Dia menarik perhatianku hanya sebagai sebuah obyek dari imajinasiku yang gila, dan karena aku melihat dia sebagai sebuah insan unik yang mampu merubah hal-hal menjadi sepenuhnya terbalik dari aslinya.”

Apa pelajaran dari rasa malu yang bisa kita ambil dari seorang manusia yang telah menjadi “primadona” media cetak dari sejak tahun 1945 ini? Begitu banyak buku dan karangan telah dibuat mengenainya, dan kebanyakannya hanya menganggapnya sebagai sampah belaka! Mengapa setelah berlalu 40 tahun, manusia ini tetap membuat si pelukis Dali merasa terganggu dan tak pasti akan membayangkan bentuk bagaimana sebagai perlambang pas dalam lukisan-lukisannya yang dipenuhi oleh halusinasi? Di luar dari Dali, siapa lagi yang mencoba menghadirkan potret obyektif dari manusia luar biasa ini, yang telah dijuluki oleh Dali sebagai manusia paling “meledak” dalam sejarah manusia? (Sekedar informasi, Dali telah dikeluarkan dari Gerakan Surealis tahun 1934 karena pemujaannya terhadap Hitler dan simpatinya kepada gerakan Fasis).

Segunung buku tentang Hitler, yang kebanyakannya didasari oleh kebencian buta dan ketidakpedulian semata, akan berperan sedikit saja dalam menjelaskan salah satu dari manusia yang paling berkuasa dalam sejarah manusia ini. Bagaimana bisa, aku membayangkan, sebegitu banyaknya gambaran yang berlainan ini dapat menjelaskan mengenai manusia yang aku ketahui secara langsung? Hitler yang sama telah duduk bersamaku, berdiri, berbicara, dan mendengarkan. Adalah mustahil untuk menerangkan hal-hal semacam ini pada orang-orang yang selama bertahun-tahun telah dijejali oleh cerita-cerita fantastis yang kebanyakannya sama sekali jauh dari kenyataan.

Manusia telah terbiasa untuk menerima sesuatu sebagai sebuah realita apabila sesuatu tersebut diulang-ulang dibacakan kepadanya beribu kali, sebagaimanapun fiksinya dia. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka belum pernah melihat Hitler, belum pernah berbicara kepadanya, dan belum pernah mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Saat ini, bila kita menyebut nama Hitler maka yang muncul adalah bayangan dari iblis sendiri, puncak dari segala hal-hal negatif dalam diri manusia. Seperti lonceng Pavlov, penyebutan dari Hitler akan membawa kita pada dua hal sekaligus, kenyataan dan khayalan. Pada waktunya, setidaknya, sejarah akan menuntut kita untuk memberikan lebih daripada sekedar tuduhan semata.

Hitler selalu hadir di depan mataku: sebagai tokoh di masa damai tahun 1936, dan sebagai tokoh di masa perang tahun 1944. Sangat tidak mungkin untuk menjadi saksi dari kehidupan manusia yang luar biasa ini tanpa terpengaruhi olehnya sepanjang sisa umur kita. Tak ada satu hari pun berlalu tanpa bayangan Hitler di hati dan pikiranku. Dia bukanlah menjelma sebagai orang yang telah lama mati, tapi sebagai manusia yang berjalan ke kantornya, duduk di kursi, dan meletakkan kayubakar di perapian.

Hal pertama yang orang lihat dari wajahnya adalah kumisnya yang unik. Telah tak terhitung dia disarankan untuk mencukurnya, tapi dia selalu menolak: masyarakat telah terbiasa melihatnya seperti itu.

Dia tidaklah tinggi. Seperti halnya pula Napoleon atau Alexander yang Agung.

Hitler memiliki mata biru tajam yang diakui banyak orang mampu menimbulkan daya magis, meskipun aku melihatnya sebagai mata biasa. Ada pula yang mengatakan bahwa tangannya dapat memberikan sengatan listrik yang mengejutkan. Aku pernah menjabat tangannya beberapa kali dan tak pernah sekalipun aku merasa seakan tersetrum olehnya.

Wajahnya menampakkan emosi yang berubah-ubah yang tergantung dari gairah atau ketidakpeduliannya pada saat itu. Kadang dia tampak berkutat dengan kesendiriannya, tak mengucapkan sepatah katapun sementara rahangnya bergerak seakan mereka menggilas sebuah penghalang yang membuat mulutnya tak dapat bergerak. Dan tiba-tiba dia akan tampak hidup dan berbicara berapi-api yang ditujukan hanya kepadamu, meskipun kala kau melihatnya dengan kagum kau akan merasa seolah-olah dia sedang berpidato di depan ratusan ribu manusia. Kemudian secepat kilat dia akan berubah kembali seperti sebelumnya. Bahkan wajahnya sendiri dapat beralih rupa dengan mengagumkan dari layu menjadi berkobar penuh gairah. Pada saat tertentu, aku bersumpah bahwa Hitler terlihat begitu atraktif seakan mempunyai kekuatan magis yang menyihir.

Ketika dirasanya suasana begitu serius, maka dia akan mendinginkannya dengan humor-humornya. Tak ada yang mengalahkan dia ketika berbicara. Dalam satu waktu dia membawa kebahagiaan tak terkira pada pendengarnya, sementara di waktu yang lain dia dapat membuat lawan bicaranya terkencing-kencing saking takutnya. Dia dapat bertindak kejam dan tak terbantahkan dalam menilai sesuatu, dan pada saat yang bersamaan pula dia dapat menjadi seorang penengah yang sensitif dan hangat.

Setelah tahun 1945 nama Hitler identik dengan semua sifat buruk manusia, sementara bukanlah sifat alaminya untuk bertindak buruk atau brutal. Dia menyukai anak-anak. Adalah hal biasa bagi Hitler untuk memberhentikan mobilnya dan kemudian membagi makanannya dengan seorang pengendara sepeda muda yang sedang melintas. Suatu kali dia pernah memberikan jas hujannya pada seorang pejalan kaki yang berlari-lari di kala hujan tanpa pelindung. Di tengah malam dia akan menghentikan pekerjaannya dan kemudian dengan sabar menyiapkan makanan untuk anjingnya Blondi.

Dia tak pernah mau memakan daging, karena itu berarti kematian bagi makhluk hidup. Dia melarang keras bahkan kelinci dan ikan forel disembelih demi dibuat sebagai makanannya. Dia hanya mentolerir telur di meja makannya, karena telur sama saja dengan membiarkan ayam untuk tetap hidup dan bukannya dibunuh.

Kebiasaan makan Hitler menimbulkan kekaguman yang tak pernah berhenti bagi diriku pribadi. Bagaimanakah seorang manusia bertahan untuk tetap sehat dan bersemangat sementara dia disuguhi jadwal padat setiap harinya; sementara dia telah menghadiri ribuan acara kolosal yang melelahkan dimana setelahnya dia akan muncul dengan bermandi keringat; sementara dia seringkali kehilangan satu-dua kilogram dari berat badannya karena kegiatan tanpa henti; sementara dia hanya tidur tiga sampai empat jam setiap malamnya; sementara dia telah menjadi seorang pemimpin dari 380 juta manusia dalam kurun waktu 1940-1945? Bagaimanakah dia bisa bertahan sementara yang dia makan hanyalah telur rebus, beberapa butir tomat, dua atau tiga kue bolu, dan sepiring mie? Dan kenyataannya berat badannya malah naik dari waktu ke waktu!

Dia minum hanya air putih dan tidak pernah alkohol. Dia tidak merokok dan tidak mentoleransi setiap orang yang merokok di dekatnya. Pukul satu atau dua dini hari dia masih kelihatan berbicara dengan berapi-api seakan-akan tak pernah dia merasa lelah. Mungkin saja yang penat luar biasa adalah pendengarnya atau orang-orang yang berbicara dengannya, tapi yang jelas bukan Hitler!

Dia digambarkan sebagai orang tua yang lelah. Tak ada lagi yang tidak sesuai dengan kenyataan selain ini. Pada bulan September 1944, ketika diberitakan bahwa Hitler menderita gejala-gejala gemetar yang parah di sekujur tubuhnya, aku menghabiskan waktu satu minggu bersama dia. Kekuatan mental dan fisiknya ternyata masih seperti dulu. Usaha pembunuhan yang dilakukan terhadap dirinya tanggal 20 Juli 1944 hanyalah seakan mencass-nya kembali. Dia meminum teh di ruangannya setenang seperti yang dia lakukan pada masa sebelum perang. Dia pun masih menikmati keindahan pemandangan salju dan semaraknya langit biru melalui jendela tempat peristirahatannya di Berchtesgaden.

Di akhir-akhir kehidupannya, aku akui kalau punggungnya semakin membungkuk, tapi ingatan dan pikirannya masih setajam kilat. Testamen terakhir yang didiktekannya jam tiga pagi tanggal 29 April 1945 dengan komposisi yang luar biasa menjelang kematiannya merupakan bukti nyata tak terbantahkan akan hal ini. Napoleon di Fontainebleau pernah merasakan kepanikan juga sebelum dilengserkan dari kursinya sebagai kaisar. Sedangkan Hitler? Cukup dengan berjabat tangan dengan para pembantu terdekatnya dalam keheningan, makan pagi seperti hari-hari sebelumnya, dan pergi menuju ke kematiannya seakan-akan dia hendak berjalan-jalan biasa. Kapankah sejarah pernah menjadi saksi mata dari kontrol diri sekeras baja yang mengagumkan pada saat-saat terakhir seperti ini?

Karakteristik Hitler yang paling menonjol adalah kesederhanaannya. Masalah paling sulit dapat dipecahkan di pikirannya menjadi prinsip-prinsip dasar yang mudah dipahami. Hal ini lalu ditindaklanjuti oleh ide-ide dan keputusan yang dapat dipahami oleh siapapun. Pekerja buruh dari Essen, petani yang paling udik, industrialis dari Ruhr, dan profesor universitas ternama dapat secara mudah mengikuti jalan pikirannya. Ketika dia menjelaskan alasan-alasan dari apapun yang dilakukannya, maka seakan tindakannya menjadi sesuatu yang bisa dimengerti sekaligus diikuti.

Kebiasaan dan gaya hidupnya tak pernah berubah bahkan ketika dia telah menjadi penguasa Jerman. Dia berpakaian dan hidup sehari-hari secara sederhana. Selama masa-masa awalnya di Münich dia menghabiskan tidak lebih dari satu mark untuk membeli makanan setiap harinya. Tak pernah satu kali pun dia menghabiskan uangnya untuk kepentingannya pribadi. Selama tigabelas tahun di Kekanseliran dia tidak pernah membawa dompet, jangan pula uang, di sakunya!

Hitler belajar segala sesuatu secara otodidak dan tidak pernah menyembunyikan kenyataan tersebut. Orang-orang intelek, yang merasa lebih dari orang lain hanya karena mereka membawa ide-ide yang bersinar bagaikan lampu senter, sangat dibenci oleh Hitler. Pengetahuannya dia dapat melalui pembelajaran secara selektif dan tanpa henti, dan dia mengetahui jauh lebih banyak dibandingkan seribu orang akademis bergelar sarjana.

Aku tak pernah melihat orang yang begitu banyak membaca seperti halnya dia. Biasanya dia menyelesaikan membaca buku dalam satu hari saja, dan selalu membaca bagian kesimpulan untuk pertama kali, lalu diikuti dengan indeks mana-mana saja isi buku tersebut yang menarik hatinya. Dia mempunyai kemampuan luar biasa untuk dapat menarik keluar inti dari setiap buku dan kemudian menyimpannya di otaknya yang bagaikan komputer. Aku pernah mendengar langsung dia bicara tentang masalah-masalah keilmuan yang begitu rumitnya tanpa sekalipun salah, bahkan ketika peperangan saat itu sedang mencapai puncaknya!

Keingintahuan intelektualnya tak terbatas. Dia sudah biasa dengan tulisan-tulisan dari pengarang yang beraneka ragam, dan tak ada satu pun yang terlalu rumit dalam pandangannya. Dia mempunyai pengertian mendalam akan ajaran-ajaran Budha, Konghucu dan Yesus Kristus, begitu juga dengan Luther, Calvin, dan Savonarola; karya-karya raksasa literatur semacam Dante, Schiller, Shakespeare dan Goethe; juga penulis analis seperti halnya Renan dan Gobineau, Chamberlain dan Sorel.

Dia telah melatih dirinya dalam hal keilmuan filosofi dengan mempelajari Aristoteles dan Plato. Dia dapat membaca ulang seluruh paragraf karya Schopenhauer hanya dengan mengandalkan ingatannya belaka, dan selama waktu yang lama dia biasa membawa sebuah buku saku Schopenhauer kemana-mana. Nietzsche telah “mengajarinya” kekuatan dari keinginan.

Rasa hausnya akan ilmu tak tertandingi. Dia menghabiskan beratus-ratus jam mempelajari karya Tacitus dan Mommsen, strategis militer seperti von Clausewitz, dan pembangun imperium seperti Bismarck. Tak ada yang terlewat dari perhatiannya: sejarah peradaban dunia, pelajaran Alkitab dan Talmud, filosofi Tomistik dan karya-karya masterpiece dari Homer, Sophocles, Horace, Ovid, Titus Livius dan Cicero. Dia juga mengetahui dengan mendetail Julian Si Pembelot seakan-akan dia adalah teman dekatnya.

Pengetahuannya menjalar pula ke bidang mekanik. Dia tahu bagaimana caranya mesin bekerja; dia mengerti ukuran balistik dari beraneka ragam senjata; dan dia membuat kagum para ilmuwan medis terbaik melalui pengetahuannya di bidang kedokteran dan biologi.

Universalitas pengetahuan Hitler dapat saja membuat orang terkejut karena ketidakmungkinannya, tapi tak ada yang membantah bahwa semua itu adalah fakta sejarah dengan satu kesimpulan: Hitler adalah salah satu manusia paling berpengetahuan di abad ini! Pengetahuan yang ada dalam otaknya berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan Churchill yang merupakan intelektual jenis medioker; atau dengan Pierre Laval yang mempunyai pengetahuan seadanya tentang sejarah; atau dengan Roosevelt; atau Eisenhower, yang tak pernah membaca lebih banyak dari novel-novel detektif.

Bahkan di masa-masa awal kehadirannya di dunia, Hitler telah berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia mempunyai kekuatan di dalam diri yang besar dan selalu dibimbing oleh insting dan semangatnya dalam menjalani hidup.

Dia dapat menggambar dengan begitu baiknya ketika usianya baru menginjak tujuh tahun. Sketsa yang dibuatnya di umur tersebut memperlihatkan keteguhan yang luar biasa dan begitu hidupnya.

Lukisan cat air pertamanya, yang diciptakan di usia 15 tahun, penuh dengan keindahan layaknya puisi dan sensitifitas. Salah satu karya awalnya yang paling menarik perhatian, “Fortress Utopia”, juga menunjukkan bagaimana kayanya si artis dengan imajinasi. Orientasi artistiknya tidak terbatas ke dalam lukisan semata. Dia sudah biasa menciptakan puisi dari sejak masa mudanya. Dia mendiktekan sebuah karya drama ke saudara perempuannya Paula, yang hanya bisa memandang dengan penuh kekaguman akan daya ingat dan kreasinya. Pada usia 16 tahun, di Wina, dia meluncurkan sebuah opera. Dia bahkan menciptakan sendiri setting panggungnya, begitu juga dengan kostum. Untuk karakternya, tentu saja, dia memilih para pahlawan versi Wagner.

Lebih dari sekedar seniman, di atas semuanya Hitler adalah seorang arsitek. Ratusan karyanya begitu menonjol karena tidak hanya dibuat sebagai lukisan belaka, tapi juga untuk kepentingan arsitektur. Dari ingatan semata dia dapat mereproduksi ulang setiap detail kubah melengkung sebuah gereja atau pola rumit besi tempaan. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa di masa mudanya Hitler pergi ke Wina dengan satu tujuan: untuk menjadi seorang arsitek.

Ketika kita melihat hasil karya seni yang diciptakannya pada waktu itu, yang mengungkapkan keahliannya akan penggambaran figur-figur tiga dimensi, sangat mengherankan bahwa para pengujinya di Akademi Seni Wina tidak meluluskannya dalam dua kali percobaan ujian. Sejarawan Jerman Werner Maser, yang sama sekali bukan simpatisan Hitler dan ajarannya, telah mengungkapkan pendapatnya akan hal ini dengan begitu tepatnya: “Semua karyanya memperlihatkan bakat dan pengetahuan arsitektur yang luar biasa. Orang yang mendirikan Third Reich telah memberikan alasan para pakar seni di Akademi Wina untuk malu pada diri mereka sendiri!”

Hitler muda adalah manusia yang penuh dengan cita-cita. Ketika dia terkagum-kagum akan keindahan gereja biara Benedictine (dimana dia pernah bertugas sebagai bocah altar dan anggota paduan suara), Hitler langsung terobsesi untuk menjadi seorang rahib Benedictine. Menariknya, pada waktu yang sama pula tiap kali menghadiri misa maka dia akan selalu melintasi sebuah lambang Swastika, yang merupakan perkenalan pertamanya akan bentuk yang kemudian dia populerkan ini. Lambang tersebut terpahat di sebuah perisai berlambang yang terletak di pintu gerbang biara.

Ayah Hitler, yang merupakan seorang pegawai kantor pabean lokal, sangat berharap kalau anaknya akan mengikuti jejaknya sebagai PNS. Di lain pihak, gurunya mendorong agar Hitler menjadi biarawan saja. Ternyata Hitler tidak memilih dua-duanya. Dia malah berangkat ke Wina dengan harapan menjadi seorang pelukis atau arsitek ternama. Ketika harapannya runtuh akibat penolakan dari para birokrat menengah akademi, dia menjadi kehilangan arah dan mulai memilih jalan isolasi dan meditasi. Tersesat di salah satu kota terbesar Eropa, dia menunggu takdir yang akan membawanya ke masa depan.

Selama 30 tahun pertama kehidupan Hitler, tanggal 20 April 1889 tak berarti sama sekali bagi siapapun. Dia lahir pada tanggal tersebut di Braunau, sebuah kota kecil di lembah Inn. Selama masa tinggalnya di Wina, sering dia merindukan rumahnya di kampung halamannya, dan paling terutama ibunya tercinta. Ketika mengetahui bahwa ibunya sakit keras, Hitler buru-buru pulang dari Wina dan langsung mengurusnya. Selama berminggu-minggu dia mendampingi ibunya dan menyediakan segala keperluannya, seperti selayaknya seorang anak yang berbakti. Ketika pada akhirnya nyawa ibunya tetap tak tertolong di sebuah malam Natal, Hitler jatuh ke lubang kesedihan yang begitu dalam. Sekuat tenaga dia menahan rasa pedihnya dan menguatkan diri untuk ikut menguburkan sang ibu di sebuah pemakaman kecil desa tersebut. “Tak pernah dalam hidupku aku melihat seseorang begitu kehilangan dan dicekam kesedihan,” kenang dokter yang merawat ibunya, yang ternyata adalah seorang Yahudi.

Di sisa hidupnya, Hitler tak pernah melupakan ibunya. Di kamarnya terdapat sebuah foto dari ibunya yang selalu dia lihat setiap saat. Sebelum dia meninggalkan bumi ini tanggal 30 April 1945, dia meletakkan foto yang sama di depannya. Ibunya sendiri mempunyai mata biru cemerlang dan wajah yang serupa dengan anaknya. Dari sejak kecil Hitler telah diperlakukan secara istimewa oleh ibunya yang seakan-akan telah mampu melihat masa depan cemerlang untuk anaknya tersebut.

Hampir sepanjang masa mudanya, Hitler hidup bagai pertapa dengan keinginan terbesar untuk menarik diri dari kehidupan dunia ini. Di dalam hatinya dia adalah seorang penyendiri yang berjalan kemanapun dia mau dan makan seadanya. Hanya sedikit saja dia mempunyai teman dan tak pernah dia menyukai percakapan yang berpanjang-panjang. Satu-satunya hiburan baginya adalah perpustakaan umum dimana dia dapat memuaskan dirinya untuk tenggelam dalam lautan buku.

Hampir-hampir mustahil untuk meramalkan bahwa manusia yang memulai sebegitu sedikitnya seperti dia akan mencapai prestasi yang sebegitu puncaknya. Alexander yang Agung adalah anak dari seorang raja. Napoleon berasal dari keluarga yang terpandang dan berkecukupan, dan menjadi jenderal di usia 24 tahun. Sementara Hitler? 15 tahun setelah Wina, dia masih menjadi seorang kopral tak dikenal. Ribuan orang lainnya mempunyai ribuan kesempatan lebih besar untuk menancapkan namanya di dunia ini.

Hitler tak pernah mempedulikan kehidupan pribadinya. Di Wina dia tinggal selama bertahun-tahun di sebuah pondok yang kumuh dan sempit. Dahsyatnya, dia malah sempat-sempatnya menyewa sebuah piano yang menghabiskan tempat setengah dari kamarnya hanya untuk dapat lebih berkonsentrasi dalam merancang sebuah opera! Dia hidup sehari-hari hanya dengan memakan roti, susu dan sayuran saja, tidak lebih. Kemiskinannya adalah nyata, dan dia bahkan tak memiliki sebuah jas hangat. Di masa-masa itu, kita akan menemukan dia sedang membersihkan salju di jalanan atau membawakan barang-barang milik orang lain di stasiun kereta api. Dia menghabiskan berminggu-minggu di tempat penampungan tunawisma. Dalam kehidupan yang sebegitu sukarnya, hanya dua yang tak pernah absen dikerjakannya: melukis dan membaca.

Meskipun menjadi orang miskin, tapi Hitler tetap mempertahankan penampilannya yang selalu bersih dan tidak kumuh. Para tuan tanah di Wina dan Münich bersama istri-istri mereka mengingat dia sebagai orang yang sopan dan tidak “macam-macam”. Perilakunya bisa dibilang tanpa cela. Kamarnya selalu bersih, dan sedikit barang yang dipunyainya selalu ditatanya dengan rapi. Dia mencuci dan menseterika sendiri bajunya (sesuatu yang hanya dilakukan oleh sejumlah kecil pria saja di masa di masa itu). Dia hampir-hampir tidak membutuhkan apa-apa untuk bertahan hidup, dan uang yang didapat dari hasil penjualan lukisannya cukup untuk membiayai segala keperluannya selama beberapa waktu.

Saat itu Hitler belum tertarik kepada masalah-masalah politik, meskipun tanpa dia sadari, itulah karir dan masa depan yang akan dengan kuat memanggilnya. Politik akan menjadi perhatian utamanya selain seni. Masyarakat dan kerumunan seakan menjadi tanah liat yang harus dibentuk menjadi keabadian oleh sang pematung. Tanah liat manusia akan menjadi seperti bentuk seni yang indah di matanya bagaikan salah satu patung perunggu dari Myron, atau lukisan Hans Makart, atau Trilogi Cincin Wagner.

Kecintaannya akan musik, seni dan arsitektur tidak sama sekali menjauhkannya dari kehidupan politik dan pergaulan sosial di Wina. Dalam usahanya untuk bertahan, dia bekerja sebagai pekerja buruh biasa yang berdampingan dengan pekerja lainnya. Dia adalah seorang pemerhati yang tak banyak bicara, tapi tak ada satu pun yang lewat dari perhatiannya: bukan kesombongan dan egoisme dari kaum borjuis, bukan penderitaan moral dan material dari rakyat, dan bukan pula kemarahan yang dipendam oleh ratusan ribu pekerja yang berkeliaran di jalan-jalan lebar kota Wina.

Dia juga mulai merasa terganggu oleh semakin bertambahnya pemandangan baru di kota tersebut: orang-orang Yahudi berjanggut yang memakai baju sutra tradisional mereka yang bernama kaftan. Pemandangan itu tak pernah dilihatnya di Linz, kota kelahirannya. “Bagaimana mereka bisa menjadi orang-orang Jerman?” tanyanya pada diri sendiri. Dia lalu membaca statistik: tahun 1860 terdapat 69 keluarga Yahudi di Wina; 40 tahun kemudian jumlahnya telah menggelembung menjadi 200 ribu! Mereka ada dimana-mana. Hitler memperhatikan ketika mereka “menginvasi” universitas-universitas dan profesi-profesi legal juga medis. Jangan pula tanyakan penguasaan mereka akan media massa utamanya surat kabar.

Tentu saja Hitler juga merasakan apa yang dirasakan oleh para pekerja lainnya akan masalah ini, orang-orang asli yang merasa “terampas” dari penghidupan mereka akibat dari kedatangan orang-orang Yahudi tersebut. Ketidaksukaan ini dirasakan pula oleh banyak orang-orang berpengaruh di Austro-Hungaria, yang tak menyembunyikan sama sekali penolakan mereka akan sesuatu yang mereka anggap sebagai penjajahan orang asing terhadap tanah air mereka sendiri. Walikota Wina saat itu, yang merupakan seorang orator terkemuka dan berasal dari kalangan Kristen-Demokrat, menjadi corong yang suaranya paling didengar oleh Hitler.

Hitler juga merasa terganggu dengan nasib enam juta orang keturunan Jerman-Austria yang terpisah dari negara induknya, Jerman. Ini sama saja dengan meniadakan hak-hak nasional mereka sebagai sesama bangsa Jerman. Dia melihat Kaisar Franz-Josef sebagai orang tua yang tak mampu lagi menangani persoalan-persoalan kritis yang terjadi di masa itu, dan juga memahami harapan-harapan rakyat akan masa depan.

Secara diam-diam, Hitler muda telah mengumpulkan pikiran-pikiran di kepalanya.

Pertama: Austria adalah bagian dari negara Jerman, yang merupakan tanah air induk bagi semua bangsa Jerman.

Kedua: Orang-orang Yahudi merupakan orang asing bagi komunitas Jerman.

Ketiga: Patriotisme hanya berlaku apabila ia dirasakan oleh semua kelas dan golongan. Orang-orang biasa yang akrab dengan penderitaan dan penghinaan adalah pula bagian dari tanah air Jerman, sejajar dengan para milyuner kelas tinggi.

Keempat: Perselisihan kelas antara para pekerja dengan industrialis pada akhirnya cepat atau lambat akan menghancurkan negara. Tak ada negara yang sanggup bertahan dari pertentangan kelas, dan hanya kerjasama antara golongan berpunya dengan tidak berpunya yang akan memberi keuntungan bagi negara. Setiap pekerja harus dihargai kerja kerasnya dan hidup dengan tenang juga penuh kehormatan. Kreatifitas haruslah dihargai dan bukannya disingkirkan.

Ketika Hitler berkata bahwa dia telah menentukan formula politik dan sosialnya di Wina, dia berkata yang sebenarnya. Sepuluh tahun kemudian hasil observasinya akan masyarakat Viena akan menjadi suatu perintah yang harus ditaati oleh jutaan orang.

Pada intinya, Hitler hidup selama bertahun-tahun di kota Wina yang penuh sesak sebagai orang yang terpinggirkan, tapi itu tak menghalanginya untuk mengobservasi keadaan di sekitarnya. Kekuatannya datang dari diri sendiri. Dia tak mengandalkan pada siapapun untuk berpikir demi dirinya. Manusia-manusia luar biasa selalu merasa kesepian di tengah gelombang lautan manusia. Hitler melihat kesendirian sebagai sebuah kesempatan untuk bermeditasi dan tak tenggelam dalam lautan tak bermakna. Dalam usahanya untuk tidak tersesat di tengah gurun pasir yang tak berujung, maka jiwa yang kuat akan mencari tempat berlindung di kedalaman kalbunya. Hitler adalah jiwa semacam itu.

Cahaya kilat dalam hidup Hitler bersumber dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Semua bakat artistiknya akan disalurkan ke dalam penguasaannya yang luar biasa akan seni berkomunikasi dan kefasihan berpidato. Hitler tidak akan pernah mendapatkan simpati masyarakat yang sebegitu besarnya bila saja dia tidak mempunyai kemampuan untuk berkata-kata. Dia akan mempesona orang lain dengannya, dan dia sendiri pun akan menjadi orang pertama yang terpesona oleh kata-katanya sendiri. Dia akan menemukan kepuasan yang luar biasa ketika sihir kata-katanya menjadi inspirasi dan masuk ke dalam hati dan pikiran para pendengarnya. Dia seakan dilahirkan kembali setiap kali dia mengeluarkan semua kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Keahlian Hitler dalam mempengaruhi massa akan tetap, dalam waktu yang lama, menjadi sebuah bidang studi bagi para pakar psikoanalitik. Kekuatan kata-kata Hitler adalah kuncinya. Tanpanya, tak akan pernah ada era Hitler.

Apakah Hitler percaya pada Tuhan? Dia bahkan sangat percaya kepada-Nya! Dia menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa, yang menjadi Master dari yang diketahui dan tidak diketahui.

Para propagandis menggambarkan Hitler sebagai orang yang tak bertuhan. Dia bukan seperti itu. Dia memang memandang sinis pada pemuka agama yang hipokrit dan materialistis, tapi tentunya dia bukan satu-satunya yang bersikap seperti itu. Dia percaya akan kebutuhan dogma teologis dan peraturan-peraturan yang melengkapinya. Tanpanya, dia pernah berkata, maka institusi gereja Kristen akan segera runtuh. Dogma-dogma ini kadangkala bertentangan dengan pemikirannya, tapi dia juga menginsyafi bahwa akan sulit bagi manusia untuk mencari tahu jawaban-jawaban dari proses penciptaan, ruang lingkupnya yang tak terbatas dan keindahan yang terkandung di dalamnya. Dia tahu pula bahwa setiap manusia yang berakal pasti membutuhkan kehadiran aspek spiritual di dalam dirinya.

Lagu dari kunang-kunang, pola dan warna setangkai bunga... semua itu berulangkali membawanya kembali pada masalah besar proses penciptaan. Tak pernah ada seorang pun yang pernah berkata kepadaku tentang masalah ini (kehadiran Tuhan) selain dia. Dia memiliki pendangan ini bukanlah karena dia dilahirkan sebagai seorang Kristen, melainkan berdasar dari hasil pemikiran analitis yang kemudian membawanya pada konsep Tuhan. Kepercayaan Hitler melewati batas-batas rumus dan pemisahan. Tuhan bagi dia adalah dasar dari segalanya dan penguasa setiap benda di alam raya ini, termasuk takdir dia dan yang lainnya.

No comments: